Anda di halaman 1dari 2

SENJA MENYINGSING ASA

Disuatu desa terpencil di Kabupaten Tapanuli Utara, tinggallah seorang


Anggota Polri berpangkat Bripka bersama istri dan keempat orang
anaknya,istrinya yang bernama ibu meri adalah seorang bidan PPT yang
ditempatkan di salah satu desa yang berjarak 12 KM dari tempat mereka tinggal.

Tuntutan hidup yang semakin tinggi, biaya sekolah anak, pekerjaannya


sebagai bidan PTT dan kegiatan lainnya memaksa ibu meri untuk dapat
membagi waktu sebaik mungkin, setiap harinya ibu meri harus bangun pukul
04.00 Wib untuk mempersiapkan suami dan anak-anaknya, setelah anak-
anaknya berangkat ke sekolah, maka ibu meri berangkat menuju tempatnya
bekerja yang apabila musim hujan jalannya tidak dapat dilalui dan memaksa ibu
meri harus berjalan kaki.

Tidak jarang ibu meri harus pulang terlambat ke rumah karena harus
memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat dan membantu para ibu
yang bersalin, terkadang para pasien yang bersalin hanyalah membalas jasa ibu
meri dengan seekor ayam, sekaleng beras atau ubi dan sayuran, tetapi hal
tersebut tidak membuat semangat ibu meri surut, dalam hatinya pekerjaan yang
tekuninya merupakan sebuah bentuk pelayanan kepada masyarakat, sehingga
ibu merri tetap dapat merasa senang dan bersyukur dapat menolong orang lain.

Pada suatu hari, anaknya yang paling bungsu terserang demam tinggi
namun disaat yang bersamaan pada pukul 02.00 Wib seorang laki-laki mengetuk
pintu rumahnya dan meminta bantuan untuk menolong istrinya yang akan
bersalin, dengan hati yang ikhlas ibu merripun berangkat untuk menolong ibu
tersebut, untuk menyingkat waktu ibu merri harus berjalan dari pematang
sawah, karena hari gelap ibu meripun terpeleset sehingga seluruh bajunya basah
kuyup namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat ibu meri untuk
menolong ibu yang akan bersalin tersebut.

Sekembalinya dari menolong persalinan tersebut, ternyata anaknya yang


paling bungsu semakin demam dan harus dibawa ke rumah sakit sehingga
membutuhkan biaya yang besar dan memaksa ibu merri harus meminjam uang
kepada tetangganya, namun usaha ibu merri tersebut ternyata sia-sia ibu merri
tidak mendapatkan pinjaman tersebut, akhirnya ibu merri dan suaminya
mengajukan pinjaman bank ke kantor BRI, membaca permohonan pinjaman
tersebut Kapolres Tapanuli Utara beserta ketua bhayangkari cabang Tapanuli
Utara memberikan nasehat kepada Ibu merri dan suaminya, dalam nasehatnya
ibu ketua Bhayangkari Cabang Tapanuli Utara berpesan agar ibu merri sebagai
Bhayangkari harus dapat tabah dalam menjalani kehidupan, pintar-pintar
membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan, tetap bersyukur kepada Tuhan
dan jangan lupa berdoa.

Tahun demi tahun berlalu, ibu merri sebagai seorang Bhayangkari tetap
mengingat pesan dari Ibu Ketua Bhayangkari tersebut, 5 Tahun kemudian
dengan perjuangan dan semangat yang pantang menyerah Suami ibu meri
berhasil lulus dalam seleksi SIP, rasa bangga haru dan air mata kebahagiaan
bersatu menyelimuti hati ibu merri, semangat ibu merripun semakin meningkat
untuk memperjuangkan ke 4 anak-anaknya.

15 Tahun kemudian anak-anak ibu meripun diterima di Perguruan Tinggi


Negeri dengan beasiswa, berbagai profesi digeluti oleh anak-anaknya, ada yang
menjadi Dokter, Bidan, Insinyur dan Guru.
Saat ini, jika ibu meri duduk di depan rumahnya dia selalu tersenyum
mengenang perjalanan hidup bersama suami, memandang foto ke 4 anaknya
yang telah sukses dan Bangga menjadi seorang Bhayangkari.