Anda di halaman 1dari 7

Kesesatan Kitab Barzanji, Qashidah

Burdah, dan Maulid Syarafil Anam


Posted on Feb 13th, 2011
by nahimunkar.com

maulid

Berita

Muqaddimah

Kitab Barzanji adalah kitab yang sangat popular di kalangan kaum Muslimin di Indonesia. Kitab ini
merupakan bacaan wajib pada acara-acara Barzanji atau diba yang merupakan acara rutin bagi
sebagian kaum muslimin di Indonesia.

Kitab Barzanji ini terkandung di dalam kitab Majmuatu Mawalid wa-Adiyyah yang merupakan
kumpulan dari beberapa tulisan seperti: Qoshidah Burdah, Maulid Syarafil Anam, Maulid Barzanji,
Aqidatul Awwam, Rotib al-Haddad, Maulid Dibai, dan yang lainnya.

Kitab yang popular ini di dalamnya banyak sekali penyelewengan-penyelewengan dari syariat
Islam bahkan berisi kesyirikan dan kekufuran yang wajib dijauhi oleh setiap Muslim.Karena
itulah Insya Allah dalam pembahasan kali ini akan kami jelaskan kesesatan-kesesatan kitab ini dan
kitab-kitab yang menyertainya dalam kitab, sebagai nasehat keagamaan bagi saudara-saudara
kaum muslimin dan sekaligus sebagai jawaban kami atas permintaan sebagian pembaca yang
menanyakan isi kitab ini. Dan sebagai catatan bahwa cetakan kitab yang kami jadikan acuan
dalam pembahasan ini adalah cetakan PT. Al-Maarif Bandung.

Maulid Barzanji dan Kesesatan-Kesesatannya

Maulid Barazanji yang terkandung dalam kitab Majmuatu Mawalid wa Adiyyah ini dalam halaman
72-147, di dalamnya terdapat banyak sekali kesalahan-kesalahan dalam aqidah, seperti kalimat-
kalimat yang ghuluw (melampaui batas syarI) terhadap Nabi, kalimat-kalimat kekufuran,
kesyirikan, serta hikayat-hikayat lemah dan dusta.

Di antara kesesatan-kesesatan kitab ini adalah:

1. Mengamini Adanya Nur Muhammad

Penulis berkata dalam halaman 72-73:


Dan aku ucapkan selawat dan salam atas cahaya yang disifati dengan yang dahulu dan yang awal

Kami katakan: ini adalah aqidah Shufiyyah yang batil, orang-orang Shufiyyah beranggapan
bahwa semua yang ada di alam semesta ini diciptakan dari nur (cahaya) Muhammad kemudian
bertebaran di alam semesta. Keyakinan ini merupakan ciri khas dari kelompok Shufiyyah,
keyakinan mereka ini hampir-hampir selalu tercantum dalam kitab-kitab mereka.

Ibnu Atho as-Sakandari berkata: Seluruh nabi diciptakan dari Ar-Rohmah dan Nabi kita
Muhammad adalah Ainur Rahmah. (Lathaiful Minan hal. 55)
Merupakan hal yang diketahui setiap muslim bahwasanya Rasulullah adalah manusia biasa yang
dimuliakan oleh Allah dengan risalah-Nya sebagaimana para rasul yang lainnya, Allah berfirman:


(110)
Katakanlah:Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan
kepadaku:Bahwa sesungguhnya Ilah kalian itu adalah Ilah Yang Esa. (QS. Al-Kahfi : 110)

1. Membawakan Hikayat-HikayatDusta Seputar Kelahiran Nabi

Penulis berkata dalam halaman 77-79 dari kitab Majmuatu Mawalid wa Adiyyah ini:


Dan memberitahukan tentang dikandungnya beliau setiap binatang ternak Quraisy dengan Bahasa
Arab yang fasih!

Dan tersungkurlah tahta-tahta dan berhala-berhala atas wajah-wajah dan mulut-mulut mereka!

Dan saling memberi kabar gembira binatang-binatang liar di timur dan di barat beserta binatang-
binatang lautan!

Saat malam kelahirannya datang kepada ibunya Asiyah dan Maryam beserta para wanita dari
surga!

Kami katakan: Kisah ini adalah kisah yang lemah dan dusta sebagaimana yang dijelaskan oleh
para ulama hadits. (Lihat Siroh Nabawiyyah Shohiihah 1/97-100)

1. Bertawassul denga Dzat Nabi

Penulis berkata pada halaman 106 dari kitab Majmuatu Mawalid wa Adiyyah ini:


Dan kami bertawassul kepadaMu dengan kemuliaan dzat Muhammad

Dan yang dia adalah akhir para nabi secara gambaran dan yang paling awal secara makna

Dan dengan para keluarganya bintang-bintang keamanan manusia


Kami katakan: Tawassul dengan dzat Nabi dan keluarganya serta orang-orang yang sudah mati
adalah tawassul yang bidah dan dilarang. Tidak ada satupun doa-doa dari Kitab dan Sunnah yang
terdapat di dalamnya tawassul dengan jah atau kehormatan atau hak atau kedudukan dari para
makhluk. Banyak para imam yang mengingkari tawasssul-tawassul bidah ini. al-Imam Abu
Hanifah berkata: Tidak selayaknya bagi seorang pun berdoa kepada Allah kecuali denganNya, aku
membenci jika dikatakan: Dengan ikatan-ikatan kemuliaan dari arsyMu, atau dengan
hak makhlukMu. Dan ini juga perkataan al-Imam Abu Yusuf. (Fatawa Hindiyyah 5/280)

Syeikh al-Albani berkata: Yang kami yakin dan kami beragama kepada Allah dengannya bahwa
tawassul-tawassul ini tidaklah diperbolehkan dan tidak disyariatkan, karena tidak ada dalil yang
bisa dijadikan hujjah padanya, tawassul-tawassul ini telah diingkari oleh para ulama ahli tahqiq
dari masa ke masa. (at-Tawassul anwauhu wa Ahkamuhu hal. 46-47)

1. Menyatakan Bahwa Kedua Orang Tua Nabi Dihidupkan Lagi dan Masuk
Islam

Penulis berkata dalam halaman 114:


Dan sesungguhnya keduanya (Abdullah dan Aminah) telah menjadi ahli iman

Dan telah datang hadits tentang ini dengan syawahidnya (penguat-penguatnya)

Maka terimalah karena sesungguhnya Allah mampu menghidupkan di setiap waktu

Kami katakan: Hadits tentang dihidupkannya kedua orang tua Nabi dan berimannya keduanya
kepada Nabi adalah hadits yang dusta. Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata: Hadits ini tidak shohih
menurut ahli hadits, bahkan mereka sepakat bahwa hadits itu adalah dusta dan diada-adakan
Hadits ini di samping palsu juga bertentangan dengan al-Quran, hadits shohih dan ijma.(Majmu
Fatawa 4/324)

1. Berdoa dan Beristighotsah kepada Nabi

Penulis berkata dalam halaman 1114:


Wahai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan

Tolonglah aku dan selamatkan aku, wahai penyelamat dari neraka Sair

Wahai pemilik kebaikan-kebaikan dan pemilik derajat-derajat

Hapuskanlah dosa-dosa dariku dan ampunilah kesalahan-kesalahanku

Kami katakan: Ini adalah kesyirikan dan kekufuran yang nyata karena penulis berdoa kepada
Nabi dan menjadikan Nabi sebagai penghapus dosa, dan penyelamat dari azab neraka,padahal
Allah berfirman:

( 20)
( 21)
(22)
Katakanlah: Sesungguhnya Aku hanya menyembah Rabbku dan akau tidak mempersekutukan
sesuatupun denganNya. Katakanlah: Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu
kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan. Katakanlah: Sesungguhnya
aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali
aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya. (QS. Al-Jin: 20-22)

Syaikh Abdur Rohman bin Nashir as-Sadi berkata: Katakanlah kepada mereka wahai rosul
sebagai penjelasan dari hakikat dakwahmu: Sesungguhnya Aku hanya menyembah Rabbku dan
aku tidak mempersekutukan sesuatupun denganNya. Yaitu aku mentauhidkan-Nya, Dialah Yang
Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku lepaskan semua yang selain Allah dari berhala dan
tandingan-tandingan, dan semua sesembahan yang disembah oleh orang-orang musyrik selain-
Nya. Katakanlah: Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun
kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan.Karena aku adalah seorang hamba yang tidak
memiliki sama sekali perintah dan urusan. . Katakanlah: Sesungguhnya aku sekali-kali tiada
seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tidak akan memperoleh
tempat berlindung selain daripada-Nya.Yaitu tidak ada seorang pun yang dapat aku mintai
perlindungan agar menyelamatkanku dari adzab Allah. Jika saja Rasulullah yang merupakan
makhluk yang paling sempurna, tidak memiliki kemadhorotan dan kemanfaatan, dan tidak bisa
menahan dirinya dari Allah sedikitpun, jika Dia menghendaki kejelekan padanya, maka yang
selainnya dari makhluk lebih pantas untuk tidak bisa melakukan itu semua. (Tafsir al-Karimir
Rohman hal. 1522 cet. Dar Dzakhoir)

Ayat-ayat di atas dengan jelas menunjukkan atas larangan berdoa kepada Rasulullah dan bahwa
Rasulullah tidak bisa menyelamatkan dirinya dari adzab Allah apalagi menyelamatkan yang lainnya
!

Qoshidah Burdah Dan Kesesatan-Kesesatannya

Qoshidah Burdah terkandung dalam kitab Majmuatu Mawalid wa Adiyyah di dalam halaman 148-
173. Qoshidah ini ditulis oleh Muhammad al-Bushiri seorang tokoh tarikat Syadziliyyah.

Qoshidah Burdah adalah kumpulan bait-bait syair yang di dalamnya terdapat banyak sekali
kalimat-kalimat kesyirikan dan kekufuran yang nyata, di antara bait dari qoshidah tersebut adalah:


Maka sesungguhnya dunia dan akhirat adalah dari kemurahanmu wahai Nabi

Dan dari ilmumu ilmu lauh dan qolam (hal 172 dari kitab Majmuatu Mawalid wa Adiyyah)
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin mengomentari perkataan Bushiri di atas dengan
berkata: Ini termasuk kesyirikan yang terbesar, karena menjadikan dunia dan akhirat berasal dari
Nabi yang konsekwensinya bahwasanya Allah sama sekali tidak punya peran(Qaulul Mufid
1/218)

Maulid Syarofil-Anam dan Kesesatan-Kesesatannya

Maulid Syarofil Anam terkandung dalam kitab Majmuatu Mawalid wa Adiyyah ini dalam halaman
217, dia juga merupakan kumpulan bait-bait syair yang di dalamnya terdapat banyak sekali
kalimat-kalimat yang ghuluw terhadap Nabi, di antara contoh-contoh kalimat tersebut adalah:


Keselamatan semoga terlimpah atas mu wahai penghapus dosa

Keselamatan semoga terlimpah atasmu wahai penghilang duka-duka (kitab Majmuatu Mawalid wa
Adiyyah hal. 3 dan 4)


Wahai Rasulullah wahai yang terbaik dari semua Nabi

Selamatkanlah kami dari neraka Hawiyah wahai pemilik jabatan yang suci (hal. 8 dari
kitabMajmuatu Mawalid wa Adiyyah)

Kami katakan: Ini adalah kesyirikan dan kekufuran yang nyata karena penulis berdoa kepada
Nabi dan menjadikan Nabi sebagai penghapus dosa, penghilang kedukaan, dan penyelamat dari
azab neraka, padahal Nabi tidak kuasa mendatangkan suatu kemudhorotan pun dan tidak pula
suatu kemanfaatan kepada siapa pun, tiada seorang pun dapat melindunginya dari azab Allah dan
tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya, sebagaimana dalam ayat 20-22
dari Surat al-Jin di atas.

Kemudian di dalam kitab Maulid Syarofil Anam juga terkandung banyak kisah-kisah yang lemah
dan dusta sebagaimana dalam kitab Barzanji di atas, seperti kisah bahwasanya ibunda Rasulullah
ketika mengandung beliau tidak merasa berat sama sekali, Rasulullah dilahirkan dalam keadaan
sudah dikhitan, bercelak, berhala-berhala jatuh tersungkur, bergoncanglah singgasana Kisro, dan
matilah api orang-orang Majusi (kitab Majmuatu Mawalid wa Adiyyah hal. 10-12). Kisah-kisah ini
adalah kisah-kisah yang lemah dan dusta sebagaimana dijelaskan oleh para ulama hadits
(Lihat Siroh Nabawiyah Sohihah 1/97-100).

(Dipetik dari tulisan Abu Ahmad As-Salafi, Majalah Al-Fuqon, Gresik, edisi 09 tahun VI/ Robiuts
Tsani 1428 /Mei 2007, halaman 41-44).

Fatwa: Maulid Al-Barzanji Bidah

Pertanyaan:

Di sisi kami ada yang dinamai dengan Al-Barzanji, yaitu ekspresi untuk berkumpulnya orang-orang
lalu mereka mengulang-ulang sierah/ sejarah Rasul dan mereka bershalawat atasnya dengan lagu
tertentu dan mereka mengerjakannya itu di sisi kami dalam acara-acara atau dalam pengantenan-
pengantenan.
Fatwa:

Al-hamdulillah, shalawat dan salam atas Rasulillah dan atas keluarganya dan sahabatnya. Adapun
setelah itu: Maka ini adalah perkara muhdats (diada-adakan secara baru, kata lain dari bidah,
red), tidak pernah dikerjakan oleh (para sahabat) orang sebaik-baik ummat ini sesudah nabinya,
yaitu mereka para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beserta agungnya kecintaan
mereka terhadap beliau. Seandainya itu baik maka pasti mereka telah mendahului kita kepadanya.

Kita wajib mengagungkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan kita saling mengkaji sierah/
sejarah beliau agar kita mendapatkan petunjuk dengan pentunjuk beliau dan mengikuti jejak
beliau, tetapi beserta ikut kepada beliau shallallahu alaihi wa sallam dalam hal yang
disyariatkannya, dan tidak membuat-buat ibadah-ibadah baru yang beliau tidak membawakannya,
atau tambahan atas ibadah-ibadah yang telah disyariatkannya. Karena hal itu termasuk sebab-
sebab ditolaknya amal atas pelakunya. Maka sungguh telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam:



Barangsiapa beramal suatu amalan bukan berdasarkan atas perintah kami maka dia tertolak.
(Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim dan lainnya)

Wallahu alam

(Mufti Markaz fatwa dengan bimbingan Dr Abdullah Al-Faqih, Fatawa Ash-Shabakah Al-Islamiyyah
juz 8 halaman 147, nomor fatwa 15215, judul: Maulid Al-Barzanji bidah, tanggal fatwa 28
Muharram 1423H/ islamweb).

(nahimunkar.com)

Teks Fatwa: Maulid al-Barzanji Bidah:

(147 / 8 )

15215 :

1423 28 :


.



:

631 :.

: .
)(nahimunkar.com