Anda di halaman 1dari 12

ISSN: 2303-288X Vol. 3, No.

2, Oktober 2014

PENGELOLAAN LABORATORIUM KIMIA PADA SMA NEGERI


DI KOTA SINGARAJA: (Acuan Pengembangan Model Panduan
Pengelolaan Laboratorium Kimia Berbasis
Kearifan Lokal Tri Sakti)
1
I Gusti Lanang Wiratma, 2I Wayan Subagia
1,2
Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail: ramaglan99@gmail.com
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pengelolaan laboratorium
kimia SMA yang meliputi aspek pengadaan, penggunaan dan pemeliharaan, serta
aspek pemusnahan alat/bahan rusak. Hasil kajian digunakan sebagai acuan
membuat draft buku panduan pengelolaan laboratorium kimia berdasarkan konsep
Tri Sakti. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (research &
developmen). Penelitian ini dilakukan di kota Singaraja kabupaten Buleleng
Provinsi Bali dengan melibatkan empat SMA Negeri yang ada di kota tersebut
yaitu, SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, dan SMAN 4 Singaraja. Hasil penelitian
menyatakan bahwa pengelolaan laboratorium kimia SMA, secara umum dilakukan
melalui rangkaian proses mulai dari aspek pengadaan, penggunaan dan
pemeliharaan, dan aspek pemusnahan alat/bahan yang rusak. Dari masing-
masing aspek tersebut belum sepenuhnya sempurna sebagaimana mestinya, dan
masih ada beberapa kelemahan atau kendala dalam penerapan aspek-aspek
pengelolaan laboratorium kimia. Hal ini disebabkan karena komitmen pengambil
kebijakan belum optimal dan pemahaman para pihak tentang pengelolaan
laboratorium kimia masih rendah.

Kata-kata kunci: pengelolaan, laboratorium kimia, kearifan lokal Tri Sakti

Abstract
The purpose of this study was to describe the management of SMA chemical
laboratory covers aspects of the procurement, use and maintenance, as well as
aspects of the destruction of equipment/materials damaged. Assessment results
are used as a reference manual drafting chemical laboratory management based
on the concept of Trisakti. This type of research is the development of research.
The research was conducted in the city of Singaraja Buleleng regency of Bali with
a group of four high schools in the city are namely, SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3,
SMAN 4 Singaraja. The research results states that the high school chemical
laboratory management, generally through a process of aspects of the
procurement, use and maintenance of equipment and facet culling/damaged
materials. From each of these aspects has not been completely perfect as it should
be, and there are still some weaknesses or problems in the application of the
management aspects of the chemical laboratory. This is because understanding of

Jurnal Pendidikan Indonesia | 425


ISSN: 2303-288X Vol. 3, No. 2, Oktober 2014

the parties, regarding the management of chemical laboratory is still low and policy
makers have not been optimal commitment.

Key words: management, chemical laboratory, local genius Tri Sakti

PENDAHULUAN adalah keinginan untuk meminimalkan


Laboratorium merupakan jantung resiko dan mencegah ketertinggalan
dari kegiatan pembelajaran sains, bahan berbahaya di laboratorium yang
khususnya pembelajaran kimia, karena dapat membahayakan masyarakat.
laboratorium merupakan tempat untuk Safety meliputi kebijakan dan procedur
melihat, mencoba, menguji, menilai untuk mencegah bahaya bagi pekerja,
konsep-konsep sains yang dipelajari pengunjung, dan masyarakat.
hingga siswa memperoleh pemahaman Ergonomics ditujukan pada adaptasi
yang lebih baik tentang sains. Belajar terhadap fasilitas dan peralatan untuk
sains yang hanya dilakukan melalui menciptakan keselamatan dan
membaca buku maupun mendengarkan kesehatan kerja di laboratorium. Lebih
dari penjelasan guru (sabda) tidaklah jauh dinyatakan bahwa laboratorium
lengkap tanpa disertai dengan yang tidak menerapkan sistem
melakukan kegiatan sains yang pengelolaan yang baik berpotensi
sebagian besar dilaksanakan di menimbulkan kesalahan kerja dan
laboratorium (pratyaksa). Melalui masalah lain yang tidak terdeteksi.
kegiatan laboratorium peserta didik Sebaliknya, penerapan sistem
dapat mengkaji kebenaran konsep yang pengelolaan laboratorium yang baik
dipelajari secara teroretis melalui tidak menjamin bebas dari kesalahan,
analisis kritis berdasarkan kemampuan tetapi dapat mendeteksi dan mencegah
intelektualnya (anumana). Ketiga cara kesalahan yang akan terjadi sedini
belajar tersebut dikenal dengan mungkin (WHO, 2011).
Tripramana (Subagia, 2011; 2003; Secara umum, persoalan
2001). pengelolaan laboratorium kimia SMA
Persoalan yang paling dapat muncul pada proses pengadaan,
mengemuka dalam pembelajaran di proses penggunaan, dan proses
laboratorium adalah masalah kualitas pemeliharaan alat dan bahan. Pada
pengelolaan laboratorium yang meliputi proses pengadaan masalah dapat
proses pengadaan, penggunaan, dan muncul karena ketidaktepatan
pemeliharaan alat dan bahan. World pengadaan alat dan bahan. Pada
Health Organization (WHO) menyatakan proses penggunaan masalah dapat
ada banyak faktor yang berpengaruh muncul karena kesalahan
terhadap kualitas pengelolaan pengoperasian alat atau bahan. Pada
laboratoriun, antara lain: security, proses pemeliharaan masalah dapat
containment, safety, and ergonomics. muncul akibat kesalahan pembersihan
Security ditekankan pada proses dan penempatan alat dan bahan.
pencegahan resiko dan bahan Pengamatan di lapangan
berbahaya yang tidak diinginkan ketika menunjukkan bahwa alat dan bahan
masuk laboratorium. Containment yang tersedia di laboratorium sering

Jurnal Pendidikan Indonesia | 426


ISSN: 2303-288X Vol. 3, No. 2, Oktober 2014

tidak sesuai dengan kebutuhan dan kimia yang dipaparkan di dalam


terkadang banyak tersimpan alat dan kurikulum mesti dibarengi dengan
bahan yang sudah tidak digunakan. Alat ujicoba laboratorium. Ujicoba
atau bahan yang sudah tidak digunakan, laboratorium dimaksudkan untuk tujuan
mestinya, dibuang melalui proses pembuktian atau verifikasi, dan bisa
pemusnahan yang sesuai dengan juga sebagai ajang penemuan. Kegiatan
aturan agar keseimbangan dan praktikum merupakan kegiatan aplikasi
keharmonisan lingkungan laboratorium dari teori-teori yang telah dipelajari
tetap terjaga. Namun, proses untuk memecahkan berbagai masalah
pemusnahan alat atau bahan yang IPA melalui percobaan-percobaan di
sudah tidak terpakai tampaknya belum laboratorium. Pada hakikatnya kegiatan
diatur atau belum dilaksanakan dengan praktikum di laboratorium
baik. mengharapkan para siswa mencapai
Salah satu nilai-nilai kearifan tujuan-tujuan berikut.
lokal masyarakat Bali yang digunakan 1. Mengembangkan keterampilan
sebagai dasar pengaturan dalam pengamatan, pencatatan
keseimbangan dan keharmonisan alam data, pengukuran dan memanipulasi
adalah ajaran Trisakti atau Trimurti. alat yang diperlukan serta
Trisakti adalah fungsi kekuatan Tuhan pembuatan alat-alat sederhana.
untuk mengatur keseimbangan alam 2. Bekerja dengan teliti, cermat dalam
yang terdiri atas tiga kekuatan, yaitu mencatat, serta menyusun hasil
kekuatan mencipta atau mengadakan percobaan secara jelas dan
yang dikenal dengan utpti, kekuatan objektif/jujur.
memelihara atau menjaga yang dikenal 3. Bekerja secara teliti dan cermat
dengan stiti, dan kekuatan serta mengenal batas-batas
memusnahkan atau melenyapkan yang kemampuannya dalam pengukuran-
dikenal dengan pralina (Soeka, 1986). pengukuran.
Dalam upaya mengembangkan 4. Mengembangkan kekuatan
model pengelolaan laboratorium kimia penalarannya secara kritik
yang tepat, sesuai dengan kondisi di 5. Memperdalam pengetahuan inquiri
lapangan, maka dipandang perlu untuk dan pemahaman terhadap cara
mencermati atau memotret pengelolaan pemecahan masalah.
laboratorium kimia yang ada di SMAN di 6. Mengembangkan sikap ilmiah.
kota Singaraja. Potret pengelolaan 7. Memahami, memperdalam, dan
tersebut di atas akan dapat digunakan menghayati IPA yang dipelajarinya.
sebagai dasar pertimbangan untuk 8. Dapat mendesain dan
membuat kebijakan pengeloaan melaksanakan percobaan lebih
pendidikan di sekolah secara umum, lanjut dengan menggunakan alat
dan lebih mengkhusus lagi pada dan bahan yang sederhana (Amien,
kebijakan pengelolaan laboratorium 1987: 95-96).
kimia.
Pembelajaran kimia tidak bisa Banyak guru mengeluh terkait
dilepaskan dari kegiatan praktikum, dengan pembelajaran praktikum di
karena sebagian besar konsep, teori laboratorium, sebagian besar guru kimia

Jurnal Pendidikan Indonesia | 427


ISSN: 2303-288X Vol. 3, No. 2, Oktober 2014

sangat jarang melakukan praktikum bahan kajian permulaan. Borg dan Gall
kimia sebagaimana tuntutan kurikulum (1989) merekomendasikan tahapan
dengan berbagai alasan. Dua alasan pelaksanaan penelitian pengembangan
utama yang disampaikan oleh guru sebagai berikut: 1) tahap pengumpulan
yaitu: 1) peralatan dan bahan kimia informasi penelitian, 2) tahap
sangat terbatas, 2) terkait dengan perencanaan, 3) tahap perumusan hasil
sistem evaluasi ujian akhir. Guru awal, 4) tahap pengujian lapangan awal,
beranggapan bahwa pembelajaran 5) tahap penyempurnaan hasil, dan 6)
dengan praktikum di laboratorium cukup tahap pengujian lapangan akhir. Sesuai
merepotkan dan memerlukan waktu dan dengan tahapan tersebut, penelitian ini
tenaga yang banyak, sementara itu dirancang sebagai berikut. Tahapan-
untuk keberhasilan menjawab soal ujian tahapan penelitian keseluruhan yang
akhir bagi anak-anak, lebih efektif dilakukan tersebut adalah sebagai
dengan cara latihan soal-soal. Para guru berikut.
kimia sesungguhnya menyadari bahwa Tahap pertama: penelitian
praktikum kimia untuk pendalaman pendahuluan dan studi pustaka. Tahap
materi kimia sangat penting, dan sangat kedua: pelaksanaan penelitian
dibutuhkan oleh siswa agar siswa lapangan. Tahap ketiga: perumusan draf
memiliki pengalaman yang langsung buku panduan pengelolaan
berhadapan dengan alam/zat yang laboratorium. Tahap keempat: pengujian
sesungguhnya (Wiratma, 2011). buku panduan pengeloaan laboratorium
Berdasarkan beberapa hal yang oleh ahli. Tahap kelima: pengujian buku
disebutkan di atas maka masalah yang panduan pengelolaan laboratorium
dipecahkan dalam penelitian ini adalah secara luas Tahap keenam: produksi
bagaimanakah potret pengelolaan buku panduan pengelolaan laboratorium
laboratorium kimia SMAN di Singaraja? kimia SMA.
Selanjutnya, dari potret pengelolaan Penelitian ini dilakukan di Kota
yang diperoleh, ditujukan nanti untuk Singaraja Kabupaten Buleleng Provinsi
menyusun model pengelolaan dalam Bali dengan melibatkan empat SMA
bentuk buku panduan pengelolaan Negeri yang ada di kota tersebut yaitu,
laboratorium kimia SMA. SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, dan SMAN
4 Singaraja.
METODE PENELITIAN Subjek yang dilibatkan adalah
Penelitian ini merupakan berupa dokumen pengelolaan
penelitian pengembangan (research & laboratorium, kepala laboratorium kimia,
develompent) yang bertujuan untuk guru kimia, laboran kimia, dan siswa.
mengembangkan model panduan Informasi yang dikumpulkan dari tiap-
pengelolaan laboratorium kimia SMA tiap subjek adalah isi dokumen
berbasis nilai-nilai kearifan lokal Tri pengelolaan laboratorium, pendapat dan
Sakti masyarakat Bali. Pengembangan pengalaman kepala laboratorium kimia,
model panduan ini di awali dengan guru kimia, laboran kimia, dan siswa,
tahapan memperoleh informasi tentang yang terkait dengan pengelolaan
keadaan pengelolaan laboratorium kimia laboratorium kimia di SMA masing-
di SMA Negeri di kota Singaraja sebagai masing.

Jurnal Pendidikan Indonesia | 428


ISSN: 2303-288X Vol. 3, No. 2, Oktober 2014

Instrumen dan cara pengambilan akhir dilakukan dengan teknik


data yang digunakan dalam penelitian interpretatif dengan menimbang seluruh
ini disesuaikan dengan tujuan, subjek, data/informasi yang berhasil
dan objek penelitian. Adapun dikumpulkan. Secara umum, analisis
instrumennya adalah pedoman data dilakukan dengan tahapan sebagai
observasi, pedoman wawancara, dan berikut: 1) penyajian data, 2) reduksi
angket. Pedoman observasi digunakan data, 3) pemetaan (display) data, dan 4)
sebagai panduan melakukan observasi interpretasi data (Sugiyono, 2009; Miles
kegiatan laboratorium terhadap & Huberman, 2007).
laboratorium sekolah yang digunakan
sebagai tempat penelitian. Pedoman HASIL PENELITIAN DAN
wawancara digunakan sebagai panduan PEMBAHASAN
untuk melakukan wawancara terhadap Beberapa aspek yang digunakan
oknum (informan) yang dilibatkan dalam untuk membedah pengelolaan
penelitian ini: kepala laboratorium kimia, laboratorium kimia SMA yaitu proses
guru kimia, laboran kimia, dan siswa. pengadaan alat/bahan, proses
Angket digunakan untuk menggali penggunaan alat/bahan, proses
informasi secara tertulis dari informan pemeliharaan alat/bahan, dan proses
yang disebutkan di atas. pemusnahan alat/bahan yang sudah
Cara analisis data yang aus/rusak. Dalam aspek pengadaan alat
digunakan adalah dengan teknik dan bahan kimia berdasarkan hasil
triangulasi yang terdiri atas triangulasi rekapitulasi angket menunjukkan bahwa
sumber informasi dan triangulasi proses pengadaan alat/bahan kimia
metode serta analisis deskriptif kualitatif diadakan dengan cara pembelian
dan interpretatif (Basrowi & Suwandi. langsung oleh sekolah, dan dropping
2008; Miles & Huberman, 2007). dari pemerintah pusat.
Analisis dokumen dilakukan Mekanisme yang ditempuh
dengan memetakan data dokumen dalam pengadaan oleh sekolah dengan
pengelolaan laboratorium yang cara membuat analisis kebutuhan yang
diperoleh dari tiap-tiap sekolah. dilakukan oleh laboran, kepala
Berdasarkan analisis tersebut, akan laboratorium kimia, dan guru kimia.
ditemukan kekuatan dan kelemahan Dilanjutkan dengan membuat usulan
pengelolaan laboratorium yang dapat (amprah) kepada pimpinan sekolah
dijadikan acuan pengembangan yang membidangi sarana prasarana,
pedoman. Analisis hasil observasi dan yang selanjutnya diajukan dalam
wawancara dilakukan secara bersama- rencana kegiatan anggaran sekolah
sama selama proses pengambilan data (RKAS). Dalam proses pembelian ada
dan diperkuat dengan pembuatan berbagai variasi cara yang di temukan di
transkrip hasil wawancara. Hasil lapangan. Ada sekolah melaksanakan
wawancara akan dikuatkan dengan pembelian alat/bahan melalui panitia
melakukan pengecekan kembali pengadaan, ada yang dibelikan
informasi oleh informan (member langsung ke distributor oleh wakasek
check). Kridibilitas data ditingkatkan sarana prasarana, dan ada yang
juga dengan cara triangulasi. Analisis dibelikan langsung ke distributor oleh

Jurnal Pendidikan Indonesia | 429


ISSN: 2303-288X Vol. 3, No. 2, Oktober 2014

bendahara komite sekolah. Pengadaan pencatatan mengenai bahan dan alat


alat/bahan melalui proses dropping yang digunakan. Ketika penelitian sudah
langsung dari pemerintah pusat, sifatnya selesai dilakukan, alat dibersihkan dan
insidental dan jenis alat/bahan apapun dikembalikan pada tempat
yang datang harus diterima oleh pihak penyimpanan.
sekolah. Proses pemeliharaan alat/bahan
Pengadaan alat dan bahan yang kimia SMA dari hasil rekapitulasi angket
didrop dari pusat sering tidak cocok diperoleh sebagaian besar
dengan kebutuhan sekolah, sehingga pemeliharaan dilakukan oleh laboran,
ada sebagian bahan kimia tidak walaupun ada yang menyatakan bahwa
digunakan, namun harus tetap diterima pemeliharaan dilakukan oleh guru dan
oleh sekolah. siswa. Beberapa teknik yang dilakukan
Penggunaan alat/bahan kimia dalam proses pemeliharaan alat/bahan
yang ada di laboratorium kimia, kimia yakni dirawat bersamaan dengan
berdasarkan hasil rekapitulasi angket penggunaan, dan dirawat secara
menunjukkan bahwa sebagian besar insidental sesuai keperluan.
alat dan bahan digunakan untuk Khusus untuk kebersihan
pembelajaran siswa, dan ada sebagian ruangan dilakukan secara rutin setiap
kecil dipakai oleh guru untuk penelitian. minggu oleh siswa yang diawasi oleh
Penggunaan alat/bahan dalam guru/laboran. Mekanisme yang
pembelajaran praktikum dilaksanakan ditempuh dalam proses pemeliharaan
secara berkelompok dan kadang dengan penyimpanan di tempat yang
dengan demonstrasi oleh guru. Data tersedia. Temuan di lapangan
yang dikemukakan di atas ditunjang menunjukkan bahwa ada bervariasi
oleh informasi yang dikemukakan kondisi dalam penyimpanan alat/bahan
beberapa infporman sebagai berikut. kimia. Ada sekolah dimana
Mekanisme yang ditempuh penyimpanan alat dan bahan disimpan
dalam proses penggunaan alat/bahan berdasarkan pengelompokkan dan
kimia yaitu dengan cara, guru ditempat yang aman, dan untuk zat
berkoordinasi dengan laboran sehari kimia yang bersifat asam ditempatkan
atau beberapa hari sebelum praktikum, pada almari asam. Namun demikian
agar laboran menyiapkan alat/bahan masih ada beberapa sekolah yang
yang diperlukan dalam praktikum. Pada menyimpan alat di atas meja,
saat praktikum siswa mengisi blanko berserakan begitu saja, dan disadari
catatan mengenai alat dan bahan yang oleh guru maupun laboran bahwa hal
digunakan, selanjutnya mengambil di tersebut tidak sesuai dengan yang
tempat yang sudah disediakan. Setelah seharusnya. Sebagian besar
praktikum selesai siswa wajib laboratorium kimia SMAN di Singaraja
membersihkan alat yang digunakan, dan tidak memiliki almari asam untuk
kemudian mengembalikan ke tempat penyimpanan bahan yang bersifat asam
penyimpanan alat. Penggunaan kuat. Bahan yang bersifat asam kuat
alat/bahan yang dipakai untuk penelitian yang ditaruh di rak penyimpanan
guru dilakukan melalui koordinasi mengakibatkan terjadi kerusakan pada
dengan laboran, dan melakukan

Jurnal Pendidikan Indonesia | 430


ISSN: 2303-288X Vol. 3, No. 2, Oktober 2014

keramik, dinding, dan pintu almari kegiatan pengelolaan yang telah


penyimpanan. dilakukan dengan baik, dipakai bahan
Proses pemusnahan alat/bahan acuan untuk membuat buku panduan
kimia yang sudah rusak dilakukan oleh pengelolaan alat/bahan di laboratorium
laboran dan ketua lab. Alat/bahan yang kimia, sementara itu, kegiatan yang
sudah tidak layak digunakan belum optimal, dikaji permasalahannya
kecenderungannya disimpan di tempat selanjutnya dirancang kegiatan
tertentu, kemudian dimusnahkan secara berdasarkan teori pengelolaan
insidental sesuai dengan keperluan. laboratorium untuk menghasilkan
Keperluan yang dimaksud dalam hal ini kegiatan yang dianggap lebih bagus.
apabila tempat yang dipakai meyimpan Ulasan dalam pembahasan dari hasil-
bahan/alat yang rusak tersebut sudah hasil yang diperoleh, dilakukan
tidak memenuhi lagi, ketika hal itu terjadi berdasarkan kerangka teoritis yang
maka alat/bahan yang sudah rusak digunakan diantaranya nilai-nilai dalam
dimusnahkan. Mekanisme pemusnahan konsep Tri Sakti, eksistensi laboratorium
alat/bahan kimia yang rusak dilaporkan kimia SMA, dan pengelolaan
kepada kepala sekolah, jadi pada intinya laboratorium kimia SMA, dengan
diketahui oleh kepala sekolah. Dalam pemaparan secara deskriptif
proses pemusnahan alat/bahan kimia interpretatif.
yang rusak tidak ada teradministrasi Pada aspek pengadaan
tertulis secara formal semacam berita bahan/alat kimia dari sisi perencanaan
acara pemusnahan barang. Teknik berjalan sesuai dengan yang
pemusnahan alat yang rusak dilakukan semestinya yaitu guru kimia, ketua
dengan membuang di tempat laboratorium kimia, dan laboran
pembuangan sampah, sementara untuk membuat rencana pengamprahan
bahan kimia yang rusak dilakukan bahan dan alat kimia yang diperlukan,
dengan menuangkan ke saluran selanjutnya diajukan kepada sekolah
pembuangan, dan ada yang menanam melalui wakasek bidang sarana namun,
di halaman belakang sekolah. Ada dalam mekanisme pembelian bahan/alat
beberapa laboratorium kimia SMAN di yang menggunakan sistem panitia
singaraja belum dilengkapi septic tank terkadang menimbulkan masalah ketika
untuk penampungan limbah cair oleh anggota panitia tidak ada yang diwakili
karena itu, limbah cair hasil buangan oleh guru kimia. Permasalahan yang
dari laboratorium mengalir ke saluran sering muncul ketika terjadi perubahan
umum bersamaan dengan limbah cair pembelian alat/bahan kimia. Hasil dari
yang lain. Dalam proses pemusnahan perubahan terkadang tidak sesuai
alat/bahan yang rusak tidak dengan kebutuhan, atau sering zat-zat
menggunakan peraturan tertentu yang kimia tertentu yang jumlahnya banyak
dipakai pedoman. sementara zat lain yang diperlukan tidak
Pengelolaan laboratorium kimia diadakan. Hal ini terjadi karena masalah
pada SMAN di Singaraja, dijelaskan hambatan komunikasi dan transfaransi
secara detail mengenai kegiatan yang yang terjadi ketika itu. Pembelian
sudah berjalan baik dan kegiatan yang alat/bahan kimia yang dibeli langsung
belum berjalan optimal. Kegiatan- oleh wakasek bidang sarana, atau

Jurnal Pendidikan Indonesia | 431


ISSN: 2303-288X Vol. 3, No. 2, Oktober 2014

mungkin dibeli oleh bendahara komite dalam keterbatasan-keterbatasan.


kepada distributor hasilnya relatif lebih Esensi dari aspek utpti dalam
lancar, dan tidak menimbulkan masalah. penciptaan adalah kepastian dalam
Prinsip pengadaan alat/bahan keharmonisan. Oleh karena itu,
yang diharapkan adalah yang sesuai pengadaan bahan/alat kimia pada
dengan kebutuhan, lancar, dan tepat laboratorium SMA harus tetap menjaga
waktu. Pengadaan alat/bahan dengan prinsip keharmonisan di sekolah, tanpa
sistem pembentukan panitia, melakukan pelanggaran terhadap aturan
sesungguhnya adalah cara yang tepat, yang ada. Dilihat dari prinsip
dengan catatan anggota panitia memiliki pengelolaan laboratorium kimia SMA,
pemahaman tentang alat/bahan yang kegiatan perencanaan dalam rangka
akan dibeli. Pengadaan alat/bahan pengadaan alat/bahan mesti dilakukan
dalam paket besar atau jika uang yang dengan prosedur yang tepat dan
akan dibelanjakan dalam jumlah besar, pemesanan jenis maupun kuantitas
proses pengadaan alat/bahan mesti bahan yang direncanakan harus pasti.
dilakukan oleh panitia dan melalui Hal ini diperlukan karena jangan sampai
prosedur tender, dan harus mengikuti ada bahan yang berlebih, karena sulit
peraturan pemerintah tentang menyimpan dalam waktu yang lama dan
pengadaan alat/bahan. Jika uang yang cenderung merusak lingkungan sekitar.
akan dibelanjakan tidak terlalu besar, Pada aspek penggunaan dan
masih berada dalam kategori pembelian pemeliharaan keterlibatan laboran
langsung kalau merujuk peraturan sangat tinggi, dan perannya sangat
pengadaan alat/bahan, maka cara strategis. Peran laboran dalam proses
dengan pembelian langsung relatif lebih penggunaan alat dan bahan kimia yang
cepat. dipakai dalam praktikum, mengawali
Beberapa hal yang perlu dengan menyiapkan alat dan bahan
diperhatikan dalam perencanaan alat yang akan digunakan, mencatat
dan bahan kimia untuk praktikum adalah penggunaan, dan diakhir praktikum
sebagai berikut. menata kembali ke tempat semula.
1. Jenis percobaan yang akan Demikian juga dalam pemeliharaan,
dilakukan. peran laboran sangat besar terutama
2. Pemahaman mengenai alat dan dalam menjaga, menata, dan
bahan yang akan dibeli. menyimpan alat dan bahan kimia pada
3. Daya listrik yang tersedia. tempat yang tepat dan aman. Di
4. Spesifiksi alat/jenis ukuran alat dan beberapa sekolah yang laboratorium
bahan yang akan dibeli. kimianya belum memiliki tempat
5. Prosedur pembelian. penyimpanan alat/bahan kimia yang
6. Pelaksanaan pembelian. tepat dan aman, penyimpanan
Jika dilihat dari konsep kearifan alat/bahan dilakukan seadanya sesuai
lokal masyarakat Bali, Tri Sakti yang dengan tempat yang ada. Kondisi ini
meliputi aspek utpti, stiti, dan pralina. terjadi disebabkan oleh komitmen
Dalam aspek utpti (penciptaan/ sekolah belum optimal dalam
pengadaan) telah dilaksanakan dan mendukung pengelolaan laboratorium
telah terjadi proses tersebut, walaupun kimia. Pemahaman para pihak

Jurnal Pendidikan Indonesia | 432


ISSN: 2303-288X Vol. 3, No. 2, Oktober 2014

mengenai keamanan, keselamatan diperlukan kerjasama dengan orang


kerja, dan lingkungan rendah. lain, dan menjaga kelestarian
Makna pemeliharaan dalam hal lingkungan. Keterlibatan dalam
ini bukan berarti alat tersebut disimpan pemeliharaan dari orang yang
dengan baik sehingga alatnya selalu menggunakan sampai pengambil
utuh, akan tetapi alat tetap digunakan kebijakan diperlukan untuk
dalam waktu yang relatif lama. Teknik kenyamanan, keamanan, keselamatan
pemeliharaan untuk merawat alat/bahan kerja dan lingkungan. Hal ini sesuai
kimia yaitu: menyimpan pada tempat dengan yang dipersyaratkan dalam
yang aman, menjaga kebersihan, pengelolaan laboratorium kimia.
menempatkan secara khusus alat-alat Khamidinal, (2009) dan WHO (2011)
yang berbentuk set, menghindarkan ada dua isu sentral yang harus
pengaruh lingkungan yang diperhatikan dalam pengelolaan
menyebabkan kerusakan alat/bahan. laboratorium, yaitu masalah
Untuk pemeliharaan bahan kimia keselamatan dan kesehatan kerja.
sangat penting memerhatikan sifat Pada aspek pemusnahan
bahan yang akan disimpan. Pertama alat/bahan kimia yang rusak peran
yang diperhatikan adalah wujud bahan laboran sangat besar, karena kondisi
dapat berupa padat, cair, dan gas yang alat/bahan yang rusak diketahui
harus disimpan dalam kelompok sesuai olehnya, dan kemudian disisihkan
wujud. Ke dua, menyimpan barang pada disimpan di tempat tertentu.
tempat dengan kondisi khusus misalnya Penyimpanan alat/bahan yang rusak di
ruangan dingin berventilasi, jauh dari tempat tertentu dalam waktu yang tidak
bahaya kebakaran (api), wadah tertutup, pasti memunculkan masalah tersendiri.
disimpan dalam keadaan tegak berdiri, Di samping menghabiskan tempat, juga
dan lain-lain sesuai dengan sifat-sifat dapat menimbulkan ketidak nyamanan
bahan kimia. Sifat-sifat bahan kimia dan ketidak amanan dalam kerja,
yang perlu diperhatikan yaitu sifat bahan karena menimbulkan pencemaran di
beracun, korosif, mudah terbakar, dalam ruangan. Pada aspek ini dari
mudah meledak, bersifat oksidator, konsep Tri Sakti yang disebut pralina
reaktif terhadap air, reaktif terhadap (peleburan/pemusnahan), sesuatu yang
asam, gas bertekanan tinggi dan sensitif pasti, dan karena itu dalam
terhadap sinar matahari. pemusnahan alat/bahan yang rusak
Jika dilihat dari aspek stiti diperlukan kepastian, baik secara aturan
(penggunaan dan pemeliharaan) pada maupun cara yang teratur.
konsep kearifan lokal Tri Sakti Ada beberapa teknik yang dapat
diperlukan kesadaran, dan dukungan digunakan untuk pembuangan limbah
dari banyak pihak yang berkaitan bahan kimia sebagai berikut. 1)
dengan pemeliharaan. Esensi stiti Insenerasi yaitu metode pembuangan
senantiasa dalam keseimbangan dan limbah dengn oven berputar pada suhu
keharmonisan. Dalam prinsip tinggi. 2) pembuangan pada pipa
keseimbangan dan keharmonisan, drainase menuju tempat yang aman
selalu berpikir kaitannya dengan orang biasanya ke septic tank dengan dialiri air
lain dan lingkungan, oleh karena itu seratus kali jumlah limbah yang

Jurnal Pendidikan Indonesia | 433


ISSN: 2303-288X Vol. 3, No. 2, Oktober 2014

dibuang. 3) Pelepasan uap ke atmosfer kompetensi siswa cenderung pada


dengan cerobong yang relatif tinggi. 4) aspek kognitif (Wiratma, 2013).
Pembuangan sampah biasa misalnya Dalam proses pembelajaran
dikubur dalam tanah, khusus untuk praktikum di laboratorium tujuannya
bahan yang tidak berbahaya. mengasah ketiga ranah kecerdasan
Keberadaan bahan atau alat siswa yaitu kognitif, afektif dan
yang sudah rusak dan tidak dapat psikomotor. Hal lain yang diperoleh
digunakan lagi, cenderung mengganggu dalam praktikum di laboratorium adalah
kerja, memerlukan tempat, dan pemahaman yang lebih bermakna
cenderung berbahaya bagi kehidupan. mengenai fenomena alam yang
Dalam prinsip pengelolaan laboratorium dipelajari secara teoritis. Laboratorium
kimia, keamanan, keselamatan kerja adalah tempat untuk melakukan
dan lingkungan sangat penting berbagai manipulasi percobaan, baik
diperhatikan. Oleh karena itu bersifat pembuktian (verificative)
pemusnahan alat/bahan kimia yang maupun penemuan (discovery). Dalam
rusak mesti direncanakan dan dilakukan pembelajaran sains, tidak terkecuali ilmu
dengan pasti dengan cara yang tepat. kimia, laboratorium merupakan bagian
Temuan lain yang diperoleh yang tidak terpisahkan karena
bahwa, keberadaan laboratorium kimia laboratorium hadir sebagai wahana
SMA belum dikelola dengan baik dan pembuktian konsep-konsep sains yang
benar. Semua sekolah tempat dipelajari oleh siswa secara teoretis di
pengambilan data belum memiliki buku kelas. Dalam hal ini, laboratorium dapat
panduan pengelolaan laboratorium dilihat sebagai fasilitas pendukung
kimia. Ketua laboratorium kimia dan empiris pembelajaran untuk
laboran telah memiliki buku administrasi memperkuat pemahaman teoretis siswa
laboratorium kimia. Namun demikian, yang dipelajari melalui buku-buku teks.
ada satu SMA yang memiliki SOP Keberadaan laboratorium kimia
tentang pengadaan alat dan bahan di sekolah-sekolah perlu mendapat
praktikum, SOP tentang pemusnahan perhatian khusus karena alat dan bahan
alat/bahan kimia yang rusak dan SOP kimia yang tersedia di laboratorium
pelaksanaan praktikum. Komitmen para kimia sangat berbeda dengan alat dan
pihak untuk pemanfaatan laboratorium bahan yang tersedia di laboratorium
kimia, pengelolaan laboratorium kimia sains lainnya. Alat-alat laboratorium
sebagaimana mestinya belum optimal. kimia, umumnya, terbuat dari kaca
Rendahnya komitmen terhadap (gelas) yang mudah pecah sehingga
pengelolaan laboratorium kimia perlu perhatian khusus dalam memakai
disebabkan oleh rendahnya dan merawatnya (Khamidinal, 2009).
pemahaman tentang pengelolaan Selain alat-alat gelas, dalam
laboratorium kimia, perhatian terhadap laboratorium kimia juga terdapat alat-
kegiatan praktikum kimia relatif rendah. alat lain yang memerlukan tempat
Hal ini disebabkan karena kebijakan perawatan khusus, misalnya neraca
evaluasi pendidikan terutama ujian analitik, necara Ohaus, spektronik, pH
nasional yang sangat sedikit menyentuh meter, dan lain-lain, baik yang bersifat
aspek praktikum, dan penekanan analog maupun digital. Bahan-bahan

Jurnal Pendidikan Indonesia | 434


ISSN: 2303-288X Vol. 3, No. 2, Oktober 2014

kimia yang tersedia di laboratorium, meningkatkan komitmen untuk


umumnya, memiliki efek samping yang kepentingan laboratorium kimia,
dapat membahayakan penggunaannya. terutama fasilitas pendukung dan
Oleh karena itu pengelolaan pembelajaran praktikum kimia. Ketiga
laboratorium kimia harus dilakukan kepada guru kimia agar senantiasa
dengan baik dan profesional, yang perlu melaksanakan pembelajaran praktikum
didukung oleh semua pihak. sesuai dengan kurikulum yang berlaku,
agar peserta didik memiliki pengalaman
SIMPULAN DAN SARAN belajar yang lengkap dan memiliki
Simpulan kompetensi yang menyeluruh.
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan dapat dinyatakan bahwa, DAFTAR PUSTAKA
pengelolaan laboratorium kimia SMAN
Amien, M. 1987. Mengajarkan Ilmu
di kota Singaraja, secara umum melalui
Pengetahuan Alam (IPA) dengan
serangkaian proses mulai dari aspek
Menggunakan Metode Discovery
pengadaan, penggunaan dan
dan Inquiri. Jakarta: Depdikbud.
pemeliharaan, dan aspek pemusnahan
alat/bahan yang rusak. Dari masing- Basrowi & Suwandi. 2008. Memahami
masing aspek tersebut belum Penelitian Kualitatif. Jakarta:
sepenuhnya sempurna sebagaimana Reneka Cipta.
mestinya, karena masih terdapat Borg, W. R. dan M. D. Gall. 1989.
beberapa kelemahan atau kendala Educational Research: An
dalam penerapan aspek-aspek IntroductionI. New York:
pengelolaan laboratorium kimia. Hal ini Longman.
disebabkan karena pemahaman para
pihak tentang pengelolaan laboratorium Khamidinal. 2009. Teknik Laboratorium
kimia masih rendah dan komitmen Kimia. Yogyakarta: Pustaka
pengambil kebijakan belum optimal. Pelajar.
Namun demikian, ada sekolah yang Miles, M.B. & A.M. Huberman. 2007.
sudah melakukan pengelolaan Analisis Data Kualitatif.
laboratorium kimia dengan baik dan Diterjemahkan oleh Tjetjep
aman. Rohendi Rohadi. Jakarta: UI-
Press.
Saran
Sejalan dengan temuan tersebut, Soeka, Gde. 1986. Tri Murthi Tattwa.
dapat disampaikan saran-saran sebagai Denpasar: CV. Kayumas.
berikut. Pertama kepada laboran dan Subagia, I Wayan. 2011. Inovasi Model
kepala laboratorium kimia, guru kimia Pembelajaran Berdasarkan
perlu meningkatkan pemahaman Konsep Tri Pramana. Dalam
tentang pengelolaan laboratorium kimia Ajeg Bali dalam Perspektif
serta selalu melakukan komunikasi Pendidikan. Editor Nengah Bawa
dengan pimpinan sekolah dalam rangka Atmaja, dkk. Singaraja:
pengelolaan laboratorium kimia. Kedua Universitas pendidikan Ganesha
kepada pimpinan sekolah perlu Press.

Jurnal Pendidikan Indonesia | 435


ISSN: 2303-288X Vol. 3, No. 2, Oktober 2014

Subagia, I Wayan. 2003. Model Siklus WHO. 2011. Handbook Laboratory


Belajar Berdasarkan Konsep Quality Management System.
Tripramana. Orasi Ilmiah. Switzerland: WHO Press.
Disampaikan dalam rangka Dies www.who.int
Natalis ke-3 IKIP Negeri
Wiratma, I G.L. dan I Wayan Subagia.
Singaraja.
2013. Pengembangan Model
Subagia, I Wayan. 2001. Toward a Panduan Pengelolaan
Culturally Relevant Teaching- Laboratorium Kimia SMA Berbasis
Learning Process for the Nilai-nilai Kearifan Lokal Tri Sakti
Teaching of Science in Balinese Masyarakat Bali. Laporan
School: The Applicstion of Penelitian. Singaraja: UNDIKSHA.
Balinese Epistemologies to the Wiratma, I G.L. 2011. Profesionalisme Guru
Teaching of Science.Thesis for Kimia SMA Negeri di Kabupaten
Doctor of Philosophy. Australia: Buleleng. Jurnal Pendidikan Kimia
La Trobe University. Indonesia. Ikatan Alumni Jurusan
Pendidikan Kimia FMIPA,
Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian UNDIKSHA,Vol. 1 No.1 Hal. 59--66
Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Jurnal Pendidikan Indonesia | 436