Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Ortosis adalah suatu alat Bantu / alat terapi dalam bidang Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi yang dalam penggunaannya diletakkan secara kontak langsung dengan
permukaan bagian / segmen tubuh tertentu untuk meningkatkan fungsi bagian / segmen
tubuh tersebut.1

Bangsa Mesir telah mencoba membuat berbagai jenis ortosis sejak 2700 Sebelum
Masehi untuk melindungi bagian tubuh tertentu dari trauma atau untuk mencegah
kerusakan lebih lanjut. Pembuatan baju perang di abad pertengahan juga telah menjadi
inspirasi bagi cikal bakal pembuatan ortosis spinal. Ambroise Paree, seorang ahli bedah
Perancis, adalah seorang pionir dalam hal ortosis dan prostesis. Lorenz Heister pada abad
ke 15 membuat ortosis spinal pertama dengan komponen-komponen yang dikenal saat ini.
Pada abad ke 19, Hugh Owen Thomas, seorang dokter ahli bedah ortopedi mulai
mengembangkan berbagai jenis ortosis servikal. 3 Ortosis mulai dikembangkan secara
ilmiah melalui berbagai studi dan penelitian di awal abad ke 20, dalam usaha pencegahan
dan pengurangan dampak Poliomyelitis. Perkembangan ortosis bertambah maju sejalan
dengan meningkatnya populasi penderita cedera medula spinalis dan trauma / penyakit lain
dengan paralisis atau disabilitas, termasuk peningkatan populasi usia lanjut yang banyak
membutuhkan berbagai alat bantu / ortosis.2,3

Penggunaan suatu ortosis merupakan keputusan medis / berdasarkan indikasi medis


yang harus diresepkan oleh seorang dokter yang kompeten dalam bidang ilmu kedokteran
terutama ilmu kinesiologi, biomekanika anatomi, yang memahami mekanisme dan
penyakit atau kelainan termasuk neurofisiologis dan patomekanika yang mendasari
disabilitas penderita dan juga memahami sifat-sifat fisika dari materi atau bahan yang
digunakan dalam pembuatan ortosis tersebut. Dokter yang mendalami bidang Ilmu
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi harus memahami kondisi fisik pasien dan
mengkorelasikan dengan kepribadian pasien yang akan mempengaruhi gaya hidup pasien
untuk mencapai kemandirian dalam aktivitas hidup sehari-hari.4

1
BAB II

ORTOSIS

II.1 DEFINISI
Ortosis adalah suatu alat Bantu / alat terapi dalam bidang Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi yang dalam penggunaannya diletakkan secara kontak langsung dengan
permukaan bagian / segmen tubuh tertentu untuk meningkatkan fungsi bagian / segmen
tubuh tersebut. Secara garis besar definisi ini juga meliputi berbagai alat Bantu lain yang
dibutuhkan dalam bidang Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, seperti kursi roda,
sepatu / alas kaki khusus, alat Bantu jalan, makan dan alat-alat lain termasuk prosthesis
yang dibutuhkan untuk menjalankan aktifitas kehidupan sehari-hari.1,2

II.2 FUNGSI

Kelainan yang memerlukan ortosis secara garis besar meliputi kelainan pada sistim
muskuloskeletal dan neuromuskular seperti kasus-kasus ortopaedi, reumatik dan
neurologik. Khusus untuk kelainan neuromuskular perlu diperhatikan berbagai pola
motorik rumit akibat integrasi abnormal yang terutama timbul pada sindroma upper motor
neuron, seperti spastisitas, klonus, refleks, abnormal segmental dan suprasegmental,
dibanding dengan hanya kelemahan otot pada sindroma lower motor neuron. Selain itu
pula, pada kerusakan susunan saraf biasanya timbul kombinasi berbagai gejala dan
symptom seperti gangguan memori, visual, ataxia, paralisis / plegia, spastisitas, gangguan
sensoris dan lain-lain.4

Fungsi ortosis dapat berupa salah satu atau kombinasi dari:5

- menunjang daerah yang sakit dan mengurangi nyeri;

- membantu otot / segmen yang lemah / asistif;

- membatasi / mengendalikan gerak / imobilisasi / proteksi sendi;

- mengurangi pembebanan;

- mengaplikasi traksi / tarikan

- memperbaiki fungsi biomekanik sendi;

2
- substitusi suatu fungsi tertentu;

- tempat ikatan peralatan asistif;

- mencegah / mengkoreksi deformitas.

Diharapkan ortosis yang baik akan memberikan manfaat, walaupun amat sulit
mendekati kriteria ideal atau sempurna, yaitu:5

- menghasilkan pola gerakan senormal mungkin dan pencegahan gerakan


abnormal yang tidak dikehendaki;
- stabilitas sendi adekuat;
- penggunaan energi seminimal mungkin dalam pemakaiannya;
- distribusi gaya yang baik;
- kenyamanan dalam pemakaian;
- mudah dipakai dan dilepas oleh penderita sendiri;
- biaya terjangkau, tidak cepat rusak, secara kosmetis baik serta mudah untuk
diperbaiki dan dimodifikasi.

II.3 KLASIFIKASI5
Secara tradisional, orthosis diklasifikasikan menjadi:
1. Statik
ortosis adalah rigid dan memberi support tanpa gerakan. Sering digunakan
untuk mengistirahatkan suatu segmen / bagian tubuh pasca trauma, bedah, atau
untuk sendi dan tendon dengan peradangan akut. Jenis ini adalah ortosis yang
khas mengikuti bentuk yang mengakomodasi posisi statik yang ada. Ortosis
statik dapat dibuat tidak mengikuti bentuk apabila diperlukan traksi untuk
peregangan kontraktur sendi atau otot.
2. Dinamik
ortosis yang memberikan gerakan pada derajat tertentu. Istilah ortosis dinamik
sering disalahartikan dengan ortosis fungsional yang adalah ortosis untuk
memperbaiki fungsi terlepas dari ada- atau tidak ada-nya pemberian gerak atau
bagian ortosis yang bergerak. Seringkali ortosis dinamik terutama digunakan
untuk meregangkan kontraktur dan tidak memberikan ketrampilan fungsional.

Ortosis fungsional sering memanfaatkan gelang karet, pegas, sendi yang


bergerak, kabel, atau baterei untuk menambah fungsi. Semua ini digunakan
lebih sering pada pasien dengan disfungsi sisa / residu yang permanen pasca
cedera, pada kondisi pemulihan yang lambat, atau pada penyakit kronis. Banyak
ortosis fungsional sangat kompleks, memerlukan pengepasan dan desain yang
tepat dan lebih sulit dibuat dibandingkan ortosis dinamik yang sederhana.5

3
II.4 BIOMEKANIKA5
Prinsip mekanisme kerja sistim ortosis yaitu biomekanika, berupa three point
pressure system, yang berdasar pada sistim gaya yang bekerja pada segmen tubuh tertentu.
Besarnya gaya yang berasal dari ortosis diimbangi dan dibatasi oleh toleransi permukaan
tubuh yaitu kulit dan jaringan subkutan.

Peralatan orthotik menerapkan gaya gaya pada ekstremitas yang dipasang brace.
Suatu gaya dapat digambarkan menurut: besarnya, arah dan titik aplikasi. Pergerakan dapat
berupa baik: rotasi, translasi, atau kombinasi keduanya. Rotasi merupakan pergerakan
angular dan translasi merupakan pergerakan tanpa perubahan orientasi angular. Torsi
merupakan kekuatan dari suatu kecenderungan rotasi. Efektifitas gaya dalam menyebabkan
pergerakan sendi tergantung baik pada titik aplikasi ataupun jarak dari aksis rotasi dan
pada besarnya rotasi.

Pertimbangan dalam preskripsi ortosis adalah:

- sensasi; alat ortosis tidak memberikan sensasi, bahkan seringkali menutup


daerah kulit dan mengurangi umpan balik sensoris, terutama pada aspek volar
tangan;
- gravitasi; yang memainkan peran penting pada ortosis extremitas atas, terutama
pada sendi dengan massa gerak terberat seperti sendi bahu, karena gravitasi dan
beban dapat mengganggu sendi;
- kenyamanan; tekanan harus didistribusikan pada daerah yang seluas mungkin
untuk kenyamanan dalam pemakaian ortosis;
- sederhana; desain yang sederhana untuk memudahkan pemakaian ortosis;
- ketahanan (durability); tidak mudah rusak dan pemeliharaannya mudah;
- utilitas / penggunaan: ortosis harus bermanfaat dan mencapai tujuan;
- toleransi; makin rumit alat ortosis makin sulit diterima oleh pasien dan
cenderung tidak dipakai;
- kosmetik; penampilan juga penting terutama untuk extremitas atas / tangan.

BAB III

ORTOSIS EKSTREMITAS ATAS

III.1 ANATOMI FUNGSIONAL5,6,7

4
Sendi glenohumeral dikendalikan oleh dua kelompok otot:

1. Otot otot besar ang berorigo pada torak dan berinsersi pada humerus dan
deltoid.
2. Otot otot yang lebih kecil yang berorigo pada scapula dan berinsersi pada
rotator cuff pada kaput humeri dan kolum humeri.

Kombinasi aksi dari kelompok otot rotator pendek (supraspinatus, infraspinatus,


teres minor dan subskapularis) menarik kaput humeri ke dalam fossa glenoid dan
memfiksirnya, mendepresi dan rotasi kaput humeri, dan bersamaan dengan kerja otot
deltoid akan membantu abduksi lengan.

Otot otot individual bagi ibu jari dan kelingking memungkinkan kedua jari
tersebut bermanfaat dan unik dalam mobilitas. Jari I, II, II seringkali dipergunakan sebagai:
three jaw chuck untuk grasp dengan: ujung jari, pinch lateral atau palmar.

III.2 KLASIFIKASI ORTHOSIS ALAT GERAK ATAS5,6,7

Sesuai dengan anatomi alat gerak atas, alat bantu/ orthosis dapat dibagi menjadi:

1. Orthosis statis
a. Bahu : Splint airplane

Gambar1. Airplane Splint.

b. Elbow : Strap atau turnbuckle

5
Gambar 2. Strap dan turnbuckle elbow orthosis.

c. Wrist
Plaster cock up splint pada RA, pada permukaan volar forearm dan
wrist dan peralatan diposisikan pada letaknya dengan menggunakan 3
buah strap di atas prosesus stiloideus os radius dan ulna, metacarpal
dan pada pertengahan forearm. Jika dipasang dengan benar, peralatan
ini dapat membantu mencegah atau memperbaiki sublukasi tulang
tulang karpalia kea rah volar dari os radius dan deviasi ulnar tangan
pada pergelangan tangan/wrist.

Orthose spiral juga dapat menstabilisasi wrist dengan membungkus


suatu strap metal atau plastic dan telapak tangan hingga pertengahan
forearm dalam 1 putaran.

Gambar 3. Cock-up splint.

d. Tangan
Ortosis ortosis tangan static bervariasi luas dalam disain, sesuai
dengan manfaatnya. Bias dipergunakauan untuk imobilisasi persendian
jari atau untuk meningkatkan fungsi dengan cara memegang jari jar
pada posisi yang lebih baik.

6
Luka bakar pada dorsum manus cukup diberikan splint yang memegang
jari jari pada suatu lempengan dengan persendian interfalang dalam
ekstensi, persendian matakarpofalangeal dalam fleks penuh, ibu jari
dalam abduksi dan wrist sedikit dorsifleksi.

Jika persendian metakarpofalangeal meradang akut, seperti pada RA,


persendian ini harus ditunjang pada posisi netral dengan lempeng volar
yang meluas kea rah lipatan fleksor dari sendi PIP. Penunjang ini paling
mudah didapatkan dengan menggunakan splint dari plastic yang
heatmoldable yang meluas hingga ataupun melampaui permukaan volar
wrist dan memiliki bibir pada batas ulnar yang cukup tinggi untuk
mencegah deviasi ulnar dari jari jari da sebuah strap dorsal tepat di
belakang kaput metacarpal untuk mengurangi sublukasi volar dari
falang.

Gambar 4. Splint tangan.

Karena adanya pertimbangan berbagai cara untuk meningkatkan fungsi


tangan yang lemah atau paralisa parsial, maka terdapat dua klasifikasi
dasar orthose yang biasa dipergunakan:

1. Simple hand orthosis


2. Flexor hinge hand orthosis

Simple hand orthosis merupakan suatu alat yang terdiri dari pita logam
atau plastic yang berjalan baik pada permukaan dorsal tangan dari
thumb web hingga volar metacarpal IV atau pada bagian volar yang
berasal dari permukaan dorsal metakarpal II melintasi telapak tangan
menuju permukaan dorsal metacarpal IV (gambar 26-2). Masing
masing orthose melekat pada tangan dan dicegah menggelincir dengan
menggunakan strap yang mengelilingi permukaan volar dari wrist.
Suatu batang bulat (rolled bar) menonjol di antara metakrpal I & II
yang mencegah orthose bergeser kea rah proksimal. Jika bar ini
diperbesar sehingga membentuk huruf C maka bar tersebut dapat
dipergunakan untuk memegang thumb dalam abduksi terhadap telapak
tangan. Perluasan orthose dasar di atas metacarpal I akan memegang

7
thumb pada opsisi. Jika thumb lunglai, maka dapat dipegang dengan
sepasang cincin yang dihubungkan dengan bar pada simple hand
orthose tersebut. Sebuah bar yang diletakkan pada bagian dorsal di atas
falang proksimal akan mencegah hiperekstensi persendian
metakarpofalangeal, lagipula lumbrical bar ini memungkinkan long
finger extensor beraksi mengekstensikan persendian interfalangeal.

Unit unit lain yang bias ditambahkan pada simple hand orthosis
mempergunakan pegas pegas atau bagian bagian yang dapat
bergerak dan akan dibahas dibawah (Functional Orthoses).

e. Jari
Ortosis jari statis dapat memberikan stabilisasi sendi sendi
interfalangeal secara individual maupun secara kombinasi. Mereka
biasanya dibuat dari stainless steel berbentuk cincin lengkap maupun
parsial, dipersatukan oleh bar metal sempit. Juga dapat spiral yang
serupa dengan yang dipergunakan pada pergelangan tangan. Suatu sendi
interfalang yang tidak stabil dapat dicegah dari hiperekstensi dan dapat
stabil dengan salah satu dari peralatan tersebut.

Gambar 5. Finger orthosis.

2. ORTOSIS FUNGSIONAL
Selain mengimobilisasi sendi atau membatasi pergerakannya sebagaimana
yang dilakukan oleh orthose statis, suatu orthose fungsional meningkatkan
fungsi dengan menggunakan tuas tuas, katrol, sendi sendi yang dapat
bergerak dan alat alat penyimpan tenaga seperti: per, pita karet, baterai dan
tangki berisi gas yang dikompresi.

a. Ortosis bahu fungsional


Ortosis ortosis fungsional untuk meningkatkan aksi aksi bahu belum
terbukti secara umum bermanfaat dan berhasil. Beberapa orthose yang
bertumpu pada Krista iliaka dan memiliki upright yang memanjang
hingga aksila atau ke lateral kea rah bahu telah dibuat dan diperbaiki

8
pada antara 1950 hingga 1970. relatif mereka merupakan system
eksoskeletal yang rumit dan telah ditinggalkan karena tidak praktis dan
sulit dalam fitting, serta hanya memberikan tambahan fungsi yang
terbatas.

Gambar 6. Dinamic shoulder orthosis.

b. Ortosis siku fungsional


Ortosis ortosis fungsional dapat dibuat untuk kelemahan dan
instabilitas siku. Biasanya terdapat sendi pivot yang sejajar dengan
aksis sendi siku dan diperoleh stabilitas dengan adanya manset diatas
dan di bawah siku. Pita pita karet, per dan gas yang dikompresi bias
dipergunakan untuk membantu fleksi dan ekstensi; umumnya ekstensi
dapat diperoleh melalui tarikan grafitasi dan hanya fleksi yang
membutuhkan bantuan. Jika fleksor siku tidak dapat melawan grafitasi
dan dipergunakan bantuan, maka orthose yang dipergunakan harus
dilengkapi mekanisme pengunci pada siku yang diperlukan untuk
memelihara posisi fungsional praktis untuk membawa beban. Bantuan
fleksi siku (elbow flexion assst) juga bias dilengkapi dengan kabel
Bowden, yang memiliki ruang kabel yang melekat pada manset di
sekeliling lengan; kabelnya memanjang membentuk figure eight
harness disekeliling bahu hingga bagian dari orthose di bawah siku.
Tarikan pada kabel akan menyebabkan fleksi siku, dan mekanisme
kunci siku yang diaktifkan oleh elevasi scapula akan memungkinkan
beberapa posisi stabil dari siuku. Suatu tabung kosong dari busa
polyurethance dapat diergunakan untuk:

1. Memberikan stabilitas moderat


2. Memungkinkan fleksi siku secara aktif
3. Memberikan bantuan untuk ekstensi siku

Busa yang ditekan akan berupaya untuk kembali pada bentuknya


semula. Untuk kemudahan memakai dan melepas maka tabung tersebut

9
tipis dan mengecil kea rah bawah pada sisinya dan menggunakan
pengikat Velcro.

Gambar 7. Dinamic elbow orthosis.

c. Ortosis lengan bawah yang seimbang


Mungkin merupakan alat yang paling berguna untuk membantu baik
fungsi siku maupun bahu pada keadaan keadaan kelemahan yang
nyata pada ekstremitas atas. Dapat diletakan pada kursi roda atau pada
tubuh seseorang setinggi Krista iliaka. Terdiri dari suatu palung
penyangga dimana bagian proksimal lengan bawah bersandar, suatu
system pivot dan pengikat di bawah palung yang dapat disesuaikan dan
sebelumnya sehingga pasien dapat belajar bagaimana menghasilkan
gerakan baik pada siku maupun lebih sedikit pergerakan pada trunk atau
gelang bahu.

d. Ortosis pergelangan tangan fungsional


Orthose orthose pergelangan tangan fungsional jarang dipergunakan
tanpa disertai orthose orthose tangan. Jika hanya diperlukan untuk
membantu ekstensi pergelangan tangan saja, dapat dipergunakan palung
volar dari metal atau plastik pada bagian volar lengan bawah yang
dilekatkan dengan pita Velcro yang terletak di sekitar bagian dorsum
lengan bawah. Iengsel pivot yang terletak di sisi pergelangan tangan
harus diletakkan pada bagian lengan bawah dan pada bar palmer. Per
atau pita pita karet melekat pada upright dorsal yang pendek pada
kedua sisi engsel pergelangan tangan dan dapat disetel sehingga dapat
membantu ekstensi pergelangan tangan.

Gambar 8. Dinamic wrist orthosis.

10
Sekelompok peralatan dikenal sebagai wrist driven, flexor hinge hand
splints, telah dikembangkan dan akan dibicarakan pada bagian orthose
tangan fungsional, karena mereka mempergunakan tenaga pergelangan
tangan untuk fungsi jari jari khususnya dalam prehensi.

e. Ortosis tangan fungsional


Ortosis ortosis tangan fungsional dapat dibuat dengan menggunakan
orthose tangan sederhana sebagai dasar dan ditambah satu atau lebih
alat alat bantu yang khusus.

Suatu swivel thumb atau penjepit separuh cincin yang mengitari falang
proksimal ibu jari dimana lengannya berpivot/berputas pada suatu titik
dekat dengan kaput metacarpal II, akan memungkinkan ibu jari untuk
mengayun pada lengkung yang tetap sehingga beroposisi dari ekstensi
dan abduksi. Lengan pivot yang kau dapat diganti dengan kawat pegas,
dan sehingga ibu jari tidak hanya dapat berpivot tetapi juga dapat secara
volunteer diaduksikan; abduksi dibantu oleh adanya pegas.

Suatu alat bantu interosea dorsal yang pertama juga melekat dekat
dengan kaput metacarpal II dan mempergunakan kawat pegas dan
cincin plastic untuk menarik jari telunjuk ke arah abduksi; cincin plastic
bias diletakkan baik pada falang proksimal maupun medius.

Suatu alat bantu ekstensi sendi inter-falang ibu jari adalah serupa
dengan yang diatas tetapi melekat dekat dengan kaput metacarpal I dan
memberikan tarikan pada falang distal ibu jari.

Bantuan pada ekstensi interfalang pada tiadanya otot intrinsic tangan


dan otot otot ekstensor jari jari yang panjang (longus) didapatkan
dengan melekatkan suatu alat berbentuk banjo pada orthose tangan dan
menarik pada falang distal melalui cincin cincin plastik yang melekat
pada pita karet yang mengingkat crossbar dari banjo tersebut.
Sayangnya alat ini tidak praktis dan gaya membantu tidak konstan
karena tegangan pita karet meningkat dengan diregangkan.

Bantuan ekstensi metakarpofalangeal tidak lagi membutuhkan banjo.


Hal ini dilakukan dengan suatu bar yang serupa dengan lumbrical bar
tetapi diletakkan pada permukaan volar falang proksimal dengan pegas
koil yang kaku yang memegang kedua ujung bar pada orthose tangan.
Pegas pegas tersebut harus diletakkan untuk mendorong falang
proksimal pada ekstensi sendi metakarpofalangeal dan untuk
memungkinkan flaksi jari secara penuh.

11
Gambar 9. Finger orthosis.

f. Ortosis engsel fleksor tangan


Ortosis ortosis tangan dengan berbagai perlekatan yang telah
digambarkan bekerja baik pada kelemahan tangan ringan hingga
moderat, terisolir, atau pada fungsi tangan yang abnormal. Jika paralisa
atau kelemahan tersebar luas atau berat, dianjurkan untuk menggunakan
orthose yang dibuat dengan prinsip engsel fleksor tangan. Prinsip ini
hanya memungkinkan pergerakan metakarpofalangeal, memberikan
stabilisasi persendian interfalangeal jari II dan III dan sendi
interfalangeal maupun metakarpofalangeal ibu jari (menciptakan suatu
prehensi three-jaw chuck dan bisa mempergunakan berbagai sumber
tenaga bantuan. Suatu tangan dengan persendian metakarpofalangeal
yang tidak stabil, sebagaimana yang terlihat pada RA, bias hanya
memerlukan penyerasian (alignment) oleh suatu finger-driven flexor-
hinge hand orthosis. Otot otot yang intak dipergunakan untuk fleksi
dan ekstensi persendian metakarpofalangeal, dan orthose tersebut
menuntun jari jari pada pola pergerakan yang diinginkan.

Gambar 10. Ortosis engsel fleksor tangan

12
III.3 EVALUASI5,6,7
Apa yang perlu diketahui seorang dokter dari pasien dalam upaya meresepkan
orthose untuk ekstremitas atas. Mula mula dalah riwayat dari masalah yang sekarang
dihadapi dan informasi tentang kondisi lain yang mungkin mempengaruhi kemampuan
pasien untuk menggunakan orthose. Hal ini menjadi dasar dari informasi dasar. Penilaian
dari ekstremitas atas yang terganggu meliputi penilaian yang akurat mengetahui:

1. LGS seluruh persendian pada ekstremitas tersebut.


2. Kekuatan otot.
3. Sensibilitas
4. Keadaan kulit yang menutupi.
5. Nyeri.
6. Kebutuhan vokasional dan non vokasional.

Dari suatu titik berpijak umum, penting untuk mencoba memperkirakan toleransi
pasien terhadap peralatan dan derajat mobilitasnya. Beberapa orang tidak cukup punya
kesabaran atau motivasi untuk mempergunakan peralatan peralatan yang rumit, seperti
pengendali mioelektrik, orthose bertenaga motorik, dan mereka akan paling baik jika
dilengkapi dengan peralatan yang lebih sederhana untuk memperoleh fungsi yang lebih
terbatas. Orang orang dengan mobilitas menggunakan kursi roda mungkin memerlukan
orthose tangan yang berbeda dibandingkan pada yang dipergunakan oleh orang yang bias
ambulasi dengan berjalan karena mereka harus mengayuh kursi roda dan orthose harus
tidak mengganggu mobilitas mereka.

III.4 PERESEPAN5,6,7

Kebutuhan kebutuhan pasien harus diketahui dan manfaat peralatan harus


ditegaskan secara hati hati. Peralatan yang dimaksud harus: nyaman, memberikan
kosmetik yang cukup, sesuai dengan kebutuhan yang sesungguhnya, relative tidak mahal,
dan ringan.

Kondisi tertentu yang biasanya paling sering membutuhkan ortosis, meliputi: lesi
LMN pada setiap tingkatan; lesi UMN, khususnya lesi pada medulla spinalis dan korteks
serebri; luka baker; dan arthritis. Ortosis ortosis untuk berbagai kondisi ini berbeda
sangat besar, tetapi seluruhnya berdasarkan pada prinsip prinsip untuk memberikan
imbilisasi, memperbaiki alignment, atau membantu atau menahan fungsi.

Lesi LMN

Interupsi komplit pleksusu brakialis, baik karena avulse seluruh akar sensorik
maupun motorik dari pleksus atau karena pemotongan seluruh pleksusu, sebagaimana yang
biasanya terjadi pada kecelakaan sepeda motor dan luka tembak, tidak dapat ditolong
dengan orthose yang saat ini tersedia. Tiadanya tenaga motorik pada bahu, elbow, wrist dan
tangan memerlukan orthose yang tidak praktis; rumit, bertenaga motor, berpengendali

13
computer; dan peralatan demikian masih bersifat eksperimental. Erbs palsy, saat ini
diberikan penatalaksanaan tanpa splinting walaupun mungkin terdapat beberapa anjuran
untuk menggunakan orthose airplane untuk memegang lengan dalam abduksi dan rotasi
eksternal.

Lesi n. muskulokutaneus bias menyebabkan kelemahan yang jelas pada fleksi


elbow sehingga diperlukan bantuan orthose untuk fleksi elbow.

Lesi n. ulnaris pada bagian distal forearm, paling baik diterapi dengan suatu orthose
tangan dengan lumbrical bar, dimana dimungkinkan ekstensi interfalang dan persendian
metakarpofalangeal oleh kerja m. ekstensor digitorum longus. Untuk memperkuat pinch
bias ditambahkan suatu first dorsal interosseus assist. Lesi n. ulnaris diatas elbow
menyebabkan imbalans tarikan fleksor wrist namun jarang memerlukan orthose tangan
yang memanjang hingga wrist.

Lesi n. medianus pada wrist menyebabkan hilangnya abduksi dan oposisi ibu jari
secara aktif; bias diterapi dengan hand orthose yang dilengkapi dengan spring-swivel
thumb assist. Karena abductor ibu jari masih aktif, tidak dianjurkan menggunakan swivel
thumb dengan rigid post. Lesi n. medianus di atas elbow menyebabkan masalah yang
serius dengan terjadinya paralisa pada otot fleksor untuk ibu jari, paralisa untuk abduksi,
paralisa untuk oposisi dan juga radial wrist flexion dan seluruh jari jari, kecuali bagi jari
jari yang mendapatkan otot otot yang diinervasi oleh n. ulnaris yaitu sebagian m. flexor
digitorum profundus. Di sini precision grip hilang, power grip kekuatannya sangat
menurun. Dapat dipergunakan wrist driven flexor hinge hand orthosis, tetapi pasien
mungkin lebih menyukai tanpa menggunakan peralatan, karena prehensi lateral masih
dimungkinkan melalui kerja otot yang diivervasi oleh n.ulnaris.

Lesi n. radialis di atas elbow menyebabkan paralisa wrist, thumb, dan ekstensor jari
jari. Yang paling kurang ketidak praktisannya, kebanyakan peralatan fungsional adalah
suatu wrist hand orthosis dengan side wrist pivot hinges, wrist dorsiflexion assist, spring
loaded volar lumbrical bar, untuk membantu ekstensi metakarpofalangeal, dan suatu
stabilisator interfalang ibu jari.

Lesi pada dua atau lebih syaraf tepi secara bersamaan atau lesi parsial dari satu atau
lebih syaraf memerlukan evaluasi kehilangan fungsi yang teliti sehingga dapat diresepkan
peralatan yang tepat.

Lesi lesi UMN

Transeksi medulla spinalis daerah servikal dengan paralisa di bawah tingkat


kerusakan menyebabkan sparing tipe miotomal. Ekstremitas atas diinervasi oleh C4-8 dan
T1; sedangkan otot otot interossel dan lumbrikalis serta thenar dan hipothenar terutama
diinervasi oleh C8 dan T1, karenanya mereka akan mengalami paralisa pada lesi yang
menyisakan C7 dan di atasnya. Dalam kasus ini fungsi akan membaik dengan penggunaan
orthose tangan dengan lumbrical bar dan thumb post, tetapi kebanyakan orang dengan lesi

14
ini tampaknya lebih suka tidak memakai peralatan. Orang orang dengan sparing C6 akan
mendapat manfaat dari beberapa tipe wrist driven flexor hinge hand orthosis. Tenodesis
fleksor jari jari biasanya dilakukan jika fisioterapi tidak berhasil meregangkan otot
fleksor jari jari (flexor digitorum longus), dan bila orang tersebut akan menjadi lebih
fungsional sebagaimana jika diberikan orthose.

Sparing C5 menyebabkan forearm dan otot otot tangan paralisa ditambah dengan
hilangnya kemampuan ekstensi elbow dan melemahnya fleksor elbow. Fungsi terbatas
dapat diperoleh dengan palmar band yang dilengkapi dengan penjepit/clip, yang dapat
memegang beberapa peralatan kecil atau alat alat tulis. Suatu spiral wrist orthosis dapat
menstabilisasi wrist sehingga menambah fungsi peralatan yang dipegang pada palmar
band. Spiral wrist orthosis yang bisa diadaptasikan untuk memegang perkakas dan
peralatan. Suatu motor atau cable driven flexor hinge hand orthosis dapat memberikan
prehensi dan stabilitas pada wrist. Karena orang dengan tingkat lesi medulla seperti ini
biasanya menggunakan kursi roda elektrik, maka sumber listrik sudah tersedia dan
karenanya penggunaan motor driven menjadi cukup beralasan praktis.

Cedera medulla spinalis dengan hanya sparing C4 dan di atasnya akan


menyebabkan lengan, forearm dan tangan paralisa dan hanya tersisa bahu yang lemah.
Balanced forearm orthosis dapat bisanya memberikan placement hand dan peralatan yang
dipergunakan pada tingkat C5 akan memberikan fungsi tangan.

Sistem kendali lingkungan yang memungkinkan penderita cacat mengoperasikan


sejumlah peralatan bertenaga listrik tersedia dalam berbagai switch pengendali yang
merupakan interface antara orang cacat dengan sistem. Mereka bias sangat bermanfaat
pada cedera medulla spinalis level tinggi.

Peralatan yang dipegang dengan mulut, baik yang dipegang diantara gigi maupun
gusi, dapat dipergunakan untuk mengoperasikan peralatan peralatan seperti: mesin tik
elektrik, switch pengendali dan system pengendali lingkungan dan bias juga dipergunakan
untuk menulis dan melukis.

Kerusakan serebral yang menyebabkan hemiparese seringkali disertai dengan


edema distal dan spastic fisted hand. Suatu anatomical hand cone prefabrikasi dari plastic
bias bermanfaat. Juga tersedia dalam bentuk wirst hand cone (gambar 26-114). Untuk
mengurangi edema tangan, forearm dapat diletakkan pada suatu inclined slope dari suatu
busa poliuretan bergelombang.

Luka Bakar

Jika luka bakar merusak seluruh ketebalan kulit, dapat diramalkan akan terjadi
kontraktur. Deformitas total bisa dikurangi dengan menggunakan orthose static atau
fungsional sedini mungkin.

15
Luka bakar di aksila paling baik diterapi dengan memegang lengan dalam posisi
abduksi, khusunya setelah tandur kulit. Orthose logam atau plastic yang berbantalan yang
dapat disterilisasi harus disetel hingga memegang lengan pada abduksi maksimum.
Mungkin diperlukan pemakaian selama 4 minggu atau lebih.

Jika terjadi luka baker pada fossa antekubiti, ancaman terjadinya elbow flexion
contracture dapat diminimalkan dengan menggunakan logam berbantalan yang memegang
elbow pada ekstensi hingga terjadi penyembuhan luka.

Luka bakar pada tangan seringkali mengenai bagian dorsal, karena lengan biasanya
dipakai untuk melindungi wajah. Deformitas hiperekstensi metakarpofalangeal dan fleksi
pada persendian interfalangeal dapat dilawan dengan orthose wrist hand yang static, volar;
yang memegang wrist pada dorsifleksi 10o, metakarpofalangeal dalam fleksi penuh, dan
ekstensi interfalang. Kemudian, orthose tangan dengan rubber band metacarpofalangeal
flexion assist dan interphalangeal extension assist bisa diperlukan untuk memperbaiki
pergerakan. Jika telapak tangan terbakar, diperlukan imobilisasi dengan static dorsal
orthosis selama paling tidak 4 minggu.

Arthritis

Jika RA mengenai persendian tangan dan pergelangan tangan, berbagai orthose bias
dipergunakan. Sesuai dengan teori Smith dan rekan, tarikan flexor digitorum sublimis dan
profundus pada peresndian metakarpofalangeal bertanggung jawab untuk sebagian besar
dari terjadinya deformitas subluksasi volar dan ulnar drift dan dislokasi persendian
metakarpofalangeal. Berdasarkan pada teori ini, pada peradangan dan pembengkakan akut
dilakukan imobilisasi pada persendian metakarpofalangeal jari II hingga V;dan
dipergunakan orthose dari plastik yang heamoldable yang memanjang hingga persendian
interfalangeal proksimal, diletakkan pada bagian volar dan melintasi wrist hingga di
forearm. Orthose demikian harus secara cermat dibuat sesuai lekuk yang memberikan
tunjangan pada metacarpal dengan strap yang berbantalan dakron. Juga serupa dengan
yang disebutterdahulu, diberikan juga strap mencegah terjadinya subluksasi persendian ini.
Dengan mencegah devlasi ulnar tangan pada wrist dan jari V pada tangan, maka
kecenderungan terjadinya dislokasi ulnar dikurangi (gambar 26-15).

Jika hanya wrist yang meradang secara akut, orthose volar hanya perlu untuk
mengekstensikan kaput metacarpal, selain persendian interfalang proksimal. Disini
dipergunakan suatu static wrist hand orthosis yang lekukannya dibuat untuk mengurangi
kecenderungan subluksasi volar tulang tulang karpalia pada tulang radius.

Jika kondisi akut telah mereda, tetapi ligament ligament kolateral telah teregang
dan terganggu, dimungkinkan untuk memberikan aligment pergerakan sendi lengan dengan
suatu finger driven flexor hand splint. Beberapa orang mungkin lebih menyukai tidak
menggunakan orthose pada keadaan seperti ini.

16
Pelatihan Pasien Dalam Menggunakan Orthose
Splint posisioning yang lebih sederhana dan splint fungsional memerlukan sedikit
dan bahkan tidak memerlukan latihan untuk pemakaian dan melepasnya. Bagaimana
modifikasi teknik untuk melakukan AKS mungkin diperlukan dan harus dilakukan oleh
terapis yang paling terlatih dalam bidang tersebut. Orthose yang lebih rumit yang
menggunakan tenaga eksternal dan balanced forearm orthosis memerlukan berjam jam
penyesuaian yang cermat dan pelatihan untuk penggunaan yang maksimal.

17
DAFTAR PUSTAKA
1. Erickson RP, Mc Phee MC. Prostheses and Orthoses. In: Sinaki M ed. Basic Clinical
Rehabilitation Medicine, 2nd ed. Mosby, St Louis, Baltimore 1993, p 471-86
2. Redford JB. Principles of Orthotic Device. In: Redford JB. Ed. Orthotics Etcetera, 3rd
ed. Williams and Wilkins, 1986, p 1-20
3. Fisher SV, Winter RB. Spinal Orthoses in Rehabilitation. In: Braddom RL ed. Physical
Medicine and Rehabilitation, 2st ed., WB Saunders Co., Philadelphia, 2004, p 359-60
4. Scribner G, Dealey L. Basic Principles of Orthotics in Neurological Disorders. In:
Aisen ML. Orthotics in Neurologic Rehabilitation, 1st ed. Demos, New York, 1992, p 1-
21
5. Irani KD. Upper Limb Orthoses. In: Braddom RL ed. Physical Medicine and Rehabilitation, 2 st
ed., WB Saunders Co., Philadelphia, 2004, p 191-205
6. Tulaar BM, Wahyuni LK, Wirawan LP, Aliwarga J. Layanan Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi, edisi 1, PERDOSRI, Jakarta, 2013, hal 348 365.
7. Tan, J.C. Practical Manual of Physical Medicine and Rehabilitation, Orthoses, New
York, 1998, p. 178-228.

18