Anda di halaman 1dari 137

Dimensi Teknik Sipil, Vol. 3, No.

1, Maret 2001, 1-8


ISSN 1410-9530

ALTERNATIF METODA PENJADWALAN PROYEK


KONSTRUKSI MENGGUNAKAN TEORI SET SAMAR

Andreas Wibowo
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman, Teknologi Permukiman Balitbang Permukiman
dan Pengembangan Wilayah Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah

ABSTRAK

Program Evaluation Review Technique (PERT) merupakan suatu metoda penjadwalan dengan
menimbang durasi aktivitas yang bersifat tidak pasti. PERT mengasumsikan fungsi kerapatan
probabilitas durasi aktivitas mengikuti distribusi beta. Analisis dalam PERT disederhanakan
dengan menggunakan nilai-nilai tertentu parameter distribusi beta. Penentuan jalur kritis hanya
menimbang mean durasi untuk menentukan jalur kritis, dan probabilitas total durasi didapatkan
berdasarkan jalur kritis saja. Beberapa kasus menunjukkan penyederhanaan ini menimbulkan
galat dan kontradiksi. Tulisan ini mengusulkan metoda penjadwalan alternatif yang juga
menimbang durasi yang bersifat tidak pasti. Metoda ini, yang dinamakan Fuzzy Logic Application
for Scheduling (FLASH), menerapkan teori set samar sebagai satu cara untuk memodelkan
ketidakpastian yang muncul dari fenomena mental yang bukan bersifat acak maupun stokastik.
FLASH tidak mensyaratkan data statistis tetapi hanya pengamatan secara kualitatif. FLASH
mempertimbangkan semua jalur, tidak hanya jalur kritis saja seperti PERT, untuk menganalisis
posibilitas suatu total durasi yang diharapkan.

Kata kunci: metoda penjadwalan, FLASH, PERT, probabilitas, posiblitas, set samar.

ABSTRACT
Program Evaluation Review Technique (PERT) is a scheduling method that consider the uncertainty
of the duration of an activity. It assumes a probability density function with a beta distribution.
PERT simplifies the analysis using specific values of parameters of beta distribution. The analysis of
critical paths consider the mean of the duration only and the probability of the expected total duration
are based on critical paths only. Some cases showed that these simplifications cause errors and
contradictions. This paper proposes an alternative scheduling method that also allows uncertainties
of duration. The method, named Fuzzy Logic Application for Scheduling (FLASH), applies a fuzzy set
theory which is a perfect means for modeling uncertainties arising from mental phenomena which are
neither random nor stochastic. It does not require statistical data but needs qualitative observations.
Unlike PERT, FLASH considers all paths, not only critical path(s), to analyze the possibility of an
expected total duration.

Keywords: scheduling method, FLASH, PERT, probability, possibility, fuzzy set.

PENDAHULUAN nique (GERT), Linear Scheduling Method


(LSM), dll. Dipandang dari karakteristik durasi
Dalam manajemen proyek kontruksi ada aktivitasnya, masing-masing metoda mempu-
beberapa metoda penjadwalan yang biasa nyai asumsi yang berbeda. Gantt Chart, CPM,
digunakan seperti Gantt Chart, Precedence dan PDM mengasumsikan durasi aktivitas
Diagram Method (PDM), Critical Path Method bersifat pasti sementara PERT dan GERT tidak
(CPM), Program Evaluation Review Technique pasti.
(PERT), Graphical Evaluation Review Tech-
Sebuah proyek konstruksi dengan segala sifat
dan karakteristiknya yang sangat unik, mem-
Catatan: Diskusi untuk makalah ini diterima sebelum
tanggal 1 Juni 2001. Diskusi yang layak muat akan
punyai hubungan antar aktivitas yang kom-
diterbitkan pada Dimensi Teknik Sipil Volume 3, Nomor 2 pleks dan ketergantungan yang tinggi terhadap
September 2001. kondisi internal dan ekternal sehingga durasi

Dimensi Teknik Sipil


1 ISSN 1410-9530 print 2001 Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil
A.Wibowo / Metoda Penjadwalan Proyek Konstruksi Menggunakan Teori Set Samar, Vol. 3, No. 1, Maret 2001, Hal. 1 - 8

aktivitas mempunyai tingkat ketidakpastian (atau ketidaktepatan) yang muncul dari


yang tinggi. Dalam kondisi ini, metoda fenomena psikologis yang bukan bersifat
penjadwalan seperti PERT atau GERT-lah yang acak maupun stokastik [2, 3].
tepat diterapkan. Dalam PERT, durasi aktivitas d. Waktu penyelesaian proyek dinyatakan
diasumsikan mengikuti distribusi beta yang dalam bilangan samar (fuzzy number)
disederhanakan. Durasi dinyatakan dalam tiga dengan rentang yang mencakup nilai yang
nilai yang berbeda: optimistik, most likely, dan paling mungkin (most possible) dari waktu
pesimistik. Namun, ada beberapa kelemahan penyelesaian proyek. Nilai ini akan mempu-
yang dimiliki PERT: nyai derajat keanggotaan tertinggi, yaitu 1.0.
a. Bila jumlah aktivitas dalam jalur kritis Nilai-nilai selain nilai ini mempunyai derajat
kurang daripada 30, deviasi terhadap nor- keanggotaan yang lebih rendah.
malitas akan terjadi. e. Dalam PERT, probabilitas 100% akan terjadi
b. Ada beberapa kesalahan yang muncul akibat bila waktu penyelesaian adalah tidak ter-
simplifikasi nilai mean dan varians distri- hingga (T ) semantara dalam FLASH,
busi beta terhadap nilai eksak dari fungsi posibilitas 100% akan terjadi pada waktu
kerapatan beta yang asli. Kesalahan akibat penyelesaian yang paling mungkin.
simplifikasi berkisar antara 17% dan 33%
[1].
c. PERT hanya mempertimbangkan mean TEORI SET SAMAR
durasi untuk menentukan total durasi dan
mengabaikan keberadaan varians yang bisa Teori Set Samar [2, 3] ditujukan untuk menye-
mengakibatkan kesalahan penentuan proba- lesaikan permasalahan di mana deskrips
bilitas waktu penyelesaian. Dalam beberapa aktivitas dan pengamatan bersifat tidak tepat
kasus asumsi ini mengakibatkan suatu (imprecise), samar-samar (vague), dan tidak
kontradiksi. pasti (uncertain). Terminologi samar mengacu
pada suatu situasi di mana tidak ada batas-
Selain kelemahan tersebut, ada hal yang perlu batas yang jelas dalam suatu set aktivitas atau
diperhatikan menyangkut ketersediaan data pengamatan. Teori ini memperkenalkan fungsi
lapangan. Nilai-nilai optimistik, most likely, dan keanggotaan (membership function) yang di-
pesimistik diperoleh melalui analisis stastistik gunakan untuk menilai derajat keanggotaan
dengan menetapkan persentil 5 dan 95 (atau 2 (grade of membership) dari suatu objek dalam
dan 98) dari populasi data. Hal ini hanya setiap set samar [2]. Derajat keanggotaan
mungkin bila data lengkap tersedia. Kenyataan dinyatakan dalam rentang antara 0 dan 1. Bila
yang sering terjadi, data lapangan dalam derajat keanggotan suatu objek bernilai 1.0
kondisi yang memprihatinkan baik dari sisi berarti secara absolut objek tersebut berada
kuantitas maupun kualitasnya, sehingga ana- dalam set dan bila bernilai 0 berarti objek
lisis stastistis tidak dapat diterapkan terhadap tersebut secara absolut berada di luar set.
data tersebut. Derajat keanggotan selain 0 dan 1 merepre-
sentasikan kondisi antara (intermediate condi-
Tulisan ini mengusulkan sebuah alternatif tions).
metoda penjadwalan dengan tetap mengakomo-
dasi ketidakpastian durasi yang diberi nama Bila A adalah sebuah set samar yang dituliskan
metoda Fuzzy Logic Application for Scheduling sebagai A = {(x,A(x), x U)} di mana U adalah
(FLASH). Metoda ini berbeda dengan PERT sebuah set ordinary dari objek maka U={x}.
dalam menganalisis durasi total proyek dan Untuk sebuah set ordinary, A,
karakteristik durasi aktivitas:
a. FLASH menggunakan terminologi posibilitas 1, bila x A,
A(x) = (1)
daripada probabilitas untuk mengekspresi- 0, bila x A.
kan ketidakpastian. Hal ini membuat
FLASH lebih terbuka dibandingkan PERT Sebagai contoh, bila U = {bilangan nyata positif}
dalam hal ketidakpastian. yang merupakan set tak hingga dan A =
b. FLASH menganalisis semua jalur untuk bilangan-bilangan nyata yang dekat ke 10,
menghasilkan posibilitas suatu total durasi maka fungsi keanggotaan A didefinisikan
proyek yang diharapkan. sebagai {(x,A(x)}. Misal, A(x) = 1/{1 + [1/5(x -
c. Sehubungan dengan terminologi posibilitas, 10)]2} (Gambar 1). Secara jelas terlihat bahwa
FLASH menggunakan teori Set Samar semakin jauh suatu bilangan ke 10 akan
(Fuzzy Set Theory) yang merupakan cara semakin rendah pula derajat keanggotaannya.
tepat untuk memodelkan ketidakpastian Nilai 10 mempunyai derajat keanggotaan

2
A.Wibowo / Metoda Penjadwalan Proyek Konstruksi Menggunakan Teori Set Samar, Vol. 3, No. 1, Maret 2001, Hal. 1 - 8

tertinggi, 1.0 sementara derajat keanggotan Bilangan Samar (Fuzzy Number)


dari 2 dan 16 adalah 0 yang merepresentasikan
bahwa bilangan-bilangan tersebut secara Terminologi bilangan samar digunakan untuk
mengakomodasi kuantitas numerik yang tidak
absolut tidak berada dalam set bilangan-
bilangan nyata yang dekat ke 10 yang telah tepat. Ada beberapa tipe khusus bilangan
didefinisikan. samar seperti L-R dan bilangan samar segitiga
atau trapezoidal.
a. Bilangan Samar L-R
KONSEP DASAR SET SAMAR Sebuah bilangan samar disebut L-R bila:

(x) =
(m x ) / , x m, > 0 (2)
Konveksitas Set Samar
(x - m)/, x m, > 0
Sebuah set samar A disebut konveks bila: A(x1 Di mana m adalah mean bilangan samar
+ (1-)x2) min (A(x1), A(x2)) dimana x1, x2 U sementara dan adalah penyebaran ke
and [0,1]. Contoh-contoh set samar konveks kiri dan kanan. Bila ==0, bilangan
dan non-konveks diberikan dalam Gambar 2. tersebut dianggap sebagai bilangan nyata.
Persamaan (2) sering dituliskan kembali
(x)
sebagai (m,,) atau bila puncaknya tidak
1 bilangan nyata
dekat ke 10 unik ditulis (m1,m2, ,). Bilangan Samar L-
R diilustrasikan dalam Gambar 3.
bilangan nyata
tidak dekat ke 10

(x)
1

x
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Gambar 1. Set Samar bilangan nyata dekat ke 10

(x)
konveks non konveks m m1 m2
1
Gambar 3 Bilangan Samar L-R

b. Bilangan Samar Segitiga (atau Trapezoidal)


Sebuah bilangan samar segitiga didefinisi-
kan sebagai:

0 x 0, x l,
(x - l) / (m - l), l < x m,
Gambar 2. Set Samar Konveks dan Non-konveks
(x) = (3)
(u - x) / (u - m), m < x u,
Normalitas Set Samar 0, x > u

Sebuah set samar A disebut normal jika dan di mana u adalah nilai batas atas, l batas
hanya jika ada satu atau lebih x sedemikian bawah, dan m adalah nilai paling mungkin.
sehingga A(x) =1. Sifat ini menjamin bahwa Suatu bilangan samar segitiga sering
sedikitnya adalah satu anggota set samar dituliskan (l,m,u). Bila terdapat puncak
memenuhi fenomena di mana set samar akan ganda, bilangan tersebut dituliskan sebagai
diterapkan. (a,b,c,d) dengan [b,c] adalah interval nilai-
nilai paling mungkin. Bilangan samar
-cut dari Set Samar segitiga, M dan trapezoidal M diilustrasikan
dalam Gambar 4.
-cut dari set samar adalah sebuah set ordinary
yang anggota set samar A sekurang-kurangnya
mempunyai derajat . Karena itu, -cut
didefinisikan sebagai: A = {x U | A(x) }.
-cut merupakan kasus umum dari sebuah set
samar. Bila = 0, A = S (A)

3
A.Wibowo / Metoda Penjadwalan Proyek Konstruksi Menggunakan Teori Set Samar, Vol. 3, No. 1, Maret 2001, Hal. 1 - 8

(x) (x
M M' M N M(+)
1
1

0 x
l m u a b c d m m n n z z

Gambar 4 Bilangan Samar Segitiga / Trapezoidal Gambar 5 Penjumlahan Dua Bilangan Samar

Operasi Aljabar Bilangan Samar Posibilitas dan Probabilitas

Operasi aljabar bilangan samar meliputi FLASH menerapkan terminologi posibilitas


penjumlahan, pengurangan, pengalian, dan bukan probabilitas dalam menyatakan ketidak-
pembagian. Karena FLASH berkaitan dengan pastian. Ada beberapa perbedaan antara kedua-
penjumlahan dan pengurangan saja maka nya walaupun mempunyai rentang semesta
hanya operasi-operasi inilah yang dituliskan di yang sama yaitu antara 0 dan 1:
sini. a. Probabilitas erat kaitannya dengan data
a. Penjumlahan bilangan samar historis dan analisis statistik. Posibilitas
Penjumlahan bilangan samar M dan N dapat diperoleh berdasarkan pengamatan-penga-
dilakukan dengan dua cara. matan yang mungkin tidak akurat, tidak
tepat, subjektif, dan intuitif tetapi masih
Pertama, menggunakan -cut. Tentukan set dalam pertimbangan logis. Ketidaktepatan
level dari M dan N menggunakan interval muncul dari beberapa sumber yaitu tidak
kepercayaan (derajat keanggotaan) sebagai dapat dikuantifikasikan, tidak lengkap,
M = [m1,m2] dan N = [n1,n2]. Penjumlahan tidak dapat diperoleh, atau ada sebagian
M dan N dapat dituliskan kembali sebagai: informasi yang terabaikan.
b. Posibilitas tinggi tidak berarti probabilitas-
M (+) N = [m1+n1,m2+n2] (4)
nya tinggi. Ini terjadi karena probabilitas
Penjumlahan dua bilangan samar secara didasarkan pada sampling acak di mana
grafis dipresentasikan dalam Gambar 5. terjadinya suatu sampel mempunyai peran-
Untuk mendapatkan level dari M(+)N, an penting. Di lain pihak, posibilitas tidak
inversikan m1 menjadi -1M() sehingga mendasarkan analisisnya pada data statistik
M(m1) = . Demikian pula untuk m2,n1, and tetapi lebih kepada pertimbangan logis
n2. Karena itu, persamaan (4) dapat ditulis- semata.
kan kembali menjadi: c. Dalam teori set samar, posibilitas dinyata-
kan dalam x sementara probabilitas dalam
M (+) N = Z [z1(),z2()] =
P(x). Fungsi kerapatan posibi-litas adalah
[-1M1()+-1N1(),-1M2()+-1N2()] (5) sama dengan fungsi keanggotaannya (x)
sedemikian sehingga = -1(z1) = -1(z2). atau x x [4].

Kedua, menggunakan Max-min convolution


Bila x,y,z R maka penjumlahan M dan N FLASH
dihitung menggunakan:
M (+) N (z) = max (M(x) N(y)) (6) FLASH pada dasarnya sama dengan CPM
z=x + y dalam hal activity on arrow (AOA) diagram dan
b. Pengurangan Bilangan Samar perhitungannya kecuali karakteristik durasi-
Pengurangan bilangan samar dapat dilaku- nya. Durasi aktivitas i-j dinyatakan dalam tiga
kan menggunakan -cut atau max-min nilai berbeda: batas bawah, paling mungkin,
convolution sebagaimana dijelaskan di depan dan batas atas. Karena FLASH mengasumsikan
dengan mengubah N menjadi N sehingga: durasi aktivitas dinyatakan dalam bilangan
samar segitiga, ketiga nilai tersebut merupakan
M (-) N = [m1- n1,m2-n2] (7) nilai l, m, dan u atau Di-j(l,m,u). Untuk node i,
M (-) N (z) = max (M(x) N(y)) (8) Early start (Ei), dan latest start (Li) merupakan
z=x y bilangan samar juga tetapi tidak harus selalu
bilangan samar segitiga.

4
A.Wibowo / Metoda Penjadwalan Proyek Konstruksi Menggunakan Teori Set Samar, Vol. 3, No. 1, Maret 2001, Hal. 1 - 8

Perhitungan Maju M()N(z) = max [M(x) N(y)) (15)


i
Perhitungan maju adalah perhitungan yang Fuzzy Min dari dua bilangan samar, P dan Q
dimulai dari node start dan bergerak ke end secara grafis diperlihatkan pada Gambar 7.
yang didefinisikan sebagai: Persamaan (13) dapat dituliskan kembali untuk
Ej = max {Ei+Dij} (9) menentukan fungsi keanggotaan Li :
i Li = min { Lj Dij} (16)
untuk semua aktivitas yang didefinisikan (i,j) di j

mana:
Ei : early start node i (dalam bilangan samar)
Ej : early start node j (dalam bilangan samar) (x)
Dij : durasi aktivitas i-j (dalam bilangan samar
1 P Q
segitiga)
fuzzy
Pada hubungan seri, hanya ada satu aktivitas
predesesor, persamaan (9) merupakan penjum-
lahan antara dua bilangan samar. Masalah
akan muncul apabila jumlah aktivitas predese-
sor lebih dari satu (konvergen), artinya ada Gambar 6. Contoh Fuzzy Max
beberapa bilangan samar yang harus dibanding-
kan untuk menentukan bilangan yang paling
maksimum. Hwang [1] merumuskan suatu
operasi yang disebut Fuzzy Max yang merupa-
(x)
P Q
kan operasi dual dari dua atau lebih bilangan 1
samar. Fuzzy Max didefinisikan sebagai:
M() N = [m1 n1, m2 n2], atau (10)

M()N (z) = max (M(x) N(y)) (11) fuzzy


z=x y

Secara grafis, Fuzzy Max dipresentasikan x


dalam Gambar 6. Persamaan (9) dapat ditulis- Gambar 7. Contoh Fuzzy Min
kan kembali untuk mendefinisikan derajat
keanggotan Ej: Waktu Ambang (Floats)

Ej = max {Ei+Dij} (12) Ada tiga tipe waktu ambang, waktu ambang
i
total (TF), bebas (FF), dan independen (IF). TF
suatu aktivitas adalah jumlah unit waktu
Perhitungan Mundur aktivitas yang dapat diundurkan tanpa ber-
pengaruh pada waktu penyelesaian total
Perhitungan mundur menghitung dari node
proyek. FF adalah jumlah unit waktu aktivitas
end dan bergerak ke node start. Ini digunakan
yang dapat diundurkan tanpa berpengaruh
untuk menentukan latest start node i di mana:
pada ambang total aktivitas sesudahnya,
Li = min {Lj Dij} untuk semua aktivitas i,j (13) sementara IF adalah jumlah unit waktu aktivi-
j
tas yang dapat diundurkan tanpa mempenga-
Sama halnya dengan perhitungan maju, bila ruhi TF dari aktivitas suksesor dan predesesor.
terdapat hanya satu suksesor, Li menjadi
pengurangan antara dua bilangan samar, Lj dan TFij = Lj Ei Dij (17)
Dij. Baik persamaan (7) atau (8) dapat FFij = Ej Ei Dij
digunakan menyelesaikan perhitungan. Namun IFij = Ej Li Dij
demikian bila terdapat lebih dari satu suksesor
(divergen), hal ini membutuhkan perbandingan Karena Ei, Ej, Li, and Dij adalah bilangan samar
antar-bilangan samar untuk menentukan maka TF, FF dan IF juga merupakan bilangan
bilangan samar yang paling minimum. Pada samar pula.
kasus ini, Fuzzy Min bisa diterapkan. Fuzzy
Min merupakan operasi dual yang berkaitan STUDI KASUS
dengan irisan (intersection) dan didefinisikan
sebagai: Studi kasus diambil dari Gambar 8 dengan
M () N = [m1n1, m2n2] atau (14) informasi ditabulasikan dalam Tabel 1.

5
A.Wibowo / Metoda Penjadwalan Proyek Konstruksi Menggunakan Teori Set Samar, Vol. 3, No. 1, Maret 2001, Hal. 1 - 8

Tabel 1 Studi Kasus Dengan cara yang sama E5, E3, E4, E7, E8 dapat
diperoleh beserta fungsi keanggotaan masing-
Ketergan-
No Aktivitas i j Durasi masing. Secara grafis, nilai-nilai ini disajikan
tungan
dalam Gambar 9 dan 10
1 A 1 2 D12(2,4,7) -
2 B 1 3 D13(4,5,6) -
1
3 C 1 4 D14(2,3,9) - 0.9
4 D 2 5 D25(2,3,8) A 0.8
0.7
5 E 3 6 D36(3,6,7) B 0.6

U(Day)
E1
6 F 4 7 D47(2,4,9) C 0.5
E2
0.4
7 G 5 6 D56(1,2,5) D 0.3
8 H 7 8 D78(2,2,8) F 0.2
0.1
9 I 6 9 D69(7,8,9) G,E 0

10 J 8 9 D89(2,6,10) H 0 1 2 3 4 5 6 7 8
i-th Day
11 K 9 10 D910(5,6,7) I,J
Gambar 9 Bilangan Samar dari E1 and E2
A 2 D 5
2,4,7 2,3,8

1
G 1,2,5 0.9
0.8

1 B 3 E 6 I 9 K 10 0.7
E3

u(i-th day)
4,5,6 3,6,7 7,8,9 5,6,7 0.6 E4
0.5 E5
0.4 E7
E8
0.3
0.2
C 4 F 7 H 8
2,3,9 2,4,9 2,2,8 0.1
0
0 5 10 15 20 25 30

Gambar 8. Studi Kasus i-th day

Bila E1 = 0 (waktu mulai proyek), E2 dihitung Gambar 10 Bilangan Samar E3,E4,E5,E7,E8


berdasarkan persamaan (9) yaitu E2 = E1 +
D12(2,4,7). Fungsi keanggotaan E1 adalah Karena ada dua aktivitas yang berakhir pada
sebuah bilangan samar L-R dengan ==0 node 6 yaitu aktivitas 5-6 dan 3-6, E6 menjadi
sehingga E1(0,0,0). Menggunakan persamaan max(E5+D56,E3+D36) di mana E5+D56 = (4+9,20-
(8), fungsi keanggotan E1 didefinisikan sebagai: 11) dan E3+D36 =(4+7,13-2). Oleh karena
itu, E6 = max (4+9 4+7,20-11 13-2).
0, x 2
(x - 2)/2, 2 < x 4 Berubahnya nilai akan diperoleh hasil yang
berbeda yaitu:
E1(x) =
(7 - x)/3, 4 < x 7 00.78, E5+D56 E3+D36 = (4+7,20-11)
0, x > 7 0.781.0, E5+D56 E3+D36 = (4+7,13-2).
Fungsi keanggotaannya adalah
Pada suatu level, , x akan mempunyai dua
nilai yang berbeda yaitu: 0, E 6 7

= (x1-2)/2 = (7-x2)/3 or (E 6 - 7)/4, 7 < E 6 11

x1 = 2 +2 and x2 = 7 - 3 E6 = (13 - E 6 )/2, 11 < E 6 11.44
(20 E ) / 11, 11.44 < E 20
Menggunakan -cut, penjumlahan E1 dan D12 6 6
0, E 6 > 20
akan menghasilkan: E2(E2*,E2**) = (0+2+2,0+7-
3) = E2(2+2,7-3) yang bila diinversikan akan
Secara grafis, fungsi keanggotaan E6 disajikan
menghasilkan:
dalam Gambar 11. Dengan cara yang sama, E9
= (E2*-2)/2 = (7-E2**)/3. dapat diperoleh. Early finish proyek adalah
E9+D910 yang didefinisikan:
Fungsi keanggotan E2 didefinisikan sebagai
0, E 10 19
0, E 2 2
(E 10 - 19)/6, 19 < E 10 25
(E 2 - 2)/2, 2 < E 2 4 E10 = (29 - E 10 )/4, 25 < E 10 25 .88
E2 =
( 43 E ) / 22 , 25.88 < E 43
(7 - E 2 )/3, 4 < E 2 7 10 10
0, E 2 > 7 0, E 10 > 43

6
A.Wibowo / Metoda Penjadwalan Proyek Konstruksi Menggunakan Teori Set Samar, Vol. 3, No. 1, Maret 2001, Hal. 1 - 8

Early finish proyek disajikan secara grafis Karena ada tiga aktivitas yang bermuara di
dalam Gambar 12. node 1 yaitu aktivitas 1-2,1-3, dan 1-4, L1
menjadi min (L2-D12, L3-D13, L4-D14). dengan
1
menggunakan fuzzy min, L1 didefinisikan
0.9 sebagai:
0.8
0.7 0, L1 24

U(i-th day)

0.6

(L1 + 24)/28, - 24 < L1 2.2


E6
0.5 E3+D36

L1 = (L1 + 10)/10, 0 < L1 2.2


0.4 E5+D56
0.3
0.2 (24 L ) / 28, 2.2 < L 24
0.1 1 1
0 0, L1 > 24
5 7 9 11 13 15 17 19 21
i-th day
Tetapi karena L1 adalah non-negatif, L1
Gambar 11. Early Start E6 didefinisikan ulang sebagai:
(L1 + 10)/10, 0 < L1 2.2

1
0.9
L1 = (24 L1 ) / 28, 2.2 < L1 24
0, L > 24

0.8
0.7
1
U(i-th day)

0.6
0.5 E10
0.4 Waktu Ambang
0.3
0.2
0.1
Setelah diperoleh Ei dan Li untuk (semua) i,
0 waktu ambang masing-masing dapat ditentu-
kan. Perhitungannya menyangkut operasi
15 20 25 30 35 40 45
i-th day
pengurangan menggunakan -cut. Sebagai
Gambar 12. Early Finish Proyek contoh, TF untuk aktivitas 6-9 ditentukan:
untuk 0 0.78: TF6-9 = L9 E6 D69 = [19-
Perhitungan Mundur 17,24-28] dan untuk 0.78 1.00: TF6-9=[10-
10,10-10] sehingga:
Perhitungan mundur dilakukan dengan operasi
pengurangan dan Fuzzy Min. Misal, latest start 0, TF69 17

node 9 (L9) didefinisikan sebagai L9 = E10 D910 (TF69 + 17)/19, - 17 < TF69 2.18
di mana D910 didefinisikan sebagai: (TF69 + 10)/10, - 2.18 < TF69 0
TF =
0, D 910 5 (10 TF69 ) / 10, 0 < TF69 2.2
(24 TF69 ) / 28, 2.2 < TF69 24
D 910 - 5, 5 < D 910 6
D910 = 0, TF69 > 24
7 - D 910 6 < D 910 7
0, D 910 > 7 FF dan IF dapat dihitung dengan cara sama.

Dengan menggunakan -cut, saat 0 0.78, L9 Perbandingan dengan PERT


= (6+19 (-7), 43-22 - (+5) = (7 +12, 38-
23). Saat 0.78 1.00, L9 = (6+19 ( - 7), 29 Hasil yang diperoleh menunjukkan earliest
- 4 - (+5) = (7 +12, 24- 5) sehingga: finish proyek berada dalam kisaran 19 hari dan
43 hari dengan waktu yang paling mungkin
0, L 9 12 adalah 25 hari. Semakin besar perbedaan suatu
nilai dengan nilai ini akan semakin rendah
(L 9 - 12)/7, 12 < L 9 19
derajat keanggotaannya. Sebagai contoh,
L9 = (24 - L 9 )/5, 19 < L 9 20.10
(38 L ) / 23, 20.10 < L 38 posibilitas proyek selesai 23 hari adalah 0.67.
9 9 Namun demikian posibilitas proyek selesai
0, L 9 > 38 dalam waktu 27 hari adalah 0.73. Hasil ini
berbeda dengan PERT di mana semakin besar
Dengan cara yang sama L8,L7,L6,L5,L4,L3, dan suatu nilai dibandingkan terhadap meannya
L2 dapat diperoleh. Hal yang harus diingat akan semakin besar pula probabilitasnya.
yaitu nilai-nilai ini harus non-negatif sehingga Probabilitas tertinggi teoretis akan tercapai bila
bila ada di antaranya mempunyai nilai negatif nilai tersebut adalah tak terhingga. Metoda
maka nilai tersebut dapat diabaikan. FLASH mengasumsikan bahwa semua pekerja-
an dilaksanakan dalam operasi dan kondisi

7
A.Wibowo / Metoda Penjadwalan Proyek Konstruksi Menggunakan Teori Set Samar, Vol. 3, No. 1, Maret 2001, Hal. 1 - 8

yang sangat normal sehingga posibilitas untuk KESIMPULAN


dapat lebih cepat atau lambat akan semakin
rendah tergantung pada perbedaannya ter- Tulisan ini menyajikan suatu alternatif metoda
hadap kondisi normal tersebut. penjadwalan yang diberi nama Fuzzy Logic
Application for Scheduling (FLASH). FLASH
Apabila digunakan analisis PERT dengan mean mengasumsikan bahwa durasi bersifat tidak
dan varians waktu penyelesaian adalah 24.67 pasti dan mengekspresikannya ke terminologi
dan 0.78, probabilitas waktu penyelesaian posibilitas dan bukan probabilitas sebagaimana
kurang daripada 23 hari adalah 0.03 atau digunakan dalam PERT. Ada beberapa perbeda-
hanya 3%! Sementara probabilitas waktu an antara keduanya. Probabilitas didasarkan
penyelesaian kurang daripada 27 hari adalah pada data historis yang dianalis secara statistik
93.9% tetapi dengan jalur kritis 1-4-7-8-9-10 di sementara posibilitas didasarkan pada peng-
mana mean dan variansnya adalah 23.33 dan amatan yang mungkin tidak akurat, tidak
5.61 dan bukan jalur kritis yang sebenarnya, 1- tepat, subjektif, dan intuitif tetapi masih dalam
3-6-9-10. Dengan mean dan varians sebesar pertimbangan logis. Kondisi ini sebenarnya
24.67 dan 0.78, probabilitas waktu penyelesaian lebih sesuai menggambarkan kenyataan yang
kurang daripada 27 hari mencapai 99.6% ! ada di mana data historis yang layak sering kali
sulit diperoleh.

Durasi aktivitas dalam FLASH dinyatakan


1 dalam bilangan samar segitiga yang mencakup
nilai batas bawah (l), paling mungkin (m) dan
0.9
0.8 L9
0.7 L8 batas atas (u). Nilai yang paling mungkin
U(i-th day)

0.6 L7
mempunyai derajat keanggotaan tertinggi yaitu
1.0. Semakin jauh perbedaan suatu nilai dengan
0.5 L4
0.4 L6
0.3 L3 nilai ini akan mempunyai derajat keanggotaan
0.2 L5
yang lebih rendah. Karena FLASH mengguna-
0.1
kan bilangan samar, maka operasi aljabarnya
0
-15 -10 -5 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 berbeda dengan bilangan nyata. Ada beberapa
i-th day prosedur perhitungan di dalamnya.
Gambar 13 Latest Start L3,L4,L5,L6,L7,L8,L9 FLASH memperhitungkan semua jalur dalam
menentukan waktu penyelesaian proyek (total
durasi proyek) karena FLASH mengasumsikan
1 bahwa semua jalur mempunyai kontribusi yang
0.9
sama terhadap total durasi.
0.8

0.7
U(i-th day)

0.6

REFERENCES
L1
0.5
L4-D14
0.4
L3-D13
0.3
L2-D12
1. Ahuja, Hira N., et al., Project Management:
0.2
Technique in Planning and Controlling
0.1
Construction Projects, John Wiley&Sons,
Canada, 1994.
0
-25 -20 -15 -10 -5 0 5 10 15 20 25 30 35 40

i-th day

2. Hwang, Ching Lai and Chen, Shu-Jen,


Gambar 14. Latest Start L1 Fuzzy Multiple Attribute Decision-Making:
Methods and Applications, Springer-Verlag,
Berlin, 1992.
1 3. Hwang, Ching Lai and Yoon, Kwangsun,
0.9
0.8 Multiple Attribute Decision-Making:
0.7
TF Methods and Applications, Springer-Verlag,
U(Days)

Berlin, 1981.
0.6
0.5 FF
0.4 IF
0.3 4. Soemardi, Biemo. W. dan Wibowo, Andreas,
0.2
0.1 1998, Model Produktivitas Pemasangan
0 Pelat Struktur Beton Pracetak pada
0 5 10 15 20 25 30
Konstruksi Gedung dengan Menggunakan
Days
Konsep Samar, Jurnal Teknik Sipil ITB,
Vol. 5 no. 3 Juli 1998: 125-132.
Gambar 15. TF,FF,IF Aktivitas 6-9

8
ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA
JASA KONSTRUKSI

Bambang Poerdyatmono
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Madura, Pamekasan
Jl. Raya Panglegur KM 3.5 Pamekasan
email : bambang_poerdyatmono@yahoo.com

ABSTRAKSI
Penggunaan sumber daya manusia, peralatan, bahan bangunan dan biaya dalam suatu kegiatan
operasional proyek pembangunan jasa konstruksi sering menimbulkan sengketa konstruksi.
Sengketa dimaksud bisa terjadi pada masa prakontraktual, masa kontraktual, dan masa
pascakontraktual.
Untuk menyelesaikan sengketa tersebut, dapat dibagi menjadi 3 (tiga) tahapan, yaitu : (1)
Tahap sebelum Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi, (2) Tahap Pelaksanaan Pekerjaan
Konstruksi, dan (3) Tahap setelah Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi (Tahap Operasional
Bangunan).
Kesimpulan yang didapatkan adalah berupa tanggung jawab masing-masing Pihak sebagai
pelaku pembangunan konstruksi, baik dari sisi perdata maupun sisi pidana, sebagaimana yang
diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi jo
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa
Konstruksi jo Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa
Konstruksi jo Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan
Pembinaan Jasa Konstruksi, serta peraturan perundang-undangan lain yang berkaitan dengan
jasa konstruksi.

Kata Kunci : jasa konstruksi, sengketa jasa konstruksi, alternatif penyelesaian sengketa jasa
konstruksi.

ABSTRACT
The usage of human recource, equipments, material construction and operational cost in
project od development of service construcction often generate construction conflict. Such
conflict can happened at a phase of precontractual, phase of contractual and phase of
postcontractual.
The solution of conflict, can be devided into three, that is : (1) Phase precontractual of
construction, (2) Phase excecution of construction, (3) Phase operation construction work.
The key factor to conflict solution are responbility of development construction Implementator
both from perspective of private or public law as sentenced by UU Number 18 Year 1999
about Service Construction juncto PP Number 28 Year 2000 about Effort and Role of Society
Service Construction of juncto PP Number 29 Year 2000 about Management of Service
Constructionof juncto PP Number 30 Year 2000 about Management of Construction of Service
Construction, and other rule or regulation related the construction service.

Keywords : service construction, conflict service construction, alternative conflict


service construction.
78
Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebagaimana diketahui bahwa pelaksanaan pembangunan fisik dibidang jasa
konstruksi cukup banyak melibatkan sumber-sumber daya, baik sumber daya manusia,
sumber daya alam berupa bahan bangunan, sumber daya tenaga dan energi peralatan,
mekanikal dan elektrikal, serta sumber daya keuangan. Dalam setiap tahapan pekerjaan
tersebut dilakukan dengan pendekatan manajemen proyek, yang prosedurnya telah diatur dan
ditetapkan sedemikian rupa, sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan lancar
sesuai dengan waktu pelaksanaan.
Namun demikian, pada setiap tahapan-tahapan pekerjaan tersebut, adakalanya
mengalami hambatan, baik dari faktor manusia maupun sumber-sumber daya yang lain.
Hambatan-hambatan sekecil apapun harus diselesaikan dengan baik untuk mencegah kerugian
yang lebih besar, baik dari pelaksanaan waktu pekerjaan maupun operasional bangunan kelak.
Oleh karenanya tulisan ini akan berupaya membahas lebih jauh sengketa yang terjadi
dan bagaimana penyelesaiannya, berdasarkan pada literatur maupun pengalaman lapangan
yang penulis alami, khususnya untuk proyek skala kecil hingga menengah.

1.2. Permasalahan
Pada dasarnya, ilmu pengetahuan yang sangat luas itu merupakan bagian dari
kebutuhan manusia. Akan tetapi dengan keterbatasan yang dimiliki manusia itu sendiri,
mereka hanya mampu untuk menampung beberapa cabang keilmuan saja. Oleh karenanya
wajar apabila setiap pekerjaan profesi yang dilakukan oleh seorang yang profesional, wajib
didukung dengan pengetahuan yang cukup untuk melengkapi keilmuan yang dimiliki.
Maksudnya, sudah saatnya para profesional teknik memiliki pengetahuan keilmuan yang
bersentuhan dengan bidang pekerjaannya, yaitu ilmu hukum. Dengan demikian diharapkan
bahwa setiap langkah profesi yang dilakukan oleh profesional teknik, mampu untuk
mengantisipasi kemungkinan yang terjadi apabila bidang pekerjaan profesi teknik tersebut
berakibat hukum.
Berdasarkan literatur dan pengalaman yang penulis lakukan, maka kecenderungan
sengketa jasa konstruksi diakibatkan oleh beberapa hal : (1). Sengketa precontractual (2)
Sengketa contractual (3) Sengketa pascacontractual. Masing-masing segketa tersebut
memiliki karakteristik tersendiri dan merupakan bagian dari keseluruhan manajemen proyek
bidang jasa konstruksi.

1.3. Tujuan Penulisan


Tulisan ini bertujuan untuk membahas lebih jauh tentang sengketa jasa konstruksi
yang sering terjadi, sehingga diharapkan profesional teknik yang bekerja dibidangnya dapat
mengantisipasti kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, khususnya pekerjaan-
pekerjaan yang bersentuhan dengan hukum.

1.4. Pembatasan Masalah


Permasalahan yang ditulis dalam materi ini dibatasi pada sengketa jasa konstruksi
yang terjadi dalam proyek skala kecil dan menengah, dan lingkup proyek dalam negeri, dan
ditekankan hanya pada sengketa pelaksanaan konstruksi saja (sengketa contractual).

Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi 79


(Bambang Poerdyatmono)
2. TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN
2.1. Jasa Konstruksi
Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan jasa konstruksi umumnya
masih mengikuti peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda,
dengan apa yang waktu itu kita kenal dengan Algemene Voorwaarden (AV) 1941. Jauh
setelah itu, peraturan perundang-undangan yang terkait langsung dengan jasa konstruksi baru
diterbitkan Pemerintah Indonesia melalui Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 beserta
Peraturan Pemerintah Nomor 28, 29 dan 30 Tahun 2000, serta peraturan perundang-undangan
lain baik di tingkat pusat maupun daerah.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang jasa konstruksi, berikut dalam tabel 1 adalah asas
dan tujuan pengaturan jasa konstruksi sebagaimana yang diamanatkan UU Nomor 18 Tahun
1999.

Tabel 1. Asas dan Tujuan Pengaturan Jasa Konstruksi


sesuai Undang-Undang No. 18 Tahun 1999
No Asas-asas Jasa Konstruksi No Tujuan Pengaturan Jasa Konstruksi
1. Asas Kejujuran 1. Memberikan arah pertumbuhan dan
perkembangan jasa konstruksi untuk
2. Asas Keadilan mewujudkan struktur usaha yang kokoh,
andal, berdaya saing tinggi, dan hasil
3. Asas Manfaat pekerjaan konstruksi yang berkualitas.

4. Asas Keserasian 2. Mewujudkan tertib penyelenggaraan


pekerjaan konstruksi yang menjamin
5. Asas Keseimbangan kesetaraan kedudukan antara pengguna jasa
dan penyedia jasa dalam hak dan kewajiban,
6. Asas Keterbukaan serta meningkatkan kepatuhan pada
ketentuan peraturan perundang-undangan
7. Asas Kemitraan yang berlaku.

8. Asas Keamanan 3. Mewujudkan peningkatan peran masyarakat


di bidang jasa konstruksi
9. Asas Keselamatan

Dari penjelasan tabel 1 di atas jelaslah bahwa semua yang bekaitan dengan asas-asas
dan tujuan pengaturan jasa konstruksi tersebut ditujukan untuk kepentingan masyarakat,
bangsa dan negara.
Berkaitan dengan pelaksanaan jasa konstruksi sebagai bagian dari manajemen
proyek/konstruksi, maka lingkup layanan jasa konstruksi sebagaimana Pasal (3) PP Nomor 28
Tahun 2000 adalah lingkup pelayanan jasa perencanaan, pelaksanaan, pengawasan secara
strategis dapat terdiri dari jasa : rancang bangun, perencanaan, pengadaan, dan pelaksanaan
terima jadi, penyelenggaraan pekerjaan terima jadi.
Berikut pada Tabel 2 adalah jenis usaha jasa konstruksi sebagaimana UU Nomor 18
Tahun 1999 Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) dan PP Nomor 28 Tahun 2000 Pasal (2), (3) dan
Pasal (5).

80
Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90
Tabel 2. Jenis Usaha Jasa Konstruksi berdasarkan
UU Nomor 18 Tahun 1999 dan PP Nomor 28 Tahun 2000
Jenis Usaha Jasa Menurut UU Nomor 18 Menurut PP Nomor 28
No
Konstruksi Tahun 1999 Tahun 2000
1. Perencanaan Konstruksi Layanan jasa perencanaan Survey, perencanaan
dalam pekerjaan konstruksi umum, studi makro dan
yang meliputi rangkaian mikro, studi kelayakan
kegiatan atau bagian-bagian proyek, industri dan
dari kegiatan mulai dari produksi; perencanaan
studi pengembangan sampai teknik, operasi dan
dengan penyusunan pemeliharaan, serta
dokumen kontrak kerja penelitian.
konstruksi
2. Pelaksanaan Konstruksi Layanan jasa pelaksanaan Lingkup jasa
dalam pekerjaan konstruksi perencanaan,
yang meliputi rangkaian pelaksanaan dan
kegiatan atau bagian-bagian pengawasan secara
dari kegiatan mulai dari strategis dapat terdiri dari
penyiapan lapangan sampai jasa : rancang bangun,
dengan penyerahan hasil perencanaan, pengadaan,
akhir pekerjaan konstruksi. dan pelaksanaan terima
jadi, penyelenggaraan
pekerjaan terima jadi.
3. Pengawasan Konstruksi Layanan jasa pengawasan Layanan pengawasan
baik keseluruhan maupun jasa konstruksi yang
sebagian pekerjaan meliputi : pengawasan
pelaksanaan konstruksi pekerjaan konstruksi,
mulai dari penyiapan pengawasan keyakinan
lapangan sampai dengan mutu dan ketepatan
penyerahan hasil akhir waktu, dan proses
pekerjaan konstruksi. perusahaan dari hasil
pekerjaan konstruksi

Dari tabel 2 di atas jelaslah bahwa lingkup sengketa jasa konstruksi dapat saja terjadi
pada tingkat perencanaan konstruksi, pelaksanaan konstruksi, juga pada tingkat perngawasan
konstruksi itu sendiri. Oleh karena begitu luasnya sengketa yang ada, maka penulis
membatasi sengketa yang terjadi hanya pada tingkat pelaksanaan konstruksi (sengketa
contractual) dengan alasan bahwa pada tingkat ini merupakan bagian pekerjaan konstruksi
yang melibatkan sumber daya yang besar, diketahui atau berlokasi didaerah umum (publik),
dan pekerjaan pelaksanaan konstruksi saat itu sedang berlangsung.

2.2 Sengketa Jasa Konstruksi


Sebagaimana diketahui dalam penulisan di depan, bahwa sengketa jasa konstruksi
terdiri dari 3 (tiga) bagian :
a. Sengketa precontractual yaitu sengketa yang terjadi sebelum adanya kesepakatan
kontraktual, dan dalam tahap proses tawar menawar.

Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi 81


(Bambang Poerdyatmono)
b. Sengketa contractual yaitu sengketa yang terjadi pada saat berlangsungnya pekerjaan
pelaksanaan konstruksi.
c. Sengketa pascacontractual yaitu sengketa yang terjadi setelah bangunan beroperasi
atau dimanfaatkan selama 10 (sepuluh) tahun.

2.2.1. Sengketa Contractual


Sengketa ini terjadi pada saat pekerjaan pelaksanaan sedang berlangsung. Artinya
tahapan kontraktual sudah selesai, disepakati, ditandatangani, dan dilaksanakan di lapangan.
Sengketa terjadi manakala apa yang tertera dalam kontrak tidak sesuai dengan apa yang
dilaksanakan di lapangan. Dalam istilah umum sering orang mengatakan bahwa pelaksanaan
proyek di lapangan tidak sesuai dengan bestek, baik bertek tertulis (kontrak kerja) dan atau
bestek gambar (lampiran-lampiran kontrak), ditambah perintah-perintah direksi/pengawas
proyek (manakala bestek tertulis dan bestek gambar masih ada yang belum lengkap).
Sedangkan sumber timbulnya sengketa, menurut Hamid Shahab (2000), terdapat
beberapa kasus (ditambah pengalaman penulis), yaitu :
a. Rasa saling percaya yang begitu besar antara pengguna jasa dan penyedia jasa,
sehingga sering menimbulkan keinginan untuk segera memulai pekerjaan
pelaksanaan proyek, sebelum dokumenn pelaksanaan (kontrak) selesai diproses.
Menurut penulis, maksudnya adalah penyedia jasa memulai pekerjaan cukup hanya
berbekal SPMK (Surat Perintah Memulai Pekerjaan) dari Pemimpin/Bagian Proyek.
Kadangkala bahkan ada yang lebih kronis lagi, yaitu tanpa berbekal apapun asalkan
yang bersangkutan sudah dinyatakan lolos seleksi (tender) pemenang lelang
tersebut sudah memulai pekerjaan di lapangan dengan alasan memburu waktu (yang
biasanya skala waktu suatu proyek kecil dan menengah memang singkat), walaupun
tanpa dibekali uraian pekerjaan yang diperjanjikan atau dipercayakan.
b. Perjanjian (kontrak) kerja dan dokumen konstruksi yang bersifat umumlah digunakan
pedoman/dasar memulai pekerjaan, padahal ada detail dokumen yang lain yang
seharusnya menjadi pedoman pelaksanaan, belum selesai dibuat.
c. Proses pekerjaan pelaksanaan sudah dimulai tanpa pola urutan proses kerja, program
waktu serta garis kritis yang akan mempengaruhi target akhir (time schedule). Ini
terkait juga dengan butir 1 di atas.
d. Di tengah perjalanan pekerjaan konstruksi, kadangkala pengguna jasa sebagai
pemilik proyek melakukan kebijaksanaan dengan alasan untuk menghemat biaya,
misalnya dengan melakukan self-supply untuk material-material tertentu tanpa
melibatkan proses pengendalian mutu dengan melibatkan penyedia jasa.
e. Adakalanya pengguna jasa sebagai pemilik proyek mempercayakan manajemen
proyek kepada satu tangan dengan tanggung jawab penuh dan target waktu dan biaya
yang ketat dalam batas ceiling tertentu, akan tetapi dalam pelaksanaannya pengguna
jasa terlalu banyak mencampuri koordinasi dan manajemen proyek sehingga urutan
pekerjaan dan pola penanganan proyek menjadi kacau sehingga sulit
dipertanggungjawabkan dari kualitas, kuantitas, maupun target waktu dan biaya.
Padahal proses tender/penunjukan sudah dilaksanakan sesuai ketentuan.
f. Ketidakjelasan mengenai tanda tangan dan tanda-tanda khusus yang menyangkut
keabsahan dokumen untuk dapat digunakan. Perlu diketahui bahwa sejak
diberlakukannya sertifikasi profesi profesional tenaga ahli, salah satu diktum hak
yang diberikan adalah berhak menandatangani berkas-berkas gambar
peencanaan/pengawasan/perizinan, karena disitu sudah ada nomor registernya.
Sampai saat ini, ketentuan ini belum banyak yang mengetahui atau
melaksanakannya.
82
Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90
g. Ketidakjelasan alur penyaluran dokumen. Misalnya sering terjadi bahwa penyaluran
dokumen ini dari siapa, siapa yang menggandakan, pihak-pihak mana saja yang
berhak menerima dan memiliki dokumen, dokumen asli disimpan dimana, termasuk
apakah direksi keet memerlukan gambar, time schedule, kalender, buku direksi/tamu,
meja rapat kecil, gudang dan sebagainya.
h. Format pengendalian proyek, kaitannya dengan siapa bertanggung jawab kepada
siapa. Sering terjadi di lapangan, petugas proyek tidak menjalankan prosedur atau
tata tertib yang telah disepakati kaitannya dengan struktur organisasi manajemen
proyek.
i. Timbulnya variation order sepanjang masa pelaksanaan konstruksi, dengan tidak
mencatat, melaporkan atau mengantisipasi terhadap pengaruh perubahan waktu dan
biaya.
j. Pekerjaan dilaksanakan tanpa landasann yang disepakati, misalnya unit price, sedang
di lapangan menuntut jalur kritis.
k. Site Engineer atau Koordinator Lapangan yang tidak menguasai seluruh proses. Ini
akan berakibat permasalahan yang ada dan terjadi atau kemungkinan deteksi dini
tidak dapat dilakukan dengan baik.
l. Terjadinya kerancuan istilah Quality Control dengan Quality Assurance.
m. Terdapat istilah-istilah yang dapat menimbulkan dubious, misalnya :
1) Tidak perlu safety yang berlebihan, asalkan fungsi bangunan terpenuhi.
2) Persiapkan jalan masuk proyek, tanpa kejelasan transportasi apa saja yang akan
melalui jalan masuk tersebut.
3) Kerjakan lebih dahulu apa yang dapat dikerjakan, dengan tidak mengantisipasi
kendala yang mungkin timbul yang akan memperlamabat kelancaran proyek,
sedangkan tanggung jawab yang timbul, tidak berada di pundak pemberi
arahan tersebut.
n. Terdapat istilah-istilah yang ambigous, seperti :
1) Gunakan material sejenis, setara atau yang kualitasnya sederajat.
2) Lakukan dengan mutu yang baik.
3) Lakukan dalam periode waktu yang wajar.
4) Gunakan batas toleransi penyimpangan yang wajar.
5) Lakukan sesuai dengan apa yang dirasakan perlu oleh konsultan perencana.
6) Jalankan sesuai dengan standar atau servis normal.
7) Batasi dengan biaya maksimum yang dapat dijamin (guaranted maximum
price).
8) Ikuti pandangan konsultan perencana yang reasonable.
9) to the engineers satisfaction.
o. Fungsi manajemen konstruksi yang jelas diperlukan pada proyek kecil sampai proyek
besar, tidak jelas diserahkan kepada siapa :
1) Apakah kepada Tim Manajemen Konstruksi (MK), atau
2) Apakah kepada Kontraktor Utama, atau
3) Salah satu kontraktor yang terlibat pada proyek, atau
4) Dipegang sendiri oleh Pengguna Jasa atau Pemilik Proyek.
p. Belum adanya pengaturan mengenai tidak terpenuhinya target waktu atau target
finansial.
q. Adanya persetujuan yang tidak di back-up dengan administrasi dan atau pendanaan
yang baik.
r. Persetujuan (approval) mengenai nilai biaya atau gambar-gambar usulan atau program
waktu tidak kunjung diselesaikan, yang mengakibatkan tertundanya pekerjaan.
Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi 83
(Bambang Poerdyatmono)
s. Biaya tambah yang diperlukan untuk mempercepat pelaksanaan proyek, baik untuk
memperpendek periode pelaksanaan secara keseluruhan maupun untuk mengejar
keterlambatan, persetujuan dan keterlambatan dokumen yang perlu disiapkan oleh
pihak ketiga.
t. Idle time peralaan yang tidak efektif.
u. Meningkatnya overhead karena banyaknya penundaan-penundaan pelaksanaan atau
banyaknya change order atau perubahan pekerjaan yang berakibat pada pekerjaan
tambah.
v. Keterlambatan pembayaran, padahal di satu sisi pekerjaan dituntut tetap lancar dan
dilaksanakan dengan baik.
w. Adanya perbedaan pengertian kontrak yang berbahasa asing dengan kontrak yang sama
dan berbahasa Indonesia.
x. Nominated subkontraktor (sub penyedia jasa) yang ditunjuk oleh pengguna jasa, tanpa
koordinasi dan konsultasi dengan pihak yang memegang koordinasi dan tanggung
jawab.
Kasus-kasus sebagai penyebab sengketa tersebut di atas merupakan kasus-kasus yang
sering terjadi di lapangan. Apabila ditambah dengan kasus-kasus yang lebih kecil, jumlahnya
cukup banyak. Penulis beranggapan apabila semua kasus-kasus di atas dapat diatasi, besar
kemungkinan kasus-kasus kecil juga akan teratasi.

2.3. Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi


Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi juncto Undang-
undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa junco
Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi serta
peraturan lain, mengisyaratkan bahwa penyelesaian sengketa jasa konstruksi dilakukan
melalui jalur di luar pengadilan. Dalam tabel 3 adalah perbandingan penyelesaian sengketa
menurut peraturan-peraturan tersebut di atas.
Dari uraian dalam tabel 3, jelaslah bahwa pada dasarnya penyelesaian sengketa jasa
konstruksi yang tidak dapat diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat, diarahkan pada
penyelesaian di luar pengadlan dan bermuara pada penyelesaian sengketa melalui jalur
arbitrase.
Dalam hal kasus sengketa yang bersifat kontraktual atau sengketa dimasa pelaksanaan
pekerjaan sedang belangsung, maka penyelesaian sengketa tersebut dapat melalui jalur-jalur
sebagaimana dalam tabel 3, yaitu :

1). Jalur Konsultasi


Konsultasi merupakan suatu tindakan yang bersifat personal antara satu pihak
tertentu, yang disebut dengan klien dengan pihak lain yaitu konsultan. Pihak konsultan ini
memberikan pendapat kepada klien untuk memenuhi kebutuhan klien tersebut. Dalam jasa
konstruksi, konsultan berperan penting dalam penyelesaian masalah-masalah teknis lapangan,
apalagi apabila konsultan tersebut merupakan konsultan perencana dan atau konsultan
pengawas proyek. Pendapat mereka sangat dominan untuk menentukan kelancaran proyek

2). Jalur Negosiasi


Pada dasarnya negosiasi adalah upaya untuk mencari perdamaian di antara para pihak
yang bersengketa sesuai Pasal 6 ayat (2) Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Selanjunya dalam Pasal 1851 sampai dengan
Pasal 1864 Bab Kedelapanbelas Buku III Kitab Undang-undang Hukum Perdata tentang
84
Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90
Perdamaian, terlihat bahwa kesepakatan yang dicapai kedua belah pihak yang bersengketa,
harus dituangkan secara tertulis dan mengikat semua pihak. Perbedaan yang ada dari kedua
aturan tersebut adalah bahwa kesepakatan tertulis tersebut ada yang cukup ditandatangani
para pihak dengan tambahan saksi yang disepakati kedua belah pihak. Sedangkan yang satu
lagi, kesepakatan yang telah diambil harus didaftarkan ke Pangadilan Negeri. Negosisi
merupakan salah satu lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang dilaksanakan di luar
pengadilan, sedangkan perdamaian dapat dilakukan sebelum proses sidang pengadilan atau
sesudah proses sidang berlangsung, baik di luar maupun di dalam sidang pengadilan (Pasal
130 HIR). Dari literatur hukum dapat diketahui, selain sebagai lembaga penyelesaian
sengketa, juga bersifat informal meskipun adakalanya juga bersifat formal.

Tabel 3. Perbandingan Penyelesaian Sengketa


SKB Menteri
Keuangan RI dan
UU No. 30 / 1999 Kepala BAPPENAS
PP No. 29/2000
UU No 18 / 1999 Tentang Arbitrase No.S-42/A/2000
tentang
Tentang Jasa dan Alternatif No.S-
Penyelenggaraan
Konstruksi Penyelesaian 2262/D.2/05/2000
Jasa Konstruksi
Sengketa Tentang Juknis
Keppres RI
No.18/2000
Semua keputusan Semua keputusan Semua keputusan tetap Semua keputusan
tetap melalui tetap melalui melalui kesepakatan tetap melalui
kesepakatan para kesepakatan (bersifat (bersifat final, mutlak) kesepakatan (bersifat
pihak (bersifat final, mutlak) final, mutlak)
final, mutlak)

Melalui Melalui Pengadilan


Pengadilan ------ (pidana/perdata) ------
(pidana/perdata)

Luar Pengadilan Luar Pengadilan Luar Pengadilan Luar Pengadilan


dan dapat dibantu Konsultasi Konsultasi Konsultasi
pihak ketiga Mediasi Konsiliasi Mediasi
Negosiasi Badan Arbitrase Negosiasi
Konsiliasi Konsiliasi
Penilaian Ahli Penilaian Ahli
Sumber : Bambang Poerdyatmono (2003)

3). Jalur Mediasi


Dari beberapa pengertian yang ada, maka pengertian mediasi adalah pihak ketiga
(baik perorangan atau lembaga independen), tidak memihak dan bersifat netral, yang bertugas
memediasi kepentingan dan diangkat serta disetujui para pihak yang bersengketa. Sebagai
pihak luar, mediator tidak memiliki kewenangan memaksa, tetapi bertemu dan
mempertemukan para pihak yang bersengketa guna mencari masukan pokok perkara.
Berdasarkan masukan tersebut, mediator dapat menentukan kekurangan atau kelebihan suatu
perkara, kemudian disusun dalam proposal yang kemudian dibicarakan kepada para pihak
secara langsung. Peran mediasi ini cukup penting karena harus dapat menciptakan situasi dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi 85
(Bambang Poerdyatmono)
kondisi yang kondusif sehingga para pihak yang besengketa dapat berkompromi dan
menghasilkan penyelesaian yang saling menguntungkan di antara para pihak yang
bersengketa. Mediasi juga merupakan salah satu alternatif penyelesaian sengketa.

4). Jalur Konsiliasi


Konsiliasi menurut sumber lain, dapat disebut sebagai perdamaian atau langkah awal
perdamaian sebelum sidang pengadilan (ligitasi) dilaksanakan, dan ketentuan perdamaian
yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, juga merupakan bentuk alternatif
penyelesaian sengketa di luar pengadilan, dengan mengecualikan untuk hal-hal atau sengketa
yang telah memperoleh suatu putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

5). Jalur Pendapat Hukum oleh Lembaga Arbitrase


Arbitrase adalah bentuk kelembagaan, tidak hanya bertugas untuk menyelesaikan
perbedaan atau perselisihan atau sengketa yang terjadi antara para pihak dalam perjanjian
pokok, akan tetapi juga dapat memberikan konsultasi dalam bentuk opini atau pendapat
hukum atas permintaan para pihak dalam perjanjian. Pendapat hukum lembaga arbitrase
bersifat mengikat, dan setiap pelanggaran terhadap pendapat hukum yang diberikan tersebut
berarti pelanggaran terhadap perjanjian (breach of contract wanprestasi). Sifat dari
pendapat hukum lembaga arbitrase ini termasuk dalam pengertian atau bentuk putusan
lembaga arbitrase.

Kesepakatan penyelesaian sengketa melalui jalur pendapat hukum lembaga arbitrase


ini agaknya yang mendasari Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)
Daerah Jawa Timur pada tanggal 27 November 2004 yang lalu. Dengan demikian, maka
penyelesaian sengketa jasa konstruksi bidang arsitektural mulai dijajaki ke arah itu.
Bagaimana dengan profesi teknik yang lain?
Menurut pengalaman penulis, pada dasarnya penyelesaian sengkera jasa konstruksi
banyak mengadopsi beberapa jalur tersebut di atas. Dalam penyelesaian sengketa jasa
konstruksi pada saat berlangsungnya pelaksanaan proyek dapat diidentifikasikan sebagai
berikut :

1). Penyelesaian sengketa kontraktual (sampai penyerahan pekerjaan I)

a. Penyelesaian sengketa dengan Site Meeting (Rapat-rapat Lapangan) yang dilaksanalan


2 (dua) minggu sekali. Rapat ini dihadiri oleh pengguna jasa, penyedia jasa, dan wakil
pemerintah bidang konstruksi (untuk proyek pemerintah - instansi teknis).
Kesepakatan yang dihasilkan dalam site meeting ini dibuatkan Berita Acara Rapat
Lapangan yang ditandatangani pihak-pihak yang terlibat/hadir, mengikat semua pihak,
serta masuk dalam dokumen pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang sedang berjalan.
Dengan rapat-rapat lapangan yang bersifat rutin ini diharapkan segala permasalahan
yang ada dan yang terjadi dapat diantisipasi.

b. Penyelesaian sengketa dengan Arbitrase Ad Hoc (Arbitrase Voluntier).Cara ini


dilakukan manakala penyelesaian sengketa di tingkat pertama (butir a) belum
menghasilkan kesepakatan diantara para pihak. Arbitrase Volunter ini dibentuk khusus
untuk menyelesaikan sengketa atau memutus sengketa tertentu (baca : sengketa
konstruksi). Karena itu arbitrase volunter ini bersifat insidentil dan jangka waktunya
tertentu pula sampai sengketa tersebut diputuskankan. Dalam praktik konstruksi,
arbitrase volunter ini dapat disebut sebagai Panitia Pendamai yang berfungsi sebagai
86
Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90
juri/wasit yang dibentuk dan diangkat oleh para pihak, yang anggota-anggotanya
terdiri dari :
1) Seorang wakil dari pihak kesatu (pengguna jasa) sebagai anggota
2) Seorang wakil dari pihak kedua (penyedia jasa) sebagai anggota
3) Seorang wakil dari pihak ketiga sebagai ketua yang ahli dibidang konstruksi, dan
disetujui kedua belah pihak.
Hasil keputusan Panitia Pendamai ini bersifat mengikat dan mutlak untuk kedua belah
pihak yang bersengketa.

c. Penyelesaian sengketa dengan Arbitrase Institusional, yaitu suatu lembaga permanen


(permanent arbitral body) sebagaimana ayat (2) Konvensi New York 1958. Arbitrase
Institusional ini didirikan oleh organisasi tertentu dan sengaja didirikan untuk
menampung perselisihan yang timbul dari perjanjian. Faktor sengaja dan sifat
permanen itulah yang membedakan dengan arbitrase ad hoc. Arbitrase Institusional
ini berdiri sebelum sengketa timbul. Di samping itu arbitrase ini berdiri untuk
selamanya walaupun suatu sengketa telah diputus dan diselesaikan.
Menurut pengalaman, lembaga ini jarang dimanfaatkan oleh para pihak yang
bersengketa, disebabkan karena minimal 2 (dua) hal : (1) sengketa biasanya telah
dituntaskan pada tahap pertama (butir a site meeting) dan (2) para pihak seolah
enggan meneruskan sengketa ke tingkat yang lebih tinggi (butir b arbitrase volunter
dan arbitrase institusional apalagi melalui jalur pengadilan).

d. Penyelesaian sengketa melalui Pengadilan.


Upaya pengadilan yang dimaksud adalah upaya penyelesaian sengketa melalui
pengadilan, manakala upaya yang ada belum juga menghasilkan kesepakatan. Perlu
diingat bahwa upaya pengadilan ini meupakan upaya akhir (baca : pengadilan negeri
tempat domisili para pihak berselisih, termasuk lokasi proyek yang bersangkutan
yang biasanya sudah dicantumkan dalam kontrak kerja). Padahal menurut beberapa
ahli hukum, selama ini sudah ada institusi hukum lain yang mengangani upaya
penyelesaian sengketa, yaitu arbitrase institusional, sehingga para pihak harus
memilih salah satu institusi hukum tersebut, pengadilankah atau arbitrase
institusional, karena keduanya sama-sama kuat kedudukannya di depan hukum.
Menurut UU Nomor 30 Tahun 1999 pasal 6 ayat (7), Pengadilan Negeri menerima
pendaftaran hasil kesepakatan para pihak yang bersengketa (tertulis) untuk
dilaksanakan dengan itikat baik dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak
penandatanganan kesepakatan tersebut. Bisa diartikan bahwa kesepakatan yang telah
ditandatangani para pihak yang bersengketa tersebut (baik melalui atau tanpa melalui
arbitrase institusional), cukup didaftarkan ke Pengadilan Negeri dimana domisili para
pihak yang bersengketa dan atau lokasi proyek berada.

Dalam tahap ini jelas bahwa UU Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi Pasal
39 ayat (1) menegaskan bahwa penyelesaian sengketa dapat ditempuh melalui pengadilan atau
di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa. Hal ini
diperkuat lagi pada Pasal 41 undang-undang ini yang menyebutkan bahwa penyelenggara
pekerjaan konstruksi dapat dikenai sanksi administratif dan/atau pidana atas pelanggaran
undang-undang ini.

Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi 87


(Bambang Poerdyatmono)
2). Penyelesaian sengketa kontraktual (sampai dan setelah penyerahan ke II)
Pada tahap ini dibagi 2 (dua) yaitu : (1) Tahap pekerjaan konstruksi sampai dengan
penyerahan ke II pekerjaan pelaksanaan, dan (2) Tahap operasional yaitu tahap bangunan
dimanfaatkan hingga jangka waktu 10 (sepuluh) tahun.
Tahap yang pertama, kontrak kerja pelaksanaan masih berlaku hingga tahap
penyerahan kedua kalinya, yang sering disebut masa pemeliharaan. Pada masa pemeliharaan
ini segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan pelaksanaan yang masih belum sempurna
(rusak, cacat, kekurangsempurnaan pekerjaan yang ringan) dapat diselesaikan pada masa
sebelum penyerahan kedua kalinya. Waktu pelaksanaan tahap pemeliharaan ini biasanya
singkat sekitar 2 (dua) minggu saja.
Tahap kedua, adalah masa pertanggungan atau jaminan bangunan hingga 10
(sepuluh) tahun kedepan atau masa bangunan dioperasikan/dimanfaatkan. Pada masa ini
segala sesuatu yang berkaitan dengan kerusakan akibat kesalahan/kekurangan pada saat
pelaksanaan pekerjaan konstruksi (masa kontraktual) dilaksanakan. Masa ini kontraktor masih
ikut bertanggung jawab, termasuk konsultan pengawas dan konsultan perencana. Untuk
tahap kedua ini, akan dibahas lebih lanjut dalam kesempatan lain.

2.4. Tanggung Jawab Pelaku Jasa Konstruksi secara Perdata dan Pidana
2.4.1. Tanggung Jawab secara Perdata
Tanggung jawab secara perdata pelaku jasa konstruksi dapat dilihat dari perikatan
yang terjadi antara Pengguna Jasa (pemilik Proyek) dengan Penyedia Jasa (Konsultan atau
Kontraktor). Perikatan yang berbentuk kontrak kerja konstruksi tersebut terkait dengan Kitab
Undang-undang Hukum Perdata Pasal 1233, yaitu bahwa tiap-tiap perikatan dilahirkan, baik
karena persetujuan, dan atau karena undang-undang. Mariam Darus Badrulzaman, (2001),
menurut Ilmu Pengetahuan Hukum Perdata, perikatan adalah hubungan hukum yang terjadi
antara 2 (dua) orang atau lebih, yang terletak di dalam harta kekayaan, di mana pihak yang
satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi tersebut. Semua hak dan
kewajiban pelaksanaan jasa konstruksi tersebut telah tercantum dalam kontrak kerja
konstruksi.

2.4.2. Tanggung Jawab secara Pidana


Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 membuka peluang sanksi pidana bagi pelaku
jasa konstruksi, khususnya Pasal 41 dan Pasal 43 ayat (1), (2), dan (3). Tujuan undang-undang
ini adalah untuk melindungi masyarakat yang menderita sebagai akibat penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi sedemikian rupa.
Pada pinsipnya barang siapa yang merencanakan, melaksanakan maupun mengawasi
pekerjaan konstruksi yang tidak memenuhi persyaratan keteknikan dan mengakibatkan
kegagalan pekerjaan konstruksi (pada saat berlangsungnya pekerjaan konstruksi) atau
kegagalan bangunan (setelah bangunan beroperasi), maka akan dikenai sanksi pidana paling
lama 5 (lima) tahun penjara atau dikenakan denda paling banyak 10% (sepuluh persen) dari
nilai kontrak.
Selain sanksi pidana, para profesional (tenaga ahli) teknik juga akan dikenai sanksi
administrasi sebagaimana yang diatur Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2000 Pasal
31, 32, dan 33 juncto PP Nomor 30 Tahun 2000 Pasal 6 ayat (4).
Sanksi pidana dirasakan perlu mengingat bahwa sanksi lain seperti sanksi administrasi
bagi pelanggaran norma-norma hukum Tata Negara dan Tata Usaha Negara, dan sanksi
perdata bagi pelanggaran norma-norma hukum perdata belum mencukupi untuk mencapai

88
Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90
tujuan hukum, yaitu rasa keadilan. Menurut Wirjono Prodjodikoro (1989), sanksi pidana ini
dapat dianggap sebagai senjata pamungkas (ultimum remedium).

3. KESIMPULAN DAN SARAN


3.1. Kesimpulan
a. Sengketa jasa konstruksi dapat terjadi pada masa precontractual, masa contractual,
dan masa pascacontractual.
b. Pada masa contractual, dapat saja terjadi sengketa pada saat Perencanaan Konstruksi,
Pelaksanaan Konstruksi, dan Pengawasan Konstruksi.
c. Alternatif penyelesain sengketa jasa konstruksi dilakukan melalui jalur konsultasi,
negosisi, mediasi, konsiliasi, pendapat hukum oleh lembaga arbitrase, atau gabungan
kelima jalur tersebut sesuai tingkat kebutuhan. Pada pelaksanaan di lapangan,
penyelesaian sengketa jasa konstruksi, sering dilakukan dengan : site meeting,
arbitrase ad hoc, sedangkan jalur arbitrase institusional dan melalui pengadilan,
sedapat mungkin dihindari.

3.2. Saran
a. Dengan telah diberlakukannya UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi jo PP
Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi jo PP
Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi jo PP Nomor 30
Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa konstruksi, serta Peraturan
Perundang-undangan lain yang berkaitan dengan jasa konstruksi, diharapkan para
profesional teknik pada lingkup perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan proyek
konstruksi mampu mengantisipasi kondisi ini dengan baik.
b. Sengketa precontractual dan sengketa pascacontractual masih belum dibahas dalam
tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA
Badrulzaman, M.D.,1993, KUH Perdata, Buku III, Hukum Perikatan dengan Penyelesiannya,
Penerbit Alumi, Bandung
Shahab, H., 2000, Menyingkap dan Meneropong Undang-undang Arbitrase No. 30 Tahun
1999 dan Penyelesaian Alternatif serta Kaitannya dengan UU Jasa Konstruksi No.
18 Tahun 1999 dan FIDIC., Penerbit Liberty, Jogjakarta.
Poerdyatmono, B., 2003, Sengketa Pelaksanaan Kontrak Kerja Konsultan Pengawas
Konstruksi, Skripsi S-1 llmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Sunan Giri,
Surabaya (tidak dipublikasikan)
Poerdyatmono, B., 2005, Asas Kebebasan Berkontrak (Contractvrijheid Beginselen) dan
Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden) pada Kontrak Jasa
Konstruksi, Jurnal Teknik Sipil, Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,
Universitas Atmajaya, Jogjakarta, Volume 6 No. 1.
Poerdyatmono, B., 2008, Sengketa Jasa Konstruksi sebagai Akibat Terbitnya Beschikking dan
Pelaksanaan Kortverban Contract : Tinjauan Aspek Hukum Manajemen Proyek,
Prosiding Seminar Nasional VII, Program Studi Magister Manajemen Teknologi,
Program Pascasarjana Institut Teknologi 10 November Surabaya
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.
Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi 89
(Bambang Poerdyatmono)
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran
Masyarakat Jasa Konstruksi
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan
Jasa Konstruksi
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan
Pembinaan Jasa Konstruksi
Subekti dan Tjitrosudibio (1999), Kitab Undang-undang Hukum Perdata (terjemahan dari
Burgerlijk Wetboek), Cetakan Ketigapuluh, Penerbit Pradnya Paramita, Jakarta
Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan Kepala Badan
Perencana Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Republik Indonesia Nomor :
S - 42 / A / 2000
tentang Petunjuk Teknis Keputusan Presiden Republik
S.2262 / D.2 / 05 / 2000
Indonesia Nomor 18 Tahun 2000

90
Volume 8 No. 1, Oktober 2007 : 78 - 90
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2007 (SNATI 2007) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 16 Juni 2007

ANALISIS DAN EVALUASI ASPEK MANAJEMEN DALAM STUDI KELAYAKAN


PROYEK
Akhmad Fauzi
Jurusan Teknik Informatika, UPN Veteran Jatim

ABSTRAKSI
Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek dilaksanakan dengan
berhasil. Ada beberapa aspek dalam studi kelayakan proyek, salah satu diantaranya adalah Aspek Manajemen.
Manajemen Proyek adalah suatu sistem dimana kita dapat mengontrol rencana dan jalannya suatu proyek
dalam perencanaan, pengendalian serta pengkoordinasian dari aktivitas yang saling berkaitan. Dalam
manajemen proyek ini, prosedur yang paling utama untuk dipakai adalah PERT-type system. PERT-type system
ini dirancang untuk membantu dalam perencanaan dan pengendalian. Tujuan sistem ini adalah untuk
menghitung tercapainya batas waktu proyek serta untuk menetapkan kegiatan mana dari suatu proyek yang
merupakan bottlenecks (penentuan waktu penyelesaian seluruh proyek). Sehingga dapat diketahui pada kegiatan
mana kita harus bekerja keras agar jadwal dapat terpenuhi sekaligus senantiasa dapat mengawasi dan
membandingkan hasil dari kegiatan yang sudah serta akan dikerjakan.

Kata kunci: Studi kelayakan proyek, Aspek Manajemen, Analisis dan Evaluasi

1. PENDAHULUAN
Studi kelayakan proyek adalah penelitian menghadapi kegiatan khusus yang berbentuk
tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya proyek.
merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan
berhasil. Dua serangkai ungkapan asing doing the 1.1 Permasalahan
right thing (efficient) dan doing thing the right Bagaimana mengendalikan serta
(effective) bukanlah merupakan hal yang baru bagi mengkoordinasi suatu proyek agar dapat
pedoman melakukan suatu kegiatan. Apa yang diselesaikan dengan cara yang paling optimal dan
mungkin masih perlu penjabaran dan perumusan Bagaimana menganalisis tingkat kemajuan suatu
adalah bagaimana melaksanakannya agar tercapai proyek.
maksud dari ungkapan di atas. Pada era globalisasi,
dimana batas antarnegara makin terbuka, produk dan 1.2 Maksud dan Tujuan
jasa dari suatu tempat mudah mencapai tempat lain, Maksud dari perangkat lunak ini adalah dapat
maka hanya mereka yang bekerja dengan prinsip di menjadi suatu sistem yang akan mempermudah kita
atas yang akan memenangkan persaingan dan untuk berpikir cepat dalam menganalisis studi
merebut pasaran, yang pada giliran selanjutnya kelayakan proyek. Dan dengan tujuan dari penelitian
menikmati hasil usahanya lebih dulu dan lebih ini adalah:
banyak. a. Dengan adanya rekayasa perangkat lunak
Di negara yang sedang berkembang, dalam ini bisa menunjang seseorang atau suatu
rangka meningkatkan taraf hidup rakyatnya, tuntutan perusahaan untuk merencanakan dan
akan terselenggaranya kegiatan yang dilandasi mengendalikan proyek sesuai dengan
prinsip-prinsip tersebut makin terasa mengingat jadwal yang direncanakan.
banyaknya kemajuan yang harus dikejar, sedangkan b. Diharapkan dengan adanya studi kelayakan
sumber daya yang tersedia baik yang berupa sumber proyek melalui rekayasa perangkat lunak
daya manusia terampil maupun dana amat terbatas. ini diperoleh suatu proyek yang benar-
Ketinggalan ini diusahakan dikejar dengan benar biasa dikoordinasi secara tepat.
pembangunan disegala bidang. Pembangunan
tersebut berupa pembanguna fisik proyek seperti 1.3 Batasan Masalah
perbaikan perkampungan, prasarana, mendirikan a. Taksiran mengenai waktu yang diperlukan
industri berat dan ringan, jaringan telekomunikasi untuk setiap pekerjaan.
dan lain-lain. Menghadapi keadaan demikian, b. Urutan pekerjaan
langkah yang umumnya ditempuh di samping c. Data Kegiatan Global. Untuk menggunakan
mempertajam prioritas adalah mengusahakan sistem analisis ini, semua kegiatan detail dari
peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan kegiatan global harus sudah terlaksana. Berikut
agar dicapai hasil guna yang maksimal dari sumber data pengeluaran biaya dan tanggal transaksi.
daya yang tersedia. d. Pada sistem ini diasumsikan bahwa program ini
Pengelolaan yang dikenal sebagai dipakai hanya untuk menganalisa proyek
MANAJEMEN PROYEK adalah salah satu cara konstruksi dan semua rencana kegiatan sudah
yang ditawarkan untuk maksud tersebut, yaitu suatu disiapkan untuk proses data dalam sistem.
metode pengelolaan yang dikembangkan secara e. Sebelum menganalisa suatu proyek dengan
intensif sejak pertengahan abad 20 untuk perangkat lunak ini, seorang pemilik proyek

I-1
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2007 (SNATI 2007) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 16 Juni 2007

harus sudah menyiapkan data yang valid, mulai dimaksudkan atau sering disebut sebagai fit for
dari jadwal, biaya dan tenaga kerja. the intended use.
f. Kondisi yang dipakai dalam menggunakan
sistem ini adalah kondisi untuk menganalisa dan 2.2 Proyek dan manajemen fungsional
evaluasi untuk manajemen proyek konstruksi Proyek bukanlah sesuatu yang baru, apa yang
fisik. berubah dan merupakan hal baru adalah dimensi dari
g. Perangkat lunak ini bersifat tidak fleksibel, proyek dan lingkungan sosial yang mengelilinginya
dalam arti akan menganalisa data yang sudah baik dari segi kualitas dan kuantitas. Meskipun
direncanakan dan memberikan analisis proyek bukanlah sesuatu yang baru, namun
berdasarkan data dari pemegang proyek. Maka mengelola kegiatan dengan menggunakan konsep
pemilik proyek harus mengerti dasar manajemen baru merupakan langkah yang relatif
manajemen proyek dan telah mengorganisir baru.
rencana proyeknya dengan baik. Manajemen proyek adalah proses
merencanakan, mengorganisir, memimpin dan
2. LANDASAN TEORI mengendalikan kegiatan anggota serta sumber daya
2.1 Profil Kegiatan Proyek yang lain untuk mencapai sasaran organisasi
Kegiatan proyek dapat diartikan sebagai satu (perusahaan yang telah ditentukan).
kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka
waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu 2.3 Teknik Perencanaan Manajemen Proyek
dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang Pengelolaan proyek-proyek berskala besar
sasarannya telah digariskan dengan tegas. Tugas yang berhasil memerlukan perencanaan,
tersebut dapat berupa membangun pabrik, membuat penjadwalan dan pengkoordinasian yang hati-hati
produk baru atau melakukan penelitian dan dari berbagai aktivitas yang saling berkaitan. Untuk
pengembangan. Adapun ciri-ciri pokok sebuah itu, maka pada tahun 1950 telah dikembangkan
proyek adalah: prosedur-prosedur formal yang didasarkan atas
1. Memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau penggunaan network (jaringan) dan teknik-teknik
hasil kerja akhir. network. Prosedur yang paling utama dalam
2. Jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu prosedur-prosedur ini dikenal dengan PERT
dalam proses mencapai tujuan diatas telah (Program Evaluation and Review Techniques) dan
ditentukan. CPM (Critical Path Method). Kecenderungan pada
3. Bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi dewasa ini adalah menggabungkan kedua
oleh selesainya tugas. Titik awal dan akhir pendekatan tersebut menjadi apa yang biasa dikenal
ditentukan dengan jelas. sebagai PERT-type sistem.
4. Nonrutin, tidak berulang-ulang. Jenis dan Walaupun PERT-type sistem ini pada
intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek mulanya digunakan untuk mengevaluasi
berlangsung. penjadwalan program penelitian dan pengembangan,
kini digunakan pula untuk mengukur dan
Selain ciri di atas sebuah proyek harus mengendalikan kemajuan berbagai tipe proyek
mempunyai parameter. Parameter ini sangat penting khusus lainnya. Sebagai contoh dari tipe-tipe proyek
bagi penyelenggara proyek yang sering ini adalah program-program konstruksi,
diasosiasikan sebagai sasaran proyek, antara lain: pemrograman komputer, rencana pemeliharaan dan
1. Anggaran. Proyek harus diselesaikan dengan pemasangan sistem komputer.
biaya yang tidak melebihi anggaran. Untuk PERT-type sistem ini dirancang untuk
proyek-proyek yang melibatkan dana dalam membantu dalam perencanaan dan pengendalian.
jumlah yang besar dan jadwal bertahun-tahun, Tujuan sistem ini adalah untuk menentukan
anggarannya bukan hanya ditentukan untuk total probabilitas tercapainya batas waktu proyek serta
proyek tetapi dipecah bagi komponen- untuk menetapkan kegiatan mana (dari suatu
komponennya, atau per periode tertentu yang proyek) yang merupakan bottlenecks (penentukan
jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. waktu penyelesaian seluruh proyek) sehingga dapat
Dengan demikian, penyelesaian bagian-bagian diketahui pada kegiatan mana kita harus bekerja
proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran keras agar jadwal dapat terpenuhi.
per periode. Seperti telah diterangkan di atas, PERT-type
2. Jadwal. Proyek harus dikerjakan sesuai dengan sistem menggunakan network (jaringan kerja) untuk
kurun waktu dan tanggal akhir yang telah menggambarkan interelasi di antara elemen-elemen
ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, proyek. Gambar jaringan rencana proyek ini
maka penyerahannya tidak boleh melewati batas memperlihatkan seluruh kegiatan (aktivitas) yang
waktu yang ditentukan. terdapat di dalam proyek tersebut serta logika
3. Mutu. Produk atau hasil kegiatan proyek harus kebergantungannya satu sama lain.
memenuhi spesifikasi dan kriteria yang Sebenarnya masa pembangunan proyek
dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil adalah bukan hanya pembangunan sarana fisik saja,
kegiatan proyek tersebut berupa instalasi pabrik, tetapi berbagai sarana lain, sampai sarana melakukan
maka kriteria yang harus dipenuhi adalah pabrik produksi percobaan (trial run). Kegiatan yang
harus mampu memenuhi tugas yang penting adalah bagaimana kita bisa menjadwal

I-2
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2007 (SNATI 2007) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 16 Juni 2007

berbagai kegiatan yang memerlukan berbagai serta menunjang suatu organisasi atau perusahaan
sumber daya, mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan untuk mengendalikan suatu proyek jika dirasa
tersebut agar membentuk suatu kegiatan, sehingga kurang layak. Dengan kata lain perancangan sistem
proyek nantinya bisa beroperasi tepat pada perangkat lunak ini dapat dijadikan tolok ukur dalam
waktunya. Tentu saja, dalam penyalesaian kegiatan- mendirikan suatu proyek berjangka waktu dan
kegiatan ini perlu diperhatikan faktor biaya. Secara sebuah proyek yang besar.
umum akan ada trade off antara biaya dan waktu
penyelesaian. Semakin cepat waktu penyelesaian, 3.1 Sistematika Sistem
semakin tinggi biaya yang harus ditanggung. Setelah tersusun rencana dan jadwal, biaya,
Langkah pertama merancang pelaksanaan tenaga kerja proyek yang cukup realistik, kemudian
proyek ialah membaginya ke dalam berbagai dapat dipakai tolok ukur atau alat pembanding dalam
kegiatan. Kegiatan-kegiatan perlu diidentifikasi dan kegiatan pengendalian pada tahap implementasi
hubungan antar kegiatan tersebut harus jelas. fisik. Yaitu dengan memperbandingkan antara
Berdasar pembagian ini pula dapat dilakukan alokasi perencanaan atau jadwal dengan hasil pelaksanaan
sumber daya dan waktu. Dengan demikian, dapatlah nyata di lapangan.
pemberi proyek mengetahui secara garis besar,
kegiatan apa saja yang dilakukan untuk 3.2 Algoritma Sistem
menyelesaikan proyek tersebut serta berapa dana dan Berikut adalah Algoritma sistem dari program
waktu untuk menyelesaikan proyek tersebut. rancang bangun perangkat lunak Metode PERT-
Langkah kedua ialah menentukan Type System. Adapun Algoritma sistem adalah
skedul/jadwal kegiatan dalam proyek. Semua sebagai berikut:
kegiatan disusun dalam suatu rencana yang
menyeluruh, sehingga bisa diperkirakan kapan a. Algoritma sistem untuk identitas perusahaan
proyek tersebut akan selesai dan beroperasi secara Algoritma identitas perusahaan adalah sistem
komersial. awal untuk terjadinya komitmen antara developer
Dalam hal ini biasanya digunakan bantuan proyek sebagai analisis terhadap proyek yang
teknik atau cara seperti bagan GANTT atau dikerjakan. Sistem ini berisi nama
diperluas dengan mempergunakan analisis network perusahaan/organisasi, alamat organisasi, no telp,
seperti PERT (Program Evaluation and Review tanggal dimulainya kegiatan sampai selesainya
Technique) dan CPM (Critical Path Method). kegiatan. Algoritma sistem identitas perusahaan:
Kedua teknik ini merupakan suatu cara untuk Memasukkan identitas perusahaan/organisasi
merencanakan penyelesaian pekerjaan, yaitu nama, alamat, no telp.
memperkirakan waktu yang diperlukan. Secara Sebagai awal suatu organisasi harus mengisi
formal kedua teknik ini sering didefinisikan sebagai tanggal deal di mulainya kegiatan sampai
selesainya kegiatan.
suatu metode unutuk menjadwal dan
menganggarkan sumber-sumber daya untuk
b. Algoritma Sistem untuk waktu kegiatan
menyelesaikan pekerjaan pada jadwal yang sudah
Suatu kegiatan masing-masing mempunyai
ditentukan.
waktu estimasi sendiri-sendiri. Sistem yang dibuat
Perancangan dari aspek manajemen ini akan
ini menggunakan probabilitas 3 kurun waktu yaitu
menganalisa 3 faktor yang merupakan syarat yang
waktu pesimis (tp), waktu optimis (to), waktu tengah
harus di kerjakan agar suatu proyek dikatakan layak
(tm) algorithma untuk sistem di atas adalah sebagai
dari segi manajemen, yaitu:
berikut: Metode PERT-Type System:
1. Penentuan atau taksiran waktu (Duration Time). Masukkan nama kegiatan yang akan dilaksanakan.
2. Penentuan waktu dalam menyelesaikan suatu Masukkan waktu yaitu To, Tm, Tp
proyek atau urutan kegiatan. Dari masukkan no 1 dan 2 akan di dapat Te (waktu
3. Perencanaan Sumber Daya Manusia/tenaga estimasi) dan Varian (V).
Kerja
4. Perkiraan biaya proyek. Pada saat suatu organisasi telah melakukan
5. Analisis hasil kelayakan proyek perjanjian untuk mengadakan analisis proyek
selanjutnya organisasi akan menginputkan data
3. ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM sesuai dengan aliran di atas, yaitu nama kegiatan dan
Pengelola proyek selalu ingin mencari metode waktu (d). Dari masukan seorang user akan di dapat
yang dapat meningkatkan kualitas perencanaan dan waktu estimasi dan varian.
pengendalian untuk menghadapi jumlah kegiatan
dan kompleksitas proyek yang cenderung c. Algoritma Network/Kegiatan
bertambah. Usaha tersebut membuahkan hasil Algoritma sistem ini dikatakan Algoritma
dengan ditemukannya Analisis Jaringan Kerja network, karena kegiatan-kegiatan yang di
(Network Analysis). Dalam penelitian ini akan masukkan oleh user akan saling terkait sehingga
dikembangkan beberapa metode untuk Analisis membentuk suatu jaringan. Ada beberapa kegiatan
Jaringan Kerja (Network Analysis) sesuai dengan yang belum bisa berlangsung sebelum kegiatan
aturan metode dalam aspek manajemen. tertentu di laksanakan, untuk itu ketika semua
Komputerisasi metode PERT-Type System kegiatan telah di inputkan akan ada sistem yang
ini membantu dalam perencanaan dan perkiraan meminta untuk menginputkan ada tidaknya kegiatan

I-3
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2007 (SNATI 2007) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 16 Juni 2007

yang saling mendahului. Algorithma untuk sistem kelayakan proyek ini. Berikut Algoritma alur
Algoritma network: sistem untuk evaluasi:
Inputkan nama kegiatan beserta kegiatan yang Tiap-tiap kegiatan global mempunyai anggaran
saling terhubung biaya sendiri-sendiri, dimana biaya-biaya tersebut
Setelah semua record untuk no 1, maka dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan detail. Biaya-
dilakukan perhitungan untuk mencari waktu mulai biaya tersebut dikeluarkan setiap ada kebutuhan
dan selesai kegiatan terlama dan tercepat dengan yang membutuhkan biaya tersebut. Biaya-biaya
perhitungan sebagai berikut: tersebut keluar tiap-tiap tanggal-tanggal tertentu.
TL = TE = ES = 0 Maksud dari sistem evaluasi ini adalah developer
ES = max(EF1, EF2,..., EFn) atau orang yang memegang keuangan dari
LF = min(LS1, LS2,..., LSn) kegiatan global bisa memantau dan
EF(i, j) = ES(i, j) + t(i, j) membandingkan jumlah target pengluaran dengan
LS(i,j) = LF(i, j) + t(i, j) pengeluaran sesungguhnya.
S = LS ES
g. Algoritma sistem untuk laporan hasil analisis
Dari perhitungan ini pula akan kita dapatkan Penekanan sebelum memperoleh hasil
kegiatankegiatan mana yang merupakan kegiatan analisis, seorang developer pengguna sistem ini
kritis. harus benar-benar mempunyai rencana atau data
valid yang nantinya bisa digunakan sebagai bahan
d. Algoritma sistem untuk sumber tenaga perbandingan antara rencana dengan
manusia keadaan/laporan sesungguhnya.
Tenaga kerja merupakan faktor penunjang
berdirinya suatu proyek, banyak sedikitnya tenaga 3.3 Struktur Pembuatan Sistem
kerja sangat mempengaruhi berhasil tidaknya suatu Proses pembuatan sistem ini pada dasarnya
proyek, sedangkan tenaga kerja itu sendiri adalah suatu cara bagaimana antara satu Algoritma
dipengaruhi oleh biaya proyek. Setiap kegiatan pasti sistem satu dengan Algoritma sistem yang lain dapat
akan membutuhkan tenaga kerja. Algorithma untuk tercipta suatu sistem yang terstruktur sesuai dengan
sistem Sumber Daya Manusia adalah sebagai tujuan sistem.
berikut:
Setiap perusahaan/organisasi sebelumnya harus a. Alur Sistem
sudah mempunyai gambaran untuk tenaga kerja Untuk mencapai sebuah tujuan yang
setiap masing-masing kegiatan yang akan di
laksanakan. diinginkan, sebuah sistem harus mempunyai alur
Setelah semua tenaga kerja kita ketahui, maka yang jelas. Untuk mendapatkan sebuah perangkat
mulai memanfaatkan adanya kegiatan yang lunak yang sesuai maka dibutuhkan alur yang
merupakan kegiatan kritis. Disini waktu kegiatan terarah. Pada sistem perangkat lunak ini alur
bisa di tunda sehingga untuk tenaga kerja bisa dibentuk dari Algoritma-Algoritma sistem yang
dikurangi atau ditambah. masih berdiri sendiri.
Akan didapatkan jumlah tenaga kerja yang Hubungan Algoritma-flowcart sistem ini akan
optimal. distrukturkan dalam sebuah tabel sehingga akan
membentuk suatu perangkat lunak sesuai dengan
e. Algoritma Sistem untuk Biaya tujuannya. Berikut Algoritma alur sistem perangkat
Disinilah letak pelaksanaan vital suatu lunak PERT-Type System:
kegiatan yang menunjang semua kegiatan suatu Sistem ini adalah penerapan dari sebuah metode
proyek. Biaya proyek menjadi pemicu maju yaitu metode PERT-Type System. Pengguna
tidaknya terselesaikannya suatu proyek. Biaya perangkat lunak akan memakai metode tersebut
sangat dipengaruhi faktor-faktor penunjang yaitu, untuk mendapatkan hasil perbandingan analisis
waktu kegiatan dan tenaga kerja. proyeknya.
Pengelolaan besar kecilnya biaya suatu Pengguna perangkat lunak akan
proyek akan sangat mempengaruhi indeks prestasi mengisi/menginput data sesuai arahan dari
perangkat lunak/sistem, dengan sistem ini nantinya
suatu proyek. Algorithma untuk sistem perhitungan developer/pengguna dapt mempunyai bahan
biaya adalah sebagai berikut: perbandingan serta bahan penelitian dari rencana
Setiap perusahaan/organisasi sebelumnya harus proyek yang sedang dikerjakan.
sudah mempunyai gambaran untuk rencana
keuangan atau keluarnya uang setiap kegiatan
global yang mencakup biaya tenaga kerja maupun b. Proses Kerja Sistem
biaya material.. Rangkaian dari Algoritma sistem diatas akan
Setelah semua rencana kita ketahui, maka akan membentuk suatu tujuan sistem yang besar yang
didiapat besarnya biaya sesuai dengan kebutuhan akan membentuk suatu kinerja dan tujuan yang
yaitu, biaya tenaga kerja, biaya alat, dan biaya diharapkan. Sebagai catatan penting, dalam
material. penggunaan sistem ini orang/developer adalah orang
yang benar-benar mengerti tentang studi kelayakan
f. Algoritma sistem untuk evaluasi proyek khususnya Manajemen Proyek atau
Evaluasi rencana proyek adalah salah satu MENPRO. Aspek Manajemen proyek ini
tujuan utama dari tujuan keseluruhan pembuatan mempunyai ciri sendiri dalam aplikasinya, yaitu
dengan menggunakan metode PERT dan metode

I-4
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2007 (SNATI 2007) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 16 Juni 2007

CPM. Dewasa ini kedua metode tersebut kedua untuk memenuhi kebutuhan seorang developer.
metode tersebut digabung menjadi Metode PERT- Menu-menu tersebut merupakan menu tampilan di
Type System. Kinerja metode ini adalah layar, sehingga pengolahan datanya disesuaikan
berhubungan dengan estimasi waktu, biaya dan dengan bagian kerja dari menu-menu tersebut.
tenaga kerja proyek. Sebelum dijelaskan tentang Untuk menguji validitas dari perangkat lunak
kinerja atau jalan dari sistem evaluasi proyek ini, metode PERT-Type System ini maka akan lebih
maka akan digambarkan alur kinerja sistem. Berikut teruji dengan adanya studi kasus. Berikut studi kasus
ini adalah alur proses kinerja dari sistem evaluasi yang disajikan untuk menguji validasi program.
dan analisis proyek:
4.3 Studi Kasus
Suatu sistem atau perancangan tanpa
pengujian maka tidak akan teruji validitasnya.
Berikut contoh studi kasus yang permasalahannya
akan dikerjakan dengan sistem evaluasi dan analisa.

KASUS:
PT. Sapisalto merupakan salah satu PT Farmasi
besar di Palembang yang bergerak dalam bidang
peracikan obat. PT ini akan membangun cabang,
sebuah Laboratorium untuk peracikan obat dengan
Gambar 1. Alur Kinerja Sistem Evaluasi dan nama Laboratorium Cinta Manis. Sebelum
Analisis Proyek menganalisa pembangunan kasus ini, developer
proyek telah menyiapkan data-data atau langkah-
3.4 Struktur Sistem langkah aktivitas pembangunan proyek. Kegiatan
Langkah awal pembentukan sistem adalah kegiatan pembangunan laboratorium ini dibagi
menstrukturkan perancangan sistem, sehingga sistem menjadi 2 yaitu kegiatan global dan kegiatan detail.
yang terbentuk akan valid dan menghindari Langkah awal untuk menguji studi kasus
redudansi data. Struktur sistem dalam perancangan adalah menjalankan implementasi dari program.
perangkat lunak ini terbagi 4 tahap: Sesuai dengan menu-menu yang tersedia, maka
Data Flow Diagram seorang developer harus mengerti dengan tahap-
Bagan Berjenjang tahap yang telah disediakan, dimana tahap-tahap
Entity Relation Diagram tersebut harus diikuti secara terstruktur. Tahap awal
adalah tergambar seperti gambar 2.
Diagram arus data atau data flow diagram
merupakan gambaran arus suatu proses data dari
sistem dengan file database, hal ini bertujuan untuk
memudahkan pemahaman terhadap sistem yang
dikembangkan. Berikut adalah data flow diagram
untuk perancangan perangkat lunak sistem Metode
PERT-Type.

4. IMPLEMENTASI
4.1 Struktur Program
Perancangan program ini menggunakan
bahasa pemrograman Borland Delphi. Dalam
menangani data-data rencana proyek terdapat
beberapa fasilitas yang dimiliki oleh program ini,
antara lain:
1. Tampilan pada program ini dirancang dengan
bentuk dan bahasa yang mudah dipakai oleh Gambar 2. Menu Awal
semua user, sehingga bagi user pemula dapat
juga mengoperasikan program ini setelah Pada tahap analisa biaya masing-masing
mendapat pelatihan tentunya. global ini dilakukan dengan cara analisa per tanggal,
2. Fasilitas pemasukan data pada program ini maksud dari analisa ini adalah mengkoordinasi biaya
dirancang sebaik mungkin guna menghindari yang telah ditargetkan sebelumnya. Dari sini seorang
kesalahan dalam pemasukan data. developer dapat mengetahui jumlah uang yeng
keluar berdasarkan tanggal pengeluaran atau
4.2 Struktur Menu Program dan transaksi.
Implementasinya Analisa biaya adalah maksud utama dari
Pengolahan data proyek pada program ini implementasi ini. Setelah semua proses inputan
terkelompok dalam menu utama. Menu-menu yang dilakukan seorang developer dapat melihat hasil
terkelompok dalam menu utama tersebut inputan atau view proyek yang terdiri dari
mempunyai memu-menu pilihan yang disediakan perbandingan hasil analisa dan data asli. Berikut
tampilan form untuk view proyek hasil analisa.

I-5
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2007 (SNATI 2007) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 16 Juni 2007

Gambar 5. Form Report Studi Kelayakan Proyek


Gambar 3. Form Analisa Biaya Proyek Awal

Dapat dilihat melalui tampilan gambar di atas, 5. KESIMPULAN


disamping kita bisa megetahui analisa biaya Memberikan solusi bagi masyarakat terutama
berdasarkan tanggal dan jam, disana juga terdapat untuk perusahaanperusahaan atau organisasi-
fasilitas untuk melihat laporan. Jika data asli yang organisasi untuk lebih mudah merencanakan dan
dipilih maka akan ditampilkan laporan seperti awal menganalisa proyek yang akan dikerjakan. Mulai
inputan proyek dan jika hasil analisa yang dipilih dari segi waktu, biaya, tenaga kerja, sehingga
maka bisa dilihat data dalam grid serta dapat juga nantinya rencana akan lebih terstruktur dan akan
melihat laporan analisa dan laporan diagram. Berikut mengurangi kesalahan-kesalahan pada saat
tampilan laporan analisa proyek. pelaksanaan proyek.
Berdasarkan tampilan diatas seorang Sistem ini dapat membantu untuk
developer dapat menganalisa antara rencana dan data mempermudah perhitungan riset operasi manajemen
asli. Berikut tampilan diagram untuk mengetahui proyek yang selama ini masih dilakukan secara
perkembangan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan manual.
suatu proyek. Dengan adanya metode PERT-Type System
ini, developer atau pengguna perangkat lunak ini
akan lebih mudah merestruktur ulang proyeknya
terutama waktu proyek.

PUSTAKA
[1] Hamdy A Taha, Riset Operasi, Binarupa
Aksara, Jakarta, 1997.
[2] Iman Soeharto, Manajemen Proyek Industri,
Erlangga, Jakarata, 1990.
[3] Imam Soeharto, Manajemen Proyek, Erlangga,
Jakarta, 1997.
[4] M. Agus J. Alam, Borland Delphi 5.0, Elex
Media Komputindo, Jakarta, 2000.
[5] Roger S. Pressman, Ph.D., Rekayasa Perangkat
Gambar 4. Form Analisa Diagram Lunak, Andi Yogyakarta, Yogyakarta, 1997.
[6] Suad Husno, Suwarno, Studi Kelayakan Proyek,
Dengan bantuan sebuah laporan diagram Unit Penerbit dan Percetakan (UUP) AMP
seorang developer sudah dapat mengetahui YKPN, Yogyakarta, 1999.
prosentase jalannya kegiatan serta dapat mengetahui [7] TjuTju Tarliah Dimyati, Ahmad Dimyanti,
tingkat kemajuan yang dicapainya berdasarkan Operation Research, Sinar Baru Algensindo,
kurun waktu tertentu. Dalam mengadakan analisis Bandung, 1992.
[8] Wulfram I. Ervianto, Manajemen Proyek
melalui program ini, user akan mendapatkan laporan
akhir dari rencana proyek keseluruhan. Berikut Konstruksi, Andi Yogyakarta, Yogyakarta,
tampilan bentuk-bentuk laporan akhir: 2002.

I-6
ANALISA WHAT IF SEBAGAI METODE ANTISIPASI KETERLAMBATAN DURASI PROYEK (Ratna S. Alifen)

ANALISA WHAT IF SEBAGAI METODE ANTISIPASI


KETERLAMBATAN DURASI PROYEK

Ratna S. Alifen
Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Kristen Petra

Ruben S. Setiawan, Andi Sunarto


Alumni, Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil, Universitas Kristen Petra

ABSTRAK

Jaringan kerja proyek terdiri dari berbagai jenis aktivitas yang saling berkaitan antara satu
dengan yang lain. Bila terjadi keterlambatan pada salah satu jenis aktivitas, sering kali akan
menyebabkan keterlambatan durasi proyek secara keseluruhan. Salah satu usaha untuk
mengantisipasi keterlambatan durasi proyek adalah dengan melakukan percepatan durasi
aktivitas pengikut.

Metode Jalur Kritis atau Critical Path Method (CPM) merupakan suatu metode penjadwalan
proyek yang sudah dikenal dan sering digunakan sebagai sarana manajemen dalam pelaksanaan
proyek. Sebuah studi telah dilakukan untuk mengatasi masalah percepatan durasi aktivitas
sebagai langkah antisipasi keterlambatan proyek, dengan analisa what if yang diterapkan pada
jadwal CPM. Percepatan durasi dilakukan pada aktivitas-aktivitas pengikut dengan menambah
jumlah jam kerja dan jumlah pekerja pada aktivitas percepatan.

Kata kunci: Keterlambatan proyek, percepatan durasi, jadwal CPM, analisa what if, float.

ABSTRACT

A project network is composed of various activities interrelated in a sequencial relationship. If


delay occurs on one activity, it will eventually cause the project overall duration to delay. To
anticipate the project delays one could accelarate the succeeding activity in the network.

Critical Path Method (CPM) is a management tool which is widely used in the construction
project. In this study what if analysis is used to anticipate project delays by accelarating the
activities on CPM schedule. The accelaration actions are treated in accordance with additional
working hours and man-power in the succeeding activities.

Keywords: Project delay, project accelaration, CPM scheduling, what if analysis, float.

PENDAHULUAN biaya proyek. Secara umum keterlambatan


proyek sering terjadi karena adanya per-
Waktu adalah uang; nilai waktu semakin ubahan perencanaan selama proses pelak-
menjadi elemen yang kritis dalam proses sanaan, manajerial yang buruk dalam
pelaksanaan sebuah proyek, dengan tingginya organisasi kontraktor, rencana kerja yang
tingkat suku bunga dan laju inflasi yang tidak tersusun dengan baik/terpadu, gambar
semakin terasa pada beberapa tahun terakhir dan spesifikasi yang tidak lengkap, dan
ini, keterlambatan proyek menjadi kontribusi kegagalan kontraktor dalam melaksanakan
utama terhadap terjadinya pembengkakan pekerjaan [1].

Keterlambatan proyek sering kali menjadi


Catatan : Diskusi untuk makalah ini diterima sebelum sumber perselisihan dan tuntutan antara
tanggal 1 Desember 1999. Diskusi yang layak muat akan pemilik dan kontraktor, sehingga keter-
diterbitkan pada Dimensi Teknik Sipil vol. 2 no. 1
lambatan proyek akan menjadi sangat mahal
Maret 2000.

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra 103
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
DIMENSI TEKNIK SIPIL VOL. 1, NO. 2, SEPTEMBER 1999 : 103 - 113

nilainya baik ditinjau dari sisi kontraktor non-kritis yang saling berkaitan antara satu
maupun pemilik. Kontraktor akan terkena dengan yang lain. Aktivitas kritis adalah
denda penalti sesuai dengan kontrak, di aktivitas yang tidak dapat diganggu gugat
samping itu kontraktor juga akan mengalami waktu pelaksanaannya yaitu ES=LS dan
tambahan biaya overhead selama proyek EF=LF (ES=Early Start adalah waktu paling
masih berlangsung. Dari sisi pemilik keterl- awal dimulainya aktivitas; LS=Late Start
ambatan proyek akan membawa dampak adalah waktu paling lambat aktivitas harus
pengurangan pemasukan karena penundaan dimulai; EF=Early Finish adalah waktu
pengoperasian fasilitasnya. Berdasarkan paling awal selesainya aktivitas; LF=Late
alasan tersebut diatas, maka seorang manajer Finish adalah waktu paling lambat aktivitas
proyek yang kompeten biasanya akan harus selesai), sehingga bila terjadi keter-
mengambil langkah antisipasi yaitu melaku- lambatan pada aktivitas-aktivitas ini, durasi
kan usaha percepatan aktivitas proyek, bila proyek secara keseluruhan akan terlambat.
disinyalir adanya indikasi keterlambatan Aktivitas non-kritis adalah aktivitas yang
proyek, karena keterlambatan pada salah memiliki tenggang waktu (float) yaitu LS>ES
satu aktivitas kritis maupun non-kritis. dan LF>EF, dimana tenggang waktu tersebut
sangat berperan di dalam usaha percepatan
Analisa what if sebagai metode antisipasi durasi proyek.
keterlambatan durasi proyek merupakan
sebuah studi yang bertujuan melengkapi Perencanaan jadwal proyek dapat dilakukan
seorang manajer proyek di dalam memonitor dengan baik dan realitis, apabila di dalam
proyek untuk menghindari keterlambatan proses perencanaan jadwal dilakukan secara
durasi proyek [2]. Analisa what if dilakukan bertahap dengan langkah-langkah (1) Meng-
sebelum proyek dilaksanakan, dan dapat identifikasi jenis-jenis aktivitas proyek; (2)
digunakan sebagai acuan bagi manajer proyek Menentukan durasi masing-masing aktivitas
untuk dapat segera mengambil keputusan sesuai dengan produktivitas sumber daya
yang tepat dan efektif, bila terjadi ketidak yang ada; (3) Menentukan hubungan antar
sesuaian jadwal aktual dengan jadwal aktivitas, dan urutan kerja antara aktivitas
rencana. Hasil analisa disajikan dalam bentuk yang satu dengan yang lain. (4) Melihat
grafik yang sangat komunikatip dan mudah kembali apakah durasi dan urutan aktivitas
digunakan, dimana grafik ini menunjukkan sudah masuk akal dan bisa dilaksanakan
hubungan antara jenis aktivitas yang dilapangan? [3] (Gambar 1).
dipercepat dengan jumlah tambahan pekerja
atau jumlah tambahan jam kerja per hari. Identifikasi Aktivitas Proyek

LANDASAN TEORI
Estimasi Durasi Aktivitas
Metode Jalur Kritis
Metode jalur kritis atau Critical Path Method
(CPM), pertama kali digunakan di Inggris Penyusunan Urutan Aktivitas
pada pertengahan tahun 50-an pada suatu
proyek pembangkit tenaga listrik [3], ke-
mudian pada tahun 1956-1958 metode ini
dikembangkan dan disempurnakan oleh Penyusunan Jadwal Proyek
Walker dan Kelley dari dua perusahaan
Amerika, E.I. du Pont de Nemours Co., dan
Remington Rand Co. [4]. CPM yang banyak
Analisa dan Peninjauan-ulang
digunakan sekarang adalah hasil pengem-
bangan yang dilakukan oleh Fondahl dari
Stanford University pada tahun 1961, yaitu
metode CPM yang dibantu oleh program tidak
komputer, baik dalam perhitungan, maupun OK?
dalam penyusunan urutan pelaksanaan akti-
vitas proyek [3]. ya

CPM merupakan suatu model grafis yang


Pelaksanaan dan Penerapan Jadwal
menunjukkan waktu pelaksanaan suatu sis-
tim operasi proyek. Sebuah jadwal CPM
terdiri dari serangkaian aktivitas kritis dan Gambar 1. Langkah-Langkah Pembuatan Jadwal Proyek

104 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
ANALISA WHAT IF SEBAGAI METODE ANTISIPASI KETERLAMBATAN DURASI PROYEK (Ratna S. Alifen)

Keterlambatan Proyek dan Percepatan pada satu aktivitas maka harus dilakukan
Durasi Aktivitas percepatan durasi pada aktivitas berikutnya.
Disini peranan float pada setiap aktivitas
Keterlambatan proyek dapat disebabkan oleh menjadi sangat penting. Float adalah teng-
pihak kontraktor, pemilik, atau disebabkan gang waktu atau waktu ekstra pada aktivitas
oleh keadaan alam dan lingkungan diluar non-kritis di dalam jadwal CPM. Keberadaan
kemampuan manusia atau disebut dengan float dalam jadwal CPM merupakan komoditi
force majeur. Standard dokumen kontrak yang yang bernilai dan bersifat dinamis yang
diterbitkan oleh AIA (American Institute of bermanfaat bagi kontraktor maupun pemilik
Architects) membedakan keterlambatan pro- di dalam pengaturan aktivitas non-kritis,
yek menjadi 3 kelompok yaitu (1) Excusable/ terutama dalam hal alokasi sumber daya
compensable adalah keterlambatan yang ber- proyek dalam konteks percepatan durasi
alasan dan dapat dikompensasi. (2) Excu- aktivitas [6].
sable/noncompensable adalah keterlambatan
yang beralasan, tetapi tidak dapat dikom- Analisa What If Pada Model CPM
pensasi. (3) Non-excusable adalah keterlam-
batan yang tidak beralasan [5]. Analisa what if banyak digunakan pada
studi ekonomis yang merupakan tindak lanjut
Kasus keterlambatan yang beralasan dan dari pada evaluasi ekonomis, untuk menguji
dapat dikompensasi adalah keterlambatan sensitivitas parameter suatu perencanaan
yang disebabkan oleh pihak pemilik dalam terhadap keadaan yang akan datang, dimana
kaitannya karena tidak dapat menyediakan dengan adanya perubahan parameter akan
jalan tempuh ke proyek, perubahan gambar mempengaruhi hasil proposal yang telah
rencana, perubahan lingkup pekerjaan kon- direncanakan [7]. Hasil analisa dari pengujian
traktor, keterlambatan dalam menyetujui parameter disajikan dalam bentuk grafik
gambar kerja, jadwal, dan material, kurang- sensitivitas yang menunjukkan pengaruh dari
nya koordinasi dan supervisi lapangan, pada perubahan parameter (biasanya dalam
pembayaran tertunda, campur tangan pemilik prosentasi) terhadap hasil akhir dari pada
yang bukan wewenangnya. Dalam kasus ini proposal studi ekonomis. Penampilan grafik
kontraktor berhak atas dispensasi waktu dan merupakan hasil konsolidasi data analisa
biaya ekstra. yang mudah digunakan dan dimengerti.

Kasus keterlambatan yang beralasan, tetapi Analisa what if merupakan metode sensi-
tidak dapat dikompensasi adalah keterlam- tivitas yang sering dilakukan di balik proses
batan yang diluar kemampuan baik kontrak- pengambilan keputusan, karena adanya ke-
tor maupun pemilik. Sebagai contoh, cuaca tidak pastian dan keraguan di dalam dunia
buruk, kebakaran, banjir, pemogokan buruh, kenyataan. Seorang pembuat keputusan
peperangan, perusakan oleh pihak lain, (decision maker) yang berpengalaman sering
larangan kerja, wabah penyakit, inflasi/ kali tidak hanya berpacu pada rencana
eskalasi harga dan lain sebagainya. Kasus ini tunggal, biasanya mereka akan memper-
biasanya disebut dengan force majeur. timbangkan adanya kemungkinan-kemung-
kinan yang akan menyebabkan ketidak
Kasus keterlambatan yang tidak beralasan sesuaian dengan apa yang telah direncana-
adalah keterlambatan yang disebabkan kare- kan.
na kegagalan kontraktor memenuhi tanggung
jawabnya dalam pelaksanaan proyek. Sebagai Proyek konstruksi yang bersifat sangat
contoh, kekurangan dalam penyediaan sum- fleksibel dan kompleks merupakan pekerjaan
ber daya proyek (manusia, alat, material, sub- yang sangat beresiko tinggi, karena dilak-
kontraktor, uang), kegagalan koordinasi sanakan di luar dan tergantung pada banyak
lapangan, kegagalan perencanaan jadwal, pihak yang terlibat, sehingga analisa what if
produktivitas yang rendah, dan sebagainya. dirasakan perlu untuk diterapkan pada
Dalam kasus ini kontraktor akan terkena perencanaan model CPM. Analisa what if
denda penalti sesuai dengan kontrak. pada model CPM menanyakan Bagaimana
bila terjadi keterlambatan pada salah satu
Keterlambatan proyek seharusnya dapat aktivitas?, disini akan terlihat peranan float
diantisipasi sejak awal proyek dilaksanakan, pada aktivitas-aktivitas non kritis, kemudian
yaitu dengan memonitor setiap aktivitas di langkah percepatan durasi dilakukan pada
dalam jadwal CPM, jika keterlambatan terjadi aktivitas-aktivitas pengikut agar durasi

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra 105
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
DIMENSI TEKNIK SIPIL VOL. 1, NO. 2, SEPTEMBER 1999 : 103 - 113

proyek tidak terlambat dan berlangsung atau menyerahkan paket kerja tertentu
dengan efektif. Percepatan durasi aktivitas- kepada sub-kontraktor.
aktivitas dilakukan dengan menambah jam 4) Kepadatan tenaga kerja; dinyatakan
kerja dan jumlah pekerja per hari. dengan perbandingan antara skala proyek
dengan jumlah pekerja atau luas tempat
Produktivitas Pekerja kerja bagi setiap tenaga kerja. Faktor
kepadatan tenaga kerja sangat ber-
Secara umum produktivitas adalah merupa- pengaruh terhadap kelancaran pekerjaan
kan tingkat produksi yaitu output dibagi dan produktivitas pekerja.
input. Di bidang konstruksi output adalah
hasil kerja berupa kuantitas atau volume Percepatan durasi aktivitas dapat dilakukan
pekerjaan (misalnya meter kubik beton, meter dengan meningkatkan produktivitas pekerja
persegi dinding bata, dan sebagainya), pada aktivitas yang bersangkutan. Berdasar-
sedangkan input adalah merupakan jumlah kan pada persamaan (1), langkah percepatan
sumber daya (misalnya manusia, peralatan, durasi hanya dapat dilakukan pada dua
material) yang menghasilkan unit volume variabel saja, yaitu jumlah pekerja dan jam
pekerjaan. Kelancaran dan ketepatan jadwal kerja, sedangkan total jam-orang tidak dapat
pelaksanaan proyek sangat bergantung pada digunakan sebagai variabel, karena bersifat
produktivitas kerja dari masing-masing jenis konstan untuk setiap aktivitas.
pekerja yang terlibat di dalamnya, sehingga
tingkat keahlian dari pekerja menjadi salah Berdasarkan pada dua variabel tersebut di-
satu faktor yang berpengaruh terhadap atas, beberapa kemungkinan percepatan yang
produktivitas [8]. dapat dilakukan adalah (1) Dengan me-
nambah jam kerja dengan jumlah pekerja
Hubungan antara durasi aktivitas dan tetap, (2) Dengan menambah jumlah pekerja
produktivitas kerja, dapat dinyatakan dalam pada jam kerja normal, (3) Dengan membuat
bentuk persamaan sebagai berikut [9]: kelompok kerja baru yang bekerja di luar jam
mh kerja dengan shift kerja pada malam/hari
d= .... (1) libur [8].
nH

dimana:
PENERAPAN ANALISA WHAT IF
d = durasi aktivitas [hari]
mh = total jam-orang (manhour) untuk Penjadwalan CPM seharusnya disepakati
menyelesaikan suatu aktivitas [jam- sebagai suatu hal yang penting dalam
orang]. pelaksanaan proyek, namun dalam praktek,
n = jumlah pekerja rencana untuk me- sering kali tidak dapat dihindari terjadinya
nyelesaikan suatu aktivitas [orang] hal-hal yang tidak pasti, sehingga akan
H = banyaknya jam kerja dalam satu terjadi penyimpangan terhadap rencana
hari [jam/hari] jadwal semula, akibatnya rencana jadwal
proyek tidak dapat terlaksana dengan baik
Produktivitas suatu aktivitas sangat ter- dan proyek tidak dapat diselesaikan sesuai
gantung pada beberapa faktor antara lain [9]: dengan jadwal semula. Untuk mengatasi
1) Komposisi kelompok kerja; pada kegiatan problem tersebut diatas, seharusnya dapat
konstruksi seorang pengawas lapangan dilakukan usaha monitor jadwal proyek
(mandor) memimpin suatu kelompok kerja secara kontinyu, yaitu dengan melakukan
yang terdiri dari bermacam-macam jenis penyesuaian-penyesuaian jadwal aktivitas di
pekerja lapangan, seperti tukang batu, lapangan.
tukang kayu, tukang besi, tukang pipa,
tukang pembantu dan lain-lain. Di dalam penelitian ini dilakukan analisa
2) Kerja lembur; jam kerja tambahan yang what if untuk setiap aktivitas pada model
dilakukan di luar jam kerja normal, CPM dengan langkah-langkah sebagai ber-
biasanya dilakukan untuk mengejar ikut:
sasaran/keterlambatan jadwal. 1. Menyusun suatu jadwal proyek dengan
3) Pekerja langsung versus sub-kontraktor; model CPM yang akan digunakan sebagai
kontraktor utama dalam melaksanakan model penelitian (Gambar 2) dengan
pekerjaan lapangan ada dua cara yaitu mempergunakan program Microsoft
dengan merekrut langsung tenaga kerja Project, kemudian model CPM dianalisa

106 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
ANALISA WHAT IF SEBAGAI METODE ANTISIPASI KETERLAMBATAN DURASI PROYEK (Ratna S. Alifen)

dengan analisa what if pada setiap gantungan antar aktivitas yang dinyata-
aktivitas. kan sebagai successor.
2. Membuat diagram alir [2] dan menganalisa 2) Putaran pertama aktivitas x mengalami
data sesuai dengan bagan alir, dengan keterlambatan sebesar 10% durasinya.
menggunakan program Microsoft Excel, 3) Memeriksa apakah keterlambatan yang
kemudian hasil analisa ditampilkan dalam terjadi pada aktivitas tersebut akan
bentuk grafik alternatif aktivitas per- menyebabkan keterlambatan proyek secara
cepatan yang menunjukkan hubungan keseluruhan.
antara prosentase keterlambatan aktivitas 4) Mengidentifikasi aktivitas pengikut yang
x dengan jumlah pekerja dan jam kerja akan dipercepat agar total durasi proyek
tambahan untuk mengatasi keterlambatan tetap sesuai dengan jadwal.
durasi proyek. 5) Mempercepat pada salah satu aktivitas
pengikut dan memeriksa kemungkinan
Asumsi dan Batasan aktivitas pengikut dapat dilakukan per-
cepatan, dengan batasan:
1) Jadwal CPM yang tersedia adalah benar/ a) Durasi percepatan lebih besar dari pada
ideal, dan dapat dilaksanakan (realistis) nilai float aktivitas pengikut.
berdasarkan sumber daya yang dimiliki b) Durasi percepatan aktivitas pengikut
(pekerja, material, dan peralatan). tidak lebih dari dua kali durasi ren-
2) Durasi keterlambatan yang terjadi pada cananya.
suatu aktivitas hanya diperhitungkan 6) Melakukan percepatan pada aktivitas
sampai batas 50% durasi semula. (untuk pengikut yang memenuhi batasan di atas,
keterlambatan lebih dari 50%, dapat dengan cara:
dilakukan perhitungan dengan cara yang a) Menambah jumlah pekerja pada
sama). aktivitas pengikut dengan rumus:
3) Percepatan durasi yang dilakukan pada manhour
suatu aktivitas hanya mungkin untuk n = n' n = n .. (2)
dilakukan maksimum sebesar 50% durasi d' H
semula aktivitas tersebut. Memeriksa jumlah pekerja yang di-
4) Percepatan durasi hanya dilakukan pada butuhkan untuk menyelesaikan akti-
satu aktivitas pengikut saja dengan tujuan vitas percepatan dengan batasan
membuat suatu perbandingan antara jumlah pekerja maksimum sebanyak 15
masing-masing alternatif percepatan akti- orang
vitas yang ada. b) Menambah jam kerja pada aktivitas
5) Penambahan jam kerja maksimum dalam pengikut dengan rumus :
satu hari kerja adalah empat jam, sehingga manhour
dalam satu hari kerja, pekerja bekerja H = H' H = H .. (3)
d' n
maksimum 12 jam.
dimana:
6) Jumlah pekerja maksimum untuk menye-
n = jumlah pekerja tambahan
lesaikan tiap aktivitas adalah 15 pekerja
n = jumlah pekerja untuk perce-
per aktivitas untuk luas dan besar proyek
patan aktivitas
dalam studi penelitian ini.
7) Semua jenis aktivitas diasumsikan dapat n = jumlah pekerja rencana
dikerjakan pada siang dan malam hari. manhour = jumlah jam-orang untuk
8) Semua peralatan dan material yang menyelesaikan aktivitas
dibutuhkan diasumsikan tersedia cukup. d = durasi percepatan
H = jam kerja normal (8 jam per
Analisa Percepatan Durasi Aktivitas hari)
H = jam kerja tambahan.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam me- = jam kerja untuk percepatan
lakukan penelitian ini dapat dijelaskan aktivitas
sebagai berikut: Memeriksa jam kerja yang dibutuhkan
1) Memasukkan data aktivitas dari model untuk menyelesaikan aktivitas percepatan
CPM yang meliputi jenis aktivitas, durasi, dengan batasan jam kerja optimum/mak-
tenggang waktu, jumlah pekerja rencana simum dalam satu hari kerja sebanyak 12
pada tiap aktivitas, jam kerja per hari, jam.
volume pekerjaan yang dinyatakan dalam 7) Kembali pada langkah (5) dan (6) untuk
satuan jam-orang, urutan dan keter- percepatan pada aktivitas pengikut

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra 107
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
DIMENSI TEKNIK SIPIL VOL. 1, NO. 2, SEPTEMBER 1999 : 103 - 113

berikutnya, sampai semua aktivitas peng- Jam kerja rencana dalam sehari, untuk
ikut selesai diperiksa. aktivitas A adalah H = 8 jam/hari
8) Kembali pada langkah (1) sampai dengan Total jam-orang yang dibutuhkan untuk
(7), untuk keterlambatan pada aktivitas x menyelesaikan aktivitas A adalah mh
sebesar 20%, 30%, 40%, dan 50%. = 504 jam-orang
9) Hasil akhir dari seluruh analisa tersebut di 2) Bila aktivitas A mengalami keterlambatan
atas, kemudian digambarkan dalam 10% (Tabel 1)
bentuk grafik yang menunjukkan Keterlambatan pada aktivitas A : delay =
hubungan antara persentase keterlambat- 10%durasi = 10% x 7 = 0,7 hari
an suatu aktivitas (sumbu x) dengan 3) Keterlambatan pada proyek = delayp =
penambahan jumlah pekerja atau jam delay + float = 0,7 + 0 =0,7 hari
kerja yang dibutuhkan (sumbu y) pada Diperiksa apakah delayp >0 0,7 > 0
aktivitas-aktivitas berikutnya. proyek mengalami delay akibat keterlam-
10)Kembali pada langkah (1) sampai dengan batan aktivitas A sebesar 10%.
(9) untuk semua aktivitas yang terdapat 4) Periksa aktivitas pengikut dari aktivitas A
pada sistim penjadwalan [2]. adalah B, G, C, E, H, I, F.
7 15 15 24
B G

4 day 8 day 6 day 9 day


320 5 360 5
11 19 21 30
0 7
A 19 24 24 30

0 day 7 day H I
504 9
0 day 5 day 0 day 6 day
0 7 7 11 11 19 280 7 384 8
C E 19 24 24 30

0 0 15 0 day 4 day 0 day 8 day 15 24 30


224 7 576 9
START D F FINISH
1 11 11 19
0 day 0 day 6 day 15 day 6 day 9 day 0 day 0 day
720 6 288 4
0 6 21 21 30 30
0 21
J

9 day 21 day
840 5
9 30
0 9 9 16 17 30
K M N

1 day 9 day 1 day 7 day 0 day 13 day


432 6 224 7 624 6
1 10 10 17 17 30

24 17 ES EF
L Aktivitas

0 day 17 day Float Durasi


680 5
0 17 LS LF

Gambar 2. Contoh Model CPM

Contoh Perhitungan 5) Alternatif percepatan pada aktivitas pengi-


kut agar total durasi proyek tetap:
Pada contoh model CPM (Gambar 2) keter- a) Aktivitas B dipercepat.
lambatan yang terjadi dimulai pada aktivitas Data-data aktivitas B adalah sebagai
A digunakan sebagai contoh perhitungan berikut :
dengan algorithm sebagai berikut: ds = 8 hari; H = 8 jam/hari
1) Mengumpulkan data dari aktivitas A floats = 4 hari; mh = 320 jam-orang
sebagai berikut: n = 5 orang
Durasi rencana aktivitas A adalah d = 7 ds = ds + floats delayp = 8 + 4 0,7 =
hari 11,3 hari
Float = 0 hari berarti aktivitas A Diperiksa ds<ds 11,3 > 8 tidak
merupakan aktivitas kritis memenuhi
Jumlah pekerja rencana untuk menye-
lesaikan aktivitas A adalah n = 9 orang

108 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
ANALISA WHAT IF SEBAGAI METODE ANTISIPASI KETERLAMBATAN DURASI PROYEK (Ratna S. Alifen)

Jadi untuk keterlambatan aktivitas A sebesar diperiksa ds > 2.delayp 4 > 2.0,7
10% atau 0,7 hari, percepatan pada aktivitas 4 > 1,4 memenuhi
B tidak dapat dipakai, karena durasi Jadi percepatan pada aktivitas C dapat
percepatan (ds) yang dibutuhkan lebih besar dilakukan.
dari durasi aktivitas B. Hal ini disebabkan 6) Melakukan percepatan pada aktivitas C
karena aktivitas B memiliki float atau waktu dengan cara:
ekstra sebesar 4 hari, sehingga untuk a) Menambah jumlah pekerja:
mempercepat aktivitas B sebesar 0,7 hari mh 224
n = n' n = n= 7 = 1,485 orang
tidak akan berpengaruh terhadap durasi d' s H 3,3 8
proyek secara keseluruhan (Gambar 3). diperiksa, n = n + n nopt
7 + 1,485 = 8,485 15 memenuhi
ds = 8 hari float = 4 hari b) Menambah jam kerja:
mh 224
H = H' H = H= 8 = 1,697 jam
ds = 11,3 hari 0,7 d' s n 3,3 7
diperiksa H = H + H Hopt
8 +1,697 = 9,697 12 jam memenuhi.
Gambar 3. Diagram Batang Untuk Percepatan Durasi 7) Langkah-langkah percepatan di atas di-
Aktivitas B ulang pada aktivitas-aktivitas pengikut
lainnya. (E, F, G, H, dan I).
b) Aktivitas C dipercepat. 8) Demikian seterusnya untuk keterlambatan
Data-data aktivitas C adalah sebagai aktivitas A sebesar 20%, 30%, 40%, dan
berikut: 50%. (Tabel 2, 3, 4, 5).
ds = 4 hari; H = 8 jam 9) Hasil penelitian dari tabel-tabel di atas
floats = 0 hari; mh = 224 jam-orang dirangkum (Tabel 6, 7) dan disajikan
n = 7 orang dalam bentuk grafik (Gambar 4,5).
ds = ds + floats delayp 10)Langkah selanjutnya untuk semua akti-
= 4 + 0 0,7 = 3,3 hari vitas, sehingga diperoleh grafik-grafik
diperiksa ds <ds 3,3 < 4 memenuhi percepatan aktivitas [2].

Tabel 1. Aktivitas A Mengalami Keterlambatan 10%


(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18)
aktivitas durasi float n H mh Successor delay delay p delay? succ? d's d's<ds ds2 delay p n n'n opt H H'H opt
A 7 0 9 8 504 B G C E H I F 0,7 0,7 yes
B 8 4 5 8 320 H I G TRUE 11,3 no
C 4 0 7 8 224 F E H I TRUE 3,3 yes yes 1,485 yes 1,697 yes
D 15 6 6 8 720 F FALSE
E 8 0 9 8 576 H I TRUE 7,3 yes yes 0,863 yes 0,767 yes
F 9 6 4 8 288 - TRUE 14,3 no
G 9 6 5 8 360 - TRUE 14,3 no
H 5 0 7 8 280 1 TRUE 4,3 yes yes 1,14 yes 1,302 yes
I 8 0 8 8 384 - TRUE 5,3 yes yes 1,057 yes 1,057 yes
J 21 9 5 8 840 - FALSE
K 9 1 6 8 432 M N FALSE
L 17 0 5 8 680 N FALSE
M 7 1 4 8 224 N FALSE
N 13 0 6 8 624 - FALSE

Tabel 2. Aktivitas A Mengalami Keterlambatan 20%


(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18)
aktivitas durasi float n H mh Successor delay delay p delay? succ? d's d's<ds ds2 delay p n n'n opt H H'H opt
A 7 0 9 8 504 B G C E H I F 1,4 1,4 yes
B 8 4 5 8 320 H I G TRUE 10,6 no
C 4 0 7 8 224 F E H I TRUE 2,6 yes yes 3,769 yes 4,308 no
D 15 6 6 8 720 F FALSE
E 8 0 9 8 576 H I TRUE 6,6 yes yes 1,909 yes 1,697 yes
F 9 6 4 8 288 - TRUE 13,6 no
G 9 6 5 8 360 - TRUE 13,6 no
H 5 0 7 8 280 1 TRUE 3,6 yes yes 2,722 yes 3,111 yes
I 8 0 8 8 384 - TRUE 4,6 yes yes 2,435 yes 2,435 yes
J 21 9 5 8 840 - FALSE
K 9 1 6 8 432 M N FALSE
L 17 0 5 8 680 N FALSE
M 7 1 4 8 224 N FALSE
N 13 0 6 8 624 - FALSE

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra 109
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
DIMENSI TEKNIK SIPIL VOL. 1, NO. 2, SEPTEMBER 1999 : 103 - 113

Tabel 3. Aktivitas A Mengalami Keterlambatan 10%


(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18)
aktivitas durasi float n H mh Successor dela delay p delay? succ? d's d's<ds ds2 delay n n'n opt H H'H opt
y p
A 7 0 9 8 504 B G C E H I F 2,1 2,1 yes
B 8 4 5 8 320 H I G TRUE 9,9 no
C 4 0 7 8 224 F E H I TRUE 1,9 yes no
D 15 6 6 8 720 F FALSE
E 8 0 9 8 576 H I TRUE 5,9 yes yes 3,203 yes 2,847 yes
F 9 6 4 8 288 - TRUE 12,9 no
G 9 6 5 8 360 - TRUE 12,9 no
H 5 0 7 8 280 1 TRUE 2,9 yes yes 5,069 yes 5,793 no
I 8 0 8 8 384 - TRUE 3,9 yes yes 4,308 yes 4,308 no
J 21 9 5 8 840 - FALSE
K 9 1 6 8 432 M N FALSE
L 17 0 5 8 680 N FALSE
M 7 1 4 8 224 N FALSE
N 13 0 6 8 624 - FALSE

Tabel 4. Aktivitas A Mengalami Keterlambatan 40%


(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18)
aktivitas durasi float n H mh Successor dela delay p delay? succ? d's d's<ds ds2 delay n n'n opt H H'H opt
y p
A 7 0 9 8 504 B G C E H I F 2,8 2,8 yes
B 8 4 5 8 320 H I G TRUE 9,2 no
C 4 0 7 8 224 F E H I TRUE 1,2 yes no
D 15 6 6 8 720 F FALSE
E 8 0 9 8 576 H I TRUE 5,2 yes yes 4,846 yes 4,308 no
F 9 6 4 8 288 - TRUE 12,2 no
G 9 6 5 8 360 - TRUE 12,2 no
H 5 0 7 8 280 1 TRUE 2,2 yes no
I 8 0 8 8 384 - TRUE 3,2 yes yes 7 yes 7 no
J 21 9 5 8 840 - FALSE
K 9 1 6 8 432 M N FALSE
L 17 0 5 8 680 N FALSE
M 7 1 4 8 224 N FALSE
N 13 0 6 8 624 - FALSE

Tabel 5. Aktivitas A Mengalami Keterlambatan 50%


(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18)
aktivitas durasi float n H mh Successor dela delay p delay? succ? d's d's<ds ds2 delay n n'n opt H H'H opt
y p
A 7 0 9 8 504 B G C E H I F 3,5 3,5 yes
B 8 4 5 8 320 H I G TRUE 8,5 no
C 4 0 7 8 224 F E H I TRUE 0,5 yes no
D 15 6 6 8 720 F FALSE
E 8 0 9 8 576 H I TRUE 4,5 yes yes 7 no 6,222 no
F 9 6 4 8 288 - TRUE 11,5 no
G 9 6 5 8 360 - TRUE 11,5 no
H 5 0 7 8 280 1 TRUE 1,5 yes no
I 8 0 8 8 384 - TRUE 2,5 yes no
J 21 9 5 8 840 - FALSE
K 9 1 6 8 432 M N FALSE
L 17 0 5 8 680 N FALSE
M 7 1 4 8 224 N FALSE
N 13 0 6 8 624 - FALSE

Keterangan Tabel (1-5): untuk menyelesaikan aktivitas


Kolom 1 : Aktivitas, menunjukkan nama [jam-orang].
aktivitas. Kolom 7 : Successor, menunjukkan aktivi-
Kolom 2 : durasi, menunjukkan durasi akti- tas-aktivitas pengikut.
vitas [hari] Kolom 8 : delay, menunjukkan besarnya ke-
Kolom 3 : float, menunjukkan besarnya terlambatan yang terjadi pada
tenggang waktu aktivitas [hari]. aktivitas [hari].
Kolom 4 : n, menunjukkan banyaknya jum- Kolom 9 : delayp, menunjukkan besarnya
lah pekerja rencana untuk menye- keterlambatan yang terjadi pada
lesaikan aktivitas [orang]. proyek [hari].
Kolom 5 : H, menunjukkan banyaknya jam Kolom 10: delay?, merupakan kolom pe-
kerja rencana dalam satu hari meriksaan apakah keterlambatan
[jam/hari]. aktivitas menyebabkan keterlam-
Kolom 6 : mh, menunjukkan banyaknya batan proyek.
total jam-orang yang dibutuhkan

110 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
ANALISA WHAT IF SEBAGAI METODE ANTISIPASI KETERLAMBATAN DURASI PROYEK (Ratna S. Alifen)

Kolom 11: succ?, merupakan kolom peme- Kolom 15: n, menunjukkan besarnya jum-
riksaan apakah aktivitas yang lah pekerja tambahan per hari
bersangkutan merupakan aktivi- yang dibutuhkan untuk perce-
tas pengikut dari aktivitas yang patan [orang].
mengalami keterlambatan. Kolom 16: n nopt, merupakan kolom
Kolom 12: ds, menunjukkan besarnya durasi pemeriksaan apakah jumlah
percepatan yang dibutuhkan pada pekerja aktivitas percepatan
aktivitas pengikut (dalam satuan kurang dari atau sama dengan
hari). jumlah pekerja optimum proyek
Kolom 13: ds < ds, merupakan kolom peme- (15 orang per hari).
riksaan apakah durasi percepatan Kolom 17: H, menunjukkan banyaknya
aktivitas pengikut lebih kecil dari penambahan jam kerja per hari
durasi rencana aktivitas pe- yang dibutuhkan untuk mem-
ngikut. percepat aktivitas [jam/hari].
Kolom 14: ds 2delayp, merupakan kolom Kolom 18: H Hopt, merupakan kolom
pemeriksaan apakah durasi pemeriksaan apakah jam kerja
rencana aktivitas pengikut lebih aktivitas percepatan kurang dari
besar atau sama dengan dua kali atau sama dengan jam kerja
keterlambatan proyek. optimum (12 jam per hari)

Tabel 6. Penambahan Jumlah Pekerja Akibat Keterlambatan Aktivitas A


%d B C E F G H I J K M N
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 1,485 0,833 1,140 1,057
20 3,769 1,909 2,722 2,435
30 3,203 5,069 4,308
40 4,846 7,000
50

Tabel 7. Penambahan Jam Kerja Akibat Keterlambatan Aktivitas A


%d B C E F G H I J K M N
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 1,697 0,767 1,302 1,057
20 1,697 3,111 2,435
30 2,847
40
50

Gambar 4. Grafik Pengaruh Keterlambatan Aktivitas A Terhadap Penambahan Jumlah Pekerja


Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra 111
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
DIMENSI TEKNIK SIPIL VOL. 1, NO. 2, SEPTEMBER 1999 : 103 - 113

Tabel 6. Penambahan Jumlah Pekerja Akibat Keterlambatan Aktivitas A

KESIMPULAN Keterangan:
OB = Garis persamaan percepatan akti-
Setiap aktivitas baik kritis maupun non kritis vitas
pada jaringan kerja CPM memiliki AB = Garis penambahan maksimum
karakteristik yang berbeda-beda, baik dari Titik A = Nilai penambahan maksimum
sisi kontraktor maupun dari sisi pemilik, hal Titik B = Nilai batas optimum
ini sangat tergantung pada perencanaan
jaringan kerja yang dipengaruhi oleh be- Dengan adanya grafik yang tersedia sejak
berapa parameter, antara lain durasi akti- awal pelaksanaan proyek, maka seorang
vitas, total jam-orang, jumlah pekerja, dan manajer proyek dapat memperoleh informasi
nilai float. Peranan dari masing-masing sebagai dasar pertimbangan di dalam pe-
parameter dapat dinyatakan melalui analisa
ngambilan keputusan khususnya usaha per-
what if dalam bentuk grafik yang lebih
cepatan aktivitas proyek.
komunikatip yang akan bermanfaat bagi
pemilik maupun kontraktor.
Pada kasus keterlambatan yang beralasan
Pada grafik yang dihasilkan dapat diketahui dan dapat dikompensasi, bagi profesi
adanya daerah penerimaan dan daerah manajemen konstruksi yang bertanggung
penolakan (Gambar 6). Daerah penerimaan jawab terhadap pemilik, grafik ini dapat
(daerah A-O-B) adalah daerah dimana semua menjadi acuan untuk memberi informasi
nilai/titik yang terdapat di dalamnya akan kepada kontraktor melakukan percepatan
menyebabkan proyek tidak terlambat. aktivitas yang tepat agar biaya yang menjadi
Daerah penolakan (daerah diluar A-O-B) tanggung jawab pemilik menjadi lebih ringan.
adalah daerah dimana semua nilai/titik yang Pada kasus keterlambatan yang beralasan
terdapat di dalamnya akan menyebabkan tetapi tidak dapat dikompensasi, maupun
proyek mengalami keterlambatan. kasus keterlambatan yang tidak beralasan,
bila kontraktor hendak melakukan percepat-
A B an durasi guna mengejar keterlambatan,
Daerah Penerimaan sejogyanya kontraktor mengetahui bahwa
upaya percepatan dapat dilakukan dengan
Penambahan jumlah

memilih aktivitas yang tepat, agar usaha


percepatan tersebut menjadi lebih efektif,
atau jam kerja

Daerah Penolakan
baik ditinjau dari sisi waktu maupun biaya.
pekerja

O % keterlambatan aktivitas

Gambar 6. Daerah Penerimaan dan Penolakan Aktivitas


Percepatan

112 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
ANALISA WHAT IF SEBAGAI METODE ANTISIPASI KETERLAMBATAN DURASI PROYEK (Ratna S. Alifen)

DAFTAR PUSTAKA

1. Proboyo, Budiman. Keterlambatan Waktu


Pelaksanaan Proyek: Klasifikasi dan
Peringkat Dari Penyebab-Penyebabnya.
Dimensi Teknik Sipil, , Vol.1, No.1, Maret,
1999, pp 49-58.
2. Setiawan, Ruben S. dan Sunarto, Andi.
Analisa Percepatan Durasi Aktivitas
Sebagai Antisipasi Keterlambatan Proyek.
Skripsi Sarjana-Teknik Sipil. Universitas
Kristen Petra. 1999.
3. Uher, Thomas E. Programming and
Scheduling Techniques. The University of
New South Wales Australia, Sydney. 1996.
4. Antill, James M. and Woodhead, Ronald W.
Critcal Path Methods in Construction
Practice. John Wiley and Sons Inc., New
York. 1970.
5. Arditi, David and Patel, Bhupendra K.
Impact Analysis of Owner Directed
Acceleration. Journal of Construction
Engineering and Management, ASCE, Vol.
115, No.1, March, 1989, pp 144-157. 1989.
6. Kraiem, Zaki M. and Dickmann, James E.
Concurrent Delays in Contruction
Projects Journal of Construction
Engineering and Management, ASCE, Vol.
113, No.4, December, 1987, pp 591-602.
7. Fabrycky,W.J., Thuesen,G.J. and Verma,
D. Economic Decision Analysis. Prentice
Hall Int. Inc. 1998.
8. Christian, J. and Hachley, D. Effects of
Delays Times on Productivity Rates in
Construction. Journal of Construction
Engineering and Management, ASCE, Vol.
121, 1995.
9. Soeharto, Iman. Manajemen Proyek: Dari
Konseptual Sampai Operasional. Penerbit
Erlangga, Jakarta. 1995.

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra 113
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
Seminar Nasional Pascasarjana X ITS, Surabaya 4 Agustus 2010
ISBN No. 979-545-0270-1

Faktor Penempatan Fabrikasi Material Terhadap Waktu


Pelaksanaan Dalam Proyek Konstruksi

Yani Rahmawati1*, Christiono Utomo2*


1
Mahasiswa S2 Manajemen Proyek Konstruksi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Indonesia
yanirahmamulia@gmail.com
2
Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Indonesia

Abstrak

Dalam suatu pekerjaan konstruksi, penempatan area fabrikasi material seringkali


memanfaatkan area-area kosong yang tersedia pada lahan proyek tersebut tanpa
memperhatikan kebutuhan, kegunaan, dan hasil dari proses fabrikasi, sehingga dampak
terhadap waktu pelaksanaan dalam suatu pekerjaan kurang diperhatikan. Penelitian
bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari penempatan fabrikasi material
terhadap waktu pelaksanaan dalam proyek konstruksi, dengan meninjau variabel-variabel
dalam penempatan fabrikasi dan indikator-indikator penilaian persepsi terhadap waktu
pelaksanaan. Jenis pene-litian yang dipergunakan adalah penelitian deskriptif, yang
bertujuan menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta,
sifat-sifat serta hubungan antara fenomena penempatan fabrika-si material terhadap waktu
pelaksanaan. Paper ini menyajikan definisi konseptual dan metode untuk mem-peroleh
faktor-faktor penempatan area fabrikasi material terutama yang berkaitan dengan fabrikasi
penula-ngan dan pengaruhnya terhadap waktu pelaksanaan dalam proyek konstruksi.

Kata kunci : penempatan fabrikasi material, perencanaan tata tapak, sirkulasi material,
waktu pelaksa-naan.

1. Pendahuluan fabrikasi material yang dapat membantu kontrak-


tor maupun konsultan manajemen konstruksi da-
1.1 Latar belakang lam menentukan area dan alur sirkulasi fabrikasi
Dalam pelaksanaannya, antara proyek konstruksi material sehingga keterlambatan jadwal pelaksa-
yang satu dengan proyek konstruksi yang lainnya naan pekerjaan dan pem-bengkakan biaya dapat
memiliki perbedaan dalam hal penempatan area direduksi.
dan alur sirkulasi fabrikasi materialnya. Hal ini Terdapat beberapa proses dalam pelak-sanaan
bergantung pada ketersedia-an lahan pada sebuah proyek, dimulai dari proses ini-siasi,
proyek (Elbeltagi dkk, 2004), karakteristik dilanjutkan dengan perencanaan, pelaksa-naan,
material yang digunakan (El-Gafy dkk, 2010), pengendalian, dan diakhiri dengan penu-tupan
keberadaan site properties (Sadegh-pour dkk, (PMI, 2004). Seluruh proses dalam proyek
2002). tersebut memiliki level kepentingan yang sama,
Penempatan area fabrikasi material proyek tetapi yang paling berpengaruh diantaranya ada-
seringkali memanfaatkan area-area ko-song lah proses perencanaan, karena proses perenca-
dalam lahan proyek tersebut (Wang dan Edgar, naan menghasilkan perencanaan-perencanaan
2009). Fabrikasi material memerlukan area yang yang berguna untuk mengarahkan jalannya pro-
cukup luas dan terbebas dari berbagai macam yek.
kegiatan. Dengan pertimbangan tersebut Penempatan area fabrikasi material dalam
kontraktor dan konsultan manajemen konstruksi sebuah proyek pada kenyataannya sering-kali
meletakkan area fabrikasi material pada area- mempengaruhi waktu pelaksanaan dalam proyek
area kosong lahan sebuah proyek. konstruksi. Penempatan area fabrikasi material
Sampai saat ini, belum banyak keten-tuan atau yang kurang tepat menyebabkan peker-jaan
rule of thumb penempatan area dan alur sirkulasi menjadi lebih lama, sehingga mengakibat-kan
fabrikasi material dalam pelak-sanaan sebuah terhambatnya pekerjaan lainnya yang seha-
proyek konstruksi (Church Archi-tecture, 2003). rusnya dilaksanakan setelah pekerjaan sebelum-
Sehingga penempatan area dan alur sirkulasi nya selesai, selain itu juga terjadi pembengkakan
fabrikasi material berdasarkan atas pengalaman biaya pekerjaan. Hal ini tentunya mempengaruhi
saja. Umumnya kontraktor kurang jadwal dan estimasi biaya yang telah direncana-
memperhatikan dampak-dampak akibat penem- kan sebelumnya.
patan area dan alur sirkulasi fabrikasi material Tidak sedikit pekerjaan konstruksi dalam proyek
terhadap jadwal pekerjaan pelaksanaan dan mempengaruhi jadwal dan estimasi biaya yang
estimasi biayanya. Dengan demikian, perlu diakibatkan oleh kurang efektifnya penem-patan
adanya ketentuan penempatan area dan sirkulasi area fabrikasi material dalam proyek. Salah satu
Seminar Nasional Pascasarjana X ITS, Surabaya 4 Agustus 2010
ISBN No. 979-545-0270-1

contohnya adalah pekerjaan beton. Peker-jaan diperhatikan dalam sebuah proses produksi, se-
konstruksi beton adalah pekerjaan yang memiliki hingga harus dirancang dengan cermat dan ter-
karakteristik fabrikasi yang kompleks. Jarak struktur. Terdapat enam prinsip dasar dalam pe-
perjalanan antara loading deck atau tempat rencanaan tata letak fasilitas dalam tapak yang
penyimpanan material terhadap area fabrikasi dikemukakan oleh Apple (1991), yaitu adanya in-
dapat menjadi faktor penyebab terlambatnya pro- tegrasi antara faktor-faktor pendukung dalam se-
ses fabrikasi. Selain itu penyediaan luasan area buah proses produksi, meminimumkan jarak per-
untuk proses fabrikasi dan penempatan area me- pindahan material dan faktor pendukung lainnya
sin penekuk yang tidak tepat dapat menyebabkan sehingga memudahkan pergerakannya dan men-
pekerjaan tidak tepat waktu dan bertambahnya dukung adanya efisiensi produksi, kelancaran da-
biaya akibat pertambahan masa sewa. lam aliran kerja proses produksi, efektivitas dan
Menurut Ma, Shen, dan Zhang (2004), jadwal efisiensi dalam pemanfaatan area (pengaturan
pelaksanaan konstruksi dan perencanaan tata ruang yang mencakup pekerja, material, mesin
guna lahan merupakan hal yang sangat pen-ting dan aktivitas pendukung yang ada di dalamnya),
dalam manajemen proyek, karena kedua hal kepuasan dan keamanan pekerja (adanya jami-
tersebut dapat mempengaruhi faktor keamanan nan keselamatan kerja melalui penempatan ma-
dan keselamatan, mesin yang berproduksi, peng- terial dan alat-alat pendukung proses produksi
gunaan material, distribusi sumber daya, serta secara tepat), fleksibilitas dalam pengaturan tata
perkembangan proses konstruksi. Banyak pene- letak.
liti akhirnya menyadari bahwa pentingnya mem- Ada beberapa tujuan dari perencanaan
pertimbangkan faktor waktu pada penataan/ tata letak fasilitas produksi yang dikemukakan o-
perencanaan tapak. Selain itu, Guo (2001) juga leh Apple (1991), yang berkaitan dengan waktu
menempatkan waktu sebagai bagian yang pelaksanaan diantaranya adalah mengurangi
penting dalam perencanaan tapak, penelitiannya waktu distribusi material, mengurangi waktu tung-
juga berkaitan dengan pengorganisasian tapak/ gu yang berlebihan, serta memperpendek waktu
lahan yang berdasarkan atas waktu dan jadwal. proses produksi.
Akinci, Fischer, dan Zabelle (1995), dalam Menurut Murther (1955), ada tujuh ke-lompok
penelitiannya, mereduksi pekerjaan-peker-jaan faktor-faktor yang mempengaruhi peru-bahan
yang tidak penting atau tidak berman-faat dalam tata letak, diantaranya adalah faktor mate-rial
sebuah proses pekerjaan dengan mem- (desain, jenis, jumlah, kebutuhan produksi serta
pertimbangkan adanya konflik antara waktu de- alirannya), mesin (peralatan, perlengkapan
ngan area-area dalam lahan. produksi serta utilitasnya), manusia (jumlah pe-
Penelitian mengenai pengaruh penem-patan kerja dan kemudahan pengawasan, perpindahan
fabrikasi material terhadap waktu pelaksa-naan atau distribusi (pengangkutan antar dan inter-
dalam proyek konstruksi perlu dilaksana-kan. departemen, penanganan berbagai proses pro-
Meskipun area penelitiannya dalam lingkup yang duksi, penyimpanan dan inspeksi), faktor me-
kecil dan pada pelaksanaannya di dalam proyek nunggu (penyimpanan secara permanen atau se-
cenderung terabaikan, tetapi dampaknya sangat mentara, dan keterlambatan yang diakibatkan
besar dalam mempengaruhi performa hasil sistem distribusi atau proses produksinya), faktor
proses perencanaan proyek. Maka dari itu, gedung atau tapak, serta faktor perubahan (ka-
diharapkan dengan adanya hasil penelitian ini, rena adanya perluasan dan fleksibilitas).
permasalahan seperti proses berjalannya proyek
yang terlambat yang diakibatkan oleh kurang e- 2.2 Penelitian sebelumnya
fektifnya penempatan area proses fabrikasi mate- Menurut Sadeghpour dkk (2002), pe-nempatan
rial dapat diketahui dan dimengerti. sebuah area dalam tata tapak dipe-ngaruhi oleh
3 faktor penting, yaitu object, site properties, dan
constraints.
2. Dasar Teori Object, yaitu merupakan benda-benda baik itu
penunjang keberadaan area yang akan
2.1 Dasar teori penempatan fabrikasi direncanakan penempatannya maupun benda-
Dasar teori penempatan fabrikasi mate-rial benda lainnya yang berada dalam tata tapak se-
berasal dari teori-teori dalam ilmu teknik in- buah proyek, benda-benda yang termasuk dalam
dustri/manufaktur, yaitu teori mengenai tata letak kategori object diantaranya adalah : peralatan,
dalam proses produksi. material, fasilitas penunjang temporer, bangunan,
Menurut Wignjosoebroto (2009), peren-canaan area bekerja (produksi), semua yang ada pada
tata letak fasilitas dapat didefinisikan se-bagai lahan, ketersediaan area.
tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas da-lam Sementara itu penjelasan tentang site properties
sebuah proses produksi untuk menunjang hampir sama dengan kategori object di atas
kelancaran proses tersebut, dengan memanfaat- tetapi benda-benda dalam kategori ini lebih luas,
kan luas area untuk penempatan mesin atau fasi- jadi dapat dikatakan bahwa yang termasuk dalam
litas penunjang lainnya, kelancaran pergerakan kategori ini adalah benda-benda eksisting dari
perpindahan material, penyimpanan material (ba- sebuah tapak yang juga berpengaruh pada
ik yang bersifat temporer maupun permanen), proses akhir sebuah proyek konstruksi, yang ter-
personel pekerja, serta aspek-aspek pendukung diri atas semua yang ada dalam tapak yang
lainnya. dapat mempengaruhi perencanaan akhir tapak.
Aliran material dan fasilitas pendukung proses Faktor terakhir yang dikemukakan oleh Sadegh-
produksi merupakan hal pokok yang perlu pour dkk (2003) adalah constraints yang merupa-
Seminar Nasional Pascasarjana X ITS, Surabaya 4 Agustus 2010
ISBN No. 979-545-0270-1

kan batasan-batasan dalam perencanaan tapak, Dari studi literatur pada beberapa jurnal yang
yang termasuk dalam kategori ini adalah tata terkait dengan tema penelitian, maka dida-patkan
aturan dalam perencanaan tapak faktor-faktor yang mempengaruhi penem-patan
ASTM (2005), Wire Reinforcement Insti-tute proses fabrikasi penulangan yang dike-
(2003), dan Concrete Reinforcing Steel Insti-tute lompokkan sesuai dengan tujuh kelompok faktor
(2004) menyajikan faktor-faktor yang mem- yang mempengaruhi perubahan tata letak yang
pengaruhi penempatan area fabrikasi penula- dikemukakan oleh Murther (1955) dan Apple
ngan yang berkaitan dengan proses atau sistem (1991). Faktor-faktor yang termasuk dalam varia-
fabrikasi penulangan serta karakteristik material bel bebas (X) dan variabel terikat (Y) disajikan
dan mesin yang dipergunakan dalam proses pada Gambar 3.2 dan Gambar 3.3.
fabrikasi. Sementara itu, Halpin dan Martinez
(1999) beserta Mohsen dkk (2008) menyajikan
faktor-faktor pengaruh yang berkaitan dengan ke-
tersediaan sumber daya, pekerja, peralatan, dan
lahan. Faktor-faktor pengaruh yang berhubungan
dengan keamanan, jalur distribusi (termasuk di
dalamnya berkaitan dengan jarak perjalanan dan
akses keluar masuknya material dan pekerja),
ketepatan dalam memilih area, jumlah hasil
produksi, serta faktor-faktor eksisting baik itu be-
rupa barang atau aktivitas disajikan oleh Ma dkk
(2004); Elbeltagi dkk (2004); Hanz (1984); Tom-
melein dkk (1992); dan El-Gafy dkk (2010).
Peneliti lainnya, yaitu Huang (2004); Kelton dan
Sadowski (2002) menyajikan faktor-faktor penga-
ruh yang berkaitan dengan proses produksi dan
penanganan material.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Identiikasi variabel


Penelitian ini adalah merupakan peneliti-an
deskriptif (Kuncoro, 2009), penelitian deskriptif
meliputi pengumpulan data untuk diuji hipotesis
atau menjawab pertanyaan mengenai status tera-
khir dari subyek penelitian, sedangkan tipe yang
paling umum dari penelitian deskriptif meliputi
penilaian sikap atau pendapat terhadap individu,
organisasi, keadaan, atau prosedur. Data des-
kriptif pada umumnya dikumpulkan melalui daftar
pertanyaan dalam survey, wawancara, ataupun
observasi. Penelitian bertujuan mengukur besar
kecilnya pengaruh terhadap waktu pelaksanaan
yang disebabkan oleh faktor-faktor penentu pe-
nempatan fabrikasi material penulangan, dimana
hasil akhir penelitian ini dapat dipergunakan se-
bagai acuan dalam menggambarkan atau me-
ngukur kinerja pekerjaan penulangan, serta dapat
membantu penyusunan dokumentasi perencana-
an dalam proses manajemen komunikasi proyek.
Penelitian ini mengukur penilaian per-
sepsi responden terhadap pengaruh variabel be-
bas atau yang disebut dengan variabel x, yaitu
faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penem-
patan fabrikasi material penulangan, dengan vari-
abel terikat atau yang disebut dengan variabel y,
yaitu indikator-indikator yang dipergunakan untuk 3.2 Hipotesis
menilai waktu pelaksanaan dalam proses fabri- Hipotesis dalam penelitian ini adalah se-
kasi material penulangan, seperti yang tersajikan bagai berikut :
dalam Gambar 3.1. H0 : Ada pengaruh antara masing-masing
faktor penempatan fabrikasi material ter-
Penempatan Fabrikasi Waktu pelaksanaan hadap waktu pelaksanaan.
Material (Variabel X) (Variabel Y) H1 : Tidak ada pengaruh antara masing-ma-
sing faktor penempatan fabrikasi material
Gambar 3.1 Ilustrasi hubungan variabel X dan Y terhadap waktu pelaksanaan.
Seminar Nasional Pascasarjana X ITS, Surabaya 4 Agustus 2010
ISBN No. 979-545-0270-1

Pada pengujian secara parsial (Uji t)


digunakan hipotesis sebagai berikut : 4. Kesimpulan
H0 : 1 0 (ada pengaruh masing-masing fak- Enam belas faktor pengaruh penempa-
tor penempatan fabrikasi material terha- tan fabrikasi material dan 3 faktor pengaruh wak-
dap waktu pelaksanaan) tu pelaksanaan.
H1 : 1 = 0 (Tidak ada pengaruh masing-ma- 5. Apendiks : survey
sing faktor penempatan fabrikasi material 1. Populasi : para pelaksana proyek konstruksi
terhadap waktu pelaksanaan) gedung yang sedang berjalan/berlangsung di
H0 diterima, apabila t hitung < t table, dan H1 di- Surabaya.
terima apabila t hitung > t tab. 2. Sampel

3.3 Metode Tabel 5.1 Sampel Penelitian


Metode analisa yang dipergunakan a-
dalah analisis regresi menggunakan metode OLS No Proyek Pelaksana
(Pangkat Kuadrat Terkecil Biasa), sesuai dengan 1 Trilium Office Kontraktor : PT. Wijaya Karya
Sub-kontraktor :
pernyataan dan rumus yang dikemukakan oleh PT. Hanil Jaya Steel
Kuncoro (2009). 2 Surabaya Kontraktor :
Tujuan utama regresi adalah menges- Orthopedic & PT. Tatamulia Nusantara Indah
timasi fungsi regresi populasi (FRP) berdasarkan Traumalogy
Hospital
fungsi regresi sampel, dengan persamaan regresi 3 Ciputra World Kontraktor :
populasi : PT. Tatamulia Nusantara Indah
4 Gedung Kontraktor :
E(Y|Xi) = bo + bi Xi, (bo = konstanta, bi = Perkantoran & PT. Tatamulia Nusantara Indah
Perdagangan
koefisien variabel bebas Xi) 5 Pengembangan Kontraktor : PT. Widya Satria
Rusunawa Pengawas :
Karena populasi sering tidak dapat dipe- PT. Grahasindo Cipta Pratama
roleh langsung, maka digunakan fungsi regresi
sampel (FRS) : 3. Responden :
a. Manajer proyek b. Manajer site
Y = bo + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + + c. Konsultan perencana d. Supervisor
bkXk e. Quality surveyor f. Sub-kontraktor

Notasi variabel sebagai berikut : 4. Kuesioner :


Y = Waktu Pelaksanaan 1. Menurut Anda, bagaimanakah pengaruh fak-
bo = konstanta tor-faktor penempatan fabrikasi material yang
b1 = koefisien regresi X1 disajikan pada tabel 5.2 terhadap waktu distri-
b2 = koefisien regresi X2 busi material, waktu tunggu, dan waktu pro-
b3 = koefisien regresi X3 duksi fabrikasi penulangan?
b4 = koefisien regresi X4
X1 = Dimensi, bentuk, dan jumlah material Tabel 5.2 faktor-faktor pengaruh penempatan fabrikasi
X2 = Sistem Fabrikasi
Penilaian
X3 = Penanganan Material
Faktor pengaruh
X4 = Hasil akhir fabrikasi no
penempatan fabrikasi
S B C K S
Dan seterusnya. B K
1 Dimensi, bentuk, dan jumlah
3.2.1 Uji Signifikansi Individual (Uji Statistik t) material besi beton
Uji statistik t dipergunakan untuk 2 Sistem fabrikasi yang diper-
gunakan
menun-jukkan seberapa jauh pengaruh satu
3 Penanganan terhadap ma-
variabel be-bas (X) yaitu faktor pengaruh terial
penempatan fabri-kasi material sebagai penjelas 4 Hasil akhir dari fabrikasi,
secara individual dalam menerangakan variasi memerlukan epoxy atau ti-
dak
variabel terikat (Y) yaitu waktu pelaksanaan.
5 Dimensi, bentuk, dan jum-
lah mesin yang diperguna-
3.2.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) kan
Uji statistik F dipergunakan untuk me- 6 Jumlah pekerja yang terlibat
nunjukkan apakah semua variabel bebas (X) ya- 7 Pembagian departemen da-
itu faktor pengaruh penempatan material yang di- lam proses fabrikasi
8 Distribusi material
masukkan dalam model penelitian mempunyai
pengaruh secara bersama-sama terhadap varia- 9 Akses material dan pekerja,
bel terikat (Y) yaitu waktu pelaksanaan. 10 Persyaratan khusus dalam
pendistribusian material
3.2.3 Koefisien Determinasi 11 Aktivitas masing-masing
sub item pekerjaan
Koefisien determinasi dipergunakan un- 12 Properti tapak
tuk mengukur seberapa jauh kemampuan model
13 Karakteristik penyediaan la-
penelitian yang dipergunakan dalam menerang- han
kan variasi variabel terikat (Y) yaitu waktu pelak- 14 Area pekerjaan lain
sanaan.
Seminar Nasional Pascasarjana X ITS, Surabaya 4 Agustus 2010
ISBN No. 979-545-0270-1

15 Area loading deck dan in- conflicts between subcontractors. Canadian


ventory
Journal of Civil Engineering, Vol. 28, No. 57,
16 Tata aturan dan kebijakan
manajer proyek Hal. 59-768.
Ket : SB = Sangat besar, B = Besar, C = Cukup, Halpin, D. W., and Martinez, L. H. (1999), Real
K = Kecil, SK = Sangat Kecil World Applications of Construction Process
Simulation. Division of Construction Engi-
2. Menurut Anda, pada saat proses fabrikasi neering and Management, 1294 Civil Engi-
penulangan dalam pelaksanaan proyek neering Building, Purdue University, West
dimana Anda terlibat, seberapa besarkah Lafayette.
pengaruh waktu distribusi material Huang, C.N., Seong, Y.J., and Russel, J.S.
dipengaruhi oleh penempatan area fabrikasi (2004),Time Study on Two-Echelon Supply
material? Chain For Steel Framing Construction By
(SB = Sangat besar, B = Besar, C = Cukup, Using Networking Simulation Model. The
K = Kecil, SK = Sangat kecil) 12th Annual Conference on Lean Con-
3. Menurut Anda, seberapa besarkah waktu struction (IGLC), August 3-5, 2004, Den-
yang diperlukan sebelum dimulainya mark.
pelaksanaan, persiapan, ataupun waktu Kelton, and Sadowski. (2002), Simulation with
untuk memulai sub item pekerjaan Arena 2nd Edition. McGraw-Hill Co.
dipengaruhi oleh faktor penempatan fabrikasi Kuncoro, M. (2009), Metode Riset untuk Bisnis
material penulangan dalam proses produksi dan Ekonomi, Bagaimana Meneliti dan
selama proyek berlangsung. Menulis Tesis. Erlangga, Jakarta.
(SB = Sangat besar, B = Besar, C = Cukup, Ma, Z., Shen, Q., and Zhang, J. (2004),
K = Kecil, SK = Sangat kecil) Application of 4D for dynamic site layout
4. Menurut Anda, seberapa besarkah waktu and management of construction projects.
proses fabrikasi penulangan dipengaruhi Journal of Automation in Construction, No.
oleh faktor penempatan fabrikasinya, pada 14, Hal. 369 - 381.
saat proyek semasa Anda bekerja Mohsen, O. M., Knytl, P. J., Abdulaal, B.,
berlangsung? Olearczyk, J., and Al-Hussein, M. (2008),
(SB = Sangat besar, B = Besar, C = Cukup, Simulation of Modular Building Cons-
K = Kecil, SK = Sangat kecil) truction. Department of Civil & Environ-
mental Engineering Hole School of Cons-
6. Pustaka truction, University of Alberta, Canada,
Akinci, B., Fischer, M., and Zabelle, T. (1998), A Edmonton.
proactive approach for reducing non-value Murther, R. (1955), Practical Plant Layout (1st
adding activities due to timespace con- Edition). McGraw Hill, New York.
flicts. Proceedings of the 6th Annual Confe- Sadeghpour, F., Moselhi, O., and Alkass, S.
rence of the International Group for Lean (2002), Dynamic Planning for Site Layout.
Construction, hal. 1-16, Guaraja, Brazil. Department of Building, Civil, and Environ-
ASTM. (2005), Standard Specification for welded mental Engineering, Concordia University,
deformed steel bar mats for concrete reinfor- Canada, Montreal.
cement. American Society for Testing and Project Management Institute. (2004), Project
Material, United States. Management Body of Knowledge. Project
Apple, J. M. (1991), Plant Layout and Material Management Institute, Romania.
Handling (3rd Edition). Krieger, Malabar. Stier, K. W. (2003), Teaching Lean Manufac-
Architecture, Church. (2003), Rules of Thumbs turing Concepts through Project-Based
Space and Dimension Reco-mendation. Life Learning and Simulation. Journal of In-
Way Church Resources, Nashville. dustrial Technology, Vol. 19, No. 4, Hal. 1-6.
Arikunto, S. (2002), Prosedur Penelitian Suatu Tommelien, I. D., Levit, R. E., and Hayes-Roth,
Pendekatan Praktek. Bina Aksara, Jakarta. B. (1992), Site Layout Modelling : How Can
Concrete Reinforcing Steel Institute. (2004), Artificial Intelligent Can Help?. ASCE,
Assembling Reinforcing Bars by Fusion Journal of Construction Engineering and
Welding in Fabricating Shop. Concrete Management, Vol. 118, No. 3, Hal. 594-611
Reinforcing Steel Institute, Schaumburg. Wang, C., and Edgar, D. (2009), Exploring an
Elbeltagi, E., Hegazy, T., and Eldosouky, A. approach enhancing the area experts
(2004), Dynamic Layout of Construction envolvement in layout design and improve-
Temporary Facilities Considering Savety. ment : an empirical experience. Procee-
ASCE, Journal of Construction Engineering dings of the International Multi Conference of
and Management, Vol. 130, No. 4, Hal. 534- Engineers and Computer Scientists 2009 Vol
541. II.
El-Gafy, M., Abdelhamid, T., and Ghanem, A. Wignjosoebroto, S. (2009), Tata Letak Pabrik
(2010), Using Simulated Annealing For dan Pemindahan Bahan (edisi ke-tiga).
Layout Planning of Construction Sites. Guna Widya, Surabaya.
th
Proceeding of 46 annual associated school Wire Reinforcement Institute. (2003), Bending
of construction international conference, hal. welded wire reinforcement for reinforced
54. concrete. Wire Reinforcement Institute, Uni-
Guo, S. J. (2001), Integrating CAD and schedule ted States of America.
for identification and resolution of work space
ESTIMASI ANGGARAN BIAYA KONSTRUKSI
DAN RENCANA PENJADWALAN TAHAP DESAIN
PADA PEMBANGUNAN KAMPUS BSI MARGONDA DEPOK

Tujuan tugas akhir pada penulisan ini adalah


merencanakan perhitungan atau estimasi anggaran biaya Diyan Herwansyah / 10300025
tahap desain dan merencanakan jadwal pelaksanaan
pekerjaan pada Proyek Pembangunan Kampus Bina
Sarana Informatika (BSI), yang berlokasikan di Jalan asyik_00@yahoo.co.id
Margonda Raya no. 8 Margonda Depok. Perencanaan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Anggaran Biaya berdasarkan analisa standar PU
( Pekerjaan Umum ) pada daerah setempat dengan
menggunakan program Ms. Excell. Untuk pembahasan
disini tidak membicarakan tentang biaya pajak PPN, IMB,
sambungan listrik, telephone, Dackting, PAM (Perusahaan
Air Minum) dan furniture. Struktur bangunan menggunakan
struktur baja komposit dengan luas bangunan 2119 m2
dan luas lahan 1035 m2 .

Kata Kunci : bangunan, estimasi biaya tahap desain, anggaran biaya konstruksi

PENDAHULUAN penawaran dan lainnya. Estimasi biaya


mempunyai dampak pada kesuksesan proyek
Estimasi biaya awal digunakan untuk studi dan perusahaan pada umumnya. Keakuratan
kelayakan, alternatif desain yang mungkin, dalam estimasi biaya tergantung pada keahlian
dan pemilihan desain yang optimal untuk dan ketelitian estimator dalam mengikuti
sebuah proyek. Hal yang penting dalam seluruh proses pekerjaan dan sesuai dengan
pemilihan metode estimasi biaya awal informasi terbaru.
haruslah akurat, mudah, dan tidak mahal Proses analisis biaya konstruksi adalah suatu
dalam penggunaannya. Jumlah dan luas proses untuk mengestimasi biaya langsung
lantai memperlihatkan karakteristik dan yang secara umum digunakan sebagai dasar
ukuran fisik dari suatu proyek pembangunan penawaran. Salah satu metode yang digunakan
gedung yang dalam kepraktisannya informasi untuk melakukan estimasi biaya konstruksi
ini bisa tersedia dengan mudah pada tahap adalah menghitung secara detail harga satuan
desain pembangunan gedung. Estimasi biaya pekerjaan berdasarkan nilai indeks atau
konstruksi merupakan hal penting dalam koefisien untuk analisis biaya bahan dan upah
dunia industri konstruksi. ketidak akuratan kerja. Hal lain yang perlu dipelajari pula dalam
estimasi dapat memberikan efek negatif pada kegiatan ini adalah pengaruh produktivitas kerja
seluruh proses konstruksi dan semua pihak dari para tukang yang melakukan pekerjaan
yang terlibat. Estimasi biaya berdasarkan sama yang berulang. Hal ini sangat penting dan
spesifikasi dan gambar kerja yang disiapkan tentu saja dapat mempengaruhi jumlah biaya
owner harus menjamin bahwa pekerjaan konstruksi yang diperlukan apabila tingkat
akan terlaksana dengan tepat dan kontraktor ketrampilan tukang dan kebiasaan tukang
dapat menerima keuntungan yang layak berbeda.
Estimasi biaya konstruksi dikerjakan sebelum
pelaksanaan fisik dilakukan dan memerlukan
analisis detail dan kompilasi dokumen
LANDASAN TEORI - Kondisi lingkungan, khususnya lingkungan
di sekitar proyek yang bersangkutan
Klasifikasi Bangunan Gedung

Setiap bangunan gedung harus memenuhi Pembiayaan Pembangunan Bangunan


persyaratan fungsi utama bangunan. Fungsi Gedung Negara
bangunan gedung dapat dikelompokkan
dalam fungsi hunian, fungsi keagamaan, Pembiayaan pembangunan bangunan gedung
fungsi usaha, fungsi sosial dan budaya, dan digolongkan pembiayaan pembangunan untuk
fungsi khusus. Penentuan klasifikasi pekerjaan standar (yang ada standar harga
bangunan gedung atau bagian dari bangunan satuan tertingginya) dan pembiayaan
gedung ditentukan berdasarkan fungsi yang pembangunan untuk pekerjaan non-standar
digunakan dalam perencanaan, pelaksanaan, (yang belum tersedia standar harga satuan
atau perubahan yang diperlukan pada tertingginya). Pembiayaan pembangunan
bangunan gedung. bangunan gedung dituangkan dalam Dokumen
Pembiayaan yang terdiri atas komponen-
Estimasi Anggaran Biaya Tahap Desain komponen biaya untuk kegiatan pelaksanaan
konstruksi, kegiatan pengawasan konstruksi
Desain merupakan proses pembuatan atau manajemen konstruksi, kegiatan
deskripsi atau gambaran dari suatu fasilitas, perencanaan konstruksi, dan kegiatan
dan biasanya dilengkapi dengan detail pengelolaan proyek.
perencanaan dan spesifikasi, yang kemudian
( Sumber : Pedoman Teknis Bangunan Gedung Negara 2002 )
di implementasikan pada tahap kontruksi.
Tahap desain merupakan tahap berikutnya Harga Satuan Tertinggi Rata-Rata Per M2
setelah tahap perencanaan konseptual, Bangunan Bertingkat Untuk Bangunan
namun masih termasuk di dalam tahap pra- Gedung.
kontruksi. Tahap desain ini ada 2 (dua)
bagian, yaitu : Desain Skematik dan Detail Harga satuan tertinggi rata-rata per-m2
Desain. Pada tahap Desain Skematik, tim bangunan gedung bertingkat adalah didasarkan
desain (yang terdiri dari arsitek dan engineer) pada harga satuan lantai dasar tertinggi per m2
menginvestigasikan alternatif desain, untuk bangunan gedung bertingkat, kemudian
material, dan sistem. Sedangkan pada tahap dikalikan dengan koefisien atau faktor pengali
Detail Desain, tim desain mengevaluasi, untuk jumlah lantai yang bersangkutan, sebagai
memilih, menyelesaikan sistem utama dan berikut:
komponen proyek. Jadwal proyek dan
anggaran terus dikembangkan dan dimonitor Koefisien / Faktor Pengali Bangunan Gedung Bertingkat
selama tahap ini.
Jumlah
Dasar Pertimbangan Dalam Estimasi Biaya lantai
2
Harga satuan per m tertinggi
Proyek Tahap Desain Bangunan
- Sumber informasi, pengalaman di masa 2 Lantai 1,090 standard harga gedung bertingkat
lampau
3 Lantai 1,120 standard harga gedung bertingkat
- Data-data proyek terdahulu dan laporan
yang akurat 4 Lantai 1,135 standard harga gedung bertingkat
- Laporan maupun standar yang berlaku 5 Lantai 1,162 standard harga gedung bertingkat
- Kondisi perekonomian, baik dalam skala 6 Lantai 1,197 standard harga gedung bertingkat
makro maupun mikro
- Kondisi sosial yang sedang terjadi di 7 Lantai 1,236 standard harga gedung bertingkat
sekitar 8 Lantai 1,265 standard harga gedung bertingkat

( Sumber : Pedoman Teknis Bangunan Gedung Negara 2002 )


Harga Satuan Per m2 Bangunan Gedung Bertingkat yaitu faktor teknis dan non teknis. Faktor teknis
(dalam ribuan)
antara lain berupa ketentuan-ketentuan dan
Harga Gedung persyaratan yang harus dipenuhi dalam
No Daerah Bertingkat per m2 pelaksanaan pembangunan serta gambar-
gambar kontruksi bangunan. Sedangkan faktor
A B C
non teknis berupa harga-harga bahan
1 KOTIP.DEPOK 1,982 1,770 1,328
bangunan dan upah tenaga kerja. Dalam
(Sumber : Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional) melakukan anggaran biaya dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu anggaran biaya kasar
Prosentase Komponen Pekerjaan (taksiran) dan anggaran biaya teliti.
Bangunan Gedung
Time Schedule ( Rencana Kerja )
Untuk pekerjaan standar bangunan gedung,
sebagai pedoman penyusunan anggaran Yang dimaksud dengan Penjadwalan ( Time
pembangunan yang lebih dari satu tahun Schedule ) adalah mengatur rencana kerja dari
anggaran dan peningkatan mutu dapat satu bagian atau unit pekerjaan. Kegiatan ini
berpedoman pada prosentase komponen- meliputi :
komponen pekerjaan sebagai berikut : - Kebutuhan tenaga kerja
- Kebutuhan material atau bahan
Tabel. Biaya Pekerjaan Standar Bangunan Gedung - Kebutuhan waktu
- dan Transportasiataupengangkutan
Gedung Dari time schedule kita akan
Komponen
Negara mendapatkan gambaran lamanya pekerjaan
Pondasi 5% - 10%
dapat di selesaikan, serta bagian-bagian
Struktur 25% - 35%
pekerjaan yang saling terkait antara satu dan
Lantai 5% - 10%
lainnya.
Dinding 7% - 10%
Plafond 6% - 8%
Atap 8% - 10%
Metode Penjadwalan Proyek
Utilitas 5% - 8%
Finishing 10% - 15% - Barchart ( Diagram Balok )

( Sumber : Pedoman Teknis Bangunan Gedung Negara 2002 ) Metode ini mula-mula dipakai dan
diperkenalkan oleh Hendri Lawrence Gantt
Rencana Anggaran Biaya pada tahun 1917. Metode ini bertujuan
mengidentifikasikan unsur waktu dan urutan
Rencana anggaran biaya merupakan dalam merencanakan suatu kegiatan, yang
perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan terdiri dari waktu mulai, waktu selesai dan pada
untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain saat pelaporan. Barchart (Diagram Balok)
yang berhubungan dengan pelaksanaan sangat bermanfaat sebagai alat perencanaan
proyek pembangunan. dan komunikasi. Bila digabungkan dengan
metode lain, misalnya grafik S dapat dipakai
RAB = ( Volume x Harga Satuan Pekerjaan ) untuk aspek yang lebih luas. Kelemahan
Barchart (Diagram Balok) adalah kurang dapat
( Sumber : Adminstrasi Kontrak dan Anggaran Borongan ) menjelaskan keterkaitan antara kegiatan yang
satu dengan yang lainnya. misalnya kegiatan
Anggaran biaya pada bangunan yang sama pondasi terjadi perubahan atau terlambat.
akan berbeda-beda di masing-masing Perubahan yang terjadi tersebut tidak terlihat
daerah, hal ini disebabkan perbedaan harga secara langsung mempengaruhi kegiatan
satuan bahan dan upah tenaga kerja. Ada lainnya, hal tersebut disebabkan tidak jelasnya
dua faktor yang berpengaruh terhadap hubungan (relationship) antar kegiatan.
penyusunan anggaran biaya suatu bangunan
- Jalur Kritis (CPM) METODE PERENCANAAN ESTIMASI
ANGGARAN BIAYA KONSTRUKSI PADA
Teknik Metode Jalur Kritis (CPM) TAHAP DESAIN
dikembangkan oleh James E. Kelly, Jr dari
Remington Rand dan Morgan Walker dari Du Tahapan Estimasi
Pond. Metode jaringan kerja CPM (Critical
Path Method) atau metode I-J ialah sebuah Langkah langkah dalam Estimasi biaya tahap
activity on arrow (AOA) terdiri dari panah dan desain dan scheduling pada Proyek
lingkaran. Panah merepresentasikan aktifitas, Pembangunan Kampus BSI Margonda Depok
lingkaran atau nodal merepresentasikan adalah sebagai berikut :
even. 1. Mengumpulkan data-data berupa data-data
teknis dan data lapangan.
- Metode Network 2. Estimasi pendahuluan berdasarkan luas,
klasifikasi dan jumlah lantai.
Metode Network (Network Analisys) adalah 3. Mengelompokan data kedalam daftar urutan
perbaikan dari metode diagram batang. pekerjaan dengan untuk memudahkan
Metode ini menyajikan secara jelas hubungan proses pengolahan data dan supaya lebih
ketergantungan antara bagian kegiatan terstruktur.
dengan kegiatan lainnya yang digambarkan 4. Menghitung volume tiap-tiap jenis pekerjaan
dalam diagram network. Dengan metode ini sesuai dengan gambar bestek.
dapat diketahui bagian - bagian kegiatan 5. Mengelompokan daftar harga material dan
yang harus didahulukan, yang harus upah pekerjaan dalam suatu tabel daftar
menunggu selesainya kegiatan lain, dan material, upah dan sewa alat.
kegiatan yang tak perlu tergesa-gesa. Metode 6. Menganalisa harga satuan pekerjaan untuk
Network Analisys ini mengalami tiap-tiap item pekerjaan.
penyempurnaan secara bertahap, yaitu : 7. Menghitung rencana anggaran biaya proyek
Barchart, PERT, CPM, PDM dan terakhir 8. Merencanakan penjadwalan pelaksanaan
adalah penjadwalan dengan komputer. pekerjaan proyek pembangunan.
Salah satu alat yang paling menyolok
dalam penggunan alat bantu komputer adalah Flowchart Proses Estimasi Biaya Proyek Tahap Desain
kemampuan mengolah data dalam jumlah
besar dan dengan kemungkinan kesalahan
yang kecil. Dengan demikian penyusunan
jadwal dapat lebih cepat dan teliti. Setiap saat
situasi proyek mengalami perubahan,
komputer dapat melakukan perubahan
tersebut dalam waktu singkat. Saat ini
telah banyak program penjadwalan dengan
menggunakan komputer. Pada dasarnya
program-program tersebut berprinsip pada
perhitungan CPM, PDM, dan dengan
penampilan gantt chart yang disempurnakan
sehingga hubungan keterkaitan tiap kegiatan
tergambar dengan jelas. Dengan penggunaan
komputer, penjadwalan dapat dilakukan
secara terpadu (waktu, material, tenaga kerja
serta biaya), cepat, tepat, memudahkan
dalam pengambilan keputusan serta kunci-
kunci pokok permasalahan pelaksanaan
proyek.
Penyusunan Anggaran Biaya Perkiraan harga satuan yang digunakan
Dalam penyusunan anggaran biaya, baik untuk perhitungan luas lantai, maupun isi
terlebih dahulu perlu diketahui untuk bangunan, tergantung pada :
keperluan apa dan kapan anggaran biaya
tersebut dibuat. Hal ini akan berpengaruh 1. Sifat atau bentuk bangunan yang
pada cara/sistem penyusunan dan hasil yang meliputi : bangunan sederhana,
diharapkan. Penyusun anggaran biaya terdiri bangunan sedang atau baik,
dari instansi/dinas/jawatan (khusus bangunan bangunan megah atau monumental.
negara), perencana dan kontraktor. 2. Jenis bangunan yang meliputi :
Cara/sistem penyusunan berbeda-beda bangunan gedung, rumah tinggal,
meskipun berdasarkan pada prinsip yang kantor, sekolah, gedung pertemuan
sama. dan sebagainya.
Ada 2 (dua) macam jenis penyusunan 3. Jenis Kontruksi yang meliputi : berat
anggaran biaya, yaitu : atau ringan dari kontruksi, gedung
1. Anggaran biaya kasar / taksiran bertingkat/tidak bertingkat
( cost estimate ) 4. Jenis Bahan-bahan bangunan pokok
2. Anggaran biaya teliti ( definitif ) yang digunakan

Untuk menentukan ukuran pokok dapat


Anggaran Biaya Kasar/Taksiran ditempuh beberapa cara, yaitu :
1. Luas lantai (ukuran dalam, ukuran
Penyusunan anggaran biaya kasar sumbu dan ukuran luar).
memerlukan bahan-bahan antara lain gambar 2. Luas atap (ukuran berdasarkan
prarencana, keterangan singkat mengenai denah bangunan termasuk tritisan)
bahan-bahan bangunan yang digunakan, 3. Isi bangunan, dihitung berdasarkan
cara pembuatannya dan persyaratan pokok luas lantai dikalikan tinggi gedung.
yang ditentukan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Ukuran tinggi gedung dihitung dari
dalam penyusunan anggaran biaya kasar tenggah-tengah kedalaman fondasi (separuh
antara lain : tinggi pondasi dari alas pondasi sampai lantai)
- Jenis dan ukuran bangunan dengan tengah-tengah jarak antara talang atau
- Jenis kontruksi (berat atau ringan) tritisan dan puncak bangunan. Ruang bawah
- Lokasi bangunan (basement) dihitung penuh.
( Sumber : Adminstrasi Kontrak dan Anggaran Borongan )
Cara Perhitungan Anggaran Biaya Kasar

Untuk menghitung anggaran biaya Anggaran Biaya Teliti


terlebih dahulu perlu disiapkan bahan-bahan
yang telah diuraikan termasuk data/catatan- Bahan-bahan yang diperlukan dalam
catatan mengenai harga bangunan sejenis penyusunan anggaran biaya teliti, antara lain :
yang ada. Selanjutnya perlu ditetapkan
ukuran pokok berdasarkan gambar 1. Peraturan dan syarat-syarat ( Bestek )
prarencana yang akan dipakai sebagai dasar 2. Gambar rencana atau Gambar Bestek
perhitungan untuk menentukan harga satuan 3. Buku analisa BOW.
pekerjaan. Yang dimaksud dengan ukuran 4. Peraturan-peraturan normalisasi yang
pokok dalam penulisan disini adalah untuk bersangkutan
bangunan gedung, yang dipakai sebagai 5. Peraturan-peraturan bangunan negara
ukuran pokok adalah luas lantai per m2, luas dan bangunan setempat.
atap per m2 atau sisi bangunan per m3 (jarang 6. Syarat-syarat lain yang diperlukan.
digunakan).
Cara Menyusun Anggaran Biaya Teliti Tahapan Analisa Harga Satuan Pekerjaan

Perhitungan yang dibuat untuk Gambar Rencana

menyusun anggaran biaya teliti akan


menghasilkan suatu biaya atau harga Daftar Jenis-Jenis Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan

bangunan dan dengan biaya atau harga


tersebut untuk pelaksanaan, bangunan akan Daftar Bahan Koefisien Bahan Daftar Upah Koefisien Upah Daftar Alat Koefisien Alat

terwujud sesuai dengan yang direncanakan.


Harga Bahan Harga Upah Harga Alat
Oleh karena itu anggaran biaya teliti harus
disusun dengan teliti, rinci dan selengkap- Harga Tiap Jenis Pekerjaan
lengkapnya.
Sebelum mulai menghitung anggaran Rencana Anggaran Biaya per Kelompok

biaya teliti perlu diperhatikan ketentuan-


Rencana Anggaran Biaya Total
ketentuan sebagai berikut:

1. Semua bahan untuk menyusun anggaran ( Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen
Pekerjaan Umum )
biaya teliti supaya dikumpulkan dan diatur
dengan rapi. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya
2. Gambar-gambar rencana atau gambar
bestek dan penjelasan atau keterangan Secara umum dapat dirumuskan
yang tercantum dalam peraturan dan sebagai berikut :
syarat-syarat atau bestek, berita acara
atau risalah penjelasan pekerjaan harus
selalu dicocokan satu sama lain. RAB = ( Volume x Harga satuan pekerjaan )
3. Membuat catatan sebanyak mungkin yang
perlu, baik mengenai gambar bestek
ataupun bestek. Dalam Penyusunan RAB diperlukan
4. Menentukan sistim yang tepat dan teratur Jumlah volume per satuan pekerjaan dan
yang akan dipakai dalam perhitungan. analisa harga satuan pekerjaan berdasarkan
( Sumber : Adminstrasi Kontrak dan Anggaran Borongan )
gambar bestek serta syarat-syarat analisa
pembangunan kontruksi yang berlaku.

Harga Satuan Pekerjaan Susunan Rencana Anggaran Biaya

Harga satuan pekerjaan adalah jumlah


harga bahan dan upah tenaga kerja atau Bestek dan
Gambar Bestek Harga Satuan
harga yang harus dibayar untuk Bahan dan Upah
menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi
berdasarkan perhitungan analisis.. Analisis Perhitungan Volume
disini adalah ketentuan umum yang Tiap Jenis Pekerjaan
ditetapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum Perhitungan Satuan
Tiap Jenis Pekerjaan
Depok. Dalam Analisis Satuan Komponen, Berdasarkan Standar PU
telah ditetapkan koefisien (indeks) jumlah
Perhitungan RAB
tenaga kerja, bahan dan alat untuk satu secara keseluruhan
satuan pekerjaan.
( Sumber : Adminstrasi Kontrak dan Anggaran Borongan )
Prosentase Bobot Pekerjaan ANALISIS DATA

Prosentase bobot pekerjaan merupakan Komponen Biaya Standar Dan Non Standar
besarnya nilai prosentase tiap item-item
pekerjaan, berdasarkan perbandingan antara - Luas Bangunan 5 Lantai :
anggaran biaya pekerjaan dengan harga
( 4 x 400 ) + 455 + 64 = 2.119 m2
bangunan. Secara skematis dapat
digambarkan sebagai berikut : - Harga Satuan Bangunan Kotip Depok (type A)

Persentase Bobot Pekerjaan (PBP) :


= Rp. 1,982,000.00 / m2
Faktor Pengali = 1.162
Volume x Harga Satuan 2
= x 100 % - Harga Satuan Per m Bangunan x Luas Lantai
Harga Bangunan
= 1.162 x 1,982,000.00 x 2.119
( Sumber : Adminstrasi Kontrak dan Anggaran Borongan )
= Rp 4,880,234,996.00
Bedasarkan pengalaman dan penelitian
Uraian Rencana Penjadwalan Pekerjaan di lapangan dari beberapa macam proyek
menggunakan Ms. Project pekerjaan konstruksi yang telah dilakukan oleh
Departemen Pemukiman dan Prasarana
Beberapa Hal yang harus diperhatikan dalam Wilayah, maka diperoleh komponen biaya
menyusun Uraian Rencana Kerja, yaitu : standar dan non standar sebagai berikut :

1. Urutan langkah kerja tidak boleh terbalik


2. Setiap Bagan pekerjaan digambarkan Tabel 5.1. Komponen Biaya Standar dan Non
dengan garis lurus sebagai garis Standar
kegiatan KOMPONEN BIAYA STANDAR
3. Panjang garis kegiatan ditentukan oleh No. Komponen Estimate Harga ( Rp )
jumlah hari atau jumlah minggu B
1 Pondasi 0.10 488,023,499.60
4. Jumlah hari atau minggu dapat dihitung
2 Struktur 0.35 1,708,082,248.60
berdasarkan jumlah tenaga kerja
3 Lantai 0.08 390,418,799.68
5. Bagian-bagian pekerjaan dapat
4 Dinding 0.08 390,418,799.68
digabungakan menjadi satu garis
5 Plafond 0.07 341,616,449.72
kegiatan.
6 Atap 0.10 488,023,499.60

Untuk menyusun rencana kerja, waktu 7 Utilitas 0.07 341,616,449.72

yang dipergunakan dalam bentuk hari atau 8 Finishing 0.15 732,035,249.40

minggu. TOTAL 1.00 4,880,234,996.00


KOMPONEN BIAYA NON STANDAR
No. Komponen Estimate Harga ( Rp )
1 Tata Udara AC 0.08 390,418,799.68
2 Tata Suara 0.02 97,604,699.92
3 Telepon 0.03 146,407,049.88
4 Genset 0.05 244,011,749.80
Sist.Deteksi &
5 Penc.Kebakaran
0.05 244,011,749.80

6 Furniture 0.05 244,011,749.80


7 Penangkal Petir 0.01 48,802,349.96
8 Peningkatan Mutu 0.06 292,814,099.76

TOTAL 0.35 1,708,082,248.60

Total Biaya Standar + Non Standar = 6,588,317,244.60


( Total Biaya Bangunan Keseluruhan )
Berdasarkan hasil biaya bangunan Volume Pasangan Batu Kali :
keseluruhan diatas maka biaya komponen
bangunan gedungnya adalah sebagai berikut Luas Pondasi = ( 0,3 x 0,6 ) x 0,6
: 2
= 0,054 m2

Tabel 5.2. Daftar Biaya Komponen Kegiatan Vol. Pondasi = 0,054 m2 x 112.57 m
= 6.08 m3
Pembangunan Bangunan Gedung
Volume Aanstamping & Volume Lantai Kerja
Klasifikasi : TIDAK SEDERHANA
Luas Aanstamping = ( 0,8 x 0,15 ) Luas
( dalam ribuan rupiah )

BIAYA BIAYA BIAYA BIAYA TOTAL


Lantai Kerja = ( 0,8 x 0.05 )
KONSTRUK PERENCAN MANAJEM PENGELOL
SI AAN EN A BIAYA = 0,12 m2
KONSTRUK KONSTRUK
FISIK SI SI PROYEK Vol. Aanstamping = 0,12 x 112.57 Vol.
Lantai Kerja = 0,04 x 112.57
6,050,000.0 256,822.50 211,447.50 30,413.35 6,548,683.35
= 13.51 m3
6,087,251.2 258,099.45 212,445.07 30,521.48 6,588,317.24

6,100,000.0 258,640.00 212,890.00 30,585.40 6,602,115.40

Perhitungan Rencana Anggaran Biaya


( Sumber : Pedoman Pembangunan Gedung Negara )
Pada tahap perhitungan anggaran biaya
Biaya Kontruksi Fisik dengan MK konstruksi, data data perhitungan yang
Rp 6,087,251,245.57
Biaya Perencanaan Konstruksi dibutuhkan adalah hasil perhitungan volume
Rp 258,099,452.81 pekerjaan dan hasil analisa satuan pekerjaan
Biaya MK pada masing masing pekerjaan konstruksi.
Rp 212,445,068.47
Biaya Pengelolaan Proyek Berikut merupakan salah satu contoh
Rp 30,521,477.75 + perhitungan anggaran biaya konstruksi pada
Total Biaya Kontruksi Fisik, Jasa
Proyek Pebangunan Kampus BSI Margonda
Perencanaan,Pengawasan Rp 6,588,317,244.60 Depok
dan Pengelolaan. Diketahui :
o Hasil perhitungan volume Aanstamping
pada pondasi batu kali ( PB1
Perhitungan Volume Satuan Pekerjaan + PB2 ) adalah 24.70 m3 .
o Hasil perhitungan analisa satuan
Luas Lahan : 1.035 m2 pekerjaan berdasarkan Analisa
Luas Lantai : 2.119 m2 Pekerjaan Umum Kota Depok adalah
Rp. 239,950.00 / m3
o Anggaran Biaya Satuan Pekerjaan =
Contoh perhitungan volume satuan Volume x Analisa Satuan Pekerjaan
pekerjaan pada pekerjaan pondasi batu kali
(PB1) adalah sebagai berikut : Maka :
o Anggaran Biaya Satuan Pekerjaan
300

Pasangan Batu Kali


= Volume x Analisa Satuan Pekerjaan

Untuk 1 m3 pekerjaan Aanstamping dibutuhkan


600

Aanstamping
biaya sebesar :

o 24.70 m3 x Rp. 239,950.00 / m3


150

= Rp 5,926,765.00
100 600 100

800
Bobot Prosentase Satuan Pekerjaan Analisa Durasi Pekerjaan

- Jam Kerja Efektif dalam satu hari = 7 jam


No. Jenis Pekerjaan Biaya Pekerjaan Bobot %
- Perhitungan Produktivitas dalam satu hari :

Produktivitas Kerja
I Pekerjaan Persiapan Rp 72,304,023.08 1.22%
II Pekerjaan Tanah Rp 37,914,947.50 0.64% Jumlah Tenaga x Jam Kerja Efektif
=
III Pekerjaan Struktur Bawah Koefisien
III.a Pekerjaan Pondasi Batu Kali Rp 79,136,777.16 1.33%
Pekerjaan Pondasi
III.b Tiang Pancang Rp 498,575,900.00 8.41% - Contoh Perhitungan Pekerjaan Baja Tulangan
III.c Pekerjaan Pile Cap Rp 82,228,918.00 1.39%

IV Pekerjaan Struktur Atas


(Ulir) D39 :
IV.a Pekerjaan Dinding Pagar Rp 15,899,840.00 0.27%
0.0350 Mandor Per Jam
IV.b Pekerjaan Lantai Dasar Rp 342,705,961.12 5.78%
IV.c Pekerjaan Lantai Dua Rp 646,775,363.90 10.91%
0.1050 Pekerja Per Jam
IV.d Pekerjaan Lantai Tiga Rp 637,106,407.90 10.75%
IV.e Pekerjaan Lantai Empat Rp 637,106,407.90 10.75%
0.1050 3 Pekerja
IV.f Pekerjaan Lantai Lima Rp 596,587,648.20 10.06% Maka : =
IV.g Pekerjaan Lantai FL 16.28 Rp 133,225,222.20 2.25%
0.0350 1 Mandor
IV.h Pekerjaan Lantai Atap Rp 154,380,922.80 2.60%
Pekerjaan Dinding, Kusen, 1 Mandor x 7 Jam
V. Elektrikal, dan Plafond Produktivitas =
1 Lantai Dasar Rp 289,810,736.49 4.89% 0.0350
2 Lantai Dua Rp 181,166,594.88 3.06%
3 Lantai Tiga Rp 140,854,149.83 2.38% = 200 kg / hari
4 Lantai Empat Rp 140,854,149.83 2.38%
5 Lantai Lima Rp 147,260,849.73 2.48%
- Perhitungan Durasi Pekerjaan :
6 Lantai FL 16.28 Rp 1,129,345.00 0.02%
Volume Pekerjaan
Lantai Atap Rp 42,304,664.70 0.71% Durasi Pekerjaan =
VI Finishing Produktivitas
VI.a Pekerjaan Kusen Lengkap Rp 2,487,239.31 0.04%
Pekerjaan Kunci / - Contoh Perhitungan Durasi Pekerjaan
VI.b Alat Gantungdan Kaca Rp 9,211,171.20 0.16%
VI.c Pekerjaan Penutup Lantai Rp 235,980,910.40 3.98%
Pembesian pada Pedestal, yaitu :
VI.d Pekerjaan Pengecatan Rp 653,586,744.30 11.02%
Pekerjaan Sanitasi
VI.e dan Saluran Air Rp 9,800,962.50 0.17% Diketahui volume pembesian pada pekerjaan
VI.f Pekerjaan Landscape Rp 63,646,425.00 1.07%
Pekerjaan Elektrikal
VI.g ( Lampu Taman ) Rp 44,606,240.00 0.75% pedestal sebesar 124.20 kg,
VI.h Pekerjaan Lain-lain Rp 32,032,260.00 0.54%
maka :
Rp 5,928,680,782.92 100.00%

124.20 kg
Durasi Pekerjaan = = 0.62 hr
200 kg/hari
KESIMPULAN
SARAN
Anggaran biaya konstruksi pembangunan
gedung bertingkat didapat dari hasil Hal yang penting dalam pemilihan metode
penjumlahan biaya standar dan non standar estimasi biaya tahap desain haruslah akurat,
yang berdasarkan pada syarat teknis bangunan mudah dan tidak mahal dalam penggunaannya.
gedung, maka didapat perkiraan total biaya Parameter yang digunakan dalam estimasi
biaya komponen kegiatan pembangunan anggaran biaya konstruksi untuk bangunan
bangunan gedung sebesar Rp 6,588,317,244.60. gedung adalah luas lantai dan jumlah lantai.
Langkah awal yang harus diperhatikan adalah
1. Estimasi biaya anggaran konstruksi tahap menentukan klasifikasi bangunan baik
desain pada Pembangunan Kampus BSI berdasarkan kegunaan bangunan ataupun
Margonda Depok sebesar Rp 5.928.680.782,92. kompleksitas. Parameter yang lebih penting
adalah indeks harga bangunan gedung
2. Durasi waktu jadwal rencana pelaksanaan permeter persegi berdasarkan perencanaan
selama 4,5 bln. program dan anggaran bangunan gedung yang
dikeluarkan sesuai dengan daerah pelaksanaan
Nilai Proyek yang didapat dari hasil estimasi proyek.
anggaran biaya konstruksi tahap desain pada
Pembangunan Kampus BSI Margonda Depok
lebih kecil dibandingkan anggaran biaya DAFTAR PUSTAKA
konstruksi berdasarkan syarat teknis bangunan
gedung. Artinya estimasi anggaran biaya Tenriajeng. A. T., Administrasi Konrtrak dan
konstruksi pada Pembangunan Kampus BSI Anggaran Borongan, Penerbit
Margonda Depok dapat digunakan dalam Gunadarma, Depok, 2004
pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Oleh karena
itu proyek pembangunan bangunan gedung Soeharto, I., Manajemen Proyek Jilid 2,
kampus BSI Margonda Depok layak untuk Penerbit Erlangga, Jakarta 1998
dilaksanakan dan dapat memenuhi syarat
teknis pembangunan bangunan gedung. H. Bachtiar I, Rencana dan Estimate real of
Cost, penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 2003

Keputusan Menteri Permukiman Dan


Prasarana Wilayah Nomor:
332/Kpts/M/2002, Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung
Negara, Jakarta, Agustus 2002.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KLAIM DAN PENYELESAIANNYA PADA INDUSTRI
KONSTRUKSI

Nursyam Saleh
Staf Pengajar Teknik Ekonomi Konstruksi
Universitas Bung Hatta Padang
Mahasiswa Faculty of Civil Engineering University Teknologi Malaysia

ABSTRAK: Industri kontruksi adalah industri yang memberikan sumbangan yang signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi suatu negara. Masalah yang terjadi pada industri ini hendaknya di minimalisasi. Salah satu masalahnya adalah
klaim. Untuk bisa mengatasi masalah klaim, pihak-pihak yang terlibat dalam industri ini sebaiknya mengenal jenis-jenis
klaim, penyebabnya dan alternatif penyelesaiannya. Jenis dan penyebab klaim bisa berupa (a) klaim atas kerugian karena
disebabkan oleh perubahan kontrak yang dilakukan oleh pemilik, (b) klaim atas tambahan elemen nilai kontrak, (c) klaim
yang dibuat karena perubahan kegiatan, dan (c) klaim karena Penangguhan proyek. Tindakan antisipasi bisa mempersiapkan
dokumentasi, pengetahuan tentang kontrak, Gambaran yang jelas tentang Perubahan Order, Rencana dan Penjadwalan,
Tindakan Proaktif dan Presenvation of Rights. Dan alternatif penyelesaiannya bisa melalui Negosiasi, Mediasi, Arbitrasi dan
Litigasi.

Kata kunci ; Industri kontruksi dan Klaim.

1. PENDAHULUAN
Industri kontruksi adalah industri memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Kontribusi industri ini melalui penyediaan tenaga kerja kepada masyarakat sehingga menurunkan jumlah
pengangguran atau meningkatkan jumlah pendapatan dan konsumsi masyarakat yang akhirnya akan memberikan
sumbangan positif terhadap pembangunan. Agar industri kontruksi memberikan nilai tambah bagi pembangunan
maka sistim pengelolaan industri harus dilakukan secara profesional dan efektif pada semua aspek yang terlibat
dalam suatu proyek kontruksi.

Proyek konstruksi juga semakin hari menjadi semakin kompleks sehubungan dengan standar-standar baru yang
ditetapkan, teknologi yang canggih, dan keinginan owner untuk melakukan penambahan ataupun perubahan lingkup
pekerjaan. Suksesnya sebuah proyek tak lepas dari kerja sama antara pihak-pihak yang terlibat didalamnya yaitu
owner, enginer dan kontraktor. Pihak-pihak tersebut mempunyai kepentingan dan tujuan yang berbeda sehingga
konflik/perselisihan selalu timbul akibat perbedaan pendapat pada saat perencanaan dan pembangunan proyek.
(Malak, Saadi, Zeid, 2002)

Keberhasilan penyelesaian suatu proyek kontruksi dan menjaga agar realisasi biaya sama dengan yang di anggarkan
sangat tergantung pada metodologi yang membutuhkan pertimbangan teknis para insinyur (Hancher, 1981). Jika
pertimbangan teknis kurang matang maka akan menyebabkan keterlambatan didalam penyelesaian. Dampak
keterlambatan ini bisa berdampak terhadap biaya dan kualitas (Herbsman, Chen dan Epstein, 1995). Banyak
penyebab di tundanya penyelesaian proyek, seperti yang dikemukan oleh (Ogunlana dan Promkuntong, 1996)
diantaranya adalah masalah kekurangan material, masalah yang disebabkan oleh konsultan dan klien, dan masalah
tidak kompetennya kontraktor pelaksana. Untuk mengantisipasi klaim harus diketahui lebih dahulu penyebabnya,
karena klaim dapat berasal dari kontraktor, pemberi order pekerjaan, manajer konstruksi ataupun dari dokumen
kontraknya (Fisk, 1997)

Akibat dari keterlembatan penyelesaian sering menimbulkan tuntutan dari salah satu pihak. Tuntutan di industri
kontruksi bisa bisa di definisikan (Adrian,1988) jika salah satu pihak menuntut sejumlah uang, tambahan masa
penyiapan proyek, atau merubah (menambah/mengurangi) pekerjaan. Masalah ini akan bisa diselesaikan melalui
beberapa tahap (Groton, 1992) yaitu prevention, Negotiation, Standing neutral, Non-binding resolution, Binding
resolution (arbitration) dan litigation.

Kajian tentang masalah munculnya klaim di industri kontruksi sudah banyak dilakukan diantaranya Al-Subaie
(1987), Wahyuni (1996), (Al-Bargauthi (1994), Tjahjono & Santoso, (1998) dan Saiful (2004)). Kajian-kajian di
atas membahas tentang jenis-jenis klaim, penyebab dan antisipasi klaim serta alternatif penyelesaian klaim. Dengan
mengetahui jenis dan penyebab klaim serta bagaimana mengantisipasi klaim dan alternatif penyelesaiannya maka
tentu sangat bermanfaat bagi industri kontruksi sehingga industri ini semakin efisien dan tentu akan menyumbang
terhadap perekonomian negara. Tulisan ini mencoba kembali mereview jenis-jenis dan penyebab klaim serta
antisipasi dan alternatif penyelesaiannya.

2. TUJUAN DAN MANFAAT


Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis klaim, penyebab timbulnya klaim, antisipasi supaya tidak
terjadinya klaim dan alternatif penyelesaiannya pada industri kontruksi. Dengan mengetahui jenis-jenis, penyebab,
dan antisipasi untuk menghadapi klaim serta alternatif penyelesaiannya akan berguna bagi pihak-pihak yang terlibat

-1-
pada industri kontruksi baik owner, kontraktor, sub-kontraktor dan arsitek agar bisa menghindari klaim dan memilih
alternatif penyelesaiannya.

3. JENIS-JENIS KLAIM
Klaim pada industri kontruksi sangat sensentif dan emotif. Fadzilah (1999) mengemukakan bahwa klaim bisa dalam
bentuk tambahan biaya oleh kontraktor di luar biaya yang telah ditetapkan dalam kontrak. Klaim ini terdiri dari
beberapa jenis yang perlu diketahui agar memudahkan bagi pihak yang terlibat pada industri kontruksi untuk
mengontrol jalannya proyek dan mengantisipasi penyelesaian klaim. Konflik-konflik (perselisihan) yang disebabkan
berbagai macam hal ini, akan menyebabkan terjadinya sengketa antara pihak pemilik, perencana maupun kontraktor,
jika sengketa yang ada dibiarkan berlarut-larut maka akhirnya akan muncul klaim konstruksi dari pihak-pihak yang
terlibat dalam proses konstruksi. Karena terlepas dari besar kecilnya skala proyek, hampir dapat dipastikan akan
selalu terjadi klaim, yang mana hal ini tidak dapat dihindari (Wahyuni, 1996). Barry et al. (1990) membagi jenis
klaim kedalam 4 kategori utama yaitu ; (a) klaim atas kerugian karena disebabkan oleh perubahan kontrak yang
dilakukan oleh pemilik, (b) klaim atas tambahan elemen nilai kontrak, (c) klaim yang dibuat karena perubahan kerja,
dan (d) klaim karena Penangguhan proyek.

Perubahan bisa disebabkan oleh penyimpangan pekerjaan dari kontrak semula baik dari aspek skop pekerjaan
maupun perubahan desain. Perubahan ini akan meningkatkan biaya dan masa penyelesaian proyek.Rubin et al.
(1983) dan (Edward (1999)) menjelaskan bahwa perubahan bisa berasal dari pemilik maupun dari yang lain.
Diantaranya adalah perubahan kontruksi (Gary (1995) dan Fisk dan Negelle et al. ,1988), perubahan kondisi
lapangan yang tidak sesuai dengan kontrak (Stephen ( 1997) dan Brij (1996)) , perubahan disaian (Barry et al.,
1990) dan penghentian pekerjaan proyek Gilbreath et al (1983).

Selain klaim atas penyimpangan dari kontrak, klaim juga bisa dalam bentuk tambahan waktu. Hal ini bisa
disebabkan oleh waktu penyelesaian lebih lama dari jadwal Garry (1995), waktu penyelesaian lebih cepat dari jadwal
(Powell et al., 1999), gangguan dari lingkungan (Brij, 1996), rendahnya kualitas pekerjaan (Gilberth et al. (1992),
rendahnya kualitas material yang di gunakan ( Greeno, 1995) dan (Yates & Lockley, 2002), dan struktur kontruksi
(Barry et al., (1990) dan Wyatt (1985). Jenis klaim lainnya bisa berupa klaim keuangan.

4. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KLAIM


Pihak-pihak yang terlibat dalam suatu kontrak konstruksi pada dasarnya mempunyai maksud dan tujuan yaitu
terlaksananya suatu proyek pada harga, kualitas dan waktu yang telah ditetapkan, tetapi dapat juga timbul perbedaan-
perbedaan atau salah interprestasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak sehingga menimbulkan
perselisihan diantaranya. Perselisihan yang tidak diselesaikan ini dapat menimbulkan klaim (Fisk, 1997).

Sebagian besar klaim yang terjadi disebabkan oleh keterlambatan penyelesaian suatu proyek. Faktor keterlambatan
dapat berasal dari keterlambatan suatu proyek konstruksi dapat disebabkan kurangnya pengalaman pemberi order
pekerjaan (Fisk, 1997). Adanya organisasi kerja yang efisien juga ikut mempengaruhi kesuksesan suatu manajemen
dalam proyek konstruksi. Oleh sebab itu dalam membentuk suatu organisasi proyek harus diperhatikan bahwa jalur
perintah yang ada sebaiknya bersifat langsung dan pendek dan tiap individu sebaiknya diberi wewenang sesuai
posisinya (Antill, 1970).

Dokumen kontrak yang tidak jelas dapat menyebabkan adanya keterlambatan dimana hal ini mengakibatkan klaim,
misalnya tidak lengkapnya schedulling clause dalam suatu dokumen kontrak (Fisk, 1997). Pemberi order pekerjaan
tidak boleh mencampuri rencana yang telah dibuat kontraktor pada pekerjaan yang sifatnya sequential misalnya
dengan mengadakan perubahan pada pekerjaan tersebut. Apabila hal itu menyebabkan tambahan biaya maka
kontraktor dapat menuntut pemberi order pekerjaan (Wilson, 1982)

Kurangnya pengalaman dari manajer dalam pengaturan jadwal dan perencanaan dapat menyebabkan terjadinya
masalah-maslaah dalam pelaksanaan suatu proyek (Ahuja & Walsh, 1983). Job meeting yang tidak teratur dan tidak
dipersiapkan dengan baik sehingga tujuannya menjadi tidak jelas dapat menyebabkan tidak terkoordinirnya
pekerjaan (Ahuja, 1984).

Apabila kontraktor tidak setuju dengan spesifikasi yang ada, menolak untuk bekerja sama dan tidak mengikuti
peraturan yang ada dapat menyebabkan keterlambatan, (Fisk, 1997) kegagalan dari kontraktor untuk dapat
menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah tercantum dari kontrak dapat menyebabkan timbulnya
klaim, (Antill, 1970)
Dalam suatu proyek, seringkali dijumpai adanya perubahan-perubahan pekerjaan, hal ini terjadi karena kondisi
sebenarnya yang ada dilapangan baru diketahui setelah pekerjaan berlangsung. Perubahan pekerjaan yang
diperintahkan pemberi order pekerjaan dapat menyebabkan terjadinya pemberi order pekerjaan dapat menyebabkan
terjadinya keterlambatan dari jadwal kemajuan pekerjaan yang telah direncanakan (Antill, 1970). Campur tangan
pemberi order pekerjaan ini dapat berupa perintah untuk menggunakan metode yang tidak tercantum dalam kontrak.
Klaim juga dapat timbul karena kontraktor diperintahkan untuk pekerjaan dibawah kondisi dimana kontraktor
merasa kondisi tersebut menghambat pekerjaannya. (Ahuja & Walsh, 1983). Penundaan pekerjaan yang disebabkan
oleh keterlambatan pengiriman material merupakan salah satu penyebab utama rendahnya produktifitas dan adanya
waktu menganggur (Harison, 1981:257, Cristian & Hackey, 1995)

-2-
Tidak sempurnanya rencana dan spesifikasi dapat menyebabkan timbulnya klaim dari kontraktor apabila terjadi
perubahan order (Ahuja, 1984). Perintah tidak pemberi order pekerjaan untuk mengubah metode yang ada atau
memerintahkan kontraktor untuk bekerja dengan suatu metode dimana metode tersebut tidak tercantum dalam
kontrak dapat menimbulkan klaim (Ahuja, 1983)

Kondisi fisik di lapangan yang berbeda dari yang tertulis pada dokumen kontrak dapat menjadi suatu masalah,
dimana kontraktor berhak mendapat tambahan biaya untuk suatu pekerjaan. Adanya data-data kondisi tanah yang
berbeda dari rencana juga dapat mengakibatkan tambahan biaya bahkan menyebabkan keterlambatan di suatu
proyek. Perbedaan kondisi lapangan dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu (Fisk, 1997)

Hujan lebat atau cuaca yang tidak memungkinkan dapat menyebabkan penundaan pelaksanaan pekerjaan sehingga
terjadi keterlambatan pada proyek (Fisk, 1997) cuaca buruk meskipun dapat dikontrol oleh manajemennya dapat
berakibat pada hilangnya hari kerja (Ahuja, 1984)

Adanya aselarasi pekerjaan dalam suatu proses konstruksi dapat menyebabkan klaim (ahuja, 1983). Aselarasi
pekerjaan dilakukan kontraktor untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari waktu normal dengan menambah
jam kerja atau tenaga kerjanya. Aselerasi dapat dibagi menjadi 3 tipe yaitu: Diceted acceleration, Constructive
acceleration, The Contractor Accelerates Valuntarily

Pemberi order pekerjaan dapat memerintahkan kontraktor untuk menangguhkan semua atau sebagian pekerjaan bila
dianggap penting. Ada beberapa alasan untuk menangguhkan pekerjaan diantaranya pemberi order pekerjaan
mempunyai anggaran yang terbatas dan memutuskan untuk menghentikan pekerjaan di area tertentu. Penangguhan
pekerjaan dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu (Fisk, 1997); (a) Kategori Pertama; Berhubungan dengan kegagalan
kontraktor untuk menyelesaikan perintah atau ketetapan yang tercantum pada kontrak, (b) kategori Kedua;
Penangguhan pekerjaan dilakukan berhubungan dengan cuaca yang tidak memungkinkan atau kondisi yang tidak
baik misalnya penangguhan pengiriman material akibat adanya banjir (Ahuja, 1984).

Spesifikasi merupakan bagian dari suatu dokumen kontrak yang menerangkan kualitas yang diminta dari suatu
proyek yang akan dikerjakan. Spesifikasi merupakan suatu pelengkap dari gambar yang menjelaskan material yang
akan dipakai, pekerja-pekerja yang dibutuhkan dan langkah-langkah yang harus diikuti dalam melaksanakan suatu
proyek konstruksi (Fisk, 1997). Adanya pekerjaan yang berbeda dari yang telah disebutkan dari spesifikasi atau
adanya pekerjaan tambahan yang tidak tercantum dalam dokumen kontrak dapat menyebabkan konflik dalam
rencana dan spesifikasi (Ahuja, 1983)

Klaim juga dapat timbul akibat adanya beberapa kontraktor yang bekerja pada suatu proyek yang sama pada saat
yang sama dan salah satu kontraktor merasa pekerjaannya dihalangi oleh kontraktor lain. Hal ini dapat menyebabkan
kegagalan pekerjaan pada kontraktor lain (Ahuja & Walsh, 1983). Apabila pemberi order pekerjaan tidak
memberikan informasi yang jelas kepada kontraktor misalnya test boring dan penyelidikan tentang kondisi di bawah
permukaan tanah dan hal-hal yang ternyata mempengaruhi pekerjaan kontraktor maka hal ini dapat menimbulkan
klaim (Ahuja & Walsah, 1983)

Penyebab utama perselisihan antara pemilik dan kontraktor adalah keterlambatan (PTU, 1996). Bila dilihat lagi
penyebab keterlambatan ini bermacam-macam. Keterlambatan proyek juga banyak yang disebabkan faktor
pengembang/pemilik. Misalnya, karena perencanaan yang tidak matang, di tengah jalan pengembang/pemilik yang
mengerjakan sendiri, mengatur sendiri pula sub-sub kontraktor. Hal itu sering menyebabkan kesungguhan kontraktor
berkurang (PTU, 1996). Keterlambatan terjadi karena berbagai macam hal. Seperti, misalnya perubahan-perubahan
desain, kesalahan manajemen, kekurangan peralatan ataupun tenaga ahli maupun karena waktu yang disediakan
pemilik memang tidak cukup (Unrealistic Schedule).
Setiap kontraktor mengharapkan untuk menangani pekerjaan yang semua kondisinya berada dalam keadaan yang
ideal (driscoll, 1971). Suatu pekerjaan yang dapat diselesaikan tepat waktu dan hanya melibatkan sedikit perubahan
dari pemilik yang menghasilkan perubahan-perubahan yang dapat dilihat secara nyata serta sebanding dengan
banyaknya uang yang dapat dihemat.

Bila dalam suatu proyek pemilik memerintahkan kontraktor untuk melakukan pekerjaan yang tidak tercantum dalam
kontrak, maka pemilik diharapkan untuk dapat segera untuk dapat mengeluarkan dokumen perubahan pekerjaan
(change oeder issue), dimana dokumen yang berkaitan dengan jumlah perubahan pekerjaan tersebut dimasukkan
dalam kontrak dan kontraktor berhak untuk mendapatkan biaya tambahan untuk perubahan pekerjaan yang
dilakukan. Dalam hal ini kontraktor tentunya tidak berhak untuk mengajukan klaim karena sudah ada kompensasi
dari pemilik. Kontraktor baru dapat mengajukan klaim bila pemilik menunda untuk mengeluarkan dokumen tersebut
sehingga menyebabkan kontraktor memperbaiki jadwal kerjanya serta mengeluarkan biaya tambahan.

Manajemen merupakan faktor penting dalam organisasi pemilik ataupun kontrator. Adanya kesalahan manajemen
oleh pemilik dapat menyebabkan kontraktor mengajukan klaim kepada pemilik. Demikian pula sebaliknya, adanya
kesalahan manajemen pada kontraktor dapat merugikan pemilik dan mengakibatkan timbulnya klaim kepada
kontraktor. Bila digunakan sistem kerja fast-track construktion, dimana sistem ini memungkinkan adanya
pekerjaan konstruksi yang dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan desain, biasanya diperlukan banyak perubahan-

-3-
perubahan desain. Perubahan-perubahan desain tersebut dapat menyebabkan peselisihan antara pemilik dan
kontraktor dan pada akhirnya menyebabkan kontraktor mengajukan klaim.

Itikad buruk adalah sebab klaim yang berkaitan dengan berbagai tindakan penipuan. Dalam tahun-tahun terakhir
ini, klaim itikad buruk telah menjadi biasa (Bramble, et al., 1990). Yang termasuk kedalam klaim itikad buruk ini
adalah penggelapan, salah pengertian, usaha-usaha yang ditujukan untuk menyusahkan orang lain atau usaha-usaha
yang tidak memperhitungkan efek yang timbul terhadap yang lain. Klaim itikad buruk ini dapat berasal dari
kontraktor maupun dari pemilik. Ada kontraktor yang merasa dirugikan oleh tindakan pemilik yang dengan sengaja
menunda-nunda pembayaran atau bahkan tidak membayar sama sekali pekerjaan yang telah dilaksanakan. Dilain
pihak, ada pula pemilik yang merasa dirugikan oleh tindakan kontraktor yang tidak bertanggung jawab.

5. PENYELESAIAN KLAIM
Perselisihan yang terjadi antara pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak dalam suatu proyek bila tidak diselesaikan
akan menimbulkan klaim dimana hal ini membutuhkan tambahan biaya dan waktu bahkan dapat mempengaruhi
kredibilitas pihak-pihak tersebut. Oleh karena itu klaim sebisa mungkin dihindari dengan meminimumkan
kemungkinan yang terjadi, karena klaim bukanlah hal yang menguntungkan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam
kontrak (ahuja & Walsh, 1983)

Ada beberapa cara yang dilakukan pihak yang terlibat dalam kontrak untuk mengantisipasi terjadinya klaim.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah : dokumentasi, pengetahuan tentang kontrak, gambaran yang Jelas
tentang perubahan order, rencana dan penjadwalan, tindakan Proaktif dan presenvation of rights.

Untuk menghindari terjadinya klaim diperlukan pengetahuan dan pengalaman dalam mempersiapkan suatu
dokumentasi. Adanya dokumentasi yang baik, lengkap dan benar dapat dipakai sebagai alat atau dasar untuk
mengetahui adanya kejadian atau perubahan baik yang berupa kemajuan maupun keterlambatan dari proyek tersebut.
Dokumentasi juga dapat digunakan sebagai dasar untuk membenarkan atau menolak tindakan dari salah satu pihak
untuk meminta tambahan waktu dan uang.

Dokumen tentang kontrak harus dibaca secara keseluruhan dan dimengerti sebelum melakukan penawaran untuk
menghindari kegagalan dalam menyelesaikan pekerjaan secara tepat waktu (Jergeas, 1994).
Perubahan order dapat mengakibatkan perubahan pada dokumen kontrak karena perubahan order dapat
menyebabkan perubahan pada harga yang telah disepakati, perubahan jadwal pembayaran perubahan pada jadwal
penyelesaian pekerjaan dan perubahan pada rencana dan spesifikasi yang telah ditetapkan dalam kontrak (Fisk,
1997). Perubahan order ini tidak hanya mengakibatkan adanya tambahan biaya saja tetapi juga akan mengakibatkan
tambahan beban pekerjaan, tambahan biaya administrasi, biaya dari adanya tambahan waktu dan biaya-biaya
(Jergear & Hartman, 1994).

Suatu rencana dimaksudkan untuk mendapatkan suatu metode pelaksanaan proyek yang sifatnya ekonomis dan
hanya membutuhkan sedikit waktu (Deatherage, 1965). Dengan rencana yang baik, maka sumber daya yang cukup
dapat disediakan pada saat yang tepat, tersedia cukup waktu untuk setiap aktivitas dan setiap aktivitas dapat dimulai
pada saat yang tepat. Rencana juga dapat membantuk untuk memilih metode konstruksi yang ekonomis, memilih
peralatan, pengiriman material (Antill & Woodhead, 1970)
Semua pihak yang terlibat dalam suatu kontrak pada dasarnya ingin mendapatkan keuntungan dan sedapat mungkin
mengurangi tanggung jawab terhadap kemungkinan terjadinya klaim. Manajer poryek harus mempertimbangkan hal-
hal di bawah ini untuk melindungi keuntungan kontraktor dan mengurangi tanggung jawab.

Semua tindakan yang tidak sesuai dengan dokumen kontrak dan dapat menyebabkan terjadinya klaim harus dicatat
dan dilengkapi dengan waktu kejadiannya, hal-hal seperti melakukan pekerjaan yang berbeda dari gambar dan
spesifikasi, menggunakan cara atau metode yang berbeda atau lebih mahal, bekerja diluar rencana yang ditetapkan,
permintaan untuk berhenti bekerja merupakan tindakan-tindakan yang harus dihindarkan untuk menghindari
terjadinya klaim (Jergeas, 1994)

Dalam menghadapai masalah konstruksi haruslah diingat bahwa penyelesaian dengan musyawarah jauh lebih baik
dari pada mengajuan klaim. Tujuan yang hendak dicapai bukanlah untuk membuktikan siapa yang benar melainkan
penyelesaian masalah yang ada. Banyak cara untuk menyelesaikan perselisihan dalam suatu proyek. Diperlukan
sikap terbuka (open minded) dan keinginan yang kuat dalam menyelesaikan masalah dari pihak terlibat. Adanya
kesadaran bahwa dalam menyelesaikan proyek tepat waku, cost dan standar mutu dan spesifikasi sesuai dengan
perjanjian sebelumnya adalah tujuan utamanya (Wahyuni, 1996). Bila salah satu pihak tidak memenuhi syarat yang
sudah dipenuhi, maka perselisihan tersebut tidak akan selesai.

Jika klaim konstruksi tidak dapat diselesaikan dengan segera, pihak-pihak yang terlibat harus dilanjutkan ke forum
penyelesaian masalah lebih formal. Yang termasuk dalam hal ini adalah : Negosiasi, Mediasi, Arbitrasi dan Litigasi.

Yang dimaksud dengan negosiasi adalah cara penyelesaian yang hanya melibatkan kedua belah pihak yang
bersengketa, tanpa melibatkan pihak-pihak yang lain. Hal ini mirip dengan musyawarah dan mufakat yang ada di
Indonesia, dimana keinginan untuk berkompromi, adanya unsur saling memberi dan menerima serta kesediaan untuk
sedikit menyingkirkan ukuran kuat dan lemah adalah persyaratan keberhasilan cara ini. Di dalam negosiasi ini

-4-
kontraktor dan pemilik memakai arsitek dan insinyur sebagai penengah. Biasanya kontraktor diminta mengajukan
klaim kepada arsitek/insinyur yang diangkat menjadi negosiator. Arsitek/Insinyur ini akan mengambil keputusan
yang sifatnya tidak mengikat, kecuali keputusan tentang efek arstistik yang konsisten dengan apa yang telah ada
dalam dokumen kontrak.

Mediasi merupakan cara penyelesaian masalah di awal perselisihan berlangsung. Mediasi ini melibatkan pihak ketiga
yang tidak memihak dan dapat diterima kedua belah pihak yang bersengketa. Pihak ketiga ini akan berusaha
menolong pihak-pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan penyelesaian, meskipun mediator ini tidak
mempunyai kekuatan untuk memutuskan penyelesaian masalah tersebut. Mediasi sama menguntungkannya dengan
arbitrasi. Mediasi dapat menyelesaikan masalah dengan cepat, murah, tertutup dan ditangani oleh para ahli. Tetapi
yang menjadi masalah adalah keputusan mediasi ini tidak mengikat. Jadi apabila persetujuan tidak dapat dicapai,
seluruh usaha mediasi hanya akan membuang-buang uang dan waktu.

Arbitrasi adalah metode penyelesaian masalah yang dibentuk melalui kontrak dan melibatkan para ahli dibidang
konstruksi. Para ahli tersebut bergabung dalam badan arbitrase. Badan ini akan mengatur pihak-pihak yang telah
menandatangani kontrak dengan klausul arbitrasi didalamnya untuk melakukan arbitrasi dan menegakkan keputusan
arbitrator. Hal yang menguntungkan dari cara arbitrasi ini adalah sifat penyelesaiannya yang cepat dan murah jika
dibandingkan dengan litigasi. Selain itu, cara arbitrasi ini dilakukan secara tertutup serta dilakukan oleh seorang
arbitrator yang dipilih berdasarkan keahlian.

Keputusan arbitrasi yang bersifat final dan mengikat merupakan alasan penting digunakannya cara ini untuk
menyelesaikan masalah. Keputusan pengadilan biasanya terbuka untuk proses peradilan yang lebih panjang. Hal ini
menghasilkan penundaan yang lama dan memakan biaya dalam penyelesaian masalah. Sedangkan keputusan dari
arbitrasi ini tidak dapat dirubah tanpa semua pihak setuju untuk membuka kembali kasusnya.

Litigasi adalah proses penyelesaian masalah yang melibatkan pengadilan. Proses ini sebaiknya diambil sebagai jalan
akhir bila keseluruhan proses diatas tidak dapat menghasilkan keputusan yang menguntungkan kedua belah pihak
yang bersengketa. Proses pengadilan ini tentu saja akan mengakibatkan salah satu pihak menang dan yang lain kalah.
Biasanya perselisihan yang terjadi disidangkan pada system yuridis di daerah mana masalah tersebut terjadi. Pada
suatu wilayah tertentu pengadilan wilayah tersebut mendapat yuridikasi atas suatu masalah bila salah satu pihak
berkantor di wilayah tersebut atau proyeknya sendiri ada pada daerah itu. Jika kedua belah pihak yang berselisih
berkantor pusat di daerah lain, maka pihak yang memulai litigasi yang memilih forum dimana litigasi itu
berlangsung.

Lama waktu penyelesaian merupakan hal yang patut diperhitungkan dalam penggunaan cara ini. Tergantung dari
yuridiksinya, suatu perselisihan konstruksi yang kompleks dapat menghabiskan waktu antara 2 sampai 6 tahun sebelum
mencapai pengadilan (Arditi, 1996). Proses penggalian fakta yang panjang dan detil membuat litigasi ini menjadi sangat
mahal. Untungnya, bila ada kesalahan pengadilan dalam peryataannya atau dalam penggunaan prinsip-prisip hukum, pihak-
pihak yang melakukan litigasi tentunya dapat naik banding.

6. KESIMPULAN.
Industri kontruksi adalah industri yang sangat signifikan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi
suatu negara. Pengelolaan industri ini secara efektif dan efisien merupakan faktor penting yang perlu
dipertimbangkan agar kontribusinya sebagai industri dominan dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi. Salah
faktor pengelolaan industri secara efektif dan efisien adalah berjalan lancarnya industri ini. Masalah terjadinya
konflik harus diperkecil. Untuk memperkecil konflik maka pihak-pihak yang terlibat harus tahu apa yang
memyebabkan terjadinya konflik yang mengarah pada klaim dan bagaimana penyelesaiannya.

-5-
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Malak, M. Asem U., El-Saadi, Mustafa M.H., Abou-Zeid, Marwan G, Process Model for Administrating Construction
Claims. Journal of Construction Engineering and Management. Vol 18, No. 2, April 2002.

Ahuja, Hira N and Walsh, Michael A. 1983. Succesful Method in cost Engineering. New York, John Wiley & Sons. Inc

Al-Barghouthi M. Liability allocation among the parties of xed-price construction contractors in Saudi Arabia. M.Sc.
Thesis, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Saudi Arabia, 1994.

Al-Subaie O. Construction claims in residential housing. M.Sc. Thesis, King Fahd University of Petroleum and Minerals,
Dhahran, Saudi Arabia, 1987.

Antil M, James. 1970. Civil Engineering Management. Sydney : Angus & Roberton Ltd.

Bramble, Barry. B., Donofrio, Michael. F and Stetson, John. B. Avoiding and Resolving Construction Claims. United States,
R.S. Means Company Inc., 1990.

Driscoll, Thomas J. Claims, Contractor Management Handbook. Edited by OBrien, James J and Zilly, Robert G. 1971.
McGraw Hill. Inc.

Fisk, Edward R, 1997. Construction Project Administration, Fifth Edition, New Jersey : Prentice Hall.

Jergeas, George F and Hartman, Francis T. 1994. Contractors Construction Claims Avoidance. Journal of Construction
Engineering and Manajement., September, Vol 120, No 3, 553-561.

Morgerman, Gary. Construction Mediation Really Works. September, 2002. [http://www.CMInco.com]

PTU . 1996. Jika Pengembang Kontraktor Saling Tuding, Properti Indonesia., Novenber p64-65.

Wahyuni, Nur. 1996. Pembayaran Tertunda Mmpengaruhi Cashflow Kontraktor. Konstruksi. Desember, p69-71.

Wahyuni, Nur. 1996. Klaim Akan Selalu Timbul, Konstruksi Oktober . p70-72.

Wilson, Roy L.1982. Preventation and Resolution of Construction Claims. Journal of Construction Engineering and
Management., September. Vol 108 ,No CO3, p39-405.

-6-
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 14, No. 2, Juli 2010

ANALISIS PERCEPATAN PELAKSANAAN DENGAN MENAMBAH JAM


KERJA OPTIMUM PADA PROYEK KONSTRUKSI
(Studi Kasus: Proyek Pembangunan Super Villa, Peti Tenget-Badung)
Ariany Frederika
Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universita Udayana, Denpasar
E-mail : arianyfrederika1@yahoo.com
Abstrak: Dalam pelaksanaan proyek konstruksi sering terjadi ketidaksesuaian an-
tara jadwal rencana dan realisasi di lapangan, sehingga menyebabkan keterlamba-
tan. Banyak faktor yang menyebabkan keterlambatan, salah satu cara untuk me-
ngantisipasinya dengan melakukan percepatan. Dalam melakukan percepatan, fak-
tor biaya dan mutu harus diperhatikan, sehingga diperoleh biaya optimum dan mu-
tu sesuai standar yang diinginkan. Proyek Pembangunan Super Villa dipilih untuk
studi penelitian karena mengalami keterlambatan dalam pelaksanaannya.
Alternatif percepatan yang digunakan yaitu penambahan jam kerja, dari satu jam
sampai dengan empat jam tanpa adanya penambahan tenaga kerja. Perhitungan di-
mulai dengan mencari lintasan kritis menggunakan Microsoft Project kemudian di-
lakukan crashing untuk mendapatkan cost slope kegiatan yang berada pada lintasan
kritis, selanjutnya dilakukan analisis dengan metode Time Cost Trade Off Analysis.
Kemudian dibuat grafik hubungan biaya dan waktu optimum untuk masing-masing
penambahan jam kerja.
Dari hasil analisis didapat biaya optimum pada penambahan satu jam kerja dengan
pengurangan biaya dan waktu masing-masing sebesar Rp784.104,16 dan 8 hari,
sedangkan waktu optimum didapat pada penambahan dua jam kerja, dengan
pengurangan waktu dan biaya masing-masing sebesar 14 hari dan Rp700.377,35.
Artinya, percepatan dengan biaya optimum didapat pada penambahan satu jam
kerja dan waktu optimum didapat pada penambahan dua jam kerja.
Kata Kunci: percepatan, Microsoft Project, lintasan kritis, cost slope, time cost
trade off analysis, optimum.

ANALYSIS OF ACCELERATION CONSTRUCTION BY ADDING OPTIMUM


WORK TIME ON THE CONSTRUCTION PROJECT
(Case Study: Super Villa Development Project, Peti Tenget-Badung)

Abstract: In the implementation of construction projects, there is often a


discrepancy between the planned schedules and the work in the field, thus causing
delays. Many factors cause a delay, one way to anticipate is by doing the
acceleration. In doing acceleration, cost and quality factors must be considered in
order to obtain the optimum cost and quality standards desired. Super Villa
Development Projects is selected for research studies because of delays in its
implementation.
Alternative acceleration used is the addition of working hours, from one hour to
four hours without any additional manpower. The calculation begins by finding the
critical path using Microsoft Project and then crashing is carried out to obtain cost
slope activities that are on critical path, then the analysis is performed using Time
Cost Trade-Off Analysis. Finally, a graphic of the relationship between the cost
and the optimum time for each additional hour of work is created.
From the analysis results, the optimum cost is obtained by adding one hour of
works which reduce cost and time of Rp784,104.16 and eight days respectively,
while the optimum time is obtained at additional two hours, with a reduction time
of 14 days and cost reduction of Rp700,377.35. This means that the acceleration

113
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 14, No. 2, Juli 2010

with optimum cost is obtained when the addition is of one hour of work and
optimum time is obtained when the addition is of two hours of work.
Key words: acceleration, Microsoft Project, critical path, cost slope, time cost trade
off analysis, optimum.

PENDAHULUAN dilakukan oleh owner. Untuk mengatasi


keterlambatan tersebut, diperlukan upaya
Latar Belakang
percepatan penyelesaian proyek dengan
Dalam pelaksanaan proyek konstruksi
analisis dicoba dari satu jam sampai empat
berbagai hal dapat terjadi yang bisa me-
jam kerja menggunakan Metode Analisis
nyebabkan bertambahnya waktu pelaksa-
Pertukaran Waktu dan Biaya (Time Cost
naan dan penyelesaian proyek menjadi
Trade Off Analysis). Maksudnya adalah
terlambat. Penyebab keterlambatan yang
mempercepat waktu pelaksanaan proyek
sering terjadi adalah akibat terjadinya per-
dan menganalisis sejauh mana waktu da-
bedaan kondisi lokasi, perubahan disain,
pat dipersingkat dengan penambahan bia-
pengaruh cuaca, kurang terpenuhinya ke-
ya minimum terhadap kegiatan yang bisa
butuhan pekerja, material atau peralatan,
dipercepat kurun waktu pelaksanaannya
kesalahan perencanaan atau spesifikasi,
sehingga dapat diketahui percepatan yang
dan pengaruh keterlibatan pemilik proyek
paling maksimum dan biaya yang paling
(Owner).
minimum.
Keterlambatan pekerjaan proyek dapat
diantisipasi dengan melakukan percepatan MATERI DAN METODE
dalam pelaksanaannya, namun harus tetap
Pengenalan Proyek Konstruksi
memperhatikan faktor biaya. Pertambahan
Dalam mencapai sasaran dan tujuan
biaya yang dikeluarkan diharapkan semi-
dari proyek yang telah ditentukan terdapat
nimum mungkin dan tetap memperhatikan
batasan-batasan dalam suatu proyek yaitu
standar mutu. Percepatan dapat dilakukan
Triple Constraint atau tiga kendala yang
dengan mengadakan penambahan jam ker-
terdiri dari: Biaya/Anggaran (Cost), Wak-
ja, alat bantu yang lebih produktif, penam-
tu/Jadwal (Time), dan Mutu. Dari segi tek-
bahan jumlah pekerja, menggunakan ma-
nis, ukuran keberhasilan proyek dikaitkan
terial yang lebih cepat pemasangannya,
sejauh mana ketiga sasaran tersebut dapat
dan metode konstruksi yang lebih cepat.
dipenuhi. Untuk itu diperlukan suatu pe-
Percepatan penyelesaian proyek harus
ngaturan yang baik, sehingga perpaduan
dilakukan dengan perencanaan yang baik.
antara ketiganya sesuai dengan yang di-
Dengan adanya keterbatasan tenaga kerja,
inginkan, yaitu dengan manajemen proyek
maka alternatif yang biasa digunakan un-
(Soeharto, 1997).
tuk menunjang percepatan aktifitas adalah
dengan menambah jam kerja, sehingga Tahap-Tahap Aplikasi Network Plan-
berpengaruh pada biaya total proyek. Un- ning
tuk mengetahui hal ini perlu dipelajari ten- Network planning pada prinsipnya
tang jaringan kerja yang ada, dan hubu- merupakan hubungan ketergantungan an-
ngan antara waktu dan biaya, hal tersebut tara bagian-bagian pekerjaan yang digam-
disebut sebagai Analisis Pertukaran Wak- barkan dalam diagram network, sehingga
tu dan Biaya (Time Cost Trade Off Analy- diketahui bagian-bagian pekerjaan mana
sis). yang harus didahulukan dan pekerjaan
Permasalahan pada Proyek Pembangu- mana yang harus menunggu selesainya
nan Super Villa dipilih sebagai objek pe- pekerjaan yang lain (Soeharto, 1997).
nelitian karena mengalami keterlambatan Aplikasi atau penerapan network plan-
pada pelaksanaannya, yaitu sebesar 24 %, ning pada penyelenggaraan proyek me-
diakibatkan oleh suplai bahan yang ter- merlukan persyaratan yang harus dipenuhi
lambat, dan adanya perubahan disain yang agar dapat dilaksanakan. Persyaratan ter-

114
Analisis Percepatan Pelaksanaan Dengan Menambah Jam Kerja .............................. Frederika

sebut adanya kepastian tentang proyek Pada preseden diagram hubungan an-
yang harus dilaksanakan. Jika sudah ada tar kegiatan berkembang menjadi bebera-
ketetapan mengenai proyek yang akan di- pa kemungkinan berupa konstrain. Kons-
laksanakan, maka selanjutnya dilakukan train menunjukkan hubungan antar kegia-
tahap aplikasi network planning yang ter- tan dengan satu garis dari node terdahulu
diri dari tiga kelompok, yaitu: pembuatan ke node berikutnya. Satu konstrain hanya
desain, pemakaian desain, dan perbaikan dapat menghubungkan dua node. Karena
desain. setiap node memiliki dua ujung yaitu
Proses menyusun jaringan kerja dila- ujung awal atau mulai (S) dan ujung akhir
kukan secara berulang-ulang sebelum (F), maka ada empat macam konstrain
sampai pada suatu perencanaan atau jad- yaitu awal ke awal (SS), awal ke akhir
wal yang dianggap cukup realistis. Meto- (SF), dan akhir ke awal (FS). Pada garis
de jaringan kerja memungkinkan aplikasi konstrain dibubuhkan penjelasan menge-
konsep management by exception, karena nai waktu mendahului (lead) atau terlam-
metode tersebut dengan jelas mengidenti- bat/ tertunda (lag). Bila kegiatan (i) men-
fikasikan kegiatan-kegiatan yang bersifat dahului kegiatan (j) dan satuan waktu ada-
kritis bagi proyek, terutama dalam aspek lah hari.
jadwal dan perencanaan. Umumnya kegia-
tan kritis tidak boleh lebih dari 20% total Identifikasi lingkup proyek dan menguraikannya
kegiatan proyek, dan dengan telah diketa- menjadi komponen-komponen kegiatan
huinya bagian ini maka pengelola dapat
memberikan prioritas perhatian (Soeharto,
1997).
Sistematika proses menyusun jaringan Menyusun komponen-komponen kegiatan sesuai
kerja secara ringkas dapat digambarkan urutan logika ketergantungan menjadi jaringan
kerja
seperti pada Gambar 1.

Penyusunan Network Planning dengan


Metode Preseden Diagram Memberikan perkiraan kurun waktu masing-
masing pekerjaan
Metode diagram preseden/Preceden
Diagram Method (PDM) merupakan pe-
nyempurnaan dari CPM, karena pada prin-
sipnya CPM hanya menggunakan satu je- Identifikasi jalur kritis, float dan kurun waktu
nis hubungan aktifitas yaitu hubungan ak- penyelesaian proyek
hir awal dan sebuah kegiatan dapat dimu-
lai apabila kegiatan yang mendahuluinya
selesai. Metode preseden diagram adalah
jaringan kerja yang termasuk klasifikasi Meningkatkan daya guna dan hasil guna
AON (Activity On Node). pemakaian sumber daya
Kegiatan dan peristiwa pada metode
preseden diagram ditulis dalam node yang Gambar 1. Ringkasan langkah-langkah
berbentuk kotak segi empat. Kotak-kotak dalam menyusun jaringan kerja
tersebut menandai suatu kegiatan, dimana (Sumber: Soeharto, 1997)
harus dicantumkan identitas kegiatan dan Perhitungan Metode Preseden Diagram
kurun waktunya. Sedangkan peristiwa me- Parameter yang digunakan dalam per-
rupakan ujung-ujung kegiatan. Setiap no- hitungan metode diagram akan dijelaskan
de memiliki dua peristiwa yaitu awal dan sebagai berikut:
akhir.

115
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 14, No. 2, Juli 2010

- TE = E, adalah waktu paling awal pe- rupakan angka terkecil dari jumlah ke-
ristiwa (node/ event) dapat terjadi giatan LS dan LF ditambah konstrain
(earliest time of occurrence), yang bersangkutan.Waktu mulai paling
- TL = L, adalah waktu paling akhir pe- akhir kegiatan yang sedang ditinjau LS
ristiwa boleh terjadi (latest allowable (i), adalah sama dengan waktu selesai
event occurrence time). paling akhir kegiatan tersebut LF (i),
- ES adalah waktu mulai paling awal dikurangi kurun waktu yang ber-
suatu kegiatan (earliest start time). sangkutan.
- EF adalah waktu selesai paling awal Jalur dan kegiatan kritis
suatu kegiatan (earliest finish time). Jalur dan kegiatan kritis metode prese-
- LS adalah waktu paling akhir ke- den diagram sebagai berikut:
giatan boleh dimulai (latest allowable - Waktu mulai paling awal dan akhir ha-
start time) rus sama (ES = LS)
- LF adalah waktu paling akhir kegia- - Waktu selesai paling awal dan akhir
tan boleh selesai (latest allowable fi- harus sama (EF = LF)
nish time). - Krurn waktu kegiatan adalah sama de-
- D = Durasi, adalah kurun waktu suatu ngan perbedaan waktu selesai paling
kegiatan, umumnya dengan satuan akhir dengan waktu mulai paling awal
waktu hari, minggu, bulan, dan lain- (LF-ES = D)
lain. - Bila hanya sebagian kegiatan bersifat
Tenggang waktu total (Total Float) kritis, maka kegiatan tersebut secara u-
adalah jumlah waktu tenggang yang dida- tuh dianggap kritis.
pat bila semua kegiatan yang mendahului-
Biaya Proyek
nya dimulai pada waktu sedini mungkin
Ada beberapa jenis biaya yang berhu-
dan semua kegiatan yang mengikutinya
bungan dengan pembiayaan suatu proyek
terlaksana pada waktu yang paling lambat.
konstruksi, dapat dibedakan menjadi dua
Rumusan yang akan dipakai dalam perhi-
jenis yaitu:
tungan waktu pada penyusunan network
- Biaya Langsung (Direct Cost), adalah
planning dengan metode preseden dia-
biaya-biaya yang langsung berhubu-
gram adalah sebagai berikut :
ngan dengan pelaksanaan pekerjaan
Hitungan maju
konstruksi di lapangan, seperti: Biaya
Rumusan perhitungan waktu maju adalah
bahan/material, pekerja/upah, dan pera-
sebagai berikut:
latan.
- Waktu mulai paling awal dari kegiatan
- Biaya Tak Langsung (Indirect Cost),
yang sedang ditinjau ES (j), adalah sa-
adalah semua biaya proyek yang tidak
ma dengan angka terbesar dari jumlah
secara langsung berhubungan dengan
angka kegiatan yang terdahulu ES (i)
konstruksi di lapangan tetapi biaya ini
atau EF (i) ditambah konstrain yang
harus ada dan tidak dapat dilepaskan
bersangkutan.
da-ri proyek tersebut, seperti: Biaya
- Angka waktu selesai paling awala ke-
Over-head, biaya tak terduga dan keun-
giatan yang sedang ditinjau WF (j),
tungan/profit.
adalah sama dengan angka waktu mulai
paling awal kegiatan tersebut ES (j), di- Mempercepat Waktu Penyelesaian Pro-
tambah kurun waktu kegiatan yang ber- yek
sangkutan D (j). Mempercepat waktu penyelesaian pro-
Hitungan mundur yek adalah suatu usaha menyelesaian pro-
Rumusan perhitungan waktu mundur yek lebih awal dari waktu penyelesaian
adalah sebagai berikut: dalam keaadaan normal. Dengan diada-
- Hitung LF (i), waktu selesai paling ak- kannya percepatan proyek ini akan terjadi
hir kegiatan (i) yang ditinjau, yang me- pengurangan durasi kegiatan yang akan

116
Analisis Percepatan Pelaksanaan Dengan Menambah Jam Kerja .............................. Frederika

diadakan crash program. Durasi crashing 1,5 (satu setengah) kali upah satu
maksimum suatu aktivitas adalah durasi jam.
tersingkat untuk menyelesaikan suatu akti- Untuk setiap jam kerja lembur be-
vitas yang secara teknis masih mungkin rikutnya harus dibayar upah lem-
dengan asumsi sumber daya bukan meru- bur sebesar 2 (dua) kali upah satu
pakan hambatan (Soeharto, 1997). Durasi jam.
percepatan maksimum dibatasi oleh luas Dari uraian di atas dapat dirumuskan seba-
proyek atau lokasi kerja, namun ada gai berikut :
empat faktor yang dapat dioptimumkan Biaya lembur per hari = (jam kerja lembur
untuk melaksanakan percepatan pada sua- pertama x 1,5 x upah satu jam normal) +
tu aktivitas yaitu meliputi penambahan (jam kerja lembur berikutnya x 2 upah
jumlah tenaga kerja, penjadwalan kerja satu jam normal) .............(1)
lembur, penggunaan peralatan berat dan
pengubahan metode konstruksi di lapa- Produktivitas Kerja Lembur
ngan. Secara umum, produktifitas merupa-
kan perbandingan antara output dan input.
Pelaksanaan Penambahan Jam Kerja
Dibidang konstruksi, output dapat dilihat
(Lembur)
dari kuantitas pekerjaan yang telah dilaku-
Adapun rencana kerja yang akan dila-
kukan dalam mempercepat durasi sebuah kan seperti meter kubik galian atau timbu-
pekerjaan dengan metode jam kerja lem- nan, ataupun meter persegi untuk pleste-
bur adalah: ran. Sedangkan imputnya merupakan jum-
- Waktu kerja normal adalah 8 jam lah sumber daya yang dipergunakan se-
perti tenaga kerja, peralatan dan material.
(08.00 17.00), sedangkan lembur di-
lakukan setelah waktu kerja normal. Karena peralatan dan material biasanya
- Harga upah pekerja untuk kerja lem- bersifat standar, maka tingkat keahlian te-
bur menurut Keputusan Menteri Te- naga kerja merupakan salah satu faktor
naga Kerja Nomor KEP. 102/ MEN/ penentu produktivitas.
VI/ 2004 pasal 11 diperhitungkan se- Apabila dilakukan kerja lembur akan
bagai berikut : terjadi penurunan produktivitas yang da-
pat dilihat pada grafik Gambar 2.
Untuk jam kerja lembur pertama,
harus dibayar upah lembur sebesar

Indeks Produktivitas
Proyek Besar

1,4

1,3

1,2

1,1

1,0 2,0 3,0 4,0 Jam Lembur


Gambar 2. Grafik indikasi menurunnya produktivitas karena kerja lembur
(Sumber : Soeharto, 1997)
Dari uraian di atas dapat ditulis sebagai Volume
berikut: = ......(2)
Durasi normal
Produktifitas harian

117
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 14, No. 2, Juli 2010

Produktifitas tiap jam giatan dalam suatu proyek yang dipusat-


Pr oduktifitas harian kan pada kegiatan yang berada pada jalur
= ...(3) kritis. Proses crashing adalah cara mela-
8 jam
kukan perkiraan dari variabel cost dalam
Produktifitas harian akibat kerja lembur
menentukan pengurangan durasi yang pa-
= (a x b x prod.tiap jam)....(4)
ling maksimal dan paling ekonomis dari
Dimana : a = jumlah jam kerja lembur; b
suatu kegiatan yang masih mungkin untuk
= koefisien penurunan produktivitas kerja
direduksi (Ervianto, 2004). Untuk menga-
lembur
nalisis lebih lanjut hubungan antara biaya
Crashing
dengan waktu suatu kegiatan, dipakai be-
Terminologi proses crashing adalah
berapa istilah yaitu: Kurun waktu normal/
mereduksi suatu pekerjaan yang akan ber-
Normal Duration (ND), kurun waktu di-
pengaruh terhadap waktu penyelesaian
persingkat/Crash Duration (CD), Biaya
proyek. Crashing adalah suatu proses di-
normal/Normal Cost (NC), dan Biaya un-
sengaja, sistematis, dan analitik dengan
tuk waktu dipersingkat/Crash Cost (CC).
cara melakukan pengujian dari semua ke-
Biaya
Biaya
B Titik Dipersingkat
Dipersingkat

Biaya Normal A Titik Normal

Waktu Waktu
Dipersingkat Kurun Waktu
Normal
Gambar 3. Grafik hubungan waktu-biaya normal dan dipersingkat untuk satu
kegiatan (Sumber: Soeharto, 1997)
Titik A pada Gambar 3 menunjukkan Produktifitas harian sesudah crash
titik normal, sedangkan titik B adalah titik = (8 jam x prod. tiap jam) + (a x b x prod.
dipersingkat. Garis yang menghubungkan tiap jam) .. (5)
titik A dengan B disebut kurva waktu-bia- Dimana : a = jumlah jam kerja lembur
ya. Pada umumnya garis ini dapat diang- B = koefisien penurunan produktivitas
gap sebagai garis lurus, bila tidak (misal- kerja lembur
nya, cekung) maka diadakan perhitungan Crash duration =
persegmen yang terdiri atas beberapa garis Volume
lurus. Seandainya diketahui bentuk kurva ......(6)
Pr od . harian sesudah crash
waktu-biaya suatu kegiatan, artinya de-
Normal cost pekerja perjam = harga per
ngan mengetahui berapa slope atau sudut
satuan pek. x prod. tiap jam.(7)
kemiringannya, maka bisa dihitung berapa
Normal cost pekerja perhari = 8 jam x
besar biaya untuk mempersingkat waktu
normal cost tiap jam .....(8)
satu hari.
Normal cost = normal duration x normal
Penambahan biaya langsung (direct
cost pekerja perhari .............. (9)
cost) untuk mempercepat suatu aktivitas
Crash cost pekerja = normal cost pekerja
persatuan waktu disebut cost slope.
perhari + biaya lembur perhari ...(10)
Dari uraian di atas dapat ditulis sebagai
berikut:

118
Analisis Percepatan Pelaksanaan Dengan Menambah Jam Kerja .............................. Frederika

Crash cost = crash duration x crash cost bah sesuai dengan waktu dan kemajuan
pekerja perhari ... (11) proyek. Meskipun tidak dapat diperhi-
Cost Slope = tungkan dengan rumus tertentu, tapi pada
Crash Cost Normal Cost ..(12) umumnya makin lama proyek berjalan
Normal Duration Crash Duration makin tinggi komulatif biaya tak langsung
yang diperlukan (Soeharto, 1997). Pada
Hubungan Biaya Terhadap Waktu
Gambar 4 ditunjukkan hubungan biaya
Biaya total proyek adalah penjumlah-
langsung, biaya tak langsung dan biaya to-
an dari biaya langsung dan biaya tak
tal dalam suatu grafik dan terlihat bahwa
langsung yang digunakan selama pelaksa-
biaya optimum didapat dengan mencari
naan proyek. Besarnya biaya ini sangat
total biaya proyek yang terkecil.
tergantung oleh lamanya waktu (durasi)
penyelesaian proyek, kedua-duanya beru-
Bia ya Titik Terenda h
Total Biaya Proyek

Biaya Tak Lang sung


Biaya
Proyek
Optimum
Biaya Langsuntg

Kurun Waktu

Gambar 4. Grafik hubungan waktu dengan biaya total, biaya langsung, dan biaya tak
langsung (Sumber : Soeharto, 1997)
Pertukaran Biaya Dan Waktu (Time berada pada lintas kritis dan mempunyai
Cost Trade Off) cost slope terendah. Menyusun kembali
Penyelesaian aktivitas di dalam suatu jaringan kerja. Mengulangi langkah ke-
proyek memerlukan penggunaan sejum- dua, dimana langkah kedua akan berhenti
lah sumber daya minimum dan waktu pe- bila terjadi penambahan lintasan kritis dan
nyelesaian yang optimum, sehingga akti- bila terdapat lebih dari satu lintasan kritis,
vitas akan dapat diselesaikan dengan bia- maka langkah kedua dilakukan secara se-
ya normal dan durasi normal. Jika suatu rentak pada semua lintasan kritis dan per-
saat diperlukan penyelesaian yang lebih hitungan cost slope dijumlahkan. Lalu
cepat, penambahan sumber daya memung- langkah dihentikan bila terdapat salah satu
kinkan pengurangan durasi proyek dari lintasan kritis dimana aktivitas-aktivitas-
suatu normalnya, tetapi biaya yang dike- nya telah jenuh seluruhnya (tidak mung-
luarkan akan lebih besar lagi. kin dikompres lagi) sehingga pengendali-
Dalam mempercepat penyelesaian sua- an biaya telah optimum. Kemudian dirinci
tu proyek dengan melakukan kompresi juga prosedur mempersingkat waktu de-
durasi aktivitas, harus tetap diupayakan ngan uraian sebagai berikut:
agar penambahan dari segi biaya semini- - Menghitung waktu penyelesaian pro-
mal mungkin. Pengendalian biaya yang yek.
dilakukan adalah biaya langsung, karena - Menentukan biaya normal masing-ma-
biaya inilah yang akan bertambah apabila sing kegiatan.
dilakukan pengurangan durasi. Kompresi - Menentukan biaya dipercepat masing-
ini dilakukan pada aktivitas-aktivitas yang masing kegiatan.

119
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 14, No. 2, Juli 2010

- Menghitung cost slope masing-masing yang diperlukan dalam pelaksanaan


komponen kegiatan. proyek konstruksi sangat tergantung pada
- Mempersingkat kurun waktu kegiatan, banyak faktor seperti jenis dan volume
dimulai dari kegiatan kritis yang mem- konstruksi, tingkat keahlian, peralatan
punyai cost slope terendah. yang digunakan dan kondisi di lapangan.
- Bila dalam proses mempercepat waktu Dalam penyusunan jaringan kerja de-
proyek terbentuk jalur kritis baru, maka ngan menggunakan Metode Preseden Dia-
mempercepet kegiatan-kegiatan kritis gram terdapat empat hubungan ketergan-
yang mempunyai kombinasi slope bia- tungan antara kegiatan satu dengan lain-
ya terendah. nya yang disebut sebagai konstrain. Satu
- Meneruskan mempersingkat waktu ke- konstrain hanya menghubungkan dua
giatan sampai titik proyek dipersingkat node, karena setiap node memiliki dua
(TPD) ujung yaitu ujung awal dan ujung akhir.
- Buat tabulasi biaya versus waktu, gam- Keempat konstrain itu adalah konstrain
barkan dalam grafik dan hubungan titik dari awal ke awal (SS), awal ke akhir
normal (biaya dan waktu normal), titik (SF), akhir ke akhir (FF), dan akhir ke
yang terbentuk tiap kali mepersingkat awal (FS).
kegiatan, sampai dengan titik TPD.
Penyusunan Diagram Preseden
- Hitung biaya tidak langsung proyek
Setelah diketahui hubungan ketergan-
dan gambarkan pada grafik di atas.
tungan antar kegiatan dan durasi tiap ke-
- Jumlahkan biaya langsung dan biaya
giatan maka dapat disusun gambar Dia-
tak langsung untuk mencari biaya total
gram Preseden dengan menggunakan ban-
sebelum kurun waktu yang diinginkan.
tuan program computer Microsoft Project
- Periksa pada grafik biaya total untuk
untuk melakukan perhitungan maju dan
mencapai waktu optimum yaitu kurun
mundur. Program ini dapat membantu
waktu penyelesaian proyek dengan bia-
mempercepat dalam proses pembuatan ja-
ya terendah (Soeharto, 1997).
ringan kerja walaupun jumlah item peker-
METODOLOGI jaan yang relatif banyak. Setelah durasi
dan ketergantungan untuk masing-masing
Penyusunan Jaringan Kerja Dengan
kegiatan dimasukkan, maka akan dipero-
Microsof Project
leh jaringan kerja berupa diagram prese-
Pada penelitian ini dipergunakan data
den yang lengkap berisikan waktu mulai
sekunder, yaitu: RAB (Rencana Anggaran
paling cepat (ES), waktu selesai paling a-
Biaya), Daftar Analisis Harga Satuan, dan
wal (EF), waktu mulai paling lambat (LS),
Time Schedule (Rencana Waktu Pelaksa-
dan waktu selesai paling lambat (LF) dari
naan)/Bar Chart (Diagram Balok). Penyu-
satu kegiatan, untuk mengidentifikasi ke-
sunan jaringan kerja yang relatif banyak
giatan kritis, jalur kritis, float, dan waktu
dan kompleks dari data tersebut menggu-
penyelesaian proyek.
nakan software Microsoft Project, dan
jaringan kerja yang dibentuk adalah Indentifikasi Float dan Jalur Kritis
diagram preseden. Dalam Proyek Setelah Diagram Preseden tersusun,
Pembangunan Super Villa terdiri dari 45 selanjutnya dilakukan perhitungan ES, EF,
kegiatan utama, masing-masing bagian LS, dan LF. Dari perhitungan tersebut
tersusun atas item-item pekerjaan yang dapat ditentukan kegiatan dan jalur kritis,
lebih spesifik dari kegiatan utama float, serta tanggal penyelesaian proyek.
tersebut. Sesuai rumus yaitu bila ES-LS = 0 atau
Durasi normal dapat ditentukan dari selisih ES dengan LS sama dengan nol
banyaknya tenaga kerja yang ada di dan bila EF-LF = 0 atau selisih EF dengan
lapangan dan produktivitas kerja yang LF sama dengan nol maka kegiatan terse-
dapat dihasilkan satuan hari. Tenaga kerja but adalah kegiatan kritis dengan total flo-

120
Analisis Percepatan Pelaksanaan Dengan Menambah Jam Kerja .............................. Frederika

at nol. Dengan melihat diagram preseden 281 Anty terminate to foundation


dan total float dari masing-masing kegi- 282 Compacted sand to foundation 5 cm thick
atan dapat diketahui jalur kritis dan kegia- Loose stone foundation/aanstamping 15 cm
tan-kegiatan kritisnya seperti pada Tabel 283 thick
1. 284 Stone masonry foundation 1:5

Tabel 1. Kegiatan Kritis 285 Back fill to besides of foundation


No. 286 Remove surplus soil to out site
Kegiatan Uraian Pekerjaan
287 Back fill to make up level
243 Excavation Compacted sand to slab on grade 5 cm thick
244 Remove surplus soil to out site 288 5cm

245 Compacted sand to foundation 5 cm thick 289 Anty terminate to slab


Compacted sand to slab on grade 5 cm thick 292 Slab on grade 5 cm thick
246 5cm
294 Timber rafter 5/7 under deck
247 Anty terminate to pool slab
295 Iron wood 2/9 T & G flooring
248 Hollow concrete block 1:5
296 Politur anty slip wooden deck
250 Sloop 20/30 Sumber : Time Schedule Proyek Pemba-ngunan
251 Slab on grade w/. BRC M 04 Super Villa
252 Concrete floor 15 cm thick Biaya Langsung
253 Concrete wall 15 cm thick Biaya langsung (Direct Cost) adalah
254 Hollow concrete block 1:5 to step biaya yang langsung berhubungan dengan
255 Plaster 1:2
pekerjaan konstruksi di lapangan. Biaya
langsung dapat diperoleh dengan mengali-
256 Waterproofing plat ex. Fosroc
kan volume suatu pekerjaan dengan harga
258 Green stone 10x10x5 for floor finishing satuan (unit price) pekerjaan tersebut.
259 Green stone 10x10x5 for wall finishing Adapun rincian biaya langsung dapat di-
260 Andesit stone 30x30x2 to border lihat dalam Tabel 2.
280 Excavation to recieve foundation

Tabel 2. Biaya Langsung


No Uraian Pekerjaan Biaya
1 Preparation Rp 7.223.626,40
2 Building Rp 1.780.605.486,17
3 Swimming Pool, Jaquzzy & Pump Room Rp 178.367.507,94
4 Wooden Deck Rp 49.823.480,13
5 Fence Wall Rp 104.401.021,86
6 Pond Rp 28.600.407,94
7 Total Car Port & Water Feature Rp 54.586.590,18
8 MEP Rp 487.443.153,78
Total Biaya Rp 2.691.051.274,39
Sumber : RAB Proyek Pembangunan Super Villa
Biaya Tak Langsung Adapun staf yang langsung terlibat da-
Biaya tak langsung (Indirect Cost) lam kerja lembur di lokasi proyek adalah
adalah biaya yang tidak secara langsung pelaksana (satu orang) dan logistic (satu
berhubungan dengan konstruksi, tetapi ha- orang), untuk selanjutnya dilaporkan ke
rus ada dan tidak dapat dilepaskan dari Site Manager. Perhitungan biaya untuk
proyek tersebut. Rincian dapat dilihat da- staf di lapangan adalah:
lam Tabel 3. Total gaji per hari untuk pelaksana dan lo-
gistik

121
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 14, No. 2, Juli 2010

= Rp35.000,00 + Rp30.000,00 = Rp8.125,00/jam


= Rp65.000,00
Rp65.000,00
Total gaji per jam =
8 jam
Tabel 3. Biaya Tak Langsung
No Jenis Biaya Jumlah (Rp)
Jumlah Gaji per hari (Rp)
I Biaya Overhead
1. Gaji Staf Proyek
a. Site Manager Proyek 1 50.000,00
b. Pelaksana Sipil 1 35.000,00
c. Logistik 1 30.000,00
d. Administrasi 1 30.000,00
Total per hari 145.000,00
2. Preeleminaties 19.500.000,00
Fasilitas per hari 68.661,97
II Profit 5% 134.552.563,72
Sumber : PT. Tapak Disain

kan setelah waktu kerja normal (dari


Total gaji lembur per hari (menurut Kepu-
18.00 wita)
tusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP.
- Harga upah untuk kerja lembur diper-
102/MEN/VI/2004 pasal 11)......(persm.1)
hitungkan 1,5 kali upah sejam pada
Lembur 1 jam = (Rp8.125,00 x 1,5) kerja normal, dan untuk jam berikut-
= Rp12.187,50
nya 2 kali upah sejam normal.
Lembur 2 jam = (Rp8.125,00 x 1,5) + - Produktivitas untuk kerja lembur di-
(1 x (Rp8.125,00 x 2)) perhitungkan mengalami penurunan
= Rp28.437,50 dari produktivitas normal. Penurunan
Lembur 3 jam = (Rp8.125,00 x 1,5) + ini disebabkan oleh kelelahan pekerja,
(2 x (Rp8.125,00 x 2)) keterbatasan pandangan waktu malam
= Rp. 44.687,50 hari, serta keadaan cuaca yang lebih
Lembur 4 jam = (Rp8.125,00 x 1,5) + dingin. Produktivitas kerja lembur di-
(3 x (Rp8.125,00 x 2)) perhitungan berdasarkan grafik indi-
= Rp60.937,50 kasi menurunnya produktivitas karena
kerja lembur.
Perhitungan Crash Duration Produktivitas tenaga kerja akan sa-
Pada penelitian ini usaha yang diguna- ngat besar pengaruhnya terhadap total bia-
kan untuk mempercepat penyelesaian pro- ya proyek, minimal pada aspek jumlah te-
yek tersebut adalah dengan menggunakan naga kerja dan fasilitas yang diperlukan
penambahan jam kerja/lembur. Adapun (Soeharto, 1997). Salah satu pendekatan
rencana kerja yang akan dilakukan dalam untuk mencoba mengukur hasil guna tena-
mempercepat durasi sebuah pekerjaan de- ga kerja adalah dengan memakai parame-
ngan metode lembur adalah sebagai beri- ter indeks produktivitas. Penurunan pro-
kut: duktivitas bila jumlah jam perhari dan hari
- Aktivitas normal memakai 8 jam ker- perminggu bertambah dapat dilihat pada
ja dan 1 jam istirahat (08.00-17.00 Gambar 2, dan koefisien pengurangan
wita) sedangkan kerja lembur dilaku- produktifitas akibat kerja lembur dapat di-
lihat pada Tabel 4.

122
Analisis Percepatan Pelaksanaan Dengan Menambah Jam Kerja .............................. Frederika

Pada perhitungan crash durasi akan di- - Produktivitas tiap jam tenaga kerja
cari waktu dipersingkat pada masing-ma- merupakan produktivitas harian tena-
sing kegiatan. Perhitungan ini mengikuti ga kerja normal dibagi 8 jam (dalam
prosedur perhitungan sebagai berikut: satu hari digunakan 8 jam kerja nor-
- Volume (diketahui), Normal duration mal)
(diketahui) - Produktivitas harian sesudah crash
- Produktivitas harian tenaga kerja per- = (8 jam x prod. tiap jam)+(jam lem-
hari normal adalah volume kegiatan bur x koef.prod. x prod. tiap jam)
dibagi dengan waktu kegiatan normal ..(persm 5)
(durasi normal)
Tabel 4. Koefisien Pengurangan Produktivitas
Jam Penurunan Prestasi Prosentase Koefisien
Lembur Indeks Kerja Prestasi Kerja Pengurangan
(jam) Produktivitas (per jam) (%) Produktivitas
a B c= b*a D e= 100% - d
1 0,1 0,1 10 0,9
2 0,1 0,2 20 0,8
3 0,1 0,3 30 0,7
4 0,1 0,4 40 0,6
Sumber : Hasil Perhitungan (2010)
Produktivitas harian yang terjadi setelah - Crash cost pekerja
diadakan crash program pada setiap ke- Normal cost pekerja perjam = prod.
giatan dengan anggapan bekerja dalam sa- tiap jam x harga satuan upah pekerja
tu hari selama 8 jam kerja normal ditam- ........(persm. 7)
bah lembur. Pada kerja lembur semua pe- Normal cost pekerja perhari = 8 jam x
kerja mengikuti kerja lembur dan tidak Normal cost pekerja perjam (persm. 8)
adanya penambahan pekerja baik pada Biaya lembur pekerja per hari = (jam kerja
kerja normal maupun kerja lembur. lembur pertama x 1,5 x upah sejam nor-
Crash Duration adalah durasi kegiatan se- mal) + (jam kerja lembur berikutnya x 2
telah diadakan crash program pada kegia- upah sejam normal) .......(persm.1)
tan tersebut. Crash duration merupakan Crash cost pekerja perhari = (Normal cost
volume kegiatan dibagi produktivitas ha- pekerja perhari) + (biaya lembur perhari)
rian setelah crash program. Crash cost total yang dimaksud adalah
crash cost total dari sebuah aktivitas dura-
Crash Cost Pekerja, Crash Cost Total,
tion pada kegiatan tersebut atau besarnya
dan Cost Slope
biaya/ upah pekerja yang diprlukan untuk
Crash cost pekerja adalah besarnya bia-
menyelesaian kegiatan dengan kurun wak-
ya/upah pekerja yang diperlukan untuk
tu dipercepat (crash duration).
menyelesaikan kegiatan dengan kurun
Uraian perhitungan crash cost ini dapat di-
waktu dipercepat (crash duration), dalam
tulis sebagai berikut:
analisis ini percepatan dilakukan dengan
Crash cost = crash cost pekerja x crash
metode lembur.
duration
Adapun perhitungan crash cost pekerja
Perhitungan crash cost ini hanya dilaku-
dapat ditulis sebagai berikut:
kan pada aktivitas pada jalur kritis saja.
- Harga satuan upah pekerja (diketahui)
Cost slope adalah pertambahan biaya
- Produktivitas harian (diketahui dari
langsung (direct cost) untuk mempercepat
perhitungan sebelumnya)
suatu aktivitas persatuan waktu. Atau da-
- Produktivitas tiap jam (diketahui dari
pat dirumuskan sebagai berikut:
perhitungan sebelumnya)

123
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 14, No. 2, Juli 2010

Cost slope = (Crash cos t Normal cos t ) Biaya langsung = Rp2.691.051.274,39 ;


(Normal duration Crash duration) Total cost = biaya tidak langsung + biaya
..(persm. 12) langsung =
Rp195.232.563,72 + Rp2.691.051.274,39
HASIL DAN PEMBAHASAN = Rp2.886.283.838,11, dibulatkan menja-
Analisis Time Cost Trade Off di Rp2.886.283.000,00
Dalam mempercepat penyelesaian sua-
tu proyek dengan melakukan kompresi Tahap Kompresi 1
durasi, diupayakan agar penambahan dari No. item pekerjaan = 254 (Hollow concre-
segi biaya seminimal mungkin. Pengenda- te block 1:5 to step); Normal duration = 4
lian biaya dilakukan adalah biaya lang- hari; Cost slope = Rp 8.312,81; Crash du-
sung, karena biaya inilah yang akan ber- ration = 3 hari; Total crash = 1 hari; Ko-
tambah apabila dilakukan pengurangan mulatif total crash = 1 hari; Total durasi
durasi. proyek = 284 1 = 283 hari; Tambahan
Dalam proses mempercepat waktu pe- biaya = Rp8.312,81 x 1 hari; Komulatif
nyelesaian proyek dengan melakukan pe- tambahan biaya = Rp8.312,8; Biaya
nekanan (kompresi) waktu aktivitas, di- langsung = biaya langsung normal + ko-
usahakan agar pertambahan biaya yang di- mulatif tambahan biaya = Rp2.691.051.
timbulkan seminimum mungkin. Peneka- 274,39 + Rp8.312,81 = Rp2.691.059.
nan (kompresi) durasi proyek dilakukan 587,20; Tambahan biaya lembur =
untuk semua aktivitas yang berada pada Rp28.437,50 x 3 = Rp85.312,50
lintasan kritis dan dimulai dari aktivitas Komulatif biaya lembur = Rp85.312,50
yang mempunyai cost slope terendah. Dari Biaya tak langsung = (283 hari x Rp213.
tahap-tahap kompresi tersebut akan dicari 661,97) + Rp85.312,50 + Rp134.552.
waktu dan biaya yang optimal. Berikut 563,72 = Rp195.104.214,25
adalah proses perhitungan dalam tahap Total cost = Rp2.691.059.587,20 +
kompresi untuk penambahan 2 jam kerja Rp195.104.214,25 = Rp2.886.163.801,45.
adalah sebagai berikut: Demikian seterusnya sampai tahap op-
timum pada kompresi ke-11. Pengkom-
Tahap Normal presian menyebabkan pengurangan biaya
Lintasan kritis = 243, 244, 245, 246, 247, total proyek, hal ini disebabkan karena
248, 250, 251, 252, 253, 254, 256, 258, slope pengurangan biaya tak langsung le-
259, 260, 280, 281, 282, 283, 284, 285, bih besar daripada slope penambahan bia-
286, 287, 288, 289, 292, 294, 295, 296 ya langsung. Biaya total optimum didapat
Durasi normal = 284 hari apabila hasil penjumlahan biaya langsung
Biaya overhead = Rp213.661,97; Profit dan tak langsungnya mencapai nilai teren-
5% = Rp134.552.563,72; Biaya tidak dah. Biaya dan waktu optimum dari ma-
langsung = 284 hari x Rp213.661,97 + sing-masing waktu lembur dapat dilihat
Rp134.552.563,72 = Rp195.232.563,20; pada Tabel 5.

Tabel 5. Rekapitulasi biaya dan waktu optimum untuk masing-masing waktu lembur
Jam Durasi setelah Perubahan Prosentase Biaya setelah Perubahan Prosentase Jumlah pekerjaan
lembur kompresi durasi perubahan kompresi biaya perubahan yang dilemburkan
(jam) optimum (hari) durasi optimum (Rp) biaya (pekerjaan)
(hari) (%) (Rp) (%)
normal 284 2.886.283.000,00
1 276 8 2,82 0,0272 8
2.885.498.895,84 784.104,16
2 270 14 4,93 2.885.582.622,65 700.377,35 0,0243 11
3 274 10 3,52 2.885.507.587,64 774.421,36 0,0269 9
4 272 12 4,23 2.885.976.041,34 306.958,66 0,0106 10
Sumber: Hasil Analisis (2010)

124
Analisis Percepatan Pelaksanaan Dengan Menambah Jam Kerja .............................. Frederika

Tabel 5 menunjukkan, pada lembur Di antara ke empat penambahan jam


satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam kerja yang dapat dilihat pada Tabel 5 dan
terjadi pengurangan biaya total proyek Gambar 5, biaya yang paling optimum di-
yaitu masing-masing sebesar 0,0272%; dapat pada penambahan satu jam kerja de-
0.0243%; 0,0269%; 0,0106% disebabkan ngan pengurangan biaya sebesar
karena slope pengurangan biaya tak lang- Rp784.104,16 dari biaya total normal se-
sung lebih besar daripada slope penam- besar Rp2.886.283.000,00 menjadi sebe-
bahan biaya langsung dimana cost slope sar Rp2.885.498.895,84 dengan pengu-
dari masing-masing kegiatan pada penam- rangan waktu selama 8 hari dari waktu
bahan jam kerja tersebut masih rendah. normal 284 hari menjadi 276 hari, sedang-
Pengurangan biaya total proyek paling be- kan waktu yang paling optimum didapat
sar pada penambahan satu jam kerja yaitu pada penambahan dua jam kerja dengan
sebesar 0,0272%, sedangkan untuk pe- pengurangan waktu selama 14 hari dari
ngurangan durasi proyek yang paling be- waktu pelaksanaan normal proyek selama
sar pada penambahan dua jam kerja yaitu 284 hari menjadi 270 hari, dengan pe-
sebesar 4,93%. Selanjutnya, grafik hu- ngurangan biaya sebesar Rp700.377,35
bungan waktu lembur terhadap biaya dan dari biaya normal Rp2.886.283.000,00
waktu optimum dapat dilihat pada Gam- menjadi Rp2.885.582.622,65.
bar 5.

Gambar 5. Grafik hubungan waktu lembur terhadap biaya dan waktu optimum
pengurangan waktu selama 8 hari dari
Simpulan waktu normal 284 hari menjadi 276 ha-
Berdasarkan hasil analisis penamba- ri.
han jam kerja yang dilakukan pada Proyek - Waktu optimum didapat pada penam-
Pembangunan Super Villa dengan Time bahan dua jam kerja, dengan pengura-
Cost Trade Off Analysis dapat disimpul- ngan waktu selama 14 hari dari waktu
kan sebagai berikut: normal 284 hari menjadi 270 hari, de-
- Biaya optimum didapat pada penamba- ngan pengurangan biaya sebesar
han satu jam kerja, dengan pengura- Rp700.377,35 dari biaya normal
ngan biaya sebesar Rp784.104,16 dari Rp2.886.283.000,00 yang menjadi
biaya total normal yang jumlahnya sebesar Rp2.885.582.622,65.
sebesar Rp2.886.283.000,00 menjadi
sebesar Rp2.885.498.895,84, dengan

125
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 14, No. 2, Juli 2010

Saran Dipohusodo, I. 1996. Manajemen Proyek


Berdasarkan hasil analisis pembahasan Konstruksi Jilid 2, Kanesius, Jakarta.
maka dapat disarankan bagi pihak kon- Ervianto, Wulfram, I.2004. Teori Aplikasi
traktor, apabila keterlambatan pelaksanaan Manajemen Proyek Konstruksi, Andi,
proyek yang dialami dengan mengejar sa- Yogyakarta.
saran jadwal yang telah ditentukan atas Harsani, D.A.H. Time Cost Trade Off A-
perjanjian kontrak tertentu, sebaiknya per- nalysis. Tugas Akhir, Program Studi
cepatan dilakukan dengan penambahan Teknik Sipil Fakultas Teknik Univer-
dua jam kerja. Sedangkan apabila keter- sitas Udayana, Denpasar.
lambatan pelaksanaan proyek yang diala- Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan
mi dengan tidak mengejar sasaran jadwal Transmigrasi Republik Indonesia.
tertentu, disarankan percepatan yang dila- Nomor Kep.102/MEN/VI/2004. Wak-
kukan dengan penambahan satu jam kerja. tu Kerja Lembur Dan Upah Kerja
Lembur.
DAFTAR PUSTAKA Soeharto, I. 1997. Manajemen Proyek dari
Konseptual Sampai Operasional, Er-
Dipohusodo, I. 1996. Manajemen Proyek langga, Jakarta.
Konstruksi Jilid 1, Kanesius, Jakarta.

126
Proceeding, Seminar Ilmiah Nasional Komputer dan Sistem Intelijen (KOMMIT 2006)
Auditorium Universitas Gunadarma, Depok, 23-24 Agustus 2006 ISSN: 1411-6286

PEMBUATAN APLIKASI MANAJEMEN PROYEK DALAM


MENGELOLA PROYEK DI PT. X
Silvia Rostianingsih1, Arlinah Imam Raharjo2, & Basuki Setiawan3
1,2,3
Jurusan Teknik Informatika, Universitas Kristen Petra, Siwalankerto 121-131, Surabaya
1,2
{silvia, arlinah}@peter.petra.ac.id

ABSTRAK

Untuk pengembangan usaha dan pengaturan manajemen proyek, PT. X membutuhkan suatu
sistem yang dapat memperbaiki sistem dalam melakukan planning, monitoring, controlling dan
scheduling terhadap suatu proyek. Pada penelitian ini dirancang serta dibuat sistem informasi
manajemen proyek pada PT. X dengan menggunakan empat komponen utama, yaitu planning
(menggunakan metode Work Breakdown System), controlling, monitoring, dan scheduling.
Sistem manajemen proyek dilengkapi dengan laporan gantt chart yang menampilkan informasi
dari suatu proyek. Planning dilakukan dengan membagi proyek menjadi beberapa tahap dan
sub tahap. Monitoring dan controlling dilakukan dengan penyampaian beberapa laporan
tertulis dan laporan dalam bentuk gantt chart. Scheduling dilakukan dengan memberikan
batasan tanggal pada tiap tahap dan sub tahap dalam setiap proyek. Aplikasi ini akan
memudahkan pengaturan manajemen proyek dalam PT.X, sehingga proyek dapat lebih teratur
dan dapat diselesaikan tepat waktu.

Kata Kunci: planning, monitoring, controlling, scheduling

1. PENDAHULUAN yang berkecimpung dalam dunia komputer


beranggapan bahwa sebuah proyek merupakan
PT. X merupakan salah satu perusahaan sebuah aplikasi kompleks yang terdiri dari
yang bergerak dalam bidang pembuatan dan berbagai modul. Sebuah proyek perangkat
konsultan manajemen proyek. Breakdown lunak dapat berubah-ubah sesuai dengan
aktifitas dari suatu proyek mengalami kesulitan, pengembangan sistem dalam melakukan
karena monitoring dilakukan secara manual. programming.
Proses scheduling juga mengalami kesulitan Ada tujuh tahapan proyek [2] yaitu:
jika terdapat proyek yang banyak, karena terjadi
pen-double-an tugas serta banyak terjadi 2.1. Tahap Definisi
bentrok dalam menjadwalkan deadline suatu Tujuan dari tahap ini adalah untuk
proyek. Seorang manajer proyek dalam mendapatkan pemahaman yang sejelas-jelasnya
melakukan pembagian tugas mengalami mengenai permasalahan dari user, sehingga
kesulitan apabila ada proyek besar dan kecil dapat melakukan estimasi biaya dan waktu
yang dikerjakan secara bersamaan dan dengan baik. Ada tiga bagian yang harus
diselesaikan dalam waktu yang sama, karena dikerjakan dalam tahap ini. Pertama adalah
pembagian tugasnya menjadi tidak sama. Oleh mendapatkan pemahaman yang jelas mengenai
karena itu diperlukan suatu aplikasi yang dapat permasalahan dari user dan apa saja yang
membantu manajer proyek dalam melakukan diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut.
manajemen terhadap proyeknya. Kedua, harus segera diputuskan apakah akan
mengerjakan proyek tersebut atau tidak (harus
2. MANAJEMEN PROYEK dianalisa resiko-resiko yang ada berdasarkan
dari proyek yang dikerjakan). Ketiga, harus
Proyek adalah sebuah aktifitas yang memberikan kepada user estimasi yang termuat
menghasilkan sesuatu baik dalam bentuk jasa dalam proposal.
maupun produk (barang). Mayoritas masyarakat

56 Pembuatan Aplikasi Manajemen Proyek


(Silvia Rostianingsih)
Proceeding, Seminar Ilmiah Nasional Komputer dan Sistem Intelijen (KOMMIT 2006)
Auditorium Universitas Gunadarma, Depok, 23-24 Agustus 2006 ISSN: 1411-6286

2.2. Tahap Perencanaan Proyek Dalam melakukan test terhadap sistem


Planning merupakan suatu proses yang harus diperhatikan integrasi masing-masing
berkelanjutan. Setiap perkembangan yang modul.
dilakukan akan ditinjau kembali untuk
kemudian mendapatkan pemahaman yang lebih 2.7. Tahap Acceptance
baik terhadap kinerja suatu proyek. Dalam Tujuan dalam tahap ini adalah untuk
melakukan planning, terdapat bermacam- memperoleh pernyataan tertulis dari user
macam metode, antara lain metode Work apakah produk tersebut telah disampaikan
Breakdown Structures (WBS). Dalam metode sesuai dengan perjanjian. Dalam tahap ini hal
ini tahap-tahap yang ada dipecah menjadi yang harus diperhatikan adalah:
berbagai sub tahap yang lebih kecil. WBS Sistem yang dijanjikan telah melalui tahap
dimulai dengan melakukan listing terhadap test
tahap-tahap yang ada dalam suatu proyek. Membuat laporan test dan diberikan kepada
user, sehingga user memiliki gambaran
2.3. Tahap Analisis jelas terhadap testing dari proyek
Aktifitas utama dalam tahap ini adalah
untuk menganalisa sistem dan menghasilkan 2.8. Tahap Pelaksanaan
dokumen yang menjelaskan sistem. Dokumen Pada tahap ini sistem telah siap
ini akan semakin menambah pemahaman lebih dijalankan dan akan digunakan oleh user untuk
dari tahap definisi, sehingga tim proyek memecahkan masalah user. Aktifitas utama
memiliki gambaran sistem secara menyeluruh. dalam tahap ini adalah jaminan selama
beberapa waktu bagi user dalam menyelesaikan
2.4. Tahap Desain masalahnya dengan menggunakan sistem baru.
Dalam melakukan desain terhadap
sistem dilakukan pembagian sistem sesuai 3. METODOLOGI PENELITIAN
dengan fungsi-fungsi komponennya dan
menghubungkan komponen-komponen tersebut. Metodologi penelitian yang dilakukan
adalah:
2.5. Tahap Pemrograman Studi literatur diperlukan untuk
Aktifitas yang dilakukan adalah mempelajari sistem manajemen proyek
merencakan bagaimana dapat melakukan test Pengumpulan data yang diperlukan dalam
pada modul, melakukan coding pada masing- membuat software project management,
masing modul, menyimpan seluruh test yang meliputi data karyawan, data proposal, dan
dilakukan, dan memulai untuk membuat data-data yang diperlukan lainnya.
dokumen user (users guide, maintenance guide, Analisis sistem dengan melihat sistem yang
operator guide, dokumentasi training). ada, permasalahan, dan kebutuhannya
Desain sistem dilakukan dengan membuat
2.6. Tahap Testing proses bisnis yang sesuai dengan hasil
Tujuan dalam testing ini adalah untuk analisis.
melakukan test pada sistem yang ada. Dalam Pembuatan aplikasi disesuaikan dengan
melakukan test diperlukan System Test Plan hasil desain.
(STP) yang merupakan dokumen yang berisi: Melakukan testing pada aplikasi yang telah
Jadwal test, staf, dan sumber daya yang dibuat.
diperlukan Menganalisis apakah hasil tersebut dapat
Konfigurasi manajemen, integrasi dan diterima oleh user.
pengetesan terhadap tools yang digunakan. Maintenance aplikasi tersebut.
Pengecekan terhadap setiap langkah dari
pengintegrasian
Daftar sumber daya dan dokumen yang
diperlukan
4. ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

Pembuatan Aplikasi Manajemen Proyek 57


(Silvia Rostianingsih)
Proceeding, Seminar Ilmiah Nasional Komputer dan Sistem Intelijen (KOMMIT 2006)
Auditorium Universitas Gunadarma, Depok, 23-24 Agustus 2006 ISSN: 1411-6286

masing-masing modul setiap modul tersebut


4.1. Analisis Sistem selesai dibuat/diselesaikan.
Proses bisnis PT. X adalah sebagai Running
berikut: Running merupakan proses melakukan
Proses penerimaan order dari customer implementasi software yang dibuat kepada
PT. X menerima order dari customer, customer. Implementasi tersebut diterapkan
kemudian perusahaan ini melakukan survei dalam sistem yang dimiliki customer. Melalui
pendahuluan kepada customer tersebut. Survei proses ini akan diketahui apakah software
dilakukan untuk mendapatkan gambaran tersebut bebas dari error atau tidak.
mengenai proyek yang akan dikerjakan. Maintenance
Proses penawaran proposal Maintenance merupakan proses
Sebelum PT. X melakukan pengerjaan perbaikan software apabila terjadi error, baik
suatu proyek, perusahaan ini menawarkan human error maupun software error.
proyek tersebut dalam bentuk proposal Pengaturan proses ini dimuat dalam kontrak
penawaran kepada pihak customer (pelanggan). perjanjian yang telah disepakati.
Proposal ini memuat harga proyek beserta
termin-termin pembayarannya. Harga dan 4.2. Desain Sistem
termin pembayaran dalam proposal ini tidak PT. X membutuhkan beberapa hal
bersifat tetap, artinya customer dapat yang dapat menunjang proses planning,
melakukan negosiasi terhadap proposal yang scheduling, controlling, dan monitoring
diajukan. sehingga dapat berjalan dengan efisien, yaitu:
Proses kontrak proposal Komputerisasi untuk proses penyimpanan
Proses kontrak proposal dilakukan jika data karyawan, data customer, data proyek
telah terjadi kesepakatan antara PT. X dengan yang ada, sehingga data tersimpan dengan
customer. Proposal ini memuat dasar-dasar baik.
perjanjian proyek kedua belah pihak, harga Komputerisasi untuk proses monitoring dan
proyek, beserta termin pembayarannya. controlling dalam bentuk laporan Gantt
Proses analisis dan desain sistem Chart yang memudahkan dalam melihat
Analisis dan desain sistem berguna penjadwalan suatu proyek.
untuk mengetahui dan memberikan gambaran Komputerisasi untuk menetukan termin
sistem perusahaan customer secara detail dan pembayaran yang disimpan dalam database.
menyeluruh, mengidentifikasi permasalahan Komputerisasi dalam membuat proposal
customer dan melakukan perencanaan terhadap penawaran dan kontrak yang dihubungkan
sistem yang baru. dengan data customer.
Programming Kebutuhan untuk melihat laporan-laporan
Programming merupakan proses inti secara periodik, sehingga monitoring dan
dalam pengerjaan suatu proyek. Dalam proses controlling dapat berjalan secara efektif.
ini memuat permintaan customer akan suatu Secara garis besar, sistem ini dibagi
software, yang akan membantu memecahkan menjadi tiga proses yaitu proses pengolahan
permasalahan user. Programming merupakan proposal proyek, proses pengerjaan proyek, dan
proses pembuatan software sesuai dengan proses maintenance proyek. Contoh form
permintaan customer. Masing-masing modul aplikasi dapat dilihat pada gambar 1 dan 2.
yang dibuat ditunjukkan kepada customer untuk Struktur menu yang ada adalah:
disesuaikan dengan permintaan customer dan Master: Golongan, Karyawan, Customer,
mendapat persetujuan dari customer Tahap, Jenis Biaya, Spesifikasi.
berdasarkan kontrak perjanjian. Proses: Proposal Penawaran, Proposal
Testing Kontrak, Pembayaran, Proyek, Perhitungan
Testing merupakan proses melakukan Keuntungan Proyek.
pengecekan terhadap modul-modul yang telah Realisasi Proyek: Surat Tugas, Draft tugas
dibuat. Dilakukan untuk meminimalisasi error per Proyek.
yang terjadi. Testing dilakukan terhadap

58 Pembuatan Aplikasi Manajemen Proyek


(Silvia Rostianingsih)
Proceeding, Seminar Ilmiah Nasional Komputer dan Sistem Intelijen (KOMMIT 2006)
Auditorium Universitas Gunadarma, Depok, 23-24 Agustus 2006 ISSN: 1411-6286

Laporan Proses: Proposal Penawaran & Pendukung proses monitoring dan


Kontrak, Proyek, Gantt Chart Proyek, Gantt controlling dapat berupa penyampaian
Chart per Orang, Karyawan Proyek. laporan dalam bentuk Gantt Chart, yang
Laporan Kegiatan per Bulan: Periode terbagi dalam tiga bagian yaitu Gantt Chart
Pembayaran Bulanan, Pengerjaan proyek per karyawan, Gantt Chart proyek
Bulanan. keseluruhan dan Gantt Chart detail per
Laporan Kegiatan per Proyek: Biaya per proyek. Penggunaan Gantt Chart
Proyek, Detail Proyek. diharapkan memudahkan proses monitoring
dan controlling perusahaan yang selama ini
5. KESIMPULAN dilakukan secara manual.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah: 6. DAFTAR PUSTAKA


Metode Work Breakdown System (WBS)
merupakan metode yang baik dalam [1] W. Boehm, Software Engineering
pengaturan planning, karena membagi Economics, Englewood Cliffs New Jersey:
suatu proyek ke dalam beberapa tahap dan Prentice Hall, 1981.
sub tahap. Dengan adanya pembagian [2] Rakos, J. John, Software Project
proyek ke dalam beberapa tahap dan sub Management for Small to Medium Sized
tahap, membuat pembagian tugas menjadi Projects, Englewood Cliffs New Jersey:
jelas. Prentice Hall, 1990.
Scheduling dilakukan dengan menggunakan [3] Whitten, L. Jeffrey, System Analysis and
pembatasan tanggal pada masing-masing Design Methods, 4th ed. The McGraw-Hill
tahap dan sub tahap, sehingga akan Companies Inc, 1998.
mempermudah perusahaan dalam
melakukan penjadwalan.
Monitoring dan controlling dapat
disampaikan dalam bentuk laporan, yaitu:
laporan proposal penawaran, laporan
proposal kontrak, laporan karyawan yang
mengerjakan proyek, laporan kegiatan per
bulan, laporan rincian biaya per proyek dan
laporan pembayaran termin proyek.

Pembuatan Aplikasi Manajemen Proyek 59


(Silvia Rostianingsih)
Proceeding, Seminar Ilmiah Nasional Komputer dan Sistem Intelijen (KOMMIT 2006)
Auditorium Universitas Gunadarma, Depok, 23-24 Agustus 2006 ISSN: 1411-6286

Gambar 1. Form Pengisian Tahap

Gambar 2. Form Pengisian Sub Tahap

60 Pembuatan Aplikasi Manajemen Proyek


(Silvia Rostianingsih)
MODEL STRATEGI PENAWARAN UNTUK PROYEK KONSTRUKSI DI INDONESIA (Harry Patmadjaja)

MODEL STRATEGI PENAWARAN UNTUK PROYEK


KONSTRUKSI DI INDONESIA

Harry Patmadjaja
Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Kristen Petra

ABSTRAK

Penelitian ini melakukan studi atas berbagai model strategi penawaran yang didasarkan pada
expected profit maximum yang pernah muncul dan digunakan di negara maju. Dari antaranya dipilih
model-model dari Friedman, Gates dan Ackoff & Sasieni. Model-model didekati dengan berbagai
bentuk distribusi diskrit maupun normal, serta distribusi tunggal maupun ganda.

Model strategi penawaran selama ini belum banyak dibicarakan dan dibahas oleh pihak-pihak yang
terlibat pada proyek konstruksi di Indonesia, padahal akan merupakan kebutuhan kontraktor dalam
menghadapi tender terbuka pada era globalisasi di tahun 2000.

Model-model tersebut kemudian diterapkan pada sejumlah data tender konstruksi di Indonesia yang
berhasil diperoleh dari tahun 1994 sampai 1998. Hasil perhitungan diuji dengan dua data yang
memang disisihkan untuk pengujian model tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa model yang menghasilkan penawaran paling rendah adalah oleh model
Friedman, dan khususnya dengan distribusi diskrit yang berganda. Sebaliknya, model Gates atau
Ackoff & Sasieni menghasilkan mark up optimum yang lebih tinggi.

Kata kunci : probabilitas menang, penawaran, expected profit, mark up.

ABSTRACT

This research is a study on certain bidding strategy models, based on the maximum expected profit, as
often used in developed countries. The models chosen for this research are: the Friedman model, the
Gates model and the Ackoff & Sasieni model. Probability models to win were analyzed using discrete
and normal distribution, and also with multi and single distribution.

Bidding strategy models are rarely used or even discussed by the Indonesian contractors, though it will
be the contractors' need in the coming globalization era in 2000.

The chosen models were applied in various constructions tenders data obtained within the period 1994 -
1998. Two data sets were reserved for comparison purpose.

It was concluded that the Friedman model gave the lowest bid, especialy when used with the multi
discrete distribution. On the other hand, the Gates model and the Ackoff & Sasieni model could give
higher optimum mark up.

Keywods : probability to win, bidding, expected profit, mark up.

1. PENDAHULUAN

Dalam memasuki pasar bebas tahun 2000, dan


Catatan : Diskusi untuk makalah ini diterima sebelum
tanggal 1 Juni 1999. Diskusi yang layak muat akan dengan dikeluarkannya Keppres No 7/1998
diterbitkan pada Dimensi Teknik Sipil volume 1 nomor 2 tertanggal 12 Januari 1998 [1], tender infra
September 1999. struktur milik departemen-departemen dan
Badan Usaha Milik Negara yang bernilai 50

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra 1
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
DIMENSI TEKNIK SIPIL VOLUME 1. NOMOR 1 - MARET 1999

milyar rupiah wajib dilaksanakan secara tender Dengan mencoba-coba besaran mark up maka
terbuka. akan didapatkan nilai maximum dari expected
profit, dimana besarnya mark up yang
Tujuan penelitian adalah mencari dan menghasilkan expected profit yang maximum
mempelajari model strategi penawaran yang disebut mark up optimum, yang nantinya akan
paling sesuai bagi kontraktor-kontraktor dipakai dalam penawaran suatu tender. Prosedur
Indonesia, agar dapat ikut bersaing dalam tender diatas adalah yang dikenal sebagai model
yang global. strategi penawaran.

Untuk jelasnya ikuti gambar 2.1 berikut ini:


2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penawaran

Penawaran adalah suatu usulan oleh satu pihak


untuk mengerjakan sesuatu bagi kepentingan
pihak yang lain menurut persyaratan yang telah
ditentukan dan disepakati bersama [2].
Penawaran dalam makalah ini adalah untuk
tender sistim terbuka yang digunakan sebagai
studi tentang model strategi penawaran untuk
proyek konstruksi di Indonesia.
Gambar 2.1. Hubungan Expected Profit vs Mark Up
2.2 Mark Up
2.4 Biaya Konstruksi
Mark up adalah harga penawaran dibagi dengan
biaya estimasi dalam besaran persen (Mark Up =
Dalam menentukan biaya estimasi sebaiknya
Bid Price/Estimated Cost). Umumnya kontraktor
mendekati biaya aktual. Agar biaya estimasi
ingin menentukan suatu mark up yang sebesar-
dapat diperkirakan mendekati biaya aktual,
besarnya, namun dengan harapan tetap ingin
maka dibutuhkan suatu data dari pengalaman-
sebagai penawar yang terendah.
pengalaman penawaran yang lalu dan
membutuhkan waktu tiga sampai lima tahun
Dalam menentukan besarnya mark up,
pengamatan [3].
kontraktor membutuhkan hasil kumpulan data-
data penawaran yang lalu (historical data) dari
2.5 Model-Model Strategi Penawaran
pesaing-pesaing sebagai petunjuk dalam
penawaran.
2.5.1 Model Friedman
2.3 Expected Profit
Model Friedman [4] menggunakan dua buah
perumusan probabilitas untuk menang sebagai
Semakin besar harga penawaran maka semakin
berikut:
kecil kemungkinan untuk menjadi penawar yang
terendah (the lowest bid), sehingga potential
a. Probabilitas menang untuk identitas dari
profit harus dijadikan optimum yang dikenal
pesaing dikenal:
dengan expected profit agar menjadi penawar
terendah [3]. P(Co Win /Bo) = P(Bo <B1) x P(B0<Bi ) x ... x
P(B0< Bn) (2.1)
Dibawah ini adalah perumusan dari Expected
Profit: Dimana :
E(P) = p ( b c). P(Co Win/Bo) = Probabilitas menang ter-
hadap semua pesaing dikenal
Dimana : P(B0< Bi) = Probabilitas menang ter-
E(P)= Expected profit. hadap pesaing i.
p = Probabilitas menang.
b = Penawaran (Bid). b. Probabilitas menang untuk identitas dari
c = Biaya estimasi (cost). pesaing tak dikenal.
P(Co Win /Bo) = P (Bo < Ba) n (2.2)

2 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
MODEL STRATEGI PENAWARAN UNTUK PROYEK KONSTRUKSI DI INDONESIA (Harry Patmadjaja)

Dimana : di Surabaya. Data-data penawaran yang di-


P(Co Win/Bo) = Probabilitas menang ter- kumpulkan adalah untuk empat tahun dari
hadap semua pesaing tak tahun 1994 sampai 1998. Dari kumpulan data-
dikenal. data penawaran yang terkumpul diantaranya
Ba = Harga penawaran rata-rata. dipilih tigapuluh satu data penawaran dengan
n = Jumlah pesaing. pekerjaan yang sejenis, yaitu bangunan sekolah,
perguruan tinggi dan gedung-gedung perkantor-
dilanjutkan dengan menghitung nilai expected an milik pemerintah daerah yang ada di
profit dengan perumusan sebagai berikut: Surabaya dan Jawa Timur, dengan besar nilai
proyek berkisar antara 250 juta sampai 5 miliar
E(P) = (Bo Us.C) x P (Co Win/Bo) (2.3) rupiah.
Dimana :
E(P) = Expected profit 3.2 Pengolahan Data
Us = Ratio biaya aktual terhadap biaya
estimasi. Data-data penawaran diubah menjadi rasio
B0 = Harga Penawaran Kontraktor. penawaran terhadap estimasi biaya dan
C = Biaya estimasi proyek. dilanjutkan dengan perhitungan mean, standar
deviasi dan varian berikut ini:
2.5.2 Model Gates
Tabel 3.1. Mean, Standar Deviasi, Varian Dengan
Multi Distribusi Normal
Gates [4] mengusulkan juga dua model penawar-
an yang mirip dengan model Friedman, yaitu HASIL Pesaing Pesaing Pesaing Pesaing Pesaing Pesaing
STATISTIK A B C D E F
a. Probabilitas menang untuk identitas dari Mean 94 - 98 1,090 1,091 1,092 1,110 1,134 1,176
pesaing dikenal: Standar dev. 94 - 98 0,045 0,045 0,044 0,051 0,086 0,514
1 Varian 94 - 98 0,0021 0,0020 0,0020 0,0026 0,0074 0,2641
P(CoWin/Bo) = n 1 P(Bo < Bi) (2.4)
1+
i=0 P(Bo < Bi) Tabel 3.2. Mean, Standar Deviasi, Varian Dengan
b. Probabilitas menang untuk identitas dari Single Distribusi Normal
pesaing tak dikenal: HASIL STATISTIK 1994 - 1998
Mean (Bid/Cost) 1,110
1
P(CoWin/Bo ) = (2.5) Standar Deviasi (Bid/Cost). 0,074
1 P(Bo < Ba) Varian (Bid/Cost). 0,0055
1+n
P(Bo < Ba) Mean (Low bid/Cost). 1,090
Standar Deviasi Low bid/Cost). 0,0453
dilanjutkan menghitung nilai expected profit Varian (Low bid/Cost). 0,0019
dengan perumusan sebagai berikut:
Dilanjutkan dengan perhitungan probabilitas
E(P) = [ (B0 C) P(C0 wins/B0) ] (2.6) menang dengan menggunakan tiga distribusi
Gates menganggap biaya estimasi sama dengan yaitu distribusi diskrit berganda, distribusi
biaya aktual. normal berganda dan distribusi normal tunggal,
dimana hasilnya dapat dilihat pada tabel 3.3, 3.4,
2.5.3 Model Ackoff & Sasieni dan 3.5 berikut.

Ackoff dan Sasieni [4] menganggap bahwa biaya Tabel 3.3. Probabilitas Menang Untuk Distribusi
aktual proyek adalah sesuai dengan biaya esti- Diskrit Berganda '94-'98
masi proyek sesuai dengan Gates. Probabilitas 1994 - 1998
menang hanya terhadap pesaing terendah saja : R pA pB pC pD pE pF
P(CoWin/Bo) = P(Bo<Bi) (2.7) 1,00 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000
1,03 0.862 0.897 0.897 0.897 0.966 1.000
Dan dilanjutkan menghitung expected profit 1,05 0.621 0.655 0.690 0.862 0.828 0.960
dengan perumusan yang sama dengan pers. 2.6. 1,10 0.276 0.276 0.276 0.448 0.517 0.590
1,15 0.069 0.069 0.069 0.172 0.276 0.410
1,20 0.000 0.000 0.000 0.038 0.115 0.250
3. METODOLOGI 1,25 0.000 0.000 0.000 0.034 0.069 0.140
1,30 0.000 0.000 0.000 0.000 0.069 0.090
3.1 Pengambilan Data Penawaran Konstruksi 1,35 0.000 0.000 0.000 0.000 0.034 0.090
1,40 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.090
Pengambilan data-data penawaran dilakukan 1,45 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.050
terhadap perusahaan konstruksi yang berdomisili R = Mark Up

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra 3
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
DIMENSI TEKNIK SIPIL VOLUME 1. NOMOR 1 - MARET 1999

Tabel 3.4. Probabilitas Menang Untuk Distribusi Tabel 3.7. Probabilitas Menang dengan Distri-
Normal Berganda '94-'98 busi Normal Berganda untuk Model-
Model Friedman, Gates dan Ackoff &
1994 - 1998 Sasieni
R pA pB pC pD pE pF
1,00 0.976 0.980 0.981 0.984 0.939 0.634 1994 - 1998
1.03 0.905 0.916 0.919 0.940 0.885 0.612 Friedman Gates Ackoff/Sasieni
R
1.05 0.808 0.823 0.829 0.878 0.834 0.597 P.Win P.Win P.Win
1.10 0.409 0.423 0.430 0.574 0.652 0.559 1,00 0,550 0,581 0,976
1.15 0.091 0.094 0.097 0.215 0.425 0.520 1,03 0,388 0,474 0,905
1.20 0.007 0.007 0.008 0.039 0.221 0.482 1,05 0,241 0,374 0,808
1.25 0.000 0.000 0.000 0.000 0.088 0.443 1,10 0,016 0,139 0,409
1.30 0.000 0.000 0.000 0.000 0.027 0.405 1,15 0,000 0,028 0,910
1.35 0.000 0.000 0.000 0.000 0.006 0.368
1.40 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.332 Tabel 3.8. Probabilitas Menang dengan Distri-
1.45 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.297 busi Normal Tunggal untuk Model-
1.50 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.264 Model Friedman, Gates dan Ackoff &
1.55 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.234 Sasieni

Tabel 3.5. Probabilitas Menang Untuk Distribusi 1994 - 1998


Normal Tunggal '94-'98 Friedman Gates Ackoff/Sasieni
R
P.Win P.Win P.Win
1994 - 1998 1,00 0,882 0,979 0,976
R 1.00 1.03 1.05 1.10 1.15 1.20 1.25 1.30 1.35
1,03 0,729 0,949 0,905
P.Win 0.979 0.949 0.913 0.754 0.504 0.253 0.090 0.022 0.004 1,05 0,581 0,913 0,808
P. Win = Probabilitas Untuk Menang. 1,10 0,184 0,754 0,409
1,15 0,016 0,504 0,910
Hasil perhitungan probabilitas menang dari
ketiga distribusi diatas selanjutnya digunakan
untuk menghitung probabilitas menang dari
ketiga model penawaran pada sub bab 3.3 berikut 8
ini.
7
3.3 Perhitungan Model-Model Friedman, 6 FD 94-98
Gates dan Ackoff & Sasieni
% Expected Profit

5 GD 94-98
AD 9-98
Hasil perhitungan probabilitas menang dari 4
ketiga model dapat diikuti pada tabel 3.6, 3.7 dan FN 94-98

3.8 berikut ini: 3 GN 94-98

AN 94-98
2
Tabel 3.6. Probabilitas Menang dengan Distri- FSN 94-98
busi Diskrit Berganda untuk Model- 1 GSN 94-98
Model Friedman, Gates dan Ackoff &
Sasieni 0
0 3 5 10 15 20 25
1994 - 1998 % Mark UP
Friedman Gates Ackoff/Sasieni
R Gambar 3.1. Expected Profil vs Mark Up Tahun 94 98
P.Win P.Win P.Win
1,00 1,000 1,000 1,000
1,03 0,600 0,649 0,862 3.4 Perhitungan Nilai Maksimum Expected
1,05 0,191 0,333 0,621 Profit
1,10 0,003 0,085 0,276
1,15 0,000 0,020 0,060 Nilai-nilai mark up optimum dari model-model
Friedman, Gates dan Ackoff & Sasieni dapat
Hasil perhitungan probabilitas menang untuk dicari dari gambar 3.1 yaitu dengan melihat nilai
ketiga model dengan menggunakan pendekatan maksimum dari expected profit. Hasil perhitung-
ketiga distribusi tersebut selanjutnya dilanjutkan an dapat diikuti pada tabel 3.9.
dengan perhitungan expected profit dan mark up
yang hasilnya disajikan dalam bentuk gambar
berikut ini.

4 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
MODEL STRATEGI PENAWARAN UNTUK PROYEK KONSTRUKSI DI INDONESIA (Harry Patmadjaja)

Tabel 3.9. Hasil Mark Up Optimum Dari Expected Model Friedman dan Gates menghasilkan
Profit Maximum mark up optimum terendah sebesar 3% bila
menggunakan pendekatan dengan distribusi
Mark Up
diskrit berganda, dan sebesar 5% dengan
Jenis Distribusi Model Optimum (%)
1994 - 1998 distribusi normal berganda. Sementara itu
model Ackoff & Sasieni menghasilkan mark up
Friedman (FD) 3
Distribusi Diskrit Berganda Gates (GD) 3 optimum sebesar 5% dengan distribusi diskrit
Ackoff & Sasieni (AD) 5 berganda dan sebesar 10% dengan distribusi
Friedman (FN) 5 normal berganda.
Distribusi Normal Berganda Gates (GN) 5 Untuk distribusi normal tunggal, model
Ackoff & Sasieni (AN) 10 Friedman menghasilkan mark up optimum
Friedman (FSN) 5 terendah sebesar 5%, model Ackoff & Sasieni
Distribusi Normal Tunggal Gates (GSN) 15 menghasilkan sebesar 10%, dan model Gates
Ackoff & Sasieni (AN) 10 menghasilkan mark up optimum yang
terbesar yaitu 15%.
3.5 Pengujian Model dengan Data Pilihan
Dari pengujian mark up optimum dari ketiga
Secara hipotesis mark up optimum yang didapat model pada tabel 3.10 terlihat bahwa:
dari tabel 3.9 diatas ingin diujikan terhadap Model Friedman dengan ketiga distribusi
harga penawaran yang menang dari kontrak No dapat mengalahkan penawaran terendah.
30 dan 31 yang terdapat pada lampiran 1, dengan Model Gates dengan distribusi diskrit dan
melihat apakah akan lebih rendah (yang berarti normal berganda dapat mengalahkan
menang) atau lebih tinggi (yang berarti kalah). penawaran terendah, namun tidak demikian
bila menggunakan distribusi normal tunggal
Penawaran hipotesis didapat dengan mengalikan
yang mark up optimum nya 15%.
estimasi biaya dari kontrak No 30 dan 31 dengan
Model Ackoff & Sasieni dengan distribusi
mark up optimum dari tabel 3.9, kemudian discrete berganda dapat mengalahkan
dibandingkan dengan penawaran terendah dari penawaran terendah, namum kalah bila
kontraktor pemenang. Hasil perhitungan dan menggunakan distribusi normal berganda
pengujian dari ketiga model dapat diikuti pada maupun tunggal yang mark up optimum nya
tabel 3.10 berikut ini: 10%.

Tabel 3.10. Hasil Pengujian Mark Up Optimum 4.2 Pembahasan


Terhadap Penawaran Terendah Dari
Data Pilihan Dari uraian analisa hasil perhitungan pada sub
No. Kontrak 30 31 bab 4.1 didapatkan hasil pembahasan sebagai
Estimasi Biaya (x Rp 1000) 2.238.093,- 892.134,- berikut:
Penawaran Terendah (x Rp 1000) 2.432.710,- 980.367,- Dengan melihat tabel 3.9 dan gambar 3.1 dan
1. Model Friedman membandingkan ketiga model dan ketiga
Distribusi Diskrit Berganda (3%) 2.305.236,-(M) 918.898,-(M) distribusi dapat dikatakan bahwa model
Distribusi Normal Berganda (5%) 2.349.998,-(M) 936.741,-(M) Friedman dan distribusi diskrit menghasilkan
Distribusi Normal Tunggal (5%) 2.349.998,-(M) 936.741,-(M)
mark up optimum terkecil, sedangkan model
2. Model Gates
Distribusi Diskrit Berganda (3%) 2.305.236,-(M) 918.898,-(M) Gates dan Ackoff & Sasieni dan distribusi
Distribusi Normal Berganda (5%) 2.349.998,-(M) 936.741,-(M) normal tunggal menghasilkan mark up
Distribusi Normal Tunggal (15%) 2.573.807,-(K) 1.025.954,-(K) optimum terbesar.
3. Model Ackoff & Sasieni Model Friedman dengan distribusi normal
Distribusi Diskrit Berganda (5%) 2.349.998,-(M) 936.741,-(M) berganda dan tunggal menghasilkan mark up
Distribusi Normal Berganda (10%) 2.461.902,- (K) 981.347,-(K)
Distribusi Normal Tunggal (10%) 2.461.902,- (K) 981.347,-(K) optimum yang sama besar yaitu 5%, karena
M = Menang Terhadap Penawaran Terendah Penawaran Terendah. itu bila ingin menggunakan model Friedman
K = Kalah Terhadap Penawaran Terendah Penawaran Terendah. untuk data penawaran dari pesaing yang
dikenal (known bidders) maka sebaiknya
menggunakan distribusi normal tunggal saja,
4. ANALISA HASIL PERHITUNGAN karena lebih mudah dan cepat.
DAN PEMBAHASAN Masing-masing model strategi penawaran
mempunyai kelebihannya sendiri-sendiri bila
4.1 Analisa Hasil Perhitungan dilihat dari hasil analisa perhitungan pada
sub bab 4.1. Jadi untuk menentukan model
Dengan mengamati tabel 3.9 hasil perhitungan
mana yang sebaiknya dipakai dalam suatu
mark up optimum dari ketiga model, dihasilkan
penawaran, hal ini sangat tergantung dari
sebagai berikut:
keadaan pesaing, dalam arti apakah pesaing

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra 5
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
DIMENSI TEKNIK SIPIL VOLUME 1. NOMOR 1 - MARET 1999

mengerti model, pesaing tidak membutuhkan


pekerjaan karena sudah mempunyai banyak
pekerjaan, atau pesaing lagi sangat mem-
butuhkan pekerjaan.

5. KESIMPULAN

1. Dari analisa hasil perhitungan di sub bab 4.1


dan pembahasan di sub Bab 4.2, terlihat
bahwa bila diinginkan hasil mark up optimum
yang terendah maka gunakan distribusi
diskrit berganda dengan model Friedman.
2. Bila kontraktor sangat membutuhkan
pekerjaan demikian pula dengan para pesaing
yang juga membutuhkan, dan sama-sama
menguasai teori model strategi penawaran,
maka sebaiknya digunakan model Friedman
dengan distribusi diskrit berganda untuk para
pesaing yang dikenal identitasnya, namun
apabila para pesaing tidak dikenal identitas-
nya maka gunakan model Friedman dengan
distribusi normal tunggal.
3. Bila para pesaing tidak terlalu membutuhkan
pekerjaan atau permintaan pasar lagi 'boom',
maka sebaiknya menggunakan model pe-
nawaran Gates atau Ackoff & Sasieni yang
menghasilkan mark up optimum yang lebih
besar.
4. Sebaiknya diusahakan kecermatan dalam
menghitung estimasi biaya proyek agar
didapat hasil yang mendekati biaya aktual
proyek.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ramelan, R., "Tender Rp 50 miliar Wajib


Terbuka", harian Bisnis Indonesia, Saptu, 17
Januari 1998, p1.

2. Nugraha, P.,Natan, I., dan Sutjipto, R.,


"Manajemen Proyek Konstruksi", jilid 1,
Penerbit Kartika Yudha, Surabaya, 1986, p78.

3. Clough, R.H., and Sears, G.A., "Construction


Contracting", Sixth Edition, John Wiley &
Sons, Inc., USA, 1994, p 492 - 493.

4. Tarranza, N.C., "An Objective-Compromise


Approach Determining The Optimum Mark Up
of A Bid", A thesis submitted in partial
fulfillment of the requierements for the degree
of Master of Engineering at Asian Institute of
Technology, Bangkok, Thailand, 1985, p 6 - 16.

6 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
MODEL STRATEGI PENAWARAN UNTUK PROYEK KONSTRUKSI DI INDONESIA (Harry Patmadjaja)

Lampiran 1. Kumpulan Data Penawaran Dari Tender Konstruksi di Surabaya

No.Tender/ Tahun Estimasi Biaya Penawaran Kontraktor ( x Rp 1. 000 )


Kontrak (x Rp 1000) A B C D E F
1 1994 226.570 251.606 251.744 251.988 254.351 259.234 267.459
2 1994 3.434.387 3.773.334 3.774.052 3.774.394 3.800.425 3.915.455 3.925.437
3 1994 1.527.003 1.606.668 1.607.372 1.608.211 1.645.240 1.710.375 1.764.278
4 1994 1.731.567 1.841.268 1.842.093 1.842.720 1.952.995 1.980.700 -
5 1994 216.500 251.606 251.744 251.988 254.351 259.234 267.459
6 1994 4.414.310 4.439.900 4.550.835 4.574.188 5.029.701 5.324.742 5.589.908
7 1994 1.613.130 1.772.170 1.772.670 1.773.082 1.815.679 1.910.400 2.035.825
8 1994 4.123.445 4.685.169 4.685.733 4.686.142 4.754.629 4.825.676 4.872.263
9 1994 601.632 626.474 626.700 627.151 695.800 850.900 925.451
10 1994 1.279.360 1.461.466 1.462.126 1.462.502 1.575.450 1.725.800 1.850.500
11 1995 1.102.565 1.180.267 1.180.476 1.180.606 1.196.580 1.204.860 1.219.666
12 1995 2.240.383 2.453.543 2.456.560 2.460.453 2.462.875 2.467.566 2.487.980
13 1995 1.091.808 1.245.670 1.247.780 1.250.555 1.253.765 1.254.560 1.260.560
14 1995 1.340.515 1.565.675 1.567.854 1.568.555 1.570.355 1.572.890 1.574.900
15 1995 554.341 567.890 568.555 569.878 570.355 574.900 -
16 1995 766.741 789.321 790.455 791.566 792.345 795.909 -
17 1995 2.171.710 2.354.675 2.355.434 2.356.456 2.357.786 2.358.589 2.367.558
18 1995 2.664.142 2.786.545 2.789.678 2.790.678 2.791.325 2.794.678 2.795.890
19 1996 1.496.282 1.590.543 1.591.789 1.592.889 1.592.985 1.595.434 1.599.765
20 1996 4.416.106 4.878.955 4.879.675 4.880.997 4.882.993 4.884.776 4.885.245
21 1996 4.969.056 5.678.921 5.679.876 5.680.990 5.682.085 5.683.145 5.684.678
22 1996 3.641.821 3.980.132 3.982.765 3.983.976 3.984.879 3.986.134 3.987.564
23 1996 674.814 789.256 791.089 792.134 793.789 794.887 797.812
24 1996 680.284 687.156 688.778 689.034 691.712 693.675 -
25 1996 793.668 901.896 903.786 904.578 905.882 908.145 -
26 1996 1.647.128 1.790.356 1.792.786 1.793.132 1.795.421 1.796.190 -
27 1997 1.623.134 1.690.765 1.692.876 1.693.654 1.696.881 1.699.112 -
28 1997 3.267.004 3.512.908 3.513.134 3.514.655 3.515.781 3.516.981 3.518.123
29 1997 754.601 802.767 803.712 803.893 804.798 805.889 806.134
30 1997 2.238.093 2.432.710 2.433.614 2.434.091 2.436.230 2.438.209 2.440.102
31 1997 892.134 980.367 982.878 983.812 984.008 984.689 986.214

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra 7
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 12, No. 2, Juli 2008

PENGENDALIAN BIAYA DAN JADUAL TERPADU PADA


PROYEK KONSTRUKSI.

Dewa Ketut Sudarsana1

Abstrak: Sumberdaya utama terbatas pada tahap pelaksanaan suatu proyek kostruksi
adalah biaya, mutu dan waktu. Perencanaan, penjadualan dan pengendalian adalah
langkah penting untuk dilakukan agar tujuan pelaksanaan proyek dengan sumberdaya
terbatas ini tercapai.
Metode Nilai Hasil (Eaned Value) adalah sutau metode pengendalian yang digunakan
untuk mengendalikan biaya dan jadual proyek secara terpadu. Metode ini memberikan
informasi status kinerja proyek pada suatu periode pelaporan dan memberikan informasi
prediksi biaya yang dibutuhkan dan waktu untuk penyelesaian seluruh pekerjaan
berdasarkan indikator kinerja saat pelaporan.
Pada Pembangunan Gedung Instalasi Rehabilitasi Medik RS. Sanglah Denpasar,
informasi yang didapat saat pelaporan pada hari ke-91 adalah Planed Value/ PV=Rp
1,4325 milyar, Earned Value/ EV=Rp.1,3747 dan Actual Cost /AC=Rp.1,3598 milyar.
Pada saat ini kinerja proyek dari aspek biaya dikatakan untung (Cost Varian/ CV= + Rp.
0.01 milyar dan Cost Performed Index /CPI=1,01>1). Dari aspek jadual, dikatakan
proyek ini mengalami keterlambatan (Schedule Varian /SV= -Rp.0,06 milyar dan
Schedule Performance Indek/SPI=0,96 <1). Prediksi biaya yang diperlukan untuk
menyelesaikan seluruh pekerjaan adalah Rp. 2,8683 milyar, menunjukkan mendapat
keuntungan (dibawah rencana anggaran Rp. 2,8998 milyar). Sedangkan prediksi jadual
yang diperlukan 129 hari, menunjukkan mengalami keterlambatan 2 hari dari rencana.

Kata kunci: kinerja, jadual, biaya, nilai hasil, varian, indek.

INTEGRATED COST AND SCHEDULE CONTROL IN


CONSTRUCTION PROJECT

Abstract: Cost, performance and time are the major constrain resources in project
execution. The important action to find project objective with limited resources are
planning, scheduling and controlling.
Earned Value concept is a method to integrated project cost and project schedule
controlling. This method informed the project performanced in period reporting and to
predict the total project cost completion and the project time completion based on
performances indicator reporting.
In case study on periodic 91st day reporting at Pembangunan Gedung Instalasi
Rehabilitasi Medik Center Public hospital Sanglah, the progress information such as
Planed Value (PV)= IDR 1,4325 billion, Earned Value (EV) = IDR 1,3747 billion and
Actual Cost (AC)= IDR 1,3598 billion. In this report the cost project performance had
profit (Cost Varian, CV = + IDR 0,01 billion and Cost Performed Index ,CPI=1,01>1).
But the schedule performanced project has been delayed (Schedule Varian, SV = - IDR
0.06 billion and Schedule Performmance Index, SPI =0,96 <1). If this project
performanced continued until the project completion, the project cost completion has
been estimated about IDR 2,8683 billion, that is under the budget (< IDR 2.8998 billion).
However, the estimated project schedule required 129 days, which showed the project
schedule will be delayed 2 days from the schedule plan.

Keywords: performance, schedule, cost, earned value, varian, index.

1
Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, Denpasar.

117
Pengendalian Biaya Dan Jadual Terpadu Pada Proyek ............................................. Sudarsana

PENDAHULUAN yang termasuk dalam biaya tak langsung


adalah biaya overhead, biaya tak terduga
Pengendalian merupakan salah satu (contigencies), keuntungan /profit, pajak
fungsi dari manajemen proyek yang dan lainnya.
bertujuan agar pekerjaan-pekerjaan dapat Hubungan biaya langsung dan biaya tak
berjalan mencapai sasaran tanpa banyak langsung terhadap waktu memiliki kecen-
penyimpangan. Pengendalian proyek adalah drungan bertolak belakang. Jika waktu
suatu usaha sistematis untuk menentukan pelaksanaan proyek dipercepat akan
standar yang sesuai dengan sasaran peren- mengakibatkan peningkatan biaya langsung
canaan, merancang system informasi, tetapi pada biaya tidak langsung terjadi
membandingkan pelaksanaan dengan penurunan.
standar, menganalisis kemungkinan adanya Berdasarkan gambaran diatas pengen-
penyimpangan antara pelaksanaan dengan dalian waktu dan biaya perlu dilakukan
standar, dan mengambil tindakan pembe- secara terpadu atau terintergrasi. Metode
tulan yang diperlukan agar sumber daya pengendalian biaya dan waktu terpadu ini
yang digunakan secara efektif dan efisien dikenal dengan Konsep Nilai Hasil (Earned
dalam rangka mencapai sasaran (Soeharto, Value).
1997).
Sumber daya proyek khususnya proyek MATERI DAN METODE
konstruksi terdiri dari material, tenaga
kerja, pendanaan, metode pelaksanaan dan Materi
peralatan. Sumber daya direncanakan untuk Penelitian ini mengkaji pelaksanaan
mencapai sasaran proyek dengan batasan proyek Proyek Pembangunan Gedung
waktu, biaya dan mutu. Tantangan pada Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit
pelaksanaan proyek adalah bagaimana Umum Pusat Sanglah di Denpasar. Sesuai
merencanaakan jadual waktu yang efektif Kontrak pekerjaan proyek ini dijadualkan
dan perencanaan biaya yang efisien tanpa waku penyelesaiannya selama 127 hari
megurangi mutu. kalender (5 Bulan). Nilai pekerjaan Rp.
Waktu dan biaya merupakan dua hal 2,899,780,000.00 (Real Cost). Proyek ini
penting dalam pelaksanaan pekerjaan dievaluasi pada akhir bulan ke-3 (hari ke-
konstruksi selain mutu, karena biaya yang 91) dari jangka waktu ditetapkan dalam
akan dikeluarkan pada saat pelaksanaan kontrak selama 127 hari. Data yang
sangat erat kaitannya dengan waktu dikumpulkan meliputi dokumen Kontrak,
pelaksanaan pekerjaan. khususnya tentang Rencana Anggaran
Biaya proyek pada proyek konstruksi Biaya (RAB) dan Jadual Pelaksanaan. Data
dibedakan menjadi dua jenis yaitu biaya dari pelaksanaan proyek meliputi Laporan
langsung (Direct Cost) dan biaya tidak kemajuan proyek dan Laporan Keuangan
langsung (Indirect Cost). (Soeharto, 1997).. proyek. Laporan-laporan ini dikumpulakan
Biaya langsung adalah semua biaya dari mulai pelaksanaan proyek sampai
yang langsung berhubungan dengan periode pelaporan
pelaksanaan pekerjaan konstruksi dilapa-
ngan. Biaya-biaya yang dikelompokkan Metode
dalam biaya langsung adalah biaya bahan Pembahasan dalam penelitian ini dikaji
/material, biaya pekerja /upah dan biaya secara deskriptif. Metode pengendalian
peralatan (equipment). Biaya tak langsung proyek yang digunakan adalah Metode
adalah semua biaya proyek yang tidak Pengendalian Biaya dan Jadual Terpadu
secara langsung berhubungan dengan (Earned Value). Metode ini mengkaji
konstruksi di lapangan tetapi biaya ini harus kecenderungan Varian Jadwal dan Varian
ada dan tidak dapat dilepaskan dari proyek Biaya pada suatu periode waktu selama
tersebut (Nugraha et al., 1986). Biaya-biaya proyek berlansung (Soeharto, 1997).

118
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 12, No. 2, Juli 2008

a. Metode Analisis Varians d. Konsep Nilai Hasil (Earned Value)


Metode Analisis Varians adalah metode Konsep Nilai Hasil merupakan perkem-
untuk mengendalikan biaya dan jadwal bangan dari Konsep Analisis Varians.
suatu kegiatan proyek konstruksi. Dalam Dimana dalam Analisis Varians hanya
metode ini identifikasi dilakukan dengan menunjukkan perbedaan hasil kerja pada
membandingkan jumlah biaya yang sesung- waktu pelaporan dibandingkan dengan
guhnya dikeluarkan terhadap anggaran. anggaran atau jadwalnya (PMBOK,2004)
Analisis Varians dilakukan dengan Adapun kelemahan dari metode ini
mengumpulkan informasi tentang status Analisis Varians adalah hanya menganalisa
terakhir kemajuan proyek pada saat varians biaya dan jadwal masing-masing
pelaporan dengan menghitung jumlah unit secara terpisah sehingga tidak dapat
pekerjaan yang telah diselesaikan kemudian mengungkapkan masalah kinerja kegiatan
dibandingkan dengan perencanaan atau yang sedang dilakukan. Sedangkan dengan
melihat catatan penggunaan sumber daya. metode Konsep Nilai Hasil dapat diketahui
Metode ini akan memperlihatkan perbedaan kinerja kegiatan yang sedang dilakukan
antara biaya pelaksanaan terhadap anggaran serta dapat meningkatkan efektifitas dalam
dan waktu pelaksanaan terhadap jadual memantau kegiatan proyek.
Dengan memakai asumsi bahwa
b. Varians dengan Grafik S kecenderungan yang ada dan terungkap
Cara lain untuk memperagakan adanya pada saat pelaporan akan terus berlangsung,
varians adalah dengan menggunakan grafik. maka metode prakiraan atau proyeksi
Grafik S akan menggambarkan kemajuan keadaan masa depan proyek, seperti:
volume pekerjaan yang diselesaikan i. Dapatkah proyek diselesaikan dengan
sepanjang siklus proyek. Bila grafik sisa dan yang ada.
tersebut dibandingkan dengan grafik serupa ii. Berapa besar perkiraan biaya untuk
yang disusun berdasarkan perencanaan menyelesaikan proyek.
dasar maka akan segera terlihat jika terjadi iii. Berapa besar keterlambatan/kemajuan
penyimpangan. Grafik S sangat berman- pada akhir proyek.
faat untuk dipakai sebagai laporan bulanan Konsep Nilai Hasil adalah konsep
dan laporan kepada pimpinan proyek, menghitung besarnya biaya yang menurut
karena grafik ini dapat dengan jelas anggaran sesuai dengan pekerjaan yang
menunjukkan kemajuan proyek dalam telah dilaksanakan. Bila ditinjau dari jumlah
bentuk yang mudah dipahami. pekerjaan yang diselesaikan berarti konsep
ini mengukur besarnya unit pekerjaan yang
c. Kombinasi Bagan Balok dan Grafik telah diselesaikan pada suatu waktu bila
S dinilai berdasarkan jumlah anggaran yang
Salah satu teknik pengendalian kema- disediakan untuk pekerjaan tersebut.
juan proyek adalah memakai kombinasi Dengan perhitungan ini dapat diketahui
grafik S dan tonggak kemajuan hubungan antara apa yang sesungguhnya
(milestone). Milestone adalah titik yang telah dicapai secara fisik terhadap jumlah
menandai suatu peristiwa yang dianggap anggaran yang telah dikeluarkan, yang
penting dalam rangkaian pelaksanaan dapat ditulis dengan rumus:
pekerjaan proyek. Titik milestone ditentu-
kan pada waktu pembuatan perencanaan Nilai Hasil = (% Penyelesaian) x (anggaran)
dasar yang disiapkan sebagai tolak ukur Sumber: Soeharto, 1997
kegiatan pengendalian kemajuan proyek. Keterangan:
Penggunaan milestone yang dikombina- - % penyelesaian yang dicapai pada
sikan dengan grafik S amat efektif untuk saat pelaporan.
mengendalikan pembayaran berkala. - Anggaran yang dimaksud adalah real
cost biaya proyek

119
Pengendalian Biaya Dan Jadual Terpadu Pada Proyek ............................................. Sudarsana

e. Indikator-indikator yang dipergu- terhadap anggaran yang disediakan untuk


nakan melaksanakan pekerjaan tersebut. Bila
Konsep dasar nilai hasil dapat diguna- angka AC dibandingkan dengan EV, akan
kan untuk menganalisis kinerja dan terlihat perbandingan antara biaya yang
membuat perkiraan pencapaian sasaran. telah dikeluarkan untuk pekerjaan yang
Indikator yang digunakan dalam analisis telah terlaksana terhadap biaya yang
adalah biaya aktual (actual cost), nilai hasil seharusnya dikeluarkan untuk maksud
(earned value) dan jadual anggaran tersebut.
(Planned Value).
Jadual Anggaran (Planned Value =PV)
Biaya Aktual (Actual Cost =AC). Jadual Anggaran (Planned Value =PV)
Biaya Aktual (Actual Cost =AC) atau atau Budgeted Cost of Work Schedule
Actual Cost of Work Perfomed (ACWP) (BCWS) menunjukkan anggaran untuk
adalah jumlah biaya aktual pekerjaan yang suatu paket pekerjaan, yang disusun dan
telah dilaksanakan pada kurun pelaporan dikaitkan dengan jadual pelaksanaan. Disini
tertentu. Biaya ini diperoleh dari data-data terjadi perpaduan antara biaya, jadwal dan
akuntansi atau keuangan proyek pada lingkup kerja, dimana pada setiap elemen
tanggal pelaporan. Jadi AC merupakan pekerjaan telah diberi alokasi biaya dan
jumlah aktual dari pengeluaran atau dana jadwal yang dapat menjadi tolak ukur
yang digunakan untuk melaksanakan dalam pelaksanaan pekerjaan. Contoh
pekerjaan pada kurun waktu tertentu. pelaporan status proyek pada pelaporan
bulan Mei digambarkan pada Gambar 1
Nilai Hasil (Earned Value=EV) dengan nilai PV= Rp.660, EV=Rp.530. dan
Nilai Hasil (Earned Value=EV) atau AC= 840
Budgeted Cost of Work Performed (BCWP)
adalah nilai pekerjaan yang telah selesai
1200

1000

800
Biaya Rp.

600

400

200

0
Bulan mulai Januari Pebruari Maret April Mei Jun Jul Agustus

PV / BCWS 0 60 140 280 480 660 870 1020 1080


EV / BCWP 0 40 100 210 380 530
AC / ACWP 0 90 210 410 640 840

Gambar 1. Analisa varians terpadu disajikan dengan grafik S

f. Varians Biaya dan Jadual Terpadu EV dan AC digunakan dalam menentukan


Telah disebutkan sebelumnya bahwa Varians Biaya dan Varians Jadual secara
menganalisis kemajuan proyek dengan terpadu. .
analisis varians sederhana dianggap kurang Varians Biaya/Cost Varians (CV) dan
mencukupi, karena metode ini tidak Varian Jadwal/Schedule Varians (SV)
mengintegrasikan aspek biaya dan jadual. diformulasikan sebagai berikut:
Untuk mengatasi hal tersebut indikator PV,

120
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 12, No. 2, Juli 2008

Varian Biaya (CV) = EV AC atau - SPI (Schedule Performance Index) =


CV=BCWP ACWP (2) Indek Kinerja Jadwal.
Varian Jadwal (SV) = EV PV atau - CPI (Cost Performance Index) = Indek
SV=BCWP-BCWS (3) Kinerja Biaya.
- ETC (Estimate Temporary Cost) =
g. Indeks Produktivitas dan Kinerja Prakiraan Biaya untuk Pekerjaan
Pengelola proyek sering kali ingin Tersisa.
mengetahui efisiensi penggunaan sumber - EAC (Estimate All Cost) = Prakiraan
daya, yang dapat dinyatakan sebagai indeks Total Biaya Proyek.
produktivitas atau indeks kinerja. Indeks
- ETS (Estimate Temporary Schedule) =
kinerja ini terdiri dari Indeks Kinerja Biaya
Prakiraan Waktu Untuk Pekerjaan
(Cost Performance Index = CPI) dan
Tersisa.
Indeks Kinerja Jadual (Schedule Perfor-
- EAS (Estimate All Schedule) =
mance Index = SPI) Adapun rumusan
Prakiraan Total Waktu Proyek.
Indeks kinerja ini adalah :
HASIL DAN PEMBAHASAN
Indeks Kinerja Biaya (CPI) = EV/AC atau
CPI = BCWP / ACWP . (4)
Anggaran Biaya Menurut Jadual
Indeks Kinerja Jadwal (SPI) = EV/ PV atau
(Planned Value)
SPI =BCWP / BCWS .. (5)
Perhitungan Anggaran Menurut Jadual/
i. Proyeksi Pengeluaran Biaya dan PV/ (BCWS) didapat dengan merencanakan
Jangka waktu penyelesaian Proyek seluruh aktifitas proyek berdasarkan metode
Membuat prakiraan biaya atau jadual konstruksi yang terpilih. Planed value ini
penyelesaian proyek berdasarkan atas dapat digambarkan seperti penjadualan
indikator yang diperoleh saat pelaporan, dengan metode kurva-S.
akan memberikan petunjuk besarnya biaya Berikut adalah proporsi biaya pada
pada akhir proyek (estimasi at completion periode bulanan yang diambil dari
= EAC) dan prakiraan waktu peneyelesaian penjadualan kurva-S yang disajikan pada
proyek (estimate all schedule = EAS) Tabel 1.
Prakiraan prakiraan biaya atau jadual
amat bermanfaat karena memberikan Tabel 1. Planed value Proyek Pemba-
peringatan dini mengenai hal-hal yang akan ngunan Gedung Instalasi Rehabilitasi
terjadi pada masa yang akan datang, bila Medik RS. Sanglah Denpasar
Bulan Planed Value
kecenderungan yang ada pada saat ke- Bulan
pelaporan tidak mengalami perubahan.Bila Per Bulan (Rp) Komulatif (Rp)
pada pekerjaan tersisa dianggap kinerjanya
tetap seperti pada saat pelaporan, maka 1 Agustus 126,894,372.80 126,894,372.80
prakiraan biaya untuk pekerjaan tersisa 2 September 336,084,502.00 462,978,874.80
(ETC) adalah: 3 Oktober 969,483,447.40 1,432,462,322.20
ETC = (BAC BCWP) / CPI .. (6) 4 November 1,330,361,068.40 2,762,823,390.60
5 Desember 136,956,609.40 2,899,780,000.00
EAC = ACWP ETC .. (7)
Sumber: Sagung Arie Mahadewi, 2006
Sedangkan prakiraan waktu penyelesaian
seluruh pekerjaan:
ETS = (Sisa waktu ) / SPI................. (8) Biaya Aktual (Actual Cost)
EAS = Waktu selesai + ETS............. (9) Pengeluaran Biaya Aktual Pekerjaan
dimana: (Actual Cost) sampai saat pelaporan didapat
dari laporan keuangan proyek dan disajikan
- BAC (Budget At Completion) =
pada Tabel 2.
Anggaran Proyek Keseluruhan.

121
Pengendalian Biaya Dan Jadual Terpadu Pada Proyek ............................................. Sudarsana

Tabel 2. Biaya Aktual (Actual Cost) Kinerja Proyek Saat Pelaporan.


Proyek Pembangunan Gedung Instalasi Satatus proyek saat pelaporan pada
Rehabilitasi Medik RS. Sanglah akhir bulan ke-3 atau hari ke-91 menun-
Denpasar jukkan kinerja proyek untung, hal ini
Bulan Actual Cost ditunjukan dari indikator Cost Varian CV
ke- Bulan bernilai positif sebesar Rp. 0,1 milyar
Per Bulan (Rp) Komulatif (Rp)
antara selisih nilai hasil (EV) dengan biaya
1 Agustus 205,612,784.00 205,612,784.00
actual yang dikeluarkan (AC). Kinerja
2 September 433,923,352.00 639,536,136.00
3 Oktober 720,218,469.00 1,359,754,605.00
proyek dari aspek biaya ini bisa juga dilihat
4 November dari indikator indek kinerja biaya CPI= 1.01
5 Desember >1. Sedangkan dari aspek jadual menun-
Sumber: Sagung Arie Mahadewi,2006 jukkan kinerja proyek mengalami keter-
lambatan, hal ini ditunjukkan dari Schedule
Nilai Hasil (Earne Value) Varian (SV) yang bernilai negative sebesar
Nilai hasil (Earned Value) adalah hasil Rp. 0.06 milyar antara selisih nilai hasil
yang didapat berdasarakan pekerjaan yang (EV) dengan anggaran yang dijadualkan
telah terselesaikan. dianggarkan dari (PV). Kinerja proyek dari aspek waktu ini
pekerjaan yang telah diselesaikan. Nilai juga bisa dilihat dari Indek Kinerja Jadual
hasil dihitung berdasarkan prosentase bobot (SPI) yang nilainya sebesar 0.96 <1. Nilai
yang didapat dikalikan dengan total CV, SV, CPI dan SPI ini dapat dilihat pada
anggaran (nilai kontrak). Nilai hasil yang Tabel 4.Sedangkan grafik penjadual terpadu
didapat sampai saat pelaporan disajikan saat pelaporan dapat dilihat pada Gambar 2.
pada Tabel 3.

Tabel 3. Earned Value Proyek Pemba-


ngunan Gedung Instalasi Rehabilitasi
Medik RS. Sanglah Denpasar
Bulan Penyelesaian Earned Value
ke- Bulan
% (Rp)
1 Agustus 12.921 374,680,573.80
2 September 33.023 957,594,349.40
3 Oktober 47.406 1,374,669,707.00
4 November
5 Desember
Sumber: Sagung Arie Mahadewi,2006

Tabel 4. Status kinerja proyek saat pelaporan hari ke-91.


CV = SV =
Bulan Hari PV EV AC EV-AC EV-PV CPI= SPI=
ke- ke- Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. EV/AC EV/PV
(milyar) (milyar) (milyar) (milyar) (milyar)
1 28 0.1269 0.3747 0.2056 0.17 0.25 1.82 2.95
2 56 0.4630 0.9576 0.6395 0.32 0.49 1.50 2.07
3 91 1.4325 1.3747 1.3598 0.01 -0.06 1.01 0.96
4 112 2.7628
5 127 2.8998
Sumber: analisis

122
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 12, No. 2, Juli 2008

3.5

2.5

1.5

0.5

0
Waktu (hari) 0 28 56 91 112 127 129

PV 0 0.1269 0.4630 1.4325 2.7628 2.8998 2.8998


EV 0 0.3747 0.9576 1.3747
AC 0 0.2056 0.6395 1.3598

Gambar 2. GrafikS varian biaya dan waktu terpadu saat pelaporan hari ke-91
(Sumber: analisis)

Proyeksi Pengeluaran Biaya dan adalah sebesar Rp. 2,8683 milyar yang
Jangka waktu penyelesaian Proyek berarti ada keuntungan atau masih dibawah
Berdasarkan nilai PV, EV dan AC saat rencana anggaran (PV) yaitu sebesar Rp.
pelaporan hari ke-91 dan indikator CPI dan 2,8998 milyar
SPI yang diadapat sebelumnya dapat Sedangkan perkiraan penyelesaian dari
diprediksikan biaya yang akan dikeluarkan aspek jadual didapat perkiraan waktu
dan waktu yang diperlukan untuk penye- penyelesaian pekerjaan (EAS) adalah 129
lesain seluruh pekerjaan, yang disajikan hari, lebih lama dari jadual rencana selama
pada Tabel 5 127 hari. Ini berarti proyek akan mengalami
Jika kinerja saat pelaporan tetap sama keterlambatan selama 2 hari. Gambaran
sampai sisa pekerjaan terselesaikan, maka perkiraan biaya dan waktu terpadu untuk
prediksi biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan proyek dapat dilihat pada
menyelesaikan seluruh pekerjaan (ETC) Gambar 3.

Tabel 5. Proyeksikan biaya (ETC) dan waktu (EAS) yang diperlukan untuk
menyelesaiakn proyek.
Sisa
PV EV AC CPI SPI ETC EAC Waktu ETS EAS
Hari Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.
ke- (milyar) (milyar) (milyar) (milyar) (milyar) (hari) (hari) (hari)

28 0.1269 0.3747 0.2056 1.82 2.95

56 0.4630 0.9576 0.6395 1.50 2.07

91 1.4325 1.3747 1.3598 1.01 0.96 1.5086 2.8683 36 38 129


112 2.7628
127 2.8998

123
Pengendalian Biaya Dan Jadual Terpadu Pada Proyek ............................................. Sudarsana

3.2
3
2.8
2.6
2.4
2.2
Biaya (Rp. Milyar)

2
1.8
1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
Waktu (hari) 0 28 56 91 112 127 129

PV 0 0.1269 0.4630 1.4325 2.7628 2.8998


EV 0 0.3747 0.9576 1.3747 2.6259 2.7628 2.8998
AC 0 0.2056 0.6395 1.3598 2.1140 2.7889 2.8683

Gambar 3. GrafikS varian biaya dan waktu terpadu saat pelaporan hari-ke91 dan
perkiraan penyelesaian pekerjaan
(Sumber: analisis)

SIMPULAN DAN SARAN biaya yang dibutuhkan sebesar


Rp.2,8683 milyar yang berarti akan
Simpulan mendapatkan keuntungan karena masih
Hasil analisa dengan meggunakan dibawah rencana anggaran sebesar Rp.
metode Pengendalian Biaya dan Jadual 2,8998 milyar. Sedangkan dari aspek
terpadu (Earned Value Concept) pada jadual, perkiraan untuk menyelesaikan
pelaksanaan Proyek Pembangunan Gedung proyek adalah 129 hari, akan menga-
Instalasi Rehabilitasi Medik RS. Sanglah lami keterlambatan (terlambat 2 hari)
Denpasar adalah : dari jadual ditetapkan dalam kontrak
1. Kinerja pelaksanaan proyek pada hari selama 127 hari.
ke-91 dari aspek biaya menunjukan
pelaksanaan proyek ini memproleh Saran
keuntungan, hal ini ditunjukkan dari Hal-hal yang dapat disarankan adalah:
indikator Cost Varian bernilai positif 1. Metode pengendalian Konsep Nilai
(Rp. 0,01 miliar) atau nilai Indek Hasil (Earned Value) dalam imple-
Kinerja Biaya (CPI) = 1,01 >1. mentasinya yang menggunakan garfik
Sedangkan dari aspek jadual pelak- S perlu dikaji dengan mengin-
sanaan proyek mengalami keterlam- tegrasikan metode Critical Path
batan yang ditunjukkan oleh indikator Methode.
Cost Varian bernilai negative (Rp. -0,06 2. Perlu dirancang alternatif-alternatif
milyar) atau Indeks Kinerja Jadula sistem penanganan bila terjadi
(SPI) = 0,96 <1. penyimpangan biaya dan waktu secara
2. Jika kinerja pelaksanan proyek pada terpadu.
pelaporan hari ke-91 berjalan tetap
sama sampai proyek selesai, perkiraan

124
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 12, No. 2, Juli 2008

UCAPAN TERIMA KASIH Dipohusodo, I. 1996. Manajemen Proyek


Ucapan terima kasih kami ucapkan Dan Konstruksi Jilid II, Kanesius,
kepada semua pihak yang telah membantu Jakarta.
dalam proses penulisan ini sampai tulisan Ervianto, W.I. 2002. Manajemen Proyek
ini bisa diselesaikan terutama kolega saya Konstruksi, Andi, Yogjakarta.
I.B.P. Adnyana dan sejawat A.A. Sagung Mahadewi, A.A.S.A. 2006. Evaluasi
Arie Mahadewi. Proyek dengan Konsep Nilai Hasil
(Earned Value) pada Proyek Pemba-
DAFTAR PUSTAKA ngunan Gedung Instalasi Rehabilitasi
Medik RS Sanglah Denpasar, Skripsi,
Anonim. 2004. A Guide to the Project Teknik Sipil Unud.
Management Body of Knowledge, Nugraha, P., Natan, I., dan Sutjipto, R.
Project Management Institute, 3rd 1985. Manajemen Konstruksi 1, 2,
edition, Pennsyvalnea USA. Kartika Yuda, Surabaya.
Bachtiar, H.I. 1993. Rencana Dan Estimate Soeharto, I. 1997. Manajemen Proyek Dari
Real Of Cost, Bumi Aksara, Jakarta. Konseptual Sampai Operasional,
Badri, S. 1997. Dasar Dasar Network Erlangga, Jakarta.
Planning (Dasar Dasar Perencanaan Syafriandi. 2003. Aplikasi Microsoft
Jaringan Kerja), Penerbit Rineka Cipta, Project 2000 Untuk Penjadwalan Kerja
Jakarta. Dalam Proyek Teknik Sipil, Dinas-
Barrie, D.S. dan Paulson, Jr. B.C. 1987. tindo, Jakarta.
Manajemen Konstruksi Profesional
Edisi Kedua, Erlangga, Jakarta.
Dipohusodo, I. 1996. Manajemen Proyek
Dan Konstruksi Jilid I, Kanesius,
Jakarta.

125
PENGENDALIAN DAMPAK PERUBAHAN DESAIN
TERHADAP WAKTU DAN BIAYA PEKERJAAN KONSTRUKSI

Ari Sandyavitri
Program Studi S-1 Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Riau
Kampus Bina Widya Km .12,5 Simpang Baru Pekanbaru 28293
Email : ari@unri.ac.id

ABSTRAKSI
Perubahan signifikan pada struktur desain disaat fase konstruksi dapat berakibat fatal pada peningkatan biaya dan
waktu pelaksanaan proyek. Tulisan ini mendemostrasikan pengaruh perubahan desain pada pembangunan gedung
kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Provinsi Riau. Perubahan desain struktur atap memicu dampak komulatif dari
pelaksanan aktifitas pembangunan berupa perubahan dimensi rangka baja atap, struktur plafon, instalsi listrik dan
perkabelan, dan penempatan ventilasi udara. Sebagai konsekuensinya proyek ini mengalami kelambatan sampai 68
hari dan peningkatan biaya sampai 29% dari total biaya (dari Rp. 57 miliar menjadi Rp. 73.3 miliar). Secara teoritis
untuk mengurangi dampak kelambatan dan pembengkakan biaya proyek dapat diusulkan 4 (empat) metode
pengendalian; (i) memanjemen kerja lembur; (ii) kerja bergantian; (iii) tambahan tenaga baru; dan (iv) pemindahan
sebahagian tenaga dari kegiatan lain kerja bergiliran

Kata kunci : desain, perubahan, durasi, produktivitas kerja, biaya

ABSTRACT
A significant shift in design structure during construction phase causes an increase in project costs as well as time
delay. This paper demostrated the impacts of design change during the construction phase of the Riau Provincial
Legislative (DPR) building. The major change of roof design structure triggered cummulative impacts on the programs
e.g. change in the dimension of steels roof, plafond structure, cabling and electricity installation schemes, and air
ventilation schemes. As the consequences of these commulative impacts suffered project delay for 68 days and
increased the total project cost up to 29 % (from Rp. 57 M to 73.3M). Theoretically in order to reduce the impact of the
project delay and cost overruns, 4 alternative methods can be drawn; (i) Manging of working overtime; (ii) Shifting;
(iii) Additional workforces/labours and (iv) Management of Critical Path Methode. It is summarized that, alternative (ii)
Shifting, is an appropriate eoption to yield the least impacts for the project cost and time delay compared to the other
methodes.

Keywords: design, change, duration, productivity, cost

1. PENDAHULUAN
Pembangunan Proyek Peningkatan Fasilitas dan Prasarana Fisik Gedung DPRD Propinsi
Riau diharapkan (meliputi pembangunan fasilitas ruang sidang, ruang kantor yang nyaman, ruang
pers dan olah raga) diharapkan dapat meningkatkan kinerja anggota Dewan Rakyat (DPR Propinsi
Riau).
Proyek Peningkatan Fasilitas dan Prasarana Fisik Gedung DPRD Propinsi Riau yang disebut
juga proyek Gedung DPRD ini direncanakan dapat diselesaikan dalam 14 bulan dengan anggaran
biaya Rp. 57 M dan memiliki 9 (sembilan) uraian pekerjaan utama, yaitu: (i) Pekerjaan persiapan;
(ii) Pekerjaan struktur; (iii) Pekerjaan arsitektur; (iv) Pekerjaan site development; (v) Pekerjaan
bangunan lain/khusus; (vi) Pekerjaan mekanikal; (vii) Elektrikal; (viii) Pekerjaan furniture; dan (ix)
Interior. Rangkaian pekerjaan inti itu dibagi lagi sebanyak 42 (empat puluh dua) uraian pekerjaan.
Pengendalian Dampak Perubahan Desain Terhadap Waktu Dan Biaya Pekerjaan Konstruksi
(Ari Sandyavitri) 57
Pada awal pembangunannya proyek ini diperkirakan selesai sesuai rencana, namun karena ada
perubahan disain atap maka proyek ini mengalami keterlambatan hampir 3 bulan. Hal ini terjadi
karena terjadi perubahan pada pekerjaan atap dan menyelesaikan konstruksi plafond, instalasi AC,
dan instalasi listrik sebagai konsekuensi dari perubahan disain itu.
Perubahan desain yang terjadi pada pekerjaan struktur baja untuk rangka atap, akibat
penambahan perkuatan, alasan ditambahnya perkuatan pada rangka baja karena setelah dihitung
ulang perkuatan, ternyata tidak memenuhi standar syarat keamanan kekuatan rangka baja untuk
menahan beban atap (Gambar 1).

Gambar 1. Gedung DPRD Propinsi Riau

Perubahan bentuk dari rangka baja atap sangat berpengaruh terhadap perubahan bentuk
desain plafond. Desain awal plafond mengikuti bentuk awal rangka baja, namun akhirnya tidak
sesuai lagi dengan rangka baja yang telah mengalami perubahan bentuk yang bertingkat-tingkat.
Dilakukan pendesainan ulang bentuk plafond yang harus menyesuaikan bentuk rangka baja
bertingkat-tingkat. Perubahan bentuk plafond juga mempengaruhi pekerjaan elektrikal, tata letak
lampu dan instalasi AC yang semuanya harus disesuaikan dengan bentuk plafond yang bertingkat-
tingkat untuk menjamin intensitas penerangan yang memadai dan suhu yang dikehendaki. Akibat
perubahan desain tersebut untuk rangkaian pekerjaan yang mengalami perubahan desain terjadi
keterlambatan selama 68 (enam puluh delapan ) hari kerja yang akhirnya mengakibatkan terjadi
perubahan biaya (hasil wawancara dengan pihak Konsultan, Kontraktor dan penhitungan progress
fisik dan time schedule di lapangan).
Biaya dapat diklasifikasi atas biaya langsung dan biaya tak langsung. Biaya langsung adalah
biaya yang langsung digunakan untuk pelaksanaan proyek, yang terdiri atas: biaya bahan, biaya
buruh, biaya peralatan, dan biaya Sub-kontraktor. Biaya langsung umumnya akan meningkat bila
waktu pelaksanaan proyek diperlambat. Biaya tak langsung adalah biaya yang berhubungan dengan
biaya manajemen proyek. Ini meliputi sewa umum perkantoran, gaji pegawai, biaya sarana umum.
Biaya tak langsung tidak tergantung pada kuantitas pekerjaan melainkan bergantung kepada jangka
waktu pelaksanaan proyek.

1.1. Perumusan Masalah


Penelitian ini menekankan permasalahan teknis dilapangan yang berkibat pada kelambatan
pengerjaan proyek di lapangan dan peningkatan biaya pelaksaannya. Penelitian ini menganalisa
faktor penyebab perubahan desain pada pekerjaan struktur baja, pekerjaan listrik, pekerjaan plafon,
dan tata udara serta menganalisa dampak yang ditimbulkan akibat perubahan desain serta

58 Volume 9 No. 1, Oktober 2008 : 57 - 70


pengaruhnya terhadap waktu dan biaya. Kemudian di dalam tulisan ini dibahas juga beberapa
alternatif metode untuk pengurangan impak dari keterlambatan.

1.2. Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mendemostrasikan cara menganalisa faktor penyebab
perubahan desain, identifikasi pengaruhnya terhadap waktu dan biaya, dan menganalisa beberapa
alaternatif metode untuk merespon pengaruh tersebut sekaligus memperkecil resiko yang mungkin
terjadi melalui pendekatan rescheduling pemendekan durasi.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Proyek
Menurut David I. Cleland (1995) Proyek seperti organisasi yang berproses sepanjang
siklusnya yang bergerak menuju penyelesaian yang tepat waktu dan berada dalam alokasi biaya
yang telah ditetapkan. Menurut Sandhyavitri, A (2003) Siklus proyek berisikan rangkaian langkah-
langkah berisi proses konseptual proyek, rancangan, pelaksanaan teknis, evaluasi dan monitoring.
Kunci utama pekerjaan suatu proyek adalah pengaturan proyek baik dari segi waktu (penjadwalan)
maupun dari segi pembiayaan.

2.2. Organisasi proyek


Dalam proses pelaksanaaan suatu proyek melibatkan banyak unsur dengan peranaan
masing-masing. Unsur yang terlibat dalam proyek konstruksi berada pada satu kesatuan koordinasi
yang berperan dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Pada prinsipnya unsur yang terkait dalam
pelaksanaan suatu proyek (internal stakeholders) ada tiga, yaitu:
1) Pemilik atau Pemberi Tugas (owner)
2) Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas
3) Pemborong atau kontraktor. Di dalam proyek besar seperti pembangunan kantor DPR
Propinsi Riau ini, kontraktor mensub-kontraktorkan sebahagian pekerjaan kepada kontraktor
atau orang lain.

2.3. Perencanaan Desain Gambar Proyek


Walaupun setiap pelaksanaan konstruksi bersifat unik tetapi garis besar langkah-langkahnya
tetap membentuk pola yang mirip. Perbedaaannya terletak pada alokasi rentang waktu dan
penekanan untuk setiap tahapannya. Proyek konstruksi membutuhkan perencanaan desain awal dan
detail desain yang tepat yang nanti dipakai untuk menuntun pelaksanaaan proyek. Apabila
mengabaikan rancangan desain awal, detail desain dan perencanaan durasi dan biaya dalam alur
pelaksanaan proyek, maka sangat rentan mengalami risiko kegagalan.
Menurut Iman Soeharto (1999) kegagalan dan keberhasilan suatu proyek konstruksi sangat
bergantung pada keterlibatan pemilik proyek/owner, karena pemilik harus terlibat dalam
perencanaan desain dan pelaksanaan proyek. Dan juga owner harus memiliki komitmen terhadap
keputusan pada kesepakatan awal. Sedangkan Proyek yang sukses berarti proyek yang
dilaksanakan sesuai dengan biaya, jadwal dan keberhasilan mencapai sasaran teknis, proyek yang
berhasil juga berarti sukses menerapkan strategi yang telah dirancang. Sedangkan kegagalan proyek
berarti proyek yang tidak sesuai dengan rencana pembiayaan, jadwal dan tidak mencapai sasaran
yang diinginkan (David I. Cleland, 1995).

Pengendalian Dampak Perubahan Desain Terhadap Waktu Dan Biaya Pekerjaan Konstruksi
(Ari Sandyavitri) 59
2.4. Perencanaan, Koordinasi, dan Pegendalian
Perencanaan memegang peranan penting yang mana perencanaan proyek menjadi satu
penopang bagi pendesainan dan strategi pelaksanaan proyek. Dan selama terus menerus menurut
alurnya, kemampuannya untuk mempengaruhi pengeluaran proyek akan menurun dengan cepat.
Dan alasan lainnya mengapa perencanaan begitu penting karena keputusan yang telah dibuat diawal
tahapan proyek menentukan arah dan tujuan rancangan proyek kedepan (David I. Cleland, 1995).
Koordinasi antara unsur-unsur, Pengelola Proyek, Konsultan Perencana, Konsultan
Manajemen Proyek dan kontraktor terwujud dalam bentuk pertemuan berkala (site meeting) yang
akan membicarakan dan mengatasi segala permasalahan yang timbul selama proses pelaksanaan
untuk mendapatkan hasil yang optimal (Paulus Nugraha,1986).
Secara konvensional pengendalian proyek umumnya menekankan pada pengendalian jadwal
yang dilakukan berdasarkan penyerapan biaya melalui perhitungan kurva S. Metoda yang tepat
diperlukan agar parameter yang dikontrol benar-benar efisien dan dapat menunjukkan dengan tepat
kondisi proyek. (Rizal Z. Tamin, 1994).

2.5. Alat perencanaan dan pengendalian Proyek


Dikenal berberapa alat pengendali proyek, dalam tulisan ini dipaparkan 2 hal:

Kurva S.
Kurva S adalah gambaran yang menjelaskan tentang seluruh jenis pekerjaan, volume pekerjaan
dalam satuan waktu dan ordinatnya adalah jumlah persentase (%) kegiatan pada garis waktu.

Perencanaan Waktu Pelaksanaan.


Untuk merencanakan waktu pelaksanaan, kontraktor dapat menggunakan beberapa diagram
(metode) yaitu:
1) Metode Lintasan Kritis (Critical Path Method)
2) Metode PERT (Program Evaluasi & Review Technique)
Dalam tulisan ini digunakan metoda CPM yang sering disebut Metoda Lintasan Kritis. Metoda
Lintasan Kritis adalah suatu teknik perencanaan waktu pelaksanaan yang didasarkan pada jaringan
kerja grafis yang ada pada suatu proyek yang bersangkutan dan menyatakan urutan-urutan peristiwa
yang terjadi selama pelaksanan.

2.6. Durasi yang dipendekkan (Crash Time) dan Biaya pemendekan


Diadakannya pemendekan durasi, berarti harus menambah sumber daya, termasuk biaya dan
mempercepat pengangkutan bahan ke proyek. Akibat semakin banyak kegiatan yang dipendekan,
maka biaya akan semakin bertambah. Biaya proyek adalah penjumlahan biaya langsung dan
komponen biaya tak langsung. Dengan menyatukan kedua grafik tersebut akan didapat suatu titik
dimana penjumlahan kedua komponen adalah minimum pada durasi proyek tertentu. Durasi ini
disebut Durasi Optimum (dopt), dimana pada durasi ini biaya proyek adalah minimum. Durasi
inilah yang menjadi tujuan perencanaan Biaya dan Waktu proyek. Perencanaan durasi ini
disamakan dengan waktu yang ditentukan dalam kontrak (Imam Soeharto, 1999). Hubungan antara
biaya proyek dan durasi proyek dapat dilihat pada grafik pada gambar 1.

2.7. Strategi mengatasi perpanjangan durasi proyek


Ada beberapa strategi yang bisa ditempuh untuk mengatasi telah terjadinya perpanjangan
durasi pada pelaksanaan proyek, strategi yang bisa dilakukan antara lain adalah:
a) Mengadakan Pemendekan Durasi pada kegiatan-kegiatan di Lintasan Kritis.
b) Mengajukan Permohonana Perpanjangan Waktu.
c) Membiarkan Terlambat dan menerima untuk didenda.

60 Volume 9 No. 1, Oktober 2008 : 57 - 70


Pemilihan strategi mana yang akan dipilih dari sudut pandang biaya, dilaksanakan dengan
melakukan perbandingan hasil perhitungan antara durasi terpendek dan biaya terkecil dari setiap
strategi tersebut.

Y = Biaya (a) = Biaya Langsung


Proyek
(b) = Biaya Tak Langsung
(c) = Biaya Proyek = (a) + (b)

Biaya Min
(a) (c)

(b) X = Durasi
Proyek
0 d opt

Gambar 1. Hubungan biaya proyek dan durasi proyek


(Sumber : Iman Soeharto, 1999)

Dari grafik di atas terlihat bahwa usaha untuk memperpendek atau memperpanjang durasi proyek
dari durasi optimum akan menyebabkan biaya proyek meningkat.

2.8. Pemendekan Durasi Proyek


Pemendekan durasi dilaksanakan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a) Dilaksanakan pada kegiatan-kegiatan dilintasan kritis (A, B, D, F) Gambar L1.
b) Jumlah pemendekan diadakan lebih besar dari keterlambatan yang telah terjadi
c) Usahakan agar tidak terjadi penambahan/pemindahan lintasan kritis apabila diadakan
pemendekan durasi pada salah satu kegiatan.

Ada 4 (empat) alternatif pemendekan durasi, yaitu:


1) Alternatif I : dengan cara lembur
2) Alternatif II : dengan cara Kerja bergantian
3) Alternatif III : dengan cara Tambahan Tenaga baru
4) Alternatif IV : dengan cara Pemindahan sebahagian tenaga dari kegiatan lain. Untuk bisa
membandingkan tambahan biaya akibat pemendekan durasi dari keenam
alternatif diatas, diambil salah satu sebagai patokan (perbandingan),
didalam penulisan ini dipakai metode pemendekan dengan kerja lembur.

Alternatif I. Pemendekan Durasi dengan Kerja lembur


Ada beberapa asumsi yang harus diperhatikan dalam pemendekan durasi dengan kerja lembur,
antara lain :
a. Penurunan produktivitas pekerja pada kerja lembur sebab keletihan fisik akibat bekerja sampai
sore.
b. Upah yang harus dibayar kepada pekerja lebih tinggi dari upah yang biasa dibayarkan. Biasanya
1,5 atau 2 kali upah biasa.

Pengendalian Dampak Perubahan Desain Terhadap Waktu Dan Biaya Pekerjaan Konstruksi
(Ari Sandyavitri) 61
c. Penurunan produktivitas, dapat dilihat dengan tabel 1penurunan produktivitas pada kerja
lembur.

Tabel 1. Penurunan Produktivitas Pekerja

1 2 3 4 5 6 7 8
Productivity Actual
60 Hour Rate Hour loss Hour Cost of
Hour Hour gain
Overtime due to Premina Over time
40 Output for Over 40
Work 60 hour productivity Hours Operations
hour 60 hour hour week
Weeks week Drop (at 2x)
week week

0-1-2 1.00 0.90 54.0 14.0 6.0 20.0 26.0


2-3-4 - 0.86 51.6 11.6 8.4 20.0 28.4
4-5-6 - 0.80 48.0 8.0 12.0 20.0 32.0
6-7-8 - 0.71 42.6 2.6 17.4 20.0 37.4
8-9-10 - 0.66 39.6 -0.4 20.4 20.0 40.4
Sumber: Scheduled Overtime Effect on Construction Project Relationship of Hours Worked, Productivity and Costs
(40 Hours vs 60 Hours)

Penelitian yang menghasilkan table 1 ini dilakukan di Amerika Serikat pada suatu bidang
industri. Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa kalau lembur diadakan berturut-turut dalam jangka waktu
tertentu, akan terjadi penurunan produktivitas. Sebagai contoh jika diadakan lembur berturut-turut
selama 8-10 minggu tersebut, maka akan terjadi penurunan produktivitas. Diasumsikan bahwa tabel
ini bisa digunakan pada industri konstruksi di Indonesia, karena yang ditunjukkan pada tabel adalah
persentase penurunan produktivitas tiap pekerja, bukan besarnya produksi kerja.
d. Kalau diadakan lembur berturut-turut pada jangka waktu tertentu dan kemudian pekerja
beristirahat total selama 24 jam, tenaga pekerja akan pulih kembali seperti semula. Jadi untuk
mendapatkan penurunan produktivitas minimum sesuai table di atas, lembur diadakan berturut-
turut maksimum selama 2 minggu. Pilihan lama lembur dengan pengaturan lebih panjang, akan
menyebabkan lebih besarnya penurunan produktivitas yang berarti bertambah besar pula biaya
tambahan yang harus dikeluarkan kontraktor.
e. Hasil pemendekan durasi dengan metode lembur dipakai, untuk menghitung biaya tambahan
yang harus dikeluarkan oleh kontraktor. Metode lembur mempunyai cara khusus, dimana
pemendekan durasi tidak bisa diatur secara sembarangan. Jadi karena dan pengaturan khusus
untuk kerja lembur ini maka metode lembur dipakai sebagai patokan terhadap alternatif lain.
Maksudnya pemendekan durasi yang didapat dengan kerja lembur untuk tiap kegiatan dipakai
pula untuk alternatif lainnya.
f. Rumus pemendekan durasi dengan metode lembur tiap kegiatan:
U pt
Y = ( D1 .t1 ) Tk f1 ( Dn Dc ) Up (1)
tn

dengan :
Y = tambahan biaya (Rp)
t1 = waktu lembur/minggu (jam)
Tk = jumlah tukang yang kerja lembur (orang)

62 Volume 9 No. 1, Oktober 2008 : 57 - 70


Upt = upah tukang tiap orang/jam (Rp/jam)
tn = lama kerja tiap hari (jam)
Dn = durasi normal (hari)
Dc = durasi yang dipendekan (hari)
up = upah seluruh pekerja/hari tanpa pemendekan durasi (Rp)
f1 = faktor pengali upah lembur

Alternatif II. Pemendekan Durasi dengan Kerja Bergantian


Ada beberapa asumsi yang harus diperhatikan untuk pemendekan durasi dengan kerja bergantian :
a. Tenaga kerja yang kerja bergantian (shift) bukan dari tenaga kerja yang bekerja di proyek
tersebut.
b. Tenaga kerja bergantian mulai bekerja setelah pekerja pagi selesai bekerja sesuai jam kerjanya.
c. Adanya penurunan produktivitas pekerja bergantian sebab fase belajar dan mereka bekerja pada
malam hari, sedangkan produktivitas mereka bila bekerja pagi hari, sama dengan pekerja yang
sedang dipakai.
d. Upah pekerja bergantian lebih tinggi dari pekerja biasa.
e. Pemendekan durasi tiap kegiatan disamakan dengan metode pemendekan durasi lembur.
f. Rumus pemendekan durasi dengan metode kerja bergantian (shift) tiap kegiatan adalah:


f (D Dc )
Y= s n (Dn Dc ) U p (2)
t
fp s
tn

Alternatif III. Pemendekan Durasi dengan Menambah Tenaga Kerja Baru


Untuk pemendekan durasi dengan metode menambah tenaga kerja baru digunakan beberapa
asumsi:
a. Tenaga kerja baru diambil dari luar daerah lokasi proyek.
b. Adanya biaya transportasi, uang makan dan lain-lain.
c. Upah buat tenaga baru lebih tinggi dari pekerja tetap.
d. Produktivitas dan jam kerja sama dengan pekerja tetap.
e. Jumlah yang dipakai pad atiap kegiatan sesuai kebutuhan pada kegiatan tersebut.
f. Jumlah pemendekan durasi tiap kegiatan diambil sama dengan pemendekan durasi dengan
lembur.
g. Rumus pemendekan durasi dengan metode menambah tenaga kerja baru dari luar:

Y = { Tk (fs . upt + bn) + Pb . upb} Dc + (Dn Dc) bt (Dn Dc) up (3)

dengan :
Y = tambahan biaya (Rp)
Tk = jumlah tukang yang kerja (orang)
fs = faktor pengali penambahan pekerja baru
upt = upah tukang tiap orang/jam (Rp/jam)
bn = upah pekerja baru
Pb = pekerja baru
tn = lama kerja tiap hari (jam)
Dn = durasi normal (hari)
Dc = durasi yang dipendekan (hari)

Pengendalian Dampak Perubahan Desain Terhadap Waktu Dan Biaya Pekerjaan Konstruksi
(Ari Sandyavitri) 63
up = upah seluruh pekerja/hari tanpa pemendekan durasi (Rp)

Alternatif IV. Pemindahan Sebagian Pekerja dari Kegiatan lain diluar jalur kritis
Asumsi-asumsi yang dapat digunakan pemendekan durasi dengan pemindahan sebagian tenaga
kerja dari kegiatan lain diluar jalur kritis :
a. Pekerja yang dipindahkan, keahliannya dan produktivitasnya sama dengan pekerja tetap pada
kegiatan-kegiatan yang dipendekan durasinya.
b. Tidak terjadi keterlambatan dari rencana pada kegiatan yang diambil tenaga kerjanya.
c. Karena sebagian tenaga kerjanya diambil, durasi kegiatan akan terjadi lebih panjang.
d. Kalau terjadi suatu keadaan dimana tidak mungkin lagi sebagian tenaga kerjanya dipindahkan,
tenaga tambahan diambil dari luar.
e. Untuk kegiatan yang tidak perlu ada tambahan tenaga kerja dari luar, tidak ada tambahan biaya
akibat pemendekan durasi.
f. Rumus pemendekan durasi dengan metode pemindahan sebagian tenaga kerja dari kegiatan lain
yang tidak kritis:

Y = {Tk (fs . upt + bn) + Pb . upb} Dc + (Dn Dc) bt (Dn Dc)up (4)

3. METODE PENELITIAN
Studi Literatur dilakukan di awal proses penelitian, pendekatan survey lapangan dan teknik
wawancara terbuka dengan pihak yang terlibat dalam perencanaan proyek, pelaksanaan proyek
(kontraktor), dan pemilik proyek (owner) dilakukan. Hal ini dilaksanakan untuk mengindentifikasi
akar masalah dari keterlambatan dan peningkatan biaya proyek. Analisa data dilakukan dengan
deskriptif yang keluarannya berupa faktor-faktor penyebab perubahan desain, lama waktu
pelaksanaan proyek, dan besarnya biaya kelambatan. Perencanaan ulang waktu pelaksanaan proyek
(re-scheduling) mengunakan perhitungan metode Pemendekan Durasi dipakai sebagai alternatif
pengurangan dampak kelambatan pelaksanaan proyek.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada awal pembangunannya proyek gedung DPR ini diperkirakan selesai sesuai rencana 14
bulan, namun setelah struktur kolom dan dinding selesai dan memulai kegiatan pembanguan
struktur atap, kegiatan pembangunan mulai tersendat pengerjaannya, hal ini terjadi karena ada
perubahan disain atap. Untuk pengerjaan atap, plafond dan instalasi listrik memerlukan tambahan
68 hari. Berdasarkan metode pemendekan durasi yang dilaksanakan pada kegiatan-kegiatan
dilintasan kritis. Perhitungan peningkatan biaya akibat pemendekkan durasi dengan berbagai
metode ditampilkan tabel 2 sampai dengan tabel 5.
Tabel 2. Peningkatan Biaya Akibat Lembur (disusun dari Cost slope terkecil)
Tambahan Biaya Pemendekkan
Akumulasi Total
No Pekerjaan Pemendekkan Durasi
Biaya (Rp) (hari)
(Rp) (hari)
1 A 58.142.000 58.142.000 10
2 C 66.885.714 125.027.714 11
3 B 72.714.000 197.741.714 10 53
4 D 80.471.428 278.213.142 11
5 E 96.028.571 374.241.713 11

64 Volume 9 No. 1, Oktober 2008 : 57 - 70


Tabel 3. Peningkatan Biaya Akibat Kerja Shift (disusun dari cost slope terkecil)
Tambahan Biaya Pemendekkan
Akumulasi Total
No Pekerjaan Pemendekkan Durasi
Biaya (Rp) (hari)
(Rp) (hari)
1 A 10.428.000 10.428.000 10
2 C 13.557.142 22.752.675 11
3 B 12.324.675 36.309.817 10 53
4 D 14.600.000 50.909.817 11
5 E 14.600.000 65.509.817 11

Tabel 4. Peningkatan Biaya Akibat Penambahan Tenaga Kerja Baru


(disusun dari cost slope terkecil)
Tambahan Biaya Pemendekkan
Akumulasi Total
No Pekerjaan Pemendekkan Durasi
Biaya (Rp) (hari)
(Rp) (hari)
1 A 25.410.000 25.410.000 10
2 C 26.540.000 51.950.000 10
3 B 33.990.000 85.940.000 11 53
4 D 38.310.000 124.250.000 11
5 E 44.140.000 168.390.000 11

Tabel 5. Peningkatan Biaya Akibat Pemindahan Sebagian Tenaga Kerja


(disusun dari cost slope terkecil)

Tambahan Biaya Pemendekkan


Akumulasi Total
No Pekerjaan Pemendekkan Durasi
Biaya (Rp) (hari)
(Rp) (hari)
1 A 22.340.000 22.340.000 10
2 C 24.960.000 47.300.000 11
3 B 39.600.000 86.900.000 10 53
4 D 55.070.000 141.970.000 11
5 E 64.640.000 206.610.000 11

Hasil yang diperoleh dari perhitungan peningkatan biaya akibat pemendekkan durasi dengan
berbagai metode ditampilkan pada gambar 2.
Dari gambar 2 dapat dilihat terjadinya peningkatan biaya akibat pemendekkan durasi
pelaksanaan pekerjaan dari 68 hari menajdi 53 hari. Metode pemendekkan durasi yang
menyebabkan peningkatan biaya terkecil adalah metode pemendekkan durasi dengan metode
Peningkatan Biaya Akibat Kerja Shift. Dengan jumlah peningkatan biaya sebesar Rp. 65.509.817,-.
Metode Peningkatan Biaya Akibat Kerja bergantian/Shift dengan peningkatan biaya setiap
kegiatannya mempunyai cost slope lebih kecil pada semua kegiatan dari metode lainnya.
Keterlambatan proyek dapat diminimalisir dengan melakukan perencanaan yang matang terhadap
metode dan teknik kerja yang benar, serta kebutuhan peralatan yang sesuai dan baik, sehingga

Pengendalian Dampak Perubahan Desain Terhadap Waktu Dan Biaya Pekerjaan Konstruksi
(Ari Sandyavitri) 65
Network Planning yang dibuat menjadi rasional dan efektif serta kecil kemungkinan terjadinya
penyimpangan dalam pelaksanaan.

METODE PEMENDEKAN DURASI

400,000,000
374,241,713
PENINGKATAN BIAYA

350,000,000
300,000,000
278,213,142
Metode I
(RUPIAH

250,000,000
206,610,000
Metode II
200,000,000 197,741,714
168,390,000 Metode III
150,000,000 141,970,000
125,027,714 124,250,000 Metode IV
100,000,000 86,900,000
85,940,000
58,142,000 65,509,817
50,000,000 51,950,000
47,300,000
36,309,817
50,909,817
25,410,000
22,340,000 22,752,675
10,428,000
0 0

0 10 20 30 40 50 60

DURASI (HARI)

Gambar 2. Grafik Peningkatan Biaya Akibat Pemendekkan Durasi

5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang diperoleh dilakukan beberapa metoda untuk menganalisa
dampak keterlambatan proyek. Berdasarkan hasil analisa, pemendekkan durasi yang dilakukan
selama 53 hari kerja pada 4 (empat) uraian pekerjaan yang mengalami perubahan desain,
peningkatan biaya yang terjadi sebagai berikut :
1) Pemendekkan durasi dengan kerja lembur meningkatkan biaya pelaksanaan sebesar tigaratus
tujuh puluh juta rupiah.
2) Pemendekan durasi dengan kerja bergantian/shift meningkatkan biaya pelaksanaan sebesar
enampuluh juta rupiah.
3) Pemendekkan durasi dengan menambah tenaga kerja baru meningkatkan biaya pelaksanaan
sebesar seratus tujuh puluh juta rupiah.
4) Pemindahan sebagian pekerja dari kegiatan lain diluar jalur kritis meningkatkan biaya
pelaksanaan sebesar dua ratus juta rupiah.
Metode pemendekkan durasi yang menimbulkan tambahan biaya minimum adalah metode
pemendekkan durasi dengan kerja bergantian/shift, bila diadakan penambahan waktu pelaksanaan
akan meningkatkan biaya sebesar enampuluh juta rupiah.
Aplikasi metode pemendekkan durasi ini efektifitasnya tergantung beberapa parameter antara lain;
tenaga kerja, peralatan, waktu kerja, durasi kerja per orang, dan upah sesuai peraturan yang berlaku.

5.2. Saran
Perubahan desain berpengaruh terhadap waktu dan biaya pelaksanaan proyek. Perencanaan
awal yang telah matang dibuat dan dilaksanakan di lapangan dapat menjamin pengurangan resiko
kelambatan pengerjaan. Bila terjadi perubahan disain, perlu diidentifikasi dan dianalisa risiko yang
mungkin terjadi, serta persipan antisipasi dan solusi yang tepat untuk meminimalisir risiko yang
bakal terjadi.

66 Volume 9 No. 1, Oktober 2008 : 57 - 70


UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih penulis ucapkan kepada Siti Aisyah, ST, Mardani Sebayang, MT dan rekan-rekan di
Teknik Sipil Universitas Riau yang telah membantu penulis dalam survey lapangan, dan
pengumpulan data.

DAFTAR PUSTAKA
Dipohusodo, Istimawan,1996, Manajemen Proyek dan Konstruksi, Jilid 1,2 Kanisius, Yogyakarta
Elmaghraby, S. 1977, Activity Network. Wiley, New York, USA.
Saldjana, 1995. Studi Dampak Keterlambatan Proyek Terhadap Biaya, Thesis Program Pasca
Sarjana, ITB.
Soeharto, Imam., 1996, Manajemen Proyek , Jilid 1.2, Erlangga. Jakarta
Sandhyavitri, A.2003. Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan, Modul Perkuliahan Teknik
Sipil, Universitas Riau.
Smith, N.S., 1999, Engineering Project Management, London: E & F Son
Tamin Z Rizal., 1992, Pendekatan Probalistik Untuk Pemendekan jaringan Kerja, Vol 005. PP 33
45 Teknik Sipil ITB.
W Wodhead, Ronald, Halpin, Daniel., 1998, Construction Management. Jhon Wiley, UK.

Pengendalian Dampak Perubahan Desain Terhadap Waktu Dan Biaya Pekerjaan Konstruksi
(Ari Sandyavitri) 67
Lampiran 1.

1. Analisa Perubahan Waktu


Hasil analisa ini dapat dilihat dari perubahan waktu (time schedule) dengan membandingkan
waktu rencana dengan waktu terjadinya akibat perubahan desain. Hasil pengamatan tersebut dapat
dilihat terjadinya keterlambatan waktu selama 68 (enam puluh delapan) hari kerja. Perbandingan
waktu rencana dengan waktu realisasi dapat dilihat pada table di bawah ini:

Tabel L.1 Rencana Kerja dan Realisasi (keterlambatan)


Waktu Waktu
Keterlambatan Jumlah
No Kegiatan Rencana (hari Realisasi (hari
(hari kerja) tukang
Kerja) Kerja)
1 Pekerjaan Struktur Baja 78 114 36 20
2 Pekerjaan Penutup Atap 120 120 - 25
3 Pekerjaan Listrik 132 144 12 20
4 Pekerjaan Plafond 126 164 38 20
5 Pekerjaan Tata Udara 130 156 26 25

2. Analisa Perubahan Biaya


Analisa Perubahan biaya ditinjau pada beberapa item pekerjaan yang mengalami dampak akibat
perubahan desain. Perubahan biaya akibat perubahan desain dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel L.2 Daftar Analisa Perubahan Biaya Yang Ditinjau Pada Beberapa Pekerjaan
No Kegiatan Biaya Rencana (Rp) Biaya Revisi (Rp)
1 Pekerjaan Struktur Baja 728,748,680.50 906,856,834.39
2 Pekerjaan Penutup Atap 315,853,758.21 570,795,930.35
3 Pekerjaan Listrik 1,701,145,305.12 1,701,145,305.12
4 Pekerjaan Plafond 1,325,041,483.00 1,325,041,483.00
5 Pekerjaan Tata Udara 449,172,425.00 449,172,425.00
6 Finish 0 0

Dari analisa diatas dapat dilihat bahwa terjadi perubahan biaya yang signifikan pada 5
kegiatan pekerjaan struktur, misalnya penambahan perkuatan struktur baja menimbulakan
penambahan biaya sebesar Rp. 178,108,153.89. Kondisi ini menggambarkan terjadinya peningkatan
biaya yang cukup besar akibat perubahan desain pada pekerjaan struktur baja.

3. Lintasan Kritis Kegiatan Rencana Awal


Sesuai dengan network planning yang direncanakan untuk Proyek Pembanguna Gedung DPRD
Provinsi Riau, lintasan kritis akan melalui kegiatan-kegiatan dibawah ini:

Tabel L.3. Daftar Kegiatan Rencana


Kode
Lingkaran Kegiatan Nama Kegiatan Durasi (hari)
Kegiatan
1-2 A Pekerjaan Struktur Baja 78
2-3 B Pekerjaan Penutup Atap 120
3-4 C Pekerjaan Listrik 132
4-5 D Pekerjaan Plafond 126
5-6 E Pekerjaan Tata Udara 130
F Finish 0
Dari tabel diatas dapat dibuat jaringan kerja (Network Planning), seperti yang digambarkan
pada gambar L.3 dibawah ini:

68 Volume 9 No. 1, Oktober 2008 : 57 - 70


330
4
C 330
132
D
0 A 78 B 198 324 6 330
1 2 3 198 5 330
0 78 78 120 126 324
E

130
6 328
328
Keterangan:
Jalur Kritis
Jalur Non Kritis

Gambar L.3 Jaringan Kerja (Network Planning)


(Sesuai dengan network planning yang direncanakan)

4. Lintasan Kritis Pada Kelambatan 68 hari


Sesuai dengan network planning yang direncanakan untuk kelambatan 68 hari Proyek
Pembanguna Gedung DPRD Provinsi Riau, lintasan kritis akan melalui kegiatan-kegiatan dibawah
ini:

Tabel L4. Daftar Kegiatan Yang Mengalami Perubahan Desain


Kode
Lingkaran Kegiatan Nama Kegiatan Durasi (hari)
Kegiatan
1-2 A Pekerjaan Struktur Baja 114
2-3 B Pekerjaan Penutup Atap 120
3-4 C Pekerjaan Listrik 144
4-5 D Pekerjaan Plafond 164
5-6 E Pekerjaan Tata Udara 156
F Finish 0

Dari tabel diatas dapat dibuat jaringan kerja (Network Planning), seperti yang digambarkan
pada gambar L.4. dibawah ini
378
4
C 378
144
D
0 A 114 B 234 398 6 398
1 2 3 5 398
0 114 114 120 234 164 398
E

156
6 390
390
Keterangan:
Jalur Kritis
Jalur Non Kritis
Gambar L.4. Jaringan Kerja (Network Planning)

Pengendalian Dampak Perubahan Desain Terhadap Waktu Dan Biaya Pekerjaan Konstruksi
(Ari Sandyavitri) 69
5. Lintasan Kritis Pada Kelambatan 53 hari
Setelah di re-desain kelambatan dikurangi dari 68 hari menjadi 53 hari, maka jaringan kerja dapat
dilihat dalam Tabel L5.

Tabel L5. Daftar Kegiatan Yang Mengalami Perubahan Desain


Kode
Lingkaran Kegiatan Nama Kegiatan Durasi (hari)
Kegiatan
1-2 A Pekerjaan Struktur Baja 100
2-3 B Pekerjaan Penutup Atap 120
3-4 C Pekerjaan Listrik 133
4-5 D Pekerjaan Plafond 153
5-6 E Pekerjaan Tata Udara 145
F Finish 0

Dari tabel diatas dapat dibuat jaringan kerja (Network Planning), seperti yang digambarkan
pada gambar L.5. dibawah ini

333
4
C 333
133
D
0 A 110 B 230 383 6 383
1 2 3 230 5 383
0 100 110 120 153 383
E

145
6 375
375
Keterangan:
Jalur Kritis
Jalur Non Kritis

Gambar L.5. Jaringan Kerja (Network Planning)


. (Sesuai dengan network planning dengan kelambatan 53 hari)

70 Volume 9 No. 1, Oktober 2008 : 57 - 70


Konferensi Nasional Teknik Sipil 4 (KoNTekS 4)
Sanur-Bali, 2-3 Juni 2010

STUDI PRAKTEK ESTIMASI BIAYA TIDAK LANGSUNG


PADA PROYEK KONSTRUKSI

Biemo W. Soemardi1 dan Rani G. Kusumawardani2

1
Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi FTSL - ITB
Email: b_soemardi@si.itb.ac.id
2
Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi FTSL - ITB
Email: rani@si.itb.ac.id

ABSTRAK
Bagi kontraktor akurasi estimasi biaya merupakan hal penting yang akan menentukan berhasil tidaknya
menang dalam penawaran dan mempertahankan eksistensinya dalam bisnis konstruksi. Praktek yang umum
dilakukan oleh kontraktor dalam mengestimasi besarnya biaya tidak langsung adalah dengan menetapkan
proporsi terhadap biaya langsung. Sementara estimasi terhadap biaya langsung konstruksi relatif lebih
mudah dilakukan dan telah banyak dipelajari, hingga saat ini belum ada informasi yang cukup lengkap
mengenai bagaimana kontraktor-kontraktor di Indonesia menetapkan besarnya estimasi biaya tidak langsung
dalam penawaran mereka. Makalah ini membahas hasil kajian terhadap praktek estimasi biaya tidak
langsung oleh kontraktor konstruksi, yang didasarkan atas hasil survei terhadap sejumlah responden yang
mewakili kontraktor-kontraktor besar, menengah dan kecil di Bandung dan Jakarta. Studi ini dilakukan
untuk memperoleh gambaran awal yang lebih mendalam mengenai karakteristik dan potensi pengembangan
estimasi biaya tidak langsung yang dilakukan oleh kontraktor di Indonesia. Dengan mengetahui latar
belakang dan mekanisme praktek estimasi biaya biaya tidak langsung yang saat ini diterapkan oleh para
kontraktor diharapkan dapat dirumuskan suatu pendekatan estimasi biaya tidak langsung yang lebih akurat.
Dari hasil survei tersebut diperoleh informasi mengenai sejauh mana pemahaman kontraktor terhadap
fungsi, peran dan pentingnya estimasi biaya tidak langsung pada harga penawaran yang diajukan oleh
masing-masing kategori kontraktor. Selain hasil survei tersebut, melalui analisis terhadap dokumen harga
penawaran yang diajukan oleh kontraktor, studi ini juga telah berhasil merumuskan model hubungan biaya
tidak langsung terhadap total biaya konstruksi untuk bangunan gedung bertingkat.

Kata kunci: estimasi biaya, biaya tidak langsung, model hubungan estimasi biaya

1. PENDAHULUAN
Biaya merupakan salah satu aspek penting, kalau tidak dapat dikatakan yang terpenting, dalam siklus kegiatan usaha
dan industri konstruksi. Kontraktor yang tidak mempunyai pemahaman tentang komponen biaya, termasuk biaya
tidak langsung akan meningkatkan risiko dan ekposure mereka terhadap kegagalan yang tidak perlu. (Shelton, 2002).
Sebagai suatu bidang usaha yang dikategorikan beresiko tinggi, keberhasilan kegiatan-kegiatan konstruksi tentunya
sangat peka terhadap perubahan biaya, dan hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh para pelaku di
bidang usaha tersebut. Dalam kondisi tersebut, maka kemampuan dan keberhasilan para kontraktor untuk bertahan
dalam industri yang ketat persaingannya ini akan sangat tergantung pada sebaik apa mereka mampu mengatasi
ketidakpastian, khususnya dalam aspek biaya. Keberhasilan kontraktor dalam persaingan ini tercermin dari
kemampuannya memenangkan pelelangan dan menyelesaikan proyek-proyek konstruksi dengan tetap menghasilkan
profit yang cukup.
Secara umum keberhasilan kontraktor-kontraktor dalam menangani ketidakpastian biaya terletak pada sebaik apa
mereka mampu menghasilkan estimasi biaya yang akurat. Sebagai pedoman, semakin akurat perkiraan biaya yang
dihasilkan semakin berkurang risiko akibat perubahan biaya yang akan dihadapi. Dengan berkurangnya risiko
tersebut, maka kontraktor dapat mengurangi biaya risiko, yang pada akhirnya dapat menghasilkan penawaran harga
yang lebih kompetitif. Dalam melakukan penawaran dalam pelelangan, kontraktor memasukan harga penawaran
yang terdiri dari komponen biaya langsung dan tidak langsung. AACE International (2004) memodelkan biaya
sebagai susunan dari biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost). Biaya langsung adalah
elemen biaya yang memiliki kaitan langsung dengan volume pekerjaan yang tertera dalam item pembayaran atau
menjadi komponen permanen hasil akhir proyek. Komponen biaya langsung terdiri dari biaya upah pekerja, operasi
peralatan, material. Termasuk kategori biaya langsung adalah semua biaya yang berada dalam kendali sub-
kontraktor. Biaya tidak langsung merupakan elemen biaya yang tidak terkait langsung dengan besaran volume
komponen fisik hasil akhir proyek, tetapi mempunyai kontribusi terhadap penyelesaian kegiatan atau proyek. Elemen
biaya ini umumnya tidak tertera dalam daftar item pembayaran dalam kontrak atau tidak dirinci. Yang termasuk

Universitas Udayana Universitas Pelita Harapan Jakarta Universitas Atma Jaya Yogyakarta M - 295
Biemo W. Soemardi dan Rani G. Kusumawardani

dalam kategori biaya tidak langsung antara lain adalah: biaya overhead, pajak (taxes), biaya umum (general
conditions), dan biaya risiko. Biaya risiko adalah elemen biaya yang mengandung dan/atau dipengaruhi
ketidakpastian yang cukup tinggi, seperti biaya tak terduga (contingencies) dan keuntungan (profit).
Komponen biaya tak langsung proyek konstruksi dalam proses penawaran biasanya dimasukkan oleh kontraktor
dalam setiap jenis pekerjaan. Kontraktor nasional di Indonesia pada umumya tidak melakukan identifikasi biaya
tidak langsung secara detail sebelumnya. Kontraktor juga diyakini tidak memiliki mekanisme yang akurat dalam
menentukan besarnya masing-masing variabel biaya tidak langsung. Penentuan alokasi biaya tidak tidak langsung
yang biasa dilakukan adalah melalui presentase yang besarnya berbeda-beda, tergantung pengalaman kontraktor.
Penetapan besarnya persentase ini juga dipengaruhi oleh persepsi risiko oleh kontraktor terhadap tiap jenis poyek,
karena tiap proyek memiliki karakteristik tertentu dan ketidakpastian yang berbeda. Dalam menyikapi hal ini
kontraktor-kontraktor di Indonesia cenderung tidak terlalu memperhatikan komponen biaya tidak langsung secara
komprehensif dalam mengestimasi biaya konstruksi. Sebagai perbandingan, studi yang dilakukan oleh Tah et al
(1994) menyimpulkan hal yang serupa, di mana dari tujuh perusahaan konstruksi yang disurvei kesemuanya
menggantungkan pada kemampuan estimasi subyektif berdasarkan pengalaan yang lalu.
Suatu survey pendahuluan yang melibatkan beberapa responden kontraktor di kota Bandung menunjukan bahwa
meskipun mereka mengakui besarnya peran biaya tidak langsung dalam keberhasilan pelelangan, hampir seluruh
responden menyatakan mereka tidak mempunyai mekanisme atau kiat-kiat khusus dalam melakukan estimasi biaya
tidak langsung tersebut. Pada umumnya besarnya biaya tidak langsung ditetapkan sebagai proporsi (persentase) dari
biaya langsung keseluruhan. Informasi mengenai bagaimana proporsi tersebut ditetapkan dan faktor apa saja yang
dipertimbangkan tidak dapat dijelaskan.
Berbagai kajian di atas perlu ditindaklanjuti dengan penelitian yang lebih mendalam dan lengkap untuk memperoleh
gambaran yang lebih lengkap dan akurat tentang praktek estimasi biaya tidak langsung yang dilakukan oleh praktisi
di industri konstruksi di Indonesia. Melalui gambaran tersebut dapat mencerminkan karakteristik pola estimasi biaya
tidak langsung dari para pelaku konstruksi di Indonesia. Rumusan ini selanjutnya dapat digunakan untuk
merumuskan strategi meningkatkan akurasi estimasi biaya nasional, yang pada gilirannya akan meningkatkan
kemampuan kompetisi kontraktor nasional.

2. METODOLOGI STUDI
Studi ini dilakukan melalui pendekatan empiris di mana data studi dikumpulkan melalui dua mekanisme (Pradoto,
2009). Mekanisme pertama berupa survei untuk memperoleh data dan informasi yang berkaitan dengan pemahaman
dan persepsi dari kontraktor mengenai komponen biaya tidak langsung. Tujuan dari mekanisme ini adalah untuk
memperoleh gambaran tentang ada tidaknya mekanisme atau pola tertentu yang dilakukan oleh kontraktor dalam
melakukan estimasi biaya tidak langsung sebagai bagian dari perhitungan biaya konstruksi. Mekanisme kedua
dilakukan melalui pengolahan analisis regresi harga penawaran kontraktor guna merumuskan model hubungan
proporsi antara besarnya biaya tidak langsung terhadap nilai kontrak (indirect cost estimate relationship model).
Melalui kedua mekanisme tersebut, diharapkan diperoleh informasi yang cukup komprehensif mengenai ada
tidaknya kaitan antara pendapat responden dengan perilaku estimasi yang dilakukan dalam mengajukan penawaran.

Rancangan Kuesioner
Instrumen survei disusun dalam bentuk kuisioner yang terdiri dari 4 Bagian, yaitu profil perusahaan dan responden,
pemahaman kontraktor tentang biaya tidak langsung, mekanisme penetapan biaya tidak langsung, dan komponen
biaya tidak langsung yang berpengaruh pada penawaran dan mekanisme penetapannya. Survei dilakukan dalam
bentuk semi-intervew dimana responden diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan secara tertulis dan kemudian
ditindaklanjuti dengan diskusi/wawancara untuk menggali lebih dalam informasi dari responden.

Profil Responden
Responden pada studi ini berasal dari perusahaan-perusahaan kontraktor yang memiliki klasifikasi gedung dan
kualifikasi berdasarkan Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nomor 11a tahun 2008. Responden
yang diikutsertakan dalam survei ini pada umumnya telah memiliki pendidikan dan pengalaman yang cukup di
bidang konstruksi. Pemilihan kontraktor klasifikasi gedung didasarkan populasi dominan proyek-proyek konstruksi.
Total responden yang terlibat dalam studi ini sebanyak 55 perusahaan yang terdiri dari 6 kontraktor kecil, 14
kontraktor menengah dan 35 kontraktor besar, baik kontraktor BUMN maupun swasta.

M - 296 Universitas Udayana Universitas Pelita Harapan Jakarta Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Studi Praktek Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Konstruksi

3. HASIL SURVEI
Survei yang dilakukan terhadap responden diproyek konstruksi di wilayah kota Bandung Jakarta dikelompokan
dalam dua kelompok besar, kelompok kontraktor kecil dan menengah dan kelompok kontraktor besar. Pembagian
kelompok ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pola dan mekanisme estimasi biaya tidak
langsung di antara kedua kelompok tersebut.

Pemahaman Kontraktor Terhadap Biaya Tidak Langsung


Kontraktor kecil, menengah dan besar umumnya sudah memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep biaya tidak
langsung. Sebagian besar kontraktor mendapatkan informasi mengenai biaya tidak langsung karena merupakan
bagian dari pekerjaan mereka. Hal ini berarti bahwa selain kontraktor besar, kontraktor kecil dan menengah juga
sudah dapat mengidentifikasi komponen biaya apa saja yang termasuk ke dalam biaya tidak langsung. Identifikasi
komponen biaya tidak langsung proyek konstruksi pada kontraktor kecil tidak sedemikian rinci seperti yang
dilakukan oleh kontraktor menengah dan besar. Hal ini karena pengetahuan kontraktor besar mengenai biaya tidak
langsung sudah lebih baik dilihat dari kemampuan personil divisi estimasi dalam melakukan tugas dan tanggung
jawabnya untuk mengestimasi biaya dengan menjadikan pengalaman sebagai parameter dalam ketajaman atau
akurasi estimasi biaya tidak langsung.

Penting/Tidaknya Estimasi Biaya Tidak Langsung


Estimasi biaya merupakan hal yang penting dalam dunia industri konstruksi. Ketidakakuratan dalam estimasi dapat
memberikan dampak negatif pada seluruh proses konstruksi dan pihak yang terlibat. Estimasi biaya konstruksi
dikerjakan sebelum pelaksanaan fisik dilakukan dan memerlukan analisis detail dan kompilasi dokumen penawaran
dan lainnya. Jadi estimasi biaya merupakan suatu perkiraan yang paling mendekat pada biaya sesungguhnya.
Sedangkan nilai sebenarnya dari suatu proyek tidak akan diketahui sampai suatu proyek terselesaikan secara lengkap.
Estimasi biaya pekerjaan konstruksi biasanya memberikan indikasi tertentu terhadap biaya total proyek.
Sebagian besar kontraktor kecil dan menengah menganggap bahwa melakukan estimasi biaya tidak langsung
berpengaruh terhadap besar kecilnya keuntungan yang akan didapat sehingga mereka menganggap penting estimasi
biaya tidak langsung. Berbeda halnya dengan kontraktor besar dimana mempunyai kesadaran pentingnya melakukan
estimasi biaya tidak langsung dengan tujuan untuk mengantisipasi biaya risiko dan diharapkan nilai yang ditetapkan
dapat bersaing sehingga dapat memenangkan proyek dan mendapat keuntungan. Jadi kontraktor besar cenderung
lebih fokus dahulu dalam hal mengantisipasi biaya risiko.

Mekanisme Penetapan Biaya Tidak Langsung


Hasil survei menunjukan bahwa sebagian besar kontraktor menetapkan biaya tidak langsung dengan nilai tertentu
dimana pada kontraktor kecil nilai tersebut ditetapkan berdasarkan pertimbangan besarnya nilai proyek sedangkan
pada kontraktor menengah dan besar menetapkannya berdasarkan pertimbangan terhadap risiko proyek, besarnya
nilai proyek dan karakteristik proyek. Dapat dikatakan bahwa pertimbangan masing-masing kontraktor tersebut
secara umum sama yaitu sesuai dengan tingkat risiko proyek.
Besarnya nilai tertentu biaya tidak langsung pada kontraktor besar memiliki standar tersendiri diperusahaanya, yang
ditetapkan berdasarkan beberapa hal, antara lain berdasarkan pengalaman proyek sebelumnya dan perkiraan yang
dilakukan oleh kontraktor. Kontraktor besar menghitung komponen biaya tidak langsung dengan nilai tertentu,
dimana menghitung satu persatu komponen biaya tidak langsung sesuai dengan risiko proyek, nilai proyek dan
karakteristik proyek yang pada akhirnya nilai tersebut dijadikan persentase terhadap biaya langsung sehingga setelah
beberapa proyek di estimasi kontraktor dapat menemukan suatu nilai yang menjadi gambaran kasar berupa
persentase biaya tidak langsung. Pada kontraktor menengah nilai tertentu diambil selain berdasarkan pengalaman
proyek sebelumnya juga berdasarkan standar tersendiri diperusahaannya seperti halnya kontraktor besar, namun tidak
selengkap kontraktor besar terutama dalam hal inventarisasi data proyek terutama proyek-proyek yang khusus, dan
pada akhirnya nilai tersebut dijadikan persentase terhadap nilai biaya langsung. Pada kontraktor kecil sebagian besar
menetapkan nilai tertentu hanya berdasarkan pengalaman proyek sebelumnya karena data historis proyek tidak
terinventarisir dengan baik oleh perusahaan dan pada akhirnya nilai tersebut diambil berupa persentase secara umum
terhadap biaya langsung untuk mempermudah penetapannya. Tidak teridentifikasi secara detail komponen-
komponen biaya tidak langsung apa saja yang diperhitungkan, jadi hanya sebagai persentase perkiraan kasar yang
sukses pada proyek yang pernah dikerjakan sebelumnya.
Kontraktor menganggap bahwa mekanisme yang mereka lakukan sudah efektif karena adanya kesesuaian dengan
risiko yang ditangani. Berdasarkan hasil wawancara, kontraktor menengah dan besar melakukan evaluasi terhadap
biaya tidak langsung pada akhir proyek sehingga estimasi proyek berikutnya menjadi lebih baik. Sebagian besar

Universitas Udayana Universitas Pelita Harapan Jakarta Universitas Atma Jaya Yogyakarta M - 297
Biemo W. Soemardi dan Rani G. Kusumawardani

kontraktor membedakan mekanisme penetapan biaya tidak langsung. Faktor-faktor yang mempengaruhi
perbedaannya sebagian besar tergantung pada karakteristik proyek. Berdasarkan hasil wawancara, secara umum
karakteristik proyek selain berupa bangunan gedung atau selain gedung juga berdasarkan luas proyek, lokasi proyek,
jadwal (schedule), pihak-pihak yang terlibat dan kompleksitas proyek.

Pengendalian Biaya Tidak Langsung


Sebagian besar kontraktor sudah melakukan pengendalian terhadap biaya tidak langsung dalam bentuk laporan
keuangan. Hal ini menunjukan bahwa selain kontraktor besar, kontraktor menengah dan kecil pun sudah memahami
pentingnya pencatatan pengendalian biaya tidka langsung. Hal ini dilakukan dengan membuat rekapitulasi
pengeluaran dan pemasukan biaya proyek dalam bentuk yang lebih rinci, yaitu berupa laporan keuangan proyek
sebagai bagian dari upaya pemantauan dan pengendalian terhadap biaya. Keterbatasan jumlah personil merupakan
faktor utama mengapa kontraktor kecil tidak melakukan pengendalian terhadap biaya tidak langsung sedangkan
untuk kontraktor menengah karena faktor keterbatasan waktu. Berdasarkan hasil wawancara, sebagian besar
kontraktor menengah melakukan pengendalian biaya tidak langsungnya di kantor pusat, dimana besarnya biaya untuk
suatu pekerjaan diberikan pada personil di lapangan. Sebaliknya upaya yang dilakukan oleh kontraktor besar untuk
mengendalikan biaya tidak langsung sudah lebih sistematis. Personil, baik di lapangan maupun di kantor pusat
melakukan evaluasi secara berkala terhadap laporan keuangan proyek sehingga mengurangi terjadinya
penyimpangan yang signifikan.
Kondisi umum lain yang turut berpengaruh pada besarnya biaya tidak langsung adalah eskalasi, suatu hal yang biasa
terjadi pada proyek-proyek multiyear. Fluktuasi harga material mempunyai pengaruh yang terhadap proyek-proyek
yang memiliki volume pekerjaan yang cukup besar. Lebih jauh lagi, apabila bahan atau material proyek pada proyek
tersebut harus diimpor dari luar negeri, fluktuasi harga material akan sangat berpengaruh sebagai akibat iakibatkan
inflasi dan nilai tukar rupiah.

Pengaruh Komponen Biaya Tidak Langsung Terhadap Penawaran Harga


Dari hasil kuisioner diketahui bahwa besarnya komponen biaya tidak langsung yang dianggap signifikan
pengaruhnya pada harga penawaran adalah komponen biaya tak terduga (contingency), keuntungan, overhead dan
pajak-pajak. Selain itu bagi kontraktor besar komponen biaya asuransi dan jaminan (bond) juga dianggap besar
perannya terhadap penetapan harga penawaran.
Mekanisme penetapan besarnya masing-masing komponen tersebut juga ternyata tidak sama. Keuntungan, biaya
tidak terduga (contingency), pajak, jaminan dan asuransi ditetapkan berdasarkan suatu proporsi (persentase) nilai
tertentu terhadap nilai proyek, sementara besarnya biaya overhead ditetapkan dengan nilai nominal tertentu yang
dihitung dari setiap komponen-komponen biaya overhead. Lebih lanjut, dari hasil survey juga diketahui bahwa
seiring dengan pengalaman yang diperoleh, dalam mengestimasikan biaya overhead ini, kontraktor pada akhirnya
akan menggunakan pendekatan prosentase biaya proyek.

4. PEMODELAN ESTIMASI BIAYA TIDAK LANGSUNG


Pemodelan estimasi biaya tidak langsung dilakukan berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari Rencana
Anggaran Biaya (RAB) kontraktor. Sementara kontraktor kecil dan menengah memberikan akses yang cukup
terhadap data yang dibutuhkan, dengan alasan rahasia kontraktor besar tidak bersedia memberikan data RAB secara
rinci. Untuk mengatasi hal tersebut model yang akan dibangun didasarkan pada data yang terbatas berupa nilai
proyek dan total biaya tidak langsung, serta informasi lain yang berkaitan dengan karakteristik proyek bangunan
seperti tahun pembangunan, lokasi, ukurna proyek dan sebagainya. Dari 33 data RAB yang relatif lengkap yang
dapat dikumpulkan dari kontraktor kecil dan menengah dapat disimpulkaan hal-hal sebagai berikut:
Komponen biaya untuk profit dan overhead disatukan dalam besarnya persentase terhadap biaya langsung yang
disisipkan pada analisis harga satuan pekerjaan pada masing-masing item pekerjaan. Besarnya profit dan
overhead tersebut sebagian besar ditetapkan 10%.
Identifikasi komponen biaya tidak langsung pada RAB kontraktor kecil menunjukan bahwa sebagian besar
(86%) dialokasikan sebagai keuntungan maksimum 10%, listrik kerja atau genset, air kerja, pembersihan lokasi
yang akan dikerjakan, mobilisasi/demobilisasi, dan direksi keet/gudang/los kerja.
berdasarkan identifikasi komponen biaya tidak langsung pada 33 data RAB kontraktor menengah menggunakan
pareto chart didapat bahwa 90 % berupa direksi keet, gudang/los kerja, PPN, biaya administrasi dan perijinan,
keuntungan maksimum 10 %, air keja, mobilisasi/demobilisasi, listrik kerja/genset, asuransi tenaga kerja,

M - 298 Universitas Udayana Universitas Pelita Harapan Jakarta Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Studi Praktek Estimasi Biaya Tidak Langsung Pada Proyek Konstruksi

peralatan dan perlengkapan K3, pembersihan lokasi yang akan dikerjakan, keuntungan maksimum 5 %, pagar
pengaman proyek, keamanan, dan akses jalan sementara.
Dari gambaran karakteristik pola estimasi komponen biaya tidak langsung kontraktor di atas dapat dijadikan rumusan
untuk memperoleh suatu model. Pada awalnya data yang akan dijadikan pemodelan adalah data biaya aktual, namun
karena hampir semua kontraktor yang di survei tidak bersedia memberikan data aktual maka yang digunakan untuk
membuat model adalah data biaya pada Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Kemudian dari 45 data RAB kontraktor kecil dan menengah ada 5 diantaranya yang tidak dapat diolah karena
terdapat data yang kurang lengkap. Untuk data RAB terbagi menjadi 2 kelompok yaitu 33 data proyek bangunan
gedung dan 7 data proyek pembangunan rumah karena pada kontraktor kecil proyek yang dikerjakan tidak terlalu
besar seperti rumah atau hanya sub pekerjaan dari pembangunan gedung dengan kata lain proyek yang dikerjakan
tidak sebesar kontraktor menengah dan besar. Batas nilai satu pekerjaan untuk kontraktor kecil, menengah dan besar
diambil berdasarkan Peraturan LPJK Nomor 11a tahun 2008. Karena model yang ingin dibuat adalah proyek
bangunan gedung, maka untuk kontraktor kecil dan menengah hanya 33 data rencana anggaran biaya proyek
bangunan gedung yang akan diolah lebih lanjut sedangkan pada kontraktor besar sebanyak 22 data proyek bangunan
gedung.
Model yang dihasilkan memiliki kecenderungan bentuk semakin besar nilai proyek maka semakin kecil nilai
persentase biaya tidak langsung. bentuk kecenderungan seperti ini dikarenakan untuk mengakomodir penggunaan
sumber daya (resource) yang sedikit akan mengakibatkan biaya tidak langsung yang cukup besar dibandingkan
penggunaan resource yang banyak. Misalnya untuk membeli material dalam jumlah yang banyak harganya jauh
lebih murah dibandingkan membeli dalam jumlah sedikit.

Gambar 1. Model hubungan biaya tidak langsung pada kontraktor kecil dan menengah
Pada kontraktor menengah dan kecil, besarnya proporsi biaya tidak langsung terhadap nilai proyek relatif tetap pada
kisaran 12% hingga 10% pada nilai kontrak hingga Rp 1 milyar dan mulai secara signifikan berkurang hingga 2%
untuk nilai kontrak sebesar Rp 10 milyar.

Gambar 2. Model hubungan biaya tidak langsung pada kontraktor besar

Universitas Udayana Universitas Pelita Harapan Jakarta Universitas Atma Jaya Yogyakarta M - 299
Biemo W. Soemardi dan Rani G. Kusumawardani

Pada kontraktor besar besarnya proporsi biaya tidak langsung relatif lebih rendah dibanding kontraktor menengah
dan kecil. Hal ini tampaknya berkaitan dengan kemampuan yang lebih baik dari para kontraktor besar dalam
mengantisipasi biaya-biaya yang berkaitan dengan risiko proyek. Besarnya proporsi sebesar 8% hingga 8% ini
tampaknya ada kaitannya dengan jenis proyek gedung yang dibiayai sektor swasta. Sementara untuk kontraktor
menengah dan kecil yang lebih banyak mengandalkan proyek-proyek pembangunan milik pemerintah, rasionya
berada dikisaran 10%, kemungkinan dipengaruhi pola format penawaran proyek pemerintah yang mengal yang
mengalokasikan tambahan sekitar 10% terhadap biaya langsung.

4. KESIMPULAN
Berdasarkan survey terbatas ini secara umum dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan karakteristik antara kontraktor
kecil, menengah dan besar dalam menyikapi biaya tak langsung pada proyek konstruksi. Meskipun mengakui
pentingnya pemahaman terhadap biaya tak langsung, pemahaman kontraktor kecil tentang biaya tidak langsung
belum serinci dan sekomprehensif yang dipahami oleh kontraktor menengah dan besar. Penetapan biaya tidak
langsung pada kontraktor besar didasarkan pada nilai standard tersendiri di masing-masing perusahaan yang pada
ditetapkan berdasarkan 2 (dua) hal, yakni berdasarkan pengalaman proyek sebelumnya dan perkiraan risiko yang
oleh kontraktor. Sebenarnya kontraktor besar sudah berupaya mengidentifikasi secara terpisah elemen-elemen biaya
tidak langsung pada proyek-proyek sebelumnya, namun pada akhirnya dengan alasan praktis data ini diakumulasikan
secara sederhana menjadi presentase biaya langsung.
Pada kontraktor menengah besarnya nilai tertentu diambil selain berdasarkan pengalaman proyek sebelumnya juga
berdasarkan standar tersendiri diperusahaannya seperti halnya kontraktor besar. Namun berbeda dengan apa yang
dilakukan oleh kontraktor besar, kontraktor menengah menetapkannya terutama berdasarkan kelengkapan
inventarisasi data proyek sebelumnya, terutama proyek-proyek yang khusus dan tingkat pengalaman serta
sumberdaya manusia berupa tenaga ahli yang terbatas di perusahaan. Sama halnya dengan kontraktor besar pada
akhirnya nilai tersebut dijadikan persentase terhadap biaya langsung.
Pada kontraktor kecil sebagian besar menetapkan nilai tertentu hanya berdasarkan pengalaman proyek sebelumnya
karena data historis proyek tidak terinventarisir dengan baik oleh perusahaan dan pada akhirnya nilai tersebut diambil
berupa persentase secara umum terhadap biaya langsung untuk mempermudah penetapannya. Tidak teridentifikasi
secara detail komponen-komponen biaya tidak langsung apa saja yang diperhitungkan, jadi hanya sebagai persentase
perkiraan kasar yang sukses pada proyek yang pernah dikerjakan sebelumnya.
Upaya menggambarkan hubungan antara biaya tidak langsung terhadap nilai proyek menunjukan adanya
kecenderungan yang sama antara apa yang dilakukan oleh kontraktor besar, menengah atau pun kecil. Semakin besar
nilai kontrak semakin kecil besarnya proporsi atau presentasi biaya tidak langsungnya. Hal ini membuktikan bahwa
ada perilaku optimisme pada kontraktor-kontraktor tersebut terhadap besarnya biaya tidak langsung. Perbedaan yang
ada hanya pada besarnya presentase dan jangkauan nilai kontrak. Dalam konteks ini dapat disimpulkan bahwa
sebenarnya ada basis besaran nominal biaya tidak langsung yang ada pada setiap nilai kontrak dan tambahan biaya
lain yang besarnya menurun seiring dengan penambahan nilai kontrak.
Apa yang terungkap di atas measih merupakan cerminan terbatas pada proyek-proyek gedung, yang mayoritas
merupakan proyek-proyek swasta. Gambaran lebih lengkap akan diperoleh bila studi mencakup proyek-proyek non-
gedung dan dengan anggaran dana masyarakat atau pemerintah, yang pola estimasinya juga terikat pada ketentuan
perundangan yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
AACE International (2004). Skills & Knowledge of Cost Engineering, 5th edition, AACE International, Morgantown,
West Virginia, USA.
Pradoto, R.G.K. (2009), Studi Estimasi Komponen Biaya Tidak Langsung Proyek Konstruksi, Laporan Akhir
Penelitian Hibah Bersaing XIII, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas.
Shelton, F. (2002), Indirect Costs of Contracts, Journal of Construction Accounting and Taxation, 4, 3-9.
Tah, J., Thorpe, A., McCaffer (1994), A survey of indirect cost estimating in practice, Journal of Construction
Management and Economics, 12, 31-36.

M - 300 Universitas Udayana Universitas Pelita Harapan Jakarta Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Productivity Scheduling Method: Linear Schedule Analysis with Singularity Functions

By Gunnar Lucko1, A.M.ASCE


1
Assistant Professor, Department of Civil Engineering, The Catholic University of America,
Washington, DC 20064, lucko@cua.edu.

Abstract
This paper describes a new integrated method of linear schedule analysis using singularity
functions. These functions have previously been used for structural analysis and are newly
applied to scheduling. Linear schedules combine information on time and amount of work for
each activity. A general model is presented with which activities and their buffers can be
mathematically described in detail. The algorithm of the new method forms the body of the
paper, including the steps of setting up initial equations, calculating pairwise differences between
them, differentiating these to obtain the location of any minima, and deriving the final equations.
The algorithm consolidates the linear schedule under consideration of all constraints and thus
automatically generates the minimum overall project duration. The model distinguishes time and
amount buffers, which bears implications for the definition and derivation of the critical path.
Future research work will address float and resource analysis using the new model.

CE Database Subject Headings: Scheduling, critical path method, definitions, symbols,


network analysis, geometry, linear analysis, time dependence, location

Introduction
Linear scheduling is a project management technique that creates a schedule in a coordinate
system with a time axis and an axis that displays the amount of work that has been produced.
Values on both axes are cumulative. The progression of several activities yields a collection of
inclined lines in the graphical representation of the linear scheduling method (LSM). Their ratio
of work per time is proportional to their productivity. Related concepts are known under various
names, including vertical production method (OBrien 1975), velocity diagram (Dressler 1980),
time space scheduling method (Stradal and Cacha 1982), line-of-balance (Arditi and Albulak
1986), linear scheduling method (Chrzanowski and Johnston 1986), flow lines (Russell and
Wong 1993), linear scheduling model (Harmelink and Rowings 1998), repetitive scheduling
method (Harris and Ioannou 1998), and several others. While each of these approaches differ
somewhat in their focus, terminology, and analysis steps, they have in common particularly the
two-dimensional nature of the schedule that integrates time and amount, the ability to enforce the
continuity of activities to optimize resource use, if desired, and the ability to identify conflicts
between activities, e.g. physical interferences, wherever lines touch or cross in the diagram.
Three types of projects where linear scheduling is applied are identified in the literature, which
include geometrically linear projects, either horizontal such as e.g. highways, tunnels, and
pipelines (Arditi et al. 2002), or vertical such as e.g. high-rises and towers (Thabet and Beliveau
1994), and projects with repetitive operations (Hegazy 2001). The latter and the first two may
overlap. Well-balanced operations have parallel lines (Stradal and Cacha 1982); effects of
learning (Arditi et al. 2001) or tiring would be visible as concave or convex curved lines. The
amount axis is sometimes called location axis if it represents a spatial dimension and not just a
count. It may be drawn vertically to mimic the height of the facility that is under construction.

1
Need for Algorithm
A detailed review and critiqued of approaches to linear scheduling has been provided by Mattila
and Abraham (1998). Various different analytical methods were employed, including vector
notation (Russell and Caselton 1988), linear programming (Reda 1990), and dynamic
programming (Moselhi and Hassanein 2003). Predominantly graphical methods were presented
by Harmelink and Rowings (1998) under research for the Iowa Department of Transportation
and by Harris and Ioannou (1998). While they yielded similar results, it was concluded that the
techniques must be computerized in order to become useful and gain acceptance by the industry
(Mattila and Park 2003, p63). However, computerization alone in form of a software application
may not be sufficient to elevate linear scheduling from being eclipsed by the critical path method
(CPM), which is ubiquitous in construction scheduling (Galloway 2006). For an updated
approach on linear scheduling to be successful, certain desirable attributes need to be fulfilled,
including that the model be mathematically based, which ideally should be independent of the
particular graphical representation, that it provide at least the analytical capabilities of CPM, and
that it use terminology that is familiar from CPM (Russell and Wong 1993, p198f). Mattila and
Abraham (1998, p301) underlined that a need exists to expand the features of LSM to include
some of the features of CPM. However, in light of the popularity of the straightforward CPM
algorithm that adds durations along paths of precedence and selects the maximum value at each
merge, a new linear scheduling algorithm should not require advanced mathematics knowledge.
This paper therefore adds to the body of knowledge by introducing a mathematical model of
linear schedules based on singularity functions and describes its analytical algorithm that needs
only algebra and basic calculus. The method is flexible and expansible, yet precise and inclusive.

Definition of Singularity Functions


The mathematical operator of singularity functions is known in German as the Fppl or Klammer
(translated: bracket) symbol after August Otto Fppl (1854-1924), a civil engineer and professor
at the Technical University of Munich (Fppl 1927). In English it is known as Macaulay brackets
after William Herrick Macaulay (1853-1936), a mathematician and Fellow of Kings College in
Cambridge (Macaulay 1919). Singularity functions have originally been used for structural
engineering analysis of beams under complex loads (Beer et al. 2006). Equation 1 gives the basic
term of singularity functions, written with pointed brackets as introduced by Wittrick (1965).
0 for x < a
xa =
n
Eq. 1
( x a ) for x a
n

where x is the variable under consideration, a is the upper boundary of the current segment, and
the exponent n is the order of the phenomenon that changes at the end of the segment. The
exponential rule a0 = 1 applies to the brackets. Equations 2 and 3 describe how the brackets can
be differentiated and integrated like regular mathematical functions.
d n 1
x a = n x a
n
Eq. 2
dx
1 n +1
x a dx = n +1 x a + C
n
Eq. 3

where C is an integration constant. Beyond Equations 1 through 3 the following rules apply:
Parts of two singularity functions can be added or subtracted if the cutoff a and exponent n are
identical. A singularity function can be multiplied by any factor s to scale it. An exponent of n =

2
0 indicates a constant phenomenon where s is the intercept and n = 1 indicates a linear
phenomenon where s is the slope.

Advantages of Singularity Functions


Singularity functions are a family of functions with several mathematical properties that are
desirable for the description and analysis of linear schedules:
They describe the phenomenon of interest based on geometry;
They separate the components of the phenomenon of interest;
They capture any changes in progress across time and amount;
They can include infinitely many segments of different behavior;
They are continuous and their value is defined for all arguments;
They can be scaled with any factor and are independent of units;
They can be added or subtracted for identical orders and cutoffs;
They can be differentiated and integrated like regular functions;
They can be evaluated manually or via computer software.

General Model for Singularity Functions


The following section introduces the terminology and general model for applying singularity
function to linear schedules of construction projects. This author proposes to name the new
method the Productivity Scheduling Method (PSM) to reflect its intuitive way of combining time
and amount information via the measure that links them, productivity. Equation 4 provides the
general model for modeling linear and repetitive activities and their buffers with the Fppl-
Macaulay notation, which is shown in Figure 1.
m 1 y yk yk 1
y y0 k +1 k
y
y(x ) = y0 x 0 + 1 x 0 + x xk 1
0 1
Eq. 4
x1 x0 k =1 x
k + 1 x k x k x k 1
where y is the time variable of an activity with m segments, x is the amount variable x, y0 is the
intercept, and yk and xk are pairs of coordinates with the numbering index k. The summation term
contains change terms where the present slope yk / xk is replaced with a new slope yk+1 / xk+1. The
buffer of an activity shall be defined as a distance across time or amount that has to remain free
of any successor activities. It can theoretically take on any shape, but often is a constant and thus
has the same shape as the activity to which it is attributed. A pair of activities thus is typically
related via a buffer between them. Such continuous buffers are a generalization of the previous
use where distances were only checked at isolated points between neighboring activities (Harris
and Ioannou 1998). Those buffers were called horizontal and vertical logic constraints (Thabet
and Beliveau 1994), least distances (Harmelink and Rowings 1998), or time and space
dependencies (Arditi et al. 2002). Amount buffers were also called stage buffers (Reda 1990) or
location buffers (Mubarak 2005).

<Figure 1>

Algorithm of Productivity Scheduling Method


The following sections detail each step of the algorithm for the new method as shown in the
flowchart of Figure 2. The paper then describes how the equivalent of a critical path can be
derived from the mathematical analysis.
<Figure 2>

3
Step 1: Capture Schedule Data
Figure 3 shows a linear schedule that was analyzed under research for the Iowa Department of
Transportation (Harmelink and Rowings 1998). Since time can only progress forward, the
algorithm requires that it is considered the dependent variable y. To reflect this mathematical
convention, the amount is plotted on the x-axis and time on the y-axis. This causes the slope to
represent the inverse of the productivity P, which is defined as amount over time. However, the
mathematical model is separate from the graphical representation. If desired, the time axis can be
drawn along the horizontal axis. Numeric values for time and amount and their buffers were not
provided in the original source and have been derived from the diagram in the original source
(Harmelink and Rowings 1998). Activities A through F are performed in a sequential order of
precedence {A, B, C, D, E, F}. All activities are continuous full-span linear activities (Harmelink
and Rowings 1998). Activities C, E, and F each consist of two segments with changes of
productivities between them, from lower to higher for C1 to C2 and from higher to lower for E1 to
E2 and for F1 to F2. The exact parameters are listed in Table 1, with the time distance DT in days,
the amount distance DA in length units, and the time and amount buffers BT and BA. Compare
this schedule with the simple network diagram in Figure 4. The richness of the two-dimensional
information in linear schedules will allow for a deeper analysis than what is possible under CPM.
<Figure 3>
<Table 1>
<Figure 4>

Step 2: Initial Activity and Buffer Equations


Activities A through F are described in Fppl-Macaulay notation in Equations 5 through 10. For
clarity, the brackets are sorted from left to right by ascending segment boundaries and within that
by ascending exponents. The initial equations are generated by following the order of precedence
and by inserting the buffers of Table 1 between neighboring activities. The maximum value of
y(x) of all predecessors is used as the intercept of the successor. This initial configuration is on
the safe side, as it keeps the successor high above its predecessors without any potential
interference. It is analogous to only permitting finish-to-start relationships in CPM. Figure 5
shows this stacking of activities. Buffers are shown as gray shaded areas in the figure.
<Figure 5>
Equations 5 through 10 are the singularity functions for the activities under consideration of their
time buffers, which act in the vertical direction. The start and finish dates of the equations are
listed in Table 2. The time buffer equations are omitted for brevity, but can be recreated by
adding their BT to the intercept of their activity equation. The equivalent activity equations under
consideration of the amount buffers are also omitted, but their respective start and finish dates
are listed in Table 3. Activity F is the last activity and does not carry any buffers. The simple
case of a constant buffer as per Table 1, which is added to the intercept of its activity equation,
can be extended to the general case of a buffer equation whose shape is entirely independent
from its activity. Step 2 would then alternate between activity and buffer equations.
7
y(x ) A = 0 x 0 + x 0
0 1
Eq. 5
50
4
y ( x )B = 8 x 0 + x 0
0 1
Eq. 6
50

4
6 6 1
y ( x )C = 13 x 0 +
0 1 1
x 0 x 35 Eq. 7
35 35 15
7
y ( x )D = 21.9 x 0 + x 0
0 1
Eq. 8
50
1 1 4
y ( x )E = 30.7 x 0 + x 0 x 30
0 1 1
Eq. 9
30 30 20
3 3 3
y ( x )F = 38.7 x 0 + x 0 x 40
0 1 1
Eq. 10
40 40 10
<Table 2>
<Table 3>

Simplifying Amount Buffer Equations


Amount buffers act in the horizontal direction, which is equivalent to shifting the singularity
functions for their activities sideways by the value BA. Equation 11, for example, includes the
shift of x = 12.5 in the xk values and by deducting it from the maximum value of x to describe
where the plateau of the amount buffer begins. Similar equations for the remaining amount
buffers are omitted for brevity.
0 1 1
50 7 50 7 50
y ( x )buf A = 0 x + x x 50
BA
Eq. 11
4 50 4 50 4
It is possible to simplify such unwieldy amount buffer equations to cover only positive values of
x. Equations 12 through 16 therefore have slightly larger intercepts. They retain the last term of
xmax - x to describe the plateaus. Ratios are simplified to the smallest integer fraction.
7 7
y ( x )buf A = 1.75 x 0 + x 0 x 37.5
BA 0 1 1
Eq. 12
50 50
4 4
y ( x )buf B = 8 x 0 + x 0 x 37.5
BA 0 1 1
Eq. 13
50 50
1 1
653 6 11 150 1 255
y ( x )buf C =
0 1
x0 + x0 x x
BA
Eq. 14
49 35 105 7 15 7
1
7 7 260
y ( x )buf D = 19.8 x 0 + x 0 x
BA 0 1
Eq. 15
50 50 7
1 1
232 1 1 20 1 80
y ( x )buf E
0 1
= x0 + x0 + x x
BA
Eq. 16
9 30 6 3 5 3

Step 3: Differences of Activities and Buffers


Pairwise differences are calculated between the time and/or amount buffers of all predecessors
and their successor activity while following the order of precedence. In other words, these
difference equations describe the white spaces in Figure 5. If an activity has several
predecessors, the minimum of these differences is used. The rule applies that the terms of two
singularity functions can be added or subtracted if their orders and cutoffs are identical. This
yields Equations 17 through 21 under consideration of time buffers and Equations 22 through 26
under consideration of amount buffers. Note that the intercept values that are obtained from

5
Tables 2 and 3 are somewhat different between the two groups. However, in determining the
distances only the overall shape of the difference equation matters.

Time Buffers
3
y ( x )B buf A = 8 x 0
0 1
x0
BT
Eq. 17
50
6 4 11
y ( x )C buf B = 5 x 0 + x 0
0 1 1
x 35
BT
Eq. 18
35 50 105
7 6 11
y ( x )D buf C = 8.9 x 0 + x 0 +
0 1 1
x 35
BT
Eq. 19
50 35 105
1 7 1
y ( x )E buf D = 8.8 x 0 + x 0 + x 30
BT 0 1 1
Eq. 20
30 50 6
3 1 1 9
y ( x )F buf E = 8 x 0 + x 0 x 30 + x 40
BT 0 1 1 1
Eq. 21
40 30 6 40

Amount Buffers
3 7
y ( x )B buf A = 5.25 x 0
0 1 1
x 0 + x 37.5
BA
Eq. 22
50 50
16 11 4
y ( x )C buf B = 3 x 0 +
0 1 1 1
x0 x 35 + x 37.5
BA
Eq. 23
175 105 50
1 1
229 11 11 150 1 255
y ( x )D buf C =
0 1
x0 x0 + x + x
BA
Eq. 24
49 350 105 7 15 7
1
8 1 7 260
y ( x )E buf D = 5.2 x 0 x 0 + x 30 + x
BA 0 1 1
Eq. 25
75 6 50 7
1 1
38 1 1 20 1 80 9
y ( x )F buf E
0 1 1
= x0 + x0 x + x + x 40
BA
Eq. 26
9 24 6 3 5 3 40

Step 4: Differentiation of Differences


The equations of the pairwise differences are differentiated using Equation 2. Equation 27 is the
derivative of Equation 17; Equation 28 is the derivative of Equation 22; the remaining
derivatives are omitted for brevity. Evaluating them cumulatively across the range of positive
values of x from zero to its maximum allows identifying minima where the difference is concave,
i.e. where the differentiated difference changes its sign from negative to positive. Depending on
whether the neighboring activities overall are diverging or converging (Harris and Ioannou
1998), the boundaries x = 0 or x = xmax are also locations of potential minima. Such critical points
where activities touch via their buffers were also called vertices (Harmelink and Rowings 1998).
The x-coordinates of the critical points are listed in Tables 2 and 3 along with the distances y
between the buffers of the respective activity segments and the successor activity. Note that the
time buffer of activity E is closest to activity F in two locations, for x = 0 and for x = 40.
BT 3
y ( x ) B buf A = 0 x 0
0
Eq. 27
50

6
3 7
y ( x )' BA
0 0
B buf A = 0 x 0 + x 37.5 Eq. 28
50 50

Step 5: Final Activity and Buffer Equations


All activity and buffer equations are consolidated to their earliest possible configuration by
deducting the differences of Tables 2 and 3 from their intercepts cumulatively while following
the order of precedence. Activity A is the first activity and does not need to be rewritten. Shifting
the singularity functions of Equations 6 through 10 and their respective time or amount buffers
downward by the sum of y to yield the final Equations 29 through 33 accomplishes the
objective of minimizing the overall project duration (makespan). The final time and amount
buffer equations are omitted for brevity, but can be recreated as described above. Evaluating
these equations yields the start and finish points listed in Table 4.
4
y ( x )B = 4 x 0 + x 0
0 1
Eq. 29
50
6 11
y ( x )C = 5 x 0 + x 0
0 1 1
x 35 Eq. 30
35 105
7
y ( x )D = 8 x 0 + x 0
0 1
Eq. 31
50
1 1
y ( x )E = 13 x 0 + x 0 + x 30
0 1 1
Eq. 32
30 6
3 9
y ( x )F = 16 x 0 + x 0 + x 40
0 1 1
Eq. 33
40 40
The mathematical analysis as formulated under this algorithm is independent of the graphical
representation of the linear schedule, whether the x-axis is drawn horizontally or vertically.
Essentially, the previous application of the algorithm has analyzed two different schedules,
which happened to yield the same final configuration of activities. A mixture of time and amount
buffers inside a single project schedule can be processed by the algorithm in the same manner, as
both types of buffers are modeled with singularity functions. If an activity has both types of
buffers a case distinction is needed to ensure that all constraints are fulfilled. In this case Steps 2
through 5 shall use whichever buffer yields the maximum intercept for a successor activity.
<Table 4 >

Time and Amount Critical Paths


With the activities and their buffer in their final configuration, it is now possible to construct the
equivalent of a critical path under consideration of the scenario with time buffers as per Table 2
and the scenario with amount buffers as per Table 3. The following rules are used for connecting
the critical locations to obtain the critical path for the scenarios with time or amount buffers:
It is continuous from earliest start point to latest finish point;
it follows the order of precedence and may split or merge;
it may include complete activities or segments thereof;
it jumps parallel to the time axis across time buffers;
it jumps parallel to the amount axis across amount buffers.
The time and amount critical paths thus obtained are shown in Figures 6 and 7 as thick lines in
the linear schedule. Critical points are marked with small circles. Several interesting observations
can be made. Examining the figures shows that critical points may occur at starts, changes, or

7
finishes of activities. For example, in Figure 6 the change in activity C at x = 35 induces a time
critical point with its neighboring activity D. There is no equivalent relationship for such
middle-to-middle link in CPM. Moreover, the previously observed two closest locations at x =
0 and x = 40 causes the time critical path to split and merge again between the two activities E
and F already. Activities A and B are connected by a finish-to-finish link whereas activities B
and C are connected by a start-to-start link. Activity B is therefore fully time critical, same as
activities A and F. Activities C, D, and E are only partially time critical across segments whose
boundaries are induced by time critical points. The amount critical path shown in Figure 7 is
significantly different. It does not split at all. Only activity A is fully amount critical, all others
are partially amount critical. The boundaries at which they change from being non-critical to
critical and vice versa in Figure 7 are completely different from Figure 6. It is therefore prudent
to distinguish time and amount criticality for activities in linear schedules.
<Figure 6>
<Figure 7>
Comparison with Previous Solution
The amount criticality of activities A and B in Figure 7 also differs from the results from the
graphical analysis by Harmelink and Rowings (1998), which found activity A to be amount
critical from its start point to x = 200/7 28.57 and activity B to be amount critical from its start
point to x = 12.5. This inconsistency was noted independently by Kallantzis and Lambropoulos
(2004). It was caused by considering the start of an activity to be critical if no link with any
predecessor had otherwise been established in the downward pass (Harmelink and Rowings
1998) and by checking distances only at discrete critical points, not across a continuous equation.
These least time and distance intervals were discrete themselves, but no equivalent of a time
critical path was derived. In a subsequent paper, time distances were checked during the
graphical analysis of an amount critical path (Harmelink 2001). In comparison, time and amount
buffers are clearly distinguished in PSM and their equations are continuous. The algorithm of
PSM automatically calculates the configuration that minimizes the overall project duration
(makespan) under consideration of all constraints from time and/or amount buffers.

Comparison with Critical Path Method


There is no separate forward and backward pass as under CPM (or upward and downward pass,
respectively) to determine the criticality of activities, but an initial configuration from stacking
activities and their buffers and consolidating them to the final configuration by using minimum
differences. CPM requires specific relationships to exist as input for its algorithm, at the least
finish-to-start links. If predecessor and successor activities shall overlap across time to minimize
the overall project duration, other link types such as finish-to-finish, start-to-finish, or start-to-
start are required. On the other hand, the linear schedule analysis only needs productivities and
the order of precedence as input. The PSM algorithm yields the critical points as output, but also
offers the possibility of implementing additional mathematical constraints, e.g. milestones.
The productivity of each activity is explicitly modeled with its singularity function and is clearly
shown in the 2D diagram, but CPM does not reveal the productivities that are underlying its
durations. A time buffer under PSM is similar to a lead or lag time of CPM, where a relationship
receives a minimum duration. Amount buffers cannot be expressed by CPM, since it is a one-
dimensional analysis. Buffers under PSM can be constant or can have an independent shape.
If the resolution of the analysis shall be increased, the activities in a CPM schedule would have
to be broken down into sub-activities at the desired level of detail to determine intermediate start

8
or finish dates (Lucko 2007). The computational effort thus would increase in proportion to the
number of units on the amount axis. On the other hand, each activity is only represented by one
equation under PSM, which can be evaluated at any desired amount. The computational effort of
PSM would only increase if additional changes are uncovered at a higher resolution, which
would then be modeled with additional change terms within the same singularity function.

Summary and Outlook


This paper has presented the basic concepts of PSM, a new approach for mathematically
analyzing schedules containing linear and/or repetitive activities with singularity functions. It has
described the definition and the general model for using singularity functions to model activities
and their buffers. The major steps of the algorithm, including stacking, differences,
differentiation of distances, and consolidation, have been demonstrated with an example from the
literature. The algorithm processes both time and amount buffers, which leads to distinguishing
time and amount criticality from each other. Rules for accordingly determining time and amount
critical paths from calculated critical points have been derived. A comparison with traditional
CPM scheduling found the analysis of linear schedules with singularity functions to be
computationally efficient and of greater depth due to its focus on productivity. Future research
on the new method will examine different types of float, probabilistic activity durations, and
resource allocation and leveling. It is also planned to deploy PSM on an industry case study to
measure its performance and practicability. The mathematical model of PSM may lead to an
increased application of linear scheduling for the planning and control of construction projects.

Acknowledgement
The support of the National Science Foundation (Grant CMMI-0654318) for portions of the
work presented here is gratefully acknowledged. Any opinions, findings, and conclusions or
recommendations expressed in this material are those of the author and do not necessarily reflect
the views of the National Science Foundation.

Appendix I: References
Arditi, D., Albulak, M. Z. (1986). Line-of-balance scheduling in pavement construction.
Journal of Construction Engineering and Management 112(3): 411-424.
Arditi, D., Tokdemir, O. B., Suh, K. (2001). Effect of learning on line-of-balance scheduling.
International Journal of Project Management 19(5): 265-277.
Arditi, D., Tokdemir, O. B., Suh, K. (2002). Challenges in line-of-balance scheduling. Journal
of Construction Engineering and Management 128(6): 545-556.
Beer, F. P., Johnston, E. R., DeWolf, J. T. (2006). Mechanics of materials. 4th ed., McGraw-Hill,
New York, NY.
Chrzanowski, E. N., Johnston, D. W. (1986). Application of linear scheduling. Journal of
Construction Engineering and Management 112(4): 476-491.
Dressler, J. (1980). Construction management in West Germany. Journal of the Construction
Division, Proceedings of the American Society of Civil Engineers 106(CO4): 447-487.
Fppl, A. O. (1927). Vorlesungen ber Technische Mechanik. Dritter Band: Festigkeitslehre.
10th ed., B. G. Teubner, Leipzig, Germany.
Galloway, P. D. (2006). Survey of the Construction Industry Relative to the Use of CPM
Scheduling for Construction Projects. Journal of Construction Engineering and
Management 7(1): 697-711.

9
Harmelink, D. J., Rowings, J. E. (1998). Linear scheduling model: Development of controlling
activity path. Journal of Construction Engineering and Management 124(4): 263-268.
Harmelink, D. J. (2001). Linear scheduling model: Float characteristics. Journal of
Construction Engineering and Management 127(4): 255-260.
Harris, R. B., Ioannou, P. G. (1998). Scheduling projects with repeating activities. Journal of
Construction Engineering and Management 124(4): 269-278.
Hegazy, T. (2001). Critical path method line of balance model for efficient scheduling of
repetitive construction projects. Transportation Research Record 1761: 124-129.
Kallantzis, A., Lambropoulos, S. (2004). Discussion of Comparison of linear scheduling model
and repetitive scheduling method by Kris G. Mattila and Amy Park. Journal of
Construction Engineering and Management 8(3): 463-467.
Lucko, G. (2007). Flexible Modeling of Linear Schedules for Integrated Mathematical
Analysis. Proceedings of the 2007 Winter Simulation Conference, Washington, District
of Columbia, December 9-12, 2007, Institute of Electrical and Electronics Engineers,
Piscataway, New Jersey, 2159-2167.
Macaulay, W. H. (1919). Note on the deflection of beams. Messenger of Mathematics 48(9):
129-130.
Mattila, K. G., Abraham, D. M. (1998). Linear scheduling: past research efforts and future
directions. Engineering, Construction and Architectural Management 5(3): 294-303.
Mattila, K. G., Abraham, D. M. (1998b). Resource leveling of linear schedules using integer
linear programming. Journal of Construction Engineering and Management 124(3): 232-
244.
Mattila, K. G., Park, A. (2003). Comparison of linear scheduling model and repetitive
scheduling method. Journal of Construction Engineering and Management 129(1): 56-
64.
Moselhi, O., Hassanein, A. (2003). Optimized scheduling of linear projects. Journal of
Construction Engineering and Management 129(6): 664-673.
Mubarak, S. (2005). Construction project scheduling and control. Pearson Education / Prentice
Hall, Upper Saddle River, New Jersey.
OBrien, J. J. (1975). VPM scheduling for high-rise buildings. Journal of the Construction
Division, Proceedings of the American Society of Civil Engineers 101(CO4): 895-905.
Reda, R. M. (1990). RPM: Repetitive project modeling. Journal of Construction Engineering
and Management 116(2): 316-330.
Russell, A. D., Caselton, W. F. (1988). Extensions to linear scheduling optimization. Journal
of Construction Engineering and Management 114(1): 36-52.
Russell, A. D., Wong, W. C. M. (1993). New generation of planning structures. Journal of
Construction Engineering and Management 119(2): 196-214.
Stradal, O., Cacha, J. (1982). Time space scheduling method. Journal of Construction
Engineering and Management 108(CO3): 445-457.
Thabet, W. Y., Beliveau, Y. J. (1994). HVLS: Horizontal and vertical logic scheduling for
multistory projects. Journal of Construction Engineering and Management 120(4): 875-
892.
Wittrick, W. H. (1965). A generalization of Macaulays method with applications in structural
mechanics. AIAA Journal 3(2): 326-330.

Appendix IIa: Notation

10
The following symbols and abbreviations are used in this paper:
a = amount, cutoff value of range
BA = amount buffer
BT = time buffer
C = integration constant
CPM = critical path method
DA = amount distance
DT = time distance
FA = finish amount
FT = finish time
LSM = linear scheduling method
m = number of segments of activity
n = exponent, order of phenomenon
P = productivity (inverse of slope)
PSM = productivity scheduling method
SA = start amount
ST = start time
t = time
x = variable along horizontal axis
y = variable along vertical axis
= brackets of singularity function

Appendix IIb: Superscripts


BA = amount buffer
BT = time buffer

Appendix IIc: Subscripts


buf = buffer of activity
i = current activity
j = successor activity
k = numbering index for segments of activity
max = maximum

List of Figures

Figure 1: General Model for Singularity Function


Figure 2: Flowchart of Analysis Steps
Figure 3: Linear Schedule (Harmelink and Rowings 1998)
Figure 4: Network Diagram
Figure 5: Activity Stacking with Time Buffers
Figure 6: Time Critical Path
Figure 7: Amount Critical Path

List of Tables

Table 1: Activity List

11
Table 2: Initial Configuration for Time Buffers
Table 3: Initial Configuration for Amount Buffers
Table 4: Final Configuration

12
y [time]
y3

y2
y1
y0

x0 x1 x2 x3
x [amount]

Figure 1: General Model for Singularity Function

13
Step 1: Capture Schedule Data
Create activity list with names, ranges across
time and amount (or productivity), precedence,
and values of time and/or amount buffer

Step 2: Initial Activity and Buffer Equations


Follow precedence; write initial activity and
buffer equations, use predecessor(s) maximum
value as new intercept, simplify amount buffers

Step 3: Differences of Activities and Buffers


Follow precedence; calculate pairs of differences
between predecessor(s) time and/or amount
buffers and successor in stacked configuration

Step 4: Differentiation of Differences


Differentiate pairs of differences, evaluate them
to find locations of minimum values, indicating
critical points (activities will touch via buffers)

Step 5: Final Activity and Buffer Equations


Follow precedence; subtract minimum values of
differences from activity and buffer equations
(rewrite intercepts) in consolidated configuration

Figure 2: Flowchart of Analysis Steps

14
y [time]

22 F
F2
20
18 F1 E
E2
16
D
14 E1
12 C
C2
10
8 B
C1 A
6
4
2
0
10 20 30 40 50
x [amount]

Figure 3: Linear Schedule (Harmelink and Rowings)

15
A B C D E F

Figure 4: Network Diagram

16
y [time]

22
20 C
C2
18
16
C1
14
12 B
10
8
A
6
4
2
0
10 20 30 40 50
x [amount]

Figure 5: Activity Stacking with Time Buffers

17
y [time]

22 F
F2
20
18 F1 E
E2
16
D
14 E1
12 C
C2
10
8 B
C1 A
6
4
2
0
10 20 30 40 50
x [amount]

Figure 6: Time Critical Path

18
y [time]

22 F
F2
20
18 F1 E
E2
16
D
14 E1
12 C
C2
10
8 B
C1 A
6
4
2
0
10 20 30 40 50
x [amount]

Figure 7: Amount Critical Path

19
Table 1: Activity List

Name Successor Segment DT DA BT BA


A B A1 7 50 1.0 50/4 = 12.50
B C B1 4 50 1.0 50/4 = 12.50
C D C1 6 35 1.9 95/7 13.57
C2 1 15 1.9 95/7 13.57
D E D1 7 50 1.8 90/7 12.86
E F E1 1 30 3.0 70/3 23.33
E2 4 20 3.0 70/3 23.33
F - F1 3 40 N/A N/A
F2 3 10 N/A N/A

20
Table 2: Initial Configuration for Time Buffers

Time Buffers Critical Time


Name Segment ST FT Points Distance
A A1 00.0 07.0 50 4.0
B B1 08.0 12.0 00 4.0
C C1 13.0 19.0 35 5.9
C2 19.0 20.0 35 5.9
D D1 21.9 28.9 30 3.8
E E1 30.7 31.7 00 5.0
E2 31.7 35.7 40 5.0
F F1 38.7 41.7 - -
F2 41.7 44.7 - -

21
Table 3: Initial Configuration for Amount Buffers

Amount Buffers Critical Time


Name Segment ST FT Points Distance
A A1 00 07 75/2 = 37.50 3.0
B B1 07 11 00.00 3.0
C C1 11 17 150/7 = 21.43 6.3
C2 17 18 150/7 = 21.43 6.3
D D1 18 25 30.00 2.0
E E1 25 26 80/7 = 26.67 2.0
E2 26 30 80/7 = 26.67 2.0
F F1 30 33 - -
F2 33 36 - -

22
Table 4: Final Configuration

Name Segment P ST FT SA FA
A A1 7.142 00 07 00 50
B B1 12.500 04 08 00 50
C C1 5.833 05 11 00 35
C2 15.000 11 12 35 50
D D1 7.142 8 15 00 50
E E1 30.000 13 14 00 30
E2 5.000 14 18 30 50
F F1 13.333 16 19 00 40
F2 3.333 19 22 40 50

23