Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN INSUFISIENSI ADRENAL

Disusun guna memenuhi tugas Keperawatan Medikal Bedah Endokrin

Dosen Pengampu : Ika Karunianingsih, S.kep.

Disusun Oleh:

1. Cholifatun M
2. Esa erlangga
3. Ester Hesti L
4. Merita Rizki
5. M. Ragil
6. Nor Anisa
7. Rakananta Danu
8. Wisnu Hermawan

AKADEMI KEPERAWATAN PRAGOLOPATI PATI

TAHUN AJARAN 2011/2012

BAB I
TINJAUAN TEORI
A. DEFINISI

Insufisiensi adrenokortikal adalah suatu keadaan dimana fungsi kortek adrenal


tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan pasien akan hormon-hormon korteks
adrenal.
( Suddart,2002)

Hipofungsi Adrenokortikal adalah penyakit yang dapat berasal dari kelainan di


dalam kelenjar adrenal itu sendiri (insufisiensi adrenal primer), atau akibat
hipofungsi unit pituitari-hipotalamik (insufisiensi adrenal sekunder).
(Rumoharbo, 1999)

Insufisiensi adrenal adalah ketidakmampuan untuk mensekresi glukokortikoid,


mineralikortikoid dan androgen dapat terjadi karena atrofi atau kerusakan pada
kelenjar adrenal.
( Kozier, 1996)

B. ETIOLOGI

1. Atrofi autoimun(imunitas terganggu akibat adanya infeksi pada kelenjar


adrenal)
2. Operasi pengangkatan kedua kelenjar
Korteks adrenal diperlukan bagi kehidupan sekresi adrenokortikal,
memungkinkan tubuh untuk beradaptasi terhadap segala jenis stres. Tanpa
korteks adrenal, keadaan stres yang berat dapat mengakibatkan kegagalan
sirkulasi perifer, syok dan kematian.
3. Sekresi ACTH yang tidak adekuat dari kelenjar hipofisis.

Sekresi ACTH yang tidak adekuat dari kelenjar hipofisis ini juga akan
menimbulkan insufisiensi adrenal akibat penurunan stimulasi korteks adrenal.

4. Penghentian mendadak terapi hormon adrenokortikal.


Ini akan menekan respon normal tubuh terhadap keadaan stres dan
mengganggu mekanisme uman balik normal.
(suddart, 2002)

C. MANIFESTASI KLINIS

Penyakit addison (insufisiensi adrenal) ditandai oleh:


1. Kelemahan otot
2. Anoreksia.
3. Gejala gastrointestinal
4. Keluhan mudah lelah
5. Emasiasi ( tubuh kurus kering)
6. Pigmentasi pada kulit, buku-buku jari,lutut, siku, serta membran mukosa.
7. Hipotensi.
8. Kadar gllukosa darah dan natrium serum rendah.
9. Kadar kalium serum tinggi.

Pada kasus yang berat, gangguan metabolisme natrium dan kalium


dapat ditandai oleh pengurangan natrium dan air, serta dehidrasi yang
kronis dan berat.
Dengan berlanjutnya penyakit yang disertai hipotensi akut sebagai
akibat dari hipokortikolisme, pasien akan mengalami krisis addison yang
ditandai oleh sianosis,panas, dan tanda-tanda klasik syok: pucat, perasaan
cemas, denyut nadi cepat, dan lemah, pernapasan cepat serta tekanan darah
rendah. Disamping itu, pasien dapat mengeluh sakit kepala, mual, nyeri
abdomen serta diare, dan memperlihatkan tanda-tanda kebingungan dan
kegelisahan. Bahkan aktivitas jasmani yang sedikit berlebihan, terpajan
udara dingin, infeksi yang akut/ penurunan asupan garam dapat
menimbulkan kolaps sirkulasi, syok dan kematian jika tidak segera diatasi.

(Rumoharbo,1999)

D. PATOFISIOLOGI

Gambaran klinis dari penyakit Addison disebabkan karena kekurangan sekresi,


aldosteron dan androgen. Insufisiensi kortisol menyebabkan hilangnya
glukoneogenesis, berkurangnya glikogen hati, dan meningkatnya kepekaan
jaringan perifer terhadap insulin. Kombinasi dari perubahan-perubahan dalam
metabolism karbohidrat dapat mengakibatkan ketidakmampuan tubuh untuk
mempertahankan kadar glukosa dalam darah normal, sehingga terjadi
hipoglikemia dalam keadaan puasa. Akibat rendahnya persediaan glikogen, pasien
yang menderita insufisiensi adrenal tidak tahan menghadapi kekurangan makanan
untuk jangka waktu yang lama.

Akibat lain dari insufisiensi kortisol adalah meningkatnya sekresi


propiomelanokortin(POMC)- turunan peptide termasuk ACTH, dan MSH alfa dan
beta. Hal ini terjadi sebagai akibat dari hilangnya umpan balik dari sumbu
hipotalamus hipofisis. Konsekuensi klinis dari respon hormonsl ini adalah
hiperpigmentasi.

Karena kortisol dibutuhkan untuk respon stress normal, maka pasien-pasien


yang menderita insufisiensi kortisol tidak dapat menghadapi stress pembedahan,
trauma, infeksi, dan sebagainya. Dalam keadaan ini pasien mungkin akan
mengalami insufisiensi adrenal akut dan akhirnya akan mengalami kolaps
vascular.

Defisiensi aldosteron dimanifestasikan dengan peningkatan kehilangan


natrium melalui ginjal dan peningkatan reabsorbsi kalium oleh ginjal. Kekurangan
garam dapat dikaitkan dengan kekurangan air. Penurunan volume plasma yang
bersirkulasi akan mengakibatkan hipotensi. Perubahan ini akan nyata apabila
pasien mengubah posisi tubuhnya dari posisi terlentang ke posisi tegak. Pasien
yang menderita penyakit Addison tekanan darahnya normal pada waktu mereka
berbaring tetapi mengalami hipotensi dan takikardia selam beberapa menit pada
waktu mereka bangkit. Menurut definisi, maka hipotensi postural terjadi apabila
tekanan sistolik dan diastolic darah turun sampai lebih dari 20mmHg ketika pasien
beraliah ke posisi tegak. Takikardia postural timbul apabila pada keadaan tersebut
kecepatan denyut nadi meningkat sampai sampai lebih dari 20 denyut per menit.
Pada kedua kasus ini, penurunan tekanan darah dan peningkatan kecepatan denyut
nadi bertahan sampai lebih dari 3 menit sesudah terjadi perubahan sikap tubuh.
Jadi, seorang penderita penyakit Addison mungkin mempunyai tekanan darah
sebesar 120/80mg/100ml pada waktu ia terlentang, tetapi akan turun sampai
60/40mg/100ml pada waktu ia mengambil posisi tegak. Demikian juga denyut
nadinya akan meningkat dari 80 sampai 140 denyut per menit saat ia berubah
posisi.

Aktivitas rennin plasma juga dipengaruhi oleh penyakit Addison. Penurunan


volume plasma dan tekanan arteriol menimbulkan perangsangan untuk
melepaskan rennin dan peningkatan pembentukan angiostenin II. Tetapi pada
penyakit Addison ini yang menjadi masalah adalah karena terjadi kerusakan
korteks adrenal, maka angiostenin II tidsk dapat merangang pembentukan
aldosteron dan mengembalikan kadar aldosteron serum kembali pada batas-batas
fisiologisnya semula. Karena itu sekresi aldosteron yang rendah dan kadar renin
yang tinggi merupakan gambaran khas dari defisiensi aldosteron.
Defisiensi androgen dapat mempengaruhi pertumbuhan rambut pubis dan
aksila. Pada pria, keadaan ini tidak nyata karena androgen testis memegang
peranan utama dalam efek metabolic androgenic. Pada wanita, insufisiensi
androgen dapat mengakibatkan rambut aksila dan pubis rontok dan rambut
ekstremitas berkurang.
(price, 1995)

E. PATHWAYS

ADDISON

Infeksi pada Operasi pengangkatan Sekresi ACTH Penghentian mendadak


kedua kelenjar kedua kelenjar adrenal tidak adekuat hormon adrenokortikal

Kortek adrenal tidak adekuat


untuk memenuhi hormone-hormon adrenal

Kelemahan otot Hipokortikolisme Gangguan metabolik

Mudah lelah Hipotensi akut Hiponatrium

Menyebabkan pusing Dehidrasi


mual, nyeri abdomen
Intoleransi
aktivitas
Membran mukosa
Muntah, diare hitam keabu-abuan

Kehilangan cairan Perubahan pigmentasi


kulit

Kekurangan
volume cairan
Anoreksia Harga diri
rendah
Berat badan menurun

Nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Adanya penurunan konsentrasi glukosa darah dan natrium dimana nilai
normal 13,6-14 meq/liter ( hipoglikemi dan hiponatermia).
b. Peningkatan konsentrasi kaliun serum dimana nilai normalnya 3,5-5,0
meq/liter (hiperkalemia).
c. Peningkatan jumlah sel darah putih ( leukositosis).
2. Kadar Hormon.
Diagnsis pasti, ditegakkan berdasarkan kadar horman adrenokortikal
yang rendah dalam darah atau urine. Kadar kortisol serum menurun pada
insufisiensi adrenal. Jika korteks adrenal sudah mengalami kerusakan, nilai-
nilai dasar laboratorium tampak rendah dan penyuntikan ACTH tidak akan
mampu menaikkan kadar kortisol plasma hingga mencapai nilai normalnya.
( Rumoharbo,1999)

G. PENATALAKSANAAN.

1. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Pantau dengan ketat terhadap manifestasi krisis addison, termasuk:
1. Kelemahan mendadak
2. Nyeri abdomen, punggung, dan tungkai yang berat.
3. Hipotensi yang dalam kaitannya dngan curah jantung yang tinggi,
tekanan desak normal, dan tahanan sistemik rendah.
b. Selain itu, pasien memerlukan suplemen makanan dengan penambahan
garam. Pada saat terjadi kehilangan cairan dari saluran cerna akibat
muntah dan diare.
(Rumoharbo,1999)

2. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan penyakit Addison didasarkan pada tindakan penggantian kortisol
yang biasanya 20-30mg/hari dalam dosis terbagi. Dan analog aldosteton,
alfaflurokortisol diberikan, mungkin keadaan pasien akan normal kembali dan
dapat menjalani hidup yang normal kembali. Pasien-pasien dengan insufisiensi
adrenal sekunder terhadap defisiensi ACTH juga mempunyai kadar yang
rendah dari kortisol dan metabolit dalam urinnya. Tetapi kadar aldosteron dan
kadar ACTH plasma normal. Jika pasien-pasien ini diberikan infuse ACTH
intravena, maka kadar kortisol plasma meningkat, tetapi dalam pola di bawah
normal.
(price, 1995)
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : lelah, nyeri/kelemahan pada otot, tidak mampu beraktivitas atau bekerja.
Tanda : peningkatan denyut jantung/nadi pada aktivitas yang minimal, penurunan
kekuatan dan rentang gerak sendi, depresi, gangguan konsentrasi,
penurunan inisiatif, letargi.
2. Sirkulasi
Tanda : hipotensi, termasuk hipotensi postural.
Takikardia, disritmia, suara jantung melemah, nadi perifer melemah,
pengisapan kapiler memanjang, ekstremitas dingin, sianosis dan pucat,
membran mukosa hitam keabu-abuan( peningkatan pigmentasi).
3. Intregitas ego.
Gejala : adanya riwayat faktor sters yang baru dialami, termasuk sakit fisik/
pembedahan, perubahan gaya hidup, ketidakmampuan mengatasi sters.
Tanda : ansietas, peka rangsang, depresi, emosi tidak stabil.
4. Eliminasi.
Gejala : diare sampai dengan adanya konstipasi, kram abdomen, perubahan
ferkuensi dan karakteristik urine.
Tanda : deurisis yang diikuti dengan oliguria.
5. Makanan/ cairan.
Gejala : anoreksia berat(gejala utama), mual/muntah, kekurangan zat garam, BB
menurun dengan cepat.
Tanda : turgar kulit jelek, membran mukosa kering.
6. Neurosensori.
Gejala : pusing, sinkop, gemetar, sakit kepala yang berlangsung lama yang diikuti
oleh diaforesis, penurunan toleransi terhadap keadaan dingin/stres,
kesemutan.
Tanda : disorientasi terhadap waktu, tempat dan ruang(karena kadar natrium
rendah), letargi, kelelahan mental, cemas, koma.
7. Nyeri/ kenyamanan.
Gejala : nyeri otot, kaku perut, nyeri tulang belakang, abdomen, ekstremitas.
8. Pernapasan
Gejala : Dipsneu
Tanda : kecepatan pernapasan meningkat, takipneu,.
Suara nafas: krekel, ronki(pada keadaan infeksi)
9. Keamanan
Gajala : tidak toleran terhadap panas, cuaca(udara) panas,
Tanda : hiperpigmentasi kulit(coklat kehitaman karena terkena sinar matahari/
hitam seperti perunggu) yang menyeluruh atau bintik-bintik, peningkatan
suhu; demam yang diikuti dengan hipotermi, otot menjadi kurus, gangguan/
tidak mampu berjalan.
10. Seksualitas.
Gejala : adanya riwayat menopouse dini, amenorea.
Hilangnya tanda-tanda seks sekunder, hilangnya libido
11. Penyuluhan/ pembelajaran
Gajala : adanya riwayat keluarga DM, TB, kanker.
Adanya riwayat tiroiditis, anemia pernisiosa.
(Long,2006)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN.

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebih.


2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot.
4. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan pigmentasi kulit
(NOC,2007)

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan berlebih


Tujuan : kebutuhan volume cairan dapat terpenuhi .
Kritaria hasil : menunjukan adanya perbaikan keseimbangan cairan dengan
kriteria penguaran urin yang ade kuat ( batas normal ) , tanda vital stabil tekanan
nadi periver jelas , turgor kulit baik , pengisapan kapiler baik , dan membran
mukosa lembab ,

Intervensi :
a. Pantau TTV dan catat perubahan yg terjadi
R : hipotensi postural merupakan bagian hipovolumit akibat kekurangan
hormon aldosteron dan penurunan curah jantung sebagai akibat dari
penureunan kortisol. Nadi mungkin melemah yang dengan mudah dapat
menghilang
b. Ukur dan timbang berat badan setiap hari
R : memberikan perkiraan kebutuhan akan penggantian volume cairan dan
keevektifan pengobatan
c. Periksa adanya perubahan dalam status mental dan sensori
R: dehidrasi berat menurunkan curah jantung dan perkusi jantung, terutama
jaringan otok.
d. Berikan perawatan mulut secara teratur
R : membantu menurunkan rasa tidak nyaman akibat dehidrasi dan
mempertahankan kerusakan membran mukosa
e. Pertahankan kebersihan klien dan tempat tidur saat terjadi mutah
R: tempat yang kotor dapat meningkatkan rasa ingin muntah
f. Identifikasi faktor faktor yang dapat menyebabkan bertambah buruknya
dehidrasi atau muntah
R : untuk mengurangi muntah dan dehidrasi
g. Melaborasi pemberian cairan 0,9 % Nacl, larutan glukosa meniral kortikoitr,
fludokortison, deoksikortikosteron.
R : pasien mungkin membutuhkan cairan pengganti 4 6 liter, dengan
pemberian cairan Nacl 0,9 % melalui iv sebanyak 500 1000 ml/ jam dapat
mengatasi kekurangan natrium yang telah terjadi dan untuk menghilangakan
hipoglikemia.
h. Pantau pemeriksaan laboratorium hematokrit ( ht ), ureum atau kreatinin,
osmo lalitas, natrium , kalium
R : peningkatan kadar ht darah merupakan indikasi terjadinya hemokosentrasi
yang akan kembali normal sesuai dengan terjadinya dihidrasi pada tubuh.
(Marylin,2000)

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. anoreksia


Tujuan : masukkan nutrisi menjadi adekuat untuk kebutuhan metabolik
Kriteria hasil :
a. Tidak ada mual muntah
b. Menunjukkan berat badan stabil atau meningkat sesuai dengan yang di
harapkan.

Intervensi :
a. Auskultasi bising usus dan kaji apakah ada nyeri perut, mual, muntah.
R: kekurangan kortisol dapat mengakibatkan gejala gastrointestinal berat
yang mempengaruhi pencernaan dan absorbsi dan makanan.
b. Catat adanya kulit yang dingin, basah, perubahan tingkat kesadaran, nadi
yang cepat, peka rangsang, nyeri kepala.
R: gejala hipoglikemia dg timbulnya tanda tersebut mungkin perlu
pemberian glukosa dan mengindikasikan pemberian tambahan
glukokortikoid.
c. Pantau pemasukan makanan dan timbang BB setiap hari.
R: anoreksia, kelemahan dan kehilangan pengaturan metabolisme oleh
kortisol dpt mengakibatkan penurunan BB dan terjadinya malnutrisi.
d. Catat adanya muntah, mengenai jumlah kejadian/ karakteristik lainnya.
R: ini dapat membantu untuk menentukan derajat kemampuan pencernaan/
absorbsi makanan.
e. Berikan/ bantu perawatan mulut.
R: mulut yang bersih dpt meningkatkan nafsu makan.
f. Berikan lingkungan yang nyaman untuk makan.
R: dapat meningkatkan nafsu makan dan memperbaiki pemasukan
makanan.
g. Berikan informasi tentang menu pilihan.
R: perencanaan menu yang disukai pasien dapat menstimulasi nafsu
makan.
h. Lakukan pemeriksaan terhadap kadar gula darah sesuai dengan indikasi.
R: mengkaji kadar gula darah dan kebutuhan energi.
i. Konsultasi dengan ahli gizi.
R: bermanfaat untuk menentukan penggunaan/kebutuhan kalori dg tepat.
j. Tingkatkan diet natrium.
R: dapat menolong, mencegah/ memperbaiki hiponatermia.
k. Berikan makanan dalam porsi kecil tetapi sering dengan tinggi kalori dan
protein.
R: makanan dalam porsi kecil jika diberikan dengan terus menerus, jumlah
kalori yang dibutuhkan per hari dapat terpenuhi.
l. Pantau Hb dan ht
R: anemia dapat terjadi akibat defisit nutrisi / pengenceran yang terjadi
akibat retensi cairan sehubungan pemberian glukokortikoid.
(Wilkinson,2007)

3. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan otot.


Tujuan : membantu pasien beradaptasi dengan lingkungan
Kriteria hasil:
a. Menyatakan mampu untuk beristirahat, peningkatan tenaga.
b. Mampu menunjukkan faktor yang berpengaruh terhadap kelelahan.
c. Menunjukkan peningkatan kemampuan dan berpartisipasi dalam aktivitas.

Intervensi :

a. Kaji, diskusi tingkat kelemaha klien dan identifikasi aktivitas yang dapat
dilakukan klien.
R: pasien biasanya telah mengatasi penurunan tenaga, kelemahan otot
menjadi terus memburuk setiap hari karena proses penyakit.
b. Pantau TTV sebelum dan sesudah melakukan aktivitas.
R: kolapsnya sirkulasi dapat terjadi sebagai akibat dari stres aktivitas jika
curah jantung berkurang.
c. Identifikasi aktivitas yang menyebabkan kelelahan.
R: meskipun pasien pada awalnya merasa terlalu lemah untuk melakukan
aktivitas, kurangi aktivitas saat menerima terapi hormon pengganti untuk
memperbaiki tonus dan kekuatan otot.
d. Sarankan pasien untuk menentukan massa/ periode antara istirahat dan
melakukan aktivitas.
R: mengurangi kelelahan dan mencegah ketegangan pada jantung.
e. Diskusikan cara untuk menghemat tenaga.
R: pasien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan dengan mengurangi
pengeluaran tenaga pada setiap kegiatan yang dilakukan.
f. Tingkatkan keterlibatan pasien sesuai kemampuannya.
R: menambah tingkat keyakinan pasien dan harga dirinya secara baik sesuai
tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi.
g. Tentukan penyebab keletihan.
R: meminimalisasi terjadinya keletihan pada pasien.
h. Kaji respon emosi, sosial, dan spiritual terhadap aktivitas.
R: respon yang buruk dapat mempengaruhi aktivitas pasien.
i. Hindari menjadwalkan aktivitas perawatan selama periode istirahat.
R: aktivitas yang berat dapat menambah rasa lelah pasien.
j. Dapatkan bantuan dari keluarga dalam usaha mendukung dan mendorong
pasien dalam menyelesaikan aktivitas.
R: meningkalkan motivasi pasien untuk beraktivitas.

4. Harga diri rendah b.d perubahan pada pigmentasi kulit.


Tujuan : untuk mengembalikan rasa percaya diri pasien
Kriteria Hasil:
a. Mengngkapkan penerimaan terhadap keadaan diri sendiri diungkapkan secara
verbal.
b. Menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap parubahan yg terjadi dengan
ditandai oleh merencanakan tujuan yang realistik dan berpartisipasi aktif
dalam bekerja, bermain/ berhubungan dengan orang lain.

Intervensi :

a. Atur periode singkat untuk bicara tanpa diganggu, dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan tentang keadaannya.
R: membina hubungan dan meningkatkan keterbukaan dengan pasien.
b. Kurangi stimulasi yang berlebihan pada lingkungan, berikan ruang tersendiri
jika memungkinkan.
R: meminimalkan perasaan stres, frustasi. Meningkatkan kemampuan koping
dan kemampuan untuk mengendalikan diri.
c. Dorong pasien untuk membuat daftar bantuan orang terdekat dalam
menghadapi stres.
R: pasien tidak akan merasa sendirian jika dia bercerita pada orang lain dan
meminta bantuan dalam memecahkan masalah.
d. Dorong pasien untuk membuat pilihan dan berpartisipasi dalam perawatan diri
sendiri.
R: dapat membantu meningkatkan tingkat kepercayaan diri, memperbaiki
harga diri, menurunkan pikiran terus menerus terhadap perubahan.
e. Sarankan untuk mengunjungi seseorang yang penyakitnya telah terkontrol dan
gejalanya telah berkurang.
R: dapat menolong pasien untuk melihat hasil dari pengobatan yang telah
dilakukan.
f. Rujuk ke pelayanan sosial, konseling dan kelompok pendukung sesuai
kebutuhan.
R: pendekatan secara komprehensif dapat membantu memenuhi kebutuhan
pasien untuk memelihara tingkah laku koping.
g. Kaji perubahan-perubahan terbaru pada pasien yang dapat berpengaruh
terhadap harga diri rendah.
R: untuk mengetahui hal-hal apa yang dilakukan pasien yang mempengaruhi
tentang harga dirinya.
h. Ajarkan ketrampilan perilaku yang positif melalui bermain pera, madel peran,
dll.
R: untuk mengurangi anggapan pasien tentang keadaan dirinya sekarang.

(Wilkinson, 2007)

DAFTAR PUSTAKA

Barbara C Long. 2006. Perawatan Medikal Bedah edisi 3. Bandung: Yayasan IAPK
Padjajaran.

Doenges E Marylin.2000.Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC


Rumahorbo, hotma. 1999.Asuhan Keperawatan klien dengan gangguan system endokrin.
Jakarta: EGC

Wilkinson, Judith M .2007. Buku saku Diagnosa Keperawatan NIC NOC. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C.2002. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and suddart.
Alih Bahasa : Edisi 8 volume 2 . Jakarta : EGC