Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

Menikah dan memiliki keturunan adalah suatu fase yang dijalani oleh
manusia dalam siklus kehidupannya. Keberadaan anak dianggap mampu
menyatukan dan menjaga keutuhan pernikahan. Gagal mendapatkan anak sangat
berlawanan dengan naluri dasar manusia, yang dapat menjadi sumber dari
perasaan berdosa, duka cita, bahkan perceraian (Kuswondo, 2002).

Menurut WHO, infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan


pasangan suami-istri untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan
seksual teratur selama minimal satu tahun tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
Apabila istri belum pernah hamil sebelumnya, maka disebut infertilitas primer.
Jika terdapat riwayat hamil sebelumnya, terlepas dari hasilnya, disebut sebagai
infertilitas sekunder.

Infertilitas merupakan permasalahan global di bidang reproduksi


kesehatan yang sangat kompleks. Perlu penataan rasional dan terpadu. Data
menunjukkan bahwa pasangan infertil di Britain setiap tahun ada 25%, Swedia
10%. Prevalensi di dunia yang mengalami masalah fertilitas setiap tahun adalah 1
dari 7 pasangan. Pasangan infertil di Indonesia tahun 2009 adalah 50 juta
pasangan atau 15-20%. Penyebab utama infertilitas adalah, defek atau disfungsi
sperma (25-30%), kegagalan ovulasi (10-20%), kerusakan tuba akibat infeksi (10-
30%), dan infertilitas yang tidak diketahui sebabnya (15-25%). Penyebab lain
infertilitas adalah endometriosis (10-15%), kegagalan atau kurangnay frekuensi
koitus (3-4%), disfungsi atau defek mucus serviks (3-5%), abnormalitas uterus,
tuberkulosis genital, dan penyakit yang menyebabkan kelumpuhan. Infertilitas
tidak semata-mata terjadi kelainan pada wanita saja. Hasil penelitian
membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil,
istri 40-55%, keduanya 10%, dan idiopatik 10%. Hal ini dapat menghapus
anggapan bahwa infertilitas terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri.

1
Pada studi kasus ini, Ny. YL didiagnosis mengalami Hidrosalphynx dextra
yang kemungkinan menyebabkan pasien infertile primer. Penanganan infertilitas
harus dilakukan dengan cepat dan tepat, sebab keterlambatan penanganan dapat
semakin memperburuk prognosis infertilitas pasangan suami istri.

2
BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTIFIKASI
a. Nama : Ny. YL
b. Umur : 28 tahun
c. Alamat: Jl. Amula rahayu no. 54, Lubuk Linggau
d. Suku : Sumatera
e. Bangsa : Indonesia
f. Agama : Islam
g. Pendidikan : Sarjana
h. Pekerjaan : Wiraswasta
i. MRS : 4 Januari 2017
j. No. RM : 986890

II. ANAMNESIS (Tanggal 15 Agustus 2016)


Keluhan Utama
Ingin punya anak.

Riwayat Perjalanan Penyakit


Os dirujuk dari SpOG dengan keluhan ingin punya anak. Os telah
menikah 5 tahun. Sebelumnya os belum pernah hamil, riwayat benjolan
pada perut bawah (-), riwayat nyeri saat berhubungan (+) 1 tahun yang
lalu, riwayat nyeri haid (-), BAB dan BAK normal. OS telah melakukan SIS
dan HCG dengan hasil paten tuba kiri dan hidrosalfing kanan. Riwayat

peningkatan BB (45 kg (2011) 74kg). Riwayat suami usia 30 thn,


perokok berat 2 bungkus/hari, lamanya >10 th.

Riwayat Penyakit Dahulu


R/ darah tinggi (-)
R/ kencing manis (-)
R/ alergi (-)
R/ keganasan (-)

Riwayat Pengobatan
R/ HSG bulan (12/2016) paten tuba kiri di Charitas
R/ SIS bulan (11/2016) paten tuba kiri di Linggau, dr. Wahyu, SpOG

3
R/ Induksi ovulasi 2 siklus (Okt, Nov 2016)

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


R/ kencing manis disangkal
R/ alergi disangkal
R/ keganasan disangkal
R/ susah mengandung disangkal
R/ analisis sperma suami Normospermi (6/10/2016)

Status Sosial Ekonomi dan Gizi : sedang


Status Perkawinan : sudah menikah, satu kali 5 tahun
Status Reproduksi : menarche usia 12 tahun, siklus haid
28 hari, teratur, lamanya 4-5 hari.
HPHT 20/11/2016, 15/10/2016,
3/9/2016
Status Persalinan : P0A0

III. PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 15 Agustus 2016)


PEMERIKSAAN FISIK UMUM
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
BB : 74 kg
TB : 156 cm
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 84x/ menit, isi/kualitas cukup, reguler
Respirasi : 20x/menit, reguler
Suhu : 36,5oC

PEMERIKSAAN KHUSUS
Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), edema
palpebra (-), pupil isokor 3mm, refleks cahaya
(+/+)
Hidung : sekret (-), perdarahan (-)
Mulut : Pucat (-), perdarahan di gusi (-), sianosis (-),
mukosa mulut dan bibir kering (-), fisura (-),
cheilitis (-)
Lidah : Atropi papil (-)

4
Faring/Tonsil : Dinding faring posterior hiperemis (-), tonsil T1-
T1, tonsil tidak hiperemis, detritus (-)
Kulit : CRT <2s

LEHER
Inspeksi : JVP 5-2 mmH2O, pembesaran KGB (-)
Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

THORAX
Inspeksi : simetris, retraksi intercostal, subkostal,
suprasternal (-)
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri
PARU
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : vesikuler (+), ronkhi (-), wheezing (-).
JANTUNG
Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : iktus cordis tidak teraba, tidak ada thrill
Perkusi : Jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-).

ABDOMEN
Abdomen datar, lemas, simetris, fundus uteri tidak teraba, massa (-), mobile,
nyeri tekan (-), TCB (-)

EKSTREMITAS
Pucat (-), CRT <2, edema pretibial (-)

PEMERIKSAAN GINEKOLOGIK
Pemeriksaan Dalam (Inspekulo): portio tidak livide, OUE tertutup, flour (+),
fluksus (-)

5
Bimanual: portio kenyal, OUE tertutup, adnexa kanan teraba massa
diameter 30cm, mobile, adnexa kiri tidak teraba, cavum douglas tidak
menonjol.

IV. PEMERIKSAAN TAMBAHAN


Analisis Sperma (6 Oktober 2016)
Pemeriksaan makroskopis:
Volume: 0,9 ml
Warna: Putih abu-abu
Likuifikasi: > 30 menit
Viskositas: < 2 cm
Koagulum: Ada
pH: 7,0
Pemeriksaan mikroskopis
Jumlah spermatozoa/lpb: 60-80
Agregasi: sedikit
Aglutinasi: tidak ditemukan

Motilitas
Progresif (PR%): 32
Non progresif (NP %): 25
Total (PR + NP%): 57
Immotil (IM %): > 43
Vitalitas: >70
Konsentrasi sperma: 70 juta /ml
Jumlah total sperma: 63 juta /ejakulasi
Morfologi
Morfologi normal: 5
Morfologi abnormal: 95
Kepala abnormal: 77
Leher abnormal: 12
Ekor abnormal: 5
Sitoplasmik droplet: 1
Kesan: Normo Zoospermia
Catatan: volume semen < 1ml

Foto HSG
Uterus anteflexio
Cavum uteri baik, tidak tampak SOL
Tubae: kedua tubae terisi kontras; spill tubae ka-ki (-). Tuba kanan melebar
sesuai dengan hydrosalphynx.
Kesan: Tubae kanan-kiri nonpatent
Hydrosalphynx kanan.

6
V. DIAGNOSIS KERJA
Hidrosalphynx dextra + infertile primer 5 tahun

VI. PROGNOSIS
Prognosis : dubia ad bonam

VII. TATALAKSANA (Planning / P)


Konsul kembali ke poli saat menstruasi untuk melihat folikel (USG Folikel)
Clindamicin 2 x 1 tab PO (untuk flour albus)

7
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Definisi

Menurut WHO, infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan


pasangan suami-istri untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan
seksual teratur selama minimal satu tahun tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
Apabila istri belum pernah hamil sebelumnya, maka disebut infertilitas primer.
Jika terdapat riwayat hamil sebelumnya, terlepas dari hasilnya, disebut sebagai
infertilitas sekunder.

Istilah subinfertilitas merujuk pada kurangnya kemampuan suatu


pasangan untuk mendapatkan kehamilan utnuk etiologi yang dapat diatasi.
Pembahasan mengenai fertilitas melibatkan suami dan istri, bukan suami atau istri
saja.

3.2. Etiologi

Penyebab utama infertilitas adalah,


1. Defek atau disfungsi sperma (25-30%)
2. Kegagalan ovulasi (10-20%)
3. Kerusakan tuba akibat infeksi (10-30%)
4. Infertilitas yang tidak diketahui sebabnya (15-25%)
Penyebab lain infertilitas adalah,
1. Endometriosis (10-15%)
2. Kegagalan atau kurangnay frekuensi koitus (3-4%)
3. Disfungsi atau defek mucus serviks (3-5%)

8
4. Abnormalitas uterus
5. Tuberkulosis genital
6. Penyakit yang menyebabkan kelumpuhan

3.3 Pemeriksaan pada Pasangan Infertil

Langkah pemeriksaan pasangan infertil dirancang dengan urutan seperti dibawah


ini:

a. Anamnesis

Pada pengumpulan data dengan anamnesis akan diketahui tentang keharmonisan


hubungan keluarga, lamanya perkawinan, hubungan seksual yang dilakukan, dll.

b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik umum untuk pasangan infertil meliputi pemeriksaan tekanan


darah, nadi, suhu tubuh, dan pernapasan.

c. Pemeriksaan laboratorium

Dilakukan pemeriksaan laboratorium dasar secara rutin (darah, urine lengkap,


fungsi hepar dan ginjal, gula darah). Pemeriksaan laboratorium khusus terhadap
suami meliputi pemeriksaan dan analisis sperma. Untuk pemeriksaan ini
diperlukan syarat yaitu tidak boleh berhubungan seks selama 3-5 hari, ditampung
dalam gelas, modifikasi dengan bersenggama memakai kondom yang telah dicuci
bersih, dan bahan yang ditampung harus mencapai laboratorium dalam waktu
sampai 1 jam, pemeriksaan setelah ejakulasi dalam waktu 2 jam di laboratorium.
Jumlah spermatozoa diharapkan minimal 20juta/ml. Pemeriksaan sperma untuk
mengetahui jumlah, volume, viskositas, bau, fruktosa, kemampuan menggumpal
dan mencair kembali.

d. Pemeriksaan Terhadap Ovulasi

9
Pemeriksaan ini dilakukan untuk membuktikan ovulasi (pelepasan telur).
Tindakan ini dilakukan dengan anggapan bahwa pada pemeriksaan dalam tidak
dijumpai kelainan alat kelamin wanita. Cara sederhana untuk membuktikan terjadi
ovulasi (pelepasan telur), dilakukan pemeriksaan suhu basal badan. Progesteron
yang dikeluarkan oleh korpus luteum dapat meningkatkan suhu basal badan, yang
diukur segera setelah bangun tidur. Dengan terjadinya ovulasi, suhu basal badan
rendah atau meningkat menjadi bifasik. Waktu perubahan tersebut dianggap
terjadi ovulasi, sehingga harus dimanfaatkan untuk melakukan hubungan seks
dengan kemungkinan hamil yang besar.

e. Pemeriksaan Terhadap Saluran Telur

Saluran telur (tuba fallopi) mempunyai fungsi yang sangat vital dalam proses
kehamilan yaitu tempat saluran spermatozoa dan ovum, tempat terjadinya
konsepsi (pertemuan sel telur dan spermatozoa), tempat tumbuh dan
berkembangnya hasil konsepsi, tempat saluran hasil konsepsi menuju rahim untuk
dapat bernidasi (menanamkan diri).

Gangguan fungsi saluran telur menyebabkan infertilitas, gangguan perjalanan


hasil konsepsi menimbulkan kehamilan di luar kandungan (ektopik) utuh atau
terganggu (pecah). Gangguan saluran tuba dapat ditandai dengan keluarnya cairan
tersebut kembali ke liang senggama.

f. Pemeriksaan Khusus

Pemeriksaan khusus yang dilakukan untuk dapat menetapkan kelainan pada


pasangan infertil meliputi hal berikut :

g. Histeroskopi

Pemeriksaan histeroskopi adalah pemeriksaan dengan memasukkan alat optik ke


dalam rahim untuk mendapatkan keterangan tentang mulut saluran telur dalam
rahim (normal, edema, tersumbat oleh kelainan dalam rahim), lapisan dalam
rahim (situasi umum lapisan dalam rahim karena pengaruh hormon, polip atau
mioma dalam rahim) dan keterangan lain yang diperlukan.

10
h. Laparoskopi

Pemeriksaan laparoskopi adalah pemeriksaan dengan memasukkan alat optik ke


dalam ruang abdomen (perut), untuk mendapatkan keterangan tentang keadaan
indung telur yang meliputi ukuran dan situasi permukaannya, adanya Graaf
folikel, korpus luteum atau korpus albikans, abnormalitas bentuk, keadaan tuba
fallopi (yang meliputi kelainan anatomi atau terdapat perlekatan); keadaan
peritoneum rahim, dan sekitarnya (kemungkinan endometritis dan bekas infeksi).
Pengambilan cairan pada peritoneum untuk pemeriksaan sitologi pewarnaan dan
pembiakan.

i. Ultrasonografi

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sangat penting pada pasangan infertil terutama


ultrasonografi vaginal yang bertujuan mendapatkan gambaran yang lebih jelas
tentang anatomi alat kelamin bagian dalam, mengikuti tumbuh kembang folikel de
Graaf yang matang, sebagai penuntun aspirasi (pengambilan) telur (ovum) pada
folikel Graaf untuk pembiakan bayi tabung. Ultrasonografi vaginal dilakukan
pada sekitar waktu ovulasi dan didahului dengan pemberian pengobatan dengan
klimofen sitrat atau obat perangsang indung telur lainnya.

j. Uji pasca-senggama

Pemeriksaan uji pasca-senggama dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan


tembus spermatozoa dalam lendir serviks. Pasangan dianjurkan melakukan
hubungan seks di rumah dan setelah 2 jam datang ke rumah sakit untuk
pemeriksaan. Lendir serviks diambil dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan
jumlah spermatozoa yang dijumpai dalam lendir tersebut. Pemeriksaan ini
dilakukan sekitar perkiraan masa ovulasi yaitu hari ke 12, 13, dan 14, dengan
perhitungan menstruasi hari pertama dianggap ke-1. Namun hasilnya masih belum
mendapat kesepakatan para ahli.

k. Pemeriksaan hormonal

11
Setelah semua pemeriksaan dilakukan, apabila belum dapat dipastikan penyebab
infertilitas dapat dilakukan pemeriksaan hormonal untuk mengetahui hubungan
aksis hipotalamus, hipofise, dan ovarium. Hormon yang diperiksa adalah
gonadotropin (folicle stimulation hormon (FSH) & hormon luteinisasi (LH)) dan
hormon (esterogen, progesteron, dan prolaktin). Pemeriksaan hormonal ini dapat
menetapkan kemungkinan infertilitas dari kegagalannya melepaskan telur
(ovulasi). Semua pemeriksaan harus selesai dalam waktu 3 siklus menstruasi,
sehingga rencana pengobatan dapat dilakukan. Oleh karena itu pasangan
infertilitas diharapkan mengikuti rancangan pemeriksaan sehingga kepastian
penyebabnya dapat ditegakkan sebagai titik awal pengobatan selanjutnya.

Pada kasus, Ny. B didiagnosis mengalami Endometriosis ASRM grade III


+ uterus didelphis bicoli + Polip Endometrium + Paten tuba bilateral. Maka,
berikut tinjauan pustaka mengenai diagnosis Ny. B.

Endometriosis

Endometriosis pertama kali diidentifikasi pada pertengahan abad 19 (Von


Rockitansky, 1860). Endomentriosis sering didapatkan pada peritoneum pelvis,
tetapi juga sering didapatkan pada ovarium, septum rektovaginalis, ureter, tetapi
jarang pada vesika urinaria, pericardium, dan pleura. Endometriosis merupakan
penyakit yang pertumbuhannya tergantung pada hormone estrogen. Insidensi
endometriosis sulit dikuantifikasi oleh karena sering gejalanya asimptomatis dan
pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakan diagnosis sensitifitasnya rendah.
Perempuan dengan edometriosis bisa tanpa gejala, subfertil, atau menderita rasa
sakit pada daerah pelvis terutama waktu menstruasi. Pada perempuan
endometriosis yang asimtomatis prevalensinya sekitar 2-22% tergantung pada
populasinya. Oleh karena beraitan dengan infertilitas dan rasa sakit di rongga
pelvis, prevalensinya bisa meningkat 20-50%.

1. Definisi

12
Endometriosis adalah jaringan ektopik (tidak pada permukaan dalam
uterus) yang memiliki susunan kelenjar atau stroma endometrium atau kedua-
duanya dengan atau tanpa makrofag yang berisi hemosiderin dan fungsinya mirip
dengan endometrium karena berhubungan dengan haid dan bersifat jinak, tetapi
dapat menyebar ke organ-organ dan susunan lainnya.
Endometriosis merupakan suatu keadaan dimana jaringan endometrium
yang masih berfungsi terdapat baik diluar endometrium kavum uteri maupun di
miometrium (otot rahim). Bila jaringan endometrium tersebut berimplantasi di
dalam miometrium disebut endometriosis interna atau adenomiosis, sedangkan
jaringan endometrium yang berimplantasi di luar kavum uteri disebut
endometriosis eksterna atau endometriosis sejati. Pembagian ini sekarang sudah
tidak dianut lagi karena baik secara patologik, klinik ataupun etiologik
adenomiosis dan endometriosis berbeda.

2. Patofisiologi

Pertumbuhan endometrium menembus membrane basalis. Pada


pemeriksaan histologis, sebagian menunjukkan pertumbuhan endometrium
menyambung ke dalam fokus adenomiosis, sebagian ada di dalam myometrium
dan sebagian lagi ada yang tidak tampak adanya hubungan antara permukaan
endometrium dengan focus adenomiosis. Hal ini mungkin disebabkan oleh
hubungan ini terputus oleh adanya fibrosis. Seiring dengan berkembangnya
adenomiosis, uterus membesar secara difus dan terjadi hipertrofi otot polos.
Kadang elemen kelenjar berada dalam lingkup tumor otot polos yang menyerupai
mioma. Kondisi ini disebut sebagai adenomioma. Fundus uteri merupakan tempat
yang paling umum dari adenomiosis. Pola mikroskopik dijumpai adanya pulau-
pulau endometrium yang tersebat dalam myometrium. Endometrium ektopik
dapat memperlihatkan adanya perubahan seiring dengan adanya siklus haid,
umumnya jaringan ini bereaksi dengan estrogen tapi tidak dengan progesterone.
Penyebab adenomiosis sampai sekarang tidak diketahui secara pasti. Emungkinan
disebabkan adanya erupsi dari membrane basalis dan disebabkan oleh trauma
berulang, persalinan berulang, operasi sesar ataupun kuretase.

13
3. Patogenesis

Sampai saat ini belum ada yang dapat menerangkan secara pasti penyebab
terjadinya endometriosis. Namun demikian beberapa ahli mencoba menerangkan
kejadian endometriosis, antara lain :

3.1 Teori implantasi dan regurgitasi (John A. Sampson)

Endometriosis terjadi karena darah haid mengalir kembali (regurgitasi)


melalui tuba ke dalam rongga pelvis. Sudah dibuktikan bahwa dalam darah haid
ditemukan sel-sel endometrium yang masih hidup. Sel-sel yang masih hidup ini
kemudian dapat mengadakan implantasi di pelvis. Teori ini paling banyak
penganutnya, tetapi teori ini belum dapat menerangkan kasus endometriosis di
luar pelvis.

3.2 Teori metaplasia (Rober Meyer)

14
Endometriosis terjadi karena rangsangan pada sel-sel epitel yang berasal
dari selom yang dapat mempertahankan hidupnya di dalam pelvis. Rangsangan ini
akan menyebabkan metaplasi dari sel-sel epitel itu, sehingga terbentuk jaringan
endometrium. Secara endokrinologis, epitel germinativum dari ovarium,
endometrium dan peritoneum berasal dari epitel selom yang sama. Teori Robert
Meyer akhir-akhir ini semakin banyak ditentang. Disamping itu masih terbuka
kemungkinan timbulnya endometroisis dengan jalan penyebaran melalui darah
atau limfe, dan dengan implantasi langsung dari endometrium saat operasi.

3.3 Teori penyebaran secara limfogen (Halban)

Teori ini dikemukakan atas dasar jaringan endometrium menyebar melalui


saluran limfatik yang mendrainase rahim, dan kemudian diangkut ke berbagai
tempat pelvis dimana jaringan tersebut tumbuh secara ektopik. Jaringan
endometrium ditemukan dalam limfatik pelvis pada sampai 20% dari penderita
endometriosis.

3.4 Teori imunologik

Banyak peneliti berpendapat bahwa endometriosis adalah suatu penyakit


autoimun karena memiliki kriteria cenderung lebih banyak pada perempuan,
bersifat familiar, menimbulkan gejala klinik, melibatkan multiorgan, dan
menunjukkan aktivitas sel B-poliklonal. Di samping itu telah dikemukakan bahwa
danazol yang semula dipakai untuk pengobatan endometriosis yang disangka
bekerja secara hormonal, sekarang ternyata telah dipakai untuk mengobati
penyakit autoimun atas dasar bahwa danazol menurunkan tempat ikatan IgG pada
monosit, sehingga mempengaruhi aktivitas fagositik.

4. Gambaran Klinis
Aktivitas jaringan endometriosis sama halnya dengan endometrium yakni
sangat bergantung pada hormon. Aktivitas jaringan endometriosis akan terus
meningkat selama hormon masih ada dalam tubuh, setelah menopause gejala
endometriosis akan menghilang. Gejala-gejala yang dapat ditemukan pada
penyakit endomeriosis berupa :

15
1) Dismenorea adalah nyeri haid siklik merupakan gejala yang sering
dijumpai. Terjadi 1-3 hari sebelum haid dan dengan makin banyaknya
darah haid yang keluar keluhan dismenorea pun akan mereda. penyebab
dari dismenorea ini belum diketahui, tetapi diduga berhubungan dengan
adanya vaskularisasi dan perdarahan dalam sarang endometriosis pada
waktu sebelum dan semasa haid.
2) Dispareunia merupakan gejala tersering dijumpai setelah dismenorea,
keluhan ini disebabkan adanya endometriosis di dalam kavum Douglasi.
3) Diskezia atau nyeri waktu defekasi terutama pada waktu haid, disebabkan
adanya endometriosis pada dinding rektosigmoid.
4) Gangguan miksi dan hematuria bila terdapat endometriosis di kandung
kencing, tetapi gejala ini jarang terjadi.
5) Gangguan haid dan siklusnya dapat terjadi pada endometriosis apabila
kelainan pada ovarium demikian luasnya sehingga fungsi ovarium
terganggu.
6) Infertilitas juga merupakan suatu gejala endometriosis yang masih sulit
dimengerti. Tetapi faktor penting yang menyebabkan infertilitas pada
endometriosis ialah mobilitas tuba terganggu karena fibrosis dan
perlekatan jaringan disekitarnya.
Pada pemeriksaan ginekologik, khususnya pada pemeriksaan vagino-
rekto-abdominal, ditemukan pada endometriosis ringan benda-benda padat
sebesar butir beras sampai butir jagung di kavum Douglasi, dan pada ligamentum
sakrouterinum dengan uterus dalam retrofleksi dan terfiksasi. Ovarium mula-mula
dapat diraba sebagai tumor kecil, akan tetapi dapat membesar sampai sebesar
tinju.

5. Klasifikasi Endometriosis
5.1. Klasifikasi endometriosis menurut Acosta (1973)
1) Ringan
Endometriosis menyebar tanpa perlekatan pada anterior atau
posterior kavum Douglasi atau permukaan ovarium atau
peritoneum pelvis.

16
2) Sedang
Endometriosis pada satu atau kedua ovarium disertai parut dan
retraksi atau endometrioma kecil.
Perlekatan minimal juga di sekitar ovarium yang mengalami
endometriosis.
Endometriosis pada anterior atau posterior kavum Douglasi dengan
parut dan retraksi atau perlekatan, tanpa implantasi di kolon
sigmoid.
3) Berat
Endometriosis pada satu atau dua ovarium, ukuran lebih dari 2 x 2
cm.
Perlekatan satu atau dua ovarium atau tuba atau kavum Douglasi
karena endometriosis.
Implantasi atau perlekatan usus dan/ atau traktus urinarius yang
nyata.

17
5.2 Klasifikasi Endometriosis berdasarkan ASRM

18
5.3 Klasifikasi endometriosis menurut Revisi American Fertility Society (1985)

6. Diagnosis
Diagnosis biasanya berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik,
dipastikan dengan pemeriksaan laparoskopi. Pada endometriosis yang ditemukan
pada lokasi seperti forniks vaginae posterior, perineum, parut laparotomi dan
sebagainya, biopsi dapat memberi kepastian mengenai diagnosis. Pemeriksaan
laboratorium pada endometriosis tidak memberi tanda yang khas, hanya apabila

19
ada darah dalam tinja atau air kencing pada waktu haid dapat menjadi petunjuk
tentang adanya endometriosis pada rektosigmoid atau kandung kencing.
Diagnosis banding endometriosis berdasarkan gejala, yakni :
1) Dismenorea : dismenorea primer, dismenorea sekunder yang disebabkan
antara lain adenomiosis, mioma, infeksi, dan stenosis servikalis.
2) Dispareunia : kurangnya lubrikasi,kelainan gastrointestinal (irritable
bowel syndrome), kongestif vaskular pelvik, dan sebagainya.
3) Infertilitas : anovulasi, defisiensi fase luteal, infeksi atau penyakit tuba.

7. Pencegahan
Kehamilan adalah cara pencegahan yang paling baik untuk endometriosis.
Gejala-gejala endometriosis memang berkurang atau hilang pada waktu dan
sesudah kehamilan karena regresi endometrium dalam sarang-sarang
endometriosis. Oleh sebab itu hendaknya perkawinan jangan ditunda terlalu lama,
dan sesudah perkawinan hendaknya diusahakan supaya mendapat anak-anak yang
diinginkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sikap demikian itu tidak hanya
merupaka profilaksis yang baik terhadap endometriosis, melainkan menghindari
terjadinya infertilitas sesudah endometriosis timbul. Selain itu jangan melakukan
pemeriksaan yang kasar atau melakukan kerokan pada waktu haid, karena dapat
menyebabkan mengalirnya darah haid dari uterus ke tuba dan ke rongga panggul.

8. Terapi Medis
Standar terapi medis pada pasien endometriosis meliputi : analgesik
(NSAID atau acetaminophen), pil kontrasepsi oral, agen androgenik (danazol
[Danocrine ]), agen progestogen (medroksiprogesteron asetat [Provera ]),
hormon pelepas-gonadotropin (GnRH) misalnya leuprolid [Lupron ], goserelin
[Zoladex ], triptorelin [Trelstar Depot ], nafarelin [Synarel ]), and
antiprogestogen (gestrinone).4

20
Dasar pengobatan hormonal endometriosis ialah bahwa pertumbuhan dan
fungsi jaringan endometriosis sama seperti jaringan endometrium yang normal,
dimana jaringan endometriosis juga dikontrol oleh hormon-hormon steroid. Data
laboratorium menunjukkan bahwa jaringan endometriosis mengandung reseptor
estrogen, progesteron dan androgen, yakni
estrogen merangsang pertumbuhan jaringan
endometriosis, androgen menyebabkan atrofi,
sedang progesteron masih diperdebatkan,
namun progesteron sintetik yang mengandung
efek androgenik tampaknya menghambat
pertumbuhan endometriosis.
Dari dasar tersebut, prinsip pertama
pengobatan hormonal endometriosis adalah
menciptakan lingkungan hormon rendah
estrogen dan asiklik, sehingga diharapkan
kadar estrogen yang rendah menyebabkan
atrofi jaringan endometriosis dan keadaan yang
asiklik mencegah terjadinya haid yang berarti
tidak terjadinya pelepasan jaringan
endometrium yang normal maupun jaringan

21
endometriosis. Kemudian prinsip kedua adalah menciptakan lingkungan hormon
tinggi androgen atau tinggi progestogen yang secara langsung menyebabkan atrofi
jaringan endometriosis. Di samping itu, prinsip tinggi androgen atau tinggi
progestogen juga menyebabkan keadaan rendah estrogen yang asiklik karena
gangguan pada pertumbuhan folikel.

9. Terapi Pembedahan
Endometriosis yang cukup berat (stadium III atau IV) dapat menyebabkan
kelainan anatomis pelvis, dimana hal tersebut sangat memungkinkan merusak
fertilitas (kesuburan) dengan cara mengganggu jangkauan oosit dan transportasi
sepanjang tuba fallopi. Keadaan ini umumnya diterapi dengan cara pembedahan.
Pada umumnya terapi pembedahan pada endometriosis bersifat bedah
konservatif yakni mengangkat saranng-sarang endometriosis dengan
mempertahankan fungsi reproduksi dengan cara meninggalkan uterus dan jaringan
ovarium yang masih sehat, dan perlekatan sedapat mungkin dilepaskan.
Pembedahan konservatif dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan yakni
laparotomi atau laparoskopi operatif. Pembedahan konservatif pada pasien usia
duapuluhan akhir dan awal empatpuluhan terutama bila fertilitas di masa depan
dikehendaki, maka endometriosis yang cukup luas diterapi dengan 1) reseksi
endometriomata; 2) melepaskan perlekatan tuba dengan atau tanpa neurektomi
presakral (untuk mengurangi dismenorea); 3) suspensi uterus (melepaskan fiksasi
retroversi fundus uteri dari kavum Douglasi akibat perlekatan endometriotik); 4)
menghilangkan apendiks dikarenakan tidak jarang sarang-sarang endometriosis
terdapat pada serosa apendiks.
Pembedahan radikal dilakukan pasien usia 40 tahun dengan menderita
endometriosis yang luas disertai banyak keluhan. Pilihan pembedahan radikal
histerektomi total, salpingo-ooforektomi bilateral dan pengangkatan sarang-sarang
endometriosis yang ditemukan.
Komplikasi tersering pembedahan adalah pecahnya kista, tidak dapat
terangkatnya seluruh dinding kista secara baik dan sempurna. Hal ini
mengakibatkan tingginya perlekatan pasca-pembedahan. Untuk mencegah
pecahnya kista, dianjurkan pengobatan terapi hormonal praoperatif selama

22
beberapa bulan. Cara lain untuk mencegah pecahnya kista dengan pungsi kista
per-laparaskopi yang kemudian dilanjutkan terapi hormonal selama 6 bulan, tetapi
cara ini masih belum banyak dilakukan dan masih diperdebatkan.

Uterus Didelphis Bicoli


Uterus didelphys, atau rahim ganda, adalah kondisi yang sangat jarang
ditemukan. Kemungkinannya adalah antara 1:1000 sampai 1:1000000 wanita di
seluruh dunia, dan kadangkala terjadi dalam satu keluarga. Pada beberapa kasus
rahim ganda, kedua rahim terletak secara bersama-sama pada satu set saluran
telur, indung telur, leher rahim (uterus) dan vagina. Namun ada juga yang
mempunyai dua set masing-masing lengkap, dua rahim, dua set saluran telur dan
indung telur, dua leher rahim dan dua vagina. Seorang wanita dapat menjalani
operasi untuk menyatukan kedua vaginanya, tetapi dua rahim secara tipical, betul-
betul terpisah. Kondisi ini biasanya terjadi ketika pembuluh mullers pada
pembentukan janin tidak pernah bergabung ke dalam satu rahim sebagaimana
seharusnya.
Pada Desembar 2006 di Britania, tiga bayi dilahirkan dari dua rahim
terpisah pada seorang wanita. Sejauh yang diketahui, hanya 70 wanita dengan
rahim ganda (uterus didelphys) yang pernah hamil secara bersamaan dengan satu
bayi pada setiap rahim. Kemungkinan hal ini terjadi kira-kira satu dari lima juta.
Kemungkinan wanita ber-rahim ganda hamil dengan tiga bayi (dua bayi dalam
satu rahim, dan satu bayi dalam rahim lainnya) adalah satu dari 25 juta. Dan
kemungkinan ketiga bayi tersebut bertahan hidup bahkan lebih kecil lagi.
Anomali duktus mulleri berhubungan dengan fungsi ovarium dan genitalia
eksterna yang sesuai dengan usia. Kelainan ini sering terjadi setelah masa
pubertas. Pada periode prapubertas, genitalia eksterna normal dan tahap
perkembangan sesuai dengan usia sering menutupi kelainan pada organ
reproduksi internal. Setelah masa pubertas, perempuan muda sering datang ke
dokter kandungan dengan gangguan menstruasi yang menunjukkan
ketidaksuburan dan komplikasi kebidanan. Karena variasi yang luas dalam
presentasi klinis, anomali duktus mulleri mungkin sulit untuk didiagnosa. Setelah

23
diagnosis yang akurat, mereka biasanya diberikan banyak pilihan pengobatan
yang disesuaikan dengan anomali duktus mullerian tertentu.
Perbaikan dalam teknik bedah, seperti Vecchietti dan prosedur McIndoe,
telah memungkinkan banyak wanita dengan anomali duktus mulleri untuk
memiliki hubungan seksual yang normal. Kemajuan bedah lainnya telah
menghasilkan peningkatan kesuburan dan hasil obstetri. Selain itu, perkembangan
teknologi reproduksi juga dapat membantu memungkinkan wanita dengan
anomali duktus mulleri untuk hamil dan melahirkan bayi yang sehat.

1. Embriologi
Dua pasang duktus mulleri akhirnya berkembang menjadi struktur saluran
reproduksi wanita. Struktur meliputi tuba falopii, uterus, servik, dan dua pertiga
vagina bagian atas. Ovarium dan sepertiga vagina bagian bawah memiliki asal-
usul embryologic terpisah tidak berasal dari sistem mulleri.
Formasi lengkap dan diferensiasi duktus mulleri ke segmen saluran
reproduksi wanita tergantung pada penyelesaian 3 fase pengembangan sebagai
berikut:
Organogenesis: Satu atau kedua duktus mulleri mungkin tidak berkembang
sepenuhnya, sehingga kelainan seperti agenesis rahim atau hipoplasia (bilateral)
atau rahim unicornuate (unilateral).
Fusion: Proses di mana segmen yang lebih rendah dari duktus mulleri
dipasangkan bergabung membentuk uterus, servik, dan vagina bagian atas disebut
fusi lateral. Kegagalan hasil fusi dalam anomali seperti bikornuata atau uterus
didelphys. Istilah fusi vertikal kadang-kadang digunakan untuk merujuk pada fusi
bola sinovaginal ascending dengan sistem mulleri menurun (yaitu fusi yang lebih
rendah sepertiga dan atas dua pertiga vagina). Fusi vertikal lengkap membentuk
vagina paten normal, sedangkan hasil fusi vertikal lengkap dalam selaput dara
imperforata.
Resorpsi septum: Setelah duktus mulleri menyatu, septum pusat hadir, yang
kemudian harus diserap untuk membentuk rongga rahim dan leher rahim tunggal .
Kegagalan resorpsi adalah penyebab rahim septate.
Ovarium dan vagina bagian bawah tidak berasal dari sistem mulleri.
Ovarium yang berasal dari sel germinal yang bermigrasi dari primitif yolk sac ke

24
mesenkim dari rongga peritoneal dan kemudian berkembang menjadi ovum dan
sel pendukung.

2. Anomali Duktus Mulleri Berdasarkan AFS


Anomali duktus mulleri mungkin timbul dalam situasi klinis yang berbeda.
Pada bayi baru lahir, presentasi awal mungkin akan terjadi gangguan pada perut,
panggul, atau vagina teraba massa (mucocolpos).
Demikian pula, seorang gadis remaja datang ke dokter karena menarche
tertunda atau karena sistem terhambat (hematocolpos). Banyak pasien juga
memiliki siklus nyeri. Wanita usia subur sering datang dengan berbagai masalah
infertilitas, aborsi spontan berulang, atau persalinan prematur. Kadang-kadang,
anomali yang ditemukan secara kebetulan selama operasi seperti sterilisasi elektif.
Menurut American Fertility Society (AFS) anomali duktus mulleri
dikategorikan menjadi 7 kelas:
Kelas I (hipoplasia/agenesis) meliputi entitas seperti agenesis
rahim/serviks atau hipoplasia. Bentuk yang paling umum adalah sindrom
Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser, yang dikombinasikan agenesis rahim, leher
rahim, dan bagian atas vagina. Pasien tidak memiliki potensi reproduksi selain
dari intervensi medis dalam bentuk fertilisasi in vitro
Kelas II (uterus unicornis) dikenal juga dengan nama single horned
uterus, yaitu uterus yang hanya mempunyai satu "tanduk" sehingga bentuknya
seperti pisang. Sekitar 65% wanita memiliki kelainan uterus unicornis yang
mempunyai semacam tanduk kedua lebih kecil.Terkadang "tanduk" kecil ini
berhubungan dengan uterus dan vagina, tetapi yang sering terjadi adalah terisolasi
dan tidak berhubungan dengan keduanya.

Gambar 1. Uterus Unicornis

Kelas III (Uterus Didelphys)

25
Uterus didelphys adalah kelainan uterus yang memiliki "dua leher rahim".
Sebagian besar kasus ini mempunyai dinding yang memisahkan vagina menjadi
dua bagian. Wanita dengan kelainan ini tidak mengalami gejala apapun. Namun
sebagian mengalami sakit ketika haid yang disebabkan karena adanya dinding
penyekat yang memisahkan vagina menjadi dua bagian.

Gambar 2. Uterus Didelphys

Kelas IV (Uterus Bikornis)


Uterus bikornis adalah kelainan bentuk uterus seperti bentuk hati,
mempnyai dinding di bagian dalamnya dan terbagi dua di bagian luarnya. Jika
hamil, wanita yang memiliki bentuk rahim ini akan mengalami kelainan letak,
yaitu janin sering dalam keadaan melintang atau sungsang. Namun, wanita yang
mempunyai kelainan ini masih mempunyai kesempatan melahirkan anak,
walaupun risiko tinggi untuk mengalami inkompetensia serviks keadaan leher
rahim yang lemah sehingga mudah terbuka.

Gambar 3. Uterus Bikornis

Kelas V (Uterus Septus)


Septate uterus adalah kelainan uterus yang sebagian atau seluruh dindingnya
terbelah seolah-olah mempunyai sekat menjadi dua bagian. Padahal bagian luar

26
terlihat normal. Kelainan ini dapat didiagnosis dengan pemeriksaan dalam, tetapi
terkadang tidak diketahui sampai wanita tersebut mengalami gangguan kehamilan
seperti sulit hamil atau sering keguguran berulang.

Gambar 4. Uterus Septus

Kelas VI (Uterus Arkuata)


Arcuate uterus ini mempunyai rongga uterus tunggal dengan fundus uteri
cembung atau flat. Bentuk ini sering dianggap sebagai varian normal karena tidak
meningkatkan risiko keguguran dan komplikasi lain.

Gambar 5. Uterus Arkuata

Kelas VII (Kelainan DES)


Pejanan in utero terhadap dietilstilbestrol (DES) terjadi pada individu yang
lahir pada tahun 1940-1972 yang ibunya diberi estrogen sintetis untuk mencegah
keguguran. DES kemudian terbukti menyebabkan kelainan kongenital pada
wanita, dan pada derajat yang lebih rendah, juga pada pria. Kelainan pada wanita
yang paling sering adalah bentuk serviks yang abnormal. Serviks ini digambarkan
seperti mangkuk, peci, atau hipoplasia. Susunan otot-otot uterus juga mengalami
kelainan pada wanita yang terpajan DES seperti rongga uterus berbentuk T pada
histerosalpingografi. DES tampaknya menyebabkan kelainan ini melalui aktivasi
yang tidak sesuai pada gen yang tergantung estrogen yang terlibat saat diferensiasi

27
serviks dan sepertiga bagian atas vagina bagian bawah. Keadaan ini tidak hanya
menyebabkan kelainan struktural pada serviks dan uterus, namun juga
menyebabkan menetapnya epitel kelenjar serviks pada vagina (adenosis vagina).

Gambar 6. Kelainan DES

Polip Endometrium
Polip endometrium ditandai dengan adanya perdarahan abnormal per
vaginam, paling umum menometroragia atau perdarahan bercak ringan pasca
menopause. Polip terjadi dari umur 29-59 tahun dengan kejadian terbanyak
setelah umur 50 tahun. Insiden polip tanpa gejala pada wanita pasca menopause
kira-kira 10%.
Polip endometrium biasanya terjadi pada fundus dan dapat melekat dengan
adanya tangkai yang ramping (bertangkai) atau dasar yang lebar (tidak
bertangkai). Kadang-kadang polip prolaps melalui serviks. Secara makroskopis
polip endometrium tampak sebagai massa ovoid berukuran beberapa mill- meter
hingga beberapa sentimeter, licin seperti beludru berwarna merah hingga coklat.
Secara histologis, polip endometrium mempunyai inti stroma dengan jaringan
pembuluh darah yang jelas sena permukaan mukosa endometrium yang dapat
melapisi komponen glanduler. Polip di bagian distal dapat menunjukkan
perdarahan stroma, sel-sel radang, ulerasi dan dilatasi pembuluh darah dilatasi.
Kadang-kadang terjadi poliposis multipel. Varian lain yang jarang adalah
adenomioma bertangkai (dibedakan dengan adanya pita penjalin otot polos).

28
Gambar 7. Polip Endometrium
Polip endometrium adalah massa atau jaringan lunak yang tumbuh pada
lapisan dinding bagian dalam edometrium dan menonjol ke dalam rongga
endometrium.Pertumbuhan sel-sel yang berlebih pada lapisan endometrium
(rahim) mengarah pada pembentukan polip.
Polip endometrium atau polip uterus adalah massa di lapisan dalam rahim.
Mereka mungkin memiliki basis datar besar (sesil) atau melekat pada rahim oleh
memanjang pedikel (pedunkulata). Polip pedunkulata lebih umum daripada yang
sessile. Mereka berbagai ukuran dari beberapa milimeter sampai beberapa
sentimeter. Jika pedunkulata, mereka bisa menonjol melalui leher rahim ke dalam
vagina. Pembuluh darah kecil mungkin hadir, terutama di polip besar.

1. Etiologi

Penyebab polip endometrium tidak diketahui secara pasti, namun faktor


hormonal berperan penting dalam timbulnya polip endometrium. Polip
endometrium terjadi karena:
Adanya bagian endometrium yang sangat sensitif terhadap hormon estrogen
sehingga mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dan besar dibandingkan
bagian endometrium yang lain.
Produksi hormon yang abnormal yaitu hormon estrogen yang tidak diimbangi
oleh hormon progesteron.

2. Patofisiologi
Polip endometrium sering didapati terutama dengan pemeriksaan
histeroskopi. Polip berasal antara lain dari

29
Adenofibroma : biasanya terdiri dari epitel endometrium dengan stroma
yang sesuai dengan daur haid. Adenoma ini biasanya merupakan
penampilan hiperplasia endometrium, dengan konsistensi lunak dan
berwarna kemerah merahan. Gangguan yang sering ditimbulkan adalah
metroragi sampai menometroragi, infertilitas. Mempunyai kecenderungan
kambuh kembali.
Mioma submukusum : sarang mioma dapat tumbuh bertangkai dan keluar
dari uterus menjadi mioma yang dilahirkan. Tumor berkonsistensi kenyal
berwarna putih.
Polip plasenta : berasal dari plasenta yang tertinggal setelah partus maupun
abortus. Pemeriksaan histologi memperlihatkan vili korialis dalam
berbagai tingkat degenerasi yang dilapisi endometrium. Polip plasenta
menyebabkan uterus mengalami subinvolusi yang menimbulkan
perdarahan. Polip endometrium umumnya diangkat dengan cara kuretase.

Insiden tidak diketahui. Paling sering pada perempuan berumur 30-59


tahun. Kurang dari sepertiga memperlihatkan endometrium fungsional, bisa
memperlihatkan hiperpasia kistik bisa menonjol.

3. Tanda dan Gejala


Perdarahan haid yang tidak teratur
Perdarahan antara haid
Perdarahan vagina setelah menopause
Infertilitas
Polip endometrium dapat berkembang pada wanita pre atau post
menopause. Wanita yang postmenopause mungkin hanya mengalami
perdarahan bercak.

4. Diagnosis
USG Transversal

30
Sebuah perangkat yang ramping berbentuk tomgkat di tempatkan di vagina
yang akan menggambarkan endometrium penderita.
Histereskopi
Sebuah alat kecil yang disertai dengan kamera bercahaya dimasukkan
melalui vagina dan serviks masuk ke dalam endometrium. Histereskopi
memungkinkan dokter melihat secara langsung bagian dalam endometrium
sekaligus mengangkat polip.

5. Pengobatan
Kuretase
Tujuan dari kuret adalah mengangkat polip endometrium dengan cara
mengikis dinding bagian dalam endometrium, hal ini bertujuan untuk
mengumpulkan spesimen untuk pengujian laboratorium.
Polip dapat diangkat dengan operasi menggunakan kuret dengan atau tanpa
histeroskopi.

Paten Tuba Bilateral

Patensi tuba adalah keadaan tuba fallopi yang tertutup sehingga tidak dapat
mengalirkan ovum yang sudah terfertilisasi. Patensi tuba dapat menyebabkan
infertilitas.

Evaluasi patensi tuba merupakan langkah penting dalam pemeriksaan


pasangan infertil khususnya pada kondisi terdapat risiko adanya kerusakan tuba.
Selama 20 tahun terakhir terdapat pergeseran penyebab infertilitas, dari faktor
ovarium dan uterus mengarah ke faktor tuba dan infertilitas pria. Obstruksi dan
kerusakan tuba menjadi penyebab 35% pasangan infertil. Tuba falopii tidak dapat
diperiksa menggunakan USG kecuali diameternya membesar seperti pada
hidrosalping, pyosalping, kehamilan ektopik, kanker tuba atau torsi. Standar emas
pemeriksaan tuba selama ini masih laparoskopi dan kromopertubasi bersamaan
dengan HSG radiologi.

31
Kerusakan tuba dapat terjadi akibat penyakit inflamasi pelvis,
endometriosis, pembedahan panggul, apendisitis, kehamilan ektopik atau abortus
septik. Meskipun banyak wanita dengan penyakit tuba maupun adhesi panggul
tidak memiliki riwayat infeksi yang diketahui sebelumnya, bukti yang ada
menunjukkan bahwa silent infeksi merupakan penyebab yang paling mungkin.
Banyak dari wanita-wanita tersebut ditemukan adanya peningkatan kadar antibodi
Chlamidia sehingga menunjukkan adanya infeksi Chlamidia sebelumnya.
Penyebab infertilitas tuba lainnya mencakup peradangan yang berkaitan dengan
endometriosis dan trauma pembedahan.

Untuk mendiagnosis adanya kelainan tuba dibutuhkan teknik diagnosis yang


akurat, aman, mudah dilakukan, murah dan dapat diterima pasien. Umumnya saat
ini yang banyak dipergunakan untuk evaluasi tuba adalah histerosalpingografi
(HSG) meskipun banyak pula kekurangan HSG diantaranya termasuk metode
yang infasif, menyakitkan, mahal dan berisiko terjadi infeksi tuba. Teknik
diagnosis ini juga menggunakan sinar x dan penggunaan kontras iodin yang dapat
menyebabkan alergi. Pemeriksaan ini juga tidak memberikan informasi tambahan
mengenai kondisi ovarium dan bagian luar uterus.

Laparoskopi dengan kromopertubasi dan histeroskopi sebagai baku emas


pemeriksaan tuba lebih akurat daripada metode lainnya namun terdapat
kekurangan yaitu mahal, memerlukan waktu lama, mengandung risiko operatif
dan anasthesiologis. Penggunaan ultrasonografi transvaginal (USG-TV) dalam
bidang infertilitas telah lama dipergunakan dan bermanfaat dalam mendiagnosis
kondisi pelvis yang berhubungan dengan infertilitas namun perannya dalam
evaluasi tuba masih sangat sedikit.

Sonohisterosalpingografi (Sono-HSG) serupa dengan HSG, menggunakan


ultrasonografi dan larutan saline steril, dan merupakan metode alternatif untuk
mengevaluasi faktor tuba. Saat ini metode ini telah dikembangkan lebih jauh lagi
dengan penggunaan kontras untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifitas sono-
HSG. Pemeriksaan moda inversi dengan USG-3D juga mungkin dapat menjadi
alternatif evaluasi fungsi tuba khususnya pada pasien dengan koleksi cairan di

32
kavum douglas. Bila tuba falopii tidak membesar diameternya, SIS dapat
dijadikan alternatif evaluasi yang lebih cepat dan lebih murah. Pemeriksaan
doppler tuba dengan SIS yang dikombinasikan dengan USG-3D dapat
memberikan gambaran yang lengkap menyerupai laparoskopi kromopertubasi,
meskipun tidak semua pemeriksaan dapat dievaluasi dengan baik.

A
B

Gambar 8. Hasil pemeriksaan histerosonografi (A) Hydrosalping


bilateral (B) Tuba Paten

BAB IV
ANALISIS KASUS

Penegakan diagnosis pada pasien ini dapat diketahui dari anamnesis,


pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dari hasil anamnesis didapatkan
bahwa sejak 5 tahun yang lalu Os mengeluh masih belum mengandung meskipun
telah mengkonsumsi obat hormonal. Pada Os tidak dijumpai adanya kelainan pada
BAB dan BAK. Os juga mengakui siklus menstruasinya teratur, tiap 28 hari,
dengan lama 5-7 hari dan tidak ada nyeri yang sampai mengganggu aktivitas.
Berdasarkan hasil anamnesis tersebut, dapat diketahui bahwa Os mengalami
infertilitas dimana Os tetap tidak mendapatkan kehamilan meskipun sudah ada
upaya dengan melakukan hubungan seksual secara teratur (2-3 kali dalam
seminggu) sejak 5 tahun yang lalu. Pada kasus ini infertilitas dikategorikan

33
sebagai infertilitas primer karena Os belum oernah mengalami kehamilan
sebelumnya. Secara teori, jika tidak ada kelainan 84% perempuan akan
mengalami kehamilan dalam kurun waku satu tahun pertama pernikahan jika
mereka melakukan hubungan suami-istri secara teratur tanpa menggunakan
kontrasepsi. Os juga tidak mengkonsumsi alkohol dan rokok yang dapat
menurunkan fertilitas baik laki-laki maupun perempuan.
Pada Os diketahui bahwa tidak ada kelainan pada siklus menstruasi. Pada
dasarnya endometriosis sulit dikuantifikasi karena sering gejalanya asimptomatis.
Perempuan dengan endometriosis bisa tanpa gejala, subfertil, atau menderita rasa
sakit pada daerah pelvis terutama saat menstruasi (dismenorea), dan menoragia.
Pada perempuan endometriosis yang asimtomatis prevalensinya sekitar 2-22%
tergantung pada populasinya. Jika dijumpai adanya infertilitas dan dismenorea,
prevalensi dapat mencapai 20-50%.
BAB dan BAK tidak ada keluhan menunjukkan kemungkinan endometriosis
tidak tumbuh di sekitar kavum douglas dan ligamentum sakrouterina
(menyebabkan dispareunia); endometriosis kemungkinan juga tidak tumbuh
dalam dinding retro sigmoid yang menyebabkan diskezia dan hematokezia pada
saat siklus haid.
Faktor risiko terjadinya endometriosis yang ditemukan pada Os adalah
nullipara dan usia reproduktif. Endometriosis paling sering ditemukan pada
perempuan usia reproduktif karena pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormon
estrogen yang meningkat pada usia reproduktif. Kejadian endometriosis pada
wanita nullipara juga lebih sering ditemui, diduga berkaitan dengan sifat sekresi
estrogen pada wanita nullipara yang merupakan murni estrogen yang dihasilkan
oleh ovarium yang semuanya digunakan untuk proliferasi jaringan uterus.
Dalam pemeriksaan fisik umum dan khusus tidak ditemukan hal yang
bermakna karena pasien telah menjalani operasi saat pemeriksaan dilakukan.
Pemeriksaan USG merupakan gold standard untuk kasus endometriosis.

A. Tatalaksana

34
Pada pasien ini tatalaksana berupa observasi tanda vital, perdarahan, dan
nyeri serta rencana Laparoskopi kistektomi setelah keadaan umum membaik.
Laparoskopi kistektomi dipilih karena mempertimbangkan usia Os karena
laparoskopi biasanya diperuntukan usia dua puluhan akhir dan awal empat
puluhan terutama bila fertilitas di masa depan dikehendaki. Pembedahan radikal
dilakukan pada pasien usia 40 tahun yang menderita endometriosis luas disertai
banyak keluhan.

B. Prognosis
Prognosis pada pasien ini dubia ad bonam. Endometriosis sangat jarang
menjadi ganas namun endometriosis sulit disembuhkan kecuali perempuan sudah
menopause. Angka kesembuhan 10-20% per tahun setelah diberikan penanganan
bedah konservatif.

DAFTAR PUSTAKA

Czuczwar, P., S. Wozniak, P. Szkodziak, E. Wozniakowska, M. Paszkowski, W.


Wrona, P. Milart, T. Paszkowki, M. Popajewski. 2014. Predicting the
results of uterine artery embolization : correlation between initial
intramural fibroid volume and percentage volume decrease. Prz
Menopauzalny. 13(4): 247252. (http://www.termedia.pl/Journal/-
4/Streszczenie-23465
Decherney, Alan.H; Goodwin, T.Murphy. 2007. Current Diagnosis and Therapy,
10th Edition. Mc Graw Hill Medical Publishing. New York.
Hadibroto Budi R, 2005, Mioma Uteri. Dalam: Majalah Kedokteran Nusantara
Volume 38, No. 3, September 2005: 255-260.

35
Hoffman, B.L., J.I. Schaffer, L.M. Halvorson, J.O. Schorge, K.D. Bradshaw, dan
F.G. Cunningham. 2012. William Gynecology. Mc. Graw-Hill: New York.
Joedosaputro MS. 2007. Tumor jinak alat genital. Dalam: Sarwono
Prawiroharjo,edisi kedua. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka.
Jakarta: 338-345.
Kumar, P., N. Malhotra. 2008. Jeffcoates Principles o Gynaecology 7 th Edition.
Jaypee Brothers Medical Publishers : India.
Ling, Frank.W, et al. 2001. Obstetrics and Gynecology: Principles for Practice.
Mc Graw Medical Publishing, New York.
Parker, W.H. 2007. Etiology, Symptomatology and Diagnosis of Uterine Myomas.
Fertility And Sterility. 87:725-736
(http://www.sart.org/uploadedFiles/ASRM_Content/News_and_Publicatio
ns/Selected_Articles_from_Fertility_and_Sterility/myoma_etiology.pd f
Prawirohardjo, S., Wiknjosastro, H., Sumapraja, S. Ilmu kandungan. Edisi 2.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono; 2008.
Wiknjosastro, H., A.B. Saifuddin, dan T. Rachimhadhi. 2011. Ilmu Kebidanan
Edisi ke-3. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta.

36