Anda di halaman 1dari 23

Modul-AKJ7

D E S I G N C U S T O M I Z ATI O N

BALAI TEKNIK LALU LINTAS & 7.1. Pendahuluan


Modul
LINGKUNGAN JALAN PUSAT LITBANG

7
JALAN & JEMBATAN 7.1.1. Deskripsi Singkat
BALITBANG - DEPARTEMEN PEKERJAAN
UMUM Secara umum sistematika
Drs. MUHAMMAD IDRIS, MT laporan Audit Keselamatan
Peneliti Bidang Transportasi Keselamatan
Jalan jalan, harus mencakup: judul
proyek; latar belakang proyek;
permasalahan (mengapa
diperlukan audit); tujuan dan
sasaran audit; organisasi team
audit dan deskripsi tugas
anggota team audit; hasil
LAPORAN temuan audit (daftar temuan
AUDIT audit; data-data hasil survey

KESELAMATAN
lapangan; foto-foto lapangan);
kesimpulan dan saran; dan
JALAN lampiran (antara lain:peta
eksisting jalan; sketsa usulan
perbaikan; daftar periksa dari
hasil



Latar belakang LAPORAN
Tujuan dan Sasaran Audit
audit
yang



Organisasi Team Audit
Metodologi AUDIT
Analisis & Hasil Temuan

KESELAMATAN
JALAN
[Bahan Disseminasi Aplikasi Geometri & Keselamatan
Lalu Lintas, Banten, 22-24 Oktober 2008.]
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

dilakukan; fomulir-formulir dilakukan; fomulir-formulir


survey lainnya. survey lainnya.

7.1.2. Materi Pokok 7.1.4. Bacaan yang


Dianjurkan
Materi pokok dalam modul ini Austroads (1994); Road Safety
adalah sistematika pembuatan Audit, Austroads
laporan audit keselamatan Publications No. AP-30/94,
jalan. Sidney
Departemen Pekerjaan Umum

7.1.3. Tujuan (1996); Pedoman


Pembelajaran Perencanaan Fasilitas

Tujuan pembelajaran dalam Pejalan Kaki Pada Jalan

modul ini diharapkan para Umum, PT. Medisa, Jakarta

peserta dapat membuat laporan Departemen Pekerjaan Umum

audit keselamatan jalan yang (1997); Tata Cara

mencakup: judul proyek; latar Perencanaan Geometrik

belakang proyek; permasalahan Jalan Antar Kota,

(mengapa diperlukan audit); Direktorat Jenderal Bina

tujuan dan sasaran audit; Marga, Jakarta

organisasi team audit dan Idris, M., dkk (2000);

deskripsi tugas anggota team Pengenalan Audit

audit; hasil temuan audit Keselamatan Jalan untuk

(daftar temuan audit; data-data Indonesia, Paper di

hasil survey lapangan; foto-foto presentasikan pada KNTJ-6

lapangan); kesimpulan dan Jakarta, September 2000,

saran; dan lampiran (antara HPJI, Jakarta

lain:peta eksisting jalan; sketsa IHT (1987); Guidelines for: The

usulan perbaikan; daftar Safety Audit of Highways,

periksa dari hasil audit yang The Institute of Highways

VI-2
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

and Transportation, RoSPA & TSM Consultasy,


London Birmingham
IHT (1990); Highway Safety TRL (1997); Engineering
Guidelines: Accident Approach to Accident
Reduction and Prevention; Prevention & Reduction,
International Edition, The RRDP Report No. RRDP
Institute of Highways and 19, Insntitute Of Road
Transportation, London Engineering, Bandung
IHT (1991); Urban Safety TRRL (1991); Towards Safer
Management, The Institute Roads in Developing
of Highways and Countries, A Guide for
Transportation, London Planners and Engineers,
ITE ( Editor : James L, Pline) Transport Research
(1992); Traffic Engineering Laboratory, Crowthorne
Handbook, Fourth Edition,
Prentice Halll, New Jersey
RoSPA (1992); Road Safety
Engineering Manual,

7.2. Contoh Laporan:

VI-3
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

AUDIT KESELAMATAN JALAN


JALAN TOL CIPULARANG

BALAI TEKNIK LALU LINTAS DAN LINGKUNGAN JALAN


PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN JALAN DAN
JEMBATAN
BADAN LITBANG DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
Juli-2005

1. Latar Belakang:

VI-4
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

Gambar-1. Peta ruas jalan Tol Cipularang


a) Jalan Tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-
Padalarang) merupakan salah satu ruas jalan strategis nasional,
yang dibangun untuk memecahkan persoalan transportasi
Bandung-Jakarta. Jalan Tol Cipularang selain akan
memperpendek jarak dan mempersingkat waktu juga lebih
ekonomis. Secara teori ruas jalan ini dapat meningkatkan
aksesibilitas antara Jakarta dan Bandung.

b) Secara fisik ruas jalan ini telah selesai dan mulai


beroperasi secara penuh sejak tanggal 23 Juli 2005. Selama uji
coba dan pada bulan-bulan awal peroperasian ruas ini
berlangsung, beberapa keluhan pengguna jalan sudah mulai
masuk ke berbagai media cetak nasional dan internet.
c) Beberapa segmen ruas dinilai masih belum sempurna,
sehingga kasus-kasus kecelakaan pun bermunculan. Tiga kasus
kecelakaan terakhir antara lain pada STA.96+600, STA.67+000,
dan STA.79+600.

VI-5
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

d) Mempertimbangkan tingginya potensi kecelakaan


pada ruas ini, dinilai perlu untuk melakukan pemeriksaan (audit)
terhadap aspek-aspek geometri, bangunan pelengkap jalan,
fasilitas jalan dan kondisi lingkungan jalan ruas jalan Tol
Cipularang.

2. Tujuan dan Sasaran


Audit keselamatan jalan pada jalan Tol Cipularang bertujuan untuk
memberikan masukan aspek-aspek keselamatan berkaitan dengan
kondisi ruas jalan Tol Cipularang yang mencakup geometri,
bangunan pelengkap jalan, fasilitas jalan, serta kondisi lingkungan
jalan melalui pemeriksaan keselamatan jalan.

Sasarannya antara lain:


a) mengidentifikasi lokasi-lokasi yang memiliki potensi
kecelakaan lalu lintas,
b) mengidentifikasi bagian-bagian jalan, bangunan pelengkap
jalan, fasiltas jalan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan
lalu lintas,
c) mengidentifikasi masing-masing permasalahan kaitannya
dengan bagian-bagian jalan, bangunan pelengkap jalan, fasilitas
jalan yang diidentifikasi berpotensi menimbulkan kecelakaan,
d) mengidentifikasi teknik-teknik penanganan berkaitan
dengan bagian-bagian jalan, bangunan pelengkap jalan, fasilitas
jalan yang diidentifikasi berpotensi menimbulkan kecelakaan.

3. Team Audit
No Nama Jabatan Keahlian Pengalam
. an
1 Mr. X Project Civil >10 tahun

VI-6
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

Manager Engineering
2 Mr. Y Perencana Planner 5 tahun
3 Mr. Z Disainer Designer 3 tahun
4 Muhammad Idris Ketua Team AKJ Road Safety 10 tahun
Engineering,
Traffic
Engineering,
Auditor
Keselamatan
5 Vera Gardenia Anggota Road 5 tahun
Sanoe Engineering,
Road Safety
Engineering
6 Greece Maria Anggota Traffic 5 tahun
Lawalata Engineering,
Road Safety
Engineering
7 Rustijan Anggota Road Design, 3 tahun
Traffic
Engineering
8 Agah Muhammad Anggota Geo-technic 2 tahun
9 Sri Yeni Anggota Road 5 tahun
Environtmen

4. Metodologi:
Secara umum metoda yang diterapkan di dalam pelaksanaan audit
keselamatan jalan yang dilakukan, antara lain:
a. Mengiventarisir permasalahan berdasarkan informasi yang
diperoleh dari berbagai pengguna jalan
b. Menyiapkan team audit serta perangkat-perangkat untuk
keperluan audit seperti peta lokasi, formulir audit, alat bantu
seperti kamera photo, kamera video, alat ukur, dan alat tulis
lainnya
c. Melakukan audit ke lapangan dan melakukan pemotretan
menggunakan video kamera di sepanjang ruas dalam beberapa
kali putaran.
d. Teknik pengumpulan data dilakukan sebagai berikut:

VI-7
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

1) Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah


dengan cara merekam semua kondisi jalan dan lingkungan
jalan di sepanjang jalan melalui kamera video. Pendekatan
ini lebih berorientasi kepada pemeriksaan kualitas
keselamatan jalan dari aspek atau persepsi pengguna jalan
atau pengemudi.
2) Tinggi lensa kamera disesuaikan dengan tinggi rata-
rata mata pengemudi di dalam kendaraan, serta fokus
kamera disesuaikan dengan batasan penglihatan pengemudi
ke kiri dan kanan sehingga dapat mengcover semua kondisi
jalan dan lingkungan jalan, sebagimana layaknya batasan
penglihatan pengemudi.
3) Pengambilan data di mulai dari ujung Tol Cipularang,
yang diawali dari pintu Tol Padalarang Barat hingga ke pintu
Tol Sadang Purwakarta. Kemudian dilanjutkan lagi dari
pintul Tol Sadang dan berakhir kembali di pintu Tol
Padalarang Barat.
4) Selama pengambilan data, semua patok STA harus
teridentifikasi dengan cara menyebutkan lokasi-lokasi
tersebut yang terekam ke video kamera.
5) Kemudian mencatat lokasi-lokasi bangunan pelengkap
jalan, alinyemen jalan di sepanjang jalan serta menyebutkan
kondisi dan lokasi bangunan tersebut yang juga harus
terekam ke dalam video kamera.
e. Pengolahan data:
1) Pengolahan dilakukan dengan cara memutar ulang
kembali hasil pemotretan serta menandai titik-titik potensial
kecelakaan

VI-8
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

2) Menginvetarisir temuan dan mengelompokkannya ke


dalam permasalahan yang sama.
f. Analisa/Evaluasi:
1) Analisa/evaluasi dilakukan terhadap semua item dari
hasil temuan, dan lebih dikonsentrasikan terhadap temuan-
temuan yang dinilai berpotensi menyebabkan kecelakaan.
2) Melakukan analisa terhadap data sekunder maupun
hasil pemotretan berkaitan dengan bagian-bagian penting
dari hasil temuan pada penerapan chek-list.
3) Membuat daftar temuan-temuan dan lengkapi dengan
data-data serta photo-photo pada bagian-bagian geometri
jalan yang diidentifikasi sebagai elemen jalan yang
bermasalah tersebut.
g. Mengidentifikasi usulan-usulan penanganan yang diadop dari
berbagai literatur

4. Hasil Temuan dan Usulan Penanganan


a) Potensi Kecelakaan
Beberapa temuan permasalahan yang teridentifikasi pada ruas
Jalan Tol Cipularang dapat dikelompokkan ke dalam enam
permasalahan utama, yaitu masalah yang berakibat terhadap
kemungkinan adanya a) potensi ban pecah, b) potensi pindah
jalur c) potensi glare, d) potensi kurangnya pengharapan
pengemudi, e) potensi kehilangan kendali akibat kecepatan
tinggi, dan f) potensi menabrak bangunan tepi jalan dan potensi
masuk ke lokasi-lokasi berbahaya.

b) Perkiraan penyebab potensi kecelakaan

N Potensi Kecelakaan Perkiraan Penyebab

VI-9
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

o.
1. Potensi pecah ban a) permukaan jalan yang kasar
b) pemanasan ban akibat permukaan
jalan
2. Potensi pindah jalur a) lebar median yang kurang ideal
b) desain barrier yang kurang ideal
3. Potensi cahaya silau a) lebar median dan ketinggian barrier
(glare) pada median yang kurang ideal
b) tidak tersedianya alat pengendali
glare
4. Kurangnya a) kurang tersedianya tersedianya rambu
pengharapan peringatan tikungan ke kiri/kanan dan
pengemudi petunjuk arah khusunya pada lokasi-
lokasi berbahaya
b) Kualitas marka/delineator khususnya
pada malam hari
5. Potensi kehilangan a) kurang tersedianya rambu peringatan
kendali tikungan ke kiri/kanan dan rambu
kecepatan pada lokasi-lokasi berbahaya
b) kurang tersedianya alat pengendali
kecepatan
6. Potensi keluar badan a) penempatan chash barrier yang kurang
jalan tepat
b) kurang terproteksinya sebahagian
bagunan tepi jalan
c) adanya penyempitan bahu jalan akibat
bangunan jalan
d) terlalu lebarnya bahu jalan yang
mendorong pengemgudi untuk
menggunakan banhu tersebut

VI-10
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

EKSPEKTASI PENGEMUDI POTENSI GLARE POTENSI BAN PECAH

Kurangnya rambu Lebar median & Permukaan jalan


Chepron & Petunjuk Arah tinggi median barrier yang kasar

Kualitas marka & Tidak tersedianya Potensi pemanasan


delineator alat penahan glare permukaan jalan
POTENSI
TERJADINYA
KECELAKAAN LALU
LINTAS RUAS
JALAN TOL
Terlalu lebarnya
bahu luar CIPULARANG
Kurang tersedianya Lebar Median yang
alat pengendali kecepatan kurang ideal
Penyempitan

`
Kurang terproteksinya
bahu dalam bgn tepi jalan
Kurangnya rambu kecepatan Median barrier
Posisi Crash barrier & rambu peringatan yang kurang ideal
yg belum tepat

POTENSI MENABRAK POTENSI KEHILANGAN POTENSI PINDAH


BGN TEPI JALAN KENDALI JALUR

c) Usulan penanganan
Beberapa saran penanganan yang diusulkan untuk mengurangi
potensi kecelakaan pada ruas jalan Tol Cipularang secara
keseluruhan, antara lain:

No. Potensi Perkiraan Penyebab Usulan Penanganan


Kecelaka-
an
1. Potensi a) permukaan jalan a) memperbaiki
pecah ban yang kasar tekstur permukaan
b) pemanasan ban jalan
akibat permukaan b) menyediakan rest
jalan area untuk
mengecek tekanan
angin ban
2. Potensi a) lebar median yang a) mengurangi
pindah kurang ideal penyiapan
jalur b) desain barrier menggunakan bahu
yang kurang ideal dalam dengan
menerapkan rumble
b) meningkatkan

VI-11
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

kualitas median
barrier
3. Potensi a) lebar median dan a) membuat
cahaya ketinggian barrier pengendali glare
silau pada median yang (screen glare)
(glare) kurang ideal b) meninggikan
b) tidak tersedianya median barier
alat pengendali glare c) meningkatkani
kualitas marka dan
delineator
4. Kurangnya a) kurang a) menambah rambu
pengharap tersedianya rambu peringatan tikungan
an peringatan tikungan ke kiri/kanan dan
pengemud ke kiri/kanan dan rambu petunjuk
i petunjuk arah arah
khususnya pada b) meningkatkani
lokasi-lokasi kualitas marka dan
berbahaya delineator
b) Kualitas
marka/delineator
khususnya pada
malam hari
5. Potensi a) kurang a) membuat alat
kehilangan tersedianya rambu pengendali
kendali peringatan tikungan kecepatan
ke kiri/kanan dan b) menambah rambu
rambu kecepatan kecepatan dan
pada lokasi-lokasi rambu peringatan
berbahaya
b) kurang
tersedianya alat
pengendali
kecepatan
6. Potensi a) penempatan a) memproteksi
keluar chash barrier yang bangunan tepi jalan
badan kurang tepat yang berpotensi
jalan b) kurang terhadap kecelakaan
terproteksinya b) mencegah
sebahagian bagunan penyiapan
tepi jalan menggunakan bahu
c) adanya jalan dengan
penyempitan bahu memasang rumble
jalan akibat strip pada bahu
bangunan jalan jalan
d) terlalu lebarnya c) memperpanjang
bahu jalan yang crash barrier
mendorong khususnya pada
pengemgudi untuk lokasi yang memiliki

VI-12
MODUL: AUDIT K E S E L A M ATA N JALAN

menggunakan bahu potensi kecelakaan


tersebut yang telah dipasangi
crash barrier

MENINGKATKAN EKSPEKTASI MENGURANGI MENGURANGI


PENGEMUDI POTENSI GLARE POTENSI BAN PECAH

Menambah rambu Meningkatkan kualitas Memperbaiki


Chepron & Petunjuk Arah marka & delineator permukaan jalan

Mengganti median
barrier
Meningkatkan kualitas Membuat Membuat
marka & delineator screen glare rest area MEMINIMISASI/
MENGURANGI
POTENSI
KECELAKAAN LALU
LINTAS PADA RUAS
Memproteksi bgn tepi Membuat alat Mengurangi penyiapan JALAN TOL
jalan dgn crash barrier pengendali kecepatan melalui bahu dalam CIPULARANG
Meningkatkan kualitas
Memperpanjang median barrier

`
Crash barrier

Mencegah penyiapan Menambah rambu kecepatan Meninggikan


dari bahu jalan & rambu peringatan median jalan

MENCEGAH TABRAKAN MENGHILANGKAN POTENSI MENCEGAH PINDAH


BGN TEPI JALAN KEHILANGAN KENDALI JALUR

5. Lampiran

VI-13
1. Median Barrier
PERMASALAHAN USULAN PENANGANAN
Rata-rata lebar median ruas jalan Tol Cipularang kurang Ukuran conrete median barrier (parapet) yang ideal
dari 3,00m. Bentuk median yang digunakan adalah untuk lalu lintas bebas hambatan sepert jalan Tol
median yang diperkeras yang rata dengan bahu dalam Cipularang adalah seperti yang diterapkan di New
serta dilengkapi dengan median barrier. Median barrier Jersey, yang memiliki ukuran tinggi 1070mm, lebar alas
yang diterapkan pada ruas jalan Tol Cipularang 800mm, dan lebar atas 330mm. Concrete barrier tipe
mempunyai ukuran tinggi sekitar 70,00cm dengan NJ-shape memiliki kekuatan yang baik bila dibentur
lebar alas 80,00cm dan lebar atas 20,00cm. Dimensi oleh truk bertonase 36ton, sehingga tipe ini sangat
median barrier (parapet) diperkirakan tidak cukup kuat disarankan untuk ruas jalan Tol dengan median kurang
bila dibentur oleh kendaraan truk besar dengan dari 3,00m. Beberapa saran lain untuk mencegah
kecepatan tinggi. Mengingat ruas jalan ini didesain terjadinya potensi kecelakaan antara lain:
berkecepatan tinggi, maka potensi hancurnya barrier a) Memproteksi adanya penyiapan yang berlebihan
tertabrak kendaraan bertonase tinggi hingga memasuki menggunakan bahu dalam dengan cara membuat
jalur lain dinilai sangat berpotensi. rumble strip pada bahu dalam di sepanjang ruas
jalan Tol (***)
b) Mengganti median barrier dengan ukuran yang
sesuai untuk kelas jalan Tol dan dengan ketinggian
yang cukup untuk dapat menghindari glare (*****)
2. Penyempitan Bahu Dalam
PERMASALAHAN USULAN PENANGANAN
Penyempitan atau adanya perubahan lebar bahu dalam Penyempitan bahu dalam jalan yang diakibatkan oleh
menjadi lebih kecil akan memperlihatkan ketidak- bangunan pelengkap jalan yang berpotensi menjadi
konsistenan lebar bahu jalan dan juga memberi kesan gangguan, dapat diantisipasi dengan teknik-teknik
berkurangnya lebar jalan secara keseluruhan. penanganan sebagai berikiut:
Penyempitan bahu dalam ini akan lebih beresiko bila a) Membuat rambu adanya penyempitan serta rambu
penyempitan tersebut diakibatkan oleh bangunan dilarang mendahului pada lokasi-lokasi tersebut
pelengkap jalan (seperti tiang jembatan atau lebar (**)
median barrier) yang seolah menonjol ke arah jalur lalu b) Mengecat potensi-potensi gangguan tersebut
lintas. Bangunan pelengkap jalan yang menonjol dengan warna yang mecolok, sehingga dapat
tersebut bisa menjadi objek gangguan (obstacle) dan diantisipasi dari jarak jauh (*)
sangat berpotensi tertabrak atau tersenggol karena c) Membuat rumble strip pada bahu dalam tersebut
berada di kanan jalur lalu lintas yang sangat sulit sekitar 60m (2,50 detik kecepatan) sebelum lokasi
diantisipasi ketika akan mendahului kendaraan lain penyempitan dan di sepanjang penyempitan,
dari sebelah kanan. sehingga dapat mencegah upaya penyiapan pada
lokasi tersebut (***)
d) Kombinasi a, b, dan c (****)
3. Potensi Objek Gangguan dari Bangunan Pelengkap Jalan
PERMASALAHAN USULAN PENANGANAN
Potensi objek gangguan lalu lintas (obstacle) dari Objek gangguan seperti ini dapat ditanggulangi dengan
bangunan jalan seperti tiang jembatan yang teknik-teknik penanganan berikut :
posisinya berimpit dengan tepi perkerasan bahu a) Membuat rambu adanya penyempitan serta rambu
jalan akibat tidak terpoteksinya bangunan tersebut dilarang mendahului dari kiri pada lokasi-lokasi
memiliki potensi yang besar menimbulkan tersebut (**)
kecelakaan. Lokasi-lokasi seperti ini sangat rawan b) Mengecat potensi-potensi gangguan tersebut dengan
apalagi bila terdapat penyempitan bahu dari kiri warna yang mecolok, sehingga dapat diantisipasi dari
jalan. Kelompok pengemudi yang kurang disiplin dan jarak jauh (*)
yang gemar mendahului dari sebelah kiri merupakan c) Membuat rumble strip pada bahu (bahu luar) tersebut
kelompok potensial korban-korban kecelakaan pada sekitar 60m (2,50 detik kecepatan) sebelum lokasi
lokasi-lokasi seperti ini. dan disepanjang objek gangguan lalu lintas tersebut
yang berfungsi untuk mencegah upaya penyiapan
pada lokasi tersebut (***)
d) Membuat bangunan pengaman tepi jalan berupa rel
pengaman untuk memproteksi objek gangguan
tersebut (****)
e) Kombinasi tenik-teknik penanganan merupakan
teknik penanganan terbaik (*****)
4. Potensi Penyiapan dari Bahu Luar pada Jembatan
PERMASALAHAN USULAN PENANGANAN
Bahu jalan yang lebar dan yang terlalu sempit Untuk menghindari perilaku menyiap dari kiri khususnya
seringkali menjadi persoalan. Lebar bahu jalan yang pada lokasi-lokasi rawan seperti pada lokasi jembatan
terlalu lebar dapat merangsang orang untuk melakukan atau tepi jurang, dapat dilakukan dengan cara
penyiapan dari bahu kiri. Ini akan menjadi beresiko bila pendekatan berikut:
melakukan upaya mendahului dari kiri pada lokasi- a) Membuat rambu adanya jembatan atau lokasi
lokasi jembatan atau tepi jurang, sekalipun dilengkapi jurang serta rambu dilarang mendahului dari bahu
dengan bangunan pengaman tepi jalan. Bila bangunan jalan pada lokasi-lokasi tersebut (**)
pengaman tepi jalan cukup kuat, mungkin tidak b) Membuat rumble strip pada bahu luar tersebut
menjadi masalah. Akan tetapi permasalahan akan mulai sekitar 60m (2,50 detik kecepatan) sebelum
muncul bila bangunan tersebut belum teruji dan disepanjang lokasi jembatan atau lokasi jurang,
kekuatannya. sehingga dapat mencegah upaya penyiapan pada
lokasi tersebut (***)
c) Kombinasi a dan b (****)
5. Bangunan Pengaman Tepi Jalan yang Kurang Panjang
PERMASALAHAN USULAN PENANGANAN
Bangunan pengaman tepi jalan yang dipasang untuk Kondisi ini dapat dihilangkan dengan cara pendekatan:
memproteksi lokasi-lokasi rawan seperti lokasi jurang a) Memperpanjang guardrail yang ada sehingga dapat
atau lokasi sebelum jembatan cenderung kurang menutupi celah yang dimaksud (**)
panjang, sehingga sering meninggalkan celah yang b) Menyisipkan bangunan pengaman tepi jalan lainnya
dinilai masih berpotensi kemungkinan tergulingnya seperti bantalan susunan batu dengan kawat
atau masuknya kendaraan pada celah tersebut bronjong yang diletakkan pada bagian belakang
terutama kendaraan yang kehilangan kontrol. Sekalipun guardrail hingga menutupi celah yang dimaksud (**)
sudah tersedia bangunan pengaman seperti guardrail, c) Membuat rumble strip pada bahu luar di lokasi yang
tetap dinilai masih belum cukup aman. dimaksud minimal 60m (2,50 detik kecepatan)
sebelum dan disepanjang lokasi jembatan atau
lokasi jurang, sehingga dapat mencegah upaya
penyiapan pada lokasi tersebut (***)
6. Kurangnya Rambu Chevron pada Lokasi Berupa Kurva Horizontal
PERMASALAHAN USULAN PENANGANAN
Pada beberapa lokasi terutama pada lokasi berupa Beberapa pendekatan guna mengurangi potensial
tikungan (kurva horizontal) sangat memerlukan rambu kecelakaan pada ruas jalan berupa kurva horizontal
petunjuk arah guna memberikan pengharapan yang antara lain dengan:
lebih baik bagi pengemudi (driver expectation). a) Menambah rambu chevron pada sisi kiri bila
kurvanya menikung ke kanan atau pada bagian
kanan lajur lalu lintas (median) bila kurvanya
menikung ke kiri
b) Teknik lain membuat tanda chevron (multi chevron)
pada dinding atau bangunan pengaman tepi jalan
tanpa menggunakan tiang sebagaimana rambu pada
umumnya. Penempatan tanda chevron ini dapat
dilakukan dalam jarak tertentu yang dapat
menggiring pengemudi pada arah lalu lintas yang
tepat.
7. Lajur Pendakian
PERMASALAHAN USULAN PENANGANAN
Pada beberapa lokasi terutama pada lokasi tanjakan Beberapa pendekatan guna mengurangi potensial
atau pendakian (kurva vertikal) seringkali kecelakaan pada ruas jalan berupa kurva vertikal:
mengakibatkan kendaraan-kendaraan tertentu a) Membuat lajur pendakian khusus untuk kendaraan
seperti truk barang atau tanki yang bermuatan tidak berat seperti bus besar dan truk besar.
dapat bergerak memenuhi desain kecepatan. b) Membuat marka huruf pada lajur pendakian untuk
Apalagi kendaraan-kendaraan tersebut bergerak bus dan truk.
secara kontinu pada lajur kanan. Akibatnya terjadi c) Membuat rambu petunjuk pada awal dan akhir lajur
perlambatan lalu lintas yang mendorong kendaraan pendakian.
lain melakukan penyiapan. Bila penyiapan itu
dilakukan dari sebelah kanan (dengan lebar jalan
yang memadai) mungkin tidak menjadi masalah.
Akan tetapi akan lain halnya bila penyiapan
dilakukan dari sebelah kiri yang tentu saja lebih
berbahaya.
8. Potensi Kehilangan Kontrol Akibat Kecepatan Tinggi
PERMASALAHAN USULAN PENANGANAN
Potensi kehilangan kontrol kendaraan akibat tidak Beberapa pendekatan guna mengurangi potensial
terkontrolnya kecepatan seringkali ditemukan pada kecelakaan pada ruas jalan beralinemen lurus atau
segmen ruas jalan beralinyemen lurus menurun atau menikung turunan, antara lain:
tikungan menurun (alinemen vertikal). Kondisi seperti a) Membuat rambu peringatan bahwa ruas jalan
ini terdapat pada Sta. Jalan Tol Cipularang. menurun.
b) Membuat rambu batasan kecepatan yang aman
atau rambu peringatan untuk mengurangi
kecepatan.
c) Membuat marka huruf (SLOW) pada lajur lalu
lintas, untuk mengingatkan pengemudi.
c) Membuat ramble strip pada segmen ruas tersebut
yang melintang dari bahu luar ke bahu dalam.
9. Potensi Gangguan Cahaya Lampu Kendaraan (Glare)
PERMASALAHAN USULAN PENANGANAN
Kurang idealnya lebar median serta kurang tingginya Beberapa pendekatan guna mengurangi potensial
median barrier seringkali menjadi masyalah khususnya kecelakaan pada ruas jalan beralinemen tikungan datar
pada ruas-ruas jalan beralinyemen tikungan mendatar atau turunan, akibat glare antara lain:
atau menurun (kurva horizontal atau kurva vertikal) a) Memperjelas marka garis pada bahu dalam (*).
akibat cahaya lampu yang menyilaukan dari lalu lintas b) Membuat delineator yang cukup pada median
pada jalur lain. Lokasi-lokasi yang dinilai lebih barrier di sepanjang lokasi-lokasi berpotensi glare
berpotensi berbahaya adalah pada tikungan ke kanan tersebut (**).
atau pada lokasi berkurva-S. Cahaya lampu yang c) Membuat alat penahan cahaya lampu (screen
menyilaukan (glare) pada malam hari lebih berpotensi glare) berupa plat-plat besi dengan ukuran (tinggi,
dialami kendaraan yang bergerak pada lajur cepat. lebar), jarak serta bahan yang standar, pada
Intensitas cahaya lampu yang mengganggu melebihi median jalan, khususnya pada lokasi-lokasi yang
2,50 detik kecepatan dapat membuat pengemudi berpotensi mengakibatkan glare (***)
kehilangan informasi dalam jarak minimal 60,00m dan d) Meninggikan/mengganti median barrier (parapet)
sangat berpotensi mengakibatkan kecelakaan tunggal dengan ukuran standar yang disesuaikan dengan
rata-rata tinggi mata pengemudi khususnya pada
lokasi-lokasi yang berpotensi glare(****)

Anda mungkin juga menyukai