Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MATA KULIAH HUMANIORA

MAKALAH ASPEK SOSIAL BUDAYA YANG MENDUKUNG DAN


TIDAK MENDUKUNG TERHADAP KESEHATAN IBU DAN ANAK

Disusun oleh :

Rizka Lestari

NIM. 1615301290

Dosen Pembimbing :

Rahmi Sari Kasoema, S. Psi

PRODI D IV KEBIDANAN

STIKES FORT DE KOCK BUKITTINGGI

TAHUN 2016/ 2017


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aspek sosial dan budaya sangat mempengaruhi pola kehidupan manusia. Di


era globalisasi sekarang ini dengan berbagai perubahan yang begitu ekstrem
menuntut semua manusia harus memperhatikan aspek sosial budaya. Salah satu
masalah yang kini banyak merebak di kalangan masyarakat adalah kematian ataupun
kesakitan pada ibu dan anak yang sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor
sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka berada.

Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya


seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat
antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali
membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak.

Menjadi seorang bidan bukanlah hal yang mudah. Seorang bidan harus siap
fisik maupun mental, karena tugas seorang bidan sangatlah berat. Bidan yang siap
mengabdi di kawasan pedesaan mempunyai tantangan yang besar dalam mengubah
pola kehidupan masyarakat yang mempunyai dampak negatif tehadap kesehatan
masyarakat. Tidak mudah mengubah pola pikir ataupun sosial budaya masyarakat.
Apa lagi masalah proses persalinan yang umum masih banyak menggunakan dukun
beranak.

Ditambah lagi tantangan konkret yang dihadapi bidan di pedesaan adalah


kemiskinan, pendidikan rendah, dan budaya. Karena itu, kemampuan mengenali
masalah dan mencari solusi bersama masyarakat menjadi kemampuan dasar yang
harus dimiliki bidan.

Untuk itu seorang bidan agar dapat melakukan pendekatan terhadap


masyarakat perlu mempelajari sosial-budaya masyarakat tersebut, yang meliputi
tingkat pengetahuan penduduk, struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan
sehari-hari, pandangan norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal lain
yang berkaitan dengan wilayah tersebut.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana aspek sosial budaya yang mendukung dan tidak mendukung


terhadap kesehatan ibu dan anak?

C. Tujuan

2. Untuk mengetahui aspek sosial budaya yang mendukung dan tidak


mendukung terhadap kesehatan ibu dan anak?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Aspek Sosial Budaya Perkawinan

Perbedaan latar sosial, budaya, ataupun faktor lainnya merupakan penyebab


munculnya hambatan dan konflik dalam proses komunikasi dalam membina
hubungan perkawinan, sebab karakter tiap individu berbeda-beda antara satu dengan
yang lainnya sehingga hal itu dapat berpengaruh pada cara pandangnya.

Aspek social budaya yang mendukung dalam perkawinan, diantaranya :

1. Adanya adat istiadat matriakat, dimana kondisi ini perempuan


mendapatkan tempat khusus dimasyarakat, termasuk tentang
kesejahteraan dan penghargaan.

Aspek social budaya yang tidak mendukung dalam perkawinan, adalah :

1. Adanya adat istiadat patriakat, dimana kondisi ini laki-laki ada tempat
istimewa dimasyarakat, termasuk tentang kesejahteraan dan penghargaan.
2. Pada beberapa tempat peran laki-laki sebagai pencari nafkah malah
digantikan oleh perempuan, disamping perannya sebagai ibu rumah
tangga, kondisi ini normal dan biasa di tempat tertentu
3. Perempuan tidak berhak atas dirinya dalam arti kata, segala keputusan
tentang, alat kontrasepsi, jumlah anak, jarak kehamilan, didominasi oleh
laki-laki.
4. Kuantitas, kualitas, dan jenis-jenis makanan dalam rumah tangga sesuai
dengan kedudukan, usia jenis kelamin, dan situasi-situasi tertentu.
Walaupun pola makan ini sudah menjadi tradisi atau kebiasaan, dan yang
mempunyai peran sebagai gate-keeper keluarga adalah ibu.

B. Aspek Sosial Budaya Kehamilan


Aspek social budaya yang menguntungkan pada masa kehamilan :

1. Masyarakat mengkhawatirkan masa kehamilan dan persalinan karena


menganggap masa tersebut kritis karena dapat membahayakan bagi janin
dan atau ibunya. Tingkat kekritisan ini dapat dipandang berbeda oleh
setiap individu, dan direspon oleh masyarakat dengan berbagai strategi
atau sikap, seperti upacara kehamilan, anjuran dan larangan secara
tradisional. Di samping itu, masyarakat secara umum berperilaku
mementingkan memelihara kesehatan kehamilan, sesuai pengetahuan
kesehatan modern dan tradisional. Strategi-strategi tersebut dilakukan
warga masyarakat agar dapat dicapai kondisi kehamilan dan persalinan
ideal tanpa gangguan (Danandjaja,1980; Swasono, 1998)

Aspek social buadaya yang tidak mendukung pada masa kehamilan :

1. Tidak boleh makan makanan yang berbau amis, dalam hal ini adalah
sumber-sumber protein hewani.
2. Tidak boleh mempersiapkan keperluan untuk bayi sebelum lahir, dalam
hal ini akan sangat merugikan, jika persiapan tidak dilakukan akan
menyulitkan ketika kelahiran dan setelah bayai lahir.
3. Ayah yang bekerja sebagai pencari nafkah berhak mendapat jumlah
makanan yang lebih banyak dan bagian yang lebih baik dari pada anggota
keluarganya yang lain, termasuk ibu yang sedang hamil.

C. Aspek Sosial Budaya Persalinan

Memasuki masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu
hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat
atau dengan kematian.

Aspek social budaya dimasyarakat yang mendukung terhadap persalinan,


diantaranya adalah :
1. Pada tempat tertentu yang dahulunya masih mempercayai dukun beranak
dalam persalinan, belakangan ini, kepercayaan masyarakat kepada petugas
kesehatan dalam persalinan semakin meningkat
2. Pada banyak daerah, budaya-budaya yang lama menganggap ibu bersalin
adalah suatu kondisi yang kotor dan perlu pengasingan, diskriminasi, sudah
tidak ada lagi, seiring dengan berkembangannya teknologi yang menyebarkan
informasi edukasi, dan telah optimalnya, keberadaan nakes terutama bides
ditempat-tempat yang terpencil.
3. Ibu bersalin merupakan kondisi yang kritis, yang berada antara hidup dan
mati, hal ini meningkatkan awareness masyarakat terhadap ibu bersalin.

Aspek social budaya dimasyarakat yang tidak mendukung terhadap


persalinan, diantaranya adalah :

1. Di beberapa daerah , kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun


beranak untuk menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah.
2. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih
terdapat praktek persalinan oleh dukun yang dapat membahayakan ibu
Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya
disebabkan oleh beberapa alasan antara lain:
Dikenal secara dekat.
Biaya murah.
Mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan
dengan kelahiran anak.
Dapat merawat ibu dan bayi sampai 40 hari di samping akibat
keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada.
Proses pengambilan keputusan dalam proses persalinan yang melalui
musyawarah yang cenderung bermusyawarah memakan waktu relative
lama sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam menganbil keputusan
yang akhirnya membahayakan nayawa ibu dan janin.

D. Aspek Sosial Budaya Masa Nifas

Kebiasaan-kebiasaan pasca persalinan yang mendukung bagi ibu dan

bayi diantaranya :
1. Ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak
produksi ASI, seperti sayuran hijau, daun katuk, jantung pisang.
2. Pijat khusus ibu nifas, mampu melemaskan ketegangan otot ketika
Melahirkan dan melancarkan peredaran darah.
3. Mandi ibu nifas, dengan memakai ramuan yang ternyata punya efek
aromaterapi akan memuat ibu nifas lebih rileks.

Aspek social budaya yang tidak mendukung bagi ibu dan bayi pada masa nifas
diantaranya :

1. Mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi


semula.
2. Memasukkan ramuan-ramuan seperti daun-daunan ke dalam vagina dengan
maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses
persalinan, dimana dedaunan tersebut tidak jarang dalam kondisi yang
memperburuk kondisi vagina, karena tidak bersih dan mengiritasi, dll.
3. Memakai stagen/ gurita dengan sangat erat, dengan tujuan agar perut cepat
mengecil, ini akan merugikan bagi kondisi ibu, dimana akan menghambat
aliran darah dan menghambat involusi.
4. Masih ada beberapa daerah yang membuang kolostrum, karena di niai
sebagai ASI basi, padahal kolostrum mengandung zat kekebalan yang luar
basa untuk bayi.

E. Aspek Sosial Budaya Terkait Bayi Baru Lahir

Beberapa aspek sosial budaya yang dilakukan dikalangan masyarakat


Indonesia terkait dengan bayi baru lahir, antara lain:

Aspek sosial budaya yang mendukung terhadap kesehatan bayi :

1. Bayi harus memakai gurita supaya perutnya tidak membuncit, jika gurita
digunakan bersih dan untuk menghangatkan dan melindungi tali pusat
sebelum lepas, tidak ada masalah, asalkan tidak diikat terlalu kuat.
2. Bayi dibedong supaya tidak mudah terkejut, bayi terkejut merupakan reflek
alamiah ketika mendapat rangsangan suara dari lingkungan, namun
membedung dapat menghangatkan badan bayi asalkan tidak dibedung terlalu
kuat, sebab bayi juga membutuhkan gerakn yang leluasa..
3. Bayi saat dimandikan ditarik-tarik hidungnya agar menjadi lebih mancung,
cara ini tidsak masuk akal dan pada kondisi tertentuakan membahayakan,
danmenyebabkan iritasi kemerahan pada hidung bayi.
4. Ibu tidak boleh membiasakan duduk dalam posisi tidur waktu menggendong
bayi agar dahi bayi tidak maju (jenong atau nonong), posiis tertentu untuk
bayi usia tertentu adalah merupakan rangsangan untuk pertumbuhan dan
perkembangannya, dan kondisi jenong adalah kondisi yang sudah terbentuk
sejak dalam kandungan dan genetik.
5. Bayi baru lahir diberi minum grape water agar perutnya tidak kembung,
grape water atau air anggur adalah minuman yang didak dianjurkan untuk
orang dewasa apalagi abayi, justru hanya akan menyebabkan pencernaannya
bermasalah.
6. Bayi baru lahir diberikan minum kopi setetes agar tidak terkena penyakit
stroke, pada kenyataannya kafein pada bayi akan merangsang metabolism
termasuk jantung, dakam jumlah tetrtentu akan membuat jantung berdebar-
debar..
7. Bayi baru lahir rambutnya dipotong atau di botakin dan diberi minyak kemiri
atau lidah buaya agar rambutnya tumbuh cepat dan hitam. , dalam kondisi
tertentu justru pemberian sesuatu kepada rambut bayi kalau tidak dalam
kondisi bersih dapat memicu infeksi dan iritasi.
8. Bayi tidak boleh keluar sebelum 40 hari, sebab fisik bayi belum sekuat fisik
orang dewasa jika kontak dengan udara luar akan menyebabkan sakit, dan
supaya bayi tidak tertular virus dari orang sakit yang kadang kita tidak sadari
pada tempat yang ramai.
9. Bayi memakai gurita agar perutnya tidak buncit, padahal jika dikaitkan
dengan kesehatan, bayi memakai gurita terlalu kencang dapat mengurangi
daya pernafasan pada bayi yang pada akhirnya bayi tersebut sesak nafas,
karena bayi lebih banyak menggunakan pola pernafasan perut, berbeda
dengan orang dewasa yang menggunakan dada.
10. Terkait makanan pada bayi baru lahir, ibu dilarang makan pedas, nanti feses
bayi ada cabe rawit utuh, jika larangan ini supaya pencernaan ibu tidak
bermasalah, tidak apa-apa,,namun cabe rawit juga sumber vitamin c dan anti
oksidan yang cukup tinggi yang berguna untuk kesehata ibu, namun jangan
dimakan berlebihan.
11. Dagu lancip akibat sering ditarik, belum ada bukti ilmiahnya,,malah akan
membuat dagu kemerahan dan iritasi.
12. Bulu mata di gunting agar lentik, jika menggunting bulu mata dengan alat
yang bersih dan bulu mata yang digunting tidak masuk kedalam bulu mata
tidak masalah, namun ketebalan bulu mata adalah factor genetic.
13. Bayi cegukan diberi tisu basah atau kertas dibasahi di kening agar
cegukannya hilang, hal ini dalam kondisi tertentu akan menimbulkan
ketidaknyamanan pada bayi, terutam jika air yang digunakan sangat dingin,
cegukan terjadi malah ketika bayi kedinginan.
14. Sapu lidi atau bangle bumbu dapur ditaruh di sebelah bantal untuk mengusir
hantu jahat., dalam posisi dan kondisi tertentu sapu lidi yang runcing dan
keras, malah dapat membayakan bagi bayi.

Aspek sosial budaya yang tidak mendukung terhadap kesehatan bayi :

1. Bayi pada usia sebelum 40 hari tidak boleh keluar rumah : bayi mempunyai
beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi dan harus keluar rumah. Misalnya
untuk imunisasi, berubat ke pelayanan kesehatan ketika bayi mengalami
demam atau pilek,
2. Bayi dibedong supaya tidak mudah terkejut, juga dapat menghangatkan
badannya

F. Aspek social budaya bagi wanita menopause

Masa menopause bagi masing-masing wanita berbeda, biasanya dimulai


pada usia 48-55 tahun. Perubahan fisik dan non fisik yang terjadi pada wanita
menopause tentu akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari termasuk peran dan
pungsinya di tengah masyarakat.
Aspek social budaya yang mendukung bagi wanita menopause diantaranya
adalah :
1. Wanita menopause, dalam kehidupan sehari-hari dianggap sosok yang
harus didahulukan, hal ini terkait fisik perempuan menopause yang
cenderung tidak muda lagi dan memang cenderung punya keterbatasan,
ini tentu disatu sisi akan membuat wanita menopause merasa dihargai
walaupun disisi lain akan ada juga perasaan tidak mampu.
2. Wanita usia menopause ditengah masyarakat, berdasarkan kematangan
emosionalnya, dipandang sebagai sosok dewasa matang yang dapat
berperan sebagai penggerak serta suri tauladan, seperti menjadi bundo
kanduang.
Aspek social budaya yang tidak mendukung mendukung bagi wanita
menopause diantaranya adalah :
1. Wanita menopause, dipandang sebagai sosok yang low energy sehingga
bebepapa peran dimasyarakat sudah dialihkan kepada yang high
energy, wanita menopause yang cenderung sensitif akan merasa tidak
lagi diakui, tidak dihargai.
2. Ditengah masyarakat wanita menopause identik dengan ketidak mampuan
seksual, seiring dengan berkurangnya kecantikan fisik ber erat
hubungannya dengan faktor hormonal yang juga turut mempengaruhi
kondisi reproduksinya, ini tentunya pada beberapa wanita akan berakibat
menurunnya kepercayaan diri, kehidupan seksual yang harmonis akan
tetap terjaga dengan adanya komunikasi dengan pasangan dan dukungan
psikologis dapat mengurangi strees pada wanita menopause.masyarakat
yang ada dilingkungan wanita tersebut tinggal.
3. Wanita menopause dibeberapa tempat dianggap tidak lagi produktif, hal
ini tentu berkaitan dengan fungsi beberapa organ sudah mulai menurun,
dengan keluhan mudah lelah, cepat stress. Walaupun hal ini tidak berlaku
bagi sebagian wanita, bahkan diusia ini wanita menopause adalah dalam
kondisi mapan, tergantung dari jenis pekerjaannya.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Bidan sebagai salah seorang anggota tim kesehatan yang terdekat dengan
masyarakat, mempunyai peran yang sangat menentukan dalam meningkatkan status
kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak di wilayah kerjanya.

Seorang bidan harus mampu menggerakkan peran serta masyarakat


khususnya, berkaitan dengan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, bufas, bayi baru
lahir, anak remaja dan usia lanjut. Seorang bidan juga harus memiliki kompetensi
yang cukup berkaitan dengan tugas, peran serta tanggung jawabnya.

Seorang bidan perlu mempelajari sosial-budaya masyarakat tersebut, yang


meliputi tingkat pengetahuan penduduk, struktur pemerintahan, adat istiadat dan
kebiasaan sehari-hari, pandangan norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-
hal lain yang berkaitan dengan wilayah tersebut.
Melalui kegiatan-kegiatan kebudayaan tradisional setempat bidan dapat
berperan aktif untuk melakukan promosi kesehatan kepada masyaratkat dengan
melakukan penyuluhan kesehatan di sela-sela acara kesenian atau kebudayaan
tradisional tersebut.

B. Saran

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan yang
diharapkan, karena masih terbatasnya pengetahuan penulis. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Makalah ini perlu dikaji
ulang agar dapat sempurna dan makalah ini harus digunakan sebagaimana mestinya.