Anda di halaman 1dari 39

OPTIMALISASI KEMAMPUAN MANAJEMEN REKAYASA LALU LINTAS

GUNA MEWUJUDKAN PELAYANAN PRIMA


DALAM MENCIPTAKAN KAMSELTIBCARLANTAS
DI WILAYAH HUKUM POLRES X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Definisi kecelakaan menurut Dr. Wahid Al-Kharusi, Head of the Khuola
Hospital di Muscat, Oman, menyatakan bahwa road traffic crashes are not
accidents, because they are predictable and preventable, yang artinya bahwa
benturan/tabrakan yang terjadi antara satu atau lebih kendaraan bukan suatu musibah,
karena benturan/tabrakan itu bisa diperkirakan dan bisa dicegah (Margaret McIntyre
et.al, 2004:79).
Menurut Irjen Pol. (Purn) Drs. Endro Agung, M.Eng, setiap tahun di seluruh
dunia hampir satu juta orang mati dan antara 23-34 juta orang luka dalam kecelakaan
lalu lintas. Mayoritas fatalitas di negara berkembang. Sebanyak 40 % jumlah
kendaraan di dunia berada di negara berkembang, akan tetapi kontribusi kecelakaan
lalu lintas yang mengakibatkan kematian di negara berkembang mencapai 86 %.
Sebagai perbandingan, fatalitas per kilometer dan per jumlah kendaraan di negara
maju relatif konsisten, namun di negara berkembang meningkat 3-5% per tahun
(Endro Agung, 2012).
WHO memprediksikan kecelakaan lalu lintas akan menjadi penyebab
kematian terbesar nomor 2 pada tahun 2020. Hal ini dikemukakan oleh Dr. Margie
Peden, Coordinator of Unintentional Injury Prevention - WHO bahwa setiap
tahun 1,2 juta orang tewas dan antara 20 - 50 juta lebih yang terluka atau cacat dan
diperkirakan pada tahun 2020 kecelakaan lalu lintas akan meningkat lebih dari 65%
(Margaret McIntyre et.al, 2004:83). Sebagai perbandingan, pada tahun 2000 di
Kawasan Asia Pasifik terdapat 400.000 orang mati dalam kecelakaan lalu lintas, di
Kawasan ASEAN terdapat 41.000 orang atau 112 orang mati per hari di jalan.
Sedangkan di Indonesia rata-rata setiap jam 3,47 orang mati di jalan karena
kecelakaan lalu lintas (Endro Agung, 2012).

1
Hasil evaluasi kecelakaan lalu lintas Polres jajaran Polda X selalu
menempatkan Polresta X pada urutan rangking tiga besar dengan kategori jumlah
kecelakaan terbanyak dalam satu bulan. Predikat tersebut selalu melekat pada Sat
Lantas Polresta X secara bergantian dengan Sat Lantas Polres Y. Sejalan dengan
pendapat Dr. Margie Peden dan Dr. Wahid Al-Kharusi, maka seharusnya angka
kecelakaan lalu lintas di Polresta X dapat ditekan, selama penyebab kecelakaan
diketahui dan mampu diintervensi.
Berdasarkan data pada tahun 2012 dan tahun 2013 yang sedang berjalan,
kecelakaan lalu lintas di Polresta X yang terbanyak melibatkan sepeda motor. Ketika
data tersebut diamati lebih mendalam berdasarkan fatalitas kerugian yang
ditimbulkan, jenis kecelakaan yang paling banyak menimbulkan fatalitas tertinggi
adalah kecelakaan yang melibatkan antara sepeda motor dan mobil barang.
Jumlah kecelakaan yang melibatkan antara sepeda motor dan mobil barang di
Polresta Bekasi sepanjang tahun 2012 sebanyak 115 kasus sedangkan selama bulan
Januari hingga Februari 2013 telah terjadi 19 kasus. Adapun kerugian yang
ditimbulkan akibat kecelakaan yang melibatkan antara sepeda motor dan mobil
barang di Polresta Bekasi sepanjang tahun 2012 adalah 34 orang meninggal dunia, 49
mengalami luka berat dan 61 mengalami luka ringan, sedangkan kerugian pada tahun
2013 mengakibatkan 4 orang meninggal dunia, 15 orang mengalami luka berat dan 1
orang mengalami luka ringan. Pada umumnya, yang menjadi korban dalam insiden
kecelakaan tersebut adalah dari pihak pengendara sepeda motor.
Keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas merupakan
kebutuhan setiap pengguna jalan. Khusus di Kabupaten X, pemenuhan kebutuhan ini
dilayani oleh Satlantas Polresta X. Pelayanan yang diberikan Satlantas Polresta
Bekasi adalah pengaturan, pengawalan dan patroli (turjawali) lalu lintas, pendidikan
masyarakat tentang lalu lintas (dikmaslantas), pelayanan registrasi dan identifikasi
kendaraan bermotor dan pengemudi, penyidikan kecelakaan lalu lintas dan penegakan
hukum di bidang lalu lintas.
Terkait dengan masalah tingginya angka kecelakaan lalu lintas dengan tingkat
fatalitas yang tinggi di Kabupaten X, Sat Lantas Polresta X telah melakukan
serangkaian upaya untuk mengintervensi penyebab fatalitas kecelakaan tersebut.
Upaya intervensi yang selama ini dilakukan lebih terfokus kepada pengendara sepeda
motor. Upaya-upaya intervensi tersebut antara lain kampanye safety riding, penetapan
kawasan tertib lalu lintas (KTL), penegakan hukum terhadap pengendara sepeda

2
motor terutama yang tidak menggunakan helm standar dan yang tidak menyalakan
lampu pada siang hari, dsb. Sementara upaya intervensi terhadap mobil barang masih
terbatas pada penetapan standar kompetensi yang ketat bagi para pemohon SIM B,
dan uji kompetensi ulang terhadap pemegang SIM B yang ingin memperpanjang
masa berlaku. Selain itu juga dilakukan penegakan hukum terhadap pelanggaran
aturan batas muatan. Akan tetapi, berbagai upaya tersebut tidak mampu menurunkan
tingginya angka kecelakaan lalu lintas dengan tingkat fatalitas yang tinggi di
Kabupaten X.
Salah satu kegagalan upaya yang selama ini dilakukan adalah kurangnya
intervensi terhadap faktor-faktor penyebab kecelakaan lalu lintas dengan tingkat
fatalitas yang tinggi. Oleh karena itu sebelum memutuskan dan merencanakan upaya
pemecahan masalah, adalah sangat penting untuk mempelajari sebab-sebab timbulnya
kecelakaan yang melibatkan sepeda motor dan mobil barang di Polresta X secara
detail. Hal ini dimaksudkan agar Satlantas Polresta X mampu menerapkan
manajemen rekayasa lalu lintas berupa intervensi terhadap faktor penyebab fatalitas
kecelakaan untuk menekan angka kecelakaan tersebut dalam rangka mewujudkan
keselamatan, keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas di wilayah hukum
Polresta X. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas
Satlantas Polresta X belum optimal.

B. Permasalahan
Permasalahan yang diangkat dalam naskah karya perorangan ini adalah belum
optimalnya kemampuan manajement rekayasa lalu lintas, sehingga perlu dilakukan
upaya untuk mengoptimalkan kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas
Polresta X guna mewujudkan pelayanan prima dalam rangka stabilitas kamseltibcar
lantas.

C. Persoalan
Permasalahan naskah karya perorangan ini dijabarkan dalam beberapa pokok
persoalan sebagai berikut :
1. Bagaimana kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas Polresta X
saat ini?
2. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan manajemen rekayasa lalu
lintas Satlantas Polresta X?

3
3. Upaya apay yang perlu dilakukan Satlantas Polresta X untuk meningkatkan
kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas?

D. Ruang Lingkup
Naskah karya perorangan ini dibatasi pada upaya kreatif untuk meningkatkan
kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas Polresta X dalam mencari,
mengidentifikasi dan menganalisis kerawanan kecelakaan lalu lintas dengan tingkat
fatalitas tertinggi, yaitu kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor dan
mobil barang, guna mencari pemecahan masalah terbaik dengan menerapkan hazard
management untuk mengidentifikasi, menilai, menghindari dan meniadakan resiko
melalui pengontrolan resiko.

E. Maksud dan Tujuan


Penulisan Naskah Karya Perorangan ini dimaksudkan untuk menjelaskan
kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas Polresta X saat ini dan upaya
untuk meningkatkannya. Selain itu penulisan naskah karya perorangan ini juga
dimaksudkan sebagai persyaratan untuk mengikuti seleksi Pendidikan Sespimmen
Polri Angkatan 53 T.A. 2013.
Adapun tujuan penulisan naskah karya perorangan ini adalah sebagai sumbang
saran pemikiran bagi segenap anggota dan unsur pimpinan Polri khususnya Polresta X
dalam mengambil langkah-langkah yang tepat dalam meningkatkan kemampuan
manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas Polresta X guna akselerasi pelayanan prima
dalam rangka stabilitas kamtibmas.

F. Sistimatika
BAB I : PENDAHULUAN
BAB II : LANDASAN TEORI
BAB III : KONDISI SAAT INI
BAB IV : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
BAB V : KONDISI YANG DIHARAPKAN.
BAB VI : OPTIMALISASI
BAB VII : PENUTUP

4
G. Metode dan Pendekatan
1. Metode.
Penulisan NKP ini menggunakan metode deskriptif analitis yaitu
metode yang menggambarkan dan menginterpretasi kondisi saat ini kemudian
dikaji dengan menggunakan teori yang relevan guna menemukan solusinya.
2. Pendekatan.
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan
kualitatif, yaitu mengumpulkan fakta, data dan informasi untuk penulisan
melalui studi kepustakaan seperti, makalah, majalah, pendapat pakar maupun
dari sumber-sumber kepustakaan lain yang dianggap relevan dengan kajian
permasalahan.

H. Pengertian-pengertian
1. Optimalisasi
Optimalisasi berasal dari kata dasar optimal yang berarti yang terbaik.
Optimalisasi menurut Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah RI adalah suatu tindakan, proses, atau metodologi untuk membuat
sesuatu (sebagai sebuah desain, sistem, atau keputusan) menjadi
lebih/sepenuhnya sempurna, fungsional, atau lebih efektif (Deputi Bidang
Pembiayaan Kemenkop UKM, 2009:14).
2. Manajemen Rekayasa Lalu Lintas
Pengertian manajemen rekayasa lalu lintas menurut Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah
serangkaian usaha dan kegiatan yang meliputi perencanaan, pengadaan,
pemasangan, pengaturan, dan pemeliharaan fasilitas perlengkapan Jalan dalam
rangka mewujudkan, mendukung dan memelihara keamanan, keselamatan,
ketertiban, dan kelancaran Lalu Lintas.
3. Road Safety atau Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Pengertian keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan menurut Undang
Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah suatu
keadaan terhindarnya setiap orang dari risiko kecelakaan selama berlalu lintas
yang disebabkan oleh manusia, Kendaraan, Jalan, dan/atau lingkungan.

5
4. Kecelakaan Lalu Lintas
Pengertian kecelakaan lalu lintas menurut Undang Nomor 22 Tahun
2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah suatu peristiwa di Jalan
yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan Kendaraan dengan atau
tanpa Pengguna Jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau
kerugian harta benda.
5. Kendaraan
Pengertian kendaraan menurut Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah suatu sarana angkut di jalan yang
terdiri atas Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Tidak Bermotor.
6. Kendaraan Bermotor
Pengertian kendaraan bermotor menurut Undang Nomor 22 Tahun
2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah setiap kendaraan yang
digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain kendaraan yang
berjalan di atas rel. Kendaraan bermotor dikelompokkan berdasarkan jenis :
(a) sepeda motor; (b) mobil penumpang; (c) mobil bus; (d) mobil barang; dan
(e) kendaraan khusus.
7. Mobil Barang
Pengertian mobil barang menurut Undang Nomor 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah Kendaraan Bermotor yang
dirancang sebagian atau seluruhnya untuk mengangkut barang.
8. Rumah-rumah
Pengertian rumah-rumah menurut Undang Nomor 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah bagian kendaraan bermotor
yang berada pada landasan berbentuk ruang muatan untuk orang maupun
barang.
9. Kereta Gandengan
Pengertian kereta gandengan menurut Undang Nomor 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah sarana untuk mengangkut
barang yang seluruh bebannya ditumpu oleh sarana itu sendiri dan dirancang
untuk ditarik oleh Kendaraan Bermotor.
10. Kereta Tempelan
Pengertian kereta tempelan menurut Undang Nomor 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah sarana untuk mengangkut

6
barang yang dirancang untuk ditarik dan sebagian bebannya ditumpu oleh
Kendaraan Bermotor penariknya.
11. Akselerasi
Pengertian akselerasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
proses mempercepat, peningkatan kecepatan, percepatan atau laju perubahan
kecepatan.
12. Pelayanan prima atau Excellence Service
Menurut Endang Wiryatmi (2011), pelayanan prima adalah pelayanan
yang dapat memenuhi harapan masyarakat atau lebih baik dari standar dan
asas-asas pelayanan publik/pelanggan. Menurut Elhaitammy (1990),
pelayanan prima atau excellence service adalah suatu sikap atau cara karyawan
dalam melayani pelanggan secara memuaskan. Pelayanan prima merupakan
suatu pelayanan terbaik, melebihi, melampaui, mengungguli pelayanan yang
diberikan pihak lain atau daripada pelayanan waktu yang lalu.
13. Stabilitas
Pengertian Stabilitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
kemantapan, kestabilan atau keseimbangan. Sedangkan stabil berarti mantap,
kukuh, tidak goyah, tetap, tenang, tak berubah-ubah.
14. Kamtibmas
Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian
Negara Republik Indonesia, keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas)
diartikan sebagai suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai satu persyaratan
terselenggaranya proses pembangunan dalam rangka tercapainya tujuan
nasional yang ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, tegaknya
hukum, serta terbinanya ketentraman masyarakat.

7
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Konsep Analisa SWOT


Menurut Freddy Rangkuti (1997,18) analisa SWOT adalah suatu metoda
analisis yang digunakan untuk menentukan dan mengevaluasi, mengklarifikasi dan
memvalidasi perencanaan yang telah disusun, sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai. Analisa SWOT bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara
sistematis untuk merumuskan suatu strategi. Sebagai sebuah konsep dalam
manajemen strategik, teknik ini menekankan mengenai perlunya penilaian lingkungan
eksternal dan internal, serta kecenderungan perkembangan/perubahan di masa depan
sebelum menetapkan sebuah strategi.
Analisa ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan
(strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat
meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Sebagai salah satu
alat untuk formulasi strategi, tentunya analisa SWOT tidak dapat dipisahkan dari
proses perencanaan strategik secara keseluruhan. Secara umum penyusunan rencana
strategik melalui tiga tahapan, yaitu: (a) tahap pengumpulan data; (b) tahap analisis;
dan (c) tahap pengambilan keputusan.
Adapun penggunaan konsep analisa SWOT pada tulisan ini dititikberatkan
untuk mengidentifikasi dan mengkaji secara sistematis berbagai faktor yang
mempengaruhi kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas Polresta Bekasi
guna akselerasi pelayanan prima dalam rangka stabilitas kamtibmas.

B. Teori Manajemen
Menurut George R. Terry, manajemen merupakan sebuah proses yang khas,
yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan
dan pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran
yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber-
sumber lain.
Menurut Terry ada empat fungsi fundamental manajemen yaitu : (1)
perencanaan (planning); (2) pengorganisasian (organizing); (3) mengerakkan

8
(actuating); dan (4) pengawasan (controlling). Keempatnya merupakan proses
manajemen.
Terry menyebutkan bahwa operasionalisasi manajemen dalam sebuah
organisasi terdiri dari 6 (enam) unsur utama pendukung yaitu: (1) man yang diartikan
sebagai sumberdaya manusia dalam suatu organisasi; (2) money yang dimaknai
sebagai dukungan anggaran bagi sebuah organisasi; (3) methode atau cara yang
digunakan oleh sebuah perusahaan atau organisasi untuk memproduksi barang atau
jasa; (4) machine atau sarana dan prasarana yang mendukung opersional perusahaan
atau organisasi; (5) material atau bahan-bahan pendukung produksi; dan (6) market
atau pasar (Winardi, 1986:396).
Di dalam organisasi Polri, material diperluas spketrum maknanya. Material
dapat dimaknai juga sebagai aturan-aturan, pedoman-pedoman, surat perintah, surat
tugas dan lainnya yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam melakukan kegiatan
kepolisian atau tugas pokok kepolisian. Sama seperti material, market pun memiliki
perluasan spektrum makna. Market dalam konteks pelaksanaan tugas kepolisian dapat
diartikan sebagai masyarakat atau pihak-pihak yang menjadi stakeholder Polri.
Stakeholder Polri sendiri diartikan sebagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap
keberadaan Polri atau memiliki dampak terkait pelaksanaan tugas kepolisian.Dalam
konteks penulisan kali ini maka secara detail akan diuraikan bagaimana dukungan
sumber daya manusia, alokasi anggaran, dukungan sarana prasarana, dan metode
tertentu dapat mengoptimalkan kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas
Polresta Bekasi.

C. Teori Manajemen Strategi


Strategi merupakan sebuah kiat, cara, dan taktik utama yang disusun secara
sistematis untuk mencapai suatu tujuan. Strategi menurut Daft (2002: 307) adalah
rencana tindakan yang menjabarkan alokasi sumber daya dan aktifitas-aktifitas untuk
menanggapi lingkungan dan membantu mencapai sasaran atau tujuan organisasi.
Strategi dalam suatu organisasi merupakan cara untuk mencapai tujuan-tujuan,
mengatasi segala kesulitan dengan memanfaatkan sumber-sumber dan kemampuan
yang dimilikinya. Jadi strategi merupakan suatu rencana yang ditujukan untuk
mencapai tujuan. Beberapa organisasi mungkin mempunyai tujuan yang sama, tetapi
strategi yang digunakan bisa berbeda. Strategi bukan semata-mata rencana. Strategi

9
harus sampai pada penerapan. Dengan demikian yang terpenting adalah bagaimana
strategi dapat dilaksanakan.
Manajemen Strategi adalah proses atau rangkaian kegiatan pengambilan
keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara
melaksanakannya, yang dibuat oleh manejemen puncak dan diimplementasikan oleh
seluruh jajaran organisasi. Manajemen Strategi merupakan usaha manajerial untuk
menumbuhkembangkan kekuatan organisasi dalam mengeksploitasi peluang yang
muncul guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan misi yang telah
ditentukan.
Manajemen Strategi dapat dipandang sebagai perencanaan berskala besar yang
berorientasi pada jangkauan masa depan yang jauh (visi), dan ditetapkan sebagai
keputusan manajemen puncak (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsip), agar
memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif (misi) dalam usaha
menghasilkan sesuatu yang berkualitas, dengan diarahkan pada optimalisasi
pencapaian tujuan (tujuan strategi) dan berbagai sasaran organisasi (tujuan
operasional).

D. Teori Pelayanan Prima


Menurut Normann (1991:14), pelayanan merupakan suatu produksi yang
sifatnya tidak dapat diraba, berbeda dengan barang produksi lain (barang jadi atau
barang industri yang berwujud). Pelayanan itu kenyataannya terdiri dari tindakan
nyata dan merupakan pengaruh yang sifatnya adalah tindak sosial. Produksi dan
konsumsi dari pelayanan tidak dapat dipisahkan secara nyata, karena pada umumnya
kejadiannya bersamaan dan terjadi di tempat yang sama. Pengertian pelayanan yang
lebih luas dikatakan oleh Daviddow dan Uttal (1989:19) yaitu usaha apa saja yang
mempertinggi kepuasan pelanggan (whatever enhances customer satisfaction).
Menurut Endang Wiryatmi (2011), perkembangan tuntutan pelayanan saat ini
adalah pelayanan prima atau pelayanan yang dapat memenuhi harapan masyarakat
atau lebih baik dari standar dan asas-asas pelayanan publik/pelanggan. Menurut
Elhaitammy (1990), pelayanan prima atau excellence service adalah suatu sikap atau
cara karyawan dalam melayani pelanggan secara memuaskan. Pelayanan prima
merupakan suatu pelayanan terbaik, melebihi, melampaui, mengungguli pelayanan
yang diberikan pihak lain atau daripada pelayanan waktu yang lalu. Secara sederhana,

10
pelayanan prima adalah suatu pelayanan yang terbaik dalam memenuhi harapan dan
kebutuhan pelanggan.
Peningkatan kualitas untuk meningkatkan pelayanan yang ada ditekankan pada
aspek berikut :
1. Struktural. Perbaikan struktural organisasi atau perusahaan harus dilakukan
dari tingkat top management hingga lower management.
2. Operasional. Suatu perusahaan penjualan akan dapat mewujudkan kebutuhan
pelanggan apabila peningkatan operasional dilaksanakan artinya secara
langsung kualitas pelayanan juga dilaksanakan.
3. Visi. Suatu organisasi atau perusahaan harus mengetahui arah organisasi
dengan cara mengidentifikasitentang apa yang harus dilakukan siapa yang
akan melaksanakan.
4. Strategi pelayanan. Merupakan cara yang ditentukan perusahaan dalam
meningkatkan pelayanan sehingga visi dapat terwujud, Strategi pelayanan
tersebut harus memperhatikan: perilaku pelanggan, harapan pelanggan, image
pelanggan, loyalitas pelanggan, dan alternatif-alternatif pelanggan.

E. Konsep Road Safety atau Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Dr. Wahid Al-Kharusi, Head of the Khuola Hospital di Muscat, Oman,
menyatakan bahwa road traffic crashes are not accidents, because, they are
predictable and preventable, yang artinya bahwa benturan/tabrakan yang terjadi
antara satu atau lebih kendaraan bukanlah suatu kecelakaan karena benturan/tabrakan
itu bisa diperkirakan dan bisa dicegah (Margaret McIntyre et.al, 2004:79).
Menurut Irjen Pol. (Purn) Drs. Endro Agung, M.Eng, setiap tahun di seluruh
dunia hampir satu juta orang mati dan antara 23-34 juta orang luka dalam kecelakaan
lalu lintas. Mayoritas fatalitas di negara berkembang. Sebanyak 40 % jumlah
kendaraan di dunia berada di negara berkembang, akan tetapi kontribusi kecelakaan
lalu lintas yang mengakibatkan kematian di negara berkembang mencapai 86 %.
Sebagai perbandingan, fatalitas per kilometer dan per jumlah kendaraan di negara
maju relatif konsisten, namun di negara berkembang meningkat 3-5% per tahun
(Endro Agung, 2012).
WHO memprediksikan kecelakaan lalu lintas akan menjadi penyebab
kematian terbesar nomor 2 pada tahun 2020. Hal ini dikemukakan oleh Dr. Margie
Peden, Coordinator of Unintentional Injury Prevention - WHO bahwa setiap

11
tahun 1,2 juta orang tewas dan antara 20 - 50 juta lebih yang terluka atau cacat dan
diperkirakan pada tahun 2020 kecelakaan lalu lintas akan meningkat lebih dari 65%
(Margaret McIntyre et.al, 2004:83). Sebagai perbandingan, pada tahun 2000 di
Kawasan Asia Pasifik terdapat 400.000 orang mati dalam kecelakaan lalu lintas, di
Kawasan ASEAN terdapat 41.000 orang atau 112 orang mati per hari di jalan.
Sedangkan di Indonesia rata-rata setiap jam 3,47 orang mati di jalan karena
kecelakaan lalu lintas (Endro Agung, 2012).
Kecelakaan lalu lintas adalah sebuah tragedi. Road Safety atau Keselamatan
Lalu Lintas Jalan bukan lagi hanya merupakan masalah transportasi belaka namun
juga merupakan masalah kesehatan, masalah sosial dan masalah ekonomi. Para
korban kecelakaan lalu lintas dipastikan selalu mengalami masalah kesehatan karena
luka yang diderita dan dapat menyebabkan kehilangan nyawa. Para korban kecelakaan
lalu lintas dipastikan mengalami masalah sosial karena luka yang dideritanya akan
mengurangi kemampuan mencari nafkah. Terakhir, para korban kecelakaan lalu lintas
dipastikan mengalami masalah ekonomi karena akan mengalami pemiskinan untuk
membiayai untuk mengobati luka yang dideritanya.
Oleh karena itu, Road Safety atau Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan adalah sangat penting. Road Safety atau Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan adalah suatu keadaan terhindarnya setiap orang dari risiko kecelakaan selama
berlalu lintas yang disebabkan oleh manusia, Kendaraan, Jalan, dan/atau lingkungan.
Prinsip dalam Road Safety atau Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah
hazard management, yaitu mengidentifikasi kerawanan dan berupaya untuk
menghindari resiko dan meniadakan kerawanan melalui penilaian dan pengontrolan
resiko.

12
BAB III
KONDISI SAAT INI

A. Kondisi Umum
Hasil evaluasi kecelakaan lalu lintas Polres jajaran Polda X rata-rata
menempatkan Polresta X pada rangking tiga besar dengan kategori kecelakaan
terbanyak dalam satu bulan. Adapun data kecelakaan lalu lintas di Polresta X selama
tahun 2012 dan 2013 adalah :
Tabel 1 :
Data Kecelakaan lalu lintas di Polresta X
KEJADIAN KORBAN
JML JML KERUGIAN RANK
NO BULAN 33 34
KJD MD LB LR KRBN (Rp) PMJ
K L M K L M
TAHUN 2012
1 JAN 7 60 1 - 16 - 84 7 10 88 105 95,000,000 2
2 FEB 2 47 - - 7 - 56 2 8 68 78 61,500,000 7
3 MAR 10 46 - 1 16 - 73 11 5 80 96 85,500,000 4
4 APR 5 46 1 2 9 - 63 8 22 52 82 78,500,000 5
5 MEI 6 38 - 1 13 1 59 8 14 64 86 71,000,000 8
6 JUN 5 48 1 1 13 - 68 6 17 67 90 80,500,000 5
7 JUL 6 57 1 1 17 - 82 8 12 96 116 93,500,000 2
8 AGS 6 52 - 1 19 - 78 10 42 67 119 100,500,000 2
9 SEP 7 68 - 2 16 - 93 10 73 38 121 133,500,000 2
10 OKT 10 57 - - 10 - 77 11 76 12 99 120,000,000 3
11 NOV 6 49 - 3 5 - 63 10 58 23 91 98,000,000 3
12 DES 4 31 - 3 5 - 43 7 38 18 63 64,500,000 9
JUMLAH 74 599 4 15 146 1 839 98 375 673 1146 1,082,000,000
TAHUN 2013
13 JAN 2 62 0 0 12 0 76 2 76 11 89 113,000,000 1
14 FEB 8 34 0 1 9 0 52 13 53 1 67 84,000,000 3
JUMLAH 10 96 0 1 21 0 128 15 129 12 156 197,000,000

Berdasarkan jenis kendaraan yang terlibat, kecelakaan dengan angka fatalitas


adalah kecelakaan yang melibatkan sepeda motor. Ketika diteliti lebih mendalam
berdasarkan jenis kendaraan bermotor lain yang terlibat, diketahui bahwa kecelakaan
dengan angka fatalitas tertinggi adalah kecelakaan yang melibatkan antara sepeda
motor dan mobil barang. Secara lengkap data kecelakaan lalu lintas yang melibatkan
antara sepeda motor dan mobil barang adalah sebagai berikut :

Tabel 2 :

13
Data Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor dan mobil barang di
Polresta X
JUMLAH KORBAN
NO BULAN KET
LAKA MD LB LR
TAHUN 2012
1 JANUARI 17 3 3 14
2 FEBRUARI 7 0 2 9
3 MARET 12 6 1 7
4 APRIL 12 3 5 6
5 MEI 11 5 4 4
6 JUNI 8 0 2 8
7 JULI 7 2 3 8
8 AGUSTUS 3 1 3 2
9 SEPTEMBER 9 4 4 2
10 OKTOBER 16 4 13 0
11 NOPEMBER 6 3 4 0
12 DESEMBER 7 3 5 1
TAHUN 2013
13 JANUARI 8 1 7 1
14 FEBRUARI 11 3 8 0
JUMLAH 134 38 64 62

Berdasarkan analisis terhadap TKP, pada umumnya kecelakaan lalu lintas


yang melibatkan sepeda motor dan mobil barang di Polresta X terjadi di jalan dalam
kawasan industri (34 kejadian) dan di jalan sekitar kawasan, yaitu Jl. Raya Cikarang
Cibarusah 24 kejadian, Jl. Raya Kali Malang 10 kejadian, Jl. Raya Perjuangan 7
kejadian, Jl. Raya Lemah Abang 6 kejadian, Jl. Teuku Umar 4 kejadian, Jl. Jenderal
Urip Sumoharjo 3 kejadian, Jalan Diponegoro 3 kejadian.
Dari 36 kejadian yang mengakibatkan korban meninggal dunia, jika ditinjau
dari jenis kendaraan yang menabrak, 28 kejadian di antaranya merupakan kejadian
sepeda motor menabrak mobil barang, 5 kejadian mobil barang menabrak sepeda
motor, dan 3 kejadian tidak diketahui penabraknya. Jika ditinjau dari posisi kendaraan
penabrak dan titik tabrak pada kendaraan yang ditabrak diperoleh data 52 kasus
tabrakan samping-samping, 30 kasus tabrakan depan belakang, 15 tabrakan depan
samping, 11 kasus tabrakan sudut, dan 7 kasus tabrakan depan-depan.
Penyidikan kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu bidang tugas Satlantas
Polresta Bekasi, sebagaimana pasal 59 ayat 2 Peraturan Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi dan Tata
Kerja pada Tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian Sektor. Satlantas bertugas
melaksanakan Turjawali lalu lintas, pendidikan masyarakat lalu lintas (Dikmaslantas),
pelayanan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dan pengemudi, penyidikan

14
kecelakaan lalu lintas dan penegakan hukum di bidang lalu lintas. Dalam
melaksanakan tugas tersebut, Satlantas menyelenggarakan fungsi:
1. Pembinaan lalu lintas kepolisian;
2. Pembinaan partisipasi masyarakat melalui kerja sama lintas sektoral,
Dikmaslantas, dan pengkajian masalah di bidang lalu lintas;
3. Pelaksanaan operasi kepolisian bidang lalu lintas dalam rangka penegakan
hukum dan keamanan, keselamatan, ketertiban, kelancaran lalu lintas
(Kamseltibcarlantas);
4. Pelayanan administrasi registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor serta
pengemudi;
5. Pelaksanaan patroli jalan raya dan penindakan pelanggaran serta penanganan
kecelakaan lalu lintas dalam rangka penegakan hukum, serta menjamin
Kamseltibcarlantas di jalan raya;
6. Pengamanan dan penyelamatan masyarakat pengguna jalan; dan
7. Perawatan dan pemeliharaan peralatan dan kendaraan.
Sesuai dengan tugas dan fungsinya, maka Satlantas Polresta X berupaya untuk
mempelopori keselamatan lalu lintas di wilayah hukum Polresta X dalam rangka
menekan angka kecelakaan lalu lintas, terutama kecelakaan dengan fatalitas tertinggi
yaitu kecelakaan yang melibatkan sepeda motor dan mobil barang. Upaya tersebut
dilakukan dengan sumber daya dan metode sebagaimana uraian berikut.

B. Sumber Daya Manusia


Sesuai lampiran A3 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada Tingkat
Kepolisian Resort dan Kepolisian Sektor, jumlah personel yang ideal Satlantas
Polresta Bekasi adalah 147 orang. Sedangkan personel riil Polresta X sebanyak 134
orang dengan perincian :

15
Tabel 3 :
Data Personel Sat Lantas Polresta X Berdasarkan Pangkat
DSPP RIIL
NO JABATAN PANGKA ESELON JUMLAH PANGKA ESELON JUMLAH
T T
1. Kasatlantas KP III B 1 KP III B 1
2. Wakasatlantas AKP IV A 1 AKP IV A 1
3. Kaurbinopsnal IP IV B 1 AKP IV B 1
4. Kaurmintu IP IV B 1 IP IV B -
5. Bamin BA - 4 BA - 6
6. Banum PNS II/I - 2 PNS II/I - 2
7. Kanitdikyasa AKP IV A 1 AKP IV A 1
8. Kasubnit IP IV B 2 IP IV B 2
9. Banit BA - 8 BA - 3
10. Kanitturjawali AKP IV A 2 AKP IV A 1
11. Kasubnit IP IV B 1 IP IV B 2
12. Banit BA - 80 BA - 62
13. Kanitregident AKP IV A 1 AKP IV A 1
14. Kasubnit IP IV B 2 IP IV B 2
15. Banit BA - 12 BA - 25
16. Kanitlaka AKP IV A 1 AKP IV A 1
17. Kasubnit IP IV B 2 IP IV B 1
18 Banit BA - 25 BA - 16
JUMLAH 147 128

Tabel 4 :
Data Personel Sat Lantas Polresta X Berdasarkan Pangkat
DSPP RIIL
NO PANGKAT GOL
ESELON JUMLAH ESELON JUMLAH
1. KOMPOL KP III B 1 III B 1 1
2. AKP AKP IV A 6 IV A 5 5
3. IPTU IP IV B 9 IV B 3 2
4. IPDA 1
5. AIPTU BA - 129 - 116 12
6. AIPDA 5
7. BRIPKA 12
8. BRIGADIR 71
9. BRIPTU 16
10. BRIPDA -
11. PENDA PNS - 2 - 3 2
12. PENGATUR 1
JUMLAH 147 128

Adapun jumlah personel yang sudah mengikuti pendidikan kejuruan lalu lintas
baru 9 (sembilan) orang yaitu Kompol Tri Yulianto, Aiptu Atikah, Aiptu I made
kenak, Aipda Ranto, Bripka Supat, Bripka Taufik Rahmani, Bripka Carmin, Brigadir
H. Badru zaman, dan Briptu Madiyanto.

16
C. Anggaran
Dukungan anggaran yang diterima Satlantas Polresta X sebanyak Rp
647.587.500, dengan mata anggaran berupa Honor PNBP, Perbaikan Peralatan
Fungsional Polres, Patroli Sepeda Motor, Patroli Ranmor R 4, Uang saku dan dana
satuan Gatur Lalu Lintas, Biaya Lidik / Sidik Keselamatan Laka Lantas dan Rakor
Giat Dikmas Lantas. Adapun perincian anggaran tersebut beserta volume kegiatan
yang dianggarkan adalah :
Tabel 5 :
Data Anggaran Sat Lantas Polresta X

PROGRAM / GIAT / KOMPONEN / ANGGARAN


NO VOLUME
SUB KOMPONEN (Rp)
1 2 3 4
Program :
Pemeliharaan kamtibmas
Giat :
Pembinaan Pemeliharaan Keamanan dan
Ketertiban Kewilayahan
Komponen
Dukungan Operasional Pemeliharaan dan
Keamanan
Sub Komponen :
Honor Petugas Pelaks sim (produksi III) :
1. - Honor PNBP 136,800,000
24 Org x 12 Bln X Rp.
>Petugas Pelaks. SIM level III 93,600,000
325..000
4 Org x 12 Bln X Rp.
>Petugas Pelaks. SIM Keliling 12,000,000
250..000
1 Org x 12 Bln X Rp.
>Bendahara penerimaan SIM 9,000,000
750.000
1 Org x 12 Bln x Rp.
> Pembt. Benma SIM 4,440,000
370.000
4 Org x 12 Bln x Rp.
>Pembt. Benma STNK/STCK 17,760,000
370.000
2. - Perbaikan Peralatan Fungsional Polres 15,000,000
Harwat Peralatan pada ruang yan SIM 1 SATPAS 15,000,000
3. - Menyelenggarakan Turjawali 284,587,500
24 Org X 365 Hr X Rp.
> Uang Saku & Dana Satuan Patroli R 2 109,500,000
12.500
3 Org X 365 Hr X Rp.
> Diskresi R 2 13,687,500
12.500
6 Org X 365 Hr X Rp.
> Uang Saku & Dana Satuan Patroli R 4 27,375,000
12.500
6 Org X 365 Hr X Rp.
> Diskresi R -4 27,375,000
12.500
>Uang saku & dana satuan Gatur Lalu 27 Org X 316 Hr X Rp.
106,650,000
Lintas 12.500

17
- Penyelidikan dan Penyidikan laka
4.
lantas
> Biaya Lidik Sidik Keselamatan Laka
171,200,000
Lantas
>> Tabrak Lari 8 KASUS X Rp. 2.500.000 20,000,000
>> Laka Ringan 3 KASUS X Rp. 300.000 900,000
>> Laka Tidak Menonjol 11 KASUS X Rp. 1.300.000 14,300,000
>> Laka Menonjol Ran Bus/AKAP 7 KASUS X Rp. 6.500.000 45,500,000
>> Laka Menonjol Ran R.4/Angkot 7 KASUS X Rp. 4.500.000 31,500,000
>> Laka Menonjol Ran R.4 Um/Pribadi 5 KASUS X Rp. 3.500.000 17,500,000
>> Saksi Ahli 11 OK X Rp. 2.000.000 22,000,000
>> Otopsi 7 OK X Rp. 2.500.000 17,500,000
>> Derek Besar 2 UNIT X Rp. 500.000 1,000,000
>> Derek Kecil 4 UNIT X Rp. 250.000 1,000,000

1 2 3 4
Komponen
Penyelenggaraan Operasional dan
pemeliharaan Perkantoran
5. Sub Komponen
- Rakor/Kerja/Dinas/Pim Pokja/
Konsultasi 40,000,000
> Rakor Giat Dikmas Lantas 1 PKT X Rp. 40.000.000 40,000,000
> Dikmas Lantas Binluh 45 GIAT -
JUMLAH 647,587,500

D. Sarana Prasarana
Dukungan sarana prasarana yang dimiliki oleh Satlantas Bekasi terutama
sarana prasarana berupa kendaraan operasional baik Roda 2 maupun Roda 4 cukup
memadai. Dukungan sarana prasarana lain yang menonjol adalah dukungan teknologi
informasi berupa sistem informasi kecelakaan IRSMS-2.
Tabel 6 :
Data Kendaraan Roda 4 Dinas Sat Lantas Polresta X
SERAH
NO. NO.POL MERK THN KET.
TERIMA
1 2 3 4 5 6
1105-36-
1. FORD RANGER 2007 12/29/2007 UNIT LAKA
VII
1106-36-
2. MITSUBISHI L-200 2006 2/9/2007 UNIT DIKYASA
VII
3. 11-36-VII HYUNDAI ELANTRA 2011 12/29/2011 UNIT PAMWAL VIP
1103-36-
4. FORD FOCUS 2007 12/29/2007 UNIT PAMWAL
VII
1102-36-
5. FORD FOCUS 2007 12/29/2007 UNIT DIKYASA
VII
1104-36-
6. MITSUBISHI LANCER 2005 UNIT PAMWAL
VII
7. 1114-36- DAIHATSU XENIA 2010 9/27/2010 UNIT REG IDENT

18
VII
DAIHATSU GRAND
8. 44449-VII 2002 12/30/2008 STAF BIN OPS
MAX
DAIHATSU GRAND
9. 44450-VII 2002 12/30/2008 UNIT LAKA
MAX
DAIHATSU GRAND
10. 90579-VII 2009 9/25/2009 UNIT REG IDENT
MAX
1113-36- UNIT LANTAS
11. HYUNDAI ACCENT 2002 5/27/2008
VII CIKPUS
1112-36-
12. HYUNDAI ACCENT 2002 5/27/2008 UNIT PAMWAL
VII
1110-36-
13. HYUNDAI ACCENT 2002 5/27/2008 UNIT LANTAS
VII
14. 44526-VII HYUNDAI ACCENT 2002 5/27/2008 RUSAK BERAT
15. 44151-VII KIA CARENTS AT 2004 9/14/2005 RUSAK BERAT
16. - TOYOTA VIOS 2009 29/9/2012 DALAM PROSES
17. - TOYOTA VIOS 2009 29/9/2012 DALAM PROSES

Tabel 7 :
Data Kendaraan Roda 2 Dinas Sat Lantas Polresta X
SERAH
NO. NO.POL MERK THN KET.
TERIMA
18. 44190-VII YAMAHA P.900 2002 10/17/2006 UNIT BM
19. 44191-VII YAMAHA P.900 2002 10/17/2006 UNIT BM
20. 44516-VII YAMAHA P.900 2002 10/17/2006 UNIT BM
21. 44516-VII YAMAHA P.900 2002 10/17/2006 UNIT BM
22. 44513-VII YAMAHA P.900 2004 10/17/2006 UNIT BM
23. 44514-VII YAMAHA P.900 2004 10/17/2006 UNIT BM
24. 44506-VII YAMAHA SCORPIO 2005 /03/2005 UNIT BM
1115-36-
25. YAMAHA SCORPIO 2005 /03/2005 UNIT BM
VII
26. 44508-VII YAMAHA SCORPIO 2005 /03/2005 UNIT BM
27. 44512-VII YAMAHA SCORPIO 2005 /03/2005 UNIT BM
28. 44510-VII YAMAHA SCORPIO 2007 10/6/2007 UNIT BM
29. 44511-VII YAMAHA SCORPIO 2007 10/6/2007 UNIT BM
30. 44175-VII YAMAHA SCORPIO 2007 10/6/2007 UNIT GATUR
31. 44174-VII YAMAHA SCORPIO 2007 10/6/2007 UNIT GATUR
32. 44173-VII YAMAHA SCORPIO 2007 10/6/2007 UNIT GATUR
33. 44176-VII YAMAHA SCORPIO 2007 10/6/2007 UNIT GATUR
34. 44181-VII SUZUKI THUNDER 2006 /06/2006 UNIT GATUR
35. 44178-VII SUZUKI THUNDER 2006 /06/2006 UNIT GATUR
36. 44179-VII SUZUKI THUNDER 2006 /06/2006 UNIT GATUR
37. 44182-VII SUZUKI THUNDER 2006 /06/2006 UNIT GATUR
38. 44180-VII SUZUKI THUNDER 2006 /06/2006 UNIT GATUR
39. 44183-VII SUZUKI THUNDER 2006 /06/2006 UNIT GATUR
40. 90451-VII SUZUKI THUNDER 2007 2/11/2008 UNIT REG IDENT
41. 44529-VII KAWASAKI KLX 150 S 2009 9/25/2009 UNIT LAKA
42. 44451-VII YAMAHA VEGA R 2008 12/30/2008 UNIT REG IDENT
43. 44452-VII YAMAHA VEGA R 2008 12/30/2008 UNIT REG IDENT
44. 90661-VII HONDA REVO 2009 9/25/2009 UNIT REG IDENT
45. 90461-VII SUZUKI SHOGUN 2007 2/11/2008 UNIT REG IDENT

19
46. 90619-VII KAWASAKI KLX 150 S 2009 9/25/2009 POLSEK TAMBUN
47 90620-VII KAWASAKI KLX 150 S 2009 9/25/2009 POLSEK CIBITUNG
48 90621-VII KAWASAKI KLX 150 S 2009 9/25/2009 POLSEK CIKARANG
ISUZU D-MAX 3.000
49. - 2012 10/25/2012 UNIT LAKA
CC
YAMAHA SCORPIO
50 - 2012 10/26/2012 DALAM PROSES
225 CC
YAMAHA SCORPIO
51 - 2012 10/26/2012 DALAM PROSES
225 CC
SUZUKI HAYATE 125
52 - 2012 DALAM PROSES
CC
SUZUKI HAYATE 125
53 - 2012 DALAM PROSES
CC

E. Metode
Metode manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas dilakukan Satlantas Polresta
X dalam lebih banyak terfokus kepada pengendara sepeda motor. Upaya-upaya
intervensi tersebut antara lain kampanye safety riding, penetapan kawasan tertib lalu
lintas (KTL), penegakan hukum terhadap pengendara sepeda motor terutama yang
tidak menggunakan helm standar dan yang tidak menyalakan lampu pada siang hari
dsb, menghimbau kepada para perusahaan untuk menyediakan dan meningkatkan
fasilitas antar jemput karyawan, dan secara aktif melakukan kerja sama dan
koordinasi dengan instansi terkait dalam wadah Forum Komunikasi Lalu Lintas di
Kabupaten X.
Sementara upaya intervensi terhadap mobil barang masih terbatas pada
penetapan standar kompetensi yang ketat bagi para pemohon SIM B, dan uji
kompetensi ulang terhadap pemegang SIM B yang ingin memperpanjang masa
berlaku. Selain itu juga dilakukan penegakan hukum terhadap pelanggaran aturan
batas muatan, pelanggaran syarat teknis mobil barang dsb.
Adapun metode lain yang merupakan program unggulan Satlantas Polresta X
antara lain : pembentukan forum komunikasi lalu lintas, Road Safety Partnership dan
kawasan tertib lalu lintas tahun 2012, Traffic Accident Memorial (monumen laka
lantas), penerapan contra flow di fly over exit tol cikarang barat, U Turn di bawah
fly over pintu Tol Cikarang Barat, board man dan spanduk pelopor keselamatan
berlalu lintas, Polsanak, dan rekayasa fly over dua arah.

20
BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

A. Faktor Internal
1. Kekuatan (Strength)
a. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan, Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang
Kendaraan, .
b. Komitmen Kapolda, Direktur Lalu Lintas dan Kapolres untuk
meningkatkan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu
lintas.
c. 70 % kekuatan personel Satlantas ditugaskan di lapangan dalam unit
dikyasa, unit turjawali dan unit laka lantas.
d. Motivasi kerja, dedikasi dan disiplin anggota cukup tinggi.
e. Terdapat dukungan anggaran.
f. Terdapat dukungan sarana prasarana berupa kendaraan opsnal dan
teknologi informasi.
g. Mempelopori keselamatan lalu lintas melalui kampanye safety riding,
penetapan kawasan tertib lalu lintas (KTL), dan penegakan hukum.
2. Kelemahan (Weakness)
a. Jumlah personel Satlantas dirasakan masih kurang mencukupi
sekalipun sudah memenuhi 87% dari DSPP.
b. Masih ada tugas rangkap yang diberikan kepada anggota.
c. Jumlah personel pada unit dikyasa masih minim.
d. Masih banyak anggota yang belum mengikuti pendidikan dan kejuruan.
e. Volume dan indeks kegiatan penyidikan kecelakaan lalu lintas dan
dikmas lantas dalam anggaran masih minim.
f. Tidak ada dukungan anggaran pemeliharaan dan perawatan kecuali
peralatan pada ruang SIM.
g. Kurangnya pengawasan terhadap anggota di lapangan.
h. Audit keselamatan jalan jarang dilakukan.

21
B. Faktor Eksternal
1. Peluang (Opportunities)
a. Adanya dukungan dari Pemerintah, instansi terkait, LSM, paguyuban
dan masyarakat untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban
dan kelancaran lalu lintas.
b. Terdapat sanksi yang dapat dijatuhkan kepada petugas penguji
kendaraan bermotor yang melakukan pengujian tidak sesuai dengan
kompetensi yang dimiliki berupa peringatan tertulis, denda
administratif, pembekuan sertifikat kompetensi dan/atau pencabutan
sertifikat kompetensi.
c. Adanya Surat Keputusan Badan Standardisasi Nasional Nomor
50/KEP/BSN/6/2009 telah ditetapkan SNI 7522:2009 tentang
Perlengkapan perisai kolong bagian belakang untuk kendaraan
bermotor kategori N2, N3, O3 dan O4.
d. Terdapat fasilitas uji kelayakan kendaraan khususnya mobil barang
pada dinas perhubungan.
e. Telah terbentuk Forum Komunikasi Lalu Lintas sebagai wadah
kerjasama dan koordinasi instansi terkait.
f. Sebagian besar kondisi jalan Kabupaten Bekasi, terutama di sekitar
kawasan industri sudah memiliki fasilitas separator jalan.
g. Adanya dukungan dari pengusaha angkutan barang terhadap program
road safety dalam rangka menekan/mengurangi biaya/cost perusahaan.
h. .Adanya rencana pemerintah untuk membangun railway dari Tanjung
Priok menuju dry-port Cikarang.
i. Adanya pembangunan akses pintu keluar masuk tol langsung menuju
kawasan industri.
j. Sebagian perusahaan telah menyediakan fasilitas bus angkutan
karyawan
k. Adanya kebijakan pemerintah untuk memperbesar uang muka kredit
motor untuk menekan pertumbuhan sepeda motor.

22
2. Ancaman (Threats)
a. Pengujian terhadap kendaraan bermotor, kereta gandeng dan kereta
tempelan baik uji tipe maupun uji berkala belum sesuai dengan
ketentuan PP No: 44 tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi
sebagaimana telah diubah dengan PP No. 55 Tahun 2012 tentang
kendaraan.
b. Sanksi hukuman terhadap pelanggaran uji kendaraan masih ringan,
yaitu sanksi administratif berupa peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga)
kali dengan jangka waktu masing-masing 30 (tiga puluh) hari kalender
dan denda administratif paling banyak sebesar Rp 24.000.000,-.
c. Tidak adanya pemisahan untuk jalur angkutan barang sejalan dengan
dengan ruas jalan arteri yang sempit.
d. Kebijakan tata ruang Pemerintah Kabupaten Bekasi yang tidak sejalan
dengan strategic road development antara lain kawasan industri, sentra
bisnis dan perumahan yang menyatu.
e. Pertumbuhan kawasan industri telah meningkatkan kerawanan lalu
lintas akibat bangkitan dan tarikan arus lalu lintas.
f. Kurangnya kesadaran para pengendara khususnya sepeda motor untuk
melindungi diri dengan alat keselamatan lalu lintas.
g. Para pemilik mobil barang kurang memperhatikan faktor keselamatan
terhadap pengendara lainnya.
h. Tingkat kemacetan yang tinggi terutama pada jam pergantian shift
karyawan.
i. Banyak karyawan perusahaan yang lebih senang mengendarai sepeda
motor menuju tempat kerja.

23
BAB VI
KONDISI YANG DIHARAPKAN

A. Sumber Daya Manusia


Dari segi kuantitas, secara umum diharapkan ada penambahan personel
Satlantas Polresta X agar sesuai dengan DSPP. Akan tetapi, penambahan personel
tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Secara
khusus kemampuan yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan memantau,
menganalisis, mengevaluasi kerawanan lalu lintas khususnya kejadian kecelakaan
guna mengembangkan rekomendasi keselamatan dan upaya rekayasa lalu lintas secara
kreatif dalam rangka mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas dengan penyebab dan
/ atau lokasi kejadian yang sama.
Oleh karena itu idealnya seluruh personel Satlantas Polresta X sudah
mengikuti pendidikan kejuruan lalu lintas. Oleh karena itu diharapkan ada
penambahan kesempatan bagi para personel Satlantas Bekasi untuk mengikuti
pendidikan kejuruan lalu lintas.

B. Dukungan Anggaran
Peningkatan kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas Polresta X
memerlukan tambahan mata anggaran untuk memantau, menganalisis, mengevaluasi
kerawanan lalu lintas khususnya kecelakaan. Selain itu juga diperlukan penambahan
volume dan indeks kegiatan penyidikan kecelakaan lalu lintas, dikmas lantas dan
pemeliharaan/perawatan sarana prasarana.

C. Dukungan Sarana Prasarana


Dukungan sarana prasarana yang ada dinilai sudah cukup memadai. akan
tetapi perlu adanya dukungan anggaran khusus untuk pemeliharaan / perawatan sarana
prasarana sehubungan sampai saat ini sarana prasarana yang terdukung anggaran
pemeliharaan / perawatan hanya peralatan pada ruang SIM.

24
D. Metode
Manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas Polresta X dilakukan dengan prinsip
hazard management, yaitu mengidentifikasi kerawanan dan berupaya untuk
menghindari resiko dan meniadakan kerawanan melalui penilaian dan pengontrolan
resiko.
Metode penerapan manajemen rekayasa lalu lintas untuk menekan kecelakaan
lalu lintas khususnya yang melibatkan sepeda motor dan mobil barang sebagai resiko
yang pelu dihindari. Target mininal implementasi program ini adalah menurunkan
tingkat fatalitas kecelakaan bermotor, mengurangi/menghindari jatuhnya korban jiwa
maupun korban luka berat akibat kecelakaan tersebut. Oleh karena itu metode
penerapan manajemen rekayasa lalu lintas untuk menekan kecelakaan lalu lintas
khususnya yang melibatkan sepeda motor dan mobil barang dilakukan dengan cara :
1. Melakukan audit keselamatan jalan secara berkala.
2. Mengusulkan adanya pengaturan jam operasional mobil barang berupa
larangan memasuki jalan tertentu pada saat jam pergantian shift karyawan.
3. Melakukan himbauan kepada perusahaan untuk meningkatkan kapasitas
fasilitas antar jemput karyawan.
4. Mengusulkan kepada pemerintah daerah dan DPRD untuk menerbitkan Perda
yang mewajibkan perusahaan untuk menyediakan fasilitas antar jemput
karyawan, menetapkan batas minimal kapasitas angkut karyawan, dan
memerintahkan perusahaan untuk mewajibkan karyawan untuk naik angkutan
karyawan.
5. Menghimbau kepada para pemilik mobil barang, Kereta Gandengan atau
Kereta Tempelan agar mematuhi Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012
tentang Kendaraan, khususnya pasal 89 dan 90.
6. Menghimbau kepada para pemilik dan pengemudi mobil barang untuk
melengkapi kaca spion dengan kaca spion tambahan dalam rangka
mengoptimalkan pandangan dan meminimalisir/menghilangkan blank spot
pada sisi kanan dan kiri mobil.
7. Mempelopori, mengajak dan mendorong Fokolantas untuk menyusun program
berikut rencana aksi kampanye sosialisasi penerapan PP No. 55 Tahun 2012
tentang kendaraan dan Surat Keputusan Badan Standardisasi Nasional Nomor
50/KEP/BSN/6/2009 telah ditetapkan SNI 7522:2009 tentang Perlengkapan

25
perisai kolong bagian belakang untuk kendaraan bermotor kategori N2, N3,
O3 dan O4.
8. Melakukan operasi simpatik terhadap mobil barang, dengan sasaran prioritas
perisai kolong dan kaca spion.
9. Mendorong Dinas Perhubungan untuk memperketat uji berkala terhadap mobil
barang, kereta gandeng dan kereta tempel.
10. Menyarankan Bupati Bekasi untuk melakukan inspeksi kesiapan dan
kelengkapan Fasilitas Uji Kendaraan milik Dinas Perhubungan.
11. Mendorong Pemerintah Kabupaten untuk mengkaji ulang RTRW, dan
melakukan analisis mengenai dampak lalu lintas (ANDALL) terhadap
bangunan/proyek yang sudah berjalan.
12. Bersama-sama dengan Dinas Perhubungan, Pengelola Kawasan Industri dan
Perguruan Tinggi untuk melakukan kajian untuk menentukan jalur khusus
mobil barang, khususnya mobil barang berukuran besar khususnya yang
dilengkapi dengan kereta gandeng dan kereta tempelan (angkutan kontainer,
truk gandengan, Fuso, dsb).
13. Bersama-sama dengan Dinas Perhubungan, Perguruan Tinggi dan instansi
terkait lainnya untuk melakukan kajian terhadap kapasitas jalan kabupaten dan
mengusulkan ruas jalan yang perlu segera dilebarkan.

26
BAB VI
OPTIMALISASI

A. Visi
Mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran berlalu lintas
di wilayah hukum Polresta X agar mampu menciptakan perasaan aman, terlindungi,
terayomi pada masyarakat dan para pengguna jalan guna akselerasi pelayanan prima
dalam rangka stabilitas kamtibmas.

B. Misi
1. Membebaskan para pengguna jalan dari resiko kecelakaan.
2. Menghilangkan resiko kecelakaan dengan fatalitas tinggi.
3. Menekan angka kecelakaan lalu lintas, khususnya yang melibatkan sepeda
motor dan mobil barang.

C. Tujuan
1. Terselenggaranya perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada para
pemakai jalan sehingga aman dalam perjalanan dan selamat sampai tujuan.
2. Terciptanya kesadaran dan kepatuhan para pengguna jalan terhadap ketentuan
peraturan lalu lintas.
3. Terciptanya partisipasi aktif para pengguna jalan untuk melindungi dirinya
sendiri dan para pengguna jalan lainnya dari resiko kecelakaan dengan fatalitas
tinggi.
4. Terciptanya peran serta masyarakat dan segenap komponen terkait dalam
upaya pemeliharaan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran berlalu
lintas di wilayah hukum Polresta Bekasi.

D. Sasaran
1. Melakukan audit keselamatan jalan secara berkala.
2. Mengurangi resiko kecelakaan dengan fatalitas tinggi.
3. Menghilangkan resiko kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor
dan mobil barang.
4. Meningkatkan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada para pemakai
jalan.

27
5. Menegakkan peraturan lalu lintas secara profesional dengan menjunjung tinggi
supremasi hukum dan hak azazi manusia.
6. Meningkatkan bimbingan kepada masyarakat lalu lintas melalui upaya
preemtif dan preventif yang dapat meningkatkan kesadaran dan ketaatan serta
kepatuhan kepada ketentuan peraturan lalu lintas.
7. Mempelopori, mengajak, mendorong dan meningkatkan kerjasama dengan
instansi dan segenap kompotenen potensi masyarakat yang ada dalam upaya
pemeliharaan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran berlalu lintas
di wilayah hukum Polresta Bekasi.

E. Kebijakan
1. Audit keselamatan jalan secara berkala dengan tujuan memantau,
menganalisis, mengevaluasi kerawanan khususnya kecelakaan lalu lintas guna
mengembangkan rekomendasi keselamatan dan upaya rekayasa lalu lintas
secara kreatif dalam rangka mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas dengan
penyebab dan / atau lokasi kejadian yang sama.
2. Mempelopori, mengajak, mendorong dan meningkatkan kerjasama dengan
instansi dan segenap kompotenen potensi masyarakat yang ada guna
mengurangi resiko kecelakaan dengan fatalitas tinggi dan menghilangkan
resiko kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor dan mobil barang.

F. Strategi
1. Pembangunan kekuatan difokuskan pada penambahan personel Satlantas
Polresta Bekasi agar sesuai DSPP dan tidak ada tugas rangkap yang diimbangi
dengan pembangunan kemampuan melalui pengusulan penambahan kouta
personel Satlantas Polresta Bekasi untuk mengikuti pendidikan kejuruan lalu
lintas.
2. Pembangunan anggaran difokuskan pada penambahan mata anggaran untuk
audit keselamatan jalan, penambahan volume dan indeks kegiatan penyidikan
kecelakaan lalu lintas, dikmas lantas dan pemeliharaan/perawatan sarana
prasarana.
3. Pembangunan sarana dan prasarana difokuskan pada pemeliharaan dan
perawatan sarana prasarana yang sudah ada dan pengusulan
perbaikan/penggantian sarana prasarana yang rusak.

28
4. Pembangunan metode difokuskan untuk :
a. Melakukan audit keselamatan jalan dan analisis ulang mengenai
dampak lalu lintas (ANDALL) pada bangunan/proyek yang sudah
berjalan, khususnya pada titik-titik black spot.
b. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian anggota secara
administrasi melalui penyusunan rencana kegiatan harian dan laporan
kegiatan harian, menunjuk dan menjadwalkan perwira pengawas yang
bertanggung jawab kepada Kasat Lantas.
c. Menerapkan merit sistem / reward and punishment berdasarkan
kesesuaian rencana kegiatan harian, dalam hasil yang dicapai dalam
laporan hasil kegiatan, dan meningkatkan target minimal kinerja secara
bertahap.
d. Meningkatkan layanan pengaduan masyarakat.
e. Meningkatkan kerjasama untuk menghilangkan resiko kecelakaan lalu
lintas yang melibatkan sepeda motor dan mobil barang, melalui :
1) Mengusulkan adanya pengaturan jam operasional mobil barang
berupa larangan memasuki jalan tertentu pada saat jam pergantian
shift karyawan.
2) Melakukan himbauan kepada perusahaan untuk meningkatkan
kapasitas fasilitas antar jemput karyawan.
3) Mengusulkan kepada pemerintah daerah dan DPRD untuk
menerbitkan Perda yang mewajibkan perusahaan untuk
menyediakan fasilitas antar jemput karyawan, menetapkan batas
minimal kapasitas angkut karyawan, dan memerintahkan
perusahaan untuk mewajibkan karyawan untuk naik angkutan
karyawan
4) Mendorong Pemerintah Kabupaten untuk mengkaji ulang RTRW,
dan melakukan analisis mengenai dampak lalu lintas (ANDALL)
terhadap bangunan/proyek yang sudah berjalan.
5) Bersama-sama dengan Dinas Perhubungan, Pengelola Kawasan
Industri dan Perguruan Tinggi untuk melakukan kajian untuk
menentukan jalur khusus mobil barang, khususnya mobil barang
berukuran besar khususnya yang dilengkapi dengan kereta

29
gandeng dan kereta tempelan (angkutan kontainer, truk gandengan,
Fuso, dsb).
6) Bersama-sama dengan Dinas Perhubungan, Perguruan Tinggi dan
instansi terkait lainnya untuk melakukan kajian terhadap kapasitas
jalan kabupaten dan mengusulkan ruas jalan yang perlu segera
dilebarkan.
f. Meningkatkan kerjasama untuk mengurangi resiko fatalitas kecelakaan
lalu lintas yang melibatkan sepeda motor dan mobil barang, melalui :
1) Menghimbau kepada para pemilik mobil barang, Kereta
Gandengan atau Kereta Tempelan agar mematuhi Peraturan
Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan, khususnya
pasal 89 dan 90.
2) Menghimbau kepada para pemilik dan pengemudi mobil barang
untuk melengkapi kaca spion dengan kaca spion tambahan dalam
rangka mengoptimalkan pandangan dan
meminimalisir/menghilangkan blank spot pada sisi kanan dan kiri
mobil.
3) Mempelopori, mengajak dan mendorong Fokolantas untuk
menyusun program berikut rencana aksi kampanye sosialisasi
penerapan PP No. 55 Tahun 2012 tentang kendaraan dan Surat
Keputusan Badan Standardisasi Nasional Nomor
50/KEP/BSN/6/2009 telah ditetapkan SNI 7522:2009 tentang
Perlengkapan perisai kolong bagian belakang untuk kendaraan
bermotor kategori N2, N3, O3 dan O4.
4) Melakukan operasi simpatik terhadap mobil barang, dengan
sasaran prioritas perisai kolong dan kaca spion.
5) Mendorong Dinas Perhubungan untuk memperketat uji berkala
terhadap mobil barang, kereta gandeng dan kereta tempel.
6) Menyarankan Bupati Bekasi dan Kepala Dinas Perhubungan untuk
melakukan inspeksi kesiapan dan kelengkapan Fasilitas Uji
Kendaraan milik Dinas Perhubungan.

30
G. Rencana Aksi (Action Plan)
Agar implementasi program optimalisasi kemampuan manajemen rekayasa
lalu lintas Satlantas Polresta X dapat direalisasikan secara terencana, terarah dan
terukur, guna akselerasi pelayanan prima dalam rangka stabilitas kamtibmas maka
operasionalisasi program tersebut dituangkan dalam action plan sebagai berikut :
1. Jangka Pendek (6 bulan pertama )
a. Melaksanakan audit keselamatan jalan secara berkala dengan tujuan
memantau, menganalisis, dan mengevaluasi kerawanan khususnya
kecelakaan lalu lintas.
b. Mengusulkan penambahan personel Satlantas Polresta Bekasi agar
sesuai DSPP.
c. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian anggota secara
administrasi melalui penyusunan rencana kegiatan harian dan laporan
kegiatan harian.
d. Menunjuk dan menjadwalkan perwira pengawas yang bertanggung
jawab kepada Kasat Lantas.
e. Melakukan himbauan kepada perusahaan untuk meningkatkan
kapasitas fasilitas antar jemput karyawan.
f. Menghimbau kepada para pemilik mobil barang, Kereta Gandengan
atau Kereta Tempelan agar mematuhi Peraturan Pemerintah Nomor 55
Tahun 2012 tentang Kendaraan, khususnya pasal 89 dan 90.
g. Menghimbau kepada para pemilik dan pengemudi mobil barang untuk
melengkapi kaca spion dengan kaca spion tambahan dalam rangka
mengoptimalkan pandangan dan meminimalisir/menghilangkan blank
spot pada sisi kanan dan kiri mobil.
h. Melakukan operasi simpatik terhadap mobil barang, dengan sasaran
prioritas perisai kolong dan kaca spion.
2. Jangka menengah (6 bulan kedua)
a. Mengusulkan kepada pemerintah daerah dan DPRD untuk menerbitkan
Perda yang mewajibkan perusahaan untuk menyediakan fasilitas antar
jemput karyawan, menetapkan batas minimal kapasitas angkut
karyawan, dan memerintahkan perusahaan untuk mewajibkan
karyawan untuk naik angkutan karyawan.

31
b. Mempelopori, mengajak dan mendorong Fokolantas untuk menyusun
program berikut rencana aksi kampanye sosialisasi penerapan PP No.
55 Tahun 2012 tentang kendaraan dan Surat Keputusan Badan
Standardisasi Nasional Nomor 50/KEP/BSN/6/2009 telah ditetapkan
SNI 7522:2009 tentang Perlengkapan perisai kolong bagian belakang
untuk kendaraan bermotor kategori N2, N3, O3 dan O4.
c. Mengusulkan adanya pengaturan jam operasional mobil barang berupa
larangan memasuki jalan tertentu pada saat jam pergantian shift
karyawan.
d. Mendorong Dinas Perhubungan untuk memperketat uji berkala
terhadap mobil barang, kereta gandeng dan kereta tempel.
e. Mengusulkan penambahan kouta personel Satlantas Polresta Bekasi
untuk mengikuti pendidikan kejuruan lalu lintas.
f. Menerapkan merit sistem / reward and punishment berdasarkan
kesesuaian rencana kegiatan harian, dalam hasil yang dicapai dalam
laporan hasil kegiatan.
g. Menambah kotak-kotak layanan pengaduan masyarakat, dan sosialisasi
nomor telepon pengaduan.
3. Jangka Panjang (tahun kedua dan ketiga)
a. Mengusulkan penambahan mata anggaran untuk audit keselamatan
jalan, penambahan volume dan indeks kegiatan penyidikan kecelakaan
lalu lintas, dikmas lantas dan pemeliharaan/perawatan sarana prasarana.
b. Meningkatkan target minimal kinerja Satlantas Polresta Bekasi secara
bertahap.
c. Menyarankan Bupati Bekasi dan Kepala Dinas Perhubungan untuk
melakukan inspeksi kesiapan dan kelengkapan Fasilitas Uji Kendaraan
milik Dinas Perhubungan.
d. Bersama-sama dengan Dinas Perhubungan, Perguruan Tinggi dan
instansi terkait lainnya untuk melakukan kajian terhadap kapasitas jalan
kabupaten dan mengusulkan ruas jalan yang perlu segera dilebarkan.
e. Bersama-sama dengan Dinas Perhubungan, Pengelola Kawasan
Industri dan Perguruan Tinggi untuk melakukan kajian untuk
menentukan jalur khusus mobil barang, khususnya mobil barang

32
berukuran besar khususnya yang dilengkapi dengan kereta gandeng dan
kereta tempelan (angkutan kontainer, truk gandengan, Fuso, dsb).
f. Mendorong Pemerintah Kabupaten untuk mengkaji ulang RTRW, dan
melakukan analisis mengenai dampak lalu lintas (ANDALL) terhadap
bangunan/proyek yang sudah berjalan.

33
BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas Polresta X dalam
menekan angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor dan
mobil barang sebagai jenis kecelakaan dengan tingkat fatalitas tertinggi masih
terbatas pada penetapan standar dan uji kompetensi yang ketat bagi para
pemohon SIM B baru atau perpanjangan, penegakan hukum terhadap
pelanggaran aturan batas muatan.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kemampuan manajemen rekayasa lalu
lintas Satlantas Polresta X terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal
organisasi. Faktor-faktor internal organisasi meliputi sumber daya manusia,
dukungan anggaran, sarana prasarana dan metode yang digunakan. Sedangkan
faktor-faktor eksternal organisasi mencakup adanya rencana pembangunan
jaringan transportasi pemerintah, RTRW Pembangunan Kab. X, Perubahan
peraturan pemerintah tentang kendaraan, Surat Keputusan Badan Standardisasi
Nasional yang telah menetapkan standar perisai kolong mobil barang, Adanya
Forum Komunikasi Lalu Lintas, kondisi jalan, dan kondisi kesadaran para
pengguna jalan.
3. Upaya peningkatan kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas
Polresta X guna akselerasi pelayanan prima dalam rangka stabilitas kamtibmas
disusun dalam program yang dijabarkan dalam rencana strategis yang meliputi
visi, misi, tujuan, sasaran, pelaksana, strategi dan implementasi dengan
rencana aksi pada jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

34
B. Saran-saran
Agar upaya peningkatan kemampuan manajemen rekayasa lalu lintas Satlantas
Polresta X guna akselerasi pelayanan prima dalam rangka stabilitas kamtibmas
tercapai, penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut :
1. Perlu adanya Audit keselamatan jalan secara berkala dengan tujuan
memantau, menganalisis, mengevaluasi kerawanan khususnya kecelakaan lalu
lintas guna mengembangkan rekomendasi keselamatan dan upaya rekayasa
lalu lintas secara kreatif dalam rangka mencegah terjadinya kecelakaan lalu
lintas dengan penyebab dan / atau lokasi kejadian yang sama
2. Perlu upaya untuk mempelopori, mengajak, mendorong dan meningkatkan
kerjasama dengan instansi dan segenap kompotenen potensi masyarakat yang
ada guna mengurangi resiko kecelakaan dengan fatalitas tinggi dan
menghilangkan resiko kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor
dan mobil barang.
3. Perlu adanya dukungan berupa komitmen dan konsistensi pelaksanaan
program dari seluruh personel Satlantas Polresta Bekasi disertai adanya
pengawasan dan pengendalian agar berjalan sesuai dengan rencana
4. Perlu kajian, analisa dan evaluasi untuk mengukur hasil yang dicapai program
ini secara berkesinambungan.

Selain itu penulis merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut :


1. Sanksi Administratif yang diterapkan dalam PP Nomor 55 Tahun 2012 dinilai
masih lemah, sehingga kiranya perlu diusulkan untuk merubah prosedur
penjatuhan sanksi bukan melalui surat peringatan tertulis, melainkan cukup
dituliskan pada buku KIR mobil barang yang tidak lulus uji disertai batas
akhir kesempatan untuk menguji ulang. Hal ini dinilai perlu, karena sanksi
secara tertulis dialamatkan kepada pemilik kendaraan sehingga menyulitkan
anggota di lapangan yang hendak melakukan pemeriksaan. Selanjutnya
pemberian kesempatan selama 3 (tiga) bulan dinilai terlalu lama, sedangkan
masa uji ulang kendaraan adalah 6 bulan sekali. Hal ini dapat memicu
ketidakseriusan pemilik kendaraan untuk memperbaiki kendaraannya agar
lulus uji berkala.

35
2. Apabila upaya implementasi kebijakan road safety pada mobil barang di
Polresta X guna akselerasi pelayanan prima dalam rangka stabilitas kamtibmas
berhasil mencapai visi dan misinya kiranya dapat dijadikan contoh bagi Polres
dan Polda lainnya.

Jakarta, Maret 2013

PENULIS

36
DAFTAR PUSTAKA

Peraturan perundang-undangan :
1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia
2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pemeriksaan
Kendaraan Bermotor di Jalan dan Penindakan Pelanggaran Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan.
5. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010
Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada Tingkat Kepolisian Resort dan
Kepolisian Sektor
Buku :
Daft, Richard L. 2002. Management, 6th Edition, Cengage South Western.
Daviddow, William H. dan Uttal, Bro. 1989. Services Company : Focus or Falter, Springer,
New York.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi
Ketiga). Balai Pustaka, Jakarta.
Deputi Bidang Pembiayaan, 2009. Optimalisasi Manfaat Asuransi dalam Peningkatan Akses
Pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKM-K),
Kemenkop UKM-RI, Jakarta.
Elhaitammy, T. 1990. Service Excellence, 6th. Edition, The Drayden Press: Chicago.
Margaret. et.al (editor) 2004. The Global Road Safety Crisis, We Should Do Much More,
The Task Force for Child Survival and Development,
http://www.fiafoundation.org/publications/Documents/grsun_report.pdf
Mulyono. 2008. Upaya Peningkatan Keselamatan Jalan di Kawasan Kecamatan Gringsing
Kabupaten Batang, Alas Roban, Jawa Tengah Tinjauan dari Segi Geometrik dan
Perlengkapan Jalan, Universitas Indonesia, Depok.
Normann, Richard 1991. Service Management : Strategy and Leadership in Service
Bussiness, Wiley Publisher, New York.
Rangkuti, Freddy. 1997. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta
Siagian, Sondang P. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara, Jakarta.
Stoner, J.A. 1989. Management, Prentice Hall, New Jersey.
Terry, George R. 1986. Asas-Asas Menajemen, Penerbit Alumni, Bandung
Tjiptono, Fandy. 2000. Strategi Pemasaran. Penerbit Andi Offset, Yogyakarta.

37
ALUR PIKIR

38
POLA PIKIR

39