Anda di halaman 1dari 15

BAB II

KAJIAN TEORITIS DAN KERANGKA BERPIKIR

A. KAJIAN TEORITIS

1. Berpikir Reflektif Matematis


a. Pengertian Kemampuan Berpikir
Secara umum pengertian kemampuan menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa
Indonesia) adalah suatu kesanggupan dalam melakukan sesuatu. Seseorang
dikatakan memiliki kemampuan atau mampu bila ia sanggup melakukan sesuatu
yang memang harus dilakukannya.
Kata berpikir merupakan kata kerja yang berasal dari kata dasar pikir yang
diberi awalan ber-. Menurut kamus besar bahasa Indonesia kata pikir berarti akal
budi atau ingatan. Sementara arti berpikir yang berasal dari bahasa arab fikr
artinya menggunakan akal untuk mengetahui sesuatu. Berpikir adalah eksplorasi
pengalaman yang dilakukan secara sadar dalam mencapai sesuatu.1
Berpikir adalah daya yang paling utama dan merupakan ciri yang khas yang
membedakan manusia dari hewan. Manusia dapat berpikir karena manusia
mempunyai bahasa, hewan tidak. Menurut Sanjaya, Berpikir (Thinking) adalah
proses mental seseorang yang lebih dari sekedar meningat (Remembering) dan
memahami (Comprehending)2. Berpikir adalah istilah yang lebih dari keduanya.
Berpikir menyebabkan seseorang harus bergerak hingga di luar informasi yang
didengarnya. Misalnya, kemampuan berpikir seseorang untuk memerlukan solusi
baru dari persoalan yang dihadapi. Mengingat pada dasarnya hanya melibatkan
usaha penyimpanan sesuatu yang telah dialami untuk suatu saat dikeluarkan
kembali atas permintaan, sedangkan memahami memerlukan pemerolehan apa
yang didengar dan dibaca serta meihat keterkaitan antara aspek-aspek dalam

1 Edwar De Bono, Mengajar Berpikir, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008),
h.54.

2 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,


(Jakarta: Kencana, 2008 ), Cet. 5, h. 23

9
10

memori. Berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang dialami seseorang bila
mereka dihadapkan pada suatu masalah atau situasi yang harus dipecahkan.3 Jadi
berpikir adalah suatu kegiatan mental yang dilakukan bukan hanya sekedar
mengingat dan memahami fakta tetapi sekaligus proses pencarian gagasan atau
ide ide untuk memperoleh pengetahuan dalam memecahkan masalah.
b. Kemampuan Berpikir Reflektif
Berpikir reflektif merupakan berpikir yang bermakna, yang didasarkan pada
alasan dan tujuan. Berpikir reflektif sebagai suatu jenis berpikir yang sangat
penting dalam proses pembelajaran. Berpikir reflektif tidak diperoleh dengan
mudah dan cepat, oleh karenanya perlu dilatih dan didukung oleh lingkungan
yang tepat.
Gagasan berpikir reflektif berasal dari teori yang dikemukakan John Dewey
tahun 1933.4 Dalam Trianto, Dewey mengemukakan suatu bagian dari metode
penelitiannya yang dikenal dengan berpikir reflektif (reflective thinking). Dewey
menganjurkan agar bentuk isi pelajaran hendaknya dimulai dari pengalaman siswa
dan berakhir pada pola struktur mata pelajaran.5 Dewey dalam Phan
mendefinsikan mengenai berpikir reflektif yang digunakan selama bertahun-tahun
adalah: active, persistent, and careful consideration of any belief or suppose
from of knowledge in the light of the grounds that support it and the conclusion to
wich it tends. Ia mengatakan bahwa berpikir reflektif adalah berpikir aktif, gigih
dan mempertimbangkan dengan seksama tentang segala sesuatu yang dipercaya
kebenarannya atau format yang diharapkan tentang pengetahuan apabila

3 Isrokatun,Creatif Problem Solving (CPS) Matematis, Prosiding Seminar Nasional


Matematika dan Pendidikan Matematika dengan tema Kontribusi Pendidikan Matematika dan
Matematika dalam Membangun Karakter Guru dan Siswa" Matematika FMIPA UNY, 10
November,2012, h.p-47.

4 Huy P Phan, Examination of student learning approaches, reflective thinking, and


epistemological beliefs: A latent variables, approachs. Electronic Journal of Research in
Educational Psychology, Vol 4 (3), No. 10, 2006, p.582,
(repositorio.ual.es:8080/jspui/bitstream/10835/659/1/Art_10_141.pdf).

5 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta : Kencana


Prenada Media Group, 2009), Edisi Pertama, Cetakan ke-6, h. 32
11

dipandang dari sudut pandang yang mendukungnya dan menuju pada suatu
kesimpulan.6
Menurut Sri Hastuti Noer, berpikir reflektif secara mental melibatkan proses-
proses kognitif untuk memahami faktor-faktor yang menimbulkan konflik pada
suatu situasi.7 Pemahaman awal siswa yang telah dimiliki dari proses
pembelajaran sebelumnya kemudian direfleksikan dengan pengetahuan yang baru
mereka peroleh. Refleksi membantu para siswa untuk mengembangkan
keterampilan-keterampilan berpikir tingkat tinggi. Dengan begitu siswa merasa
memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru
dipelajarinya.
Lebih lanjut, proses pertimbangan berpikir reflektif diperjelas bertahap oleh
Abdul Muin dalam definisinya yaitu kemampuan berpikir reflektif adalah
kemampuan yang jika dimiliki akan digunakan untuk memahami, mengkritik,
menguji, menemukan solusi alternatif dan mengevaluasi persoalan atau masalah
yang sedang dipelajari atau diperbincangkan.8Dari penjelasan tersebut, berpikir
reeflektif mementingkan adanya proses evaluasi dengan pertimbangan yang hati-
hati.
Berpikir reflektif juga dikatakan sebagai tujuan dan proses kegiatan yang
tepat saat individu menyadari untuk mengikuti, menganalisis dan mengevaluasi
pembelajarannya sendiri untuk mencapai tujuan pembelajaran, memotivasi,
mendapatkan makna yang mendalam, menggunakan strategi pembelajaran yang

6 H.P. Phan, Achivement Goals, The Classroom Environtment, And Reflective


Thinking A Conceptual Framework, dalam Electronic Journal Of Research in
Educational Psycology, No.16 Vol 6(3) 2008, h.578.

7 Annisa Rohyani. Pengaruh Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific terhadap


Peningkatan Kemampuan Berpikir Reflektif Matematis Siswa SMP. 2014. Program Studi
Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia.

8 Abdul Muin, The Situations That Can Bring Reflective Thinking Process In Mathematics
Learning, Makalah disampaikan pada Seminar Internasional dan Konferensi Nasional Pendidikan
Matematika ke IV Building the Nation Character through Humanistic Mathematics Education.
Departemen Pendidikan Matematika, UNY, Yogyakarta, 21-23 Juli 2011, pp.235.
12

tepat untuk menghasilkan pendekatan pembelajaran baru yang berdampak


langsung pada proses pembelajaran.9
Dari uraian tentang berpikir reflektif di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
kemampuan berpikir reflektif adalah kemampuan berpikir siswa untuk
menghubungkan pengetahuan sebelumnya dalam menganalisis, menilai, membuat
keputusan, mengevaluasi persoalan atau masalah dengan pertimbangan yang hati-
hati untuk mendapatkan suatu kesimpulan.
c. Indikator Kemampuan Berpikir Reflektif Matematis
Untuk mengukur kemampuan berpikir reflektif matematis siswa, digunakan
ketentuan penlaian berupa indikator kemampuan berpikir reflektif matematis
siswa. Dienes mengartikan berpikir matematis berkenaan dengan penyeleksian
himpunan himpunan unsur matematika, dan himpunan-himpunan ini menjadi
unsur-unsur dari himpunan-himpunan baru membentuk himpunan-himpunan baru
yang lebih rumit dan seterusnya.10
Secara operasional Abdul Muin, Yaya S. Kusumah, dan Utari Sumarmo
berpendapat bahwa berpikir reflektif matematis dalam pembelajaran matematika
dapat diartikan sebagai proses berpikir yang menunjukkan kemampuan seseorang
dalam:11
1) Mendeskripsikan situasi atau masalah matematik, yaitu menjelaskan situasi
atau masalah yang diberikan menggunakan konsep matematika yang terkait.
2) Mengidentifikasi situasi atau masalah matematik, yaitu memilih dan
menentukan konsep dan atau rumus matematika yang terlibat dalam soal
matematika yang tidak sederhana.

9 Aysun Gurol,Determining the Reflective Thinking Skills of Pre-service Teacher in


Learning and Teaching Process, Energy Education Science and Technology Part B:
Social and Educational Studies, Firat University Faculty of Education Turkey, 2011,
h.387.

10 Herman Hudojo, Pengembangan Kurikulum Dan Pembelajaran Matematika,


(Surabaya: Universitas Negeri Malang, 2005), h. 63.

11 Abdul Muin, Yaya S Kusumah, Utari Sumarmo, Mengidentifikasi Kemampuan


Berpikir Reflektif Matematik, Makalah disampaikan pada KNM XVI, UNPAD,
Jatinangor, 3-6 Juli 2012, pp. 1356.
13

3) Menginterpretasi, yaitu memberikan penafsiran tentang suatu situasi masalah


berdasarkan konsep yang terlibat di dalamnya.
4) Mengevaluasi, yaitu menyelidiki kebenaran suatu argument berdasarkan
konsep yang digunakan.
5) Memprediksi cara penyelesaian, yaitu memperkirakan suatu penyelesaian
masalah atau alternative penyelesaian lain menggunakan konsep matematika
yang sesuai.
6) Membuat kesimpulan, yaitu membuat keputusan secara umum mengenai suatu
masalah menggunakan konsep matematika yang sesuai.
Dalam Disertasi Dr. Sri Hastuti Noer, M.Pd menguraikan, bahwa berpikir
reflektif matematis adalah kemampuan mengidentifikasi apa yang dipelajari,
menerapkan pengetahuan matematis yang dimiliki dalam situasi-situasi yang lain,
memodifikasi pemahaman berdasarkan informasi dan pengalaman-pengalaman
baru yang meliputi 3 fase yaitu: 1) Reacting, 2) Comparing, dan 3)
Contemplating. Reacting (Berpikir reflektif untuk aksi) adalah bereaksi dengan
perhatian terhadap peristiwa/situasi/masalah matematis, dengan berfokus pada
sifat alami situasi. Comparing (Berpikir reflektif untuk evaluasi) adalah berpikir
yang berpusat pada analisis dan klarifikasi pengalaman individual, makna, dan
asumsi-asumsi untuk mengevaluasi tindakan-tindakan dan apa yang diyakini
dengan cara membandingkan reaksi dengan pengalaman yang lain, seperti
mengacu pada suatu prinsip umum, suatu teori. Contemplating (Berpikir reflektif
untuk inkuiri kritis) merupakan proses berpikir yang mengutamakan
pembangunan pemahaman diri yang mendalam terhadap permasalahan, seperti
mengutamakan isu-isu pembelajaran, metode-metode latihan, tujuan selanjutnya,
sikap, etika. Dalam hal ini memfokuskan pada suatu tingkatan pribadi dalam
proses-proses seperti menguraikan, menginformasikan, mempertentangkan, dan
merekontruksi situasi-situasi.12

12 Sri Hastuti Noer. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis, Kreatif, dan Reflektif
(K2R) Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. 2010. Program
Studi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia.
14

Lee membagi level berpikir reflektif menjadi tiga kategori yaitu Recall,
Rationalization, dan Reflectivity:
Recall level (R1): one describes what they experienced, interprets the
situation based on recalling their experiences without looking for alternative
explanations, and attempts to imitate ways that they have observed or were
taught. Rationalization level (R2): one looks for relationships between
pieces of their experiences, interprets the situation with rationale, searches for
why it was, and generalizes their experiences or comes up with guiding
principles. Reflectivity level (R3): one approaches their experiences with the
intention of changing/improving in the future, analyzes their experiences from
various perspectives, and is able to see the influence of their cooperating
teachers on their students values/behavior/achievement.13

Ketiga kriteria untuk mengakses kedalaman berpikir reflektif menurut Lee


tersebut dijelaskan oleh Abdul Muin sebagai berikut:14

1) Level 1 Recall (R1): mengingat fakta, meliputi aspek-aspek:


a) Menggambarkan apa yang dialami,
b) Menginterpretasikan situasi berdasarkan ingatan terhadap pengalamannya
tanpa memberikan penjelasan,
c) Mencoba mencari cara lain yang mirip (imitasi) yang telah dialami dan
dipikirkan.
2) Level 2 Rationalization (R2): Rasionalisasi hubungan, meliputi aspek-aspek:
a) Mencari hubungan antara bagian-bagian dari pengalaman,
b) Menginterpretasikan dengan penjelasan (rasionalisasi),
c) Mencari informasi mengapa hal itu terjadi dan menggeneralisasi
pengalaman yang diperoleh
3) Level 3 Reflectivity (R3): reflektivitas, meliputi aspek-aspek:
a) Melakukan pendekatan terhadap pengalaman untuk memprediksi,
b) Menganalisis pengalaman dari sudut pandang yang berbeda
c) Membuat keputusan dari pengalaman yang diperoleh.

13 Hea-Jin Lee, Understanding and Assessing Preservice Teachers Reflective


Thinking, Journal for Teaching and Teacher Education, 2005, p.703.

14 Abdul Muin, dkk, op.cit., p.1356.


15

Dari beberapa aspek kemampuan berpikir reflektif yang telah diuraikan


diatas, maka indikator kemampuan berpikir reflektif matematis yang digunakan
dalam penelitian ini mencakup tiga indikator kemampuan berpikir reflektif
matematis secara operasional dalam pembelajaran matematika yang dikemukakan
oleh Sri Hastuti Noer yaitu: (1) Reacting, berpikir reflektif untuk aksi. Menuliskan
sifat-sifat yang dimiliki oleh situasi kemudian menjawab permasalahan. (2)
Comparing, berpikir reflektif untuk evaluasi. Membandingkan suatu reaksi
dengan prinsip umum atau teori dengan memberi alasan kenapa memilih tindakan
tersebut. (3) Contemplating, berpikir untuk inkuiri kritis. Menginformasikan
jawaban berdasarkan situasi masalah, mempertentangkan jawaban dengan
jawaban lain atau merekonstruksi situasi-situasi.

2. Metode Cornell Note-Taking


Menulis melibatkan keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang dalam
mengungkapkan gagasan melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami
secara tepat seperti yang dimaksudkan oleh penulis. Menulis merupakan kegiatan
mengekspresikan gagasan, pendapat, angan-angan, perasaan dan sikap melalui
tanda grafis. Kegiatan dalam menulis meliputi langkah berikut:
1. Kegiatan Pramenulis
2. Kegiatan penyusunan buram
3. Kegiatan merevisi dan menyunting
4. Kegiatan publikasi
5. Kegiatan refleksi
Kegiatan pra menulis meliputi segala sesuatu yang terjadi sebelum proses
penulisan. Proses tersebut diantaranya adalah menggali, mengingat,
memunculkan, dan menghubung-hubungkan atau mengaitkan antar konsep atau
gagasan. Dalam konteks pembelajaran, untuk mengembangkan skemata dan
pengalaman siswa dapat dilakukan dengan cara membaca, mengobservasi,
menyimak, berdiskusi, ramu pendapat, dan sebagainya. Dalam kerja kelompok
16

kegiatan pramenulis dapat dilakukan dengan brainstorming atau berdiskusi


tentang hal-hal yang akan ditulis.
Kegiatan penyusunan catatan yang merupakan usaha mengkreasi atau
mengkonstruksi tulisan secara utuh. Seperti menyisakan ruang untuk kata-kata
yang belum ditulis, menggunakan catatan untuk tetap fokus.
Setelah itu kegiatan merevisi dan menyunting kegiatan untuk berpikir,
melihat, dan mengkontruksi kembali tulisan yang sudah disusun. Revisi
merupakan sktivitas yang berlangsung terus menerus, baik pada saat pramenulis
maupun pada saat penyusunan tulisan. Penulis harus memperhatikan dengan baik
apakah ie-ide sudah diungkapkan secara jelas, runtut dan lengkap, menghapus
yang tidak diperlukan. Serta menyusun tulisan agar mudah dipahami.
Dari kegiatan merevisi dan menyunting, dilanjutkan dengan kegiatan
publikasi yang merupakan perayaan bagi siswa untuk menampilkan hasil
tulisannya. Publikasinya dapat berupa menggandakan hasilnya untuk teman
kelasnya, menampilkan di papan kelas (majalah dinding) ataupun dapat
mempresentasikan secara verbal.
Yang terakhir adalah kegiatan refleksi. Bagian ini adalah kunci dari
kesuksesan dari menulis. Karena pada bagian ini, penulis melihat lagi ke belakang
bagaimana penulisannya, apakah sudah tepat, bagaimana hasil tulisannya.
Bertanya pada diri sendiri untuk memperbaiki tulisan tersebut.
Tujuan dari aktifitas menulis adalah sebagai sarana berkomunikasi,
merangsang pikiran dan menata serta memperjelas pemikiran.15 Adapun manfaat
menulis catatan atau ringkasan menurut Sudarmanto diantaranya adalah
membantu mengingat ide atau fakta dan membedakan ide atau gagasan yang
berlawanan.16 Dalam hal ini sangat penting bagi siswa mengungkapkan pikiran,
ide, dan gagasan mereka dengan cara mengkomunikasikannya melalui kegiatan
menulis.
15 Ali Mahmudi, Menulis sebagai Strategi Belajar Matematika, Makalah
disampaikan pada Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika, Jurusan
Pendidikan Matematika FMIPA UNY, Yogyakarta, 5 Desember 2009.

16 Iif Khoiru Ahmadi, dkk., Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu, (Jakarta: PT.
Prestasi Pustakaraya, 2011), cet 1, h 154
17

Dierich membagi kegiatan belajar dalam delapan kelompok, diantaranya,


kegiatan menulis, seperti: menulis cerita, menulis laporan, membuat rangkuman,
mengisi angket dan kegiatan menggambar, seperti: membuat grafik, chart,
diagram, peta dan pola.17 Hal ini sejalan dengan pendapat Whipple yang
mengemukan kegiatan belajar itu terdiri dari kegiatan mempelajari gambar-
gambar, mencatat pertanyaan-pertanyaan yang menarik minat, menulis tabel, dan
menulis catatan-catatan sebagai persiapan diskusi dan laporan.18 Menurut
pendapat dua ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa menulis merupakan
kegiatan yang dilakukan siswa dalam belajar.
Dapat disimpulkan bahwa, menulis matematik adalah kegiatan memaparkan
ide matematik dan proses berpikir dalam menyelesaikan suatu masalah dalam
matematika dengan mengikuti prinsip-prinsip penulisan dalam matematika.
Mencatat adalah keterampilan yang sulit namun penting, terutama mengingat
banyaknya pelajaran pada sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah atas, bahkan
perguruan tinggi. Sebagian besar materi yang disajikan di kelas diberikan melalui
ceramah. Siswa harus mampu mendengarkan dan melihat saat menulis ide-ide
utama dan rincian dari pelajaran yang disampaikan, sambil pencocokan informasi
baru dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya untuk pemahaman. Kualitas
catatan yang tinggi berkontribusi untuk pemahaman dan review yang lebih baik,
yang dapat menyebabkan lebih tinggi prestasi dan retensi yang lebih baik dari
pengetahuan.19
Note Taking adalah strategi yang umum digunakan oleh siswa untuk
mengumpulkan informasi dari ruang kelas. You forget almost half of what you
hear or read within an hour, yang dimaksud sering kali kita hampir lupa atau

17 Ibid, h. 84

18 Ibid., h.86

19 Mari Borr, dkk., The Impact of the Cornell Note-Taking Method on Students
Performance in a High School Family Consumer Sciences Claass, Journal of Family &
Consumer Sciences Education, 2012.
18

bahkan melupakan setengah dari apa yang kita dengar atau baca dalam waktu satu
jam.20
Guru sering meminta siswa untuk mencatat atau menyalin apa yang
dijelaskan oleh guru. Beberapa meminta catatan sebagai bukti menyelesaikan
tugas mandiri. Selain itu, catatan dapat berguna sebagai alat review sebelum
penilaian. Keterampilan ini perlu diajarkan dengan penjelasan yang jelas,
pemodelan guru, dipandu praktek, dan umpan balik. Seperti halnya strategi lain,
siswa harus mencapai tingkat efisiensi sebelum mereka diharapkan untuk
menggunakan strategi secara indpenden.21
Cornel Note-Taking merupakan sebuah catatan terstruktur. Dimana dalam
setiap pertemuan pembelajaran siswa membuat selembar catatan. Satu lembar
catatan dibagi menjadi tiga kolom. Cornell Note-Taking memiliki 6 tahap, yaitu :
1) Record, menuliskan fakta-fakta, ide-ide atau symbol, sketsa, diagram di sisi
atau kolom sebelah kanan kertas dari apa yang mereka dengar dan baca.

2) Reduce or Question, menuliskan pada sisi kiri yaitu kolom kata kunci atau
frase, pertanyaan yang mungkin menuntun ke pelajaran, atau komentar tentang
materi yang telah mereka pahami menggunakan kata siswa sendiri bukan
hanya disalin dari teks atau catatan guru.

3) Recite, membandingkan catatan dan berbagai rincian penting. Murid-murid


melengkapi catatan-catatan dan membaca kata kunci dan pertanyaan dari
kolom kiri.

4) Reflect, memberikan kesempatan untuk membuat hubungan informasi yang


belum jelas. Refleksi diperlukan untuk mengklarifikasi informasi yang
kontradiktif, mengkategorikan informasi baru, dan mengembangkan
pemahaman global dari konsep individu.

20 Indiana Career and Postsecondary Advancement Center, Better study skills for
better graes and real learning. ICPAC information series, diambil dari
http://www.eric.ed.gov/PDFS/ED395905.pdf

21 Trisha Brunner dan Sarah Kartchner Clark. Writing Strategies for Mathematics
Second Edition, Shell Educatin : 2014, h. 123.
19

5) Review, memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan catatan


mereka sebagai alat belajar dan ringkasan harian dari apa yang telah mereka
pelajari.

6) Recapitulation, pada bagian bawah setiap halaman, siswa meringkas gagasan


utama dari halaman tersebut. Siswa perlu menggunakan kalimat lengkap dan
menempatkan ide-ide ke dalam kata mereka sendiri. Langkah ini membawa
pembelajaran ke dalam tahap yang lebih dalam.
20

Gambar 2.1
Format Cornell Note-Taking

3. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional masih sering digunakan oleh guru-guru pada
umumnya. Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang lebih terpusat
pada guru. Siswa hanya mendengarkan penjelasan materi yang disampaikan oleh
guru sehingga siswa menjadi pasif dalam kegiatan pembelajaran. Metode yang
sering digunakan dalam pembelajaran ini adalah ekspositori.
Prosedur yang digunakan dalam menerapkan metode ekspositori dalam
pembelajaran matematika yaitu:22
a. Guru memberikan informasi materi yang dibahas dengan metode ceramah,
kemudian memberikan uraian dan contoh soal yang dikerjakan dipapan tulis
secara interaktif dan komunikatif dengan metode demonstrasi. Kemudian guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dengan metode tanya
jawab. Lalu mereka mengerjakan soal yang diberikan guru sambil guru
berkeliling memeriksa pekerjaan siswa. Salah seorang ditugaskan
mengerjakan soal dipapan tulis.
b. Guru memberikan rangkuman yang bisa ditugaskan kepada siswa untuk
membuat rangkumannya, atau guru yang membuat rangkuman atau guru
bersama-sama siswa membuat rangkuman.

22 H.M. Ali Hamzah dan Muhlisrarini, Perencanaan dan Strategi Pembelajaran


Matematika,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), h. 272-273.
21

B. Penelitian Relevan
1. Penelitian Sri Hastuti Noer tahun 2010 berjudul Peningkatan Kemampuan
Berpikir Kritis, Kreatif, dan Reflektif (K2R) Matematis Siswa SMP Melalui
Pembelajaran Berbasis Masalah. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan
bahwa : (1) kualitas peningkatan kemampuan berpikir K2R matematis dan
kemandirian belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika
dengan menggunakan PBM lebih baik daripada siswa yang pembelajaran
matematikanya secara konvensional, (2) tidak terdapat interaksi antara
pembelajaran dan faktor-faktor (peringkat sekolah, perbedaan gender,
pengetahuan awal matematis) pada kemampuan berpikir K2R matematis dan
kemandirian belajar siswa.
2. Penelitian Duane Broe tahun 2013 berjudul The Effects of Teaching
Cornell Notes on Student Achievement. Penelitian ini menghasilkan
kesimpulan bahwa terdapat peningkatan prestasi siswa pada kelas Aljabar II
dengan membandingkan hasil kuis, tes dan pemeriksaan catatan terhadap
kelas yang diajarkan menggunakan Cornell Notes.

C. Kerangka Berpikir
Kemampuan berpikir reflektif adalah kemampuan berpikir untuk aksi
(reacting) maksudnya menuliskan sifat-sifat yang dimiliki oleh situasi kemudian
menjawab permasalahan; berpikir untuk evaluasi (comparing) maksudnya
berpikir yang berpusat pada analisis dan klarifikasi pengalaman individual, makna
dengan cara membandingkan suatu reaksi dengan prinsip umum atau teori dengan
memberikan alasan kenapa memilih tindakan tersebut, dan berpikir untuk inkuiri
kritis (contemplating) maksudnya berpikir yang mengutamakan pembangunan
pemahaman diri yang mendalam terhadap permasalahan seperti menguraikan,
menginformasikan situasi. Dalam meningkatkan kemampuan berpikir reflektif
siswa terhadap pelajaran matematika, guru harus mampu menciptakan suasana
belajar yang optimal salah satunya dengan menerapkan pembelajaran yang
mampu menuntut siswa untuk aktif dalam pembelajaran dan membentuk
pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri.
22

Untuk mengembangkan kemampuan berfikir reflektif matematis siswa


dibutuhkan satu metode pembelajaran yang mampu membentuk pengetahuan
dalam pikiran mereka sendiri. Salah satu metode yang di perkirakan mampu
mengembangkan mengembangkan kemampuan berpikir reflektif siswa adalah
metode Cornell Note-taking.

Pada tahap record, siswa menuliskan semua fakta-fakta atau ide-ide yang
mereka dengar dan mereka tangkap dari materi atau permasalahan yang diberikan.
Ini berarti siswa berfikir reflektif untuk aksi (reacting) dengan bereaksi pada
perhatian pribadi terhadap peristiwa/situasi/masalah. Menuliskan pada sisi kiri
yaitu kolom kata kunci atau frase, pertanyaan yang mungkin menuntun ke
pelajaran, atau komentar tentang materi yang telah mereka pahami menggunakan
kata siswa sendiri bukan hanya disalin dari teks atau catatan guru pada tahap
reduce or question. Siswa dilatih untuk berfikir reflektif untuk evaluasi
(comparing), klarifikasi pengalaman individual, membandingkan pengalaman
yang baru diapat dengan yang sudah dimiliki. Recite, siswa membandingkan
catatan dengan berbagai rincian penting. Siswa memberikan penafsiran secara
tepat berdasarkan konsep yang terlibat didalamnya, ini juga melatih siswa untuk
berfikir reflektif untuk evaluasi. Reflect, memberikan kesempatan untuk membuat
hubungan informasi yang belum jelas. Refleksi diperlukan untuk mengklarifikasi
informasi yang kontradiktif, mengkategorikan informasi baru, dan
mengembangkan pemahaman global dari konsep individu. Berpikir reflektif untuk
inkuiri kritis (contemplating), menguraikan, menginformasikan,
mempertentangkan dan merekonstruksi situasi pada tahap reflect.
Metode
ReviewNote-Taking
Cornell dan recapitulation, mengevaluasi dan mengkaji kembali apa yang
telah mereka pelajari serta menuliskannya sebagai sebuah ringkasan pada kolom
aking
bawah dengan kalimat atau kata-kata mereka sendiri sebagai gagasan utama
adalah suatu aksi (reacting) terhadap peristiwa/situasi/masalah matematis yang
telah mereka alami.
Dengan bagan, kerangka berpikir penelitian dapat disajikan sebagai berikut:
Record
Reduce or Question
Recite Reacting (berpikir reflektif untuk aksi)
Comparing Kemampuan
(berpikir reflektif berpikir reflektif matematis meningka
untuk evaluasi)
Reflect
Review Contemplating (berpikir reflektif untuk inkuiri kritis)
Recapitulation
23

Gambar 2.2
Kerangka Berpikir Penelitian

D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan deskripsi teoritis dan kerangka berpikir diatas maka dalam
penelitian yang akan dilaksanakan dapat diajukan hipotesis yakni kemampuan
berpikir reflektif matematis siswa yang diajarkan dengan metode Cornell-
Note Taking lebih tinggi daripada kemampuan berpikir reflektif matematis
siswa yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional.