Anda di halaman 1dari 316

Akhirnya

Selesai...
Adit

2
..... 01
. . . . . ........
........ . . 014
Prolog . . . . . . . ........
..... ... 110
........ ........
Bab 1 .. . . . . . . . 6
........ ..... 16
Bab 2 . . . . . ........
........
. . .2 4
3
Bab 3 . . . . . . . ........
.... ... 312
........ ........
Bab 4 p .. . . . . .
enutu
Kata P
Prolog

Entah kenapa, tiba-tiba ada celana dalam di depan


mata saat aku bangun, dan ngomong-ngomong, kenapa
Yuuko ada di sini?!
Semester baru, berbagai macam murid aneh muncul
satu per satu. Diriku yang bermasalah ini, menambah
masalah lagi.
Demi audisi pengisi suara untuk kartun Misaki-senpai,
aku mulai menemani Nanami berlatih.
Karena ada bagian pasangan yang saling
mengungkapkan perasaannya, suasana berlatih dengan
Nanami menjadi aneh.
Dan, Mashiro yang menyadari ini membalas, Aku
ingin melukis Sorata!
Dan sebuah cerita kehidupan komedi romantis yang
terdiri dari si mesum, jenius, dll. Semua ada di volume ke-7
ini!

12
13
Bab 1
The Spring Which Was Set in Motion
Long Ago

Menyambut musim semi yang ketiga di SMA Suiko.


Di hari hari yang biasa begini, terdapat sebuah awal
yang baru.
Harapan yang di dalam hati dan perasaan yang tidak
yakin ini memenuhi pikiran.
Bagaimanapun tidak bisa kutahan, memikirkan
suasana hati seseorang.

Bagian 1
Jantung Sorata yang serasa ingin meledak karena dia
Kau bilang ingin memberitahuku sesuatu. Apa itu?
Yang berbicara tadi adalah si gadis kuncir kuda,
Nanami.
Em, hal yang penting, mungkin?
Nanami yang sedang malu dan menunduk kepala,
menjawab dengan tidak terlalu jelas.
..
..
Perasaan yang bingung, ragu-ragu, dan tidak yakin
ini entah kenapa, bercampur menjadi perasaan gugup dan
menyelimuti mereka berdua.
Aku, selalu ingin berbicara denganmu mengenai
ini.
Hmm, begitu
Ya, aku

14
..
Nanami sepertinya ingin menyemangati dirinya
sendiri, dan mengangkat kepalanya tiba-tiba.
Aku, selalu, selalu
..
Suasana yang dibuat Nanami ini membuat Sorata
gugup, dan tidak bisa bergerak sejenak. Dan di depan Sorata,
Nanami tersenyum.
Terus , Nanami tersenyum ceria memberitahu Sorata
sesuatu yang sangat penting baginya.
Aku, selalu menyukaimu, sangat menyukaimu.
..
..
Detakan jantung yang terasa terus bertambah cepat,
sepertinya sudah terdengar sampai luar. Nanami pasti
mendengarnya juga!
Sorata terdiam sejenak, setelah beberapa saat akhirnya
Sorata mulai tenang.
Jawabannya sudah pasti. Sudah sangat pasti.
Karena perasaan dan pikiran yang muncul di otak ini
Yang tersisa tinggallah memberitahukannya.
Aku juga, ada perasaan yang sama. Aku juga
Sorata dengan bersusah-payah mengatakan yang ia
pikir kan, tetapi karena gugup dan suaranya yang serak itu
ia tidak bisa mengatakannya. Padahal harusnya ia jawab.,
walau otaknya sudah berpikir sangat jernih, tetapi bibir
dan tekanan yang terasa berat ini membaut ia tidak bisa
mengatakan apa-apa lagi selain, Aku juga
Dan setelah itu kedua belah pihak diam membatu

15
Tanggal 8 April,
Pagi hari pertama semester baru ini langit yang biru,
juga suasana hati yang menyenangkan menjadikan hari ini
hari yang dinantikan.
Sinar matahari yang datang dari luar jendela ini,
dengan segar menerangi asrama di sekitar SMA Suiko
Asrama Sakurasou kamar no. 101.
Hmm~~
Tetapi pemilik kamarnya Sorata malah terbangun
dengan wajah ketakutan karena mimpi buruk yang ia alami.
Dirinya yang belum sepenuhnya terbangun, melihat
bokong yang putih. Sorata berpikir sepertinya kucing lagi.
Dan berusaha mendorongnya ke bawah.
Ahm!
Terdengar suara yang tidak asing.
Apa akhir-akhir ini kucing sudah bisa berbicara, ya?
Sorata berusaha membuka matanya dengan lebar, dan
melihat baik-baik apa yang ada di depannya. Itu bokong!
Tidak salah lagi
Arghh! Ini tidak mungkin. Awalnya kukira kucingnya
Hikari, tetapi sekarang yang muncul di depan Sorata malah
paha manusia. Benda yang berwarna putih itu celana dalam!
Arghh! Apaan ini?
Sorata bangun dengan panik, dan sudah tak terasa
mengantuk.
Sorata memastikan situasi di sekitarnya lagi. Baru
terbangun terlihat pantat di depan mata, dan rok yang
tidak terlihat asing ini adalah seragam Suiko. Tubuh bagian
atas ditutupi selimut, wajahnya tidak nampak, dan posisi
kepalanya tersembunyi dengan selimut pantatnya yang
nampak dengan celana dalam.

16
Apa-apan ini?! Aku tidak bisa berpikir dengan
jernihhhhh~~!!
Tetapi , Sorata malah terlihat tenang karena kejadian
ini sudah sering terjadi. Dengan dugaan, hanya dia yang bisa
tiba-tiba datang ke kamar orang lain dan naik ke kasurnya.
Ya, sudah pasti dia! Dialah penghuni kamar no.202,
Mashiro Shiina!
Hey, Shiina!
Dianya yang tertidur pulas ini, sepertinya akan susah
dibangunkan.
Tapi di luar dugaan Sorata, tiba-tiba dia membalas,
Kau memanggilku?
Tetapi suaranya bukan berasal dari kasur, melainkan
dari belakangnya. Sorata memutar kepala untuk mngeceknya,
ternyata dia melihat Mashiro berpakaian piyama yang
berdiri di depan pintu.
Apa kau berpindah dengan sangat cepat ke balakangku
tadi?
Mashiro tidak peduli dengan Sorata yang terkejut,
padangannya langsung pindah ke kasur. Dan yang dia lihat,
pantat yang kecil, sepertinya bukan berpindah dengan
sangat cepat. Dan masalahnya, bokongnya it beda ukuran
dengan milik Shiina.
Sorata!
Dengan pandangannya yang menakutkan , membuat
Sorata langsung berdiri tegak.
Bu-bukan! Ini bukan salahku! Aku juga terkejut
kenapa tiba-tiba ada pantat di depanku saat aku baru saja
terbangun.
Sorata langsung menjelaskan situasinya tanpa basa-
basi, padahal ia tidak berbuat salah.
Siapa wanita itu?
17
Boleh tidak jangan merubahnya seperti aku selingkuh
dengan wanita lain.
Siapa?
Kalau bukan Shiina, aku juga tidak tahu.
Begitu, kalo begitu, ya sudah.
Sudah apanya, huh? Aku merasa tidak nyaman sekali
! Dan ngomong-ngomong, siapa sih ini?
Sorata merubah pandangannya lagi ke kasur, Mashiro
masuk ke kamarnya Sorata.
Ah sudah, sekarang bagaimana? Apa dengan membuka
selimutnya masalahnya selesai? Tapi jujur saja, aku takut
membukanya, mungkin lapor polisi lebih bagus.
Pokoknya, untuk melupakan semua yang ada di depan
mata ini, Sorata menjelaskan kepada Mashiro.
Dan omong omong, tumben hari ini kau bisa bangun
sendiri?
Aku baru ingin tidur.
Ternyata cuma karena semalam begadang
menggambar komiknya
Mashiro bukan hanya merupakan siswi SMA, tetapi ia
juga merupakan komikus yang meggambar komik bulanan,
dan juga merupakan seorang pelukis jenius yang diakui oleh
seluruh dunia.
Mashiro yang begitu polos, dengan santai perutnya
mengeluarkan semacam bunyi
Sepertinya sudah lapar.
Karena laparlah kau datang ke kamarku?
Mashiro menaruh kedua tangan di perutnya dan
menggelengkan kepala.
Kalau sudah makan, aku ingin tidur lagi.
Itu tidak boleh, karena hari ini merupakan tahun
ajaran baru, semester baru!
18
Tahun ajaran baru, semester baru?
Dulu juga pernah ada percakapan yang seperti
sekarang ini, ya?! Pokoknya, mulai hari kita harus sekolah
lagi.
Ah, Sorata, pergi saja!
Kau juga harus pergi!
Ya, aku tahu. Aku ingin tidur lagi.
Kau siapapun tidak tahu! Dan jangan tidur di sini!
Sorata dengan berusaha menarik Mashiro agar ia tidak
naik ke kasur.
Kagian, di kasur sudah ada orang.
Untuk sekali lagi, pandangan Sorata dan Mashiro
fokus ke seseorang yang wajahnya ditutupi oleh selimut.
Sepertinya tidak ada solusi untuk menghindari masalah ini
Ah, merepotkan saja.
Mashiro dengan kesal menarik selimutnya.
Huwaaaaa~~!!! Kau sungguh menariknya, ya?! Dasar,
kau ini memang tidak takut pada apapun!
Walaupun merasa takut, Sorata tetap mengeceknya
dengan seksama.
Huh?
Lalu mengeluarkan suara yang konyol.
Yang muncul dari bawah selimut adalah sosok wajah
yang tidak asing. Karena, sepertinya adalah adik yang
mempunyai hubungan darah. Melihatnya mengeluarkan air
liur, dan tidur dengan wajah yang konyol. Tahun ini sepertinya
sudah berumur 16, tapi kalau lihat dari penampilan fisiknya,
sepertinya masih kecil, dan kalau yang tidak mengenalnya
pasti mengira dia anak sekolah dasar.
Kenapa dia ada di sini ? Apa ini, mimipikah?
Kalau sedang bermimpi, ini pasti mimpi buruk.
Hei, Yuuko, cepat bangun !
19
Yuuko beranjak dari tempat tidurnya, tapi sepertinya
belum sepenuhnya bangun. Perlahan, ia pun duduk di kasur
sambil menggosok matanya, dan ia memandang Sorata dan
Mashiro.
Yuuko, sepertinya kau sudah datang.
Benar, aku sudah datang, Mashiro nee-san ! Sekarang
saatnya pertarungan! Untuk menentukan siapa yang lebih
pantas untuk onii-chan!

20
21
Entah kenapa, Yuuko dan Mashiro sepertinya sudah
bersiap-siap. Dan suasanan saat ini bagaikan saat bom
meledak!
Tunggu saja, Onii-chan! Yuuko akan segera menjadi
murid bermasalah! Lalu diusir dari asrama biasa dan akan
segera pindah ke Sakurasou!
Jangan, sebaiknya kau jangan pindah ke sini
Jangan dengan senang hati menolaknya onii-chan!
Yuuko tidak mungkin akan pindah ke Sakurasou!
Mashiro juga ikut membalas.
Tidak ada yang tidak mungkin !
Masih terlalu cepat 10 tahun bagimu!
Aku tidak punya banyak waktu untuk tinggal kelas,
bagaimana ini, Onii-chan?
Sepertinya tidak, soalnya menurut otak Yuuko, hal itu
mungkin bisa terjadi.
Kenapa yakin sekali? Walau memang sedikit susah
Kau ini protes apa?
Sudahlah, sudah tahu dari dulu semua ini tidak berarti.
Tapi aku mempunyai bantuanyaitu teman
sekamarku!
Apa itu merupakan tarif tagihan baru untuk ponsel?
Teman sekamar! Bukan tarif tagihan baru untuk
ponsel! Apa onii-chan tidak tahu teman sekamar? Dasar
kampungan~~!!
Karena diceramah dengan alasan yang tidak jelas,
entah mengapa ia menjadi kesal.
Seharusnya hal ini tidak penting. Dan yang penting itu
adalah kenapa Yuuko yang gagal di ujian masuk SMA Suiko
bisa ada di sini, huh?

22
Ini merupakan misteri yang pertama juga yang terbesar
bagi Sorata. Di saat hasil ujiannya keluar, Sorata memastikan
dengan matanya sendiri, bahwa Yuuko gagal di ujian masuk
SMA Suiko.
Huft, jujur saja, karena Yuuko lulus ujian masuk
SMA Suiko!
Dia mengatakan dengan bangga sambil memamerkan
dadanya yang tidak berisi itu.
Yuuko.
Ada apa, Onii chan? Mau merayakan keberhasilan
Yuuko?
Sadarlah, Yuuko!
Sudah sadar, kok!
Cepatlah sadarkan dirimu yang masih mimpi itu.
Dan di luar dugaanku, tidak hanya datang jauh-jauh
dari Fukuoka juga sudah menyiapkan seragam, sungguh
mengesalkan.
Kadang kesal dikit juga tidak apa-apa.
Sepertinya menjadi sedikit kesal jgua tidak berpengaruh
apa-apa.
Hmm, sepertinya salah, ya? Harusnya bukan
menjadi kesal.
Dengan teliti, ia memikirkan kembali, sepertinya tidak
bagus kalau menjadi kesal.
Yuuko tak bohong mengenai soal lulus ujian masuk
SMA Suiko. Tidak ada alasan bagi onii-chan untuk menjadi
kesal.
Lulus ? Jangan berkata yang tidak-tidak lagi!
Benarkan, Shiina?
Sorata ingin Mashiro mendukungnya, tetapi tanpa
sadar, Mashiro sudah di atas kasur dan tertidur pulas.
Mmmhh~ Mmmhhhhh~~~
23
Sepertinya akan susah untuk mendapat dukungan dari
dia.
Huft, kuatkan diri lagi. Sekarang kembali ke masalah
utama.
Yuuko, kau masih ingat nomor peserta ujiannya?
Hmm? Oh, aku ingat, kalau tidak salah no.99.
Tapi! Itu hanya sebuah kesalahan!
Walau sudah terpikir jawabannya. Sepertinya mustahil
akan ada kejadian seperti ini, tapi, kalau itu Yuuko,
sepertinya bukan tidak mungkin. Soalnya adiknya Sorata itu
bodoh.
Kalau kau bilang sebenarnya 66, aku akan langsung
memutuskan hubungan darah kakak-beradik kita!
Onii-chan, kenapa kau serius sekali?!
Jangan banyak omong! Oh ya, tadi yang kau bilang itu
serius juga?
Kan sering kejadian seperti ini!
Mana mungkin!
Setiap orang juga pasti pernah mengalaminya!
Ah, sudahlah! Tidak ada gunanya berdebat
dengamu
Ma-maaf.
Tapi, aku sempat terkejut, dari dalam hati,
aku berharap tidak ingin mempunyai hubungan darah
denganmu, seperti adik dan kakak. Harus bagaimana, sih,
agar kita bisa terbalik melihat nomor peserta ujian kita?
Kata-kata onii-chan terlalu kejam! Kasihanilah aku
ini...

24
Karena Yuuko lulus ujian masuk SMA Suiko, tetapi
di saat yang sama ada yang tidak lulus ujian masuk SMA
Suiko juga, itu yang namanya kejam, dan orang yang tidak
lulus itu baru kasihan. Minta maaflah pada orang itu dengan
tulus! Dengan tidak hati-hati kau lulus.
Bukan dengan tidak hati-hati! Sebelum ujiannya
dimulai, aku bertanya kepada Nanami-nee-san, kira-kira soal
apa yang akan keluar nanti, dan akhirnya hampir semua soal
yang ditebak Nanami-nee-san keluar semua. Hebat, kan?
Aoyama, kenapa kau melakukan ini?
Mengakuilah, Onii-chan! Di dunia ini, pasti ada yang
seberuntung Yuuko! Nurufufufufufuu~~!!
Walaupun kenyataannya mungkin memang begitu,
tapi medengarnya darimu, entah kenapa membuat aku
kesal.
Berusaha bukan berarti akan pasti akan mendapatkan
apa yang kita inginkan. Untuk ini, pada tahun ini Sorata
sudah merasakannya. Ya, Yuuko juga bukan tidak belajar
sepenuhnya, hanya saja keberuntungannya itu yang hebat.
Kalau tidak, bagaimanapun aku berpikri Yuuko tidak
mungkin bisa lulus di ujian masuk SMA Suiko.
Kalau begitu, bagaimana dengan seragam Yuuko?
Cantik, kah? Cocok, kah? Apa sudah tidak tahan lagi?
Karena ingin onii-chan yang pertama kali melihatnya, Yuuko
menjadi semangat sekali!
Kalau begitu, kenapa tertidur pula tadi?
Ah, bangun pagi, jadinya ngantuk.
aku juga berpikri begitu.
Hyaa~, bagaimana? Yuuko cantik, nggak?
Sorata memandangnya dari bagian bawah, lalu naik
sampai ke atas.
Bagaimanapun itu tidak cocok...
25
Sorata menjawab dengan malas.
Nah, kan! Onii-chan malu lagi! Lucu, yha?
Tidak, itu sungguh sangat tidak cocok, tahu
Ah, sudah! Jangan malu-malu lagi, dong! Saat ini
seharusnya onii-chan menjawab cocok dan cantik sekali,
dong!
Tapi, serius, melihatmu memakai seragam itu sangat
aneh dan tidak cocok.
Arghh! Mana mungkin!
Bodoh...
Sorata menunjuk Yuuko.
Cocok, kok.
Sudah, Yuuko, terima saja kenyataannya. Tidak cocok,
ya tidak cocok~
Huhhh!! Yang benar saja?!
Ya, level keanehannya sudah maksimal.
Seragam Suiko sebenarnya memilih-milih orang yang
memakainya. Sorata juga berpikir bahwa ia tidak cocok
memakai seragamnya, tapi cocok pula dengan Mashiro.
Walau Yuuko sudah menduganya, tapi, kenapa bisa
sampai begitu? Bagaimana ini? Malunya sampai tidak bisa
berjalan, argh!
Sekarang belum terlambat untuk memutuskannya,
pulanglah ke Fukuoka
Hmm, benar juga, hanya ini yang bisa dilakukan.
Yuuko yang berdiri di atas kasur beranjak berjalan
menuju pintu kamar. Tetapi, sepertinya ada yang aneh, dan
langsung memutar kepalanya.
Tapi, Yuuko tidak akan tertipu oleh onii-chan! Kalau
onii-chan berpikir begitu, kau sudah salah besar!
Tapi menuruku, kehadiranmu lah yang merupakan
sebuah kesalahan besar!
26
Sudah, terima saja kenyataan Yuuko lulus ujian
masuk, Onii-chan!
Kalau begitu aku cek dulu dengan Mama.
Sorata juga penasaran dengan Papanya yang semakin
sayang ke Yuuko.
Dia mengambil teleponnya di meja, dan menelepon.
Dengan cepat langsung tersambung ke telepon
orangtuanya.
Ini aku...
Awalnya dikira yang mengangkat itu Mama, tapi yang
terdengar suara laki-laki, ternyata Papa.
Anak yang baik tidak boleh meniru ini, bisa tidak kau
tidak mengangkat telepon dengan cara seperti itu?
Karena akhir-akhir ini uang jajan semakin sedikit,
tolong transfer duitnya ke rekening aku, dong.
Kenapa baru angkat telepon sudah dapat penipuan
seperti ini?!
Soal uang jajan semakin menurun sepertinya benar,
soalnya suaranya terdengar depresi.
Ah, Papa!
Tidak ada alasan kau untuk memanggilku Papa.
Ada alasannya, aku ini anakmu! Kau tahu, kan? Ini aku
, Sorata!
Aku tahu, akhir-akhir ini layar ponsel biasanya
menampilkan nomor penelepon, lho. Apa hal seperti itu kau
pun tidak tahu? Kalo begitu hati-hati.
Daripada bilang akhir-akhir ini, menurutku dari dulu
sudah seperti ini.
Apa maksudmu? Kau ingin berkata bahwa kau masih
muda?
Mana ada? Untuk apa aku?

27
Kenapa aku harus mengahabiskan banyak tenaga
untuk berbicara dengan Papa? Sorata ingin berkata begitu,
tapi ya sudahlah, tidak ada gunanya juga.
Papa tidak kerja?
Biasanya jam segini sudah pergi.
Karena saat ingin berangkat, anak yang tidak
berbakti ini tiba-tiba menelepon, ya terpaksa aku pun
mengangkatnya.
Apa perlu dengan terpaksa? Tidak perlu, kan?
Bagaimanapun harusnya tidak perlu!
Itukah cara berbicara dengan Papa?
Tapi barusan kau bilang tidak ada alasan untuk
memanggilmu Papa.
Memang, sampai lupa budiku yang mengganti
pempersmu saat masih kecil, berbicara tanpa pikir, pula.
Aku tidak ingat saat itu, tapi terlalu jauh juga
membawa sampai saat aku masih bayi!
Saat kau buang air besar yang bewarna hijau itu,
aku masih berpikri apakah kau lah yang diculik alien, lalu
dimodifikasi ulang.
Bukannya bayi memang begitu? Ngomong-ngomong,
apa perlu aku mengganti otak Papa?
Bicara apa kau ini? Lucu juga ya perkataanmu.
Aku berkata itu bukan karena ingin melawak!
Laki-laki yang membosankan. Karena di dalam hati
tidak memiliki apa-apa, makanya jadi tidak bisa menikmati
hidup.
Ada apa ini? Kok tibat tiba menceramahiku? Tidak
ada, kan? Dan tolonglah, sekarang diam, dan biarkan Mama
yang berbicara!

28
Begini lebih gampang, harusnya dari awal sudah
begini. Tidak hati-hati hasilnya jadi omong yang tidak tidak
dengan papa.
Aku menolak...
Baik, apa alasannya?
Kalau kau kira orangtua akan selalu membiarkan
anaknya melakukan apapun yang dia mau, kalau begitu kau
sudah salah besar. Jangan manja lagi.
Minta kasihkan telepon, bukan permintaan yang sulit,
bukan? Ada apa dengan otakmu itu?
Cepat ke intinya! Aku tidak punya banyak waktu lagi!
Harusnya itu kata kataku! Melihat jam dinding,
sudah lewat dari jam delapan. Dan kalau tidak bangunkan
Mashiro sekarang, dan pergi ke sekolah. Hari pertama pada
tahun ke-3 pasti akan telat. Sejak awal Sakurasou memang
merupakan markas bagi murid bermasalah, menarik
perhatian di sekolah. Tidak lagi membuat masalah dan
menarik perhatian.
Aku ingin berbicara tentang Yuuko, baru pagi tadi dia
langsung ke kamarku, dan bermimpi bahwa dia lulus ujian
masuk SMA Suiko, benar apa tidak?
Bukan mimpi!
Sorata mendorong Yuuko.
Huwaaaaaa~~!
Suara Yuuko yang terjatuh, langsung terdorong hingga
ke sudut kamar.
Soal ini, ya?
Sangat disayangkan, dia berhasil. Di bagian mana, sih,
yang salah?
Karena tidak salah soal ujian, makanya berhasil.
Sorata sudah mulai tidak semangat.
Kau sudah semakin pandai berbicara.
29
Kalau soal itu, tdak penting sama sekali bagiku...
Aku juga merasa begitu
Kalau begitu, bisa tidak jangan berkata yang tidak-
tidak lagi! Ini sama saja sedang boros biaya telpon!
Pokoknya, Yuuko lulus ujian masuk SMA Suiko.
Sampai pada akhirnya aku tidak rela dia pergi. Tapi semua
itu tidak berguna.
Aku juga berpikir begitu! Walau aku tidak tahu
bagaimana caramu menahannya, tapi saat kau bilang tidak
rela, itu sudah salah besar!
Karena itu, walau aku merasa tidak semangat, tapi
aku adalah orang dewasa, jadi aku izinkan dia bersekolah
di Suiko.
Pada saat tidak semangat, harusnya itu bukan sikap
orang dewasa.
Tapi ujian ini membuatku lebih kuat lagi.
Kali ini kau mau berkata apa lagi?
Dan aku sadar, walau anak perempuan yang masih
polos pergi dari rumahnya, aku tinggal bermesraan dengan
Mama, dan membuat satu lagi.
Huh? Tadi papa bilang apa?
Hmm, sinyalmu tidak begitu bagus, atau tidak jelas?
Aku tadi bilang bermesraan dengan Mama
Aku dengar! Tidak perlu sampai dua kali! Aku tidak
ingin tahu detail mengenai orangtua yang bermesraan,
tolong jangan berbicara lagi, tolong.
Kau memanglah masih anak kecil.
Karena aku sudah ingin beranjak dewasa, jadi pasti
akan terpikir!
Ah, sudah, pokoknya itu.
Apanya?

30
Pokoknya kau tunggu saja adik perempuanmu yang
ke duatahun depan nanti. Tunggu saja.
Aa..! Hey, tunggu sebentar!
Ya, pencegahan yang dilakukan Sorata itu tidak
berguna, Papa sudah menutup teleponnya.
Tadi Papa bilang apa?
Yuuko yang terduduk manis bertanya.
Dia bilang tahun depan nanti ada adik perempuan
baru.
Walau nanti mungkin hasilnya adik laki-laki.
Heee~~!!! Akhirnya Yuuko akan menjadi one-chan!
Sebelum senang harusnya terkejut dulu, tahu!
Ngomong-ngoong, akhirnya masalah sudah selesai
saat telepon usai tadi. Walau sulit dipercaya, tapi Yuuko
sepertinya benar-benar berhasil di ujian masuk SMA Suiko.
Engg, Yuuko
Ada apa?
Walau pikiran sedang kacau
Hmmm...?
Selamat sudah berhasil di ujian masuknya.
Terima kasih, Onii-chan.
Dan ngomong-ngomong, kenapa kau tidak
memberitahu dulu?
Kalau Yuuko yang biasanya, pasti dengan senang
menelepon dulu.
Saat onii-chan bilang tidak lulus, besoknya,
pemberitahuan lulus langsung datang. Tapi Mama bilang
kalau tidak meberitahu onii-chan nanti jadinya akan lebih
menarik.
Kalau Mamah, sih, memang begitu orangnya.

31
Dan juga dia bilang kalau mendorong itu tidak cukup,
harus pakai tarik. Seperti operasi angin utara dengan
mahatari.
Kau tidak mengerti, ya, yang dimaksud Mama?
Sorata perlahan menarik napas.
Saat ini, Nanami yang tinggal di kamar no. 203 muncul.
Kanda-kun, kalau tidak bangun sekerang nanti telat,
lho.
Nanami sudah memakai seragam, dan siap-siap
berangkat sekolah.
Dan di luar dugaan, dia tidak terkejut melihat Yuuko
yang ada di kamar.
Sebenarnya, saat liburan musim semi dia sudah
menulis surat kepadaku, jadi aku sudah tahu semuanya.
Tadi juga sudah bertemu, kok.
Kira-kira pertanyaan itu lah yang Sorata pertanyankan,
tetapi sebelum sempat bertanya, Nanami sudah menjawabnya
duluan. Sepertinya memang Nanami yang membawa Yuuko
ke Sakurasou.
Karena Nanami-nee-san itu orang yang mengajarku
belajar, juga penyalamat.
Hmm, begitu...
Oh ya, Kanda-kun...
Nanami yang merendahkan suaranya, mengubah
padangan matanya ke belakang Sorata. Belakang Sorata ada
kasur, Mashiro sekarang masih tertidur pulas di sana.
A-aku bicarakan dulu, ya? Shiina yang duluan datang
ke kamarku tadi pagi, dan tertidur pula di kasurku! Bukan
dari kemarin!
Aku kan tidak ngomong apa-apa.
Nanami dengan aneh memalingkan wajahnya.
Kalau tak cepat sedikit, nanti terlambat, lho.
32
Sorata melihat jam di dinding lagi, sekarang sudah
lewat dari 8.15.
Arghh! Oi, Shiina! Cepat bangun!
Dia membangunkan Shiina dengan menggoyang-
goyangkan tubuhnya.
Sorata, cepat bangun!
Aku sudah bangun, tahu!
Ah~~ cuma perlakukan seperti ini pada Mashiro-nee-
san tidak adil! Onii-chan juga memanjakan Yuuko seperti itu,
dong!
Yuuko memegang lengannya Sorata.
Hari ini tidak perlu sopan lagi.
Mashiro yang tertidur pulas mengatakannya.
Menurutku di manapun seharusnya kita harus sopan!
Kalau begitu aku pergi ke sekolah dulu.
Aaaaa, tunggu dulu, Aoyama!
Setelah 10 menit, Sorata berhasil membangunkan
Mashiro, juga berhasil mengusir Yuuko yang nanti sorenya
akan menghadiri upacara penerimaan murid baru itu ke
asrama biasa. Setelah siap berangkat, mereka pun berangkat
sekolah. Supaya tidak terlambat Nanami maunya langsung
pergi, tapi pada akhirnya Nanami tidak pergi duluan, dan
tinggal di Sakurasou membantu Sorata mengganti pakaian
Mashiro.
Dan sebelum pergi, masih ada waktu menyapa Akasaka
Ryuunosuke yang merupakan penghuni kamar no. 102
dengan cara mengirim pesan padanya.
Mulai hari sudah semester baru! Ayo pergi ke
sekolah bersama sama!
Tapi yang membalas pesannya bukan Ryuunosuke
sendiri, melainkan maid-chan yang merupakan email
responder otomatis yang dikembangkannya sendiri.
33
selanjutnya Ryuunosuke akan mengganti ke mode
penerbangan, nantikanlah hari kita bertemu lagi. Salam,
maid chan.
Sakurasou tetapi seperti biasanya.

Bagian 2
Sorata, Mashiro dan Nanami bertiga berjalan bersama
ke sekolah yang merupakan tahun ketiga bagi mereka.
Sorata di tengah, Mashiro di kanan, dan Nanami di kiri.
Menggunakan seragam seperti ini sambil berjalan ke
sekolah, mengingatkan Sorata rasanya sekolah. Dan di saat
yang sama, Sorata mulai rindu pada liburan musim semi
yang baru saja selesai.
Huft...
Sorata menghela napas.
Pagi hari pertama ke sekolah ada apa, sih? Jangan
sampai menghela napas begitu.
Memang benar, sih.
Mengangkat kepala, melihat langit yang biru dan indah
di atas sana berbanding terbalik dengan suasana hatinya
Sorata.
Apa karena Yuuko?
Ya , sebagian, tapi, ah, sudahlah! Sudah tidak apa-
apa sekarang.
Walau tidak terpikir dia berhasil saat ujian masuk,
tetapi saat membawa Mashiro dan Nanami pulang ke
kampung kira-kira akhir tahun, sudah tahu Yuuko bakalan
belajar dengan giat, tiap hari di meja belajar. Juga walau
keberuntungannya tinggi, harusnya ujian masuk SMA Suiko
bukan dengan keberuntungan saja bisa berhasil.
Kalau tidak, kenapa tadi kau menghela napas?

34
Cuma merasa dari awal sampai akhir tidak melakukan
apa-apa. Dan liburan musim semi sudah berakhir begitu
saja.
Awalnya sebenarnya sudah menyiapakan semangat
untu membuat game saat liburan musim semi. Tapi saat
sudah bulan april, Sorata jatuh demam, dan merasa
kepalanya pusing terus. Juga di saat kira-kira demamnya
sudah sembuh, Mashiro yang menjaga Sorata malahikut
jatuh demam juga. Dan setelah itu gilirannya Sorata menjaga
Mashiro, dan liburan musim semi yang pendek berakhir
begitu saja.
Karena tidak enak badan, itu juga wajar saja.
Sorata begitu lemah.
Bukannya kau juga ikut jatuh demam saat itu!
Aku terkena demam itu salah Sorata karena
menginfeksiku.
Kalau begitu maafkan aku.
Siapa suruh kau melakukan hal seperti itu?
Jangan berkata sesuatu yang akan membuat orang
lain tidak nyaman!
Kau melakukan apa?
Nanami menyipitkan matanya, dan melihat Sorata
dengan penuh kecurigaan.
A-aku tidak melakukan apapun.
Dengar-dengar, kalian juga saling memeluk saat
telanjang, ya?
Ma-makanya, aku kan sudah menjelaskan! Waktu itu
aku sudah memakai baju!
Hmm, begitu, ya...
Oh ya, Aoyama, bagaimana dengan kampungmu?

35
Untuk meyakinkan orangtua, terutama Papa, Nanami
balik ke kampungnya saat liburan musim semi. Karena inilah
dia tidak begitu tahu mengenai soal Sorata dan Mashiro saat
jatuh demam, dan lain-lain yang terjadi antara Sorata dan
Mashiro.
Dan ngomong-ngomong lagi, karena terjadi banyal
hal, sibuk sampai minta ampun, jadi Sorata pun belum
sempat menanyai Sorata mengenai hubungan dia dengan
orangtuanya. Tidak tahu apakah hubungannya sudah agak
baik dengan orangtuanya, terutama dengan Papanya.
Ya, setidaknya sudah mengakuiku.
Setidaknya, ya?
Karena rasanya Papa belum menerima.
Mungkin gara-gara teringat Papanya, Nanami
tersenyum pahit.
Tapi, kurasa dia sudah tahu aku ini serius. Mungkin
efek karena tidak balik ke rumah 2 tahun, ya? Hahaa.
Hmm, begitu.
Hmm, aku sih dengar dari mama. Di internet kan ada
kartun yang diunggah Misaki-senpai ? Yang aku bantu jadi
pengisi suaranya itu, lho.
Ya.
Sepertinya Papa sudah lihat. Walau aku bertanya
kepadanya, dia tetap jawab tak pernah lihat, tak tahu, dan
tidak menerima sampai akhir.
Memang seorang Papa yang keras kepala, ya.
Ya ,mungkin.
Ya, soalnya mirip dengan Nanami.
Mashiro yang ikut ngobrol membalasnya.
Y,a memang karena ini lah. Kau juga sampai pergi dari
rumah karena ditolak.
Mendengarnya membuatku tidak senang sedikitpun.
36
Wajah Nanami mulai menunjukkan bahwa ia mulai
kesal.
Tapi, ini berarti orangtuamu sudah mengakuimu.
Ini merupakan kabar baik.
Hmm, benar, sih. Tapi, kalau hal yang dapat dilakukan
sendiri, tetap aku lakukan sendiri. Aku akan terus bekerja
sambilan, dan tidak boleh banyak merepotkan orangtua.
Benar-benar sebuah keputusan yang hebat. Bisa
dengan tulus mengatakannya, membuatku menghormatnya
dari relung hati paling dalam.
Aku berencana tahun ini bekerja sambil menabung,
siap-siap tahun depan mengikuti kelas latihan yang lain lagi.
Nanami mengatakannya dengan serius, untuk
menyemangatinya.
Dia sudah mulai melangkah. Menetapakan tujuannya.
Dan selangkah demi selangkah mengejar tujuannya!
Tidak ada masalah apapun, kecuali satu hal


Suasana yang tegang akhirnya datang lagi, dan Nanami
sadar topik mulai menuju ke sana.
Nanami, apa kau ingin meninggalkan Sakurasou?
Bertanyan tanpa ragu-ragu, tanya Mashiro kepada
Nanami.
Awalnya Nanami datang ke Sakurasou, itu karena utang
membayar biaya asrama biasanya. Dan tahun ini tidak perlu
membayar biaya kelas latihan, juga kalo bisa dapat bantuan
dari orangtua, mungkin bisa membayar biaya asrama biasa.
Nanami tidak memiliki alasan untuk menetap di
Sakurasou lagi.
Aku sudah memutuskannya.
Wajah yang ceria, juga suara yang penuh percaya diri.
37

Walau Sorata diam tidak berkata lagi, Nanami tetapi
tidak benar-benar mengatakan dia akan tetap tinggal atau
meninggalkan Sakurasou.
Mashiro tidak bertanya lebih lanjut, Sorata juga
tidak ingin membicarakan ini terus. Bagaiamanapun, dan
apapun keputusannya, yang penting itu memang keputusan
Nanami, Sorata akan menerima keputusan itu. Dia percaya
kapanpun itu, saat sudah harus memberitahu, Nanami akan
memberitahunya sendiri tanpa kita bertanya kepadanya.
Saat sudah kehabisan topik, Sorata dan yang lainnya,
sudah sampai ke SMA Suiko. Dan bel bunyi masuk belum
berbunyi.
Sepertinya detak jantung semakin cepat.
Saat sudah masuk ke dalam sekolah, Nanami berbicara
sendirian.
Nanami sedang sakit, ya?
Mana mungkin!
Detak jantung Sorata juga bertambah cepat, jadi dia
memahami perasaannya itu.
Maju sedikit lagi, akan ada mading yang
menempelkan hasil pembagian kelas.
Segera akan tahu teman-teman yang akan
menghabiskan tahun ini bersama kita.
Semoga bisa lebih banyak orang yang kenal dengan
ktia di kelas yang sama. Dan juga sebaliknya, kalau
sekelas dengan orang yang dikenal. Berpikir saja rasanya
mengerikan.
Pembagian kelas setiap tahun terasa tidak enak, itulah
kenapa aku merasa gugup.
Semoga bisa terus sekelas.
Sorata maju ke depan, dan berbicara kepada Nanami.
38
Huh?
Sepertinya di luar dugaan, Nanami mengeluarkan
muka terkejut.
Apa Aoyama tidak ingin sekelas denganku?
Bu-bukan! Aku hanya memikirkan hal yang sama
dengan Sorata.
Suara Nanami semakin mengecil.
Be-begitu, ya?
hm hm
Berbicara jujur itu menyesatkan hati juga rupanya.
Coba Akasaka juga sekelas denganku.
Tapi kalau mau seluruh anggota Sakurasou sekelas
itu, mungkin akan sulit.
Ya, benar. Bayangkan saja, tidak mungkin guru
memasukan semua murid bermasalah dalam 1 kelas,
bayangkan saja saat upacara perpisahan murid kelas 3 kami
sudah membuat banyak masalah.
Aku juga ingin sekelas dengan Sorata.
Yang dapat berbicara pada saat-saat seperti ini dengan
santai mungkin hanya Mashiro sendiri.
tidak, kalau Shiina mana mungkin
Mengapa?
Mashiro bingung sekali.
Shiina itu jurusan seni, dan aku jurusan reguler. Ok?
Hell, no!
Ya, memang bagus kalau benar-benar bisa sekelas.
Benar? Sorata juga ingin sekelas denganku?
Hmm, hmm. Soalnya bagaimanapun ini tahun
terakhir kita SMA, tentu kalau kita bersama-sama akan lebih
menyenangkan.
Ya.

39
Tapi, itu merupakan keinginan yang tidak pernah
terwujud.setelah mengatakannya, Sorata kini merasa
menyesal, dalam hatinya juga terasa sedikit kesepian.
Di depan Sorata yang seperti ini, mading yang berisi
hasil pembagian kelas sudah ada di depannya.
Hmmm~ benar-benar terasa gugup, ya?
Nanami sama sekali tidak bisa tenang, dan seperti
dirasuki sesuatu.
Semakin ingin bersama, semakin tidak mungkin,
sialnya, dunia ini memang begitu.
Berkata seperti itu saat seperti ini, Kanda-kun memang
tidak bisa melihat situasi, ya?
Nanami mencoba berusaha tenangkan diri untuk
menghilangkan rasa gugupnya.
Sorata berhenti melangkah. Mading yang berisi hasil
pembagian kelas sudah di depannya.
Baik, kalau begitu, saat sudah mengucapkan 1, 2,
3, ayo lihat bersama.
Hmm, hmm.
1 , 2, 3~!!
Dengan teliti, mereka melihat hasil pembagian
kelasnya.
Yang pertama dari kelas 3-1 dulu.
Saat lebih dulu menemukan nama sendiri rasanya
sedih. Tiap tahun terasa begitu.
Tapi , rasa sedih pada tahun ini tidak terasa begitu
lama.
Murid laki laki kelas 3-1 yang dicek sejak awal terlihat
nama Kanda Sorata, dan di bagian atas sedikit terliaht
nama Akasaka Ryuunosuke.
Sorata terus menempel kedua tangannya.
Dan ada seseorang di samping menarik bajunya.
40
Orang yang berdiri di sampingnya adalah Nanami,
mata Nanami terlihat seperti menangis.
Kalau Aoyama di kelas mana?
Sekelas. Kita satu kelas!
Nanami langsung mengeluarkan suara yang gembira,
sambil meloncat-loncat seperti anak kecil.
Sorata melihat bagian murid perempuan kelas 3-1,
ternyata memang benar, bagian paling atas tertulis Aoyama
Nanami. Ternyata benar, sekelas.
Ternyata memang ada hal seperti ini, ya?
Hmm, sepertinya keberuntungan memang kadang
terjadi.
Ya, sepertinya begitu.
Karena terjadi banyak hal yang tidak diduga, jadi
Sorata hanya menggoyang-goyangkan kepala saat Nanami
berbicara. Walau cuma hal sekecil ini, tapi tetap terasa
senang. Terpikir rasanya ada arti yang sangat besar, di dunia
ini masih ada harapan.
Jangan-jangan memang sengaja direncanakan
sekelas, ya?
Kemungkinannya sangat tinggi, habisnya, terlalu
beruntung juga bisa sekelas begini. Tapi apapun itu, sudah
tidak penting lagi.
Bisa sekelas begini baru penting.
Tapi, sesuatu pasti ada baik juga buruknya.
Melihat hasil pembagian kelas, ketemu sesuatu yang
mengganjal di hati.
Wali kelas.
Aku melihat nama Koharu-sensei. Salah lihat kali, ya?
Aku pikir itu memang kenyataan.
Tapi membiarkan orang itu menjadi wali kelas kita,
apa tidak akan ada masalah?
41
Aku merasa masalah sekali.
Nanami yang biasanya tidak berkata keburukan orang
lain pun memberikan pendapat yang sama.
Apa dia bisa membimbing siswa dengan benar, ya?
Aku merasa tidak yakin.
Shiina-san.
Saat mereka bertiga baru saja ingin meninggalkan
mading, terdengar suara yang semangat dan ceria.
Fukaya Shiho, yang merupakan jurusan seni sambil
berlari kecil dengan rambutnya yang dikuncir.
Syukur, Shiina-san! Kita sekelas lagi!
Sakin senangnya, Minoru sampai mengeluarkan suara
hesho dan sambil memeluk Shiina.
Tiga tahun di jurusan seni, pasti sekelas terus, kan?
Karena jumlah muridnya hanya sepuluh.
Huwaaaaaa~~!! Kanda-kun, teganya! Kalimatmu
yang tadi jelas-jelas merendahkan jurusan seni, ya! Aku
memintamu meminta maaf dari lubuk hatimu yang
terdalam!
Aku juga mau.
huh? Shiina juga mau?
Aku mau baumkuchen (sejenis kue bolu).
Kau hanya merasa lapar, kan?
Hmm...
Oh, tidak diduga kamu memang merasa tidak senang,
ya?
Walau pun susah menebak emosinya, tapi Sorata yakin
dia sedang marah. Karena pada tahun ini, Sorata sudah bisa
mulai menebak emosinya Shiina.
Aku juga ingin sekelas dengan Sorata.
Mashiro sekarang terlihat kesepian.
Nanami curang!
42
A-aku?
Jadi, Kanda-kun, minta maaf lah dengan sungguh-
sungguh sekarang.
Maaf.
Sudah tidak tahu meminta maaf untuk apa lagi.
Mashiro dengan benci melihat mading yang berisi
hasil pembagian kelas.
Dan saat ini bel masuk sudah berbunyi.
Ayo, cepat masuk kelas!
Semua orang mulai masuk ke kelas.
Aku ingin sekelas dengan Sorata.
Saat ini, Mashiro mengatakannya dengan suara yang
tidak jelas dan aneh.
Sehabis menaruh barang di kelas , semuanya langsung
terburu-buru menuju ke stadium untuk upacara pembukaan
semester baru.
Mendengar kata sambutan dari kepala sekolah, kira-
kira hampir tertidur tiga kali.
Sehabis selesai upacara pembukaan semester
baru, di meja sudah ada undian tempat duduk, dan siswa
mengambilnya untuk menentukan tempat duduknya.
Sorata duduk di barisan dekat jendela urutan nomor
dua. Tidak tahu beruntung atau apa, tempat duduk Nanami
di samping Sorata.
Kenapa hanya hal seperti ini berjalan lancer, ya?
Nanami menghela napas ketika melihat wajah Sorata.
Apa aku sudah berbuat jahat?
Mungkin ini memang keinginan Tuhan.
kau ini ngomong apa, sih?
Tapi Kanda-kun selalu begini, mungkin juga memang
keinginan Tuhan, ya?

43
Biar aku bisa mengerti, apa kau bisa berkata lebih
jelas lagi?
Ih, ngeladenin amat!
Ditolak dengan cantik. Ugh.
Walaupun begitu, Nanami tetap terlihat sedang senang,
dan sebelum wali kelas Koharu-sensei masuk ke kelas, juga
sempat ngobrol bareng Takasaki, juga Honjo yang sekelas
lagi.
Baik, silakan kembali ke tempat duduk masing
masing~!!
Koharu-sensei yang mengajar Bahasa Jepang
mengatakan dengan santai dan polos.
Eh, siapa yang belum mengambil undian tempat
duduknya? Kok ini masih ada lebih?
Siswa yang di kelas sudah duduk semua. Dan ada satu
bangku kosong di belakang Sorata, siapapun pasti akan iri
pada orang yang bisa duduk di tempat itu. Dan yang lucu, itu
merupakan tempat duduk Akasaka yang sejak hari pertama
sudah tidak masuk. Dan bisa saja bangku itu kosong selama
satu semester, memang boros, ya?
Ah~, Akasaka-kun, ya ? Tidak dikira undian yang sisa
itu merupakan tempat duduk yang enak, ya? Kalau begitu,
maaf sudah menunggu lama. Dan selanjutnya, seperti
biasanya aku akan membagikan survei keinginan saat lulus
pada tahun ke-3 ini.
Kertas yang kecil dari depan diumpan sampai belakang.
Minggu depan akan dimulai survei denganku. Tolong
perhatikan, jangan tulis yang tidak penting dan konyol, ya?!
Orang yang akan menulis seperti itu, seperti hanya
alien saja.

44
Sorata mengeluarkan pensil ketik dari tasnya,
dan tanpa ragu langsung mengisi survei keinginannya,
Universitas Suiko, jurusan Desain.
Dibandingkan tahun lalu sudah berbeda.
Dulu karena tidak tahu mau menulis apa di kertas
kecil ini, jadi berpikir lama sekali, tapi berkat itu, kini sudah
menemukan tujuannya nanti.
Yang berada di sampingku, Nanami juga dengan cepat
sudah selesai mengisinya, di kertasnya tertulis Jurusan
Teater.
Kanda-kun.
Mengangkat kepala, Koharu-sensei berdiri di depannya.
Ada apa?
Di mana Akasaka-kun?
Dia sudah masuk mode anti-sosial, kalau ingin
bertemu dia lagi, mungkin semester depan.
Laki-laki ini benar-benar tidak hadir satu semester
tahun lalu.
Kalau begitu, bisakah Kanda-kun membantu sensei
menanyai keinginannya?
Apa tidak ada pilihan untuk sensei mampir ke
Sakurasou untuk menanyanya sendiri?
Aku berbeda dengan Chihiro, bukan guru yang
berdarah panas seperti dia, dan aku juga sibuk.
Sibuk mencari jodoh?
Nah, kau mengerti diriku.
Koharu-sensei sama sekali tidak merasa malu.
Semoga sifat Koharu-sensei yang seperti ini bisa
berbagi beberapa persennya padaku.
Pergi dan carilah Chihiro untuk memberikanmu. Dan
sini, ambillah. Ini adalah kertas survei keinginan saat lulus
milik Akasaka kun.
45
Setelah itu Koharu-sensei langsung kembali ke depan.
Ah sudah, tidak masalah juga.
Walau merasa Koharu yang sebagai guru ini agak
aneh, tapi Sorata juga ingin bertanya ke Akasaka mengenai
beberapa hal.
Dia mengeluarkan handphone, dan mengirim pesan
padanya.
Akasaka, apa kau di sana?
Ada apa?
Balas Akasaka lewat email.
Pokoknya, tahun ini kita sekelas lagi. Aoyama
juga.
Memang sebuah email yang tidak penting, ya

Aku tahu kau akan berkata begitu. Ngomong-


ngomong, survei keinginanmu saat lulus mau diapakan? Wali
kelas kita, Koharu-sensei memintamu mengumpulkannya.

Tulis saja jurusan Perancang Program, lalu


berikan padanya.
Guru seperti ini, dan muridnya juga seperti ini.
Memang cocok, ya?
Cari aku hanya untuk hal ini?
Tidak, aku ingin bertanya beberapa hal.
Apa? Katakan saja.
Aku berharap kau mengajarku tenang merancang
program. Aku tidak mengerti buku yang kau kasih padaku
tentang komputer itu, di buku itu tidak ada sama sekali kata
tentang game.
Lalu? Kau baru sadar sekerang.
Oh, jadi selama ini kau menipuku?!

46
Ini berarti Kanda sudah mengerti sedikit tentang
program
Apa aku sedang dipuji?
Aku tidak memujimu.
Aku juga berpikir begitu!
Apa kau sudah menyerah pada perencanaan ayo
membuat game?
Aku akan terus meneruskannya, kalau ada saran
yang bagus aku akan ikuti. Dan aku sudah tidak peduli apa
hasilnya nanti.
Aku mengerti. Sekarang kau ingin platform apa?

Aku ingin menggunakan kelompok developer,


bagaimana menurutmu?
Kalau ingin membuat, bukan hp atau pc, tapi game
konsol, dan juga harus menyesuaikan yang jaman ini.
Kalau yang mendukung itu adalah perusahaan
prangakat keras yang memberi tempat dan alat secara gratis
untuk pembuatnya, itu akan cocok dengan Sorata,apalagi
sudah tersedia web khusus upload game bagi mereka yang
belum profesional, yang juga merupakan tempat untuk
bermain game oleh orang ketiga.
Membuat tipe game?
Ini sudah pernah kupikirkan.
Game tipe shooting
Jadi itu, ternyata kau memang sudah membaca
bukubuku yang sudah kuberikan rupanya.
Ya, kalau tidak mempersiapakan diri dengan
mempelajari dasar dasarnya akan susah untuk berbicara
denganmu.

47
Dengan memanipulasi obyek yang kompleks,
pemain yang menggunakan UI untuk berjalan/gerakan
untuk shooting, ditambah lagi dengan metode pemikiran
terkena atau tidaknya peluru, pola pikir musuh CPU, dan
mengandung jenis permulaan game tipe shooting. Juga
membuatnya dalam skala kecil. Ya, kira-kira setidaknya kita
bisa membuat sesuatu yang bisa dimainkan. Dan membuat
dengan mengutamakan belajar, dipikir bagaimanapun itu
akan sangat cocok.
Dan terus terang, apa diriku yang sekarang dapat
membuatnya?
Kau sudah mengerti penggunaan if dan for, kan?

Hmmm.
Itu merupakan syarat utama.
Cukup memahami hal itu sudah bisa membuat
sebuah game.
Apa benar begitu?!
Tunggu aku tiga hari. Aku akan menyiapkan
program utama yang bahkan Kanda bisa menggunakannya
dengan mudah untuk membuat game.
Kau ini , hal sehebat apa yang akan kau buat nanti,
sih?
Cuma program yang kosong. Tapi aku akan
merapikan objek gambar, pengontrol, BGM , SE, dll. Aku
akan membuat mereka berfungsi dengan mudah.
Masih tidak terlalu mengert iapa yang dia katakan.
Jadi, sederhananya?
Dalam istilah yang sederhana, yaitu Kanda bodoh
yang belum mengerti apa yang kukatakan.
Aku bukan ngomong soal ini!

48
Ya, intinya menggunakan program loop utama dan
perintah sederhana untuk mempresentasikan grafis.
Sepertinya sedikit mengerti, dan tidak terlalu
mengerti.
Ya, bagaimanapun tidak pernah
mempraktekkannya, jadi tidak bisa aku bayangkan.
Jadi, kau memikirkanlah desain game apa yang
akan kau buat nanti sambil menunggu programku?
Oh, apakah boleh sampai Akasaka mebantu
sebanyak ini? Kalau begitu sepertinya sudah cukup. Dan
rasanya kalau terlalu banyak di bantu Akasaka, ini tidak bisa
disebut membuat game sendiri.
Kanda tidak ingin menjadi programmer, kan?
Ya, begitu.
Maka, tidak ada masalah lagi. Dan setidaknya
dengan mesin game dan tahu dasar-dasarnya, sudah cukup
untuk memahami program. Sisanya tanya saja pada maid-
chan.
Ha-halo, Akasaka!
Sorata dengan cepat mengirim email, dan tak samapai
satu detik sudah membalas.
CIAO, saya maid-chan.
Terlalu meremehkan kali ya!
Kalau begitu, biar saja aku yang jelaskan pada
Kanda-sama bagaimana situasi di industri game akhir-akhir
ini.
Kenapa tiba tiba jadi serius?!
Tunggu, apa Sorata-sama tahu apa itu mesin
game?
Ya pokoknya itu.
Benar! Karena begitulah! Sorata-sama pintar
sekali! Kalau begitu , aku akan memukulmu, ya?!
49
Bisa mengejek sesuai suasana saat ini , maid-chan
memang hebat, memang kinerja yang sangat tinggi, ya...
Jika memakai kata-kata yang bahkan dapat
dimengerti Sorata-sama, tolong pikirkan sebagai master
produksi game.
Hmm, begitu. Kalau begitu sudah bisa dibayangkan.

Pembuatan game yang dulu adalah dengan


meminta programer untuk menulis kode program untuk
mengurus berbagai hal. Tapi akhir-akhir ini mesin game
yang baru diciptakan bisa menangani semuanya, tentu
sebuah kinerja kerja yang luar biasa.
Terutama untuk industri game luar negeri, ini
merupakan cara kerja yang paling bagus.
Jadi, pekerjaan programmer, seperti Akasaka tidak
hanya mengikuti langkah buku rancangan seperti menaruh
di sini atau bergerak seperti ini, jadi perkejaan utama
mencampur proses perhitungan fisik operasi kontrol pada
mesin game-nya, juga pula perbaikannya.
Lalu, dengan menggunakan mesin game yang
mengonfigurasi musuh, cara berpikirnya, juga skill-nya,
dapat menyimpualkan ini adalah panggung untuk bekerja
dan menampilkan. Dengan kata lain, ini merupakan level
desainer-nya perusahaan.
Keuntungan dari cara kerja ini, selain bisa
meningkatkan kinerja kerja yang luar biasa, orang yang
menulis buku desain juga bisa dengan lebih mudah untuk
membuat game-nya.

50
Semisalnya, jika menggunakan cara kerja insinyur,
perencanaan oleh perancang, tidak peduli menghasilkan
desain buku yang sehebat apapun, atau mengeluarkan
berapap biaya, bagaimanapun hasil nya tidak akan lebih
baik dari cara kerja mesin game.
Dan situasi yang paling bururk itu, adalah ketika si
perancang dan insinyur bertengkar karena kenapa kau
tidak mengerti, sih?, atau, kalau begitu coba saja buat
sendiri!.
Ya memang sangat mungkin terjadi hal begini. Kesulitan
saat membuatnya, dan cemas ketika ketidakmampuan
saat menjelaskan, Sorata sudah merasakannya saat
mengumpulkan hasil laporan ayo membuat game.
Jadi dengan percakapan yang tadi, yang penting
aku bisa melakukan kerjaan level desiner, kan?
Ya, benar. Kalau ingin mengerjakan semuanya
hanya sendiri, tidak ada cara selain kamu harus sehebat
Ryuunosuke-sama, kalau tidak, tidak mungkin kau bisa
kerjakan sendiri.
Maid chan mengatakan dengan suara keras. Memang,
kalau ingin sehebat Akasaka, perlu siapkan mental baja.
Lihat saja saat ini, sudah bisa membuat maid-chan yang bisa
berbicara dengan manusia laki-laki, tidak bisa diremehkan
ini.
Terima kasih, Maid-chan. Aku akan menunggu
Akasaka tiga hari lagi sambil memikirkan desain game-nya.

Sorata yang bersikap manis ini juga tidak buruk.

Mendengar itu tidak membuatku senang


sedikitpun!

51
Dengan membalas email berkali-kali, maid-chan tetap
tidak membalas.
Tidak disangka aku bisa dipermainkan oleh artificial
intelligence buatan manusia.
Pokoknya, yang dapat dikerjakan, dikerjakan saja
dulu. Sorata menulis survei keinginan sesudah lulus sekolah
punya Ryuunosuke dengan Jurusan Perancang Program.
Hei, Kanda-kun.
Nanami yang berada di samping Sorata bertanya.
Kau pernah bertanya tidak keinginan Mashiro saat dia
lulus?
Huh? Ah, iya, aku belum tanya.
Kalau Mashiro yang jenius dalam dunia seni, tidak
peduli apapun nilainya, dia mungkin bisa masuk ke
Universitas Suiko dengan mudah.
Dan juga, dari saat dia ulangan, ulangan tengah, dan
akhir semester yang mendapat nilai 0, bisa di pastikan dia
masuk ke Universitas Suiko dengan bakat lukisnya itu.
Bakat lukisnya Mashiro memang sangat hebat. Kalau
universitas, bagaimanapun universitasnya pasti sangat
menginginkan Mashiro di sana.
Tapi, Mashiro yang menghabiskan waktu setahun
untuk komik ini, Sorata tidak yakin Mashiro akan memilih
untuk masuk ke universitas, pasti dia akan menghabiskan
waktunya untuk komik.
Sorata mengeluarkan telepon genggam untuk ke dua
kalinya, dan mengirim pesan pada Mashiro.
Bagaimana dengan universtasmu?
Tapi sebelum mengirim email, Sorata berpikir lagi, dan
akhirnya dia membatalkan pengirimannya.
Kenapa tak jadi meng-email-nya itu karena menunggu
kesempatan dulu, baru nanti bertanya.
52
Baru saja berpikir begitu, bel sekolah pun berbunyi
yang menandakan berakhirnya rapat kelas.
Yosh~!! Kalau begitu hari ini sampai sini saja.

Bagian 3
Setelah upacara pembukaan dan rapat kelas selesai.
Sorata, Mashiro, dan Nanami belum pulang ke Sakurasou,
dan membeli makan di toko yang ada di sekitar, dan makan
di kantin yang tidak ada muridnya.
Ini karena untuk menghadiri upacara penerimaan
Yuuko yang diadakan pukul 1:30 nanti. Karena orangtua
Sorata tidak bisa hadir, maka demi Yuuko, Sorata terpaksa
mewakili orangtuanya untuk menemani Yuuko.
Karena dulu upacara perpisahan pernah kejadian
seperti itu, sampai-sampai ditahan guru di luar pintu. Tapi
karena menemani adik, jadinya tidak terlalu takut dengan
para guru. Dengan santai, Nanami dan Mashiro juga
mengikutiku.
Walau upacara pembukaan diselimuti perasaan gugup
, tetapi tetap berjalan lancar.
Dan saat upacara pembukaan sudah berjalan
setengahnya, ada seorang murid perempuan bernama
Hase Kanna yang maju ke depan untuk memberikan kata
sambutan.
Dengan sikapnya yang diam tetapi terlihat dewasa itu,
apabila dibandingkan dengan Yuuko yang tidak bisa diam
dan seperti anak kecil, jelas jelas berbeda sekali baik segi
sifat, sikap, dan umur.
Sorata yang mendengar kata sambutan merasa kasihan
pada Yuuko.
Selain itu tidak ada situasi yang spesial, upacara
pembukaan dengan lancar selesai.
53
Aku mau pulang ke Sakurasou bersama onii-chan.
Setelah berhasil mengusir Yuuko yang ribut ke asrama
reguler, mereka bertiga pergi ke distrik pembelanjaan untuk
membeli bahan makan malam.
Di tempat duduk terdapat 4 orang, yaitu Sorata,
Mashiro, Nanami dan satu orang lagi. Orang yang satu lagi
bukan Chihiro-sensei, juga bukan Akasaka Ryuunosuka yang
tinggal kamar no. 102.
Dan yang sedang makan dengan nikmat itu adalah
Mitaka Misaki yang dulunya tinggal di Sakurasou, kamar
no. 201. Tapi sebenarnya, nama keluarnya yang dulu adalah
Kamiigusa, lulus dari SMA Suiko pada bulan Februari dan
membuat rumah di samping Sakurasou, dan juga alien yang
menikah dengan Mitaka Jin yang merupakan teman masa
kecilnya itu, yang juga sedang bersekolah di Universitas
Suiko jurusan seni.
Walaupun sudah lulus sekolah, Misaki setiap hari rajin
datang ke Sakurasou untuk makan malam dan bermain
game dengan Sorata.
Awalnya Misaki yang sudah meninggalkan Sakurasou
akan merasa sepi, tapi sekarang tidak ada bedanya seperti
dulu, dan berharap suasana hati yang saat berpisah itu dapat
kembali ke diri sendiri.
Suasana hati seperti ini, tidak Mungkin Misaki akan
sadar.
Aku mau menikmati makan malam tetangga~!
Dan sambil berkata itu, ia pun langsung merebut
sepotong daging babi goreng dari piring Sorata.
Ah~!! Makan malamku~!!
Daging babi goreng itu dengan cepat menghilang di
dalam mulut Misaki.

54
Makanan pembuka malam Kouhai-kun sudah
kurebut!
Aku mau protes kalimatmu yang tadi!
Sorata dengan keras mengatakannya, sampai-sampai
mengeluarkan beberapa butir nasi yang sedang ia makan.
Kanda-kun, jangan dengan mengeluarkan nasi di
mulutmu sambil melakukan pelecehan seksual (secara
kalimat).
Nanami memandang dengan kesal.
Yang melakukan pelecehan seksual kan bukan aku.
Ambil saja makanan pembuka malamku dan berikan
pada Sorata.
Bisa tidak jangan ciptakan istilah yang aneh?
Kan-Kanda-kun memang melakukan pelecehan
seksual! De-dengan santai mengatakan makanan pembuka
malam.
Kan sudah bilang bukan aku!
Nanami-chan, wajahmu mejadi merah, lho! Pasti
sedang memikirkan yang tidak-tidak, ya?
Ka-karena Misaki-senpai mengatakan yang aneh-
aneh!
Nanami, kalau kau menjawab dengan begitu berarti
kau memang lagi memikirkan yang tidak-tidak, ya? Apakah
tidak apa-apa?
A-aku mana ada pikirkan yang tidak-tidak!
Di saat sedang bertengkar hebat, Mashiro
memindahkan sayuran yang ia tidak suka ke piring Sorata.
Walau Sorata tidak begitu terkejut, tapi Mashiro memang
pilih-pilih makan, yah. Dan daging babi yang digoreng itu,
Mashiro tidak mau makan bagian luarnya, dia hanya makan
isinya. Padahal tidak sedang diet.
Ah, Kouhai-kun, ada butiran nasi di bawah mulutmu.
55
Misaki dengan nikmat memakan daging babinya
sambil menunjukannya.
Sorata mengikuti arah Misaki menunjukannya,
memindahkan tangan ke mulut bagian kanan bawah, tapi
tidak ada butiran nasi yang di bilang Misaki.
Salah, salah, di sini, Kouhai-kun!
Misaki menunjukannya lagi dengan jarinya.
Aku bantu kau mengambilnya.
Tangannya Misaki mengambil butiran nasi yang ada di
mulut bagian kiri bawah.
Dan tanpa ragu ia memakan butiran nasinya.
I-itu Misaki-senpai.
Ada apa, Kouhai-kun!
Misaki menggoda Sorata dengan mulai mendekati
wajahnya. Baju yang sedikit terbuka, terlihat dadanya yang
berisi.
Sorata dengan gugup langsung mengalihkan
pandangannya.
Mashiro dan Nanami juga menatap Sorata, seperti
kesal sekali. Sorata sadar bahwa mereka melihat dirinya
dengan pandangan mata yang tidak menyenangkan.
Se-senpai sudah menikah, juga aku merupakan
seorang laki laki. Tolong jangan menggodaku lagi!
Tidak tahu apakah karena sudah menjadi mahasisiwi,
atau sudah menikah, Misaki-senpai yang sekarang terlihat
lebih dewasa.
Walau Sorata sudah terbiasa keadaan yang begini,
tetapi saat Misaki mendekat, Sorata tetap tidak bisa menahan.
Jika diperhatikan dengan seksama, bibirnya terlihat
seksi. Kulitnya juga terlihat putih, dan halus.
Hmm, jangan-jangan Misaki-senpai make up?

56
Kouhai-kun! Akhirnya kau sadar! Karena aku sudah
dewasa, lho! Bagaimana? Cantik, kan!
Misaki, cantik sekali.
Misakai-senpai, tidak! Walau tidak memakai make
up pun sudah cukup cantik, kok.
Mashiro dan Nanami memberikan pendapat.
Nanami yang dulunya selalu memanggil Misaki dengan
sebutan Kamiigusa-senpai, karena menikah jadi merubah
nama marga, jadi Nanami sekarang memutuskan untuk
memanggilnya dengan sebutan Misaki-senpai. Karena
kadang salah mencampur marga Mitaka dan Kamiigusa.
Lain kali Mashiro dan Nanami jgua ikutan make up.
Setelah mendengar saran dari Misaki-senpai, entah
kenapa Mashiro dan Nanami memandang Sorata.
Ke-kenapa?
Tidak.
Tidak.
Keduanya menjawab dengan bersama-sama, memberi
balasan yang menunjukan seperti memang ada apa-apa.
Saat Sorata ingin bertanya lebih lanjut, Mashiro langsung
mengubah topik.
Ngomong-ngomong, Sorata...
Engg?
Ada mulut di wajahmu.
Kalau tidak ada celakalah aku!
Sini, aku bantu kau melepaskannya.
Mulutku tidak bisa dengan gampang dilepaskan!
Sorata.
Kubilang dulu mata dan hidung juga tidak bisa
dilepaskan! Nanti aku akan menangis.
Sorata menjawabnya pertama, dan Mashiro berpikir
lagi.
57
Alis mata?
Sayangnya itu bisa, tetapi itu akan merusak
pencitraanku!
O.
Sepertinya Mashiro juga ingin melakukan hal yang
dilakukan Misaki tadi. Tetapi, kalau mashiro melepaskan
butiran nasi seperti tadi, otak Sorata pasti tiba-tiba akan
terbakar dan meledak, dan dia tidak akan bisa berpikri
dengan jernih. Hanya bisa menahannya, walau Mashiro
memandang Sorata dengan mata yang tidak bersalah itu.
Yo~!! Terima kasih atas makan malamnya~!! Fiuh~!!
Kenyang~!!.
Misaki yang sudah kenyang terlihat puas.
Ok!
Misaki mengambil tasnya yang berada di bawah meja,
lalu sepertinya ia akan mengeluarkan beberapa hal.
Sini, Nanami-chan, ini aku berikan padamu.
Benda yang diberi Misaki ke Nanami itu merupakan
kumpulan kertas yang terdiri dari 10 lembar lebih, dan
covernya tertulis Narccicus, Lily of The Valley.
Itu merupakan nama kartun yang sudah dikerjakan
tahun lalu oleh Misaki. Naskahnya ditulis oleh Jin yang
merupakan teman masa kecil sekaligus suaminya.
Dengan kata lain, ini adalah sebuah naskah.
Proses gambar sudah selesai?
Sorata bertanya, dan Nanami sibuk membacanya.
Hanya tinggal sedikit efek gambar dan perbaikannya.
Kira-kira satu atau dua bulan lagi bisa selesai, lho.
Dengan kata lain, tahap selanjutnya tinggal
mengisikan suara?
Benar!
Misaki mengepalkan tangannya dan berdiri.
58
Aku tidak bisa menerima ini.
Dibandingkan dengan Misaki yang santai dan
bersemangat ini, Nanami malah menjawabnya dengan serius.
Kenapa, Nanami-chan?
Aku yang sudah gagal di audisi sebelumnya, tidak boleh
bergantung pada orang lain dengan alasan mengenalnya dan
ikut partisipasi di hasil karya Misaki-senpai. Banyak orang
yang berharap lebih pada karya Misaki-senpai, dan juga
pasti banyak yang ingin mengisikan suara untuk karyanya.
Nanami-chan, jangan salah paham, ya! Hasil yang
kubahas dengan Jin memutuskan bahwa kali ini kami akan
memilih tokoh utama laki-laki dan perempuannya dengan
carai audisi~! Jadi, sekarang naskahnya sama dengan yang
versi aslinya, tapi itu masih merupakan naskah untuk audisi
nanti, lho.

Nanami terkejut dan membuka matanya dengan lebar,
sambil menggigit bibir bagian bawahnya dan menundukkan
kepalanya.
Maaf, Nanami-chan. Bukan menyuruhmu untuk
mengisikan suaranya, apa kau menjadi kecewa? Apa kau
tidak ingin mengikuti audisinya?
tidak, malah terbalik.
Nanami memandang meja makan dengan tidak
berkedip sekalipun, mengatakannya dengan gemetar.
Sungguh berterima kasih Misaki-senpai sudah
memberi kesempatan seperti ini.
Ia berbalik lagi menghadap Misaki , dan berterima
kasih dengam mata tertutup.
Untuk audisi heroine-nya nanti kira-kira akan ada 50
orang, apakah tidak apa apa?

59
Yang akan dipilih untuk pengisi suara tokoh
utama perempuannya nanti hanya satu orang, tingkat
keberhasilannya sangat rendah. Selain satu orang yang lolos
nanti, yang tidak lolos pasti akan kecewa dan sedih.
Tidak apa-apa.
Nanami dengan tekad yang serius menjawabnya, tidak
punya keraguan sedikitpun. Karena dia sudah memutuskan
akan melangkah lagi. Melihat sikapnya itu membuat aku
ingin menyemangatinya.
Baik~! Kalau begitu, ini bagiannya Kouhai-kun.
Huh?
Entah kenapa, Misaki juga menaruh naskah di depan
Sorata.
Karena audisinya diperkirakan akan diadakan saat
golden week nanti, jadi Kouhai-kun jadi tokoh utama laki-
lakinya, semangat lah kalian berdua!
Kenapa harus menyeretku ke dalam hal ini? Dan juga,
kemampuanku sangat buruk. Mana bisa aku jadi lawan
latihannya?
Walau dulu sudah pernah menjadi lawan latihannya,
tapi waktu itu karena kemampuanku buruk, jadinya
ditertawakan. Bagaimanapun Sorata pasti merasa sedikit
trauma.
Tidak masalah! Karena tidak perlu kemampuan
berakting!
Sama sekali tidak mengerti apa maksudnya Misaki.
Kalau menjadi sebuah karakter, setidaknya perlu juga
kemampuan berakting, kan?
Kartun kali ini tidak asing dengan kalian, lho. Karena
konten kali ini berisi kisah cinta anak SMA yang malu juga
menyenangkan!
Hmm, begitu, toh.
60
Dulu memang pernah melihat yang seperti itu,
perasaannya memang begitu, masih bisa ingat dengan jelas
perasaan seperti apa itu.
Tidak, sekarang bukan saatnya untuk memahaminya.
Kalau begitu, aku akan membantu kalian. Coba saja
dulu bagian awalnya.
Kau mendengar ucapanku atau tidak?!
Ok! Kamera; on!
Ti-tidaaaaaaak~~!!!
Nanami tidak bisa menahannya, dan menunjukan
wajah yang terpaksa.
Tidak ada cara lain, pokoknya coba saja sekali, dan
Misaki-senpai akan menyadari kalau aku ini tidak cocok jadi
lawan latihannya. Sorata berpikir begitu, memberi kode ke
Nanami. Dan Nanami menganggukka kepalanya perlahan.
Pokoknya coba saja dulu.
Mashiro dengan penasaran menatap mereka berdua.
Dialog pertama dimulai dari Sorata.
Kau tiba-tiba ingin memberitahuku sesuatu, apa
itu?
Sorata membacanya dengan kaku.
Hmmm, sesuatu yang lumayan penting, mungkin.
Memang hebat Nanami yang sudah belajar 2 tahun
seni akting ini. Hanya perlu on-off sebentar, suara langsung
menjadi beda.

Aku selalu ingin mengatakan ini.
Dapat terdengar suara napasnya.
Begitu, ya?
Engg, aku
Terpengaruh oleh aktingnya, jantung Sorata berdetak
dengan cepat.
61

Aku selalu, selalu
Apa ini? Perasaan apa ini yang ada di dalam hati.
Serasa tidak bisa kabur.
!
Sorata menelan ludah sendiri. Dialog yang akan
dikatakan Nanami selanjutnya sudah tertulis di naskah. Dan
tiba-tiba Sorata berkeringat banyak.
Sebelum Nanami mengatakannya, Nanami menarik
napas.
Aku selalu menyukaimu. Sangat menyukaimu.
Punggung terasa dingin, tubuh bergetar terus, sangat
susah untuk menghentikannya.
..
..
Sisa saut dialog lagi. Setelah giliran Sorata, latihan ini
akan berakhir.
Aku juga, merasakan perasaan yang sama. Aku
juga, selalu menyu-nyu-nyu
Yang tertulis di naskah hanya aku juga selalu
menyukaimu. Tapi, kalimat ini entah kenapa tidak bisa
dikatakan. Walau hanya akting, tapi tekanan saat mengatakan
menyukaimu kepada perempuan, tidak bisa diremehkan.
Sorata sedikit penasaran dengan pandangan Mashiro.
Tubuh dan otak sudah mulai memanas, tidak main-main,
sepertinya akan mengeluarkan asap.
nyu-nyu-nyu-nyu-nyuuuuu, mana bisa
kukatakan, ini sungguh memalukan!
Sorata yang merasa malu sudah sampai batasnya,
menjongkok dengan satu tangan sambil menutup wajahnya.
Tu-tunggu sebentar Kanda-kun! Ti-tidak perlu malu
sampai seperti ini juga kali. Sampai aku juga merasa malu.
62
Nanami memutar kepalanya ke arah lain, dengan
tangan mengkipas wajahnya yang sudah memerah itu.
Me-memang, sih!
Padahal sudah tahu hanya latihan, tetapi aku tidak bisa
serius. Dengan tidak hati-hati memandang matanya Sorata,
dengan panik mengarahkan kepalanya ke arah lain lagi.
Mashiro dengan sedikit tidak senang berkomat-kamit
sendiri.
Kouhai-kun, pakai lebih banyak perasaan! Kau
menyukainya, kan?
Misaki menunjuk Nanami. Jantung Nanami langsung
berdetak dengan cepat.
Huh~? A-aku?
Te-tenangkan dirimu, Aoyama! Ya-yang dia bilang itu
hanya karakternya saja, karakter!
Be-benar juga.
Sepertinya untuk menangkan diri sendiri, Nanami
menarik napas dalam-dalam.
Apa arti suka bagi Kouhai-kun merupakan sesuatu
yang membosankan!
Mohon jangan terlalu kasar! Aku ini orang asing!
Alien yang tidak merubah penampilan sekalipun!
Nanami-chan terlalu terikat dengan naskahnya,
cobalah bersikap lebih alami lagi.
Maksudnya?
Misalnya, anggap saja kau sendiri sedang menyatakan
cinta dengan Sorata!
Heh! Se-sendiri? A-aku menyatakan cinta dengan Ka-
Kanda-kun?
Dengan sekejap wajah Nanami kembali memerah lagi.

63
Kouhai-kun juga! Bukankah sudah kubilang untuk
tidak mengubahnya? Habisnya Kouhaikun kan cocoknya
jadi orang asing!
Tidak perlu menambahkan kata orang asing juga!
Celaka berasal dari mulut, jadi hati-hati.
Baik. Kalau begitu, coba sekali lagi!
Huh~!
Heh~!
Sorata dan Nanami mengeluarkan suara jeritan
bersama-sama.
Jalan akting itu sebenarnya sangat sulit, lho! Kalau
mengerti, sini, mulai~!
Misaki menepuk-nepuk tangan.
Sekejap langsung menjadi diam, perasaan gugup
sudah mencapai batas.
Sekarang tinggal Sorata yang belum mengatakan
dialognya. Dilihat dari sekarang, sepertinya hanya bisa
dengan terpaksa melakukannya. Walau kemampuan akting
Sorata tidak diperlukan, tapi bagi Nanami itu merupakan
sebuah kesempatan yang bagus. Walau tidak seberapa, tapi
apa yang bisa dibantu, aku akan berusaha.
Sorata memutuskan, pertama-tama menyadari yang
diucapkan Misaki-senpai. Dan mencoba untuk menanggapi
suasana hatinya.
Perasaan yang tidak dibuat-buat. Suasana hati yang
sebenarnya
Ka-kau bilang tiba-tiba ada yang ingin disampaikan,
ha-ha-ha-hal apa itu?
Menyadarinya sepertinya malah menjad lebih parah
dari sebelumnya.
Hnn, hnnn, hal yang lumayan penting, mu-
mungkin.
64
Sampai-sampai Nanami juga mulai salah.

A-a-a-a-aku, aku, se-selalu ingin memberitahu
kepadamu!
Nanami membuat kesalahan lagi, dan suaranya
menjadi aneh sekarang.
Baik, stop! Sampai-sampai Nanami-chan ikut salah!
Mi-Misaki-senpai seharusnya tidak bilang saja kau
sendiri sedang menyatakan cinta dengan Sorata!, bah!
Wajah Nanami yang merah karena malu, sampai-
sampai hampir menangis.
Sepertinya perlu diberi latihan khusus.
Misaki yang menaruh kedua tangannya di pinggang
sangat setuju dengan apa yang ia katakan tadi.
Sorata dengan Nanami sepertinya sangat senang.
Mashiro sepertinya sudah mulai merasa bosan.
Kalau boleh, aku juga ingin mengatakannya jika aku
menjadi kau.

Shiina? Kenapa kau marah?
Tidak apa-apa.
Walau berbicara begitu, tapi pandangan matanya
menunjukan bahwa dia sedang kesal.
Di saat yang sama, salah satu penghuni Sakurasou
pulang.
Waktunya pas, ya. Berarti semuanya sudah kumpul.
Yang muncul di tempat makan bersamaan dengan
suaranya adalah Chihiro-sensei yang merupakan pengurus
Sakurasou yang hidup bersama Sorata, dkk. Sekarang
dia berumur 29 tahun dan 27 bulan, yang sebenarnya
berumur 31 tahun.

65
Juga sekalian jelaskan, sebenarnya belum kumpul
semua. Ryuunosuke masih di kamar. Tetapi Sorata tidak
mempunyai tenaga yang lebih untuk memberitahukannya,
karena latihan naskah tadi telah menghabiskan banyak
tenaga. Nanami juga sepertinya sama, baru melihat matanya
langsung menolehkan pandangan ke arah lain. Dan Mashiro
masih terlihat kesal sekarang.
Chihiro-sensei sepertinya menyadari suasana aneh
yang ada di dapur ini.
Kenapa? Apa baru saja terjadi sesuatu yang
mengerikan?
Ma-mana ada!
Nanami langsung membantahnya.
Tidak buruk. Lakukan saja.
Tadi Aoyama sudah menjelaskan, bukan?
Lalu, Sorata merasa tersiksa, kan?
Kok?
Karena kalau melihat dirimu yang sedang menderita,
aku akan merasa sedikti senang.
Seharusnya aku tidak tanya lebih lanjut tadi
Tolong jangan merubah penderitaan seseorang
menjadi sebuah perasaan senang!
Aku tolak.
Ditolak?!
Kanda, ada 2 jenis manusia.
Maksudnya?
Yang pertama, ia akan merasa sakit hati jika melihat
orang lain sedang menderita. Dan yang satunya lagi, ia akan
merasa senang jika melihat penderitaan orang lain. Aku
berharap diriku adalah yang jenis kedua.
Kalau menurut kata katakmu yang tadi, harusnya
sensei memilih jenis yang pertama!
66
Hal seperti itu tidak penting, Kouhai-kun.
Sekarang kita sedang membahas soal sifat manusia,
tahu.
Dan ngomong-ngomon, siapa itu?
Orang yang ditunjuk Misaki-senpai adalah seorang
siswa laki-laki yang berdiri di belakang Chihiro-sensei. Tadi
sudah merasakan kehadirannya, tapi sekarang baru fokus
padanya.
Walau masih terlihat sedikit muda, tapi wajahnya
sedikit menarik perhatian, lumayan tampan.
Rambut yang terlihat alami, dan membawa headphone
besar. Dan memakai seragamnya yang baru itu. Terlihat
seperti seseorang.
Ah, dia, ya? Dia siswa baru kelas 1 yang mulai hari ini
akan tinggal di Sakurasou.
Heh?
Karena datang-nya secara tiba-tiba, semuanya merasa
sedikit terkejut.
Baru selesai upacara pembukaan sudah masuk ke
Sakurasou? Dan ngomong-ngomong, katanya Sakurasou
mau dihancurkan, sekarang malah menambah orang baru
lagi?
Kalau sudah diputuskan mau menyimpannya lagi, dan
yang bisa dipakai, pakai lagi, itu lah orang dewasa.
O.
Baik, saat nya intro.
Siswa laki-laki yang maju selangkah ini karena di
dorong oleh Chihiro-sensei dari belakang.
Aku adalah Himemiya Iori yang baru masuk ke SMA
Suiko.
Hmm sepertinya pernah dengar marganya.
Himemiya?
67
Itu bukan merupakan marga yang di manapun ada.
Ah, adik laki-lakinya Hauhau!
Misaki-senpai menunjuk lagi dia dengan jarinya.
Benar, aku adalah adik laki-laki nya Himemiya Saori
yang baru saja lulus tahun lalu. Sama-sama jurusan musik.
Ekspresi Iori sepertinya berubah menjadi senang, tapi
dengan cepat dia murung lagi. Mungkin aku terlalu banyak
pikir?
Hmm, aku adalah siswa kelas 3 , Kanda Sorata, dan
yang di samping ku ini adalah Shiina Mashiro yang berada
di jurusan seni.
Mashiro mengangguk kepala.
Aku juga siswa kelas 3, namaku Aoyama Nanami.
Sorata-senpai, Mashiro-senpai, dan Nanami-senpai.
Dan juga, orang yang di samping dulunya tinggal di
Sakurasou, tapi sekarang sudah menjadi tetangga, Misaki
Mitaka yang tamat sekolah pada bulan Maret.
Iori chan , salam kenal!
Misaki menggenggam kedua tangan Iori, dan
menggoyang-goyangkan tangannya.
Sa-salam kenal. Aku pernah mendengar senpai dari
onee san.
Iori yang terkejut karena Misaki yang begitu semangat
ini menjadi sedikit gugup.
Ngomong-ngomong sensei, baru selesai upacara
pembukaan sudah dimasukkan ke Sakurasou, apa yang ia
lakukan?
Hal yang paling penting belum ditanya.
Saat sudah selesai upacara pembukaan, dia langsung
ke kantor untuk meminta pindah jurusan.
Pindah jurusan?
Mau pindah ke divisi regular, ya?
68
Sorata bingung, dan Nanami pun bertanya.
Chihiro yang sepertinya merasa repot mengangguk-
angguk kepala. Dan Mashiro yang tidak tahu sedang berpikir
sambil menatap Iori terus, dan Iori sepertinya tertekan oleh
Mashiro yang terus memandangnya, terlihat sedikit gugup.
Kenapa ingin pindah jurusan? Padahal baru
saja berhasil di ujian masuk SMA Suiko yang tingkat
keberhasilannya rendah ini.
Siswa yang berhasil lulus ujian masuk SMA Suiko
jurusan seni dan musik padahal cuma 10 orang lebih. Sangat
sedikti bila di bandingkan peserta yang ikuti ujiannya,
mungkin 10 kali lipat atau 20 kali lipat lebih banyak.
Terima kasih kalian sudah bertanya, a-aku sudah
tidak ingin bermain piano lagi!
Teriak Iori dengan keras menatap langit-langit sambil
mengepalkan keduan tanganya.
Sorata penasaran apa yang ada di atap, tetapi hanya
ada lampu, dan dinding atap yang tua.
Masa muda kalau sudah pergi tidak akan kembal
lagi. Tapi, tapi, aku tidak menyadari ini, saat SMP tiap
hari dengan giat berlatih, terus berlatih, latihan surga dan
latihan neraka, tidak ada yang namanya masa muda, yang
terasa hanya lagu yang putih dan hitam. Aku tidak ingin
mengulang hari-hari yang membosankan lagi di masa SMA-
ku yang singkat ini.
Menyukai piano bukannya bagus?
Apanya bagus? Siswa yang juga setahun, saat pulang
bisa bermain dengan teman mereka, tapi aku hanya ditemani
oleh piano, apa tidak terlalu kejam? Ya , aku merasa itu
terlalu kejam!

69
Karena tidak tahu kenapa percaya dengan omongan
seseorang yang tidak bertanggungjawab seperti ini,
Bermain piano sepertinya akan menjadi populer, jadinya
tiap latihan, tapi ternayta itu hanya sebuah kebohongan, aku
bisa membuktikannya, sama sekali tidak menjadi populer!
Pasti begitu!
Memang anak yang keras kepala.
Nanami yang mengatakannya sebagai pengamat.
Mashiro malah tidak tahu sedang memikirkan apa.
Walau terlihat sedang serius mendengar Iori berbicara, tetapi
sebenarnya ia hanya memikirkan hal tentang baumkuchen
(sejenis kue bolu).
eEhbegini, jadi kalau Iori kun sudah pindah ke divisi
reguler, apa yang akan kau lakukan?
Sorata dengan terpaksa menanyakannya.
Aku ingin mempunyai pacar!
Iori tanpa ragu-ragu mengucapkannya.

Aku ingin mempunyai pacaaaar~~!!
Saat mengatakan dengan kedua kalinya , ia
mengatakanya dengan teriak.
Eh, kami sudah mendengarnya, jaid tidak perlu
ngomong untuk kedua kalinya.
Aku! Aku ingin sebuah kehidupan anak SMA yang
normal! Aku sangat serius!
Berbicara dengan mengepalkan kedua tangannya. Dan
seperti berteriak tidak jelas.
Walau Sorata merasa saat ini sudah tidak normal, tapi
Sorata tidak mengatakannya.
Kau sudah tidak mungkin akan normal lagi.
Sesaat Sorata kira dia membocorkan apa yang dia
pikirkan, ternyata tidak, yang berbicara itu adalah Mashiro
70
Aku yang tahan untuk tidak bicara, kau juga jangan
ngomong apapun, Shiina!
Aku pasti akan mewujudkan imipianku yang normal
ini di SMA Suiko!
Pokoknya, coba untuk memahaminya dulu saja.
Kalau soal kehidupan normal anak SMA, sudah pasti
pada saat perjalanan menuju ke sekolah akan menabrak
seorang perempuan yang sedang menggigit rotinya, lalu
melihat celana dalamnya, dan akan lebih bagus kalau
berwarna putih! Ada perasaan yang murni! Lalu dia marah
dan berkata, Hey, memandang ke mana kau!
Lalu aku akan jawab dengan jujur, Wah, ternyata warna
putih! Dan memberi kesan buruk terhadap peremupan itu,
tapi karena sudah hampir telat, dia akan langsung menuju
ke sekolah.
Selanjutnya nanti sensei akan memperkenal seorang
murid pindahan! Yang ternyata adalah yang ditabrak saat
perjalan ke sekolah! Dan aku akan berkata, Ah , si putih!
Anak perempuan yang ditabrak menjawab, Ah, kau si mesum
tadi pagi! Kira-kira seperti itu kehidupan normal anak SMA.
Bukannya itu aneh, ya?
Masa, sih? Bukannya kejadian seperti itu sering, ya?
Memang seorang mahasiswi yang sudah menikah,
kata-kata yang dikeluarkan tidak sama dengan kita.
Lalu?
Masih ada lanjutan, ya?
Jujur saja, yang tadi sebenarnya sudah cukup.
Saat pergi ke toko buku, bersentuhan dengan seorang
perempuan yang hendaknya mengambil buku yang sama
dengan kita. Ah, maaf.Tidak, aku yang salah. Aku tidak
apa-apa, ambil saja. Heh? Tapi kalau begitu, rasanya
tidak terlalu enak
71
Kanda-kun , itu drama apa?
Itu drama, ya?
Tidak, tidak apa. Be-begitu, ya? Kalau begitu
tunggu aku selesai baca baru aku pinjam ke kamu!
Menjadi situasi yang seperti itu, walau sebenarnya tidak
ada niat seperti itu, tapi tetap bertukat nomor ponsel, lalu
berkembang menjadi sebuah hubungan yang romantis
gituuuw~!
Malah nambah aneh rasanya.
Aku kemarin melihat dua orang yang seperti itu di
toko buku depan stasiun, lho.
Memang seorang mahasiswi menakutkan yang sudah
nikah. Ngomong-ngomong apa di sini ada orang yang bisa
mempraktekkan situasi yang tadi?
Atau kalian ingin penjelasan yang lebih langsung?
Kalau begitu, intinya aku ingin mempunyai pacar, ingin
bermesra-mesraan, ingin kencan, ingin berciuman, dan ingin
bercinta! Dan membuang semua kenangan tentang piano!
Dan diriku yang sudah terbebas dari orangtua, hari ini akan
memulai hidup yang baru! Inilah kenapa aku ingin pindah
ke divisi reguler, terima kasih buat semua yang sudah
mendengarku!

72
73
Kalau begitu, harusnya dari awal ikut ujian divisi
regular, masalah akan terselesaikan?
Nanami mengatakannya tanpa ragu ragu, terdengar
memang seperti itu
tTidak, itu tidak mungkin. Walau langit jatuh itu tetap
tidak mungkin, hahaa!
Mengapa?
Yang bertanya itu adalah Sorata.
Karena aku bodoh.
Hnnn, setelah medengar kata-katamu tadi, aku
bertambah yakin.
Kasihan sekali.
Shiina, kalau kau ikuti ujian masuk divisi reguler,
kau juga pasti akan gagal!
Aku tidak akan gagal.
Datang dari mana kepercayaanmu yang tinggi itu?
Karena aku tidak akan mengikutinya.
Siapa yang menyuruhmu untuk menjawab seperti
itu?!
Semua itu tidak penting, tapi, masih belum tahu
kenapa dia bisa sampai datang ke Sakurasou.
Nanami mengungkitkan kembali topik utama yang
harus dibicarakan.
Kalau cuma karena ingin pindah jurusan lalu langsung
dimasukkan ke Sakurasou itu terlalu aneh.
Tadi yang dibicarakan itu, mungkin salah satu alasan
kenapa dia langsung menjadi target guru-guru.
Tidak tahu kapan, Chihiro-sensei sudah mengambil
segelas bir dari kulkas, dan meminumnya dengan nikmat.
Alasan yang sebenarnya adalah?
Dia menyusup ke asrama perempuan, dan mengintip
kamar mandi perempuan.
74

Waktu serasa dihentikan tiba-tiba.
serius atau tidak?
Dia mesum.
Setelah ucapan Sorata, Mashiro jaga ikut ngomong,
dan Nanami diam-diam dan langsung menatap ke Iori yang
sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Tidak, bukan begitu! Tolong dengarkan penjelasanku!
Kalau cuma dengar sampai sini kalian pasti akan salah
paham.
Yang mana? Coba jelaskan kenapa kau mengintip.
Aku jelaskan dulu, karena permohonan pindah
jurusanku tidak ditanggapi.
Mengarahkan pandangan matanya ke Chihiro-sensei,
Chihiro-sensei pun menjelaskan.
Walaupun sifat dan sikapnya seperti itu, dia juga
tetap berhasil di ujian masuknya, dia memiliki potensi. Jadi
setidaknya biar dia mengikuti pelajaran musik dulu, dan
menyuruhnya pikirkan baik-baik pilihannya. Kalau masih
tetap ingin pindah ke divisi reguler, ya tahan saja semester 1
dulu, nanti baru dipertimbangkan lagi semester ke 2. Inilah
keputusan para guru.
Aku yang sudah salah melangkah pertama kali saat
hendaknya mengejar impianku, pokoknya menyusun
strategi dulu di asrama laki-laki. Dan bertahan untuk tidak
melakukan hal yang negatif, walaupun begitu tetapi harus
punya pacar! Jadi aku memutuskan sebelum pindah ke divisi
reguler, aku akan mendapat pacar terlebih dahulu!
Lalu?
Nanami yang sudah tidak tahan lagi memandangnya
dengan tatapan dingin.

75
Kalau terpikri saat sudah mempunyai pacar bisa
begini dan begitu, aku mulai pusing, tapi saat itu, di
pesta sambutan untuk murid baru di asrama laki-laki, ketua
asrama malah bilang, Siswa kelas 1 pergilah mengintip
kamar mandi wanita untuk merayakannya!
Ah, dulu aku juga pernah mengalaminya saat masih di
asrama laki laki.
Nakal dan bermain tidak jelas merupakan cirri-ciri
siswa kelas 1, juga merupakan hiburan yang utama di
asrama laki laki. Tapi bagaimanapun tidak akan nekad
sampai mengintip kamar mandi perempuan setidaknya, atau
dengan kata lain, tidak akan ada yang mau melakukannya,
dan bagi yang nekad melakukannya pasti akan tertangkap
oleh siswa perempuan yang berjaga-jaga.
Tapi, aku pusing. Pusing memikirkan apakah boleh
untuk melakukan tindakan tidak terpuji seperti ini. Karena
begitu, malaikat dan iblis yang berada dalam hati bertengkar
hebat.
Lalu, akhirnya bagaimana?
Tapi akhirnya karena tidak tahan lagi, ya terpaksa
melakukannya.
Itu mah tidak ada hubungannya dengan malaikat dan
iblis yang berada dalam hatimu!
Wajib ditangkap!
Sensei, aku sangat tidak setuju untuk memasukan
orang mesum seperti dia ke Sakurasou.
Pendapat Nanami sangat benar.
Kau tidak perlu sampai semarah itu juga. Kalau masih
ada yang peduli dengan dia, berarti dia masih terselamatkan.
Apa kau kira dengan begini aku akan menerimanya?
Nanami protes dengan Chihiro-sensei.

76
Ah, aku yakin tidak ada masalah lagi, soalnya sudah
kau peringatkan, jika lain kali seperti itu lagi langsung aku
antar ke kantor polisi.
Walau begitu, sudah pasti dia akan melakukannya
lagi.
Karena begitulah, kejahatan tidak akan pernah hilang
di dunia.
Kalau kau sampai khawatir begitu, suruh saja Sorata
menjaga saat kau sedang mandi.
Nanami melirik Sorata.
Aku juga tidak mau begitu.
Entah kenapa rasanya aku juga terpengaruh, dianggap
jadi mesum?
Aku tidak mesum!
Tidak, kau mesum.
Sampai umur berapa boleh mengintip kamar mandi
wanita, dan di umur berapa akan menjadi penjahat? Itu kan
sudah diajarkan di TK.
Iori teringat kenangannya di masa lalu, baru
mengenang
Tapi serius, tidak apa-apa. Percaya saja padaku.
Dengan santai lagi ia mengatakannya.
Ingin kami mempercayai apa?
Nanami seperti sangat tidak setuju dan tidak yakin
pada kata-katanya.
Aku suka perempuan yang berdada-besar, jadi tenang
saja, aku tidak tertarik dengan Aoyama-senpai dan Shiina-
senpai.
Nanami terkejut mendengarnya.
Kau memang hebat, ya, sampai saat ini, masih bisa
berkata seperti itu.
Tidak, tidak begitu hebat juga, huehuehee.
77
Yang namanya tidak memikirkan apa-apaalias
bodoh memang menyeramkan, ya.
Di saat Iori sedang malu sambil memegang kepalanya,
Nanami sudah mengepalkan tangan dan sudah siap
meledakkan kemarahannya.
Kanda-kun, kenapa tadi aku ditolak?
Bisa tidak jangan bertanya padaku.
Dan sebaliknya, Misaki-senpai itu tipeku!
Berpacaranlah denganku!
Ah, tidak boleh. Dia sudah ada yang punya.
Misaki memperlihatkan cincin yang ada di tangan
kirinya, seperti berkata, Mau bagaimana lagi kau?
Huh?
Dia sudah meninggalkan Chihiro-sensei dan kawin
duluan, lho.
Kanda , bosan hidup, ya?
Kepalanya pun ditinju dengan keras oleh Chihiro-
sensei.
Ashhh~ sakit!
Kalimat yang tadi sepertinya terlalu kasar.
Maksudnya menikah, apakah menikah yang
terkenal itu?
Ya, kira-kira menikah seperti itulah.
Bagaimana bisa?
Iori dengan sedih menurunkan kakinya dan terlihat
sepertinya sedang sujud.
Bisa tidak jangan melihatku dan Mashiro dengan
wajah yang menyedihkan itu.
Nanami sepertinya tidak bisa menahan kemarahannya
lagi.

78
Bagaimana membereskan situasi sekarang? Sepertinya
sudah tidak bisa bereskan. Dan saat ini, muncul seseorang
yang tidak terduga.
Sudah cukup kau, ya.
Dia adalah Mashiro, dia menatap Iori dengan tatapan
kosong.
Hnnngg!
Karena ditekan oleh Mashiro , Iori pun mundur
selangkah.
Dan semua orang yang ada di sini fokus ke Mashiro
, sebenarnya apa yang ingin dikatakannya ke Iori? Apa dia
sedang marah? Saat semuanya sedang berpikir, Mashiro
berkata.
Sebentar lagi Nanami akan menuju ke D-Cups.
Sorata dan Iori dengan kejut dan membuka mulutnya
dengar lebar menatap Mashiro.
Yang kubilang itu kenyataan.
Hanya Mashiro yang tetap tenang.
Dia kemarin juga bilang BH-nya menjadi sempit.
Ahhhh, itu tidak boleh diberi tahu ke orang lain!
Sepertinya hanya Nanami yang tidak mau mengakuinya,
dan sepertinya yang dikatakan Mashiro benar. setelah
medengar kenyataannya, pandangan semua mata tertuju
pada satu tempat.
Ka-Kanda kun, memandang ke mana kau.
Nanami menutup bagian dada dengan kedua
tangannya, dan memutar badan nya membelakangi Sorata.
Ti-tidak bertambah besar, ha-hanya lebih gemuk
sedikit.
Kau semakin gemuk?
Walaupun terlihat tidak begitu.
Ahhhh, kenapa topik bisa berpindah sejauh ini?!
79
Itukan Nanami sendiri yang bilang.
Yang merasa salah harusnya Shiina.
Ah, sudah, pokoknya begitulah. Kuserahkan orang
baru kepada kalian.
Ah, sensei.
Walaupun memanggilnya dengan keras, yang dibalas
hanyalah suara tertutupnya pintu. Apa dia pergi kencan
lagi? Kalau benar, lebih baik jangan mengganggu. Dia juga
punya hak untuk memperoleh kebahagiaan.
Ah, sudah, biarkan saja. Kalau begitu ayo kita buat
pesta penerimaan penghuni baru Sakurasou!
Sorata sudah tidak punya tenaga untuk membereskan
masalah ini.
Aku baru ngomong setengah!
Aku juga berpikir begitu!
Tapi sayang sekali, itu tidak mempan oleh Nanami.

Bagian 4
Pesta penerimaan Iori selesai sekitar pukul 11 malam.
Seperti biasa shabu-shabu yang dimasak Misaki-senpai
itu shabu-shabu kare, tapi karena Sorata dkk baru selesai
makan malam, jadi hampir semuanya dihabiskan oleh
Misaki-senpai. Walaupun awalnya Iori gugup di Sakurasou,
tapi lama kelamaan dia pun mulai cocok dengan Sakurasou
dan terbiasa.
Ah~~ Misaki-senpai, itu dagingku! Daging!
Semua daging yang ada di dunia ini akan aku makan!
Ya situasi seperti beginilah, sepertinya Sorata tidak
perlalu khawatir.
Bagaimanapun, Iori-kun memang sejak awal harusnya
masuk ke Sakurasou.
Nanami pun mulai berpikir begitu.
80
Sorata menyetujuinya dari dalam hati.
Setelah selesai pesta penerimaan yang meriah ini,
Sorata dan Nanami mulai membereskan. Setelah itu, Sorata
berjaga di depan pintu ruang ganti, Chihiro yang bercanda
mengenai itu akhirnya menjadi kenyataan juga.
Misaki memaksa Nanami ke ruang ganti, dan Mashiro
juga berada di dalamnya, tiga anak perempuan sedang
mandi bersama, terkadang bisa mendengar suara yang
bahagia dari dalam. Tidak, yang sangat senang itu Misaki-
senpai, Nanami malah terus menjerit.
Hari ini Sakurasou juga damai, ya
Sorata duduk di koridor, dan memegang buku naskah
yang diberikan Misaki-senpai tadi.
Kalau boleh, semoga bisa ganti ke orang lain. Tapi
Nanami pernah berkata, Lebih baik daripada latihan
sendiri, jadi rasanya ingin membantunya sebisa mungkin.
Dan hari saat Nanami berkata, Aku akan terus berusaha ,
sudah janji akan berusaha bersama sama, juga merasa ingin
menyemangatinya sebisa mungkin, berharap kerja kerasnya
suatu hari akan membuahkan keberhasilan.
Jadi, kalau sudah memutuskannya, ya tinggal
melakukan saja. Dengan tidak merepotkan Nanami, berusaha
sebisa mungkin!
Sorata memeriksa naskahnya.
Dan saat ini, kucing yang mirip dengan kucing Amerika
yang bulunya pendek, Asahi pun bersuara meong meong
mendekati Sorata.
Asahi, ada apa? Apa kau ingin jadi lawan latihanku?
Meong~~
Begitu, ya. Kalau begitu, mohon bantuannya, yo.
Sorata mengangkatnya, dan membuatnya berhadapan
dengan Sorata.
81
Baik, kalau begitu mulai. Kau tiba-tiba ingin
memberitahuku sesuatu, apa itu?
Meong~~
Awalnya berjalan lancar, tapi tetap merasa malu, tapi
sudah tidak gugup lagi.
Begitu, ya.
Meong~~
Aku juga mempunyai perasaan yang sama. Aku
juga, selalu menyukaimu.
Meong~~
Huh? Ternyata mudah juga mengucapkannya.
Tadi gugup karena kata menyukaimu, sampai-sampai
wajah memerah. Aku juga, mempunyai perasaan yang
sama. Aku juga, selalu menyukaimu.
Kali ini juga bisa mengatakannya dengan lancar, juga
tidak kaku.
Oh, dengan mudah sekarang aku sudah tidak takut
dengan kelemahanku.
Di saat Sorata merasa puas, di kamar mandi terdengar
suara menderita yang hebat.
Huwaaaaaa~!!
Tidak salah lagi, itu suara Nanami.
Hei, hei , Aoyama, ada apa?
Sorata, terjadi masalah besar sekarang.
Yang membalas itu adalah Mashiro.
Masalah apa?
Dadanya Nanami-chan bertambah besar lagi, lho~!!
Huh?
Jadi yang dimaksud masalah besar adalah ini?
Ja-jangan omong sesuatu yang aneh!
Itu kenyataan, aku sampai mengeceknya sendiri
dengan memegangnya.
82
Suara yang menderita tadi, sepertinya karena Mashiro
memegang dadanya Nanami.
Hmm, itu tidak buruk, Nanami-chan! Tapi aku tidak
akan kalah denganmu, lho!
Aku mana bisa menang sama Misaki-senpai!
Memang, level Misaki-senpai agak berbeda dengan
yang lain.
Nanami curang.
Kan sudah kubilang, bicara saja ke Misaki-senpai,
itu, Mashiro kenapa memegang dadaku lagi!
Karena rasanya enak.

Sorata tidak tahan dan menelan ludahnya sendiri. Apa
enak, ya?
Kouhai-kun apa juga ingin memegang dada?
Kalau begitu, kuterima saja kebaikanmu, Misaki-
senpai.
Ti-tidak boleh!
Reaksi Nanami yang seperti itu sampai-sampai ingin
menangis.
Aku rasa kau sudah tahu, tadi aku hanya bercanda,
lho!
Jangan hanya mendengra suaranya lalu
membayangkan yang tidak-tidak, ya!
Aku belum membayangkan yang tidak-tidak.
jadi selanjutnya akan membayangkan yang tidak-
tidak?
Ta-tak akan!
Setelah Sorata berteriak dengan keras, tapi menjawab
dengan suara kecil lagi.
Mu-mungkin...
Sebenarnya sudah mulai membayangkannya
83
Ti-tidak perlu berjaga lagi, Kanda-kun pergi saja!
Kalau dilanjutkan lagi, Nanami sepertinya akan
menangis.
Tidak tahu kenapa terseret ke dalam ini, huft~!
Sorata menghela napas dan berdiri.
Dengan tidak sengaja Sorata berjalan sampai ke
kamar no. 103, yaitu kamarnya Iori. Tapi ternyata dia tidak
mengintip, apalagi tidak ada tanda-tanda dia keluar dari
kamar, mungkin sudah tidur kali, ya.
Atau sedang merapikan barang bawaannya? Di pesta
penerimaan tadi, ada perusahaan pindah rumah yang
berlogo badak membawa banyak barang bawaan ke dalam.
Cek sebentar, ah.
Mungkin bisa membantunya merapikan barang
bawaannya, juga sekalian ngobrol dengan dia. Bagaimanapun
juga nanti akan hidup bersama, juga penasaran kenapa dia
tidak mau bermain piano lagi.
Sorata berdiri di depan pintunya, dan mengetuk pintu
kamarnya dua kali.

Tidak ada tanggapan.
Hey~!!

Tetap tidak ada tanggapan.
Aku buka, ya, pintunya~?
Setelah memberi salam, Sorata langsung membuka
pintu. Pintunya tidak dikunci dan terbuka dengan mudah.
Sorata melihat di mana Iori.
Dan dengan segera ia langsung menemukannya. Dia
duduk di bagian sudut di samping piano, dan dia sedang
berlatih piano dengan serius.

84
Masih ingat orang yang tadi membawab sesuatu yang
besar, ternyata piano, toh.
Tapi yang paling penting, tidak terdengar suara piano,
soalnya ia hanya menekan dengan pelan.
Dan Sorata membukan pintu dengan lebar, dan masuk
ke kamar.
Iori sama sekali tidak sadar ada Sorata, dia terus
bermain. Di telingannya terpasang headphone yang tertulis
HAUHAU, kabel headphone-nya langsung berhubung
dengan piano. Apa ini yang nama keyboard?
Sorata melihat mukanya sebentar, ekskpresi nya
sedikti sedih dan tidak rela, seperti dia tidak begitu rela
menyerah pada piano dan pindah ke divisi reguler. Sorata
melihatnya dengan segenap hati, dan tidak bisa mengalihkan
pandangannya, dan rasanya dia seperti Mashiro yang sedang
serius dengan komiknya.
Kamar yang sepi. Dan di saat yang sama, Sorata
menyadari seperti ada yang memandangnya.
Huwaaaa~!!
Karena terkejut Sorata sampai mundur selangkah.
Yang di depan mata itu adalah sesorang yang terkenal di
sejarah, Sorata juga mengenalnya. Dia adalah Baha yang
sering terlihat di ruang musik.
Dibandingkan dengan barang bawaannya yang lain,
kenapa dia terlebih dulu menempel gambar Baha?
Penuh misteri.
Huwooo! Senpai, kalau kau sedang di sini kasih tahu,
dong!
Ah, maaf karena langsung masuk ke kamar. Tapi tadi
aku sudah menyapa.
Ah, begitu ya? Kalau begitu maaf.

85
Iori sepertinya sudah selesai bermain, dan dia
melepaskan headphone-nya itu.
Ah, ini, ya? Ini yang dikasij nee-san. Padahal dia
sangat suka, tapi dia bilang, Bagaimanapun aku tidak
membutuhkannya lagi
Mungkin karena diberi julukan oleh Misaki-senpai,
sekarang misteri nama HAUHAU sudah terpecahkan.
Ngomong-ngomong, kamarmu mantap juga.
Kok?
Aku pertama melihat ada orang menempel poster
Baha di kamar.
Dia itu Father of Music, lho. Makanya ditempel.
Mata Iori berbintang-bintang, Sorata merasa kalau Iori
terobsesi dengan Baha.
Eh, apa saat malam tidak merasa menyeramkan?
Kanda-senpai apa juga ingin menempel satu di kamar?
Nih , aku masih ada satu cadangan.
Iori dengan berusaha mencari di barang bawaan nya,
dan akhirnya ketemu segulung poster.
Ini kuberikan pada senpai.
Bisa tidak kau jangan memberiku poster ini dengan
tatapan yang polos itu?
Memang hebat orang yang di hari pertama sudah
dimasukkan ke Sakurasou ini. Tak pantas, di bagian ini
terasa aneh.
Sorata mengalihkan pandangannya pada Piano.
Bisa latihan dengan keyboard?

86
Ah, ini, ya? Pakai pada saat malam sangat enak, lho.
Suara tidak bocor, tapi karena nadanya tidak begitu bagus,
jadinya kurang cocok untuk dipakai latihan, tapi saat ingin
berlatih tinggal menekan, jadi aku lumayan suka. Dipakai
untuk membuat lagu juga enak, kalau mau piano yang bagus
mah juga bisa bermain di sekolah.
Walaupun kau ini bilang tidak ingin jurusan musik,
tapi kau sendiri sangat menyukai musik.
Padahal cuma sebuah ucapan yang keceplosan, tetapi
Iori kembali sedih, menurunkan kepalnya sedikit, dan
memandang ke bawah.
Maaf aku sudah keceplosan bicara tadi.
Kanda-senpai.
Hnnn?
Kau bilang kau kenal kakakku, kan?
Huh? Hnnn, ya, walau cuma pernah bertemu beberapa
kali.
Saat tadi pesta penerimaan ada membahas dikit
tentang kakak.
Menurut senpai, kakakku itu orangnya bagaimana?
Iori bertanya dengan serius.
Bertanya bagaimana, hmmm, dia cantik.
Sorata karena tidak tahu mau jawab apa, jadinya
menjawab seadanya.

Iori melebarkan matanya, dan terdiam sejenak.
Huh? Cuma segitu? Kalau dari segi musik?
Ah, apaan, ternyata segi musik? Maaf, aku tidak
pernah mendengarnya bermain piano.
Begitu, ya?

87
Hnnn, walau pernah dengar dia membuatkan musik
untuk kartunnya Misaki-senpai, tapi apa itu yang namanya
Live Performance? Kalau itu aku tidak mendengar dengan
serius, jadi maaf, ya.
Tidak apa-apa, begitu, ya. Karena senpai tidak tahu,
makanya
Hnnn?
Ti-tidak ada apa-apa! Itu merupakan masalahku
sendiri.
Dibilang seperti ini sama kau, aku jadinya makin
penasaran.
Benar, tidak ada apa-apa, dan ngomong-ngomong, ada
apa senpai sampai datang ke kamarku?
Awalnya sih aku ingin membantu merapikan barang
bawaanmu, tapi, sepertinya sekarang sudah tidak perlu.
Kalau sekarang membuka kardusnya mungkin akan
menjadi kacau kali, ya? Dan lebih tidak rapi lagi, dan Iori
sendiri juga sepertinya belum mau merapikan barang
bawaannya.
Juga, aku hanya ingin menyapamu saja. Mulai hari ini
mohon bantuannya, Himemiya.
Seharusnya aku yang harus memohon bantuan,
hahaa.
Tapi, akhirnya tetap tidak terbiasa dengan panggilan
Himemiya, rasanya seperti memanggil marga kakaknya ,
Saori.
Jadi, apa aku boleh memanggilmu dengan panggilan
Iori?
Huh?
Karena memanggil dengan panggilan Himemiya
rasanya kurang enak, karena seperti memanggil kakakmu
gitu.
88
Kalau begitu, apa aku boleh memanggilmu dengan
panggilan Sorata-senpai?
Hnnn, boleh.
Suasana hati yang senang juga kacau. Di saat pertama
kali bertemu, dia ingin dia tidak memanggilnya dengan
senpai, jadi sekarang rasanya sudah sedikit mengerti, dan
dia panggil oleh Jin-san dengan sebutan senpai, rasanya
aneh. Tapi, ya, lama-lama nanti juga terbiasa, huehueh.
Kalau begitu, selamat malam. Besok masuk sekolah,
jangan tidur larut malam.
Sip!
Iori menjawab dengan semangat, lalu melihat Sorata
sampai di ujung koridor. Dan selanjutnya, terdengar suara
yang sepertinya memanggil namanya lagi.
Kanda-kun? Apa dia tidak ada di sini?
Yang memanggil itu Nanami.
Ada apa?
Setelah Sorata meninggalkan kamarnya Iori, Iori
langsung bertemu dengan Nanami. Dia hanya memakai
handuk untuk menutupi tubuhnya, rasanya tidak tahan.
Melihat Nanami yang baru selesai mandi, rambutnya yang
masih basah. Tubuhnya masih sedikti berasap, terlihat
sangat menggoda.
Saat bertemu, langsung berhenti berpikri tiga detik.
Ka-karena Sorata tidak menjawab, makanya
manggilmu.
Tidak begitu mengerti situasi, Sorata tiba-tiba datang.
Ya-yang menyuruhku pergi itu kan Nanami
Ma-makanya aku tak bilang itu salah, Kanda-kun.
Suara Nanami terdengar seperti sedang mengoceh
tentang sesuatu, dan sedikit marah.

89
Selanjutnya terdengar suara Misaki-senpai yang
sedang bernyanyi itu sampai tertimpa suara Nanami. Dari
suaranya, sepertinya dia masih di kamar mandi. Dan apa
yang dilakukan Mashiro sekarang?
Apa kau sudah latihan dengan benar?
Nanami bertanya.
Aku sudah latihan. Mungkin tidak masalah lagi.
Tadi berjalan dengan lancar.
Kau terlihat percaya diri sekali, ya.
Hn, jangan kira aku masih seperti tadi, ya!
Aku tidak akan berharap banyak.
Tunggu saja.
Kalau begitu, tunjukanlah hasilnya. Silahkan.
Sorata menarik napas sejenak, dan mengucapkan
dialog yang sidah ia hafal tadi.
Kau tiba-tiba ingin memberitahuku sesuatu, a-a-a-
a-apapa itu?
Baru kalimat pertama sudah kacau.


Habis sudah.
Bu-bukan begitu!
Belum juga aku bilang apa-apa.
Suara Nanami terdengar sudah tidak tahan lagi, juga
terdengar dingin.
Padahal tadi aku latihan dengan Asahi lancer-lancar
aja.
Owkalau begitu, kenapa sekarang tidak bisa?
Nanami bertanya dengan tidak memberi belas kasihan.
Ka-karena, mungkin lawan bicaranya adalah
Aoyama.
Oh, ternyata salahku, ya? Hmmm
90
Bukan begitu maksudku.
Kalau bukan, apa maksudmu?
I-itu, maksudnya
Maksudnya?
Walau tahu hanya sebuah latihan, tapi bagian ini
sungguh terasa seperti Aoyama akan menyatakan cinta
padaku, makanya aku jadi canggung begini!
Huhh! Ka-kau ngomong apaan?
Aku bilang aku tahu cuma sebuah latihan!
I-iya.


Walau tidak mengeceknya dengan cermin, tapi aku
yakin saat ini pasti wajahku sedang memerah. Mukaku terasa
panas, telinganku terasa panas, leherku terasa panas, tiba-
tiba keluar banyak keringat.
I-itu, Kanda-kun.
A-apa?
Kau bilang merasa malu begini, itu artinya kau tidak
membenciku?
Huh?
Emm, maksudnya, apa kau mengakuiku?
Nanami menjawab dengan suara yang kecil sekali.
Oh, em, hnnn, hnnn...



A-ayo latihan sekali lagi.
Untuk menenangkan situasi, Nanami berbicara dengan
keras.
Be-benar juga, ka-kalu begitu, ayo mulai dari awal.

91
Saat Sorata mengatakannya, tiba-tiba ia terpental
karena Mashiro membuka pintu dengan keras.
Hey, Mashiro! Tunggu sebentar! Aku masih mengganti
baju.
Sorata dengan tidak sengaja melihat ke dalam, dan
terlihat paha Nanami yang baru setengah memakai baju
tidur celana panjang. Dan Sorata pun dengan cepat menutup
pintunya.
Hey, Shiina! Kenapa kau perlakukan aku seperti itu?
Sorata terlihat senang soalnya.
Ka-Kanda-kun?
Bu-bukan! Aku bukan tidak ingin senang, aku bukan
tidak ingin melihat, ngomong-ngomong, apa yang aku
bicarakan dari tadi?!
Karena berlatih naskah, langsung menjadi suasana
yang aneh.
Kanda-kun, jangan mengatakan apapun lagi.
Maaf! Aku benar-benar minta maaf!
A-aku tahu!
Walau Sorata berpikir begitu, aku juga punya
pikiranku sendiri.
Tunggu sebentar. Apa yang kau maksud dengan
berpikir begitu itu?
Berpikir begitu ya berpikir begitu.
Jadi, maksudnya berpikir begitu adalah?
Aku juga punya pikiranku sendiri.
Huh? Tidak memperdulikan pertanyaanku dan
berbicara terus?

Mashiro dengan diam menyatakan bahwa dia sedang
tidak senang.

92
Aku mengerti, aku mengerti. Yang tentang berpikri
begitu sudahkan saja. Tapi lain kali bilang punya pikiran
sendiri, apa yang kau ingin lakukan?
Memikirkan strategi.
Itu kan dipikir nanti.
Kanda-kun! Kau membuatku susah mengganti baju
karena berada di depan pintu, cepatlah balik ke kamarmu.
Ba-baik.
Sebelum itu Sorata, keringkan rambutku dulu.
Mashiro sepertinya memang merasa tidak senang, dan
mengeluarkan hair dryer (pengering rambut).
Apa itu sikap untuk meminta tolong pada orang lain?
Saat ini Misaki tetap gembira dan bernyanyi.
Dan begitulah, malam pertama saat naik ke kelas 3 ,
diam-diam telah berakhir.
Tapi, masalah belum selesai
Larut malam jam dua, Sorata mendengar suara
berteriak yang keras dan terbangun dari temapt tidurnya.
Huwaaaaaaaaaaaaaaaaa~~!!!
Uwow! Apa yang terjadi?!
Sorata beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju
koridor, di sana ia melihat Iori yang ketakutan.
A-ada apa?
So-sorata senpai! Ke-keluar! Di-dia keluar!
Apa kau sudah ngompol?
Aku berhasil menahannya, ta-tapi, bukan begitu! Di-
di-di sana! Kamar itu!
Iori menunjuk kamar itu dengan jarinya yang bergetar.
A-ada hantu wanita! Dia dengan halus memasuki
kamar itu, uwaaaa~!

93
Se-serius! Aku melihatnya dengan kedua mataku
sendiri!
Sepertinya memang sangat takut, Iori terus memeluk
pinggang Sorata.
Jangan khawatir, tenang saja.
Sorata-senpai!
Iori semakin lebih kuat memeluk pinggangnya Sorata.
Iori, yang kau lihat itu bukanlah hantu. Dia tinggal di
kamar no. 102, dia juga sama sepertiku yang merupakan
siswa kelas tiga, namanya Akasaka Ryuunosuke.
Huh?
Dan ngomong-ngomong, dia itu laki-laki.
Tapi dia itu cantiknya luar biasa.
Hnnn, tapi ini kenyataannya.
Dunia ini memang aneh, ya!
Walau pun dia seperti memahami dengan cara yang
aneh, tapi yang penting dia sudah tahu.
Hey, kalian meributkan apaan, sih?
Saat percakapan selesai, Chihiro-sensei keluar dari
kamarnya.
Uwaaaaaaaaaaa~!! Hantu yang tidak beralis!
Kanda, bosan hidup, ya?
Begitulah, sekarang sudah sangat malam.

***
Bulan April, tanggal delapan.
Rekor pertemuan yang tertulis begitu di Sakurasou.
Siswa kelas satu jurusan musik, Himemiya Iori, tinggal
di kamar no. 103.
Ada penghuni baru, hari berbahagia di Sakurasou
dimulai lagi hari ini. Sorata sama begitu ingin melihat,
maid-chan membalas.
94
Bisa tidak jangan menambahkan yang aneh-aneh!
Walau aslinya memang begitu, tapi ini membuat orang
merasa malu, tahu!

Bagian 5
Sudah seminggu, hari ini hari Senin, bulan April
tanggal 14 diselenggarakan pesta penerimaan murid baru,
suasana sekolah menjadi ramai.
Hari itu juga promosi dari para grup sedang
dilaksanakan, akhirnya ada suasana tahun baru yang
seharusnya.
Kegiatan mengajar juga mulai hari selasa.
Baru mulai sudah 6 pelajaran, dengan tubuh yang
belum terbiasa sejak liburan musim semi, terasa sedikit
berat.
Dan saat sore hari, kosentrasi siswa sudah mulai
hilang, dan memasuki mode tidur.
Sorata masih terbangun karena ia sedang memikirkan
desain game shooting-nya nanti.
Karena sudah bisa membuat sendiri, jadi Sorata
memperkecil skalanya, dan target terkecilnya yang penting
bisa bermain, kira-kira ada tiga target, yang pertama yang
utama, yang kedua versus, dan yang ketiga puzzle yang
berwarna. Totalnya ada tiga.
Sepetinya akan lebih menarik kalau yang puzzle
berwarna, tapi saat baru mulai jangan terlau serakah,
fokus dulu yang utama, kalau tidak nanti hasilnya tidak
memuaskan.
Saat sedang berpikir, walaupun sedang belajar, tiba-
tiba pintu kelas terbuka.
Teman-teman yang sedang tertidur pun terbangun
seketika.
95
Tatapan semuanya tertuju pada orang yang membuka
pintu.
Haiya, Shiina-san, ada apa?
Koharu-sensei bertanya.
Aku melupakan sesuatu.
Mashiro menjawab dengan penuh wibawa.
Begitu, ya. Barang apa yang kau lupakan?
Sorata.
Aku?
Selanjutnya, padangan semua orang tertuju pada
Sorata, Nanami menghela napas.
Apa yang terjadi?
Barangmu yang hilang itu Sorata, apa maksudnya?
Apa kalian tidak merasa mereka berdua aneh?
Terdengar suara-suara yang sedang membicarakan
Mashiro dan Sorata.
Koharu-sensei dengan tidak bertanggung jawab
membalas,
Kalau begitu, ambillah.
Tidak, tidak, tidak! Mana boleh, Sensei?
Ah, tidak apa-apa. Lagi pula Sorata juga tidak serius
mengikuti pelajaranku.
Walau memang benar begitu, tapi setidaknya kan tak
boleh.
Pokoknya kau datang saja ke sini.
Koharu-sensei yang menyuruh Sorata datang ke
tempatnya, langsung dibawa pergi oleh Mashiro.
Ah, sebentar, Shiina! Aku belum selesai bicara
Sudah selesai bicara.
Kalau begitu, penggangu sudah pergi, mari lanjutkan
pelajaran.
Padahal aku masih ada di sini!
96
Sorata yang teriak dalam hati masih tetap tidak
ditanggapi.
Silahkan menikmati~~!!!
Dua orang yang pergi bersama-sama, Koharu-sensei
sempat melambaikan tangannya.
Setelah menutup pintu, Sorata dan Mashiro berdiri
sejenak di koridor.
Itu, sensei, sudah tidak tahan lagi
Huh, huh, mereka berdua berpacaran?
Saat ini, terdengar suara Koharu-sensei dari kelas,
sedang membicarakan hal yang tidak berkaitan dengan
pelajaran.
Harusnya kau tetap mengajar!
Lalu, Sorata yang berteriak tetap tidak terdengar oleh
mereka yang ada di dalam kelas.
Sorata dibawa ke suatu tempat, yaitu ruang seni.
Bukan pintu masuk ke kelas, langsung di lihat oleh
empat murid yang ada di dalamnya, salah satunya ada yang
Sorata kenal , yaitu Fukaya Shiho. Murid yang tidak ada di
sini, sepertinya sedang menggambar di tempat lain.
Baru berpikir pertanyaan yang begitu, Shiho langsung
mengayunkan tangannya yang memgang kuas, dan
menggambar. Tapi cat airnya berserakan di mana-mana,
karena ia mengayunkannya secara sembarangan.
Huwaaaa, kenapa bisa begini?
Shiho dengan panik bertanya.
Apa yang dia lakukan, sih?

97
98
Tidak, Sorata sedang apa, tiba tiba keluar dari kelas
gitu, apa yang ingin kau lakukan.
Shiina, sekarang jelaskan padaku, kenapa kau
membawaku ke ruang seni.
Jurusan seni, tugas, menggambar orang.
Kenapa kau menjawab dengan satu kata-satu kata,
huh? Menggambar orang?
Kemungkinan yang bisa dipikirkan dari kata-kata tadi
hanya satu.
Jangan-jangaan mau memintaku jadi model?
Ya, benar.
Serius?
Serius.
Aku menolaknya.
Aku juga menolak tolakanmu.
Apa kau sedang menolakku!
Ya.
Mashiro memberi tekanan dengan matanya yang polos
itu.
Kalao begitu habis sudah, Mashiro yang sudah
membulatkan hati, tidak ada tawar-menawar lagi, kalaupun
aku kabur ke kelas lagi, pasti dia akan mencariku lagi.
Kalau begitu, terima sajalah permintaannya itu, lalu
menyelesaikannya dengan cepat. Kalau Mashiro yang
menggambar, mungkin akan lebih cepat.
Iya aku terima, jadi, apa yang harus kulakukan?
Lepaskan.
Maksud kau, telanjang?
Bukan.
Kalau begitu, buat apa lepaskan?
Homoeopati.

99
Homoeopati apanya? Jangan menggunakan istilah
yang aneh-aneh!
Pergi ke sana.
Mashiro yang menggambar dekat jendela,
menggunakan kuasnya menunjuk ke depan kelas.
Kalau boleh, apa boleh di tempat lain?
Sorata dari tadi diperhatikan terus, maka dari itu dia
ingin ganti tempat, Shiho sampai menyerah melukis lagi dan
memandang Sorata terus.
Kalau begitu, sana.
Kali ini, Mashiro menunjuk atas meja.
Kalau begitu aku dengan berat hati memilih kelas
bagian tengah saja.
Sorata dengan sikap yang rendah hati memilih tempat
yang dituju Mashiro.
Kalau begini boleh tidak?
Boleh.
Perlukah aku berpose?
Tidak perlu.
Sungguh sebuah kabar baik.
Mashiro menaruh kanvasnya di bingkai.
Kira-kira aku akan berdiri berapa lama?
Kira-kira sebulan lah.
Lama sekali! Memang biasa kau lukis selama itu?
Paling lama pun sekitar 2 mingguan.
Kali ini aku akan melukis dengan serius.
Saat teman sekelas Mashiro medengar semua
ucapannya, ia langsung terkejut. Padahal lukisannya sudah
sangat bagus, tapi ternyat selama ini dia belum serius.
Mungkin itu yang dipikir teman sekelas Mashiro sekarang.
Dulu kau juga serius, kan? Jangan kompromi soal itu.
Padahal sudah sangat hebat masih minta bantuanku.
100
Aku akan melukis dengan sangat serius.
Jangan keras kepala seperti anak SD!
Aku anak SMA.
Jangan serius dengan ucapanku yang tadi! Aku hanya
bercanda tadi! Dan ngomong-ngomong, aku bukan peri, aku
tidak bisa tidak bergerak selama sebulan, aku tidak percaya
akan terus berdiri, bagaimana ini?
Ah, begitu, ya.
Kalau begitu, boleh duduk.
Kalau begitu kenapa tidak pakai foto saja?
Tak boleh.
Mashiro menjawab dengan cepat.
Memang sebuah kabar buruk yang disesalkan, huft...
Sorata harus terlihat hidup baru akan bagus
gambarnya.
Apa tidak ada cara lain?
Apa harus Sorata yang terlihat segar baru bagus
gambarnya?
Aku merasa itu lebih buruk lagi!
Walau tidak tahu kenapa Shiho berpikir apa, tapi
sepertinya setelah dengar kata segar wajahnya memerah.
Sepertinya memang harus Sorata yang segar akan
terlihat lebih bagus.
Kau kira aku ikan, huh? Hoi!
?
Mohon jangan diam lagi, cepatlah kosentrasi dan
melukis. Pandangan temanmu itu rasanya sakit, sampai-
sampai sakit ke dalam hati, serius.
Mashiro mengambil barang dari kotak kayu, dan
sepertinya dia sedang merasakannya.
Ah, sudahlah, tidak apa-apa.
Hoi, hoi, Kanda-kun.
101
Shiho mendekatkan tubuhnya ke Sorata yang sudah
tidak bertenaga lagi, dan bertanya dengan suara yang kecil.
Ada apa?
Sorata juga ikut mengecilkan suara. Walaupun begitu,
karena ruang kelas seni sangat tenang, orang lain mungkin
dapat mendengarnya. Dan sepertinya banyak orang yang
sedang menguping pembicaraan kami.
Apa kau berpacaran dengan Shiina-san?

Karena itu merupakan pertanyaan yang sudah sering
ditanyakan, Sorata dengan kecewa melihat Shiho.
Ah, itu merupakan pandangan mata yang sedang
melihat orang bodoh.
Bukannya sebelumnya aku sudah pernah
menjawabnya?
Heh~? Tapi kan sudah lama sejak waktu itu, siapa
tahu ada kejadian yang menyebabkan kalian berdua semakin
dekat?
Tidak mungkin ada.
Belum mulai berpacaran.
Karena dikira Mashiro tidak mendengar pembicaraan
mereka berdua, jadi Sorata keceplosan.
Oh! Karena belum, jadi maksudnya sebentar lagi
akan mulai?
Matanya Shiho mulai berbintang bintang.
Hei , Shiina, jangan bicara hal yang bisa membuat
orang lain salah paham.

Dan sekali lagi, Mashiro fokus ke kanvasnya, dan tidak
mendengar Sorata berbicara.
Kau pasti sengaja!

102
Dan terima kasih, sekarang Shiho dan empat murid
lainnya memandang Sorata lagi, seperti meminta penjelasan
lebih lanjut. Sorata yang berada di situasi begini hanya bisa
menghela napas.
Dan tidak lama, pintu kelas terbuka. Chihiro-sensei
berjalan masuk.
Chihiro-sensei seperti menyadari adanya kehadiran
Sorata, dan meliriknya.
Apa yang kau lakukan?
Sepertinya menjadi model melukis.
Sorata memindahkan pandangannya ke Mashiro, dan
seperti meminta Mashiro untuk menjelaskannya ke Chihiro-
sensei.
Ah, begitu, ya.
Tapi, Chihiro sudah seperti tidak tertarik lagi dan
duduk di kursi dekat sudut kelas, dan mulai menguap
dengan mulutnya yang terbuka lebar itu.
Chihiro-sensei, apa Anda tidak melupakan hal seperti,
Apa kau tidak perlu belajar?
Pokoknya kau bolos kelas, kan? Dengan lihat sudah
bisa tahu. Karena begitulah kenapa murid Sakurasou sangat
memusingkan kami para guru.
Harusnya aku yang pusing karena dianggap seperti
itu!
Bukan karena ingin bolos jadi bolos.
Eng? Aapa ini salahku?
Benar.
Shiina jangan terlihat seperti mangakuinya! Ngomong-
ngomong, aku sudah boleh balik ke kelas, kan? Sekarang
aku balik, ya ? Bagaimanapun tidak boleh bolos pelajaran,
kan? Masalah model suruh Chihiro-sensei saja.

103
Setelah Sorata selesai berbicara, Mashiro tampaknya
tidak begitu senang.
Sorata perlakukanku dengan kasar, tapi perlakukan
Nanami dengan lemah lembut.
Ka-kau bicara apaan tadi?
Karena di depan semuanya, jadi detakan jantung
bertambah cepat lagi.
Akhir-akhir ini, bagian di sebelah sini terasa aneh.
Mashiro memegang dadanya.
Setiap melihat Sorata, terasa aneh.
Memandang Sorata dengan tatapan penuh
kebingungan.
Tidak begitu mengerti, terasa sesak.
Walau karena ekspresi Mashiro tidak terlihat sedang
menderita, tapi wajahnya memerah, seperti sangat malu.
Dan sorata berdebar debar karena berbagai alasan tadi.
Walau sebelumnya sudah tahu, tapi Mashiro yang hari ini
membawa sedikit kehangatan, dan terlihat lucu.
Jadi memutuskan untuk melukis.

Sorata tibat-tiba teringat hal-hal yang terjadi empat
hari yang lalu. Waktu itu Mashiro bilang akan menyusun
strategi. Walau terlihat sedang bercanda, tapi sepertinya
serius. Dan situasi saat ini, mungkin hasil yang dia pikirkan
selama empat hari.
Dan kalimat yang diucapkan Mashiro selanjutnya,
membuktikan bahwa kesimpulannya benar.
Entah kenapa aku rasanya mengerti perasaan yang
sesak ini saat melukis Sorata.
Walau Sorata sudah menebak benar dengan indah, tapi
Sorata tidak merasa bangga sedikitpun. Sama sekali tidak
ada tenaga untuk berbangga, dan wajahnya mulai memerah.
104
Sorata sudah mengerti alasan sebenarnya Mashiro
merasa sesak. Mashiro mencoba mencari jawabanya
dengan alasan melukis Sorata, dengan gambar melukis
perasaannya, karena ia tidak pandai dengan kata-kata
ataupun perilaku.
Sekarang yang aku ingin lukis hanya Sorata seorang.
Empat murid yang termasuk Shiho di dalamnya
semua sudah berhenti melukis, seperti ditahan sesuatu dan
konsetrasi ke pembicaraan antara Sorata dengan Mashiro.
Tidak bisa lari ke mana-mana, kalau Mashiro sudah
berucap sampai begini, ya, tidak bisa di tolak lagi.
Iya, iya. Aku akan jadi modelmu, akan kulakukan.
Mashiro dengan caranya sendiri maju terus, Sorata
tentu tidak boleh menghalanginya. Walau menurut Sorata ,
itu merupakan pengertian yang berbeda baginya.
Tapi, tidak boleh saat jam pelajaran, tunggu saja jam
istirahat.
Mashiro mengangguk-ngangguk kepala.
Aku mengerti.
Terima kasih karena sudah mengerti.
Demikian, aku dan Sorata sudah melewati garis itu.
Mashiro dengan berani mengatakannya, dan Shiho
berteriak dengan senang, murid yang lain juga menutup
telinga, memutar badannya dan mengeluarkan suara yang
aneh.
Ka-kau, ngomong apaan di tempat umum begini?
Bo-bodoh! Bu-bukan begitu! Yang dikatakannya tadi bukan
begitu! Kalau ada yang mendengar percakapan kami yang
sebelumnya pasti akan mengerti!
Sorata dengan mati-matian menjelaskannya, tetapi
para murid jurusan seni semuanya kembali ke tugas masing
masing , dan membisik,
105
Bagian ini harus gimana?
Ah, pusing sekali, aku tidak tahu mau memberi warna
apa.
Sepertinya memang lebih baik meninggalkan tempat
ini dengan cepat.
Baik, sekarang aku kembali ke kelas dulu.
Mashiro mengantar Sorata keluar ke kelasnya.

Saat sepulang sekolah, karena kejadian di ruang kelas


seni, Sorata dihadapkan sebuah pilihan yang sulit. Kejadiaan
ini terjadi setelah selesai piket, Mashiro dan Nanami mencari
Sorata di saat yang bersamaan.
Sorata, datang ke ruang kelas seni.
Kanda-kun, apa mau menemaniku latihan?
Hnnn...
Hnnn?
Mashiro dan Nanami saling memandang.


Di antara Mashiro dan Nanami, seperti terlihat
percikan api yang kecil, dan di saat yang bersamaan, mereka
memandang Sorata.
Sorata, pilih mana?
Kanda-kun, bagaimana?
Situasi apa ini? Se-sebentar, tenangkan dirimu dulu.
Aku selalu tenang, kok.
Ya.
Yang panik itu Kanda-kun sebenarnya.
Benar.
Ah, onii chan~!!

106
Di situasi begini, terdengar suara orang bodoh. Ternyata
Yuuko. Kalau biasanya Sorata pasti berpikir bertambah lagi
masalah, tapi saat ini Sorata menganggapnya penyelamat.
Sepertinya hanya keluarga yang mempunyai hubungan
darah yang bisa diandalkan saat bertemu jalan buntu.
Yuuko, ada apa?
Hnnn, hnnn, walau sedikit susah untuk
mengatakannya
Ah, jangan khawatirkan itu, bilang saja, kita kan
kakak beradik yang mempunyai hubungan darah.
Kalau begitu, aku bilang sekarang, ya? Onii-chan,
sekarang kencanlah dengan Yuuko!
Jangan membuat situasi ini menjadi lebih kacau lagi!
Pokoknya, memberi Yuuko pelajaran dulu supaya dia
diam.
Ah, onii-chan, sakit! Apa ini yang namanya kasih
sayang?!
Sorata.
Kanda-kun.
Mashiro dan Nanami memaksa Sorata memilih.
Ah, apa harus aku yang pilih?
Apa tidak bisa berurutan?
Sesaat Sorata berpikir begitu, telepon genggamnya
pun berbunyi.
Sorata, program utamanya sudah selesai.
Email dari Ryuunosuke.
Sorata.
Kanda-kun.
Onii-chan!
Cepat ke sini!
Ternyata aku memang populer, ya?

107
Bulan April, tanggal 12
Hari ini, rekor pertemuannya Sakurasou tertulis.
Kira-kira hubungan kami akan terus begini. Tapi
ternyata tidak, malah terbalik, setiap orang sudah mulai
berubah saat ini. Sorata-sama baru sedikit menyadarinya,
balas maid-chan.
Akasaka~! Kenapa kau menambahkan fungis yang
aneh pada maid-chan? balas Kanda Sorata.
Bisa mendapat pujian darimu merupakan
kehormatanku, balas Akasaka Ryuunosuke.

108
109
Bab 2
The Cinderella Who Forgot Her
Panties

Bagian 1
Sudah dua minggu lebih sejak semester baru, bulan
April tanggal 21, hari Kamis. Jam istirahat, siang hari ini,
Sorata dipanggil Koharu-sensei.
Kalau begitu, sekarang mari kitamulai interview-nya,
Kanda-kun.
Senang bertemu denganmu.
Di gedung kosong lantai satu yang tidak dipakai, dua
meja saling menghadap, Sorata dan Koharu-sensei pun
memulai interview-nya.
Di kelas yang luas, hanya ada Sorata dan Koharu-sensei,
karena hanya berdua jadinya sepi dan diam, dan terdengar
suara yang siswa-siswa yang sedang bermain basket.
Hnnn~~ tujuan Sorata setelah lulus SMA adalah
Universitas Suimei Jurusan Seni, Departemen Media Art?
Benar.
Apa pernah berpikir jika kau akan gagal masuk ke
sana?
Kalau gagal aku berpikir untuk mengikuti ujian biasa.
Begitu, pantas saja di kertas surveinya hanya tertulis
satu.
Koharu-sensei mengangguk-ngangguk kepala, dan
melihat berkas-berkas yang ada.

110
Hn~~ aku juga sudah melihat tujuanmurid lain, dan
jika dilihat dari nilainya Kanda-kun, kira-kira hanya 5%
kalau ingin berhasil masuk ke jurusan seninya. Kalau nanti,
peminat jurusannya sedikit,mungkin kamu akan diterima,
ya, kira-kira seperti itu.
Kalau harus diterima lewat hasil nilainya, ya, apa boleh
perbuat.
Walaupun begitu, kamu tetap tidak boleh menyerah,
dan perbaikilah nilai-nilaimu yang ada. Kamu tahu kan nilai
semester satu ini akan mempengaruhi diterima atau tidak
nanti?
Ya.
Akan lebih baik kalau kamu meningkatkan nilaimu,
juga ingat saat pelajaran, jangan suka tidur.
Pandangan mata Koharu-sensei seperti
memperingatkan terutama di pelajaranku.
Sekalian bertanya, kamu sudah bersiap-siap untuk
ulangan?
Belum.
Bersiap siap-saja dulu. Walaupun hasil rekomendasinya
akan keluar saat akhir semester 1, tapi sebaiknya mulailah
belajar saat ini, kalau tidak nanti akan terlambat.
benar juga.
Sini, ini aku berikan kamu.
Koharu-sensei memberi Sorata setumpuk kertas
yang terdiri dari 10 lembar lebih. Sorata menerimanya dan
bertanya, Apa ini?
Ini soal ujian masuk Departemen Media Art tahun
lalu. Coba kamu kerjakan, mungkin akan membantu.

Ada apa ini? Kenapa Koharu-sensei terlihat bisa
diandalkan?
111
Kenapa memandangku terus? Apa mau menyatakan
cinta? Jangan-jangan sejak kelas satu sudah menyukaiku?
Tiap malam memimpikan sensei?
Pokoknya kesampingkan dulu soal lawakan Koharu-
sensei.
Kalau sensei lagi serius, bisa diandalkan juga.
Jadi kamu jatuh cinta padaku?
Tidak pernah sekalipun!
Niatnya ingin memuji sensei, karena sifatnya yang
begitu, alhasil tak jadi.
Ah, Kanda-kun membosankan.
Koharu-sensei mengeluarkan suara yang manja.
Hanya permainan percintaan antara guru dan murid
yang terlarang, kok. Ikut main sebentar lah. Kadang-kadang
Mitaka-kun menemani sensei bermain, lho.
Jangan membandingkanku dengan Si Maharaja itu!
Kalau begitu, interview-nya sudah selesai, kan?
Topik tiba-tiba menuju arah yang aneh.
Sensei serius, Kanda-kun.
Raut muka Koharu-sensei tiba-tiba menjadi serius,
seperti menyuruh Sorata berpikri bagaimana dengan
universitas lain untuk berjaga-jaga, tapi, Sorata sudah
memutuskan selain Universitas Suimei Jurusan Seni dia
tidak akan ke mana-mana.
Apa kau sedang berpacaran dengan Shiina-san?
Kau sudah bosan hidup, ya?
Sorata lupa jika lawan bicaranya adalah Koharu-sensei.
Tidak, ya? Bukannya kalian selalu kencan di ruang
kelas seni setiap sepulang sekolah?
Itu hanya menjadi model melukisnya.

112
Walau sudah berjalan 10 hari lebih, dan tiap hari
datang ke ruang kelas seni. Dan Sorata memperkirakan
sepertinya benar-benar membutuhkan waktu satu bulan
untuk menyelesaikan lukisannya. Soalnya Mashiro keras
kepala tidak mau menunjukan lukisannya sebelum dia
selesai, jadi Sorata pun tidak tahu sudah sampai mana.
Saat selesai menjadi model hari selasa, Sorata ingin
mengintip hasil lukisannya
Tidak boleh lihat.
Begitulah ucapan Mashiro sambil menunjukankuasnya
hingga membuat Sorata terkejut.
Tidak boleh lihat sebelum selesai.
Apa kau tidak bersyukur karena aku menjadi model
melukismu?
Pokoknya belum boleh lihat.
Kalaukulihat bagaimana?
Aku akan menghabiskan Sorata saat
Saat?
saat Sorata tidur.
Waktu saat kau melakukannya membuatku takut, ini
bisa membuatku tidak bisa tidur malam ini!
Sepertinya dulu juga pernah ada percakapan seperti
sekarang.
Dan aku tidak pernah lihat reaksi Mashiro seperti
sekarang ini, juga dia melukis dengan sangat serius, dan
Sorata merasa lukisan Mashiro yang saat ini sangat berarti.
Kalau sudah selesai apa kau akan membiarkanku
lihat?
Kalau sudah selesai, aku akan membuatmu menjadi
pertama yang melihatnya.
Kalau begitu janji, ya?
Janji.
113
Kali ini lukisan seperti apa, ya? Sorata mulai penasaran.
Lukisan Sakurasou yang sebelumnya Mashiro lukiskan,
dipenuhi oleh perasaannya Mashiro. Setiap memikirkan itu,
Sorata yang tidak ingin melihatnya juga menjadi ingin, ya,
perasaan itu masing-masing 50%.
Jadi setiap berduaan dengan Mashiro setelah pulang
sekolah, membuat perasaan Sorata menjadi bingung dan
gugup.
Mungkin saat lukisannya selesai, akan menjelaskan
apa arti diri sendiri di pikirannya Mashiro.
Kalau begitu, Kanda-kun.
Koharu-sensei meneriakkan nama Sorata, dan Sorata
pun mulai fokus ke pembicaraan dengan Koharu-sensei.
Ada apa?
Apa kau sedang berpacaran dengan Aoyama-san?
Apa kau ingin mati?
Interview macam apa ini?!!@#$^$^%*&($%%@#!
Bukannya kalian sering menukar surat saat pelajaran?
Hnnn...
Tidak disangka akan diketahui oleh Koharu-sensei.
Padahal isi biasanya hanya makan malam nanti apa, ya? ,
atau, dikulkas masih sisa apa, ya?, atau, nanti pulang ke
distrik pembelanjaan beli daging, yuk!.
Tentang Nanami, Sorata juga hampir setiap hari
menjadi lawan latihannya. Walau Nanami terlihat semakin
hebat, tapi sepertinya dia tidak sadar.
Dan juga saat ini, Sorata sudah mulai membuat game,
jadi jadwal dalam sehari itu lumayan ketat.

114
Saat bangun pagi; mengurus Mashiro dan pergi ke
sekolah dan belajar di sekolah, sambil memikirkan hal-hal
tenang pembuatan game. Saat sepulang sekolah menjadi
model melukisnya Mashiro, saat pulang ke Sakurasou
menjadi lawan latihannya Nanami, setelah itu memanfaatkan
waktu yang masih ada untuk membuat game.
Program utama yang disiapkan Ryuunosuke untuk
Sorata sangat gampang, bahkan Sorata sekalipun bisa
membuat game berdasarkan itu.
Hari pertama sudah bisa menampilkan karakter
yang dimainkan oleh player di layar. Hanya hasil sekecil
itu sudah bisa membuat Sorata merasa sangat senang, dan
memperjelas karakter yang ada di dalam layar yang hitam
itu Sorata masih belum bisa.
Hari kedua sudah bisa mengotrol karakter ke kiri,
kanan, atas, bawah. Seperti orang bodoh yang hanya bisa
bergerak tetapi belum bisa menembakkan apapun. Hari
ketiga sudah bisa menembakan peluru, tapi hanya satu.
Dan hari ke empat memusingkan bagaimana caranya untuk
bisa menembakan peluru secara terus menerus. Dan Sorata
pusing untuk mengurusi bug yang banyak. Dan akhirnya hari
kelima sudah bisa menembak secara terus menerus. Saat
sudah sampai sini, mulai bisa melihat sedikit perkembangan
pada game-nya, dan terlihat sangat menarik.
Dan kira-kira saat sudah 10 hari atau lebih, prosesnya
sudah bisa sampai ke peluru mengenai musuh, musuh saat
diledakkan akan mati, dan sudah sampai di tahap di mana
pemain akan mengumpulkan poin. Kontrol, menembak,
terkena sasaran, ledakan, akhirnya dasar-dasarnya sudah
selesai.

115
Hampir tiap malam mengurus hal beginian, sampai
lelah baru tidur, dan tidak pernah mengeluh. Tiap hari serasa
ingin lanjutkan terus, tangan terasa gatal. Dan selanjutnya,
saat sudah bangun pagi mengurus Mashiro dulu , lalu pergi
ke sekolah, seperti itulah tiap hari terulang.
Jujur saja, sebenarnya tidak ada waktu untuk menemani
Koharu-sensei mengobrol. Kalau ada waktu lebih sebelum
pulang pasti akan dipakai untuk memikirkan gerakan sepert
apa yang dipakai oleh musuh.
Sepertinya interview-nya sudah selesai, aku balik ke
kelas dulu, yo.
Sorata tidak menunggu balasan dari Koharu-sensei
dan langsung berdiri meninggalkannya.
Kanda-kun tak seru~~!!
Aku pergi dulu.
Ah, sekalian beritahu, saat itu aku tidak khawatir
sama sekali, lho, dan berhasil masu ke Universitas Suimei
Jurusan Seni.
Koharu-sensei berbicara begitu.
Karena untuk melampiaskan amarah, jadi sensei ingin
bilang hal seperti kalau menurut level manusia, levelku
lebih tinggi, lho, kan?
Hnnn...
Koharu-sensei dengan senang tersenyum.
Diriku yang ingin memuji Koharu-sensei benar-benar
salah besar
Sorata memikirkannya dalam hati, dan meninggalkan
kelas yang dipakai untuk interview.
Sorata dengan malas berjalan di koridor untuk menuju
ke gedung utama.

116
Di tengah jalan, Sorata melihat sebuah kertas yang
tertempel di mading, kertasnya tertulis murid bermasalah,
bla bla bla bla.
Yang akan menulis hal aneh seperti ini sepertinya
hanya anak TK saja. Tapi kenapa kertas seperti itu tertempel
di mading?
Setidak tulisnya yang benar sedikit, dong.
Kalau diperhatikan dengan jelas, ada beberapa coretan
yang dihapus.
Heh? Sorata-senpai, apa yang kau lakukan di sini?
Sorata terdengar dirinya sedang dipanggil dan
memutar badannya, terlihat Iori yang sedang memegang
partitur. Sepertinya dia bersama dua teman sekelasnya, yang
satu memakai kacamata, bingkainya warna hitam, dan yang
satunya lagi wajahnya terlihat seperti boneka, ada perasaan
kalau dia dari keluarga yang kaya.
Iori, kami duluan, ya.
Jangan telat, ya, Iori-kun.
Aku tahu.
Iori melambaikan tangannya ke temannya, temannya
tidak membalas dan langsung pergi saja.
Walau hanya sebuah percakapan yang pendek, tapi
Sorata merasakan Kalau Iori dan teman sekelasnya tidak
begitu cocok.
Baru dua minggu lebih mulai sekolah, kau sudah
mulai berteman akrab dengan beberapa orang.
Saling memanggil nama masing-masing tanpa ragu,
tidak merasa gengsi sedikitpun.
Ah, maksudmu Naoya dan Sho, ya? Yang berkacamata
itu adalah Takesato Naoya, dan yang agak pendek itu
Kasukabe Sho, aku sudah kenal dengan mereka sejak dulu.
Huh?
117
Atau dengan kata lain, kalau hanya kami, yang lain
kami juga sudah kenal.
Maksudnya?
Jangan bilang saat ujian masuk pernah ketemu.
Yang bisa masuk ke Suimei, hampir semuanya pernah
ikut lomba di SMP, dan sampai final. Aku pertama kali
bertemu Naoya dan Sho, kira-kira saat umurku delapan.
Iori sepertinya tidak merasa bangga. Dengan kata lain,
itu adalah langganan lomba, juga orang-orang yang hebat
, jadinya saling kenal.
Mungkin karena setiap setahun setidaknya kan
bertemu di suatu tempat, jadinya cepat akrab.
jurusan musik memang hebat.
Walaupun tidak pernah terpikirkan, tapi jurusan
jurusan di Suimei itu merupakankumpulan orang hebat. Dan
Iori sepertinya salah satunya.
Harusnya dia tidak berpikir untuk berpindah ke divisi
reguler.
Ah, sebelum pelajaran dimulai aku ingin membaca
sebuah partitur. Duluan, ya!
Saat Iori meninggalkan Sorata, ia berlari kecil menuju
gedung lain.
Dan saat sudah tidak nampak Iori lagi, Sorata bertanya-
tanya.
Walau dia bilang ingin pindah ke divisi reguler, tetapi
dia tetap sangat rajin, ya?
Mungkin ia hanya ragu-ragu ingin berpindah jurusan.
Soalnya melihat Iori yang sekrang, siapapun rasanya akan
berpikir begitu. Terlihat akrab dengan teman-teman, rajin
dan serius belajar, juga setiap malam berlatih piano, tiap
hampir subuh ia baru tidur.
Aku tidak paham.
118
Saat Sorata melangkah untuk balik ke kelasnya. Di
tengah jalan, ia tertabrak seorang murid perempuan.
Ah!
Oh.
Di saat Sorata merasa bahaya, dia berhasil menangkap
muridnya.
Ah, maaf.
Keduanya saling mundur selangkah.
Saat ini, Sorata baru sempat melihat wajahnya, dan
ternyata ia adalah murid kelas satu yang rasanya pernah
dilihatnya. Saat upacara penerimaan murid baru, yang
mewakili murid baru untuk memberi kata sambutan. Kalau
tidak salah, namanya Hase Kanna. Kacamatanya yang
membuatku ingat, dari pandangan matanya terlihat tekad
yangkuat, seragamnya sangat cocok dengannya, seragamnya
rapi, dai terikat dengan bagus, bahkan roknya tidak terlalu
pendek, memang memberikan kesan murid teladan. Sorata
bahkan sempat mengiranya anggota OSIS.
Di saat ingin menegurnya, Sorata merasa tidak enak.
Tolong berhati-hati.
Bibirnya yang lembut, dan ia mengangkat kepalanya
ke atas memandang Sorata.
Maaf.
Sorata meminta maaf lagi.
Bisa minggir tidak?
Sikap Hase Kanna sepertinya tegas, mungkin biasanya
dia juga seperti itu.
Maaf.
Saat Sorata ingin minggir.
Bisa tidak jangan meminta maaf terus.
Walau ia berkata begitu, ia tetap dengan sopan, dan
pergi menuju ruang kelasnya.
119
Sama sekali tidak terlihat setahun dengan Yuuko
Sorata berharap adiknya bisa bertambah dewasa, dan
saat baru ingin menuju ke kelas. Kaki terinjak sesuatu.
Sorata melihat lantai, dan terlihat ikat rambut berwarna
hitam.
Sepertinya ini milik Hase Kanna, saat dia tertabrak
denganku. Sorata berpikir begitu dan memungutnya.
Sorata merasakan sedikit suhu tubuh dari ikat
rambutnya.
Hnnn?
Melihat dengan teliti, baru sadar kalau itu bukan ikat
rambut.
Ah!
Barang yang terliahtkusut, tidak diragukan lagi, itu
celana dalam! Warna hitam, memberi perasaan yang seksi.
Heh? Kenapa?!
Walaupun berpikir dengan keras, tetap saja tidak bisa
menjelaskan situasi saat ini.
Biasanya , harusnya tidak ada celana dalam yang jatuh
begitu saja.
Apa ini? Apa ini adalah cobaan yang dunia berikan
padaku?!
Kalau memang ada orang menjatuhkannya, tidak
diragukan lagi, itu pasti Mashiro.
Dunia tidak memberi Sorata cobaan.
Uwaaaaaaaaaaa~~!!!
Sorata terkejut oleh suara yang tiba-tiba terdengar.
Shi-Shiina, kenapa kau bisa ada di sini.
Di sini adalah lantai satu. Kelas siswa kelas tiga ada di
lantai tiga, dan ruang kelas seni yang dipakai oleh jurusan
seni juga di lantai tiga gedung lain.
Aku sedang mencari Sorata.
120
Serius?
Anggap saja begitu.
Sepertinya kau tersesat.
Bukan.
Mungkin karena akibat naik ke kelas tiga dan
mengganti kelas, dia belum terbiasa.
Shiina.
Ada apa?
Sekarang perlu investigasi pelaku yang paling
mencurigakan dulu.
Aku akan bertanya satu hal yangkurang sopan
padamu.
Silahkan.
Apa kau ada memakai celana dalam?
Mashiro dengan bingung memikirkannya.
Tidak, tidak, ini bukan hal yang perlu dipikirkan
sampai segitunya!
Benar juga.
Kali ini dia memasukan tangannya ke dalam roknya.
Ini juga bukan hal yang perlu dikonfirmasikan!
Kau pakai?
Tentu.
Apa kau ingin melihatnya?
Boleh, perlihatkanlah padaku.
Sorata menunjukan sikap yang keras. Karena tidak
boleh selalu dipermainkan olehnya.
Tidak boleh membiarkanmu melihatnya.
Kalau begitu percakapan tadi harusnya tidak
diperlukan!
Yang repot itu, tersangka pertama dipastikan tidak
masalah.

121
Mashiro melihat celana dalam yang sedang dipegang
Sorata.
Celana dalam itu bukan milikku.
Selain kau di sekolah ini, aku tidak kenal orang yang
akan menjatuhkan celana dalamnya sendiri.
Sorata tidak tahu apapun.
Kalau begitu, Shiina, apa kau kenal?
Yang pastinya orang lain dan bukan aku.
Kebetulan aku juga berpikir begitu
Sorata dengan tidak sengaja mengalihkan
pandangannya ke ruang kelas sisiwa kelas satu.
Tidak, tidak mungkin
Yang tertabrak tadi adalah Hase Kanna, dia adalah
murid teladan yang mewakili seluruh siswa kelas satu untuk
memberi kata sambutan.
Shiina, apa kau yakin benar-benar bukan kau?
Apa kau mencurigaiku?
Tentu saja aku mencurigaimu.
Padahal kau sudah pernah melihat semua celana
dalamku.
Ya, memang benar, dan kalau orang lain tahu tentang
ini, aku pasti akan dianggap sebagai orang mesum!
Dan kalau diperhatikan, diriku yang sekarang ini
sedang memegang celana dalam, ini situasi yang buruk.
Kalau dilihat seseorang, tamat sudah kehidupan masa SMA-
ku. Dan pasti akan dijuluki si mesum, atau maniak celana
dalam.
Kanda-kun yang sedang memegang celana dalam,
dilihat bagaimanapun, pasti akan dianggap orang mesum.
Huwaaa~!!! Kenapa sampai ada Aoyama di sini?
Dia bukan Mashiro, harusnya dia tidak mungkin
tersesat di sini.
122
Aku ingin ke UKS, soalnya ada sedikit keperluan.
Bicara Nanami sedikit berbelit-belit.
Tidak enak badan? Apa baik-baik saja?
Ti-tidak apa, bukan begitu.
Suasana dekat Nanami terasa sedikit aneh, dan
sepertinya Sorata tahu apa itu. Ya , suatu hal yang akan
membuat canggung laki-laki.
Pasti hari itu.
Ma-mashiro!

Yang tadi pura-pura saja tidak dengar, kasihan melihat
Nanami.
Po-pokoknya jangan urus ini dulu, itu yang dipegang
Kanda-kun!
Nanami memindah topik ke soal celana dalam lagi.
Kau mencurinya dari mana?
Aku pungut di sini!
Sebenarnya sedikit sulit dipercaya begitu saja.
Tolong percaya padaku, kalau tidak kita bisa
melanjutkan percakapan ini.
Baik.
Padahal bukan salah Sorata, tetapi Nanami menghela
napas.
Sekalian bertanya, mohon bantuannya, kira-kira
saat seperti apa Aoyama akan melepaskan celana dalam di
sekolah? Lalu menjatuhkan celana dalamnya?
Dengan kata lain, sekarang aku boleh menamparmu,
kan?
Nanami tersenyum kecil.
Sorata merasakan hawa dingin di belakang
punggungnya.

123
Bu-bukan begitu! Aku tidak bermaksud untuk
bertanya pertanyan seperti ini!
Kalau bukan, apa?!
Aku hanya ingin memecahkan misteri ini.
Kenapa ada orang bisa kehilangan celana dalamnya di
sekolah.
Kanda-kun, barang itu bagaimana kau akan
mengurusnya?
Pilihan pertama, menyerahkan kepada guru, dan
beritahu bahwa kutemui di koridor.
Menurutmu apa yang akan dilakukan guru-guru
setelah mendengarmu berbicara begitu?
Kira-kira seperti menyerahlah kau, pencuri celana
dalam!
Aku juga berpikir begitu.
Jadi, pilihan pertama jelas jelas tidak bisa.
Pilihan kedua, meletakkan kembali ke asalnya, walau
mungkin pemiliknya pasti akan sadar, jadi aku merasa
sedikit tidak bertanggung jawab.
Walau dalam hati masih belum bisa percaya bahwa
pemiliknya adalah Hase Kanna, tapi kalau begitu,
setidaknya masalah selesai, dan lihat situasi dulu, baru
kembalikan ke pemiliknya. Ya, ini merupakan cara terbaik,
baik untuk kedua belah pihak.
Ya, sementara menyimpannya dulu.
Mulai sekarang, aku akan menaruh celana dalam ini
di sakuku.
Kalau tidak menyimpan, sama saja seperti bunuh diri
bagi Sorata. Itu sangat berbahaya, dan Sorata sudah sangat
lelah.
Jadi tolong , Shiina dan Aoyama tutuplah mata kalian,
atau memutar badan kalian?
124
Sorata.
Mashiro memanggil Sorata, dan mengeluarkan
ponselnya.
Ajarkan aku cara untuk berfoto.
Kenapa kau bertanya sekarang?
Soalnya sekarang saat yang tepat untuk mengambil
foto Sorata.
Tolong jangan begitu, kumohon!
Kalau difoto saat sedang menyimpan celana dalam ke
saku itu akan menghancurkan hatiku.
Dan perhatikan lebih jelas, Nanami juga sudah siap
untuk berfoto dengan Sorata.
Siapa tahu akan berguna suatu saat nanti.
Apa kau ingin mengancamku?!
Sorata, beritahu aku cara untuk mengambil foto.
Mashiro tarik-tarik lengan Sorata.
Mana ada orang bodoh yang akan mengajarkan cara
mengambil foto di saat begini!
Mashiro, tekan ini.
Ah~! Aoyama, jangan ajarkan dia!
Mashiro dengan cepat menekan tombol untuk
mengambil foto.
Sudah kufoto.
Walaupun hasilnya kurang bagus, tapi sepertinya
Mashiro terlihat sangat senang.
Sorata, coba lihat.
Mashiro menunjukkan fotonya, terfoto Sorata yang
sedang panik.
Aku ingin menjadikannya layar.
Apa maksudmu wallpaper?
Nanami bertanya, dan Mashiro mengangguk-
anggukkan kepalanya.
125
Kalau begitu bisa disetel dari bagian ini.
Terima kasih, Nanami.
Sepertinya foto Sorata dijadikan wallpaper handphone
oleh Mashiro, dan Mashiro menyimpannya dalam saku,
terlihat sangat senang.
Kanda-kun , lihat ke sini.
Hnnn?
Saat Sorata memutar kepalnya , Nanami mengambil
foto Sorata.
Aku bukan panda yang ada di kebun binatang.
Tidak sepopuler panda yang ada di kebun binatang
sepertinya.
Kalau begitu jangan foto!
Mereka berdua sepertinya sudah cukup puas dengan
foto yang diambilnya tadi, tapi syukurlah, tidak terfoto
Sorata saat sedang memegang celana dalam.
Tetapi, masalah belum selesai. Karena celana dalam
masih ada di sini
apa benar ini dijatuhkan oleh Hase Kanna tadi.
Sorata sangat tidak yakin.

Bagian 2
Hari berikutnya setelah Sorata memungut celana
dalam, Sorata diberi pukulan oleh kucing yang dipeliharanya
dang berangkat ke sekolah dengan Mashiro dan Nanami
seperti biasanya.
Tapi, bagian yang biasanya hanya sampai saat
membuka lemari sepatu.
Di atas sepatu indoor terlihat selembar surat berwarna
merah muda, tulisanya seperti tulisan perempuan, dan
tertulis untuk Mr. Kanda Sorata.
Apa ini mimpi?
126
Di saat Sorata tidak yakin, ia mengeluarkan suratnya
dan mengecek bagian belakangnya. Tidak tertulis nama
pengirimnya.
Pokoknya baca saja dulu , Sorata dengan hati-hati
membuka surat itu.
Di dalamnya ada kartu pesan.
Saat sepulang sekolah, tolong datang ke loteng
sekolah.
Jangan-jangan itu?
Surat cinta sepertinya.
Sorata terkejut mengangkat kepalanya, dan terlihat
Mashiro dan Nanami yang berdiri disampingnya, mereka
berdua menatap suratnya terus.
Pasti itu
Itu?
Sepertinya perbuatan Yuuko?
Memang kemungkinannya sangat tinggi.
Walau begitu, Kanda-kun sepertinya terlihat sangat
senang.
Kalau begitu Aoyama-san malah terlihat tidak senang.
Tidak! Surat cinta yang diterima Kanda-kun itu
tidak ada hubungannya denganku
Padahal terlihat sangat bermasalah.
Mengenai Mashiro, dia menatap Sorata terus, sedikti
demi sedikti mendekatkan wajahnya ke Sorata. Sorata
merasa tekanan yang luar biasa dari Mashiro.
Onii-chan!
Saat ini Yuuko berlari kemarin, tapi pandangan Sorata
bukan berada di Yuuko, malah di belakangnya, yaitu Hase
Kanna.
Yuuko seperti menyadarinya dan dengan bangga ia
memperkenalkannya.
127
Dia adalah temanku Kanna. Kami juga sekelas!
Sepertinya teman sekamar yang dibanggakan Yuuko
saat upacara penerimaan adalah dia.
Kanna itu murid teladan yang mewakili siswa-siswi
kelas satu memberikan kata sambutan.
Kami juga ada melihatnya, jadi tahu.
Karena Sorata juga menghadiri upacara penerimaannya.
Senang bertemu denganmu, dan salam kenal, namaku
Hase Kanna.
Kanna tetap menjaga jarak dan dengan sangat sopan
memberikan salam.
Ah, hnnn, walau kemarin pernah ketemu. Tapi
bagaimanapun baru bertemu hari ini, salam kenal.
Hnnn? Apa begitu, onii-chan, Kanna?
Yuuko menatap Sorata dan Kanna.
Maaf, apa kita pernah bertemu?
Kanna mengeluarkan eskpresi yang terkejut.
Tidak, hanya tidak sengaja tertabrak.
Sorata menjelaskan saat ia menabraknya, mungkin dia
akan mengingatnya.
Maaf.
Walau begitu, reaksi Kanna tetap sama.
Onii-chan aneh, ih! jangan-jangan karena Kanna
cantik, jadi onii-chan ingin menggodanya! Seperti, Hnnn?
Maaf nona, apa kita pernah bertemu?, Tidak, ini pertama
kalinya kita bertemu. Ah begitu, maafkan saya. Sepertinya
kita sudah pernah bertemu di mimpi kemarin malam?
Kata-kata tidak menyenangkan apa itu?
Dia belajarnya dari mana?
Apa itu surat?
Kanna sepertinya baru sadar Sorata sedang memegang
surat.
128
Hnnn? Onii-chan dapat surat cinta!
Yuuko , kau masih pura-pura?
Bukan Yuuko yang menulis?
Tanya Mashiro dan Nanami..
Bukan! Tapi ternyata ada cara seperti ini juga, ya!
Tidak, tidak ada.
Reaksi Yuuko sepertinya tidak sedang bohong. Karena
dia bodoh, jadi kalau dia sedang bohong, pasti langsung
nampak, kalau begitu siapa pengirimnya?
Onii-channya Kanda-san populer ternyata.
Kanna terlihat tidak tertarik, dan pandangan matanya
sedikit dingin.
Kanda-san, ayo pergi, kalau tidak nanti telat. Senpai ,
maaf kami duluan.
Ah, Kanna, tunggu sebentar! Lagi pula panggil aku
Yuuko saja, tidak perlu malu-malu.
Yuuko langsung menyusul Kanna di belakangnya, dan
menuju ke kelas.
Tinggal Sorata, Mashiro, dan Nanami bertiga.
Mereka fokus lagi ke surat cintanya.
Kanda-kun, aku hanya bilang jika, ya
A-apa?
Mendengar suara Nanami yang gugup, Sorata ikut
gugup juga.
Kalau memang benar itu surat cinta
Kalau memang benar itu surat cinta?
Saat kau pergi ke loteng sekolah
Saat aku pergi ke loteng sekolah?
Ada seorang perempuan yang cantik menunggumu.
Lalu?
Kalau begitu, Ka-Kanda-kun...

129
Walau ingin melanjutkan kalimat tadi, tapi Nanami
tidak bisa.
Apa Kanda-kun akan
Akan berpacaran dengan dia?
Mashiro langsung bertanya hal yang ingin ditanya
Nanami dari tadi.
Ka-kan tidak mungkin langsung dinyatakan cinta,
lagipula kita juga belum tahu siapa pengirimnya.
Aku tidak bertanya seperti itu.
Kalau begitu, mi-misalnya aku berpacaran dengan dia,
memangnya kenapa?
Sebenarnya Sorata bertanya untuk dirinya sendiri juga.
Aku akan sangat khawatir.
Sebelum Sorata berpikri jawabannya, Mashiro sudah
menjawab duluan.
A-aku juga, akan khawatir. Soalnya tidak bisa
bersantai lagi.
Setelah Mashiro menjawab, Nanami juga ikut
menjawab.
Aku lah yang harusnya khawatir mengenai situasi ini.
Dan sekarang, terdengar bunyi bel saatnya rapat kelas.

Bagian 3
Yang dimaksud sepulang sekolah, itu maksudnya jam
berapa.
Sorata memikirkannya.
Sorata duduk di kursi loteng sekolah, dan bertanya-
tanya kepada langit cerah yang biru. Tapi langit tentu tak
dapat menjawabnya.
Tidak ada cara, hanya bisa berpikir sendiri.

130
Mungkin sore jam empat? Atau sore jam lima? Atau
mungkin sebelum sampai tidur itu masih dianggap sepulang
sekolah?
Sorata sudah menunggu selama 30 menit, atau
mungkin juga lebih.
Sesuai dengan petunjuk suratnya, datang ke loteng
sekolah. Tapi tidak terlihat siapapun di sini, juga tidak ada
tanda-tanda seseorang akan datang ke sini.
Setelah menunggu selama 30 menit, Sorata
menyimpulkan sesuatu.
Mungkin pengirimnya itu orang iseng, ya
Bisa juga, soalnya hari ini tidak dapat berkonsetrasi
sama sekali. Tidak seorangpun muncul, ini membuat Sorata
lega.
Jujur saja, tidak terpikirkan akan ada seseorang
mengirim surat cinta kepadaku. Juga, Sorata sebenarnya
sudah mengira siapa yang akan mengirimnya. Walau
perasaan ini belum yakin, setidaknya orang yang mengirim
itu hanya iseng-iseng.
Dan saat telepon genggamnya Sorata menunjukan
pukul empat, Sorata pun berdiri dari kursinya.
Pulang saja...
Sorata berbisik-bisik sendiri untuk mengganti suasana
hatinya.
Mengambil tas, dan membuka pintunya. Tapi di saat
membuka pintu, tidak tahu kenapa Iori dan Shiho terjatuh.
Di depan pintu juga ada Mashiro dan Nanami yang
sedang berdiri, Nanami terlihat siap kabur.
Kalian sedang apa di sini?
Menguping.
Yang menjawab pertama adalah Mashiro, dengan tidak
ragu-ragu.
131
Jangan mengira dengan jawab jujur akan aku
maafkan.
Bukan menguping.
Sudah terlambat untuk bohong sekarang!
Bu-bukan begitu, Kanda-kun.
Nanami dengan tidak enak melihat ke sini.
Mana yang bukan?
Hmm, bukan maksudnya tidak ada.
Heran juga, di situasi begini, selain menguping, apalagi
coba?
Dan ngomong-ngomong, kenapa sampai Iori dan
Shiho-san ada di sini juga?
Karena aku mendengar Sorata-senpai menerima surat
cinta.
Sorata mengalihkan pandangannya ke Mashiro dan
Nanami, keduanya pura-pura sedang melihat ke tempat lain.
Untuk nantinya bisa jadi referensi, jadi aku ingin
menguping Sorata-senpai yang dinyatakan cinta oleh
seorang perempuan!
Kalau begitu maaf, karena sudah menghancurkan
harapanmu.
Sorata mengalihkan pandangannya ke Shiho.
Karena dari pagi Shiina-san terlihat aneh, jadi aku
merasa penasaran.
Shiina? Apa benar begitu?
Sorata mencoba untuk bertanya Mashiro.
Tiap hari aku terlihat aneh.
Aku juga berpikir begitu.
Iya, kah? Soalnya dia melihat keluar jendela, makan
baumkuchen (sejenis kue bolu) sambil melamun, dan
melukis secara diam-diam.
Bukannya itu Shiina yang biasanya?
132
Huh? Benarkah? Soalnya Shiina-san berbeda dari
biasanya! Orang-orang di jurusan seni semua sangat
khawatir. Dan ada perasaan suram.
Suram, ya
Mungkin ia penasaran dengan surat cinta itu. Pagi
ini juga, kalau bilang Sorata akan berpacaran dengan
pengirimnya, dia merasa khawatir. Sorata sedikit pusing
apakah ia harus senang atau tidak.
Shiho, jangan berbicara yang aneh-aneh.
Haiyaaaaaa, apa Shiina-san sedang malu?
Aku tidak pernah merasa malu.
Walau mashiro berbicara begitu, dia menundukkan
kepalanya.
Ah, celaka! Aku ingat aku masih ada interview dengan
sensei! Maaf, aku duluan!
Shiho yang panik segera menuruni tangga, dan dengan
cepat ia meninggalkan Sorata dan mereka.
Ribut
Tapi, dadanya tidak disangka besar juga.
Iori sepertinya terlihat sangat senang. Mungkin karena
tadi terjatuh berdua dengan Shiho, dan ia melihatnya dengan
dekat.
Iori.
Ada apa?
Kalau kau masih ingin berpacaran dengan perempuan
yang cantik, lucu, dan mempunya kehidupan SMA yang enak,
sebaiknya jangan pernah lagi mengatakan yang seperti tadi.
Walau Mashiro tetap seperti biasanya, tapi Nanami
sudah menjadi kesal karena perkataan Iori yang tadi.
Sorata kembali mengambil tasnya lagi, dan pergi
menuruni tangga.
Kanda-kun, kau tidak mau menunggu lagi?
133
Nanami yang menyusul Sorata bertanya begitu, Iori
dan Mashiro juga menyusulnya.
Tidak, soalnya menunggu sampai jam empat sudah
cukup lama sebenarnya.
Sudah cukup, mungkin.
Oh ya, Shiina, apa hari ini masih perlu ke ruang kelas
seni?
Hari ini tidak perlu.
Ah, begitu ya.
Padahal kukira masih perlu menjadi modelnya hari ini,
jadi aku menunggu hanya sampai jam empat saja
Aku akan pulang menggambar cover.
Hnnn? Gambar cover untuk majalah komik?
Komik yang sedang diserialisasikan di majalah komik,
padahal bulan lalu baru gambar cover untuk majalah
komiknya.
Tankoubon (maksudnya satu volume).
Oh, memang sudah harusnya ada satu volume
Serialisasinya mulai bulan November tahun lalu, jadi
kira-kira sudah 6 chapter. Jadi sekarang rilis tankoubon
(satu volume)-nya, wajar saja.
Tidak terasa Mashiro sudah memulai langkahnya
sebagai seorang komikus, setiap langkahnya terasa besar,
dan memperbesar jarak antara dia dengan Sorata. Tetapi
Sorata tidak akan panik lagi, karena akhirnya dia hanya
bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan, juga, proses
pembuatan game saat ini sangat menyenangkan, jadi ada
rasa melangkah maju, walau haanya sedikit.
Ah, aku ke ruang kelas musik untuk latihan piano
dulu, permisi.
Saat sampai di lantai dua , Iori yang berada di belakang
berhenti.
134
Setiap pulang sekolah selalu latihan piano di kelas
sangat lama. Saat pulang ke Sakurasou, kira-kira sudah
malam.
Memang serius.
Karena untuk persiapan lomba. Situasi saat ini yang
paling kubenci. Ah~~, menyebalkan, rasanya malas bermain
piano
Kenyataan sepertinya tidak begitu. Dan Iori melihat ke
papan pengumuman yang ada di sebelah.
Di papan pengumumannya tertempel pemberitahuan
tentang lomba piano.
Bulan Mei tanggal 3, di ruang konser Universitas
Suimei. Tertulis terbuka untuk umum. Sepertinya ini lomba
yang dibicarakan Iori.
Di pemberitahuannya tertulis terbuka untuk umum,
apa itu berarti kita perlu pergi juga?
Boleh, apa senpai berencana datang? Tolong jangan!
Aku serius! Kalau ada kenalan yang datang nanti aku akan
menjadi sangat gugup! Aku serius, janji tidak datang, ya?
Setelah Iori selesai berbicara, dia langsung berlari di
koridor dan menuju gedung lain, kira-kira ruang kelas musik
ada di sana.
Kenapa setiap dibilang orang jangan datang, malah
kitanya makin ingin pergi?
Tibat-tiba Nanami bertanya itu.
Tidak kuduga ternyata Nanami jahat juga.
Walau Kanda-kun ngomong begitu, bukannya Kanda-
kun sendiri juga sedang menahan tawa?
Kalau hanya pergi secara diam-diam,kurasa tidak apa-
apa.
Ya.
Mashiro juga tampaknya setuju.
135
Anggap saja janji hari ini, bulan Mei tanggal 3, Sorata
dan Nanami tertawa puas.
Sorata dan teman-temannya pulang sambil mengobrol
soal lomba Iori, tidak mampir ke tempat lain dan langsung
pulang ke Sakurasou. Mengobrol asik, jadinya menjadi
antusias soal lomba, dan saat sudah tiba di Sakurasou, Sorata
melupakan soal surat cinta.
Tadaima!
Ikuti Sorata di belakang, Mashiro dan Nanami juga
memberi salam, yang disayangkan tidak dijawab siapapun.
Soalnya juga tidak ada orang di Sakurasou saat ini, walau
ada Ryuunosuke, tapi dia tidak mungkin akan membalas, Ah
kau sudah pulang.
Sorata berpisah dengan Mashiro dan Nanami di pintu
masuknya, dan tidak mengantar mereka berdua ke lantai
dua, langsung menuju ke kemar sendiri kamar no. 101.
Dengan tidak curiga membuka pintu kamar sendiri.
Bagaiamanapun kamar sendiri, kurasa sudah sewajarnya.
Tapi hanya hari ini Sorata merasa sedikit menyesal.
Dia merasakan sedikit keanehan, saat masuk ke kamar
dan pintu tertutup.
Udara sekitar terasa aneh. Ada sebuah bau yang aneh
yang tercampur dalam udara, kamar juga lebih berantakan
daripada saat pagi berangkat ke sekolah, kacau balau. Baju
yang seharusnya sudah dirapikan menjadi berantakan
seperti kamar Mashiro. Tapi itu masih baik-baik saja. Karena
sampai sini masih bisa menahan kemarahan.
Yang menarik pandangan Sorata adalah seorang siswi
yang sedang mengacaukan kamarnya. Dengan posisi seperti
kucing membongkar-bongkar barang yang ada di bawah
kasur.

136
Selanjutnya, Sorata saling berpandang dengan sisiwi
yang mengangkat kepalanya tiba-tiba. Karena terkejut, ia
pun mundur selangkah. Itu wajah yang dikenal Sorata. Siswi
yang memakai seragam Suimei, dia adalah Hase Kanna.
Apa ini? Terlalu menyeramkan!
Reaksi pertama Sorata begitu.
Suatu hari pulang ke rumah, ada seorang perempuan
cantik yang menunggu di kamar, dengan hanya
membayangkan, sudah dapat merasakan kebahagiaannya.
Tetapi , saat orang yang kita tida kenal masuk ke kamar kita
yang pertama pasti akan merasa ketakutan.
Kenapa sekarang kau pulang?
Kanna bertanya kepada Sorata, seperti sedang
mengutuk kenapa dunia ini. Lalu, dengan pelan dia berdiri.
Apa maksud kalimatnya tadi? Terdengar sepertinya
sudah tahu Sorata bakalan pulang malam hari ini.
Tidak, sekarang bukan saatnya mencemaskan hal
seperti ini.
Sekarang perlu memastikan situasi dulu.
Sorata sekali lagi memeriksa kamarnya. Kamar yang
berantakan, dan Kanna yang sepertinya sedang mencari
sesuatu, mengingatkan Sorata kejadian kemarin ia
tertabrak dengan Kanna.
Walaupun merasa tidak mungkin, tapi di otak muncul
sebuah kata.
Celana dalam?
!!
Sorata dengan gampang mengatakannya, tubuh Kanna
langsung gemetar, wajahnya menjadi merah dan langsung
menundukkan kepalanya. Tetapi, tidak berapa lama
kemudian wajahnya menjadi pucat.
Reaksi Kanna sudah menjelaskan segalanya.
137
Walaupun Kanna merupakan tersangka yang
berkemungkinan paling tinggi, Sorata tetapk urang percaya
dia adalah pemilik celana dalam itu.
Sepertinya celana dalam yang dipungut Sorata itu
benar-benar milik Kanna.
Kanna melamun sebentar, dan tiba-tiba ia menjadi
gugup sekali, dan mulai mengelilingi kamar Sorata. Saat ini,
dia mengambil kamus English-Japan yang tebal dari meja,
mendekati Sorata, dan mengangkat kamusnya tinggi-tinggi.
Waaaaaa~~! Apa yang ingin kau lakukan?!
Karena sudah ketahuan, aku tidak akan membiarkanmu
keluar dari kamar ini hidup-hidup.
Bukannya ini kamarku? Akh, sakit!
Di saaat Sorata sedang protes, keningnya dipukuli
keras-keras oleh kamus yang dipegang Kanna.
Karena satu pukulan yang sangat kuat, Sorata hampir
dibuat pingsan. Ia sudah tidak bisa berdiri lagi, Sorata
jongkok dan memegang kepalanya.
Terdengar suara kucing yang sedang cemas.
Ano, apa kau tidak apa-apa?
Sorata mendengar suara lembut jadi seseorang,
setengah membuka matanya, ternyata dia lah pelakunya.
Apa itu keras mengenai keningmu?
Padahal kau yang pukul, kenapa kau bisa dengan
tenang begitu menanyaiku?
Ka-karena aku panik
Itu sudah pasti karena dilihat dari situasi saat ini. Dan
dari tadi, pandangan Kanna tidak tenang, dan sudah sampai
batasnya.
Ah mengenai itu
Untuk menenangkannya, Sorata berbicara.
A-apa?
138
Menatap ke Sorata, ia mulai tenang.
Karena kau sudah memukul keningku dengan keras,
bisakah kau memberitahuku alasannya?
Sebenarnya belum begitu mengerti situasi, tapi
sudah tidak ada cara lagi. Atau dengan kata lain, terlalu
menakutkan.
Itu
Dari gerakannya, Kanna terlihat sedikit malu dan ragu,
ia mengalihkan pandangannya.
Bisa tunggu aku sebentar? Aku akan membuat teh.
Pokoknya tenangkan diri dulu, itu yang Sorata pikirkan,
dan dia keluar dari kamarnya.
Sorata panaskan air dan membuat teh, setelah itu ia
kembali ke kemar dan mengambil cemilan serta celana
dalam yang dijemur di toilet.
Silakan.
Terima kasih.
Sorata membiarkan Kanna duduk di kasurnya, dan
Sorata juga duduk menghadapnya. Mungkin karena gugup,
keduanya berlutut dan saling menghadap.
Sorata berpindah topik dan dengan gugup
menanyainya.
Aku akan memastikan ini dulu, apa celana dalam ini
benar-benar milik Hase-san?
Sorata mengembalikan celana dalam berwarna hitam
itu kepada Kanna.
Benar, itu milikku.
Setelah mendapat celana dalamnya, dengan segera
Kanna menyimpan ke dalam tasnya, dan terlihat malu sekali,
tidak ingin siapapun tahu mengenai ini.
Walau sudah tahu bakalan jadi begini, tapi masih
terkekut.
139
Kalau begitu, Hase-san
Bisa tidak jangan memanggilku dengan panggilan
Hase, aku sangat membenci marga itu.
Dari cara dia berbicara sepertinya dia mempunyai
marga lain, tapi sekarang bukan saatnya membahas ini.
Kalau begitu, Kanna-san?

Kali ini tidak protes apapun, sepertinya bisa
melanjutkan pembicaraan.
Kalau begitu, apa hari ini Kanna-san datang ke sini
untuk mengambil barang yang dijatuhkan kemarin?
Begitulah
Kanna tidak ingin menatap Sorata, dan dia menatap ke
cemilannya.
Yang dimaksudmu tadi kenapa kau sudah pulang?
itu apa?
Surat yang ada di lemari sepatu
Oh, ternyata begitu.

140
141
Mungkin untuk memperpanjang waktunya untuk
mencari barangnya makanya dia menggunakan trik surat.
Dan saat itu sengaja muncul sama-sama dengan Yuuko
hanya untuk memastikan apakah Sorata sudah mendapat
suratnya.
Nah, selanjutnya topik utama kita, apa kau masih
ingat soal kemarin kita saling tertabrak?
Ingat.
Jadi, apa saat setelah tertabrak kau baru menyadari
kehilangan sesuatu yang penting?
Saatku balik ke kelas baru sadar. Tetapi saat ingin
pergi mengambilnya ternyata sudah dipungutmu. Dan
sepertinya sedang mencurigaiku
Mungkin karena begitu, jadi dia bisa tanpa ragu
langsung datang ke kamarku untuk mencari barangnya.
Tujuan untuk melenyapkan bukti. Dengan cepat
mengambil kembali celana dalam, dan anggap hal ini tidak
pernah terjadi.
Setelah tidak ada bukti lagi, walau Sorata bertanya
lagi, juga bisa pura-pura tidak tahu. Dan jika dipikir dengan
logika, kejadian seperti menjatuhkan celana dalamnya di
sekolah, kalau tidak ada bukti yang kuat, pasti tidak akan
ada yang percaya.
Jadi pikirnya Kanna yang penting celana dalamnya
sudah direbut kembali maka tidak akan ada masalah lagi.
Dan ngomong-ngomong dengan rencana menyusup ke
kamar orang buat mengambil celana dalam, itu merupakan
tindakan yang nekad. Tidak , atau dengan kata lain sudah
tidak ada jalan lain baginya. Seperti begitulah.
Pertanyaannya masih ada beberapa, topik semakin
menuju ke intinya.
Apa yang terjadi dengan rok Kanna saat itu?
142
Kalau jatuh, itu berarti tidak memakainya?
Kalau hanya menjatuhkan celana dalam yang baru
diganti kurasa tidak perlu untuk melenyapkan bukti.
Soalnya memang kadang ada beberapa siswi kurang teliti,
tapi setidaknya masih bisa dimaafkan. Tapi yang dipungut
Sorata itu celana dalamnya yang masih ada tertempel suhu
tubuh pemakainya, celana dalam yang Kanna rela untuk
menjadi pencuri demi mengambilnya kembali. Kalau begitu,
kalau tidak dengan alasan yang kuat, akan membingungkan.
Iya
Kanna mengangguk angguk kepala di depan Sorata.
Akhirnya kejadiaan ini selesai, pikir Sorata.
Itu, mungkin aku kurang tahu, tapi apa memang
akhir-akhir ini anak perempuan sedang populer dengan hal
seperti ini?
Kau memandang perempuan seperti apa?
Dia mulai marah.
Aku pikir juga begitu
Saat ini Kanna hanya menundukkan kepalanya dan
tidak menatap Sorata. Tapi bagi Sorata, seperti ini lebih
mudah untuk berbicara.
Bisa aku tanya alasannya?
Karena apakah seseorang sampai tidak memakai
celana dalamnya di sekolah? Walaupun tahun lalu pernah
kejadian Mashiro lupa memakai celana dalamnya ke sekolah,
tetapi situasi saat ini berbeda dengan waktu itu. Karena
sepertinya Kanna melepkasnya di sekolah, juga dia sadar,
tidak seperti Mashiro.
Dengan berpikir begitu, semakin membingungkan.
Jika bandingkan ini dengan kelakuan dan sikap Kanna di
sekolah, ini bagaikan langit dan bumi.

143
Kanna tetap menunduk kepala, mengulurkan
tangannya ke tas yang ada di sampingnya, dan mengambil
sebuah buku, dengan hati-hati menaruh di samping teh
dan cemilan. Di sampul bukunya tertulis Hari Minggunya
Cinderella.
Apa ini?
Baru bertanya setengah, sudah tidak perlu tanya lagi.
Nama pengarangnya sangat menarik perhatian.
di karang oleh Yuigahama Kanna.
Walau marganya beda tapi Kanna-nya sesuai, dilihat
dari situasi saat ini, ini bukan tidak memungkinkan.
Ini merupakan marga sebelum orangtua bercerai.
Kanna menjelaskannya. Sepertinya inilah alasan
kenapa dia membenci marganya yang sekarang.
Dengan kata lain, ini buku yang ditulis oleh Kanna.
Kanna mengangguk-anggukkan kepalanya lagi.
Ini adalah karya yang pernah mendapat penghargaan
saat SMP.
Wah, hebat.
Sorata mengambil buku itu dan membukanya.
Ini tidak hebat sama sekali, hanya karena beruntung.
Kenapa kau merasa begitu?
Sekarang aku sedang menulis buku ke duanya, tetapi
sama sekali belum ada kemajuan
Kanna mengepalkan tangan yang ada di atas pahanya,
dan menggigit bibirnya seperti merasa marah.
Aku memang ingin menulis, sangat ingin menulis,
tapi sama sekali tidak ada kemajuan sedikitpun. Tidak peduli
aku sudah berapa kali mengubah alurnya, editor hanya
menunjukan ekspresi yang tidak puas.
Begitu, ya...

144
Sorata merasa kasihan kepada Kanna, dan
membalasnya.
Sekarang aku juga sudah lupa bagaimana dulu aku
menulis, setiap hari terasa sesak. Setiap memikirkan
ceritanya merasa pusing, walaupun begitu, aku tetap
ingin menulis, harus menulis. Ini satu-satunya barang yang
kumiliki sekarang!
Perhatikan dengan teliti, Kanna terlihat lelah,
menunjukan sepertinya saat malam ia juga susah tidur. Saat
sedang masalah akan sulit untuk tidur, Sorata juga pernah
merasakannya.
Lalu di saat terasa sesak, mulai menjadi kesal, merasa
ingin menghancurkan semuanya. Awalnya, memakai celana
dalam yang berlebihan ke sekolah.
Saat Sorata memungut celana dalam juga merasa
kesan yang luar biasa. Karena dia terkejut sekali saat terpikir
pelakunya Kanna.
Dengan mengganti sebuah celana dalam, aku merasa
pandanganku dengan dunia ini berubah, dan sepertinya bisa
lupa dengan rasa cemas akan cerita, bisa lupa, sih, tapi
lama-kelamaan terpikir lagi rasa cemas itu dan merasa tidak
puas, aku
Saat ini, Kanna akhirnya menatap Sorata, dengan
membawa wajahnya yang memerah itu.
Jadi berpikir untuk mencoba melepaskannya?
iya.
Aku yang mendengar saja bingung, apalagi yang
mengakuinya, lihat saja bibir Kanna yang sedang bergetar
itu.
Jadi, maksudmu, ini bisa menghilangkan tekanan?
aku berpikir begitu.

145
Untuk menghilangkan tekanan , jadi belajar dengan
melepaskan celana dalam?
iya.

Ini terlalu mengejutkan.
Yang bertanya itu kau, bisa tidak jangan memberi
reaksi seperti ini.
Kanna melirik Sorata dengan kesal.
Ah, tidak, hnnn, aku tidak bermaksud begitu, kira-
kira. Pokoknya, ada saatnya orang-orang mengalami hal
seperti itu. Lihat saja, misalnya karena di rumah tidak ada
orang, jadi telanjang di rumah? Hnnn, kadang memang
kejadian seperti itu.
Padahal ingin menjawab, tetapi Kanna menundukkan
kepalnya lagi.

Sepertinya aku sudah salah berbicara.
Jangan-jangan, yang kemarin itu bukanlah pertama
kalinya?
Kanna mengangguk-angguk kepalanya lagi, sampai-
sampai telinganya menjadi merah.
Apa kedua kalinya?
Kira-kira ketiga kalinya
Kanna menjawab dengan tatapan seperti sedang
berperang melawan sesuatu. Karena begitu, Sorata tahu dia
bohong.
Sebenarnya?
Ke enam kalinya.
Sejak masuk ke Suimei?
Iya
Kira-kira dua hari sekali

146
Sorata terkejut dan terdiam sejenak. Dalam hidupnya
ini pertama kali, pertama kali dia mendengar pengakuan
seperti ini. Dibandingkan dengan murid bermasalah di
Sakurasou, ini diluar dugaannya, hanya bisa dibilang,
wanita ini terlalu mengejutkan.
Ekspresimu tidak sopan sekali, padahal kau sendiri
yang bertanya.
Kanna dengan aura mengancam menatap Sorata.
Maaf, karena aku tidak tahu ekspresi apa yang harus
digunakan saat ini
Sorata tertawa. Yang namanya manusia, saat dia sudah
mencapai batas, dia akan tertawa. Walau shock saat tahu
ada orang seperti Mashiro, tapi jika dilihat dari dunia orang
aneh, hanya bisa dibilang di atas langit masih ada langit lagi.
Pokoknya, kalau ketahuan lagi bakalan menjadi
masalah, jadi kumohon jangan melakukan ini lagi.

Awalnya mengira Kanna akan menurut dengan diam,
tetapi ternyata dia mengalihkan pandangannya, dan terdiam.
Bukannya saat ini dengan menjawab baik, akan
menyelesaikan masalah dengan bagus?
aku juga mengerti mengikuti pelajaran tanpa
memakai celana dalam itu merupakan tindakan yang aneh.
Kalau boleh, aku juga ingin segera berhenti. Tapi kalau aku
bisa berhenti dengan sedirinya, aku pasti tidak akan pernah
melakukannya lagi! Tapi, walau tahu tidak boleh tetap tidak
berhenti, jadi masih melakukannya sampai saat ini.
Kalimat akhir-akhir hampir tidak kedengaran. Ternyata
begitu, alasan yang wajar. Kanna sudah tahu sikapnya sendiri
sangat aneh, juga ingin segera berhenti melakukannya, tapi
karena tekanan yang ada mengalahkan kewarasannya,
kira-kira seperti itu.
147
Apa tidak ada cara lain untuk membebaskan diri dari
tekanan? Seperti jalan-jalan dengan teman-teman?
Aku tidak mempunyai teman.
Ah, wajar saja soalnya baru masuk sekolah juga.
Bukan itu maksudnya, saat aku SMP aku juga tidak
mempunyai teman.
Kanna menjelaskannya dengan kuat, membuat Sorata
tidak bisa mengatakan tenang saja, di Suimei kau pasti akan
segera mendapat teman.
Kalau begitu bagaimana dengan Yuuko?
Dia adalah anak yang baik.
Ini bukan jawaban yang diinginkan Sorata.
Walau aku berpikir dia akan membuat banyak masalah
dan membebanimu, tapi, tolong bertemanlah dengan dia.
Tidak, aku yakin dia pasti sudah membuat banyak masalah
dan membebanimu. Tapi tenang saja dia bukan anak yang
tidak baik.

Sorata mengucapkan kalimat itu tanpa sadar, Kanna
malah menatap Sorata lagi.
Ada apa?
Aku Hanya berpikir jarang ada orang yang akan
omong dengan kebaikan keluarganya sendiri.
Apa aku bisa menganggap yang tadi itu pujian?
Topik sudah berpindah jauh, apa tidak masalah?
Kanna tidak menjawab pertanyaan Sorata.
Tentu saja masalah.
Mungkin harusnya bukan cara untuk menghilangkan
tekanan, tapi melawan tekanannya. Pokok permasalahannya
ada di situ.
Kalau kau sudah bisa menulis lagi, apa, apa kau
akan menjadi seperti dulu lagi?
148
Aku berpikir mungkin.
Walaupun begitu, tenang menulis novel, bukan
masalah yang bisa diselesaikan Sorata, paling Sorata hanya
bisa bertanya tujuan dia membuat cerita tersebut. Tapi
bagaimanapun Kanna sudah pernah mendapat penghargaan
itu berarti dia sudah level profesional. Sorata tidak yakin
apakah bisa mendiskusi ini dengan Jin-san.
Sorata tidak tahu bagaimana.
Walau aku juga merasa masalah ini tidak bisa
diselesaikan dengan mudah
Ada apa?
Bagaimanapun, kalau kau ingin melepaskan celana
dalam lagi sebelum itu cari aku untuk mendiskusikan dulu.
Nanti aku teriak.
Kanna melirik Sorata, taatpan matanya terasa dingin
sekali, bahkan lebih dingin daripada tatapan Nanami.
Jangan salah paham. Aku bukan ingin tahu kapan kau
akan melepaskan celana dalammu, tapi kurasa mediskusikan
ini mungkin bisa mencegah perhatian orang lain. Kalau kau
menyembunyikannya, kan tidak bisa untuk mendiskusikan
ini dengan orang lain.
Tidak punya teman, dan yakin diri sendiri tidak akan
dapat teman. Walau dapat teman pun, tidak akan mudah.
Ya, ini seperti yang kau bilang.
Kanna sedikit merenungkannya. Selanjutnya, dia
menatap Sorata dengan tatapan penuh protes.
Tidak ada cara lain, hanya bisa coba begini dulu.
Ini bisa dibilang pilihan terakhir baginya. Di saat
seperti ini, ini mungkin sudah cukup.
Kalau begitu, masalah ini selesai.
Walau Sorata berpikir begitu, Kanna belum tenang,
dan menatap Sorata terus.
149
Ada apa?
Aku belum selesai bicara.
Kau ingin bicara apa?
Aku sangat khawatir kalau kau akan membocorkan ini
ke orang lain.
Mungkin karena ini sengaja , jadi terdengar seperti
nada kalimat inggris.
Aku tidak akan membocorkan ini ke orang lain.
Kalau hanya berkata begitu, kau tidak dapat
dipercaya!
Sikap Kanna saat ini menyadarkan Sorata sesuatu.
Kanna tidak lari setelah ketahuan, dan menjelaskan
segalanya, tidak meminta maaf karena telah memukul Sorata
dengan buku kamus, juga tidak menyesal walau sudah
ketahuan. Dia sudah putuskan sebelum Sorata benar-benar
janji tidak akan membocorkannya, dia tidak akan pulang.
Sepertinya sudah tidak ada jalan lain baginya.
Aku harus gimana baru kau terima?
Jangan-jangan menyuruh Sorata bersumpah di sebuah
kertas?
Tolong beritahu aku,satu rahasia yang kau matipun
tidak ingin orang lain tahu.
Tidak diduga Kanna mengatakan itu.
Apa ini maksudnya kalau aku membocorkan rahasia
Kanna-san, kau juga akan membocorkan rahasiaku nanti?
Menggunakan rasa malu untuk menahan orang lain.
Aku baru pertama kali medengar ada yang seperti
itu!

150
Kanna tetap duduk dengan sikap berlutut, menatap
Sorata dengan tatapan yang serius. Tapi jika dilihat dari
tatapan matanya dapat merasakan sebenarnya dia sangat
cemas. Kalau ketahuan teman sekelas, dia tidak akan bisa ke
sekolah lagi, wajar saja dia merasa cemas.
Juga , di sini merupakan Sakurasou kamar no. 101.
kamar Sorata, markas musuh baginya. Ditambah Sorata
siswa kelas tiga, dan Kanna masih kelas satu. Hatinya
mungkin bisa hancur hanya karena begitu.
Bukan juga untuk mengkasihaninya, hanya Sorata
berpikir kalau bisa menenangkan Kanna, memberitahu satu
atau dua rahasia sepertinya tidak apa-apa.
Hmm, rahasia, yah...
Tapi, dipikir bagaimanapun rasanya Sorata tidak
memilik rahasia yang malu sekali.
Tidak ada?
Kalau rahasia yang selevel dengan Kanna-san,
sepertinya tidak ada.
Atau dengan kata lain, di dunia ini ada berapakah
orang yang sama sama memiliki rahasia melepaskan celana
dalam ke sekolah seperti Kanna?
Kalau tahu begitu, harusnya kemarin meminta Mashiro
dan Nanami untuk foto saatku pungut celana dalam itu. Tapi
kalau pemiliknya Kanna berarti foto itu juga mengandung
rahasianya
Kalau tidak ada, apa ada yang lain? Aku pikir bentar,
kau tidak sedang memilik pacar, kan?
Kanna mengatakan kalimat yang kurang sopan itu
selagi mengangkat kepalanya.
Kenapa kau berpikir begitu?
Ada?
Tidak ada.
151
Apa kau sedang menggertakku?
Tidak.
Huft
Kanna mengehelas napas, sepertinya dia tidak begitu
gugup lagi.
Kalau begitu tolong beritahu aku nama orang yang
kau suka.
Huh?
Bagaimanapun pasti memiliki seseorang yang diam-
diam suka, kan?
Hn.
Apa dia murid Suimei?
Hn.
Merasa sedikit malu. Percakapan seperti apa kau
sedang menyukai seseorang?, sepertinya dulu juga pernah
ada yang menanyakannya. Kalau tidak salah musim gugur
tahun lalu, percakapan dengan Nanami pada hari terakhir
festival budaya di sekolah.
Dengan beritahu aku namanya, aku akan dengan
menurut segera pulang.
Sepertinya Kanna denga niat menipu, tapi Sorata tidak
membicarakannya.
orang yang disukai?
Ditanya begitu, muncul sebuah nama di pikiran Sorata.
Tapi saat berniat untuk mengatakannya, Sorata merasa
ragu-ragu dan sedikit malu.

152
Kalau ditanya suka atau tidak sepertinya suka, tapi,
kalau ditanya apa ingin segera menyatakan cinta, dan
menjadi hubungan berpacaran, rasanya bukan seperti itu
juga. Seperti cinta pada pandangan pertama, semakin dalam
semakin tidak bisa menahannya, perasaan juga menjadi
semakin kuat. Dan kalau jujur saja, sekarang dia merupakan
tujuanku, perasaan untuk mengejar dia di belakangnya lebih
kuat, makanya jadi ragu-ragu saat Kanna menanyakannya.
Tolong cepat sedikit.
Ngomong-ngomong, Kanna sepertinya benar-benar
tidak akan pulang sebelum Sorata mengatakannya.
Kalau nama perempuan yang terus terpikirkan boleh?
Sorata yang ragu-ragu terus, bertanya pada Kanna.
Aku rasa itu yang dunia namakan cinta bertepuk
sebelah tangan.
Kalau begitu itu artinya boleh, ya?
Kanna dengan pelan mengangguk angguk kepala.
Bisa pinjamkan telingamu.
Mengatakannya dengan berhadapan, rasanya benar-
benar malu dan tidak enak.
Kanna sedang mempertimbangkannya, tapi akhirnya
tetap dibolehkan dan mendekatkan wajahnya.
Kalau begitu, maafkan aku yang banyak minta.
Sorata mendekatkan wajahnya ke kanna, dan
mengatakan namanya dengan suara kecil di samping
telinganya.


Setelah selesai mengatakannya, masing-masing duduk
lagi.
Kanna juga berputar badannya dan menghadap Sorata.

153
Tolong jangan mengatakan pendapat dan
tanggapannya.
Pipi Sorata memanas dan memerah.
Kanda-kun, sekarang sudah saatnya menemaniku
latihaa, hn?
Saat ini, Nanami datang ke kamar.
Melihat Kanna dan Sorata yang duduk di atas kasur
dengan sikap berlutu saling menghadap. Nanami terkejut
dan melebarkan matanya.
Situasi apa ini?
Sorata.
Mashiro juga ikut datang ke kamar.
Tatapan mata Mashiro juga melihat ke Kanna dan
Sorata.
Siapa wanita itu?
Hase Kanna kelas satu. Pagi ini baru bertemu,
seharusnya kau tahu!
Ya.
Kalau begitu kenapa kau masih bertanya?
Bagi Sorata siapa dia?
Pertanyaan yang menyulitkan
Sepertinya orang yang kehilangan celana dalam dan
orang yang memungut celana dalam. Atau dengan kata lain,
dua orang yang saling tahu hal memalukan.
Dia hanya datang untuk mengambil barangnya yang
hilang.
Celana dalam, ya?
Heh?
Kata kata Mashiro membuat Kanna terkejut, dan
membuatnya langsung menatap tajam ke Sorata.
Bukannya tadi kau baru janji tidak akan membocorkan
hal ini ke siapapun?!
154
Karena Shiina dan Aoyama juga ada saatku pungut
celana dalammu, jadi mereka juga tahu soal celana dalam.
Kau bohong! Saat itu hanya ada kau sendiri. Aku akan
mebocorkan rahasiamu, orang yang kau sukai adalah
Uwa~~! Tunggu sebentar!
Untuk menutup mulutnya, Sorata mendorong jatuh dia
ke kasur.
Kan-Kanda-kun, apa yang kau lakukan!
Sorata tiba-tiba tersadar.
Ma-maaf!
Sambil meminta maaf, Sorata sambil menarik Kanna
yang terjatuh di kasur, mungkin karena terkejut, Kanna
melamun beberapa detik.
Juga, masalah Sorata belum selesai sekarang, situasi
menjadi buruk.
Orang yang disukai Sorata?
Sekarang sedang membahas apa?
Mashiro dan Nanami bertanya hal yang paling Sorata
tidak ingin didengar oleh orang lain.
Tidak, itu
Untuk membuat dia jaga rahasiaku, aku memintanya
untuk beritahu salah satu rahasianya.
Menggunakan rasa malu untuk menahan orang lain.
Yang berbicara tadi adalah Mashiro.
Apa kalimat ini sedang populer? Atau hanya aku
sendiri yang tidak tahu?
Jadi, rahasianya Kanda-kun ada orang yang sedang
dia sukai, dengan kata lain Hase-san bertanya orang yang
sedang disukai Kanda-kun?
Nanami bertanya.
Ya.
Siapa yang disukai Sorata?
155
Mashiro bertanya tanpa ragu.
Tidak boleh tanya! Kalau bilang akan menyebabkan
perang yang memalukan, bisa jadi dunia hancur nanti!
Mereka berdua sudah tahu rahasiaku, jadi kalau aku
membocorkan rahasiamu di sini, tidak apa-apa kan?
Kanna menjelaskan situasi saat ini dengan benar.
Kalau begitu, jadinya adil, tapi kalau dia membocorkannya
tamat sudah, karena nama yang Sorata beritahu tadi, salah
satunya ada di sini.
Maaf, bisa kah kau mengkasihaniku?
Sorata dengan serius memohon dan menundukkan
kepalanya.
Aku hanya bercanda.
Bisa tidak jangan memakai eksrepsi yang serius! Juga,
tolong pandangan matamu!
Kalau tidak hati-hati, rahasia akan ketahuan karena
orang yang dilihat Kanna saat ini.
Aku merasa kau sedang menggali kuburanmu sendiri,
apakah tidak apa-apa?
Heh?
Setelah Sorata mengatakannya baru sadar, tadi
sudah salah mengambil keputusan, itu sama saja dengam
membocorkan rahasia sendiri.
Itu berarti, orang yang disukai Sorata antara Mashiro
atau Nanami, tinggal memilih salah satunya.
Pertama, tatapan mata Sorata dan Nanami saling
bertemu.


Tidak mengatakan apapun. Tapi eksresinya Nanami
mengerti apa yang dimaksud Kanna tadi. Terkejut, bingung,
dan ragu, semua dapat dilihat dari tatapan matanya.
156
Punggung Sorata mulai berkeringat.
Satu-satunya penebusan adalah reaksi Mashiro. Dia
mulai berpikir apa yang dimaksud Kanna tadi.
Terima kasih telah meningkatkan nilai rahasiaku.
Kalau begitu aku sudah tenang.
Aku rasa aku tidak akan tenang sampai nanti tidur
malam
Kalau beitu, hari ini aku pulang dulu. Atau sebaiknyaku
bantu merapikan kamarmu dulu?
Silakan pulang saja.
Ah! Tunggu sebentar.
Kanna tidak peduli pada Nanami yang mencegahnya
agar tidak pulang, dan langsung mengambil tasnya berdiri.
Aku pulang dulu.
Dia menundukkan kepalanya memberi salam dengan
sopan dan meninggalkan kamar.
Saat pulang nanti hati-hati
Sorata dengan susah payah mengatakannya.


Sorata merasa tertusuk karena tatapan Mashiro dan
Nanami yang menatapnya.
I-iya~~ Aoyama ingin latihan naskah? Shiina ingin kue
bolu?
Sorata berpura-pura berceria, untuk mengganti
suasana.


Tapi tentu saja usahanya gagal.
Setelah beberapa lama, mereka berdua tetap menatap
Sorata terus.

157
Bagian 4
Setelah Kanna meninggalkan Sakurasou, ditambah Iori
yang baru pulang, Sorata dan Mashiro, Nanami, Iori mereka
makan malam. Hampir tidak ada percakapan, yang ada
hanya tatapan menusuk dari Mashiro dan Nanami, sampai-
sampai Iori yang tidak mengerti situasai saat ini merasakan
penderitaan Sorata.
Hari ini tenang seperti sedang makan kepiting.
Ah , jangan-jangan itu? Karena aku hanya tertarik pada
perempuan gajah jadi marah?
Apa itu perempuan gajah? Maksudmu perempuan
anggun dan cantik mungkin. (perhatian: elephant dan
elegant pengucapannya hampir sama dalam nada jepang.)
Maksudku perempuan yang dadanya besar.
Walau berbicara topik seperti ini dengan Iori, suasana
tidak sedikitpun membaik.
Setelah selesai makan malam, Sorata mulai merapikan
kamarnya yang kacau-balau itu karena Kanna.
Perlu bantuan?
Nanami yang bertanya dengan lemah lembut, hanya
bisa Sorata terima dalam hati, dan Sorata menolak dengan
berat hati. Tidak boleh lagi menguras mentalku yang lemah
ini.
Setelah Sorata merapikan kamarnya, dia mulai
membuat game.
Tapi, rasanya hanya hari ini tidak ada mood untuk
membuat game , otak lagi pusing, dipenuhi perasaan antara
suka dan tidak suka.
Hari itu, saat malam natal, perasaan yang harusnya
sudah kututup pakai penutup itu entah kenapa mulai
melonggar.

158
Berpikir terus memaksa diri sendiri tidak akan ada
hasil, Sorata berhenti membuat game hari ini, mematikan
komputer dan menuju kamar mandi.
Bertemu Iori yang kebetulan baru keluar dari kamar
mandi, Sorata masuk ke kamar mandi dan menghangatkan
badannya.
Awalnya mengira dengan mandi bisa mengganati
suasana hati, ternyata tidak bisa.
Dia mengeringkan rambut dengan handuknya, pergi
ke kamarnya sendiri. Nanami duduk di kasurnya dan
menunggunya sendiri. Dia memakai piyama, rambutnya juga
sudah diturunkan, dan memakai kacamata.
Ah!
Jangan menunjukan ekspresi seperti itu, itu membuat
orang lain tidak nyaman.
Harusnya kau tahu alasannya.
Padahal kamar sendiri, tapi membutuhkan keberanian
untuk melangkah masuk.
Jangan khawatir, karena aku tidak akan bertanya lagi.
Serius?
Sorata dengan hati-hati melangkah masuk ke kamarnya,
dan duduk bersebelahan dengan Nanami di kasurnya.
Karena, tidak ada gunanya bertanya.
Nanami melihat ke tempat lain, melihat ke arah depan,
di situ adalah lukisan dinding yang Mashiro dan Misaki-
senpai lukiskan musim gugur tahun lalu. Tapi Sorata tidak
merasa Nanami sedang melihat lukisan dinding itu, diam
merasa Nanami sedang melihat sesuatu yang lebih jauh,
sesuatu yang lebih jauh yang tidak terpengaruh oleh waktu
maupun jarak.
Tidak perlu tanya, aku juga tahu.
Nanami bergumam.
159
Begitu, ya
Sorata juga diam-diam membalas.
Sejak awal aku sudah tahu.
Tidak merasa begitu terkejut. Dan setelah mendengar
kata-kata Nanami hati Sorata tenang kembali.
Apa kau menungguku hanya untuk mengatakan ini.
Tidak, yang tadi hanya sekalian mengatakannya.
Kalau begitu berarti soal yang akan dibicarakan
Nanami sekarang lebih penting, Sorata menyiapkan dirinya
untuk mendengar.
Tadi Misaki-senpai datang ke kamarku dan
memberitahuku tanggal audisi nanti.
Tanggal berapa?
Bulan Mei tanggal tiga. Dia bilang jam lima sore aka
dimulai. Tempat sudah dipersiapkan, di studio Universitas
Suimei.
Kira-kira masih sisa sepuluh hari.
Lalu setelah mendengar itu, merasa tidak tenang,
bisa menemaniku latihan sekali lagi?
Aku sudah tahu. Kalau untuk latihan, dengan senang
hati aku akan membantu.
Sorata mengulurkan tangannya mengambil naskah
yang ada di meja. Karena hampir tiap hari latihan, Sorata
sudah hampir hafal. Naskahnya juga tidak banyak. Karya
Misaki-senpai sekarang lebih banyak menampilkan adegan
gambar, walau filmnya sendiri 40 menit lebih, tapi kalau
hanya latihan naskah kira-kira 15 menit sudah cukup.
Dilihat dari Nanami yang datang dengan tangan
kosong, sepertinya dia sudah hafal.
Kau tiba-tiba ingin memberitahuku sesuatu, apa
itu?

160
Dimulai dari naskah paling awal yang tidak tahu sudah
mengulanginya berapa kali.
Hn, sesuatu yang lumayan penting, mungkin.
Balas tokoh utama perempuan.
Karakter yang ditampilkan hanya tokoh utama laki-laki
yang diperankan Sorata dan tokoh utama perempuan yang
diperankan Nanami. Kira-kira di filmnya nanti hanya ada
dialog antar mereka berdua.
Dua orang teman masa kecil yang sudah SMA kelas
3, karena pernyataan cinta tokoh utama perempuan jadi
berpacaran. Hari-hari yang bahagia, tiap hari yang bahagia.
Pergi ke sekolah bersama-sama, tatapan mata saling
bertemu saat pelajaran, makan siang bersama, pulang
bersama. Dan kadang belanja bersama-sama, atau kencan ke
taman hiburan, berciuman saat naik bianglala. Walau tidak
ada perkembangan cerita yang mengejutkan. Tapi setiap
adegannya terasa manis yang membuat orang berpikir
kehidupan SMA seperti ini juga tidak buruk.
Hn~, apa boleh begini?
Saat adegan kencan di taman hiburan selesai, Nanami
menyerah pada karakternya, dan mengeluarkan suara yang
aneh.
Aku merasa penampilan tadi cukup bagus, kok.
Sudah mendalami perasaan tersebut. Dan jujur
saja, adegan bianglalanya membuat orang gugup. Dan
saat kalimat yang dikeluarkan Nanami seperti mari kita
berciuman membuat hati orang tidak tenang.
Hn, tetapi, Misaki-senpai bilang ingin perasaan
yang tidak ingin diubah?
Ya.
Apa tidak merasa yang tadi itu agak palsu? Atau bisa
dibilang disengajakan?
161
Ini, hn, sepertinya...
Merasa dengan jelas tercampur dengan akting. Tapi itu
mungkin karena Sorata sangat mengenal dengan Nanami,
jadi bisa merasakannya.
Ah, susah juga. Sepertinya tidak perlu acting
Aku malah merasa kalau akting lebih susah
Aku merasa sudah lebih baik dari pada dulu latihan,
sudah tidak ada perasaan yang ingin membuat orang
tertawa.
Kalau begitu terima kasih atas pujiannya.
Masalah Sorata tidak penting sama sekali, karena yang
ikut audisi adalah Nanami.
Mungkin karena aku menghafalkan sambil memikirkan
mungkin perasaan tokoh perempuannya seperti ini, tapi
bagaimanapun itu hanya membayangkannya. Aku tidak
pernah punya pacar, tidak pernah kencan ke bianglala, jadi
tidak begitu mengerti.
Begitu, ya.
Hn~.
Kalau begitu mau bagaimana, ya?
Mereka berdua memikirkan solusi untuk masalah ini.


Setelah beberapa saat, tatapan mata Sorata dan Nanami
saling bertemu. Dengan eksrepsi seperti sudah memikirkan
solusinya. Di dalam otak Sorata, muncul sebuah ide.


Hanya, Sorata ragu-ragu untuk mengatakannya
atau tidak. Walau untuk audisinya, tapi apa Sorata boleh
mengatakannya pada Nanami yang sepertinya sudah tahu
perasaan Sorata.
162
Itu, Kanda-kun
Saat ini , Nanami berbicara.
Mau tidak kencan ke taman hiburan?
Terdengar seperti sedang meniru karakter seseorang,
terlihat sedikit disengajakan.
Kenapa menggunakan nada sopan seperti itu?
Bukannya Kanda-kun kadang juga seperti itu?
Ya, benar juga
Mereka berdua tertawa.
Bagaimana dengan lusa, hari minggu?
Kali ini Sorata yang bertanya.
Hari itu, sehari aku ada pekerjaan, ganti tanggal 29
boleh?
Itu merupakan hari pertama Golden Week, belum ada
rencana apapun.
Boleh.
Kalau begitu tanggal 29, ya?
Hmm, tapi kalau aku menjadi lawanmu untuk
menemani ke taman hiburan, apakah itu bisa menjadi
sebuah contoh yang bagus untuk adegan bianglala nanti?
Kata-kata yang tidak sengaja dikeluarkan biasa hanya
untuk menutup perasaan malu. Sorata merasa seperti itu,
dan Sorata yakin kata-kata tadi untuk menenangkan suasana
saat ini. Sejak dulu selalu seperti itu.
Tapi hari ini sedikit berbeda.


Nanami berdiam, mengangkat kepalanya dan menatap
Sorata, terlihat sedikit marah dengan ekspresi serius, hanya
pandangan matanya yang terlihat ragu, seperti menunjukan
kesepiannya pada Sorata.
Apa kau benar-benar merasa begitu?
163
Karena kalimat ini, hati Sorata terasa terpincut. Saling
larikan diri dari perasaan masing-masing, tapi Nanami seperti
mengulurkan tangan, meminta Sorata jangan melarikan diri.
Tentu saja bisa jadi contoh yang bagus.

Karena orangnya adalah Kanda-kun, tentu bisa jadi
sebuah contoh yang bagus.
Begitu, ya
Suara terasa habis.
Hn.
Setelah Nanami membalasnya, dengan cepat ia berdiri.
Terima kasih hari sudah menemaniku latihan, walau
latihan sampai tengah jalan, tapi tidak apa. A-aku balik ke
kamar dulu.
Nanami dengan cepat mengatakannya, dan berlari
kecil meninggalkan kamar Sorata.
Suara langkah kaki semakin menjauh, baik ke lantai
dua.
Sorata yang setengah melamun, tidak mengedipkan
mata sesaat, dan dengan cepat sudah tidak terlihat Nanami
lagi.
Tadi itu apa?
Pertanyaan itu muncul dipikiran Sorata. Tapi sepertinya
pertanyaan itu tidak terlalu berarti.
Sorata sudah tahu jawabannya.

Sorata menutup matanya, dan berbaring di kasurnya.
Kucing yang sudah tidur bangun lagi dan protes
kepada Sorata karena terkejut.
Walau suara terdengar oleh Sorata, tapi Sorata tidak
peduli.

164
Musim semi kali ini, musim yang baru telah tiba,
kehidupan SMA tahun ke tiga ini akhirnya sudah dimulai.
Di Sakurasou, ada Sorata, Mashiro, Nanami,
Ryuunosuke, maid-chan, dan Chihiro-sensei. Dan saat ini
juga ada siswa kelas satu bergabung, yaitu Iori. Sorata juga
selalu mengira tahun ini juga akan merasakan banyak hal
dengan penghuni Sakurasou, kadang bahagia, kadang
sedih, dan mengira akan begini terus sampai tamat SMA,
dan tidak ragu-ragu mengira hubungan seperti saat ini
bakalan berjalan terus.

Tidak, apa benar begitu? Sepertinya tidak, tiap hari
yang terlihat sama, sebenarnya sedikit demi sedikit mulai
berubah
Karena hari-hari yang terasa begitu damai, sampai
melupakan ini.
Seperti musim yang mulai berubah, berjalannya waktu
juga mengubah hubungan antar orang. Karena hari ini tidak
begitu beda dengan kemarin, jadi tidak terlihat perubahan
yang jelas. Sampai suasana hati sendiri yang berubah juga
tidak sadar
Lalu, sedikit demi sedikit muncul perubahan yang
kecil, suatu hari akan menunjukan perubahan tersebut,
seperti saat Mashiro ingin melukis Sorata
Hubungan dengan Nanami juga mulai berubah. Sejak
kapan, ya?
berpikir begitu kurasa tidak ada gunanya juga.
Yang bisa dipastikan , Sorata dan Nanami bersama-
sama melewati hari ini.
Juga sebuah hal yang tidak bisa kembali ke kemarin
lagi.
Sorata mulai merasakan kedua hal tersebut.
165
BAB 3
Keputusan Aoyama Nanami

Bagian 1
Minggu, 24 April Hari ini Sorata tidak
meninggalkan Sakurasou selangkah pun, dari pagi sibuk
membuat game.
Masih sisa 5 menit sebelum jam 9 malam.
----- Sendiri sudah bisa mendesain program awal untuk
game shooting.
Setelah berusaha keras selama 10 hari, Sorata
mendapatkan sebuah inspirasi, dari semalam menelusuri
intinya.
Awalnya ingin membuat game tipe shooting yang
biasa saja, tetapi pada saat baru selesai merancang 2 musuh
tahap awal -----
Kok rasanya membosankan ya?
Sorata menyadarinya, jadi merasa perlu mengubah
sedikit gamenya.
Setelah itu Sorata memilih tipe shooting pertempuran
1 lawan 1. Dengan menggunakan efek 3D, maka akan di
klasifikasikan shooting oleh orang ketiga dengan konten
dalam game TPS. Tapi karena belum menggunakan sumbu
vertikal, jadi merupakan 3D yang belum sempurna, yang
sebenarnya masih bisa disebut 2D
Peraturannya sangat sederhana. Yaitu saling bertarung
di dalam cakupan yang sudah ditentukan, pemenangnya
adalah yang duluan menghabisi HP lawannya.

166
Senjata yang tersedia ada 3 jenis. Yang pertama
adalah dengan tembakan yang bisa ditembak secara terus
menerus tetapi memberi dampak yang lemah ; yang kedua
tidak bisa menembak secara terus menerus, tembakannya
lambat tetapi sangat kuat ; yang ketiga adalah bom yang
hanya bisa dipakai 3 kali dalam tiap putaran gamenya, guna
untuk membunuh musuh yang menggunakan meriam, dan
untuk mengejutkan musuh, kurang lebih dirancang seperti
itu senjatanya.
Hari ini sudah menghabiskan waktu seharian dan
hanya bisa menyelesaikan senjata yang pertama.
Hampir semua waktu dihabiskan untuk membuat
pola pikir untuk musuh CPU. Tetapi membuahkan hasil
yang cukup bagus, saat menjelang malam hari, sudah bisa
memburu lawan player.
Akhirnya sudah sedikit ada kesan game. Karena terlalu
gembira, Sorata menghabiskan waktu kurang lebih satu jam
dengan tidak bosan-bosannya memainkan game yang belum
sempurna tersebut.
Tinggal pengaturan pengukuran perhitungan stamina
untuk membuat keputusan yang menentukan siapa
pemenangnya, dengan begitu proses pembuatan tahap ini
akan selesai. Dan juga masih perlu untuk menambah 2 cara
untuk menyerang ------ bom dan peluru berkecepatan tinggi,
tapi Sorata berpikir itu tidak akan terlalu susah.
Proses perkerjaan gamenya tanpa diduga lumayan
lancar.
Membuat orang berpikir andaikan saja ada lebih
banyak waktu untuk mengerjakannya.
Walau hari minggu bisa menghabiskan waktu seharian,
tapi hari biasa tidak akan bisa.

167
Sepertinya sudah sedikit paham alasan kenapa
Ryuunosuke jarang datang ke sekolah. Walaupun begitu,
bagaimanapun tidak boleh meniru sikapnya itu ..
Dengan kecepatan seperti ini mungkin 1 minggu lagi
pekerjaannya bisa selesai.
Sorata melepaskan mesin kontrolnya dan meregangkan
tubuhnya ke belakang.
Karena dari tadi dia cuma duduk terus, bahunya
mengeluarkan suara klak klak.
Ah~~
Sekali tidak konsen langsung mengeluarkan suara
seperti itu.
Sorata baring di kasurnya.
Dalam hatinyanya ia merasa sangat puas. Karena hari
ini telah berusaha ------- Sorata berpikir seperti itu.
Dia merasa seperti menimpa sesuatu dibelakang
punggungnya, dan dia mengambil barang yang ditimpa.
Ternyata sebuah buku. Buku yang kemarin ditinggalkan Hase
Kanna, hari itu juga Sorata selesai membacanya. Awalnya
sebenarnya cuma penasaran tetapi sekali membacanya,
serasa tidak bisa berhenti dan ketika ia menyadarinya
ternyata sudah baca sampai di halaman terakhir.
Sebuah cerita yang mengesankan. Tetapi, Kanna sangat
gelisah karena tidak memiliki ide untuk menulis kelanjutnya
di buku ke-2.
Coba tanya saja dulu.
Tiba-tiba Sorata punya sebuah pemikiran, mengulurkan
tangannya mengambil HP yang ada di sampingnya, mencari
nama seseorang yang ngangenin di kontaknya, dan menekan
tombol call. Entah kenapa Sorata merasa sedikit gugup.
Ada apa?

168
Suara yang terdengar dari hp adalah Mitaka Jin yaang
lulus SMA Suimei pada bulan maret yang lalu.
Cuma ingin bertanya bagaimana kabarmu akhir-akhir
ini.
Karena selalu menolak undangan dari teman teman,
jadi aku dianggap orang yang susah untuk di ajak bergaul.
Baru masuk universitas sudah nampak akan sendirian
selama 4 tahun, membuatku takut sampai gemetar.
Huh?
Tapi, saat kubilang aku sudah mempunyai istri,
semuanya menjadi tertarik lagi dan mendekatiku. Sekarang
malah di anggap tokoh sentral, cukup menyusahkan juga.
Apa yang kau bicarakan?
Kabar aku lah. Bukannya kamu sendiri yang tanya?
Kau sendiri juga semangat sedikitlah.
Walau kenyataannya memang begitu ..
Jadi, apa sekarang kau sedang kesal atau punya
masalah?
Aku ingin bertanya bagaimana cara untuk membuat
sebuah cerita?
Untuk inilah Sorata meneleponnya, jadi dengan cepat
masuk ke topik utama.
Ada apa? Apa game mu perlu naskah?
Jika memang membutuhkan naskah aku tidak akan
menulisnya sendiri dan tanpa ragu aku akan meminta
bantuan Jin-senpai.
Untuk membalas harapan mu, aku akan berusaha
lebih baik lagi.
Sorata merasa tenang setelah mendengar respon dari
Jin.

169
Sebenarnya murid baru yang ku kenal beberapa hari
yang lalu adalah seorang novelis, tapi karena dia tidak bisa
menulis kelanjutan di buku ke-2nya membuat dia jadi sangat
frustrasi.
Novelis? Apa buku dia sudah pernah diterbitkan?
Suaranya Jin terdengar sedikit terkejut.
Iya. Sudah pernah.
Kalau begitu berarti Sorata ingin membantu murid
baru yang cantik nan imut ini?
Seingatku, aku gak bilang cantik nan imut, dan juga
tidak bilang dia cewek?
Bukankah?
Iya, memang seorang cewek yang cantik nan imut.
Seperti biasa kamu selalu memikirkan orang lain ya.
Bukan begitu. Cuma terpikir mungkin Jin-senpai bisa
membantu, jadi coba-coba aja tanya.
Urusanmu sendiri apa ada perkembangan?
Berkat Akasaka proses pembuatan gameku lumayan
lancar, aku sangat senang.
Sekarang di TV masih menampilkan gambar game
yang masih di proses, musuh CPU menyerang terus player
yang tidak bisa bergerak.
Hmm, memang bisa diandalkan kalau Akasaka. Terus,
nama cewek yang tadi siapa?
Hah?
Maksudku novelis yang cantik nan imut itu. Bukannya
Sorata sendiri yang bertanya?
Ah benar juga. Saking senangnya membicarakan soal
pembuatan game jadi hampir kelupaan soal Kanna.
Namanya Hase Kanna. Kanna nya ditulis dengan
huruf hiragana.

170
Oh, aku tahu nama itu. Dia adalah cewek yang berhasil
mendapatkan penghargaan orang baru dengan Hari
Minggunya si Cinderella ya? Aku juga pernah membaca
bukunya.
Ah, begitu ya.
Kalau begitu, sekarang pasti akan lebih mudah
meminta bantuan Jin-senpai.
Karena saat umur 14 dia sudah memulai debutnya.
Saat itu sempat jadi topik hangat pembicaraan, bukunya
juga di nilai sangat bagus.
Sorata tidak tahu semua itu mungkin karena yang
biasa dibacanya cuma komik.
Oh~~ dia masuk Suimei ya. Dunia ini kecil juga.
Memang sudah sewajarnya kalau Suimei dapat
menarik orang-orang berbakat seperti Kanna.
Berarti dengan kata lain, Sorata meninggalkan
Mashiro dan Aoyama dan fokus ke cewek ini?
Cara berbicara Jin-senpai yang santai tetap tidak
berubah.
Tidak.
Maksudmu tidak apanya? Yang fokus ke cewek ini
ya ?
Benar.
Kalau begitu yang meninggalkan Mashiro dan
Aoyama juga benar?

Kalau kau tidak menjawab, berarti memang terjadi
sesuatu dengan mereka dua.

171
Seperti yang diharapkan dari Jin-senpai, sangat peka.
Bagaimanapun dia merupakan pria yang pernah pacari 6
cewek sekaligus. Walau tidak boleh menjadi contoh tapi bagi
Sorata yang belum pernah berpacaran, Jin merupakan lawan
yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh Sorata.
Topik ini, hmm, aku tidak terlalu peduli. Walau bukan
sepenuhnya tidak peduli, tapi masa bodohlah.
Apa-apaan itu hah?
Terdengar Jin sedang tertawa.
Kembali ke topik utama.
Yang dibicarakan Sorata sekarang adalah novelis
yang kebingungan karena tidak bisa menulis kelanjutan di
buku ke-2nya?
Iya.
Hm, memang akan sangat sulit untuk menulis
kelanjutannya di buku berikutnya jika dilihat dari style
penulisan karyanya itu.
Maksudnya?
Apa Sorata sudah membacanya?
Huum, sudah ku baca kemarin lusa malam.
Tipe ceritanya adalah cerita modern. Tokoh utamanya
cewek kelas 2 SMP, dengan gaya rambut kuncir kuda dan
memakai kacamata bisa di bilang cewek yang sangat polos.
Di sekolah juga tidak begitu menarik perhatian, tetapi
bukan penyendiri. Saat istirahat ada teman yang bisa diajak
ngobrol juga ada teman yang bisa diajak makan siang
bersama.
Saat ada 1 temannya yang tertawa, yang lain juga
akan bertepuk tangan dan bertanya apa itu, lucu sekali.
Kesehariannya kurang lebih seperti itu.

172
Tapi di dalam hatinya dia tidak tertawa. Walau punya
teman tapi tidak punya sahabat karib yang bisa di ajak
curhat Jika memahaminya lebih dalam, akan menyadari
dia juga punya sisi yang sepi.
Dia tidak merasa sekolah itu menarik, dan juga sangat
benci keadaan ketika merima email dari teman harus
membalasnya dengan segera, di dalam hatinya merasa itu
semua adalah hal yang sangat bodoh. Meskipun teman,
pada akhirnya hanya tampilan luar semata, hanya dengan
menggunakan infra merah bertukar email dan saling
mengirim pesan untuk mempertahankan hubungan tersebut.
Betapa bodohnya hal itu. Tetapi pada kenyataannya dia
tetap membalas email dari temannya dengan cepat karena
dia tidak ingin makan siang sendirian.
Dan begitulah, dia dengan terpaksa mempertahankan
hubungan ini, meski ada saat dimana dia tidak bisa mengikuti
percakapan teman-temannya tapi dia tetap berusaha. Dan
jika sampai dibilang dia sombong ya maka pasti akan
langsung dikucilkan.
Setiap hari menjalani kehidupan seperti itu. Tapi tidak
hanya dia, temannya yang yang lain mungkin juga ada yang
seperti itu. Tapi tidak ada orang yang ingin menentang
hubungan saat ini. Jadi walau tidak suka dengan situasi saat
ini, semuanya tetap mempertahankannya.
------ Di lingkup ini tidak menerima orang yang
berencana menghancurkan kedamaian.
Di kelas setiap orang tahu akan hal itu. Makanya semua
orang menaati aturan tersebut.
Di dalam karyanya dijuluki ketahanan hubungan
dimana tidak ada orang yang memperoleh keuntungan.

173
Di suatu minggu pada hari yang biasanya, demi
melampiaskan semangat yang kian lama terpendam, dia
berusaha tampil trendi, pergi ke kota sebelah yang biasanya
tidak pernah dikunjungi.
Membiarkan rambut panjangnya terurai, mengganti
kacamata dengan lensa kontak dan memakai sedikit make
up, pakai rok mini yang di beli tapi tidak pernah dipakai
sebelumnya. Berdiri dengan tegap dan mencocok kan
tampilan sekarang dengan sepatu bot, entah kenapa suasana
hati berubah begitu drastis menjadi menyenangkan.
Dia berjalan dengan santai dikota sebelah. Hanya
dengan begitu dalam sekejap dia merasakan dunia menjadi
penuh warna. Biasa nya laki-laki tidak begitu tertarik
dengannya, tetapi hari ini perhatian semua orang disekitar
mengarah padanya. Hanya saling melewati saja bisa tahu
kalau orang lain sedang melihat ke arahnya, dan bisa
merasakan orang-orang sampai memutar balik kepala
untuk melihatnya. Bahkan percakapan anak-anak SMA yang
tengah membincangkan cewek yang tadi cantik banget ya?
terdengar dengan sangat jelas.
Seakan perasaan sesak saat disekolah sudah lenyap
semua, dan merasa dapat bernapas dengan mudah,
pemadangan juga menjadi lebih indah, langit terlihat lebih
luas. Perasaan terbuka seperti ini membuat dia merasa
sangat senang.
Sejak hari itu, hampir tiap hari minggu dia akan
berusaha tampil trendi untuk jalan-jalan ke kota sebelah.
Mengobrol dengan penjaga toko majalah fashion, pergi ke
toko crepe terkenal yang biasanya tidak berani pergi karena
gugup untuk mengantri.

174
Setelah beberapa kali berkunjung, dia juga sudah mulai
punya teman di kota sebelah. Karena teman yang di kota
sebelah tidak memiliki hp, maka tidak perlu memusingkan
soal email-emailan. Dia bisa dengan terbuka mengobrol
apapun sama temannya yang hanya bertemu dihari minggu
saja, seperti ketidakpuasan saat di sekolah, memusingkan
soal cinta, juga soal orangtua bercerai.. Mama menikah
lagi Dan hal lain dirumah ataupun disekolah ..
Suasana yang sama di setiap hari minggu, membuat
orang mulai kebingungan apa itu hanya sekedar mimpi
atau kenyataan, dan juga akan mencapai ending seperti apa
nantinya? Membuat Sorata dengan gugup membaca sampai
ke halaman terakhir.
Ending dengan mendadaknya datang.
Mempunyai seseorang yang sudah bisa disebut
sahabat ------- Tetapi ketika dia berpikir ini merupakan saat
yang paling bahagia baginya ..
Dia tiba-tiba terbangun.
Yang pertama terlihat adalah plafon asing yang
berwarna putih.
Saat laki-laki berjubah putih datang berbicara, dia baru
sadar bahwa ini adalah rumah sakit. Sepertinya dia diantar
ke rumah sakit saat dia pingsan di sekolah.
Ketika dokter berbicara tentang hal seperti tekanan
dan yang lain sebagainya, dia tidak mengerti sama sekali.
Padahal sebelumnya, masih bersenang-senang mengobrol
dengan teman yang di kota sebelah
Kepanikan yang dialami tokoh utama tersebut juga
membuat pembaca seperti Sorata merasakannya. Tetapi
ketika semua orang bertanya-tanya apa yang telah terjadi,
ceritanya pun berakhir dengan gantung.

175
Bagian mana kah merupakan kenyataan? Dan juga
bagian mana kah yang merupakan mimpinya?
Karena sangat penasaran jadi membaca berulang-ulang
kali, tapi akhirnya tetap tidak bisa menemukan jawabannya.
Ending cerita ini membuat para pembacanya merasa
tidak bisa tenang.
------- Begitulah kenyataannya.
2 hari setelah dia membaca, Kanna memberitahunya
seperti itu.
Jadi kesanmu tentang bukunya?
Jin bertanya.
Meski sangat menarik, tapi terasa tak begitu
mengenakkan. Bagaimana kesan Jin-senpai?
Aku rasa ini bukan cerita yang dibuat-buat.
Apa maksudnya?
Biarku berpikir sebentar.. lebih tepatnya ini bisa
disebut bukan cerita yang di buat dengan imajinasi, melainkan
pelampiasan isi hati dengan cara mengilustrasikannya
sebagai novel.
Ah, begitu ya.
Sorata tahu apa yang di maksud oleh Jin. Menulis
tentang kesesakan saat di sekolah atau betapa tidak
menyenangkannya sebuah hubungan yang palsu dengan
teman, benar-benar membuat orang merasa tidak begitu
enak.
Dan setelah berkenalan dengan Kanna, Sorata semakin
yakin ceritanya itu merupakan pengalaman pribadinya.

176
Cerainya orang tua, dan kehidupan bersama Mama
setelah bercerai. Ditambah lagi dalam buku di jelaskan bahwa
karena Mamanya menikah lagi jadi punya Papa baru, dan
juga berpikir tokoh utama yang tidak suka dengan marga
barunya dapat terlihat bahwa tokoh utama perempuannya
mirip dengan Kanna yang membenci marganya saat ini.
Bahkan di saat membaca juga hampir menganggap
tokoh utama perempuannya adalah Kanna. Membuat Sorata
merasa tidak enak seperti telah mengintip kehidupannya
saat SMP.
Alasan kenapa dia tidak bisa menulis kelanjutannya,
mungkin karena sudah tidak punya bahan dalam isi
hatinya, akan dimulai dengan selembar kertas kosong untuk
membuatnya kan? Buku pertama ditulis tanpa harus berpikir
seperti mengungkapkan isi hatinya dan tentu cara yang
sama tidak bisa dipakai untuk kelanjutan di buku ke-2nya.
Jadi, harus bagaimana supaya dia bisa menulis lagi?
Jangan memaksa untuk menulis, tetapi menenangkan
hati seiring menunggu menumpuknya emosional didalam
hati.
Hm. sepertinya agak sulit.
Tekanan karena tidak bisa menulis membuatnya dalam
bahaya. Kalau dibiarkan terus menerus, pasti dengan cepat
akan terjadi sesuatu .
Sudah ditagih sama editornya?
Dia bilang walaupun memberikan ide tetap saja akan
ditolak editornya karena tidak bagus.
Begitu ya. Kalau begitu aku akan memberikan
beberapa saran.
Ah, sebentar. Aku mau mencatatnya.
Sorata dengan panik menuju ke meja dan
mempersiapkan pen dan kertas.
177
Sebenarnya sarannya mungkin tidak begitu
membantu, jadi jangan terlalu berharap ya.
Sudah siap.
Pada dasarnya, akan lebih mudah kalau menganggap
cerita hanya sebagai kerangka. Tokoh utama seperti apa,
di dunia yang seperti apa, atau bertemu dengan seseorang,
terlibat dengan sebuah kejadian, melakukan sebuah
hal, perasaan yang bagaimanakah, ending yang seperti
apakah. Menyusun kerangka ceritanya seperti ini akan
lebih gampang.
Jin dengan sengaja pelan-pelan membiarkan Sorata
bisa mencatat tanpa ketinggalan.
Menganggap cerita Hari Minggunya si Cinderella
sebagai contoh, aku pikir sebentar.. disekolah maupun
dirumah membuat dia merasa tidak begitu nyaman, siswi
SMP kelas 2 yang pusing tiap hari, dan suatu hari pergi ke
kota sebelah yang tidak ada 1 orang pun yang mengenalnya,
berhubungan dengan orang yang tidak di kenal, bertemu
dengan teman yang bisa di ajak curhat dan mengobrol,
menemukan sebuah tempat yang bisa membuatnya nyaman,
sebuah cerita yang baru saja menemukan harapannya
Kira-kira seperti itu.
Rupanya begitu.
Walau dibaca sampai akhir kita tetap dibuat harus
menghadapi kenyataan ini bahwa perasaan akan sebuah
hubungan yang membuat orang merasa sesak tetap ada.
Dia mungkin ingin menyampaikan bahwa kalau mimpi pada
ahkirnya tetap akan terbangun.
Setelah mendengar penjelasan Jin, endingnya memang
bisa di simpulkan seperti itu.

178
Dan juga pengarang perlu berpikir dengan cerita ini
apakah dia bisa membuat pembaca merasakan sesuatu,
berharap pembaca dapat memahami ceritanya itu, ini sangat
penting. Kalau ceritanya itu berdasar pengalamannya
sendiri.
Maksudnya tema seperti apa?
Dengan istilah sederhananya, ya begitulah. Hanya
yang ku bilang tadi berdasar keseluruhan ceritanya, kalau
melalui tokoh-tokoh juga bisa.
Ou.
Kalau misalnya, di dalamnya ada seseorang yang tidak
dapat melihat situasi?
Tanpa sengaja mengaggap Iori sebagai orang itu.
Menambah kesan di suatu tokoh akan mempengaruhi
gaya penulisan juga. Seperti pecundang yang tidak bisa
apa-apa, atau bocah lucu yang membuat orang lain tidak
membencinya. Tokoh yang tidak bisa melihat situasi akan
membuat banyak masalah, merupakan karakter yang
repot Tapi sebaliknya juga ia tidak memikirkan diri
sendiri dan tanpa berpikir membuat orang lain terlibat tapi
akhirnya berakhir bahagia, karakter seperti itu juga tidak
bisa di benci bukan?
Walau berada di situasi yang sama, tapi ini memberikan
kesan yang berbeda.
Lain kali aku akan coba membahas ini bersama dia.
Kalau begitu juga boleh, aku ada contoh yang
gampang, nanti ku kirimin.
Serius? Makasih banget.
Tapi, aku tidak yakin bisa membantu banyak.
Saat ini, komputer yang masih nyala menerima
sebuah email, itu dari Jin. Sepertinya dengan cepat ia sudah
mengirimnya, Jin memang baik.
179
Kalau begitu, apa tidak perlu mendengar masalah soal
cinta Sorata?
Kalau yang itu akan ku pikirkan sendiri.
Wogh, memang lelaki sejati.
Jin dengan sengaja memberi reaksi yang lebay. Sorata
pasti dianggap bodoh.
Kalau memang tidak bisa, aku akan mencari Jin-
senpai untuk mendiskusikannya lagi.
Kalau memang niat tampil keren, berusaha
bertahanlah sampai akhir.
Jin tertawa dengan suara yang keras.
Kalau begitu, bukannya akan menjadi lebih parah?
Kalau malu di dalam cinta tidak ada keuntungan,
bagaimanapun akhirnya akan tetap telanjang.
Termasuk hati juga?
Sorata bertanya, dalam hatinya merasa sedikit malu.
Tapi kenyataannya mungkin tubuh yang telanjang
dulu.
Tak tahu harus bagaimana ku mengatakannya, entah
itu memotivasi atau membuat kehilangan semangat
Saat mereka berdua masih membicarakan topik ini,
pintu kamar Sorata dibuka. Mashiro berjalan kemari seperti
menganggap kamar ini merupakan kamarnya. Apakah ada
urusan?
Ah, maaf, padahal aku sendiri yang meneleponmu tapi
sekarang Shiina datang ke sini.
Tentu saja sekarang bukan saatnya mengobrol dengan
senior yang sudah tamat sekolah.
Sorata pura-pura tidak dengar Jin berbicara.
Kalau begitu, aku akan menelepon lagi.
Oke.
Sorata menutup teleponnya.
180
Mashiro duduk di kasur menatap terus TV yang masih
nyala dan kontroler mesin game.
Ingin coba bermain?
.
Sorata memberikan kontroler game pada Mashiro yang
terdiam, lalu perlahan menjelaskan cara mengendalikan.
Sampai saat ini Mashiro masih terdiam.
Baiklah, mari kita mulai.
Nyalakan kembali mesin gamenya, dan menjalankan
game yang masih belum selesai dibuat.
Mashiro kurang pandai mengendalikan kotrolernya
dan player yang ada di layar bergerak sembarangan dan
menyerang ke arah musuh.
Sorata.
Ada apa?
Bosan sekali.
Iya, kalau kau merasa ini menarik aku malah akan
sangat terkejut!
Dan juga, gamenya belum selesai, jadi harap jangan
memberi penilaian dulu.
Sebuah karya yang gagal.
Darimana kau belajar kalimat seperti itu!
Maid-chan yang mengajariku.
Ternyata hubungan kalian lumayan bagus juga
Sebenarnya apa yang mereka berdua bicarakan?
Maid-chan pernah bilang.
Dia bilang apa?
Sorata sedang membuat sebuah karya yang gagal.
Aku kan bukan sengaja ingin membuat karya yang
gagal!
Nanti saja mengirim email protes ke Maid-chan.
Pokoknya hiraukan ini dulu, Shiina.
181
Ada apa?
Pada saat kau menggambar manga, apa kau pernah
merasa tertekan?
Tertekan?
Misalnya tidak lancar, pusing memikirkan ide, atau
mencemaskan apakah manga mu akan berhenti serialisasi
gitu?
Pernah.
Yang dikira bakalan tidak pernah tapi ternyata jawaban
Mashiro berlawanan dari perkiraan.
Kalau begitu, pada saat itu emosi seperti apa yang kau
rasakan?
Emosi yang ingin
Emosi yang ingin?
Sorata
Aku?
Membully Sorata.
Ayolah jangan begitu.
Sekarang aku sedang membullymu.
Jadi sekarang kau sedang membully ku!
Sepertinya tanpa disadari sudah menjadi bahan
Mashiro untuk meringankan stresnya. Terkadang dia akan
berbicara yang aneh-aneh. Jadi selama ini, itu sebenarnya
sedang meringankan stresnya?
Akhir-akhir ini Sorata sombong.
Kenapa tiba-tiba aku dimarahi?
Ini tidak boleh.
Apa maksudmu Mashiro!
Sama sekali tidak boleh.
Apa-apaan itu? Dan sekarang apakah ini topik baru
kita?
Sama sekali tidak bisa ditolong.
182
HELP!
Seperti yang diduga.
Apa yang kau bicarakan sih!
Sebelumnya tidak pernah kejadiaan seperti ini,
membuat orang panik saja.
Entah apakah Mashiro sudah puas atau gimana, tiba-
tiba dia terdiam.
.
.
Menatap Sorata seperti sedang menunggu sesuatu.
Gimana?
Apanya gimana!
Apa detakan jantung Sorata bertambah cepat?
Tidak, malah merasa menjengkelkan!
Ternyata gagal.
Mashiro menggunakan jari menekan bibirnya,
sepertinya dia sedang berpikir.
Apa yang sedang kau rencanakan?
Rita pernah bilang.
Entah kenapa saat mendengar nama ini membuatku
merasa tidak begitu nyaman.
Dua orang yang terjebak dalam sebuah hubungan
yang membingungkan.
Aku dan Shiina?
Musim kemarau.
Apa pernah melewati musim hujan?
Makanya kurang perhatian dengan Sorata.
Terasa nada berbicaranya berbeda dengan yang
biasanya.
Jangan-jangan kau sedang meniru Rita-san?
Miripkan?
Hanya segitu tapi kenapa kau merasa bangga sekali!
183
Soalnya memang begitu.
Tidak, aku sama sekali tidak bisa memahami apa
maksudnya.
Sepertinya bertanya kepada Rita-san akan lebih cepat.
Sorata mengambil hpnya dan mengirim email ke Rita.
Perbedaan antara Jepang dengan Inggris kira-kira 9
jam, jadi seharusnya sekarang disana masih siang hari.
------ Apa yang kau ajarkan pada Shiina?
Baru sebentar sudah mendapat balasan.
------ Aku hanya mengajari dia trik cinta yang dasar
loh?
------ Tolong jelaskan situasinya padaku.
------ Bagi dia, kau selalu disampingnya itu wajar saja.
Jadi untuk membuat dia untuk balik melihatnya sebaiknya
jaga jarak dulu lalu tunggu saat dia sudah kehilanganmu
maka dengan tegaslah mengatakan : kalau kau kira aku
akan selalu berada disamping maka kau sudah salah besar!,
tunggu sampai hatinya sudah berada diambang kehancuran,
dan saat itulah giliran dia yang akan balik mengejarmu.
------ Terdengar seperti menyalin dari sebuah artikel.
------ Soalnya memang nyalin dari artikel.
------ Sudah kuduga!
------ Ryuunosuke sudah bersikap dingin padaku lama
sekali, bukankah sudah saatnya dia memperlakukanku
dengan sedikit lembut?
------ Topik apa ini?
------ Topik cinta antara aku dengan Ryuunosuke.
------ Bisa kau membicarakan ini dengan Ryuunosuke?
------ Tolong beritahu Ryuunosuke. Kalau masih tidak
mengirim email padaku, aku akan kencan dengan laki-laki
lain loh, dan memberi barang yang penting dariku kepada
orang lain. Aku serius loh.
184
Sepertinya Rita juga sedang menggunakan trik cinta
yang dasar.
Pokoknya, sesuai yang Rita minta, mengirim email
pada Ryuunosuke dulu.
------Rita bilang begini.
Terus langsung mendapat balasan, yang dikira bakalan
Maid-chan yang membalas, tapi ternyata Ryuunosuke sendiri
yang balas.
------ Sungguh sebuah kabar yang bagus. Beritahu dia.
Walau bukan tidak boleh memberitahunya, tapi Rita
terlalu kasihan, Sorata tidak bisa mengatakannya. Sepertinya
soal cinta antara Rita dan Ryuunosuke juga tidak berjalan
lancar. Tapi kalau sudah tahu, bagaimanapun tidak boleh di
biarkan begitu saja.
Sorata menutup Hpnya. Sepertinya sudah tidak ada
masalah, terlihat Mashiro yang berjalan keluar kamar.
Tunggu bentar kau! Berilah waktu untuk aku
mengeluh! Aku sudah hampir stres!
Mashiro dengan terpaksa membalikkan badannya.
Karena ..
Karena apanya!
Sorata akan berkencan dengan Nanami.
Setelah mengatakan itu, Mashiro menebasnya pakai
pisau mengarah ke bagian yang tidak ada persiapan sama
sekali. Hanya dengan 1 tebasan saja sudah bisa menjadi luka
fatal.
Sorata merasa ini sebenarnya tidak perlu
disembunyikan, karena saat kemarin makan malam di ruang
makan mendiskusikan tempat pertemuan dan waktunya,
sebuah keputusan yang salah.
Alasan kenapa Mashiro membahas dengan Rita
mungkin karena masalah ini.
185
Itu cuma untuk jadi bahan referensi untuk latihan
naskahnya.
.
Mashiro terus menatap Sorata.
A-apa, kenapa melihatku terus?
Sorata sudah punya orang yang disukainya.
Sepertinya sekarang sedang melanjutkan topik yang
dibicarakan saat kedatangan Kanna.
Ah itu, hm, pada dasarnya itu merupakan sesuatu
yang wajar saja terjadi.
Sorata ingin menganggap biasa-biasa saja dan
membiarkan berlalu, tetapi Mashiro bertanya terus.
Ada orang yang disukai, berkencan dengan Nanami.
Ja-jangan tebak sembarangan.
Tidak bisa membiarkan hal ini berlalu sangat
memusingkan kepala. Walau Mashiro sepertinya tidak sadar
Sorata menggali kuburannya sendiri saat Kanna datang,
tapi itu tidak berarti sekarang dia masih belum sadar,
kemungkinan besar pada saat dia membahas masalah ini
dengan Rita, Rita menyadarinya, dan memberitahu ini pada
Mashiro.
Kalau bukan Mashiro pasti Nanami. Hari itu, Sorata
sama saja memberitahu orang yang disukainya ada diantara
mereka berdua.
Kalau Sorata dengan tegas menyatakan orang yang
disukainya bukan Nanami, maka dengan kata lain orang yang
disukai Sorata adalah Mashiro. Sungguh cara menyatakan
cinta yang menyedihkan.
Oh~~
Apa maksud dari reaksi langka mu itu?
Sorata sudah punya orang yang disukainya
Masih berlanjut ya!
186
Berkencan dengan Nanami.
Tujuan kencannya hanya untuk bahan referensi
latihan naskahnya! Tidak ada maksud lain dari itu!
Sorata sudah punya orang yang disukainya
Bisa tidak jangan lanjutkan topik ini lagi?
Memperlakukan Nanami dengan lemah lembut.
Aku harus gimana supaya tidak melanjutkan topik ini
lagi?
Dilihat darimanapun, Sorata jelas-jelas dicurigai.
Sorata sudah punya orang yang disukainya
Masih perlu lanjutkah!
Nanami juga sudah mempunyai orang yang
disukainya.
Hm, harusnya ada.
Aku juga ada orang yang disukai.
Pipinya Mashiro terlihat sedikit memerah. Kalau
tidak memperhatikan dengan jelas tidak akan sadar. Arah
pandangan matanya juga berubah terus.
.
Orang yang disukai Mashiro.
Sepertinya ini pertama kalinya dia mengatakannya
dengan jelas.
Inilah fungsi ketiga pihak.
Sedikit lagi!
Inilah hubungan segitiga.
Walau sudah benar katamu, tapi bisa tidak jangan
mengatakannya dengan jelas begitu!
Mengapa?
Karena hati ku ini sudah hampir hancur!
Tidak salah lagi. Mashiro hampir mengerti hubungan
antara mereka bertiga yaitu Mashiro, Nanami dan Sorata.
Kalau begini pas.
187
Didalam hidup ini hubungan segitiga seperti apa yang
akan dikatakan pas?
Ayano yang bilang.
Dia adalah penanggup jawab editor Mashiro, Lida
Ayano.
Ou, mengapa?
Sudah saatnya hubungan segitiga.
Menurutku maksud Ayano-san bukan ditujukan untuk
dunia nyata! Yang dia maksud adalah hubungan segitiga di
mangamu!
Iya.
Kalau begitu, ini merupakan bagian yang penting,
jangan dihapus! Bikin aku kaget aja.. ngomong-ngomong,
apa kau tahu apa itu hubungan segitiga?
Walau sedikti curiga, bagaimanapun dia itu Mashiro.
Aku tahu.
Mashiro terlihat percaya diri. Bisa dibilang, kapanpun
dia selalu terlihat percaya diri.
Serius? Coba jelaskan.
Tak mau.
Bilang saja tidak tahu!
Kalau aku bilang, Sorata akan khawatir nanti.

Seperti bagian kepala dipukuli secara berat, Sorata
tidak bisa membalas omongannya itu.
Kalau begitu masih mau bilang juga?
Ja-jangan ..
Sorata merasa, sepertinya sudah tidak bisa menunggu
lagi.
Saat berpikir akhirnya datang juga.
Saat memutuskan akhirnya datang juga.

188
Walau belum siap, kenyataan selalu mendekati kita
tanpa belas kasihan, Sorata sudah tahu mengenai ini. Karena
pada tahun ini, Sorata sudah merasakannya.
Walau bukan sepenuhnya, tapi Sorata masih merasa
sedikit ragu.. Saat untuk memilih akhirnya datang juga.
Inikah yang dinamakan hidup.
Yang bisa Sorata lakukan hanya berpikir pada waktu
yang telah ditentukan, dan pusing mencari jawabannya.

Tapi, pada saat Mashiro sedang melukis Sorata, Sorata


sudah merasakan waktunya sudah tidak banyak.

Bagian 2
Keesokan harinya, hari senin, pada saat istirahat siang
Sorata mengambil tasnya.
Mau pergi mencari Mashiro?
Tanya Nanami yang duduk di sampingnya.
Tidak, ada beberapa urusan.
Urusan apa?
Karena Nanami tidak memaksa, Sorata menjawab
dengam sembarang dan dengan cepat meninggalkan kelas.
Turun lewat tangga, menuju ruang kelas 1. Yuuko
bilang dia kelas ke-3, Hase Kanna yang sekelas denganya
harusnya ada di kelas.
Berjalan di koridor yang beda tahun, walau sudah naik
ke kelas 3, tetap merasa sedikit gugup. Padahal saat masih
kelas 1, Sorata juga berada di gedung ini.
Mengamati kelas ke-3 sebentar. Terlihat Yuuko yang
sedang makan siang dengan temannya, tapi tidak melihat
Kanna.
Di saat ingin balik ke kelas, tatapan mata Sorata dan
Yuuko bertemu.
189
Ah! Onii-chan~~!
Sih bodoh itu
Yuuko berteriak dengan keras, sangat menarik
perhatian. Yuuko meninggalkan tempat duduknya.. Saat
ini, dia terjatuh di depan pintu kelas.
Bagian mukanya tertabrak dengan lantai, bahkan
membuat orang yang melihat juga ikut merasa sakit.
Berkat ini, sekarang jadi lebih menarik perhatian lagi.
Mau makan siang bersama?
Tidak.
Sorata menolak Yuuko yang hidung dan dahinya yang
memerah itu.
Kalau tak mau kenapa datang ke sini!
Kanna-san dimana?
Dia bilang mau ke kantin. Masih belum balik?
Bagaimana ini? Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?!
Mungkin karena tidak mau makan siang dengan
Yuuko yang bawel.
Ah tidak mungkin~~
Tidak mengerti cara untuk mencurigai orang, sungguh
menakutkan.
Kalau begitu, aku pergi dulu, aku tidak ada keperluan
denganmu.
A-aku juga tidak ada kali!
Adikku di belakang terlihat sedang marah dan membuat
orang bingung. Sorata dengan cepat meninggalkan kelasnya.
Coba ke kantin sebentar. Ditempat siswa berkumpul
untuk membeli roti tidak melihat Kanna. Atau dengan kata
lain, menurut sifat Kanna dia tidak akan bercampur di
kerumunan seperti ini.
Apa Kanna pergi ke tempat lain?

190
Meski merasa tidak begitu yakin, Sorata memutuskan
untuk pergi ke loteng sekolah.
Kembali ke koridor, naik lewat tangga. Dari lantai 1 ke
loteng sedikit jauh.
Saat sampai di depan pintunya sudah bikin sesak nafas.
Sesampai di loteng sekolah.
Langit yang biru dan luas seperti menyambut Sorata,
berhembus angin yang lemah lembut.
Musim seperti ini enak sekali, tidak panas juga tidak
dingin.
Terlihat Kanna yang sedang duduk di kursi panjang.
Dia membelakangi Sorata, dan menghadap ke bagian
pagar.
Sorata dengan diam-diam mendekati, dan duduk di
kursinya, jarak mereka kira-kira muat untuk 1 orang.
Kanna yang sepertinya sadar akan sesuatu langsung
memasuki mode waspada.
Ternyata kau.
Boleh duduk disamping mu?
Kursi panjang yang disebelah masih kosong.
Pandangan mata Kanna ubah ke samping, disana
masih ada kursi yang kosong.
Sepertinya dia menyuruh Sorata duduk di sana.
Sorata pura-pura tidak sadar, dan mengeluarkan bekal
dari tasnya. Itu merupakan bekal yang dia buat sendiri jam
6 pagi tadi.
Memasukkan gulungan daging ke dalam mulut,
rasanya sungguh sesuatu.
Bagaimana dengan keadaan naskahnya?
Ternyata kau tipe orang yang tidak bisa melihat
situasi.

191
Karena aku berpikir kalau Kanna-san merasa
keberatan pasti dengan sendirinya akan pindah ke kursi
panjang yang ada di samping.

Kanna tidak mengatakan apa-apa dan berdiri, tapi dia
tidak bergerak sedikitpun. Setelah beberapa saat, dia duduk
kembali. Mungkin karena kalau sekarang pindah ke kursi
yang ada di samping itu sama saja dengan menyetujui apa
yang dikatakan Sorata, maka tidak jadi pindah.
Tak bolehkah makan siang sendirian?
Apa aku ada bilang tidak boleh?
Bukankah kau duduk disini hanya karana merasa
kasihan padaku?
Tapi aku juga sendiri loh?

Kalau keberatan sendiri, kenapa tak balik saja ke kelas
dan makan bersama dengan Yuuko?

Kali ini Kanna hanya terdiam.
Sepertinya ubah topik akan lebih baik.
Ketika Sorata berpikir begitu, Kanna berbicara.
Aku tidak suka tempat yang ada banyak orang.
Dia mengatakan itu sambil makan sandwichnya.
Itu
Apa?
Jangan melihat aku makan terus, itu sedikit membuat
ku malu.
Sama sekali tidak sadar. Tapi dia tidak menatap Sorata,
sepertinya dia memang merasa malu.
Maaf.
Sorata meminta maaf, sambil mengambil kroket
menggunakan sumpit.
192
Situasi tidak begitu baik.
Kanna berbisik dengan suara rendah.
Hm?
Bukannya kau yang tanya? Tanya aku bagaimana
keadaan naskahnya?.
Memang benar begitu.
Maksud mu tidak begitu baik itu apa karena tidak ada
perkembangan sedikitpun?
Kanna mengangguk-anggukan kepalanya.
Tapi bagaimanapun juga mengetahui situasinya ini
baru 3 hari yang lalu, jadi seharusnya tidak boleh terlalu
berharap ada perkembangan.
Akhir pekan ini sibuk jadi tidak bisa. Mungkin
karena terpikir terus dengan novelnya, terasa sangat
menjengkelkan.. Dan kenapa aku ada di sini karena hari
ini aku bete.
Selanjutnya seakan mencoba mencari alasan seperti
: biasanya adikmu keras kepala sekali ingin mengajak ku
makan siang jadi aku akan makan siang di kelas.
Jadi hari ini juga merasa tertekan?
Iya.
Tatapan mata Sorata seperti ditarik sesuatu, dan
menatap ke arah rok Kanna, sepertinya sangat tertarik apa
yang ada di dalam rok itu.
Biar ku beritahu dulu, hari ini ada pakai.
Syukurlah.
Bisa tidak jangan memandangku dengan tatapan
mesum seperti itu.
Adakah aku menatapmu seperti itu!
Cuma terpikir kalau tertiup angin nantinya akan gawat
sekali, jadi merasa khawatir. Sorata lanjut makan bekalnya.
Kenapa Kanna-san ingin menjadi novelis?
193
Aku menjadi novelis bukan karena aku
menginginkannya.
Begitu ya?
Sorata berpikir itu sedikit tidak masuk akal kalau
dengan ke tidak sengajaan bisa menjadi seorang novelis.
Itu karena Hari Minggunya si Cindrella itu
seperti buku diary.
Bukannya novel?
Tanpa sadar sudah dimulai. Karena merasa sekolah
membosankan, ngobrol dengan teman juga terasa sesak, jadi
awalnya cuma ingin curhat lewat buku.
Jadi begitu, kau menganggap ini seperti diary.
Iya. Awalnya nulis-nulis gitu sudah puas. Tapi disaat
sudah ditulis menjadi sebuah artikel, menjadi ketagihan
untuk menulis, karena bisa melupakan hal-hal yang tidak
nyaman di hari-hari biasa. Seperti saat di sekolah, mengobrol
dengan teman, dan di rumah ...
Rupanya begitu.
Tapi, setelah beberapa lama menulis, aku merasa tidak
nyaman lagi. Karena di halaman manapun tidak ada kejadian
yang bahagia, kalau dibaca kembali sedikit menyakitkan.
Jadi aku mulai berbohong di diaryku dan menjadi sedikit
nakal.
Berbohong?
Seperti saat memakai make up, pergi ke kota sebelah
yang biasanya tidak akan dikunjungi, menikmati saat-saat
yang bahagia.

Lalu di saat masih lanjut berbohong aku sadar ini
sudah bukan diary lagi. Dan seiring berjalannya waktu,
bagian berbohongnya semakin banyak, tapi kupikri tidak
apa-apa juga karena tujuannya untuk meringankan stressku.
194
Seperti yang Jin bilang. Hari Minggunya si Cindrella
itu bukan karya yang ditulis karena pengarangnya ingin
menulis novel. Novel itu ditulis, berdasarkan kehidupan
sehari-hari Kanna dan dicampur dengan kebohongannya.
Tapi itu bukan kebohongan yang biasa. Justru itu merupakan
harapannya Kanna, buku itu menjadi sangat menarik untuk
dibaca. Jadi dengan kata lain, meski kenyataannya itu
merupakan sebuah kebohongan tapi itu merupakan sebuah
kebohongan yang ingin diwujudkan.
Dan saat itu, tayangan TV sedang panas-panasnya
mengulas soal penghargaan penulis baru.
Jadi akhirnya tertarik mengirimkan diarymu ke pihak
penerbit?
Kanna mengangguk-angguk kepalanya dengan pelan.
Aku tidak mempunyai keinginan untuk mendapatkan
penghargaan atau semacamnya, hanya saja aku tertarik
pada reaksi orang setelah membacanya. Karena ini sejak
awal merupakan sebuah diary jadi aku tak bisa membiarkan
orang lain membacanya.
Dan akhirnya tanpa diduga mendapat penghargaan?
Mungkin ini juga bisa dianggap sebagai sebuah bakat.
Bukan karena ingin lakukan jadi melakukannya, tapi sekali
melakukannya langsung berhasil. Kira-kira seperti itu.
Aneh sekali, padahal waktu dulu menulis sangat
menyenangkan, juga bisa meringankan stressku
Dan sekarang malah terbalik. Menulis malah membuat
Kanna menderita.
Mungkin karena ini sebuah pekerjaan. Jadi Kanna
merasa wajib melakukannya dari akhirnya tertekan. Awalnya
harusnya menyenangkan tapi sekarang malah menjadi tidak
menyenangkan Inilah keadaan Kanna sekarang.

195
Walau tidak tertarik tapi tetap terasa menderita,
harusnya bisa memilih untuk tidak melakukan. Tapi aku
tidak merasakan perasaan itu dari Kanna yang sekarang.
Sebelum aku menjawabmu, apa aku bisa bertanya 1
hal padamu dulu?
Tanya apa?
Jangan-jangan kau sudah membacanya?
Mungkin dia sadar karena sikap Sorata yang tadi, dan
Kanna dengan curiga menatap Sorata.
Iya, aku sudah membacanya.
Ha-harusnya beritahu aku dulu!
Suaranya terdengar panik juga terdengar seperti
marah.
Kalau tahu kau sudah membacanya, pasti tidak akan
kubilang itu sebuah diary.
Kalau dianggap sebagai sebuah novel menarik kok.
Tolong jangan terlalu memujiku.
Kanna terlihat tidak senang sambil minum jus
menggunakan sedotan.
Mengenai masalah tadi.. Daripada dibilang
melanjutkanya, lebih tepat dibilang kalau aku yang ingin
melanjutkannya.
Entah kenapa sekarang Kanna seperti di dalam
kegelapan dan terlihat menyedihkan.
Situasi yang sekarang ini agak mirip dengan saat
Kanna datang ke kamarku.
Kalau sudah membacanya maka tidak ada alasan
untuk menyembunyikan ini lagi. Seperti yang tertulis
dibuku, orang tua ku cerai saat aku masih kelas 1 SMP,
dan hidup dengan mama selama beberapa saat. Tapi tidak
sampai 1 tahun mama menikah lagi. Jadi ada papa baru.
Ini memang cerita yang pernah Sorata lihat di bukunya.
196
Sampai sekarang tetap aneh rasanya kalau harus
memanggil orang itu papa. Saat sedang bertiga, untuk
menjaga suasana tapi akhirnya rasanya menjadi kaku. Aku
tak tahan dan memilih SMA Suimei yang ada asramanya.
Aku rasa ini tidak akan masalah bagi rumah selama aku
menggunakan royalti dari novel, jadi aku memutuskan
untuk berusaha tidak berhubungan dengan mereka
Jadi setidaknya sampai aku bisa bekerja menghasilkan uang
sendiri sekarang aku akan tetap menulis.
Setelah mendengar keputusannya, jujur saja ini tidak
begitu menyenangkan, tapi juga tidak begitu setuju dengan
caranya untuk menyelesaikan masalahnya. Jadi pada
akhirnya tetap tidak menyelesaikan apapun.
Mungkin kau akan berpikir aku terlalu banyak
mencampuri urusanmu ..
Kalau begitu jangan bilang lagi.
Tidak di duga Kanna menolak.
Walau begitu, Sorata tetap melanjutkan
pembicaraannya sampai akhir sambil memakan bekal
buatannya sendiri.
Aku rasa mau bagaimanapun sebaiknya kau bahas ini
dengan orangtuamu dulu.
Apa tadi kau tidak mendengar omonganku? Jangan
suka mencampuri urusan orang.
Maaf tapi aku akan tetap ngomong.
Aku memintamu untuk tidak ngomong lagi!
Ya sudah. Aku tidak akan bilang apa-apa lagi. Hari ini
aku datang menemuimu hanya ingin memberi ini padamu.
Sorata ingin memenuhi tugasnya dan mengeluarkan
lembaran kertas dari tasnya dan memberikannya pada
Kanna.
Apa ini?
197
Kanna sedikit curiga.
Ada seorang senpai yang lulus pada bulan maret dan
sekarang sedang kuliah di Osaka. Orang itu sedang belajar
menulis naskah, jadi aku memintanya untuk memberikan
beberapa saran.
Kanna menerima lembaran kertasnya. Yang tertulis
diatas kertas itu adalah dasar-dasar untuk menciptakan
sebuah cerita yang dikirim Jin kemarin.
Kanna dengan perlahan melihat kertasnya 1 per 1
sampai-sampai lupa makan sandwichnya, dan memberikan
reaksi seperti rupanya begitu ya.
Mungkin karena sudah selesai baca, dia melirik Sorata.
Tatapan matanya seperti sedang bertanya kenapa
membantu sampai seperti ini? Padahal baru kenal beberapa
hari yang lalu.
Mungkin karena setelah mendengar bagaimana
situasimu?
Padahal Sorata menjawab dengan serius tetapi Kanna
seperti sedang mewaspadai sesuatu dan curiga pada Sorata.
Kalau mau alasan yang jelas, aku pikir sebentar
Mungkin karena berkenalan dengan adik kelas yang juga
merupakan teman dari adik sendiri, yang bisa saja sekarang
masih mengikuti pelajaran tanpa memakai celana dalam, jadi
merasa tidak tenang, bagaimana? Apa alasan ini diterima?
Tolong jujur.
Maaf, bagaimanapaun tidak bisa tenang rasanya.
Walau tahu ini bukan yang ingin di dengar Kanna,
Sorata tetap menjawabnya.
.
Ekspresi Kanna menunjukan bahwa dia semakin tidak
mengerti.

198
Memang orang yang aneh. Pantas aja dipindahkan ke
Sakurasou.
Penilaian ini sangat sulit diterima. Aku ini wakil orang
normal di Sakurasou loh.
Aku rasa saat kau sudah mulai tinggal di Sakurasou
itu sudah tidak normal lagi.
.. Benar juga si. Huh? Jadi aku sangat aneh?
Tidak, tidak, tidak mungkin. Yang namanya aneh itu
harusnya untuk orang-orang seperti Mashiro, Misaki dan
Ryuunosuke lebih tepat.
Maaf.
Tidak, tidak perlu minta maaf.
Bukan.. Aku rasa sikapku tadi itu tidak baik.
Disaat kita sedang menghadapi masalah yang
tidak menyenangkan, normal saja jika tidak akan terlalu
mempedulikan orang lain.
Jika kehilangan ketegaran, Sorata juga akan seperti
itu. Sensian dan sulit untuk mengendalikan amarah. Situasi
seperti itu pada dasarnya sangatlah normal.
Sebaliknya juga, pada saat urusan kita lancar, suasana
hati akan menjadi santai dan menyenangkan. Sekarang
kenapa Sorata bisa begitu baik di depan Kanna mungkin
karena urusan pembuatan gamenya lancar.
Apa kau tidak marah?
Malahan ku pikir kau mungkin akan mengnggapku
terlalu mencampuri urusan orang lain, jadi membuat ku
tidak tenang.
Atau dengan kata lain aku merasakan ada sesuatu
seperti pelindung diri dari Kanna.
Memang orang yang aneh Tapi, apakah tidak
apa-apa membantu ku seperti ini.

199
Dari nadanya berbicara terdengar seperti ini tidak
akan menguntungkan bagi Sorata.
Kalau bisa menulis lagi, stressku akan hilang, jadi..
Aku tidak akan melakukan hal itu lagi di sekolah loh?
Jadi aku dianggap orang mesum ya?
Bukan gitu maksudku, kalau aku tidak punya
kelemahan lagi, aku akan jadi orang yang tahu kelemahanmu,
apa tidak apa-apa?
Oh, maksudmu hal itu.
Mungkin tak wajar kalau dibilang tidak apa-apa. Tapi
ini juga bukan masalah yang besar jadi biarkan saja.
Tidak apalah. Soalnya kelemahanku ini masa
berlakunya juga akan segera hilang.
Di lihat mulai dari sekarang, mungkin tidak akan
bertahan lama lagi. Karena disaat lukisan Mashiro selesai,
akan terjadi sebuah perubahan. Kalau seperti itu, tidak
akan jadi malasah lagi.
Sorata.
Saat ini, terdengar suara dari belakang.
Uwoo!
Memutar balik kepala, terlihat Mashiro sedang berdiri.
Pandangan matanya menuju Sorata dan Kanna. Lalu dia
duduk dibagian tengah kursinya, yaitu antara Sorata dan
Kanna.
Ini sedang apa? Kok mirip dengan tempat duduk di
kereta?
.
Mashiro tidak menjawab, membuka bekal yang
dibawanya, dan makan dengan perlahan-lahan. Sayurnya
sama dengan punya Sorata. Kanna sepertinya sadar akan ini.
Bisa aku bertanya 1 hal?

200
Pandangan Kanna seperti ada maksud lain, dan dia
menatap Sorata dan Mashiro.
Tidak boleh.
Apa hubungan kalian berdua?
Bukannya tadi aku sudah bilang tidak boleh ya?
Maaf, karena rasa penasaranku mengalahkan
pikiranku.
Jangan tibat-tiba buat kebohongan yang tidak masuk
akal! Kalau begitu akan menjadi orang dewasa yang tidak
dewasa!
Hubungan aku dan Sorata seperti berpacaran dan
belum berteman.
Tadi yang menjawab itu adalah Mashiro. Tapi, rasanya
ada sesuatu yang aneh.
Terbalik kali, hubungannya sedang berteman tapi
belum pacaran!
Ternyata begitu, aku sudah mengerti.
Kanna menunjukan ekspresi seakan dia sudah
mengerti keadaannya.
Benarkah begitu?
Disaat Sorata ingin memperbaiki maksud Mashiro,
Mashiro bertanya begitu, jadi kehilangan kesempatan.
Kalau begitu, aku pergi dulu, kurasa aku akan
menggangu kalian berdua.
Kanna dengan cepat berdiri.
Bisa tidak jangan begitu peduli pada kami.
Tidak kok, ini karena aku sudah selesai makan.
Dia menunjukan plastik yang sudah kosong pada
Sorata.
Begitu ya.
Itu.
Hm?
201
Terima kasih telah memberikan ini padaku.
Kanna berterima kasih dengan menunjukan lembaran
kertas pada Sorata.
Aku akan menyampaikan terima kasih mu pada Jin-
senpai.
Setelah Kanna menguncapkan salam dengan cepat dia
berjalan kembali ke kelas.
Lalu, Shiina datang ke sini buat apa?
Shiho yang beritahu.
Beritahu apa?
Sorata bertemu dengan seorang wanita di loteng
sekolah.
Oh, pantasan dari tadi aku merasakan pandangan
mata seseorang!
Balikkan kepala, terlihat Shiho yang sedang
menjongkok. Sampai-sampai terdengar suara : ah, mati dah
dan dengan cepat kembali ke kelasnya.
Sorata.
Kali ini mau bilang hal apa lagi yang akan membuatku
pusing?
Kroket, sangat enak.
Begitu ya. Tapi aku tidak akan memberimu punyaku.
Mengapa?
Karena itu punyaku!
Kalau aku tidak tumbuh juga tidak apa-apa?
Sebagai seorang gadis, kurasa kau sudah tumbuh
dengan sangat baik!
Dilihat dari tingginya, tidak diduga dia lebih tinggi
sedikit dari Nanami.
Kalau bagian dada?
Tadi kau bertanya apa?!
Kalau tidak tumbuh juga tidak apa-apa?
202
Ah~~ bailaklah, ini ku berikan kroketku! Akan tetapi,
aku beda dengan Iori, aku tidak fokus pada bagian itu!
Mengerti? Sudah Paham kan?

Mashiro yang terlihat puas dengan makan kroketnya
itu tentu saja tidak mendengar Sorata ngomong, mengunyah,
dan menelan, setelah menelan dia menutup tutup bekalnya,
dan berdiri.
Hm, kenapa?
Sorata, mau pergi dulu.
Maaf, tapi kau ingin kemana!
Ruang kelas seni.

***

Sorata dengan cepat memakan habis bekalnya dan


setelah itu Mashiro membawanya ke ruang kelas seni.
Mashiro perlahan-lahan mempersiapkan kanvas, dan
peralatan lukis.
Apa harus melukis disaat istirahat siang juga?
Tidak boleh kalah dengan Nanami.
Apa kau menjawab pertanyaanku?
Disaat Sorata bertanya lagi, konsentrasi Mashiro sudah
fokus ke kanvasnya.
Dilihat kapanpun, benar-benar konsetrasi yang
menakutkan
Membuat orang curiga, apa dia punya tombol untuk
membuka tutup bakatnya itu.
Sorata duduk diam menjadi model lukis Mashiro,
setelah 15 menit dia tidak tahan lagi, dan mengajak Mashiro
ngobrol.
Hei, Shiina.
203

Tidak dijawab.
Walau begitu, Sorata tetap teringat sesuatu yang ingin
ia ditanyakan, jadi tanpa pikir dia langsung bertanya pada
Mashiro.
Bagaimana dengan kuliahmu nanti?
Aku tidak akan kuliah.
Dijawabnya dengan segera.
Pandangan mata Mashiro tertuju pada kanvas,
tangannya yang memegang pensil lukis juga tidak pernah
berhenti.
Aku akan menggambar manga.
Jawaban yang sudah diduga. Jadi Sorata tidak begitu
terkejut. Hanya saja Sorata merasa kehidupan SMAnya di
Sakurasou, sebentar lagi akan selesai.
Setelah lulus SMA, masing-masing akan mulai berjalan
di jalannya sendiri. Jawaban Mashiro tadi, membuatku
semakin memikirkan itu.
Sekalian tanya, setelah lulus SMA hidupmu
bagaimana?
Gambar manga.
Cara bertanyaku salah. Kau berencana tinggal dengan
siapa, dan siapa yang akan menjaga dan merawatmu?
Bagaimanapun tidak mungkin seperti sekarang, seperti
Sorata menjaganya saat di Sakurasou.
Tidak diduga, Mashiro malah terlihat santai.
Dikamar Sorata.
Huh?
Tinggal bersama dengan Sorata.
Hah?!
Dijaga Sorata.
Mashiro menjawab dengan begitu santai.
204
Tunggu sebentar!
Tak mau.
Tidak, tidak, bentar, bentar, tunggu sebentar! Maukah
kau pikir kembali apa yang kau katakan tadi? Aku rasa
sebaiknya pikirkan dulu! Laki-laki dan perempuan tinggal di
1 atap, bagaimanapun itu tidak boleh!
Sekarang juga sama.
Sakurasou itu merupakan asrama murid, juga ada
orang lain seperti Aoyama dan Akasaka! Jadi tidak hanya
berdua! Juga ada orang dewasa yang berjaga seperti Chihiro-
sensei, ini dengan itu sama sekali berbeda!
Apa kau tidak mau?
Bukan masalah mau tidak mau, ini masalah soal etika!
Ka-karena yang kau bilang i-itu, itu ma-maksudnya tinggal
bersama sebagai suami istrikan?
Meski sendiri yang bilang, tapi Sorata dengan kata
tinggal bersama sebagai suami istri itu merasa malu. Tanpa
sengaja mulai membayangkannya, kehidupan bersama
Mashiro di masa depan nanti. Entah kenapa, Mashiro
menggunakan celemek dan berdiri di dapur. Ini tidak
mungkin. Dan bayangan ini juga bercampur dengan pikiran
baru menikah.
Sudah kubilang tinggal bersama sebagai suami istri!
Sorata langsung menghilangkan bayangannya itu.
Apa kau benci tinggal bersamaku?
A-aku sudah bilang bukan soal benci tidak benci!
Selalu bilang benci itu maksudnya juga menyukai?
Lebih salah lagi! Yang namanya hidup bersama itu kan
tindakan yang dilakukan 2 orang yang sedang berpacaran
atau sudah menikah!
Sorata dengan serius menjelaskan dan Mashiro
menatap Sorata terus.
205
.
Tatapan matanya yang polos itu, dilihat kapanpun
selalu terasa cantik.
Ke-kenapa?
Sorata tidak tahan berdiam diri dan bertanya.
Kalau begitu, ayo berpacaran saja?
Huh?!
Sesaat, Sorata seperti mendengar bahasa asing dan
tidak bisa fokus ke sekitarnya .
Sorata dan aku .
..
Berpacaran?
Ini maksudnya itu kan? Biasa Mashiro akan ngomong
sembarangan, ini juga bukan pertama kalinya. Jadi Sorata
berpikir harus segera menyadarkan Mashiro sebelum dia
melanjutkannya ke lebih dalam lagi.
Berpacaran perlu gandeng tangan bersama. Kencan,
berciuman lalu bercinta.
A-apa aku akan melakukan itu semua dengan Shiina!
..
Mashiro memiringkan kepalanya berpikir kenapa
Sorata bereaksi seperti ini. Lalu seperti terpikir sesuatu dan
membuka mulut. Mashiro yang menampakkan wajahnya
dari kanvasnya itu, pipinya mulai memerah, sepertinya
sekarang ia baru sadar apa yang dia omongkan dari tadi.
Shi-Shiina?
Sorata memanggil namanya, dan dia dengan cepat
seperti kembali ke guanya, bersembunyi dibalik kanvas, jadi
tidak bisa melihat ekspresinya sekarang ini.
Hei, heii a-aku memanggilmu! Ka-kau mengerti tidak
dengan apa yang kau katakan tadi!

206
Sorata juga mulai merasa malu setelah melihat reaksi
Mashiro yang tadi. Dan detakan jantungnya mulai bertambah
cepat, semakin cepat.
Kau.. kau. Itu, aku bilang kau!
1 kalimat saja tidak bisa dikatakan dengan lancar.
Mashiro muncul dari belakang kanvas dan menatap
Sorata, ketika tatapan mata mereka saling bertemu, Mashiro
dengan cepat kembali lagi ke balik kanvas.
A-aku cuma bercanda.
Dia berbicara dengan suaranya yang hampir habis
itu. Tidak biasanya Mashiro berbicara dengan suara gagap,
dan mungkin ini pertama kalinya. Suaranya juga terdengar
bimbang dan ragu.
Karena ditutupi oleh kanvas jadi tidak nampak ekspresi
Mashiro saat ini. Walaupun melihatnya, Sorata juga sudah
tidak bisa berpikir apapun lagi dengan otaknya yang sudah
beku itu.
Lalu, mereka berdua tidak ngomong apapun sampai
bel berbunyi dan dikelilingi oleh suasana yang tegang.

Bagian 3
3 hari menjelang golden week, pagi hari Sorata
menghabiskan waktunya dengan mengikuti pelajaran,
sepulang sekolah menjadi model lukis Mashiro diruang seni,
sesampai di asrama langsung melanjutkan proses pembuatan
gamenya, tidak terasa waktu dengan cepat berlalu.
Sejak kemarin mengajak kencan, Nanami sudah tidak
terlalu sering meminta Sorata menemaninya latihan. Ketika
tiba dipagi hari perjanjian, Sorata merasa tidak tenang
apakah dia benar-benar akan ke taman hiburan. Dan bertemu
dengan Nanami di ruang makan saat sarapan pagi.
Kalau begitu, jam 3 ketemu di stasiun ya.
207
Ketika Nanami berkata demikian. Akhirnya tiba juga
saat berkencan ---------- Sorata menyadari itu.
Kenapa waktu janjiannya begitu malam, itu karena
Nanami kerja di sebuah tokoh es krim dari pagi sampai siang
hari. Jadi diputuskan akan kencan setelah dia selesai bekerja.
Sebelum berangkat, Sorata berusaha memfokuskan
diri untuk mengatur gamenya. Desain yang inign
ditambahkan kemarin pagi sudah ditambahkan. Sekali
menyalakan gamenya akan muncul layar awalnya, lalu bisa
memilih main sendiri atau main berdua. Kalau memilih
main sendiri maka kita akan mulai melawan musuh CPU.
Dan pemenang akan ditentukan sampai HP salah satu pihak
habis, lalu kembali ke layar awal lagi. Dan proses yang dasar
sudah selesai.
Dan jika memilih main berdua, layar akan dibagi
menjadi dua, kedua bagian akan di kontrol oleh masing-
masing pemain. Kemarin malam, Misaki-senpai masuk ke
kamar Sorata dan bermain sangat lama. Walau sendiri yang
membuat gamenya tapi Sorata tetap tidak bisa menang
melawan Misaki 1 kalipun ..
Kenapa Misaki-senpai hebat sekali meski baru
pertama kali main!
Kouhai-kun sendiri sama sekali belum tahu rahasia
dari game inikan!
Padahal aku yang buat loh!
Kira-kira seperti itulah keadaan kemarin.
Hari ini sejak tadi pagi, demi membuat game menjadi
lebih menarik, jadi mengatur cara tembak dan kecepatan
player berjalan. Yang paling menyusahkan tetap bagian CPU
lawan. Mengenai ini, jujur saja Sorata tidak bisa menetukan
keputusan akhirnya. Kalau terlalu lemah tidak seru, jika
terlalu kuat hanya akan menambah tekanan.
208
Terus melanjutkan proses pembuatan game, sepertinya
sudah hampir jam 3, Sorata mengganti baju dan bersiap
berangkat. Saat ini tidak bertemu siapapun. Iori bilang mau
pergi ke ruang kelas musik latihan piano jadi dia berangkat
lebih awal, dan tidak ada tanda-tanda Ryuunosuke keluar
dari kamar. Mashiro juga sepertinya dia sedang fokus
menggambar manga, sama sekali tidak ada suara yang
terdengar dari lantai 2.
Menaiki kereta api sekitar 1 jam, tiba juga di tempat
pertemuannya di stasiun yang dekat dengan laut.
Seperti yang diharapkan dari hari pertama golden
week, dimana-mana dipenuhi kerumunan orang.
Ketika turun dari kereta api, karena saking ramainya
jadi tidak bisa berjalan dengan lancar. Sorata berusaha maju
ke depan, bersusah payah melewati tempat pemeriksaan
tiket.
Setelah itu dalam sekejap Sorata sudah menemukan
Nanami. Dia berdiri di tiang yang jauhnya kira-kira 10 meter.
Entah kenapa di kerumunan ini dengan anehnya Sorata bisa
segera menemukan keberadaan Nanami.
Nanami yang tersenyum dengan lemah lembut
melambaikan tangan pada Sorata yang semakin dekat, tapi
dengan cepat ia memperhatikan sekitarnya lagi mungkin
malu terhadap diri sendiri yang sedang melambaikan tangan
pada seseorang.
Maaf, apa kamu sudah lama menunggu?
Enggak kok, coba kau lihat sekarang jam berapa.
Nanami menunjuk jam yang gantung di dinding. Kira-
kira masih 5 menit sebelum waktu pertemuannya.
Ternyata Kanda-kun sangat menepati janji ya.

209
Nanami tersenyum dengan gembira, bagian atas
memakai kemeja lengan panjang berwarna kuning muda
dan bagian bawahnya memakai rok pendek dengan
menggunakan legging berwarna hitam, dan di bagian kaki
memakai sepatu olahraga yang mudah gerak. Menggunakan
tas kecil yang imut, membuat orang mulai memikir bagian
dadanya yang terus tumbuh itu. Sorata berusaha untuk tidak
melihat bagian itu dan Sorata sadar gaya rambutnya tetap
seperti biasa yaitu kuncir kuda.
Nanami seperti menyadari tatapan Sorata yang sedang
memperhatikan roller coaster itu.
Kalau ingin naik roller coaster, bakalan repot kalau
tidak mengikat rambut.
Lalu bertanya lagi :
Apa lebih bagus diturunkan aja?
Karena gambaran saat malam natal masih membekas
dibenak, jadi dengan sendirinya menatap. Tetap seperti itu
juga sangat bagus kok.
Kamu masih ingat soal hari itu ya.
Waktu itu kamu memakai jaket berwarna merah dan
menggunakan rok yang ringan kan?
Masih ingat waktu itu dia memakai sweater yang
dirajut sendiri dan dibagian kaki memakai sepatu bot.
Hari ini tanggal 29 April, kira-kira sudah hampir 4
bulan sejak saat itu.
Sorata tiba-tiba terpikir suatu hal yang penting.
Ngomong-ngomong, apa hari itu aku membuat sebuah
janji dengan Aoyama?
Ternyata yang itupun kamu masih ingat.
Barusan terpikir tadi, ahahaha ..
----- Tunggu audisi bulan februari selesai, aku ingin
mengatakan sesuatu.
210
Meski sudah lupa waktu itu perkataannya gimana, tapi
setidaknya masih ingat.
Mungkin karena waktu itu banyak masalah seperti
Sakurasou akan dirobohkan, upacara perpisahan Misaki-
senpai dan Jin-senpai, dan juga tidak lolos audisi waktu itu
jadinya lupa dengan janji yang sudah dibuat.
Kalau begitu tunggu audisi kali ini selesai baru aku
mengatakan itu.
Oke, aku mengerti.
Tolong buat persiapan dulu sebelum mendengarnya
nanti.
Nanami sengaja mengatakan itu dan membuat Sorata
bingung.
Ah, oke, ayo pergi! Waktu untuk bermain sudah tidak
banyak lagi.
Sorata berjalan bersebelahan dengan Nanami dan
menuju ke taman hiburan dengan suasan hati yang
menyenangkan.
***
Entah apa karena terlalu beruntung atau gimana
..
Setelah 30 menit, Sorata dan Nanami menaiki roller
coaster dan duduk di bagian paling depan.
Kenapa bisa begitu? Alasannya sangat sederhana.
Karena sesampai di taman hiburan, Sorata bertanya :
Mau bermain apa dulu?
Itu.
Nanami menjawab dengan alasan yang juga sangat
sederhana. Karena berdasarkan anime yang sedang dibuat
Misaki, cerita dan naskahnya memang begitu.

211
Menghitung mundur untuk roller coasternya,
semuanya mempersiapkan diri, roller coaster juga semakin
naik.
Di saat seperti ini sangat tidak baik untuk jantung.
Padahal sudah tahu saat sudah dipuncak akan mulai
menurun, membelok, memutar dengan sangat cepat, buat
diri menjadi begitu resah, tapi tetap tidak ada cara untuk
menghindar.
Merasa mesin ini merupakan mesin yang membuat
orang mencapai pada batasnya.
Kanda-kun, ekspresimu sangat kaku.
Aoyama juga.
Kamu pasti takut.
Aoyama sendiri kali.
Kalau begitu, ayo kita bertanding!
Nanami mengucapkan dialog yang di naskahnya.
Aku terima.
Sorata juga mengikuti naskahnya.
Orang yang duluan berteriak kalah ya.
Orang yang kalah jamin makan es krim.
Kalau begitu, sudah diputuskan .
Mari kita mulai.
Saat ini, roller coasternya sudah berada dipuncak.
Keheningan yang sesaat, detakan jantung yang
bertambah cepat. Ketegangan sudah pada puncaknya.
Lalu, roller coaster mulai berjalan lagi. Turun naik,
tidak bisa menahan takut. Bagi Sorata yang berada dipaling
depan, ini lebih menakutkan lagi.
Uwaaaaaaaaaaaa~~!
Kyaaaaaaaaaaaa~~!
Mereka berdua berteriak bersama-sama seperti yang
ada dinaskah.
212
Ah~~ pusing sekali .
Sorata yang dipermainkan oleh roller coaster duduk di
kursi panjang dengan lemas.
Memanglah~~ tak perlu mengikuti naskah sampai
segitunya kali.
Nanami yang duduk di sampingnya menunjukan
ekspresi seakan tidak kuat lagi.
Di dalam animenya, anak laki-laki yang kurang tidur
karena belajar terlalu malam, setelah naik roller coaster
menjadi pusing.
Walau aku sangat berterima kasih kamu masih
berpikir untuk latihan saat ini.
Yang tadi itu bukan akting.
Aku tahu.
Nanami menggunakan tangannya sebagai kipas untuk
mengipas Sorata.
2 orang duduk di kursi dan mengangkat kepala ke
atas mengamati langit. Karena waktu yang dijanjikan jam 3,
sekarang langit sudah mulai memerah. Menarik napas yang
dalam dan membuang dengan pelan-pelan.
Akhir-akhir ini kamu susah tidurkan?
Hm, begitulah.
Karena proses pembuatan gamenya sangat
menyenangkan, merasa tidurpun sangat membuang waktu.
Walau sudah tidur tetap bangun lagi dengan cepat.
Pagi ini juga sepertinya kamu bangun awal
Jangan-jangan begadang dan tak tidur semalaman?
Aku tidur kok. Dari jam 2 sampai jam 5, kurang lebih
tidur 3 jam.
Maaf.
Kok minta maaf?

213
Padahal kamu sendiri sibuk, tapi tetap meluangkan
waktu untuk ku.
Mungkin karena depresi, Nanami melihat ujung
sepatunya.
Itu. Aoyama.
Apa?
Aku merasa kurang enak badan, apa aku boleh
berbaring?
Untuk mengganti suasana, Sorata mengucapkan dialog
di naskah.
Kalau begitu. Silahkan.
Nanami menepuk-nepuk pahanya sendiri.
Aku tidak menjamin ini akan terasa enak untuk
berbaring.
Naskah untuk adegan saat ini hanya sampai disini.
Sisanya cuma membayangkan dan malu sendiri berdua.
Apa benar boleh.
Angin membawakan suara yang terdengar seperti
bisikan.
Itu.. Anggap saja rasa terima kasihku.
A-Aoyama?
A-aku sendiri juga malu, ta-tapi coba kau lihat, hari
juga sudah mulai gelap.
Disamping kursi panjang berdiri lampu jalan yang
terang.
Anggap saja latihan seperti berpacaran.
Tidak, tidak, tapi
Berbaring di paha cewek yang sekelas, ini terlalu sulit.
Bergandengan tangan bahkan tidak bisa menandingi ini.
I-itu, Kanda-kun.
Entah sejak kapan Nanami berbicara dengan logat
Kansai.
214
Orang sudah ngomong sampai begini, mana bisa kau
tolak lagi?
Ekspresi Nanami yang berusaha menahan
malu, mengalahkan akal budi Sorata. Sikapnya yang
menggemaskan itu, sungguh tak tertahankan dan membuat
orang tak berdaya.
Kamu curang sekali .
Dalam waktu dekat ini sepertinya Sorata tidak bisa
mengatur kembali suasana hatinya.
Ke-kenapa?
Membuat orang jadi tidak bisa menolaknya.
I-iya bah, cepatan dikit
Be-benaran boleh?
Membuat orang merasa lebih malu lagi. Kanda-kun,
jangan main-main lagi.
Iya, iya, aku mengerti.
Sorata tidak tahan dan menelan ludahnya.
Dengan pelan-pelan menaruh kepalanya dipaha
Nanami yang menggunakan legging.
Sesaat, seluruh badan Nanami gemetar sebentar. Tapi
Sorata tidak ngomong soal itu.
Ya-yang tadi itu bukan gemetar loh kubilang dulu.
Nanami menjelaskan dengan panik.
..
..
Mungkin karena tidak bisa saling menatap, diantara
mereka berdua ada sebuah suasana yang membuat orang
tidak tenang.
I-itu.. Kanda-kun, bagaimana?
A-apanya bagaimana?
Hal seperti kesan

215
Lebih keras dari pada yang dibayangkan.
mungkin?
Sorata dengan jujur mengatakannya, Nanami
menurunkan kedua tangannya dengan pipinya yang
memerah itu.
Uwa~~ tunggu sebentar! Sekarang pertahananku
sangat lemah!
Siapa suruh Kanda-kun ngomong yang aneh-aneh!
Nanami dengam marah memindahkan wajahnya ke
samping. Tapi berkat percakapan ini, keduanya menjadi
sedikit lebih tenang, Nanami juga menjadi lebih lembut,
dapat merasakan suhu tubuh Nanami lewat leggingnya itu,
rasanya membuat orang tenang. Perasaan ini tidak dapat
dibandingkan dengan saat duduk di kursi panjang tadi.
Ah~~
Sorata tidak dapat menahan diri dan mengeluarkan
suara yang aneh. Suara seperti ini kira-kira hanya akan
keluar saat mandi?
Kali ini ada apa lagi?
Nanami sepertinya masih marah.
Tidak ada, tidak ada apa-apa kok.
Mau aku meninjumu sekali lagi?
Jangan begitu. Setelah aku mengatakan ini,
jangam marah ya?
Kalau Kanda-kun tidak ngomongin hal-hal yang tidak
sopan aku tidak akan marah kok.
Bagaimana bilangnya ya Sepertinya ini akan
gawat.
Maksudmu?
Paha Aoyama. Benar-benar membuat merasa
nyaman

216
Padahal memuji dengan tulus, tapi yang di dapat malah
sebuah tinju dari Nanami.
Kan-Kanda-kun, apa yang kau bicarakan!
Uwa! Stop! Jangan kuat-kuat!
Sorata yang merasakan bahaya dengan segera
menangkap tangan Nanami. Akhirnya Nanami tenang
kembali, tetapi dia melihat ke bawah dan pipinya memerah
kembali.
Ma-maaf, harusnya aku tidak memukulmu.
Di bagian dahi terasa sedikit sakit.
Anggap saja aku pantas mendapatkan rasa sakit ini.
Ja-jangan ngomong hal seperti itu! Malu sekali
rasanya
Aoyama sendiri yang bertanya dulu kan.
Hn, memang sih.
Mungkin karena Nanami tidak tahu mau menaruh
tangannya dimana, jadi dia melonggarkan kuncir kudanya.
Kenapa?
Sorata menatapi Nanami terus, dan berkata.
Melihat Nanami dari bawah seperti ini ada yang
berbeda rasanya.
Rasanya beda sekali dengan Nanami yang biasanya.
Mungkin karena dia menurunkan rambutnya.
Jangan lihat lubang hidung ku.
Nanami menutup hidungnya agar tidak kelihatan.
Anak perempuan memang hebat.
Apa maksudmu?
Nanami tidak ikat kuncir kuda, tapi menggunakan
karet mengikat rambut di belakang lehernya, dan sebagian
rambutnya tertiup oleh angin sampai didepan bahunya.
Rambutnya yang berayun-ayun, membuat Sorata ingin
menyentuhnya.
217
Hanya baju dan gaya rambut yang tidak sama, tetapi
kelihatan begitu beda.
Nanami yang sekarang, terlihat seperti seorang kakak
yang dewasa.
Tidak diduga Kanda-kun akan ngomong seperti itu.
Jangan-jangan masih pusing, otak juga ikut pusing?
Mungkin hahaha......
Sendiripun curiga apa yang dikatakan sendiri saat ini.
Biasanya kata-kata itu tidak akan keluar sendiri.
Sorata terus menatapi rambut Nanami yang berayun-
ayun didepan bahunya itu.
Apa kau ingin menyentuhnya?
Nanami bertanya begitu.
Sangat tertarik.
Sorata memutuskan jawab dengan jujur.
Kalau begitu, tak akan ku kasih kau menyentuhnya.
Apa-apaan itu?
Karena aku tidak ingin dibandingkan dengan Mashiro
yang rambutnya lembut itu.
.
Terdengar nama yang tidak diduga, detakan jantung
tiba-tiba bertambah cepat.
Tadi detakan jantungmu bertambah cepat kan?
Sepertinya Nanami juga sadar akan itu.
Kau tidak tanya kenapa ada nama Mashiro ?
Sepertinya aku terlalu meremehkan Aoyama.
Sorata menatap matanya Nanami. Tidak perlu ditanya
juga tahu alasannya.
..
Kali ini Nanami terdiam sejenak.
Padahal tahu akan itu, tapi Kanda-kun tetap
menemaniku hari ini.
218
Dia berbicara dengan nada yang rendah, rasa kesepian
seolah dapat terlihat dari pandangan matanya.
Karena masih ada hal yang aku tidak tahu
Termasuk diri sendiri, Mashiro juga Nanami ..
Dan juga, aku benar-benar berharap impian Aoyama
dapat terwujudkan. Jadi kalau ada bagian yang dapatku
bantu, aku pasti akan bantu dengan sepenuh hati.
Dibilang seperi itu olehmu, rasanya tidak bisa tenang
ya.
Topik ini juga sudah selesai. Cukup sampai di sini saja
topiknya.
Selanjutnya mau main apa?
Sorata mengganti suasana hati, bertanya dengan
gembira.
Kanda-kun tidak bisa main yang terlalu ekstrim kan?
Tunggu sebentar lagi aku akan bangkit kembali.
Naik wahana permainan lain yang akan membuat
pusing, lalu meminta ku untuk mengkontribusikan paha
lagi. Kau sedang berpikir begitukan? Apa kau begitu
menginginkannya?
Nanami tertawa dengan candaannya.
Ma-mana ada!
Ngomongnya sih gitu, tapi kok kelihatannya kau tidak
begitu ingin mengangkat kepalamu?
Perasaan yang begitu nyaman, memang sulit membuat
orang berhenti.
Tapi Sorata juga punya harga diri.
Tetapkan hatinya dan berusaha membangunkan
dirinya dari paha Nanami.
Sekarang perasaan sudah lebih baik, tidak begitu
pusing lagi.
Baik, ayo jalan. Selanjutnya apa?
219
Itu mungkin?
Nanami menunjuk tempat itu menggunakan
jarinya, itu merupakan sebuah bangunan gaya barat yang
menyeramkan, dengan kata lain itu rumah hantu.
Mereka berdua menunggu sekitar 10 menit di pintu
masuknya.
Lalu dibawa kedalam.
Permisi, ingin yang level berapa (maksud level itu
ingin yang seberapa menakutkan)?
Onee-san yang menjaga kasir itu tersenyum tidak
pedulikan suasana disekitar. Apa dia tidak takut sama sekali?
Ada 3 level.
Mungkin karena banyak keluarga yang datang bermain
ini, jadi dibagi menjadi 3 level.
Kanda-kun yang pilih aja.
Aoyama, apa kau memang menyukai yang beginian?
Tenang aja, enggak akan begitu menakutkan kok.
Apa benar begitu? Reaksi Nanami membuat Sorata
bingung.
Kalau Kanda-kun takut, pilih yang 1 bintang aja.
Settingnya itu semakin banyak bintang maka semakin
menakutkan.
Jujur aja tidak begitu sering ke rumah hantu Atau
dengan kata lain aku sudah lupa kapan terakhir kali pergi
ke rumah hantu, jadi Sorata juga tidak begitu yakin apa dia
takut atau tidak.
Kalau begitu, berikan kami yang paling menakutkan.
Saat naik roller coaster Sorata memalukan dirinya
sendiri, jadi dengan kesempatan ini, dia ingin mengembalikan
harga dirinya dengan memilih yang paling menakutkan.
Baik, aku mengerti~~! Karena berdua totalnya 1000
yen.
220
2 orang masing-masing mengeluarkan 500 yen dan
membayar.
Kalau begitu, silahkan masuk.
Pintu yang berada disamping dengan berat terbuka.
Dua orang berdampingan berjalan masuk.
Lalu pintu yang ada dibelakang mereka tertutup
dengan tiba tiba.
Uwo!
Akh!
Mereka berdua langsung dikejutkan dengan suara
yang tiba-tiba ini.
Yang berada di depan Sorata dan Nanami adalah jalan
yang gelap.
Kalau begitu, ayo jalan.
Hn, hn.
Kira-kira setelah berjalan 3 langkah Soraat merasakan
ada sesuatu yang memegang lengannya. Itu adalah Nanami.
Aoyama-san?
A-aku bukannya takut, cu-cuma kalau ada sesuatu
keluar dengan tiba-tiba mungkin aku akan terkejut?
Itu bukannya berarti takut ya?
Disaat belum selesai ngomong, lampu yang ada
dibelakang Nanami tiba-tiba nyala. Seorang pria dengan
tubuh yang penuh luka muncul dengan tiba tiba.
Uwaaaaaaaaaa!
Setelah menakuti Sorata, lampu dengan segera lenyap,
pria dengan tubuh penuh luka menghilang dalam kegelapan.
Kanda-kun, kau terlalu lebay.
Ta-tadi itu dibelakangmu!
Nanami memutar kepalanya ke belakang yang ditunjuk
Sorata. Tapi disana sudah tidak ada siapapun.
Perlu aku menggandeng tanganmu?
221
Disaat Nanami bertanya begitu, kali ini pria dengan
tubuh penuh luka kembali muncul lagi dalam kegelapan.
Huwaaaaaaaaaaaaaa~~!
Kyaaaaaaaaaaaaaaaa~~!
Dan dengan cepat menyembunyikan diri lagi.
.
.
Mereka berdua dengan cepat mewaspadai. Setidaknya
sudah tidak terasa kehadiran pria dengan tubuh penuh luka
itu.
Hm, Aoyama.
Ada apa? Kanda-kun.
Kita bergandengan tangan saja.
Hn, hn.
Setelah itu, mereka berdua berteriak terus, dan
akhirnya sudah tiba di luar. Rasanya seperti sudah mau mati
saja.
Rumah hantunya sungguh menakutkan.
Hn.. aku belajar sesuatu dari perjalanan kali ini.
Mereka berdua masih bergandengan tangan dengan
erat sampai sekarang.
***
Sorata dan Nanami dengan cepat meninggalkan rumah
hantu gaya barat itu dan dengan santai berjalan menuju
ferris wheel.
Matahari sudah sepenuhnya turun, masing-masing
wahana permainan dihiasi lampu yang berwarna warni.
Hiasan ferris wheelnya sangat indah.
Itu ya?
Di jalan utama menuju ferris wheel ada bermacam-
macam maskot. Sepertinya sekarang sedang mengadakan
pertunjukan maskot imut.
222
Sepertinya bisa menjadikan ferris wheel sebagai latar
belakang dan foto dengan maskot yang disukai.
Ada 2 maskot dengan bentuk beruang imut mendekati
Sorata dan Nanami. Salah satunya memakai pita, itu
menunjukan dia yang betina sepertinya.
2 beruang imut itu sepertinya mengajak Sorata dan
Nanami foto.
Maksudmu ingin membantu kami foto?
2 beruang imut itu mengangguk-angguk kepala. Tapi
sepertinya sebenarnya mereka sedang membungkukkan
badan dan memberi salam ..
Ternyata Aoyama ngerti ya apa yang mereka
bicarakan.
Disaat berbicara begini, beruang imut itu
menunjukankan sikap berciuman. Sorata dan Nanami
awalnya cuma biasa-biasa tapi ternyata ada sepasang
kekasih yang sedang berciuman, dan beruang imut itu juga
sepertinya menujukan sikap tangan seperti silahkan, itu
membuat mereka berdua panik sejenak.
Bukan, kami bukan sepasang kekasih!
Ka-kami bukan sepasang kekasih!
Saat ini, 2 beruang imut itu menutup mulut mereka
dengan tangan seperti mengatakan ah jangan malu. Beruang
jantan menunjuk Sorata yang sedang menggandeng tangan
Nanami, dan mengolok-olok mereka berdua.
Disaat bersamaan mereka berdua langsung melepaskan
tangan masing-masing, dan melambaikan tangan untuk
menjelaskan bukan begitu.
Mungkin karena sudah tidak bisa dipaksakan, mereka
berdua menyerah. Tapi disaat sebelum meninggalkan
mereka, beruang jantan itu menepuk bahu Sorata seperti
sedang memberikan Sorata semangat.
223
Mungkin dia ingin aku lebih semangat lagi. Apa aku
terlalu banyak pikir?
Beruang jantan memutar kepalanya dan menunjuk
ferris wheel yang ada di depan, lalu mengangkat jempolnya
ke Sorata Tapi karena tangan beruang hampir bulat, jadi
tidak nampak begitu jelas.
Kami memang ingin naik ferris wheel.
Karena inilah, kami berjalan menuju arah ini.
Sepertinya antri di sana.
Seperti yang diharapkan dari ferris wheel, banyak
orang yang mengantri demi naik ini. Melihat papan iklannya,
di atas tertulis tunggu sekitar 15 menit.
Melihat dari bawah sampai ke atas menunjukan
seberapa besar ferris wheel ini. Lampu yang terus berubah
warnanya seperti sedang menyaksikan kembang api.
Hebat ya.
Iya.
Pasangan kekasih kebanyakan mengobrol begini
sambil menunggu.
Waktu semakin berjalan dan akhirnya sampai juga
giliran Sorata dan Nanami di set ke tiga.
Ah~~ sayang sekali!
Pasangan kekasih yang berada di depan Sorata dan
Nanami sepertinya sedang mencemaskan sesuatu.
Syukurlah.
Nanami berbisik disamping Sorata dengan suara yang
kecil.
Staff wanita yang ada di depan mengantar pasangan
kekasih yang di depan ke dalam gerbong ferris wheel.
Akhirnya tiba juga giliran Sorata dan Nanami.
Selamat untuk kalian berdua. Ini merupakan gerbong
yang menandakan kebahagiaan loh.
224
Staff itu dengan senang mengatakannya.
Gerbong yang berada didepan mata itu berwarna
ungu. Walau gerbong warna merah, biru, kuning ada sekitar
10, tetapi gerbong yang berwarna ungu hanya ada 1.
Silahkan masuk.
Nanami masuk duluan, Sorata menyusul masuk. Pintu
dari luar ditutup dengan rapat.
Mungkin karena sedang bergerak jadi dibagian kaki
ada perasaan sedang berjalan diatas udara.
Sorata dan Nanami duduk berhadapan.
Diatas tertulis maksimal untuk 8 orang, jadi di dalam
lumayan luas. Kalau Cuma berdua, rasanya membuat orang
memikirkan sisa ruangnya.
Ketinggian naik sedikit demi sedikit. Kira-kira 1 putaran
itu 15 menit, jadi kalau mau mencapai bagian tertinggi kira-
kira masih perlu menunggu beberapa saat.
Maksud tadi gerbong yang menandakan kebahagiaan
itu Kalau dinaiki pasangan kekasih, katanya akan
memperoleh kebahagiaan.
Sebelum Sorata bertanya, tatapan mata mereka saling
bertemu dan Nanami pun menjelaskan.
Begitu ya.
Karena untuk memperoleh gerbong ini kesempatan
yang kita dapatkan hanya 1 per 60, jadi sangat sulit untuk
mendapat gerbong ini.
Benar juga.
Akhir-akhir ini sepertinya aku beruntung.. Jika hal
itu berkaitan dengan Kanda-kun.
Aku?
Kita sekelas lagi kan.
Iya.
Dan juga, duduk bersebelahan lagi.
225
Lalu hari ini dapat lagi gerbong kebahagiaan?
Hn.
Di saat sedang mengobrol, gerbong yang berputar di
arah jam 6, berpindah ke arah jam 9.
Pemandangannya sangat indah. Tidak peduli itu hotel
yang ada di sekitar, kantor disekitar atau atraksi lain yang
dihiasi lampu berwarna warni, menghiasi jalan menjadi
menarik, semua itu sangat indah, bagaikan sebuah lukisan,
masing-masing ada warna nya sendiri.
Memang awal pikirnya akan indah pemandangannya,
tapi tidak diduga akan seindah ini
Nanami yang menempel di kaca jendela itu, memuji
pemandangan yang indah itu.
Iya, memang sangat indah, tapi .
Benar, memang sebuah pemandangan yang indah.
Walau merasa begitu, tetap ada sebuah masalah.
Tapi ketinggian ini juga diluar dugaan, lumayan
menakutkan ini!
Kalau cuma memperhatikan pemandangan yang di
depan itu memang bagus, tapi kalau perhatikan ke bawah
itu menakutkan sekali.
Walau aku juga merasa begitu, tapi suasana sedang
bagus, ditahan bentar saja.
Nanami mengeluarkan suara seperti tidak tahan dan
memegang pipinya.
Sorata merasa sedikit tidak enak dengan Nanami.
Ini pertama kalinya aku naik ferris wheel. Jadi ini
sedikit berbeda dengan yang aku bayangkan .

226
Awalnya berpikir ini hanya indah, tetapi menakutkan
juga ternyata. Karena tidak bisa turun dengan tiba-
tiba ditambah saat berhenti diudara itu lumayan lama
bagi beberapa orang, ini lebih menakutkan dari wahana
permainan lain
Ketinggiannya semaki naik.
Menurut arah jam, mungkin sekarang sudah lewat dari
posisi arah jam 10.
Apa aku boleh duduk disamping mu?
Tidak menunggu Sorata menjawab, Nanami berdiri.
Gerbongnya bergoyang sejenak.
Nanami dengan hati-hati ke samping Sorata, dan duduk
di samping Sorata, menekan Sorata di samping.
Sorata mulai menguncapkan dialognya.
Aku belum menjawabkan?
Kalau dipikir kembali, sebenar tidak perlu tanya kau
bukan?
Memangnya kenapa?
Karena tempat duduk di samping laki-laki itu sejak
awal memang milik pacar perempuannya kan?
Benar juga.
Walau tempat ini terlalu luas bagi 2 orang, tapi di
dalam gerbong yang luas ini, suara mereka berdua terdengar
jelas sekali.
Di ganggu suasana akting, Sorata mulai tidak bisa
membedakan yang mana merupakan kenyataan dan mana
yang akting.
Walau di dalam otak percakapan yang tadi jelas hanya
sebuah latihan, tetapi Sorata tidak bisa membedakan kalimat
yang diucapkan Nanami yang sedang akting, baginya ini
seperti suara yang masuk ke dalam hati.
Hn, ayo berciuman.
227
Dialog yang ini Sorata panik. Sorata mulai ragu-
ragu di dalam hatinya. Otaknya mulai tidak bisa berpikir,
tubuh mulai memanas. Selanjutnya harusnya giliran Sorata
mengucapkan dialog, tapi dialog yang seharusnya tersimpan
dalam otak itu tiba-tiba menjadi putih. Sorata tidak tahu
harus mengucapkan apa.
Uwa, maaf, berhenti sebentar dulu!
Kanda-kun?
Maaf banget.. Yang tadi itu
Di saat Sorata ingin mengatakan situasi yang tadi
tidak terlalu bagus, tetapan mata Sorata dan Nanami saling
bertemu.
Jangan-jangan kau menganggap ini sungguhan?
A-apa yang kau bicarakan!
Matamu melihat kemana-mana loh.
Tidak tahu mau melihat kemana, walaupun melihat
pemandangan yang indah, tapi tetap merasa tidak tenang.
Ti-tidak ada apa-apa. Karena selanjutnya merupakan
dialog berciuman, jadi merasa sedikit malu.
Kalau tidak menganggap begini, akan menjadi susah
nanti.
Sorat mencoba menarik napas dalam dalam.
Disaat dia sedang membuang panasnya, Nanami
mengatakan dialog yang sama lagi.
Hn, ayo berciuman.
Ini tidak seperti sedang berakting.
Nanami dengan caranya snediri mengatakan dialog
tadi.
Sorata merasa begitu.
Walau ingin mencoba bilang apa kau sedang bercanda
tetapi Sorata tidak dapat ngomong apapun.

228
Karena tatapan Nanami ke Sorata itu menandakan
bahwa dia sedang serius.
Suara seperti sedang menghilang disekitarnya.
Hanya dapat mendengar detakan jantung sendiri.
Tidak, masih ada 1 suara. Sepertinya itu suara detak
jantung Nanami.
Mata Nanami terlihat sedikit lembab, dan dia semakin
mendekatkan wajahnya.
A-Aoyama, tenangkan dirimu! Walaupun untuk
latihan, tapi ini sudah keterlaluan!
Tiab-tiba sadar diri, Sorata sudah memegang bahu
Nanami untuk menjaga jarak, mereka berdua memutar
wajahnya di saat bersamaan. Kalau menatap terus wajah
Nanami akan gawat seperti akan ditariknya. Melihat
pemandangan malam saja, tenangkan diri dulu. Sorata
memberitahunya pada dirinya sendiri, tapi tidak sadar apa
yang sedang dilihatnya sendiri, dan detakan jantungnya
bertambah cepat terus.
Maaf, Kanda-kun. Sepertinya aku sudah keterlaluan.
Nanami mengeluarkan suara yang gembira, seperti
sedang menjelaskan yang tadi itu hanya bercanda.
Memanglah, yang tadi itu sama sekali tidak lucu loh

Sorata dan Nanami sudah saling mengetahui perasaan


masing-masing, ini tidak bisa dianggap sebuah candaan
antar teman.
Maaflah, aku minta maaf. Putarlah kepalamu ke sini.
Walau Sorata masih melihat pemandangan diluar
gerbong, tapi setidaknya hatinya sudah agak tenang, dan
dengan protes memutar kepalanya menghadap ke Nanami.
Aku bilang Aoyama kau sama sekali .!
Baru ngomong sampai tengah.
229
Ada sebuah benda yang lembut, memblokir mulut
Sorata.
Itu merupakan bibir Nanami.
Yang ada di depan mata itu merupakan wajah Nanami
yang sedang menutup kedua matanya.
Tangannya menggenggam bagian dada Sorata dengan
erat.
Padahal cuma 5, atau 6 detik. Tapi bagi tubuh ini
sepertinya tidak hanya beberapa detik, ini seperti dibekukan
selama 1 menit.
Tanpa sadar, gerbong ferris wheelnya sudah melewati
posisi arah jam 12.
Nanami menggunakan sedikti tenaga di depan dada
Sorata, perasaan menempel itu semakin menjauh.
Tidak akan melakukan ini karena bercanda. Walaupun
hanya latihan naskah, juga tidak akan lakukan sepert ini
..
Nanami mengatakan dengan suara yang sangat kecil,
berpindah tempat duduknya ke seberang.
.
.
2 orang itu hampir lupa untuk bernapas. Begitu sunyi.
Yang pertama berbicara itu Nanami.

230
231
Kanda-kun.
Cara berbicaranya kembali ke logat Kansai.
.
Aku sudah memutuskan, setelah audisinya selesai,
aku akan meninggalkan Sakurasou.
Huh?
Untuk Sorata yang masih belum bisa tenangkan diri,
ini merupakan serangan ke 2.
Sebelumnya Akasaka-kun sudah pernah bilang kan?
Sakurasou bukanlah tempat yang kau ingin tinggal, dan
bisa tinggal begitu saja. Tapi aku malah ingin terus tinggal
di Sakurasou. Karena aku menyadari itu, aku merasa
harus meninggalkan Sakurasou. Bagaimana bilangnya
ya? Bagiku Sakurasou sudah seperti sebuah tempat untuk
memanjakanku.

Aku sudah membicarakan ini dengan sensei. Untuk
bisa melangkah lebih depan lagi, aku memutuskan untuk
meninggalkan Sakurasou.

Jadi sisa waktu ku tinggal di Sakurasou sudah tidak
banyak lagi.

Di dalam pandangan mata Sorata yang terkejut


ini, dengan menyaksikan pemandangan malam sambil
bergumam sungguh cantik wajah Nanami dari samping.
Hanya bagian samping wajahnya.

232
233
Bab 4
His, Her and Her Feeling

Bagian 1
Saat pertama kali berbicara dengan Nanami, kira-
kira 2 tahun yang lalu, pada pertengahan April saat baru
masuk ke Suimei.
Kanda-kun.
Padahal itu merupakan nama yang sudah sering
didengar dari teman yang memanggil, tapi rasanya Sorata
kurang terbiasa dengan logat tersebut.
Ada apa?
Walau sering dengar komedian di TV berbicara dengan
logat ini, tapi ini pertama kalinya bagi seseorang berbicara
secara normal menggunakan logat ini pada Sorata, jadi
rasanya sedikit aneh.
Hn
Namaku adalah Aoyama Nanami.
Ah, Aoyama-san, ya? Aku tahu , aku tahu.
Walau menjawab dengan asal-asalan, Nanami tetap
sadar.
Itu merupakan reaksi tidak ingat, kan?
Waktu itu mereka pernah berbincang pada saat tugas
piket ,tapi tidak begitu panjang, juga tidak begitu dekat.
Setelah itu, sudah lewat 2 bulan, waktunya musim
semi, tapi agak panas.
Waktu itu Sorata memungut kucing putih bernama
Hikari di depan gerbang sekolah Suimei. Di saat ingin pulang
ke asrama reguler dengan membawa kardus besar yang

234
berisi kucing itu, tiba-tiba ia dipanggil seseorang.
Kanda-kun.
Saat itu Nanami berbicara menggunakan logat Kanto.
Hn, Aomori-san?
Salah, itu adalah Pulau Honsu yang ada di ujung utara.
Aku adalah Aoyama Nanami yang sekelas denganmu.
Ah, benar! Aoyama!
Ternyata kau belum mengingat namaku.
Tidak, aku sudah ingat,s hanya kurang saja.
Bukannya itu berarti belum ingat?
Kali ini aku akan mengingatnya.
Pandangan mata Nanami menuju kardus besar yang
dibawa Sorata.
Apa kau berencana membawa kucing itu kembali ke
asramamu?
Ya.
Tapi, di asrama dilarang memelihara peliharaan,
lho.
Ya, benar juga. Ini merupakan sebuah masalah.
Nanti penjaga asrama bisa marah.
Kalau hanya dimarahi begitu tidak apa-apa,bukan
masalah besar.
Tidak, ini sama sekali tidak bagus
Saat berjalan menuju ke asrama , Sorata dan Nanami
mengobrol banyak soal kucing.
Apa teman sekamarmu bisa menjaga rahasia?
Ya, kalau dia Miyahara yang sekelas denganku,
kupikir bisa.
Kau ini berpikir positif sekali, ya.
Sepertinya orang itu juga suka kucing.
Tapi kalau yang dia suka itu anjing mau bagaimana?
Hanya bisa memintanya mencoba menyukai kucing.
235
Ini juga belum terpikir sudah ingin membawa ke
asrama saja.
Soalnya kasihan sekali.
Masih ingat waktu itu ekspresi Nanami seperti terkejut
dan tidak tahan akan sesuatu.
Huft, pokoknya, apa kau tidak mau masuk lewat
pintu belakang, depan dijaga penjaga asrama, bakalan repot
kalau ketahuan.
Ide yang bagus.
Siapapun pasti akan berpikir menggunakan ide ini
kali
Karena kamarnya berada di lantai satu, Sorata jadi
seperti pencuri memanjat jendela untuk masuk ke kamar.
Setelah Sorata merawat kucing jadinya lebih banyak
berbicara dengan Nanami. Miyahara juga semakin akrab
dengan mereka berdua
Apa kau sudah memikirkan namanya?
Kuberikan namanya Hikari.
Nama ini terdengar seperti perempuan yang pertama
disukai Kanda, lho.
Tak kusangka kau akan memberi nama kucing itu
dengan cara seperti ini. Tidak baik,lho, Kanda-kun.
Bukanlah! Miyahara jangan berkata yang tidak-tidak !
Kuberi nama Hikari karena kereta Shinkansen juga ada yang
namanya Hikari.
Walaupun begitu rasanya sama saja.
Huh? Jadi tak boleh?
Sebelum Hikari ketahuan oleh sekolah, ini merupakan
rahasia antara Sorata, Nanami dan Miyahara.
Saat pulang menuju asrama juga berbicara soal ini
dengan Nanami.

236
Kanda-kun, kau tidak mengikuti kegiatan klub apapun,
kan? Aku kira kau bakalan ikuti klub olahraga.
Mungkin karena saat aku SMP selalu bermain sepak
bola.
Kenapa tidak dilanjutkan ke SMA?
Eh, hmmm, ada sedikit masalah pokoknya, tapi bukan
masalah soal cedera atau terluka
Oh~~, kalau tidak ingin bilang juga tidak apa-apa.
Aoyama juga tidak mengikuti kegiatan klun apapun?
Hn.
Ah aku ingat biasanya kau selalu pulang malam, itu
mengapa?
Tiap hari senin Nanami selalu menguap , sepertinya
dia kecapekan.
Karena aku kerja paruh waktu.
Ah, begitu, ya. Tapi apa perlu tiap hari kerja paruh
waktu?
Hm, kalau soal itu aku ada sedikit masalah.
Nanami mulai menghindari pertanyaan apapun
mengenai soal ini, tapi setelah beberapa saat, Nanami pun
memberitahu bahwa impiannya untuk menjadi pengisi
suara, jadi ia pun ikuti kelas latihan, tetapi karena tidak
diizinkan ayahnya, akhirnya ia meninggalkan rumah.
Soal ikuti kelas latihan, tolong jangan beritahu siapa-
siapa, ya.
Mengapa?
Karena sekarang sudah jarang ada orang yang mau
berusaha demi mimpinya, kan?
Benarkah? Aku sangat iri. Saat itu mungkin karena
aku sedang memikirkan mimpiku, jadinya aku menyerah
pada sepak bola.
terima kasih.
237
Terima kasih untuk apa?
Kalau tak mengerti juga tak apa.
Tapi aku tidak merasa tidak apa-apa.
Karena merawat Hikari-lah hubungan ini terus berjalan
sampai Sorata dimasukkan ke Sakurasou saat semester
pertama.
Saat ini juga, Sorata berhenti memikirkan masa lalu.
Awan tipis yang tidak berujung ini menutupi langit,
dan menurut ramalan cuaca pagi ini, malam nanti akan
turun hujan.
Kalender bulan April sudah berakhir, sekarang sudah
bulan Mei, tanggal 2.
Hari Senin setelah Golden Week.
Sorata melewati teman yang berjalan mengobrol soal
kalau hari ini juga libur pasti nyaman, dan berjalan menuju
loteng sekolah.
Dan sekarang sedang berbaring dikursi panjang.
Yang ia pikir kini hanya satu hal.
Setelah kencan di taman hiburan, Sorata hanya bisa
berpikir hal tentang Nanami. Tidak peduli sedang makan
pagi, saat sedang di toilet, mandi, belajar, dan setelah sadar,
Sorata terasa seperti mencari Nanami di dalam ingatannya.
Terjadi hal seperti ini wajar saja.
Kalau berusaha untuk tidak memikirkan itu sama
sekali tidak mungkin.
Kalau Nanami tidak ada perubahan yang begitu besar,
pagi ini juga bertemu Nanami di ruang makan.
Ah , selamat pagi, Kanda-kun.
Dan malah menguncapkan salam dengan ceria.
Walau saat pelajaran tatapan saling bertemu, hanya
Sorata sendiri yang dengan buru-buru segera memindahkan
tatapannya.
238
Apa kau tidak apa-apa? Kau melamun terus.
Juga diperhatikan seperti ini.
Nanami yang bersikap seperti tidak terjadi apa-apa
membuat Sorata bertambah bingung.
Walaupun begitu Sorata tidak merasa kencan itu
seperti mimpi, apalagi ciuman itu sama sekali bukan sebuah
ilusi.
Karena perasaan itu sangat nyata, bahkan sekarang
bibirku masih merasakan itu, ini sudah menjadi sebuah
memori yang terlukis dalam hati, sama sekali tidak mungkin
akan berpikir itu adalah sebuah mimpi ataupun ilusi.
Juga tidak akan curiga apa yang terjadi saat itu.
Hanya bisa memilih salah satu jawaban.
kalau begitu, setelah audisi kali ini selesai aku baru
beritahu padamu.
Hari itu, janji yang dibuat ulang. Sorata kira-kira sudah
bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Nanami. Terlalu
banyak hal yang perlu diputuskan, kukira waktuku untuk
bersantai masih banyak, tapi ternyata sudah habis.
Selanjutnya tanggal yang dijanjikan, yaitu audisi
Nanami, akan dilaksanakan besok.
Jadi bagaimanapun akan terpikir soal Nanami.
Sorata bingung akan perasaan ini. Pertemuan pertama
kali yang dirindukan; saat-saat merawat Hikari sungguh
bahagia, termasuk Daichi, setiap hari terasa asyik bila
bertiga membicarakan rahasia mereka. Tapi setelah Sorata
pindah ke Sakurasou, jadinya jarang bertiga lagi, tapi karena
tetap sekelas, kadang-kadang tetap ngobrol juga.
Bagaimana kabar Hikari?
Hn, baik-baik aja.

239
Walau merupakan sebuah percakapan yang tidak
berarti, tapi dengan aneh dapat terpikir soal masa lalu saat
masih bertiga.
Saat naik ke kelas 2 juga sekelas, apalagi saat musim
panas, Nanami juga pindah ke Sakurasou. Melihat sosoknya
yang selalu serius membuat orang ingin mendukung
impiannya sampai akhir dan berharap kerja kerasnya
membuahkan hasil.
Seperti waktu itu Nanami tidak berhasil pada audisinya,
ingatan seperti diperbarui. Kalau sekarang ingat kembali
rasanya sakit sekali. Ekspresi menangis Nanami hari itu,
Sorata tidak mungkin akan melupakannya. Yang namanya
tidak sudi, kira-kira seperti situasi itu.
Yang lain seperti saat pergi bersama pada malam
natal, atau tinggal bersama dikampung Sorata saat tahun
baru, atau menerima cokelat saat hari Valentine. Hal-hal ini
terpikir terus oleh Sorata.
Dengan begitu, setelah perasaan dan kenangan yang
begitu banyak, Sorata hanya dapat menyisakan bagian yang
bahagia saja.
Jadi sikap Sorata mengenai situasi saat ini tidak
terasa sedikitpun perasaan yang sesak. Setiap memikirkan
hal tentang Nanami, dalam hati seperti terus diisi sesuatu
sampai penuh. Kira-kira seperti itulah suasana hati Sorata
saat ini.
Karena tidak ingin ekspresi wajahnya yang sedang
berpikir dilihat orang lain, Sorata menutup mata dengan
satu lengannya.
Dengan begini, setelah beberapa saat, terdengarlah
langkah kaki seseorang yang semakin dekat, dengan tepat
berhenti di belakang kepala Sorata.
Apakah Mashiro? Atau mungkin Nanami ?
240
Apa kau tidak punya teman?
Bukan keduanya
Sorata membuka mata, dan terlihat Kanna secara
terbalik. Dia sedang melihat Sorata dengan mengggunakan
kacamatanya.

241
242
Mau tidak aku menemanimu makan bekal?
Hari ini aku ingin sendirian.
Rasanya tidak begitu enak duduk di kelas kalau ada
Nanami.
Apa kau sedang memusingkan sesuatu?
Tidak, lebih tepat sedang berpikir sesuatu.
Sebenarnya tidak sedang memusingkan sesuatu.
Pusing soal masa depan?
Hn, wajar saja, bagaimanapun sudah kelas 3 SMA.
Atau pusing soal nanti makan malam mau makan
apa?
Hn, di Sakurasou buat makan sendiri, ini juga perlu
dipikirkan.
Atau hal tentang kucing?
Lucu, lho.
Lalu sisanya, soal hubungan segitiga?

Memang orang yang polos juga mudah dimengerti.
Terima kasih atas pujianmu.
Aku sedang menyindirmu, tahu.
Ya, jelas jelas ia sedang menyindir, tidak perlu bilang
pun Kanna tahu Sorata mengerti maksudnya itu.
Pokoknya kesampingkan soal ini dulu, Kanna-san.
Ada apa?
Jangan berdiri terlalu dekat, nanti celana dalammmu
nampak.
Sedikit lagi akan nampak, sekarang sedang pada posisi
yang ekstrim, rasanya tidak tahan
Tak masalah, karena sekarang aku tidak pakai.
Oh begitu, kalau seperti itu memang tidak nampak
celana dalam, hey! Tunggu sebentar!

243
Bercanda, kok, aku memakainya, kalau kau tetap
merasa aku sedang bohong apa kau mau mengeceknya?
Kalau begitu biar aku mengeceknya.
Sorata juga dengan bercanda membalas reaksi Kanna
itu.
Aku sudah pikir pasti bakalan begini, syukur hari ini
aku pakai yang paling kusuka. Sorata-senpai, silahkan.

Entah kenapa rasanya aneh mendengar kalimat tadi
dari Kanna.
Bisa tidak jangan berpikir seserius ini? Tadi itu juga
bercanda.
Bu-bukan itu, tadi kau memanggilku Sorata-senpai,
kan ?
Ya, terpaksa, kalau memanggilmu Kanda nanti akan
tercampur dengan nama adikmu.
Aku rasa kau langsung memanggil adikku dengan
panggilan Yuuko saja.
Kalau sudah memutuskan memanggil dengan Kanda-
san akan repot mengganti panggilan lagi, ini merupakan
sebuah tekanan.
Ya sudah, tidak apa. Ada perlu apa kau mencariku?
Kalau mencari Sorata hanya untuk mengobrol, rasanya
agak sulit dibayangkan.
Karena ingin mengejek senpai.
Kalau begitu, sudah cukup ejekannya.
Bercanda, kok.
Sorata sadar, Kanna yang sekarang lebih lembut dari
dulu. Dilihat dari dia yang selalu membuat Sorata susah,
sepertinya kali ini dia sedang senang. Dan bercanda seperti
ini baru pertama kalinya juga. Mungkin terjadi hal yang
bagus baginya.
244
Cerita yang kubuat kemarin diterima editor, sudah
bisa lanjut lagi ke buku kedua.
Ah, begitu, ya.
Apanya begitu?
Karena sekarang ekspresimu terlihat senang.
Rasanya jiijk mendengarmu berkata seperti itu.
Jangan berbicar itu lagi.
maaf, di saat kau sedang senang aku malah
mengejek.
Tadi aku juga hanya bercanda, jangan anggap serius.
Kalau bercanda harus buat orang lain sadar itu
memang bercanda, tapi, ya, tidak apalah, setidaknya
sudah ada perkembangan.
Itu, terima kasih.
Suara Kanna sedikit mengecil.
Terima kasih untuk apa?
Berkat catatan itu...
Oh, itu, aku akan bantu kau berterima kasih pada Jin-
senpai nanti.
Aku berterima kasih pada Sorata-senpai.
Iya, iya, aku sudah mendengar. Kalau begitu, tidak ada
tekanan lagi, kan?
Iya. Aku berpikir juga mungkin tidak akan bertemu
dengan Sorata-senpai lagi.
Setidaknya bakalan bertemu di koridor atau apapun
itu, kali!
Kanna sedikit tersenyum. Sepertinya Sorata
dipermainkan lagi. Ternyata kalau tidak tertekan, Kanna
juga bisa tersenyum seperti ini.
Kalau memang bertemu, aku akan menyapa nanti.
Itu merupakan kehormatanku.
Kalau begitu aku pergi dulu.
245
Hn, kalau kau ada masalah lagi panggil aku saja.
Walau tidak berani jamin bisa bantu banyak, tapi setidaknya
aku akan mendengarmu.
Saat ini, Kanna menatap Sorata, dan mulai berpikir.
Kenapa?
Sorata-senpai, jangan-jangan kau suka aku.
Ditanya begitu oleh Kanna.
Ramah dengan teman adik itu merupakan tugasku
sebagai seorang kakak, kali!
Harusnya sekarang malu sedikit akan lebih sopan.
Kanna berbicara sendiri.
Ya, aku pergi dulu.
Setelah selesai mengatakan itu, ia pun lekas
meninggalkan tempat ini.
Sorata sendirian lagi dan memandang ke atas
mengamati langit.
Sudah diterima editor, ya? Syukurlah.
Kalau masalah ini tidak selesai dengan baik, entah
akan terjadi apa nanti.
Syukurlah.
Sorata menutup matanya, menarik napas dalam dalam.
Setelah sekitar tiga menit, handphone-nya pun berbunyi.
Ada sebuah e-mail.
Objek tertulis Sorata. Pengirimnya Mashiro.
Setelah membuka e-mail itu. Di atas tertulis
bertengkar dengan Nanami?
Sesaat detakan jantung Sorata bertambah cepat, tapi,
ya, begitulah.
tak ada.
Sorata membalas dengan pendek.
kalau begitu, berarti terbalik.
Detakan jantung Sorata bertambah lebih cepat lagi.
246
Maksudnya terbalik itu apa?
Terbalik dengan yang dikatakan Sorata, Sorata sudah
mengerti maksud e-mail tadi.
Karena begitu, tidak bisa mengaku juga tidak bisa
pura-pura tidak tahu, kalau tanya apa maksud terbalik itu
berarti mencari masalah sendiri.
ya.
Jujur saja daripada lebih banyak masalah lagi.
Setelah beberapa menit, e-mail dari Mashiro pun
datang.
maksudnya terbalik itu apa?
Bukannya kau sendiri yang tanya!
Tiba-tiba badan Sorata merasa lemas.
Walau sudah berbuyi bel yang menandakan istirahat
siang sisa lima menit lagi, Sorata tetap tidak bisa bangun.
Sekali lagi di dalam pikiran Sorata penuh dengan hal-
hal tentang Nanami.

Bagian 2
Setelah bunyi bel baru masuk kelas.
Pelajaran setelah istirahat siang juga dengan serius
ia ikuti, dan sepulang sekolah langsung jadi model lukis
Mashiro. Lalu setelah menemani Mashiro sampai jam enam,
Sorata baru balik ke Sakurasou.
Di saat melepas sepatu di rak sepatu, kebetulan
bertemu Nanami yang sudah pulang dan barusan dari ruang
makan.
Ah, kau sudah pulang.
A-aku sudah pulang.
Sorata dengan kaku menjawab.
Sesuai dugaan tetap tidak bisa dengan biasa
memandang mukanya.
247
Sepertinya giliran Nanami memasak makan malam
dan sudah selesai. Ditambah Iori yang baru pulang setelah
berlatih piano, kami berempat pun makan malam bersama.
Chihiro-sensei sepertinya masih kerja di sekolah, jadi belum
pulang ke Sakurasou.
Setelah makan malam, karena masing-masing ada
kegiatan, tidak berapa lama kami pun bubar.
Mashiro menggambar manga di kamarnya sendiri di
lantai dua, Nanami bersiap-siap untuk audisi besok, dan
Sorata melanjutkan proses pembuatan game-nya itu.
Iori masih berlatih piano. Mungkin karena tampil besok
jadi daritadi ekspresi Iori menjadi kaku. Tidak melihatnya
mengobrol dengan santai, hanya melihatnya daritadi
menganggap meja sebagai piano dan menekan terus.
Kau berusaha juga ternyata.
Sorata berkata begitu.
Ya.
Iori juga menjawab dengan biasa. Melihatnya
menjawab seperti itu dapat merasakan bahwa sepertinya ia
sudah tidak ingin pindah ke divisi reguler lagi.
Setelah ini, selain Misaki-senpai mengacaukan kamar
Sorata, ini merupakan malam yang tenang.
Proses game berjalan dengan lancar. Desain yang
direncanakan juga sudah selesai.
Juga ditambah layar utamanya, sudah ada sosok
sebagai sebuah game.
Walaupun begitu, Sorata tetap mengatur pengaturan
game-nya, karena kurang percaya diri dengan tingkat
kesusahan ini.
Kanda.
Tiba-tiba ada yang memanggil.

248
Pandangan mata Sorata menuju pintu kamar yang
terbuka, dia adalah Ryuunosuke yang merupakan tetangga
Sorata. Ini bukan ilusi, itu benar benar Ryuunosuke.
Lama tidak bertemu, Akasaka.
Bertemu dengan dia seperti ini kira-kira waktu musim
semi, sudah sebulan lebih.
Kalau kau tidak tahu cara penggunaan pintu, aku
akan beritahu caranya.
Ryuunosuke menggerakkan pintu kamar.
Itu, sih, aku tahu! Pintu itu terbuka karena Misaki-
senpai tadi masuk dan langsung kabur tanpa menutup
pintu.
Kalau begitu kenapa kau tidak menutup pintunya?
Ryuunosuke berkata sambil menutup pintunya.
Entah kenapa Ryuunosuke masih di dalam kamar, dan
berjalan mendekati Sorata, duduk di sebelah Sorata yang
berada di depan TV, dan bertanya,
Sudah selesai?
Ya sebagian besar sudah.
Biar kulihat.
Sorata memberikan kontrolernya pada Ryuunosuke.
Balik ke layar utama, Ryuunosuke memilih opsi main
sendiri.
Mengganti layar, game dimulai.
Setelah mulai, Ryuunosuke menerima serangan dulu
dari CPU, terus menekan setiap tombol dua-tiga kali untuk
mengetahui cara kontrolnya.
Kira-kira saat sudah mengerti cara kontrolnya,
Ryuunosukepun mulai menyerang balik CPU.

249
Karena serangan yang diterima, Ryuunosuke
dalam situasi buruk. Tapi setelah Sorata amati sebentar,
Ryuunosuke tidak terkena serangan CPU lagi. Bukan hanya
itu, bahkan meriam yang berat bisa mengenai CPU dengan
tepat. Juga ditembak secara terus-menerus. Lawan seperti
ditarik pelurunya.
Setelah beberapa detik, Ryuunosuke pun membalikkan
keadaan dan menang.
Apa yang kau lakukan tadi?
Tadi itu seperti dia tahu semua gerakan CPU.
Karena setting gerakan CPU yang dibuat Kanda
terlalu kuno. Melihat sekali sudah bisa tahu apa gerakan
selanjutnya.
serius?
Untuk membuktikan yang dikatakan Ryuunosuke
benar, Ryuunosuke mengulang game-nya lagi. Misil akan
ditembakkan, bom akan dilempar, dia akan mendekat,
semua itu berhasil ditebak Ryuunosuke tanpa salah.
Apa, sih, yang tak bisa dilihat matamu?
Soalnya otak Sorata itu kosong.
Ada isinya lah!
Ryuunosuke memungut satu kontroler lagi di lantai
dan memberikannya pada Sorata, sepertinya dia mengajak
Sorata bermain.
Sorata duduk dekat kasurnya, dan Ryuunosuke duduk
di depan TV.
Aku bilang dulu, aku ini sangat kuat.
Bagaimanapun Sorata-lah yang membuat game ini.
Tapi walau sudah bermain lama sekali, belum pernah sekali
menang lawan Misaki-senpai.
Kalimatmu tadi itu apa menandakan kau akan kalah?
Bisa tidak jangan meremehkanku seperti itu!
250
Ngobrol seperti itu, dan akhirnya game dimulai.
Hasilnya, Sorata kalah 6 kali dan merengek-rengek
minta tanding ulang.
Mengapa?!!!!
Ryuunosuke tidak peduli dengan Sorata yang terpukul,
dan sekali lagi memilih opsi main sendiri.
Setelah bermain beberapa lama, mulailah dia
memberikan komentar yang tidak enak.
Soal gerakan musuh itu sama sekali tidak bagus.
Sekali pemain sudah mulai menangkap intinya, ini akan
menjadi tidak berguna.
Tidak disangka pada saat dia bermain pertama kali ,
semua sudah ketahuan olehnya.
Sebenarnya game ini kurang menarik, akupikir orang
yang bermain itu hanya karena diajak. Kalau ingin ini
menjadi sebuah game sungguhan, atur ulang lagi gerakan
CPU itu.
Akasaka, apa kau tahu apa itu lembut sedikit ?
Tentu saja tahu.
Kalau begitu, kalau kau bisa lembut sedikit aku akan
sangat berterima kasih!
Ini masih terlalu jauh untuk disebut sebagai sebuah
produk.
Kalau kau masih ingat topik lembut sedikit aku akan
sangat senang!
Tapi, kalau berpikir ini merupakan game pertama
yang kau buat dihidupmu, juga tidak sampai sebulan
buatnya, ini sudah bagus.
kalaimat yang tadi tolong katakan sekali lagi.
Ini, sih, kalau aku buat setengah hari juga selesai.
Apa kau mendengarku bicara?

251
Bagaimanapun dia itu Ryuunosuke, kalau sudah
mendengar pasti akan ngomong seperti itu.
Kalau tidak dengar kalimat terakhir itu, pasti aku
bilang tidur dengan tenang hari ini
Sorata menghela napas duduk ditepi kasur dan
langsung berbaring.
Tapi hari ini berkat bantuan Ryuunosuke.
Ya benar, berterima kasihlah padaku.
Baru aku mau bilang terima kasih untuk apa hoi!
Tak tanya juga tahu. Kalau tidak kusiapkan program
utamanya, skala kecilpun kau tidak akan pernah bisa
membaut game ini dalam satu bulan.
Seperti yang kau bilang. Walau sudah satu bulan aku
tetap tidak mengerti kenapa layar tiba-tiba muncul gambar,
kenapa ada suara, kenapa bisa kontrol dengan menggunakan
kontroler, itu semuanya aku tidak mengerti. Hanya ikuti
yang kau ajarkan, mengurus setiap fungsi dari prosesnya,
dan sedikit rapikan angkanya, sisanya hanya terus tulis if.
Perasaan ini seperti saat sedang mengerjarkan soal
matematika atau fisika. Walau tidak begitu mengerti, tapi
kalau ada rumus semua akan menjadi lebih mudah.
Tapi tidak mengerti strukturnya juga tidak apa, karena
ini ide Ryuunosuke, jadi Sorata kira-kira bisa sedikit mengerti
alasannya. Misalnya televisi, handphone, microwave, dan
komputer, semuanya bisa walaupun tidak begitu mengerti
cara kerja awalnya bagaimana, tapi yang penting tahu cara
penggunaannya semuanya tidak akan ada masalah.
Kalau sedang depresi, pakailah untuk melanjutkan
memperbaiki game-mu itu.
Aku tidak depresi, hanya istirahat sebentar.
Sorata memandang langit-langit kamar.

252
Ryuunosuke masih bermain game-nya, kadang akan
bilang ini tidak boleh, itu juga tidak boleh, ah buruk
sekali.
Saat mendengar komentar itu, dalam hati Sorata
muncul sebuah pikiran. Tidak , ini sudah terpikir oleh Sorata
sejak dulu, hanya saja Sorata terus lari dan menghindari
mengatakannya.
Melihat Ryuunosuke sedang bermain game yang
dibuat sendiri di depan, rasanya semakin ingin mengatakan
ini.
Ui, Akasaka.
Kalau ingin protes, buatlah game yang lebih baik dari
ini.
Mau tidak membuat game bersamaku.
Festival budaya tahun lalu mungkin merupakan sebuah
kesempatan. Sorata merasakan kesenangan saat membuat
sesuatu bersama-sama lewat Kucing Galaksi Nyaboron.
Walau proses pembuatan game pada bulan ini
juga menyenangkan, tapi rasanya masih kurang, rasa
menyelesaikan sesuatu belum terasa.
Apa kau ada ide bagus?
Tak, tak ada juga.
Kalau begitu mengapa? Katakan saja keinginanmu.
Aku, ya, karena ingin menjadi seorang pembuat game
jadi mengikuti sebuah audisi, dan berakhir seperti sekarang.
Tapi jujur saja, aku belum pernah berpikir mau menjadi
pembuat yang seperti apa.
Kau belum menjawab pertanyaanku.
Sorata tidak memedulikan pertanyaannya dan
berbicara terus.

253
Perusahaan game yang kukagumi ada beberapa. Kalau
sudah selesai kuliah nanti dan mulai mencari pekerjaan,
tentu saja ingin ikuti tes di salah satu perusahaan itu. Tapi
walau impianku sudah terkabulkan, dan selesai kuliah aku
di terima di perusahaan itu, akan jadi seperti apakah aku?
Ryuunosuke masih bermain game sendirian.
Setiap hari memakai seragam dan masuk ke kantor
yang besar dan megah itu? Menjadi salah satu pengembang
game dan tiap hari pulang malam?
Kemungkinan ini memang ada.
Tapi aku tetap merasa salah di beberapa bagian. Tidak
begitu baik. Alasan aku ingin menjadi pembuat game bukan
karena ini.
Menurut aku, yang dibilang Sorata tadi itu biasa-biasa
aja bagi seorang pembuat game. Kalau bukan begitu, apa
yang ingin kau lakukan?
Ryuunosuke datang ke kamarku, dan bilang game
yang kubuat buruk, dan sekarang mengobrol seperti ini
denganmu, akhirnya aku mengerti.

Aku tidak hanya ingin membuat game, aku ingin
seperti festival budaya tahun lalu, aku ingin suasana yang
seperti itu untuk membuat game.
Walau sudah tahu setengah, tapi tetap menghindari
perasaan ini. Mungkin karena takut kali, ya?
Saat sedang niat atau berpikir santai seperti ini tidak
bisa dianggap sebagai sebuah candaan. Karena di dalam hati
berpikir ini sangat jujur dan serius, karena inilah, menjadi
teliti karena takut.
Kalau ditolak saat selesai akan sangat menyakitkan.
Lalu kenapa sekarang bisa mengatakan ini dengan
santai pada Ryuunosuke?
254
Mungkin karena saat musim semi, Sorata sadar
hubungan antara satu dengan yang lain mulai berubah. Dan
karena tahu inilah, Sakurasou yang sekarang ini tidak bisa
terus bersama-sama sampai lulus. Nanami juga sebentar lagi
akan meninggalkan Sakurasou.
Yang tadi kau bicarakan itu tidak akan pernah bisa
terkabulkan. Mashiro sudah menjadi seorang komikus pro,
dan dunia anime mereka pasti akan mengincar Misaki-
senpai dan Jin-senpai. Bahkan penumpang yang membantu
saat membuat background juga sudah menjadi pelukis pro.
Apalagi masa depan yang diharapkan setiap orang berbeda.
Aku sudah sangat tahu hal ini tidak mungkin. Jadi aku
tidak mengatakan ini pada orang selain Akasaka.

Maksudku tadi yang ingin seperti saat festival budaya
itu hanyalah suasananya. Dan tentu saja. Kalau membuat
game dengan anggota seperti itu pasti akan bagus sekali.
Masing-masing mempunyai impiannya dan tujuannya, juga
tugasnya. Aku tahu ini tidak mungkin.
Cepat buat kesimpulannya.
Akasaka, ayo buat game bersama-sama.

Aku tidak akan bilang hanya membuat satu game,
aku ingin buat dua, atau tiga, atau bahkan lebih. Kalau bisa
seperti Fujisawa-san yang mendirikan sebuah perusahaan
saat selesai kuliah itu pasti akan senang sekali rasanya.
Semoga kau berpikri dari sudut ini.
Tidak mungkin.
Ryuunosuke menjawab dengan segera.
Kau juga pertimbangkanlah hal ini! Kali ini benar-
benar membuatku depresi

255
Karena begitulah, dari dulu Sorata tidak ingin
mengatakan ini. Karena Sorata mempunyai perasaan akan
menjadi seperti ini.
Bukan, bulan berikutnya aku sangat sibuk.
Karena kau sibuk sampai bolos pelajaran. Aku
mengerti.
Walau bukan sebuah impian yang bisa menyerah
dengan mudah, tapi juga tidak boleh memaksa. Tunggu
kesempatan berikut baru yakinkan dia.
Jadi tunggu sampai aku ada waktu dulu, Kanda pikirlah
ide yang menakjubkan dan juga ingat untuk melanjutkan
proses pembuatan game ini.
Heh? Jadi, maksudmu?
Saat Sorata mengangkat kepalanya, Ryuunosuke sudah
mengalahkan CPU tanpa diserang sedikitpun.
Kalau kau bisa memikirkan ide yang bisa diterima
olehku, aku akan pertimbangkan ini kembali.
Serius?
Sorata tiba-tiba bangun.
Akan kulakukan! Mau itu ide atau apaun itu akan
kulakukan!
Juga, tentang perusahaan desainnya, aku tidak
berencana untuk menunggu 5 tahun. Walau masih mungkin
pada saat masih kuliah, tapi paling lambatpun masih perlu 3
tahun. Kalau kau tidak berpikir seperti itu, jangan harap bisa
kerja sama denganku.
Ryuunosuke tidak memedulikan Sorata yang sedang
bersemangat dan dengan tenang menaruh kontrolernya di
meja.
Ini buruk, tapi pasti akan sangat menarik.

256
Walaupun jalannya masih sangat jauh, tapi rasanya
dapat memikirkan diri yang ada di masa depan. Sambil kuliah
di Universitas Suimei, dan tiap hari yang sambil buat game
dengan Ryuunosuke. Juga mungkin di sekitar kampus akan
ada kamar yang bisa dijadikan ruang pengembangan game,
atau Sorata akan menyewa sebuah rumah yang lebih besar
dan jadikan rumah itu sebagai ruang pengembangan game?
Dan sebelum mejalankan ini, perlu kerja paruh waktu untuk
mendapatkan dananya. Juga harus mengajak beberapa
orang lagi, berharap ada satu orang yang menangani bagian
gambar dan satu orang menangani bagian suara.
Hanya berpikir sebentar rasanya akan menarik sekali.
Untuk mewujudkan ini, niat juga sudah ada. Sorata
tidak pernah merasakan perasaan semangat seperti ini.
Sering mendengar kalau tujuan harus spesifik dan
jelas. Mungkin inilah maksud kata itu.
Yang kau ingin bilang hanya ini, kan?
Ah, hn.
Aku mau balik ke kamar dulu. Kalau sudah ada
rencana, kapanpun boleh memberitahu padaku.
Aku sedang berpikir begitu.
Ryuunosuke meninggalkan kamar Sorata dan menutup
pintu kamarnya.
Dengan segera terdengar suara pintu kamar sebelah
tertutup.
Bertemu lagi dengan Ryuunosuke itu kapan ya?
Sorata dengan bahagia baring di kasurnya.
Setelah sesaat, terdengar suara dari pintu masuk.
Sepertinya ada orang pulang.
Sepertinya Chihiro-sensei belum pulang hari ini.
Suara langkah kaki yang dikira bakalan menuju kamar
pengawas entah kenapa berjalan mendekati kamar Sorata.
257
Hn? Apa ?
Sorata merasa bingung dan membuka kedua matanya.
Bangun dan duduk dekat pinggir kasur.
Aku masuk, ya?
Chihiro-sensei mengatakanya dan dengan ekspresi
tidak senang masuk ke kamar Sorata.
Apa Sakurasou sudah tidak ada lagi budaya seperti
sebelum masuk ke kamar mengetuk pintu dulu?
Karena kau tidak menerima mengetuk pintu, jadinya
dihilangkan.
Rasa sepertinya itu semua salah Sorata. Perasaan
senang yang jarang ini pun menghilang.
Kapan aku menerimanya?
Kamar ini ada ruang umum. Apa kau tidak tahu?
Walau kenyataannya memang begitu, tolong jangan
anggap ruang pribadi!
Suara protes itu memenuhi kamar Sorata, tetapi
Chihiro tidak mendengar dan berputar balik ke pintu, entah
ada siapa di sana.
Kau sudah boleh masuk.
Walau pemilik kamar ini adalah Sorata, kalau dianggap
sebagai ruang umum, mau bagaimana lagi.
Maaf mengganggu.
Orang yang dengan sopan memberi salam itu, Sorata
juga mengenalnya.
Dia adalah Hase Kanna yang barusan bertemu saat
istirahat siang tadi.
Yang dibawanya itu sepertinya adalah tas besar yang
biasanya dipakai untuk bepergian.
Kenapa kau ada di sini?
Kira-kira dia bukan karena ada masalah jadi datang ke
Sakurasou. Juga , kenapa dia datang bersama Chihiro?
258
Sepertinya kalian sudah saling mengenal jadi tidak
perlu intro lagi. Dia adalah murid kelas 1 Hase Kanna, mulai
hari ini dia akan tinggal di sakurasou kamar nomor. 201.
Huh?
Kenapa kau bereaksi seperti terkejut?
Aku benar-benar terkejut!
Aku mendengar kau sudah tahu masalah yang ada di
dalam roknya?
Sensei, apa maksudmu itu?
Kau sudah tahu masalah bagian bawah tubuhnya,
kan?
Kenapa kau berkata kembali menuju ke arah yang
lebih parah?
Walau Sorata masih bingung akan situasi ini, tapi
setidaknya dia sudah mengerti situasi yang paling dasar.
Juga, selain masalah soal tidak memakai celana
dalam, tidak terpikir hal lain yang akan membuat Kanna
dimasukkan ke Sakurasou.
Bisa kau jelaskan situasi saat ini?
Sorata putuskan langsung bertanya pada Kanna.
Pernah mendengar dia berkata bahwa ceritanya sudah
diterima oleh editornya, harusnya tekanan untuk sementara
tidak ada.
Tolong janji bahwa kau tidak akan kecewa.
Kanna berkata seperti itu.
Sepertinya akan sulit
Sorata jawab dengan jujur.
Mengapa?
Karena sepertinya aku sudah tahu jawabannya. Jadi
sekarang sudah kecewa.

259
Ha-hari ini Hhanya karena kacau! Itu, karena cerita
sudah diterima editor jadi suasana hatiku agak sedikit
terbuka.
Kalaupun begitu, bagian itu tidak perlu terbuka, kali!
Jangan-jangan sudah kecanduan? Sudah tidak merasa
puas lagi?
Kalau begitu, ketahuan oleh siapa?
Mungkin karena depresi, Kanna menundukkan
kepalanya.
Kira-kira hari ke tiga saat masuk ke asrama perempuan,
penjaga asmara perempuan rasanya agak aneh. Dia seperti
kebingungan. Setelah itu, diperhatikan terus.
Eh, hey, ternyata kau juga lakukan ini di asrama?!
Hanya sebentar saja
Di saat seperti ini, bukan masalah soal sebentar atau
lama lagi, atau soal ada atau tidak ada.
Lalu, saat makam lama hari ini, bertemu dengan dia
yang sedang turun dari lantai dua, misteri pun terbongkar.
Pantas saja dia kebingungan.
Huft.
Lalu, padahal hari ini aku ada masih ada kencan, tapi
tiba-tiba dipanggil kepala sekolah dan ikuti rapat untuk
mengurus masalah ini, ini saja baru pulang dari rapat itu.
Suasana hati Chihiro-sensei sepertinya menjadi lebih
buruk lagi, sepertinya karena kencannya batal.
Ish, padahal jarang-jarang ada orang yang mengajakku
kencan.
Dia tetap protes dengan suara yang kecil.
Sepertinya yang ajak kencan itu adalah Fujisawa
Kazuki yang sangat membantu Sorata saat audisi game.
Bagaimanapun mereka ada teman SMA yang sekelas.

260
Kembali ke masalah utama dulu, sebenarnya apa yang
terjadi?
Sorata menarik Chihiro-sensei kembali lagi ke masalah
ini.
Penjaga asrama perempuannya bilang tidak mampu
mengurus masalah ini, dan wali kelas juga serahkan ini pada
kepala sekolah, dan kepala sekolah itu juga dari awalnya
sudah putuskan masukkan ke Sakurasou. Tapi ini juga wajar
saja, dari semua murid bermaslah yang kutemui selama
ini, ini pertama kalinya aku bertemu murid dengan hobi
memamerkan bagian tubuhnya seperti ini.
Orangnya sendiri di sini, setidaknya pakailah bahasa
yang lebih enak didengar!
Aku bukan memamerkan bagian tubuh.
Entah kenapa Kanna protes pada Sorata. Pada orang
yang omong tadi itu Chihiro
Bagi orang yang akan tinggal dengan kita di masa
depan itu, berpikir banyak untuk apa?
Tentu saja untuk mengarahkan bumi pada kedamaian!
Tunggu sebentar, kau tidak boleh menjawab lagi. Ini
membuat topik ini tidak berkembang sama sekali.
Chihiro-sensei yang dari dalam hatinya kerepotan
berkata seperti ini.
Bukannya karena sensei bicara banyak soal yang
tidak-tidak!
Cukup, tutup mulutmu.

Pokoknya, diam saja dulu.

261
Yang paling penting , semua orang termasuk dia
tidak dibolehkan ada kelakuan seperti ini, tidak boleh
membiarkannya berkeliling di asrama ataupun sekolah
tanpa memakai celana dalam. Tapi karena dia perempuan,
kupikir dia tidak akan berkeliling.
Kalimat pertama saat aku tutup mulut sudah sehebat
inikah?
Apa Chihiro tidak merasa malu berkata seperti itu?
Mungkin karena sudah lewat dari umur 30 tahun, jadi
kelaminnya pun sudah hilang? Jangan begini ? Pasti begini!
Pokoknya baik itu penjaga asrama perempuan, wali
kelasnya, ataupun kepala sekolah , mereka itu semuanya
tidak berguna.
Dengan kata lain karena Chihiro-sensei tidak tahan
dengan mereka jadi langsung bawa ke Sakurasou.
Walau dari sikap dan tingkah lakunya yang biasanya
tidak terlihat, tapi sebenarnya Chihiro-sensei baik juga.
Sorata paling tahu soal ini.
Jujur saja, waktu itu aku sangat ingin pulang.
Chihiro sambil menguap dan mengatakan hal yang
mengejutkan.
Aku sangat keberatan dengan alasanmu itu!
Tapi seperti yang Kanda bilang. Aku putuskan bawa
pulang ke Sakurasou, sisanya kau urus.
Huh?
Tadi Chihiro ngomong apa?
Rinciannya seperti yang tadi kubilang.
Sama sekali tidak ada rincian yang penting!

262
Tidak boleh membiarkannya begitu saja. Apalagi
sekarang ada sebuah masalah yang sangat serius
menghadapiku. Sebuah kejadian pada bulan April tahun lalu
tiba-tiba teringatyaitu menjadi orang yang bertanggung
jawab atas Shiina Mashiro.
Supaya dia tidak berjalan tanpa memakai celana
dalam lagi, kau uruslah dia, Kanda.
Apa kau sadar apa yang barusan kau bilang?!
Tentu saja.
Sungguh mengejutkan, hoi!
Di saat sedang protes denga Chihiro-sensei, Kanna
seperti menjelaskan bahwa dia juga melihat situasi saat
dia melepaskan celana dalam. Walau itu tidak berarti sama
sekali.
Tak masalahlah, kau pasti bisa.
Aku sama sekali tak mengerti kenapa aku dipuji!
Aku percaya pada hasil kau mengurus Mashiro dalam
setahun ini.
Aku sama sekali tidak menginginkan kepercayaan
seperti ini! Sensei anggap aku sebagai apa, sih?!
Tuan pemilik pemeliharaan, mungkin?
Apa ini cara omong apa ini juga kau tidak tahu?,
huh?
Iya, bantu kau tingkatkan level jadi tuan pemilik
pemeliharaan tingkat atas.
Jangan berkata soal tuan pemilik pemeliharaan lagi!
Barang bawaan lain yang besar besok saja baru
pindahkan, pokoknya aku andalkan kau. Baik, bubar.
Bisa tidak juga memikirkan perasaanku saat menjaga
dia!
Kalau begitu, sisanya tanya Kanda saja.

263
Chihiro yang tidak memperdulikan Sorata setelah
berbicara pada Kanna segera meninggalkan kamar Sorata.
Ah, sensei, tunggu sebentar!
Yang terdengar hanya suara pintu penjaga asrama
tertutup.
Sorata yang berencana memanggil akhirnya menyerah.
Membuat pusing saja, ngomong-ngomong, tiba-
tiba dipindahkan ke Sakurasou seperti ini apa tidak masalah
bagimu Kanna-san?
Ada satu bagian yang bermasalah, tampilan luarnya
merupakan siswi teladan. Kalau dianggap menjadi
murid bermasalah, bukankah itu akan menjadi sangat
menyedihkan?
Kalau sudah begini, tak ada solusi lagi. Aku akan
berusaha balik ke asrama biasa dengan cepat.
Kalau ada bagian yang bisa kubantu, bilang saja.
Sorata-senpai juga, apa kau tidak masalah?
Bukannya kau ingin katakan beberapa hal padaku?
Dengan mudah sekali ketahuan oleh orang lain, apa
kau tidak malu?...itu yang kupikir.
Sudah, lupakan saja.
Kalau saja bisa diselesaikan dengan begini, tapi ini
bukan masalah yang bisa dilupakan dengan begitu saja.
Karena ini sudah sangat berpengaruh pada salah satu pihak,
bagaimanapun Sorata tidak mungkin bisa lupa kejadian
antara dia dan Nanami.
Di saat Sorata sedang memikirkan ini, di depan pintu
muncul seseorang.
Uwo! Kenapa gadis berkacamata yang datar itu ada
di sini!

264
Orang yang muncul itu adalah Iori. Memakai celana
sport dan t-shirt, di atas kepalanya menggunakan headphone
yang kabelnya sangat panjang.
Soal kemunculan Iori, Kanna menghela napas.
Ternyata di dalam Sakurasou ada pengintip mesum.
Rasa benci mulai disebar dari Kanna, mungkin karena
satu tingkatan, kata-kata itu terdengar lebih tajam lagi.
Dia mulai hari ini akan tinggal di Sakurasou.
Serius?!
Kalian berdua saling kenal?
Sorata bertanya pada Kanna dan Iori.
Kalau mau ungkitkan soal ini, dialah orang itu ,
Sorata-senpai! Aku ditemukan dia saat ingin mengintip
kamar mandi perempuan, karena dialah aku dimasukkan ke
Sakurasou!
Kalau mau ungkitkan soal ini, karena kau lakukan hal
tidak terpuji. Kalau mau ungkitkan soal ini kau dimasukkan
ke Sakurasou karena mesum. Kalau mau ungkitkan soal ini,
kau adalah orang bodoh!
Seperti yang dikatakan Kanna. Dan saat ini , Kanna
melirik Sorata.
Ada apa?
Tidak ada.
Kelihatannya tidak seperti tidak ada apa-apa.
Tidak, tak ada apa-apa.
Sorata sengaja menjawab dengan kata-kata yang sama.
Kanna yang menyerah untuk bertanya lagi,
memindahkan targetnya pada Iori.
Aku masih ingin memberitahu sesuatu.
A-apa memang?

265
Iori yang dikejutkan oleh tatapan Kanna yang tajam itu
mundur beberapa langkah. Kanna menakuti lewat tatapan
matanya yang menyeramkan.
Aku bukan datar.
Mungkin karena terganggu dengan ucapan Iori yang
tadi, ia menjelaskan ini dengan serius.
Huh? Bagi aku tetap datar!

Tatapan Kanna sekejap langsung menjadi dingin
seperti sedang mengutuk sesuatu.
Ja-jangaan terlalu memperdulikan itu
Pandang ke mana kau?
Sorata sedang melihat dadanya Kanna untuk
memastikan, Kanna sepertinya sadar dan menutupi dadanya
dengan tangannya.
Juga, kenapa murid teladan yang mewakili siswa kelas
satu memberi kata sambutan bisa dipindah ke Sakurasou?
Apa yang kau lakukan?
Iori bertanya penuh kebingungan.
Itu karena
Sepertinya Kanna kebingugan untuk menjawab
pertanyaan Iori sehingga ia menundukkan kepala dan
meminta bantuan Sorata.
Huh? Sorata-senpai tahu kenapa dia dipindahkan ke
Sakurasou?
Tatapan mata Iori penuh dengan rasa ingin tahu.
Kalau kau berani beritahu, aku juga akan beritahu hal
itu.
Bisikan Kanna itu merupakan ancaman.
Aku pikir kalian sedang bertengkar atau apa.
Nanami menghela napas dengan berat.
Sorata.
266
Selanjutnya, Mashiro juga muncul.
Bantu aku keringkan rambut.
Dia seperti tidak tahu situasi saat ini, dan dengan
santai mengeluarkan pengering rambut.
Shiina, setidaknya kau perhatikanlah sekitarmu. Apa
kau tidak merasakan apapun setelah melihat situasi ini?
Mashiro melihat Sorata, Nanami, Iori dan Kanna secara
berurutan.
Ada 5 orang.
Jumlah orang sama sekali tidak penting!
Kanda-kun, jangan-jangan, ini
Nanami sepertinya sadar tas besar yang sedang
dipegang Kanna.
Izinkan saya memperkenalkan diri, namaku adalah
Hase Kanna, siswi kelas satu.
Kanna memberi salam.
Mulai hari ini akan tinggal di Sakurasou, mohon
bantuannya semuanya.
Kanna selesai memberikan salam untuk semuanya.
Dengan begitu, semester pertama yang baru satu
bulan, masing-masing kamar Sakurasou sudah dipenuhi.
Rekor pertemuan Sakurasou tertulis begini.
siswi kelas 1 Hase Kanna pindah ke kamar no. 201.
Catat Aoyama Nanami.
mohon bantuannya semuanya. Balas Hase Kanna.
pesta penerimaannya menunggu semua barang
sudah dipindahkan baru rayakan saja. Balas Kanda Sorata.
aku sama sekali tidak menerima ini! Balas Himemiya
Iori.
aku juga tidak ingin diterima si mesum! Balas Hase
Kanna.

267
hey kalian berdua, jangan anggap rekor pertemuan
ini sebagai ruang ngobrol! Balas Kanda Sorata.
orang mesum tahun ini bertambah satu. Balas Shiina
Mashiro.
topiknya sudah selesai, jangan ngomong lagi! Balas
Kanda Sorata.
Kanda-kun, jangan anggap rekor pertemuan ini
sebagai ruang ngobrol. Balas Aoyama Nanami.
iya, maaf. Balas Kanda Sorata.
orang yang bertanggunjawab atas Kanna
diputuskan; Sorata. Balas Sengoku Chihiro.
apa yang kau tulis lagi! Balas Kanda Sorata.

Bagian 3
Hari selanjutnya, bulan Mei, tanggal 3.
Setelah membantu Kanna merapikan barang
bawaannya saat siang, mereka pergi ke Universitas Suimei
Jurusan Seni saat sore.
Sorata, Mashiro, Kanna, dan Nanami berjalan menuju
ke ruang konser dan berencana menonton Iori yang
mengikuti lomba dengan diam-diam.
Walau sebelumnya sempat membahas soal pakaian,
tetapi akhirnya diputuskan memakai seragam.
Kenapa sampai aku juga harus ikut?
Yang berbicara tadi adalah Kanna. Dia seperti sedang
protes dan mengatakan padahal aku berencana untuk
merapikan kamarku menjadi lebih rapi lagi.
Kalau tinggalkan kau sendirian, pasti kau akan mulai
berpikir soal novel lagi, dan menumpuk tekanan, juga kau
ingin mendapat cara untuk meringankan stresmu dan
dengan segera meninggalkan Sakurasou, kan?
Ya, memang benar
268
Kanna seperti mengerti dengan ucapan Sorata tadi,
tapi sepertinya juga tidak begitu terima, dan mengarahkan
pandangan matanya ke tempat lain.
Ah, ya, apa Yuuko tidak apa-apa? Di kamar tersisa dia
sendirian, bukannya dia akan merasa kesepian?
Dengar-dengar sepertinya dia akan tinggal dengan
siswi kelas dua yang juga tidak memiliki teman sekamar,
jadi tidak perlu khawatir. Dia berbeda denganku, dengan
siapapun pasti dia akan cepat akrab dengan mereka.
Dilihat dari situasi Yuuko, tidak bisa melihat situasi itu
merupakan sebuah keuntungan baginya.
Tapi, dia juga bilang, Aku akan segera pergi ke sana,
tenang saja.
Pandangan mata Kanna melihat ke orang lain.
Tentang ini, Sorata sudah tahu soal ini dari e-mail
Yuuko yang dikirim kemarin.
Sakurasou sudah tidak ada kamar kosong lagi.
Menyerah saja. Kalau ingin tinggal satu kamar denganku itu
jelas-jelas tidak boleh.
Sorata membalas seperti itu, mungkin karena depresi
setelah membaca e-mail Sorata, dia tidak membalas lagi.
Sebenarnya tidak lama lagi akan ada satu kamar yang
kosong
Sorata niatnya ingin menatap Nanami diam-diam, tapi
ternyata pas-pasan saling menatap dengan Nanami.
Kanda-kun, kalau jalan tidak melihat ke depan akan
jatuh, lho, nanti.
Nanami dengan sikap yang biasa menghadap ke depan
lagi.
Oh, oh.
Tapi, Sorata dengan jelas menyadari sesuatu.

269
Hari ini tidak hanya ada lomba Iori, nanti malam juga
ada audisi pengisi suara untuk Nanami. Nanami bilang
setelah audisinya selesai dia akan mengatakan sesuatu pada
Sorata. Kalau ingin bersikap seperti biasanya rasanya akan
sulit. Semakin ingin bersikap tidak terjadi apa-apa semakin
kaku pula gerakan Sorata.
Itu, Kanda-kun.
Ke-kenapa?
Kenapa kau terlihat waspada sekali?
Nanami seperti tidak tahan dengan sikap Sorata yang
seperti itu.
Ma-mana mungkin.
Sorata ingin menjelaskan tapi sepertinya tidak berarti.
Kalau begitu, ada apa?
Setelah lomba Iori selesai, apa kau bisa menemaniku
latihan sekali lagi sebelum mengikuti audisinya?
Ah, itu, ok, aku tahu, tidak masalah.
Sorata , aku juga mau.
Kali ini Mashiro yang berada disamping Sorata
berbicara.
Temani aku ke ruang kelas seni.
Kalau setelah selesai menemani Aoyama latihan, sih,
tidak masalah. Tapi, apa hari ini juga perlu melukis?
Sebentar lagi akan selesai.
Sat kalimat yang Mashiro katakan dengan santai,
membuat detakan jantung Sorata bertambah cepat sekejap.
Sebentar lagi akan selesai.
Hasil lukisannya Mashiro akan segera selesai.
Apa maksudnya itu? Sampai sekarang tidak perlu
berpikir juga tahu.
Mashiro melukis Sorata mengetahui suasana hatinya
yang sebenarnya, jadi sejak April dia terus melukis Sorata.
270
Setelah selesai, apa yang akan diceritakan lukisannya
itu?
Sebentar lagi selesai.
Seperti meminta Sorata membalas ucapannya itu,
Mashiro mengatakannya lagi.
Hn, aku tahu.
Sorata yang menjawab dengan buru-buru kehilangan
kesempatan untuk bertanya apa maksud sebentar lagi
selesai.
Apa masih perlu dua atau tiga hari lagi? Atau seminggu
? Atau sebenarnya hari ini atau besok? Itu hal yang penting
bagi Sorata.
Sorata-senpai memang populer, ya.
Suara Kanna tidak terdengar seperti memuji, malah
terdengar seperti mengejek. Tidak, tidak begitu jelas apa
dia sedang mengejek Sorata, tapi dia sedang menunjukkan
ekspresi tidak menarik dan melihat ke depan.
Saat ini berhembus sebuah angin musim semi.
Kyaaaa~!
Kanna dengan berlebihan berteriak, menggunakan
kedua tangannya untuk menahan roknya. Sorata, Mashiro,
dan Nanami, semua berfokus ke Kanna.
Itu, Kanna-san? Jangan-jangan sekarang juga?
Ma-mana mungkin!
Kanna melambaikan kedua tangannya dan menjelaskan.
Dan Mashiro yang berdiri di sampingnya memasukkan
tangannya ke dalam rok Kanna untuk memastikan.
Heh?
Kanna mengeluarkan suara terkejut. Mashiro sama
sekali tidak peduli dan langsung mengangkat rok Kanna
tanpa ragu.
Kyaaaaaaaaaaaaaa~!!!!
271
Kanna dengan panik menutup kembali roknya dan
segera duduk, terlihat air matanya mengalir.
Tidak pakai celana dalam.
Mashiro dengan santai melaporkan ini pada Sorata.
Yang aneh, Kanna tidak melirik ke Mashiro malah
melirik ke Sorata.
A-apa kau melihatnya?
Tenang , aku tidak melihatnya.
Syukur Mashiro saat itu di tengah jadi Sorata tidak
melihat sesuatu yang sangat menakjubkan.
Tolong, Shiina-senpai melihat situasi juga! Tiba-tiba
mengangkat orang di sini itu tidak masuk akal!
Orang yang tidak memakai celana dalam harusnya
lebih tidak masuk akal mungkin, Nanami sepertinya juga
setuju dan melihat Kanna dengan tersenyum.
Kanna, sudah kecanduan.
Orang yang berkata tanpa melihat situasi adalah
Mashiro.
Bu-bukan! Ini lupa pakai!
Suara Kanna untuk menjelaskan ini semakin lemah.
Kanna adalah orang mesum.
Sepertinya kalau ingin balik ke asrama reguler masih
membutuhkan jalan yang panjang.
Sorata memberikan pendapatnya sambil menghela
napas.
A-aku akan meninggalkan Sakurasou secepatnya!
Dengan begitulah mereka sampai di tempat duduk
sambil ngobrol.
Ruang konser yang umurnya belum 10 tahun, tampilan
luarnya yang berwarna putih sangat menarik. Sepertinya
paling banyak bisa memuat 600 penonton lebih, merupakan
salah satu fasilitas yang dibanggakan Universitas Suimei.
272
Melewati pintu utama yang terdiri dari kaca, berjalan
menuju ke ruang konsernya. Tiba-tiba perasaan di bagian
kaki menjadi lebih lembut. Lantainya di alas karpet berwarna
merah, padahal di sekolah tetapi rasanya mewah sekali.
Udaranya berbeda dengan saat diluar, suasananya juga
seperti sedang di dalam perpustakaan. Perasaan gugup yang
menusuk kulihat memenuhi tempat itu.
Bayangan orang-orang, ada beberapa orang sedang
mengobrol ditepi dinding. Pria dewasa menggunakan
jas, sangat menarik perhatian, walau wanita dewasa
menggunakan baju yang biasa -iasa saja, tapi mereka semua
terlihat anggun.
Juga ada dua-tiga orang yang terlihat seumur dengan
Sorata. Laki-laki menggunakan tuxedo dan perempuan
menggunakan gaun. Mereka sepertinya juga merupakan
para peserta dan dipanggil oleh guru piano mereka, dan
sedang membicarakan sesuatu.
Sepertinya Sorata telah datang ke suatu tempat yang
tidak cocok dengannyaitu yang dipikirkan Sorata saat
ini.
Jangan berdiri di sekitar pintu masuk.
Di belakang tiba-tiba terdengar suara.
Ah, maaf.
Sorata menjawab dan memberi jalan.
Sorata terkejut melihat orang yang menegurnya tadi.
Ketua OSIS.
Orang yang dibelakang Sorata tadi adalah Tatebayashi
Souichirou yang lulus dari Suimei bulan maret yang lalu.
Jaket berwarna biru tua terlihat sangat cocok dengannya.
Bagaimanapun aku sudah lulus, jangan memanggilku
seperti itu lagi.

273
Apa Tatebayashi-senpai ke sini untuk memberi
dukungan pada adik masa depan?
Ucapanmu semakin mirip dengan Mitaka, Sorata.
Saori yang memintaku untuk membantunya melihat situasi
adiknya.
Ini dengan memberi dukungan perbedaannya di
mana?
Sorata tanya balik.
Apa kalian datang ke sini untuk memberi dukungan
pada anggota baru Sakurasou?
Souichirou bertanya balik juga. Dan pandangan
matanya menuju Sorata, Mashiro, Nanami, dan Kanna secara
berurutan.
Kau sudah tahu Iori dimasukkan ke Sakurasou, ya?
Siswa kelas satu itu juga, kan? Belum sebulan ternyata
dia sudah menyusul langkah Mitaka dan Kamiigusa.
Walau Misaki sudah menikah, Souichirou tetap
memanggilnya menggunakan marganya yang dulu. Dia
sedang melihat anggota baru Sakurasou, yaitu Kanna.
Apa kau dengar dari Misaki-senpai?
Aku dengar dari Ketua OSIS yang juga sekelas
denganmu.
Ternyata informasinya dari sana, ya. Ternyata kelas
3-1 yang merupakan perkumpulan anggota Sakurasou juga
ada Ketua OSIS.
Jangan buat masalah, ya.
Ini terdengar seperti mengucapkansalam perpisahan,
Souichirou masuk ke dalam runag konser. Sorata
menyusulnya dan ikut di belakangnya.
Dan Souichirou yang berhenti di samping sebuah pintu
membalikkan kepalanya melihat Sorata.
Kenapa mengikutiku?
274
Karena ini pertama kalinya aku mengamati sebuah
perlombaan jadinya ingin menonton dengan Tatebayashi-
senpai.
Di belakang Sorata seperti induk ayam membawa
anak-anaknya, diikuti Mashiro, Nanami, dan Kanna.
Bagaimanapun pacarnya itu Himemiya Saori, dan adiknya
Iori, juga lulus dijurusan musik bulan Maret yang lalu, kalau
begitu Tatebayashi yang sebagai pacaranya Saori-senpai
harusnya tahu tingkahlaku yang benar.
Apa sikap ini kau belajar dari Mitaka?
Kalau bagian ini aku tidak setuju.
Ah, sudah, terserah kau.
Souichirou berjalan di depan, dan masuk ke aula
tempat perlombaan diadakan.
Pemandangan sekejap berubah menjadi luas. Langit-
langit ruangan yang tinggi, juga tempat duduk para penonton
yang berderet. Dan terlihat sebuah piano hitam yang berada
di bagian agak kanan panggung.
Di bagian depan ada sekitar 10 orang, sepertinya itu
para jurinya. Dan dimulai dari bagian tengah sampai belakang
itu semua merupakan tempat duduk para penonton.
Mereka mengikuti Souichirou, duduk di bagian tengah.
Kursinya sangat lembut, saat duduk terasa nyaman sekali.
Mengamti sekitar, ada sekitar 100 tempat duduk atau
lebih.
Karena suasananya kurang cocok untuk mengobrol,
Sorata pun diam sampai perlombaannya dimulai.
Setelah sekitar 10 menit, terdengar suara
pengumuman
sudah hampir waktunya, bagian sore sudah akan
dimulai sebentar lagi.

275
Suara mengobrol yang kecil pun dengan sekejap
menghilang, semuanya terdiam dan fokus ke panggung.
Lalu seorang siswi yang memakai gaun berwarna
merah menaik ke atas panggung menggunakan sepatu hak
tingginya. Sorata sepertinya pernah melihatnya, dia adalah
siswi jurusan musik Suimei.
Ia memberi salam pada para juri dan mengatur tempat
duduknya, setelah itu ia duduk di depan piano. Dan setelah
menarik napas dalam-dalam, ia meletakkan tangannya di
atas piano, dan mulai bermain.
Sepertinya ia memulai dengan santai.
Permainannya sepertinya tidak begitu sempurna.
Siswi yang berkeringatan itu turun dari panggung setelah
memberi salam pada para juri.
Lalu peserta selanjutnya ada seorang laki-laki yang
menggunakan tuxedo, rambutnya juga tersisir rapi.
Setelah menyapa perempuan yang tadi. Dia memberi
salam pada para juri, mengatur ulang tempat duduknya dan
mulai bermain dengan iramanya. Lagunya juga sama.
Setelah selesai bermain 1 lagu. Peserta selanjutnyapun
muncul. Peserta selanjutnya juga, dengan begitu
mengulang beberapa kali. Sepertinya bakalan begini terus
sampai selesai.
Karena semua lagu yang dimainkan sama, jujur saja
Sorata mulai bosan.
Setelah menguap untuk pertama kalinya , Tatebayashi
menjelaskan bahwa ada sebuah lagu yang sudah ditentukan
yang harus main diperlombaan. Kadang akan memilih
beberapa dari salah satu itu juga biasanya sebelum lomba
sudah disuruh main beberapa lagu.

276
Lagu yang ditentukan kali ini adalah lagu Chopard.
Walau tahu ballade yang kesekian, Sorata tetap tidak begitu
mengerti karena kurang tahu soal musik.
Mashiro yang duduk disamping mulai tidur setelah
peserta ke enam selesai tampil, Kanna yang dis ampingnya
sepertinya tidak tahan dengan Mashiro.
Setelah duduk satu jam lebih entah Sorata sudah
menguap berapa kali.
Kalau Iori tidak cepat muncul Sorata pasti bakal
ketiduran.
Entah apakah keinginan Sorata diketahui oleh para
juri, setelah peserta ini selesai, Tatebayashi yang memegang
daftar urut para peserta berkata,
Selanjutnya dia.
Sorata mebangunkan Mashiro yang ketiduran.
Setelah sesaat Iori, pun naik ke panggung. Rambut tetap
seperti biasanya, kurang rapi, dan tuxedo yang dikenakan
terlihat cocok dengannya. Kalau tidak berkata sesuatu pasti
akan terlihat anggun, sungguh sesuatu.
Mungkin karena yang tampil selanjutnya merupakan
orang yang dikenal, suasana disekitar mulai berubah.
Aku dengar dia adalah adiknya Himemiya Saori.
Di belakang terdengar suara yang sedang membisikkan
itu.
Kakaknya sepertinya kuliah di Wina.
Kalau begitu, sepertinya kita bisa berharap pada
permainannya nanti.
Tidak, adiknya Iori itu
Di saat ragu-ragu apakah mau memutar kepalanya,
Iori sudah duduk di depan piano. Dia menutup mata dan
mengangkat kepalanya ke atas.

277
Juri laki-laki yang berambut warna putih itu melihat
Iori, setelah itu berbisik pada Juri yang ada di sampingnya
juga. Para juri itu seperti terpikir sesuatu, dan mengangguk-
angguk kepala mereka. Sepertinya mereka berbisik tentang
Saori.
Ada perasaan yang tidak enak.
Mashiro berbicara begitu.
Mungkin itu adalah tanggapannya mengenai suasana
saat ini. Sorata juga merasakan hal yang sama. Padahal dari
tadi masih dipenuhi perasaan gugup, tapi sekarang entah
kenapa sebuah perasaan yang kurang enak menyelimuti
ruangan ini.
Sorata berpikri kalau harus bermain piano pada saat
ini sepertinya akan susah.
Iori meletakkan jemari tangannya di atas piano.
Setelah melihat ia mengangkat kedua bahunya, ia pun mulai
bermain. Walaupun gaya permainan setiap orang berbeda,
Sorata tidak begitu merasakan perbedaan yang jauh. Sorata
juga berpikir begitu terhadap permainannnya Iori.
Kalau dideskripsikan dalam satu kalimat, ia bermain
sangat bagus. Walau pernah belajar piano dan bisa bermain
sedikit, tapi itu ada sebuah perbedaan yang sangat besar.
Permainannya ada sebuah tekanan, melodi lagunya membuat
orang merasa nyaman. Tapi hanya bagian ini yang membuat
orang merasa terharu. Kalau ingin membicarakan ini dengan
orang yang di depan pasti akan susah, karena sendiri pun
tidak begitu mengerti perbedaannya.

278
Para penonton juga merasa begitu. Rasanya mereka
sedang memandang Iori dan memperlihatkan pandangan
mereka yang tidak mengharapkan sesuatu. Hanya terlihat
satu juri yang sepertinya bosan dan meletakkan tangannya
di atas meja, membuat orang berpikir dia sepertinya sudah
menilai Iori. Dan semakin Iori bermain, semakin besar pula
perasaan yang tidak nyaman itu.
Kalau begini, rasanya tidak tahan.
Di saat Sorata sedang berpikir begini, permainannya
tiba-tiba berhenti.
Iori tidak lanjut memainkan lagunya. Padahal lagunya
masih setengah bagian
Sesaat, tempat ini entah terjadi apa, semua terdiam.
Ah~, malas main...
Iori berkata sendiri di depan para juri.
Aku tidak bermain lagi!
Kali ini seperti berteriak pada seluruh orang yang ada
di ruangan ini.
Tidak mungkin aku bisa lanjut bermain dengan
suasana seperti ini!
Dia berdiri di depan piano, dan segera meninggalkan
panggung.
Dan tentu saja sekarang di panggung tidak ada
seorangpun.
Ruangan ini mulai heboh.
Apa maksudnya itu?
Di masa depan nanti tidak akan bisa ikuti lomba lagi
adiknya Himemiya.
Mulai terdengar suara yang tidak nyaman didengar.
Ternyata firasat buruk yang dirasakan Saori benar.
Tatebayashi tetap melihat ke depan, dan menunjukan
ekspresi yang serius.
279
Sorata melihat Tatebayashi dengan pandangan
bertanya.
Sepertinya semuanya menganggap Iori sebagai
adiknya Himemiya.
Memang terdengar suara yang begitu.
Kalau dibandingkan Saori yang selalu dapat juara,
hasil Iori tidak begitu bagus, padahal permainannya Iori
tidak begitu buruk.
Ya, memang. Kalau tidak dia tidak akan bisa diterima di
jurusan musik Suimei.
Dia tidak hanya giat berlatih, dia juga menyukai
musik.
Sorata mulai terpikir saat pertama kali masuk ke kamar
Iori. Baru masuk kamar sudah langsung menempel poster
Baha di dinding, dan bermain piano tanpa merapikan barang
bawaannya terdahulu. Memberi orang kesan maniak musik.
Hanya karena dia adik Saori jadi tidak peduli dia ikuti
lomba apapun, Iori selalu dibandingkan dengan Saori. Di
dalam dunai musik sebenarnya ini tidak begitu berpengaruh.
Jadi Saori bilang semua staff ataupun penonton yang ada di
sini untuk menonton hanya karena Iori adiknya Himemiya.
Jadi begitu penonton yang di belakang tahu soal Iori.
Selain itu mereka juga tahu mengenai Saori, pantas saja
dianggap adiknya Himemiya.
Sorata bisa mengerti dengan mengkira-kira.
Jadi alasan Iori ingin pindah ke divisi reguler
Akhirnya tahu alasan mengapa dia tidak mau main
piano lagi, tetapi tetap giat berlatih piano.
Di ruangan yang masih heboh ini, Sorata tiba-tiba
berdiri sendiri.
Kanda-kun?
Aku pergi lihat keadaan Iori dulu.
280
Sorata merasa dirinya tidak bisa bantu banyak. Tapi
tetap Sorata tidak bisa membiarkannya sendiri.
Aku juga ikut.
Nanami juga berdiri, setelah itu Mashiro mengikuti
dari belakang.
Kalau dia bermain piano dengan diam-diam, pasti
semua orang tidak akan berpikir kalau dia itu adalah orang
bodoh.
Kanna menunjukan sikapnya yang tidak tahan itu.
Hanya Tatebayashi yang masih berencana tidak
meninggalkan kursinya.
Apa kau tidak pergi?
Walau rasanya khawatir, tapi kuserahkan pada kalian
saja.
Itu akan memberi kami tekanan yang besar
Sebelumnya Mitaka sudah bilang , dia bilang Kanda
merupakan adik kelas yang dibanggakannya.
Itu paling Jin-senpai sedang bercanda.
Setelah Sorata selesai berbicara dengan Tatebayashi, ia
pun langsung meninggalkan tempat dan mencari Iori.
Hanya Tatebayashi yang tidak ikut, sepertinya tadi itu
dia serius.
Kanda-kun?
Ah, tidak, tidak ada apa-apa.
Mengatur kembali suasana hati, Sorata , Mashiro,
Nanami, dan Kanna pergi ke belakang panggung, dan
berjalan ke ruang istirahat.
Berjalan dengan cepat dan melihat ada satu ruang
istirahat yang depannya ada sekitar enam hingga tujuh
orang.

281
Ada dua orang laki-laki yang sepertinya merupakan
staff, dan berumur sekitar tiga puluhan. Selainnya seumuran
dengan Sorata, kira-kira perserta, mungkin. Semua
berkumpul di depan pintu ruang istirahatnya dan menjaga
jarak.
Aku bilang kau! Kau dengar, kan? Cepat keluar!
Staff laki-laki itu berteriak dan mengetuk pintu.
Apa Iori di dalam?
Hn? apa kalian temannya yang dari sekolah?
Staff laki-laki bisa menebak karena mungkin Sorata
mereka memakai seragam.
Terkunci dari dalam, sudah panggil berkali-kali
tetap tidak ada balasan.
Staff laki-laki yang satunya lagi berkata dengan
ekspresi kecewa.
Sorata tanpa ragu berdiri di depan pintunya dan
memanggil Iori.
Hoi, Iori, apa kau dengar?
suara ini, jangan-jangan Sorata-senpai?
Suara yang muram. Mungkin juga karena pintu yang
terkunci jadi terdengarnya tidak begitu jelas. Dibandingkan
Iori yang biasanya ceria ini sama sekali berbeda.
Iya, ini aku. Shiina, Aoyama, dan Kanna juga ada di
sini.
Kenapa kalian bisa ada di sini?
Tentu saja untuk mendukungmu!
Itu untuk apa lagi?
Karena Iori setiap hari berlatih dengan keras, makanya
kami datang untuk mendukungmu.
Sorata jujur. Karena melihat dia berlatih keras setiap
hari membuat orang ingin memberinya dukungan.
Pokoknya, bukakan pintu saja dulu.
282
Jangan memperdulikan aku lagi!
Dengan keras ia menolak untuk membuka pintunya.
Di belakang Sorata, ia merasa ada perasaan yang mulai
tegang. Sepertinya ada sebuah masalah yang mencampuri
ini sehingga menjadi lebih merepotkan lagi, Sorata dapat
merasakannya.
Dua orang staff laki-laki itu mulai tidak sabaran. Kalau
Iori yang terus keras kepala ini pasti akan menimbulkan
masalah. Dan jujur saja, mereka berdua pasti tidak mau
bertanggung jawab soal ini.
Di situasi yang begini, dari belakang Sorata terdengar
suara seseorang.
Kalau dia sendiri sudah bilang begitu, tidak usah
pedulikan dia saja. Biarkan dia sendiri dulu.
Yang berbicara dengan dingin itu adalah Kanna.
Bagaimanapun karena dia ingin mencari perhatian,
makanya dia mengunci diri di ruangan itu.
Berbicara tanpa belas kasihan juga terdengar seperti
tidak tahan.
Kalau dia memang benar-benar ingin sendirian, dia
pasti akan dengan cepat meninggalkan tempat ini dan pergi
ke tempat lain.
Kanna yang berbicara tanpa belas kasihan langsung
berkata pada orang yang berada di balik pintu itu.
Mungkin karena merasa dia akan diperhatikan kalau
besikap seperti ini. Seperti bocah saja.
Bukan begitu!
Terdengar suara yang keras dari balik pintu itu.
Bukan, kah? Bukannya kau ingin orang-orang
memperhatikanmu ? Seperti tenang saja, kau ada bakat,
atau masa depanmu pasti cerah?
Sebaliknya, sikap Kanna semakin dingin.
283
Bukan!
Kalau begitu, berarti kau ingin aku bilang begitu?
Bagaimanapun kau tidak akan bisa melampaui kakakmu,
lebih baik cepat menyerah saja...?
Tolong, jangan berbicara lagi!!
Sorata merasa Kanna sudah keterlaluan, dan
menghentikan Kanna.
Tapi sepertinya terlambat, di balik pintunya terdengar
suara kaca dipecahkan.
Iori?
Memanggilnya tetap tidak dibalas, Sorata langsung
berusaha mendobrak pintunya, tapi semua itu tidak berguna,
pintunya sangat kuat.
Saat ini, staff perempuan yang kira-kira berumur dua
puluh tahun lebih berlari kemari.
Aku sudah meminjam kunci pintu kamarnya!
Cepat buka!
Staff laki-laki berteriak, dan staff perempuan langsung
memberikan kuncinya.
Iori!
Sorata yang pertama masuk ke dalam kamar.
Di dalam tidak terlihat Iori. Kaca jendelanya pecah, dan
pecahannya berserakan di mana-mana. Serta terlihat kursi
yang dilempar keluar dengan penuh pecahan kaca.
Di sini lantai satu, sepertinya Iori keluar lewat jendela
itu.
Sorata memutar kepalanya dan melihat ke Kanna.
Itu, Kanna-san?
Maaf, aku sudah keterlaluan.
Kau meminta maaf duluan begini membuatku tidak
bisa berkata apapun lagi.
Jadi aku minta maaf dulu.
284
Padahal kau sendiri tahu kalau berkata seperti itu
akan menjadi seperti ini.
Tapi, yang memintaku untuk mencari cara supaya
bisa meringankan tekananku itu bukannya Sorata-senpai?
Kenapa di saat seperti ini berbicara topik itu?
Membuat orang lain marah saja, padahal aku
pernah menyerah untuk menulis lagi, juga bukannya ingin
orang lain mengkhawatirkanku, tapi
Seperti melihat diri sendiri jadi merasa tidak tahan?
Kanna mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
Mencari perhatian seperti tidak tahu malu seperti
begini, aku sama sekali tidak bisa melakukannya.
Kasihan sekali Iori
Tapi, kalau aku bisa melakukan sampai seperti ini, aku
akan lebih mirip orang normal.
Makanya marah karena sikapnya Iori. Karena hal yang
tidak bisa dilakukan diri sendiri, tetapi orang lain bisa.
Kalau kau merasa keterlaluan dengan Iori, kau bisa
berbaikan dengan Iori? Pergi, carilah dia.
Tidak perlu.
Sorata dengan bingung memindahkan tatapannya ke
Mashiro.
Melihat lewat jendela yang pecah itu. Masih terlihat
Iori yang sedang berlari.
Dengan cantik ia menghancurkan kaca itu, tapi baru
berlari sepanjang tiga puluh meter?
Lambat sekali larinya!
Kalau begitu sepertinya bisa mengejar dengan cepat.
Sorata juga berpikir untuk pergi lewat jendela yang
pecah itu dan berlari menyusul Iori.

285
Melihat Iori yang hampir terkejar yang memakai
tuxedo berlari. Lambat sekali larinya, dengan cepat ia sudah
lelah.
Hoi, Iori!
Sorata berteriak di tengah, Iori pun melihat ke bekalang.
Setelah sadar sedang dikejar oleh Sorata, ia menambah
kecepatan lari sedikit, tapi tetap saja larinya sangat lambat.
Dan cara berlarinya terlihat menarik.
Di saat sudah hampir sampai di depan Greenway,
akhirnya Iori terkejar oleh Sorata.
Menaruh tangan di bahunya supaya ia berhenti.
Lepaskan aku!
Iori yang berteriak itu mengepalkan tangan kanannya.
Di saat Sorata ingin melindungi diri ternyata sudah
terlambat, pukulannya sudah di depan mata.
Di saat akan terkena pukulan, Sorata menutup matanya
dan bersiap akan rasasakit yang akan datang nanti.

Tapi entah kenapa setelah saat tetap tidak terasa rasa
sakit sedikitpun.
Sorata dengan berhati-hati membuka kedua matanya.
Iori yang mengepalkan tangan kanannya menunjukan
eksrepsi yang sedang menderita.
Jarinya yang panjang itu kehilangan tenaga, dan
dengan pelan mulai melonggarkan kepalannya.
Sorata yang melihatnya dengan begitu sepertinya
sudah sadar alasan kenapa Iori tidak memukulnya.
Tangan Iori ada bukan untuk meninju orang, tetapi
tangannya ada untuk bermain musik dengan melodi yang
menarik.
Sikap larinya yang jelek juga menjelaskannya.

286
Seperti Mashiro, tubuhnya Iori adalah tubuh yang
dipakai untuk bermain piano. Jadi untuk menghindari
terluka, pasti dia jarang berolahraga.
Jangan pedulikan aku lagi!
Iori dengan benci menggigit giginya.
Tidak perlu bilang begitu aku pun tahu! Permainan
pianoku tidak akan pernah mengalahkan permainan
pianonnya nee-san! Tidak perlu ikuti lomba juga tahu! Tidak
perlu lihat penilaian para juri juga tahu! Juga tidak perlu
dibilang perempuan datar itu, aku sendiri paling tahu!
Kedua mata Iori terlihat merah, tenggorokannya
sudah berteriak hingga batasnya. Napasnya tidak beraturan,
wajahnya terlihat sangat menderita.
Suara piano sudah memberitahuku saat aku berlatih
piano setiap hari! Aku sudah tahu bagaimanapun aku pasti
tidak akan pernah mengalahkan permainan pianonnya
nee-san! Pokoknya aku hanya adiknya Himemiya! Hanya
sebuah sampah di depan nee-san !
Iori
Kemampuanku, aku sendiri paling tahu, bukannya
tidak pernah latihan!
Iori memegang kerah baju Sorata bagian depan dengan
keras.

287
Waktu yang kuberikan untuk latihan tidak kalah
dengan orang lain! Setelah naik ke SMP, setiap hari berlatih
piano, tidak peduli kapapun itu saat sudah bangun atau
sedang istirahat! Aku memberikan segalanya untuk piano!
Supaya jari tidak terluka aku selalu diam untuk melihat
temanku saat berolahraga! Saat festival olahraga yang
menyenangkan selama tiga tahun, saat SMP itu aku juga
tidak pernah mengikutinya! Saat persiapan untuk festival
budaya, aku juga hanya melihat temanku bekerja dan tidak
membantu, karena begitu aku tidak mendapat satu pun
teman, semua orang berbicara tentangku dari belakang,
Sedih sekali di dalam otaknya hanya ada piano. Juga,
walaupun saat sepatuku disembunyikan aku hanya diam
saja dan terus berlatih piano!
Tangan Iori gemetar, tidak, seluruh tubuhnya gemetar.
Hasil yang gagal ini membuatnya marah. Marah yang sudah
tidak tertahankan itu menuju Sorata.
Semua, aku bilang semuanya! Aku memberika waktu
tiga tahun saat SMP hanya untuk piano! Karena jadwal
bertabrakan dengan hari saat latihan berenang aku juga tidak
pergi! Kelas ski juga tidak pergi karena takut terluka! Saat
sedang membuat album wisudapun karena aku tidak ikut foto
sampai dipanggil ke kantor guru! Hal seperti ini kalaupun
dipanggil ke kantor gurupun tidak berguna lagi! Tapi,
tapi, kenapa bisa begitu?! Setiap aku mengikuti lomba
selalu dibandingkan dengan nee-san! Setiap baru bermain
sudah ada suasana ah, ternyata kemampuannya hanya
segitu! Tidak peduli siapapun, selalu memandangku dengan
tatapan adiknya memang kurang bagus , mengapa?
Mengapa, huh?! Setidaknya hargailah diriku yang sudah
berusaha keras ini! Lihatlah diriku ini, kesampingkan soal
nee-san dulu, dengarlah dulu permainanku
288
Iori karena sedih dan berlutut di depan Sorata, kedua
tangannya memegang keras pinggulnya Sorata, wajahnya
sudah memerah karena karena air mata, begitu juga dengan
matanya yang memerah.
Aku sudah berusaha sampai seperti ini, apa aku masih
harus terus bermain piano?!

Aku hanya ingin hidup normal seperti orang lain!
Ingin pergi ke restoran cepat saji dengan teman teman! Aku
tidak ingin kehidupan seperti ini terus menerus di masa
depan! Apa aku tidak boleh berpikir begitu?!
Menghadap perasaan yang tidak terurus itu , ia terus-
menerus mengacaukan rambutnya.
Aku sudah berusaha begitu keras, tapi tetap tidak
dapat pujian. Seperti sekarang ini, apa ada gunanya jika aku
terus bermain piano?!
Sorata yakin pasti akan ada gunanya, dia sangat yakin
akan ada gunanya. Tapi Sorata tidak berencana memberitahu
ini di sini pada Iori. Kalaupun Sorata memberitahu, sekarang
tidak akan ada gunanya juga. Jadi Sorata berkata hal lain.
Iori, apa tanganmu baik-baik aja?
Huh?
Iori sedikit terkejut dan mengangkat kepalanya.
Bukannya tadi kau memecahkan kaca jendela di ruang
istirahat tadi? Tidak terluka, kan?
Iori mengecek jari tangannya dan berkata,
Sepertinya tidak terluka.
Setelah itu ia mengusap air matanya.
Kalau begitu syukurlah.
Iori bingung dengan sikap Sorata, tapi Sorata sama
sekali tidak memperdulikan ini, dan berkata,
Iori, kenapa kau bermain piano?
289

Iori tetap bingung dengan sikap Sorata.
Apa yang membuatmu ingin bermain piano, Iori?
Kupikir, mungkin terpengaruh nee-san. Atau dengan
kata lain, latihan itu wajar saja
Kalau begitu, kenapa bertahan sampai sekarang?
Kalau bermain piano dengan hebat, Papa dan Mama
akan merasa senang, dan memujiku. Ini membuatku sangat
senang, jadi untuk membuat mereka lebih senang, jadinya
mulai berlatih piano.
Menjawab dengan pelan-pelan, seperti mengenang
kembali sebuah kenangan, Iori menjawab dengan sedikit
demi sedikit.
Tapi di tengah
Mulai merasa menderita karena dibanding dengan
kakakmu
iya.
Walau begitu, kau tetap ingin melampauinya dan
terus berlatih, kan?

Sampai sekarang masih terus berlatih piano, dan
walaupun masuk ke Suimei dan dipindahkan ke Sakurasou,
ia tetap berlatih dengan keras. Juga memberikan waktu tiga
tahun SMP-nya hanya untuk piano.
Apa kau tahu alasan kenapa kau ingin melampaui
kakakmu?
Sorata bertanya dengan suara yang berat.

Iori tidak menjawab, hanya berpikir.
Sorata lanjut berbicara,
Aku tidak akan berkata terus bermain piano akan
lebih baik maupun menyerah akan lebih baik.
290

Mendapat banyak teman, ngobrol topik yang bodoh
dengan teman-teman, mengikuti kegiatan sekolah dnegan
teman-teman dengan berbahagia, bahkan mendapat seorang
pacar, makan bekal bersama saat istirahat makan siang,
pulang bersama, berkencan saat hari libur, juga merupakan
kehidupan sehari-hari yang tidak buruk. Dan seperti yang
Iori bilang, tiga tahun SMA ini tidak hanya untuk piano.
Jadi aku tidak berharap kau akan meneruskannya ataupun
menyerah. Tapi kalau keputusan itu adalah keputusan
yang sudah Iori pikir dengan matang, tidak peduli itu
meneruskannya ataupun menyerah, aku akan mendukung
itu, bagaimanapun itu diputuskan kau sendiri, itu pasti ada
gunanya.
Jadi, bukankah sudah kukatakan aku tidak akan lanjut
bermain piano lagi?!
Kalau begitu, kenapa tadi saat ingin meninjuku malah
berhenti?
Karena tidak boleh membiarkan tangan terluka. Tubuh
Iori berhenti meninju Sorata karena reaksinya yang alami
itu.
Kau bilang tidak ingin bermain piano lagi tetapi kau
masih terus belatih, mengapa?
Aku
Hari ini juga bukan karena ingin menyerah jadi kau
ikut lomba, kan ?
Iori dengan serius melihat kedua tangannya.
Jari yang panjang itu memberi orang kesan yang halus.

291
Sendiri ingin melakukan apa, ingin menjadi orang
yang seperti apa? Kalau kau masih memusingkan soal itu,
teruskan saja. Karena pernah ada seseorang memberitahuku,
kalau menderita karena pusing dan memilih dengan santai,
kelak nanti pasti akan menyesal.
Sepertinya Sorata mendengar ini dari Fujisaki Kazuki.
Sepertinya.
Aku ingin melakukan seperti apa?
Iori berbicara seolah-olah sedang dalam mimpi.
Bukan pendapat orang lain. Itu adalah mood Iori
sendiri. Jangan pedulikan dengan tanggapan juri dan
para penonton, mau tidak putus kembali apa yang sendiri
pikirkan, dan apa yang diri sendiri ingin lakukan.
Aku sendiri ingin melakukan apa? Dan ingin menjadi
orang seperti apa? Mungkin karena sering terpikir nee-
san jadi lupa dengan asalan kenapa aku bermain piano. Hal
seperti ini saja kulupakan.
Iori yang sudah tenang kini terduduk ke bawah.
Setelah berpikir beberapa saat, ia mengangkat
kepalanya ke atas dan menatap Sorata.
Aku sudah tahu, Sorata-senpai.
Tatapan mata Iori sepertinya sudah memutuskan.
Aku akan berpikir dengan sungguh-sungguh. Berpikir
apa yang akan dilakukan diriku, ingin menjadi orang seperti
apakah.
Kalau begitu bagus.
Sorata menaruh tangannya di atas kepala Iori dan
mengelus kepalanya dengan kasar.
Tunggu sebentar, Sorata -senpai, jangan begitu, nanti
rambutku menjadi kacau.
Walau ia bilang begitu, tapi ia terlihat senang.
Sepertinya sudah berakhir.
292
Nanami yang ikut di belakang mengamati situasi
saat ini. Dan disusul Mashiro dan Kanna yang berada di
belakangnya.
Uwaaa, si datar!
Iori bereaksi ketika melihat Kanna, dan sembunyi ke
belakang Sorata.
Tatapan mata Sorata dan Kanna saling bertemu, Kanna
pun menghela napas , dan berbicara pada Iori,
Tadi aku sudah keterlaluan. Maafkan aku.
Sepertinya tidak begitu tulus.
A-aku tidak mempermasalahkannya, kok.
Iori sepertinya sedang panik. Seperti anak kecil saja
sikapnya itu.
Sikap apa itu?
Kanna merasa tidak senang pada sikap Iori yang
seperti itu.
Tatapan matanya semakin dingin.
Maksudku , apapun yang dikatakan oleh si datar aku
tidak akan mempermasalahkannya!
Wajah Iori yang muncul dari belakang Sorata, berteriak
begitu.
Apa yang kau omongkan? Dasar orang mesum yang
mengintip.
Kanna menunjukan sikap untuk melawan.
Kalian harus bergaul dengan damai.
Sorata berkata dengan sikap yang sepertinya sudah
menyerah. Saat ini, sebuah angin yang nakal berhembus.
Roknya Kanna tertiup ke atas oleh angin.
Ah!
Dengan segera Kanna langsung menutup roknya,
kaki berbentuk delapan (dalam bahasa mandarin), dan
mencondong ke depan.
293
Sorata yang berdiri tidak melihat apa yang ada di
dalam rok, hanya terlihat pahanya yang putih dan mulus itu.
Tapi, Iori yang duduk itu mungkin berbeda dengan Sorata,
dari sikap itu, sepertinya ia dapat melihat jelas apa yang ada
di dalam rok itu. Buktinya, Iori sedang menutup multunya
dan menunjuk ke Kanna.
Ka-ka-kau, apa itu?
Walaupun ia mencoba untuk berdiri, tapi sepertinya
pahanya tidak ada tenaga sama sekali. Tapi setelah beberapa
saat, Iori mulai mimisan.
Apa karena begitulah kau datang ke Sakurasou!
Sampai-sampai telinga Kanna memerah, dan melirik
Iori dengan tatapan yang menakutkan. Itu adalah sebuah
tatapan yang mengandung keingian membunuh. Dan
dengan cepat dia berjalan ke depan Iori, mengangkatnya
dan memberinya sebuah tamparan.
Suara plak terdengar jelas dan nyaring di hari sore
musim semi ini.
Dasar mesum!
Kaulah yang mesum, kali!
Syukurlah, Iori.
Apanya yang syukur?!
Bukannya sebelumnya kau pernah bilang? Walau
situasi saat ini agak berbeda, kau bilang ingin melihat apa
yang ada di dalam rok perempuan lalu terlibat situasi yang
gugup dengannya, kan?
Itu adalah kata-katanya saat hari pertama datang ke
Sakurasou. Ia dengan semangat membicarakan sesuatu
seperti tidak sengaja bertabrak dengan perempuan, kira-
kira seperti itu.
Ya-yang ingin kulihat itu adalah celana dalam warna
putih yang suci! Yang tadi itu nampak semuanya!
294
Dan tentu saja, Iori ditampar lagi, dan mimisan lebih
banyak.

Bagian 4
Hidung Iori yang ditutupi dengan tisu dan kembali
bersama Sorata mereka ke ruang konser. Karena Iori ingin
meminta maaf pada para juri, Sorata pun menemani Iori.
Juga kaca jendela yang pecah itu tidak bisa dibiarkan begitu
saja juga.
Setelah Iori meminta maaf dengan tulus, para juri
pun terlihat puas. Dan seperti mengatakan, Lain kali ayo
berusaha lagi!.
Dan di ruang istirahat, setelah Sorata mereka pergi ke
sana, tempat itu sudah dirapikan. Juga sudah menjelaskan
semuanya pada Tatebayashi. Tatebayashi mendengar dengan
diam dan mengatakan, Begitu, ya?, dan tidak berkata apa-
apa lagi. Dan mengambil telepon genggam untuk mengirim
pesan pada seseorang, sepertinya itu adalah kakaknya
Saori.
Sorata, mereka menunggu Iori yang masih berbicara
dengan guru musiknya, setelah itu meninggalkan ruang
konser. Warna langit sudah menjadi merah muda.
Waktunya sudah lewat dari jam empat sore.
Aoyama, latihanmu bagaimana? Sudah tidak ada
waktu lagi.
Setelah turun dari tangga ruang konser, Sorata
bertanya.
Audisinya jam lima. Walau lokasinya sama di
Universitas ini, tapi masih perlu waktu sekitar 10 menit
untuk sampai ke studionya. Jadi sudah saatnya bersiap-siap.
Juga sepertinya perlu persiapkan mental.
Bisa memintamu hanya melatih satu adegan saja?
295
Hn, tentu saja boleh, adegan yang mana?
Kalau begitu, aku pulang ke Sakurasou dulu. Karena
baru pindah, jadi masih perlu merapikan lagi barangnya.
Setelah Sorata dan Nanami selesai berbicara, Kanna
pun segera pulang ke Sakurasou.
Setelah pulang, ingat pakai celana dalam.
Kanna dengan terkejut dan menutup roknya.
A-aku tahu.
Dilirik. Sepertinya ia masih terpikir kejadian yang
diintip Iori tadi. Tapi, wajar saja
Kalau Shiina.
Aku mau pergi ke ruang kelas seni.
Di saat ingin bertanya apa ingin pergi bersama-sama,
Mashiro menjawab dengan begitu.
Sorata, tunggu selesai baru datang.
Iya, aku tahu. Kalau begitu, sampai bertemu nanti.
Mashiro dan Kanna pergi bersama-sama meninggalkan
Sorata dan Nanami.
Melihat mereka pergi semakin jauh, Sorata bertanya
pada Nanami,
Aoyama, mau latihan di mana?
Hn~, bagaimana kalau di sana?
Tempat yang ditunjuk Nanami adalah sebuah teater
berwarna abu-abu.
Sudah lama tidak datang ke sini.
Pikirnya pintu pasti dikunci, ternyata dengan mudah
dapat membukanya.
Membuka pintu para penonton, berjalan menuju ke
layar, dan dengan pelan turun lewat tangga. Karena tidak
buka lampu, jadi cahaya yang masuk dari pintu yang terbuka
adalah satu-satunya cahaya.
Sorata menyusul Nanami di belakangnya.
296
Mungkin sudah setengah tahun tidak ke sini.
Di tempat yang luas ini, suara tidak dipantulkan dan
diserap oleh dinding. Perasaan yang diam itu menyelimuti
ruangan.
Karena festival budaya tahun lalu, ya. Kalau begitu
sudah setengah tahun.
Nanami yang berjalan ke baris paling depan dengan
kagum melihat layar itu, sepertinya itu mengingatkannya
pada perasaan semangat pada hari itu
Sorata mulai sedikit mengingat hari itu. Sebenarnya,
pengalaman waktu itu sangat mempengaruhi diri yang
sekarang. Karena itu adalah pertama kali Sorata merasakan
perasaan seperti itu, juga merasakan betapa bahagianya
membaut game bersama semuanya.
Bagi Nanami, mungkin juga seperti itu. Walaupun
waktu itu ia gagal, setidaknya itu menjadi dorongannya
untuk berusaha lebih giat kali ini.
Kalau begitu, ayo latihan.
Nanami berjalan dengan gerakan yang ceria, berbalik
menghadap Sorata yang ada tengah tangga. Jarak mereka
sekitar lima meter lebih.
Mau latihan adegan yang mana?
Dari yang paling depan, dari adegan menyatakan
cinta.
Ok.
Untuk mengumpulkan konsetrasi. Sorata menutup
matanya. Melakukan seperti ini lebih mudah menghadapai
suasana hati saat ini, juga tidak bakalan dengan tidak
sengaja saling bertatapan dengan Nanami dan tidak akan
malu sebelum mulai.

297
Walau biasanya akan lebih banyak menghabiskan
waktu, tapi hari ini rasanya lebih mudah. Walau tidak perlu
begitu serius, juga tidak perlu akting, dalam hati ini sudah
siap.
kalau begitu, tunggu audisi kali ini selesai dulu, baru
beritahu kau.
Seperti tokoh utama perempuan dan laki-lakinya,
Sorata dan Nanami juga membuat sebuah janji.
Adegan yang ada di naskah itu sangat mirip dengan
Sorata dan Nanami. Jadi seperti sedang akting menjadi diri
sendiri, suasana hati dapat dengan mudah mencocokkan
dengan situasi saat ini.
Sorata perlahan membuka kedua matanya, dan terlihat
Nanami yang masih berdiri di depan layar.
Kau bilang ingin mengatakan sesuatu padaku, apa
itu?
Dialog yang diucapkan setelah menarik napas dalam-
dalam.
Nanami yang mendengar suara Sorata, melihat Sorata
dengan menundukkan kepalanya.
Hn, sesuatu yang lumayan penting, mungkin.
Entah sudah mengulang berapa kali, dialog yang sudah
sering di dengar ini, walaupun begitu, suara Nanami tetap
membuat Sorata terkejut. Seperti bukan akting saja.
Itu adalah suara Nanami yang familiar. Tapi suasana
yang dikeluarkan sama sekali berbeda. Gugup dan cemas ,
takut dan malu, semua bercampur menjadi satu. Hanya
satu kalimat, membuat seluruh tubuh Sorata gemetar
sejenak.

Aku, selalu ingin mengatakan ini padamu.

298
Nanami dengan hati-hati mengucapkan, bernada,
seperti ingin satukan semua perasaannya. Kata-kata Nanami
serasa masuk ke dalam hati Sorata.
Saat ini, Sorata akhirnya mengerti. Perbedaan kali ini
dan yang dulu
Begitu, ya
Seperti sedang menghela napas, membalas dengan
alami.
Hn, aku
Suara Nanami terdengar menggigil, menyalurkan
perasaan yang alami itu, sekejap menjadi perasaan gugup.
Aku selalu, selalu
Nanami mencoba mengalahkan diri yang penakut itu.

aku selalu menyukaimu. Sangat menyukaimu.
Setelah tadi berhenti sesaat, Nanami mengumpulkan
keberanian untuk mengucapkannya.
Sesaat setelah mendengar, tubuh Sorata langsung
gemetar dengan hebat. Setiap syarafnya bereaksi dengan
hebat, pori-pori kulitnya terbuka dan mengeluarkan banyak
keringat. Juga detakan jantung berdegup dengan hebat,
serasa ingin meledak. Seperti makhluk lain, bersuara dag
dig dug.

Sorata sudah tidak begitu tahu situasi apa ini. Setengah
membuka mulutnya, tidak bergerak sedikitpun.
Walau dalam pikiran ada dialognya, tapi Sorata ragu-
ragu mengatakannya.
Aku juga, juga ada perasaan yang sama. Aku juga

299
Dengan tidak mudah, akhirnya mengeluarkan suara
yang gugup juga serak. Seharusnya mengatakan dengan
lebih jelas ,tapi Sorata tidak bisa mengatakan dialog yang
selanjutnya.
Kanda-kun?
Ah, em
Dialognya baru sampai setengah, lho.
Ah, oh, benar juga.
Adegan ini seharusnya selesai setelah Sorata
mengucapkan dialognya yang tidak selesai itu, aku juga, juga
ada perasaan yang sama. Aku juga, selalu menyukaimu.
Pikiran Sorata saat ini sedang kosong.
Maaf. Tadi serasa ditarik oleh akting Nanami yang
nyata itu.
Apa sebagus itu aktingku?
Ah , hn, sangat bagus. Kali ini merupakan aktingmu
yang paling bagus, aku seperti sedang dinyatakan cinta saja
dan gugup. Yang dulu Misaki-senpai bilang perasaan yang
jangan diperbaiki itu mungkin maksudnya ini.
Begitu, ya? Baguslah.
Nanami menunjukan ekspresi yang puas.
Tapi , itu wajar saja, kok.
Kali ini seperti sedang berbicara sendiri, Nanami
menutup matanya.
Huh?
Ia menarik napas dalam-dalam. Dan membuka mata
pelan-pelan, mengangkat kepalanya dan melihat ke Sorata.
Karena tadi itu bukan akting.
Suara Nanami bergema dalam teater.
Aoyama.

300
Nanami dengan jujur menatap Sorata. Tatapannya
yang seperti sudah memutuskan sesuatu juga seperti sedang
mencemaskan sesuatu itu bersinar dalam teater yang gelap.
Kalau diperhatikan dengan jelas, kaki Nanami juga bergetar,
perasaan malu itu sudah setengah nampak dari ekspresinya
yang sekarang.
Walaupun begitu, Nanami tidak berencana
menyembunyikan kalimat berikutnya di dalam hati.
Aku, ya, paling suka sama Kanda-kun.
Di dalam teater yang hanya berdua, suaranya terdengar
sangat jelas.


Semua terdiam sejenak.
Maaf, aku salah omong.
Tapi Nanami segera mengatakan ini.
Huh?
Sorata mengeluarkan suara yang bingung juga terkejut.
Aku tidak sengaja menyukai Kanda-kun.
Nanami yang mengatakan dengan senyum yang sedikit
dipaksakan menembak Sorata dengan tepat di hatinya.

Sorata merasa pahanya lemas. Bagaimanapun itu
hanya lusi yang dibayang Sorata, walau dia masih berdiri di
tempat yang tadi. Walau sedang berdiri, tidak ada perasaan
sedang berdiri. Di bawah kaki tidak ada perasaan, lutut juga
serasa tidak ada tenaga. Tapi walau begitu tetap berdiri.
Ah~, sampai mengatakannya.
Nanami dengan santai mengatakannya.
Maaf, ya.
Dengan sikap memandang ke atas, Nanami berkata
demikian.
301
Kenapa minta maaf?
Suara Sorata menjadi sedikti serak.
Karena sebenarnya aku berencana ingin menunggu
audisinya selesai dulu baru mengatakannya. Kau terkejut,
kan?
Kali ini Nanami sedikit menundukkan kepalanya, dan
melihat Sorata.
Ternyata ini maksud dari janji itu.
Sekarang, jangan beritahu aku jawabannya dulu.
Soalnya selanjutnya masih ada audisi.
Sorata dengan mati-matian ingin membuat otaknya
berfungsi lagi. Semua kata-kata terdengar samar-samar. Dan
seperti sekarang mengatakan apapun tidak ada perasaan
percaya diri sedikitpun.
Ini juga salah satu alasannya, juga, tolong Kanda-kun
pertimbangkan dulu.
Ekspresi Nanami yang sedikti serius itu mengatakan
semua perasaannya tanpa menyembunyikan sedikitpun.

Aku tahu orang yang disukai Kanda-kun.

Tapi, tolong gunakan kesempatan kali ini untuk
berpikir lagi.

Juga tolong pertimbangkanlah masa depan di mana
aku dan kau menjadi pasangan kekasih.
Nanami akhirnya menunjukkan ekspresi yang segar
juga puas, dan menunjukan senyuman yang manis.
Sorata menarik napas dalam-dalam, menerima semua
pesan Nanami, dan berpikir apa maksud semua perkataan
yang tadi, dan menjawab,
Aku tahu. Aku akan mempertimbangkannya.
302
Terima kasih. Kalau begitu aku pergi ke audisi dulu.
Semangat, ya.
Sorata mengatakan ini pada bayangan langkah kaki
yang semakin jauh.
Hn.
Nanami yang membalikkan kepalanya membalas
dengan senyumannya yang manis lagi.
Aku sepertinya sudah tahu susana hati tokoh utama
perempuan yang sebenarnya, aku akan berusaha.
Setelah selesai mengatakannya, Nanami berlari menuju
tempat audisi.
Dua puluh menit setelah itu, Sorata berada di ruang
kelas seni Suimei. Sesuai yang Mashiro minta, setelah selesai
menemani Nanami latihan, langsung datang ke sini menjadi
model lukisnya.
Mempersiapkan kursi dekat jendela, mengamati
langait yang sudah malam.
Tapi Sorata tidak tahu apa yang sedang diamati
sebenarnya. Ia bahkan lupa bagaimana caranya bisa berjalan
menuju ke ruang kelas seni. Walau ada sedikti ingatan
mengenai itu, ia sama sekali tidak bisa mengingatnya.
Juga tidak ada percakapan di antara Sorata dan
Mashiro.
Kalau begitu, ayo mulai.
Hn.
Setelah datang ke ruang kelas seni, hanya percakapan
di antara Mashiro dan Sorata, setelah itu tidak berkata apa-
apa lagi.
Di dalam pikirran Sorata hanya terpikir semua hal
tentang Nanami.
Aku tidak sengaja menyukai Kanda-kun.

303
Suara itu melekat sangat berat di sektiar telinga Sorata,
tidak bisa melepaskan suara itu, terus-menerus bergema
dalam pikiran.
Di saat Sorata dinyatakan cinta oleh Nanami,
senyumannya yang manis itu tidak dapat dilupakan sama
sekali. Tubuh Sorata serasa dibuka sebuah lubang yang
besar, semua direbut oleh Nanami. Dan yang masih tersisa
di dalam hati Sorata adalah perasaaan Nanami yang diubah
menjadi perasaan malu juga senang.
Sorata tidak tahan terdiam terus, dan menatap ke
Mashiro.
Badannya setengah tersembunyi di balik tubuhnya.
Hn, Aoyama.
Sorata mengatakannya tanpa sadar, sesaat setelah
mengatakannya, merasakan perasaan tamat sudah!. Tapi
panik sekarangpun tidak ada gunanya lagi.

Mashiro sepertinya tidak begitu memperdulikannya,
dan berkonsetrasi penuh pada lukisannya. Jangan-jangan
dia tidak dengar. Walau berpikir begitu, hati tetap tidak
merasa tenang.
Setelah sesaat, Mashiro menampakkan dirinya dari
belakang kanvas.
Aku bukan Nanami.
Dia menatap Sorata.
Aku adalah aku.
Membawa tatapan yang ingin bertanya.
Maaf, aku salah.
Ada apa ini? Sampai mencurigai diri sendiri.
Mengapa?

Dari dulu tidak pernah salah.
304
Hal seperti ini kadang juga akan terjadi.
Dalam hati Sorata sangat tahu itu ada pengaruh
saat Nanami menyatakan cinta. Tidak, atau bisa dibilang,
hubungan dengan Nanami mulai berubah. Saat menemani
latihan, saat menemani ke taman hiburan, juga berciuman,
semua menjadi kenangan yang segar, terlukis dalam hati
Sorata. Nanami merupakan seseorang yang penting yang
sudah ada dalam hati Sorata sejak dulu.
Aku tidak akan salah.
Suara yang seperti biasanya, membawa juga tekad
yang meyakinkan, mengandung perasaan yang tidak pernah
tergoyahkan.
Aku tidak akan salah melihat Sorata.
Sorata tidak bisa mengatakan apapun mengenai
kalimat yang diucapkan ulang Mashiro tadi.
Tidak peduli bagaimanapun menjelaskan, semuanya
sudah terlambat, juga tidak bisa membiarkannya berlalu
seperti sebuah candaan.
Sorata.
Maaf, aku tidak akan salah lagi.
Sorata tidak mudah mengatakan ini.
Bukan begitu.
Tapi, jawaban Mashiro berbeda dengan yang diprediksi
Sorata.
Maksudnya bukan begitu itu apa?
Sudah selesai.

Tadi Mashiro ngomong apa?
Sudah selesai.
Apa dia berkata begitu?
Setelah beberapa saat Sorata baru merasa terkejut.
Selesai?
305
Tidak ada hubungan dengan percakapan tadi. Tapi
Sorata tidak punya tenaga mengurus soal ini. Situasi seperti
akhirnya saat ini sudah datang sedang menunggu Sorata.
Lukisannya sudah selesai?
Sorata bertanya pada Mashiro dengan suara yang
bergetar.
Ya.
Benar. Lukisan Mashiro yang melukis Sorata sudah
selesai.
Hasilnya?
Sorata bertanya dengan tenang.
Karya terbaik yang pernah ada.
Mashiro bukannya ingin mengalah, juga ingin
membanggakan diri dan dia menjawab dengan begitu.
Boleh melihat?
Dia sudah pernah janji, kalau sudah selesai akan
membiarkan Sorata melihat.
Boleh.
Sorata perlahan berjalan menuju Mashiro.
Setiap berjalan satu langkah serasa tubuh menjadi
semakin kaku.
Aku selalu ada firasat
Tunggu saat lukisan ini selesai, hubunganku dengan
Mashiro akan mulai berubah, tidak akan seperti yang dulu
lagi.
Sorata, aku, ya

Aku tidak bisa menjadi seperti Misaki-senpai.
Sorata tidak begitu mengerti maksudnya, jadi
menjawabnya dengan sembarang,
Tidak peduli siapapun itu tidak akan pernah bisa
seperti Misaki-senpai, kali.
306
Tapi, sepertinya maksud Mashiro bukan itu,
ekspresinya sedang serius.
Aku tidak bisa menjadi seperti Rita.
ya.
Aku tidak bisa menjadi seperti Kanna ataupun Shiho
juga.

Sorata tidak bersuara, mendekati lukisan yang seperti
sedang ditarik. Satu demi satu langkah mendekati Mashiro.
Aku tidak bisa menjadi seperti orang normal.
Mashiro berada tepat di depan mata.
Karena aku tidak bisa menjadi seperti Nanami.
Shiina?
Yang bisa kulakukan hanya ini.
Mashiro memberi tempat untuk Sorata yang ada di
depan lukisan.
Lukisan dengan penuh terbang ke dalam penglihatan
Sorata.
Sesaat, terasa angin musim semi yang kuat berhembus.
Tapi tentu saja, itu karena terlalu banyak berpikir, karena
jendela sedang tertutup.
Lukisanya Mashiro membuat angin berhembus,
berhembus sebuah angin perasaan.
Setelah angin itu selesai berhembus, pipi Sorata
menjadi merah.
Itu ada sebuah lukisan Sorata yang bersikap terlentang
dan sedang tidur di atas tumpukan bunga Sakura.
Di sekelilingnya juga ada 7 kucing, memberi perasaan
yang hangat juga lembut.
Wajahnya terlihat sangat menikmati, dipenuhi
perasaan hati yang tenang.

307
Sorata tidak tahu sendiri mempunyai ekspresi seperti
itu. Itu adalah ekspresi yang belum pernah ada, itu adalah
perasaan hangat dan lembut yang dirindukan orang. Seperti
perasaan lembut yang bisa menerima segalanya.
Apa Sorata seperti itu dalam mata Mashiro? Ini terlalu
menghormati. Baginya, ini adalah sebuah harga yang tidak
dapat Sorata bayar.
Tapi, syukurlah selesai.

Perasaanku semuanya

Sudah terlukis penuh di dalam lukisan itu.

Orang yang mendukung Mashiro untuk melukis, akan
merasakan kesan seperti apa setelah melihat lukisan ini?
Saat masih di England, guru yang mengajar Mashiro
melukis, setelah melihat ini akan merasa emosi seperti apa
setelah melihat lukisan ini?
Rita yang sebagai seorang pelukis profesional, setelah
melihat lukisan ini apa yang akan dia katakan?
Para pengkritik, setelah melihat lukisan ini akan
memberikan kritikan seperti apa?
Bagi mereka, mungkin ini adalah sebuah lukisan yang
tidak berharga, bahkan lukisan yang tidak pantas dilihat oleh
pera penikmat lukisan. Karena, modelnya adalah Sorata.
Juga mungkin sama sekali tidak ada nilai seni.
Tapi bagi Kanda Sorata yang merupakan seorang
murid SMA, lukisan yang dilukis Mashiro, seperti membuat
dunia ini serasa terbalik.
Di dalamnya dipenuhi suatu perasaan, perasaan
Mashiro yang selalu memikirkan Sorata.
Tidak perlu kata-kata lain.
308
Setelah melihat lukisan Mashiro, Sorata berpikir begitu.
Hm, Sorata.

Walau aku tidak tahu akan menjadi seperti apakah
besok
Mashiro seperti ingin memastikan suasana hatinya, dia
berhenti sejenak.
Tapi , aku, ya

Aku merasa aku bisa melukis sampai sekarang karena
aku melukis lukisan ini.
Mashiro menunjukan ekspresi yang terlihat puas.
Senyuman yang seperti telah memberikan segalanya,
bermandikan dalam matahari yang terbenam dan bersinar
sekali.
Apa perasaanku, sudah diterima Sorata?
Hn.
Aku menyukai Sorata.

Walau Sorata menyukai Nanami, aku tetap menyukai
Sorata.

309
310
311
Kata Penutup

Sesuai datangnya musim semi, Volume ke 7 ini adalah


cerita tentang musim semi.
Tapi itu hanya sebuah kebetulan
Saya adalah Hajime Kamoshida.
Suatu hari, aku membeli kopi di sebuah warung kopi,
entah kenapa kepalaku terbentur.
Dan untuk mencegah kopinya agar tidak terjatuh, aku
melihat ke bawah, memperhatikan cangkir kopi yang sedang
dipegang, dan tiba tiba, kepalaku terbentur sesuatu yang
keras.
Karena sama sekali tidak melihat ke atas , aku tidak
tahu apa yang terjadi, dan merasa panik sejenak. Sesaat , aku
pun curiga benda apa yang membentur kepalaku tadi.
Setelah melihat ke atas, ternyata itu adalah papan
mereknya warung kopi. Jadi, alasan kenapa kepalaku
terbentur karena aku melangkah ke depan tanpa melihat ke
depan, murni sebuah kecelakaan.
Karena berjalan dengan cepat, rasanya lumayan sakit.
Juga mengeluarkan suara yang keras, menarik
perhatian para pelanggan lainnya.
Pokoknya , duduk saja dulu di kursi, tapi serius, itu
sangat sakit setelah mengecek dengan tangan, baru tahu
ternyata benjol besar.
Hari itu, setelah selesai minum kopi, aku pun kembali
ke rumah. Benjolan besar bertahan selama 3 hari, setelah
menggunakan obat, seminggu baru sembuh.

312
Setelah beberapa hari, memikirkan kembali kejadian
waktu itu, aku belajar; lain kali sebelum berjalan harus
melihat ke depan dulu. Dan lain kali akan memeperhatikan
papan merek warung kopi itu jika berkunjung ke sana.
Semuanya sudah bersiap.

Kali ini, selain mendapat adaptasi manga, drama CD,


kali ini juga dapat kabar adaptasi anime. Semuanya berkat
para pembaca yang terus mendukung Sakurasou no Pet na
Kanojo. Kalau semua adaptasi Sakurasou bisa mendapat
dukungan yang besar, itu akan menjadi kehormatanku.
Selain itu, rekor pertemuan para penghuni Sakurasou
pada web official (http://sakurasou.dengeki.com/) sudah
diperbarui. Kalau ada waktu, jangan lupa untuk berkunjung
ke web itu.
Yang terakhir , Keji Mizoguchi-sensei yang menangani
bagian ilustrasi dan editor, terima kasih banyak!
Volume selanjutnya akan berlatar saat musim panas?
Ada sebuah firasat volume berikutnya akan menjadi sebuah
cerita pendek ?

Hajime Kamoshida

313