Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Jika semua unsur laporan keuangan telah selesai diaudit, auditor telah

sampai pada tahap akhir auditnya. Sebelum ia meninggalkan perusahaan klien,

ia harus me-review kertas kerja yang telah dibuatnya dengan cara

membandingkannya dengan kuesioner pengedalian intern dan program

pengujian kepatuhan dan program pengujian substantif, untuk memperoleh

keyakinan bahwa semua informasi yang diperlukannya sebagai dasar

penyusunan laporan audit telah terkumpul semua.


Tanggung jawab auditor menelaah peristiwa kemudian biasanya dibatasi

untuk periode yang diawali tanggal neraca dan berakhir pada tanggal laporan

audit. Kerena tanggal alporan audit berhubungan dengan penyelesaian

prosedur auditing yang penting di kantor klien, penelaah peristiwa kemudian

seharusnya diselesaikan mendekati akhir penugasan.


Selain peristiwa lain, auditor juga perlu memperhatikan mengenai

kesinambungan usaha. Dalam laporan keuangan manajemen menggunakan

asumsi bahwa usaha entitasnya akan berkesinambungan (going concern

assumption). Bab ini membahas tanggung jawab auditor sehubungan dengan

penggunaan asumsi ini oleh manajemen, dan penilaian manajemen

(managements assessment) mengenai kemampuan entitas untuk melanjutkan

usahanya sebagai usaha yang berkesinambungan

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan peristiwa kemudian?
2. Bagaimana prosedur audit terhadap peristiwa kemudian?
3. Apa yang dimaksud dengan kesinambungan usaha?
4. Bagaimana prosedur audit terhadap kesinambungan usaha?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah:
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Auditing I.
2. Untuk memahami materi bab 12 mengenai peristiwa kemudian.
3. Untuk memahami materi bab 13 mengenai kesinambungan usaha.

BAB II

ISIS

2.1 PERISTIWA KEMUDIAN

A. Selayang Pandang

2
ISA yang mengatur Peristiwa Kemudian adalah ISA 560 yang berlaku

efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai pada atau

setelah tanggal 1 Januari 2013 (untuk Emiten), atau 1 Januari 2014 untuk entitas

selain Emiten. Standar Audit ini berhubungan dengan tanggung jawab auditor

berkaitan dengan peristiwa kemudian dalam suatu audit atas laporan keuangan.

Laporan keuangan mungkin dipengaruhi oleh peristiwa tertentu yang

terjadi setelah tanggal laporan keuangan. Banyak kerangka pelaporan keuangan

secara khusus merujuk pada peristiwa tersebut. Kerangka pelaporan keuangan

tersebut biasanya mengidentifikasi dua jenis peristiwa:

a. Peristiwa yang menyediakan bukti tentang kondisi yang ada pada

tanggal laporan keuangan; dan


b. Peristiwa yang menyediakan bukti tentang kondisi yang terjadi setelah

tanggal laporan keuangan.

Dalam ISA 700 menjelaskan bahwa tanggal laporan auditor

menginformasikan kepada pembaca bahwa auditor telah mempertimbangkan

pengaruh atas peristiwa dan transaksi yang diketahui oleh auditor dan yang terjadi

sampai pada tanggal Perumusan Suatu Opini dan Pelaporan atas Laporan

Keuangan.

B. Istilah / Definisi Penting

Untuk tujuan ISA ini berkaitan dengan Peristiwa Kemudian, istilah berikut

memiliki makna sebagai berikut:

(a) Tanggal laporan keuangan


Tanggal akhir dari periode terakhir yang dicakup oleh laporan

keuangan.
(b) Tanggal pengesahan laporan keuangan

3
Tanggal yang pada saat itu semua laporan yang membentuk

laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan yang

bersangkutan, telah disusun dan pihak yang berwenang telah menyatakan

bertanggung jawab atas laporan keuangan tersebut.


(c) Tanggal laporan auditor:
Tanggal yang dicantumkan oleh auditor dalam laporannya atas

laporan keuangan entitas. Laporan auditor tidak dapat diberi tanggal lebih

awal daripada tanggal yang pada saat itu auditor telah memperoleh bukti

yang cukup dan tepat sebagai basis opini atas laporan keuangan, termasuk

bukti bahwa semua laporan yang membentuk laporan keuangan termasuk

di dalamnya catatan atas laporan keuangan yang terkait, telah disusun dan

pihak yang berwenang telah menyatakan bahwa mereka bertanggung

jawab atas laporan keuangan tersebut.


(d) Tanggal diterbitkannya laporan keuangan
Tanggal tersedianya laporan auditor dan laporan keuangan auditan

bagi pihak ketiga. Tanggal penerbitan laporan keuangan pada umumnya

tergantung pada peraturan yang berlaku dalam lingkungan yang menjadi

tempat berusaha entitas. Dalam beberapa kondisi, tanggal penerbitan

laporan keuangan mungkin merupakan tanggal pada saat laporan keuangan

diserahkan kepada badan pengatur. Karena laporan keuangan auditan tidak

dapat diterbitkan tanpa laporan auditor, tanggal penerbitan laporan

keuangan auditan tidak seharusnya hanya pada atau setelah tanggal

laporan auditor, tetapi juga harus pada atau setelah laporan auditor tersebut

diserahkan kepada entitas.


Dalam kasus sektor publik, tanggal penerbitan laporan keuangan

mungkin sama dengan tanggal laporan keuangan auditan dan laporan

4
auditor atas laporan keuangan tersebut disajikan ke badan pembuat

undang-undang atau dengan cara lain diumumkan kepada publik.

(e) Peristiwa kemudian: Peristiwa yang terjadi di antara tanggal laporan

keuangan dan tanggal laporan auditor, dan fakta yang diketahui oleh

auditor setelah tanggal laporan auditor.

C. Prosedur Menghadapi Peristiwa yang Terjadi antara Tanggal

Laporan Keuangan dan Tanggal Laporan Auditor

Auditor harus melaksanakan prosedur audit yang dirancang untuk

memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, bahwa seluruh peristiwa yang

terjadi antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal laporan auditor yang

mengharuskan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan keuangan, telah

diidentifikasi. Namun, auditor tidak diharapkan untuk melakukan prosedur audit

tambahan atas hal-hal yang mana prosedur audit yang sebelumnya diterapkan

telah menyediakan kesimpulan yang memadai.

Auditor harus melakukan prosedur yang disyaratkan paragraf sebelumnya

sehingga prosedur tersebut mencakup periode dari tanggal laporan keuangan

sampai ke tanggal laporan auditor, atau periode terdekat yang dapat dicapai.

Auditor harus mempertimbangkan penilaian risiko auditor dalam menetapkan sifat

dan luas prosedur audit, yang harus mencakup hal-hal sebagai berikut:

(a) Memperoleh suatu pemahaman tentang prosedur yang telah ditetapkan

oleh manajemen untuk memastikan bahwa peristiwa kemudian

teridentifikasi.

5
(b) Meminta keterangan dari manajemen dan, jika relevan, pihak yang

bertanggung jawab atas tata kelola, tentang peristiwa kemudian yang telah

terjadi yang mungkin memengaruhi laporan keuangan. Dalam meminta

keterangan dari manajemen dan, jika relevan, pihak yang bertanggung

jawab atas tata kelola, tentang apakah ada peristiwa kemudian yang telah

terjadi yang mungkin memengaruhi laporan keuangan, auditor dapat

meminta keterangan tentang status terkini unsur-unsur yang

dipertanggunggjawabkan atas basis data awal atau tidak bersifat konklusif

dan meminta keterangan khusus tentang hal-hal sebagai berikut:


Apakah komitmen baru, penarikan utang, atau jaminan telah

terjadi.
Apakah penjualan atau akusisi aset telah terjadi atau direncanakan.
Apakah telah terjadi peningkatan modal atau penerbitan instrumen

utang, seperti penerbitan saham atau surat utang baru, atau suatu

perjanjian untuk penggabungan atau likuidasi telah dilakukan atau

direncanakan.
Apakah aset telah dialokasikan oleh pemerintah atau dimusnahkan,

sebagai contoh, oleh kebakaran atau banjir.


Apakah terdapat perkembangan yang berhubungan dengan

kontijensi.
Apakah penyesuaian akuntansi yang tidak lazim telah dibuat atau

dipertimbangkan secara mendalam.


Apakah suatu peristiwa telah terjadi atau mungkin akan terjadi

yang akan menimbulkan pertanyaan tentang ketepatan kebijakan

akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan, dalam kasus,

sebagai contoh, jika peristiwa-peristiwa tersebut menimbulkan

6
pertanyaan tentang validitas atas asumsi kelangsungan hidup

perusahaan.
Apakah ada peristiwa yang telah terjadi yang relevan untuk

pengukuran estimasi atau provisi yang dibuat dalam laporan

keuangan.
Apakah ada peristiwa yang telah terjadi yang relevan untuk

pemulihan kembali aset.


(c) Membaca risalah rapat, ketika ada, tentang pemilik, manajemen, dan pihak

yang bertanggung jawab atas tata kelola entitas, yang rapat tersebut

diadakan setelah tanggal laporan keuangan dan meminta keterangan

tentang hal-hal yang dibahas dalam rapat tersebut yang risalah hasil

rapatnya belum tersedia. Dalam lingkup sektor publik, auditor dapat

membaca catatan ofisial atas tindakan yang relevan dengan badan legislatif

dan meminta keterangan tentang hal-hal yang berkaitan dengan tindakan

tersebut di mana catatan ofisial belum tersedia.


(d) Membaca laporan keuangan interim terakhir entitas, jika ada.

Dari hasil prosedur yang dilakukan di atas, auditor akan mengidentifikasi

peristiwa yang mengharuskan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan

keuangan, auditor harus menentukan apakah setiap peristiwa tersebut telah

digambarkan dalam laporan keuangan secara tepat dan sesuai dengan kerangka

pelaporan keuangan yang berlaku

Prosedur peristiwa kemudian yang dilakukan oleh auditor mungkin tergantung

pada informasi yang tersedia, dan khususnya, seberapa luas catatan akuntansi

telah disiapkan sejak tanggal laporan keuangan.

7
Jika catatan akuntansi bukan yang terkini, dan oleh karena itu, tidak terdapat

laporan keuangan interim (baik untuk tujuan internal maupun eksternal) yang

disiapkan, atau risalah rapat manajemen atau pihak yang bertanggung jawab atas

tata kelola belum dibuat, prosedur audit yang relevan mungkin menggunakan

inspeksi atas buku dan catatan yang tersedia, termasuk rekening koran bank.

Berikut ini, dengan tambahan terhadap prosedur audit yang disyaratkan,

auditor dapat mempertimbangkan hal-hal berikut sebagai langkah yang diperlukan

dan tepat untuk:

Membaca bujet perusahaan terakhir yang tersedia, prakiraan arus kas, dan

laporan manajemen lain yang terkait untuk periode setelah tanggal laporan

keuangan;
Meminta keterangan, atau memperluas permintaan keterangan sebelumnya

yang dilakukan secara tertulis maupun lisan kepada penasihat hukum

entitas tentang proses litigasi dan klaim; atau


Mempertimbangkan apakah representasi tertulis yang mencakup peristiwa

kemudian tertentu mungkin diperlukan untuk mendukung bukti audit yang

lain dan dengan demikian dapat diperoleh bukti audit yang cukup dan

tepat.

Representasi Tertulis

Auditor harus meminta kepada manajemen dan, jika relevan, pihak yang

bertanggung jawab atas tata kelola, untuk memberikan suatu representasi tertulis

berdasarkan SA 5803 yang menyatakan bahwa seluruh peristiwa yang terjadi

setelah tanggal laporan keuangan dan memerlukan penyesuaian atau

8
pengungkapan sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku telah

disesuaikan atau diungkapkan.

D. Menanggapi Fakta yang Diketahui oleh Auditor setelah Tanggal

Laporan Auditor namun Sebelum Tanggal Laporan Keuangan

Diterbitkan

Auditor tidak memiliki kewajiban untuk melakukan prosedur audit atas

laporan keuangan setelah tanggal laporan auditor. Namun, jika setelah tanggal

laporan auditor tetapi sebelum tanggal laporan keuangan diterbitkan, suatu fakta

diketemukan oleh auditor yang mungkin menyebabkan auditor mengubah laporan

auditnya jika fakta tersebut telah diketahui oleh auditor pada tanggal laporan

auditor, maka auditor harus:

(a) Membahas hal tersebut dengan manajemen dan, jika relevan, dengan

pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola;


(b) Menentukan apakah laporan keuangan tersebut memerlukan perubahan

dan, jika demikian,


(c) Meminta keterangan bagaimana manajemen akan memperlakukan hal

tersebut dalam laporan keuangan.

Jika kemudian manajemen mengubah laporan keuangan, maka auditor harus:

(a) Melaksanakan prosedur audit yang diperlukan dalam kondisi atas

perubahan tersebut.
(b) Menelaah tahap-tahap yang dilakukan oleh manajemen untuk memastikan

bahwa setiap pihak yang menerima laporan keuangan yang diterbitkan

9
sebelumnya bersamaan dengan laporan auditor, diberi informasi tentang

situasi tersebut
(c) Kecuali jika kondisi lain terjadi, maka auditor:
(i) Memperluas prosedur audit sebagaimana yang disebutkan pada

poin C (mengenai Prosedur Menghadapi Peristiwa yang Terjadi

antara Tanggal Laporan Keuangan dan Tanggal Laporan Auditor)

sampai pada tanggal laporan auditor baru; dan


(ii) Menyediakan suatu laporan auditor baru atas laporan keuangan

yang telah diubah. Laporan auditor yang baru tidak dapat diberi

tanggal lebih awal daripada tanggal persetujuan atas perubahan

laporan keuangan

Kondisi lain yang dimaksud adalah bilamana peraturan perundang-

undangan atau kerangka pelaporan keuangan tidak melarang manajemen

untuk membatasi perubahan atas laporan keuangan yang disebabkan oleh

pengaruh peristiwa kemudian atau peristiwa yang menyebabkan perubahan

dan pihak yang bertanggung jawab untuk menyetujui laporan keuangan

tidak dilarang untuk membatasi persetujuan terhadap perubahan yang

bersangkutan, maka auditor diizinkan untuk membatasi prosedur audit atas

peristiwa kemudian berkaitan dengan perubahan tersebut. Dalam kasus

seperti ini, auditor tersebut harus:

(a) Mengubah laporan auditor dengan memasukkan suatu tanggal

tambahan yang dibatasi sampai dengan perubahan tersebut. Hal

ini menunjukkan bahwa prosedur auditor untuk peristiwa

kemudian hanya dibatasi pada perubahan atas laporan

10
keuangan yang digambarkan dalam catatan atas laporan

keuangan yang relevan. Dalam kondisi yang ini , auditor

mengubah laporan auditor untuk memasukkan tanggal

tambahan yang dibatasi untuk perubahan tersebut, tanggal

laporan auditor atas laporan keuangan sebelum perubahan

kemudian oleh manajemen tetap tidak berubah karena tanggal

ini menginformasikan pembaca tentang kapan pekerjaan audit

atas laporan keuangan tersebut diselesaikan. Namun, suatu

tanggal tambahan dimasukkan dalam laporan auditor untuk

menginformasikan kepada pengguna bahwa prosedur audit

setelah tanggal tersebut terbatas pada perubahan kemudian atas

laporan keuangan; Atau


(b) Menyajikan suatu laporan auditor baru atau laporan auditor

yang diubah yang meliputi suatu pernyataan dalam suatu

paragraf penekanan suatu hal4 atau paragraf hal lain yang

menyampaikan bahwa prosedur audit atas peristiwa kemudian

hanya terbatas untuk perubahan pada laporan keuangan seperti

yang dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan yang

relevan.

Dalam beberapa yurisdiksi, manajemen mungkin tidak disyaratkan

oleh peraturan perundangan-undangan atau kerangka pelaporan keuangan

untuk menerbitkan laporan keuangan yang diubah dan, oleh karena itu,

auditor tidak perlu menyediakan suatu laporan auditor yang diubah atau

11
yang baru. Hal ini sering kali terjadi ketika penerbitan laporan keuangan

untuk periode berikutnya makin dekat, sepanjang pengungkapan yang

tepat dibuat dalam laporan tersebut Namun, jika manajemen tidak

mengubah laporan keuangan dalam kondisi yang auditor yakin bahwa

laporan keuangan tersebut perlu diubah, maka:

(a) Jika laporan auditor belum diserahkan kepada entitas, auditor

harus mengubah opininya seperti yang disyaratkan dalam SA

7055 dan kemudian menyerahkan laporan auditor tersebut;

atau
(b) Jika laporan auditor telah diserahkan kepada entitas, auditor

harus memberitahu manajemen dan, kecuali jika semua pihak

yang bertanggung jawab atas tata kelola terlibat dalam

pengelolaan entitas, pihak yang bertanggung jawab atas tata

kelola entitas, agar tidak menerbitkan laporan keuangan

kepada pihak ketiga sebelum perubahan yang diperlukan

dibuat. Jika laporan keuangan diterbitkan kemudian tanpa

memasukkan perubahan yang diperlukan, auditor harus

mengambil tindakan yang tepat, untuk mencegah pengguna

meletakkan kepercayaan terhadap laporan auditor tersebut.

Dalam hal jika manajemen telah menerbitkan laporan keuangan

walaupun ada pemberitahuan dari auditor untuk tidak menerbitkan laporan

keuangan kepada pihak ketiga, tindakan auditor untuk mencegah pengguna

memercayai laporan auditor atas laporan keuangan tergantung pada hak

12
dan kewajiban hukum auditor. Sebagai konsekuensinya, auditor mungkin

mempertimbangkan adalah tepat untuk mencari advis hukum.

Dalam sektor publik, tindakan yang diambil yang sesuai sama

dengan tindakan di atas ketika manajemen tidak mengubah laporan

keuangan dapat mencakup pelaporan secara terpisah untuk badan pembuat

undang-undang, atau badan lain yang relevan dalam hirarki pelaporan,

tentang implikasi peristiwa kemudian terhadap laporan keuangan dan

laporan auditor.

E. Menanggapi Fakta yang Diketahui oleh Auditor setelah Laporan

Keuangan Diterbitkan
Setelah laporan keuangan diterbitkan, auditor tidak memiliki

kewajiban untuk melakukan prosedur audit atas laporan keuangan

tersebut. Namun, jika, setelah laporan keuangan diterbitkan, suatu fakta

diketahui oleh auditor, yang jika fakta tersebut diketahui oleh auditor pada

tanggal laporan auditor, mungkin dapat menyebabkan auditor mengubah

laporan auditnya, maka auditor harus:


(a) Membahas hal tersebut dengan manajemen dan, jika relevan,

dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola;


(b) Menentukan apakah laporan keuangan memerlukan perubahan

dan, jika demikian,


(c) Meminta keterangan bagaimana manajemen bermaksud untuk

menyelesaikan hal tersebut dalam laporan keuangan

13
Jika kemudian manajemen mengubah laporan keuangannya, maka auditor

harus:

(a) Melaksanakan prosedur audit yang diperlukan dalam kondisi atas

perubahan tersebut.
(b) Menelaah tahap-tahap yang dilakukan oleh manajemen untuk

memastikan bahwa setiap pihak yang menerima laporan keuangan

yang diterbitkan sebelumnya bersamaan dengan laporan auditor, diberi

informasi tentang situasi tersebut.


(c) Kecuali jika kondisi lain terjadi seperti dijelaskan sebelumnya terjadi,

maka berlaku bagi auditor:


(i) Memperluas prosedur audit yang disebutkan dalam paragraf 6 dan

7 sampai pada tanggal laporan auditor baru, dan tanggal laporan

auditor baru tidak lebih awal daripada tanggal persetujuan atas

perubahan laporan keuangan; dan


(ii) Menyerahkan laporan auditor baru atas laporan keuangan yang

diubah.
(d) Ketika kondisi pada poin di atas terjadi, ubah laporan auditor, atau

serahkan laporan auditor baru. Auditor harus memasukkan dalam

laporan auditor baru atau yang diubah, suatu paragraf penekanan atas

suatu hal atau paragraf hal-hal lain, dengan berpedoman pada suatu

catatan atas laporan keuangan yang lebih intensif membahas alasan

perubahan atas laporan keuangan yang diterbitkan sebelumnya dan

laporan yang diserahkan sebelumnya oleh auditor.

Jika manajemen tidak mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk

memastikan bahwa setiap pihak yang menerima laporan keuangan yang

14
diterbitkan sebelumnya sudah diberitahu tentang situasi tersebut dan juga tidak

mengubah laporan keuangan dalam kondisi yang auditor yakin bahwa laporan

keuangan tersebut perlu diubah, auditor harus memberitahu manajemen dan,

kecuali jika semua pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola terlibat dalam

pengelolaan entitas, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola bahwa auditor

akan berusaha untuk mencegah pengguna meletakkan kepercayaan masa depan

terhadap laporan auditor tersebut. Jika, meskipun dengan pemberitahuan tersebut,

manajemen atau pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola tidak mengambil

langkah-langkah yang diperlukan tersebut, auditor harus mengambil tindakan

yang tepat untuk mencegah pengguna meletakkan kepercayaan terhadap laporan

auditor.

2.2 KESINAMBUNGAN USAHA

A. CAKUPAN DAN ISA ACUAN

Dalam laporan keuangan manajemen menggunakan asumsi bahwa usaha

entitasnya akan berkesinambungan (going concern assumption). Bab ini

membahas tanggung jawab auditor sehubungan dengan penggunaan asumsi ini

15
oleh manajemen, dan penilaian manajemen (managements assessment) mengenai

kemampuan entitas untuk melanjutkan usahanya sebagai usaha yang

berkesinambungan.

Tiga tahap dalam Proses Audit atas kesinambungan Usaha

Tahap 1- Risk Assessment (Penilaian Risiko)

- Pertimbangan dan tanya kepada manajemen apakah ada peristiwa atau kondisi

yang mungkin menimbulkan keraguan mengenai kemampuan entitas untuk

melanjutkan usahanya sebagai usaha yang berkesinambungan

- Telaah penilaian yang dilakukan manajemen tentang kemungkinan adanya

peristiwa atau kondisi tersebut di atas, dan tanggapan atau rencana manajemen

menghadapi peristiwa atau kondisi tersebut

- Tetap waspada terhadap peristiwa atau kondisi yang berpotensi mengancam

kesinambungan usaha selama berlangsungnya audit

- Tanya kepada manajemen tentang peristiwa atau kondisi diluar/sesudah periode

penilaian yang dilakukan manajemen

- Pertimbangkan fakta atau informasi tambahan yang masuk secara bertahap

(kewaspadaan selama audit berlangsung)

Tahap 2-Risk Response (Menanggapi risiko)

Tahap 3-Reporting (Pelaporan)

- Tentukan apakah :

16
Ketidakpastian material terjadi, berkenaan dengan peristiwa atau kondisi yang

diidentifikasi

Penggunaan asumsi bahwa usaha entitasnya akan berkesinambungan, masih tepat

- Apakah laporan keuangan menjelaskan secara utuh kekhawatiran akan

peristiwa atau kondisi, dan mengungkapakan setiap ketidakpastian yang material?

- Peroleh representasi manajemen

Tujuan auditor dalam Audit Kesinambungan Usaha berdasarkan ISA 570.9

a. Memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang tepat/tidaknya

penggunaan asumsi kesinambungan usaha manajemen dalam membuat laporan

keuangan

b. Menyimpulkan, berdasarkan bukti audit yang diperoleh, apakah ada

ketidakpastian material mengenai peristiwa atau kondisi yang mungkin

menimbulkan keragaman mengenai kemampuan entitas untuk melanjutkan

usahanya sebagai usaha yang berkesinambungan

c. Menentukan implikasinya terhadap laporan auditor

B. TINJAUAN UMUM

Asumsi Kesinambunagan Usaha

17
Dibawah asumsi usaha kesinambungan, suatu entitas dianggap mempunyai

usaha yang berkesinambungan dalam waktu dekat di masa mendatang.Laporan

keuangan yang bertujuab umum dibuat dengan dasar kesinambunagan usaha,

kecuali jika manajemen mempunyai niata atau rencana melikuidasi entitas itu atau

berhenti beroperasi, atau tidak ada alternatif yang realistis kecuali

membubarkannya.Laporan keuangan yang bertujuan khusus dapat atau dapat tidak

dibuat dengan kerangka pelaporan keuangan dimana dasar kesinambungan usaha

itu relevan.

C. PROSEDUR PENILAIAN RISIKO

Prosedur penilaian risiko-kesinambungan kerja berdasarkan terjemahan dari

beberapa alinea ISA 570.

Keraguan yang besar mengenai asumsi kesinambungan usaha

Indikator keuangan

- Posisi utang bersih atau utang lancer bersih

- Pinjaman yang mendekati tanggal jatuh tempo tanpa prospek yang realistis

untuk perpanjanggan atau pelunasan, atau ketergantungan yang besar akan

pijaman jangka pendek untuk membelanjai aset tetap

- Indikasi penarikan dukungan dari para kreditur

18
- Arus kas operasional yang negative seperti terlihat dalam laporan keuangan

historis maupun prospektif

- Rasio keuangan utama yang buruk

- Kerugian operasional yang besar

- Penurunan nilai asset yang digunakan untuk menghasilkan arus kas, secara

signifikan

- Menunggak membayar dividen atau bahka menghentikan sama sekali

- Ketidakmampuan membayar para kreditur pada tanggal jatuh temponya utang

- Ketidakmampuan memenuhi syarat-syarat pinjaman

- Perubahan transaksi pembelian dari transaksi kredit ke tunai transaksi

- Ketidakmampuan memperoleh pendanaan untuk mengembangkan produk baru

atau ivestasi yang sangat penting

Indikator Operasional

- Niat / rencana manajemen untuk melikuidasi entitas atau berhenti beroperasi

- Hilangnya anggota (tim inti) manajemen, tanpa pengganti

- Kehilangan pasar yang sangat penting, pelanggan utama, franchise, license,

atau pemasok utama

19
- Kesulitan dengan SDM, mogok kerja berkepanjangan, bentrokan dalam pabrik

dan seterusnya

- Kekurangan pemasok untuk bahan baku/mesin yang penting

- Munculnya saingan baru yang sangat sukses

Lain-lain

- Ketidakpastian mengenai kewajiban permodalan

- Ketidakpatuhan terhadap perundang-undangan atau ketentuan statute(anggaran

dasar)

- Tuntutan hukum terhadap entitaas yang belum final, yang jika berhasil, dapat

berdampak buruk

- Perubahan perundang-undangan atau kebijakan pemerintah yang berdampak

buruk bagi entitas

- Bencana besar yang tidak diasuransikan

D. MENGEVALUASI PENILAIAN MANAJEMEN

Prosedur evaluasi yang dilakukan auditor pada umumnya meliputi :

Pembahasan dengan manajemen tentang pembelanjaan entitas dalam jangka

menengah dan panjang

20
Menguatkan informasi mengenai niat manajemen dengan pemahaman auditor

mengenai entitas dan bukti-bukti dokumentasi

Melihat apakah kewajiban manajemen untuk memperpanjang periode

penilaianannya setidak-tidaknya 12 bulan.

Menanyakan apakah manajemen tahu tentang peristiwa atau kondisi diluar

periode yang diliput oleh penilaian manajemen.

Menaggapi risiko

Prosedur ini meliputi :

a. Dalam hal manajemen belum melaksanaka penilaian mengenai kemampuan

entitas melanjutkan usahanya secara berkesinambungan, minta manajemen

melakukan penilaian

b. Evaluasi rencana manajemen untuk tindakan dimasa mendatang sehubungan

dengan penilaian kemampuan entitas, apakah hasil dari rencana ini mempunyai

peluang untuk memperbaiki situasi.

c. Dalam hal entitas sudah menyiakan prakiraan arus kas, dan analisis prakiraan itu

merupakan factor yang signifikan dalam mempertimbangkan dampak dikemudian

hari (future outcome) dari peristiwa atau kondisi dalam mengevaluasi rencana

manajemen untuk tindakan dimasa mendatang

21
d. Pertimbangan apakah fakta atau informasi tambahan tersedia, sejak tanggal

manajemen melaksanakan penilaian

e. Minta representatif tertulis dari manajemen dan, jika perlu, dari TCWG, tentang

rencana mereka untuk tindakan dimasa mendatang dan tentang feasibility dari

rencana tersebut.

Ketika auditor mengidentifikasi peristiwa atau kondisi tentang

kesinambungan usaha, langkah selanjutnya ialah melakukan prosedur audit

tambahan (termasuk mempertimbangkan faktor-faktor yang memitigasi) untuk

menentukan apakah ada ketidakpastian material.

Ketidakpastian Material

Ketidakpastian material ada / terjadi jika besaran dari dampak potensial dan

kemungkinan terjadinya sedemikian rupa sehingga menurut pendapat auditor,

harus ada pengungkapan yang tepat mengenai sifat dan implikasi dari

ketidakpastian tersebut, untuk tercapainya penyajian yang wajar dari laporan

keuangan, atau dalam hal kerangka pelaporan keuangan dengan kepatuhan agar

laporan keuangan tidak menyesatkan.

Rencana manajemen untuk tindakan dimasa mendatang, mengenai masalah

kesinambungan usaha umumnya membahas satu atau beberapa strategi tentang :

22
- Melikuidasi (menjual) asset

- Meminjam uang atau merestrukturisasi utang

- Mengurangi atau menunda pengeluaran

- Merestrukturisasi operasi, termasuk produk dan jasa

- Mengupayakan marger atau acquisition

- Meningkatkan modal

Langkah Auditor Dalam Menangani dalam Menangani Masalah Kesinambungan

Usaha

- Dapatkan penilaian dan rencana manajemen. Jika auditor belum

memperolehnya, minta manajemen membuat penilaian terhadap kemampuan

entitas melanjutkan usahanya secara berkesinambungan

- Evaluasi Rencana Manajemen

Evaluasi rencana manajemen untuk menanggapi penilaian tentang kesinambungan

usaha

Apakah outcome dari rencana tersebut dapat memperbaiki keadaan?

Berapa andalnya prakiraan laba/arus kas, dan hal apa yang mendukung asumsi

yang digunakan

23
Identifikasi, bahas, dan peroleh bukti mengenai faktor lain yang mungkin

berdampak terhadap kemampuan kesinambungan usaha entitas, seperti :

Hasil operasi terakhir, buruk atau sangat buruk

Pelanggaran syarat-syarat yang ditetapkan dalam perjanjian kredit

Kesulitan keuangan yang diungkapkan dalam pertemuan pimpinan entitas, dan

terekam dalam risalah rapat

Adanya litigasi/tuntutan hukum dan taksiran mengenai implikasi keuangannya

Ada/tidaknya, sah/tidaknya, dan dapat dipaksakan/tidaknya pengaturan yang

memberikan atau mempertahankan dukungan keuangan dari pihak terkait dan

pihak ketiga

Kemampuan keuangan pihak terkait dan pihak ketiga untuk pendanaan tambahan

atau pemberian jaminan

Peristiwa kemudian

Indikasi kecurangan seperti management override, transaksi fiktif, atau

penyembunyian fakta penting yang material

Masih berlanjutnya fasilitas pinjaman dan dengan syarat yang sama

Laporan mengenai tindakan/sanksi yang dijatuhkan regulator

Dalam hal penjualan asset apakah fakta atau informasi tambahan tersedia, sejak

tanggal manajemen melmaksanakan penilaian

24
- Minta Representasi Tertulis. Minta representatif tertulis dari manajemen dan,

jika perlu, dari TCWG, tentang rencana mereka untuk tindakan dimasa mendatang

dan tentang feasibility dari rencana tersebut.

Pelaporan

Langkah terakhir bagi auditor adalah melaporkan kesimpulan.Kesimpulan Auditor

dan kewajiban Pelaporannya Mengenai Kesinambungan.\

Tahap-tahap dalam proses audit

1) Risk Assessment (penilaian risiko)

o Pertimbangkan dan tanya kepada manajemen apakah ada peristiwa atau kondisi

yang mungkin menimbulkan keraguan mengenai kemampuan entitas untuk

melanjutkan usahanya sebagai usaha yang berkesinambungan.

o Telaah penilaian yang dilakukan manajemen (management Assessment) tentang

kemungkinan adanya peristiwa atau kondisi tersebut diatas, dan tanggapan atau

rencana manajemen menghadapi peristiwa atau kondisi tersebut.

o Tetap waspada terhadap peristiwa atau kondisi yang berpotensi mengancam

kesinambungan usaha selama berlangsungnya audit.

o Tanya kepada manajemen tentang peristiwa atau kondisi di luar/sesudah periode

penilaian yang dilakukan manajemen.

o Pertimbangkan fakta atau informasi tambahan yang masuk secara bertahap

(kewaspadaan selama audit berlangsung).

2) Reporting (pelaporan)

25
o Tentukan apakah:

Ketidakpastian material terjadi, berkenaan dengan peristiwa atau kondisi yang

diidentifikasi;

Penggunaan asumsi bahwa usaha entitasnya akan berkesinambungan, masih tepat.

o Apakah laporan keuangan menjelaskan secara utuh kekhawatiran akan peristiwa

atau kondisi, dan mengungkapkan setiap ketidakpastian yang material.

o Peroleh representasi manajemen.

. Tujuan auditor dalam kesinambungan usaha

a. Memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang tepat/tidaknya penggunaan

asumsi kesinambungan usaha oleh manajemen dalam membuat laporan keuangan;

b. Menyimpulkan, berdasarkan bukti audit yang diperoleh, apakah ada

ketidakpastian material mengenai peristiwa atau kondisi yang mungkin

menimbulkan keraguan mengenai kemampuan entitas untuk melanjutkan

usahanya sebagai usaha yang berkesinambungan;

c. Menentukan implikasinya terhadap laporan auditor

Asumsi Kesinambungan Usaha

Di bawah asumsi usaha berkesinambungan, suatu entitas dianggap

mempunyai usaha yang berkesinambungandalam waktu dekat di masa mendatang.

Laporan keuangan yang bertujuan umum dibuat dengan dasar kesinambungan

usaha, kecuali jika manajemen mempunyai niat/rencana melikuidasi entitas itu

atau berhenti beroperasi , atau tidak ada alternative yang realistis kecuali

26
membubarkannya. Laporan keuangan yang bertujuan khusus dapat atau tidak

dapat dibuat dengan kerangka pelaporan keuangan dimana dasar kesinambungan

usaha itu relevan (contoh, dasar kesinambungan usaha tidak relevan untuk laporan

keuangan yang dibuat atas dasar pajak/tax basis di Negara tertentu)

Dalam hal penggunaan asumsi usaha berkesinambungan usaha itu tepat, asset

dan kewajiban dicatat atas dasar entitas itu dapat merealisasi asetnya dan

merealisasikan kewajibannya dalam kegiatan bisnisnya yang normal.

Keraguan Yang Besar Mengenai Asumsi Kesinambungan Usaha

Indikator Keuangan

o Posisi utang bersih atau utang lancar bersih

o Pinjaman yang mendekati tanggal jatuh tempo tanpa prospek yang realistis untuk

perpanjangan atau pelunasan, atau ketergantungan yang besar akan pinjaman

jangka pendek untuk membelanjai asset teatp.

o Indikasi penarikan dukungan dari para kreditur

o Arus kas operasional yang negatif seperti terlihat dalam laporan keuangan historis

maupun prospektif.

o Rasio keuangan utama yang buruk

o Kerugian operasional yang besar

o Penurunan nilai asset yang digunakan untuk menghasilkan arus kas, secara

signifikan.

o Menunggak membayar deviden atau bahkan menghentikannya sama sekali

27
o Ketidakmampuan membayar para kreditur pada tanggal jatuh temponya utang

o Ketidakmampuan memenuhi syarat-syarat pinjaman.

o Perubahan transaksi pembelian dari transaksi kredit ke tunai transaksi.

o Ketidakmampuan memperoleh pendanaan untuk mengembangkan produk baru

atau investasi yang sangat penting.

Indikator Operasional

o Niat/rencana manajemen untuk melikuidasi entitas atau berhenti operasi

o Hilangnya anggota manajemen, tanpa pengganti

o Kehilangan pasar yang sangat penting, pelanggan utama, franchise, license, atau

pemasok utama.

o Kesulitan dengan SDM, mogok kerja berkepanjangan, bentrokan dalam pabrik dan

seterusnya.

o Kekurangan pemasok untuk bahan baku/mesin yang penting.

o Munculnya saingan baru yang sangat sukses.Lain-lain

o Ketidakpatuhan mengenai kewajiban permodalan.

o Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan atau ketentuan statuter

(anggaran dasar).

o Tuntutan hukum terhadap entitas yang belum final (masih pending), yang jika

berhasil dapat berdampak buruk

o Perubahan undang-undang, ketentuan perundang-undangan atau kebijakan

pemerintah yang berdampak buruk bagi entitas.

o Bencana besar yang tidak diasuransikan atau asuransi yang terlalu rendah.

28
ISA 570 Kesinambungan Usaha

ISA ini membahas tanggung jawab auditor sehubungan dengan penggunaan

asumsi going concern oleh manajemen dan penilaian manajemen mengenai

kemampuan entitas untuk melanjutkan usaha yang berkesinambungan.

Hal-hal yang diwajibkan oleh ISA 570.10 dan ISA 570.11 ialah :

1. Apakah peristiwa atau kondisi yang menimbulkan keraguan tentang

kesinambungan

2. Sudahkah manajemen melakukan penilaian pendahuluan mengenai kemampuan

kesinambungan usaha entitas

3. Jika iya, Identifikasi peristiwa yang menimbulkan keraguan dan dapatkan rencana

tanggapan manajemen

4. Jika tidak, bahas dengan manajemen adanya peristiwa/kondisi dan dapatkan

tanggapan manajemen

5. Evaluasi rencana tanggapan manajemen dan atau dokumen pendukungnya

6. Simpulkan apakah ada ketidakpastian material atau jika penggunaan asumsi

kesinambungan usaha tidak tepat

29
BAB III

KESIMPULAN

Auditor diwajibkan untuk berkomunikasi dengan klien mengenai kondisi-

kondisi yang dapat dilaporkan berkaitan dengan pengendalian internal dan hal-hal

lain yang bersangkutan dengan pelaksanaan audit. Selain itu, auditor juga

mengkomunikasikan rekomendasi mengenai efisiensi dan efektivitas operasi klien

dalam surat manajemen. Terakhir, auditor mempunyai tanggung jawab tertentu

setelah audit berkaitan dengan peristiwa kemudian yang terjadi antara tanggal

laporan audit dan penerbitannya, penemuan selanjutnya atas fakta yang ada pada

tanggal laporan, dan penemuan selanjutnya atas prosedur yang dihilangkan.

Penggunaan asumsi usaha berkesinambungan (going concern

assumption) sangat fundamental dalah membuat laporan keuangan. dengan asumsi

usaha berkesinambungan, suatu entitas umumnya dipandang sebagai usaha yang

berkesinambungan untuk masa mendatang di depan mata tanpa niatan

melikuidasi entitas itu atau berhenti beroperasi. Tujuan auditor dalam audit

kesinambungan usaha yaitu Memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang

tepat/tidaknya penggunaaan asumsi kesinambungan usaha oleh manajemen dalam

membuat laporan keuangan; Menyimpulkan berdasarkan bukti audit yang

diperoleh, apakah ada ketidakpastian material mengenai peristiwa atau kondisi

yang mungkin menimbulkan keraguan mengenai kemampuan entitas untuk

melanjutkan usahanya sebagai usaha yang berkesinambungan; dan Menentukan

implikasinya terhadap laporan auditor.

30
DAFTAR PUSTAKA
Tuanakotta, Theodorus M. 2014. Audit Berbasis ISA. Jakarta: Salemba Empat.
Tuanakotta, Theodorus M. 2015. Audit Audit Kontemporer. Jakarta : Salemba

Empat

http://keepcopying.blogspot.co.id/2014/01/kesinambungan-usaha-dan-

rangkuman-isa.html

http://nobel22.blogspot.co.id/2014/06/kesinambungan-usaha.html

http://tthebeginning.blogspot.co.id/2013/09/peristiwa-kemudian.html

31