Anda di halaman 1dari 36

M.K.

Sains Bangunan dan Utilitas 1

TUGAS OBSERVASI BANGUNAN RUMAH HUNIAN LANTAI II

SISTEM TRANSPORTASI BANGUNAN (NON MEKANIS)

Oleh

Kelompok 3AB

Ni Putu Sri Ulandari 1504205024

Ajiva Edwina Wangsa 1504205026

Cok Mitalia Adnyani 1504205028

Gusti Ayu Putu Niriana 1504205050

Huriyah Nur Hasanah 1504205051

Komang Ayu Krisna Widyastuti 1504205052

Idelfonsa Serinarti 1504205053

Ni Putu Deby Krisnandi 1504205054

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS UDAYANA

2016
YANG BELUM

DAFTAR ISI
NGASI HALAM
DAFTAR GAMBAR
Kata Pengantar

Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan yang berjudul
SISTEM TRANSPORTASI NON MEKANIS. Transportasi bangunan merupakan
alat yang menunjang dan memfasilitasi sirkulasi didalam suatu bangunan gedung,
terutama gedung yang berlantai banyak. Transportasi pada bangunan dibagi secara
vertical dan horizontal serta non mekanis dan mekanis. Namun, jenis transportasi
yang lebih ditekankan pada makalah ini merupakan jenis transportasi non
mekanis.

Makalah ini disusun dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi


mahasiswa Teknik Arsitektur pada khususnya dan masyarakat luas pada
umumnya. Kami menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak
kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu penulis sangat
mengharapakan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan
selesainya laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman sebagai
referensi. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.

Denpasar, November 2016

Penulis
Kelompok 3 AB

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam bidang arsitektur, utilitas adalah hal-hal yang menyebabkan
bangunan dapat difungsikan dengan baik. Utilitas merupakan hal yang
sangat vital pada suatu bangunan. Dengan adanya penerapan system
utilitas yang benar dan tepat maka bangunan tersebut dapat berfungsi
sebagai mana mestinya. Sebaliknya, apabila penerapan system utilitas
kurang baik, naka fungsi bangunan akan terhambat.
Dalam system utilitas terdapat system transportasi bangunan.
System transportasi yang dimaksudkan merupakan alat yang
menunjang atau memeberi fasilitas sirkulasi dalam bangunan gedung
bertingkat, serta merupakan sarana prasarana yang memperlancar
pergerakan manusia menuju satu tempat ketempat lainnya yang ada
didalam. Transportasi pada bangunan dapat dibagi secara vertical dan
horizontal serta non mekanis dan mekanis. Salah satu masalah yang
menjadi pemikiran pada perencanaan bangunan bertingkat banyak
adalah masalah pada transportasi, baik yang bersifat non mekanis
( tangga, ramp) maupun yang bersifat mekanis (elevator, escalator,
conveyor dan lain-lain).
Dalam pembangunan gedung tinggi tentunya dibutuhkan teknologi
yang canggih untuk mendukung transportasi bangunan. Transportasi
bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas yang digunakan untuk
menunjang tercapainya unsure-unsur kenyamanan, keselamatan,
kesehatan, kemudahan komunikasi, dan mobilitas dalam
pembangunan.

1.2. Rumusan masalah

1. Apa saja sistem transportasi non mekanis yang terdapat pada objek ( rumah
tinggal) ?
2. Bagaimana sistem transportasi non mekanis yang terdapat pada objek ( rumah
tinggal) ?
3. Apa saja bagian-bagian struktur dari tangga yang terdapat pada objek ( rumah
tinggal) ?
4. Apa bahan konstruksi tangga pada objek ( rumah tinggal) ?
5. Apa saja kelebihan dan kekurangan tangga pada objek ( rumah tinggal) ?
6. Bagaimana perhitungan tangga pada objek ( rumah tinggal) ?
6.1. Tujuan
1. Untuk mengetahui system transportasi non mekanis yang terdapat
pada objek ( rumah tinggal)
2. Untuk mengetahui keadaan sistem transportasi non mekanis yang
terdapat pada objek ( rumah tinggal)
3. Untuk mengetahui bagian-bagian struktur dari tangga yang
terdapat pada objek ( rumah tinggal) ?
4. Untuk mengetahui bahan konstruksi tangga pada objek ( rumah
tinggal)
5. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan tangga pada objek
( rumah tinggal)
6. Untuk mengetahui perhitungan tangga pada objek ( rumah tinggal)
6.2. Manfaat
1. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai komponen, jenis,
serta standar ukuran yang ada pada system transportasi non
mekanis bangunan rumah hunian bertingkat.
2. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam pembuatan makalah
dan presentasi.
3. Untuk meningkatkan wawasan pengetahuan mahasiswa tentang
utilitas bangunan khususnya pada system tangga dengan metode
observasi.
BAB II

METODE DAN OBJEK

2.1. METODE

2.1.1. Rancangan

Hasil laporan ini merupakan hasil observasi tentang system


transportasi non mekanis pada rumah tinggal atau hunian lantai II
yang disusun dengan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan
penjelasan secara deskriptif, dengan teknik pengumpulan data yang
berupa observasi (pengamatan secara langsung). Dan studi
dokumentasi.

Dalam observasi ini diambil Rumah Tinggal atau Hunian sebagai


objek penelitian yang berlokasi di jalan Mandalasari V/4 Denpasar
sebagai studi kasus untuk materi kuliah sains dan utilitas 1 pada
system transportasi non mekanis.

2.1.2. Jenis dan Sumber data

Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini sebagaian besar


terdiri dari data kuantitatif yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk
angka. Dan sebagiannya lagi berupa data kualitatif yaitu data yang
berbentuk kalimat atau uraian dan data dokumentasi berupa foto-foto
letak system transportasi non mekanik (tangga) yang ada pada bagian
bangunan rumah tinggal.

2.1.3. Alat Pegumpulan Data

Dalam pengumpulan data observasi, kami menggunakan alat bantu


berupa pedoman hasil wawancara terhadap pemilik rumah, ditunjang
juga dengan beberapa alat bantu lain seperti alat tulis untuk mencatat
informasi baik secara manual maupun elektronik, meteran untuk
mengukur tinggi lebar dan panjang tangga. Selain itu kami
mempergunakan kamera untuk mengambil data berupa foto-foto
tangga pada objek rumah tinggal.

2.1.4. Teknik/Metode Pengumpulan Data

Metode yang kami pergunakan dalam pengumpulan data adalah


berupa observasi langsung dan dokumentasi sebagai bukti fisik.

2.1.5. Teknik Analisis Data

Hasil laporan ini merupakan hasil olahan data secara kualitatif,


kuantitatif dan deskriftif. Seluruh data diperoleh dari berbagai sumber
baik hasil dari observasi, ataupun studi dokumentasi, dibandingkan
dengan literature dan referensi internet, ditranskripsikan dalam bentuk
tulisan dan pendeskripsian.

2.2. OBJEK OBSERVASI

Nama Pemilik : Ir. I Made Sukarma

Di bangun : Tahun 1998

Alamat : Jalan Mandalasari V/4 Denpasar

Luas lahan : 2500 m2 (2,5 are)

Luas bangunan :- Lantai I : 131.25 m2

- Lantai II : 131,25 m2

Jumlah lantai : 2 Lantai

Fungsi : Bangunan ini difungsikan sebagai rumah tinggal,


yang dimana dalam bangunan ini dihuni oleh 4
orang civitas yang terdiri dari seorang ayah
sebagai kepala keluarga, seorang ibu, dan dua
orang anak-anaknya.

Peta lokasi : Gambar 2.2.1 Rumah tinggal


Sumber : www.google.co.id

2.3. Foto-foto Hasil Observasi


Gambar 2.3.1 tampak luar bangunan
sumber : dokumentasi pribadi

Gambar 2.3.2 tampak depan lantai II


sumber : dokumentasi pribadi
Gambar 2.3.3 tampak depan menuju objek bangunan
sumber : dokumentasi pribadi

Gambar 2.3.4 jalur transportasi non mekanis pada rumah (tangga)


sumber : dokumentasi pribadi
Gambar 2.3.5 jalur transportasi non mekanis pada rumah (tangga)
sumber : dokumentasi pribadi

Gambar 2.3.6 jalur tangga menuju lantai 1


sumber : dokumentasi pribadi
BAB III

PEMBAHASAN

Sistem transportasi ini disebut juga dengan system transportasi tanpa mesin atau
manual. Sehingga system transportasi yang dipakai berupa tangga dan ramps.
System ini pun tidak perlu mengeluarkan banyak biaya seperti pada system
mekanis. Tetapi kekurangan transportasi non mekanis ini yaitu civita yang
menggunakan akan lebih cepat merasakan kelelahan karena harus berjalan sendiri
menuju ruangan yang diinginkan tanpa bantuan alat-alat transportasi mesin,
seperti eskalator, lift dan lainnya.

SISTEM TRANSPORTASI NON MEKANIS PADA OBJEK OBSERVASI

3.1. Data Observasi

Gambar 3.1.1 lantai I


sumber : hasil observasi
Gambar 3.1.2 lantai II
sumber : hasil observasi

Pada data observasi berupa gambar bestek denah lantai I dan Lantai II
menunjukkan letak tangga yang dipasang pada bagian bangunan.
Gambar 3.1.5 potongan A
sumber : hasil observasi
Gambar 3.1.5 potongan C

Pada gambar potongan A dan C menunjukkan jalur pencapaian melalui tangga


untuk menuju lantai II, serta bentuk tangga dan cara aksesnya.

3.2. TANGGA

Tangga merupakan jalur yang mempunyai undak - undak (trap)


yang menghubungakan satu lantai dengan lantai diatasnya dan
mempunyai fungsi sebagai jalan untuk naik dan turun antara lantai
tingkat. Penempatan atau letak ruang tangga tersendiri mudah
dilihat dan dicari orang, tidak berdekatan dengan ruang lain agar
tidak menggangu aktifitas penghuni lain.

Syarat syarat peletakan tangga :


Letak tangga harus dibuat mudah dilihat dan dicari oleh
orang yang akan menggunakannya.
Ruang tangga sebaiknya terpisah dengan ruang lain, agar
orang yang naik turun tangga tidak mengganggu aktifitas
penghuni yang lain.
Apabila tangga ditujukan sebagai jalan darurat, pada
perencanaannya harus diletakan dekat pintu keluar, agar
bila terjadi bencana, penghuni lantai atas dapat turun
langsung menuju halaman luar.

Syarat tangga pada umumnya:


Kemiringan sudutnya tidak lebih dari 38 derajat.

Jika jumlah anak tangga lebih dari dua betas anak tangga,
maka harus memakai bordes.

Lebar anak tangga untuk satu orang cukup 90 cm,


sedangkan untuk dua orang 110-120cm.

Tinggi balustrade sekitar 80-90 cm.

Jarak maksimal antar kisi 15 cm

Gambar 3.2.1. syarat pada tangga


sumber: internet
Perhitungan Tinggi optrede maupun antrede mempengaruhi
kenyamanan, sehingga orang yang naik tidak cepat lelah dan yang
turun tidak mudah tergelincir. Hal ini juga berkiatan dengan
estetika dari bangunan itu sendiri.

Gambar 3.2.2. optrede dan antrede pada tangga


sumber : alat bantu komputer

Gambar 3.2.3. tangga hasil observasi menurun menuju lantai 1


sumber : Dokumentasi pribadi
Gambar 3.2.4. tangga hasil observasi menuju lantai 2
sumber :Dokumentasi pribadi

Pada objek bangunan yang kami observasi memiliki transportasi non


mekanis berupa Tangga yang memiliki ukuran per anak tangganya yaitu
memiliki :

Tinggi anak tangga (optrede) : 20cm

Lebar anak tangga (antrede) : 30 cm

Panjang anak tangga : 100 cm

Anak tangga berfungsi sebagai pijakan untuk civitas. Oleh sebab


itu bahan anak tangga tidak boleh licin. Pada anak anak tangga
yang kami observasi menggunakan bahan keramik asensia dengan
warna cream berpadu coklat, serta keramik tersebut memiliki
tekstur yang agak kasar, agar antara permukaan anak tangga dan
telapak kaki civitas memiliki gaya gesek yang kuat sehingga tidak
menyebabkan tergelincirnya civitas atau penghuni rumah saat
mempergunakan tangga sebagai system transportasi non mekanis
untuk menghubungkan ruang yang satu dengan ruang yang lainnya
yang berada dilantai dua.

3.3. BENTUK TANGGA


Gambar 3.3.1 bestek potongan tangga
Sumber : hasol observasi
Gambar 3.3.2. bentuk tangga L
sumber : CAD

Bentuk tangga pada objek observasi yaitu tangga berbentuk L


(tangga seperempat putaran), yang dimaksudkan tangga bentuk ini
adalah tangga yang mempunyai 1 bordes berukuran 120cm *
100cm dan memiliki belokan kearah kiri pada jalur perjalanannya,
serta mempunyai 1 tanjakan pada arah yang searah. Karena tangga
bentuk ini lebih ekonomis selain itu proses pembuatannya juga
lebih mudah dari pada bentuk tangga yang lainnya. Keuntungan
tangga dengan bentuk L ini adalah walaupun tangga ini mudah
dalam proses pemasangannya atau pengerjaannya tetapi tangga
dengan bentuk L memiliki nilai estetika yang tinggi dengan
pemilihan bahan pembuatan yang tepat., keuntungan yang lain
yaitu pada bagian bawah tangga dapat dimanfaatkan sebagai
gudang atau tempat penyimpanan.

Kedua jalur tangga yang dihubungkan dengan sebuah landasan


dapat sama panjang atau tidak sama, tergantung dari proporsi
tangga yang diinginkan.
Landasan dibawah memberikan kesan tempat istirahat.

3.4. BAGIAN-BAGIAN DARI STRUKTUR TANGGA

3.4.1. BORDES
Gambar 3.4.1.1. Bordes pada tangga observasi
sumber : Dokumentasi Pribadi
Pada tangga observasi ini memiliki bordes pada system
transportasi non mekanisnya. Bordes biasanya terletak pada
belokan tangga. Bordes berfungsi sebagai tempat
beristirahat menuju arah tangga berikutnya, dimana bordes
juga berfungsi sebagai pengubah arah tangga. Umumnya,
keberadaan bordes setelah anak tangga ke 15. bordes di
pasang pada bagian sudut tempat peralihan arah tangga
yang berbelok. Tapi pada objek observasi keberadaan
bordes diletakkan setelah pijakan anak tangga ke 11( atau
setiap tinggi 1,5-2m). Lebar bordes harus cukup 3-4
langkah mendatar sebelum mendekati tangga (standar lebar
bordes pada tempat tinggal 80-100cm). Tangga pada
bangunan yang kami observasi memiliki 17 anak tangga
oleh sebab itu memiliki bordes yang terletak pada anak
tangga setelah pijakan anak tangga ke 11. Bordes tersebut
memiliki ukuran lebar : 120 cm dan panjang 100 cm.
dengan ukuran tersebut membuat civitas yang memakai
bordes sebagai tempat untuk beristirahat merasa nyaman
karena memiliki luasan bordes yang sesuai dengan ukuran
standar sehingga pengguna merasa nyaman saat
menggunakan.

3.4.2. RAILING

Gambar 3.4.2.1. Railing pada tangga observasi


sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 3.4.2.2. Railing pada tangga menuju laantai 1


sumber : Dokumentasi pribadi
Railing/pegangan merupakan pagar yang terletak di tepi tangga,
yang berfungsi sebagai pengaman tangga/ pagar tangga. Pegangan
tangga adalah batang yang dipasang sepanjang anak tangga yang
berfungsi sebagai tempat bertumpunya tangan bagi openghuni
yang akan naik turun tangga agar merasa aman. Tinggi railing
antara 80 cm 100 cm, diukur dari permukaan anak tangga.
Terbuat dari bahan yang cukup kuat untuk menahan beban berat
tubuh manusia. Pada bagian atas yang menjadi pegangan tangan,
haruslah memenuhi standar ergonomis yang aman dan nyaman
untuk digenggam.
Railing pada objek yang kami jadikan studi observasi memiliki
bentuk balok, disini dengan bentuk balok agar memudahkan
civitas/ penghuni rumah untuk menggenggamnya. Railing ini
terbuat dari bahan kayu, dimana bahan kayu ini tergolong kedalam
bahan yang kuat dengan finishing plitur, sehingga railing tersebut
memiliki umur yang paanjang. Railing pada objek yang kami
observasi memiliki tinggi 93 cm dan jarak antar railing 13 cm
dengan alasan keamana bagi pengguna. Dengan design railing
seperti gambar diatas, membuat tangga terkesan alami, modern dan
mewah.

3.4.3. ANAK TANGGA


Gambar 3.4.3.1. Anak tangga pada tangga
sumber : Dokumentasi probadi

Gambar 3.4.3.2. Anak tangga akan naik menuju lantai 2


sumber : Dokumentasi pribadi
Anak tangga merupakan elemen dari tangga yang perlu perhatian
cukup penting. Karena sering dilalui untuk naik turun pengguna,
bahan permukaan anak tangga harus benar-benar aman, nyaman
agar terhindar dari kemungkinan kecelakaan seperti terpeleset
karna licin atau terlalu sempit. Anak tangga terdiri dari 2 bagian,
yaitu bagian horizontal (pijakan datar) dan vertical (pijakan untuk
langkah naik). Ukuran lebar anak tangga untuk hunian berkisar
antara 20-33 cm. dan untuk bagian vertical langkah atasnya
berkisar antara 15-18 cm. Ukuran lebar tangga juga penting
diperhatikan, untuk panjang atau lebar tangga pada hunian tempat
tinggal adalah minimal 90 cm.

Pada anak tangga yang kami observasi memiliki lebar ( antrede)


30cm sebagai tempat pijakan datar, dilihat dari ukuran lebar anak
tangga pada objek observasi kami sudah memenuhi standar yang
telah ditentukan untuk memberikan keselamatan bagi civitas yang
menggunakannya. Untuk tinggi anak tangga (optrede) 20 cm
sebagai pijakan untuk langkah naik, melebihi dari standar yang
ada, sehingga pengguna/civitas yang menggunakan akan mudah
merasa lelah karena dimensi tinggi anak tangga yang terlalu tinggi.
Sedangkan untuk panjang anak tangga pada hunian yang kami
observasi memiliki panjang 100 cm, sudah memenuhi standar yang
ada.

3.4.4.IBU TANGGA
Gambar 3.4.4.1. Ibu tangga pada tangga observasi
sumber : Dokumentasi pribadi

Ibu tangga merupakan bagian tangga yang berfungsi mengikat


anak tangga. Pada objek observasi yang kami lakukan, pada ibu
tangga menggunakan bahan material beton bertulang. Kombinasi
antara ibu tangga dan anak tangga keduanya menggunakan bahan
material beton bertulang.

3.4.5. BALUSTRADE DAN KISI

Gambar 3.4.5.1. Balustrade dan kisi pada pencapaian akhir dan


belokan pada bordes
sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 3.4.5.2. baluster pada awal pencapaian dan


baluster dekat bordes
sumber : Dokumentasi Pribadi

Baluster merupakan penyangga pegangan tangga, Bila pada


balustrade terdiri dari kisi-kisi, maka jarak maksimal antar kisi
adalah 15 cm, merupakan standar dari persyaratan penggunaan
tangga.

Baluster pada tangga objek observasi menggunakan bahan


material dari kayu, dalam penggunaannya bertujuan untuk
memberikan keamanan dan kenyamanan pengguna tangga. Jarak
antar antar kisi 15 cm, sesuai dengan standar maksimal jarak antar
kisi pada balustrade, dan untuk tinggi balusternya yaitu 93 cm.
dimana untuk tinggi standar dari baluster itu kurang lebih antara
90-100 cm. Sehingga pada tangga yang kami observasi untuk tingi
balusternya sudah mencapai standar yang ditentukan untuk
keselamatan.

3.5. KONTRUKSI TANGGA DAN BAHAN MATERIAL


Gambar 3.5.1. kontruksi tangga dan bahan material
sumber : buku ilustrasi kontruksi bangunan
Gambar 3.5.2. Kontruksi tangga pada observasi
sumber : hasil observasi

Tangga yang kami observasi memiliki bahan kontruksi dari beton, beton
adalah bahan kontruksi tangga yang paling sering dipakai pada
bangunan bertingkat 2 (dua) atau lebih dan bersifat permanent
seperti peruntukan kantor, rumah tinggal, pertokoan. Tangga
dengan konstruksi cor beton mengekspose papan anak tangga
hanya dari satu sisi saja. Fungsinya hanya membungkus beton
supaya secara estetika lebih indah, baik dibungkus semua atau
hanya bagian atas (bagian pijakan / steps) saja. Adapun ukuran
tebal papan kayu adalah dari 1.5 - 2.5 cm, ukuran lebar dari 26 - 30
cm, sedangkan ukuran panjang menyesuaikan ukuran lebar tangga
Anda. Tangga dengan konstruksi cor beton ini dapat memakai
papan kayu baik dari papan kayu utuh maupun papan kayu
sambungan.

Kelebihan tangga beton adalah kuat dan mudah dibentuk


apa saja dan juga pembuatan tangga beton lebih mudah di buat
oleh tukang.

Kelemahan tangga beton adalah kerepotan ketika masih


dalam proses perakitan bekisting dan pengecoran, serta waktu
pengerjaan yang cukup lama, karena harus menunggu beton kering
betul. Untuk kontruksi tangga yang dibuat bersamaan dengan
kontruksi bangunan, material beton lebih disarankan. Pemilihan
semen yang baik sebagai bahan utama penyusun beton sangat
penting untuk memperoleh tanga beton yang memiliki hasil yang
baik dan kuat.

3.6. PERHITUNGAN TANGGA

Pada bangauanan hunian yang kami jadikan sebagai studi


observasi memiliki luasan pada lantai I dan II sama yaitu 131,25
m2. Untuk Optredenya standar hunian 15-18 cm pada objek yang
kami amati, memiliki optrede sebesar 20 cm dan antrede sebesar
30 cm, dimana untuk antrede standar huniannya 20-33. Panjang
anak tangga minimal 90 cm untuk tangga pada objek yang ada
panjang anak tangga 100 cm sudah sesuai dengan standar yang
ada.
3.6.1. Perhitungan pada ukuran, lebar serta jumlah anak tangga

Ukuran dan Lebar Anak Tangga

Ket :

T : tinggi anak tangga (optrede)

L : lebar anak tangga (antrede)

Rumus :

Penyelesaian :

T = 20 cm

L = 30 cm

60 < 2t + l < 65

60 < 2 * 20 + 30 < 65

40 + 30 < 65

70 < 65 ( tangga tergolong curam dan cepat lelah )

Pada tangga objek observasi kami setelah mendapatkan


hasil perhitungan termasuk kedalam kategori tangga yang
cepat membuat penggunanya merasakan kelelahan. Ini
disebabkan karena optrede (tinggi anak tangga/ langkah
pencapaian untuk naik keanak tangga beriktnya) itu
melebihi dari standar yang telah ditentukan yaitu 15-18 cm.
Jumlah Anak Tangga

anak tangga = 360/t cm

= 360/20

= 18 buah termasuk
bordes

3.6.2. Perhitungan Kebutuhan Tangga

3.6.3. Perhitungan Kemiringan Tangga

Rumus:

Z = Y/X

Ket:

Z = kooefisien kemiringan tangga ()

Y = tinggi tangga (cm)

X = panjang tangga (cm)

Penyelesaian:

Diketahui:

Tinggi tangga (lantai bawah dan lantai atas) =


131,25 m2 0,013125 cm
Panjang tangga ( luas ruang yang dibutuhkan) =
6,30 m2 0,00063 cm

Z = Y/X

= 0.013125/0.00063

= 20.8333 Termasuk kedalam tangga landai


dengan kisaran 20-24

Selain dari rumus yang ada untuk mentukan kemiringan


tangga dilihat dari lebar dan tinggi pencapaian anak tangga pada
system transportasi non mekanis yaitu antrede dan optredenya. Jika
antredenya lebih lebar dan optredenya lebih rendah, maka
kemiringan tangga akan kecil yaitu mencapai tangga yang landai.

3.7. Permasalah yang terjadi pada objek

Gambar 3.7.1 Reiling pada bagian tangga


sumber : dokumentasi pribadi
Pada objek tangga yang telah kami observasi pada bagian reilingnya
tidak memiliki step nosing yang berfungsi sebagai pengaman untuk
civitas hendak menggunakannya

BAB IV

PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari data yang telah kami paparkan diatas dapat kami simpulkan
bahwa
1. sistem transportasi non mekanis yang terdapat pada objek ( rumah
tinggal) adalah tangga, tangga tersebut menghubungkan lantai satu
dan lantai dua pada rumah.
2. Pada objek bangunan yang kami observasi memiliki transportasi non
mekanis berupa Tangga yang memiliki ukuran per anak tangganya yaitu
memiliki :
Tinggi anak tangga (optrede) : 20cm
Lebar anak tangga (antrede) : 30 cm
Panjang anak tangga : 100 cm

Bentuk tangga pada objek observasi yaitu tangga berbentuk L


(tangga seperempat putaran), yang dimaksudkan tangga bentuk ini
adalah tangga yang mempunyai 1 bordes berukuran 120cm *
100cm dan memiliki belokan kearah kiri pada jalur perjalanannya,
serta mempunyai 1 tanjakan pada arah yang searah.

3. Berikut bagian-bagian struktur dari tangga yang terdapat pada


objek ( rumah tinggal) :
Bordes
Railing
Anak tangga
Ibu tangga
Balustrade dan kisi
4. Tangga yang kami observasi memiliki bahan kontruksi dari beton, beton
adalah bahan kontruksi tangga yang paling sering dipakai pada
bangunan bertingkat 2 (dua) atau lebih dan bersifat permanent
seperti peruntukan kantor, rumah tinggal, pertokoan.
5. Kelebihan tangga beton adalah kuat dan mudah dibentuk apa saja dan
juga pembuatan tangga beton lebih mudah di buat oleh tukang.
Kelemahan tangga beton adalah kerepotan ketika masih dalam
proses perakitan bekisting dan pengecoran, serta waktu pengerjaan
yang cukup lama, karena harus menunggu beton kering betul.
6. Pada bangauanan hunian yang kami jadikan sebagai studi observasi
memiliki luasan pada lantai I dan II sama yaitu 131,25 m2. Untuk
Optredenya standar hunian 15-18 cm pada objek yang kami amati,
memiliki optrede sebesar 20 cm dan antrede sebesar 30 cm, dimana
untuk antrede standar huniannya 20-33. Panjang anak tangga
minimal 90 cm untuk tangga pada objek yang ada panjang anak
tangga 100 cm sudah sesuai dengan standar yang ada.

4.2 Saran
Saran dari kelompok kami yang dapat diberikan mengenai
system ransportasi non mekanis ini yaitu :
1. Jenis tangga harus dipilih dan disesuiakan dengan
kebutuhan pengguna, agar nantinya dapat berfungsi
secara maksimal, selain itu meletakkan tangga pada
tempat yang mudah untuk terlihat dan tidak
menghabiskan banyak tempat bila memiliki luasan
bangunan yang sempit.
2. Pengguna transportasi non mekanis harus
memperhatikan komponen-komponen pembentuk
tangga agar sesuai dengan standar yang telah ada,
sehingga kedepannya layak untuk digunakan bagi
pengguna dan nyaman untuk digunakan.

Daftar Pustaka

http://sistem%20tangga/Konstruksi%20Tangga%20%20RENUNGAN.html

Diakses tanggal 14 november 2016 ( pukul 04.20)


http://sistem%20tangga/Menentukan%20ukuran%20Tangga%20dan%20Anak
%20Tangga%20untuk%20bangunan%20bertingkat%20-%20Home%20Design
%20and%20Ideas.html

Diakses tanggal 23 Oktober 2016 ( pukul 06.24)

http://sistem%20tangga/sistem-transportasi-dalam-bangunan.html

Diakses tanggal 17 Oktober 2016 ( pukul 19.54)

http://sistem%20tangga/tugas-transportasi-vertikal.html

Diakses tanggal 17 Oktober 2016 ( pukul 19.53)

http://sistem%20tangga/blog-page.html

Diakses tanggal 17 Oktober 2016 ( pukul 19.52)

D.K. Ching francis, Cassandra adams. 2003. Ilustrasi Kontruksi Bangunan.


Cetakan edisi ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Poerbo, H. 1992. Utilitas Bangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Mc. Guenness, W.J & Stein, B. 1971. Mechanical and Electrical Eguipment for
Building. Fifth Edision. New York, London, Sydney, Torondo, Jhn Wiley and
Sons, Inc.