Anda di halaman 1dari 49

Inventarisasi Aset

Definisi Inventarisasi

Menurut KBBI, yang dimaksud dengan inventarisasi adalah daftar yang memuat semua barang milik kantor
(sekolah, perusahaan, dsb) yg dipakai dalam melaksanakan tugas.
Menurut Chabib Soleh dan Heru Rochmansjah "Inventarisasi merupakan kegiatan/tindakan untuk
melakukan penghitungan,pengurusan,penyelenggaraan peraturan,pencatatan data dan pelaporan barang
milik daerah dalam unit pemakaian".

Definisi Inventarisasi Aset


Berikut beberapa definisi inventarisasi aset menurut beberapa ahli.

1. A. Gima Sugiama (2013: 173) "Inventarisasi aset adalah serangkaian kegiatan untuk melakukan
pendataan, pencatatan, pelaporan hasil pendataan aset, dan mendokumentasikannya, baik aset berwujud
maupun aset tidak berwujud pada suatu waktu tertentu. Inventarisasi aset dilakukan untuk mendapatkan
data seluruh aset yang dimliki,dikuasai sebuah organisasi perusahaan atau instansi pemerintah. Seluruh
aset perlu diinventarisasi baik yang diperoleh berdasarkan beban dana sendiri (investasi), hibah ataupun
dari cara lainnya."

2. I Gede Auditta (2013) "Inventarisasi aset terdiri dari dua aspek yaitu aspek fisik (bentuk, luas, volume
atau jumlah, jenis, alamat dan lain-lain) dan aspek yuridis atau legal (status penguasaan, masalah legal
yang dimiliki, batas akhir penguasaan dan lain-lain), dengan proses kerja yang dilakukan antara lain adalah
pendataan, kodefikasi, pengelompokkan, dan administrasi sesuai dengan tujuan manajemen aset."
3. Doli D. Siregar (2004: 518-520) Inventarisasi aset merupakan kegiatan yang terdiri dari dua aspek,
yaitu inventarisasi fisik dan inventarisasi yuridis/legal. Aspek fisik terdiri atas bentuk luas, lokasi volume,
jenis alamat dan lain-lain. Sedangkan aspek yuridis adalah status penguasaan, masalah legal yang dimiliki
batas akhir penguasaan. Proses kerja yang dilakukan adalah pendapatan kodefikasi/labeling,
pengelompokan dan pembukuan/administrasi sesuai dengan tujuan manajemen aset.
Berdasarkan definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa inventarisasi aset merupakan suatu
kegiatan melaksanakan pengaturan, pencatatan aset-aset, menyusun daftar aset yang bersangkutan ke
dalam suatu daftar inventaris aset secara teratur, dan mengurusnya menurut ketentuan yang ada.

Tujuan utama inventarisasi


Dalam buku Manajemen Aset Pariwisata (Sugiama, 2013) tujuan utama Inventarisasi Aset ada tiga yaitu:
1. Menciptakan tertib administrasi,
2. Pengamanan aset
3. Pengendalian dan pengawasan aset.

Tujuan khusus inventarisasi


1. Untuk menjaga ketertiban administrasi barang yang dimiliki
2. Untuk menghemat keuangan
3. Sebagai bahan pedoman untuk menghitung kekayaan
4. Untuk memudahkan pengawasan dan pengendalian barang
5. Memberikan data dan informasi untuk dijadikan bahan/pedoman dalam penyaluran barang
6. Memberikan data dan informasi dalam
7. Menentukan keadaan barang (barang yang rusak/tua) sebagai dasar untuk menetapkan
penghapusannya
8. Memberikan data dan informasi dalam rangka memudahkan pengawasan dan pengendalian barang.

Secara garis besar, proses inventarisasi aset meliputi:


1. Preparation
Tahap persiapan biasa dimulai dari mapping kondisi aset, lokasi aset, SDM perusahaan sampai teknis
pelaksanaan inventarisasi aset.
2. Execution
Tahap pelaksanaan dimulai ketika seluruh tahap preparation dipenuhi, dimana prosedur dalam
inventarisasi dijalankan sesuai dengan schedule dan kompetensi SDM inventarisasi.
3. Finishing
Tahap akhir berkaitan dengan proses hasil laporan pelaksanaan inventarisasi sampai dengan laporan final
hasil inventarisasi.

Agar hasil inventarisasi dapat maksimal, biasa diintegrasikan dengan sistem informasi akuntansi dan
software yang memadai dalam pengelolaan aset perusahaan, sehingga dapat diketahui aset yang harus
dimiliki perusahaan dapat digunakan tepat guna sesuai fungsi nya dalam mendukung kegiatan utama
operasional perusahaan.

Ketentuan Pelaksanaan Inventarisasi


1. Memberi koding pada barang-barang yang diinventarisasikan.
2. Barang-barang inventaris sekolah harus diberi tanda dengan menggunakan kode-kode barang sesuai
dengan petunjuk yang terdapat dalam Manual Administrasi barang.
3. Membuat Daftar Rekapitulasi Tahunan Laporan triwulan mutasi barang inventaris yaitu daftar tempat
mencatat penambahan dan pengurangan barang inventaris pada suatu organisasi selama triwulan yang
bersangkutan.
4. Daftar isian inventaris yaitu tempat mencatat semua barang inventaris menurut golongan atau klasifikasi
yang telah ditetapkan.

Inventarisasi harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan-ketentuan dari pemerintah, termasuk juga yang
dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Beberapa dari peraturan perundang-undangan itu
adalah:
1. Intruktur Presiden No.3 Tahun 1971, tentang Inventaris Barang Milik Negara/ Kekayaan Negara.
2. Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. 222/MK/V/4/1972 tanggal 13 April 1971 tentang Pedoman
Pelaksanaan Inventarisasi barang-barang milik negara di lingkungan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
3. Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 10/M/1976 tentang Pelaksanaan Inventarisasi dan
Penyampaian Laporan Triwulan Mutasi Barang Inventarisasi Milik Negara.
4. Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 421 16/E/74 tentang Inventarisasi barang
yang dipakai/ dikuasai pejabat/ Pegawai yang dimutasikan.

Ketentuan tersebut bukanlah sesuatu yang statis. Oleh karena itu tidak mustahil dikeluarkan peraturan
yang baru untuk mengganti, memperbaiki, dan melengkapi peraturan yang lama.

Aset yang diinventarisasikan


Aset-aset yang perlu dan memang harus dilakukan adanya inventarisasi yaitu meliputi kendaraan,
perlengkapan, peralatan, furniture, alat elektronik, bangunan, mesin, dan berbagai fasilitas lainnya.

Bentuk Aset

No Bentuk Aset Contoh Aset


Bangunan
Infrastruktur
1. Berwujud (Tangible)
Mesin/Peralatan
Fasilitas
Sistem Organisasi (Tujuan, Visi,
dan Misi)
Hak Cipta (Patent)
Kualitas (Quality)
Tidak Berwujud Nama Baik/Citra (Goodwil)
2.
(Intangible) Budaya ( Culture)
Sikap, Hukum, Pengetahuan,
Keahlian (Capacity)
Perjanjian (Contract)
Motivasi (Motivation)

Sumber: Hermanto (2009)

Ilustrasi aset yang diinventarisasi:

Sumber gambar: http://tinyurl.com/pb5j4qx


Sumber gambar: http://bit.ly/1vuh8OF

Sesuai dengan mata kuliah inventarisasi aset yang sedang saya pelajari di semester ini, saya telah
memiliki pengalaman dalam melakukan inventarisasi. Sesuai dengan tugasnya bahwa setiap individu
ditugaskan untuk memilih sebuah ruangan dan melakukan monev inventarisasi, yang kemudian setelah
pelaksanaan monev inventarisasi tersebut kami mengetahui tujuan dari diadakannya iventarisasi tersebut,
di antaranya:
1. Memastikan bahwa inventarisasi dilaksanakan sesuai rencana
2. Mengecek kebenaran Barang yang ada dalam Buku Inventaris baik dalam segi jumlah fisik maupun nilai
barang
3. Mengetahui kondisi barang terkini
4. Penertiban administrasi:
a) mencatat barang yang belum pernah dicatat
b) membuat usulan penghapusan barang
c) menyelesaikan proses hukum atas barang-barang yang tidak ditemukan/hilang.

Modul Inventarisasi

Perekaman Data Barang untuk dikelompokkan ke dalam Kategori Barang dan Unit Kerja yang bertanggung
jawab terhadap barang tersebut. Hasil dari perekaman tersebut secara otomatis membentuk Kode Barang.
Perekaman Data Barang kemudian dapat dikelompokkan ke dalam inventarisasi, seperti di bawah ini:
Inventarisasi Tanah, meliputi: Harga, Tanggal Perolehan, Lokasi, Luas, Surat Tanah, Unit Pemakai,
Pengadaan, Catatan Pengisi, Pengesahan, dan Mutasi.
Inventarisasi Gedung, meliputi: No. KIB Tanah yang ditempati, Luas, Lokasi, Tahun Guna, Harga,
Tanggal Perolehan, Lokasi, Luas, Surat Tanah, Unit Pemakai, Pengadaan, Catatan Pengisi, Pengesahan,
dan Mutasi.
Inventarisasi Kendaraan Bermotor / Alat Angkutan (Motor), meliputi: Detail Mesin (Merk, Tipe,
Perakitan, Daya Mesin, dan lainnya), Harga, Tanggal Perolehan, Kelengkapan Motor (helm, jaket, stnk, dll),
Unit Pemakai, Pengadaan, Catatan Pengisi, Pengesahan, dan Mutasi.
Inventarisasi Senjata Api, meliputi: Merk, Tipe, Kaliber, No. Pabrik, Harga, Tanggal Perolehan,
Kelengkapan Senjata, Unit Pemakai, Pengadaan, Catatan Pengisi, Pengesahan, dan Mutasi.
Inventarisasi Ruang, perekaman Inventarisasi Barang yang meliputi: Peralatan Kantor, Komputer,
Alat-alat, dll. Barang yang menempati suatu ruang tertentu akan di masukkan dalam Inventarisasi Ruang.
Inventarisasi Lokasi Lainnya, yaitu perekaman Inventarisasi Barang Lainnya yang tidak menempati
suatu ruang tertentu, melainkan lokasi yang bukan milik.
Pencarian Inventaris, pencarian inventaris suatu barang dapat dilakukan pada seluruh aset yang
ada, atau per kategori kelompok, dan atau per unit kerja tempat barang itu berada, dan atau kondisi
barang, dan atau status barang.
Cetak Daftar Inventaris, cetak daftar inventaris dapat dilakukan dengan 2 model, yaitu: model
Cetak Kartu Inventaris tiap barang, dan Cetak Daftar Inventaris, untuk digunakan sebagai Pelaporan atau
Arsip.
Berikut contoh tabel dalam mencatat barang inventaris:

Sumber: http://tinyurl.com/pq2asml

Contoh Kasus Inventarisasi di Indonesia

Untuk masalah inventarisasi aset, menurut saya bahwa kasus seperti ini masih banyak terjadi di negara ini.
Penyelesaian masalahnya pun tak kunjung ditindak lanjuti. Untuk melihat contoh permasalahan mengenai
inventarisasi, mari kita lihat salah satu ringkasan kasus yang saya dapatkan dengan judul artikel Riau
Benahi Aset Bermasalah Rp 5 Triliun, dapat juga dikunjungi pada laman
berikuthttp://antarariau.com/berita/12133/melayu

Sumber:
http://www.slideshare.net/igedeauditta/inventarisasi-aset-asset-inventory-as
http://xerma.blogspot.com/2013/08/pengertian-inventarisasi.html
http://www.slideshare.net/fatiarakhmalian/inventarisasi?related=1
http://mtd.co.id/proses-inventarisasi-aset
Sugiama, A Gima. 2013. Manajemen Aset Pariwisata Bandung: Guardaya Intimarta.
Siregar, Doli D. 2004. Manajemen Aset. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
2.1.4.4 Aset Berdasarkan Pandangan Dari Segi Hukum
Menurut Siregar (2004), Aset yang dipandang dari konsep hukum adalah properti. Istilah
properti dapat berarti real estate atau personality. Dalam perkembangannya properti
dikelompokkan menjadi empat jenis meliputi real property, personal property,
business dan financial interest. Untuk itu perlu dijelaskan lebih lanjut mengenai aset yang
dipandang dari konsep hukum.

1. Real Property (Penguasaan dan Pemilikan Tanah dan Bangunan)


Real Property meliputi semua hak, hubungan-hubungan hukum dan manfaat yang
berkaitan dengan kepemilikan real estate. Sebaliknya, real estate meliputi tanah dan bangunan
itu sendiri, segala benda yang keberadaannya secara alami di atas tanah yang bersangkutan, dan
semua benda yang melekat dengan tanah itu, misalnya bangunan dan pengembangan tapak.

2. Personal property (Benda Bergerak)


Personal Property merujuk pada hak kepemilikan atas suatu benda bergerak di dalam
bagian-bagian benda selain dari real estate (tanah atau bangunan secara fisik). Benda-benda
tersebut dapat berwujud (tangible) atau tidak berwujud (intangible), misalnya utang-
piutang, goodwill dan hak paten. Benda bergerak yang berwujud mewakili kepemilikan dari
benda-benda yang tidak melekat secara permanen pada tanah dan bangunan atau yang ada pada
umumnya bersifat dapat di pindah tangankan ke tempat lain (move ability).

3. Business (Kegiatan Usaha)


Business adalah setiap kegiatan di bidang komersial, industri, jasa atau investigasi yang
menyelenggarakan aktivitas ekonomi. Bisnis pada umumnya dijalankan oleh badan usaha yang
mencari untung yang kegiatan usahanya untuk memberikan produk barang atau jasa kepada
konsumen. Sedangkan badan usaha adalah badan yang didirikan berdasarkan hukum yang
berlaku. Suatu kegiatan usaha mungkin saja dalam bentuk badan hukum atau bukan. Badan
usaha meliputi seluruh rentang kegiatan usaha yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi, yang
mencakup baik sektor swasta maupun sektor umum (Badan Usaha milik Negara dan Badan
Usaha Milik Daerah). Kegiatan usaha mencakup antara lain manufaktur, pedagang grosir,
pedagang eceran, kegiatan usaha penginapan, perawatan kesehatan dan jasa keuangan, hukum,
pendidikan serta jasa sosial. Badan usaha yang memberikan jasa infrastruktur kepada
masyarakat, yakni sebagai perusahaan (korporasi) yang dikendalikan, namun tidak dimiliki oleh
pemerintah.
4. Financial Interest (Hak Kepemilikan Secara Finansial)
Hak kepemilikan secara finansial di dalam property berasal dari pembagian hukum atas
hak kepemilikan saham dalam kegiatan bisnis dan hak atas penguasaan tanah dan bangunan (real
property) dari perjanjian. Dalam perjanjian diberikan suatu hak pilihan untuk membeli atau
menjual property (misalnya hak tanah dan bangunan, saham atau instrumen finansial lainnya)
dengan harga yang disebutkan di dalam jangka waktu yang telah di tentukan, atau dari
penciptaan instrumen investasi yang dijamin oleh sekelompok aset-aset real estate.
Hak kepemilikan secara finansial yang berupa aktiva tak berwujud dapat mencakup hak yang
melekat pada kepemilikan suatu kegiatan bisnis, hak yang memberikan suatu pilihan dan hak
atas suatu penerbitan surat berharga. Hak-hak yang melekat pada kepemilikan suatu kegiatan
bisnis atau pada tanah hak dan bangunan (property), misalnya untuk menggunakan, menempati,
menjual, menyewakan atau mengelola. Hak-hak yang melekat dalam sebuah perjanjian
(kontrak) yang memberikan suatu pilihan untuk membeli atau sewa menyewa misalnya untuk
melaksanakan atau tidak melaksanakan kegiatan yang akan dilakukan. Hak-hak yang melekat
pada kepemilikan atas suatu penerbitan surat berharga, misalnya untuk mempertahankan atau
untuk melepaskannya.

2.1.Pengelolaan BMN

Dalam Peraturan Pemerintah No.06 Tahun 2006 yang dimaksud dengan Barang milik negara
adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan
lainnya yang sah. Dalam rangka menjamin tertib penggunaan, pengguna barang harus
melaporkan kepada pengelola barang atas semua barang BMN yang diperoleh
kementerian/lembaga/satuan kerja perangkat daerah untuk ditetapkan status penggunaannya.
Dalam rangka menjamin terlaksananya tertib administrasi dan tertib pengelolaan BMN
diperlukan adanya kesamaan persepsi dan langkah secara integral dan menyeluruh dari unsur-
unsur yang terkait dalam pengelolaan BMN.
Menurut Peraturan Pemerintah Dalam Negeri No. 17 Tahun 2007, pengelolaan barang milik
daerah dilaksanakan berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi dan
keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai.

berikut penjelasan dari azas pengelolaan Barang Milik Daerah, menurut Peraturan
Pemerintah No. 17 Tahun 2007:
1. Azas fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah di bidang
pengelolaan barang milik daerah yang dilaksanakan oleh kuasa pengguna barang, pengguna
barang, pengelola barang, dan Kepala Daerah sesuai fungsi, wewenang, dan tanggung jawab
masing-masing;

2. Azas Kepastian Hukum, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus dilaksanakan
berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan;

3. Azas transparansi, yaitu penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah harus transparan
terhadap hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar;

4. Azas efisiensi, yaitu pengelolaan barang milik daerah diarahkan agar barang milik daerah
digunakan sesuai batasan-batasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka
menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintah secara optimal;

5. Azas akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan barang milik daerah harus dapat
dipertanggung jawabkan kepada rakyat;

6. Azas kepastian nilai, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus didukung oleh adanya
ketepatan jumlah dan nilai barang dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dan
pemindahtanganan barang milik daerah serta penyusunan neraca Pemerintah Daerah

Dalam pengelolaan BMN siklus yang terjadi pertama mulai dari pembinaan pengelolaan,
pengawasan dan pengendalian. Di dalam pengawasan dan pengendalian terdapat beberapa tahap
yaitu: Perencanaan kebutuhan dan penganggaran, Pengadaan, Pengamanan, Penggunaan
Pemeliharaan, Penatausahaan, Penilaian dan Evaluasi.
Sistem Informasi Manajemen Aset
Air Media Persada

Overview Sistem Informasi Manajemen Aset

Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA) (SIM ASET) merupakan sistem informasi manajemen pendataan aset
(inventaris dan ruang) secara terintegrasi seluruh instansi dalam rangka melaksanakan tertib administrasi pengelolaan dan
pendataan barang. Aturan yang kami jadikan acuan dalam perancangan SIM Aset ini, salah satunya adalah Permendagri
No. 17 Tahun 2007. Sistem ini dapat digunakan baik di lingkungan Pemerintah Daerah maupun Perguruan Tinggi.

Sistem Informasi Aset berfungsi untuk melakukan pencatatan mengenai pengadaan, pengesahan, penggunaan,
perawatan, status, serta kondisi aset tersebut.
Aset dapat meliputi inventarisasi tanah, inventarisasi gedung, inventarisasi alat angkutan, inventarisasi senjata api,
inventarisasi jaringan, inventarisasi peralatan seperti alat tulis kantor & alat laboratorium, inventarisasi ruang/gudang dan
barang-barang yang terdapat di dalamnya, inventarisasi lokasi lainnya dan barang-barang yang terdapat di dalamnya.

Sistem ini dapat digunakan oleh Biro Sarana Prasarana (BSP), Biro Administrasi Umum (BAU), Bagian Gudang,
Bagian Rumah Tangga, Bagian Kendaraan, hingga Seksi Keamanan.
Aset-aset yang dimiliki oleh suatu Instansi dapat dipantau tentang keberadaan, nilai, perpindahan dan kondisinya. Sistem
Informasi Aset dipersiapkan untuk Kebutuhan Perencanaan dalam Utilisasi Ruang dan sharing Fasilitas antar Departemen
atau Pihak tertentu.

Layanan yang kami berikan mencakup:

Updating SIM Aset,

Penyesuaian Sistem dengan Business Process setiap Kampus (System Customization),

Migrasi Database - Ekspor/Impor Data Excel,

Instalasi Server dan Sistem di Jaringan Intranet/Internet,

Pelatihan Admin/Operator (disertai Buku Manual Penggunaan), serta

Garansi Sistem, Maintenance dan Layanan Pendampingan.

Sistem Informasi Manajemen Aset ini dirancang dengan platform Web Based (berbasis Web) dan telah support Barcode
Reader. Sistem ini dapat diaplikasikan dalam Intranet maupun Online Internet. SIM Aset dikembangkan mengikuti alur
business process, mulai dari pengadaan barang hingga distribusi barang. Barang tersebut akan tercatat sebagai Barang
Aset dan terdata pada sebuah Ruang. Aset yang tercatat dalam software ini meliputi Gedung, Ruang beserta segala macam
barang yang berada di dalamnya.

Fitur Sistem Informasi Manajemen Aset

1. Modul Data Referensi


o Referensi Unit Kerja, digunakan Kode masing-masing Unit untuk menyatakan suatu barang berada di
Unit Kerja sesuai Kode yang dimaksud. Contoh Kode tersebut adalah: 23.04.03.97010.00 (PEBIN - PBI - UPB - UPB
Bagian - Unit Pemakai).

o Referensi Kelompok Barang, digunakan kode masing-masing kategori kelompok barang untuk
menyatakan suatu barang masuk ke dalam kategori kelompok barang sesuai kode yang dimaksud. Contoh Kode
tersebut adalah: 1.01.01.01.001 (Golongan Barang - Bidang - Kelompok - Sub Kelompok - Sub Sub Kelompok).

o Referensi Lokasi, digunakan untuk menyatakan suatu Lokasi Kota/Kabupaten, Propinsi, dan Negara.

o Referensi Lainnya, meliputi Data Pegawai (perekaman dan pengaturan publikasi daftar pegawai), Data
Status Barang (perekaman dan pengaturan publikasi daftar status barang: ada, dipinjam, dihibahkan, hilang, dan
sejenisnya), Data Kondisi Barang (perekaman dan pengaturan publikasi daftar kondisi barang: baik, rusak, dan
sejenisnya), Data Cara Perolehan (perekaman dan pengaturan publikasi daftar cara perolehan barang: hibah,
pembangunan, pembelian, dan sejenisnya), Data Dasar Perolehan (perekaman dan pengaturan publikasi daftar
dasar perolehan barang: taksiran, perolehan, dan sejenisnya).

2. Modul Inventarisasi

Perekaman Data Barang untuk dikelompokkan ke dalam Kategori Barang dan Unit Kerja yang bertanggung jawab
terhadap barang tersebut. Hasil dari perekaman tersebut secara otomatis membentuk Kode Barang. Perekaman Data
Barang kemudian dapat dikelompokkan ke dalam inventarisasi, seperti di bawah ini:

o Inventarisasi Tanah, meliputi: Harga, Tanggal Perolehan, Lokasi, Luas, Surat Tanah, Unit Pemakai,
Pengadaan, Catatan Pengisi, Pengesahan, dan Mutasi.

o Inventarisasi Gedung, meliputi: No. KIB Tanah yang ditempati, Luas, Lokasi, Tahun Guna, Harga,
Tanggal Perolehan, Lokasi, Luas, Surat Tanah, Unit Pemakai, Pengadaan, Catatan Pengisi, Pengesahan, dan
Mutasi.

o Inventarisasi Kendaraan Bermotor / Alat Angkutan (Motor), meliputi: Detail Mesin (Merk, Tipe,
Perakitan, Daya Mesin, dan lainnya), Harga, Tanggal Perolehan, Kelengkapan Motor (helm, jaket, stnk, dll), Unit
Pemakai, Pengadaan, Catatan Pengisi, Pengesahan, dan Mutasi.

o Inventarisasi Senjata Api, meliputi: Merk, Tipe, Kaliber, No. Pabrik, Harga, Tanggal Perolehan,
Kelengkapan Senjata, Unit Pemakai, Pengadaan, Catatan Pengisi, Pengesahan, dan Mutasi.

o Inventarisasi Ruang, perekaman Inventarisasi Barang yang meliputi: Peralatan Kantor, Komputer, Alat-
alat, dll. Barang yang menempati suatu ruang tertentu akan di masukkan dalam Inventarisasi Ruang.
o Inventarisasi Lokasi Lainnya, yaitu perekaman Inventarisasi Barang Lainnya yang tidak menempati
suatu ruang tertentu, melainkan lokasi yang bukan milik.

o Pencarian Inventaris, pencarian inventaris suatu barang dapat dilakukan pada seluruh aset yang ada,
atau per kategori kelompok, dan atau per unit kerja tempat barang itu berada, dan atau kondisi barang, dan atau
status barang.

o Cetak Daftar Inventaris, cetak daftar inventaris dapat dilakukan dengan 2 model, yaitu: model Cetak
Kartu Inventaris tiap barang, dan Cetak Daftar Inventaris, untuk digunakan sebagai Pelaporan atau Arsip.

3. Modul Perawatan

o Parameter Perawatan, mengatur parameter-parameter apa saja yang berkatian dengan kelompok
barang yang sama. Hal ini sebagai data untuk memberi informasi Masa Perawatan dan Keterlambatan Perawatan
suatu barang.

o Manajemen Perawatan, mengatur arus masuk-keluar nya suatu barang untuk Perawatan. Barang yang
sudah masuk masa perawatan akan dilakukan pemberitahuan bahwa barang tersebut sudah waktunya dilakukan
perawatan.

4. Modul Laporan

o Laporan Daftar Barang Saat ini atau periode tertentu per kelompok barang atau secara keseluruhan.

o Laporan Status dan atau Kondisi Barang Saat ini atau periode tertentu.

o Laporan Mutasi/Penghapusan barang.

o Laporan Jumlah aset total atau per kelompok barang.

o Laporan Jumlah nilai/harga aset total atau per kelompok barang.

o Laporan Perawatan/pemeliharaan barang.

o Laporan Peringatan barang-barang yang sudah masuk Masa Perawatan berkala.

5. Manajemen User Dan Sistem


o Modul Sistem, mengatur Modul-modul Sistem sesuai dengan fitur-fitur sistem yang akan dibuat.

o Menu Sistem, mengatur Menu-menu Aplikasi, urutan tata layout menu sesuai dengan fitur-fitur sistem
yang akan dibuat.

o User, mengatur Daftar User sesuai dengan fungsi dan hak akses yang diberikan.

o Group User, mengatur Daftar Kelompok User.

o Grant User, mengatur Hak Akses kelompok user yang terhadap modul-modul sistem yang dibuat.

o Ubah Password, untuk user yang bersangkutan.

Spesifikasi Teknis Sistem Informasi Manajemen Aset

Platform: Web Based (Open Source)

Web Server: Apache2

Pemrograman: PHP5

DBMS: MySQL

OS Server: Linux (Ubuntu/Mint/Open Suse/etc.) atau Windows Server

Pendukung: Code Igniter Framework, AJAX, jQuery, XML, CSS

Apa yang harus disiapkan?

Dari pengalaman kami selama bertahun-tahun dalam menangani klien, ada beberapa saran yang dapat kami berikan demi
mendukung efektifitas dan efisiensi implementasi Sistem Informasi Manajemen Aset ini, antara lain:

Hardware Requirements: Anda tidak perlu menyediakan/membeli Server dengan spesifikasi tinggi dan mahal,
karena sistem ini pada dasarnya dapat berjalan pada PC biasa. Spesifikasi Server cukup disesuaikan dengan
kebutuhan klien.

Software Requirements: Tidak Ada, karena Platform SIM Aset (SIMA) ini bersifat Open Source. Software
pendukung yang dibutuhkan sudah kami siapkan. Instalasi dan Konfigurasi Operating System / Scripting Language /
DBMS Server pada Server sudah termasuk paket pekerjaan kami.
Hosting atau Dedicated Server (Static IP Address): Klien yang sudah memiliki website, dapat memilih untuk
'meletakkan' sistem ini ke dalam hosting mereka, atau jika klien telah mempunyai server sendiri, maka sistem dapat
diletakkan pada server tersebut. Hosting atau Dedicated Server ini akan memudahkan kami dalam maintenance sistem
secara 'remote', sehingga jarak antara kami dengan klien tidak lagi menjadi penghambat dalam maintenance dan
updating sistem. (note: Klien yang telah mempunyai Server sendiri, dapat meminta IP Static ke provider - contoh: bagi
yang menggunakan koneksi internet Speedy, rata2 sudah mendapatkan gratis 1 IP Static, Anda dapat meminta ke
pihak Telkom Speedy, atau Anda dapat membelinya dengan harga yang murah). URL Sistem nantinya dapat diakses
melalui: sima.domainnameklien.ac.id atau sima.ipaddressklien.ac.id.

Person In Charge (PIC): Klien diharapkan memiliki PIC sehingga kami mempunyai jalur komunikasi yang cepat
dan jelas, demi kelancaran dan suksesnya implementasi sistem ini.

Administrator & Operator Sistem: Klien diharapkan menunjuk (pada awal implementasi) Administrator dan
Operator Sistem. Kami akan lebih banyak berkomunikasi dengan mereka dalam hal penyesuaian business process
sistem hingga pada saat Pelatihan & Maintenance Sistem.

Summary Sistem Informasi Manajemen Aset

Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA) berbasis Web - PT. Air Media Persada dapat diaplikasikan dalam lingkungan
Pemerintah Daerah (SKPD) serta Perguruan Tinggi. SIM Aset yang kami rancang, sudah bersifat 'Generik', sehingga mudah
untuk menyesuaikan dengan business process yang ada pada setiap Klien.
Layanan 'After Sales' adalah salah satu fokus kami, karena implementasi sistem bukan hanya berfokus pada awal
pekerjaan (instalasi), akan tetapi juga membutuhkan Pendampingan dan Maintenance agar sistem tersebut benar-benar
dapat digunakan dan sesuai dengan kebutuhan Klien.

DASAR-DASAR MANAJEMEN BARANG MILIK


DAERAH/ASET Oleh : Sopingi, BA, SH, KN
(Widyaiswara Bandiklat DIY)
Print
Beri komentar!

Barang milik daerah (aset) sebagai salah satu unsur penting dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pemberdayaan, dan pelayanan kepada
masyarakat harus dikelola dengan baik dan benar menurut azas pengelolaan barang milik
daerah, dengan memperhatikan azas-azas: fungsional, kepastian hukum, transparansi,
efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai. Disamping perlunya memahami peraturan lain
dan azas-azas ini bagi setiap pengelola barang milik daerah maka dalam rangka menjamin
terlaksananya tertib administrasi dan tertib pengelolaan barang milik daerah diperlukan
adanya kesamaan persepsi dan langkah secara integral dan menyeluruh dari unsur-unsur
yang terkait dalam pengelolaan barang milik daerah.

BABI

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Barang milik daerah (aset) sebagai salah satu unsur penting dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pemberdayaan, dan pelayanan kepada
masyarakat harus dikelola dengan baik dan benar menurut azas pengelolaan barang milik
daerah, dengan memperhatikan azas-azas: fungsional, kepastian hukum, transparansi,
efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai. Disamping perlunya memahami peraturan lain dan
azas-azas ini bagi setiap pengelola barang milik daerah maka dalam rangka menjamin
terlaksananya tertib administrasi dan tertib pengelolaan barang milik daerah diperlukan adanya
kesamaan persepsi dan langkah secara integral dan menyeluruh dari unsur-unsur yang terkait
dalam pengelolaan barang milik daerah.

Seiring dengan semakin meningkatnya tugas-tugas pemerintah daerah dan tuntutan


masyarakat terhadap fasilitas pelayanan yang bervariasi dan memuaskan publik dan
menyejahterakan masyarakat maka diperlukan adanya kesiapan sarana dan prasarana
pendukung yang setiap saat dalam keadaan baik dan siap pakai secara berdaya guna dan
berhasil guna. Oleh sebab itu barang milik daerah merupakan unsur penting yang harus dikelola
secara tertib, baik, benar, dan mematuhi azas-azas pengelolaannya agar supaya dapat
dimanfaatkan secara optimal, efektif, efisien, tidak menimbulkan pemborosan dan dapat
dipertanggungjawabkan. Berkaitan dengan hal-hal itu, dan untuk menjamin terlaksananya tertib
pengelolaan barang milik daerah maka disusunlah modul diklat DASAR-DASAR MANAJEMEN
BARANG MILIK DAERAH/ ASET ini.

B. Deskripsi Singkat Modul

Modul Dasar-Dasar Manajemen Barang Milik Daerah/ Aset ini membahas tentang
pengertian manajemen, barang milik daerah/aset, dan dasar-dasar manajemen barang milik
daerah/aset secara garis besarnya serta berbagai peraturan perundangan yang menjadi
landasan pedoman kerja dalam menjalankan tugas dan pekerjaan pengelolaan barang milik
daerah/ aset.

C. Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah selesainya mengikuti diklat Dasar-Dasar Manajemen Barang Milik Daerah/ Aset
ini para peserta pelatihan diharapkan memahami mengenai pengertian manajemen,
pengertian barang milik daerah/aset, dan dasar-dasar manajemen barang milik daerah/aset
secara garis besarnya serta berbagai peraturan perundangan yang menjadi landasan pedoman
kerja dalam menjalankan tugas dan pekerjaan pengelolaan barang milik daerah/ aset.

D. Tujuan Pembelajaran Khusus

Setelah selesai mengikuti diklat Dasar-Dasar Manajemen Barang Milik Daerah/ Aset ini
peserta mampu memahami tentang pengertian manajemen, aset, manajemen aset, dan dasar-
dasar manajemen aset daerah secara garis besarnya serta berbagai peraturan perundangan
yang menjadi landasan pedoman kerja dalam menjalankan tugas dan pekerjaan pengelolaan
barang milik daerah/ aset.

E. Materi Pokok Bahasan

1. Dasar-dasar Manajemen Barang Milik Daerah/ Aset

2. Pengertian dan jenis barang milik daerah/aset

3. Landasan Peraturan Perundangan yang mengatur pengelolaan Barang

Milik Daerah/ Aset


4. Pengelolaan barang milik daerah/aset yang berdampak multi efek

F. Sub Materi Pokok Bahasan

1. Pengertian Manajemen

2. Pengertian Barang Milik Daerah

3. Jenis-jenis Barang Milik Daerah

4. Pengertian Aset

5. Pengertian Manajemen Barang Milik Daerah/Aset

6. Macam-macam peraturan perundangan yang mengatur pengelolaan

barang milik daerah

7. Azas pengelolaan barang milik daerah

8. Siklus pengelolaan barang milik daerah

9. Pemanfaatan barang milik daerah/aset yang berdampak multi efek

B A B II

DASAR-DASAR MANAJEMEN BARANG MILIK DAERAH/ ASET

A. Pengertian Manajemen

Manajemen berasal dari bahasa Inggris management dengan kata kerja tomanage yang secara
arti umum padan katanya adalah mengelola, mengurusi, merawat, mengatur, mengawasi,
kalkulasi atau budgeting apabila dihubungkan dengan ekonomi keuangan/ barang/jasa. Dalam
arti khusus manajemen dipakai dalam ruang lingkup kepemimpinan yang dijalankan oleh
seorang atau lebih pemimpin yaitu orang atau orang-orang yang melakukan kegiatan
memimpin.

Menurut Stoner, manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan,


memimpin, dan mengawasi usaha-usaha dari anggota organisasi dan dari sumber-sumber
organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. (Dalam Pengantar
Ilmu Manajemen, oleh Prof. Dr. A.M. Kadarman, SJ, dan Drs. Jusuf Udaya, Jakarta: Gramedia,
l994, hal. 10).

Jadi manajemen adalah suatu rentetan langkah yang terpadu yang mengembangkan suatu
organisasi sebagai suatu sistem yang bersifat sosio, ekonomis, dan teknis. (Kadarman dkk.
1994, hal. 10).

Sistem adalah suatu kumpulan bagian yang saling berhubungan dan bergantung serta diatur
sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu keseluruhan. Dalam sistem akan diterima
masukkan (inputs) yang kemudian diubah atau diproses untuk menghasilkan keluaran (outputs).

Sosio (sosial) berarti yang bergerak di dalam dan yang menggerakkan sistem itu ialah manusia.

Ekonomiberarti kegiatan dalam sistem bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Teknis berarti dalam kegiatan dipakai barang atau alat-alat, uang, jasa, dancara tertentu.

Dalam setiap kegiatan manajemen, manajemen apa saja, terkandung di dalamnya paling tidak
teknis-teknis seperti teknis perencanaan, teknis pengorganisasian, teknis actuating, teknis
controlling, teknis budgeting, dan teknis pengelolaan . Namun melalui modul yang tersusun ini
hendak memfokuskan uraian pada proses pengelolaan yaitu pengelolaan danfungsi dari
barang milik daerah/aset secara efisien dan efektif.

Proses adalah serangkaian tahap kegiatan mulai dari menentukan sasaran/ tujuan sampai
dengan berakhirnya atau tercapainya sasaran.

Sedangkan pengertian fungsi adalah tugas atau kegiatan.

Namun pengertian proses dan fungsi biasanya tidak dapat dipisahkan karena saling
berkaitan, karena tanpa kegiatan tidak terjadi proses dimana proses itu tidak statis tetapi
dinamis atau bergerak.

Efisien adalah kemampuan untuk meminimalkan penggunaansumberdaya dalam


mencapai tujuan organisasi; melakukan penghitungan biaya/ anggaran dengan tepat, tidak
berlebih. Sumber daya bisa berupa manusia, jasa, dan barang, atau sesuatu hal yang
mempunyai nilai ekonomis dan bisa dinilai dengan uang seperti kepemilikan badan usaha,
saham, tanah, dan bangunan

Efektif adalah kemampuan untuk menentukan tujuan yang memadai; melakukan hal yang
tepat, yaitu tujuan mengelola barang milik daerah/aset dengan tepat; artinya semua barang
milik daerah/aset terkelola dengan baik, bertanggung jawab, terpelihara (terawatt), dan
bermanfaat atau sesuai dengan peruntukannya.

B. Pengertian Barang Milik Daerah Dan Jenisnya

Berdasarkan Undang-Undang no. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang


dimaksud dengan barang milik daerahadalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas
beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Sedang pengertian
mengenaibarang milik daerah menurut pasal 2 Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 2006, adalah
sebagai berikut :

1. Barang milik daerah, meliputi :

a. Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD.

b. Barang yang berasal dari perolehan selainnya yang sah;

2. Barang sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf b, meliputi :

a. Barang yang diperoleh dari hibah/ sumbangan atau yang sejenis.

b. Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/ kontrak.

c. Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang, atau

d. Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap.

Adapun barang milik daerah bila dilihat dari asal sumbernya, bisa bersumber dari :
1. Pembentukan Daerah Otonom berdasarkan Undang-Undang

2. Liquidasi atau merger dari lembaga pemerintah/instansi/ SKPD

3. Pembelanjaan APBN/ APBD

4. Sumbangan Dalam Negeri/ Luar Negeri

5. Sumbangan pihak ketiga

6. Penyerahan dari pemerintah pusat

7. Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial

8. Swadaya Masyarakat

9. Semua barang yang secara hukum dikuasai pemerintah.

C. Pengertian Aset

Asset demikian bahasa Inggris menuliskannya, atau aset kalau ditulis dalam bahasa
Indonesia, artinya adalah barang atau sesuatu barang (thing/anything = bhs Inggris) yang
mempunyai nilai (value), meliputi :

1. Nilai ekonomi,

2. Nilai komersial dan,

3. Nilai tukar; yang dimiliki oleh instansi, organisasi, badan usaha ataupun individu
(perorangan).

Asset (aset) adalah barang yang dalam pengertian hukum disebut benda, yaitu apa saja
yang dapat dijadikan hak. Di dalam pengertian benda tercakup adanya benda bergerak dan
benda tidak bergerak. Disamping pengertian benda, di dalam hukum perdata juga diberikan
pengertian tentang hak kebendaan, yaitu sesuatu hak yang diberikan kepada seseorang yang
memberikan kekuasaan langsung atas suatu benda yang dapat dipertahankan terhadap setiap
orang/ badan.
Disamping itu hak kebendaan di dalam hukum perdata mengenal pula adanya
pembagian benda menjadi benda berujud dan benda tidak berujud yang tercakup dalam aktiva/
kekayaan atau harta kekayaan dari suatu instansi, organisasi, badan usaha atau individu
perorangan. Namun dalam bab ini hanya akan diuraikan pembagian benda bergerak dan
benda tidak bergerak. Benda bergerak atau benda tidak tetap (roerende goederen) termasuk
didalamnya ialah benda bergerak karena sifatnya dan benda benda bergerak karena ketentuan
undang-undang. Benda bergerak karena sifatnya, misalnya : perabot rumah tangga, perhiasan.
Sedangkan benda bergerak karena ketentuan undang-undang, missal : hak penagihan, hak
atas sebuah karangan, dan hak atas suatu penemuan.

Benda tidak bergerak atau benda tetap (onroerende goederen) dapat digolongkan
menjadi :

1. Benda tidak bergerak karena sifatnya, seperti: tanah, tanaman yang melekat

diatasnya.

2. Benda tidak bergerak karena tujuan pemakaiannya, seperti: mesin pabrik,

ketel pengolahan di pabrik

3. Benda tidak bergerak karena ketentuan undang-undang, seperti : kapal laut

minimal 20 m3 , hak erfpacht, hak opstal.

Adapun pengertian Aset yang ditemui dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri dan
Keputusan Menteri Keuangan adalah semua barang yang dibeli atau yang diperoleh atas
beban APBN/APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Sedangkan menurut Ir. Doli
D. Siregar, M.Sc dalam bukunya Manajemen Aset, membedakan berdasarkan 3 aspek pokok,
seperti berikut :

1. Sumber daya alam adalah semua kekayaan alam yang dapat digunakan dan diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan manusia.

2. Sumber daya manusia adalah semua potensi yang terdapat pada manusia seperti akal
pikiran, seni, ketrampilan, dan sebagainya yang dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan bagi dirinya sendiri maupun orang lain atau masyarakat pada umumnya.

3. Infrastruktur adalah sesuatu buatan manusia yang dapat digunakan sebagai sarana
untuk kehidupan manusia dan sebagai sarana untuk dapat memanfaatkan sumberdaya
alam dan sumberdaya manusia dengan optimal, baik untuk saat ini maupun untuk
kelanjutan dimasa akan datang.

Jika berbicara tentang manajemen aset secara umum, kita tidak terlepas siklus
pengelolaan barang yang dimulai dari perencanaannya sampai penghapusan barang tersebut,
yang kalau diurut adalah sebagai berikut :

1. Perencanaan (Planning); meliputi penentuan kebutuhan (requirement) dan


penganggarannya (budgeting).

2. Pengadaan (Procurement); meliputi cara pelaksanaannya, standard barang dan


harga atau penyusunan spesifikasi dan sebagainya.

3. Penyimpanan dan Penyaluran (Storage and Distribution).

4. Pengendalian (Controlling).

5. Pemeliharaan (Maintance).

6. Pengamanan (Safety).

7. Pemanfaatan (Utilities).

8. Penghapusan (Disposal).

9. Inventarisasi (Inventarization).

Sedangkan kalau kita berpedoman kepada landasan yang terbaru yaitu Permendagri
Nomor 17 Tahun 2007 Pasal 4 ayat 2 menyatakan bahwa pengelolaan barang daerah meliputi :

1. Perencanaan kebutuhan dan penganggaran

2. Pengadaan

3. Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran

4. Penggunaan

5. Penatausahaan
6. Pemanfaatan

7. Pengamanan dan pemeliharaan

8. Penilaian

9. Penghapusan

10.Pemindahtanganan

11.Pembinaan, pengawasan dan pengendalian

12.Pembiayaan

13.Tuntutan ganti rugi

Oleh karena itu untuk memudahkan pembahasan dan menyamakan pandangan, maka
selanjutnya yang dimaksud dengan aset adalah:

1. Semua barang inventaris yang dimiliki pemerintah daerah

2. Semua barang hasil kegiatan proyek APBD/APBN/LOAN yang telah diserahkan pada
Pemerintah Daerah melalui Dinas/ Instansi terkait

3. Semua barang yang secara hukum dikuasai oleh pemerintah daerah, seperti : cagar
alam, cagar budaya, obyek wisata, bahan tambang/galian C, yang dapat dijadikan
sumber Pendapatan Asli Daerah yang berkelanjutan dan yang memerlukan
pengaturan pemerintah daerah dalam pemanfaatan dan pemeliharaannya.

D. Manajemen Barang Milik Daerah/Aset

Pengertian manajemen yang mungkin dapat mudah dimengerti, dan simple adalah
sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Dr. J Panglaykin dari Encyclopedia of the Social
Sciences. Manajemen adalah proses dimana pelaksanaan dari tujuan tertentu suatu
institusi (SKPD) dikelola dan diawasi. Manajemen barang milik daerah/aset sebetulnya
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen keuangan dan secaara umum
terkait dengan administrasi pembangunan daerah khususnya yang berkaitan dengan nilai
aset, pemanfaatan aset, pencatatan nilai aset dalam neraca tahunan daerah, maupun
dalam penyusunan prioritas dalam pembangunan.

Untuk itu sebagai seorang pengurus barang pada suatu Satuan Kerja Perangkat
Daerah, dia sebetulnya adalah manajer atau pengelola terhadap barang yang dibawah
kontrolnya dan tentu saja dia sangat menghayati siklus pengelolaan barang tersebut diatas,
sedangkan dalam pengertian yang umum di masyarakat Pegawai negri sipil lebih dikenal
dengan manajemen barang atau manajemen material yang lebih bertitik tujuan bagaimana
mengelola barang inventaris sehingga terpenuhi persyaratan optimal bagi pelayanan tugas
dan fungsi intansinya.

Pengelolaan barang daerah adalah rangkaian kegiatan dan tindakan terhadap barang
daerah yang meliputi perencanaan kebutuhan dan pengangguran, pengadaan, penerimaan
penyimpanan dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan
dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindah tanganan, pembinaan pengawasan
dan pengendalian, pembiayaan, dan tuntutan ganti rugi. (Pasal 4 ayat 2 Permendagri No.
17 Tahun 2007).

Penegelolaan barang milik daerah dilaksanakan berdasarkan azas:

1. Azas fungsional

Yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah ibidang pengelolaan


barang milik daerah yang dilaksanakan oleh kuasa pengguna barang, pengguna
barang, pengelola barang, dan Kepala Daerah sesuai fungsi, wewena dan
tanggung jawab masing-masing.

2. Azas kepastian hukum

Yaitu pengelolaan barang milik daerah harus dilaksanakan berdasarkan hukum


dan peraturan perundang-undangan.

3. Azas transparansi

Yaitu penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah harus transparan


terhadap hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar.

4. Azas efisiensi
Yaitu pengelolaan barang milik daerah diarahkan agar barang milik daerah
digunakan sesuai batasan-batasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam
rangka menunjang penyelenggaraan togas pokok dan fungsi pemerintahan secara
optimal.

5. Azas akuntabilitas

Yaitu setiap kegiatan pengelolaan barang milik daerah harus dapat


dipertanggungjawabkan kepada rakyat.

6. Azas kepastian nilai

Yaitu pengelolaan barang milik daerah harus didukung oleh adanya ketetapan
jumlah dan nilai barang dalam rangka optimalisai pemanfaatan dan
pemindahtanganan barang milik daerah serta neraca pemerintahan daerah.

Tujuan manajemen aset kedepan diarahkan untuk menjamin pengembangan kapasitas


yang berkelanjutan dari pemerintah daerah, maka dituntut agar dapat mengembangkan
atau mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah guna meningkatkan atau mendongkrak
Pendapatan Asli Daearah, yang akan digunakan untuk membiayai kegiatan guna mencapai
pemenuhan persyaratan optimal bagi pelayanan tugas dan fungsi instansinya terhadap
masyarakat.

Sedangkan menurut Doli D Siregar kita sadari bahwa manajemen aset merupakan salah
satu profesi atau keahlian yang belum sepenuhnya berkembang dan populer di lingkungan
pemerintahan maupun di satuan kerja atau instansi. Manajemen aset itu sendiri kedpannya
atau selanjutnya sebenarnya terdiri dari lima tahapan kerja yang satu sama lainnya saling
terkait yaitu :

1. Inventaris Aset

2. Legal Audit

3. Penilaian Aset

4. Optimalisasi Aset
5. Pengembangan Sisitem Informasi Manajemen Aset (SIMA), dalam Pengawasan
dan Pengendalian Aset.

Sedangkan mengenai manajemen aset seperti telah diuraikan sebelumnya


bahwa manajemen aset merupakan lanjutan dari proses manajemen barang atau
manajemen material yang meliputi kegiatan-kegiatan inventaris aset, legal audit, penilaian
aset, optimalisasi aset, dan pengembangan Sistem Informasi Aset (SIMA) dalam
pengawasan dan pengendalian.

Jadi sebetulnya kalau dilihat lebih mendalam lagi, sebenarnya


manajemen aset ini berbeda dengan manajemen material atau manajemen
barang inventaris milik daerah, atau boleh dikatakan merupakan lanjutan
dari manajemen barang atau inventaris, khusus terhadap barang yang
merupakan aset (barang modal) yang dapat dikembangkan.

BAB III

LANDASAN PERATURAN PERUNDANGAN YANG MENGATUR PENGELOLAAN BARANG


MILIK DAERAH/ ASET

A. Sejarah Pengelolaan Barang Milik Daerah

Kalau kita lihat kembali kebelakang kepada tahun-tahun sebelum yang kita alami
sekarang tentang pengelolaan barang dalam Negara kita Republik Indonesia ini, kita kenal
hanya sebagai barang milik negara yang dikelola oleh masing-masing departemen.
Kemudian terjadilah perubahan-perubahan dalam pengurusan barang inventaris ini sesuai
dengan tuntutan perkembangan administrasi negara, maka keluarlah aturan atau pedoman
sebagai berikut :

1. INPRES 3 Tahun 1971, diikuti dengan dikeluarkannya Surat keputusan Menteri


Keuangan No. Kep. 225/MK/V/471 tentang pedoman pelaksanaan tertib
administrasi kekayaan negara, dan barang daerah otonom terpisah dari atau tidak
termasuk kekayaan negara.
2. Undang-Undang No. 5 Tahun 1974, tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah,
diikuti dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri sebagai berikut :

a. Nomor 4 Tahun 1979, tentang pelaksanaan pengelolaan barang pemerintah


daerah, jo. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 020-595 Tahun 1980,
tentang manual administrasi barang daerah.

b. Nomer 7 Tahun 1997, tentang pedoman pellaksanaan barang pemerintah


daerah, jo. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 32 Tahun 1980 tentang
manual administrasi barang daerah.

3. Undang-undang No. 22 Tahun 1999, tentang pemerintah daerah, yang diikuti oleh
diterbitkannya Keputusan Menteri Dalam Negeri sebagai berikut :

a. Nomor 11 Tahun 2001, tentang pedoman pengelolaan barang daerah.

b. Nomor 152 Tahun 2004, tentang Pedoman Pengelolaan barang daerah.

4. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, tentang pemerintah daerah

B. Landasan Kebijakan Pengelolaan Barang Milik Daerah

Sebagai pegangan atau landasan pekerjaan dalam penelolaan barang daerah ini
dapat dipedomani kebijakan pemerintah dalam mengatur pengelolaan barang daerah
berdasarkan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan Surat Keputusan Menteri
yang terkait.

Untuk itu sebagai landasan dasar pengelolaan barang daerah ini dicoba menampilkan
kebijakan tersebut sebagai berikut :

1. Undang-Undang (UU)

a. Undang-Undang No. 72 Tahun 1957 tentang penjualan rumah negeri


kepada pegawai negeri. (Pasal 1, 3, dan 5).
b. Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok
agraria. Mengatur tentang hak-hak atas tanah dan mengatur tentang
pendaftaran tanah. (Pasal 16).

c. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang keuangan negara.

1) Mengenai kepala daerah (gubernur, bupati, walikota) sebagai pemegang


kekuasaan pengelolaan keuangan daerah (termasuk barang). (Pasal 6
ayat 2 huruf c).

2) Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku pejabat pengguna


anggaran atau barang daerah. (Pasal 10 ayat 1 huruf b).

3) Tugas dari kepala satker mengelola barang milik atau kekayaan daerah
yang menjadi tanggung jawab satker yang dipimpinnya. (Pasal 10 ayat
3 huruf f).

d. Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 pebendaharaan negara

1) Presiden menyerahkan kewenangan kepada gubernur atau bupati atau


walikota dalam pegelolaan keuangan atau barang daerah.

2) Gubernur atau bupati atau walikota selaku kepala pemerintahan daerah


menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang
milik daerah. (Pasal 5 ayat e).

3) Kepala satker perangkat daerah dalam melaksanakan tugasnya selaku


pengguna anggaran atau pengguna barang satker perangkat daerah
yang dipimpinnya berwenang menggunakan barang milik daerah.
(Pasal 6 ayat 1, dan 2 huruf f).

4) Barang milik negara atau daerah yang diperlukan bagi penyelenggaraan


tugas pemerintahan negara atau daerah tidak dapat dipindah
tangankan.

5) Pemindah tanganan barang milik atau daerah dilakukan dengan cara


dijual, dipertukarkan, dihibahkan, atau disertakan sebagai modal
pemerintah setelah mendapat persetujuan dari DPR atau DPRD. (Pasal
45 ayat 1, dan 2).
6) Mengenai persetujuan DPRD ini. (Pasal 46 dan Pasal 47).

7) Khususnya mengenai pengelolaan barang milik negara atau daerah.


(Bab VII pasal 42 s/d Pasal 49).

e. Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Dalam


paragraf ke 6 pasal 178 ayat 1, 2, 3, dan 4 mengenai pengelolaan barang
daerah.

1) Barang milik daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan


umum tidak dapat dijual, diserahkan haknya kepada pihak lain,
dijadikan tanggungan, atau digadaikan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

2) Barang milik daerah dapat dihapuskan dari daftar inventaris barang


daerah untuk dijual, dihibahkan, dan atau dimusnahkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangundangan.

3) Pelaksanaan pengadaan barang dilakukan sesuai dengan kemampuan


keuangan dan kebutuhan daerah berdasarkan prinsip efisiensi,
efektifitas, dan transparansi dangan mengutamakan produk dalam
negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

4) Pelaksanaan penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat 2


dilakuakn berdasarkan kebutuhan daerah, mutu barang, usia pakai, dan
nilai ekonomis yang dilakukan secara transparan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.

f. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara


pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pasal 55 :

1) Pendapatan daerah dan atau barang milik daerah tidak boleh dijadikan
jaminan pinjaman daerah.

2) Proyek yang dibiayai dari obligasi daerah beserta barang milik daerah
yang melekat dalam proyek tersebut dapat dijadikan jaminan oblligasi
daerah.
2. Peraturan Pemerintah (PP)

a. Peraturan pemerintah No. 40 tahun 1994 tentang rumah negara. Mengatur


tentang pengalihan hak rumah negeri golongan III yang telah berusia 10
tahun.

b. Peraturan pemerintah No. 105 Tahun 2000 tentang pengelolaan dan


pertanggungjawaban keuangan daerah. Mengenai hal sebagai berikut :
Pasal 31 ayat 1, 2 , dan 3 :

1) Kepala daerah mengatur pengelolaan barang daerah .

2) Pencatatan barang daerah dilakukan sesuai dengan standar akuntasi


pemerintah daerah.

3) Sekretaris daerah, sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan


kepala dinas atau lembaga teknis adalah pengguna dan pengelola
barang bagi sekretariat daerah atau sekretariat Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah atau dinas daerah atau lembaga teknis daerah yang
dipimpinnya.

c. Peraturan pemerintah No.6 Tahun 2006 tentang pengelolaan barang milik


negara atau daerah.

3. Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres)

a. Keppres No. 40 Tahun 1974 tentang cara penjualan rumah negeri.

b. Keppres No. 5 Tahun 1983 tentang penghapusan penyediaan kendaraan


perorangan dinas.
c. Keppres No. 88 Tahun 2003 tentang pedoman pengadaan barang atau jasa
pemerintah beserta perubahannya dengan Peraturan Presiden Republik
Indonesia :

1) No. 61 Tahun 2004 perubahan pertama

2) No. 32 Tahun 2005 perubahan kedua

3) No. 70 Tahun 2005 perubahan ketiga

4) No. 8 Tahun 2006 perubahan keempat

5) No. 79 Tahun 2006 perubahan kelima

6) No. 85 Tahun 2006 perubahan keenam yang telah diganti dengan


Keppres 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang atau jasa
pemerintah.

4. Keputusan Menteri Dalam Negeri

a. Kepmendagri No. 42 Tahun 2001 tentag pedoman penyerahan barang dan


hutang piutang pada daerah yang baru dibentuk. Pasal 3 :

1) Barang daerah atau hutang piutang yang akan dialhikan kepada daerah
yang baru dibentuk, terlebih dahulu dilaksanakan inventarisasi bersama,
baik administrasi maupun fisik.

2) Barang daerah tersebut meliputi :

a) Tanah, bangunan, dan barang tidak bergerak lainnya

b) Alat angkutan bermotor dan alat besar

c) Barang bergerak lainnya termasuk perlengkapan kantor, arsip,


dokumentasi, dan perpustakaan.

b. Kepmendagri No. 49 Tahun 2001 tentang sistem informasi manajemen


barang daerah.
c. Kepmendagri No. 7 Tahu 2002 tentang nomor kode lokasi dan nomor kode
barang daerah provinsi atau kabupaten atau kota.

d. Kepmendagri No. 12 Tahun 2003 tentang pedoman penilaian barang


daerah.

e. Kepmendagri No. 153 Tahun 2004 tentang pedoman pengelolaan barang


daerah yang dipisahkan.

f. Permendagri No. 7 Tahun 2006 tentang standardisasi sarana dan prasarana


kerja pemerintah daerah.

g. Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan


daerah.

h. Permendagri No. 17 Tahun 2007 tentang pedoman teknis pengelolaan


barang milik daerah.

5. Surat Keuangan Menteri Keuangan

SE-187/MK-2/2003 tentang penjualan kendaraan dinas.

6. Surat Edaran Direktorat Jenderal Anggaran

No. SE-144/A/2002 tentang teknis tata cara pelaksanaan penghapusan barang


inventaris milik negara.

Dengan mempelajari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Surat


Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Surat Keputusan Menteri Keuangan
serta Surat Edaran Dirjen Anggaran sebagaimana dicantumkan diatas
akan dapat menambah penguasaan peserta akan landasan kebijakan
dalam mengelola aset daerah nantinya yang berada dibawah lingkup
satuan kerjanya
B A B IV

PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH/ASET YANG BERDAMPAK MULTI EFEK

A. Penerimaan Pengadaan Barang Milik Daerah/ Aset Dan Pemeliharaannya

Setelah proses pengadaan dan pemeliharaan selesai sesuai dengan ketentuan yang
berlaku, dimana barang pengadaan/ pekerjaan hasil pemeliharaan telah diperiksa oleh
Team/Panitia Pemeriksa Barang Pengadaan selanjutnya memasuki tahap proses berikutnya,
yaitu : penyerahan dari pelaksana kegiatan yang mengadakannya kepada penanggung
jawab/ pengurus Barang-barang/ aset pada satuan unit kerja yang bersangkutan, didalam
proses pekerjaan ini dapat dibedakan atas 2 (dua) tingkat proses, yaitu: menverifikasinya
ulang dan menerimanya.

Menverifikasi barang, maksudnya/ tujuannya adalah untuk mencek (memeriksa)


ulang akan kebenaran/ kesesuaian dari barang-barang pengadaan tersebut apakah sudah
sesuai dengan dokumen tertulis terhadap barang yang dimaksud (Berita Acara Hasil
Pemeriksaan Panitia Pemeriksa Barang Pengadaan/ Surat Perintah Kerja/ Surat Perjanjian/
Kontrak).

Dalam melakukan verifikasi, ketelitian Pengurus/ Penyimpan Barang sangat


dibutuhkan sekali, mereka hanya dituntut mencek ulang dari dokumen penerimaan barang
yang telah disetujui dan telah ditandatangani oleh Team/ Panitia Pemeriksa Barang
Pengadaan terhadap barang yang sedang/ akan diterimanya sesuai dengan keadaan fisik
barangnya dan jumlahnya. Dalam urutan kerja pelaksanaannya dapat diuraikan sebqgai
berikut ini :

1. Pertama, periksa (cek) dulu dokumen penerimaan barang apakah telah ditandatangani
oleh Team/ Panitia Pemeriksa Penerima Barang. Pengurus/ Penyimpan Barang akan
berbahaya sekali kalau seandainya Team/ Panitia Pemeriksa Barang Pengadaan belum
menandatangani Berita Acara Tanda Pemeriksaan Barang tersebut tapi telah diterima
oleh Pengurus/ Penyimpan Barang.

2. Kedua, periksa (cek) dan hitung jumlah unit barang untuk setiap macam barang apakah
sudah sesuai dengan dokumennya. Kalau belum cukup maka Pengurus/ Penyimpan
Barang melaporkan pada Panitia Pelaksana Pengadaan Barang Daerah (P3BD) serta
atasannya dan mencatat keterangan kekurangan tersebut pada dokumen yang
bersangkutan, dan penerima barang membuat Tanda Penerimaan
Sementara Barang yang dengan tegas menyatakan sebab-sebab dari Penerimaan
Sementara tersebut dan selanjutnya harus disetujui dan ditandatangani oleh yang
menyerahkan barang tersebut.

3. Ketiga, periksa (cek) setiap unit barang berdasarkan spesifikasinya apakah sudah cocok
dan lengkap bahagian-bahagiannya serta alat-alat tambahan/kelengkapannya. Jika
barang tersebut ada yang kurang bahagian-bahagiannya atau kelengkapannya maka
Pengurus/ Penyimpan Barang melaporkan pada atasannya dan mencatat keterangan
kekurangan tersebut pada dokumen yang bersangkutan dan penerima barang membuat
Tanda Penerimaan Sementara yang dengan tegas menyatakan sebab-sebab dari
Penerimaan Sementara tersebut dan selanjutnya harus disetujui dan ditandatangani
oleh yang menyerahkan barang tersebut, tetapi kalau semuanya telah lengkap dan
sesuai maka penerimaan itu dibuatkanBerita Acara Penerimaan Barang.

4. Semua dokumen tertulis terhadap barang-barang tersebut harus disimpan dengan rapi
sebagain arsip penting dari satuan unit kerja yang bersangkutan.

Menerima dan mencatat barang pengadaan, maksudnya adalah menerima dan


membukukan barang-barang hasil pengadaan tersebut menurut administrasi barang
sebagaimana seharusnya. Tugas selanjutnya setelah verivikasi terhadap barang
pengadaan selesai maka Pengurus/Penyimpan Barang harus membuat :

1. Berita Acara Penerimaan Barang (Contof form. terlampir)

2. Mencatatnya pada Buku Penerimaan Pengadaan Barang (Contoh form. terlampir)

3. Mencatatkan kedalam Buku Barang (Inventaris) dan Buku Barang (Pakai Habis). Contoh
form terlampir

4. Selanjutnya dapat menyimpan atau menyerahkan/mendistribusikan barang tersebut


kepada pemakainya sesuai dengan perintah Kepala Satuan Unit Kerjanya. (Contoh
form terlampir).
Prinsip pemeliharaan terhadap barang milik daerah/aset adalah hakekatnya prinsip
pengamanan terhadap barang milik daerah/aset yang secara umum adalah merupakan
usaha berupa tindakan/kegiatan yang dilakukan guna menjamin keamanan terhadap
barang milik daerah/aset dari segi :

1. Pengamanan Administratif : barang milik daerah/aset harus mempunyai Dokumen


Kepemilikan yang lengkap seperti; sertifikat tanah, BPKB bagi kendaraan bermotor, dan
sebagainya.

2. Pengamanan Fisik : pengamanan dari kerusakan fisik seperti; pemagaran, tanda batas,
papan kepemilikan, dan sebagainya. Untuk tanah dan/ atau bangunan, perlindungan
asuransi bagi gedung kantor dan kendaraan bermotor.

3. Pengamanan Yuridis (sisi hukum) : semua dokumen kepemilikan dan surat-surat bukti
yang ada tidak cacat hukum, sehingga semua aset dapat terlindungi secara hukum.

B. Pemanfaatan Barang Milik Daerah/Aset

Pemerintah Daerah biasanya memiliki banyak barang milik daerah/aset yang berada
dibawah penguasaannya. Namun cukup banyak dari aset itu belum optimal
pemanfaatannya, maka dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk
pembangunan daerah yang berkelanjutan perlu dioptimalkan pemanfaatannya. Disamping
itu juga menambah peluang penyerapan tenaga kerja apalagi terhadap aset/ BMD yang saat
ini masih menganggur (idle).

Sebetulnya Aset Milik Daerah (AMD) yang belum dimanfaatkan, dapat didayagunakan
atau diguna-usahakan secara optimal, dengan tujuan:

1. Agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah khususnya biaya
dikaitkan dengan segi pemeliharaan dan pengamanannya, terutama untuk mencegah
kemungkinan penyerobotan dari pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab.

2. Jika BMD/Aset tersebut dimanfaatkan secara optimal akan dapat meningkatkan atau
menciptakan sumber PAD.
3. Pemanfaatan BMD yang optimal akan menambah peluang penyerapan tenaga kerja dan
akan menciptakan sumber pendapatan masyarakat.

Sudah umum diketahui oleh masyarakat bahwa mereka sering mengeluhkan


petugas pemerintah sekarang yang kurang memperhatikan penggunaan BMD/Aset. Cara
baik dan banyak diantaranya BMD/Aset itu seharusnya masih bisa ditingkatkan
pemanfaatannya sehingga lebih bernilai guna lagi dari yang sekarang ada, dan
berkemungkinan dapat juga menjadi sumber pendapatan daerah dalam pemanfatannya.

Pemanfaatan BMD/Aset adalah pendayagunaan barang milik daerah/ aset yang tidak
lagi digunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah yang
bersangkutan, akan dimanfaatkan secara optimal oleh pihak ketiga atau oleh instansi lain
dalam bentuk sewa, pinjam pakai, Kerjasama Pemanfaatan (KSP), dan Bangun Guna Serah
(BGS), Bangun Serah Guna (BSG) dengan tidak mengubah status kepemilikan (pasal 1,
pasal 31 s/d 44 Permendagri No. 17 tahun 2007).

Disamping itu ada pula suatu Dinas/Instansi yang pada mulanya menguasai tanah
yang luas untuk tujuan mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya tetapi sampai
saat ini belum bisa dimanfaatkan/digunakan karena tidak relevan lagi dengan situasi dan
kondisi sekarang sehingga banyak areal tersebut yang emnganggur (idle), akibatnya banyak
dari tanah-tanah tersebut yang diserobot kembali oleh masyarakat dengan berbagai dalih
dan alasan. Oleh sebab itu maka pemanfaatan BMD/Aset ini prinsipnya adalah :

1. Tidak akan membebani anggaran belanja daerah khususnya untuk pemeliharaan,

2. Menghindari penyerobotan oleh pihak lain,

3. Diharapkan dapat menjadi sumber tambahan untuk PAD,

Jadi pada pokoknya kebijakan pemanfaatan BMD/Aset ini meliputi 2 (dua) fungsi,
yaitu :

1. Fungsi Pelayanan : Fungsi ini direalisasikan melalui pengalihan status penggunaan BMD/
Aset dialihkan penggunaannya dari satu SKPD ke SKPD lainnya dalam rangka
memenuhi kebutuhan organisasi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
2. Fungsi Budgeter : Fungsi ini direalisasikan melalui pemanfaatan dalam bentuk sewa,
kerjasama pemanfaatan, Bangun Guna Serah, dan Bangun Serah Guna yang akan
dapat menjadi sumber tambahan PAD.

BMD/Aset berupa tanah dan/atau bangunan atau barang lainnya berkemungkinan


mempunyai situasi/keadaan sebagai berikut :

1. Tanah dan/atau bangunan sedang/telah dimanfaatkan untuk memperoleh fasilitas yang


diperlukan dalam rangka menunjang tugas pokok dan fungsi instansi pengguna dan
berada dalam lingkungan instansi pengguna, misalnya : kantin, bank dan koperasi,

2. Masih digunakan dan diperlukan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi oelh
satuan unit kerja/ instansi yang bersangkutan,

3. Sebagian masih diperlukan/ digunakan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi
oleh satuan unit kerja/instansi yang bersangkutan,

4. Belum dimanfaatkan lagi atau sudah tidak digunakan lagi oleh satuan unit kerja/instansi
yang bersangkutan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsinya.

Bagi satuan unit kerja/instansi yang BMD/Asetnya berada dalam situasi nomor 3 dan
4 diatas, harus menyerahkannya kepada Gubernur/Bupati/Walikota sebagai Pemegang
Kekuasaan Pengelolaan BMD/Aset melalui Pengelola Barang Milik Daerah/Aset (pasal 16
ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006).

Selanjutnya mekanisme dalam pelaksanaan optimalisasi pemanfaatan BMD/Aset ini


dapat dilakukan melalui proses sebagai berikut :

1. Pendataan BMD/Aset,

2. Mengidentifikasi BMD/Aset (legal audit, potensinya, dan sebagainya),


3. Menganalisa potensi peluang untuk dioptimalisasikan,

4. Menyusun Rancangan Program Optimalisasi Pemanfaatan.

Namun yang sering muncul menjadi permasalahan dalam pengelolaan BMD/Aset


ini pada umumnya adalah :

1. Belum ada inventarisasi seluruh BMD/Aset yang ada,

2. Inefisiensi dalam pemanfaatan BMD/Aset,

3. Landasan Hukum yang belum terpadu dan menyeluruh,

4. Tersebarnya lokasi dan hak penguasaannya,

5. Koordinasi yang lemah,

6. Pengawasan yang lemah,

7. Beragam kepentingan dan distorsi lainnya,

8. Mudahnya terjadi penjarahan BMD/Aset,

9. Jumlah BMD/Aset yang banyak dan bervariasi,

10. Dokumen pendukung BMD/Aset yang belum ter-record secara sistematik,

11. Perbedaan penanganan masing-masing BMD/Aset,

12. Banyak BMD/Aset yang menganggur (idle asset) dan belum dimanfaatkan

secara optimal,

13. Pengelolaan data yang masih manual,

C. Menghindari Penyalahgunaan/ Perbuatan KKN Terhadap

Pelaksanaan Pengadaan Barang Milik Daerah/Pemeliharaan Aset


Pengadaan barang milik daerah dan pemeliharaan aset daerah merupakan
pembelanjaan pemerintah daerah yang kalau dijumlahkan secara nasional merupakan
pengeluaran Negara secara keseluruhannya/ totalnya yang sangat besar. Angka
pembelanjaan pemerintah daerah ini tentunya sangat mempengaruhi pasar dan aktivitas
ekonomi nasional, disebabkan jumlah uang yang berputar cukup besar dan keterlibat dunia
usaha dan birokrat publik juga sangat besar. Apalagi kalau kita memandangnya dari segi
ekonomi makro dimana pembelanjaan pemerintah berkaitan erat dengan ekonomi negara.

Keterlibatan birokrat publik atau aparatur pemerintah dan dunia usaha dalam
pembelanjaan ini berpeluang timbulnya kolusiyang ujung-ujungnya terjadi praktek korupsi
dibidang pengadaan barang dan pemeliharaan aset ini, yang sudah lumrah disebut ditengah
masyarakat dengan istilah Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) ini harus dihilangkan atau
dihindari sehingga kebocoran keuangan negara dapat dihindari.

Untuk maksud itu pemerintah selalu berusaha melakukan perbaikan-perbaikan atau


penyempurnaan peraturan mengenai Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa
Pemerintah,Keputusan Presiden No. 18 tahun 2000 misalnya telah diperbaharui dengan
diterbitkannya beberapa kali revisi atau penyempurnaan dan saat ini dengan Peraturan
Presiden RI Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jassa Pemerintah. Peraturan
Presiden ini menjadi dasar dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah
termasuk pemerintah daerah sesuai tertera dalam pasal 2 ayat (1) sampai dengan (4).

Pada pokoknya pengadaan dan pemeliharaan barang/aset ini harus berpedoman


kepada prinsip-prinsip pengadaan yang tercantum pada pasal 5 Perpres Nomor 54 tahun
2010, yaitu :

1. Efisien,

2. Efektif,

3. Transparan,

4. Terbuka,

5. Bersaing,

6. Adil/ Tidak diskriminatif,

7. Akuntabel.
Prinsip-prinsip diatas ditujukan kepada jalannya kegiatan pemilihan penyedia apakah
telah berjalan menurut yang seharusnya dan tidak terjadinya KKN antara pengguna barang,
pejabat atau panitia pengadaan dan penyedia. Apakah sistem/ cara, metode dan proses
pemilihan telah terlaksana secara tertib menurut jadwal yang telah disusun sebelumnya.
Kalau terjadi kekacauan dalam jalannya kegiatan pemilihan antara peserta dengan peserta,
atau peserta dengan panitia, apalagi kalau terjadi sanggahan dari peserta yang ternyata
sanggahan itu benar adanya, ini suatu tanda (signal) adanya sesuatu yang terjadi dalam
proses pemilihan penyedia. Terjadinya KKN pada proses pengadaan barang/ jasa
pemerintah akibat terjadinya 10 (sepuluh) macam praktek yaitu :

1. Penyuapan (bribery),

2. Penggelapan (embleszzment),

3. Pemalsuan (fraud),

4. Penyalah-gunaan wewenang (abuse of direction),

5. Usaha sendiri (internal trading),

6. Pemerasan (extortion),

7. Nepotisme,

8. Pilih kasih (favoritisme),

9. Menerima komisi (commission)

10. Sumbangan ilegal (illegal contribution).

Adapun pemicu yang menyebabkan terjadinya hal-hal KKN diatas antara lain :

1. Kondisi tertutup dalam penyelenggaraan pengadaan barang/ jasa,

2. Praktek-praktek dalam proses pengadaan itu sendiri berupa antara lain :

a. Perencanaan, penggelembungan anggaran (mark-up), rencana yang diarahkan,


rekayasa pemaketan, jadwal yang tidak realistis,
b. Panitia yang tidak transparan, memihak, tidak independen, integritas yang lemah,

c. Kualifikasi, dokumen tidak memenuhi syarat, aspal, legalisasi dokumen tidak


dilakukan, evaluasi tidak sesuai kriteria,

d. Penyusunan dokumen lelang, spesifikasi yang diarahkan, rekayasa kriteria evaluasi,


dokumen lelang non standar atau tidak lengkap,

e. Pengumuman lelang semu/fiktif, jangka waktu pengumuman terlalu singkat, tidak


lengkap,

f.Pengambilan/penyerahan dokumen lelang inkonsisten, waktu terbatas, penyerahan


fiktif, dokumen yang tak lengkap, dan sebagainya,

g. Penentuan HPS, gambaran nilai yang ditutup-tutupi, mark-up, harga dasar tidak
standar, estimasi yang tak sesuai aturan,

h. Aanwijzing (penjelasan lelang) terbatas, informasi dan deskripsi terbatas, penjelasan


yang kontroversial,

i. Evaluasi, kriteria cacat, tertutup, peserta lelang terpola dalam berkolusi, adanya
penggantian dokumen,

j. Pengumuman pemenang, tanggal sengaja ditunda, pengumuman sangat terbatas dan


tidak informatif,

k. Sanggahan, substansi sanggahan tidak ditanggapi, tidak ditanggapi seluruhnya,


kurang independen, dan akuntabel, hanya seakan menghindari tuduhan tender diatur.

Untuk itu pengawasan terhadap pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa


pemerintah sebetulnya dapat difokuskan pada 3 (tiga) hal pokok, yaitu :

1. Pengawasan terhadap prosedur pemilihan,

2. Pengawasan terhadap disiplin jadwal pelaksanaan,


3. Pengawasan terhadap proses penilaian/evaluasi.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Barang milik daerah adalah barang sebagaimana yang dijelaskan dalam PP RI Nomor
6 tahun 2006 yaitu semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN/D atau
berasal dari perolehan lainnya yang sah.

Wewenang pengelolaan barang daerah berada pada Kepala Daerah, sedangkan


Menteri Dalam Negeri bertugas melakukan pembinaan dan memfasilitasi terhadap
pengelolaan barang daerah. Dalam pelaksanaan tugasnya Kepala Daerah sebagai
Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Barang Daerah, dibantu oleh :

1. Sekretaris Daerah sebagai Pengelola Barang Milik Daerah.

2. Kepala Biro/ Kepala Bagian Perlengkapan sebagai Pembantu Kuasa barang.

3. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai Pengguna Barang Milik Daerah.

4. Pemegang/Bendaharawan Barang sebagai Penerima, penyimpan dan pengeluaran


Barang Daerah.

5. Pengurus barang bertugas mengurus pemakaian barang daerah.

Barang milik daerah digunakan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi
satuan kerja perangkat daerah sebagaimana dimaksud dalam undang-Undang nomor 1
tahun 2004 pasal 42 ayat (2), sedangkan barang milik daerah yang diperlukan bagi
penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah tidak dapat dipindahtangankan. Dalam rangka
menjamin tertib penggunaan, Pengguna barang harus melaporkan kepada Pengelola
barang atas semua barang milik daerah yang diperoleh satuan kerja perangkat daerah
untuk ditetapkan status penggunaannya.
Penggunaan/pemakaian dan pemanfaatan barang milik daerah/aset harus terus
dimonitor dan dievaluasi.

B. Saran

Bagi setiap pejabat yang diserahi mengelola barang milik daerah/aset disatuan
kerjanya dalam menyiapkan usulan pengadaan dan pemeliharaan BMD/aset adalah
persiapan untuk mengumpulkan data usulan kebutuhan pengadaan barang dan
pemeliharaan barang inventaris/ aset dari semua bagian/seksi di instansi/ satuan kerjanya
untuk tahun fiskal ke depan. Untuk terlaksananya pengumpulan data yang baik dan rasional
yang bersangkutan harus menyiapkan dan menyampaikan :

1. Informasi kepada semua bagian di satuan kerja atau instansi tempatnya bekerja bahwa
usulan pengadaan dan pemeliharaan BMD/Aset akan dijadikan rujukan dalam
pembuatan rencana anggaran tahun depan. Untuk tujuan ini semua bagian diminta
segera menyampaikan usulan tersebut.

2. Form (blanko) usulan rencana kebutuhan pengadaan dan pemeliharaan BMD/aset.

3. Petunjuk teknis tentang cara pengisian serta dasar pertimbangan bagi mereka dalam
penyusunan bahan usulan pengadaan kebutuhan BMD/Aset.

4. Bahwa barang yang akan diusulkan itu harus jelas jumlah unitnya,
spesifikasinya, harganya, .dan pemanfaatannya/ peruntukannya di
kemudian hari
Manajemen Aset

Aset merupakan hal yang sangat penting bagi suatu perusahaan. Menurut Hwa (2003)
dalam Sri Lankan Journal of Estate, sejalan dengan kebutuhan akan tempat usaha,
properti digambarkan sebagai faktor penting dari produksi. Hal ini menjelaskan
mengapa banyak perusahaan mempunyai aset properti dalam jumlah besar (Seiler et
al, 2001 dalam Sri Lankan Journal of Estate). Berkaitan dengan hal tersebut, maka
aset properti dalam jumlah yang besar harus dapat dikelola dengan baik.

Banyak perusahaan masih menganggap Manajemen Aset secara Fisik hanyalah


sekedar instrumen pengelolaan daftar aset. Realita di lapangan menunjukan banyak
kasus yang sebenarnya dimulai dari salah kelola dan salah urus masalah aset,
sehingga berdampak kerugian yang tidak sedikit. Sebagai contoh optimalisasi sumber
daya tidak bisa dilakukan secara maksimal karena tidak teridentifikasi dengan jelas,
sehingga sulit untuk mengetahui apakah suatu alat produksi sudah saatnya untuk
diganti atau masih layak untuk di maintenance. Pertanyaan berikutnya apabila harus
di maintenance kapan waktu yang tepat untuk melakukan hal tersebut, apabila harus
diganti apakah dengan jenis alat yang sama atau ada alternatif lain yang lebih
baik. Keputusan akan pilihan-pilihan dalam pengelolaan aset hanya bisa terjawab
dengan tepat bila kita memiliki informasi/data yang jelas tentang aset tersebut.
Oladokun, Timothy Tuned. 2011. Corporate Real Estate Management: A Need For Paradigm Shift In
Nigeria. Sri Lankan Journal Of Estate. journals.sjp.ac.lk/index.php/SLJRE/article/download/127/51
Prawoto, Agus. (t.t). "Lifecycle Sustainability Asset Management".
dari http://www.kedaiproperty.com/lifecycle-sustainability-asset-management diunduh
12 November 2011

Pengertian Manajemen Aset

Berikut dijelaskan mengenai pengertian Manajemen Aset berdasarkan beberapa pakar.

Prawoto (t.t) mengemukakan bahwa Manajemen aset adalah kombinasi dari


manajemen, keuangan, ekonomi, tehnik mesin dan praktek kerja yang diterapkan pada
aset fisik dengan tujuan agar mampu menyediakan tingkat pelayanan prima dengan
biaya yang paling efesien.

Federal Highway Administration and the American Association of State Highway and Transportation
Officials dalam Asset Management Primer (1999) mendefinisikan manajemen aset sebagai pemenuhan
tingkat layanan yang diperlukan dengan cara yang paling hemat biaya melalui penciptaan, akuisisi,
operasi, pemeliharaan, rehabilitasi, dan penghapusan aset yang disediakan bagi pelanggan saat ini dan
dimasa yang akan datang.
Organization for Economic Co-Operation and Development yang dikutip dalam sebuah proyek penelitian
berjudul Asset ManagementTexas Style (2007) berpendapat bahwa manajemen aset didefinisikan
sebagai suatu proses yang sistematis untuk mempertahankan, mengupgrade, dan mengoperasikan aset,
menggabungkan prinsip rekayasa dengan praktek bisnis yang sehat dan alasan ekonomi, dan
menyediakan alat untuk memfasilitasi pendekatan yang lebih terorganisir dan fleksibel untuk membuat
keputusan yang diperlukan untuk mencapai harapan publik.

Menurut Hastings (2010) manajemen aset adalah serangkaian kegiatan yang terkait
dengan (1) mengidentifikasi apa saja yang dibutuhkan aset, (2) mengidentifikasi
kebutuhan dana, (3) memperoleh aset, (4) menyediakan sistem dukungan logistik dan
pemeliharaan untuk aset, (5) menghapus atau memperbaharui aset sehingga secara
efektif dan efisien dapat memenuhi tujuan.

Berbagai pengertian mengenai manajemen aset tersebut mengatakan bahwa manajemen


aset merupakan suatu proses sistematis yang mempertahankan, meng-upgrade, dan mengoperasikan
aset dengan cara yang paling hemat biaya melalui penciptaan, akuisisi, operasi, pemeliharaan,
rehabilitasi, dan penghapusan aset yang terkait dengan (1) mengidentifikasi apa saja yang dibutuhkan
aset, (2) mengidentifikasi kebutuhan dana, (3) memperoleh aset, (4) menyediakan sistem dukungan
logistik dan pemeliharaan untuk aset, (5) menghapus atau memperbaharui aset sehingga secara efektif
dan efisien dapat memenuhi tujuan. Inti dari manajemen aset yaitu bahwa pengelolaan aset berkaitan
dengan menerapkan penilaian teknis dan keuangan dan praktek manajemen yang baik untuk
memutuskan apa yang dibutuhkan aset untuk memenuhi tujuan bisnis, dan kemudian untuk memperoleh
dan mempertahankan aset selama umur hidup aset tersebut sampai ke pembuangan.

Prawoto, Agus. (t.t). "Lifecycle Sustainability Asset Management".


darihttp://www.kedaiproperty.com/lifecycle-sustainability-asset-management diunduh 12
November 2011

Hastings, Nicholas A. John. 2010. Physical Asset Management. Springer. ISBN 978-1-84882-751-6
Krugler Paul E., Carlos M. Chang-Albitres, Kirby W. Pickett, Roger E. Smith, Illya V. Hicks, Richard M.
Feldman, Sergiy Butenko, Dong Hun Kang, and Seth D. Guikema. 2007. Asset Management Literature
Review and Potential Applications of Simulation, Optimization, and Decision Analysis Techniques For
Right-of-Way and Transportation Planning and Programming. Texas Transportation Institute, The Texas
A&M University System From: http://tti.tamu.edu/documents/0-5534-1.pdf
U.S. Department of Transportation, Federal Highway Administration, Office of Asset Management. 1999.
Asset Management Primer. U.S. Department of Transportation. From:
www.fhwa.dot.gov/infrastructure/asstmgmt/amprimer.pdf

Tujuan Manajemen Aset

Prawoto menjelaskan bahwa tujuan manajemen aset adalah untuk menjaga agar nilai
aset tersebut tetap tinggi dan mempunyai usia hidup yang panjang dengan
menyediakan biaya operasi yang memadai sehingga mampu menghasilkan output yang
tinggi secara efesien, memberikan kepuasan kepada pelanggannya namun dengan
tetap mengindahkan peraturan perundangan dan aspek keselamatan kerja sehingga
tidak mengganggu lingkungan dan memberikan image yang baik kepada publik.

Nemmer dalam proyek penelitian berjudul Asset ManagementTexas Style (2007) berpendapat bahwa
tujuan utama dari manajemen aset adalah untuk meningkatkan proses pengambilan keputusan dan untuk
mengalokasikan dana aset sebuah instansi sehingga pengembalian investasi terbaik diperoleh.
Manajemen aset mencakup semua proses, alat, dan data yang dibutuhkan untuk mengelola aset secara
efektif untuk mencapai tujuan ini.

Hastings (2010) berpendapat bahwa fungsi manajemen aset diperlukan untuk memberikan pengetahuan
aset dan kapasitas manajemen terkait dan kegiatan pendukung keputusan dalam konteks bisnis yang
meliputi (1) aset (dan kemampuan yang terkait) perencanaan dan pelaksanaan pembangunan (2)
perencanaan keberlanjutan dan pelaksanaan aset dan, (3) logistik dukungan pembangunan dan
pengelolaan fasilitas.

Menurut Hambali (2010), ada lima tujuan dari manajemen aset. Tujuan-tujuan dari manajemen aset
meliputi (1) kejelasan status kepemilikan aset, (2) inventarisasi kekayaan daerah dan masa pakai aset,
(3) optimasi penggunaan dan pemanfaatan untuk meningkatkan pendapatan dimana aset yang
berstatus idle capacity dapat dimanfaatkan sesuai peruntukkan yang ditetapkan, selain itu optimasi aset
dapat mengidentifikasi dan mengetahui pemanfaatannya untuk apa, peruntukkan aset kepada siapa dan
mampu mendatangkan pendapatan bagi pengelola aset (4) pengamanan aset dan (5) dasar penyusunan
neraca.

Berdasarkan pendapat di atas, secara umum tujuan dari pengelolaan aset adalah
membantu suatu entitas dalam memenuhi tujuan penyediaan pelayanan secara
optimal, efektif dan efisien. Hal ini mencakup perencanaan, panduan pengadaan,
penggunaan, pemanfaatan, optimasi, penghapusan aset dan pengaturan risiko serta
biaya yang terkait selama siklus hidup aset. Pengelolaan aset juga bertujuan untuk
mengetahui kejelasan dari kepemilikan aset sehingga pemilik aset dapat dengan aman
dan tidak terbentur masalah legalitas dalam mendayagunakan aset yang dimilikinya.

Hambali. 2010. Inventarisasi Barang Milik Negara. Bandung: Politeknik Negeri Bandung
Hastings, Nicholas A. John. 2010. Physical Asset Management. Springer. ISBN 978-1-84882-751-6

Krugler Paul E., Carlos M. Chang-Albitres, Kirby W. Pickett, Roger E. Smith, Illya V.
Hicks, Richard M. Feldman, Sergiy Butenko, Dong Hun Kang, and Seth D. Guikema.
2007. Asset Management Literature Review and Potential Applications of Simulation,
Optimization, and Decision Analysis Techniques For Right-of-Way and Transportation
Planning and Programming. Texas Transportation Institute, The Texas A&M University
System From: http://tti.tamu.edu/documents/0-5534-1.pdf
Prawoto, Agus. (t.t). "Lifecycle Sustainability Asset Management".
dari http://www.kedaiproperty.com/lifecycle-sustainability-asset-management diunduh
12 November 2011

Siklus Hidup Aset

Lei, Herder, dan Wijnia (2012) mengemukakan bahwa masalah global yang umum dalam capital-
intensive industry adalah overcapacity dan rendahnya tingkat pengembalian investasi. Ini berarti
diperlukan suatu strategi untuk meningkatkan pengembalian investasi untuk mengurangi biaya operasi
atau untuk meningkatkan perputaran modal fisik. Dari sudut pandang aset fisik, persyaratan ini berarti
kebutuhan untuk manajemen yang dinamis dan berkesinambungannya siklus hidup aset, pengembangan
kapasitas yang optimal, keefektivitasan peralatan secara keseluruhan lebih tinggi, keandalan yang lebih
tinggi dan fleksibilitas dari aset fisik, dan biaya pemeliharaan yang lebih rendah dari peralatan produksi.
Untuk mengatasi tantangan ini metode manajemen aset yang berbeda telah dikembangkan bertujuan
untuk meningkatkan siklus hidup aset. Disain manajemen aset yang baik dapat menyebabkan
peningkatan operasi.
Pentingnya siklus hidup aset digambarkan dalam berbagai definisi manajemen aset
salah satunya diungkapkan oleh Publicly Available Specification (PAS) 55-1. PAS 55-1
(2008) mendefinisikan manajemen aset sebagai kegiatan sistematis dan terkoordinasi
dan praktek melalui optimasi organisasi dan berkelanjutan mengelola aset dan sistem
aset, kinerja yang terkait, risiko dan pengeluaran selama siklus hidup aset untuk tujuan
mencapai rencana strategis organisasi.

Menurut Hastings (2010) tahapan utama dalam siklus aset adalah:

1. Identifikasi peluang bisnis atau kebutuhan.


2. Kemampuan analisis gap dan analisis kebutuhan aset
3. Analisis Pra-studi kelayakan, fisik dan keuangan - pilihan opsi
4. Perencanaan Kelayakan, fisik dan keuangan - untuk opsi yang dipilih
5. Akuisisi, pengembangan dan implementasi
6. Operasi, dukungan logistik dan pemeliharaan
7. Memantau (monitoring) dan review
8. Pembuangan (disposal)

McFarland dalam The National Property Management Associations Journal of Property and Asset
Management (2010), berpendapat bahwa profesional manajemen (dalam hal ini manajemen aset) harus
dapat mengelola semua aspek dari siklus hidup aset untuk memastikan perusahaan mereka mencapai
hasil maksimal atas modal yang diinvestasikan, menerapkan efisien dan efektif proses yang memberikan
kontrol yang wajar yang mendukung tenaga kerja sementara menghilangkan proses non nilai tambah,
sumber daya dan biaya.

Sedang Prawoto (t.t) mengemukakan bahwa dalam mengelola aset, hal yang tidak bisa
dilepaskan dari manajemen aset adalah siklus kehidupan manajemen aset, yaitu suatu
alat yang praktis untuk melakukan identifikasi, mengkwantifikasi dan memprioritaskan
penundaan pemeliharaan pada suatu fasilitas, dan mengembangkan rencana reduksi
penundaan pemeliharaan secara rinci untuk mengakomodasikan tersedianya
pendanaan. Rencana tersebut mengidentifikasi dan mengkwantifikasi kondisi suatu
fasilitas saat ini, kondisi yang diinginkan di masa mendatang, dan bagaimana kondsi
mendatang itu dicapai baik dalam kaitannya dengan tugas pemeliharaan dan biaya
yang tersedia. Siklus kehidupan manajemen aset terdiri dari 4 unsur kunci, yaitu
pemeliharaan yang bersifat pencegahan, penurunan penundaan pemeliharaan,
pembaharuan dan fungsi peningkatan. Untuk pencapaian tujuan dalam manajemen
aset diperlukan penggunaan perencanaan manajemen strategis berupa rencana
panjang bagi organisasi dengan mengakomodasikan visi, misi dan penciptaan nilai
organisasi, kebijakan bisnis, persyaratan yang ditetapkan oleh para pemangku
kepentingan, tujuan organisasi serta manajemen risiko.

Hastings, Nicholas A. John. 2010. Physical Asset Management. Springer. ISBN 978-1-84882-751-6
Lei, Telli van der, Paulien Herder & Ype Wijnia. 2012. Asset Management, The State of
the Art in Europe from a Life Cycle Perspective. Springer. ISBN 978-94-007-2724-3
PAS 55-1 and PAS 55-2 Asset Management. 2008. British Standards Institution. ISBN: 978 0 580 50976
6. www.bsi-global.com
Prawoto, Agus. (t.t). "Lifecycle Sustainability Asset Management".
dari http://www.kedaiproperty.com/lifecycle-sustainability-asset-management diunduh
12 November 2011
Thompson, Brian E., 2010. Achieving Asset Management Excellence. The National Property Management
Associations, Journal of Property And Asset Management (1-8), Volume 1, Number 1, May 2010

Alur Manajemen Aset

Menurut Sugiama (2012) seluruh proses manajemen aset dapat juga disebut fungsi
dalam manajemen aset/alur manajemen aset. Terdapat tahapan-tahapan dalam
manajemen aset yang merupakan sub-unit kegiatan yang sistematis dan teritegrasi.
Masing-masing tahapan saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Seluruh kegiatan harus
dilaksanakan dengan sebaik mungkin agar tidak terjadi kesalahan fatal. Secara umum
alur dari manajemen aset adalah Perencanaan Aset, Pengadaan Aset, Inventarisasi
Aset, Legal Audit Aset, Operasi Aset, Pemeliharaan Aset, hingga Pengalihan Aset dan
Penghapusan Aset. Alur dapat dilihat lebih jelas pada gambar

Gambar : Skema Alur Manajemen Aset Sumber : Sugiama, 2012:2


Adapun penjelasan dari setiap langkah dalam siklus hidup aset yang telah digambarkan pada gambar 2.4
adalah sebagai berikut:
1. Pengadaan Aset : Kegiatan pengadaan (barang dan jasa) adalah serangkaian kegiatan untuk
memperoleh atau mendapatkan aset/ barang maupun jasa baik yang dibiayai oleh sendiri maupun yang
dibiayai oleh pihak luar atau dilaksanakan secara swakelola (sendiri), maupun oleh penyedia barang dan
jasa.
2. Inventarisasi Aset : Rangkaian kegiatan mengidentifikasi kualitas dan kuantitas aset secara fisik
non fisik, dan secara yuridis / legal. melakukan kodefikasi dan mendokumentasikannya untuk
kepentingan pengelolaan aset bersangkutan.
3. Legal Audit Aset : Kegiatan pengauditan tentang status aset, sistem dan prosedur penguadaan,
sistem dan prosedur pengalihan, pengidentifikasian adanya indikasi permasalahan legalitas, pencarian
solusi untuk memecahkan masalah legalitas yang terjadi atau terkait dengan penguasaan dan pengalihan
aset.
4. Penilaian Aset : Sebuah proses kerja untuk menentukan nilai aset yang dimiliki, sehingga dapat
diketahui secara jelas nilai kekayaan yang dimiliki, atau yang akan dialihkan maupun yang akan
dihapuskan.
5. Operasi dan Pemeliharaan Aset : Kegiatan menggunakan atau memanfaatkan aset dalam
menjalankan tugas dan pekerjaan untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan pemeliharaan aset adalah
kegiatan menjaga dan memperbaiki seluruh bentuk aset agar dapat dioperasikan dan berfungsi sesuai
dengan harapan.
6. Penghapusan Aset: Kegiatan untuk menjual, menghibahkan atau bentuk lain dalam
memindahkan hak kepemilikan atau memusnahkan seluruh/sebuah unit atau unsur terkecil dari aset yang
dimiliki.
7. Rejuvinasi Aset / Review : Upaya peremajaan aset dengan tujuan aset dapat didayagunakan
kembali sebelum umur ekonomisnya habis. Peremajaan ini dapat berupa perbaikan menyeluruh ataupun
penggantian suku cadang dengan tujuan aset dapat beroperasi seperti pada keadaan semula.
8. Pengalihan Aset : Upaya memindahkan hak dan atau tanggung jawab, wewenang, kewajiban
penggunaan, pemanfaatan dari sebuah unit kerja ke unit yang lainnya di lingkungan sendiri.

Sugiama, A. Gima. 2012. Handout Penilaian Aset. Bandung: Polban


Tahapan Kerja Manajemen Aset

Siregar (2004:518) menyebutkan bahwa Tahapan Kerja Manajemen Aset dibagi dalam lima tahap kerja
yang saling berhubungan dan terintegrasi satu dengan yang lainnya, meliputi;

1. Inventarisasi aset meliputi inventarisasi fisik dan yuridis/legal,


2. Legal audit (berupa inventarisasi status penguasaan aset, sistem dan prosedur penguasaan atau
pengalihan aset),
3. Penilaian aset dimana hasil dari penilaian aset dapat dimanfaatkan untuk mengetahui nilai
kekayaan maupun informasi untuk penetapan harga bagi aset yang ingin dijual,
4. Optimasi pemanfaatan yang merupakan merupakan kegiatan untuk mengoptimalkan potensi
fisik, lokasi, nilai, jumlah/volume, legal dan ekonomi yang dimiliki aset tersebut. Aset yang memiliki
potensi dikelompokkan berdasarkan sektor-sektor unggulan yang dapat menjadi tumpuan dalam strategi
pengembangan, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Untuk menentukan hal
tersebut harus terukur dan transparan, sedangkan aset yang tidak dapat dioptimalkan, harus dicari faktor
penyebabnya, apakah faktor permasalahan legal, fisik, nilai ekonomi yang rendah ataupun faktor lainnya,
sehinnga setiap aset nantinya memberikan nilai tersendiri. Hasil akhir dari tahapan ini adalah
rekomendasi yang berupa sasaran, strategi dan program untuk mengoptimalkan asset.
5. Pengembangan SIMA (Sistem Informasi Manajemen Aset),

Prawoto (t.t) menjelaskan bahwa proses manajemen aset dilakukan dengan melakukan
analisis terhadap data-data yang ada, melakukan inspeksi atas penugasan yang telah
diberikan, inspeksi atas sumber daya yang digunakan, biaya, cara kerja dan perubahan
yang terjadi, harus dilakukan akomodasi terhadap perubahan yang ada sehingga
semua permasalahan yang timbul akan dapat dikendalikan. Kegiatan manajemen aset
dimulai dari kegiatan identifikasi aset, menentukan rating dan melakukan investarisasi
aset, penilaian atas kondisi aset serta penilaian atas aset itu sendiri, mencatat sisa
hidup aset, siklus pembiayaannya dan menganalisis kesenjangan yang ada. Disamping
itu juga harus dilakukan monitoring atas kondisi aset dan audit serta persiapan rencana
kerja manajemen aset. Selain itu juga harus dilakukan identifikasi atas kebutuhan atas
aset dengan mempertimbangkan persyaratan yang berlaku di masyarakat, ketentuan
yang berlaku termasuk atas pemeliharaan dan rehabilitasi yang sedang dilakukan, agar
sesuai dengan kebutuhan. Kemudian proses kegiatan manajemen aset juga ditujukan
kepada operasional aset tersebut dan sampai dengan dialihkannya aset tersebut
kepada pihak lain apabila telah tidak dibutuhkan lagi dan tidak layak lagi untuk
dipertahankan keberadaannya (disposal).

Prawoto, Agus. (t.t). "Lifecycle Sustainability Asset Management".


dari http://www.kedaiproperty.com/lifecycle-sustainability-asset-management diunduh
12 November 2011
Siregar, Doli D. 2004. Manajemen Aset. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama