Anda di halaman 1dari 124

PEDOMAN DAN PENGENDALIAN

INFEKSI RUMAH SAKIT

G
N
TA
N
BO
M
LA
IS
S
R

RUMAH SAKIT ISLAM BONTANG


2015
1
BAB I
KONSEP DASAR PENYAKIT INFEKSI

PENDAHULUAN
Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia, termasuk
Indonesia. Ditinjau dari asal atau didapatnya infeksi dapat berasal dari komunitas

G
(Community Acquired Infection) atau berasal dari lingkungan rumah sakit (Hospital
Acquired Infection) yang sebelumnya dikenal dengan istilah infeksi nosokomial. Dengan

N
berkembangnya sistem pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang perawatan pasien,
sekarang perawatan tidak hanya di rumah sakit saja, melainkan juga di fasilitas pelayanan

TA
kesehatan lainnya, bahkan perawatan di rumah (home care).Tindakan medis yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang dimaksudkan untuk tujuan perawatan atau
penyembuhan pasien, bila dilakukan tidak sesuai prosedur berpotensi untuk menularkan

N
penyakit infeksi, baik bagi pasien (yang lain) atau bahkan petugas kesehatan itu sendiri.
Karena seringkali tidak bisa secara pasti menentukan asal infeksi, maka sekarang istilah
BO
infeksi nosokomial (Hospital Acquired Infection) diganti dengan istilah baru yaitu
"Healthcare-associated infections"'(HAIs) dengan pengertian yang lebih luas tidak hanya
di rumah sakit tetapi juga di fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Juga tidak terbatas
infeksi pada pasien saja tetapi juga infeksi pada petugas kesehatan yang didapat pada saat
M

melakukan tindakan perawatan pasien. Khusus untuk infeksi yang terjadi atau didapat di
rumah sakit, selanjutnya disebut sebagai infeksi rumah sakit (Hospital Infection).
LA

Pasien yang dirawat di rumah sakit sangat rentan terhadap infeksi rumah sakit yang dapat
terjadi karena tindakan pembedahan, pemasangan alat invasif, obat-obat imunosupresan,
IS

transplantasi organ, dsb. Selain itu mikroorganisme di sekitar rumah sakit, praktek
pengendalian infeksi, dan daya tahan tubuh pasien juga merupakan faktor risiko infeksi
rumah sakit. Infeksi rumah sakit ini dapat memperpanjang lama rawat, meningkatkan
S

morbiditas dan mortalitas, serta menambah biaya rumah sakit.


R

RANTAI PENULARAN INFEKSI


Untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian Infeksi perlu mengetahui rantai
penularan.Apabila satu mata rantai dihilangkan atau dirusak, maka infeksi dapat dicegah
atau dihentikan.Komponen yang diperlukan sehingga terjadi penularan tersebut terdiri
atas 6 rantai, yaitu :

2
1. Agen infeksi (infectious agent) adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan
infeksi. Pada manusia, agen infeksi dapat berupa bakteri, virus, ricketsia, jamur
parasit. Kadang mikroorganisme merupakan flora normal pasien dan dapat
menyebabkan infeksi bila daya tahan tubuh pasien rendah (infeksi endogen),
sedangkan infeksi yang terjadi karena sumber lain disebut (infeksi eksogen).
Ada tiga faktor pada agen penyebab yang mempengaruhi terjadinya infeksi yaitu:

G
patogenitas, virulensi dan jumlah (dosis atau "load").
2. Reservoir atau tempat dimana agen infeksi dapat hidup, tumbuh, berkembang biak

N
dan siap untuk ditularkan kepada orang. Reservoir yang paling umum adalah
manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, tanah, air, dan bahan-bahan organic

TA
lainnya. Pada orang sehat, permukaan kulit, selaput lendir, saluran napas atas, usus
dan vagina merupakan reservoir yang umum.
Manusia sebagai reservoir dapat bertindak sebagai case atau carrier. Case adalah

N
pasien dengan infeksi Minis akut sedangkan carrier adalah seseorang yang
terkolonisasi mikroba patogen spesifik namun tidak menunjukkan tanda-tanda atau
BO
gejala infeksi, misalnya virus Hepatitis B.
3. Pintu keluar (portal of exit) adalah jalan dari mana agen infeksi meninggalkan
reservoir. Pintu keluar meliputi saluran pernapasan, pencernaan, saluran kemih dan
kelamin, kulit dan membrane mukosa, transplasenta dan darah serta cairan tubuh
M

lain.
4. Transmisi (cara penularan) adalah mekanisme bagaimana transport agen infeksi dari
LA

reservoir ke penderita (yang suseptibel). Ada beberapa cara penularan, yaitu:


a) Kontak langsung, terjadi melalui kontak fisik (orang ke orang).
b) Kontak tidak langsung, terjadi karena kontak dengan benda-benda yang
IS

terkontaminasi.
c) Droplet, terjadi karena kontak dengan sekresi pernapasan yang terkontaminasi.
Mikroba
S

d) Airborne,
e) Common vehicle (makanan, air/minuman, darah)
R

f) Vector (biasanya serangga dan binatang pengerat)


5. Pintu masuk (portal of entry) adalah tempat dimana agen infeksi memasuki penjamu
(yang suseptibel). Pintu masuk bisa melalui saluran pernapasan, pencernaan, saluran
kemih dan kelamin, selaput lendir, serta kulit yang tidak utuh (luka). Selain itu,
pemasangan alat invasif juga merupakan

3
6. Penjamu (host) yang suseptibel adalah orang yang tidak memiliki daya tahan tubuh
yang cukup melawan agen infeksi serta mencegah terjadinya infeksi atau penyakit.
Faktor yang khusus dapat mempengaruhi adalah umur, status gizi, status imunisasi,
penyakit kronis, luka nakar yang luas,
trauma atau pembedahan, pengobatan dengan imunosupresan. Faktor lain yang
mungkin berpengaruh adalah jenis kelamin, ras atau etnis tertentu, status ekonomi,

G
gaya hidup, pekerjaan dan herediter.

N
TA
N
BO
Gambar 1. Skema rantai penularan penyakit infeksi

FAKTOR RISIKO INFEKSI


1. Umur: neonatus dan lansia lebih rentan
M

2. Status imun yang rendah/terganggu (immuno-kompromais): penderita penyakit


kronik, penderita keganasan, obat-obat immunosupresan.
LA

3. Interupsi barier anatomis :


a. Kateter urin : meningkatkan kejadian infeksi saluran kemih (ISK)
b. Prosedur operasi: dapat menyebabkan infeksi luka operas! (ILO) atau "Surgical
IS

Site Infection" (SSI).


c. Intubasi pernapasan: meningkatkan kejadian"Ventilator Associated Pneumonia"
(VAP).
S

d. Kanula vena dan arteri: menimbulkan Plebitis, Infeksi Alian Darah Primer
(IADP).
R

e. Luka bakar dan trauma.


4. Implantasi benda asing :
a. "indwelling catheter".
b. "surgical suture materiar
c. "Cerebrospinal fluid shunts"

4
5. Perubahan mikroflora normal: pemakaian antibiotika yang tidak bijaksana
menyebabkan timbulnya kuman yang resisten terhadap berbagai antimikroba.

STRATEGI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI


Proses terjadinya infeksi bergantung kepada interaksi antara suseptibilitas penjamu, agen
infeksi (patogenitas, virulensi dan dosis) serta cara penularan. Identifikasi factor risiko

G
pada penjamu dan pengendalian infeksi terhadap infeksi tertentu dapat mengurangi
insiden terjadinya infeksi (HAIs), baik pada pasien ataupun pada petugas

N
kesehatan.Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi terdiri dari:
1. Peningkatan daya tahan penjamu. Daya tahan penjamu dapat meningkat dengan

TA
pemberian imunisasi aktif (contoh vaksinasi Hepatitis B), atau pemberian imunisasi
pasif (immunoglobulin). Promosi kesehatan secara umum termasuk nutrisi yang
adekuat akan meningkatkan daya tahan tubuh.

N
2. Inaktivasi agen penyebab infeksi. Inaktivasi agen infeksi dapat dilakukan dengan
metode fisik maupun kimiawi. Contoh metode fisik adalah pemanasan (Pasteurisasi
BO
atau Sterilisasi) dan memasak makanan seperlunya. Metode kimiawi termasuk
klorinasi air, disinfeksi.
3. Memutus rantai penularan. Hal ini merupakan cara yang paling mudah untuk
mencegah penularan penyakit infeksi, tetapi hasilnya sangat bergantung kepada
M

ketaatan petugas dalam melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan. Tindakan


pencegahan ini telah disusun dalam suatu"Isolation Precautions" (Kewaspadaan
LA

Isolasi), yang terdiri dari dua pilar/ tingkatan yaitu "Standard Precautions"
(Kewaspadaan Standar) dan * Transmission based precautions" (Kewaspadaan
berdasarkan cara penularan). Prinsip dan komponen apa saja dari kewaspadaan
IS

standar akan dibahas pada bab berikutnya.


4. Tindakan pencegahan paska pajanan ("PostExposure Prophylaxis"/PEP) terhadap
petugas kesehatan. Hal ini terutama berkaitan dengan pencegahan agen infeksi yang
S

ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya, yang sering terjadi karena luka
tusuk jarum bekas pakai atau pajanan lainnya. Penyakit yang perlu mendapat
R

perhatian adalah Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV.

5
BAB II
KEWASPADAAN ISOLASI
(ISOLATION PRECAUTION)

Infeksi nosokomial atau yang sekarang disebut sebagai infeksi rumah sakit merupakan
masalah penting di seluruh dunia yang terus meningkat (Alvarado 2000). Sebagai

G
perbandingan, bahwa tingkat infeksi rumah sakit yang terjadi di beberapa negara Eropa
dan Amerika adalah rendah yaitu sekitar 1% dibandingkan dengan kejadian di

N
Negara-negara Asia, Amerika Latin fan Sub-Sahara Afrika yang tinggi hingga mencapai
lebih dari 40% (Lynch dkk 1997). Di Indonesia telah dikeluarkan Surat Keputusan

TA
Menteri Kesehatan Nomor 382/Menkes/SK/lll/2007 tentang Pelaksanaan Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan lain
sebagai upaya untuk memutus siklus penularan penyakit dan mellndungi pasien, petugas

N
kesehatan, baik di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Sedangkan
petugas kesehatan termasuk petugas pendukung seperti petugas laboratorium, rumah
BO
tangga, petugas ISSB, petugas kebersihan dan lainnya juga terpajan pada risiko terhadap
infeksi. Petugas kesehatan harus memahami, mematuhi dan menerapkan Kewaspadaan
Isolasi yaitu Kewaspadaan Standar, Kewaspadaan berdasarkan transmisi agar tidak
terinfeksi.
M

KEWASPADAAN STANDAR
LA

Kewaspadaan Standar atau Standard Precautions disusun oleh CDC tahun 1996 dengan
menyatukan Universal Precautions (UP) atau kewaspadaan terhadap darah dan cairan
tubuh yang telah dibuat tahun 1985 untuk mengurangi Risiko terinfeksi patogen yang
IS

berbahaya melalui darah dan cairan tubuh lainnya dan Body Subtance Isolation (BSI) atau
Isolasi Duh Tubuh yang dibuat tahun 1987 untuk mrngurangi risiko penularan patogen
yang berada dalam bahan yang berasal dari tubuh pasien terinfeksi. Pedoman
S

Kewaspadaan Isolasi dan pencegahan transmisi penyebab infeksi di sarana kesehatan


diluncurkan Juni tahun 2007 oleh CDC dan HICPAC mengemukakan Healthcare
R

Associated Infections (HAIs) menggantikan istilah infeksi nosokomial, Jiygien


respirasi/etika batuk, praktek menyuntik yang aman dan pencegahan infeksi pada
prosedur lumbal pungsi.

6
Kewaspadaan standar dirancang untuk diterapkan secara rutin dalam perawatan seluruh
pasien di rumah sakit baik terdiagnosis infeksi, diduga terinfeksi atau terkolonisasi.
Diciptakan untuk mencegah transmisi silang sebelum diagnosis ditegakkan atau hasil
pemeriksaan laboratorium belum ada. Strategi utama untuk PPI, menyatukan Universal
Precautions dan Body Substance Isolation adalah kewaspadaan dalam pencegahan dan
pengendalian infeksi rutin dan harus diterapkan terhadap semua pasien. Kewaspadaan

G
standar untuk pelayanan pasien dapat dilihat dalam Lampiran I.

N
Kewaspadaan Standar dirancang untuk mengurangi risiko terinfeksi penyak menular
pada petugas kesehatan baik dari sumber infeksi yang diketahui maupun yang tidak

TA
diketahui

KEWASPADAAN BERDASARKAN TRANSMISI

N
Dibutuhkan untuk memutus mata rantai transmisi mikroba penyebab infeksi dibuat
untukditerapkan terhadap pasien yang diketahui maupun diduga terinfeksi atau
BO
terkolonisasi patogen yang dapat ditransmisikan lewat udara, droplet, kontak dengan
kulit atau permukaan terkontaminsi. Jenis kewaspadaan berdasarkan transmisi :
a. Kontak.
b. Droplet.
M

c. Udara (Airbone).
d. Common vehicle (makanan, air, obat, alat, peralatan).
LA

e. Melalui vector (lalat, nyamuk, tikus).

Harus diingat, suatu infeksi dapat ditransmisikan lebih dari satu cara.
IS

Kewaspadaan berdasarkan transmisi (Lampiran II) dapat dilaksanakan secara terpisah


ataupun kombinasi dengan kewaspadaan standar seperti hand hygiene dengan mencuci
tangan sebelum dan sesudah tindakan menggunakan sabun, antiseptik ataupun handrub,
S

memakai sarung tangan sekali pakai bila kontak dengan cairan tubuh, gaunpelindung
dipakai bila terdapatkemungkinan terkena percikan cairan tubuh, memakai masker,
R

goggle untuk melindungi wajah dari percikan tubuh.

a. Kewaspadaan Transmisi Kontak


Merupakan transmisi yang terpenting dan tersering menimbulkan infeksi rumah
sakit. Ditujukan untuk menurunkan risiko transmisi mikroba yang secara

7
epidemiologi ditransmisikan melalui kontak langsung atau tidak langsung.

Kontak langsung meliputi kontak permukaan kulit terluka/abrasi orang yang


rentan/petugas dengan kulit pasien terinfeksi atau kolonisasi. Misalnya perawat
membalikkan tubuh pasien, memandikan, membantu pasien bergerak, dokter bedah
dengan luka basah saat mengganti perban, petugas tanpa sarung tangan merawat oral

G
pasien HSV atau scabies.

N
Kontak tidak langsung terjadi antara orang yang rentan dengan benda yang
terkontaminasi mikroba infeksius di lingkungan, instrumen yang terkontaminasi,

TA
jarum, kassa, tangan terkontaminasi dan belum dicuci atau sarung tangan yang tidak
diganti saat menolong pasien satu dengan yang lainnya, dan melalui mainan anak.
Kontak dengan cairan sekresi pasien terinfeksi yang ditransmisikan melalui tangan

N
petugas atau benda mati di lingkungan pasien.
BO
Kewaspadaan diterapkan terhadap pasien dengan infeksi atau terkolonisasi (ada
mikroba pada pasien tanpa gejala klinis infeksi) yang secara epidemiologi
mikrobanya dapat ditransmisikan dengan cara kontak langsung atau tidak langsung
(Kategori IB).
M

Petugas harus menahan diri untuk menyentuh mata, hidung, mulut saat masih
LA

memakai sarung tangan terkontaminasi ataupun tanpa sarung tangan.


Hindari mengkontaminasi permukaan lingkungan yang tidak berhubungan dengan
perawatan pasien, misalnya: pegangan pintu, tombol lampu, telepon.
IS

b. Kewaspadaan Transmisi Droplet.


Diterapkan sebagai tambahan Kewaspadaan Standar terhadap pasien dengan infeksi
S

diketahui atau suspek mengidap mikroba yang dapat ditransmisikan melalui droplet
(> 5um).
R

Droplet yang besar terlalu berat untuk melayang di udara dan akan jatuh dalam jarak
1 m dari sumber. Transmisi droplet melibatkan kontak konjungtiva atau mukus
membran hidung/mulut, droplet partikel besar mengandung mikroba berasal dari
pasien pengidap atau carrier dikeluarkan saat batuk, bersin, muntah, bicara, selama
prosedur suction, bronkhoskopi, Dibutuhkan jarak dekat antara sumber dan resipien

8
< 1 m. Karena droplet tidak bertahan diudara maka tidak dibutuhkan penanganan
khusus udara atau ventilasi, misal: Adenovirus.
Transmisi droplet langsung, dimana droplet mencapai mukus membran atau
terinhalasi. Transmisi droplet ke kontak, yaitu droplet mengkontaminasi permukaan
tangan dan ditransmisikan ke sisi lain misal: mukosa membran. Transmisi jenis ini
lebih sering terjadi daripada transmisi droplet langsung, misal: commoncold,

G
respiratory syncitial virus (RSV). Dapat terjadi saat pasien terinfeksi batuk, bersin,
berbicara, intubasi endotrakheal, batuk akibat induksi fisioterapi dada, resusitasi

N
kardiopulmoner.

TA
c. Kewaspadaan Transmisi melalui Udara (Airborne Precautions)
Kewaspadaan transmisi melalui udara (kategori IB) diterapkan sebagai tambahan
Kewaspadaan Standar terhadap pasien yang diduga atau telah diketahui terinfeksi

N
mikroba yang secara epidemiologi penting dan ditransmisikan melalui jalur udara.
Seperti misalnya transmisi partikel terinhalasi (varicella zoster) langsung melalui
BO
udara.

Kewaspadaan transmisi ditujukan untuk menurunkan risiko transmisi udara mikroba


penyebab infeksi baik yang ditransmisikan berupa droplet nuklei (sisa partikel kecil
M

<5m evaporasi dari droplet yang bertahan lama di udara) atau partikel debu yang
mengandung mikroba penyebab infeksi. Mikroba tersebut akan terbawa aliran udara
LA

> 2m dari sumber, dapat terinhalasi oleh individu rentan di ruang yang sama dan jauh
dari pasien sumber mikroba, tergantung pada faktor lingkungan, misal penanganan
udara dan ventilasi yang terpenting dalam pencegahan transmisi melalui udara,
IS

droplet nuklei atau sisik kulit terkontaminasi (S.aerus).


S
R

9
BAB III
HAND HYGIENE

Kegagalan melakukan hand hygiene yang baik dan benar dianggap sebagai penyebab
utama infeksi rumah sakit dan penyebaran mikroorganisme multi resisten di fasilitas
pelayanan kesehatan dan telah diakui sebagai kontributor yang penting terhadap

G
timbulnya wabah (Boyce dan Pittet, 2002)

N
Dari sudut pandang pencegahan dan pengendalian infeksi, praktek hand hygiene atau
membersihkan tangan adalah untuk menghilangkan semua kotoran dan debris serta

TA
menghambat atau membunuh mikro organisme pada kulit. Mikro organisme di tangan ini
diperoleh dari kontak dengan pasien dan lingkungan. Sejumlah mikro organisme
permanen juga tinggal di lapisan terdalam permukaan kulit yaitu S. epidermidis. Selain

N
memahami panduan dan rekomendasi untuk kebersihan tangan, para petugas kesehatan
perlu memahami indikasi dan keuntungan dari hand hygiene terutama keterbatasan,
BO
pemakaian sarung tangan.

FLORA NORMAL TANGAN


Price (1938) membagi golongan bakteri pada tangan menjadi residen dan transien. Flora
M

residen terikat pada lapisan kulit lebih dalam, dibawah sel superfisial stratum korneum
dan dapat juga ditemukan pada permukaan kulit. Spesies bakteri yang dominan adalah
LA

Staphylococcus epidermidis. Bakteri residen lainnya antara lain Staphylococcus hominis


dan Staphylococcus koagulase negatif lain Bakteri Coryneform (propionibacteria,
corynebacteria, dermobacteria, dan micrococci) dan Jamur Pityrosporum (Malassezia)
IS

spp. Secara umum flora residen kurang berhubungan dengan infeksi, tetapi sering
menyebabkan infeksi pada rongga tubuh yang steril, mata, atau pada kulit non-intak,
infeksi karena penggunaan alat invasif. Flora residen lebih sukar dihilangkan dibanding
S

flora transien dan tidak bisa dihilangkan dengan sabun/deterjen, tetapi dapat dibunuh
dengan cairan antiseptik.
R

Flora transien mendiami lapisan atas kulit (superfisial) dan mudah dibersihkan dengan
Hand Hygiene rutin. Banyak mikroba patogen transien yang berkolonisasi secara
persisten di tangan tenaga kesehatan. Bakteri ini dapat diperoleh petugas kesehatan
selama kontak langsung dengan pasien atau kontaminasi dengan permukaan lingkungan

10
sehingga seringkali dihubungkan dengan infeksi nosokomial.

TRANSMISI PATOGEN MELALUI TANGAN


Transmisi patogen pada petugas kesehatan satu dengan yang lainnya dapat terjadi melalui
beberapa tahap (gambar 3.1-3.6): (i) organisme yang ada pada kulit pasien, atau telah
berpindah ke lingkungan sekitar pasien, (ii) organisme berpindah ke tangan petugas

G
kesehatan; (iii) organisme bertahan selama beberapa menit di tangan petugas kesehatan,
(iv) hand hygiene yang tidak sesuai, atau bahan yang digunakan untuk membersihkan

N
tangan tidak tepat, dan (v) tangan yang tercemar akibat kontak langsung dengan pasien
lain atau dengan benda disekitar pasien.

TA
Mikroba pada tenaga kesehatan tidak hanya berasal dari luka infeksi, tapi juga didapat
dari tempat kolonisasi normal dan kulit utuh pasien.Daerah perineal dan inguinal

N
merupakan daerah kolonisasi tertinggi, begitu pula aksila tubuh dan ekstremitas atas
(termasuk tangan) juga sering berkoloni.
BO
Koloni mikroba seperti Staphylococcus aureus, Proteus mirabtlis, Klebsiella spp, dan
Adnetobacter spp pada pasien normal bervariasi mulai 100 hingga 10s CFU/cm2.Setiap
harinya terjadi pengelupasan kulit sekitar 106 sel skuamosa yang mengandung mikroba
M

hidup dan dapat mengkontaminasi baju, linen, furniture bedside, dan objek pasien
lainnya. Kontaminasi dapat disebabkan oleh Staphylococci, Enterococci dan Clostridium
LA

difficile yang tahan terhadap proses pengeringan. Kontaminasi pada lingkungan


umumnya Staphylococci dan paling banyak dijumpai pada keran air. Mikroba batang
gram negatif seperti Acinotobacter baumannii sangat berperan pada kontaminasi
IS

lingkungan karena kemampuan bertahan hidup yang lama. Dalam penelitian yang
dilakukan Casewell & Phillips ditemukan bahwa tangan tenaga kesehatan dapat
terkontaminasi Klebsiella spp sebanyak 100-1000 CPU selama melakukan aktivitas
S

bersih seperti mengangkat pasien; mengukur nadi, tekanan darah atau suhu oral;
menyentuh tangan pasien, bahu, dan selangkangan. Pittet dkk, melakukan pemeriksaan
R

agar pada ujung jari tenaga kesehatan sebelum dan sesudah kontak langsung dengan
pasien, perawatan luka, perawatan kateter, perawatan ETT maupun menangani sekresi
pasien dan ditemukan 0-300 CPU/ml mikroba. Lama aktivitas melayani pasien sangat
berhubungan dengan kontaminasi tangan tenaga kesehatan.

11
G
N
TA
Gambar 3.1.Mikroba terdapat di kulit pasien dan lingkungan sekitar pasien. Pasien
terbaring di tempat tidur mempunyai koloni bakteri cocci gram positif di hidung,

N
perineal, inguinal, aksila, dan lengan atas.Permukaan lingkungan dekat dengan pasien
terkontaminasi oleh bakteri cocci Gram positif.
BO
M
LA
IS
S
R

Gambar 3.2
Transfer mikroba dari pasien ke petugas kesehatan. Kontak antara tenaga kesehatan dan
pasien menyebabkan transfer silang bakteri cocci gram dari flora pasien yang berpindah
ke tangan tenaga kesehatan.

12
G
N
TA
N
BO
Gambar : 3.3
Mikroba bertahan di tangan petugas kesehatan
(A) Bakteri cocci gram + bertahan hidup di tangan petugas kesehatan
(B) Bila kondisi pertumbuhan optmal (temperature, kelembaban, hand hygiene tidak
dilakukan adanya friksi) bakteri dapat tumbuh terus.
(C) Kontaminasi bakteri dapat meningkat secara linier dan terus menerus
M

(A)
LA
IS
S
R

Gambar 3.5Kegagalan hand hygiene menyebabkan transmisi silang antar pasien


(B) dokter tersebut sekarang melakukan kontak langsung dengan pasien B tanpa
melakukan hand hygiene sebelumnya.Transmisi silang bakteri cocci gram (+) terjadi dari
pasien A ke pasien B melalui tangan tenaga kesehatan

13
G
N
TA
N
BO
Gambar 3.6
Kegagalan hand hygiene menyebabkab transmisi silang antar pasien
Dokter dalam kontak dekat dengan pasien, dokter menyentuh terlebih dahulu kantung
kateter urin dan kedua tangannya selanjutnya dokter tersebut tidak hand hygiene.
M

Kontak langsung dengan pasien/alat yang dipakai pasien dapat menyebabkan transimi
silang.
LA

TRANSMISI SILANG
IS

Transmisi silang mikroba terjadi melalui tangan yang terkontaminasi. Faktor - faktor
yang berperan dalam penyebaran mikroba antara lain jenis mikroorganisme, permukaan
benda sebagai sumber kontaminasi, derajat kelembapan, dan ukuran inokulum.
S

Beberapa kejadian luar blasa terkait infeksi rumah sakit dihubungkan dengan tangan
petugas kesehatan yang terkontaminasi.Mikroba dapat ditransmisi dari sumber diluar
R

rumah.sakit kepada pasien melalui tangan petugas kesehatan. Contohnya, ditemukan


S.marcesens pada luka operasi yang ternyata terkontaminasi dari krim tangan perawat
yang menggunakan kuku palsu.

14
TUJUAN MELAKUKAN HAND HYGIENE
1) Untuk memutus transmisi mikroba melalui
tangan (Gambar 3.7): a) diantara area
perawatan dan zona pasien; b) diantara zona
pasien dan area perawatan; c) pada daerah
tubuh pasien yang berisiko infeksi (contoh:
membrane mukosa, kulit non-intak, alat

G
invasif); d) dari darah dan cairan tubuh.
2) Untuk mencegah:
a) kolonisasi patogen pada pasien (termasuk

N
Gambar 3.7 area perawatan dan zona pasien
yang multiresisten); transmisi mikroba yang dinamik

b) penyebaran patogen ke area perawatan;

TA
c) infeksi yang disebabkan oleh mikroba
endogen;
d) kolonisasi dan infeksi pada petugas
kesehatan.

N
BO
M

Gambar 3.7.
LA

Area yang paling sering tertinggal selama melakukan hand hygiene


IS

CARA MELAKUKAN HAND HYGIENE


Hand hygiene dapat dilakukan dengan handrub menggunakan cairan handrub berbahan
dasar alkohol maupun mencuci tangan dengan sabun dan air.
S

.
HANDRUB
R

Langkah paling efektif melakukan hand hygiene adalah menggunakan cairan handrub
berbahan dasar alcohol yang dapat digunakan sebagai antiseptik tangan rutin (Kategori
IB) karena memiliki kelebihan:
- eliminasi berbagai mikroba (termasuk virus);
- waktu singkat (20 hingga 30 detik);

15
- dapat diletakkan di area point of care;
- toleransi pada kulit yang baik;
- tidak perlu sarana cuci tangan (air bersih, washtafel, sabun, tissue).

Sabun dan cairan handrub berbahan dasar alkohol tidak sebaiknya digunakan bersamaan
(Kategori II).

G
CUCI TANGAN

N
Tangan harus dicuci dengan sabun dan air bila tampak kotor atau terkontaminasi dengan
darah maupun cairan tubuh, bila berpotensi membentuk spora mikroba, atau setelah

TA
menggunakan kamar mandi (kategori II). Proses melakukan hand hygiene yang efektif,
baik handrub maupun cuci tangan (Gambar 3.9 dan 3.10), bergantung pada faktor:
- kualitas produk

N
- kuantitas produk
- waktu melakukan hand hygiene
BO
- tangan yang dibersihkan
Hand hygiene menjadi lebih efektif bila tangan bebas luka; kuku bersih, pendek dan
alami; tangan dan pergelangan bebas dari perhiasan dan pakaian.
M
LA
IS
S
R

16
G
N
TA
N
BO
M
LA
IS
S
R

Gambar 3.9. Cara melakukan handrub

17
CARA MELAKUKAN GUCI TANGAN

G
N
TA
N
BO
M
LA
IS
S
R

18
HAND HYGIENE BEDAH
Hand hygiene bedah merupakan persiapan tangan bedah untuk mengurangi pelepasan
bakteri kulit tangan petugas kamar operasi dari sarung tangan bedah yang rusak ke luka
terbuka selama prosedur bedah. Hand hygiene bedah dapat dilakukan dengan cuci tangan
bedah (handscrub) maupun handrub (Tabel 3.2 dan gambar 3.11). Persiapan tangan
bedah dengan mencuci tangan dan handrub harus dapat menghilangkan flora transien dan

G
mengurangi flora residen serta menghambat pertumbuhan bakteri di bawah sarung
tangan.

N
Tabel 3.1. Langkah kunci sebelum melakukan Hand Hygiene bedah

TA
Langkah Kunci
Kuku harus pendek
Perhatikan kuku jari saat mencuci tangan karena mikroba yang paling banyak


di tangan berasal dari bawah kuku jari.

N
BO
Jangan memakai kuku palsu atau cat kuku.
Lepas semua perhiasan (cincin, jam tangan, gelang) sebelum memasuki ruang
operasi
Cuci tangan dan lengan dengan sabun sebelum memasuki ruang operasi atau
jika tangan tampak kotor.
M

Bersihkan daerah subungual dengan ujung kuku. Sikat kuku tidak boleh
digunakan karena dapat merusak kulit dan mendorong pengelupasan sel.
LA

Apabila digunakan, sikat kuku harus steril dan sekali pakai.

Cuci tangan bedah (handscrub}


IS

Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum memasuki ruang operas! sangat
dianjurkan untuk menghilangkan risiko kolonisasi bakteri. Saat tiba di ruang operas! dan
setelah mengenakan APD kamar operasi (topi dan masker), tangan harus dicuci dengan
S

sabun dan air. Prosedur ini dilakukan hanya pada waktu akan memasuki ruang operasi.
R

Setelah operasi selesai dan melepas sarung tangan, tangan harus digosok dengan handrub
atau dicuci dengan air dan sabun apabila ditemukan bubuk sarung tangan dan cairan
tubuh pada tangan.

19
Tabel 3.2. Prosedur cuci tangan bedah dengan menggunakan sabun antiseptik

Prosedur Cuci Tangan Bedah(handscrub)


1. Basahi tangan hingga siku dengan air mengalir. Jaga posisi tangan lebih tinggi dari
lengan untuk menghindari kontaminasi ulang oleh air dari arah siku dan mencegah
kontaminasi tangan dari bakteri pada sabun dan air.

G
2. Tuangkan sabun cair antiseptik 3 -5 ml untuk menyabuni seluruh permukaan
tangan yang telah dibasahi.

N
3. Gosok kedua telapak tangan hingga merata
4. Gosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan

TA
sebaliknya.
5. Gosok kedua telapak dan sela-sela jari.
6. Jari-jari sisi dalam dar! kedua tangan saling mengunci

N
7. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan
sebaliknya.
BO
8. Gosokan ujung jari- jari tangan kanan di telapak tangan kiri dengan gerakan
memutar dan sebaliknya.
9. Tuangkan sabun cair antiseptic 3 - 5 ml pada tangan kanan.
10. Lanjutkan dengan menggosok sisi lengan kiri dari pergelangan ke arah siku
M

dengan gerakan memutar selama 1 menit


11. Ulangi langkah 9-10 pada lengan yang lain (sebaliknya), jaga posisi tangan tetap di
LA

atas siku setiap saat. Jika tangan menyentuh sesuatu setiap saat, prosedur hand
scrub harus diperpanjang 1 menit pada bagian yangterkontaminasi.
12. Bilas tangan dan lengan dengan mengalirkan air satu arah dari ujung jari ke arah
IS

siku tanpa menyentuh antara tangan yang satu dengan yang lain.Jangan
membalikkan arah posisi lengan di aliran air. Selama prosedur cuci tangan
usahakan agar air tidak menciprat ke pakaian bedah.
S

13. Lanjutkan ke ruang operasi dengan posisi tangan tetap di atas siku.
R

14. Setibanya di ruang operasi, keringkan tangan dengan menggunakan handuk steril.
15. Saat tangan kering, maka siap menggunakan pakaian operasi maupun sarung
tangan steril/sarung tangan bedah.

20
Handrub bedah
Handrub untuk persiapan tangan bedah harus dilakukan pada tangan yang bersih dan
kering. Cuci tangan tidak diperlukan sebelum melakukan handrub kecuali bila tangan
tampak kotor.

G
N
TA
N
BO
M
LA
IS
S
R

Gambar 3.11.
Teknik melakukan handrub bedah dengan menggunakancairan handrub berbasis alkohol

21
INDIKASI MELAKUKAN HAND HYGIENE
Seluruh petugas kesehatan yang secara langsung maupun tidak langsung kontak dengan
pasien dan lingkungan sekitar pasien selama beraktifitas harus peduli terhadap hand
hygiene.
Ketidakpatuhan petugas kesehatan dalam melakukan hand hygiene tentunya memiliki
konsekuensi terhadap transmisi patogen dan kejadian infeksi nosokomial. Hand hygiene

G
bukan menjadi sebuah pilihan maupun kesempatan, melainkan indikasi yang harus
dilakukan selama perawatan untuk mencegah risiko transmisi mikroba. Untuk itu WHO

N
mengembangkan konsep "5 saat melakukan kebersihan tangan" (gambar 3.12) dengan
tujuan mempermudah pemahaman petugas kesehatan terhadap indikasi berisiko

TA
terjadinya transmisi mikroba melalui tangan.

Indikasi melakukan hand hygiene tidak ditunjukkan pada awal dan akhir kegiatan

N
perawatan. Sebuah indikasi hand hygiene diperlukan kapanpun petugas kesehatan
melakukan perpindahan tangan dari satu area ke area lain (dari area paerawatan ke zona
BO
pasien dan sebaliknya), dari bagian tubuh seorang pasien ke bagian tubuh lainnya atau ke
area perawatan.
5 Saat Melakukan Kebersihan Tangan
M
LA
IS
S

Gambar 3.12. 5 Saat melakukan Hand Hygiene


R

1. Indikasi 1: Sebelum menyentuh pasien


Kapan: saat mendekati pasien, sebelum menyentuh pasien, dilakukan diantara
kontak dengan area perawatan dan kontak dengan pasien.
Mengapa: untuk mencegah transmisi mikroba dari area perawatan kepada pasien,

22
terutama mencegah kolonisasi pada pasien, mencegah infeksi eksogen akibat
mikroba berbahaya yang berasal dari tangan petugas kesehatan.

Catatan: Hand hygiene dilakukan sebelum kontak dengan kulit intak dan pakaian
pasien; hand hygiene dapat dilakukan saat memasuki zona pasien, saat mendekati
pasien, atau sesaat sebelum memegang pasien.

G
Contoh:
a) Sebelum berjabat tangan dengan pasien, memegang dahi pasien;

N
b) Sebelum membantu pasien untuk pindah, ke kamar mandi, makan, berpakaian,
dsb;

TA
c) Sebelum melakukan perawatan non invasif: memakaikan masker oksigen,
memberi fisioterapi;
d) Sebelum melakukan pemeriksaan fisik atau non invasif: mengukur nadi, tekanan

N
darah, merekam EKG.
BO
2. Indikasi 2: Sebelum prosedur bersih/asepsis (pada bagian tubuh pasien yang
berisiko infeksi)
Kapan: segera sebelum menyentuh bagian tubuh pasien yang berisiko infeksi.
Dilakukan setelah kontak dengan area perawatan dan zona pasien (termasuk pasien
M

dan lingkungannya), dan prosedur lain yang kontak (langsung maupun tidak
langsung) dengan membrane mukosa, kulit non intak atau alat invasif. Mengapa:
LA

untuk mencegah transmisi mikroba dari bagian tubuh pasien dan bagian tubuh
lainnya melalui inokulasi.
Catatan:
IS

Jika sarung tangan digunakan untuk melakukan prosedur aseptik, hand hygiene harus
dilakukan sebelum menggunakan sarung tangan.
S

Contoh:
a) Sebelum menyikatkan gigi pasien, meneteskan obat tetes mata, pemeriksaan
R

vagina atau rectal, pemeriksaan mulut, hidung, telinga dengan atau tanpa
menggunakan instrumen, melakukan suppositoria, suction mukosa;
b) Sebelum melakukan perawatan luka dengan atau tanpa menggunakan
instrumen, memberi krim, melakukan injeksi perkutan;
c) Sebelum memasang alat invasif (nasal kanul, NGT, ETT, kateter urin, drainase),

23
membuka sirkuit pada alat invasif (untuk makanan, drain, obat, suction)
d) Sebelum menyiapkan makanan, obat-obatan, benda-benda steril.

3. Indikasi 3: Setelah menyentuh cairan tubuh


Kapan: segera setelah menyentuh cairan tubuh (dan setelah melepas sarung tangan).
Mengapa: untuk melindungi petugas kesehatan terhadap kolonisasi maupun infeksi

G
dari mikroba pasien dan melindungi area perawatan dari kontaminasi dan
penyebaran mikroba.

N
Catatan: Jika petugas kesehatan menggunakan sarung tangan saat menyentuh cairan

TA
tubuh, sarung I tangan harus segera dilepas dan kemudian melakukan hand hygiene.
Semua petugas kesehatan yang menangani cairan tubuh (analis laboratorium, ahli
patologi), peralatan yang terkontaminasi dan kotor (petugas sterilisasi), limbah

N
terkontaminasi (petugas kebersihan, pekarya) juga perlu melakukan hand hygiene.
Contoh:
BO
a) Setelah kontak dengan membrane mukosa dan atau kulit non intak
b) Setelah melakukan injeksi, setelah memasang alat invasif (akses vaskuler,
kateter, tube, drain, dsb) setelah membuka sirkuit pada alat invasive.
c) Setelah melepas alat invasif;
M

d) Setelah melakukan perawatan luka;


e) Setelah menangani sampel organik; setelah membersihkan ekskresi dan cairan
LA

tubuh lainnya; setelah membersihkan permukaan yang terkontaminasi (linen,


instrumen, pispot, dsb).
IS

4. Indikasi 4: Setelah menyentuh pasien


Kapan: setelah menyentuh pasien, sebelum menyentuh lingkungan di area
perawatan.
S

Mengapa: untuk melindungi petugas kesehatan terhadap kolonisasi maupun infeksi


dari mikroba pasiendan melindungi area perawatan dari kontaminasi dan penyebaran
R

mikroba.

Catatan:
Indikasi 4 ini tidak dapat dipisahkan dari Indikasi 1.Ketika petugas kesehatan
menyentuh pasien secaralangsung kemudian menyentuh objek disekitar pasien

24
sebelum meninggalkan zona pasien, indikasi 4harus dilakukan.
a) Setelah berjabat tangan dengan pasien, memegang dahi pasien;
b) Setelah membantu pasien untuk pindah, ke kamar mandi, makan, berpakaian,
dsb;
c) Setelah melakukan perawatan non invasif: mengganti bed linen sementara
pasien tidak pindah, memakaikan masker oksigen, memberi fisioterapi

G
d) Setelah melakukan pemeriksaan fisik atau pemeriksaan non invasif: mengukur
nadi, tekanan darah, merekam EKG.

N
5. Indikasi 5: Setelah kontak dengan lingkungan sekitarpasien

TA
Kapan : setelah menyentuh objek apapun atau furniture di sekitar pasien (tanpa
menyentuh pasien) sebelum menyentuk objek di area perawatan.
Mengapa : Untuk melindungi petugas kesehatan dari kolonisasi mikroba pasien yang

N
mungkin terdapat pada objek di sekitar pasien dan untuk mencegah area perawatan
dari kontaminasi dan penyebaranmikroba.
BO
Catatan : Indikasi 4, "setelah kontak dengan pasien" dan indikasi 5 "setelah kontak
dengan lingkungan di sekitar pasien" tidak dapat dikombinasikan, karena indicator 5
tidak termasuk kontak dengan pasien dan indicator 4 hanya dilakukan setelah kontak
dengan pasien.
M

Contoh:
LA

a) setelah aktifitas pemeliharaan: mengganti bed linen dan pasien pindah dari
tempat tidur, memegang roda tempat tidur, membersihkan meja pasien.
b) setelah aktifitas perawatan: mengatur kecepatan perfusi, membersihkan alat
IS

monitoring pasien;
c) setelah kontak lain dengan objek (yang seharusnya dapat dihindari).
S
R

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN


Kuku Jari
Penelitian membuktikan bahwa daerah dibawah kuku (ruang subungual) mengandung
banyak mikroba tertinggi (McGinley, Larson dan Leydon, 1988). Beberapa penelitian
telah memperlihatkan kuku yang panjang dapat berperan sebagai reservoir untuk bakteri
Gram negative (P.aeruginosa), jamur dan patogen lain (Hedderwick et al.2000). Kuku

25
panjang, baik yang alami maupun buatan, lebin mudah melubangi sarung tangan (Olsen
et al. 1993). Oleh karena itu, kuku harus dijaga tetap pendek, tidak lebih dari 5 mm
melebihi ujung jari. Penggunaan cat kuku juga tidak diperkenankan saat bertugas karena
mikroba dapat bersembunyi disela-sela cat kuku yang sumbing.

Perhiasan

G
Beberapa penelitian membuktikan bahwa kulit jari yang mengenakan cincin menjadi
tempat kolonisasi mikroba, Hoffman dkk menemukan bakteri gram negative seperti

N
E.cloacae, Klebsiella spp., dan Acinetobacter spp. pada 40% perawat yang menggunakan
cincin. Hand hygiene pada jari tangan yang mengenakan perhiasan seperti cincin atau

TA
gelang dapat menjadi tidak optimal karena mikroba masih dapat bersembunyi dibalik
sela-sela ukiran pada perhiasan. Untuk itu penggunaan perhiasan tidak diperkenankan
selamabertugas.

N
BO
M
LA
IS
S
R

26
BAB IV
ALAT PELINDUNG DIRI PETUGAS KESEHATAN

Alat Pelindung Diri (APD) petugas kesehatan adalah pakaian khusus yang digunakan
petugas kesehatan untuk melindungi diri dari risiko pajanan darah, semua jenis cairan

G
tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang tidak utuh dan selaput lendir pasien. APD digunakan
selama melakukan tindakan yang memungkinkan risiko perpindahan mikroorganisme

N
dari pasien ke petugas kesehatan dan sebaliknya.

TA
Termasuk alat pelindung diri adalah sarung tangan untuk melindungi tangan; masker dan
respirator untuk melindungi hidung dan mulut, respirator juga dapat melindungi saluran
napas dari transmisi mikroba melalui udara (airborne); pelindung wajah untuk

N
melindungi seluruh bagian wajah; kacamata/goggle untuk melindungi mata; penutup
kepala; gaun pelindung atau apron untuk melindungi kulit atau pakaian; dan sepatu.
BO
Pedoman umum
1. Pemilihan APD harus sesuai dengan perkiraan risiko terjadi pajanan. Perkirakan
risiko terpajan cairan tubuh atau area terkontaminasi sebelum melakukan kegiatan
M

perawatan kesehatan.
2. Kenakan APD sebelum kontak dengan pasien, umumnya sebelum memasuki
LA

ruangan. Gunakan dengan hati-hati, jangan menyebarkan kontaminasi.


3. Tangan harus selalu dibersihkan meskipun menggunakan APD
4. Lepas dan ganti bila perlu segala perlengkapan APD yang dapat digunakan kembali
IS

yang sudah rusak atau sobek segera setelah Anda mengetahui APD tersebut tidak
berfungsi optimal.
5. Lepaskan semua APD sesegera mungkin setelah selesai memberikan pelayanan dan
S

hindari kontaminasi: a) lingkungan diluar ruang isolasi, b) para pasien atau pekerja
lain, c) diri anda sendiri
R

6. Buang semua perlengkapan APD dengan hati-hati dan segera lakukan hand hygiene.

SARUNG TANGAN
Sarung tangan merupakan penghalang fisik paling penting untuk mencegah penyebaran

27
infeksi dan telah terbukti sangat efektif mencegah kontaminasi tangan petugas kesehatan,
namun penggunaan sarung tangan tidak dapat menggantikan fungsi hand hygiene, sebab
sarung tangan berkualitas terbaikpun mungkin saja mengalami kerusakan kecil yang
tidak terlihat ataupun robek saat digunakan sehingga tangan dapat terkontaminasi.
Sarung tangan dibagi atas dua jenis:
1. Sarung tangan pemeriksaan

G
a. Sarung tangan non-steril, dipakai untuk kontak dengan area tubuh non steril
(darah, cairan tubuh, ekskresi dan sekresi, kulit non-intak, dan membrane

N
mukosa) atau prosedur-prosedur lain yang tidak memerlukan teknik aseptik.
b. Sarung tangan steril, harus dipakai untuk kontak dengan area tubuh yang steril

TA
(prosedur aseptik). Tidak boleh dicuci, didisinfeksi, dan di re-used.
2. Sarung tangan rumah tangga, dipakai untuk membersihkan lingkungan dan
pemrosesan alat medis bekas pakai. Harus dicuci dengan deterjen setelah digunakan

N
kemudian disimpan kering.
BO
Pemilihan sarung tangan harus disesuaikan dengan jenis tindakan yang akan dikerjakan
(tabel 4.1 dan label 4.2). Terdapat beberapa cara untuk mempertimbangkan pemilihan
sarung tangan steril dan non steril berdasarkan faktor risiko pada pasien dan petugas
kesehatan.
M

Tabel 4.1. Pemilihan sarung tangan berdasarkan penilaian risiko


No Tindakan Risiko transmisi Risiko Pllihan
LA

mikroorganisme kontaminasl sarung


kepasien ke petugas tangan
kesehatan
1 Teknik non aseptik berisiko tinggi Rendah Tinggi Non steril
IS

dengan paparan darah dan cairan


tubuh.
2 Prosedur - prosedur yang Rendah Tinggi Non steril
melibatkan benda tajam
S

3 Penanganan disinfektan Rendah Rendah Non steril


4 Tindakan medis yang Rendah Rendah Non steril
R

memungkinkan penarikan sarung


tangan.
5 Seluruh prosedur aseptik dengan Tinggi Tinggi Steril
potensi paparan darah dan cairan,
tubuh.
6 Seluruh prosedur operasi Tinggi Tinggi Steril

28
Hal - hal yang harus diperhatikan :
1. Lakukan hand hygiene sebelum memakai sarung tangan dan setelah melepas sarung
tangan.
2. Sarung tangan harus diganti antara kontak pasien dengan pasien yang lain
3. Sarung tangan tidak boleh dicuci atau didisinfeksi antara pasien dengan pasien,
karena dapat meningkatkan terjadinya penetrasi cairan melalui lubang-lubang yang

G
terjadi dan tidak terlihat pada sarung tangan.
4. Dalam memutuskan tipe sarung tangan untuk macam - macam jenis tindakan juga

N
dipertimbangkan bahan dari sarung tangan itu sendiri, yaitu:
Vinyl; murah, untuk proteksi pada tindakan dengan risiko minimal.

TA
Natural rubber latex: sarung tangan yang mempunyai proteksi terbaik.
Nitrile: dipilih untuk petugas dengan alergi latex dan pada prosedur yang
memerlukan disinfektan glutaraldehyde
5.

N
Untuk sarung tangan petugas yang menggunakan high-level disinfektan
BO
glutaraldehyde dan turunannya tidak dianjurkan untuk memakai sarung tangan
berbahan dasar latex, karena dapat mengurangi aktifitas glutaraldehyde untuk
mensterilkan alat, seharusnya dipakai sarung tangan berbahan nitrite.
6. Bila ada petugas yang alergi terhadap latex dianjurkan untuk memakai sarung tangan
berbahan dasar nitrite (untuk kasus tertentu).
M

7. Gunakan sarung tangan dengan ukuran yang sesuai agar tidak mengganggu
keterampilan dan mudah robek.
LA

8. Tarik sarung tangan ke atas manset gaun untuk melindungi pergelangan tangan.
9. Jaga kuku selalu pendek agar sarung tangan tidak mudah robek.
10. Gunakan pelembab yang larut dalam air (bebas lemak) untuk mencegah kulit tangan
IS

kering, jangan menggunakan lotion/krem berbahan dasar minyak dan mengandung


parfum karena dapat merusak sarung tangan dan menyebabkan iritasi kulit.
11. Jangan menyimpan sarung tangan di tempat yang terlalu panas atau terlalu dingin
S

karena dapat merusak bahan sarung tangan.


R

12. Melepas sarung tangan (Gambar 4.2):


a. Ingatlah bahwa bagian luar sarung tangan telah terkontaminasi
b. Pegang bagian luar sarung tangan sengan sarung tangan lainnya, lepaskan
c. Pegang sarung tangan yang telah dilepas dengan menggunakan tangan yang
maslh memakai sarung tangan

29
d. Selipkan jari tangan yang sudah tidak memakai sarung tangan di bawah sarung
tangan yang belum dilepas di pergelangan tangan
e. Lepaskan sarung tangan diatas sarung tangan pertama
f. Buang sarung tangan di tempat limbah infeksius.

Table 4.2

G
Daftar contoh-contoh tindakan yang memerlukan sarung tangan steril dan non steril
Sarung Tangan

N
No. Tindakan
Steril Non streril Tidak Perlu
1. Mengukur tekanan darah
2. Mengukur suhu

TA
3. Injeksi
4. Memandikan pasien
5. Pengambilan darah/cairan tubuh
6. Pengambilan darah/cairan tubuh

N
7. Pasang kateter urin
8. Lepas kateter urin
BO
9. Phlebotomi
10. Pemeriksaan Pelvic (Periksa Dalam)
11. Pasang dan lepas IUD
12. Aspirasi vakum manual
13. Inspekulo
14. Anuskopl
M

15. Kuretase
16. Dressing (Tindakan Aseptik)
17. Dressing
LA

18. Pasang dan lepas implant


19. Partus normal
20. Sectio Cesar atau laparatomi
21. Vasektomi atau laparoscopi
IS

22. Punksi lumbal/intratekal (Tindakan


aseptik)
23. Aspirasi sum sum tulang (Tindakan
aseptik)
S

24. Punksi pleura, pemasangan Water


Sealed Drainage (WSD)(Tindakan
aseptik)
R

25. Meeting luka, insisi, eksisi (Tindakan


aseptik)
26. Bouginasi uretra (Tindakan aseptik)
27. Prosedur operasi lainnya (Tindakan
aseptik)

30
Gambar 4.1
Cara memakai sarung tangan

G
N
TA
N
BO
M
LA
IS
S
R

31
MASKER
Masker digunakan untuk menahan cipratan yang keluar sewaktu petugas kesehatan
berbicara, batuk atau bersin serta mencegah percikan darah pasien atau cairan tubuh
lainnya memasuki hidung atau mulut petugas kesehatan. Agar efektif, masker harus
cukup besar untuk menutupi hidung, mulut, bagian bawah dagu dan jenggot serta terbuat
dari bahan yang tahan terhadap cairan.

G
Masker yang ada terbuat dari bahan katun ringan, kain kassa, kertas dan bahan sintetik

N
yang beberapa diantaranya tahan terhadap cairan. Masker yang dibuat dari katun atau
kertas sangat nyaman tetapi tidak dapat menahan cairan atau efektif sebagai filter. Masker

TA
yang dibuat dari bagahn sintetik dapat memberikan perlindungan dari tetesan berukuran
besar (>5um) yang tersebar melalui batuk dan bersin ke orang yang berda dekat dengan
pasien (< 1 meter).

N
Pada perawatan pasien yang telah diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular
BO
melalui udara atau droplet, masker yang digunakan harus dapat mencegah partikel
mencapai membran mukosa dari petugas kesehatan.

Prinsip pemakaian Masker


M

a. Eratkan tali atau karet elastik pada bagian tengan kepala dan leher
b. Paskan klip hiding dari logam fleksibel pada batang hidung
LA

c. Paskan dengan erat pada wajah dan di bawah dagu sehingga melekat dengan baik.
d. Periksa ulang pengepasan masker.
IS
S
R

Gambar 4.3.Memasang masker yang benar

Masker efisiensi tinggi


Merupakan jenis masker khusus yang direkomendasikan bila penyaringan udara

32
dianggap penting misalnya kasus flu burung atau SARS.Masker dengan efisiensi tinggi
seperti N-95 melindungi dari partikel berukuran <5um yang dibawa oleh udara.
Pelindung ini terdiri dari banyak lapisan bahan penyaring dan harus dapat menempel
dengan erat pada wajah tanpa ada kebocoran. Dilain pihak pelindung ini juga lebih
mengganggpernapasan dan lebih mahal daripada masker bedah. Sebelum petugas
memakai masker N-95 perlu dilakukan fit test pada setiap pemakaiannya.

G
Ketika sedang merawat pasien yang telah diketahui atau dicurigai menderita penyakit

N
menular melalui udara maupun droplet, petugas kesehatan harus menggunakan masker
efisiensi tinggi. Pelindung ini merupakan perangkat N-95 yang telah disertifikasi secara

TA
internasional dan harus diuji pengepasannya (fittest). Sebelum memakai masker efisiensi
tinggi petugas kesehatan harus memperhatikan:
Sisi masker yang menempel pada wajah untuk melihat apakah lapisan utuh dan tidak

N
rusak. Jika bahan penyaring rusak atau kotor, buang masker tersebut. Masker yang
mengalami retak, terpotong, terkikis, atau terlipat pada sisi dalam masker, tidak dapat
BO
digunakan.
Tali-tali masker harus menempel dengan baik di semua titik sambungan.
Klip hidung yang terbuat dari logam (jika ada) berada pada tempatnya dan berfungsi
dengan baik.
M

Fittest
LA

Fungsi masker akan menjadi tidak efektif jika tidak dapat melekat secara sempurna pada
wajah, untuk itu diperlukan fit test setiap saat sebelum memakai masker efisiensi tinggi.
Cara fit test
IS

1. Genggamlah respirator dengan satu tangan, posisikan sisi depan bagian hidung pada
ujung jari-jari Anda, biarkan tali pengikat respirator menjuntai bebas dibawah tangan
Anda.
S

2. Posisikan respirator dibawah dagu Anda dan sisi untuk hidung berada di atas.
R

3. Tariklah tali pengikat respirator yang atas dan posisikan tali agak tinggi di belakang
kepala Anda di atas telinga. Tariklah tali pengikat respirator yang bawah dan
posisikan tali di bawah telinga.
4. Letakkan jari-jari kedua tangan Anda diatas bagian hinung yang terbuat dari logam.
Tekan sisi logam tersebut (Gunakan dua jari dari masing-masing tangan) mengikuti
bentuk hidung Anda. Jangan menekan respirator dengan satu tangan karena dapat

33
mengakibatkan respirator bekerja kurang efektif.
5. Tutup bagian depan respirator dengan kedua tangan, dan hati-hati agar posisi
respirator tidak berubah.
6. Pemeriksaan segel positif
Hembuskan napas kuat-kuat. Tekanan positif di dalam respirator berarti tidak ada
kebocoran. Bila terjadi kebocoran atur posisi dan/atau ketegangan tali. Uji kembali

G
kerapatan respirator. Ulangi langkah tersebut sampai respirator benar-benar tertutup
rapat.

N
7. Pemeriksaan segel negative
Tarik napas dalam-dalam. Bila tidak ada kebocoran, tekanan negative akan membuat

TA
respirator menempel ke wajah. Kebocoran akan menyebabkan hilangnya tekanan
negative di dalam respiratorudara masuk melalui celah-celah pada segelnya.

N
BO
Gambar 4.4. Melakukan fit test masker N-95
M

Melepas Masker
a. Ingatlah bahwa bagian depan masker telah terkontaminasi - jangan disentuh
LA

b. Lepaskan tali bagian bawah dan kemudian tali atau karet bagian atas
c. Buang ke tempat limbah infeksius.
IS
S

Gambar 4.4. Melepas masker yang benar


R

Gambar 4.5. Cara melepas masker N-95

34
Kewaspadaan
Beberapa masker mengandung komponen lateks dan tidak bisa digunakan oleh individu
yang alergi terhadap lateks. Petugas harus diberi cukup waktu untuk menggunakan dan
melepaskan masker dengan baik sebelum bertemu dengan pasien.

ALAT PELINDUNG MATA

G
Melindungi petugas dan percikan darah atau cairan tubuh lain dengan cara melindungi
mata. Pelindung mata mencakup kacamata (goggles) plastik bening, kacamata pengaman,

N
pelindung wajah dan visor. Kacamata koreksi atau kacamata dengan lensa polos juga
dapat digunakan, tetapi hanya jika ditambahkan pelindung pada bagian sisi mata. Petugas

TA
kesehatan harus menggunakan masker dan pelindung mata atau pelindung wajah, jika
melakukan tugas yang memungkinkan adanya percikan cairan secara tidak sengaja
kearah wajah. Bila tidak tersedia pelindung wajah, petugas kesehatan dapat

N
menggunakan kacamata pelindung atau kacamata biasa serta masker.
BO
M
LA

Gam bar 4.7. Cara memakai kacamata/pelindung wajah

Melepas kacamata atau pelindung wajah


IS

a. Ingatlah bahwa bagian luar kacamata atau pelindung wajah telah terkontaminasi
b. Untuk melepasnya, pegang karet atau gagang kacamata
S
R

Gambar 4.8. Cara melepas kacamata/pelindung wajah

35
c. Letakkan di wadah yang telah disediakan untuk diproses ulang atau dalam tempat
limbah infeksius

PELINDUNG KEPALA
Digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga serpihan kulit dan rambut
tidak masuk ke dalam luka selama pembedahan.Topi harus cukup besar untuk menutup

G
semua rambut. Meskipun topi dapat memberikan sejumlah perlindungan pada pasien,
tetapi tujuan utamanya adalah untuk melindungi pemakaiannya dari darah atau cairan

N
tubuh yang terpercik atau menyemprot.

TA
GAUN PELINDUNG
Digunakan untuk menutupi atau mengganti pakaian biasa atau seragam lain, pada saat
merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular melalui

N
droplet/airborne. Pemakaian gaun pelindung terutama adalah untuk melindungi baju dan
kulit petugas kesehatan dari sekresi respirasi. Ketika merawat pasien yang diketahui atau
BO
dicurigai menderita penyakit menular tersebut, petugas kesehatan harus mengenakan
gaun pelindung setiap memasuki ruangan untuk merawat pasien karena ada kemungkinan
terpercik atau tersemprot darah, cairan tubuh atau sekresi. Hal ini penting jika gaun
pelindung tidak tahan air. Apron akan mencegah cairan tubuh pasien mengenai baju dan
M

kulit petugas kesehatan. Prinsip pemakaian gaun pelindung;


a. Tutupi bahan sepenuhnya dari leher hingga lutut, lengan hingga pergelangan tangan
LA

dan selubungkan ke belakang punggung


b. Ikat di bagian belakang leher dan pinggang
IS
S
R

Gambar 4.9. Cara memakai gaun pelindung

36
Melepas gaun pelindung
a. Ingatlah bahwa bagian depan gaun dan lengan gaun pelindung telah terkontaminasi
b. Lepas tali
c. Tarik dari leher dan bahu dengan memegang bagian dalam gaun pelindung saja
d. Balik gaun pelindung
e. Lipat atau gulung menjadi gulungan dan letakkan di wadah yang telah disediakan

G
untuk diproses ulang atau buang di tempat limbah infeksius.

N
TA
N
BO
Gambar 4.9. Cara melepas gaun pelindung

PELINDUNG KAKI
Digunakan untuk melindungi kaki dari cedera akibat benda tajam atau benda berat yang
M

mungkin jatuh secara tidak sengaja ke atas kaki. Oleh karena itu sandal atau sepatu yang
terbuat dari bahan lunak (kain) tidak boleh dikenakan. Sepatu boot karet atau sepatu kulit
tertutup memberikan lebih banyak perlindungan, tetapi harus dijaga tetap bersih dan
LA

bebas kontaminasi darah atau tumpahan cairan tubuh lain. Penutup sepatu tidak
diperlukan jika sepatu bersih. Sepatu yang tahan terhadap benda tajam atau kedap air
harus tersedia di kamar bedah. Sebuah penelitian menyatakan bahwa penutup sepatu dari
IS

kain atau kertas sapat meningkatkan kontaminasi karena memungkinkan darah merembes
melalui sepatu dan seringkali digunakan sampai di luar ruang operasi. Kemudian dilepas
tanpa sarung tangan sehingga terjadi pencemaran.
S
R

Langkah-langkah mengenakan APD:


1. Kenakan baju pelindung
2. Kenakan masker atau respirator
3. Kenakan penutup mata/goggle atau face shield
4. Kenakan sarung tangan

37
Langkah-langkah-melepaskan APO:
1. Lepaskan sarung tangan
2. Lepaskan penutup mata/goggle atau face shield
3. Lepaskan baju pelindung
4. Lepaskan masker atau respirator

G
N
TA
N
BO
M
LA
IS
S
R

38
BAB V
TATALAKSANA PENCEGAHAN INFEKSI ALIRAN DARAH PRIMER (IADP)

PENDAHULUAN
Pengunaan kateter intra vena (IV) merupakan bagian integral dari perawatan pasien
karena digunakan untuk memasukan cairan IV, obat-obatan IV, komponen darah, nutrisi

G
parenteral, dan untuk memantau hemodinamis pasien-pasien dalam kondisi kritis. Namun
demikian penggunaan kateter IV ini sering menjadi penyebab komplikasi lokal maupun

N
sistemik, termasuk septic trombophlebitis, endokarditis, infeksi aliran arah, dan infeksi
lain yang diakibatkan oleh terinfeksinya bagian tubuh tertentu karena kateter yang

TA
terkolonisasi. Risiko IADP dapat diminimalisir dengan melakukan tindakan aseptik
sebelum dan setelah insersi.

N
NNIS menyatakan selama tahun 1992 sampai tahun 1999 bahwa dari lebih 800 ICU di
Amerika Serikat ditemukan 2.694 kejadian Infeksi Aliran Darah, dan 83% dari angka
BO
tersebut dikarenakan pemakaian kateter IV. Adapun dampak dari IADP adalah
meningkatkan angka mortalitas dan morbiditas antara 10%-20%, menambah hari
perawatan antara 10-20 hari, yang tentunya menambah biaya rawat.
M

Sumber infeksi dapat bersifat intrinsik bila kontaminasi terjadi sebelum penggunaan,
misalnya kontaminasi cairan IV karena kesalahan proses sterilisasi di pabrik, dan bersifat
LA

ekstrinsik bila kontaminasi terjadi selama perawatan IV, misalnya saat insersi. Reservoir
mikroorganisme yang paling menyebabkan IADP adalah daerah insersi dan konektor
(Gambar 5.1).
IS
S
R

Gambar 5.1. Akses kontaminasi pada terapi intra vena

39
DEFINISI
IADP: Ditemukan organisme dari hasil kultur darah semi/kuantitatif dengan tanda klinis
yang jelas serta tidak disertai infeksi yang lain (tanpa ada organ atau jaringan lain yang
dicurigai sebagai sumber infeksi) dan/atau dokter yang merawat menyatakan infeksi
Plebitis (Superfisial & Deep Phlebitis): Pada daerah lokal tusukan infus ditemukan
tanda-tanda merah, seperti terbakar, bengkak, sakit bila ditekan, ulkus sampai eksudat

G
purulen atau mengeluarkan cairan bila ditekan.

N
PATOGENESIS
Kateter IV mengandung material fibrin (biofilm) pada bagian permukaan dalam dan luar

TA
kateter. Biofilm ini dapat terkolonisasi mikroba dan terlindungi dari mekasime
pertahanan pejamu. Kolonisasi pada biofilm blasanya diikuti infeksi yang menyebabkan
sepsis lokal atau septic trombophlebitis. Pada beberapa kasus mikroba dapat berkembang

N
pada biofilm permukaan kateter dan dapat dilepaskan ke aliran darah yang dapat
menyebabkan infeksi sistemik (misalnya bakteremia).
BO
CRITERIA KLINIS INFEKSI ALIRAN DARAH PRIMER
Terdapat kuman patogen yang diketahui hasil satu kali atau lebih dari biakan darah
dengan salah satu gejala klinis seperti:

M

Demam > 38'C


Menggigil
Hipotensi
LA

Pasien berumur < 1 tahun dengan paling sedikit satu dari tanda-tanda berikut:
Demam > 38 B C
IS

Hipotermia < 37 C
Apneu
Bradikardia
S

STRATEGI PENCEGAHAN
R

1. Pendidikan dan Pelatihan Petugas Medis


Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan bagi petugas kesehatan yang
mengenai indikasi pemakaian alat/set intra vaskuler, prosedur pemasangan kateter
intra vena, pemeliharaan kateter intra vena dan pencegahan infeksi saluran darah
sehubungan dengan pemakaian kateter. Metode audio visual dapat digunakan

40
sebagai alat bantu yang baik dalam pendidikan (Kategori I)
2. Surveilans
Surveilans perlu dilakukan untuk menentukan angka infeksi masing-masing jenis
alat, untuk memonitor kecenderungan angka-angka tersebut dan untuk
mengetahui kekurangan dalam praktek pengendalian infeksi. (Kategori H)
Perabaan dengan tangan (palpasi) setiap hari pada lokasi pemasangan kateter

G
intra vena melalui perban untuk mengetahui adanya pembengkakan (Kategori II).

N
3. Hand Hygiene
Hand hygiene harus dilakukan sebelum dan sesudah palpasi, pemasangan alat/set

TA
intra vena, penggantian alat/set intra vena, atau memasang perban (Kategori I).

4. Pemasangan kateter intra vena


N
Pemasangan dan manipulasi kateter intra vena dilakukan dengan teknik aseptik.
Penggunaan barrier pada pemasangan dan perawatan kateter intra vena.
BO
Penggunaan sarung tangan saat mengganti perban kateter intra vena (Katerigori
II)
Jangan menyingkat prosedur pemasangan kateter yang sudah ditentukan
(Kategori I)
M

Bersihkan kulit di lokasi dengan antiseptik yang sesuai sebelum pemasangan


alat intra vena. Biarkan antiseptik mengering pada lokasi sebelum memasang
LA

(Kategori I)
Jangan melakukan palpasi pada lokasi setelah kulit dibersihkan dengan
antiseptik karena lokasi dianggap daerah steril (Kategori I)
IS

Gunakan kasa steril atau perban transparan untuk menutup lokasi pemasangan.
Bila dipakai iodine tincture untuk membersihkan kulit sebelum pemasangan alat
intra vena, maka harus dibilas dengan alkohol (Kategori III)
S

Mengganti perban bila basah atau kotor (Kategori II)


Hindari sentuhan yang mengkontaminasi lokasi kateter saat mengganti perban
R

(Kategori I)

5. Pemilihan dan penggantian kateter intra vena


Pilih alat yang risiko komplikasinya relatif rendah dan harganya paling murah
yang dapat digunakan untuk terapi IV dengan jenis dan jangka waktu yang

41
sesuai (Kategori I)
Lepas semua jenis peralatan intra vena bila sudah tidak ada indikasi klinis
(Kategori I)
Periksa secara visual lokasi pemasangan kateter untuk mengetahui apakah ada
pembengkakan, demam tanpa adanya penyebab yang jelas, atau gejala infeksi
lokal atau infeksi bakteremia (Kategori II)

G
Catat tanggal dan waktu pemasangan kateter di lokasi yang dapat dilihat dengan
jelas (Kategori M)

N
6. Penggantian perlengkapan dan cairan intra vena.

TA
Alat/set intra vena terdiri atas seluruh bagian mulai dari ujung selang yang
masuk ke kontainer I cairan infus sampai ke konektor.
Ganti selang penghubung tersebut bila alat intra vena diganti (Kategori III).

N
Ganti selang IV, termasuk selang piggyback dan stopcock, dengan interval yang
tidak kurang dari 72 jam, kecuali bila ada indikasi klinis (Kategori I)
BO
Ganti selang yang dipakai untuk memasukkan darah, komponen darah atau
emulsi lemak dalam 24 jam dari awal pemasangan infus (Kategori II)

7. Cairan Parenteral
M

Infus harus diselesaikan dalam 24 jam untuk satu botol cairan parenteral yang
mengandung lemak (Kategori II)
LA

Bila hanya emulsi lemak yang diberikan, selesaikan infus dalam 12 jam setelah
botol emulsi mulai digunakan (Kategori II)
IS

8. Port injeksl intra vena


Bersihkan port injeksi dengan alkohol 70 % atau povidone -iodine sebelum
mengakses sistem (Kategori I).

S

Campurkan seluruh cairan parentral di bagian farmasi dalam laminar-flow hood


menggunakan tehnik aseptik (Kategori II).
R

9. Penggunaan vial mutti dosis


Dinginkan dalam kulkas vial multi dosis yang dibuka, bila direkomendasikan
oleh pabrik (Kategori I)
Bersihkan karet penutup vial multi dosis dengan alkohol sebelum menusukkan

42
alat ke vial (Kategori I)
Gunakan alat steril setiap kali akan mengambil cairan dari vial multi dosis , dan
hindari kontaminasi alat sebelum menembus karet vial (Kategori I)
Buang vial multi dosis bila sudah kosong, bila dicurigai atau terlihat adanya
kontaminasi, atau bila telah mencapai tanggal kadaluarsa (Kategori I)

G
10. Antibiotik profilaksis
Jangan memberikan antimikroba sebagai prosedur rutin sebelum pemasangan

N
atau selama pemakaian alat Intra vena untuk mencegah kolonisasi kateter atau
infeksi bakteremia (Kategori II).

TA
N
BO
M
LA
IS
S
R

43
BAB VI
TATA LAKSANA PENCEGAHAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

PENDAHULUAN
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi rumah sakit yang paling sering ditemukan
yaitu 30 % dari semua kasus infeksi rumah sakit. Paling sering berhubungan dengan

G
pemakaian alat-alat pengeluaran air seni seperti seperti bladder catheter. Risiko
terjadinya bakteriuri pada pasien pengguna bladder catheter meningkat seiring dengan

N
lamanya penggunaan kateter tersebut, yaitu 5 % perhari pada minggu pertama meningkat
hampir 100% pada minggu keempat. 1 - 4 % pasien dengan bakteriuri pada akhirnya akan

TA
berkembang menjadi infeksi saluran kemih, seperti sistitis, pielonefritis, atau septisemia.

Oleh karena itu pemasangan kateter urin harus dengan indikasi medis yang jelas, seperti

N
gangguan pengosongan buli-buli, atau untuk mengukur produksi urin dan secepatnya
dilepaskan bila tidak diperlukan lagi. Pada pasien dengan indikasi yang jelas, dapat
BO
dilakukan pemasangan kateter urin yang bersih dan intermiten sehingga mengurangi
risiko infeksi. Inkontinensia Urin bukan indikasi pemasangan kateter urin, pada kasus ini
dapat digunakan diapers.
M

DEFINISI
Infeksi saluran kemih yang sebelumnya tidak ada dan tidak ada penyebab selain akibat
LA

pemasangan kateter urin menetap.

PATOGENESIS
IS

Dalam keadaan normal, flora urethra cenderung bermigrasi ke buli-buli, dan secara
regular akan dibilas/dibersihkan pada saat buang air kecil. Bila terpasang kateter urin,
maka akan meniadakan proses alamiah tersebut, sehingga flora perineum dan urethra
S

akan masuk ke buli-buli melalui celah antara dinding luar kateter dan mukosa urethra.
Karena hal ini maka kolonisasi di buli-buli tidak dapat dihindari bila penggunaan kateter
R

urin dalam jangka waktu yang lama. Infeksi buli-buli juga dapat disebabkan oleh reflux
bakteri dari urin yang terkontaminasi di dalam urinebag, oleh karena itu bila mungkin
sistim kateter tertutup harus digunakan untuk menurunkan kejadian infeksi. Tangan dari
pekerja kesehatan mungkin juga terkontaminasi sistim kateter urin selama pemasangan /
perawatan kateter.

44
ETIOLOGI
E.Coli, Klebsiella, Proteus, Enterococcus,Pseudomonas, Enterobacter, Serratia,
Candida
Kebanyakan flora normal usus manusia
Dapat berasal kontaminasi silang dari:
- Pasien lain

G
- Petugas Rumah sakit
- Cairan terkontaminasi

N
- Alat kesehatan yg tidak steril

TA
FAKTOR RISIKO
Durasi pemasangan kateter
Jenis kelamin : wanita
Diabetes, malnutrisi, renal insuflssiensi

N
BO
Teknik pemasangan kateter tidak aseptik
Fecal incontinensia
Terbukanya sirkuit pada kateter sistem tertutup
M

KRITERIA
1. ISK SIMPTOMATIS
LA

Ditemukan paling sedikit satu dari tanda-tanda berikut tanpa penyebab lain:
Demam (>38C)
Anyang-anyangan (nikuri),

IS

Polikisuri,
Disuri,
Nyeri Supra pubik,
S

Hasil biakan urin midstream >10 kuman per ml urine dengan jumlah kuman
tidak lebih dari 2 spesies (kriteria 1)
R

Selain tanda-tanda tersebut, juga ditemukan paling sedikit satu dari tanda berikut:
Tes dipstick positif untuk leucosit esterase dan/atau nitrit
Piuri (terdapat >10 leucosit per ml atau terdapat 3 leucosit per LPB dari urine
tanpa dilakukan sentrifugasi).

45
Ditemukan kuman dengan pewarnaan gram dari urine yang tidak disentrifugasi
Biakan urin paling sedikit 2 kali berturut-turut memperlihatkan jenis kuman
yang sama dengan jumlah >100 koloni kuman per ml yang diambil dengan
kateter
Biakan urin menunjukan 1 jenis uro patogen dengan jumlah >10 ml pada pasien
yang telah mendapat antimikroba yang sesuai

G
Didiagnosis ISK oleh dokter yang menangani dan telah mendapat obat
antimikroba yang sesuai (kriteria II)

N
TA
2. ISK ASIMPTOMATIS
Pasien tanpa kateter urine menetap dalam 7 hari sebelum biakan pertama positif
Kultur urine 2 x berturut-turut ditemukan >2 jenis kuman yang sama dengan
jumlah <10 per ml

N
Tidak terdapat gejala/ keluhan demam, suhu (>38C), anyang-anyangan
BO
(nikuri), Polikisuri, Disuri, Nyeri Supra pubik (kriteria II)

STRATEGI PENCEGAHAN
1. Batasi penggunaan kateter bila perlu saja dan penggunaan sesuai indikasi:

M

Menghilangkan obstruksi saluran kemih


Drainage pada retensio urine

LA

Membantu pembedahan urologi & bedah lain


Pengukuran produksi urine dengan tepat
2. Pertahankan indwelling kateter sistem drainage tertutup
IS

3. Mencegah kuman pada meatus uretra masuk ke kandung kemih:


Prosedur aseptic
Menjaga kebersihan meatus setiap hari cukup dengan air dan sabun
S

Hindari pemakaian antimikroba dan desinfektan


4. Hindari kontak urine bag dengan lantai, dinding & furniture
R

5. Lakukan disinfeksi pada saat kateter dan ujung penampung


6. Letakkan urine bag lebih rendah dari kandung kemih dan buang tiap 8 jam (per shift)/
bila penuh
7. Gunakan gelas ukur urine yang bersih dan terpisah untuk tiap pasien
8. Lakukan swab alcohol pada saluran keluar urin bag tiap kali mengosongkan urine bag.

46
9. Kebijakan / Policy:
Pemakaian catheter
Insersi catheter
Perawatan catheter
Penempatan pasien yang terpasang catheter
Monitoring culture urine

G
10. Edukasi petugas (kompetensi)
11. Hand Hygiene harus dilaksanakan setiap saat kontak dengan kateter (mengangkat

N
dan meletakkan) sebelum dan sesudah masuk kamar pasien, sebelum dan sesudah

TA
perawatan.

N
BO
M

Gambar 5.1
LA

Empat bagian kateter yang mungkin bakteri untuk mengakses bladder

PENGAMBILAN SAMPEL URIN


Sampet urin untuk pemeriksaan bakteriologi harus diambil pada selang karet dengan cara
IS

aseptik. Area selang yang akan diambil harus didisinfeksi dengan mengoleskan isopropyl
alcohol 70%. Sampel urin diambil menggunakan jarum suntik steril dan dipindahkan ke
tempat yang steril. Jangan pernah mengambil sampel urin dari kantong urin. Pada pasien
S

asimptomatis, pemeriksaan bakteriologi yang rutin secara klinis tidak berguna


R

IRIGASI BULI - BULI


Irigasi buli-buli atau dicuci dan dimasukkan antiseptik atau antibiotik tidak dapat
mencegah chatetet associated UTI. Oleh karena itu seharusnya tindakan ini jangan
dilakukan. Penggunaan antiseptik dan antibiotik dapat merusak mukosa buli-buli atau
kateter dan dapat menimbulkan bakteri yang resisten sehingga sulit untuk diobati.

47
PENGGUNAAN ANTI MIKROBA
Penggunaan rutin antibiotik sistemik pada pasien yang menggunakan kateter urin tidak
dianjurkan. Penggunakan antibiotik profilaksis dosis tunggal pada penggantian kateter
urin dapat digunakan pada pasien-pasien tertentu, yang secara klinis mempunya infeksi
atau Risiko tinggi terjadi ISK. Penggunaan antibiotik profilaksis berdasarkan penilaian
secara individual.

G
Pengobatan antibiotik untuk catheter associated UTI karena menggunakan kateter urin

N
yang lama menyebabkan bakteri yang resisten, dan mungkin tidak berhasil karena bakteri
penyebab sering melekat pada biofilm pada permukaan kateter urin, sehingga melindungi

TA
mereka terhadap efek antibiotik . Ada tempat untuk penggunaan kondom kateter untuk
jangka pendek pada pasien yang kooperatif. Penggantian perhari mungkin dapat
meniadakan komplikasi dan sekaligus perawatan penis. Harus dilepaskan bila terjadi

N
iritasi pada penis dan adanya pelepasan kulit.
BO
M
LA
IS
S
R

48
BAB VII
TATA LAKSANA PENCEGAHAN Ventilator Associated Pneumonia (VAP)

PENDAHULUAN
Meskipun terdapat kemajuan dalam terapl antimikroba, perawatan pendukung dan
tindakan pencegahan secara luas VAP masih merupakan penyebab penting morbiditas

G
dan mortalitas. Insiden VAP yang akurat sulit dipastikan, karena ada kemungkinan saling
silang dengan infeksi saluran liafas bawah lainnya seperti trakeobronkitis infeksiosa pada

N
pasien yang menggunakan ventilator. Insiden bervariasi tergantung dari definisi dan
populasi yang dievaluasi. Sebagai contoh, insiden VAP dapat meningkat sampai dua kali

TA
lebih tinggi pada kelompok pasien yang didiagnosa dengan menggunakan kultur
kualltatif atau semi kuantitatif dibandingkan dengan kultur kuantitatif sekresi saluran
nafas bawah.

N
Data VAP dari beberapa negara Asia menunjukkan insidens antara 3,5 sampai 46 per
BO
1000 hari ventilator. Suatu studi dari Taiwan juga menunjukkan bahwa neonatus lebih
rentan terhadap VAP dibandingkan dengan pasien ICU dewasa (insiden 70,3 vs 10,8 per
1000 hari ventilator). VAP timbul pada 9 -27 %dari semua pasien yang diintubasi. Pada
pasien-pasien ICU, hampir 90 % dari HAP timbul pada saat penggunaan ventilasi
M

mekanik. Risiko VAP paling tinggi terjadi pada saat masa awal rawat inap, dan
estimasinya berkisar sekitar 3 % per hari untuk lima hari pertama rawat inap 2 % per hari
LA

untuk lima sampai sepuluh hari dan 1 % per hari untuk hari selanjutnya. Oleh karena itu
sebagian besar ventilasi mekanik digunakan untuk jangka pendek, hampir separuh dari
keseluruhan VAP terjadi pada masa 4 hari pertama ventilasi mekanik. Proses intubasi
IS

juga berkaitan erat dengan risiko terjadi infeksi, sebaliknya pasien yang dikelola dengan
ventilasi non invasive jarang mengalami pneumonia nosokomial.
S

Empat prinsip utama penanganan pasien VAP yakni :


1. Penderita VAP harus ditangani dengan tepat dan cepat untuk mencegah mortalitas.
R

2. Mengenali pola bakteri dalam rumah sakit atau tempat-tempat di dalam rumah dari
waktu ke waktu. Informasi tersebut digunakan untuk memilih antibiotika yang tepat
sesuai keadaan klinis
3. Menghindari pemakaian antibiotika secara berlebihan dengan cara diagnosis yang
akurat, berdasar kultur saluran nafas bawah, dan mempersingkat lama terapi sesuai

49
periode efektifitas terpendek.
4. Menciptakan strategi pencegahan dengan memodifikasi faktor risiko yang dapat
dilakukan

DEFINISI
VAP (Ventilator-Associated Pneumonia) adalah pneumonia yang timbul dalam waktu

G
48-72 jam setelah intubasi endotracheal.

N
PATOGENESIS
1. Sumber-sumber patogen untuk HAP adalah alat-alat perawatan kesehatan,

TA
lingkungan (udara, air, peralatan) dan transfer mikroorganisme antara pasien dan staf
medis atau antar pasien (Level II).
2. Kolonisasi yang berkaitan dengan: keadaan hospes dan pengobatan, seperti derajat

N
penyakit dasar, operasi sebelumnya paparan antibiotic pengobatan lainnya, dan
paparan alat bantu nafas invasive merupakan hal yang penting dalam patogenesis
BO
HAP dan VAP (Level II).
3. Aspirasi patogen orofarings atau tumpahnya secret yang mengandung bakteri di
sekitar cuff pipa endotrakeal merupakan rute utama masuknya bakteri ke dalam
saluran nafas bawah (Level II).
M

4. Inhalasi atau inokulasi patogen langsung ke dalam saluran nafas bawah, penyebaran
hematogen melalui kateter intra vena yang terinfeksi, dan translokasi bacterial
LA

melalui lumen traktus gastrointestinal merupakan mekanisme patogenesisi VAP


(Level III).
5. Biofilm yang terinfeksi pada pipa endotrakeal dan kemudian dilanjutkan dengan
IS

embolisasi saluran nafas distal, mungkin penting dalam patogenesis VAP (Level III).
6. Lambung dan sinus paranasalis dapat menjadi reservoir yang potensial untuk
patogen nosokomlal dan berkontribusi terhadap kolonisasi bacterial orofaring,
S

namun hal ini masih kontroversial, berfariasi tergantung populasi pasien berisiko
serta menurun dengan adanya pergantian perjalanan alami penyakit dan pengelolaan
R

HAP (Level II).

KRITERIA
1. Early-onset:
Terjadi setelah 48-72 jam setelah intubasi endotracheal

50
2. Late-onset:
Terjadi setelah 72 jam intubasi endotracheal

FAKTOR RISIKO
Faktor pejamu:
Hipoalbuminemia, lansia, ARDS, PPOK, penurunan kesadaran (koma), luka bakar &

G
trauma, gagal organ, imunokompresi, aspirasi cairan lambung, kolonisasi kuman
aerodigestif, sinusitis

N
Faktor intervensi:

TA
Penggunaan antagonis H2 & antasida tinggi, penggunaan sedatif & relaksan otot,
penggunaan ventifasi mekanik, PEEP, reintubasi, NGT/OGT, posisi telentang,
penggunaan antibiotic tidak tepat

N
BO
STRATEGI PENCEGAHAN
Profilaksis umum
1. Tindakan-tindakan pengendalian infeksi yang efektif, seperti edukasi staf,
kepatuhan untuk melakukan hand hygiene, dan isolasi untuk mengurangi infeksi
M

silang dengan patogen MDR harus dilaksanakan secara rutin (Level II).
2. Pemantauan infeksi ICU untuk mengidentifikasi dan mengkuantifikasi
LA

patogen-patogen MDR baru dan endemis, serta persiapan data baru untuk
mendukung pengendalian infeksi dan memandu terapi antimicrobial secara tepat
pada pasien dengan kecurigaan VAP dan infeksi nosokomial lainnya, sangat
IS

dianjurkan untuk dilakukan (Level II).

Intubasi dan ventilasl mekanik


S

1. Intubasi dan intubasi ulang (re-intubatio) sedapat mungkin dihindari, karena


meningkatkan risiko VAP (Level I).
R

2. Bila memungkinkan ventilasi non invasive harus digunakan pada pasien gagal
nafas (level I).
3. Intubasi orotrakeal dan pipa orogastrik lebih dianjurkan dibandingkan dengan
intubasi nasotrakeal dan pipa nasogastrik, untuk mencegah sinusitis nosokomial
dan mengurangi risiko VAP, walaupun hubungan kausal langsung belum dapat

51
dibuktikan (Level II).
4. Penghisapan sukglotik secara terus menerus dapat mengurangi untuk VAP
awitan dini, dan apabila tersedia harus digunakan (level I).
5. Tekanan cuff pipa endotrakeal harus dipertahankan minimal 20 cmH20 untuk
mencegah terjadinya tumpahan patogen bacterial di sekitar cuffke dalam saluran
nafas bagian bawah (Level II).

G
6. Bahan kondensasi yang terkontaminasi harus dikosongkan secara hati-hati dari
sirkuit ventilator dan kondensasi harus dicegah supaya tidak memasuki pipa

N
endotrakeal ataupun alat nebulizer obat-obatan yang terpasang (Level II).
7. Pelembab udara pasif atau penukar panas kelembaban (heart-moisture

TA
exchangers) menurunkan kolonisasi sirkuit ventilator, namun belum terbukti
dapat menurunkan insiden VAP, sehingga tidak dapat dianggap sebagai alat
pencegahan pneumonia (level I).

N
8. Memperpendek lama intubasi dan ventilasi mekanik dapat mencegah VAP, dan
dapat dicapai dengan menggunakan protocol penggunaan sedasi dan
BO
mempercepat proses weaning (Level II).
9. Menjaga kecukupan staf di ICU dapat menurunkan lama perawatan,
memperbaiki pengendalian infeksi dan menurunkan lama penggunaan ventilasi
mekanik (Level II).
M

Aspirasi, posisi tubuh dan nutrisi enteral


LA

1. Pada saat pemberian nutrisi enteral pasien harus dirawat dengan posisi setengah
duduk (30-45) untuk mencegah terjadinya aspirasi (Level I).
2. Nutrisi enteral lebih diutamakan dibandingkan dengan nutrisi parenteral yang
IS

memiliki risiko komplikasi akibat kateter vena sentral. Selain itu nutrisi enteral
juga dapat mencegah jonjot usus yang memberi risiko translokasi bakteri (Level
I).
S
R

Modulasi kolonisasi: antiseptik oral dan antibiotika


1. Pemberian antibiotika sistemik sebelumnya bias menurunkan risiko pneumonia
nosokomial pada beberapa kelompok pasien, namun apabila riwayat pemberian
antibiotika sebelumnya diberikan pada saat awitan infeksi, maka harus dicurigai
infeksi oleh patogen MDR (Level II).
2. Pemberian antibiotika sistemik profilaksis selama 24 jam pada pasien cedera

52
kepala tertutup yang dilakukan intubasi darurat, mampu mencegah VAP di ICU.
Namun penggunaan secara rutin tidak direkomendasikan sampai ada data lebih
lanjut (Level II).
3. Modulasi kolonisasi orofaringeal dengan menggunakan klorheksidin oral
mampu mencegah HAP di ICU pada beberapa populasi pasien tertentu, seperti
pasien coronary artery bypass grafting (CABG), namun penggunaan secara rutin

G
tidak direkomendasikan sampai terdapat data lebih lanjut (Level I).
4. Gunakan interupsi harian atau penurunan kadar sedasi untuk mencegah sedasi

N
berat berkepanjangan dan hindari penggunaan obat-obatan paralitik, karena
keduanya dapat menekan refleks batuk dan meningkatkan risiko VAP (Level II).

TA
Profilaksis perdarahan stress, tranfusi, dan hiperglikemia
1. Berdasarkan data dari beberapa penelitian menunjukkan kecenderungan

N
penurunan insiden VAP akibat penggunaan sukralfat, namun terjadi sedikit
peningkatan risiko perdarahan lambung secara signifikan dibandingkan dengan
BO
penggunaan H2-anatagonis. Apabila diperlukan, pencegahan perdarahan
lambung dapat menggunakan salah satu dari H2-antagonist atau sukralfat (Level
I).
2. Transfusi sel darah merah dan produk darah alogenik lainnya harus mengikuti
M

prosedur yang ketat. Transfusi sel darah merah yang telah dikurangi kadar
leukositnya dapat membantu mengurangi insiden HAP pada populasi pasien
LA

tertentu (Level I).


3. Pada perawatan pasien di ICU, penggunaan insulin secara intensif
direkomendasikan untuk menjaga kadar serum glukosa antara 80-150 mg/dl
IS

dengan tujuan mengurangi infeksidarah nosokomial, menurunkan durasi


ventilasi mekanik, lama tinggal di ICU, morbiditas, dan mortalitas (Level I).
S
R

53
Pendekatan diagnostik

G
N
TA
N
BO
M

Gambar 7.1. Alur ringkasan strategi pengelolaan pasien yang diduga VAP, keputusan
LA

penghentian terapi antibiotika dapat berbeda tergantung darl tipe sampel yang diambil
(PSB, BAL, atau aspirasi endotrakeal) dan apakah hasil dilaporkan secara kuantitatif atau
semi kuantitatif
IS

PRINSIP UTAMA DAN REKOMENDASI STRATEGI PEMERIKSAAN


DIAGNOSTIK VAP
S

1. Pasien yang diduga VAP harus dilakukan kultur secret saluran nafas bagian bawah,
dan infeksi ekstra I pulmonal harus disingkirkan sebelum memberikan terapi
R

antibiotika (Level II).


2. Apabila dugaan pneumonia cukup tinggi atau setidaknya 10 % pasien menunjukkan
tanda sepsis, maka I pemberian terapi antibiotika segera diberikan tanpa
mempedulikan apakah pemeriksaan saluran napas I bawah menemukan bakteri atau
tidak. (Level II)

54
3. Terapi antibiotika yang didasarkan atas hasil kultur kualitatif akan mematikan lebih
banyak kuman dibandingkan bila berdasarkan kultur kuantitatif (Level I)
4. Kultur secret aspirasi trachea secara semikuantitatif tidak dapat dipergunakan
sebagai dasar yang kuat untuk menentukan adanya pneumonia yang memerlukan
terapi antibiotika (Level I)
5. Apabila pengambilan secret saluran nafas bagian bawah secara bronkoskopik tidak

G
segera tersedia, maka pengambilan sekret secara non-bronkoskopik untuk kultur
kuantitatif, dapat digunakan sebagai petunjuk terapi antibiotika (Level I)

N
6. Dari satu studi tentang VAP, penggunaan startegi bakteriologik secara bronkoskopik
mampu menurunkan angka kematian sampai hari ke 14 dibandingkan dengan

TA
strategi klinis (Level I)
7. Pada pasien yang secara klinis tidak stabil penundaan terapi dini antibiotika yang
tepat dapat meningkatkan mortalitas VAP, oleh karena itu terapi awal yang tepat

N
tidak boleh ditunda dengan alasan masih dilakukan pemeriksaan diagnostic (Level
II).
BO
TERAPI ANTIBIOTIKA
Prinsip Utama dan Rekomendasi Terapi Dini Antibiotika
1. Gunakanlah algoritme untuk menentukan terapi empirik awal berdasarkan ada
M

tidaknya faktor risiko bakteri MDR (level III). Faktor-faktor risiko ini termasuk
rawat inap berkepanjangan (5 hari atau lebih), rujukan dari fasilitas perawatan
LA

kesehatan, dan baru saja mendapat terapi antibiotika jangka panjang (Level II).
2. Pemillihan obat spesifik harus berdasarkan hasil mikrobiologi setempat, biaya,
ketersediaan, dan formularium setempat (Level II).
IS

3. Terapi yang tidak tepat (antibiotika tidak sesuai dengan hasil kultur) merupakan
faktor risiko utama peningkatan mortalitas dan masa rawat pasien. Terapi yang tidak
tepat paling sering dikaitkan dengan organisme yang resisten terhadap antibiotika
S

(Level II).
4. Pemilihan terapi empirik pasien yang telah mendapatkan antibiotika sebelumnya,
R

harus menggunakan antibiotika dari golongan yang berbeda, oleh karena terapi
antibiotika sebelumnya meningkatkan kemungkinan terapi tidak tepat dan dapat
mempredisposisi resistensi terhadap antibiotika dari golongan yang sama (Level III).
5. Terapi dini antibiotika harus diberikan dengan cepat, karena penundaan terapi
meningkatkan mortalitas VAP (Level III).

55
6. Terapi dini antibiotika akan tepat dan adekuat bila dibuat suatu protocol pemilihan
antibiotika berdasarkan rekomendasi-rekomnedasi dan disesuaikan dengan pola
resisitensi antibiotika setempat. Oleh karenanya setiap ICU harus secara teratur
mengumpulkan dan memperbaharui informasi (Level II).

G
N
TA
N
BO
Gambar 7.2 Alur terapi antobiotika empiric pada VAP

Table 7.1
M

Terapi antibiotika empiric awal pasien VAP tanpa faktor resiko pathogen bakteri MDR,
awitan awal dan dengan berbagai derajat beratnya penyakit
Patogen potensial Antibiotika yang direkomendasi
LA

Streptococcus pneumonia Ceftriaxon


Haemophilus influenza atau
Methicillin sensitive Levofloxacin, Maxifloxacin, atau Ciprofloxacin
Staphylococcus aureus Atau
IS

Basil gram negative enteric sensitive Ampicillin / Sulbactam


terhadapantibiotika
Echerichia coli Atau
K. pneumonia Ertapenem
S

Enterobacter spp
Proteus spp
R

Serratia marcessens
Catatan: antibiotika yang direkomendasikan harus sesuai dengan data mikrobiologls lokal.

56
Table 7.2.Terapi antibiotika empirik awal pasien VAP awitan lanjut atau dengan faktor
risiko bakteri MDR dan dengan berbagai beratnya penyakit.
Patogen potensial Kombinasi antibiotika yang direkomendasikan
Pathogen-patogen dari tabel 3 dan Cephalosporin
pathogen-patogen bakteroi MDR Antipseudomonal
(cefepim, ceftazidim)
P. aeruginasa atau

G
K. pneumonia (ESBL)** Carbapenem antipseudomonal
Acinetobacter spp (imipenem atau meropenem) atau

N
Betalactam /betalactamase inhibitor

TA
(piperacillin-tazobactam)
plus
Fluoroquinolon

N
Antipseudomonal
(ciprofloxacin, levofloxacin) atau
BO
Aminoglycoside
(amikacin, gentamicin, atau tobramicin)
Plus
Methicillin resisten stophy/ococcusaureus Linezolid, vancomycin, atauteictiplamin
(MRSA).
M

Catatan: Antibiotika yang direkomendasikan harus sesuai dengan data mikrobiologi


LA

lokal. "Apabila dicurigai terdapat galur ESBL, seperti K. pneumonia, atau Acinetobacter,
maka carbapenem merupakan pilihan yang dapat diandalkan. Apablla dicurigai terdapat
L. pneumophila, maka kombinasi terapl antibiotika harus terdapat makroid
IS

(azithromicin) atau fluoroquinolon (contoh Ciprofloxacin atau lefofloxacin) harus


digunakan dibandingkan aminoglycoside.
** Apabila terdapat faktor risiko atau Insiden lokal tinggi untuk MRSA
S
R

57
BAB VIII
TATA LAKSANA PENCEGAHAN INFEKSI LUKA OPERASI (ILO)

PENDAHULUAN
Meskipun telah terjadi kemajuan dalam teknik operasi ataupun pengetahuan tentang
patogenesa infeksiluka, infeksi luka operasi masih merupakan penyebab utama angka

G
morbiditas dan mortalitas pada pasien yang mengalami prosedur. Operasi jumlahnya
15% dari infeksi nosokomial. Proses terjadinya ILO sangat kompleks. Banyak faktor

N
yang mempengaruhinya seperti kondisi pasien, proses pembedahan, lingkungan sekitar
kamar bedah dan mikroorganisme. Faktor-faktor diatas berinteraksi secara kompleks

TA
mendorong timbulnya infeksi luka operasi.

Infeksi luka operasi masih merupakan permasalahan didalam pelayanan kesehatan.

N
Insiden umumnya tinggidi negara-negara berkembang. Diseluruh Rumah Sakit di
Indonesia, insiden ILO berkisar antara 3-18%. Dalam melakukan pencegahan dan
BO
pengendalian infeksi luka operasi dilakukan secara efektif dan efisien dengan kerjasama,
koordinasi, integrasi dan sinkronisasi semua pihak yang terkait didalamnya.
M

DEFINISI
Infeksi luka operasi adalah infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari setelah
LA

tindakan operasi tanpa pemasangan implan atau dalam waktu 90 hari bila operasi dengan
pemasangan implan dan infeksi diduga ada kaitannya dengan prosedur operasi.

KLASIFIKASI
IS

Klasifikasi ILO berdasarkan kriteria CDC (gambar 8.1.):


1. ILO insisi superfisial
Infeksi yang terjadi pada daerah insisi dalam waktu 30 hari paska bedah dan hanya
S

meliputi kulit, subkutan atau jaringan lain di atas fasia dan setidaknya ditemukan satu
R

diantara tanda berikut:


Keluarnya cairan purulen dari insisi superfisial dengan/tanpa konfirmasi
laboratorium
Didapatkan organisme dari kuftur cairan atau jaringan insisi superficial
Sedikitnya ada 1 dari tanda & gejala infeksi: sakit/nyeri, pembengkakan lokal,

58
merah atau panas dari insisi pembedahan
Diagnosis ditegakkan oleh dokter bedah/dokter
Kondisi yang BUKAN merupakan ILO: 1). abses pada jahitan operasi (inflamasi
minimal dan keluar cairan titik penetrasi jahitan), 2). Infeksi luka episiotomi atau
luka sirkumsisi pada bayi, 3).Luka bakar terinfeksi, 4). ILO pada tempat insisi yang
meluas kedalam lapisan fasia dan otot (ILO insisi dalam)

G
2. ILO insisi dalam

N
Infeksi yang terjadi pada daerah insisi dalam waktu 30 hari paska bedah tanpa implan
atau sampai 90 hari paska bedah dengan implan. Infeksi meliputi jaringan lunak

TA
dalam (fascia dan otot), dan setidaknya ditemukan satu diantara tanda berikut:
Keluarnya cairan purulen berasal dari insisi dalam, bukan dari organ/komponen
daerah operasi

N
Insisi dalam yang dibuka oleh ahli bedah dengan salah satu kriteria : demam
BO
(>38C), nyeri terlokalisir.
Ditemukan abses atau tanda infeksi lain terkait dengan insisi dalam yang
ditemukan pada pemeriksaan langsung, selama re-operasi, atau pemeriksaan
histopatologi atau radiologi.
Diagnosis ILO insisi dalam ditegakkan oleh ahli bedah/dokter
M

3. ILO organ/space
LA

Infeksi timbul dalam waktu 30 hari setelah prosedur pembedahan, bila tidak dipasang
implant atau dalam waktu 90 hari bila dipasang implant dan infeksi tampaknya ada
hubungannya dengan prosedur pembedahan. Meliputi semua organ yang dibuka atau
IS

dimanipulasi selama operasi dan setidaknya ditemukan satu diantara tanda berikut:
Adanya cairan purulen berasal dari drain yang diletakkan melalui luka tusukan
kedalam organ/spoce.
S

Terdapat organisme pada kuItur cairan atau jaringan dalam organ/space


R

Ditemukan abses atau bukti infeksi yang terkait organ/space pada pemeriksaan
langsung, selama re-operasi, atau pemeriksaan histopatologik atau radiologi
Diagnosis ILO organ/space ditegakkan oleh ahli bedah/dokter

59
G
N
TA
Gambar 8.1. Klasifikasi ILO berdasarkan kriteria CDC

STRATEGI PENCEGAHAN
N
BO
A. Pra Operasi
1. Persiapan pasien
Pasien yang akan dioperasi dianjurkan untuk dirawat pada hari yang sama
atau 1 hari sebelum tindakan operasi.
M

Identifikasi dan terapi faktor risiko pasien, seperti kontrol gula darah, dll.
Terapi terlebih dulu infeksi yang terjadi pada bagian tubuh lain sebelum
LA

tindakan operasi
Sebelum operasi pasien mandi dengan sabun antiseptik.
Hindari pencukuran kecuali mengganggu daerah operasi.
IS

Kalau perlu melakukan pencukuran, lakukan sesaat sebelum operasi dengan


menggunakan gunting atau alat depilator. Tidak dianjurkan menggunakan silet
karena akan meningkatkan risiko infeksi.
S
R

2. Antibiotika profilaksis
Antibiotika profilaksis bertujuan untuk premedikasi atau memperlambat
tumbuhnya mikro organisme kontaminan sehingga dapat mencegah
terjadinya infeksi luka operasi.
Diberikan untuk prosedur operasi bersih terkontaminasi

60
Untuk operasi bersih tidak perlu antibiotika profilaksis.
Operasi kotor atau terinfeksi diberikan antibiotik terapeutik bukan
profilaksis.
Jenis antibiotic : sefalesperin generasi 1 dan 2.
Pemberian antibiotika intravena sesegera mungkin pada waktu induksi atau
pada saat irisan dimulai.

G
Antibiotik profilaksis diulangi bila operasi lebih dari 3 jam dan terjadi
perdarahan masif 2 liter.

N
Pada operasi caesaria, antibiotika profilaksis segera diberikan sesudah tali

TA
pusat dijepit.
Hindari pemberian rutin vancomycin sebagai antibiotik profilaksis:
Operasi kolorektal selain pemberian antibiotik profilaksis juga harus

N
dilakukan preparasi kolon dengan enema dan pencahar serta 1 had sebelum
operasi diberi antimikroba yang tidak serap.
BO
B. Selama Operasi
1. Persiapan daerah operasi
Daerah operasi dibersihkan dengan tujuan untuk menghilangkan bakteri
M

superfisial dan debris organik.


Lanjutkan dengan pemberian antimikroba untuk menurunkan flora residen
LA

kulit.
Cairan anti mikroba yang dinjurkan adalah kombinasi alkohol dengan
chlorhexidin 0.5% atau iodophors atau povidine iodine 7.5%.

IS

Cairan anti mikroba diaplikasikan dengan gerakan memutar konsentris


kearah luar daerah operasi.
Pasien harus ditutup dengan kain penutup steril kecuali pada daerah operasi
S

tujuannya untuk melindungi terhadap kontaminasi melalui kontak tidak


langsung.
R

2. Surgical handscrub
Surgical handscrub ditujukan untuk menurunkan jumlah mikro organisme
pada tangan dokter bedah dan petugas bedah lainnya.
Seluruh petugas kamar operasi diharuskan berkuku pendek, tidak memakai
kuku artificial dan tidak direkomendasikan memakai cat kuku.

61
Jangan memakai perhiasan tangan dan lengan.
Surgical handscrub dilakukan selama 3 - 5 menit sesuai prosedur sampai
dengan siku
3. Perlengkapan operasi
Seluruh petugas kamar operasi harus memakai perlengkapan operasi yang tidak
boleh dipakai keluar lingkungan operasi. Perlengkapan operasi berupa:

G
a. Baju operasi dan drapes
Baju operasi harus steril dan harus dapat melindungi tubuh tim operasi

N
dari kontaminasi darah dan cairan tubuh.

TA
Baju panjang steril harus kedap air, berpori dan nyaman dipakai.
Baju yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh segera diganti.
b. Masker bedah
Dianjurkan memakai masker bedah yang terbuat dari bahan sintetis

N
yang sangat efektif menyaring bakteri.
BO
Masker harus diikat kuat menutupi hidung dan mulut
Masker baru harus dipakai untuk setiap operasi
c. Topi operasi / tutup kepala
Topi harus menutupi seluruh rambut secara sempurna.

M

Janggut harus tertutup penuh dengan cara memakai masker dan topi
yang terikat dileher,

LA

Topi terbuat dari material sintetis.


d. Sarung Tangan
Sarung tangan berfungsi untuk mencegah tim operasi terkontaminasi
IS

darah dan cairan tubuh pasien serta mencegah transfer mikro organisme
dari tangan tim bedah kepada pasien.
Sarung tangan yang dipakai steril sekali pakai.
S

Sarung tangan steril dipakai setelah cuci tangan dan sesudah memakai
baju steril.
R

e. Proteksi mata atau wajah


Proteksi mata atau wajah bertujuan mencegah kontaminasi darah atau
cairan tubuh pada membran mukosa hidung, mulut dan mata.
f. Sepatu
Sepatu harus tertutup dan mampu melindungi tim dari jatuhnya benda

62
tajam dan bahan kontaminan.
Tidak dibenarkan memakai sepatu terbuka.
Kalau Risiko tinggi terkena kontaminasi darah atau cairan tubuh
dianjurkan memakai sepatu antistatic waterproof.
4. Draping
Bertujuan mencegah transfer mikro organism ke luka operasi,

G
melindungi sterilitas instrumen, peralatan dan sarung tangan petugas,
Draping harus kedap cairan tubuh atau darah atau cairan irigasi.

N
5. Drain

TA
Merupakan akses bakteri melalui kolonisasi dan tangan.
Drain bukan alternatif untuk memperbaiki hemostatis
Drain harus sistem tertutup.

N
6. Kontaminasi melalui udara dalam kamar operasi
Membatasi jumlah petugas yang memasuki kamar operasi
BO
Membatasi pergerakan petugas dan pembicaraan yang tidak perlu
Membatasi keluar masuk petugas
Pintu kamar operasi harus selalu tertutup
Terdapat pergantian udara sebanyak 15 pertukaran udara bersih
M

(filtered air) dengan 3 kali pertukaran udara luar per jam.


Untuk kamar operasi bedah bersih yang menggunakanalat-alat
LA

prosthetic perlu tambahan sistem ventilasi aliran laminar.


7. Teknik operasi
Ahli bedah melakukan operasi secara halus
IS

Tetap memperhatikan hemostatis


Membuang jaringan mati, darah dan benda asing dengan baik
Selalu memperlakukan jar dan traksi jar secara hati-hati
S

Hindari kauter berlebihan


Menghindari dead space
R

Menggunakan material benang dan drain secara benar dan atas indikasi
Penutupan luka operasi tanpa tarikan (tension)
Tindakan operasi dilakukan oleh ahli bedah yang terlatih dibidangnya.
8. Lama operasi
Semakin lama operasi maka Risiko untuk terjadi infeksi luka operasi

63
semakin besar
Ahli bedah harus meningkatkan keterampilannya karena pengalaman
dan keterampilan akan mempengaruhi risiko infeksi luka operasi.

C. Post - Operasi
1. Dressing luka

G
Petugas harus terlatih melakukan dressing luka
Frekuensi dressing minimal

N
Dressing jangan dibuka selama 48 jam setelah operasi kecuali dicurigai

TA
terdapat infeksi
Semakin lama luka terbuka dan terpasang drain risiko infeksi semakin
tinggi.
2. Lama Perawatan

N
Hindari perawatan lama setelah operasi, pulangkan pasien sesegera
BO
mungkin
Hindari terlalu banyak pengunjung
Kalau perlu, letakkan pasien pada lingkungan bersih untuk menghindari
kolonisasi bakteri dari pasien terinfeksi.
M

D. Pembersihan Kamar Operasi



LA

Lantai ruang operasi harus dibersihkan segera setelah operasi selesai.


Penggunaan disinfektan secara rutin tidak perlu dilakukan, kecuali untuk
mendisinfeksi darah dan cairan tubuh.

IS

Dinding dan langit-langit dibersihkan 2 kali setahun


Tumpahan cairan tubuh di lantai harus dibersihkan dengan segera
S
R

64
BAB IX
PEMPROSESAN PERALATAN PASIEN DAN PENGELOLAAN LINEN
PEMPROSESAN PERALATAN PASIEN HABIS PAKAI

Pemprosesan peralatan pasien habis pakai adalah suatu proses untuk menghilangkan
mikroorganisme dan kotoran yang melekat pada alat kesehatan sehingga aman untuk

G
penggunaan berikutnya. Proses dimulai dari pre-cleaning / prabilas, cleaning /
pembersihan, desinfeksi dan sterilisasi yang seluruhnya dilakukan di ISSB. Apapun jenis

N
tindakan prosedur bedah, langkah-langkah dalam memproses barang-barang ini adalah
sama.

TA
Benda-benda tajam yang akan dibuang (misalnya scalpel dan jarum jahit) harus
ditempatkan di wadah benda tajam. Jika ada peralatan yang akan dipakai kembali seperti

N
semprit dan kanula hisap, baik yang telah dipakai maupun belum sewaktu pembedahan,
haruslah dilakukan precleaning/prabilas dengan deterjen enzimatik terlebih dahulu.
BO
Langkah ini sangat penting terutama jika peralatan tersebut akan dibersihkan dengan
tangan (Nystrom 1981). Setelah precleaning/prabilas, peralatan yang akan dipakai
kembali haruslah dibersihkan dengan air mengalir, kemudian bilas lalu dikeringkan.
Peralatan bedah dan barang-barang yang akan bersentuhan dengan darah atau jaringan
M

steril dibawah kulit lainnya (critical items) harus disterilisasi untuk menghancurkan
semua mikroorganisme, termasuk endospora bakterial. (Apabila sterilisasi tidak mungkin
LA

dilakukan atau alatnya tidak ada, maka dapat dilakukan DTT dengan dididihkan,
diuapkan atau direndam dalam larutan disinfektan kimiawi yang merupakan satu-satunya
alternatif yang dianjurkan). Peralatan atau barang-barang lain yang hanya menyentuh
IS

selaput lendir atau kulit luar yang terluka (semicritical items), cukup dilakukan disinfeksi
tingkat tinggi (DTT).
S

Formaldehyde alkohol tidak direkomendasikan sebagai sterilian kimia atau


DTT karena bersifat iritasi dan toksik.
R

Fenol 3% dan idophor tidak boleh untuk DTT karena tidak biasa mematikan
spora bacteria MTB dan jamur.
Isopropyl alcohol tidak boleh untuk DTT karena tidak bias mematikan bacteria
dan virus hidrophilik
Jangka ekspos untuk DTT berubah dari 10-30 menit menjadi >12 menit
Jangan melakukan disinfeksi fogging di area keperawatan.

65
Tiga Tingkat Proses Disinfeksi
1. Disinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) : mematikan kuman dalam waktu 20 menit - 12 jam
akan mematikan semua mikroba kecuali spora bakteri.
2. Disinfeksi Tingkat Sedang (DTS) : dapat mematikan mikro bacteria vegetatif
hamper semua virus, hampir semua jamur, tetapi tidak bisa mematikan spora bakteri.
3. Disinfeksi Tingkat Rendah (DTR): dapat mematikan hampir semua bakteri vegetatif,

G
beberapa jamur, beberapa virus dalam waktu < 10 menit. Setiap benda, baik
peralatan metal yang kotor memerlukan penanganan dan pemrosesan khusus agar:

N
Mengurangi risiko perlukaan aksi dental atau terpapar darah, atau cairan tubuh
terhadap petugas pembersih dan rumah tangga.

TA
Memberikan hasil akhir berkualitas tinggi (umpamanya peralatan atau benda
lain yang memberikan steril yang didisinfeksi tingkat tinggi (DTT).

N
PENGELOLAAN LINEN
BO
Pengelolaan linen merupakan suatu kegiatan yang dimulai dari pengumpulan linen kotor
dari masing-masing ruangan, pengangkutan, pencucian, penyeterikaan, penyimpanan,
dan penggunaan kembali yang sudah bersih.

Risiko terpajan atau mengalami ISPA akibat membawa linen yang sudah digunakan
M

memang relatif kecil. Namun demikian penanganan linen yang sudah digunakan harus
dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan APD yang sesuai dan melakukan hand
LA

hygiene secara teratur sesuai dengan pedoman kewaspadaan standar.

Prinsip umum
IS

Penerapan kewaspadaan standar dalam pengelolaan linen


Semua linen yang sudah digunakan harus dimasukkan ke dalam atau wadah yang
tidak rusak saat diangkut.
S

Pengantongan ganda tidak diperlukan untuk linen yang sudah digunakan.


R

Penanganan linen di ruangan


Linen tercemar berisiko tinggi menularkan penyakit
Petugas harus memakai sarung tangan bersih bila menangani linen infeksius
Penempatan linen kotor infeksius ke dalam plastik warna kuning, diikat dan

66
dimasukkan ke dalam trolley linen kotor
Penempatan linen kotor tidak infeksius ke dalam trolley linen kotor
Jangan meletakkan linen di lantai
Jangan mengibaskan linen kotor
Semua bahan padat pada linen yang kotor harus dihilangkan. Linen kotor tersebut
kemudian langsung dimasukkan kedalam kantong linen di kamar pasien. Jangan

G
melakukan spooling di ruangan.
Hilangkan bahan padat (misalnya feses) dari linen yang sangat kotor (menggunakan

N
APD yang sesuai) dan buang limbah padat tersebut ke dalam toilet sebelum linen

TA
dimasukkan ke kantong cucian linen yang sudah digunakan harus dibawa dengan
hati-hati untuk mencegah kontaminasi permukaan lingkungan atau orang-orang di
sekitarnya.
Jangan memilah linen di tempat perawatan pasien. Masukkan linen yang

N
terkontaminasi langsung ke kantong cucian di ruang isolasi dengan memanipulasi
BO
minimal atau mengibas-ibaskan untukmenghidari kontaminasi udara dan orang.
Linen yang sudah digunakan kemudian harus dicuci sesuai prosedur pencucian biasa.
Cuci dan keringkan linen sesuai dengan standar dan prosedur tetap fasilitas
pelayanan kesehatan.Untuk pencucian dengan air panas, cuci linen menggunakan
deterjen desinfektan dengan air 700C (160 F) selama minimal 25menit. Pilih bahan
M

kimia yang cocok untuk pencucian temperatur rendah dengan konsentrasi yang
sesuai bila melakukan pencucian dengan temperature rendah < 709 C(<160a F).
LA

Membawa linen dengan hati-hati


IS

Membawa linen kotor dalam wadah/kantong tertutup


Pastikan linen diangkut dan diolah dengan aman dengan melakukan klasifikasi
(ini sangat penting) dan menggunakan wadah/kantong yang ditentukan
menurut klasifikasinya.
S

Petugas kesehatan harus menggunakan APD yang memadai saat mengangkut


linen kotor
Transportasi/trolley linen bersih dan linen kotor harus dibedakan
R

67
BAB X
PENGELOLAAN LIMBAH

Pengelolaan limbah merupakan salah satu upaya kegiatan pencegahan pengendalian


infeksi di rumah sakit. Limbah rumah sakit dapat berupa yang telah terkontaminasi
(secara potensial sangat berbahaya atau tidak terkontaminasi dan tidak berbahaya bagi

G
petugas yang menangani, namun demikian penanganan limbah ini harus dikelola dengan
baik dan benar).

N
Semua limbah yang tidak terkontaminasi seperti kertas, kotak, botol, wadah plastik dan

TA
sisa makanan dapat dibuang dengan biasa atau dikirim ke Dinas Pembuangan Limbah
setempat atau tempat pembuangan limbah umum (CDC 1985, Rutala 1993).

N
Sedangkan limbah terkontaminasi (biasanya membawa mikroorganisme), jika tidak
dikelola secara benar akan dapat menular pada petugas yang menyentuh limbah tersebut
BO
termasuk masyarakat pada umumnya. Limbah terkontaminasi adalah semua limbah yang
telah terkontaminasi dengan darah, nanah, urin, tinja, jaringan tubuh lain dan bahan lain
bukan dari tubuh seperti bekas pembalut luka, kassa, kapas dan lain-lainnya. (Limbah
dari kamar operasi seperti jaringan darah, kasa, kapas, dll dan dari laboratorium seperti
M

darah, tinja, dahak, urin, biakan mikrobiologi harus dianggap terkontaminasi). Alat-alat
yang dapat melukai misalnya jarum, pisau yang dapat menularkan penyakit-penyakit
LA

seperti Hepatitis B, Hepatitis C, AIDS juga digolongkan sebagai limbah terkontaminasi.


IS

Limbah lain yang tidak membawa mikroorganisme, tetapi digolongkan berbahaya karena
mempunyai potensi berbahaya pada lingkungan meliputi:

Bahan-bahan kimia atau farmasi (misalnya kaleng bekas, botol atau kotak yang
S

mengandung obat kadaluwarsa, vaksin, reagen disinfektan seperti formaldehid,


glutataldehid, bahan-bahan organic seperti aseton dan loroform).
R

Limbah sitotoksik (misalnya obat-obat untuk kemoterapi).


Limbah yang mengandung logam berat (misalnya air raksa dari thermometer yang
pecah, tensimeter, bahan-bahan bekas gigi, dan cadmium dari baterai yang dibuang).
Wadah bekas berisi gas dan tidak dapat di daur ulang (misalnya kaleng penyembrot
yang berbahaya dan dapat meledak apabila dibakar.

68
Tujuan pengelolaan limbah ialah :
Melindungi petugas pembuangan limbah dari perlukaan.
Melindungi penyebaran infeksi terhadap para petugas kesehatan.
Mencegah penularan infeksi pada masyarakat sekitarnya.
Membuang bahan-bahan berbahaya (bahan toksik dan radioaktif) dengan aman.

G
Tumpukan limbah terbuka harus dihindari, karena:
Menjadi objek pemuiung yang akan memanfaatkan limbah yang terkontaminasi

N
Dapat menyebabkan perlukaan.
Menimbulkan bau busuk.

TA
Mengundang lalat dan hewan penyebar penyakit lainnya.

N
Pengelolaan limbah dapat dilakukan mulai dari sebagai berikut:
1. Identifikasi Limbah
BO
Padat
Cair
Tajam
Infeksius
M

Non infeksius
LA

2. Pemisahan
Pemisahan dimulai dari awal penghasil limbah
Pisahlah limbah sesuai dengan jenis limbah
IS

Tempatkan limbah sesuai dengan jenisnya


Limbah cair segera dibuang ke wastafel di spoelhoek
Limbah padat infeksius dimasukkan ke kantong plastik warna kuning
S

Limbah padat non infeksius dimasukkan ke kantong plastik warna hitam


Limbah benda tajam dimasukkan ke wadah tahan tusuk dan air
R

3. Pemberian label
Kantong pembuangan diberi label biohazard (gambar) atau sesuai jenis limbah

69
G
Gambar 9.1. Label biohazard
4. Pengepakan

N
Tempatkan dalam wadah limbah tertutup
Tutup mudah dibuka, sebaiknya bisa dengan menggunakan kaki

TA
Kontainer dalam keadaan bersih
Kontaier terbuat dari bahan yangkuat, ringan dan tidak berkarat
Tempatkan setiap container limbah pada jarak 10 - 20 meter

N
Ikat limbah jika sudah terisi penuh

BO
Kontainer limbah harus dicuci setiap hari

5. Penyimpanan
Simpan limbah di tempat penampungan sementara khusus
Tempatkan limbah dalam kantong plastik dan ikat dengan kuat
M

Beri label pada kantong plastik limbah


Setiap hari limbah diangkat dari tempat penampungan sementara
LA

Mengangkut limbah harus menggunakan kereta dorong khusus


Kereta dorong harus kuat, mudah dibersihkan, tertutup

IS

Tidak bolah ada yang tercecer


Gunakan alat pelindung diri ketika menangani limbah
Tempat penampungan sementara harus di area terbuka, terjangkau (oleh
S

kendaraan), aman dan selalu dijaga kebersihannya dan kondisi kering


R

6. Pengangkutan
Mengangkut limbah harus menggunakan kereta dorong khusus
Kereta dorong harus kuat, mudah dibersihkan, tertutup
Tidak boleh ada yang tercecer
Gunakan alat pelindung diri ketika menangani limbah

70
PENANGANAN LIMBAH
Insenerasi
Merupakan proses dengan suhu tinggi untuk mengurangi isi dan berat limbah. Proses ini
biasanya dipilih untuk menangani limbah yang tidak dapat didaur ulang, dipakai lagi atau
dibuang ke tempat pembuangan limbah atau tempat kebersihan perataan tanah.

G
Pembakaran terbuka
Pembakaran terbuka tidak dianjurkan karena berbahaya, batas pandangan tidak jelas, dan

N
angin dapat menyebarkan limbah ke sekitarnya kemana-mana. Jika pembakaran terbuka
harus dikerjakan, lakukanlah pada tempat tertentu dan terbatas, pindahkan limbah ke

TA
tempat tersebut hanya segera sebelum dibakar dan biarkan terbakar sehingga surut. Pada
fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas bila insenerator bersuhu tinggi tidak
tersedia, maka limbah dapat dinsinerasi dalam insenerator torng. Insenerator tong

N
merupakan jenis insenerator kamar tunggal. Dapat dibuat dengan murah, dan lebih baik
daripada pembakaran terbuka.
BO
Mengubur limbah
Di fasilitas kesehatan dengan sumber terbatas, penguburan limbah secara aman pada atau
dekat fasilitas mungkin merupakan satu-satunya alternative untuk pembuangan limbah.
M

Caranya : buat lobang sedalam 2,5 m; setiap tinggi limbah 75 cm ditutupi kapur tembok,
kemudian diisi lagi dengan limbah sampai 75 cm ditutupi kapur tembok kemudian diisi
lagi dengan limbah sampai 75cm, kemudian dikubur.
LA

Untuk mengurangi risiko dan polusi lingkungan, beberapa aturan dasar adalah :
Batasi akses ketempat pembuangan limbah (buat pagar disekelilingnya untuk
IS

menghindarkan dari hewan dan anak-anak)


Tempat penguburan sebaiknya dibatasi dengan lahan dengan permeabilitas rendah
(seperti tanah liat) jika ada.

S

Pilih tempat berjarak setidak-tidaknya 50 meter (164 kaki) dari sumber air untuk
mencegah kontaminasi permukaan air.
R

Tempat penguburan harus terdapat pengaliran yang baik, lebih rendah dari sumber
genangan air dan tidak di daerah rawan banjir.

Penanganan Limbah Benda Tajam


Benda-benda tajarn sekali pakai (jarum suntik, jarum jahit, silet, pisau scalpel)

71
memerlukan penanganan khusus kaena benda-benda ini dapat melukai petugas kesehatan
dan juga masyarakat sekitarnya jika limbah ini dibuang di tempat pembuangan limbah
umum.

Jangan menekuk atau mematahkan benda tajam


Jangan meletakan limbah benda tajam disembarang tempat
Segera buang limbah benda tajam ke container tahan tusuk, tahan air dan tidak

G
biasa dibuka lagi
Selalu buang sendiri limbah benda tajam oleh si pemakai

N
Tidak menyarungkan kembali jarum suntik habis pakai
Container benda tajam diletakan dekat lokasi tindakan

TA
Enkapsulasi merupakan cara termudah membuang benda-benda tajam. Benda tajam
dikumpulkan dalam wadah tahan tusukan dan anti bocor. Sesudah penuh, bahan

N
seperti semen, pasir atau bubuk plastik dimasukkan dalam wadah sampai penuh. Sesudah
bahan-bahan menjadi padat dan kering, wadah ditutup, disebarkan pada tanah rendah,
BO
ditimbun dan dapat dikuburkan. Bahan-bahan sisa kimia dapat dimasukkan bersama
dengan benda-benda tajam (WHO, 1999).

Penanganan Limbah Terkontaminasi


M

Untuk limbah terkontaminasi, pakailah wadah plastik atau disepuh togam dengan
tutup yang rapat. Sekarang kantong-kantong plastic yang berwarna digunakan untuk
LA

membedakan limbah umum (yang tidak terkontaminasi dengan yang terkontaminasi)


pada sebagian besar fasilitas kesehatan.
Gunakan wadah tahan tusukan untuk pembuangan semua benda-benda tajam.
IS

(Benda-benda tajam yang tidak akan digunakan kembali)


Tempatkan wadah limbah dekat dengan lokasi terjadinya limbah itu dan mudah
dicapai oleh pemakai (mengangkat-angkat limbah kemana-mana meningkatkan
S

risiko infeksi pada pembawanya). Terutama penting sekali terhadap benda tajam yang
R

membawa risiko besar kecelakaan perlukaan pada petugas kesehatan.


Peralatan yang dipakai untuk mengumpulkan dan mengangkut limbah tidak boleh
dipakai untuk keperluan lain di klinik atau di rumah sakit (sebaiknya menandai wadah
limbah terkontaminasi).
Cuci semua wadah limbah dengan larutah perhbersih disinfektan (larutan klorin 0,5%

72
+ sabun) dan bilas teratur dengan air.
Jika mungkin, gunakan wadah terpisah untuk limbah yang akan dibakar dan yang
tidak akan dibakar sebelum dibuang. Langkah ini akan menghindarkan petugas dari
memisahkan limbah dengan tangan.
Gunakan alat pelindung diri (APD) ketika menangani limbah (misalnya sarung
tangan dan sepatu pelindung tertutup).

G
Cuci tangan atau gunakan penggososok tangan antiseptik berbahan dasar alkohol
tanpa air setelah melepaskan sarung tangan apabila menangani limbah.

N
Pembuangan limbah terkontaminasi yang benar, meliputi:

TA
Menuangkan cairan atau limbah basah ke sistem pembuangan kotoran tertutup
Insenerasi (pembakaran) untuk menghancurkan bahan-bahan sekaligus
mikroorganismenya. (Ini merupakan metode terbaik untuk pembuangah limbah

N
terkontaminasi. Pembakaran juga akan mengurangi volume limbah dan memastikan
BO
bahwa bahan-bahan tersebut tidak dijarah dan dipakai ulang). Bagaimanapun juga
pembakaran akan dapat mengeluarkan kimia beracun ke udara.
Mengubur limbah terkontaminasi agar tidak disentuh lagi.

Penanganan limbah berbahaya:


M

Bahan-bahan kimia termasuk sisa-sisa bahan-bahan sewaktu pengepakan, bahan-bahan


kadaluwarsa ataukimia dekomposisi atau bahankimia tidak dipakai lagi.Bahan kimia
LA

yang tidak terlalu banyak dapat dikumpulkan dalam wadah dengan limbah terinfeksi, dan
kemudian diinsenerasi, enkapsulasi atau dikubur.
IS

Pada jumlah yang banyak tidak boleh dikumpulkan dengan limbah terinfeksi. Karena
tidak ada metode yahg amah dan murah, maka insinerasi pada suhu tinggi merupakan
opsi terbaik untuk pembuangan limbah kimia. Jika ini tidak mungkin, kembalikan limbah
S

kimia tersebut kepada pemasok. Karena kedua metode ini mungkin mahal dan tidak
R

praktis, maka jagalah agar limbah kimia terdapat seminimal mungkin.

Penanganan limbah farmasi


Dalam jumlah yang sedikit limbah farmasi (obat dan bahan obat-obatan), dapat
dikumpulkan dalam wadah dengan limbah terinfeksi dan dibuang dengan cara yang sama
insenerasi, enkapsulasi atau dikubur secara aman. Perlu dicatat bahwa suhu yang dicapai

73
dalam insenerasi kamar tunggal seperti tong atau insenerator dari bata adalah tidak cukup
untuk menghancurkan total limbah farmasi ini, sehingga tetap berbahaya. Sejumlah kecil
limbah farmasi seperti obat-obatan kadaluwarsa (kecuali sitotoksik dan antibiotik) dapat
Dibuang kepembuangan kotoran tapi tidak boleh dibuang ke dalam sungai, kali, telaga
atau danau.

G
Jika jumlahnya banyak, limbah farmasi dapat dibuang secara metode berikut:
Toksik dan antibiotik dapat diinsenerasi, sisanya dikubur di tempat pemerataan tanah

N
(gunakan insolator seperti untuk membuat semen yang mampu mencapai suhu
pembakaran hingga 8000C). jika inselerator tidak tersedia, bahan farmasi harus

TA
direkapulasi.
Bahan yang larut air, campuran ringan bahan farmasi seperti larutan vitamin, obat
batuk, cairan intervena, tetes mata dan lain-lain dapat diencerkan dengan sejumlah

N
besar air lalu dibuang dalam tempat pembuangan kotoran (jika terdapat system
BO
pembuangan kotoran).
Jika semua gagal, dikembalikan ke pemasok, jika mungkin.

Rekomendasi berikut dapat juga meliputi:


Sisa-sisa obat sitotoksik atau limbah sitotoksik lain tidak boleh dicampur dengan
M

sisa-sisa limbah farmasi lainnya.


Untuk limbah sitotoksik tidak boleh dibuang, di sungai, kali, telaga atau danau atau
LA

area pemerataan tanah

Penanganan Limbah dengan Bahan Mengandung Logam Berat


IS

Baterai, thermometer dan lain-lain benda mengandung logam berat seperti air raksa atau
kadmium. Cara pembuangannya adalah sebagai berikut:
Pelayanan daur ulang tersedia (melalui industri pabrik, ini adalah pilihan terbaik jika
S

ada.
R

Enkapsulasi. Jika daur ulang tidak mungkin maka pembuangan limbah enkapsulasi
dapat dilakukan, jika tersedia.

Jenis limbah ini tidak boleh insenerasi karena uap logam beracun yang dikeluarkan, juga
tidak boleh dikubur tanpa enkapsulasi karena mengakibatkan polusi lapisan air di tanah.

74
Biasanya limbah jenis ini hanya terdapat dalam jumlah yang kecil di fasilitas kesehatan.

Air raksa merupakan neurotoksin kuat, terutama pada masa tumbuh kembang janin dan
bayi. Jika dibuang dalam air atau udara, air raksa masuk dan mengkontaminasi danau,
sungai, dan saluran air lainnya. Untuk mengurangi risiko polusi, benda-benda yang
mengandung air raksa seperti thermometer dan tensimeter sebaiknya diganti dengan yang

G
tidak mengandung air raksa.

N
Jika termometer pecah:
Pakai sarung tangan pemeriksaan pada kedua belah tangan

TA
Kumpulkan semua butiran air raksa yang jatuh dengan sendok, dan tuangkan dalam
wadah kecil tertutup untuk dibuang atau dipakai kembali.

N
Wadah penyembur aerosol tidak daur ulang.

BO
Semua tekanan sisa harus dikeluarkan sebelum aerosol dikubur
Wadah tekanan gas tidak boleh dibakar atau diinsenerasi karena dapat meledak.
M
LA
IS
S
R

75
BAB XI
PENGENDALIAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT

Pengendalian lingkungan rumah sakit merupakan salah satu aspek dalam upaya
pencegahan pengendallan infeksi di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya. Lingkungan rumah sakit atau fasifitas pelayanan kesehatan lainnya jarang

G
menimbulkan transmisi penyakit infeksi nosokomial, namun pada pasien-pasien yang
immunocompromise harus lebih diwaspadai karena dapat menimbulkan beberapa

N
penyakit infeksi lainnya seperti infeksi saluran pernapasan, Aspergillus, Legioriella,
Mycobacterium TB, Varicella Zoster, Virus hepatitis B, HIV.

TA
Tujuan pengendalian lingkungan rumah sakit adalah untuk menciptakan lingkungan yang
bersih aman dan nyaman sehingga dapat meminimalkan atau mencegah terjadinya

N
transmisi mikroorganisme dari lingkungan kepada pasien, petugas, pengunjung dan
masyarakat di sekitar rumah sakit dan fasilitas kesehatan sehingga infeksi dan kecelakaan
BO
kerja dapat dicegah.

Berbagai hal perlu diperhatikan dalam pengendalian lingkungan rumah sakit atau fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya seperti ruang bangunan, penghawaan, kebersihan, saluran
M

limbah dan lain sebagainya. Untuk mencegah terjadinya infeksi akibat lingkungan dapat
diminimalkan dengan melakukan pembersihan lingkungan, dislnfeksi permukaan
LA

lingkungan yang terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh pasien, melakukan
pemeliharaan peralatan medik dengan tepat, mempertahankan mutu air bersih,
mempertahankan ventilasi udara yang baik.
IS

KONSTRUKSI BANGUNAN RUMAH SAKIT


1. Rencana konstruksi atau renovasi
S

Komite pencegahan dan pengendalian infeksi harus berperan dalam tim perencanaan
konstruksi rumah sakit yang baru maupun renovasi dari fasilitas yang sudah ada.
R

Rencana pengendalian infeksi dalam proses ini adalah untuk mengkaji dan
menyetujui rencana konstruksi dan memastikan kegiatan tersebut memenuhi
standard untuk meminimalisir infeksi. Hal-hal yang harus diperhatikan meliputi:
a. Arus lalu lintas untuk meminimalisir terpapar dari pasien-pasien risiko tinggi
serta menyediakan transport pasien

76
b. Batas pemisah yang cukup antara pasien
c. Jumlah dan tipe ruang isolasi yang mencukupi
d. Akses yang mudah untuk fasilitas cuci tangan
e. Material (contoh karpet, lantai) dapat dibersihkan dengan mudah
f. Ventilasi yang sesuai untuk ruang isolasi dan area pelayanan untuk pasien
khusus (ruang operasi, unit transplantasi).

G
g. Mencegah terpaparnya pasien dari spora jamur akibat renovasi
h. Sistem air bersih yang memenuhi persyaratan untuk mencegah Legionella spp.

N
2. Segregasi arsitektual

TA
Hal ini berguna untuk mengatur area pelayanan untuk populasi pasien yang berisiko
terhadap infeksi. Untuk beberapa unit, termasuk unit onkologi, neonatologi, ICU,
dan unit transplantasi membutuhkan ventilasi khusus.

N
Empat tingkat risiko yang harus diperhatikan :
A- Area risiko rendah, contoh: area administrasi
BO
B - Area risiko menengah, contoh: ruang perawatan pasien biasa (regular)
C - Area risiko tinggi, contoh: ruang isolasi, ICU
D - Area risiko sangat tinggi, contoh: ruang operasi
M

Pasien infeksi harus dipisahkan dari pasien-pasien imunokompromis. Begitu juga, di


ISSB atau di Dapur/Gizi rumah sakit, area yang terkontaminasi tidak boleh
LA

bercampur dengan area yang tidak terkontaminasi.

Desain ruangan sedapat mungkin diciptakan dengan memfasilitasi kewaspadaan standar.


Alkohol handrub perlu disediakan di tempat yang mudah diraih saat tangan tidak tampak
IS

kotor.

Wastafel sebaiknya diadakan satu buah tiap enam tempat tidur pasien, sedang di ruang
S

high care satu wastafel setiap satu tempat tidur. Jarak antar tempat tidur diupayakan
R

cukup agar perawat tidak menyentuh 2 tempat tidur dalam waktu yang sama, bila
mungkin/ideal 2,5m. Penurunan jarak antar tempat tidur menjadi 1,9 m dapat
meningkatan transfer MRSA sebanyak 3,15 kali.

3. Arus lalu lintas (Traffic flow)


Suatu ruangan atau area, apapun tujuannya, tidak pernah benar-benar dapat terpisah.

77
Pemisahan hanya dapat dibuat dengan membagi area tersebut menjadi dua, yakni
area dengan lalu lintas tinggi (high-traffic area) dan area dengan lalu lintas rendah
(low-traffic area). Pelayanan umum meliputi makanan dan laundry, peralatan steril,
dan distribusi farmasi, pelayanan khusus meliputi anestesiologi, perawatan medis
dan bedah intensif, serta area-area lain.

G
Suatu rumah sakit yang memiliki pembagian area untuk pelayanan khusus memiliki
alur yang menggambarkan tempat keluar dan masuk pasien, pengunjung, petugas

N
(dokter, perawat, dan paramedis), pensuplai (barang habis pakai, barang steril,
katering, pakaian, dan lain-lain), begitu pula dengan aliran udara, cairan dan limbah.

TA
Pembangunan atau renovasi rumah sakit memerlukan pemikiran semua pemindahan
dan komunikasi, dan dimana kontaminasi kemungkinan dapat terjadi. Dalam konteks
ini perhatian lebih tertuju pada jalur dimana arus yang berbeda dapat saling

N
berpotongan tanpa menimbulkan risiko. Elevator dapat digunakan untuk akomodasi
petugas rumah sakit, peralatan steril, pengunjung dan limbah, sepanjang kesemuanya
BO
ini diperlakukan dengan benar. Produk steril maupun limbah harus disimpan dalam
wadah yang aman, dan lapisan luar wadah tersebut harus dapat mencegah risiko
kontaminasi biologis.
M

4. Material
Pemilihan bahan-bahan konstruksi - khususnya bahan-bahan yang digunakan untuk
LA

lapisan permukaan dalam (interior) sangat penting (tabel 10.1). Lantai harus mudah
dibersihkan dan tahan terhadap prosedur disinfeksi. Hal ini juga berlaku pada semua
barang-barang di lingkungan sekitar pasien. Kesemuanya ini tercakup menjadi:
IS

a. Definisi kebutuhan (perencanaan - planning)


b. Definisi tingkatan risiko (pembagian - segregation)
c. Deskripsi pola aliran fungsional (arus dan isolasi))
S

d. Pembangunan atau renovasi (material)


R

78
Tabel 10,1. Kualifikasi konstruksi bangunan rumah sakit
Konstruksi Kualifikasi
Dinding Permukaan dinding dibuat harus kuat, rata dan kedap air sehingga
mudah dibersihkan secara periodic dengan jadwal yang tetap 3-6
bulan sekali. Cat dindng berwarna terang dan menggunakan cara
yang tidak luntur serta tidak mengandung logam berat.

G
Langit langit Langit-langit harus kuat, berwarna terang dan mudah dibersihkan,
tingginya minimal 2.70meter dari lantai, kerangka langit-langit

N
harus kuat dan bila terbuat dari kayu harus anti rayap.
Lantai Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, halus, kedap air, tidak

TA
licin, warna terang,permukaan rata, tidak bergelombahg sehingga
mudah dibersihkan secara rutin 3 kali sehari atau kalau perlu.
Lahtal yang selafu kontak dengan air harus mempunyai

N
kemiringan yang cukup kearah saluran pembuangan air limbah.
BO
Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk lengkung agar
mudah dibersihkan
Atap Atap harus kuat, tidak bocor, dan tidak menjadi tempat
perindukan serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya.
Pintu Pintu harus kuat, cukup tinggi, cukup lebar, dan dapat mencegah
M

masuknya serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya.


Jaringan Instalasi Pemasangan jaringan instalasi air minum, air bersih, air limbah,
LA

gas, listrik, sistem penghawaan, sarana komunikasi dan


lain-lainnya harus memenuhi persyaratan teknis kesehatan agar
aman dan nyaman, mudah dibersihkan dari tumpukan debu.
IS

Pemasangan pipa air minum tidak boleh bersilang dengan pipa air
limbah dan tidak boleh bertekanan negatif untuk menghidari
pencemaran air minum.
S

Furniture Dibersihkan secara rutin setiap hari, khusus tempat tidur pasien
R

gunakan cairan disinfektan.Tidak menggunakan bahan yang dapat


menyerap debu, sebaiknya bahan yang mudah dibersihkan dari
debu maupun darah atau cairan tubuh lainnya.
Fixture dan Peralatan yang menetap di dinding hendaknya di disain
Fitting sedemikian rupa sehingga mudah dibersihkan.

79
Gorden Bahan terbuat dari yang mudah dibersihkan, tidak bergelombang,
warna terang, dicuci secara periodic 1-3 bulan sekali dan tidak
menyentuh lantai.

UDARA

G
1. Kontaminasi udara dan transmisi
Infeksi dapat ditularkan dari jarak dekat melalui droplet berukuran besar, dan

N
melalui jarak jauh melalui droplet yang berasal dari batuk dan bersin. Droplet dapat
terus berada di udara dalam jangka waktu yang lama, tersebar secara luas pada

TA
lingkungan seperti bangsal rumah sakit atau pada ruang operasi, dan dapat langsung
berasal dari pasien infeksi, atau secara tidak langsung melalui kontaminasi alat-alat
medis.

N
BO
Kegiatan pembersihan rumah sakit seperti, mengepel, mengelap menggunakan kain
kering atau linen untuk debu dapat menyebarkan partikel yang mengandung
mikroorganisme. Begitu pula dengan Legionella pneumophila, suatu organisme yang
menyebabkan penyakit legionellosls (Legionnaires' disease; Pontiac fever), dapat
M

berada di udara yang berasal dari tetesan-tetesan air AC atau berasal dari shower
kamar mandi pasien yang dapat terhirup oleh pasien yang berisiko terinfeksi. Jumlah
LA

organisme di udara dalam ruangan bergantung pada jumlah orang yang berada di
ruangan tersebut, jumlah aktivitasnya, dan laju pertukaran udara. Bakteri-bakteri
yang diambil dari sampel udara biasanya merupakan bakteri coccus Gram-positif
IS

yang berasal dari kulit. Bakteri tersebut dapat berada dalam jumlah yang sangat besar
jika berasal dari lesi yang terinfeksi, terutama lesi infeksi kulit eksfoliatif. Namun,
karena sisik yang berasal dari lesi tersebut relatif berat, maka tidak bertahan di udara
S

dalam jangka waktu lama.Bakteri Gram-negatif biasanya dltemukan di udara dalam


aerosol yang berasal dari cairan yang terkontaminasi, dan cenderung mati dengan
R

pengeringan.

Droplet yang berasal dari infeksi saluran pernafasan atas kemungkinan mengandung
berbagai macam jenis mikroorganisme, termasuk virus, dan banyak infeksi dapat

80
disebarkan melalui rute ini (misalnya virus influenza, campak, cacar air,
tuberculosis). Pada kebanyakan kasus, infeksi ini dapat tersebar melalui droplet
berukuran besar, dan jarang berpindah lebih dari beberapa langkah dari pasien
sumber infeksi tersebut.Varicella-zoster (cacar air), tuberculosis, dan Iain-lain, dapat
ditransmisikan pada jarak yang jauh dalam bentuk droplet.

2. Ventilasi

G
Udara filtrasi yang segar, sirkulasi yang memadai, akan membawa dan membuang
udara yang terkontaminasi bakteri. Selain itu, filtrasi udara juga dapat

N
menghilangkan bau-bauan. Laju ventilasi yang diinginkan, dinyatakan dalam

TA
pertukaran udara per jam dan bervariasi berdasarkan tujuan pada area-area tertentu.
Area rumah sakit dengan risiko tinggi (ruang operasi, ruang menyusui, ruang ICU,
onkologi, dan unit kebakaran) seharusnya memilikl udara dengan kontaminasi

N
bakteri yang minimal.
Sistem ventilasi yang memadai memerlukan desain dan pengelolaan yang tepat
BO
untuk mengurangi kontaminasi mikroba. Semua lubang udara masuk (inlet)
harus ditempatkan setinggi mungkin dari atas lantai dan harus dijauhkan dari
ventilasi udara buangan (exhaust outlet), insenerator, atau alat pemanas (boiler
stack)

M

Di dalam ruangan, pepempatan inlet dan exhaust outlet mempengaruhi


pergerakan udara. Ruangan yang berdinding tinggi atau inlet yang berada di atap
LA

dan exhaust outlet yang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah
Sakit RS Pusdikkes ditempatkan pada bagian bawah dinding akan
memungkinkan udara bersih bergerak dari atas ke bawah dalam ruangan
IS

tersebut, menuju lantai yang terkontaminasi, dimana selanjutnya akan dibuang


melalui exhaust outlet yang berada di bawah. Pola seperti ini dipakai untuk
semua area yang digunakan untuk merawat pasien-pasien dengan risiko tinggi,
S

dan untuk area dengan kontaminasi berat.


Penyaring (filter) yang digunakan di dalam sistem ventilasi harus memenuhi
R

standard pelayanan pasien di dalam ruangan tersebut. Filter dengan efisiensi


tinggi harus disediakan untuk area-area pelayanan pasien yang rentan terhadap
infeksi (unit hematologi/ onkologi) atau dimana beberapa prosedur klinis yang
berbahaya untuk pasien (contoh prosedur pembedahan, khususnya
transplantasi).

81
Pemeriksaan dan pemeliharaan pada filter, alat pengatur kelembaban
(humidifier), dan pemanas di dalam sistem ventilasi harus dilakukan rutin dan
terdokumentasi.
Alat pendingin dan pengatur kelembaban harus diperiksa dan dibersihkan secara
rutin untuk mencegah aerosolisasi dari Legionella spp.
Zona sistem udara dapat membatasi udara di satu departemen. Suatu desain yang

G
memungkinkan tekanan udara mengatur pergerakan udara masuk atau keluar di
satu ruangan atau area yang spesifik akan mengontrol penyebaran kontaminasi.

N
Tekanan udara positif direkomendasikan untuk area yang mengharuskan adanya
udara sebersih mungkin. Hal ini dapat dicapai dengan suplai udara yang lebih ke

TA
dalam ruangan dibandingkan dengan udara yang dibuang melalui sistem
ventilasi. Sistem seperti ini akan mengalirkan udara keluar melalui pintu-pintu
dan tempat-tempat terbuka lainnya, dan mengurangi udara masuk yang berasal

N
dari daerah lain yang lebih terkontaminasi. Tekanan udara negatif
BO
direkomendasikan untuk area-area yang terkontaminasi, dan dibutuhkan untuk
isolasi pasien yang infeksi ditularkan melalui udara. Hal ini dapat dicapai
dengan mensuplai lebih sedikit udara ke dalam ruangan dibandingkan dengan
udara yang dapat dibuang melalui sistem ventilasi. Tekanan udara negatif
memungkinkan aliran udara masuk melalui tempat-tempat terbuka dan
M

mengurangi pergerakan udara keluar dari daerah dengan udara yang


terkontaminasi. Untuk mengefektifkan sistem pengaturan tekanan udara ini,
LA

semua pintu harus dijaga agar selalu tertutup kecuali untuk perlintasan yang
penting dan untuk jalan keluar.
IS

3. Ruang operasi
Ruang operasi modern yang memenuhi standar pertukaran udara adalah suatu
ruangan yang bebas dari partikel berukuran lebih besar dari 0,5 m (termasuk
S

bakteri) jika tidak ada orang di dalam ruangan tersebut. Aktivitas dari personil di
R

dalam ruang operasi merupakan sumber utama bakteri di udara, yang utamanya
berasal dari kulit individu yang berada di dalam ruangan. Jumlah bakteri yang ada di
udara bergantung dari delapan faktor (Tabel 10.2). Ruangan operasi konvensional
biasanya memiliki ventilasi dengan penyaring udara efisiensi tinggi (high-efficiency
filtered air) 20 sampai 25 kali pertukaran per jam dalam aliran vertical. Sistem
High-Efficiency Particulate Air (HEPA) dapat menyaring bakteri yang berdiameter

82
lebih besar dari 0,5 sampai 5m dan digunakan untuk menghasilkan aliran udara
yang bebas dari bakteri. Ruang operasi biasanya memiliki tekanan positif di
sekeliling koridor untuk meminimalisir udara masuk kedalam ruangan.

Tabel 10.2.

G
Faktor-faktor yang mempengaruhi kontaminasi udara pada ruang operasi Faktor-faktor
Factor-faktor

N
1. Jenis operasi
2. Kualitas udara yang tersedia

TA
3. Laju pertukaran udara
4. Jumlah personil yang ada di dalam ruang operasi
5. Pergerakan personil di dalam ruang operasi

N
6. Tingkat kepatuhan terhadap kegiatan pengawasan infeksi
7. Kualitas pakaian dari para staf
BO
8. Kualitas proses pembersihan

4. Ultra - clean air


M

Untuk meminimalisir partikel-partikel di udara, udara harus dialirkan ke dalam


ruangan dengan kecepatan paling tidak 0,25 m/detik melalui HEPA filter, yang
LA

akan membuang partikulat dengan ukuran yang telah disebutkan. Jika partikel
yang berdiameter 0,3 mikron atau lebih besar dihilangkan, maka udara bersih
dan bebas dari bakteri kontaminan akan masuk ke dalam ruangan.
IS

Prinsip ini telah diaplikasikan pada laboratorium mikrobiologi, farmasi, unit


pelayanan intensif khusus (special intensive care unit), dan ruang operasi.
S

Pekerja di dalam laboratorium mikrobiologi menggunakan aliran udara searah untuk


R

menangani kultur mikroba. Hal ini sangat berguna terutama untuk kultur yang
memiliki tingkat infeksi tinggi. Aliran udara seperti ini melindungi individu pekerja,
begitu juga dengan ligkungan laboratorium dari kontaminasi melalui rute udara.
Sistem aliran udara serupa juga digunakan di kegiatan farmasi untuk mencegah
kontaminasi udara dari cairan steril ketika wadah dibuka. Sebagai contoh, ketika
menambahkan antibiotic ke dalam wadah larutan glukosa steril untuk penggunaan

83
intravena, atau ketika menyiapkan larutan untuk hiperalimentasi parenteral.

Di dalam ruang ICU, unitlaminar flow telah digunakan untuk menangani


pasien-pasien imunosupresan.Untuk ruangan operasi, sistem aliran udara bersih satu
arah dengan ukuran minimum 9 m1 (3 m x 3 m) dan dengan kecepatan udara minimal
0,25 m/detik, melindungi daerah operasi dan meja instrumen. Hal ini dapat

G
memastikan sterilitas peralatan selama prosedur. Hal ini juga memungkinkan dalam
menekan biaya bangunan dan pemeliharan ruangan operasi dengan menerapkan

N
sistem tersebut didalam ruang dimana di dalamnya tim operasi sedang bekerja
bersama. Sistem seperti ini khususnya digunakan pada pembedahan risiko tinggi,

TA
seperti orthopedi, bedah vaskuler, atau bedah saraf.

Beberapa infeksi rumah sakit disebabkan oleh mikroorganisme di udara. Diperlukan

N
ventilasi udara yang sesuai, dan harus dimonitor untuk area-area yang berisiko,
seperti orthopedic dan bedah saraf. Sistem aliran udara satu arah harus diterapkan
BO
pada area tertentu di konstruksi rumah sakit baru.

AIR
Sifat fisika, kimia dan biologi dari air yang digunakan di institusi pelayanan kesehatan
M

harus memenuhi peraturan lokal. Institusi bertanggungjawab terhadap kualitas air, sejak
air masuk ke dalam rumah sakit. Untuk penggunaan yang lebih spesifik, air berasal dari
LA

jalur umum harus diolah dulu untuk penggunaan medis (perlakuan fisika dan kimia). Air
untuk minum biasanya tidak tepat digunakan keperluan medis.
IS

1. Air minum
Air minum harus aman untuk pemberian oral. Ketentuan nasional dan rekomendasi
internasional mendefinisikan kriteria air minum yang bersih. Kecuali terdapat
S

penanganan yang memadai, kontaminasi faecal cukup dapat menyebabkan infeksi


melalui penyiapan makanan, pencucian, pelayanan sehari-hari pasien, dan bahkan
R

melalui inhalasi uap atau aerosol (Legionella pneumophila). Bahkan air yang masuk
ke dalam kriteria tersebut, kemungkinan masih mengandung mikroorganisme patogen
yang potensial. Organisme yang terdapat di dalam air kran seringkali dikaitkan dengan
infeksi rumah sakit (Tabel 10.3).

84
Pedoman dalam penentuan kualitas air minum ada dalam pedoman WHO.
Mikroorganisme-mikroorganisme ini (Tabel 10.3) menyebabkan infeksi pada luka
(luka bakar, luka operasi), saluran pernafasan, dan daerah-daerah lain (peralatan
semi-critical seperti endoskop yang dicuci dengan air kran setelah proses disinfeksi).

G
Tabel 10.3. Beberapa mikroorganisme yang menyebabkan
HAIs melalui rute air (waterborne)

N
Bakteri Gram Negatif
Pseudomonas aeruginosa

TA
Aeromonas hydrophilia
Burkholderia cepacia
Stenotrophomonas maltophllia

N
Serratia marcescens
Flavobacterium meningosepticum
BO
Acinetobacter calcoaceticus
Legionella pneumophila dan Iain-lain
Mycobacteria
Mycobacterium xenopi
M

Mycobacterium chelonae
Mycobacterium avium-intracellularae
LA

Legionella spp. hidup di dalam air panas dimana suhu akan mendukung
perkembangannya dalam fase protozoan phagosome; aerasi kran dapat memfasilitasi
IS

proliferasi dari mikroorganisme, seperti Stenotrophomonas maltophilia. Peralatan yang


menggunakan air kran berisiko di dalam institusi pelayanan kesehatan; mesin pembeku,
unit gigi, instalasi cuci mata dan telinga, dan lain-lain. Air yang digunakan untuk
S

menyiram bunga dan holy water juga dikaitkan dengan terjadinya infeksi nosokomial.
R

2. Air mandi
Air mandi dapat digunakan untuk hygiene (pasien, bayi) atau untuk tujuan pelayanan
khusus (luka bakar, rehabilitasi di kolam renang, lithotripsy). Agen penginfeksi
utama yang ada di dalam air mandi adalah Pseudomonas aeruginosa. Bakteri
tersebut dapat menyebabkan folliculitis (umumnya jinak), otitis eksternal, yang dapat

85
menjadi parah di bawah kondisi-kondisi tertentu (diabetes, imunosupresan), dan luka
infeksi. Air mandi juga dapat mentransmisikan patogen-patogen lain (Legionella,
mikobakteri atipikal - dengan granuloma pada kolam renang, enterobakter seperti
Cilrobacter freundii) Infeksi virus juga dapat ditransmisikan melalui air mandi
umum (Molluscum contagiosum, virus papiloma) melalui kontak dengan permukaan
yang terkontaminasi. Infeksi parasit seperti cryptosporidiosis, giardiasis, dan

G
amoebiasis, serta mycoses, khususnya Candida, kemungkinan juga dapat
ditransmisikan. Ketentuan nasional untuk kolam renang umum dan air mandi

N
merupakan dasar standard bagi institusi pelayanan kesehatan. Panduan untuk
disinfeksi peralatan dan bahan-bahan harus tertulis, dan kepatuhan untuk

TA
menjalankan ini harus dimonitor. Pasien yang terinfeksi harus dipisahkan dari
penggunaan kamar mandi umum. Hal-hal yang berpotensi menyebabkan masuknya
organisme sehingga mengakibatkan infeksi pada pasien, seperti peralatan perkutan,

N
harus dilindungi dengan kemasan oklusif tahan air.
BO
3. Air farmasetik (medis)
Terdapat parameter fisika, kimia, bakteriologi dan biologi yang harus dipenuhi untuk
air yang digunakan untuk tujuan medis. Air farmasetik meliputi:
Air murni (purified water), merupakan air steril yang digunakan untuk
M

penyiapan obat-obat dan secara normal tidak membutuhkan proses sterilisasi


ulang, tetapi harus dipastikan bebas pirogen
LA

Air yang digunakan untuk penyiapan sediaan injeksi, harus steril


Air dilusi untuk proses hemodialisis
Pada kasus dialisis, kontaminasi dapat menginduksi infeksi (bakteri berasal dari
IS

cairan dialysate, yang kemudian masuk ke dalam darah) atau reaksi kejang yang
disebabkan karena endotoksin pirogen dari proses degradasi membran sel bakteri
Gram-negatif. CDC merekomendasikan bahwa air untuk dialisis mengandung:
S

Kurang dari 200 coliform/ ml untuk air yang digunakan bagi proses dilusi
R

Kurang dari 2000 coliform/ ml untuk cairan dialysate


Level organisme untuk cairan dialysate harus dimonitor sekali sebulan. Jumlah
coliform dapat dikurangi dengan dilakukannya perbaikan dalam produksi air,
Penggunaan membran dialisis dengan permeabilitas tinggi dan meningkatkan
pengetahuan mengenai peran produk bakteri karena komplikasi dialisis jangka

86
panjang. Teknik-teknik baru (hemofiltrasi, haemodialysis filtration on line)
membutuhkan pedoman yang ketat untuk dilusi air dan larutan hemodialisis.

4. Pengawasan mikrobiologi
Peraturan untuk analisis air (pada level nasional untuk air minum, di dalam
Pharmacopoeia untuk air farmasetik) mendefinisikan kriteria, tingkat kemurnian,

G
dan teknik-teknik untuk monitoring. Untuk penggunaan air dimana peraturan belum
tersedia, parameter yang ditetapkan harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan

N
dan kebutuhan pengguna (termasuk faktor risiko untuk pasien). Metode yang
digunakan untuk pemantauan sesuai dengan penggunaan. Metode bakteriologi,

TA
medis dan biokimia belum tentu cocok untuk analisis lingkungan dan dapat
menyebabkan kesimpulan palsu. Dua poin yang harus diperhatikan bagi ekosistem
air adalah: (1) biofilm, (2) tingkat stress mikroorganisme (nutrient, paparan fisika

N
dan kimia dari agen antibacterial)
BO
Biofilm terdiri dari mikroorganisme (hidup atau mati) dan berasal dari
makromolekul biologi, terakumulasi sebagai kompleks gel pada permukaan pipa dan
reservoir. Ini merupakan ekosistem yang dinamis dengan berbagai macam organisme
(bakteri, alga, ragi, protozoa, nematoda, larva serangga, moluska) dimulai dengan
M

bahan organik biodegradable dalam air.Biofilm ini adalah reservoir dinamis untuk
mikroorganisme (termasuk agen patogen seperti Legionella dan Pseudomonas
LA

aeruginosa).Organisme tunggal bisa terlepas ke sirkulasi melalui deformasi pada


permukaan biofilm atau dampak dari mekanis dari getaran (seperti terjadi selama
konstruksi).
IS

Pemeriksaan bakteriologis tidak selalu memberikan perkiraan yang benar mengenai


kontaminasi yang disebabkan oleh agen seperti disinfektan.
S

MAKANAN
Kualitas dan kuantitas makanan adalah faktor kunci untuk kesembuhan pasien.
R

Kepastian mengenai keamanan makanan adalah hal penting dalam pemberian pelayanan
di fasilitas kesehatan.
1. Agen keracunan makanan dan infeksi melalui makanan
Keracunan makanan oleh bakteri (gastroenteritis akut) merupakan infeksi atau
intoksikasi yang ditandai oleh nyeri abdomen dan diare, dengan atau tanpa muntah

87
atau demam. Mulai timbulnya gejala dapat bervariasi mulai kurang dari satu hingga
lebih dari 48 jam setelah makan makanan yang terkontaminasi. Biasanya sejumlah
besar organisme yang tumbuh aktif di dalam makanan dapat menyebabkan
timbulnya gejala infeksi atau intoksikasi. Air, susu, dan makanan padat merupakan
sarana penularan.

G
Bakteri
Spesies Salmonella

N
Staphilococcus aureus
Clostridium perfringens

TA
Clostridlum botullnum
Bacillus cereus dan basilus aerob berspora lain
Escerecia coli

N
Campylobacter jejuni
Yersinia enterocolitica
BO
Vibrio parahaemolyticus
Vibrio cholera
Aeromonas hydrophilia
Spesies Streptococcus
M

Listeria monocytogenes
Virus
LA

Rotavirus
Caliciviruses
Parasit
IS

Giardia lamblia
Entamoeba hystolytica
S

2. Faktor-faktor berkontribusi pada keracunan makanan


R

Frekuensi penyakit yang ditularkan melalui makanan semakin meningkat. Hal ini
seiring dengan meningkatnya kompleksitas pengolahan makanan modern,
khususnya mass-catering, begitu juga peningkatan produk makanan impor dari
negara lain yang berpotensi terkontaminasi.
Bakteri penyebab keracunan makanan harus berada dalam level yang cukup. Selain
itu dibutuhkan nutrisi yang cukup, kelembaban, dan kehangatan untuk perbanyak

88
organisme atau produksi toksin yang dihasilkan selama proses penyiapan dan
konsumsi makanan.

Banyak kegiatan pengolahan makanan yang tidak benar menyebabkan kontaminasi


dan pertumbuhan bakteri penginfeksi. Kesalahan yang paling banyak terjadi yang
menyebabkan keracunan makananmeliputi:

G
Penyiapan makanan lebih dari setengah hari sebelum dikonsumsi
Penyimpanan pada suhu kamar

N
Pendinginan yang tidak cukup

TA
Pemanasan kembali yang tidak cukup
Proses pengolahan makanan terkontaminasi (memasak daging dan unggas, pie,
dan makanan-makanan yang dibawa pulang) disiapkan dalam waktu yang
berbeda dengan waktu dikonsumsi.
Pemasakan yang tidak sempurna

N
BO
Kontaminasi silang dari bahan mentah terhadap makanan yang telah di masak
Kontaminasi dari pengolah makanan

Pasien rumah sakit biasanya lebih rentan terhadap infeksi melalui makanan, dan
M

menderita lebih serius dibandingkan dengan orang sehat. Oleh karena itu, standard
tinggi terhadap kebersihan makanan harus dikelola. Sistem pemeriksaan rumah sakit
harus dapat mengidentifikasi potensi penyebaran keracunan melalui makanan lebih
LA

awal, dan investigasi penyebab penyebarannya, dan pengawasan harus dilakukan


jika suatu penyebaran terjadi.
IS

3. Pencegahan keracunan makanan


Praktek penyiapan makanan berikut ini hams menjadi kebijakan rumah sakit dan
harus dipatuhi, mellputi:
S

Menjaga kebersihan daerah kerja


R

Memisahkan bahan mentah dan makanan yang telah dimasak untuk mencegah
kontaminasi silang
Mengerjakan teknik memasak yang benar dan mengikuti rekomendasi untuk
mencegah pertumbuhan bakteri dalam makanan
Menjaga kebersihan personal pengolah makanan, terutama kegiatan cuci tangan,

89
karena tangan merupakan rute utama terjadinya kontaminasi.
Petugas seharusnya mengganti pakaian kerja setidaknya sehari sekali, dan
memakai penutup kepala
Jangan mengolah makanan dalam keadaan terjangkit penyakit infeksi {demam,
influenza, diare, muntah, infeksi leher dan kulit), dan melaporkan semua infeksi
yang terjadi.

G
Faktor-faktor penting lainnya untuk mengontrol kualitas:

N
Dalam pembelian makanan harus yang berkualitas baik (terkontrol) dan harus aman
secara bakteriologis

TA
Fasilitas penyimpanan harus mencukupi dan sesuai untuk masing-masing jenis
makanan
Jumlah bahan-bahan yang cepat membusuk seharusnya tidak berlebihan, disesuaikan
untuk kebutuhan satu hari

N
BO
Makanan kering, pengawet, dan makanan kaleng harus disimpan dalam tempat yang
kering, ruang penyimpanan berventilasl baik, dan stok terotasi
Penyimpanan dan peyiapan makanan beku harus mengikuti prosedur dan pada suhu
-180C (-0,4oF), jangan dibekukan kembali.

M

Lingkungan sistem catering harus sering dicuci dan teratur dengan air kran dan
deterjen yang sesuai (dan/ atau disinfektan)

LA

Sampel makanan yang telah disiapkan disimpan untuk periode waktu yang
ditentukan untuk digunakan kembali dalam pengujian apabila terjadi outbreak.
Pengolah makanan seharusnya selalu menerima instruksi berkelanjutan untuk
IS

keamanan proses pengolahan makanan


Keracunan makanan dapat dihindari melalui prinsip dasar penanganan makanan:
Batasi kontaminasi dari sumber, tangan, bah an/makanan mentah dan lingkungan

S

Pembelian
Penyimpanan
R

Pendinginan
Proses pemasakan
Kebersihan personal
Pembersihan
Pest Kontrol

90
PEMBERSIHAN LINGKUNGAN
Disinfektan standar rumah sakit, yang dibuat dengan larutan yang dianjurkan dan
digunakan sesuai dengan petunjuk pabrik dapat mengurangi tingkat kontaminasi
permukaan lingkungan. Pembersihan harus dilakukan sebelum proses disinfeksi.

Hanya perlengkapan dan permukaan yang pernah bersentuhan dengan kulit atau mukosa

G
pasien atau sudah sering disentuh oleh petugas kesehatan yang memerlukan disinfeksi
setelah dibersihkan. Jenis disinfektan yang digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan

N
tergantung pada ketersediaannya dan peraturan yang berlaku.

TA
Sebagaian disinfektan yang cocok untuk keperluan ini adalah:
Sodium hipoklorit - digunakan pada permukaan atau peralatan bukan logam.
Alkohol - digunakan pada permukaan yang lebih kecil.


Senyawa fenol.

N
BO
Senyawa amonium quaterner
Senyawa peroksigen.

Prinsip dasar pembersihan lingkungan.


Semua permukaan horizontal di tempat di mana pelayanan yang disediakan. untuk
M

pasien harus dibersihkan setiap hari dan bila terlihat kotor. Permukaan tersebut juga
harus dibersihkan bila pasien sudah keluar dan sebelum pasien baru masuk.
LA

Bila permukaan tersebut, meja pemeriksaan, atau peralatan lainnya pernah


bersentuhan langsung dengan pasien, permukaan tersebut harus dibersihkan dan
disinfeksi di antara pasien-pasien yang berbeda.
IS

Semua kain lap yang digunakan harus dibasahi sebelum digunakan. Membersihkan
debu dengan kain kering atau dengan sapu dapat menimbulkan aerosolisasi dan harus
dihindari.
S

Larutan, kain lap dan kain pel harus diganti secara berkala sesuai dengan peraturan
R

setempat.
Semua peralatan pembersih harus dibersihkan dan dikeringkan setelah digunakan.
Kain pel yang dapat digunakan kembali harus dicuci dan dikeringkan setelah
digunakan dan sebelum disimpan.
Tempat-tempat di sekitar pasien harus bersih dari peralatan serta perlengkapan yang

91
tidak perlu sehingga memudahkan pembersihan menyeluruh setiap hari.
Meja pemeriksaan dan peralatan di sekitarnya yang telah digunakan pasien yang
diketahui atau suspek terinfeksi ISPA yang dapat menimbulkan kekhawatiran harus
dibersihkan dengan disinfektan segera setelah digunakan.

APD untuk Pembersihan Lingkungan

G
Kegiatan pembersihan adalah tugas berat yang memerlukan banyak pekerja, dan di
lingkungan tertentu risiko terpajan benda-benda tajam sangat tinggi.

N
Petugas kesehatan harus mengenakan :
Sarung tangan karet (rumah tangga).

TA
Gaun pelindung dan celemek karet.
Sepatu yang rapat dan kuat, seperti sepatu bpt.

Pembersihan permukaan sekitar

N
BO
Rumah sakit merupakan tempat yang mutlak harus bersih. Lingkungan jarang merupakan
sumber infeksi. Tidak ada perbedaan HAIs yang bermakna antara ruangan yang
dibersihkan dengan disinfektan dan ruangan yang dibersihkan dengan deterjen (WA
Rutala, 2001).
M

Disinfeksi rutin dapat menyebabkan resistensi bakteri (QAV), toleransi meningkat


(formaldehid), membunuh bakteri yang sensitive mempengaruhi penampilan limbah
LA

yang ditangani, membentuk komponen organic halogen (Na hipoklorin),


mengkontaminasi permukaan air, dan membentuk bahan mutagenic.
IS

Pembersihan tumpahan dan percikan


Saat membersihkan tumpahan atau percikan cairan tubuh atau sekresi, petugas
kesehatan harusmengenakan APD yang memadai, termasuk sarung tangan karet dan gaun
S

pelindung.
R

Tahap-tahap pembersihan tumpahan sedikit (cipratan atau tetesan):


1. Pakai APD (Sarung tangan rumah tangga)
2. Bersihkan bagian permukaan yang terkena tumpahan tersebut dengan kain yang
direndam larutan klorin 0,5 %

92
3. Lap dengan larutan air dan deterjen.
4. Alat-alat dirapikan
5. Lepas APD
6. Lakukan Hand Hygiene

Tahap -tahap pembersihan tumpahan banyak:

G
1. Pakai APD (sarung tangan rumah tangga, gaun pelindung atau celemek karet dan
sepatu bot)

N
2. Bersihkan/serap dengan bagian permukaan yang terkena tumpahan tersebut
menggunakan kain pembersih sekali pakai

TA
3. Buang kain pembersih ke tempat sampah kuning
4. Siram dengan larutan klorin 0,5 %
5. Lap /dipel dengan larutan air dan deterjen

N
6. Alat-alat dirapikan
7. Lepas APD
BO
8. Lakukan Hand Hygiene

Hal - hal penting mengenai pembersihan dan disinfeksi.


Lingkungan yang digunakan oleh pasien harus dibersihkan dengan teratur.
M

Pembersihan harus menggunakan teknik yang benar untuk menghindari aerosolisasi


debu.
LA

Hanya permukaan yang bersentuhan dengan kulit/mukosa pasien dan permukaan


sering disentuh oleh petugas kesehatan yang memerlukan disinfeksi setelah di
bersihkan.
IS

Petugas kesehatan harus menggunakan APD untuk melakukan pembersihan dan


disinfeksi peralatan pernapasan dan harus membersihkan tangan setelah APD
dilepas.
S

Ventilasi ruangan yang baik diperlukan selama dan segera setelah proses disinfeksi,
R

apa pun jenis disinfektan yang digunakan

93
BAB XII
KESEHATAN DAN PERLINDUNGAN PETUGAS KESEHATAN

Petugas kesehatan berisiko terinfeksi bila terekspos saat bekerja, juga dapat
mentransmisikan infeksi kepadapasien maupun petugas kesehatan yang lain. Fasilitas
kesehatan harus memiliki program pencegahan dan pengendalian infeksi bagi petugas

G
kesehatan.Saat menjadi karyawan baru seorang petugas kesehatan harus diperiksa
riwayat pernah infeksi apa saja status imunisasinya.

N
Imunisasi yang dianjurkan untuk petugas kesehatan adalah hepatitis B, dan bila

TA
memungkinkan hepatitis A, influenza, campak, tetanus, difteri, rubella. Mantoux test
untuk melihat adalah infeksi TB sebelumnya, sebagai data awal. Pada kasus khusus,
dapat diberikan varicella. Alur paska pajanan harus dibuat dan pastikan dipatuhi untuk

N
HIV, HBV, HCV, Neisseria meningitides, MTB, Hepatitis A, Difteri, Varicella zoster,
Bordetella pertusis, Rabies.
BO
Pajanan terhadap virus H5N1
Bila terjadi pajanan H5N1 diberikan oseltamivir 2 x 75mg selama hari. Monitor
kesehatan petugas yangterpajan sesuai dengan formuliryangtersedia.
M

Pajanan terhadap virus HIV


LA

Risiko terpajan 0,2 - 0,4% per injuri


Upaya menurunkan risiko terpajan patogen melalui darah dapat melalui:
Rutin menjalankan Kewaspadaan Standar, memakai APD yang sesuai.
IS

Menggunakan alat dengan aman, membuang limbah pada wadah yang tepat
Edukasi petugas tentang praktek aman menggunakan jarum, benda tajam.
S

Faktor yang dapat meningkatkan terjadinya infeksi paska pajanan :



R

Tusukan yang dalam


Tampak darah pada alat penimbul pajanan
Tusukan masuk ke pembuluh darah
Sumber pajanan mengandung virus kadar tinggi
Jarum berlubang ditengah

94
Tindakan pencegahan harus terinformasi kepada seluruh petugas. Peraturannya harus
termasuk memeriksa sumber pajanan, penatalaksanaan jarum dan alat tajam yang benar,
alat pelindung diri, penatalaksanaan luka tusuk, sterilisasi dan disinfeksi.

Alur penatalaksanaan pajanan di rumah sakit harus termasuk pemeriksaan laboratorium


yang harus dikerjakan, profilaksis paska pajanan harus telah diberikan dalam waktu 4 jam

G
paska pajanan, dianjurkan pemberian antiretroviral (ARV) kombinasi AZT (Zidovudine),
3TC (lamuvudine) dan indinavir atau sesuai pedoman lokal

N
Paska pajanan harus segera dilakukan pemeriksaan HIV serologi dan dicatat sampai

TA
jadwal pemeriksaan monitoring lanjutannya kemungkinan serokonversi. Petugas
terinformasi tentang sindroma ARV akut pada 70-90% infeksi HIV akut, melaporkan
semua gejala sakit yang dialami dalam 3 bulan.

N
Kemungkinan risiko pajanan dapat terjadi kapan saja tetapi konseling, pemeriksaan
BO
laboratorium dan pemberian ARV harus difasilitasi dalam 24 jam. Penelusuran paska
pajanan harus standar sampai waktu 1 tahun. Diulang tiap 3 bulan sampai 9 bulan ataupun
1 tahun.
M

Pajanan terhadap virus Hepatitis B


Probabilitas infeksi Hepatitis B paska pajanan antara 1,9-40% per pajanan. Segera paska
LA

pajanan harus dilakukan pemeriksaan.Petugas dapat terjadi infeksi bila sumber pajanan
positif HbsAG atau HbeAG.
IS

Profilaksis Paska Pajanan


Tidak perlu divaksinasi bila petugas telah mengandung Anti HBs lebih dari lOmlU/ml.
HB imunoglobulin IM segera, dianjurkan dalam waktu 48 jam dan >1 minggu PP, dan 1
S

seri vaksinasi HepatitisB dan dimonitor dengan tes serologi.


Hepatitis D timbul pada individu dengan Hepatitis B, ditransmisikan dengan cara yang
R

sama demikian dengancara memonitornya.

Pajanan terhadap virus Hepatitis C


Transmisi sama dengan Hepatitis B. Belum ada terapi profilaksis paska pajanan yang
dapat diberikan, tetapi perlu dilakukan monitoring pemeriksaan adalah serokonversi dan

95
didokumentasikan. Sumber pajanan juga harus diperiksa.

Segala pajanan patogen yang terjadi saat okupasi harus dilakukan konseling,
pemeriksaan medis dan harus dimonitor dengan pemeriksaan serologis.

Infeksi Neisseria meningitidis

G
N meningitidis dapat di transmisikan lewat sekresi respiratorik, jarang terjadi saat
okupasi. Perlu terapi profilaksis bila telah terjadi kontakerat petugas dengan pasien misal

N
saat resusitasi mulut ke mulut, diberikanRifampisin 2 X 6OOmg selama 2 hari atau dosis
tunggal Cyprofloxacin 5OOmg atau Cefriaxon 250mg IM.

TA
Mycobacterium Tuberculosis
Tarnsmisi kepada petugas lewat airborne droplet nuclei biasanya dari pasien TB paru.

N
Sekarang perlu perhatian hubungan antara TB, infeksi HIV dan MDR TB. Petugas yang
paska terekspos perlu di tes Mantoux bila indurasinya >10mm perlu diberikan profilaksis
BO
INH sesuai rekomendasi lokal.

Infeksi lain (varicella, Hepatitis A, Hepatitis E, Influenza, Pertusls, Difteria dan


Rabies).
M

Transmisinya tidak biasa, tetapi harus dibuat penatalaksanaan untuk petugas. Dianjurkan
vaksinasi untuk petugas terhadap Varicella dan Hepatitis A, Rabies untuk daerah yang
LA

endemis.

Tindakan pertama pada pajanan bahan kimia atau cairan tubuh.


IS

Pada mata : Bilas dengan air mengalir -15 menit.


Pada kulit : Bilas dengan air mengalir -1 menit.
Pada mulut : Segera kumur-kumur-1 menit
S

Lapor ke Komite PPI, dokter yang berwenang atau ke kepala perawatan.


R

Program kesehatan pada petugas kesehatan


adalah program sebagai startegi preventif terhadap infeksi yang dapat ditransmisikan
dalam kegiatan pelayanan kesehatan, antara lain :
Monitoring dan support kesehatan petugas.

96
Vaksinasi bila dibutuhkan.
Vaksinasi terhadap infeksi saluran napas akut bila memungkinkan.
Menyediakan antivirus profilaksis.
Surveilans phlebitis membantu mengenal tandal awal transmisi infeksi saluran napas
akut dari manusia ke manusia.
Terapi dan follow up epipandemic infeksi saluran napas akut pada petugas.

G
Rencanakan petugas diperbolehkan masuk sesuai pengukuran risiko bila terkena
infeksi.

N
Upayakan support psikososial.

TA
Tujuannya
Menjamin keselamatan petugas di lingkungan rumah sakit.

N
Memelihara kesehatan petugas kesehatan.
Mencegah ketidakhadiran petugas, ketidakmampuan bekerja, kemungkinan
BO
medikolegal dan KLB

Unsur yang dibutuhkan


Petugas yang berdedikasi
M

SOP yang jelas dan terisolasi


Administrasi yang menunjang
LA

Koordinasi yang baik antar instalasi/unit


Penanganan paska pajanan infeksius
Pelayanan konseling
IS

Perawatan dan kerahasiaan medical record

Evaluasi sebelum dan setelah penempatan. Meliputi:


S

Status imunisasi
Riwayat kesehatan yang lalu
R

Terapi saat ini


Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi

97
Edukasi
Sosialisasi SOP pencegahan dan pengendalian infeksi, misal: Kewaspadaan Isolasi,
Kewaspadaan Standar dan Kewaspadaan berbasis transmisi, Kebijakan Kementerian
Kesehatan tentang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) terkini.

Program imunisasi

G
Keputusan pelaksanaan imunisasi petugas tergantung pada :
Risiko ekspos petugas

N
Kontak petugas dengan pasien
Karakteristik pasien Rumah Sakit

TA
Dana Rumah Sakit
Riwayat imunisasi yang tercatat baik secara periodik menyiapkan apakah seorang
petugas memerlukan booster atau tidak. Imunisasi influenza dianjurkan sesuai dengan

N
strain yang ada.
BO
Penyakit akibat kerja dan penyakir paska pajanan
Seyogyanya rumah sakit memiliki tata cara pelaporan dan manajemen yang mudah serta
dipahami semua petugas. Dapat berupa pedoman,alur yang diinformasikan kepada
petugas secara detail hingga berapa lama meliburkan petugas paska pajanan serta
M

membantu petugas dalam kecemasan atau rasa takut. Tata cara dapat meliputi:
1) Informasi risiko ekspos.
LA

2) Alur manajemen dan tindak lanjut


3) Penyimpanan data

Pengetrapan program
IS

Perlu suatu pengukuran sebelum program diimplementasikan. Pelaksanaannya harus


merupakan cara yang paling efisien dan cost-efektif dimulai dengan survei dengan
memakai kuesioner tingkat imunitas suatu penyakit yang akan dicegah. Hasil survei
S

dapat dipakai untuk perencanaan dana termasuk pemeriksaan serologi dan vaksin yang
R

dibutuhkan.

Strategi program
Langkah demi langkah pengnerapan program harus dikalkulasi, sehingga budget dapat
disiapkan, didiskusikan. Prosedur dijalankan setelah pemikiran, identifikasi kasus,

98
peraturan pelayanan, langkah pencegahan, manajemen paska pajanan menjamin
kesuksesan implementasi program. Hal ini juga mencegah terjadinya dana yang terbuang
percuma.

Jalinan Kinerja
Jalinan kinerja yang baik diantara petugas dan manajemen membantu pelaksanaan

G
program. Kepercayaan pihak manajemen kepada Komite PPI berupa dukungan moral dan
finansial akan membantu program terlaksana efektif. Komunitas dan kolaborasi yang

N
berkesinambungan dari Komite PPI dan seluruh Unit/Departemen akan penting bagi
upaya deteksi dini masalah PPI serta ketidakpatuhan sehingga kesalahan dapat segera

TA
diperbaiki dan mencegah kegagalan program PPI.

Pelaksanaan Program dengan dana minimal

N
Perlindungan yang minumal bagi petugas adalah imunisasi Hepatitis B, imunisasi masal
dan diulang tiap 5 tahun paska imunisasi, disertai dengan program manajemen paska
BO
pajanan tusukan tajam dan percikan bagi petugas, meliputi:
Tes pada pasien sebagai sumber pajanan.
Tes HBsAG dan Anti HBs petugas
Tes serologi yang tepat
M

Penanganan yang tepat paska pajanan, dalam 48 jam diberi immunoglobulin


hepatitis B
LA

Bila perlu diberi booster


Penelitian dan pencegahan harus melingkupi seluruh petugas
IS
S
R

99
BAB XIII
PENEMPATAN PASIEN DAN PENANGANAN JENAZAH

PENEMPATAN PASIEN
Penanganan pasien dengan penyakit menular / suspek

G
Untuk kasus / dugaan kasus penyakit menular melalui udara :
Letakkan pasien di dalam satu ruangan tersendiri. Jika ruangan tersendiri tidak

N
tersedia, kelompokkan kasus yang telah dikonfirmasi secara terpisah di dalam
ruangan atau bangsal dengan beberapa tempat tidur dari kasus yang belum

TA
dikonfirmasi atau sedang didiagnosis (kohorting). Bila ditempatkan dalam 1
ruangan, jarak antar tempat tidur harus lebih dari 2 meter dan diantara tempat tidur
harus ditempatkan penghalang fisik seperti tirai atau sekat.

N
Jika memungkinkan, upayakan ruangan tersebut dialiri udara bertekanan negatif
BO
yang di monitor (ruangan bertekanan negatif) dengan 6-12 pergantian udara perjam
dan sistem pembuangan udara keluar atau menggunakan saringan udara partikulasi
efisiensi tinggi (filter HEPA) yang termonitor sebelum masuk ke sistem sirkulasi
udara lain di rumah sakit.
Jika tidak tersedia ruangan bertekanan negatif dengan sistem penyaringan udara
M

partikulasi efisiensi tinggi, buat tekanan negatif di dalam ruangan pasien dengan
memasang pendingin ruangan atau kipas angin di jendela sedemikian rupa agar
LA

aliran udara ke luar gedung melalui jendela. Jendela harus membuka keluar dan tidak
mengarah kedaerah publik. Uji untuk tekanan negatif dapat dilakukan dengan
menempatkan sedikit bedak tabur dibawah pintu dan amati apakah terhisap ke dalam
IS

ruangan. Jika diperlukan kipas angin tambahan di dalam ruangan dapat


meningkatkan aliran udara.
Jaga pintu tertutup setiap saat dan jelaskan kepada pasien mengenai perlunya
S

tindakan pencegahan ini.


R

Pastikan-setiap orang yang memasuki ruangan emakai APD yang sesuai : masker
(bila memungkinkan masker efisiensi tinggi harus digunakan, bila tidak gunakan
masker bedah sebagai alternatif), gaun, pelindung wajah atau pelindung mata dan
sarungtangan.
Pakai sarung tangan bersih, non-steril ketika masuk ruangan

100
Pakai gaun bersih, non-steril ketika masuk ruangan jika akan berhubungan dengan
pasien atau kontak dengan permukaan atau barang-barang di dalam ruangan.

Pertimbangan pada saat penempatan pasien


Kamar terpisah bila dimungkinkan kontaminasi luas terhadap lingkungan, misalnya :
luka lebar dengan cairan keluar, diare, pendarahan tidak terkontrol.

G
Kamar terpisah dengan pintu tertutup diwaspadai transmisi melalui udara ke
kontak,misal: luka dengan infeksi kuman gram negatif

N
Kamar terpisah atau kohort dengan ventilasi dibuang keluar dengan exhaust ke area

TA
tidak ada orang lalu lalang, misal: TBC
Kamar terpisah dengan udara terkunci bila diwaspadai transmisi airborne luas,
missal: varicella
Kamar terpisah bila pasien kurang mampu menjaga kebersihan (anak gangguan
mental)

N
BO
Bila kamar terpisah tidak memungkinkan dapat kohorting. Bila pasien terinfeksi
dicampur dengan non infeksi maka pasien, petugas dan pengunjung menjaga
kewaspadaan untuk mencegah transmisi infeksi.

Transport pasien infeksius


M

Dibatasi, bila perlu saja


Bila mikroba pasien virulen, 3 hal perlu diperhatikan :
LA

1) Pasien diberi APD (masker,gaun)


2) Petugas di area tujuan harus diingatkan akan kedatangan pasien
tersebut melaksanakan kewaspadaan isolasi.
IS

3) Pasien diberi informasi untuk dilibatkan kewaspadaannya agar tidak terjadi


transmisi kepada oranglain.
S

Pemindahan pasien yang dirawat di ruang isolasi


R

Batasi pergerakan dan transportasi pasien dari ruangan isolasi hanya untuk keperluan
penting. Lakukan hanya jika diperlukan dan beritahu tempat yang akan menerima
sesegera mungkin sebelum pasien tiba. Jika perlu dipindahkan dari ruangan/area isolasi
dalam rurnah sakit, pasien harus dipakaikan masker dan gaun. Semua petugas yang
terlibat dalam transportasi pasien harus menggunakan APD yang sesuai. Demikian pula

101
jika pasien perlu dipindahkan keluar fasilitas pelayanan kesehatan. Semua permukaan
yang kontak dengan pasien harus dibersihkan. Jika pasien dipindahkan menggunakan
ambulans, maka sesudahnya ambulans tersebut harus dibersihkan dengan disinfektan
seperti alkohol 70% atau larutan klorin 0,5%

Keluarga pendamping pasien di rumah sakit

G
Perlu edukasi oleh petugas agar menjaga kebersihan tangan dan menjalankan
kewaspadaan isolasi untuk mencegah penyebaran infeksi kepada mereka sendiri ataupun

N
kepada pasien lain. Kewaspadaan yang dijalankan seperti yang dijalankan oleh petugas
kecuali pemakaian sarung tangan.

TA
Pemulangan pasien
Upaya pencegahan infeksi harus tetap dilakukan sampai batas waktu masa

N
penularan.

BO
Bila dipulangkan sebelum masa isolasi berakhir, pasien yang dicurigai terkena
penyakit menular melalui udara/airborne harus diisolasi di dalam rumah selama
pasien tersebut mengalami gejala sampai batas waktu penularan atau sampai
diagnosis alternative dibuat atau hasil uji diagnosis menunjukan bahwa pasien tidak
terinfeksi dengan penyakit tersebut. Keluarga harus diajarkan cara menjaga
M

kebersihan diri, pencegahan dan pengendalian infeksi serta perlindungan diri.


Sebelum pemulangan pasien, pasien dan keluarganya harus diajarkan tentang
LA

tindakan pencegahan yang perlu dilakukan, sesuai dengan cara penularan penyakit
menular diderita pasien (contoh lampiran :Pencegahan, Pengendalian Infeksi dan
Penyuluhan bagi Keluarga atau Kontak Pasien Penyakit Menular).
IS

Pembersihan dan disinfeksi ruangan yang benar perlu dilakukan setelah pemulangan
pasien.
S

PENANGANAN JENAZAH
R

Pemulasaran Jenazah
Petugas kesehatan harus menjalankan Kewaspadaan Standar ketika menangani
pasien yang meninggal akibat penyakit menular.
APD lengkap harus digunakan petugas yang menangani jenazah jika pasien tersebut
meninggal dalam masa penularan.

102
Jenazah harus terbungkus seluruhnya dalam kantong jenazah yang tidak mudah
tembus sebelum dipindahkan ke kamar jenazah.
Jangan ada kebocoran cairan tubuh yang mencemari bagian luar kantong jenazah.
Pindahkan sesegera mungkin ke kamar jenazah setelah meninggal dunia.
Jika keluarga pasien ingin melihat jenazah, diijinkan untuk melakukannya sebelum
jenazah dimasukkan ke dalam kantong jenazah dengan menggunakan APD.

G
Petugas harus memberi penjelasan kepada pihak keluarga tentang penangan khusus
bagi jenazah yang meninggal dengan penyakit menular. Sensitivitas agama, adat

N
istiadat dan budaya harus diperhatikan ketika seorang pasien dengan penyakit

TA
menular meninggal dunia.
Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik pengawet.
Jenazah akan diotopsi harus dilakukan oleh petugas khusus jika diijinkan oleh

N
keluarga dan Direktur Rumah Sakit.
Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi.
BO
Jenazah hendaknya diantar oleh mobil jenazah khusus.
Jenazah sebaiknya tidak lebih dari 4 jam disemayamkan di pemulasaran jenazah.

Pemeriksaan Post Mortem


M

Pemeriksaan post morte pada seseorang yang menderita atau kemungkinan menderita
penyakit menular harus dilakukan dengan hati-hati, apalagi jika pasien meninggal dunia
LA

selama masa penularan. Jika pasien masih menyebarkan virus ketika meninggal,
paru-parunya mungkin masih mengandung virus. Oleh karena itu, kalau melakukan suatu
prosedur pada paru-paru jenazah, APD lengkap harus digunakan yang meliputi masker
IS

N-95, sarung tangan, gaun, pelindung mata dan sepatu pelindung.

Mengurangi risiko timbulnya aerosol selama autopsy



S

Selalu gunakan APD


Gunakan selubung vakum untuk gergaji getar
R

Hindari penggunaan semprotan air tekanan tinggi


Buka isi perut sambil disiram dengan air

Meminimalisasi risiko dari jenazah yang terinfeksi, ketika melakukan pemotongan paru,
cegah produksi aerosol dengan :

103
Hindari panggunaan gergaji listrik
Lakukan prosedur di bawah air
Hindari pajanan ketika mengeluarkan jaringan paru

Sebagai petunjuk umum, terapkan Kewaspadaan Standar sebagai berikut:


Gunakan peralatan sesedikit mungkin ketika melakukan autopsi

G
Hindari penggunaan pisau bedah dan gunting dengan ujung runcing
Jangan memberikan instrumen dan peralatan dengan tangan, selalu gunakan nampan

N
Jika memungkinkan, gunakan instrumen dan peralatan sekali pakai

TA
Upayakan jumlah petugas seminimal mungkin dan dapat menjaga diri
masing-masing
Perawatan jenazah/persiapan sebelum pemakaman

N
Petugas kamar jenazah atau tempat pemakaman harus diberi tahu bahwa kematian
pasien adalah akibat penyakit menular agar Kewaspadaan Standar diterapkan dalam
BO
penanganan jenazah.
Penyiapan jenazah sebelum dimakamkan seperti pembersihan, pemandian,
perapian rambut, pemotongan kuku, pencukuran hanya boleh dilakukan oleh petugas
khusus kamar jenazah.
M
LA
IS
S
R

104
DAFTAR PUSTAKA

Mehtar, Shaheen. Understanding Infection Prevention and Control.JUTA, 2010.

World Health Organization.WHO Guidelines On Hand Hygiene in Health Care.2009

World Health Organization.Hand Hygiene Technical Reference Manual. 2009

G
Departemen Kesehatan Rl. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah
Sakit dan fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya.2009.

N
Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia.Panduan Tata Kelola Hospital-acquired
Pneumonia, Ventilator-associated Pneumonia, Healthcare-associated

TA
Pneumonia Pasien Dewasa.2009

N.N. Damani. Manual of Infection Control Procedures.Cambridge University Press,


2006.

N
Mayhall.Hospital Epidemiology and Infection Control.2004.

World Health Organization.Prevention of hospital-acquired infections: A practical


BO
guide. 2002.
M
LA
IS
S
R

105
LAMPIRAN 1: REKOMENDASI
A. Kategori rekomendasi berdasarkan CDC/HICPAC
KATEGORI PENJELASAN REKOMENDASI
Direkomendasikan untuk diimplementasikan dan didukung kuat dengan
IA
studi epidemiologi, klinik, dan teori yang rasional.
Direkomendasikan untuk diimplementasikan, didukung dengan studi

G
IB epidemiologi, klinik, dan teori yang rasional, dan didukung teori yang
rasional.

N
1C Dibutuhkan untuk diimplentasikan mengikuti peraturan pemerintah.

TA
Oisarankan untuk diimplementasikan dan didukung dengan Studi
II
epidemiologi, klinik, dan teori yang rasional.

N
BO
B. Peringkat rekomendasi berdasarkan panduan American Thoracic Society untuk
pengelolaan CAP pada pasien dewasa, hanya digunakan dalam BAB
LEVEL PENJELASAN REKOMENDASI
1 (tinggi) Data didapatkan dari randomized controlled trial yang dilaksanakan
dengan baik.
M

Data berasal dari controlled trials yang dilakukan dengan baik namun
tanpa randomisasi (termasuk kohort, serial kasus, dan penelitian case
LA

II (sedang) control). Termasuk didalamnya serial kasus besar dimana analisa


sistematik pola penyakit dan atau etiologi microbial dilakukan, laporan
terapi baru yang tidak dilakukan randomisasi.
IS

Data dikumpulkan melalui studi kasus dan pendapat ahli. Pada bebarapa
III (rendah) keadaan tertentu rekomendasi terapi berasal dari data sensitivitas
antibiotika tanpa observasi Minis.
S
R

106
LAMPIRAN 2 : KEWASPADAAN STANDAR UNTUK PELAYANAN PASIEN
No. Kewaspadaan Rekomendasi
standar
1. Hand Hygiene Hindari menyentuh permukaan di sekitar pasien agar
tangan terhindar kontaminasi pathogen dari dan ke
permukaan.(Kategori I B).
Bila tangan tampak kotor, mengandung bahan berprotein,

G
cairan tubuh, cuci tangan dengan sabun biasa/antimikroba
dengan air mengalir. (Kategori I A)
Bila tangan tidak tampak kotor, dekontaminasi dengan

N
Handrub (Kategori I B)
Sebelum kontak langsung dengan pasien (Kategori I B)

TA
2. Alat Pelindung Masker bedah dapat dipakai secara umum untuk petugas
Diri (APD): RS untuk mencegah transmisi melaiui partikel besar dari
Sarung tangan, droplet saat kontak erat (< lm) dari pasien saat

N
masker, kacamata batuk/bersin.(Kategori IB)
pelindung, Pakailah selama tindakan yang menimbulkan aerosol
BO
pelindung wajah, walaupun pada pasien tidak diduga infeksi, (Kategori I B)
gaun (lanjutan) Kenakan gaun (bersih, tidak steril) untuk melindung kulit,
mencegah baju menjadi kotor, kulit terkontaminasi
selama prosedur/merawat pasien yang memungkinkan
terjadinya semprotan cairan tubuh pasien. (Kategori I B)
Pilihlah yang sesuai antara bahan gaun dan tindakan yang
M

akan dikerjakan dan perkiraan jumlah cairan yang


mungkinkan dihadapi. Bila gaun tembus cairan, perlu
LA

dilapisi apron tahan cairan mengantisipasi


semprotan/cipratan cairan infeksius. (Kategori I B)
Lepaskan gaun segera dan cucilah tangan untuk
mencegah transnmisi mikroba ke pasien lain ataupun ke
IS

lingkungan.(Kategori I B)
Kenakan saat merawat pasien infeksi yang secara
epidemiologik penting, lepaskan saat akan keluar ruang
pasien. (Kategori I B)
S

Jangan memakai gaun pakai ulang walapun untuk pasien


yang sama (Kategori II)
R

Bukan indikasi pemakaian rutin masuk ke ruang Risiko


tinggi seperti ICU, NICU/ICU. (Kategori I B)

107
No. Kewaspadaan Rekomendasi
standar
3. Peralatan Buat aturan dan prosedur untuk menampung,
perawatan pasien transportasi, peralatan yang mungkin terkontaminasi
darah atau cairan tubuh. (Kategori I B)
Lepaskan bahan organik dari peralatan kritikal, semi
kritikal dengan bahan pembersih sesuai dengan sebelum

G
di DTT atau sterilisasi. (Kategori I B)
Tangani peralatan pasien yang terkena darah, cairan
tubuh, sekresi, ekskresi dengan benar sehingga kulit dan

N
mukus membran terlindungi, cegah baju terkontaminasi,
cegah transfer mikroba ke pasien lain dan lingkungan.

TA
Pastikan peralatan yang telah dipakai untuk pasien
infeksius telah dibersihkan dan tidak dipakai untuk
pasien lain. Pastikan peralatan sekali pakai dibuang dan
dihancurkan melaiui cara yang benar dan peralatan

N
pakai ulang diproses dengan benar disterilikan.
(Kategori I B)
Peralatan non kritikal terkontaminasi didisinfeksi
BO
setelah dipakai. Peralatan semi kritikal didisinfeksi atau
disterilisasi. Peralatan kritikal harus didisinfeksi
kemudian (Kategori I B)
Peralatan makan pasien dibersihkan dengan air dan
detergen. (Kategori I B)
M

Bila tidak tampak kotor, lap permukaan peralatan yang


besar (USG/Xray) setelah keluar ruangan isolasi.
(Kategori I B)
LA

Bersihkan dan disinfeksi yang benar peralatan terapi


pernapasan terutama setelah dipakai pasien infeksi
saluran pernapasan, dapat dipakai Na hipoklorit
0,05%.(Kategori I B)
IS

Alat makan dicuci dalam alat pencuci otomatik atau


manual dengan detergen tiap setelah makan. Benda
disposable dibuang ketempat sampah. (Kategori I B)
S

4. Pengendalian Pastikan bahwa rumah sakit membuat dan melaksanakan


lingkungan
R

prosedur rutin untuk pembersihan disinfeksi permukaan


lingkungan, tempat tidur, peralatan disamping tempat tidur
dan pinggirannya, permukaan yang sering tersentuh dan
pastikan kegiatan ini di monitor (Kategori I B).

108
No. Kewaspadaan Rekomendasi
standar
Rumah Sakit harus mempunyai disinfektan standar untuk
menghalau patogen dan menurunkannya secara signifikan
di permukaan terkontaminasi sehingga memutuskan rantai
penularan penyakit. Disinfeksi adalah membunuh secara
fisikal dan kimiawi mikroorganisme tidak termasuk spora.
Pembersihan harus mengawali disinfeksi. Benda dan

G
permukaan tidak dapat didisinfeksi sebelum dibersihkan
dari bahan organic (sekresi pasien, ekskresi, kotoran).

N
Pembersihan ditujukan untuk mencegah aerosolisasi,
menuruhkan pencemaran lingkungan, ikuti aturan pabrik

TA
cairan disinfektan, waktu kontak, dan pengencerannya.
(Kategori I B).

Pembersihan area sekitar pasien :

N
Pembersihan permukaan horizontal sekitar pasien
harusdilakukan secara rutin dan tiap pasien pulang.Untuk
mencegah aerosolisasi patogen infeksi saluran napas,hindari
BO
sapu, dengan cara basah (kain basah). Ganti cairan
pembersih, lap kain, kepala mop setelah dipakai
(terkontaminasi).
Peralatan pembersihan harus dibersihkan, dikeringkan tiap
kali setelah pakai. Mop dilaundry, dikeringkan tiap hari
M

sebelum disimpan dan dipakai kembali.


Untuk mempermudah pembersihan bebaskan area pasien
dari benda-benda/peralatan yang tidak perlu. Jangan
LA

fogging dengan disinfektan, tidak terbukti mengendalikan


infeksi, berbahaya.
Pembersihan dapat dibantu dengan vacuum cleaner (pakai
filter, HEPA). Jangan memakai karpet.
IS

5. Pemrosesan Penanganan, transport dan proses linen yang terkena


peralatan pasien darah,cairan tubuh, sekresi, ekskresi dengan prosedur yang
S

dan benar untuk mencegah kulit, mukus membran terekspos dan


penatalaksanaan terkontaminasilinen, sehingga mencegah transfer mikroba
R

linen ke pasien lain, petugas dan lingkungan. (Kategori I B)


Buang terlebih dahulu kotoran (misal: feses), ke toilet dan
letakkan linen dalam kantong linen. Hindari menyortir linen
di ruang rawat pasien. Jangan memanipulasi linen
terkontaminasi untuk hindari kontaminasi terhadap udara
permukaan dan orang.
No. Kewaspadaan Rekomendasi

109
standar
Cuci dan keringkan linen sesuai SOP. Dengan air panas
70C, minimal 25 menit. Bila dipakai suhu <70o C pilih zat
kimia yang sesuai. Pastikan katong tidak bocor dan lepas
ikatan selama transportasi. Kantong tidak perlu double.
Petugas yang menangani linen harus mengenakan APD.

G
6. Kesehatan Berhati-hati dalam bekerja untuk mencegah trauma saat
karyawan menangani jarum, scalpel dan alat tajam lain yang dipakai

N
/perlindungan
setelah prosedur, saat membersihkan instrumen dan saat
petugas kesehatan
membuang jarum (Kategori 1B)

TA
Jangan recap jarum yang telah dipakai, memanipulasi
jarum dengan tangan, menekuk jarum, mematahkan,
melepas jarum dari spuit. Buang jarum, spuit, pisau scalpel,

N
dan peralatan tajam habis pakai kedalam wadah tahan
tusukan sebelum dibuang ke insenerator. (Kategori I B)
BO
Pakai mouthpiece, resusitasi bag atau peralatan ventilasi
lain pengganti metoda resusitasi mulut ke mulut. (Kategori
I B)
Jangan mengarahkan bagian tajam jarum ke bagian tubuh
M

selain akan menyuntik.


7. Penempatan Tempatkan pasien yang potential mengkontaminasi
pasien
LA

lingkungan atau yang tidak dapat diharapkan menjaga


kebersihan atau control lingkungan kedalam ruang rawat
yang terpisah (Kategori I B).
IS

Bila ruang isolasi tidak memungkinkan, konsultasikan


denganpetugas PPI (Kategori I B).
Cara penempatan sesuai jenis kewaspadaan terhadap
S

transmisi infeksi (Kategori I B)


8. Hygiene Edukasi petugas akan pentingnya pengendalian sekresi
R

respirasi/etika respirasi untuk mencegah transmisi patogen dalam droplet


batuk terutama selama musim / KLB virus respiratorik di
masyarakat (Kategori I B)

No. Kewaspadaan Rekomendasi


standar

110
Terapkan pengukuran kandungan sekresi respirasi pasien
dengan individu dengan gejala klinik inrelasi respiratorik,
dimulai dari IGD (Kategori I B).
Beri poster pada pintu masuk dan tempat strategis bahwa
pasien rajal atau pengunjung dengan gejaia klinis infeksi
saluran napas harus menutup rnuka dan hidung dengan tisu

G
kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah
infeksius (Kategori IB).

N
Sediakan tisu dan wadah untuk limbahnya (Kategori I B).
Sediakan sabun, wastafel dan cara mencuci tangan pada

TA
ruang tunggu pasien rawat jaian, atau handrub (Kategori I
B).
Pada musim infeksi saluran napas, tawarkan masker pada

N
pasien dengan gejala infeksi saluran napas juga
pendampingnya. Anjurkan untuk duduk berjarak >1m dari
BO
yang Iain. (Kategori I B)
Lakukan sebagai standar praktek. (Kategori I B).

Kunci PPI adalah mengendalikan penyebaran pathogen dari


M

pasien yang terinfeksi untuk transmisi kepada kontak yang


tidak terlindungi. Untuk penyakit yang ditransmisikan
LA

melalui droplet besar dan atau droplet nuclei maka etika


batuk harus diterapkan kepada semua individu dengan
gejala gangguan pada saluran napas. Pasien, petugas,
IS

pengunjung dengan gejala saluran napas harus:


Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin
Pakai tisu, saputangan, masker, kain/medis bila tersedia,
S

buang ke tempat sampah.



R

Lakukan cuci tangan.

No. Kewaspadaan standar Rekomendasi


8. Lanjutan Manajeman Rumah Sakit / fasilitas kesehatan harus

111
promosi hygiene respirasi/etika batuk :
Promosi kepada semua petugas, pasien, keluarga
dengan infeksi saluran napas dengan demam.
Edukasi petugas, pasien, keluarga, pengunjung
akan pentingnya kandungan aerosol dan sekresi
dari saluran napas dalam mencegah transmisi

G
penyakit saluran napas.
Menyediakan sarana untuk hand hygiene (handrub,

N
wastafel antiseptik, tissue towel, terutama area
tunggu harus diprioritaskan).

TA
9. Praktek menyuntik yang Pakai jarum yang steril, sekali pakai, pada tiap
aman suntikan untuk mencegah kontaminasi pada
peralatan injeksi dan terapi. Bila memungkinkan
sekali pakai vial walaupun multidose. Jarum atau

N
spuit yang dipakai ulang untuk mengambil obat
dalam vial multidose dapat menimbulkan
kontaminasi mikroba yang dapat menyebar saat obat
BO
dipakai untuk pasien lain.
10. Praktek untuk Pemakaian masker pada insersi catheter atau injeksi
menyumbal fungsi suatu obat kedalam area spinal/epidural melalui
prosedur lumbal fungsi misal saat melakukan
anastesi spinal dan epidural, myelogram, untuk
M

mencegah transmisi droplet flora orofaring.


LA
IS
S
R

112
LAMPIRAN 3 : KEWASPADAAN BERBASIS TRANSMISI
Kewaspadaan: Kontak Droplet Udara/Airborne
PenempatanPasi Tempatkan di ruang Tempatkan pasien di Tempatkan pasien diruang
en rawat terpisah,bila tidak ruang terpisah, bila terpisah yang mempunyai :
mungkin kohorting,bila tidakmungkin 1. Tekanan negatif.
ke 2 nya tidak mungkin, kohorting. Bila ke2 2. pertukaran udara
maka pertimbangkan nya tidak mungkin, 6-12x/jam

G
epidemioiogi buat pemisah dengan 3. pengeluaran
mikrobanya dan jarak >1m antara TT udaraterfiltrasi Sebelum
populasi pasien. dan jarak dengan udara mengalir keruang

N
Bicarakan dengan pengunjung. atau tempat lain di RS.
petugas PPI (Kategori Pertahankan pintu

TA
IB). Tempatkan dengan terbuka, tidak perlu Usahakan pintu ruang pasien
jarak >1m3 kaki penanganan khusus tertutup, bila ruang terpisah
antarTT. Jaga agar tidak terhadap udara dan tidak memungkinkan,
ada kontaminasi silang ventilasi (Kategori tempatkan. pasien dengan

N
ke lingkungan dan IB) pasien lain yang mengidap
pasien lain(Kategori mikroba yang sama, jangan
BO
18). dicampur dengan infeksi lain
(kohorting) dengan jarak>1
meter .
Konsultasikan dengan
petugas PPIRS sebelum
menempatkan pasien bila
M

tidak ada ruang isolasi dan


kohorting yang
memungkinkan. (kategori
LA

IB).

Transport Batasi gerak, transport Batasi gerak dan Batasi gerak dan transport
Pasien pasien hanya kalau perlu Transport untuk pasien hanya kalau
IS

saja. Bila diperlukan batasi droplet dari diperlukan saja;


pasien keluar ruangan pasien dengan Bila perlu untuk pemeriksaan
perlu kewaspadaan agar mengenakan masker
pasien dapat diberi masker
risiko minimal transmisi pada pasien (kategori
S

ke pasien lain atau IB) dan menerapkan bedah untuk cegah


lingkungan(kategori IB) hygiene respirasi dan menyebarnya droplet nuklei
etika batuk. (kategori IB).
R

Kewaspadaan: Kontak Droplet Udara/Airborne


APD Petugas Sarung Tangan dan Cuci Masker Pakailah bila Perlindungan saluran
Tangan Memakai bekerja dalam radius Napas kenakan masker
sarung tangan bersih 1m terhadap pasien aspirator (N95/kategori N
non steril, lateks saat (kategori IB), saat pada efisiensi 95%) saat
masuk ke ruang pasien, kontak erat. masuk ruang pasien atau

113
ganti sarung tangan Masker seyogyanya suspekTB paru.
setelah kontakdengan melindungi hidung Orang yang rentan
bahan infeksius dan mulut, dipakai seharusnya tidak boleh
(feses,cairan drain) saat memasuki ruang masuk ruang pasien yang
Lepaskan sarung tangan rawat pasien dengan diketahui suspek
sebelum keluar dari infeksi saluran napas. campak,cacar air kecuali
kamar pasien dan cuci petugas yang telah imun.
tangan dengan Bila terpaksa harus masuk
antiseptic(kategori IB) maka harus mengenakan

G
masker respirator untuk
pencegahan Orang yang
telah / pernah sakit campak

N
atau cacar air tidak perlu
memakai masker (kategori

TA
IB).

APD Petugas Gaun Masker


(lanjutan) Pakai ganu bersih, tidak bedah/prosedur(min)Sarun
. steril saat masuk ruang g tanganGaunGoggle

N
pasien untuk melindungi Bila melakukan
baju dari kontak dengan tindakandengan
pasien, permukaan kemungkinantimbul aerosol.
BO
,lingkungan, barang
diruang pasien, cairan
diare pasien,ileostomy,
colostomy, lukaterbuka.

Lepaskan gaun sebelum


M

keluar ruangan. Jaga


agar tidak ada
kontaminasi silang
LA

kelingkungan dan
pasien lain(kategori IB)

Apron
IS

Bila gaun permeable,


untuk mengurangi
penetrasi cairan, tidak
dipakai sendiri.
Peralatan untuk Bila memungkinkan Tidak perlu Transmisi pada TB
S

perawatan peralatan non kritikal penanganan udara Sesuai pedoman TB CDC


pasien dipakai untuk 1 pasien secara khusus karena "Guideline for Preventingof
R

atau pasien dengan mikroba tidak Tuberculosis inHealthcare


infeksi mikroba yang bergerak jarak jauh. Facilities"
sama. Bersihkan dan
disinfeksi sebelum
dipakai untuk pasien
lain (kategori IB)

114
LAMPIRAN 4: PETUNJUK PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
UNTUK PENGUNJUNG

Pengunjung dengan gejala infeksi saluran pernapasan


Pengunjung dengan gejala demam dan gangguan pernapasan tidak boleh
mengunjungi pasien di dalam fasilitas pelayanan kesehatan.

G
Pengunjung yang setelah sakit sudah tidak menunjukkan gejala, perlu dibatasi
kunjungan ke pasien.

N
Orang dewasa yang sakit tidak boleh berkunjung sampai batas waktu penularan
penyakit, sedangkan anak-anak dibawah 12 tahun dilarang mengunjungi pasien di

TA
rumah sakit.
Kebijakan ini agar dicantumkan di papan pengumuman fasilitas kesehatan.

N
Mengunjungi pasien dengan penyakit menular melalui udara

BO
Petugas kesehatan atau Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi perlu
mendidik pengunjurg pasien dengan penyakit menular tentang cara penularan
penyakit, dan menganjurkan mereka untuk menghindari kontak dengan pasien
selama masa penularan.
Jika keluarga atau teman perlu mengunjungi pasien yang masih suspek atau telah
M

dikonfirmasi menderita penyakit menular melalui udara, pengunjung tersebut harus


mengikuti prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit.
LA

Pengunjung harus memakai APD lengkap (masker, gaun, sarung tangan dan kaca
mata) jika kontak langsung dengan pasien atau lingkungan pasien.
Petugas kesehatan perlu mengawasi pemakaian APD dan masker secara benar bagi
IS

pengunjung.
Ketika pengunjung meninggalkan ruangan, ia harus melepas APD dan mencuci
tangan. Tidak menggantung masker di leher.
S

Jika keluarga dekat mengunjungi pasien penyakit menular melalui udara, petugas
R

kesehatan harus mewancarai orang tersebut untuk menentukan apakah ia memiliki


gejala demam atau infeksi saluran pernapasan. Karena berhubungan dekat dengan
pasien penyakit menular melalui udara berisiko untuk terinfeksi. Jika ada demam
atau gejala gangguan pernapasan, pengunjung tersebut harus dikaji untuk menular
melalui udara dan ditangani dengan tepat

115
Rumah sakit harus mendidik semua pengunjung tentang penerapan pencegahan dan
pengendalian infeksi dan wajib mentaatinya ketika mengunjungi pasien penyakit
menular.

Menjaga kebersihan alat pernapasan dan etika batuk di tempat pelayanan


kesehatan

G
Untuk mencegah penularan infeski saluran pernapasan di fasilitas pelayan kesehatan,
kebersihan saluran pernapasan dan etika batuk harus merupakan bagian mendasar dari

N
perilaku sehat. Setiap orang yang memiliki tanda atau gejala infeksi pernapasan
(batuk,bersin) harus:

TA
Menutup hidung / mulut ketika batuk atau bersin
Mehggunakan tissue untuk menahan sekresi pernapasan dan dibuang di tempat
limbah yang tersedia.

N
Cuci tangan segera setelah kontak dengan sekresi pernapasan.
BO
Fasititas pelayanan kesehatan harus menjamin tersedianya :
Temat limbah tertutup yang tidak perlu disentuh atau dapat dioperasikan dengan kaki
di semua area
Fasilitas cuci tangan dengan air mengalir di ruang tunggu
M

Pengumuman/informasi tertulis untuk menggunakan masker bagi setiap pengunjung


yang batuk.
LA

Jika memungkinkan, dianjurkan bagi orang yang batuk untuk duduk pada jarak 1 meter
dari yang lainnya di ruang tunggu.
IS

Pada pintu masuk dan di ruang fasilitas rawat jalan seperti ruang gawat darurat, ruangan
dokter, instalasi rawat jalan, perlu dipasang instruksi etika batuk atau bersin. Pasien dan
S

orang yang menemaninya agar mempraktekkan kebersihan alat saluran pernapasan dan
R

etika batuk atau bersin. Pasien dan orang yang menemaninya agar mempraktekan
kebersihan alat saluran pernapasan dan etika batuk atau bersin, dan memberitahukan
kepada petugas sesegera mungkin tentang gejala penyakit yang diderita. Bagi orang yang
batuk harus disediakan masker.

116
R
S
IS
LA
M
BO
N
TA
N

117
G
LAMPIRAN 5 : PENCEGAHAN, PENGENDALIAN INFEKSI DAN
PENYULUHAN BAGI KELUARGA ATAU KONTAK PASIEN PENYAKIT
MENULAR.

Selama masa penularan, anda harus menghindari kontak dengan pasien penyakit
menular. Contoh pasiea flu burung: pada orang dewasa, masa penularan adalah 7 hari

G
setelah berhentinya demam dan pada anak-anak 21 hari sejak timbulnya penyakit.
Jika anda terpaksa mengunjungi pasien yang dicurigai atau telah dikonfirmasi

N
mengidap penyakit menular, anda harus mengikuti petunjuk kewaspadaan untuk
pencegahan dan pengendalian infeksi yang terdapat di rumah sakit selama periode

TA
yang ditentukan.
Anda harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan anjuran
petugas kesehatan jika hendak kontak langsung dengan pasien atau lingkungan


pasien tersebut.

N
BO
Anda harus memperoleh petunjuk mengenai cara memasang APD yang benar,
terutama tentang bagaimana melepaskan masker pada wajah, jika diperlukan.
Sesuai dengan jenis penyakit menular, APD yang akan dipakai dapat meliputi
masker, gaun, sarung tangan dan pelindung mata. Pastikan bahwa masker yang anda
pakai melekat dengan baik.
M

Ketika meninggalkan ruangan pasien, anda harus menanggalkan APD dan mencuci
tangan sampai sangat bersih.
LA

Jika telah kontak dengan pasien dalam masa infeksi, anda harus berkomunikasi
dengan dokter mengenai pemberian obat anti virus atau obat lainnya. Anda juga
harus memantau kesehatan anda selama masa inkubasi penyakit, perhatikan
IS

misalnya peningkatan suhu badan, gejala sakit tenggorokan dan lain-lain sesuai
penyakit infeksi yang muncul.
Jika penyakit semakin parah, anda harus segera mencari pertolongan medis dan
S

memberitahukan kepada dokter bahwa anda telah kontak dengan pasien penyakit
R

menular yang sedang mewabah.

Informasi Umum Mengenai Penyakit Saluran Pernapasan


Tutup mulut dan hidung anda jika bersin atau batuk, gunakan tissue dan buang ke

118
tempat sampah.
Selalu cuci tangan setelah kontak dengan sekret saluran napas
Berhati-hati jika batuk atau bersin ketika anda bersama orang lain, terutama anak
kecil atau orang yang menderita penyakit, sampai gejala-gejala pernapasan telah
reda.
Hindari kontak dengan secret penderita gangguan pernapasan.

G
Mintalah orang lain untuk menggunakan tissue dan menutup mulut serta hidungnya
ketika batuk atau bersin.

N
Lakukan konsultasi medis jika penyakit bertambah parah.

TA
Informasi Mengenai Kontak Dengan Binatang Yang Dapat Menjadi Sumber
Penyakit Menular.
Hindari kontak dengan binatang yang telah diketahui dapat menjadi sumber

N
penularan penyakit menular yang sedang mewabah atau di mana hewan pernah
BO
memiliki penyakit, disembelih atau diduga menderita penyakit.
Jika anda secara tidak sengaja melakukan kontak dengan lingkungan yang telah
memiliki penyakit atau binatang yang mati, cucilah tangan dengan sabun hingga
bersih dan pantaulah kesehatan anda selama masa inkubasi. Jika anda tiba-tiba
mengalami demam tinggi (>38oC) atau terdapat tanda-tanda penyakit saluran
M

pernapasan ataupun gejala lain yang sesuai, berkonsultasilah dengan dokter.


Jika anda telah kontak dengan binatang yang mati karena penyakit atau kontak
LA

dengan kotoran binatang tersebut, berkonsultasilah dengan petugas kesehatan.


Jika binatang anda mati, pastikan bahwa anda tahu cara membersihkan tempat
IS

tersebut dengan aman.


Pakailah APD : lindungi hidung, mulut dan mata anda dan gunakanlah sarung
tangan atau kantung plastik pada kedua tangan.
Kuburlah binatang yang mati pada kedalaman 2,5 meter dan jauh dari tempat
S

persediaan air.
R

Bersihkan daerah yang dicemari kotoran binatang, gunakan alat pengerik,


kumpulkan dan kuburlah kotoran tersebut.
Bersihkan kandang atau daerah bekas kotoran binatang dengan sabun dan air.

119
R
S
IS
LA
M
BO
N
TA
N

120
G
LAMPIRAN 6 : SIKLUS, CARA DAN PENCEGAHAN PENULARAN
PENYAKIT

Mikroorganisme dapat hidup di manapun dalam lingkungan kita. Pada manusia dapat
ditemukan pada kulit, saluran napas bagian atas, usus dan organ genital. Disamping itu
mokroorganisme juga dapat hidup pada hewan, tumbuhan, tanah, air dan udara. Beberapa

G
mikroorganisme lebih patogen dari yang lain atau lebih mungkin menyebabkan penyakit.
Ketika daya tahan manusia menurun, semua mikrocrganisme dapat menyebabkan infeksi

N
seperti pada mereka yang kekebalan tubuhnya rnenurun, misalnya pasien dengan
HIV/AIDS.

TA
Semua manusia rentan terhadap infeksi bakteri dan sebagian besar jenis virus. Jumlah
(dosis) organisme yang diperlukan untuk menyebabkan infeksi pada penjamu/host yang

N
rentan bervariasi sesuai dengan lokasi. Risiko infeksi cukup rendah ketika organisme
kontak dengan kulit yang utuh, dan setiap hari manusia menyentuh benda dimana
BO
terdapat sejumlah organisme dipermukaannya. Risiko infeksi akan meningkat bila area
kontak adalahmembran mukosa atau kulit yang tidak utuh. Risiko inteksi menjadi sangat
meningkat ketika mikroorganisme berkontak dengan area tubuh yang biasanya steril,
sehingga masuknya sejumlah kecil organisme saja dapat menyebabkan penyakit.
M

Agar bakteri, virus dan penyebab infeksi lain dapat bertahan hiduo dan menyebar,
LA

sejumlah faktor atau kondisi tertentu harus tersedia. Faktor-faktor penting dalam
penularan mikroorganisme yang menyebabkan penyakit dari orang ke orang
digambarkan dan didefinisikan pada Gambar E-l.Siklus penularan infeksi di fasilitas
IS

pelayanan kesehatan.

Seperti yang diperlihatkan pada gambar di atas, suatu penyakit memerlukan kondisi-
S

kondisi tertentu untuk dapat menyebar (ditularkan) pada pihak lain:



R

Harus ada agen - sesuatu yang dapat menyebabkan penyakit (virus, bakteri, jamur,
parasit, riketsia).
Agen tersebut harus memiliki tempat hidup (pejamu atau reservoar). Banyak
mikroorganisme penyebab penyakit pada manusia (patogen) dapat berkembang biak
di dalam tubuh manusia, tanpa gejala dan dapat ditularkan dari orang ke orang.
Beberapa diantaranya ditularkan melalui makanan, atau air yang terkontaminasi

121
(tipoid), bahan faeces (hepatitis A dan virus enteric lainnya) dan gigitan dari hewan
yang terinfeksi (rabies) serta serangga (malaria melalui nyamuk).
Agen harus memiliki lingkungan yang tepat di luar penjamu agar dapat bertahan
hidup. Setelah meninggalkan penjamunya, mikroorganisme tersebut harus memiliki
lingkungan yang cocok agar dapat bertahan hidup sampai ia dapat menginfeksi orang
lain. Contohnya bakteri yang menyebabkan TBC dapat bertahan dalam sputum

G
selama berminggu-minggu, namun akan mati oleh sinar matahari dalam beberapa
jam.

N
Harus ada orang yang dapat terkena penyakit (penjamu yang rentan). Orang selalu
terpapar oleh agen/penyebab setiap hari tidak selalu menjadi sakit. Orang yang

TA
rentan dapat terkena penyakit (misalnya gondongan, campak, cacar air). Sebagian
besar orang tidak terkena penyakit karena mereka sudah terpapar oleh penyakit,
misalnya telah divaksinasi atau sebelumnya sudah terkena penyakit tersebut.

N
Sehingga sistem kekebalan tubuh mereka saat ini telah mampu menghancurkan ketika
BO
agen tersebut masuk ke dalam tubuh mereka.
Agen/penyebab harus memiliki cara berpindah (transmisi) dari penjamu untuk
menginfeksi penjamu lain yang rentan. Penyebaran penyakit infeksi/menular terutama
melalui cara-cara berikut ini:
1. Penularan Kontak : merupakan cara penularan yang paling sering terjadi pada
M

infeksi nosokomial, sehingga penting untuk diperhatikan. Dibagi dalam dua sub
kelompok, yaitu :
LA

a. Penularan Kontak Langsung adalah melalui kontak langsung dengan


permukaan tubuh dimanaterjadi perpindahan organisme secara fisik dari orang
yang terinfeksi atau terkolonisasi kepada penjamu yang rentan, seperti ketika
IS

seseorang mengubah posisi tubuh pasien, memandikan pasien atau


melakukan aktifitas perawatan dan pemeriksaan lainnya yang
mengharuskan terjadinya kontak langsung. Penularan kontak langsung
S

juga dapat terjadi di anatara dua pasien, yang satu berperan sebagai sumber
R

mikroorganisme menular dan yang lain berperan sebagai penjamu yang


rentan.
b. Penularan Tidak Langsung adalah melalui kontak penjamu yang rentan
dengan benda yangt erkontaminasi, biasanya bukan makhluk hidup, seperti
instrumen yang terkontaminasi, jarum atau pembalut luka, tangan
terkontaminasi yang tldak dicuci dan sarung tangan yang tidak diganti

122
ketika digunakan pada lebih dari satu pasien.

2. Penularan Melalui Percikan (Droplet). Secara teoritis ini juga merupakan


bentuk penularan kontak. Tetapi, mekanisme perpindahan patogen ke penjamu
berbeda dengan penularan kontak, baik langsung maupun tidak langsung.
Droplet (percikan) dikeluarkan oleh orang yang menjadi sumber terutama pada

G
saat batuk, bersin dan berbicara serta selama melakukan suatu prosedur tertentu
seperti suction dan bronkoskopi. Penularan terjadi ketika droplet yang

N
mengandung mikroorganisme dari orang yang terinfeksi terlontar dalam jarak
yang pendek (< 1m) di udara dan menempel pada konjungtiva mukosa hidung,

TA
atau mulut penjamu. Droplet tidak dapat bertahan diudara, sehingga
penanganan ventilasi udara khusus termasuk fogging tidak diperlukan untuk
mencegah penularan.

3.
N
Penularan Melalui Udara (Airborne). Terjadi karena penyebaran nucleus
BO
droplet melalui udara (residu partikel kecil 5 m droplet yang menguap dan
mengandung mikroorganisme yang tetap bertahan di udara selama periode
waktu panjang) atau partikel debu yang mengandung agen infeksi.
Mikroorganisme yang terbawa melalui cara ini dapat tersebar luas melalui aliran
M

udara dan terhisap oleh penjamu rentan yang berada di ruangan sama dalam
jarak cukup jauh dari pasien sumber, bergantung pada faktor lingkungan.
LA

Sehingga penanganan udara dan ventilasi khusus (tekanan negatif, exhaust fan
dengan hepafilter) diperlukan untuk mencegah penularan melalui udara.
IS

4. Penularan Melalui Vehicle (Perantara) Yang Umum berlaku untuk


mikroorganisme yang ditularkan oleh benda-benda terkontaminasi seperti
makanan, air, peralatan
S

5. Penularan Melalui Vektor terjadi ketika vektor seperti nyamuk lalat, tikus dan
R

binatang pengerat lain menularkan mikroorgsnisme.

6. Penularan Faecal - Oral terjadi ketika seseorang menelan makanan yang


terkontaminasi oleh faeces atau rnemasukkan jari ke mulut setelah memegang
benda terkontaminasi tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

123
7. Penularan Melalui Makanan. Penularan melalui makanan terjadi karena
memakan atau meminum makanan/minuman terkontaminasi yang mengandung
bakteri atau virus (rnisalnya Hepatitis A darimemakan kerang mentah).

Mikroorganisme ditularkan di rumah sakit melalui beberapa cara mikroorganisme yang

G
sarna dapat ditularkan dengan lebih dari satu cara. Kewaspadaan Isolasi dirancang untuk
mencegah penularan mikroorganisme melalui cara-cara ini di rumah sakit. Karena faktor

N
agen dan penjamu lebih sulit dikendalikan, maka intervensi terhadap perpindahan
mikroorganisme terutama diarahkan pada pemutusan rantai penularan/transmisi.

TA
Pencegahan Penularan Infeksi
Pencegahan penyebaran infeksi memerlukan dihilangkannya satu atau lebih kondisi yang

N
diperlukan bagi penjamu atau resevoar untuk menularkan penyakit ke penjamu rentan
lainnya dengan cara :
BO
Menghambat atau membunuh agen, misalnya dengan mengaplikasikan antiseptik ke
kulit sebelum tindakan / pembedahan.
Memblokir cara agen berpindah dari orang yang terinfeksi ke orang yang rentan,
misainya dengan mencuci tangan atau memakai antiseptic handrub untuk
M

membersihkan bakteri atau virus yang didapat pada saat bersentuhan dengan pasien
terinfeksi atau permukaan tercemar.
LA

Mengupayakan bahwa orang, khususnya petugas kesehatan telah diimunisasi atau


divaksinasi.
Menyediakan alat pelindung diri (APD) yang memadai bagi petugas kesehatan dalam
IS

upaya mencegah kontak dengan agen infeksi, misalnya sarung tangan rumah tangga
untuk petugas kebersihan dan petugas pembuangan sampah rumah sakit.
S
R

124