Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH

TEORI PEMBENTUKAN BUMI

DISUSUN OLEH : IRA SYNTIA


KELAS : X IIS 1

SMA NEGERI 1 GANTUNG


TAHUN PELAJARAN 2016/2017
TEORI-TEORI PEMBENTUKAN BUMI
Bumi adalah planet tempat tinggal seluruh makhluk hidup beserta
isinya. Sebagai tempat tinggal makhluk hidup, bumi tersusun atas
beberapa lapisan bumi, bahan-bahan material pembentuk bumi, dan
seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Bentuk
permukaan bumi berbeda-beda, mulai dari daratan, lautan,
pegunungan, perbukitan, danau, lembah, dan sebagainya. Bumi
sebagai salah satu planet yang termasuk dalam sistem tata surya di
alam semesta ini tidak diam seperti apa yang kita perkirakan selama
ini, melainkan bumi melakukan perputaran pada porosnya (rotasi) dan bergerak mengelilingi
matahari (revolusi) sebagai pusat sistem tata surya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya
siang malam dan pasang surut air laut. Oleh karena itu, proses terbentuknya bumi tidak terlepas
dari proses terbentuknya tata surya kita.
Bagaimana Bumi ini terbentuk secara pasti masih merupakan perdebatan dimana banyak
pendapat yang dikemukakan oleh para ahli dengan alasan yang berbeda-beda pula. Berikut ini
beberapa teori mengenai pembentukan bumi yang umum dikenal.

1. Teori Kontraksi (James Dana &Elie De Baumant)


Teori ini mengemukakan bahwa permukaan bumi tidak rata dikarenakan bagian
bawahnya mengalami pendinginan secara drastis, sehingga permukaan bumi mengkerut.
Terhadap teori ini timbul berbagai kritik, misalnya pandangan bahwa bumi tidak akan
mengalami pendinginan secara drastis karena terdapat banyak unsur radioaktif, reaksi antar
unsur penyusun batuan, pergeseran kerak bumi dan rotasi bumi yang selalu menghasilkan panas.

2. Teori Laurasia-Gondwana (Eduard Zuess & Frank B. Taylor)


Mula- mula ada dua benua yang berlokasi di kedua kutub bumi, yaitu laurasia di utara
dan gonwana di selatan. Kemudian keduanya bergerak perlahan-lahan ke equator kemudian
terpecah menjadi beberapa benua seperti yang ada sekarang. Amerika Selatan, Afrika, Australia
& India dikatakan dahulu bagian dari benua Gonwana, sedang bunua lain bagian dari benua
Laurasia

3. Teori Apungan Benua(Alfred Wegener)


Benua-benua yang ada saat ini dahulunya bersatu yang dikenal sebagai super-kontinen
yang bernama Pangea. Super-kontinen Pangea ini diduga terbentuk pada 200 juta tahun yang
lalu yang kemudian terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang kemudian
bermigrasi (drifted) ke posisi seperti saat ini.
Bukti bukti tentang adanya super-kontinen Pangaea pada 200 juta tahun yang lalu
didukung oleh fakta fakta sebagai berikut:
a. Kecocokan / kesamaan Garis Pantai :
Adanya kecocokan garis pantai yang ada di benua Amerika Selatan bagian timur dengan
garis pantai benua Afrika bagian barat. Kedua garis pantai ini apabila dicocokan atau
dihimpitkan satu dengan lainnya akan berhimpit. Wegener menduga bahwa kedua benua tersebut
pada awalnya adalah satu. Berdasarkan adanya kecocokan bentuk garis pantai inilah kemudian
Wegener mencoba untuk mencocokkan semua benua-benua yang ada di muka bumi.

b. Persebaran Fosil :
Diketemukannya fosil-fosil yang berasal dari binatang dan tumbuhan yang tersebar luas
dan terpisah di beberapa benua :
1. Fosil Cynognathus, suatu reptil yang hidup sekitar 240 juta tahun yang lalu dan ditemukan di
benua Amerika Selatan dan benua Afrika.
2. Fosil Mesosaurus, suatu reptil yang hidup di danau air tawar dan sungai yang hidup sekitar 260
juta tahun yang lalu, ditemukan di benua Amerika Selatan dan benua Afrika.
3. Fosil Lystrosaurus, suatu reptil yang hidup di daratan sekitar 240 juta tahun yang lalu,
ditemukan di benua benua Afrika, India, dan Antartika.
4. Fosil Clossopteris, suatu tanaman yang hidup 260 juta tahun yang lalu, dijumpai di benua
benua Afrika, Amerika Selatan, India, Australia, dan Antartika.
c. Kesamaan Jenis Batuan :
Jalur pegunungan Appalachian yang berada di bagian timur benua Amerika Utara dengan
sebaran berarah timur laut dan secara tiba-tiba menghilang di pantai New Foundlands.
Pegunungan yang umurnya sama dengan pegunungan Appalachian juga dijumpai di British
Island dan Scandinavia. Kedua pegunungan tersebut apabila diletakkan pada lokasi sebelum
terjadinya pemisahan/ pengapungan, kedua pegunungan ini akan membentuk suatu jalur
pegunungan yang menerus.
Dengan cara mempersatukan/ mencocokan kenampakan bentuk-bentuk geologi yang
dipisahkan oleh suatu lautan memang diperlukan, akan tetapi data-data tersebut belum cukup
untuk membuktikan hipotesa pengapungan benua (continental drift). Dengan kata lain, jika suatu
benua telah mengalami pemisahan satu dan lainnya, maka mutlak diperlukan bukti-bukti bahwa
struktur geologi dan jenis batuan yang cocok/sesuai. Meskipun bukti-bukti dari kenampakan
geologinya cocok antara benua-benua yang dipisahkan oleh lautan, namun belum cukup untuk
membuktikan bahwa daratan/benua tersebut telah mengalami pengapungan.

4. Teori Konveksi(Arthur Holmes)


Mengemukakan bahwa terdapat adanya aliran konveksi dalam lapisan astenosfer dimana
pengaruhnya sampai ke kerak bumi di atasnya. Penyebab dari aliran konveksi ini diduga sebagai
akibat perbedaan densitas di lapisan atas dan bawah dalam astenosfer.

5. Teori Pemekaran Dasar Samudera(Robert Diezt)


Sesudah perang dunia ke II, sejak tahun 1950-an, alat-alat seperti echosunder,
magnetometer, gravitemeter, seismograf dan sebagainya mulai dikembangkan sehingga
memungkinkan penelitian geologi di dasar laut yang dalam. Terungkaplah bahwa bukan hanya
benua yang bergeser melainkan dasar laut juga melainkan pergeseran. Diketemukan adanya
rangkaian pegunungan dasar laut yang umumnya terletak di tengah dasar laut yang dikenal
sebagai Mid- Ocean Ridge.
Arah pergeseran dasar laut yaitu dari Mid-Ocean Ridge ke dua arah yang berlawanan.
Tahun 1962 Harry H. Hess dalam bukunya History of the Ocean Basin, mengemukakan
hipotesisnya bahwa aliran konveksi di asthenosfer ada yang sampai ke permukaan bumi yaitu di
Mid-Ocean Ridge. Di puncak Mid-Oceanic Ridge tersebut lava mengalir keluar kemudian
menyebar kedua lereng pegunungan tersebut. Ahli geologi dasar laut Amerika Serikat, Robert
Diets, kemudian mengembangkan hipotesis Hess. Perkembangan penelitian topografi dasar laut
membawa bukti- bukti baru mengenai terjadinya pergeseran dasar laut dari arah Mid-Oceanic
Ridge ke kedua sisinya. Kenyataan seperti itu juga terlihat oleh Ekspedidi Glomar Chalengger
pada tahun 1968. Penyelidikan umur sedimen dasar laut juga mendukung hipotesis tersebut,
dimana semakin jauh dari Mid-Ocean Ridge, maka semakin tua umur batuan sedimen. Ini berarti
ada pergeseran dasar laut dari arah Mid-Ocean Ridge. Beberapa dari Mid-Ocean Ridge tersebut
adalah: Mid-Atlantic Ridge, East Pasific Rise, Atlantic-Indian Ridge, Pasific-Antartic Ridge

6. Teori Tektonik Lempeng(Dan Mc Kenzie dan Robert Parker)


Teori ini adalah penyempurnaan dari teori-teori sebelumnya, yaitu teori konveksi,
apungan benua, dan pemekaran dasar samudera. Menurut teori ini kulit bumi (kerak bumi) yang
disebut litosfer terdiri dari lempengan yang mengambang di atas lapisan yang lebih kental yang
disebut astenosfer. Ada dua jenis kerak bumi, yaitu kerak samudra dan kerak benua. Kerak bumi
menutupi seluruh permukaan bumi. Namun, akibat adanya aliran panas yang mengalir di
astenosfer menyebabkan kerak bumi pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Bagian-
bagian itulah yang disebut lempeng kerak bumi (lempeng tektonik). Aliran panas tersebut untuk
selanjutnya menjadi sumber kekuatan terjadinya pergerakan lempeng. Lempeng tektonik;
merupakan dasar dari terbangunnya system kejadian gempa bumi, peristiwa gunung berapi,
pemunculan gunung api bawah laut, dan peristiwa geologi lainnya

KARAKTERISTIK LAPISAN BUMI

Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet dalam Tata Surya. Diperkirakan usianya mencapai
4,6 milyar tahun. Jarak antara Bumi dengan matahari adalah 149.6 juta kilometer atau 1 AU
(ing: astronomical unit). Bumi mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang
disebut (magnetosfer) yang melindung permukaan Bumi dari angin matahari,sinar ultraungu,
dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti bumi hingga ketinggian sekitar 700
kilometer. Lapisan udara ini dibagi menjadi Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, dan
Eksosfer. Lapisan ozon, setinggi 50 kilometer, berada di lapisan stratosfer dan mesosfer dan
melindungi bumi dari sinar ultraungu. Perbedaan suhu permukaan bumi adalah antara -70 C
hingga 55 C bergantung pada iklim setempat. Sehari dibagi menjadi 24 jam dan setahun di bumi
sama dengan 365,2425 hari. Bumi mempunyai massa seberat 59.760 milyar ton, dengan luas
permukaan 510 juta kilometer persegi. Berat jenis Bumi (sekitar 5.500 kilogram per meter
kubik) digunakan sebagai unit perbandingan berat jenis planet yang lain, dengan berat jenis
Bumi dipatok sebagai 1.

Bumi mempunyai diameter sepanjang 12.756 kilometer. Gravitasi Bumi diukur sebagai 10 N kg-
1 dijadikan unit ukuran gravitasi planet lain, dengan gravitasi Bumi dipatok sebagai 1. Bumi
mempunyai 1 satelit alami yaitu Bulan. 70,8% permukaan bumi diliputi air. Udara Bumi terdiri
dari 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbondioksida, dan gas lain. Bumi
diperkirakan tersusun atas inti dalam bumi yang terdiri dari besi nikel beku setebal 1.370
kilometer dengan suhu 4.500 C, diselimuti pula oleh inti luar yang bersifat cair setebal 2.100
kilometer, lalu diselimuti pula oleh mantel silika setebal 2.800 kilometer membentuk 83% isi
bumi, dan akhirnya sekali diselimuti oleh kerak bumi setebal kurang lebih 85 kilometer. Kerak
bumi lebih tipis di dasar laut yaitu sekitar 5 kilometer. Kerak bumi terbagi kepada beberapa
bagian dan bergerak melalui pergerakan tektonik lempeng (teori Continental Drift) yang
menghasilkan gempa bumi. Titik tertinggi di permukaan bumi adalah gunung Everest setinggi
8.848 meter, dan titik terdalam adalah palung Mariana di samudra Pasifik dengan kedalaman
10.924 meter. Danau terdalam adalah Danau Baikal dengan kedalaman 1.637 meter, sedangkan
danau terbesar adalah Laut Kaspia dengan luas 394.299 km2.

Menurut komposisi (jenis dari materialnya), Bumi dapat dibagi menjadi lapisan-lapisan sebagai
berikut :

Kerak Bumi

Kerak bumi adalah lapisan terluar Bumi yang terbagi menjadi dua kategori, yaitu kerak samudra
dan kerak benua. Kerak samudra mempunyai ketebalan sekitar 5-10 km sedangkan kerak benua
mempunyai ketebalan sekitar 20-70 km. Penyusun kerak samudra yang utama adalah batuan
basalt, sedangkan batuan penyusun kerak benua yang utama adalah granit, yang tidak sepadat
batuan basalt.

Mantel Bumi

Mantel bumi terletak di antara kerak dan inti luar bumi. Mantel bumi merupakan batuan yang
mengandung magnesium dan silikon. Suhu pada mantel bagian atas 1300 C-1500 C dan suhu
pada mantel bagian dalam 1500 C-3000 C

Inti Bumi

Inti Bumi terletak pada lapisan terdalam. Inti Bumi terbagi menjadi 2 (dua), yaitu:

Inti bumi bagian luar merupakan salah satu bagian dalam bumi yang melapisi inti bumi bagian
dalam. Inti bumi bagian luar mempunyai tebal 2250 km dan kedalaman antara 2900-4980 km.
Inti bumi bagian luar terdiri atas besi dan nikel cair dengan suhu 3900 C

Inti bumi bagian dalam merupakan bagian bumi yang paling dalam atau dapat juga disebut inti
bumi. inti bumi mempunyai tebal 1200km dan berdiameter 2600km. inti bumi terdiri dari besi
dan nikel berbentuk padat dengan temperatur dapat mencapai 4800 C.

Sedangkan menurut sifat mekanik (sifat dari material) -nya, bumi dapat dibagi menjadi lapisan-
lapisan sebagai berikut :

1. Litosfer

Litosfer adalah kulit terluar dari planet berbatu. Litosfer berasal dari kata Yunani, lithos yang
berarti berbatu, dan sphere yang berarti padat.

Litosfer bumi meliputi kerak dan bagian teratas dari mantel bumi yang mengakibatkan kerasnya
lapisan terluar dari planet bumi. Litosfer ditopang oleh astenosfer, yang merupakan bagian yang
lebih lemah, lebih panas, dan lebih dalam dari mantel. Batas antara litosfer dan astenosfer
dibedakan dalam hal responnya terhadap tegangan: litosfer tetap padat dalam jangka waktu
geologis yang relatif lama dan berubah secara elastis karena retakan-retakan, sednagkan
astenosfer berubah seperti cairan kental.

Litosfer terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik yang mengakibatkan terjadinya gerak
benua akibat konveksi yang terjadi dalam astenosfer. Konsep litosfer sebagai lapisan terkuat dari
lapisan terluar bumi dikembangkan oleh Barrel pada tahun 1914, yang menulis serangkaian
paper untuk mendukung konsep itu. konsep yang berdasarkan pada keberadaan anomali gravitasi
yang signifikan di atas kerak benua, yang lalu ia memperkirakan keberadaan lapisan kuat (yang
ia sebut litosfer) di atas lapisan lemah yang dapat mengalir secara konveksi (yang ia sebut
astenosfer). Ide ini lalu dikembangkan oleh Daly pada tahun 1940, dan telah diterima secara luas
oleh ahli geologi dan geofisika. Meski teori tentang litosfer dan astenosfer berkembang sebelum
teori lempeng tektonik dikembangkan pada tahun 1960, konsep mengenai keberadaan lapisan
kuat (litosfer) dan lapisan lemah (astenosfer) tetap menjadi bagian penting dari teori tersebut.

Terdapat dua tipe litosfer yaitu : Litosfer samudra, yang berhubungan dengan kerak samudra dan
berada di dasar samdura Litosfer benua, yang berhubungan dengan kerak benua. Litosfer
samudra memiliki ketebalan 50-100 km, sementara litosfer benua memiliki kedalaman 40-200
km. Kerak benua dibedakan dengan lapisan mantel atas karena keberadaan lapisan Mohorovicic.

2. Astenosfer

Astenosper merupakan lapisan dibawah lempeng tektonik, yang menjadi tempat bergeraknya
lempeng benua.

3. Mesosfer

Mesosfer adalah lapisan udara ketiga, di mana suhu atmosfer akan berkurang dengan
pertambahan ketinggian hingga ke lapisan keempat, termosfer. Udara yang terdapat di sini akan
mengakibatkan pergeseran berlaku dengan objek yang datang dari angkasa dan menghasilkan
suhu yang tinggi. Kebanyakan meteor yang sampai ke bumi biasanya terbakar di lapisan ini.

Mesosfer terletak di antara 50 km dan 80-85 km dari permukaan bumi, saat suhunya berkurang
dari 290 K hingga 200 K (18oC hingga 73oC). Antara lapisan Mesosfer dengan lapisan
atermosfer terdapat lapisan perantara yaitu Mesopause.