Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF

(DEMENSIA) PADA LANSIA

Disusun oleh :

Icha Safitri Dewi P1337420314054

Sinta Yulafifah P1337420314061

Kiki Sri Rejeki P1337420314069

Amin Nur Rozaq P1337420314075

Siti Nurjanah P1337420314079

3 Reguler B

POLTEKKES KEMENKES SEMARANG


PRODI D-III KEPERAWATAN PEKALONGAN
2016

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami bisa
menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik.

Tugas makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Gangguan Fungsi


Kognitif (Demensia) Pada Lansia disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah
Keperawatan gerontik tahun pelajaran 2016.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Sri Hidayati S.Kep. Ners M.Kes selaku dosen mata kuliah
keperawatan gerontik yang telah membimbing dalam kegiatan belajar
mengajar.
2. Semua pihak yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan makalah
yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari makalah ini masih banyak kesalahan, baik dalam
penulisan maupun informasi yang terkandung didalam makalah ini, oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik maupun saran yang membangun demi perbaikan
dan kesempurnaan dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini bisa
memberikan manfaat bagi kita semua.

Pekalongan, 2 Oktober 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .....


1
KATA PENGANTAR ...
2
DAFTAR ISI ..................
3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......

4
1.2 Rumusan Masalah .............

5
1.3 Tujuan ....

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi.................................................

7
2.2 Etiologi.........

7
2.3 Klasifikasi ................

8
2.4 Manifestiasi klinik ....................

11
2.5 Patofisiologi .............

11
2.6 Penatalaksanaan ........................

12
2.7 Pencegahan .......................

3
14
2.8 Pemeriksaan Diagnostik............................................

14

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN DEMENSIA PADA


LANSIA
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan.............................................................................

33

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................


34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Definisi demensia menurut WHO adalah sindrom neurodegeneratif yang


timbul karena adanya kelainan yang bersifat kronis dan progesifitas disertai
dengan gangguan fungsi luhur multiple seperti kalkulasi, kapasitas belajar,
bahasa, dan mengambil keputusan. Kesadaran pada demensia tidak
terganggu. Gangguan fungsi kognitif biasanya disertai dengan perburukan
kontrol emosi, perilaku, dan motivasi.
Jenis demensia yang paling lazim ditemui berikutnya adalah demensia
vaskuler,yang secara kausatif dikaitkan dengan penyakit serebrovaskuler.
Hipertensi merupakan faktor predisposisi bagi seseorang untuk menderita
demensia. Demensia vaskuler meliputi 15 hingga 30persen dari seluruh kasus
demensia. Demensia vaskuler paling sering ditemui pada seseorang yang

4
berusia antara 60 hingga 70 tahun dan lebih sering pada laki-laki daripada
wanita. sekitar 10 hingga 15 persen pasien menderita kedua jenis demensia
tersebut.
Prevalensi demensia semakin meningkat dengan bertambahnya usia.
Prevalensi demensia sedang hingga berat bervariasi pada tiap kelompok usia.
Pada kelompok usiadiatas 65 tahun prevalensi demensia sedang hingga berat
mencapai 5 persen, sedangkan pada kelompok usia diatas 85 tahun
prevalensinya mencapai 20 hingga 40 persen.
Dari seluruh pasien yang menderita demensia, 50 hingga 60 persen
diantaranya menderita jenis demensia yang paling sering dijumpai, yaitu
demensia tipe Alzheimers (Alzheimers diseases). Prevalensi demensia tipe
alzheimers meningkat seiring bertambahnya usia. Untuk seseorang yang
berusia 65 tahun prevalensinya adalah 0,6 persen pada pria dan 0,8 persen
pada wanita. Pada usia 90 tahun, prevalensinya mencapai 21 persen. Pasien
dengan demensia tipe Alzheimer membutuhkan lebih dari 50 persen
perawatan rumah (nursing home bed) .
Lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berumur 60 tahun
atau lebih (WHO, 1965). Saat ini di seluruh dunia jumlah lanjut usia di
perkirakan mencapai 500 juta dan di perkirakan pada tahun 2025 akan
mencapai 1,2 milyar. Di Indonesia sendiri pada tahun 2000, jumlah lansia
meningkat mencapai 9,99% dari seluruh penduduk Indonesia (22.277.700
jiwa) dengan umur harapan hidup usia 65-70 tahun dan pada tahun 2020 di
perkirakan akan mencapai 30 juta orang dengan umur harapan hidup 70-75
tahun ( Widagdo, 2008 ).
Di Indonesia sendiri, menurut data profil kesehatan yang di laporkan oleh
departemen kesehatan tahun 1998, terdapat 7,2 % populasi usia lanjut 60
tahun keatas kasus demensia (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta).
Peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan
meningkatnya harapan hidup suatu populasi. Kira kira 5 % usia lanjut 65
-70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun
mencapai lebih 45 % pada usia di atas 85 tahun. Penyakit ini adalah penyebab
yang paling umum dari gangguan intelektual yang berat pada orang lanjut

5
usia dan kenyataannya merupakan suatu masalah dalam perawatan orang usia
lanjut di rumah ( Maryam, 2012 ).

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pengertian demensia?
2. Bagaimana etiologi demensia ?
3. Bagaimana klasifikasi demensia ?
4. Bagaimana manifestasi klinis ?
5. Bagaimana patofisiologi demensia?
6. Bagaimana penatalaksanaan pada klien demensia?
7. Bagaimana pencegahan dan perawatan pada klien demensia?
8. Bagaimana pemeriksaan fisik pada klien dengan demensia?
9. Bagaimana Askep teoritis pada klien dengan demensia?
1.3 Tujuan
1. Untuk lebih memahami tentang pengertian demensia
2. Untuk menambah pengetahuan tentang etiologi demensia
3. Untuk lebih mengetahui tentang klasifikasi demensia
4. Untuk lebih mengetahui tentang manifestasi klinis tentang demensia
5. Untuk lebih mengetahui tentang patofisiologi demensia
6. Untuk lebih mengetahui tentang penatalaksanaan pada klien demensia
7. Untuk lebih mengetahui tentang pencegahan dan perawatan pada klien
dengan demensia
8. Untuk lebih mengetahui tentang pemeriksaan diagnostik pada klien dengan
demensia
9. Untuk lebih mengetahui tentang konsep asuhan keperawatan teoritis pada
klien dengan demensia

6
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Demensia
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan
fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. Gangguan fungsi kognitif antara
lain pada intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah,
orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi, penyesuaian, dan kemampuan
bersosialisasi. (Arif Mansjoer, 1999)
Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan fungsi
vegetatif atau keadaan yang terjadi. Memori, pengetahuan umum, pikiran
abstrak, penilaian, dan interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat
terganggu. (Elizabeth J. Corwin, 2009)
Demensia adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan
kerusakan fungsi kognitif global yang biasanya bersifat progresif dan
mempengaruhi aktivitas social dan okupasi yang normal juga aktivitas
kehidupan sehari-hari (AKS). Sindrom demensia dapat didefinisikan sebagai
deteriorasi kapasitas intelektual dapat diakibatkan oleh pnyakit di otak.
Sindrom ini ditandai olah gangguan kognitif, emosional, dan psikomotor.
(Lumbantobing, 2006).

B. Etiologi
1. Penyebab utama dari penyakit demensia adalah penyakit alzheimer, yang
penyebabnya sendiri belum diketahui secara pasti, namun diduga penyakit
Alzheimer disebabkan karena adanya kelainan faktor genetik atau adanya
kelainan gen tertentu. Pada penyakit alzheimer, beberapa bagian otak
mengalami kemunduran, sehingga terjadi kerusakan sel dan berkurangnya
respon terhadap bahan kimia yang menyalurkan sinyal di dalam otak. Di
dalam otak ditemukan jaringan abnormal (disebut plak senilis dan serabut
saraf yang semrawut) dan protein abnormal, yang bisa terlihat pada otopsi.
2. Penyebab kedua dari Demensia yaitu, serangan stroke yang berturut-turut.
Stroke tunggal yang ukurannya kecil dan menyebabkan kelemahan yang

7
ringan atau kelemahan yang timbul secara perlahan. Stroke kecil ini secara
bertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak, daerah otak yang
mengalami kerusakan akibat tersumbatnya aliran darah yang disebut
dengan infark. Demensia yang disebabkan oleh stroke kecil disebut
demensia multi-infark. Sebagian penderitanya memiliki tekanan darah
tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan kerusakan
pembuluh darah di otak.

C. Klasifikasi
Demensia dapat dibagi dalam 3 tipe yaitu :
a. Demensia Kortikal dan Sub Kortikal
1) Demensia Kortikal
Merupakan demensia yang muncul dari kelainan yang terjadi
pada korteks serebri substansia grisea yang berperan penting
terhadap proses kognitif seperti daya ingat dan bahasa. Beberapa
penyakit yang dapat menyebabkan demensia kortikal adalah
Penyakit Alzheimer, Penyakit Vaskular, Penyakit Lewy Bodies,
sindroma Korsakoff, ensefalopati Wernicke, Penyakit Pick,
Penyakit Creutzfelt-Jakob.
2) Demensia Subkortikal
Merupakan demensia yang termasuk non-Alzheimer, muncul
dari kelainan yang terjadi pada korteks serebri substansia alba.
Biasanya tidak didapatkan gangguan daya ingat dan bahasa.
Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan demensia kortikal
adalah penyakit Huntington, hipotiroid, Parkinson, kekurangan
vitamin B1, B12, Folate, sifilis, hematoma subdural, hiperkalsemia,
hipoglikemia, penyakit Coeliac, AIDS, gagal hepar, ginjal, nafas,
dll.

b. Demensia Reversibel dan Non reversibel


1) Demensia Reversibel
Merupakan demensia dengan faktor penyebab yang dapat
diobati. Yang termasuk faktor penyebab yang dapat bersifat
reversibel adalah keadaan/penyakit yang muncul dari proses
inflamasi (ensefalopati SLE, sifilis), atau dari proses keracunan

8
(intoksikasi alkohol, bahan kimia lainnya), gangguan metabolik
dan nutrisi (hipo atau hipertiroid, defisiensi vitamin B1, B12,
dll).
2) Demensia Non Reversibel
Merupakan demensia dengan faktor penyebab yang tidak
dapat diobati dan bersifat kronik progresif. Beberapa penyakit
dasar yang dapat menimbulkan demensia ini adalah penyakit
Alzheimer, Parkinson, Huntington, Pick, Creutzfelt-Jakob, serta
vaskular.
c. Demensia Pre Senilis dan Senilis
1) Demensia Pre Senilis merupakan demensia yang dapat terjadi
pada golongan umur lebih muda (onset dini) yaitu umur 40-50
tahun dan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis yang
dapat mempengaruhi fungsi jaringan otak (penyakit
degeneratif pada sistem saraf pusat, penyebab intra kranial,
penyebab vaskular, gangguan metabolik dan endokrin,
gangguan nutrisi, penyebab trauma, infeksi dan kondisi lain
yang berhubungan, penyebab toksik (keracunan), anoksia).
2) Demensia Senilis merupakan demensia yang muncul setelah
umur 65 tahun. Biasanya terjadi akibat perubahan dan
degenerasi jaringan otak yang diikuti dengan adanya gambaran
deteriorasi mental.

Demensia berdasakan Etiologi yang mendasari :


1. Demensia pada Penyakit Alzheimer
Merupakan penyebab demensia yang paling sering ditemukan pada
sekitar 50 % kasus demensia. Penyakit Alzheimer merupakan penyakit
degeneratif primer pada otak tanpa penyebab yang pasti. Dapat terjadi
pada umur kurang dari 65 tahun (onset dini) dengan perkembangan
gejala yang cepat dan progresif, atau pada umur di atas 65 tahun (onset
lambat) dengan perjalanan penyakit yang lebih lambat. Pada penyakit
ini terjadi deposit protein abnormal yang menyebabkan kerusakan sel

9
otak dan penurunan jumlah neuron hippokampus yang mengatur fungsi
daya ingat dan mental. Kadar neurotransmiter juga ditemukan lebih
rendah dari normal.
Gejala yang ditemukan pada penyakit Alzheimer adalah 4A yaitu:
Amnesia : Ketidakmampuan untuk belajar dan mengingat kembali
informasi baru yang didapat sebelumnya.
Agnosia : Gagal mengenali atau mengidentifikasi objek walaupun
fungsi sensorisnya masih baik.
Aphasia : Gangguan berbahasa yaitu gangguan dalam mengerti dan
mengutarakan kata kata yang akan diucapkan.
Apraxia : Ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas motorik
walaupun fungsi motorik masih baik (contohnya mampu memegang
gagang pintu tapi tak tahu apa yang harus dilakukannya).
2. Demensia Vaskular
Merupakan penyebab kedua demensia yang terjadi pada hampir 40
% kasus. Demensia ini berhubungan dengan penyakit serebro dan
kardiovaskuler seperti hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung,
diabetes, dll. Biasanya terdapat riwayat TIA sebelumnya dengan
perubahan kesadaran. Demensia ini terjadi pada umur 50-60 tahun
tetapi lebih sering pada umur 60-70 tahun. Gambaran klinis dapat
berupa gangguan fungsi kognitif, gangguan daya ingat, defisit
intelektual, adanya tanda gangguan neurologis fokal, aphasia,
disarthria, disphagia, sakit kepala, pusing, kelemahan, perubahan
kepribadian, tetapi daya tilik diri dan daya nilai masih baik.

D. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan Gejala dari Penyakit Demensia antara lain :
a. Rusaknya seluruh jajaran fungsi kognitif.
b. Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek.
c. Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang.
d. Keterbatasan dalam ADL (Activities of Daily Living)

10
e. Tidak bisa pulang kerumah bila bepergian.
f. Sulit mandi, makan, berpakaian dan toileting.
g. Mudah terjatuh dan keseimbangan buruk.
h. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia,
lupa menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
i. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu,
bulan, tahun, tempat penderita demensia berada
j. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang
benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi,
mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali
k. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat
sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang
dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan.
Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-
perasaan tersebut muncul.
l. Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan
gelisah

E. PATOFISIOLOGI
Pada awalnya penyakit ini merusak sel saraf-saraf pada bagian otak
yang mengatur memori, khususnya pada hipotelamus dan struktur yang
berhubungan dengannya. Saat sel-sel saraf hipotelamus berhenti berfungsi
sebagaimana mestinya, terjadi kegagalan daya ingat jangka pendek,
dilanjutkan dengan kegagalan kemampuan orang untuk melakukan
perbuatan udah dan tugas-tugas biasa. Penyakit ini juga mengenai korteks
serebri, khususnya daerah yang bertanggung jawab terhadap bahasa dan
pemikiran. Hilangya kemampuan berbahasa, menurukan kemampuan
seseorang untuk membuat keputusan, dan timbul perubahan kepribadian.
Emosi yang meledak-ledak dan gangguan perilaku, seperti berjalan tampa
tujuan dan agitasi mulai timbul, dan lambat laun semakin sering seiring
jalannya penyakit ( Sylvia, 2005)

11
Akhirnya banyak daerah yang terlibat, bagian atrofi dan pada pasien
ini biasanya tidak mampu berinteraksi dengan orang lain, dan sangat
bergantung pada orang lain untuk melakukan tugas pribadi yang paling
mendasar, seperti makan, minum, BAK BAB. Secara makroskopik,
perubahan otak penyakit ini melibatkan kerusakan berat neuron korteks
dan hipotelamus, serta penimbunan amoloid dalam pembuluh darah
intrakranial. Secara mikroskopik, terdapat perubahan marfologis dan
biokimia pada neuron-neuron. Perubahan marfologis terdiri dari dua ciri
khas lesi yang pada akhirnya berkembang menjadi degenerasi soma, akson
dan dendrit neuron ( Wiwik, 2005).
Satu tanda lesi adalah kekusutan neurofibrilaris, yaitu struktur
intraselular yang berisi serat kusut, melintir, yang sebagian besar terdiri
dari protein. Dalam sistem saraf pusat , protein ini sebagian besar telah
dipelajari sebagai penghambat pembentuk struktural yang berkait dalam
menstabikan mikrotubulus dan merupakan komponen penting dari
sitoskleton sel neuronal (Muttaqin, 2008).

F. PENATALAKSANAAN
a. Farmakoterapi
1) Untuk mengobati demensia alzheimer digunakan obat - obatan
antikoliesterase seperti Donepezil , Rivastigmine , Galantamine ,
Memantine
2) Dementia vaskuler membutuhkan obat -obatan anti platelet
seperti Aspirin , Ticlopidine , Clopidogrel untuk melancarkan
aliran darah ke otak sehingga memperbaiki gangguan kognitif.
3) Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati,
tetapi perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan
dengan mengobati tekanan darah tinggi atau kencing manis yang
berhubungan dengan stroke.
4) Jika hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat
anti-depresi seperti Sertraline dan Citalopram.

12
5) Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak,
yang bisa menyertai demensia stadium lanjut, sering digunakanobat
anti-psikotik (misalnya Haloperidol , Quetiapine dan Risperidone).
Tetapi obat ini kurang efektif dan menimbulkan efek samping yang
serius. Obat anti-psikotik efektif diberikan kepada penderita yang
mengalami halusinasi atau paranoid.
b. Dukungan atau Peran Keluarga
1) Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu
penderita tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya
yang terang, jam dinding dengan angka-angka yang besar atau
radio juga bisa membantu penderita tetap memiliki orientasi.
2) Menyembunyikan kunci mobil dan memasang detektor pada
pintu bisa membantu mencegah terjadinya kecelekaan pada
penderita yang senang berjalan-jalan.
3) Menjalani kegiatan mandi, makan, tidur dan aktivitas lainnya
secara rutin, bisa memberikan rasa keteraturan kepada penderita.
4) Memarahi atau menghukum penderita tidak akan membantu,
bahkan akan memperburuk keadaan.
5) Meminta bantuan organisasi yang memberikan pelayanan sosial
dan perawatan, akan sangat membantu.
c. Terapi Simtomatik
Pada penderita penyakit demensia dapat diberikan terapi simtomatik,
meliputi :
1) Diet
2) Latihan fisik yang sesuai
3) Terapi rekreasional dan aktifitas
4) Penanganan terhadap masalah-masalah

E. PENCEGAHAN DAN PERAWATAN DEMENSIA

13
Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia
diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa
mengoptimalkan fungsi otak, seperti :
1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti
alkohol dan zat adiktif yang berlebihan.
2. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya
dilakukan setiap hari.
3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif :
a. Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
b. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman
yang memiliki persamaan minat atau hobi.
4. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks
dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Arif muttaqin, (2008) :
a. Pemeriksaan laboratorium rutin
Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan begitu diagnosis klinis
demensia ditegakkan untuk membantu pencarian etiologi demensia
khususnya pada demensia reversible, walaupun 50% penyandang
demensia adalah demensia Alzheimer dengan hasil laboratorium
normal, pemeriksaan laboratorium rutin sebaiknya dilakukan.
Pemeriksaan laboratorium yang rutin dikerjakan antara lain:
pemeriksaan darah lengkap, urinalisis, elektrolit serum, kalsium darah,
ureum, fungsi hati, hormone tiroid, kadar asam folat.
b. Imaging
Computed Tomography (CT) scan dan MRI (Magnetic Resonance
Imaging) telah menjadi pemeriksaan rutin dalam pemeriksaan
demensia walaupun hasilnya masih dipertanyakan.
c. Pemeriksaan EEG
Electroencephalogram (EEG) tidak memberikan gambaran spesifik
dan pada sebagian besar EEG adalah normal. Pada Alzheimer stadium

14
lanjut dapat memberi gambaran perlambatan difus dan kompleks
periodik.
d. Pemeriksaan cairan otak
Fungsi lumbal diindikasikan bila klinis dijumpai awitan demensia akut,
penyandang dengan imunosupresan, dijumpai rangsangan meningen
dan panas, demensia presentasi atipikal, hidrosefalus normotensif, tes
sifilis (+), penyengatan meningeal pada CT scan.
e. Pemeriksaan genetika
Apolipoprotein E (APOE) adalah suatu protein pengangkut lipid
polimorfik yang memiliki 3 allel yaitu epsilon 2, epsilon 3, dan epsilon
4. setiap allel mengkode bentuk APOE yang berbeda. Meningkatnya
frekuensi epsilon 4 diantara penyandang demensia Alzheimer tipe
awitan lambat atau tipe sporadik menyebabkan pemakaian genotif
APOE epsilon 4 sebagai penanda semakin meningkat.
f. Pemeriksaan neuropsikologis
Pemeriksaan neuropsikologis meliputi pemeriksaan status mental,
aktivitas sehari-hari / fungsional dan aspek kognitif lainnya. (Asosiasi
Alzheimer Indonesia,2003) Pemeriksaan neuropsikologis penting
untuk sebagai penambahan pemeriksaan demensia, terutama
pemeriksaan untuk fungsi kognitif, minimal yang mencakup atensi,
memori, bahasa, konstruksi visuospatial, kalkulasi dan problem
solving. Pemeriksaan neuropsikologi sangat berguna terutama pada
kasus yang sangat ringan untuk membedakan proses ketuaan atau
proses depresi. Sebaiknya syarat pemeriksaan neuropsikologis
memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Mampu menyaring secara cepat suatu populasi
2. Mampu mengukur progresifitas penyakit yang telah
diindentifikaskan demensia.
g. Sebagai suatu esesmen awal pemeriksaan Status Mental Mini
(MMSE) adalah test yang paling banyak dipakai, tetapi sensitif
untuk mendeteksi gangguan memori ringan.
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL MINI (MMSE)

No Tes Nilai
ORIENTASI

15
1. Sekarang (tahun),(musim),(bulan),(tanggal), hari apa? 5
2. Kita berada dimana (Negara, propinsi, kota, rumah 5
sakit, lantai kamar)
REGISTRASI
3. Sebutkan 3 buah nama benda (apel, meja, atau koin), 3
setiap benda 1 detik, pasien disuruh mengulangi
ketiga nama benda tadi. Nilai 1 untuk setiap nama
benda yang benar. Ulangi sampai pasien dapat
menyebutkan dengan benar dan catat jumlah
pengulangan

ATENSI DAN KAKULASI


4. Kurangi 100 dengan 7. Nilai 1 tiap jawaban yang 5
benar. Hentikan setelah 5 jawaban. Atau disuruh
mengeja tebalik kata WAHYU (nilai di berikan
huruf yang benar sebelum kesalahan: minsalnya
uyahw 2 nilai
MENGINGAT KEMBALI (RECALL)
5. Pasien di suruh menyebutkan kembali 3 benda diatas 3
BAHASA
6. Pasien di suruh menyebut nama benda yang di 2
tunjukkan (pensil, buku)
7. Pasien di suruh mengulang kata-kata namun, 1
tanpa, bila
8. Pasien di suruh melakukan perintah ambil kertas itu 3
dengan tangan anda, lipatlah menjadi dua dan
letaklah dilantai
9. Pasien di suruh melakukan perintah pejamkanlah 1
mata anda
10. Pasien disuruh menulis dengan spontan 1

11. Pasien disuruh menggambarkan bentuk dibawah ini 1

TOTAL 30
Skor Nilai 24 30 = Normal
Nilai 17 23 = Sedang
Nilai 0 15 = Berat

16
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

Menurut Maryam, (2012):


A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Indentias klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa/latar
belakang kebudayaan, status sipil, pendidikan, pekerjaan dan alamat.
2. Keluhan utama
Keluhan utama atau sebab utama yang menyebabkan klien datang berobat
(menurut klien dan atau keluarga). Gejala utama adalah kesadaran
menurun.
3. Pemeriksaan fisik

17
Kesadaran yang menurun dan sesudahnya terdapat amnesia. Tensi
menurun, takikardia, febris, BB menurun karena nafsu makan yang
menurun dan tidak mau makan.
4. Psikososial
a) Genogram.
b) Konsep diri.
1) Ganbaran diri, tressor yang menyebabkan berubahnya gambaran
diri karena proses patologik penyakit.
2) Identitas, bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan individu.
3) Peran, transisi peran dapat dari sehat ke sakit, ketidak sesuaian
antara satu peran dengan peran yang lain dan peran yang ragu
diman aindividu tidak tahun dengan jelas perannya, serta peran
berlebihan sementara tidak mempunyai kemmapuan dan sumber
yang cukup.
4) Ideal diri, keinginann yang tidak sesuai dengan kenyataan dan
kemampuan yang ada.
5) Harga diri, tidakmampuan dalam mencapai tujuan sehingga klien
merasa harga dirinya rendah karena kegagalannya.
c) Hubungan sosial
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang disingkirkan
atau kesepian, yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul
akibat berat seperti delusi dan halusinasi. Konsep diri dibentuk oleh
pola hubungan sosial khususnya dengan orang yang penting dalam
kehidupan individu. Jika hubungan ini tidak sehat maka individu
dalam kekosongan internal. Perkembangan hubungan sosial yang
tidak adeguat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar
mempertahankan komunikasi dengan orang lain, akibatnya klien
cenderung memisahkan diri dari orang lain dan hanya terlibat dengan
pikirannya sendiri yang tidak memerlukan kontrol orang lain. Keadaa
ini menimbulkan kesepian, isolasi sosial, hubungan dangkal dan
tergantung.

18
d) Spiritual
Keyakinan klien terhadap agama dan keyakinannya masih kuat. Tetapi
tidak atau kurang mampu dalam melaksanakan ibadahnya sesuai
dengan agama dan kepercayaannya.
e) Status mental
1) Penampilan klien tidak rapi dan tidak mampu utnuk merawat
dirinya sendiri.
2) Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.
3) Aktivitas motorik, Perubahan motorik dapat dinmanifestasikan
adanya peningkatan kegiatan motorik, gelisah, impulsif,
manerisme, otomatis, steriotipi.
4) Alam perasaan : Klien nampak ketakutan dan putus asa.
5) Afek dan emosi.
Perubahan afek terjadi karena klien berusaha membuat jarak
dengan perasaan tertentu karena jika langsung mengalami perasaa
tersebut dapat menimbulkan ansietas. Keadaan ini menimbulkan
perubahan afek yang digunakan klien untuk melindungi dirinya,
karena afek yang telah berubahn memampukan kien mengingkari
dampak emosional yang menyakitkan dari lingkungan eksternal.
Respon emosional klien mungkin tampak bizar dan tidak sesuai
karena datang dari kerangka pikir yang telah berubah. Perubahan
afek adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen
6) Interaksi selama wawancara
Sikap klien terhadap pemeriksa kurang kooperatif, kontak mata
kurang.
7) Persepsi
Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional
terhadap suatu obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada panca
indera yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan
pengecapan. Perubahan persepsi dapat ringan, sedang dan berat

19
atau berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling sering
ditemukan adalah halusinasi.
f) Proses berpikir
Klien yang terganggu pikirannya sukar berperilaku kohern,
tindakannya cenderung berdasarkan penilaian pribadi klien terhadap
realitas yang tidak sesuai dengan penilaian yang umum diterima.
Penilaian realitas secara pribadi oleh klien merupakan penilaian
subyektif yang dikaitkan dengan orang, benda atau kejadian yang
tidak logis.(Pemikiran autistik). Klien tidak menelaah ulang
kebenaran realitas. Pemikiran autistik dasar perubahan proses pikir
yang dapat dimanifestasikan dengan pemikian primitif, hilangnya
asosiasi, pemikiran magis, delusi (waham), perubahan linguistik
(memperlihatkan gangguan pola pikir abstrak sehingga tampak klien
regresi dan pola pikir yang sempit misalnya ekholali, clang asosiasi
dan neologisme.

g) Tingkat kesadaran
Kesadaran yang menurun, bingung. Disorientasi waktu, tempat dan
orang
h) Memori
1) Gangguan daya ingat jangka panjang: Tidak dapat mengingat
kejadian yang terjadi lebih dari satu bulan.
2) Gangguan daya ingat jangka pendek: Tidak dapat mengingat
kejadian yang terjadi dalam minggu terakhir.
3) Gangguan daya ingat sekarang: Tidak dapat mingingat kejadian
yang baru saja terjadi.
i) Tingkat konsentrasi : Klien tidak mampu berkonsentrasi
j) Kemampuan penilaian : Gangguan berat dalam penilaian atau
keputusan.
k) Kebutuhan klien sehari-hari

20
1) Tidur, klien sukar tidur karena cemas, gelisah, berbaring atau
duduk dan gelisah . Kadang-kadang terbangun tengah malam dan
sukar tidur kemabali. Tidurnya mungkin terganggu sepanjang
malam, sehingga tidak merasa segar di pagi hari.
2) Selera makan, klien tidak mempunyai selera makan atau
makannya hanya sedikit, karea putus asa, merasa tidak berharga,
aktivitas terbatas sehingga bisa terjadi penurunan berat badan.
3) Eliminasi, Klien mungkin tergnaggu buang air kecilnya, kadang-
kdang lebih sering dari biasanya, karena sukar tidur dan stres.
Kadang-kadang dapat terjadi konstipasi, akibat terganggu pola
makan.
4) Mekanisme koping
Apabila klien merasa tridak berhasil, kegagalan maka ia akan
menetralisir, mengingkari atau meniadakannya dengan
mengembangkan berbagai pola koping mekanisme. Ketidak
mampuan mengatasi secara konstruktif merupakan faktor
penyebab primer terbentuknya pola tiungkah laku patologis.
Koping mekanisme yang digunakan seseorang dalam keadaan
delerium adalah mengurangi kontak mata, memakai kata-kata
yang cepat dan keras (ngomel-ngomel) dan menutup diri.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN DEMENSIA


1. Sindrom stress relokasi berhubungan dengan perubahan dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari ditandai dengan kebingungan, keprihatinan, gelisah,
tampak cemas, mudah tersinggung, tingkah laku defensive, kekacauan
mental, tingkah laku curiga, dan tingkah laku agresif.
2. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis
(degenerasi neuron ireversibel) ditandai dengan hilang ingatan atau
memori, hilang konsentrsi, tidak mampu menginterpretasikan stimulasi
dan menilai realitas dengan akurat.
3. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi,
transmisi atau integrasi sensori (penyakit neurologis, tidak mampu

21
berkomunikasi, gangguan tidur, nyeri) ditandai dengan cemas, apatis,
gelisah, halusinasi.
4. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan lingkungan ditandai
dengan keluhan verbal tentang kesulitan tidur, terus-menerus terjaga, tidak
mampu menentukan kebutuhan/ waktu tidur.
5. Kurang perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas,
menurunnya daya tahan dan kekuatan ditandai dengan penurunan
kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
6. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kesulitan keseimbangan,
kelemahan, otot tidak terkoordinasi, aktivitas kejang.
7. Resiko terhadap perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mudah lupa, kemunduran hobi, perubahn sensori.

22
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Tujuan dan kriteria
Intervensi Rasional
Dx hasil
1 Setelah diberikan a. Jalin hubungan saling a. Untuk membangan
tindakan mendukung dengan klien. kepercayaan dan
b. Orientasikan pada
keperawatan rasa nyaman.
lingkungan dan rutinitas b. Menurunkan
diharapkan klien
baru. kecemasan dan
dapat beradaptasi
c. Kaji tingkat stressor
perasaan terganggu.
dengan perubahan
(penyesuaian diri, c. Untuk menentukan
aktivitas sehari- hari
perkembangan, peran persepsi klien
dan lingkungan
keluarga, akibat perubahan tentang kejadian
dengan KH :
status kesehatan) dan tingkat
a. mengidentifikasi d. Tentukan jadwal aktivitas
serangan.
perubahan yang wajar dan masukkan d. Konsistensi
b. mampu
dalam kegiatan rutin. mengurangi
beradaptasi pada e. Berikan penjelasan dan
kebingungan dan
perubahan informasi yang
meningkatkan rasa
lingkungan dan menyenangkan mengenai
kebersamaan.
aktivitas kegiatan/ peristiwa. e. Menurunkan
kehidupan sehari- ketegangan,
hari mempertahankan
c. cemas dan takut
rasa saling percaya,
berkurang
dan orientasi.
b. d. membuat
pernyataan yang
positif tentang
lingkungan yang
baru.

23
No Tujuan dan kriteria
Intervensi Rasional
Dx hasil
2 Setelah diberikan a. Kembangkan lingkungan a. Mengurangi
tindakan yang mendukung dan kecemasan dan
keperawatan hubungan klien-perawat emosional.
b. Kebisingan
diharapkan klien yang terapeutik.
b. Pertahankan lingkungan merupakan sensori
mampu mengenali
yang menyenangkan dan berlebihan yang
perubahan dalam
tenang. meningkatkan
berpikir dengan KH:
c. Tatap wajah ketika berbicara
gangguan neuron.
a. Mampu
dengan klien. c. Menimbulkan
memperlihatkan d. Panggil klien dengan
perhatian, terutama
kemampuan namanya.
pada klien dengan
e. Gunakan suara yang agak
kognitif untuk
gangguan
rendah dan berbicara dengan
menjalani
perceptual.
perlahan pada klien.
konsekuensi d. Nama adalah
kejadian yang bentuk identitas
menegangkan diri dan
terhadap emosi menimbulkan
dan pikiran pengenalan
tentang diri. terhadap realita dan
b. Mampu
klien.
mengembangkan e. Meningkatkan
strategi untuk pemahaman.
mengatasi Ucapan tinggi dan
anggapan diri keras menimbulkan
yang negative. stress yg
c. Mampu
mencetuskan
mengenali tingkah
konfrontasi dan
laku dan faktor
respon marah.
penyebab.
3 Setelah diberikan a. Kembangkan lingkungan a. Meningkatkan
tindakan yang suportif dan hubungan kenyamanan dan

24
No Tujuan dan kriteria
Intervensi Rasional
Dx hasil
keperawatan perawat-klien yang menurunkan
diharapkan terapeutik. kecemasan pada
b. Bantu klien untuk
perubahan persepsi klien.
memahami halusinasi. b. Meningkatkan
sensori klien dapat
c. Kaji derajat sensori atau
koping dan
berkurang atau
gangguan persepsi dan
menurunkan
terkontrol dengan
bagaiman hal tersebut
halusinasi.
KH:
mempengaruhi klien c. Keterlibatan otak
a. Mengalami
termasuk penurunan memperlihatkan
penurunan
penglihatan atau masalah yang
halusinasi.
pendengaran. bersifat asimetris
b. Mengembangkan
d. Ajarkan strategi untuk
menyebabkan klien
strategi
mengurangi stress.
kehilangan
psikososial e. Ajak piknik sederhana,
kemampuan pada
untuk jalan-jalan keliling rumah
salah satu sisi
mengurangi sakit. Pantau aktivitas.
tubuh.
stress.
d. Untuk menurunkan
c. Mendemonstrasi
kebutuhan akan
kan respons yang
halusinasi.
sesuai stimulasi.
e. Piknik
menunjukkan
realita dan
memberikan
stimulasi sensori
yang menurunkan
perasaan curiga dan
halusinasi yang
disebabkan
perasaan terkekang.
4 Setelah dilakukan a. Jangan menganjurkan kliena. Irama sirkadian
tindakan tidur siang apabila berakibat (irama tidur-

25
No Tujuan dan kriteria
Intervensi Rasional
Dx hasil
keperawatan efek negative terhadap tidur bangun) yang
diharapkan tidak pada malam hari. tersinkronisasi
b. Evaluasi efek obat klien
terjadi gangguan pola disebabkan oleh
(steroid, diuretik) yang
tidur pada klien tidur siang yang
mengganggu tidur.
dengan KH : singkat.
c. Tentukan kebiasaan dan
b. Deragement psikis
a. Memahami faktor
rutinitas waktu tidur malam
terjadi bila terdapat
penyebab
dengan kebiasaan
panggunaan
gangguan pola
klien(memberi susu hangat).
kortikosteroid,
tidur. d. Memberikan lingkungan
b. Mampu termasuk
yang nyaman untuk
menentukan perubahan mood,
meningkatkan
penyebab tidur insomnia.
tidur(mematikan lampu,
c. Mengubah pola
inadekuat.
ventilasi ruang adekuat, suhu
c. Melaporkan dapat yang sudah terbiasa
yang sesuai, menghindari
beristirahat yang dari asupan makan
kebisingan).
cukup. klien pada malam
e. Buat jadwal tidur secara
d. Mampu
hari terbukti
teratur. Katakan pada klien
menciptakan pola
mengganggu tidur.
bahwa saat ini adalah waktu
tidur yang d. Hambatan kortikal
untuk tidur.
adekuat. pada formasi
reticular akan
berkurang selama
tidur,
meningkatkan
respon otomatik,
karenanya respon
kardiovakular
terhadap suara
meningkat selama
tidur.

26
No Tujuan dan kriteria
Intervensi Rasional
Dx hasil
e. Penguatan bahwa
saatnya tidur dan
mempertahankan
kesetabilan
lingkungan.
5 Setelah diberikan a. Identifikasi kesulitan dalama. Memahami
tindakan berpakaian/ perawatan diri, penyebab yang
keperawatan seperti: keterbatasan gerak mempengaruhi
diharapkan klien fisik, apatis/ depresi, intervensi. Masalah
dapat merawat penurunan kognitif seperti dapat diminimalkan
dirinya sesuai dengan apraksia. dengan
b. Identifikasi kebutuhan
kemampuannya menyesuaikan atau
kebersihan diri dan berikan
dengan KH : memerlukan
bantuan sesuai kebutuhan
a. Mampu konsultasi dari ahli
dengan perawatan
melakukan aktivitas lain.
rambut/kuku/ kulit,b. Seiring
perawatan diri sesuai
bersihkan kaca mata, dan perkembangan
dengan tingkat
gosok gigi. penyakit,
kemampuan.
c. Perhatikan adanya tanda-
b. Mampu kebutuhan
tanda nonverbal yang
mengidentifikasi dan kebersihan dasar
fisiologis.
menggunakan mungkin
d. Beri banyak waktu untuk
sumber pribadi/ dilupakan.
melakukan tugas.
c. Kehilangan sensori
komunitas yang e. Bantu mengenakan pakaian
dan penurunan
dapat memberikan yang rapi dan indah.
fungsi bahasa
bantuan.
menyebabkan klien
mengungkapkan
kebutuhan
perawatan diri
dengan cara

27
No Tujuan dan kriteria
Intervensi Rasional
Dx hasil
nonverbal, seperti
terengah-engah,
ingin berkemih
dengan memegang
dirinya.
d. Pekerjaan yang
tadinya mudah
sekarang menjadi
terhambat karena
penurunan motorik
dan perubahan
kognitif.
e. Meningkatkan
kepercayaan untuk
hidup.
6 Setelah dilakukan a. Kaji derajat gangguana.Mengidentifikasi
tindakan kemampuan, tingkah laku risiko di lingkungan
keperawatan impulsive dan penurunan dan mempertinggi
diharapkan Risiko persepsi visual. Bantu kesadaran perawat
cedera tidak terjadi keluarga mengidentifikasi akan bahaya. Klien
dengan KH : risiko terjadinya bahaya dengan tingkah laku
a. Meningkatkan yang mungkin timbul. impulsi berisiko
b. Hilangkan sumber bahaya
tingkat aktivitas. trauma karena
b. Dapat beradaptasi lingkungan.
kurang mampu
c. Alihkan perhatian saat
dengan
mengendalikan
perilaku teragitasi/
lingkungan untuk
perilaku. Penurunan
berbahaya, memenjat pagar
mengurangi risiko
persepsi visual
tempat tidur.
trauma/ cedera.
d. Kaji efek samping obat, berisiko terjatuh.
c. Tidak mengalami
b. Klien dgn
tanda keracunan (tanda
cedera.
gangguan kognitif,
ekstrapiramidal, hipotensi

28
No Tujuan dan kriteria
Intervensi Rasional
Dx hasil
ortostatik, gangguan gangguan persepsi
penglihatan, gangguan adalah awal terjadi
gastrointestinal). trauma akibat tidak
e. Hindari penggunaan restrain
bertanggung jawab
terus-menerus. Berikan
terhadap kebutuhan
kesempatan keluarga tinggal
keamanan dasar.
bersama klien selamac. Mempertahankan
periode agitasi akut. keamanan dengan
menghindari
konfrontasi yang
meningkatkan
risiko terjadinya
trauma.
d. Klien yang tidak
dapat melaporkan
tanda/gejala obat
dapat menimbulkan
kadar toksisitas
pada lansia. Ukuran
dosis/ penggantian
obat diperlukan
untuk mengurangi
gangguan.
e. Membahayakan
klien,
meningkatkan
agitasi dan timbul
risiko fraktur pada
klien lansia
(berhubungan

29
No Tujuan dan kriteria
Intervensi Rasional
Dx hasil
dengan penurunan
kalsium tulang).
7 Setelah dilakukana. Beri dukungan untuka. Motivasi terjadi
tindakan penurunan berat badan. saat klien
b. Awasi berat badan setiap
keperawatan mengidentifikasi
minggu.
diharapkan klien kebutuhan berarti.
c. Kaji pengetahuan keluarga/
b. Memberikan
mendapat nutrisi
klien mengenai kebutuhan
umpan balik/
yang seimbang
makanan.
penghargaan.
dengan KH: d. Usahakan/ beri bantuan
c. Identifikasi
a. Mengubah pola dalam memilih menu.
kebutuhan
e. Beri Privasi saat kebiasaan
asuhan yang benar
membantu
b. Mendapat diet makan menjadi masalah.
perencanaan
nutrisi yang
pendidikan.
seimbang.
d. Klien tidak mampu
c. Mendapat
menentukan pilihan
kembali berat badan
kebutuhan nutrisi.
yang sesuai.
e. Ketidakmampuan
menerima dan
hambatan sosial
dari kebiasaan
makan berkembang
seiring
berkembangnya
penyakit.

30
31
BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan
fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. Gangguan fungsi kognitif antara
lain pada intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah,
orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi, penyesuaian, dan kemampuan
bersosialisasi. (Arif Mansjoer, 1999)
Penyebab demensia adalah alzheimer dan serangan stroke yang berturut-
turut. Demensia diklasifikasikan menjadi Demensia Kortikal dan Sub
Kortikal, Demensia Reversibel dan Non reversibel, dan Demensia Pre Senilis
dan Senilis.
Penatalaksanaan pada klien dengan demensia antara lain sebagai berikut
penatalaksanaan Farmakoterapi, Dukungan atau Peran Keluarga dan Terapi
Simtomatik

32
DAFTAR PUSTAKA

Maryam, R. Siti . 2012 . Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya . Jakarta :

Salemba Medika

Nugroho, Wahjudi . 2000 . Keperawatan Gerontik . E& . 2 . Jakarta : EGC

http://lpkeperawatan.blogspot.co.id/2014/01/aporan-pendahuluan-demensia.html

http://suparty.blogspot.co.id/2013/11/demensia.html

http://nswahyunc.blogspot.co.id/2012/05/laporan-pendahuluan-pada-pasien-
dengan.html

33