Anda di halaman 1dari 5

Klarifikasi istilah:

1. Jamkesda upaya pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat


akan jaminan kesehatan terutama masyarakat miskin.
(IBP Indonesia Core Team. 2012. Jamkesmas Dan Program Jaminan Kesehatan Daerah.
Perkumpulan INISIATIF (Institut untuk Inovasi Kebijakan, Pembangunan Partisipatif,
dan Tata Kepemerintahan))

Analisis masalah:
1. Jamkesda:
Terdapat dua alasan yang memotivasi pemerintah daerah untuk
memperkenalkan kebijakan jaminan kesehatan lokal. Alasan pertama adalah
faktor regulasi. UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah memberikan
kesempatan bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan program jaminan
sosial termasuk jaminan kesehatan. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
007/PUU-III/2005 yang mengijinkan pemerintah daerah membentuk lembaga
yang mengkhususkan diri dalam mengelola program jaminan kesehatan di
wilayah masing-masing juga menjadi salah satu pendorong. Selain itu, pedoman
Pelaksanaan Program Jamkesmas yang diterbitkan setiap tahun menyarankan
bahwa orang miskin yang tidak termasuk dalam daftar keanggotaan Jamkesmas
yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota menjadi tanggung jawab pemerintah
daerah.
Alasan kedua adalah kepentingan politik kepala daerah. Sistem pemilihan
langsung kepala daerah memiliki implikasi terhadap bagaimana pemerintah
daerah merumuskan kebijakan pembangunannya. Sistem pemilihan langsung
telah mengalihkan fokus akuntabilitas pemimpin yang terpilih. Kepala daerah
telah menjadi subjek penilaian para konstituen yang berbeda dibandingkan sistem
perwakilan pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, pemimpin yang baru tersebut
akan mencari kebijakan populer yang dapat mempertahankan dukungan
rakyatnya, termasuk menjanjikan adanya jaminan kesehatan untuk masyarakat.
(IBP Indonesia Core Team. 2012. Jamkesmas Dan Program Jaminan Kesehatan Daerah.
Perkumpulan INISIATIF (Institut untuk Inovasi Kebijakan, Pembangunan Partisipatif,
dan Tata Kepemerintahan))
2. BPJS:
BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial. BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS
Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan mulai beroperasi pada tanggal 01 Januari 2014.
Peserta BPJS adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling
singkat enam bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran.
Peserta BPJS Kesehatan ada dua kelompok, yaitu:
a. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan
b. Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan
Anggota keluarga yang dimaksud meliputi:
a. Satu orang istri atau suami yang sah dari peserta
b. Anak kandung, anak tiri dan/atau anak angkat yang sah dari
peserta, dengan kriteria: - Tidak atau belum pernah menikah atau
tidak mempunyai penghasilan sendiri dan - Belum berusia 21 (dua
puluh satu) tahun atau belum berusia 25 (dua puluh lima) tahun
yang masih melanjutkan pendidikan formal.
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Buku Saku Faq (Frequently Asked
Questions) BPJS Kesehatan.

3. Prolanis:
PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan
proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan Peserta, Fasilitas
Kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi
peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk mencapai kualitas
hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien.
Tujuan:
Mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup
optimal dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke Faskes
Tingkat Pertama memiliki hasil baik pada pemeriksaan spesifik terhadap
penyakit DM Tipe 2 dan Hipertensi sesuai Panduan Klinis terkait sehingga dapat
mencegah timbulnya komplikasi penyakit
Bentuk pelaksanaan:
a. Aktifitas konsultasi medis/edukasi
b. Home Visit
c. Reminder
d. Aktifitas klub
e. Pemantauan status kesehatan
(BPJS Kesehatan. 2014. Panduan Praktis PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit
Kronis)

LO:
Perbedaan asuransi sosial dan komersial:
Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih yang pihak penanggung
mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi untuk
memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak
ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul akibat suatu peristiwa yang
tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal
atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan (UU RI No. 2 Tahun 1992).
Asuransi sosial adalah asuransi yang dikelola oleh pemerintah atau instansi atau
badan yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai pengelola asuransi (Kemenkes, 2014).
Asuransi sosial merupakan mekanisme pengumpulan iuran yang bersifat wajib dari
peserta, guna memberikan perlindungan kepada peserta atas risiko sosial ekonomi yang
menimpa mereka dan atau anggota keluarganya (UU SJSN No. 40 Tahun 2004).
Asuransi komersial adalah asuransi yang dikelola oleh perusahaan swasta atas
keikutsertaan masyarakat secara sukarela. Bentuk program yang dilayani tergantung
kepada kebutuhan dan kemampuan tertanggung yang ditentukan dalam perjanjian. Dalam
bidang asuransi kesehatan, seseorang dapat mengikuti suatu program yang biayanya akan
dibebankan atau dibayar kembali oleh perusahaan. Besarnya pertanggungan sesuai
dengan pilihan tertanggung dan premi yang dibayar tertanggung setiap bulan atau setiap
tahunnya.
Perbedaan asuransi sosial dan asuransi komersial:
Keunggulan asuransi sosial:
Redistribusi/subsidi silang luas (equity egaliter).
Semua orang dalam suatu kelompok wajib ikut, baik yang kaya maupun
yang miskin, yang sehat maupun yang sakit, dan yang muda maupun yang tua.
Yang kaya memberi subsidi kepada yang miskin, yang sehat memberi subsidi
kepada yang sakit, dan yang muda memberi subsidi kepada yang tua.
Administrasi sederhana.
Asuransi sosial biasanya mempunyai produk tunggal yaitu sama untuk
semua peserta, Oleh karenanya pada umumnya negara yang kurang memiliki
sumber daya manusia yang faham berbagai seluk-beluk asurnasi sekalipun mudah
menerapkan asuransi sosial.
Kelemahan asuransi sosial:
Pilihan terbatas
Asuransi sosial mewajibkan penduduk dan pengelolanya yang merupakan
suatu badan pemerintah atau kuasi pemerintah, maka masyarakat tidak memiliki
pilihan asuradur.
Pelayanan seragam.
Pelayanan yang seragam bagi semua peserta menyebabkan penduduk
kelas menengah atas kurang memiliki kebanggaan khusus. Pelayanan yang
seragam juga sering menyebabkan waktu tunggu yang lama sehingga kurang
menarik bagi penduduk kelas atas.
Keunggulan asuransi komersial:
Produk akan sangat beragam sehingga memberikan pilihan bagi konsumen.
Dalam asuransi kesehatan komersial, setiap perusahaan atau bapel akan
merancang produk yang diharapkan dapat memenuhi permintaan calon
konsumennya (prospeknya). Akibatnya akan banyak sekali tersedia produk yang
dapat dipilih oleh prospek sesuai persepsi kebutuhannya dan sesuai juga dengan
kemampuan Keuangannya.
Kepuasan peserta relatif lebih tinggi.
Karena asuransi komersial sangat fleksibel dalam menyusun paket
jaminan dan banyaknya pelaku menimbulkan persaingan, maka asuransi
komersial dapat meenuhi selera pesertanya dengan cepat.
Kelemahan asuransi komersial:
Biaya administrasi tinggi.
Karena kompleksnya produk asuransi komersial, maka biaya administrasi
(loading) menjadi relatif jauh lebih besar dibandingkan dengan sistem asuransi
sosial. Perusahaan asuransi komersial harus menyewa aktuaris, melakukan riset
pasar, melakukan perbagai upaya pemasaran dan penjualan, dan harus membayar
dividen atas laba yang ditargetkan pemegang saham. Seluruh biaya-biaya tersebut
pada akhirnya harus dibayar oleh pemegang polis/peserta.
Pool relatif kecil.
Bagaimanapun hebatnya perusahan asurnasi komersial, pool jumlah
peserta tidak akan mampu menyamai pool asuransi sosial.
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Jaminan Kesehatan Nasional Dalam
Sistem Jaminan Sosial Nasional)