Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI AKIBAT IMPOTENSI


(DISFUNGSI EREKSI)

ASPEK PENGETAHUAN
1. Definisi
IMPOTENSI berasal dari kata impotent, yang terdiri dari im yang berarti tidak
dan pontent yang berarti mampu , jadi impotent artinya ketidakmampuan. Dalam
bidang kedokteran impotensi selalu dihubungkan dengan masalah seksual sehingga
impotensi diartikan sebagai ketidakmampuan pria untuk melakukan hubungan seks.
Secara spesifik impoten adalah ketidakberdayaan pria melakukan hubungan seks
melalui alat kelaminnya. Banyak istilah da terminology untuk impotensi seperti lemah
syahwat, gangguan ereksi , difungsi ereksi, mati pucuk batang zakar, dan lain-lain.
Disfungsi ereksi ialah salah satu jenis gangguan seksual pria, dimana
ketidakmampuan mempertahankan ereksi untuk melakukan aktivitas seksual
dengan baik. Sebagian masyarakat menyebutnya dengan impotensi (Hembing, H.M.
2000)
Disfunsi ereksi adalah ketidakmampuan yang menetap atau terus-menerus
untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang berkualitas sehingga
dapat mencapai hubungan seksual yang memuaskan (Widowo, 2007).
Disfungsi ereksi yang juga disebut impotensi adalah ketidakmampuan untuk
mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk menyelesaikan koitus
(Suzane C. Smeltzer & Brenda G. Bare 2011)
Disfungsi ereksi atau impotensi adalah sebuah masalah umum di kalangan
pria yang ditandai oleh ketidakmampuan yang konsisten untuk mempertahankan
ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual atau ketidakmampuan untuk
mencapai ejakulasi, atau keduanya. Impotensi dapat bervariasi dari
ketidakmampuan total untuk mencapai ereksi atau ejakulasi, kemampuan yang tidak
konsisten untuk melakukannya, atau kecenderungan untuk mempertahankan ereksi
hanya dalam waktu sangat singkat

2. Manifestasi Klinik
Menurut dari Wincze and Carey , 2001 manisfestasi klinis dari disfungsi ereksi
yaitu Pasien yang mengalami disfungsi ereksi tidak dapat mengalami ereksi
sehingga akan mengalami gangguan seksual yang berdampak pada psikologi
penderita disfungsi ereksi dimana pasien cenderung merasa malu , mengucilkan diri,
depresi, bahkan timbul rasa ingin bunuh.
Secara umum manifestasi klinis dari disfungsi ereksi menurt Dipiro (2008)
yaitu :
a. Umum ( general)
1) Perubahan emosi
2) Depresi
3) Kecemasan
4) Kesulitan dalam perkawinan dan menghindari keintiman seksual
5) Timbul ketidakpatuhan pasien, akibat pengobatan penyakit yang
mengakibatkan disfumgsi ereksi
b. Gejala
Impotensi atau ketidak mampuan untuk melakukan hubungan seksual.

3. Etiologi
Menurut Hembing, H.M (2000) Impotensi atau disfungsi ereksi di bagi
menjadi 2 yaitu :
a. Masalah Fisik
1) Akibat gangguan kesehatan
Gangguan kesehatan yang menjadi penyebab utama timbulnya impotensi
antara lain gangguan organic, seperti diabetes, ginjal, stroke, tekanan darah
tinggi, anemia, gagal ginjal, prostat, dan luka tulang sumsum. Selain penyakit
degenerative, masalah arteri darah juga merupakan salah satu penyebab
timbulnya impotensi . arteri darah pada tubuh berfungsi mengalirkan darah
keseluruh tubuh, apabila arteri darah pada tubuh seorang pria tidak lancar,
terutama pada arteri yang bertugas mengalirkan darah ke penis tidak bekerja
dengan sempurna akan menimbulkan kesulitan mencapai ekresi. Penyebab
utama dari tidak mengalirnya darah dengan sempurna kepenis antara lain :
a) Tingginya kadar kolestrol dalam tubuh
b) Atherosclerosis atau pengerasan arteri yang berhubungan dengan
proses penuaan.
2) Kelainan saraf
Perangsangan seksual pada pria terletak pada bagian dalam otak yang
dinamakan diensefalon yang terletak dibawah otak besar. Pada bagian
tersebut terdapat pusat saraf. Sasraf yang akan masuk ke otak berhenti dulu
di thalamus, kemudian diteruskan ke otak. Bagian bawah thalamus disebut
hipotalamus. Pada bagian depan hipotalamus terdapat susunan saraf
parasimpatis yang bertugas mengatur aktivitas seksual pria dan fungsi kerja
usus. Saraf tersebut dapat mengalami kerusakan karena suatu penyakit,
misalnya diabetes yang selanjutnya berpengaruh terhadap kemampuan
ereksi.
3) Obat-obatan
Saat ini banyak beredar obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi
keluhan penyakit secara cepat dan efektif. Namun, dibalik kelebihan dan
keistimewaan obat tersebut, ternyata ada efek sampingnya terlebih jika
dikonsumsi secara tidak terkontrol dan berlebihan. Obat yang berpengaruh
pada fungsi seksual pria antara lain :
a) Obat penghilang nyeri pada sendi dan otot, kejang dan lain-lain.
b) Obat penenag dan obat antidepresi, seperti : marplan dan nardil
c) Obat pengontrol tekanan darah.
d) Obat untuk meningkatkan gairah seksual
e) Zat amphetamine sebagai stimulant/pendorong semangat atau
mengontrol berat badan/ obat pelangsning.
4) Kelainan pada organ tubuh
Kelainan organ tubuh dapat menyebabkan urat saraf pada tulang belakang
tidak berfungsi dengan baik, misalnya lupa pada tulang sumsum. Saraf pada
penis berasal dari urat saraf tulang belakang dan saraf otak yang juga
berkaitan dengan saraf tulang belakang. Oleh karena itu, jika tulang
belakang mengalami luka pikiran yang bersifat erotis tidak akan ditunjukkan
dengan adanya ereksi. Selain itu, ada kelainan pada organ genitalis pria
dapat memberikan pengaruh besar terhadap terjadinya impotensi, namun hal
ini jarang ditemukan.
5) Kebiasaan merokok
Nikotin yang terkandung dalam rook dapat mengerutkan arteri darah, dan
akibatnya akan mengurangi aliran darah keseluruh tubuh, termasuk aliran
darah ke penis. Saai ini 25-35 % kaum pria sudah menderita impotensi pada
usia 20-30 tahun yang disebabkan terjadinya penyempitan pada pembuluh
darah halus dibagian corpus cavernosum. Factor lain yang menyebabkan
ketidaklancaran aliran darah kepenis yaitu akibat kecelakaan seperti jatuh
atau tertimpa benda yang berat.
6) Kurang berolahraga
Di zaman modern seperti sekarang ini banyak alat bantu yang dimanfaatkan
manusia yang bersifat efektif dan efisien. Namun, semua kemudahan-
kemudahan tersebut membuat gerak badan menjadi terbatas. Akibatnya
antara fisik dan psikis tidak seimbang. Hal ini dapat mengakibatkan fisik
menjadi rentan terhadap gangguan penyakit. Kesibukan dan rutinistas yang
padat menyita banyak waktu sehingga kesempatan untuk berolahraga tidak
ada lagi, padahal olahraga sangat penting untuk menjaga keseimbangan
antara fisik dan psikis. Dengan berolahraga secara teratur, aliran darah akan
lancar dan proses metabolism berjalan dengan baik.
7) Factor genetika
Factor genetika/ keturunan keluarga, seperti adanya penyakit pembuluh
darah, sebaiknya diperhatikan dan diantisipasi sejak dini. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara memperhatikan pola makan dan pola hidup sehari-
hari. Jika penyakit organic seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan ginjal
tidak cepat diatasi dapat menyebabkan timbulnya penyempitan pembuluh
darah. Salat satu contoh penyakit otganik yang seringkali memicu timbulnya
impotensi yaitu diabetes mellitus. Namun, ini tidak terjadi secara mendadak,
tetapi setelah beberapa lama. Diabetes lambat laun mengerutkan pembuluh-
pembuluh darah besar. Keadaan ini merusak kemampuan jantung
mempompa darah yang diperlukan untuk ereksi.
8) Usia lanjut
Semakin bertambah usia seseorang pria, semakin menurun pula fungsi
seksualnya. Ini ditandai dengan sulitnya mencapai ereksi. Bagi pria lanjut
usia, akan sulit atau tidak mungkin lagi mencapai ereksi hanya dengan
memikirkan atau membicarakan masalah seksualitas seperti yang terjadi
pada pria muda. Hal ini disebabkan pasokan darah sudah berkurang, saraf
lemah dan tidak lagi berfungsi dengan baik, hormone dalam tubuh sudah
tidak seperti pria muda dan juga karena berkurangnya daya konsentrasi.
9) Pengaruh radioterapi
Efek samping dari radioterapi pada bagian perut bawah dan bagian panggul
dapat mengakibatkan impotensi , karena saraf pada perut dan panggul
langsung rusak akibat radiasi atau karena jaringan dalam tubuh terluka.
10) Masalah psikis yang mempengaruhi gairah seksual.

b. Masalah Psikis
1) Depresi, gelisah atau kondisi kesehatan mental lain.
2) Stres
3) Kelelahan
4) Masalah dalam hubungan yang memicu stres, miskin komunikasi atau
masalah lain
Penyebab yang bersifat fisik lebih banyak ditemukan pada pria lanjut
usia; sedangkan masalah psikis lebih sering terjadi pada pria yang lebih muda.
Semakin bertambah umur seorang pria, maka impotensi semakin sering terjadi,
meskipun impotensi bukan merupakan bagian dari proses penuaan tetapi
merupakan akibat dari penyakit yang sering ditemukan pada usia lanjut. Sekitar
50% pria berusia 65 tahun dan 75% pria berusia 80 tahun mengalami impotensi.
Agar bisa tegak, penis memerlukan aliran darah yang cukup. Karena itu
penyakit pembuluh darah (misalnya aterosklerosis) bisa menyebabkan impotensi.
Impotensi juga bisa terjadi akibat adanya bekuan darah atau akibat pembedahan
pembuluh darah yang menyebabkan terganggunya aliran darah arteri ke penis.

Kerusakan saraf yang menuju dan meninggalkan penis juga bisa


menyebabkan impotensi. Kerusakan saraf ini bisa terjadi akibat:
1) Cedera

2) Diabetes melitus
3) Sklerosis multipel

4) Stroke

5) Obat-obatan

6) Alkohol

7) Penyakit tulang belakang bagian bawah

8) Pembedahan rektum atau prostat

Sekitar 25% kasus impotensi disebabkan oleh obat-obatan (terutama


pada pria usia lanjut yang banyak mengkonsumsi obat-obatan). Obat-obat yang
bisa menyebabkan impotensi adalah:

1) Anti-hipertensi

2) Anti-psikosa

3) Anti-depresi

4) Obat penenang

5) Simetidin

6) Litium

Kadang impotensi terjadi akibat rendahnya kadar hormon testosteron.


Tetapi penurunan kadar hormon pria (yang cenderung terjadi akibat proses
penuaan), biasanya lebih sering menyebabkan penurunan gairah seksual (libido).
Beberapa faktor psikis yang bisa menyebabkan impotensi:
1) Depresi

2) Kecemasan

3) Perasaan bersalah

4) Perasaan takut akan keintiman

5) Kebimbangan tentang jenis kelamin.

4. Patofisiologi
Impotensi dapat disebabkan oleh fisiologis dan psikis, namun banyak pria
yang menderita impoten karena gabungan dari kedua faktor tersebut. Mereka
merasa malu untuk menceritakan masalah ini kepada orang lain bahkan terkadang
masalah tersebut disimpan sendiri hingga penyebab fisiologis kerap kali dibarengi
oleh masalah psikis.

Faktor fisiologis penyebab impotensi antara lain:


a. Gangguan aliran darah (hipertensi, diabetes, dan penyakit peyronie/
terbentuknya jaringan parut pada penis)
b. Gangguan persyarafan (cidera tulang belakang, pasca pembedahan daerah
panggul, rusaknya persyarafan akibat penyakit kelamin.
c. Gangguan hormonal (disfungsi testis, penyakit ginjal, liver, dan pecandu
alcohol)
d. Obat obatan (antihipertensi, antidepresi, alcohol, heroin, nikotin/rokok)

Faktor psikis penyebab impotensi antara lain:

a. Stress
b. Depresi
c. Kecemasan
d. Informasi yang keliru mengenai seks.

Mekanisme terjadinya ereksi merupakan rangkaian fisiologi, dan psiskis yang


kompleks yang melibatkan hormone dan syaraf. Ereksi ini dimulai dari rangsangan
yang berhubungan dengan libido. Selanjutnya rangsangan erotic ini akan
menyebabkan pelepasan didaerah dinding pembuluh darah penis, zat tersebut akan
merangsang enzim guanilat siklase sehingga akan meningkatkan kadar siklik
guanisin monofosfat (cGMP) dan zat inilah yang dengan suatu rangkaian fisiologis
tertentu akan menyebabkan ereksi. Mekanisme ereksi sendiri terdiri dari beberapa
fase yaitu fase permulaan dalam keadaan lemas (flaccid), fase pengisian darah
(pembesaran), fase ereksi (tegak), dan fase rigid (tegak dan keras). Sesudah itu
terjadi lagi fase detumensensi (pelemasan kembali). Begitu kompleksnya
mekanisme yang menyebabkan ereksi ini, maka kelebihan atau kekurangan suatu
zat ataupun fungsi suatu organ dapat menyebabkan impotensi

Ereksi merupakan hasil dari suatu interaksi yang kompleks dari faktor
psikologik, neuroendokrin dan mekanisme vaskular yang bekerja pada jaringan
ereksi penis. Organ erektil penis terdiri dari sepasang korpora kavernosa dan korpus
spongiosum yang ditengahnya berjalan urethra dan ujungnya melebar membentuk
glans penis. Korpus spongiosum ini terletak di bawah kedua korpora kavernosa.
Ketiga organ erektil ini masing-masing diliputi oleh tunika albuginea, suatu lapisan
jaringan kolagen yang padat, dan secara keseluruhan ketiga silinder erektil ini di luar
tunika albuginea diliputi oleh suatu selaput kolagen yang kurang padat yang disebut
fasia Buck. Di bagian anterior kedua korpora kavernosa terletak berdampingan dan
menempel satu sama lain di bagian medialnya sepanjang 3/4 panjang korpora
tersebut. Pada bagian posterior yaitu pada radix krura korpora kavernosa terpisah
dan menempel pada permukaan bawah kedua ramus iskiopubis. Korpora kavernosa
ini menonjol dari arkus pubis dan membentuk pars pendularis penis. Permukaan
medial dari kedua korpora kavernosa menjadi satu membentuk suatu septum
inkomplit yang dapat dilalui darah. Radix penis bulbospongiosum diliputi oleh otot
bulbokavernosus sedangkan korpora kavernosa diliputi oleh otot iskhiokavernosus
(Henwood J, 1999).

Jaringan erektil yang diliputi oleh tunika albuginea tersebut terdiri dari ruang-
ruang kavernus yang dapat berdistensi. Struktur ini dapat digambarkan sebagai
trabekulasi otot polos yang di dalamnya terdapat suatu sistim ruangan yang saling
berhubungan yang diliputi oleh lapisan endotel vaskular dan disebut sebagai
sinusoid atau rongga lakunar. Pada keadaan lemas, di dalam korpora kavernosa
terlihat sinusoid kecil, arteri dan arteriol yang berkonstriksi serta venula yang yang
terbuka ke dalam vena emisaria. Pada keadaan ereksi, rongga sinusoid dalam
keadaan distensi, arteri dan arteriol berdilatasi dan venula mengecil serta terjepit di
antara dinding-dinding sinusoid dan tunika albuginea. Tunika albuginea ini pada
keadaan ereksi menjadi lebih tipis. Glans penis tidak ditutupi oleh tunika albuginea
sedangkan rongga sinusoid dalam korpus spongiosum lebih besar dan mengandung
lebih sedikit otot polos dibandingkan korpus kavernosus.

Penis dipersarafi oleh sistem persarafan otonom (parasimpatik dan simpatik)


serta persarafan somatik (sensoris dan motoris). Serabut saraf parasimpatik yang
menuju ke penis berasal dari neuron pada kolumna intermediolateral segmen
kolumna vertebralis S2-S4. Saraf simpatik berasal dari kolumna vertebralis segmen
T4L2 dan turun melalui pleksus preaortik ke pleksus hipogastrik, dan bergabung
dengan cabang saraf parasimpatik membentuk nervus kavernosus, selanjutnya
memasuki penis pada pangkalnya dan mempersarafi otot-otot polos trabekel. Saraf
sensoris pada penis yang berasal dari reseptor sensoris pada kulit dan glans penis
bersatu membentuk nervus dorsalis penis yang bergabung dengan saraf perineal
lain membentuk nervus pudendus. Kedua sistem persarafan ini (sentral/psikogenik
dan periferal/ refleksogenik) secara tersendiri maupun secara bersama-sama dapat
menimbulkan ereksi.

Sumber pendarahan ke penis berasal dari arteri pudenda interna yang


kemudian menjadi arteri penis komunis dan kemudian bercabang tiga menjadi arteri
kavernosa (arteri penis profundus), arteri dorsalis penis dan arteri bulbouretralis.
Arteri kavernosa memasuki korpora kavernosa dan membagi diri menjadi arteriol-
arteriol helisin yang bentuknya seperti spiral bila penis dalam keadaan lemas. Dalam
keadaan tersebut arteriol helisin pada korpora berkontraksi dan menahan aliran
darah arteri ke dalam rongga lakunar. Sebaliknya dalam keadaan ereksi, arteriol
helisin tersebut berelaksasi sehingga aliran darah arteri bertambah cepat dan
mengisi rongga-rongga lakunar. Keadaan relaksasi atau kontraksi dari otot-otot
polos trabekel dan arteriol menentukan penis dalam keadaan ereksi atau lemas
(Feldman HA, 1994).

Selama ini dikenal adrenalin dan asetilkolin sebagai neurotransmiter pada


sistem adrenergik dan kolinergik, tetapi pada korpora kavernosa ditemukan 118
adanya neurotransmiter yang bukan adrenergik dan bukan pula kolinergik (non
adrenergik non kolinergik = NANC) yang ternyata adalah nitric oxide/NO. NO ini
merupakan mediator neural untuk relaksasi otot polos korpora kavernosa. NO
menimbulkan relaksasi karena NO mengaktifkan enzim guanilat siklase yang akan
mengkonversikan guanosine triphosphate (GTP) menjadi cyclic guanosine
monophosphate (cGMP). cGMP merangsang kalsium keluar dari otot polos korpora
kavernosa, sehingga terjadi relaksasi. NO dilepaskan bila ada rangsangan seksual.
cGMP dirombak oleh enzim phosphodiesterase (PDE) yang akan mengakhiri/
menurunkan kadar cGMP sehingga ereksi akan berakhir. PDE adalah enzim
diesterase yang merombak cyclic adenosine monophosphate (cAMP) maupun
cGMP menjadi AMP atau GMP. Ada beberapa isoform dari enzim ini, PDE 1 sampai
PDE7. Masing-masing PDE ini berada pada organ yang berbeda. PDE5 banyak
terdapat di korpora kavernosa (Boolell M, 1996).

5. Penatalaksanaan
Menurut Widowo (2007) Jenis dan cara pengobatan bergantung kepada
penyebab primernya. Selain itu ditujukan pula untuk memperbaiki fungsi ereksi. Tak
jarang kasus disfungsi ereksi tidak memerlukan obat, terutama pada kasus disfungsi
ereksi karena faktor psikologis. Selain itu, peran pasangan sangat penting untuk
membantu pemulihan disfungsi ereksi.
Obat-obat yang sering dipakai, antara lain: Phosphodiesterase inhibitor
(PDE), misalnya: sildenafil. Obat ini tidak boleh digunakan lebih satu kali dalam
sehari. Digunakan sebagai pilihan pertama tanpa memandang penyebabnya, karena
efektif bagi sebagian besar penderita disfungsi ereksi.
Cara lain adalah:
a. Vacuum constriction, Pembedahan, dilakukan untuk memperbaiki pembuluh
darah penis (revaskularisasi).
b. Penis tiruan (protesis penis), merupakan pilihan terakhir jika semua upaya tidak
memberikan hasil yang memadai.

Penanganan dan pengobatan

Penanganan disfungsi ereksi tentu harus disesuaikan dengan penyebabnya.


Penanganan disfungsi ereksi melibatkan keikutsertaan pasangan suami-istri. Karena
gaya hidup sangat berperan, maka modifikasi gaya hidup sangat berperan dalam
penatalaksanaannya. Pria yang mengalami disfungsi ereksi harap mengurangi
konsumsi rokok, menghindari kegemukan, dan meningkatkan aktivitas fisik. Kadang
diperlukan terapi psikoseksual untuk mengatasi penyebab psikogenik seperti
kecemasan dan depresi.

Berbagai jenis pengobatan yang tersedia untuk mengatasi masalah DE dapat


dilihat pada tabel 1. Terdapat banyak cara yang digunakan untuk terapi DE, salah
satunya adalah dengan obat oral yang mulai dipasarkan secara luas yaitu sildenafil.
Obat ini hanya bekerja bilamana terdapat stimulasi seksual dan diminum satu jam
sebelum aktifitas seksual dengan dosis antara 25 100mg. Sildenafil bekerja
dengan menghambat kompetitif enzim PDE 5 yang banyak terdapat pada korpus
kavernosus penis, sehingga menyebabkan relaksasi otot polos yang terdapat
berlangsung lebih lama, dengan demikian ereksi juga akan berlangsung lebih lama.
Masih banyak kontradiksi mengenai penggunaan sildenafil dalam penatalaksanaan
DE, dengan angka keberhasilannya sekitar 60-70 %. Pada penderita diabetes angka
keberhasilan hanya sekitar 50 %. Kontraindikasi pemakaian sildenafil adalah pasien
yang menggunakan preparat nitrat, adanya riwayat stroke, infark miokard, hipotensi,
penyakit degeneratif retina dan obat yang membuat waktu paruh sildenafil menjadi
lebih panjang.
Penanganan disfungsi ereksi dengan farmakologi dan bedah dibagi menjadi 3
lini terapi, yaitu:
a. Terapi lini pertama
Terapi lini pertama yaitu memberi oral pada pasien. Untuk tahap ini, Badan
Pengawasan Obat-obatan dan Makanan telah mengizinkan tiga jenis obat yang
beredar di Indonesia, masing-masing dikenal dengan jenis obat
1) Sildenafil (viagra),
2) Tadalafil (Cialis) dan
3) Vardenafil (Levitra).
Ketiga jenis obat ini merupakan obat untuk menghambat enzim
Phosphodiesterase-5 (PDE-5), suatu enzim yang terdapat di organ penis dan
berfungsi untuk menyelesaikan ereksi penis. Ketiga jenis obat ini memiliki
kelebihan dan kekurangan :
1) Sildenafil merupakan preparat erektogenik golongan PDE-5 yang pertama
kali ditemukan. Mula kerja Sildenafil antara jam 1 jam. Sedangkan
masa kerjanya berkisar 5-10 jam. Dari segi profilnya, Sildenafil tidak begitu
selektif dalam menghambat PDE-5. karena, zat ini ternyata juga
menghambat PDE-6, jenis enzim yang letaknya di mata. Kondisi ini
menyebabkan penglihatan mata menjadi biru (blue vision). Obat ini juga
tidak bisa diminum berbarengan dengan makanan karena absorsi
(penyerapannya) akan terganggu jika lambung dalam kondisi penuh.
2) Vandenafil, lebih selektif dalam menghambat PDE-5 mengingat dosisnya
tergolong kecil yaitu antara 10mg-20mg. Mula kerjanya lebih cepat, 10
menit 1jam, dengan masa kerja 5-10 jam. Keunggulan Vandenafil adalah
absorsinya tidak dipengaruhi oleh makanan. Jadi jika Anda ingin
melakukan hubungan intim dengan istri setelah candle light dinner, boleh-
boleh saja. Kelemahannya, akan terjadi vasodilatasi (pelebaran pembuluh
darah di hidung sehingga menyebabkan hidung tersumbat). Biasanya
minum pertama akan menyebabkan pening.
3) Tadalafil, masa kerjanya jauh lebih panjang yaitu 36 jam. Mula kerjanya
sekitar 1 jam dan tidak dipengaruhi oleh makanan sehingga absorsinya
tidak terganggu. Kekurangannya, obat ini juga menghambat PDE-11 enzim
yang letaknya di pinggang sehingga jika mengkonsumsi ini, si pria akan
mengalami rasa sakit di pinggang.
Sedangkan farmakologi topikal dapat digunakan pada penderita yang
tidak dapat mengkonsumsi obat penghambat PDE 5. Obat topikal dioleskan
pada kulit batang penis dan glans penis. Beberapa agen yang biasa digunakan
adalah solusio minoksidil, nitrogliserin dan gel papaverin. Sementara
penggunaan VCD bertujuan untuk memperbesar penis secara pasif yang
kemudian cincin pengikat pada pangkal penis akan mempertahankan darah
dalam penis. Namun penggunaan VCD ini dapat menimbulkan efek samping
berupa nyeri, sulit ejakulasi, perdarahan bawah kulit (petekie) dan baal.
1) Terapi lini kedua
Pada terapi lini keduan yang terdiri dari suntikan intravernosa dan
pemberian alprostadil melalui uretra. Terapi suntikan intrakarvenosa yang
digunakan adalah penghambat adrenoreseptor dan prostaglandin. Prinsip
kerja obat ini adalah dapat menyebabkan relakasasi otot polos pembuluh
darah dan karvenosa yang dapat menyebabkan ereksi. melakukan
penyuntikan secara entrakavernosa dan pengobatan secara inraurethra
yang memasukkan gel ke dalam lubang kencing. Pasien dapat melakukan
sendiri cara ini setelah dilatih oleh dokter.
2) Terapi lini ketiga
Terapi lini ketiga yaitu implantasi prosthesis pada penis. Tindakan ini
dipertimbangkan pada kasus gagal terapi medikamentosa atau pada
pasien yang menginginkan solusi permanen untuk masalah disfungsi
ereksi. Terdapat 2 tipe prosthesis yaitu semirigid dan inflatable. Tindakan
ini sudah banyak dilakukan di luar negeri namun di Indonesia belum ada
6. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1) Identitas Klien
a) Nama Klien
b) Umur
c) Agama
d) Suku
e) Pendidikan
f) Alamat
g) Pekerjaan
h) Agama dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan
i) Status social ekonomi keluarga
2) Dapatkan riwayat seksual:
a) Pola seksual biasanya
b) Kepuasan (individu, pasangan)
c) Pengetahuan seksual
d) Masalah (seksual, kesehatan)
e) Harapan
f) Suasana hati, tingkat energi

b. Diagnosa keperawatan
1) Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi yang
ditandai dengan perubahan dalam mencapai kepuasan seksual
2) Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan funsional ditandai dengan
perubahan bentuk salah satu anggota tubuh.
3) Ketidakefektifan pola seksualitas berhubungan dengan penyakit atau terapi
medis.
c. Rencana keperawatan

No Dx. Kep. Tujuan Intervensi


1. Disfungsi seksual Pasien dapat 1. Bantu pasien untuk
berhubungan menerima perubahan mengekspresikan perubahan
dengan perubahan struktur tubuh fungsi tubuh termasuk organ
struktur tubuh terutama pada fungsi seksual seiring dengan
/fungsi yang seksual yang bertambahnya usia.
ditandai dengan dialaminya 2. Berikan pendidikan kesehatan
perubahan dalam Kriteria hasil: tentang penurunan fungsi
mencapai Mengekspresikan seksual.
kepuasan seksual. kenyamanan 3. Motivasi klien untuk
Mengekspresikan mengkonsumsi makanan yang
kepercayaan diri rendah lemak, rendah
kolestrol, dan berupa diet
vegetarian
4. Anjurkan klien untuk
menggunakan krim vagina
dan gel
2. Harga diri rendah Pasien dapat 1. Kaji perasaan/persepsi pasien
berhubungan menerima perubahan tentang perubahan gambaran
dengan gangguan bentuk salah satu diri berhubungan dengan
funsional ditandai angota tubuhnya keadaan angota tubuhnya
dengan perubahan secara positif yang kurang berfungsi secara
bentuk salah satu Kriteria hasil: normal
anggota tubuh. Pasien mau 2. Lakukan pendekatan dan bina
berinteraksi dan hubungan saling percaya
beradaptasi dengan pasien
dengan lingkungan 3. Tunjukkan rasa empati,
tanpa rasa malu perhatian dan penerimaan
dan rendah diri pada pasien
Pasien yakin akan 4. Bantu pasien untuk
kemampuan yang mengadakan hubungan
dimiliki dengan orang lain
5. Beri kesempatan pada pasien
untuk mengekspresikan
perasaan kehilangan
3. Ketidakefektifan po Pasien dapat 1. Kaji factor-faktor penyebab
la seksualitas menerima perubahan dan penunjang, yang meliputi
berhubungan pola seksualitas yang Kelelahan
dengan penyakit disebabkan masalah Nyeri
atau terapi medis. kesehatannya. Nafas pendek
Kriteria Hasil : Keterbatasan suplai
Mengidentifikasi oksigen
keterbatasannya Imobilisasi
pada aktivitas Kerusakan inervasi saraf
seksual yang Perubahan hormone
disebabkan Depresi
masalah kesehatan Kurangnya informasi yang
Mengidentifikasi tepat
modifikasi kegiatan 2. Ajarkan pentingnya mentaati
seksual yang aturan medis yang dibuat
pantas dalam untuk mengontrol gejala
respon terhadap penyakit
keterbatasannya 3. Berikan informasi yang tepat
pada pasien dan
pasangannya tentang
keterbatasan fungsi seksual
yang disebabkan oleh
keadaan sakit
4. Ajarkan modifikasi yang
mungkin dalam kegiatan
seksual dapat membantu
penyesuaian dengan
keterbatasan akibat sakit

DAFTAR PUSTAKA

B. Windhu, Siti Candra. 2009. Disfungsi Seksual. Yogyakarta: Penerbit ANDI.


Boolell M, Gepi-Attee S, Gingel JC, Allen MJ. Sildenafil : a novel effective oral therapy for
male erectile dysfucntion. Br J Urol 1996
Buku saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan kriteria hasil NOC, Edisi 7,
editor edisi bahasa Indonesia, Judith M. Wilkinson, PhD, ARNP, RNC- Jakarta :
EGC, 2010
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Datta, Misha, dkk. 2010. Rujukan Cepat Obstetri & Ginekologi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Feldman HA, Goldstein I, Hatzichrictou DG, Krane RJ, McKinley JB. Impotence and its
medical and psychosocial correlates : results of the Massachusetts male aging
study. J Urol 1994
Henwood J. Sildenafil for erectile dysfunction. Medical Progress 1999
INA-EDACT (2000). Disfungsi Ereksi, Apa yang Harus Diketahui Oleh Pria dan Wanita:
Jakarta.
Mubarak H (2006). Erectile Dysfunction from Harrisons Principlesof Internal Medicine
17thed: Jakarta.
NANDA, diagnosis keperawatan:definisi dan klasifikasi 2009-2011: editor edisi bahasa
Indonesia, Judith M. Wilkinson, PhD, ARNP, RNC - Jakarta : EGC, 2010
Taher A, Karakata S, Adimoelya A, Pangkahila W, Kakiailatu F. Penatalaksanaan
disfungsi ereksi. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan; 10 Juli 1999; Jakarta:
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
Wibowo S. Dn Gofir A. 2007. Disfungsi Ereksi. Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press.
Wijayakusuma, Hembing ,H,.M.2000. Mengatasi Impotensi secara Efektif dan Almiah.
Jakarta: Elex Media Kompitindo

Anda mungkin juga menyukai