Anda di halaman 1dari 19

Analisis Masalah SKENARIO C B 21

1. Ny. ATW, 30 tahun ibu rumah tangga, masuk ke UGD RSJ Ernaldi Bahar
Palemban karena mencoba bunuh diri. Ny. ATW selalu sedih dan menangis tanpa
sebab.
a. Apa hubungan usia, jenis kelamin, dan pekerjaan dengan keluhan pada
kasus? 1,2,3
Umur
Umur saat onset terjadinya bipolar bervariasi yaitu berkisar sejak kanak-
kanak sampai umur 50 tahun, dengan usia rata-rata sekitar 21 tahun.
Kebanyakan kasus bipolar muncul ketika seorang individu berusia 15-19
tahun.
Beberapa pasien yang terdiagnosa dengan depresi major yang berulang
kemungkinan akan memiliki kelainan bipolar dan akan mengalami episode
pertama manic ketika berusia lebih dari 50 tahun. Orang-orang tersebut
mungkin memiliki riwayat keluarga dengan kelainan bipolar.
Bagaimanapun, untuk sebagian besar pasien dengan onset mania pertama
saat berusia 50 tahun harus diinvestigasi lebih lanjut untuk kelainan
neurologis seperti penyakit serebrovaskular.
Jenis kelamin
Kelainan bipolar terjadi secara merata pada laki-laki maupun perempuan.
Riwayat pekerjaan biasanya berhubungan dengan stress psiko-sosial
yang mungkin dialami oleh pasien.

b. Apa yang menyebabkan Ny. ATW selalu sedih, menangis tanpa sebab dan
mau bunuh diri? 4,5,6
c. Apa saja jenis-jenis bunuh diri? 7,8,9

2. Dua tahun yang lalu terdapat perubahan perilaku yaitu adanya kegembiraan
berlebihan, banyak bicara dan, beraktivitas, sering keluyuran serta kurang tidur.
Satu tahun yang lalu, ia mengeluhkan selalu mendengar suara seperti ada orang
yang mengobrol dan kadang menyalahkan dirinya, serta ada keyakinan yang kuat
bahwa dirinya banyak kesalahan dan dosa. Ia mulai mengisolasi diri dan kurang
berinteraksi. Kemudian kemunduran makin hebat, kurang bisa mengurus diri, tak
dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari, bicara terbatas, ucapan kalimat sepatah
dua kata tetapi masih dapat dimengerti.
a. Bagaimana psikopatologi dari keluhan Ny. ATW? 10,1,2
i. Kegembiraan berlebihan
Kegembiraan berlebihan pada dua tahun yang lalu, menandakan
bahwa ny. ATW sedang dalam episode mania. Dimana pada
episode ini sebagian besar teori mania memandang bahwa episode
ini merupakan pertahanan terhadap depresi seperti yang dirasakan
Ny. ATW. Episode ini mencerminkan ketidakmampuan
mentoleransi suatu tragedi perkembanga. Bisa juga terjadi akibat
superego yang bersifat tirani, yang menghasilkan kritik diri yang
bersifat euforia.

Gejala-gejala dari tahap gangguan bipolar episode mania adalah


sebagai berikut :
Gembira berlebihan
Mudah tersinggung sehingga mudah marah
Merasa dirinya sangat penting
Penuh ide dan semangat baru
Cepat berpindah dari satu ide ke ide lainnya
Seperti mendengar suara yang orang lain tak dapat mendengar
Menyusun rencana yang tidak masuk akal
Sangat aktif dan bergerak sangat cepat
Berbicara sangat cepat sehingga sukar dimengerti apa yang
dibicarakan
Membuat keputusan aneh dan tiba-tiba, namun cenderung
membahayakan
Merasa sangat mengenal orang lain
Mudah melempar kritik terhadap orang lain
Sukar menahan diri dalam perilaku sehari-hari
Sulit tidur
Merasa sangat bersemangat, seakan-akan 1 hari tidak cukup 24 jam

ii. Banyak bicara dan beraktivitas


Adanya episode manik dimana terdapat peningkatan dalam jumlah
dan kecepatan aktivitas fisik mental dengan berbagai derjat
keparahan. Dengan banyak bicara dan beraktivitas, Ny. ATW bisa
bertahan dalam episode ini.
iii. Sering keluyuran dan kurang tidur
Adanya riwayat gangguan afektif dalam keluarga (genetik) +
stressor sebagai faktor pemicu peningkatan hormone kortisol,
neurotransmiter norepineprin, dopamine respon neurotransmiter
tersebut ke sistem limbik (hipotalamus, amigdala, dan hipokampus)
terganggu gejala episode manik euforia dan perubahan
prilaku (keluyuran, tidak mau tidur)

Keluyuran dalam hal ini berkaitan dengan hiperaktivitas pada


episode manik. Hal ini dikarenakan aktivitas dopamine meningkat
pada mania. Sedangkan perubahan kadar serotonin diduga
mengacaukan menyebabkan instabilitas system katekolamin,
sehingga memicu episode mania pada gangguan bipolar. Dikatakan
bahwa deficit asetil kolin menyebabkan munculnya mania sehingga
keluhan gejala pada kasus ini timbul.
Masalah tidur-insomnia inisial dan terminal, sering terbangun,
hipersomnia-adalah gejala yang lazim dan klasik pada depresi, dan
penurunan kebutuhan untuk tidur merupakan gejala klasik mania.
Para peneliti telah lama mengenali bahwa elektroensefalogram
tidur (EEG) pada banyak orang dengan depresi menunjukkan
kelainan. Kelainan yang lazim adalah awitan tidur yang tertunda,
pemendekan latensi rapid eye movement (REM) (waktu antara
jatuh tertidur dan periode REM pertama), peningkatan lama periode
REM pertama, serta tidur delta abnormal.
iv. Sering mendengar suara seperti ada orang yang mengobrol
dan kadang menyalahkan dirinya
Kelainan persepsi sensorik (Halusinasi) :
persepsi sensorik tanpa adanya stimulus luar.
Ciri- ciri : persepsi sensorik yang sungguh-sungguh, stimulus
terletak didunia luar yang objektif, tidak tergantung dari kemauan
sadar individu.
Halusinasi pendengaran :
gangguan perceptual yang paling sering ditemukan.
Ucapan yang paling sering ditemukan pasien berupa suara bersifat
mengejek, memerintah, menuduh, atau kata-kata cabul.
Pasien dapat terlihat berbicara sendiri dan dapat melakukan
tindakan sesuai dengan perintah halusinasinya.

waham persekutorik karena adanya halusinasi akustik berupa suara-


suara yang senantiasa mengatakan ancaman terhadap dirinya.

Halusinasi auditori terjadi karena penurunan volume grey matter


(anatomi) pada superior temporal gyrus gangguan pada area
auditory otak halusinasi auditori (suara/command)

v. Ada keyakinan yang kuat bahwa dirinya banyak kesalahan


dan dosa. Mulai mengisolasi diri dan kurang berinteraksi.
Keyakinan yang dirasakan Ny. ATW menandakan adanya gangguan
isi pikiran berupa : Waham dosa dan waham salah, biasanya
berkaitan dengan waham tuduhan pasien percaya dirinya
mempunyai suatu dosa besar atau telah melakukan kesalahan tak
berampun dan ia percaya orang- orang disekitarnya mengetahui hal
itu dan menuduhnya.

vi. Kemudian kemunduran makin hebat, kurang bisa mengurus


diri, tak dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari, bicara
terbatas, ucapan kalimat sepatah dua kata tetapi masih dapat
dimengerti.
Dijelaskan bahwa Ny. ATW tidak bisa mengurus diri dan tidak mau
makan minum : menunjukkan telah terjadi regresi (menghadapi stress
dengan perilaku, perasaan dan cara berfikir mundur kembali ke ciri tahap
perkembangan sebelumnya.)
Episode manik dibagi menjadi 3 menurut derajat keparahannya
yaitu hipomanik, manik tanpa gejala psikotik, dan manik dengan gejala
psikotik. Hipomanik dapat diidentikkan dengan seorang perempuan yang
sedang dalam masa ovulasi (estrus) atau seorang laki-laki yang dimabuk
cinta. Perasaan senang, sangat bersemangat untuk beraktivitas, dan
dorongan seksual yang meningkat adalah beberapa contoh gejala
hipomanik. Derajat hipomanik lebih ringan daripada manik karena gejala-
gejala tersebut tidak mengakibatkan disfungsi sosial.
Pada manik, gejala-gejalanya sudah cukup berat hingga
mengacaukan hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial. Harga diri
membumbung tinggi dan terlalu optimis. Perasaan mudah tersinggung dan
curiga lebih banyak daripada elasi. Tanda manik lainnya dapat berupa
hiperaktifitas motorik berupa kerja yang tak kenal lelah melebihi batas
wajar dan cenderung non-produktif, euphoria hingga logorrhea (banyak
berbicara, dari yang isi bicara wajar hingga menceracau dengan 'word
salad'), dan biasanya disertai dengan waham kebesaran, waham kebesaran
ini bisa sistematik dalam artian berperilaku sesuai wahamnya, atau tidak
sistematik, berperilaku tidak sesuai dengan wahamnya. Bila gejala tersebut
sudah berkembang menjadi waham maka diagnosis mania dengan gejala
psikotik perlu ditegakkan.

b. Apa yang menyebabkan Ny. ATW gembira berlebihan? 3,4,5


c. Bagaimana makna klinis perubahan perilaku pada Ny. ATW sejak dua
tahun terkhir? (Gembira jadi sedih) 6,7,8
d. Mengapa gejala kesedihan (depresif) tambah berat? 9,10,1
Depresif bertambah berat karena Ny. ATW dalam keadaan tertekan. Sudah
stress dengan apa yang ia alami. Terdapat perubahan fungsi seperti mood
menurun, dan kehilangan minat atau kesenangan(?)

3. Selama setahun terakhir ini, pasien masih cenderung normal selama beberapa
bulan. Menurut keluarga ada stressor yang memicu perubahan perilaku ini yaitu
masalah dengan keluarga suami.
a. Apa makna klinis selama setahun terakhir ini, pasien masih cenderung
normal tetapi ada perubahan perilaku saat ada stressor? 2,3,4

4. Pada autoanamnesis, pasien terlihat diam tak banyak gerak kadang menangis dan
sulit untuk menjawab pertanyaan. Jawaban hanya sepatah dua kata saja, kadang
menolak untuk bicara sama sekali. Tanda-tanda autism jelas ada.
a. Apa hubungan tanda-tanda autis dengan keluhan yang dialami? 5,6,7

5. Informasi tambahan.

Terdapat riwayat perkawinan yang baik, ada riwayat gangguan afektif dalam
keluarga dan premorbid mengarah ke suatu gangguan kepribadian dengan ciri
pasif, sering merasa bersalah, sangat tergantung dengan orang lain, merasa tak
berdaya bila sendirian dan kondisi ini sudah berdampak negative, ada stressor
dalam satu tahun terakhir terkait masalah keluarga yaitu bentrok dengan keluarga
suami. GAF scale sekitar 40-31 saat pemeriksaan (saat ada upaya bunuh diri GAF
scale menurun sampai 10-0). Terdapat waham mengarah ke rasa bersalah dan
berdosa. Pemeriksaan fisik tak ada kelainan.
a. Apa yang dimaksud dengan kepribadian premorbid? 8,9,10
b. Apa hubungannya kepribadian premorbid dengan keluhan pada kasus?
1,2,3
c. Apa hubungan riwayat gangguan afektif dalam keluarga dengan keluhan?
4,5,6
d. Apa makna klinis dari GAF scale? 7,8,9
e. Bagaimana cara pemeriksaan GAF? 10,1,2
DIAGNOSIS MULTIAKSIAL TERDIRI DARI 5 AKSIS :
Aksis I : - Gangguan klinis (F00-09, F10-29, F20-29, F30-39, F40-48,
F50-59, F62-68,
F80-89, F90-98, F99)
- Kondisi lain yang menjadi Fokus Perhatian klinis (tidak ada diagnosis
Z03.2, diagnosis tertunda R69)
Aksis II :- Gangguan kepribadian (F60-61, gambaran kepribadian
maladaptive,
mekanisme defensi maladaptif)
- Retardasi Mental (F70-79)
Aksis III : Kondisi Medik Umum
Aksis IV : Masalah Psikososial dan lingkungan (keluarga, lingkungan social,
pendidikan,
pekerjaan, perumahan, ekonomi, akses pelayanan kesehatan, hukum,
psikososial).
Aksis V : Penilaian fungsi secara global

Penilaian Fungsi Secara Global (Global Assesment of Functioning = GAF


Scale)
100-91 gejala tidak ada, fungsi max, tidak ada masalah yang tidak
tertanggulangi
90-81 gejala min, fungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari masalh harian
biasa
80-71 gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam social
70-61 beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi,
secara
umum baik
60-51 gejala dan disabilitas sedang
50-41 gejala dan disabilitas berat
40-31 beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi,
disabilitas
berat dalam beberapa fungsi
30-21 disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai, tidak mampu
berfungsi dalam
hampir semua bidang
20-11 bahaya mencederai diri/orang lain, disabilitas sangat berat dalam
komunikasi
dan mengurus diri
10-01 persisten dan lebih serius
0 informasi tidak adekuat

Catatan :
Antara Aksis I, II, III tidak selalu harus ada hubungan etiologik atau
patogenese
Hubungan antara Aksis I-II-III dan Aksis IV dapat timbal balik saling
mempengaruhi

Tujuan diagnosis multiaksial


Informasi komprehensif sehingga membantu perencanaan terapi dan
meramalkan outcome
Format mudah dan sistematik sehingga membantu menata dan
mengkomunikasikan informasi klinis, menangkap kompleksitas situasi klinis,
dan menggambarkan heterogenitas individu dengan diagnosis yang sama
Penggunaan model bio-psiko-sosial

Contoh dalam kasus


a. Aksis I = F31.5 Gangguan afektif bipolar,episode kini depresi berat
dengan gejala psikotik
b. Aksis II = F60.3 Gangguan Kepribadian emosional tak stabil
c. Aksis III = Tidak ada (None)
d. Aksis IV = masalah dengan primary support group
(keluarga)
e. Aksis V = GAF : 40-31 ( saat pemeriksaan )

f. Apa makna klinis sering merasa bersalah? 3,4,5


g. Apa makna klinis sering bergantung dengan orang lain dan merasa tak
berdaya bila sendirian? 6,7,8
h. Apa makna klinis dari bicara terbatas? 9,10,1
Bicara terbatas menunjukkan adanya episode depresif yang berawal dari
kehilangan minat dan berkurangnya energi untuk melakukan suatu
aktivitas tertentu, seperti yang ditunjukkan dalam kasus, bahwa Ny. ATW
berbicara dengan terbatas.

i. Mengapa GAF scala menurun saat mau bunuh diri? 2,3,4

6. Kesimpulan Pemeriksaan Psikiatrik:


Ditemukan adanya banyak psikopatologi antara lain adanya discriminative insight
yang sangat terganggu, jelas terdapat gangguan asosiasi berupa hemmung,
sperrung, dan ada autisme serta depresi taraf berat, dengan demikian konklusinya
adalah RTA sangat terganggu.
a. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal? 5,6,7
b. Neurotransmitter apa yang berhubungan dengan gejala pada kasus? Semua

Nurotransmitter yang berkaitan dengan gejala pada kasus adalah


norepinephrin dan serotonin. Apabila Norepinefrin (NE) dan
epinefrin mengalami penurunan kadar NE dan epinefrin
menyebabkan depresi, sebaliknya peningkatan kadar keduanya
menyebabkan mania (Ikawati, 2011).

Norepineprin. Hubunganyang diajukan oleh penelitian ilmu


pengetahuan dasar antara downregulation reseptor bea adrenergik dan
respons antidepresan klinis mungkin adalah satu potongan data yang
paling menakjubkan yang menunjukkan peranan langsung terhadap
sistem noradrenergik pada depresi. Bukti lain adanya ketelibatan
reseptor prasinaps beta 2 adrenergik juga terletak pada neuron
serotonergik serta mengatur jumlah serotonin yang dilepaskan. Obat
antidepresan yang secara klinis efektif dengan efek noradrenergik
adalah sertralin(Effexor(, merupakan dukungan lebih lanjut terhadap
peranan norepineprin di dalam patofisiologi setidaknya pada beberapa
gejala depresi.

Serotonin. Dengan pengaruh besar yang dihasilkan inhibitor reuotake


serotonin selektif(SSRI, selective serotonin reuptake inhibitors) pada
depresi, contohnya fluoexin (Prozac), serotonin telah menjadi
neurotransmitter amin biogenik yang paling lazim dikaitkan dengan
depresi. Identifikasi banyak subtipe reseptor serotonin juga telah
meningkatkan kegairahan di dalam komunitas riset mengenai
perkembangan terapi depresi yang bahkan lebih spesifik. selain fakta
bahwa SSRI dan antideprsan serotonergik lainnya efektif di dalam
terapi depresi, data lain menunjukkan bahwa serotonin terlibat di
dalam patofisiologi depresi. Kekurangan serotonin dapat mencetuskan
depresi dan beberapa pasien dengan impuls bunuh diri memiliki
konsentrasi metabolit serotonin yang rendah di dalam cairan
serebrospinal serta konsentrasi tempat uptake yang rendah pada
trombosit.
c. Bagaimana cara pemeriksaan RTA? 8,9,10

7. Aspek Klinis
a. Diagnosis Banding 1,2,3
Gangguan bipolar didiagnosis banding dengan cara sebagai
berikut:
1. Menyingkirkan kondisi medis umum
Beberapa kondisi medis dapat menginduksi terjadinya mania, termasuk
penyakit Cushing (di mana tubuh menghasilkan kortikosteroid yang
berlebih), hipertiroidisme, stroke, epilepsi lobus temporal, tumor otak
(khususnya mempengaruhi ventrikel ketiga), trauma kepala, infeksi
HIV, gangguan jaringan ikat seperti systemic lupus erythematosus atau
multiple sclerosis.
2. Menyingkirkan obat yang dapat menginduksi terjadinya mania.
Penggunaan obat stimulan seperti metamfetamin atau kokain dapat
menyebabkan terjadinya agitasi, berpikir yang cepat, flight of ideas
atau gejala psikotik yang dengan mudah dapat menjadi episode
manik. Saat pasien sedang menggunakan obat ini crash dan
pengalaman mood swing akan muncul mengikuti perjalanan mood
swing yang tampak pada bipolar. Obat antidepresan dapat
menginduksi episode manik pada individu yang rentan terhadap
perkembangan gangguan bipolar. Suatu episode dari mania yang
berespons terhadap obat antidepresan dipertimbangkan sebagai
diagnosis dari gangguan bipolar primer. Perbedaannya,
perkembangan mania yang berespon pada obat-obatan lain tidak
ditempatkan pada pasien yang berisiko tinggi pada perkembangan
gangguan bipolar. Satu contoh yang paling sering dari obat-obatan
yang terlibat pada mania sekunder adalah prednison, suatu
kortikosteroid yang dapat menyebabkan mania pada beberapa
pasien. Simetidin dapat juga menyebabkan terjadinya mania,
psikosis atau depresi. Obat-obatan lain yang terlibat menghasilkan
mania termasuk levodopa (L-Dopa) dan bromocriptine
(kemungkinan aksi dasarnya dalam meningkatkan aktivitas
dopaminergik pada otak), obat relaksasi otot seperti baclofen dan obat
antituberkulosis seperti isoniazid.
3. Menyingkirkan gangguan psikiatri
Mood swing merupakan gejala yang sering terdapat pada
beberapa kondisi psikiatri, seperti:
a) Gangguan skizoafektif
Pasien yang mengalami gangguan skizoafektif sering mempunyai
riwayat depresi dan episode manik. Bagaimanapun juga, pasien ini
mempunyai gejala psikotik yang kronis dari skizofrenia, seperti
delusi dan halusinasi, meskipun selama periode mood yang
normal.
b) Gangguan kepribadian
Pasien yang mempunyai gangguan kepribadian kemungkinan
mempunyai mood yang tidak stabil. Hal ini khususnya terjadi pada
gangguan kepribadian kelompok B, yaitu: histrionik, borderline,
narsistik dan antisosial. Perubahan mood ini dapat dihubungkan
dengan siklotimia, tetapi lebih sering berhubungan dengan faktor
lingkungan. Pasien yang mempunyai gangguan kepribadian sering
salah didiagnosis sebagai gangguan bipolar.
c) Skizofrenia
Pasien dengan gangguan bipolar terkadang didiagnosis sebagai
pasien dengan skizofrenia, kemungkinan hal ini disebabkan oleh
munculnya gejala psikotik pada mania dan awitan pada usia muda
yang menyerupai skizofrenia. Salah diagnosis juga terjadi ketika
pasien dan dokter berasal dari etnis yang berbeda.

Gangguan bipolar I harus dibedakan dari:


- Gangguan mood didasarkan pada kondisi medis umum (mis: sklerosis
multiple, stroke, hipotiroid, atau tumor otak)
- Gangguan mood diinduksi zat (mis: penyalahgunaan obat, obat antidepresi,
atau ECT (Electro Convulsive Therapy))
- Gangguan mood yang lain (mis: gangguan depresi mayor,
distimik,gangguan bipolar II, gangguan siklotimik)
- Gangguan psikotik (mis: gangguan skizoafektif, skizofrenia, atau gangguan
waham)
Karena gangguan bipolar I sering berhubungan dengan hiperaktivitas,
kenekatan, impulsif, dan perilaku antisocial, maka diagnosis bipolar I harus
secara hati-hati dibedakan dari gangguan hiperaktifitas deficit perhatian,
gangguan tingkah laku, gangguan antisosial, dan gangguan kepribadian
berbatasan (borderline).

b. Algoritma penegakkan diagnosis 4,5,6


c. Diagnosis Kerja 7,8,9
Ny. ATW, 30 tahun
Aksis I F31.5 Gngguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat
dengan Gejala Psikotik
Aksis II 60.7 Gangguan kepribadian dependen
Aksis III Tidak ada kelainan
Aksis IV Terkait dengan masalah keluarga suami
Aksis V GAF scale tertinggi dalam satu tahun terakhir 90-81
GAF terendah 40-31

d. Etiologi10,1,2

Penyebab pasti dari gangguan bipolar belum diketahui secara tepat.


Gangguan bipolar dianggap sebagai penyakit genetik yang kompleks yang
mempengaruhi lingkungan dan disebabkan oleh berbagai kelainan
neurobiologic (Drayton & Weinstein, 2008). Diperkirakan beberapa
faktor dapat dapat menjadi penyebab terjadinya seseorang mendapat
gangguan bipolar, antara lain :

1) Faktor genetik

Sebanyak 80%-90% pasien dengan gangguan bipolar memiliki riwayat


keluarga yang juga memiliki gangguan mood (misal, gangguan bipolar,
depresi, siklotimia atau dysthymia). Keluarga derajat pertama pasien
dengan gangguan bipolar memiliki prevalensi sebesar 15%-35%
berawal dari gangguan mood dan 5%-10% memiliki risiko langsung
mengalami gangguan bipolar (Drayton & Weinstein, 2008).

Pada penelitian saudara kembar, angka kejadian gangguan bipolar 1


pada kedua saudara kembar monozigot adalah 33% - 90% dan untuk
gangguan depresif berat, angka kejadian pada kedua saudara kembar
monozigot adalah 50%. Pada kembar dizigot angkanya berkisar 5%
-25% untuk menderita gangguan bipolar I dan 10% - 25% untuk
penderita gangguan depresif berat (Kaplan, dkk., 1997).
Penelitian lain menyebutkan bahwa antara 4% sampai 24% dari
mereka yang memiliki keluarga dengan bipolar I juga akan mungkin
mengalami bipolar. Untuk bipolar II, pengaruh faktor ini lebih rendah,
dimana individu yang memiliki orang tua atau saudara didiagnosis
dengan bipolar II hanya berisiko sekitar 1% sampai 5% untuk
mengalami ganggaun mood (Akiskal, 1995).

2) Faktor biokimia

Sejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di


dalam metabolit amin biogenic di dalam darah, urin, dan cairan
serebrospinalis pada pasien gangguan mood. Amin biogenic
(Norepinefrin dan serotonin) merupakan dua neutransmiter yang
paling berperan dalam patofisiologis gangguan mood (Kaplan, dkk,
1996). Apabila Norepinefrin (NE) dan epinefrin mengalami
penurunan kadar NE dan epinefrin menyebabkan depresi,
sebaliknya peningkatan kadar keduanya menyebabkan mania (Ikawati,
2011).

Serotonin merupakan neurotransmiter aminergic yang paling sering


dihubungkan dengan depresi. Penurunan serotonin dapat menyebabkan
depresi. Pada beberapa pasien yang bunuh diri memiliki konsentrasi
metabolit serotonin yang rendah di cairan serebrospinalnya. Selain
kedua senyawa diatas, ada dopamine yang memiliki peranan dalam
depresi dan mania pula. Data menunjukkan aktivitas dopamine yang
menurun pada depresi dan meningkat pada mania (Kaplan, dkk, 1996).

Ketidakseimbangan hormonal dan gangguan dari sumbu hipotalamus-


hipofisis-adrenal yang terlibat dalam homeostatis dan respon stress
juga dapat berkontribusi pada gambaran klinis gangguan bipolar
(Ikawati, 2011).

3) Faktor lingkungan
Telah lama diamati bahwa peristiwa yang menyebabkan stress sering
mendahului episode pertama dan dapat meningkatkan serta
memperpanjang waktu pemulihan dari gangguan mood (Drayton &
Weinstein, 2008).

4) Faktor psikososial

Stress dari lingkungan dan peristiwa dalam hidup seseorang. Penelitian


telahmembuktikan faktor lingkungan memegang peranan penting
dalam Gangguan perkembangan bipolar. Faktor lingkungan yang
sangat berperan pada kehidupan psikososial dari pasien dapat
menyebabkan stress yang dipicu oleh faktor lingkungan. Stress yang
menyertai episode pertama dari Gangguan bipolar dapatmenyebabkan
perubahan biologik otak yang bertahan lama. Perubahan bertahanlama
tersebut dapat menyebabkan perubahan keadaan fungsional
berbagaineurotransmitter dan sistem pemberian signal intraneuronal.
Perubahan mungkintermasuk hilangnya neuron dan penurunan besar
dalam kontak sinaptik. Hasilakhir perubahan tersebut adalah
menyebabkan seseorang berada pada resiko yanglebih tinggi untuk
menderita Gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanyastressor
eksternal.
5) Faktor kepribadian.
Tidak ada bukti yang mengindikasikan bahwa gangguan
kepribadiantertentu berhubungan dengan berkembangnya gangguan
bipolar I, walaupun pasiendengan gangguan distimik dan siklotimik
berisiko untuk dapat berkembang menjadidepresi mayor atau gangguan
bipolar I. Kejadian tiba-tiba yang memicu stress yang kuatadalah prediktor dari
onset episode depresi

e. Epidemiologi 3,4,5
f. Faktor Resiko 6,7,8
g. Psikopatologi 9,10,1 & semua

Patofisiologi gangguan bipolar belum dapat diketahui dengan pasti.


Namun, orang yang kembar dan keluarga menunjukkan bahwa gangguan
bipolar memiliki komponen genetik. Bahkan, kerabat tingkat pertama orang
dengan gangguan bipolar sekitar 7 kali lebih mungkin untuk
mengembangkan gangguan bipolar daripada lingkungan (Soreff, 2012).

Banyak teori telah diajukan mengenai patofisiologi gangguan


bipolar, teori yang paling popular berpendapat bahwa gangguan bipolar
disebabkan ketidakseimbangan neurotransmitter norepinefrin yang
diperkirakan menyebabkan gejala gangguan bipolar (Ikawati, 2011).
Hipotesis lain berasal dari penelitian Coppen dan timnya pada tahun 1960-
an, yang menjumpai bahwa kadar natrium pada syaraf menyebabkan
hipereksitabilitas syaraf yang menjadi kemungkinan terjadinya gangguan
bipolar (Ikawati, 2011).

Penggunaan dari beberapa substansi yang mempengaruhi sistem


syaraf pusat (misalnya, alkohol, antidepresan, kafein, stimulant sistem syaraf
pusat, halusinogen atau ganja) dapat memperburuk gejala mania atau depresi
(Drayton&Weinstein, 2008).

h. Manifestasi Klinis 2,3,4


i. Pemeriksaan Penunjang 5,6,7
j. Tata Laksana dan follow up 8,9,10
k. Edukasi dan pencegahan 1,2,3

A. Tindakan diet
Kecuali pasien pada inhibitor monoamine oxidase (MAOIs), tidak ada diet
khusus yang diperlukan. Pasien harus disarankan untuk tidak membuat
perubahan signifikan dalam asupan garam mereka, karena asupan garam
meningkat dapat menyebabkan kadar lithium serum berkurang dan
penurunan efisiensi, dan mengurangi asupan dapat menyebabkan
peningkatan kadar dan toksisitas.
Sebuah meta-analisis oleh Starris dkk menemukan bukti kuat bahwa gejala
depresi bipolar dapat ditingkatkan dengan penggunaan adjunctive dari
omega3. Namun, tidak meningkatkan bipolar mania.
B. Latihan
Pasien dalam fase depresi didorong untuk berolahraga. Mengusulkan
jadwal latihan rutin untuk semua pasien, terutama mereka dengan
gangguan bipolar. Baik latihan dan jadwal teratur adalah kunci untuk
bertahan hidup dari penyakit ini. Namun, kenaikan tingkat latihan, dengan
peningkatan keringat, dapat menyebabkan peningkatan kadar serum
lithium dan toksisitas lithium.

C. Psikoterapi
Terhadap pasien
Penjelasan terhadap penyakit, manfaat pengobatan, cara pengobatan, efek
samping pengobatan.
Memotivasi pasien agar minum obat secara teratur dan rajin kontrol
setelah pulang dari perawatan.
Membantu pasien agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari
secara bertahap.

Terhadap keluarga
Memberikan pengertian dan penjelasan kepada keluarga mengenai
gangguan yang dialami pasien sehingga dapat mendukung kearah
kesembuhan.
Menyarankan kepada keluarga agar lebih berpartisipasi dalam pengobatan
pasien yaitu membawa pasien kontrol secara teratur, dan memperhatikan
pasien agar minum obat secara teratur dan memberi dukungan agar pasien
mempunyai aktivitas yang positif.

l. Komplikasi 4,5,6
m. Prognosis 7,8,9
n. SKDI 10, 1, 2
SKDI untuk kasus diatas adalah 3A. Lulusan dokter mampu membuat
diagnosa klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang
bukan gawat darurat. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang
paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga
mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
I. Keranga Konsep

II. Hipotesis
Ny. ATW menderita gangguan afektif bipolar episode depresi

III. Learning Issues


I. Gangguan Afektif Bipolar
II. Psikoterapi

1. Andin
2. Pipit
3. Gopi
4. Cicak
5. Archita
6. Calvin
7. Thia
8. Gemi
9. Poppy
10. Arma

III. Sintesis

BAB III
PENUTUP

I. Kesimpulan
II. Saran

DAFTAR PUSTAKA