Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN CEPHALGIA (SAKIT

KEPALA)
Diposkan oleh heaven
A. PENGERTIAN

Chefalgia atau sakit kepala adalah salah satu keluhan fisik paling utama manusia. Sakit kepala pada kenyataannya adalah
gejala bukan penyakit dan dapat menunjukkan penyakit organik ( neurologi atau penyakit lain), respon stress, vasodilatasi
(migren), tegangan otot rangka (sakit kepala tegang) atau kombinasi respon tersebut (Brunner & Suddart).

B. KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI


Klasifikasi sakit kepala yang paling baru dikeluarkan oleh Headache Classification Cimitte
of the International Headache Society sebagai berikut:
1. Migren (dengan atau tanpa aura)
2. Sakit kepal tegang
3. Sakit kepala klaster dan hemikrania paroksismal
4. Berbagai sakit kepala yang dikatkan dengan lesi struktural.
5. Sakit kepala dikatkan dengan trauma kepala.
6. Sakit kepala dihubungkan dengan gangguan vaskuler (mis. Perdarahan subarakhnoid).
7. Sakit kepala dihuungkan dengan gangguan intrakranial non vaskuler ( mis. Tumor otak)
8. Sakit kepala dihubungkan dengan penggunaan zat kimia tau putus obat.
9. Sakit kepala dihubungkan dengan infeksi non sefalik.
10. Sakit kepala yang dihubungkan dengan gangguan metabolik (hipoglikemia).
11. Sakit kepala atau nyeri wajah yang dihubungkan dengan gangguan kepala, leher atau
struktur sekitar kepala ( mis. Glaukoma akut)
12. Neuralgia kranial (nyeri menetap berasal dari saraf kranial)
C. PATOFISIOLOGI
Sakit kepala timbul sebagai hasil perangsangan terhadap bangunan-bangunan diwilayah
kepala dan leher yang peka terhadap nyeri. Bangunan-bangunan ekstrakranial yang peka
nyeri ialah otot-otot okspital, temporal dan frontal, kulit kepala, arteri-arteri subkutis dan
periostium. Tulang tengkorak sendiri tidak peka nyeri. Bangunan-bangunan intrakranial yang
peka nyeri terdiri dari meninges, terutama dura basalis dan meninges yang mendindingi sinus
venosus serta arteri-arteri besar pada basis otak. Sebagian besar dari jaringan otak sendiri
tidak peka nyeri.
Perangsangan terhadap bangunan-bangunan itu dapat berupa:
Infeksi selaput otak : meningitis, ensefalitis.
Iritasi kimiawi terhadap selaput otak seperti pada perdarahan subdural atau setelah
dilakukan pneumo atau zat kontras ensefalografi.
Peregangan selaput otak akibat proses desak ruang intrakranial, penyumbatan jalan lintasan
liquor, trombosis venos spinosus, edema serebri atau tekanan intrakranial yang menurun tiba-
tiba atau cepat sekali.
Vasodilatasi arteri intrakranial akibat keadaan toksik (seperti pada infeksi umum,
intoksikasi alkohol, intoksikasi CO, reaksi alergik), gangguan metabolik (seperti hipoksemia,
hipoglikemia dan hiperkapnia), pemakaian obat vasodilatasi, keadaan paska contusio serebri,
insufisiensi serebrovasculer akut).
Gangguan pembuluh darah ekstrakranial, misalnya vasodilatasi ( migren dan cluster
headache) dan radang (arteritis temporalis)
Gangguan terhadap otot-otot yang mempunyai hubungan dengan kepala, seperti pada
spondiloartrosis deformans servikalis.
Penjalaran nyeri (reffererd pain) dari daerah mata (glaukoma, iritis), sinus (sinusitis),
baseol kranii ( ca. Nasofaring), gigi geligi (pulpitis dan molar III yang mendesak gigi) dan
daerah leher (spondiloartritis deforman servikalis.
Ketegangan otot kepala, leher bahu sebagai manifestasi psikoorganik pada keadaan depresi
dan stress. Dalam hal ini sakit kepala sininim dari pusing kepala.
D. MANIFESTASI KLINIS
a. Migren
Migren adalah gejala kompleks yang mempunyai karakteristik pada waktu tertentu dan
serangan sakit kepala berat yang terjadi berulang-ulang. Penyebab migren tidak diketahui
jelas, tetapi ini dapat disebabkan oleh gangguan vaskuler primer yang biasanya banyak terjadi
pada wanita dan mempunyai kecenderungan kuat dalam keluarga.
Tanda dan gejala adanya migren pada serebral merupakan hasil dari derajat iskhemia kortikal
yang bervariasi. Serangan dimulai dengan vasokonstriksi arteri kulit kepala dam pembuluh
darah retina dan serebral. Pembuluh darah intra dan ekstrakranial mengalami dilatasi, yang
menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan.
Migren klasik dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu:
Fase aura.
Berlangsung lebih kurang 30 menit, dan dapat memberikan kesempatan bagi pasien untuk
menentukan obat yang digunakan untuk mencegah serangan yang dalam. Gejala dari periode
ini adalah gangguan penglihatan ( silau ), kesemutan, perasaan gatal pada wajah dan tangan,
sedikit lemah pada ekstremitas dan pusing.
Periode aura ini berhubungan dengan vasokonstriksi tanpa nyeri yang diawali dengan
perubahan fisiologi awal. Aliran darah serebral berkurang, dengan kehilangan autoregulasi
laanjut dan kerusakan responsivitas CO2.
Fase sakit kepala
Fase sakit kepala berdenyut yang berat dan menjadikan tidak mampu yang dihungkan dengan
fotofobia, mual dan muntah. Durasi keadaan ini bervariasi, beberapa jam dalam satu hari atau
beberapa hari.
Fase pemulihan
Periode kontraksi otot leher dan kulit kepala yang dihubungkan dengan sakit otot dan
ketegangan lokal. Kelelahan biasanya terjadi, dan pasien dapat tidur untuk waktu yang
panjang.
b. Cluster Headache
Cluster Headache adalah beentuk sakit kepal vaskuler lainnya yang sering terjadi pada pria.
Serangan datang dalam bentuk yang menumpuk atau berkelompok, dengan nyeri yang
menyiksa didaerah mata dan menyebar kedaerah wajah dan temporal. Nyeri diikuti mata
berair dan sumbatan hidung. Serangan berakhir dari 15 menit sampai 2 jam yang menguat
dan menurun kekuatannya.
Tipe sakit kepala ini dikaitkan dengan dilatasi didaerah dan sekitar arteri ekstrakranualis,
yang ditimbulkan oleh alkohol, nitrit, vasodilator dan histamin. Sakit kepala ini berespon
terhadap klorpromazin.
c. Tension Headache
Stress fisik dan emosional dapat menyebabkan kontraksi pada otot-otot leher dan kulit
kepala, yang menyebabkan sakit kepala karena tegang. Karakteristik dari sakit kepala ini
perasaan ada tekanan pada dahi, pelipis, atau belakang leher. Hal ini sering tergambar sebagai
beban berat yang menutupi kepala. Sakit kepala ini cenderung kronik daripada berat.
Pasien membutuhkan ketenangan hati, dan biasanya keadaan ini merupakan ketakutan yang
tidak terucapkan. Bantuan simtomatik mungkin diberikan untuk memanaskan pada lokasi,
memijat, analgetik, antidepresan dan obat relaksan otot.
E. PENGKAJIAN
Data subyektif dan obyektif sangat penting untuk menentukan tentang penyebab dan sifat dari
sakit kepala.
v Data Subyektif
a. Pengertian pasien tentang sakit kepala dan kemungkinan penyebabnya.
b. Sadar tentang adanya faktor pencetus, seperti stress.
c. Langkah langkah untuk mengurangi gejala seperti obat-obatan.
d. Tempat, frekwensi, pola dan sifat sakit kepala termasuk tempat nyeri, lama dan interval
diantara sakit kepala.
e. Awal serangan sakit kepala.
f. Ada gejala prodomal atau tidak
g. Ada gejala yang menyertai.
h. Riwayat sakit kepala dalam keluarga (khusus penting sekali bila migren).
i. Situasi yang membuat sakit kepala lebih parah.
j. Ada alergi atau tidak.
v Data Obyektif
a. Perilaku : gejala yang memperlihatkan stress, kecemasan atau nyeri.
b. Perubahan kemampuan dalam melaksanakan aktifitas sehari hari.
c. Terdapat pengkajian anormal dari sistem pengkajian fisik sistem saraf cranial.
d. Suhu badan
e. Drainase dari sinus.
Dalam pengkajian sakit kepala, beberapa butir penting perlu dipertimbangkan. Diantaranya
ialah:
a. Sakit kepala yang terlokalisir biasanya berhubungan dengan sakit kepala migrain atau
gangguan organik.
b. Sakit kepala yang menyeluruh biasanya disebabkan oleh penyebab psikologis atau terjadi
peningkatan tekanan intrakranial.
c. Sakit kepala migren dapat berpindah dari satu sisi kesisi yang lain.
d. Sakit kepala yang disertai peningkatan tekanan intrakranial biasanya timbil pada waktu
bangun tidur atau sakit kepala tersebut membengunkan pasien dari tidur.
e. Sakit kepala tipe sinus timbul pada pagi hari dan semakin siang menjadi lebih buruk.
f. Banyak sakit kepala yang berhubungan dengan kondisi stress.
g. Rasa nyeri yang tumpul, menjengkelkan, menghebat dan terus ada, sering terjadi pada sakit
kepala yang psikogenis.
h. Bahan organis yang menimbulkan nyeri yang tetap dan sifatnya bertambah terus.
i. Sakit kapala migrain bisa menyertai mentruasi.sakit kepala bisa didahului makan makanan
yang mengandung monosodium glutamat, sodim nitrat, tyramine demikian juga alkohol.
j. Tidur terlalu lama, berpuasa, menghirup bau-bauan yang toksis dalam limngkungan kerja
dimana ventilasi tidak cukup dapat menjadi penyebab sakit kepala.
k. Obat kontrasepsi oral dapat memperberat migrain.
l. Tiap yang ditemukan sekunder dari sakit kepala perlu dikaji.
F. DIAGNOSTIK
1. CT Scan, menjadi mudah dijangkau sebagai cara yang mudah dan aman untuk menemukan
abnormalitas pada susunan saraf pusat.
2. MRI Scan, dengan tujuan mendeteksi kondisi patologi otak dan medula spinalis dengan
menggunakan tehnik scanning dengan kekuatan magnet untuk membuat bayangan struktur
tubuh.
3. Pungsi lumbal, dengan mengambil cairan serebrospinalis untuk pemeriksaan. Hal ini tidak
dilakukan bila diketahui terjadi peningkatan tekanan intrakranial dan tumor otak, karena
penurunan tekanan yang mendadak akibat pengambilan CSF.
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b.d stess dan ketegangan, iritasi/tekanan saraf, vasospasme, peningkatan tekana
intrakranial.
2. Koping individual tak efektif b.d situasi krisis, kerentanan personal, sistem pendukung
tidak adequat, kelebihan beban kerja, ketidakadequatan relaksasi, metode koping tidak
adequat, nyeri berat, ancaman berlebihan pada diri sendiri.
3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d kurang mengingat,
tidak mengenal informasi, keterbatasab kognitif.
H. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
1. Nyeri b.d stess dan ketegangan, iritasi/tekanan saraf, vasospasme, peningkatan
tekana intrakranial.
Intervensi:
a. Pastikan durasi/episode masalah , siapa yang telah dikonsulkan, dan obat dan/atau terapi
apa yang telah digunakan
b. Teliti keluhan nyeri, catat itensitasnya ( dengan skala 0-10 ), karakteristiknya (misal : berat,
berdenyut, konstan) lokasinya, lamanya, faktor yang memperburuk atau meredakan.
c. Catat kemungkinan patofisiologi yang khas, misalnya otak/meningeal/infeksi sinus, trauma
servikal, hipertensi atau trauma.
d. Observasi adanya tanda-tanda nyeri nonverbal, seperi : ekspresi wajah, posisi tubuh,
gelisah, menangis/meringis, menarik diri, diaforesis, perubahan frekuensi jantung/pernafasan,
tekanan darah.
e. Kaji hubungan faktor fisik/emosi dari keadaan seseorang
f. Evaluasi perilaku nyeri
g. Catat adanya pengaruh nyeri misalnya: hilangnya perhatian pada hidup, penurunan
aktivitas, penurunan berat badan.
h. Kaji derajat pengambilan langkah yang keliru secara pribadi dari pasien, seperti
mengisolasi diri.
i. Tentukan isu dari pihak kedua untuk pasien/orang terdekat, seperti asuransi,
pasangan/keluarga
j. Diskusikan dinamika fisiologi dari ketegangan/ansietas dengan pasien/orang terdekat
k. Instruksikan pasien untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri itu timbul.
l. Tempatkan pada ruangan yang agak gelap sesuai dengan indikasi.
m. Anjurkan untuk beristirahat didalam ruangan yang tenang.
n. Berikan kompres dingin pada kepala.
o. Berikan kompres panans lembab/kering pada kepala, leher, lengan sesuai kebutuhan.
p. Masase daerah kepala/leher/lengan jika pasien dapat mentoleransi sentuhan.
q. Gunakan teknik sentuhan yang terapeutik, visualisasi, biofeedback, hipnotik sendiri, dan
reduksi stres dan teknik relaksasi yang lain.
r. Anjurkan pasien untuk menggunakan pernyataan positif Saya sembuh, saya sedang
relaksasi, Saya suka hidup ini. Sarankan pasien untuk menyadari dialog eksternal-internal
dan katakan berhenti atau tunda jika muncul pikiran yang negatif.
s. Observasi adanya mual/muntah. Berikan es, minuman yang mengandung karbonat sesuai
indikasi.
2. Koping individual tak efektif b.d situasi krisis, kerentanan personal, sistem
pendukung tidak adequat, kelebihan beban kerja, ketidakadequatan relaksasi, metode
koping tidak adequat, nyeri berat, ancaman berlebihan pada diri sendiri.
Intervensi.
a. Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian. Ambil keuntungan dari kegiatan yang
daoat diajarkan.
b. Bantu pasien dalam memahami perubahan pada konsep citra tubuh.
c. Sarankan pasien untuk mengepresikan perasaannya dan diskusi bagaimana sakit kepala itu
mengganggu kerja dan kesenangan dari hidup ini.
d. Pastikan dampak penyakitnya terhadap kebutuhan seksual.
e. Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penagnan, dan hasil yang diharapkan.
f. Kolaborasi
Rujuk untuk melakukan konseling dan/atau terapi keluarga atau kelas tempat pelatihan sikap
asertif sesuai indikasi.
3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d kurang
mengingat, tidak mengenal informasi, keterbatasab kognitif.
Intervensi ;
a. Diskusikan etiologi individual dari saki kepala bila diketahui.
b. Bantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan faktor predisposisi, seperti stress
emosi, suhu yang berlebihan, alergi terhadap makanan/lingkungan tertentu.
c. Diskusikan tentang obat-obatan dan efek sampingnya. Nilai kembali kebutuhan untuk
menurunkan/menghentikan pengobatan sesuai indikasi
d. Instruksikan pasien/orang terdekat dalam melakukan program kegiatan/latihan , makanan
yang dikonsumsi, dan tindakan yang menimbukan rasa nyaman, seprti masase dan
sebagainya.
e. Diskusikan mengenai posisi/letak tubuh yang normal.
f. Anjurkan pasien/orang terdekat untuk menyediakan waktu agar dapat relaksasi dan
bersenang-senang.
g. Anjurkan untuk menggunakan aktivitas otak dengan benar, mencintai dan
tertawa/tersenyum.
h. Sarankan pemakaian musik-musik yang menyenangkan.
i. Anjurkan pasien untuk memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang
berhubungan atau faktor presipitasinya.
j. Berikan informasi tertulis/semacam catatan petunjuk
k. Identifikasi dan diskusikan timbulnya resiko bahaya yang tidak nyata dan/atau terapi yang
bukan terapi medis

LAporan Kasus CHEPALGIA

Anamnesa (21 MARET 2014)

Diperoleh dari pasien dan keluarganya

Identitas
Nama : Ny. W

Umur : 23 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Larangan 01/03 Wonoyoso Pringapus

Pekerjaan : Karyawan

Masuk RS : 30-04-2014

No RM : 057536-2014

Keluhan Utama:

Sakit kepala

Riwayat Penyakit Sekarang

Sejak 1 bulan yang lalu penderita mengeluh sakit kepala, hilang timbul, frekuensi 2-3
kali dalam sehari, rasa sakit berdenyut-denyut pada bagian kiri atas kepala dan menjalar ke
dahi, dan terkadang menjalar sampai leher. Bertambah sakit apabila melakukan aktifitas rutin
dan merasa lebih baik saat beristirahat. Nyeri kepala ini dirasakan muncul sejak 3 tahun
terakhir, penderita sering mengeluh sakit kepala hilang timbul, keluhan dipengaruhi aktifitas
berat, sakit kepala hilang dengan diminumkan obat nyeri dari warung. Namun sejak 1 bulan
ini, keluhan dirasakan tidak berkurang walaupun penderita sudah minum obat.

Keluhan tambahan yang dirasakan, pasien mengeluh nyeri pada anggota gerak sebelah kiri.
Lokasi nyeri berpindah-pindah terkadang di tangan kiri, kaki sebelah kiri, leher dan pundak
kiri. Biasanya nyeri yang dirasakan tidak bersamaan tetapi lokasinya pada anggota tubuh
sebelah kiri. Skala nyeri sekitar 8 dari 10. Selain itu, pasien juga merasakan kemeng-kemeng,
kaku, dan kadang muncul kesemutan pada anggota tubuh sebelah kiri. Nyeri dirasakan sejak
1 tahun terakhir, awalnya nyeri hanya dirasakan hilang timbul, hanya pada salah satu bagian
tubuh, namun nyeri hanya sebentar kemudian sembuh sendiri tanpa diobati. Namun semenjak
dua bulan terakhir keluhan dirasakan semakin berat, keluhan semakin sering bahkan baru
hilang dalam waktu yang agak lama. Untuk mengatasi nyeri tersebut, dari klinik perusahaan
diberi obat, nama obat (pasien lupa?). Hingga kemarin siang saat ditempat kerja, sempat nyeri
pada kaki kirinya dan sulit menggerakkan kaki kirinya sehingga harus istirahat dan dirujuk
oleh klinik perusahaan untuk berobat ke IGD RSUD Ambarawa untuk pengobatan lebih
lanjut.

. Pasien tidak mengalami demam, mual dan muntah tidak ada, pandangan kabur tidak ada,
pandangan gelap tidak ada, pandangan ganda tidak ada, telinga berdengung tidak ada, Pasien
juga menyangkal pernah mengalami kejang, mulut mengot tidak ada, bicara pelo tidak ada.
Buang air kecil dan buang air besar tidak ada masalah, masih dalam batas normal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat trauma sebelumnya disangkal

Riwayat cidera kepala disangkal

Riwayat tekanan darah tinggi disangkal

Riwayat sakit kencing manis disangkal

Riwayat maag disangkal.

Riwayat pingsan sebelumnya

Riwayat TB disangkal

Riwayat kontak dengan orang yang memiliki batuk lama juga disangkal

Riwayat alergi (makanan : udang), (obat : )

Riwayat nyeri kepala yang menahun disangkal

Riwayat kejang disangkal

Riwayat sakit gigi disangkal

Kebiasaan memelihara unggas/ kucing disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat keluhan serupa disangkal

Riwayat tekanan darah tinggi disangkal

Riwayat sakit kencing manis disangkal

Riwayat TB disangkal

Riwayat kontak dengan orang yang memiliki batuk lama juga disangkal

Riwayat Penyakit Sosial Ekonomi

Pasien tinggal serumah dengan suami dan kedua anaknya. Biaya pengobatan pasien memakai
Perusahaan.

Anamnesis Sistem:

Sistem serebrospinal : Nyeri kepala sebelah kiri


Sistem kardiovaskuler : Tidak ada keluhan
Sistem respirasi : Tidak ada keluhan
Sistem gastrointestinal : Tidak ada keluhan
Nyeri, kemeng dan kaku pada anggota gerak
Sistem musculoskeletal :
sebelah kiri
Sistem integumentum : Tidak ada keluhan
Sistem urogenital : Tidak ada keluhan

Resume Anamnesa:

Ny. W, 23 tahun, sakit kepala, hilang timbul, frekuensi 2-3 kali dalam sehari, rasa sakit
berdenyut-denyut pada bagian kiri atas kepala dan menjalar ke dahi, dan terkadang menjalar
sampai leher. Keluhan disertai dengan nyeri pada anggota tubuh sebelah kiri disertai kemeng-
kemeng, kaku dan kadang-kadang kesemutan.

Diskusi

Berdasarkan anamnesa pasien mengeluhkan nyeri kepala sebelah. Nyeri kepala adalah nyeri
yang berlokasi diatas garis orbitomeatal (Nuartha, 2000). Nyeri kepala timbul karena
perangsangan terhadap bangunan-bangunan peka didaerah kepala dan leher yang peka
terhadap nyeri. Bangunan-bangunan peka nyeri pada kepala dibedakan menjadi dua bagian,
yaitu bangunan intracranial meliputi sinus venosus, arteri-arteri basalis, durameter, nervus V,
IX, X, dan bangunan ekstrakranial meliputi pembuluh darah dan otot kulit kepala, orbita,
membrane mukosa sinus nasalis dan paranasalis, telinga luar dan tengah, gigi dan gusi,
nervus cervical II dan III (Lindsay, 2002). Perangsangan bangunan-bangunan ekstrakranial
akan dirasakan pada umumnya sebagai nyeri pada daerah terangsang. Sedangkan nyeri kepala
sebagai akibat perangsangan bangunan intracranial akan diproyeksikan ke permukaan dan
dirasakan di daerah distribusi saraf yang bersangkutan (Nuartha, 2000).

Nyeri kepala dapat dikategorikan menjadi (1) nyeri kepala kronis berulang meliputi tipe
vascular (migrain) dan nyeri kepala tipe tegang; (2) nyeri kepala karena adanya proses
patologis yaitu patologis sistemik, patologis intracranial termasuk perdarahan subarachnoid,
peningkatan tekanan intracranial oleh berbagai sebab (tumor, hidrocefalus komunikan,
inflamasi, pseudotumor serebri), iritasi dan inflamasi selaput otak, tumor, (3) patologi lokal
pada mata, nasofaring jaringan ekstrakranial, (4) mengikuti trauma kepala, (5) mengikuti
kraniotomi (Greenberg, 2001). Penderita dengan nyeri kepala pertama kali yang didapat
adanya kelainan neurologis sangat dicurigai adanya penyakit intracranial, perdarahan
meningitis atau hidrocefalus akut (Weisberg, 2000).

Nyeri kepala pada pasien kemungkinan disebabkan oleh penyebab primer berupa migren,
nyeri kepala klaster, nyeri kepala tegang otot, ataupun bisa disebabkan oleh penyebab
sekunder, seperti neoplasma (primer/ sekunder), infeksi (akut/ kronis) virus, bakteri, jamur,
vaskuler.

Nyeri pada anggota gerak sebelah kiri yang dirasakan pasien, merupakan nyeri
neuromuskuloskeletal, yang terbagi atas dua bagian nyeri neuromuskuloskeletal non
neurogenik dan neurogenik. Pada neuromuskuloskeletal yang non neurogenik merupakan
nyeri yang terjadi pada anggota gerak diantaranya, artalgia (patologis pada persendian),
myalgia (otot), entesialgia (proses patologis pada tendon, fasia jaringan miofasial dan
periosteum). Umumnya disebabkan karena proses patologik setempat berupa peradangan
bacterial, imonologik, non infeksi atau perdarahan serta keganasan. Pada nyeri
neuromuskuloskeletal neurogenik, jenis nyeri ini terjadi akibat iritasi langsung terhadap
serabut sensoris perifer. Ciri khasnya adalah nyeri menjalar sepanjang kawasan distal saraf
dan perjalanan nyeri tersebut berpangkal pada bagian saraf yang mengalami iritasi. Nyeri
neurogenik yang terjadi akibat iritasi radiks posterior dinamakan nyeri radikular, pada medula
spinalis C3-C4 dan T3-T12, penataan dermatom lapis demi lapis sehingga menunjukkan
gambaran yang khas. Sementara itu pada C5-T2 dan L2-S3, penataan lamelar dermatom agak
kabur karena spinal tidak langsung menuju ekstermitas, melainkan membentuk fasikulus dan
pleksus terlebih dahulu. Penyebabnya bisa berupa herpes zoster, ostefit, penonjolan tulang
karena fraktur, nukleos pulposus atau serpihannya, tumor. Nyeri iritatif di radiks posterior
tingkat servikal disebut brakialgia karena nyeri dirasakan sepanjang lengan. Sementara itu,
nyeri radikular yang dirasakan sepanjang tungkai dinamakan iskialgia karena nyeri menjalar
sepanjang perjalanan n. iskiadikus dan lanjutan ke perifer. (Marjono, 2000)

Nyeri yang dirasakan pasien, menyebabkan awal saat dibawa ke IGD mengalami sakit
sehingga anggota gerak sebelah kiri mengalami kelemahan sementara. Kelemahan
(paresis/parese) adalah hilangnya tenaga otot sehingga gerak voluntar sukar tapi masih bisa
dilakukan walaupun dengan gerakan yang terbatas. Paresis (kelemahan otot pada lengan dan
tungkai) adalah kerusakan yang menyeluruh, tetapi belum meruntuhkan semua neuron
korteks piramidalis. Hemiparase yang terjadi memberikan gambaran bahwa adanya kelainan
atau lesi sepanjang traktus piramidalis. Lesi ini dapat disebabkan oleh berkurangnya suplai
darah, kerusakan jaringan oleh trauma atau infeksi, ataupun penekanan langsung dan tidak
langsung oleh massa hematoma, abses, dan tumor. Hal tersebut selanjutnya akan
mengakibatkan adanya gangguan pada tractus kortikospinalis yang bertanggung jawab pada
otot-otot anggota gerak atas dan bawah.

I.1 CHEPALGIA

I.1.1. DEFINISI

Nyeri kepala adalah rasa nyeri atau rasa tidak mengenakkan pada seluruh daerah kepala
dengan batas bawah dari dagu sampai kedaerah belakang kepala (daerah oksipital dan
sebahagian daerah tengkuk) (Sjahrir, 2008). Sedangkan, menurut Arif Mansjoer (2000) nyeri
kepala atau cephalgia adalah rasa nyeri atau rasa tidak enak di kepala, setempat atau
menyeluruh dan dapat menjalar ke wajah, gigi, rahang bawah dan leher.

I.1.2. ETIOLOGI

1. Penggunaan obat yang berlebihan.

Hampir semua obat sakit kepala, termasuk dan penghilang migrain seperti acetaminophen
dan triptans, bisa membuat sakit kepala parah bila terlalu sering dipakai untuk jangka waktu
lama. Menggunakan terlalu banyak obat dapat menyebabkan kondisi yang disebut rebound
sakit kepala

2. Stres.
Stress adalah pemicu yang paling umum untuk sakit kepala, termasuk sakit kepala kronis.
Selain itu, itu terkait dengan kecemasan dan depresi, yang juga faktor risiko untuk
berkembang menjadi sakit kepala kronis.

3. Masalah tidur

Kesulitan tidur merupakan faktor risiko umum untuk sakit kepala kronis. Mendengkur, yang
dapat mengganggu pernapasan di malam hari dan mencegah tidur nyenyak, juga merupakan
faktor risiko.

4. Obesitas.

Dokter tidak yakin persis mengapa, menjaga berat badan yang sehat tampaknya dapat
dihubungkan dengan penurunan risiko untuk sakit kepala kronis.

5. Kafein.

Sementara kafein telah ditunjukkan untuk meningkatkan efektivitas ketika ditambahkan ke


beberapa obat sakit kepala, terlalu banyak kafein dapat memiliki efek yang berlawanan. Sama
seperti obat sakit kepala berlebihan dapat memperburuk gejala sakit kepala, kafein yang
berlebihan dapat menciptakan efek rebound.

6. Penyakit atau infeksi,

Seperti meningitis, saraf terjepit di leher, atau bahkan tumor.

I.1.3. KLASIFIKASI

Menurut Arif Mansjoer (2000) nyeri kepala atau cephalgia dapat primer atau sekunder:

1. Primer berupa migren, nyeri kepala klaster, nyeri kepala tegang otot.

2. Sekunder berupa nyeri kepala pascatrauma, nyeri kepala organik sebagai bagian
penyakit lesi desak ruang (tumor otak, abses, hematoma subdural, dll), perdarahan
subaraknoid, neuralgia trigeminus/pascaherpetik, penyakit sistemik (anemia,
polisitemia, hipertensi atau hipotensi, dll), sesudah pungsi lumbal, infeksi
untrakranial/sistemik, penyakit hidung dan sinus paranasal, akibat bahan toksik dan
penyakit mata.

2. Pembagian klinis nyeri kepala (Anthony, 2001)

3. Sakit kepala akut


Intrakranial

Meningitis / ensefalitis, perdarahan subaraknoid, hematoma subdural, tumor intrakranial.

Ekstrakranial

Migren, sakit kepala tandan (cluster), sakit kepala post trauma, glaucoma, neuritis optika,
insufisiensi serebro-vaskuler.

Tabel 2.1. Jenis-jenis Nyeri Kepala

Nyeri Lama
Sifat Nyeri Lokasi Frekuensi Gejala Ikutan
Kepala Nyeri
Sporadik
Unilateral
Migren Mual, muntah,
Berdenyut atau 6-48 jam Beberapa kali
umum malaise, fotobia
Bilateral sebulan

Sporadik
Prodroma visual,
Migren
Berdenyut Unilateral 3-12 jam Beberapa kali mual, muntah,
klasik
sebulan malaise, fotobia

Serangan Lakrimasi
Menjemu- Unilateral, 15-20 berkelompok ipsilateral, wajah
Klaster
kan, tajam orbita menit dengan remisi merah, hidung
lama tersumbat, horner
Tumpul, Difus, Terus
Tipe tegang Konstan Depresi, ansietas
ditekan Bilateral menerus
Neuralgia Ditusuk- Dermaton Singkat, Beberapa kali Zona pemicu
trigeminus tusuk saraf V 15-60 detik sehari nyeri
Unilateral
Terus Depresi, kadang-
Atipikal Tumpul atau Konstan
menerus kadang psikosis
Bilateral
Tumpul/ Di atas Sporadik atau
Sinus Bervariasi Rinore
tajam sinus konstan
Papiledema,
Unilateral defisit neurologik
Bervariasi,
Lesi desak (awal), Bervariasi, fokal, gangguan
bervariasi semakin
ruang Bilateral progresif mental atau
sering
(lanjut) perilaku, kejang,
dll

I.1.4. PATOFISIOLOGI

Menurut Arif Mansjoer (2000) pada nyeri kepala atau cephalgia struktur diwajah yang peka
terhadap rasa nyeri adalah kulit, fasia, otot-otot, arteri ekstra serebral dan intra serebral,
meningen, dasar fosa anterior, fosa posterior, tentorium serebri, sinus venosus, nervus V, VII,
IX, X, radiks posterior C2, C3, bola mata, rongga hidung, rongga sinus, dentin dan pulpa
gigi. Sedangkan otak tidak sensitif terhadap nyeri.

Pada struktur yang disebutkan sebelumnya terdapat ujung saraf nyeri yang mudah dirangsang
atau etiologinya oleh :

1. Traksi atau pergeseran sinus venosus dan cabang-cabang kortikal.

2. Traksi, dilatasi atau inflamasi pada arteri intrakranial dan ekstrakranial.

3. Traksi, pergeseran atau penyakit yang mengenai saraf kranial dan servikal.

4. Perubahan tekanan intrakranial.

5. Penyakit jaringan kulit kepala, wajah, mata, hidung, telinga dan leher.

I.1.5. MANIFESTASI KLINIS

Menurut Arif Mansjoer, dkk (2000) manifestasi klinis adanya nyeri kepala atau cephalgia
memerlukan anamnesis khusus yaitu:

1. Awitan dan lama serangan

2. Bentuk serangan; paroksismal periodik atau terus menerus

3. Lokalisasi nyeri

4. Sifat nyeri; berdenyut-denyut, rasa berat, menusuk-nusuk, dll

5. Prodromal

6. Gejala penyerta

7. Faktor presipitasi

8. Faktor yang mengurangi atau memberatkan nyeri kepala

9. Pola tidur

10. Faktor emosional/stres

11. Riwayat keluarga

12. Riwayat trauma kepala

13.Riwayat penyakit medik; peradangan selaput otak, hipertensi, demam tifoid, sinusitis,
glaukoma, dsb.
14. Riwayat operasi

15. Riwayat alergi

16. Pola haid bagi wanita

17. Riwayat pemakaian obat; analgetik, narkotik, penenang, vasodilator

I.1.6. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan yang disarankan menurut Basuki Pramana (2007) adalah:

1. Foto Rontgen terhadap tengkorak

2. Pemeriksaan kadar Lemak darah ( kolesterol, Trigliuseride HDL dan LDL)

3. Kadar Hemoglobin darah ( Hb ) dll pemeriksaan

Lebih lanjut menurut Arif Mansjoer, dkk, (2000) pemeriksaan khusus pada cephalgia meliputi
palpasi pada tengkorak untuk mencari kelainan bentuk, nyeri tekan dan benjolan. Palpasi
pada otot untuk mengetahui tonusdan nyeri tekan daerah tengkuk. Perabaan arteri temporalis
superfisialis dan arteri karotis komunis. Pemeriksaan leher, mata, hidung, tenggorok,
telingan, mulut dan gigi geligi perlu dilakukan. Pemeriksaan neurologis lengkap, ditekankan
pada fungsi saraf otak termasuk funduskopi, fungsi motorik, sensorik serta koordinasi.

Beberapa nyeri kepala menunjukkan tanda bahaya dan memerlukan evaluasi penunjang
adalah:

1. Nyeri kepala hebat pertama kali yang timbul mendadak

2. Nyeri kepala yang paling berat yang pernah dialami

3. Nyeri kepala yang berat progresif selama beberapa hari atau minggu

4. Nyeri kepala yang timbul bila latihan fisik, batuk, bersin, membungkuk atau nafsu
seksual meningkat

5. Nyeri kepala yang disertai penyakit umum atau demam, mualo, muntah atau kaku
kuduk

6. Nyeri kepala yang disertai gejala neurologis seperti afasia, koordinasi buruk,
kelemahan fokal atau rasa baal, mengantuk, fungsi intelek menurun, perubahan
kepribadian dan penurunan visus.

Pemeriksaan penunjang tersebut antara lain:

1. CT-Scan atau resonansi magnetik (MRI) otak hanya dilakukan pada nyeri kepala yang
menunjukkan kemungkinan penyakit intrakranial, seperti tumor, perdarahan
subaraknoid, AVM, dll.
2. Elektroensefalogram dilakukan bila ada riwayat kejang, kesadaran menurun, trauma
kepala atau presinkop.

3. Foto sinus paranasal untuk melihat adanya sinusitis dan foto servikal untuk
menetukan adanya spondiloartrosis dan fraktur servikal.

Diagnosa Sementara

Diagnosa klinis : Cephalgia, hemiparastesi sinistra kronis paroksismal

Diagnose topik : Intracerebral hemisfer dextra

Diagnose etiologi :

Chepalgia Primer

Chepalgia Sekunder

Neoplasma (primer/ sekunder)

Infeksi (akut/ kronis)

Virus, bakteri, jamur

Vaskuler

PEMERIKSAAN FISIK (Dilakukan pada tanggal 30 April 2014)

Status Generalis

Tampak sakit sedang. Kesan status gizi cukup


Keadaan Umum :
Kesadaran compos mentis, GCS: E4V5M6

Tekanan darah : 120/80 mmHg

Nadi : 86x/menit
Tanda Vital :
Nafas : 18x/menit

Suhu : 36,7oC

Mesosephal, Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak


Kepala : ikterik, pupil isokor diameter 3/3 mm, reflek cahaya +/+,
reflek kornea +/+
Leher : Limfonodi tak membesar, simetris
Dada : Paru:
Inspeksi : dada tampak datar, simetris, warna sesuai sekitar

Palpasi : nyeri tekan (-), massa (-), kuat angkat normal

Perkusi : sonor diseluruh lapang paru

Auskultasi : vesikuler diseluruh lap. paru, suara tambahan


(-).

Jantung:

Inspeksi : ictus cordis tak tampak

Palapasi : teraba ictus cordis kuat angkat, nyeri (-)

Perkusi : Konfigurasi kesan dalam batas normal,

Auskultasi : SI-II teratur reguler, suara tambahan (-)

Inspeksi : cembung, warna sesuai kulit sekitar

Auskultasi : bising usus (+) menurun 3 kali/menit


Abdomen :
Perkusi : thimpani seluruh lapang abomen

Palpasi .: Supel,nyeri tekan (-) diseluruh lapang abdomen

Status Psikiatrik
: normoaktif
Tingkah laku
: normotimik
Perasan hati
: dalam batas normal
Orientasi
: dalam batas normal
Kecerdasan
: dalam batas normal
Daya ingat

Status Neurologis:

Sikap Tubuh : Simetri


Gerakan Abnormal : (-)
Cara Berjalan : Tidak bisa dinilai
Kepala : Mesocephal
Nervi Cranialis Kanan Kiri
NI Daya Penghidu N N
Daya Penglihatan N N
N II Medan Penglihatan N N
Pengenalan warna N N
Ptosis (-) (-)
Gerakan Mata B B
Ukuran Pupil 3 mm 3 mm
N III
Bentuk Pupil Bulat Bulat
Refleks Cahaya (+) (+)
Refleks Akomodasi (+) (+)
Strabismus Divergen (-) (-)
N IV Gerakan Mata Ke Lateral Bawah (+) (+)
Strabismus Konvergen (-) (-)
Menggigit (+) (+)
Membuka Mulut (+) (+)
NV Sensibilitas Muka N N
Refleks Cornea (+) (+)
Trismus (-) (-)
Gerakan Mata Ke Lateral (+) (+)
N VI Strabismus Konvergen (-) (-)
Diplopia (-) (-)
Kedipan Mata (+) (+)
Lipatan Nasolabial Simetris
Sudut Mulut Simetris
Mengerutkan Dahi (+) (+)
N VII Mengerutkan Alis (+) (+)
Menutup Mata (+) (+)
Meringis (+) (+)
Menggembungkan Pipi (+) (+)
Daya Kecap Lidah 2/3 Depan N N
Mendengar Suara Berbisik (+) (+)
Mendengar Detik Arloji (+) (+)
Tidak Tidak
Tes Rinne
dilakukan dilakukan
N VIII
Tidak Tidak
Tes Weber
dilakukan dilakukan
Tidak Tidak
Tes Schwabach
dilakukan dilakukan
Arkus Faring N N
Daya Kecap Lidah 1/3 Belakang N N
N IX Refleks Muntah (+) (+)
Suara Sengau (-) (-)
Tersedak (-) (-)
NX Denyut Nadi 86 x / menit 86 x / menit
Nervi Cranialis Kanan Kiri
Arkus Faring N N
Bersuara N N
Menelan (+) (+)
Memalingkan Kepala (+) (+)
Sikap Bahu N N
N XI
Mengangkat Bahu (+) (+)
Trofi Otot Bahu Eutrofi Eutrofi
Sikap Lidah Ditengah
Artikulasi N
Tremor Lidah (-)
N XII
Menjulurkan Lidah Simetris
Trofi Otot Lidah Eutrofi Eutrofi
Fasikulasi Lidah (-)

Pemeriksaan meningeal sign :

1. Kaku Kuduk :

2. Tanda Kernig :

3. Buzinsky 1 :

4. Buzinsky 2 :

Ekstremitas : G B B K 5/5/5 5/5/5 RF + +

B B 5/5/5 5/5/5 + +

RP Tn + + Tr E E Cl /

+ + E E

Sensibilitas : Dalam batas normal


BAK : tidak ada gangguan
Fungsi Vegetatif :
BAB : tidak ada gangguan

Hasil Lab. Darah Rutin (1 Mei 2014)

1 Mei 2014
Darah Rutin Kimia Klinik

Hemoglobin : 13,5 Gula Darah Sewaktu : 87

Lekosit : 7,0 Ureum : 13,5


Eritrosit : 4,35

Hematokrit : 39,2

Trombosit : 233
Creatinin : 0, 62
MCV : 95,1
Kolesterol : 1,33
MCH : 31,5
Trigliserida : 77
MCHC : 34,4
HDL Kolesterol : 27
RDW : 12,6
LDL Kolesterol : 99
MPV : 8,2
SGOT : 18
Limfosit : 3,5
SGPT : 38
Monosit : 9,4
Imunologi
Granulosit : 9,9
HbsAg : Negatif
Limfosit% : 0,9

Monosit% : 3,1

Granulosit% : 50,2

Hasil Lab. Darah Rutin (7 Mei 2014)

7 Mei 2014
Darah Rutin Eosinofil : 0,0

Hemoglobin : 13,6 Basofil : 0,0

Lekosit : 13,0 Neutrofil : 10,8

Eritrosit : 4,39 Limfosit% : 13,1

Hematokrit : 39,9 Monosit% :3,3

Trombosit : 262 Eosinofil% : 0,2

MCV : 90,9 Basofil% : 0,1


MCH : 31,0 Neutrofil% : 83 ,3

MCHC : 34,1 PCT : 0,204

RDW : 13,3 PDW : 11,4

MPV : 7,8 Laju endap darah

Limfosit : 1,7 Laju endap darah 1 : 10

Monosit : 0,4 Laju endap darah II : 25

Pemeriksaan MSCT kepala dengan kontras (3 mei 2014) :

Tak tampak lesi hipodens pada parenkim otak

Tak tampak lesi hiperdens intra-ekstra axial

Tak tampak klasifikasi patologis

Sulcus corticalis dan fisurre sylvii kanan kiri menyempit

Differensiasi substansi alba grisea mulai kabur

Post injeksi kontras tampak gyral ennancement

Sistem vertikal lateral kanan kiri dan III tampak sempit

Tak tampak midline shifting

Batang otak dan serebelum normal

Kesan :

Mendukung gambaran meningoencephalitis

Tak tampak infark, perdarahan maupun SOL intrakranial saat ini

Tampak tanda awal peningkatan tekanan intrakranial saat ini.

Diskusi II :
Dari anamnesis diperoleh keterangan sakit kepala, hilang timbul, frekuensi 2-3 kali dalam
sehari, rasa sakit berdenyut-denyut pada bagian kiri atas kepala dan menjalar ke dahi, dan
terkadang menjalar sampai leher. Nyeri pada anggota gerak sebelah kiri. Lokasi nyeri
berpindah-pindah terkadang di tangan kiri, kaki sebelah kiri, leher dan pundak kiri, nyeri
yang dirasakan tidak bersamaan tetapi lokasinya pada anggota tubuh sebelah kiri. Skala nyeri
sekitar 8 dari 10, kemeng-kemeng, kaku, dan kadang muncul kesemutan pada anggota tubuh
sebelah kiri.

Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan berarti. Pada pemeriksaan penunjang
tanggal 1 mei pada pemeriksaan lab ditemukan peningkatan leukosit yang menunjukkan
adanya infeksi. Pada pemeriksaan ct-scan didapatkan gambaran sulcus corticalis dan fisurre
sylvii kanan kiri menyempit, diferensiasi substansi alba grisea mulai kabur, post injeksi
kontras tampak gyral ennancement, sistem vertikal lateral kanan kiri dan III tampak sempit.
Hasilnya mendukung gambaran meningoencephalitis, tak tampak infark, perdarahan maupun
SOL intrakranial saat ini. Tampak tanda awal peningkatan tekanan intrakranial saat ini.

Semua hasil pemeriksaan klinis dan penunjang tersebut dapat mendukung diagnosis adanya
infeksi intracranial yang masih memiliki kemungkianan penyebabnya oleh virus ataupun
bakteri.

Diagnosa Akhir

Diagnosa klinis : Chepalgia, hemiparastesi sinistra kronis pararoksismal

Diagnose topik : Intracerebral hemisfer dextra

Diagnose etiologi : Infeksi viral dd bakterial

PLANNING

Pemeriksaan pungsi lumbal

1. Meningitis serosa : Tekanan yang bervariasi, cairan jernih, sel darah putih meningkat,
glukosa dan protein normal, kultur (-)

2. Meningitis purulenta : Tekanan meningkat, cairan keruh, jumlah sel darah putih dan
protein meningkat, glukosa menurun kultur (+) beberapa jenis bakeri.

1. Analisis CSS dari fungsi lumbal :

1. Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel


darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap
beberapa jenis bakteri.

2. Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah
putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya
negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.

2. Glukosa serum : meningkat (meningitis)


3. LDH serum : meningkat (meningitis bakteri)

4. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (infeksi bakteri)

5. Elektrolit darah : Abnormal.

6. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat


infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi.

7. Rontgen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial.

8. TORCH

9. EEG

PENATALAKSANAAN :

Ceftiaxone 2 x 3 gr

Dexamethasone 3 x 1 amp

Sohobion 1 x 1

Teranol 2 x 35 mg

Ranitidin 2 x 1

Kalmeco 1 x 1

Mertigo 31

Imunos 2 x 1

Bumgeton 2 x 200

Anxiblox 2 x 5 g

Diskusi III

Pada kasus ini belum diketahui secara pasti penyebab utama penyakit disebabakan oleh
bakteri atau virus, maka untuk penanganan yang cepat dan tepat diberikan terapi antibotik
yang diberikan segera setelah terdapat pemeriksaan penunjang ct-scan yang mengarah kearah
meningitis yang lebih banyak disebabkan oleh bakteri, sementara untuk encephalitis yang
lebih banyak disebabkan oleh virus, maka diberikan obat untuk meningkatkan sistem
kekebalan tubuh. Pada pemberian obat pasien ini, diantaranya :

Injeksi Ceftriaxone 2 X 3 gr
Ceftriaxone merupakan golongan sefalosporin yang mempunyai spektrum luas dengan waktu
paruh eliminasi 8 jam. Efektif terhadap mikroorganisme gram positif dan gram negatif.
Dengan menghambat pembentukan dinding kuman. Dosis IV pada dewasa 0,5-2g. Efek
bakterisida ceftriaxone dihasilkan akibat penghambatan sintesis dinding kuman.Ceftriaxone
mempunyai stabilitas yang tinggi terhadap beta-laktanase, baik terhadap penisilinase maupun
sefalosporinase yang dihasilkan oleh kuman gram-negatif, gram-positif. Pada pasien ini
diberikan antibiotik ceftriaxone karena antibiotik ini efektif terhadap bakteri gram positif
maupun negatif, dan belum ada penelitian di Indonesia yang menunjukan tingkat
keresistensian.

Injeksi Dexamethasone 3 x 1 amp

Deksametason adalah glukokortikoid sintetik dengan aktivitas imunosupresan dan anti-


inflamasi. Sebagai imunosupresan Deksametason bekerja dengan menurunkan respon imun
tubuh terhadap stimulasi rangsang. Aktivitas anti-inflamasi Deksametason dengan jalan
menekan atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi dan menghambat
akumulasi sel yang mengalami inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit pada tempat
inflamasi. Dexamethasone merupakan anti inflamasi yang direkomendasikan penggunaannya
pada pasien gejala neurologis dan peningkatan tekanan intrakranial. Dexamethason dapat
meminimalkan resiko obliterasi endarteritis serta meminimalkan resiko adhesi arachnoid.

Injeksi Sohobion 1 x 1

Sohobion merupakan vitamin B complex yang terdiri dari vitamin B1 100 mg, vitamin B6
100mg, vitamin B12 5000 mcg. Indikasi pemberian sohobion untuk terapi defisiensi vitamin
B1, B6 dan B12 misalnya beri-beri, neuritis perifer dan neuralgia.

Injeksi Teranol 2 x 35 mg

Ketorolac tromethamine merupakan analgesik poten dengan efek anti-inflamasi sedang.


Ketorolac merupakan satu dari sedikit AINS yang tersedia untuk pemberian parenteral. Dosis
IV sebesar 15-30 mg. Efek samping pemberian ketorolac berupa gangguan saluran cerna,
kantuk, pusing, dan sakit kepala.

Injeksi Ranitidin 2 x 1

Ranitidin diberikan sebagai gastroprotektor dan mencegah efek samping dan interaksi dari
obat lain. Ranitidin bekerja dengan menghambat reseptor H2 sehingga sekresi asam lambung
dapat dihambat.

Kalmeco 1 x 1

Mecobalamin merupakan bentuk vitamin B12 dengan gugus metil aktif yang berperan dalam
reaksi transmetilasi dan merupakan bentuk paling aktif dibandingkan dengan homolog
vitamin B12 lainnya dalam tubuh, dalam hal kaitannya dengan metabolisme asam nukleat,
protein dan lemak. Mecobalamin/methylcobalamin meningkatkan metabolisme asam nukleat,
protein dan lemak. Mecobalamin bekerja sebagai koenzim dalam sintesa metionin.
Mecobalamin terlibat dalam sintesis timidin pada deoksiuridin dan mempercepat sintesis
DNA dan RNA. Pada penelitian lain ditemukan mecobalamin mempercepat sintesis lesitin,
suatu komponen utama dari selubung mielin. Mecobalamin diperlukan untuk kerja normal sel
saraf. Bersama asam folat dan vitamin B6, mecobalamin bekerja menurunkan kadar
homosistein dalam darah. Homosistein adalah suatu senyawa dalam darah yang diperkirakan
berperan dalam penyakit jantung. Indikasi: Neuropati Perifer, Anemia Megaloblastik.

Mertigo 31

Tiap tablet Mertigo menganudung Betahistine mesilate 6mg. Betahistine memperlebar


spinchter prekapiler sehingga meningkatkan aliran darah pada telinga bagian dalam.
Betahistine mengatur permeabilitas kapiler pada telinga bagian dalam, dengan demikian
menghilangkan endolymphatic hydrops. Betahistine juga memperpaiki sirkulasi serebral dan
meningkatkan aliran darah arteri karotis interna. Indikasi:mengurangi vertigo, dizzines yang
berhubungan dengan gangguan keseimbangan yang terjadi pada gangguan sirkulasi darah
atau sindrom meniere, penyakit meniere dan vertigo perifer. Dosisnya: pada dewasa : 1-2
tablet, 3 kali sehari, dosis disesuaikan dengan umur penderita dan keadaan penyakit.

Imunos 2 x 1

Golongan suplemen gizi untuk merangsang sistem kekebalan tubuh selama infeksi akut dan
kronis.

Bumgeton 2 x 200

Merupakan Carbamazepine, cara kerjanya menyebabkan penghambatan pada kanal-kanal


sodium bergerbang voltase dan yang bergantung pada pemakaian. Cara pemberian: Oral,
lewat rektum. Indikasi: Carbamazepine dapat digunakan untuk segala jenis epilepsi kecuali
kejang absence. Juga untuk nyeri neuralgik. Kontraindikasi: Seperti phenytoin,
carbamazepine adalah pemicu enzim yang kuat dan sehingga dapat menyebabkan interaksi
obat serupa. Efek-efek samping carbamazepine adalah sangat terbatas pada sistem syaraf,
yaitu berupa ataxia, nystagmus, dysarthria, vertigo, dan efek sedatif.

Anxiblox 2 x 5 g

Merupakan Clobazam dengan indikasi ansietas dan kondisi psikoneurotik yang berhubungan
dengan ansietas. Efek sampingnya, lelah, mulut kering, konstipasi, kehilangan nafsu makan,
mual, pusing, atau tremor halus jari tangan. Kadang-kadang: gelisah, iritabel dan otot lemah.
Dosisnya Dewasa 20-30 mg/hr, dalam dosis terbagi.

Prognosis

Death : Dubia ad bonam


Disease : Dubia ad bonam
Disability : Dubia ad bonam
Discomfort : Dubia ad bonam
Dissatisfaction : Dubia ad bonam
Distitution : Dubia ad bonam
FOLLOW UP (1 April 2014 7 April 2014)

1 April 2014 2 April 2014


Terkadang terasa nyeri, kaku dan kesemutan pada
anggota gerak sebelah kiri (+). Skala nyeri 8 dari
10. Nyeri kepala (-), mual muntah, pusing, sesak Nyeri dan pegel pada bagian kaki sebelah kiri.
S nafas disangkal Terkadang kepala agak nyeri sampai dengan
leher sebelah kiri
RPO (-), demam (-)

TTV : TD : 120/ 80, RR 18x/menit, T : 36,4oC, HR :


B
80x/menit KU : Tampak sakit sedang,
B B
B B
B B
B G
G K
O K 5/5/5
5/5/5 5/5/5
5/5/5 5/5/5
5/5/5 5/5/5
5/5/5
TTV : TD : 120/ 80, RR 18x/menit, T : 36oC,
HR : 88 x/menit
kesadaran : CM, GCS : E4V5M6

A Myalgia et sinistra Hemiparese sinistra pararoksismal


Injeksi Teranol 2 x 25 mg
Injeksi Lactopain 3 x 30 mg
Injeksi Ranitidin 2 x 1
Injeksi lapibal 2 x 1amp
Injeksi Kalmezo 1 x 1
P
Diazepam 2 mg 0-1-1
Anxiblox 2 x 15 mg

Bamgetol 2 x 100 mg
Ket Lab darah lengkap

4 April 2014 5 April 2014


Tungkai kiri masih pegal, nyeri sudah berkurang, Kepala dan leher agak nyeri, bahu dan kaki
S
pusing (+), mual (+) sebelah kiri agak pegel
B B
B B
B B
B B
G G
K K
O 5/5/5 5/5/5
5/5/5 5/5/5
5/5/5 5/5/5
5/5/5 5/5/5

TTV : TD : 110/ 80, RR 20x/menit, T : 36,5oC, HR : TTV : TD : 120/ 80, RR 18x/menit, T : 36oC,
76x/menit HR : 80 x/menit

A Hemiparese sinistra pararoksismal Hemiparese sinistra pararoksismal

Injeksi Teranol 2 x 25 mg Injeksi Teranol 2 x 25 mg

Injeksi Ranitidin 2 x 1 Injeksi Ranitidin 2 x 1

Injeksi Kalmezo 1 x 1 Injeksi Kalmezo 1 x 1


P
Anxiblox 2 x 15 mg Anxiblox 2 x 15 mg

Bamgetol 2 x 100 mg Bamgetol 2 x 100 mg

Ket Hasil ct-scan keluar Rencana Lab (LED), TORCH

7 April 2014
S Kepala pusing berputar setelah pemberian obat,
beberapa jam kemudian baikan, kaki masih sedikit
kemeng-kemeng
B
B
B
B
G
K
O 5/5/5
5/5/5
5/5/5
5/5/5

TTV : TD : 120/ 80, RR 18x/menit, T : 37oC, HR :


88x/menit

A Meningoencephlitis
Clinolelc/RL/clinimix

Mertigo 3 x 1

Injeksi Ceftriaxone 2 x 2 gr

Injeksi Dexametason 3x 1 amp

Injeksi Teranol 2 x 35 mg

Injeksi Ranitidin 2 x 1
P
Injeksi Kalmezo 1 x 1

Injeksi Suhobion 1 x 1

Anxiblox 2 x 5 mg

Bamgetol 2 x 200 mg

Imunos 2 x 1

Ket BLPL + px LED

Daftar Pustaka

Adams, RD, Victor, M Rpper, AH, 2000. Principles of Neurology, 6th ed., McGraw- Hill,
New York.
Barret KE, Barman SM, Boitano S, Brooks HL. Review of Medical Properties of Sensory
Receptors. Amerika Serikat: Mc Graw Hill. P. 149-50.

Budiman G. Basoc Neuroanatomical Pathways: Somatic Nervous System. 2nd ed. Jakarta:
Penerbit FKUI: 2009.p. 4-13.

Greenberg, R, Singh, SN., Handbook of Neurosurgery, 5th ed., Greenberg Graph. Inc.,
Lakeland, Florida.

Lindsay, KW., Bone I., Callander, R., 2001. Neurology and Neurosurgery Illustrated, 33th
ed., Churcill, Livingstone.

Markam, S, 2000, Kapita Selekta Neurologi, Harsono (ed), Gajah Mada Universitas Press,
Yogyakarta.

Mardjono, M. Sidharta.P. 2000 Neurologi Klinis Dasar, edisi keenam, PT. Angkasa Pura II
Dian Rakyat, Jakarta.

Nuartha, A., 2000, Nyeri kepala dan wajah, dalam Harsono (editor ), Kapita Selekta
Neurologi, Edisi kedua , Gadjah Mada University Press, New York.

Sidharta, priguna. 2000. Neurologi Klinis Dasar Ganongs. Dian Rakyat : Jakarta

Zuger, A, Lowy, FD, 2000. Tuberculose of the Central Nervus Sistem, in Scheld, WM,
Withly, RJ, Durack, DT, 2000, Invection of the Central Nervus System, Raven Press, New
York.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges M.E, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperwatan Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit buku
Kedokteran EGC, Jakarta

Harsono, 2000, Kapita Selekta Neurologi, Gajah Mada University Press,


Yogyakarta

Harsono, 1999, Buku Ajar Neurologi Klinis, Gajah Mada University Press,
Yogyakarta

McCloskey, J.C, Bulechek, G.M, 1996, Nursing Intervention Classification


(NIC ),Mosby, St. Louis

Nanda, 2001, Nursing Diagnosis : Definitions and Classification 2001-2002,


Philadelphia

Underwood, J.C.E, 2000, Patologi Umum dan Sistemik, Penerbit buku kedokteran
EGC, Jakarta
No Intervensi Rasional
1 Pantau dan catat tanda- Adanya tanda awal nyeri
tanda awal nyeri kepala, sering terjadi pada
penurunan, lokasi, pasien migren sehingga
lamanya, dan tanda-tanda dapat diidentifikasi
lainnya upaya pencegahan
2 Anjurkan pasien untuk Mengetahui reaksi
mencatat perkembangan pemberian obat apakah
tingkat nyeri ada perubahan
penurunan tingkat nyeri
3 Anjurkan pada klien Menghindari stimulus
untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan
aktivitas yang berat dan rasa nyaman.
menambah waktu
istirahat
4 Massage kepala dan leher Meningkatkan relaksasi
dan menurunkan
ketegangan otot
5 Kompres hangat atau Kompres dingin dapat
dingin pada daerah mengakibatkan
kepala vasodilatasi, sehingga
dapat menurunkan nyeri
kepala. Kompres hangat
dapat meningkatkan
sirkulasi darah dan
menurunkan tegangan
otot
6 Kolaborasi pemberian Mengurangi rasa nyeri
obat: skala ringan hingga
aspirin dengan sedang dan rasa mual
metoklopramid

1. Diagnosa : Tidak efektifnya koping individu berhubungan dengan nyeri dan


perubahan gaya hidup

Tujuan : Koping individpu menjadi efektif


Kriteria hasil : Pasien menyatakan mengerti cara mengatasi nyeri kepala yang benar
Perubahan perilaku pasien kearah positif
Pasien mengatakan lebih nyaman

No Intervensi Rasional
1 Observasi perilaku pasien dan Pasien dengan nyeri kepala akan
perubahan yang terjadi saat nyeri terjadi perubahan prilaku, seperti
sensitive, marah, depresi
2 Pantau mekanisme koping pasien saat Menentukan efektifitas koping
terjadi serangan
3 Dorong pasien untuk mengekspresikan Menyampaikan perasaan dapat
masalah yang dihadapi sekarang seperti mengurangi masalah
rasa takut
4 Berikan support dan berikan informasi Membangkitkan kemampuan untuk
yang realistik mengurangi rasa nyeri

1. Diagnosis : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan suplai O2 di


seluruh tubuh

Tujuan : Toleransi aktifitas


Kriteria hasil : Kelemahan berkurang
Toleransi terhadap aktifitas meningkat
Mampu beraktifitas secara mandiri

No Intervensi Rasional
1 Rancang jadwal harian pasien Mencegah aktivitas pasien yang
berlebihan
2 Tingkatkan aktifitas secara Meningkatkan tingkat toleransi
bertahap dengan periode istirahat aktivitas pasien
diantara dua aktifitas misalnya
duduk dulu sebelum berjalan
setelah tidur
3 Observasi respon individu Evaluasi kelemahan dan tingkat
terhadap aktivitas toleransi aktivitas pasien
4 Bantu aktivitas dan motivasi Motivasi dapat meningkatkan
klien untuk melakukan aktivitas keinginan sehingga pasien lebih
sesuai kemampuan percaya diri dalam
melaksanakan aktivitasnya
secara mandiri.

Anda mungkin juga menyukai