Anda di halaman 1dari 20

Bab II

Tinjauan Pustaka

I. Tidur
A. Pengertian
Tidur merupakan kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh

stimulus atau sensoris yang sesuai, atau juga dapat dikatakan sebagai keadaan tidak

sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan,

tetapi lebih merupakan seuatu urutan siklus yang berulang dengan ciri adanya

aktifitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapat perubahan proses

fisiologis dan terjadi penurunan respons terhadap rangsangan dari luar, Alimul

(2009).
Tidur merupakan salah satu cara untuk melepaskan kelelahan jasmani dan

kelelahan mental. Dengan tidur semua keluhan hilang atau berkurang dan akan

kembali mendapatkan tenaga serta semangat untuk menyelesaikan persoalan yang

dihadapi. Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan

beredarnya waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia

disebut sebagai irama sirkadian. Pusat kontrol irama sirkadian terletak pada bagian

ventral anterior hypothalamus. Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan

kegiatan sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis medulo oblogata

yang disebut sebagai pusat tidur. Bagian susunan saraf pusat yang menghilangkan

sinkronisasi/desinkronisasi terdapat pada bagian rostral medulo oblogata disebut

sebagai pusat penggugah atau aurosal state (Japardi, 2002).


Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan

mekanisme serebral secara bergantian untuk mengaktifkan dan menekan pusat otak

agar dapat tidur dan bangun. Salah satu aktifitas tidur ini diatur oleh sistem

pengaktivasi retikularis yang merupakan sistem yang mengatur seluruh tingkatan


kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur. Pusat

pengaturan aktivitas kewaspadaan dan tidur ini terletak dalam mesensefalon dan

bagian atas spons. Selain itu reticular activating system (RAS) dapat memberikan

rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan perabaan juga dapat menerima stimulasi

dari korteks serebri termasuk rangsangan dan proses pikir. Dalam keadaan sadar,

neuron dalam RAS akan melepaskan katekolamin, seperti norepineprin. Demikian

juga pada saat tidur, kemungkinan disebabkan adanya pelepasan serum serotinin dari

sel khusus yang berada di ponsdan batang otak tengah, yaitu bulbar synchronizing

regional (BSR), sedangkan bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang

diterima dipusat otak dan sistem limbik. Dengan demikian, sistem pada batang otak

yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR.

B. Jenis-jenis Tidur
Dalam prosesnya, tidur dibagi kedalam dua jenis :
1. Non Rapid Eye Movement (NREM)
Jenis tidur yang disebabkan oleh menurunnya kegiatan dalam sistem

pengaktivasian reticularis, disebut dengan gelombang lambat (Slow wave sleep)

karena gelombang otak bergerak sangat lambat, atau disebut juga tidur non rapid

eye movement (NREM). Jenis tidur ini dikenal dengan jenis tidur dalam istirahat

penuh atau juga dikenal dengan tidur nyenyak.


Pada tidur jenis ini, gelombang otak bergerak dengan ciri-ciri : betul-betul

istirahat penuh, tekanan darah menurun, pergerakan bola mata melambat, mimpi

berkurang, dan metabolisme turun.


Perubahan selama proses tidur gelombang lambat adalah melalui

elektroensefalografi dengan memperlihatkan gelombang otak berada pada setiap

tahap tidur yaitu : pertama, kewaspadaan penuh dengan gelombang beta yang

berfrekuensi tinggi dan bervoltase rendah, kedua istirahat tenang yang

diperlihatkan pada gelombang alfa, ketiga tidur ringan karena terjadi perlambatan

gelombang alfa ke jenis teta atau delta yang bervoltase rendah.tidur nyenyak
karena gelombang lambat dengan gelombang delta bervoltase tinggi dengan

kecepatan 1-2 per detik. Tahapan tidur jenis gelombang lambat :


a. Tahap I merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur dengan ciri sebagai

berikut : rileks, masih sadar dengan lingkungan, mengantuk, bola mata

bergerak dari samping- ke samping, frekuensi nadi dan napas sedikit menurun.

Dapat bangun segera selama tahap ini berlangsung selama lima menit.Tahap II

merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun dengan ciri

sebagai berikut : mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan frekuensi

nafas menurun, temperatur tubuh menurun, metabolisme menurun,

berlangsung pendek dan berlangsung selama 10-15 menit.


b. Tahap II merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun dengan

ciri sebagai berikut : mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan

frekuensi nafas menurun, temperatur tubuh menurun, metabolisme menurun,

berlangsung pendek dan berlangsung selama 10-15 menit.


c. Tahap III merupakan tahap tidur dengan ciri denyut nadi dan frekuensi nafas

dan proses tubuh lainnya lambat, disebabkan oleh adanya dominasi sistem

saraf simpatis dan sulit untuk bangun.


a. Tahap IV merupakan tahap tidur dalam dengan ciri kecepatan jantung dan

pernapasan turun, jarang bergerak dan sulit dibangunkan, gerak bola mata

cepat, sekresi lambung menurun dan tonus otot menurun.


2. Rapid Eye Movement (REM) atau Tidur Paradoks
Jenis tidur yang disebabkan oleh penyaluran abnormal dari isyarat-isyarat dalam

otak meskipun kegiatan otak mungkin tidak tertekan secara berarti, disebut

dengan jenis tidur paradoks, atau disebut juga tidur rapid eye movement (REM).

Tidur jenis ini dapat berlangsung yang terjadi selama 5-20 menit, rata-rata timbul

90 menit. Periode pertama terjadi selama 80-100 menit, akan tetapi apabila

kondisi orang sangat lelah, maka awal tidur sangat cepat bahkan jenis tidur ini

tidak ada. Ciri tidur padadoks adalah sebagai berikut :


a. Biasanya disertai dengan mimpi aktif.
b. Lebih sulit dibangunkan daripada selama tidur nyenyak gelombang lambat,
c. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, menunjukkan inhibisi kuat

proyeksi spinal atas sistem pengaktivasi retikularis.


d. Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur. Pada otot perifer

terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur, mata cepat tertutup dan

terbuka, nadi cepat dan ireguler, tekanan darah meningkat atau berfluktuasi,

sekresi gaster meningkat, dan metabolisme meningkat.


e. Tidur ini penting untuk menjaga mental, emosi juga berperan dalam belajar,

memori dan adaptasi.


C. Kebutuhan Tidur
Kebutuhan tidur pada manusia tergantung pada tingkat perkembangan. Tabel

berikut merangkum kebutuhan tidur manusia berdasarkan usia.

Usia Tingkat Perkembangan Jumlah Kebutuhan Tidur

0-1 bulan Masa Neonatus 14 - 18 jam /hari

1-18 bulan Masa Bayi 12 14 jam /hari

18 bulan-3 tahun Masa Prasekolah 11 12 jam /hari

3-6 tahun Masa Sekolah 11 jam /hari

6-12 tahun Masa Remaja 10 jam /hari

12-18 tahun Masa Dewasa Muda 8,5 jam /hari

18-40 tahun Masa Paruh baya 7 8 jam /hari

40-60 tahun Masa Dewasa tua 7 jam /hari

60 tahun keatas 6 jam /hari

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Tidur


Kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kualitas

tersebut dapat menunjukkan adanya kemampuan individu untuk tidur dan

memperoleh jumlah istirahat yang sesuai dengan kebutuhannya. Di antara faktor

yang dapat mempengaruhinya adalah :


1. Penyakit
Sakit dapat mempengaruhi kebutuhan seseorang. Banyak penyakit yang

memperbesar kebutuhan tidur, misalnya penyakit yang disebabkan oleh infeksi

akan memerlukan lebih banyak waktu tidur untuk mengatasi keletihan. Banyak

juga keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur, bahkan tidak bisa tidur.
2. Latihan dan kelelahan
Keletihan akibat aktivitas yang tinggi dapat memerlukan lebih banyak tidur

untuk menjaga keseimbangan energi yang telah dikeluarkan. Hal tersebut terlihat

pada seseorang yang telah melakukan aktivitas dan mencapai kelelahan. Orang

tersebut akan lebih cepat untuk dapat tidur karena tahap tidur gelombang

lambatnya diperpendek.
3. Stres Psikologi
Kondisi psikologi dapat terjadi pada seseorang akibat ketegangan jiwa. Hal

tersebut terlihat ketika seseorang yang memiliki masalah psikologis mengalami

kegelisahan sehingga sulit untuk tidur.


4. Obat
Obat dapat juga mempengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang dapat

mempengaruhi proses tidur adalah jenis obat golongan diuretik menyebabkan

seseorang insomnia, anti depresan dapat menekan REM, kafein dapat

meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan

beta bloker dapat berefek pada timbulnya insomnia, dan golongan narkotik dapat

menekan REM sehingga mudah mengantuk.


5. Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur.

Protein yang tinggi dapat mempercepat terjadinya proses tidur, karena adanya

trypthopan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna. Kebutuhan

gizi yang kurang dapat juga mempengaruhi proses tidur, bahkan terkadang sulit

untuk tidur.
6. Lingkungan
Keadaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seseorang dapat

mempercepat terjadinya proses tidur.


7. Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur,

yang dapat mempengaruhi proses tidur. Selain itu, adanya keinginan untuk

menahan tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.


E. Gangguan Tidur
Gangguan pola tidur secara umum merupakan suatu kejadian di mana individu

mengalami atau mempunyai resiko perubahan dalam jumlah dan kualitas pola

istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang

diinginkan (Carpenito, LJ, 1995). Gangguan ini terlihat dari pasien dengan kondisi

yang memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu dan apatis,

kehitaman sekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, mata perih,

perhatian terpecah-pecah, sakit kepala, dan sering menguap atau mengantuk.


Berdasarkan Clinical Practice Guideline Adult Insomnia : Assesment to Diagnosis

(2007) menyebutkan ada 6 gangguan tidur, dan 4 diantaranya adalah insomnia, empat

macam gangguan yang termasuk Insomnia :


1. Acute Insomnia : durasi atau lama waktunya adalah 4 minggu atau kurang dari itu.

2. Chronic Insomnia : durasi atau lama waktunya 4 minggu atau lebih dari itu.

3. Secondary Insomnia : insomnia sekunder mengacu pada kesulitan memulai dan

atau mempertahankan tidur yang terjadi sebagai akibat dari keterkaitan yang tidak

sehat dalam hubungannya dengan rangkaian proses medis, psikiatri atau psikologi.

Insomnia sekunder meliputi: rasa sakit yang terkait dengan rheumatoid arthritis

yang mengganggu inisiasi dan atau pemeliharaan tidur, keterkaitan insomnia yang

tidak sehat terkait dengan episode depresi, atau insomnia terkait dengan stres

emosional akut.

4. Primary Insomnia (dikenal juga dengan psychophysiologic insomnia (PPI)) :

Kelainan ketegangan somatisasi dan belajar tidur, mencegah hubungan yang

dihasilkan dalam keluhan dari insomnia dan konsekuensi dari ketidakmampuan di

siang hari. Hubungan negatif yang terkondisi terkait dengan tidur, cenderung
melanggengkan insomnia dan diperburuk oleh pasien yang obsessive berkaitan

dengan tidur mereka.

Dua gangguan tidur lainnya yang tidak termasuk insomnia :

1. Primary Sleep Disorder : Kelainan primer atau intrinsik tidur adalah salah satu hal

yang mengemukakan tentang proses psikologis dari tidur. Contoh dari kelainan

tidur primer yang mengganggu adalah sleep apnea, restless leg syndrome,

periodic limb movement disorder atau parasomnia.

2. Daytime Impairment : Konsekuensi siang hari dari insomnia yang di dalamnya

termasuk: dysphoric (kecemasan yang berlebihan) seperti iritabilitas;

ketidakmampuan kognisi seperti melemahnya konsentrasi dan daya ingat, dan

kelelahan dalam keseharian. Konsekuensi siang hari dari insomnia harus

mempunyai efek yang substansial pada kualitas hidup individu agar bisa dianggap

berarti.

Jenis-jenis gangguan tidur menurut Alimul, 2009 :


1. Insomnia
Insomnia merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur

yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan tidur yang hanya

sebentar atau susah tidur. Insomnia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu : initial

insomnia, merupakan ketidakmampuan untuk jatuh tidur atau mengawali tidur,

intermiten insomnia merupakan ketidakmampuan tetap tidur karena selalu

terbangun pada malam hari, dan terminal insomnia merupakan ketidakmampuan

untuk tidur kembali setelah bangun tidur pada malam hari.


2. Hipersomnia
Hipersomnia merupakan gangguan tidur dengan kriteria berlebihan, pada

umumnya lebih dari 9 jam pada malam hari, disebabkan oleh kemungkinan

adanya masalah psikologis, depresi, kecemasan, gangguan susunan saraf pusat,

ginjal, hati, dan gangguan metabolisme.


3. Parasomnia
Parasomnia merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat

mengganggu pola tidur, seperti somnoambulisme (berjalan-jalan dalam tidur)

yang banyak terjadi pada anak-anak, yaitu pada tahap III dan IV dari tidur NREM.

Somnoambulisme ini dapat menyebabkan cedera.


4. Enuresa
Enuresa merupakan buang air kecil yang tidak disengaja pada waktu tidur,

atau biasa juga disebut dengan istilah mengompol. Enuresa dibagi menjadi dua

jenis, yaitu : enuresa nokturnal, merupakan mengompol di waktu tidur dan

enuresa diurnal, mengompol pada saat bangun tidur. Enuresa nokturnal umumnya

merupakan gangguan tidur NREM.


5. Apnea Tidur dan Mendengkur
Mendengkur umumnya tidak termasuk dalam gangguan tidur, tetapi

mendengkur yang disertai dengan keadaan apnea dapat menjadi masalah.

Mendengkur sendiri disebabkan adanya rintangan dalam pengaliran udara di

hidung dan mulut pada waktu tidur, biasanya disebabkan oleh adanya adenoid,

amandel, atau mengendurnya otot dibelakang mulut. Terjadinya apnea tidur dapat

mengacaukan jalannya pernapasan sehingga dapat mengakibatkan henti napas.

Bila kondisi ini berlangsung lama, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam

darah menurun dan denyut nadi menjadi tidak teratur.


6. Narcolepsi
Norcolepsi merupakan keadaan tidak dapat mengendalikan diri untuk

tidur, misalnya tertidur dalam keadaan berdiri, mengemudikan kendaraan, atau

disaat sedang membicarakan sesuatu. Hal ini merupakan gangguan neurologis.


II. Insomnia
A. Pengertian
Menurut kamus kedokteran Dorland (2012), insomnia merupakan kondisi tidak

dapat tidur, kondisi terjaga (bangun) yang abnormal. Sedangkan menurut kamus

keperawatan, Hinhcliff (1999), insomnia adalah kondisi sulit tidur. Menurut Stuart

(2013), insomnia merupakan gangguan memulai atau mempertahankan tidur.


Menurut Maslim (2002 : 93), insomnia adalah adanya keluhan kesulitan untuk

masuk ke fase tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur yang buruk.

Insomnia merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur yang

adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan tidur yang hanya sebentar

atau susah untuk tidur, Alimul, (2009).


Gangguan tidur yaitu rasa mengantuk yang berlebihan pada siang hari, sulit tidur

pada waktu yang diinginkan dan kejadian pada malam hari yang luar biasa seperti

mimpi buruk dan berjalan sambil tidur, Stuart (2013).


Berdasarkan Clinical Practice Guideline Adult Insomnia: Assesement to

Diagnosis (Panduan Praktis Klinis Insomnia untuk Orang Dewasa : Assesment untuk

Diagnosis) 2007, mendefinisikan insomnia sebagai kesulitan memasuki tidur,

kesulitan untuk tetap tidur, atau tidur yang tidak dapat menyegarkan pada seseorang

yang padahal ia mempunyai kesempatan untuk tidur malam yang normal, yaitu 7-8

jam.
Rafknowledge (2004) menyebutkan bahwa insomnia adalah keluhan yang sering

muncul berupa kendala-kendala seperti kesulitan tidur, tidur tidak tenang, kesulitan

menahan tidur atau untuk tetap tidur, seringnya terbangun di pertengahan malam,

dan seringnya terbangun lebih awal pada diri seseorang. Umumnya dimulai dengan

munculnya gejala-gejala:
1. Kesulitan jatuh tertidur atau tidak tercapainya tidur nyenyak. Keadaan ini bisa

berlangsung sepanjang malam dan dalam tempo berhari-hari, berminggu-minggu,

atau lebih.
2. Merasa lelah saat bangun tidur dan tidak merasakan kesegaran. Mereka yang

mengalami insomnia seringkali merasa tidak pernah tertidur sama sekali.


3. Sakit kepala di pagi hari. Ini sering disebut sebagai efek mabuk padahal,

nyatanya orang tersebut tidak minum minuman keras di malam itu.


4. Kesulitan berkonsentrasi.
5. Mudah marah.
6. Mata memerah.
7. Mengantuk di siang hari
Sedangkan J. Sateia dan J. Buysse (2010), mengatakan bahwa insomnia dapat

dilihat secara lebih baik sebagai sebuah simptom (gejala) atau kelainan daripada

sebuah penyakit serius. Terkadang insomnia digunakan untuk menyebutkan

keluhan terisolasi; pada kasus yang lain digunakan untuk mengindikasikan sebuah

kelainan, yaitu sebuah ketetapan set dari gejala-gejala (symptomps) dan tanda-tanda

(signs) yang menyebabkan ketidakmampuan (distress atau impairment).

B. Klasifikasi
Menurut Laniwaty (2001), insomnia atau gangguan sulit tidur merupakan suatu

keadaan seseorang dengan kuantitas dan kualitas tidur yang kurang. Gejala insomnia

sering dibedakan sebagai berikut :


1. Kesulitan memulai tidur (initial insomnia), biasanya disebabkan oleh adanya

gangguan emosi, ketegangan atau gangguan fisik, (misal: keletihan yang

berlebihan atau adanya penyakit yang mengganggu fungsi organ tubuh).


2. Bangun terlalu awal (early awakening), yaitu dapat memulai tidur dengan

normal, namun tidur mudah terputus dan atau bangun lebih awal dari waktu tidur

biasanya., serta kemudian tidak bisa kembali tidur lagi. Gejala ini sering muncul

seiring dengan bertambahnya usia seseorang atau karena depresi dan sebagainya.

Berdasarkan pengertian istilah tingkat dan pengertian insomnia dari beberapa

teori yang telah dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat

insomnia adalah suatu derajat kondisi pada seseorang, dimana orang tersebut merasa

sulit untuk tidur, mempertahankan tidur, atau kualitas tidurnya buruk, dengan

disertai keluhan-keluhan dan menimbulkan akibat yang dirasa merugikan, baik

secara fisik maupun psikologis yang terdiri dari beberapa derajat atau kelas.

Berdasarkan skala insomnia yang telah dibakukan, yaitu skala KSPBJ

(Kelompok Studi Psikiatri Biologi Jakarta) menurut Iwan (2009 : 43), batasan atau

indikator insomnia dapat ditentukan meliputi parameter sebagai berikut:


1. Kesulitan untuk memulai tidur

2. Tiba-tiba terbangun pada malam hari

3. Bisa terbangun lebih awal atau dini hari

4. Merasa mengantuk di siang hari

5. Sakit kepala pada siang hari

6. Merasa kurang puas dengan tidurnya

7. Merasa kurang nyaman atau gelisah saat tidur

8. Mendapat mimpi buruk

9. Badan terasa lemah, letih, kurang tenaga setelah tidur

10. Jadwal jam tidur sampai bangun tidak beraturan

11. Tidur selama 6 jam dalam semalam

Menurut klasifikasi diagnostic dari World Health Organization (WHO) pada

tahun 1990 (Laniwaty) (2001:13), insomnia dimasukkan dalam golongan Disorders

of Iniating and Maintaining Sleep (DIMS), yang secara praktis dikasifikasikan

menjadi dua kelompok, yaitu insomnia primer dan insomnia sekunder.

1. Insomnia Primer

Insomnia primer, merupakan gangguan sulit tidur yang penyebabnya belum

diketahui secara pasti. Sehingga dengan demikian pengobatannya masih relatif

sukar dilakukan dan biasanya berlangsung lama atau kronis (long term insomnia).

Insomnia primer ini sering menyebabkan terjadinya komplikasi kecemasan dan

depresi, yang justru dapat menyebabkan semakin parahnya gangguan sulit tidur

tersebut. Sebagian penderita golongan ini mempunyai dasar gangguan psikiatris,

khususnya depresi ringan sampai menengah berat. Adapun sebagian penderita lain

merupakan pecandu alkohol atau obat-obatan terlarang (narkotik). Kelompok

yang terakhir ini memerlukan penanganan yang khusus secara terpadu mencakup
perbaikan kondisi tidur (sleep environment), pengobatan, dan terapi kejiwaan

(psikoterapi).

2. Insomnia Sekunder

Insomnia sekunder merupakan merupakan gangguan sulit tidur yang

penyebabnya dapat diketahui secara pasti. Gangguan tersebut dapat berupa faktor

gangguan sakit fisik, ataupun gangguan kejiwaan (psikis). Pengobatan insomnia

sekunder relatif lebih mudah dilakukan terutama dengan menghilangkan penyebab

utamanya terlebih dahulu. Insomnia sekunder dapat dibedakan sebagai berikut :

a. Insomnia Sementara (Transient Insomnia)

Insomnia sementara terjadi pada seseorang yang termasuk dalam

golongan dapat tidur normal, namun karena adanya stres atau ketegangan

sementara (misalnya karena adanya kebisingan atau pindah tempat tidur),

menjadi sulit tidur. Pada keadaan ini, obat hipnotik, dapat digunakan ataupun

tidak (tergantung pada kemampuan adaptasi penderita terhadap lingkungan

penyebab stres atau ketegangan tersebut).

b. Insomnia Jangka Pendek (Short Term Insomnia)

Insomnia jangka pendek merupakan gangguan tidur yang terjadi pada

penderita sakit fisik (misalnya batuk, rematik, dan lain sebagainya), atau

mendapat stres situasional (misalnya kehilangan atau kematian orang dekat,

pindah pekerjaan, dan lain sebagainya). Biasanya gangguan sulit tidur ini

akan dapat sembuh beberapa saat setelah terjadi adaptasi, pengobatan,

ataupun perbaikan suasana tidur. Dalam kondisi ini, pemakaian obat hipnotik

dianjurkan dengan pemberian tidak melebihi 3 minggu (paling baik diberikan

selama 1 minggu saja). Pemakaian obat secara berselang-seling


(intermittent), akan lebih aman, karena dapat menghindari terjadinya efek

sedasi yang timbul berkaitan dengan akumulasi obat.

Berdasarkan dari teori yang dikemukakan oleh WHO dalam Lanywati diatas,

maka dapat dijabarkan lagi bahwa macam tingkat insomnia tersebut dari yang paling

ringan adalah sebagai berikut :

1. Insomnia Transient (Sementara), yaitu insomnia yang berlangsung kurang dari

seminggu.

2. Insomnia Jangka Pendek, yaitu kesulitan tidur yang berlangsung selama 1-4

minggu.

3. Insomnia Kronis (Jangka Panjang), yaitu kesulitan tidur yang berlangsung lebih

dari sebulan.

C. Faktor-faktor yang Menyebabkan

Menurut Rafknowldege (2004: 58), jika diambil garis besarnya, faktor-faktor

penyebab insomnia yaitu :

Stres atau Kecemasan : seseorang yang didera kegelisahan yang dalam, biasanya

karena memikirkan permasalahan yang sedang dihadapi.

1. Depresi : selain menyebakan insomnia, depresi juga bisa menimbulkan keinginan

untuk tidur terus sepanjang waktu, karena ingin melepaskan diri dari masalah

yang dihadapi. Depresi bisa menyebabkan insomnia dan sebaliknya insomnia

dapat menyebabkan depresi.

2. Kelainan-kelainan kronis : Kelainan tidur (seperti tidur apnea), diabetes, sakit

ginjal, arthritis, atau penyakit yang mendadak seringkali menyebabkan kesulitan

tidur.
3. Efek samping pengobatan : Pengobatan untuk suatu penyakit juga dapat menjadi

penyebab insomnia.

4. Pola makan yang buruk : Mengkonsumsi makanan berat sesaat sebelum pergi

tidur bisa menyulitkan seseorang jatuh tidur.

5. Kafein, nikotin, dan alcohol : Kafein dan nikotin adalah zat stimulant (penekan

syaraf). Alkohol dapat mengacaukan pola tidur seseorang.

6. Kurang berolahraga : hal ini juga bisa menjadi factor sulit tidur yang signifikan.

7. Penyebab lainnya bisa berkaitan dengan kondisi-kondisi spesifik, seperti :

8. Usia lanjut (insomnia lebih sering terjadi pada orang yang berusia di atas 60

tahun).

9. Wanita hamil.

10. Riwayat depresi atau penurunan.

11. Insomnia ringan atau hanya sementara biasanya dipicu oleh :

a. Stres

b. Suasana ramai atau berisik

c. Perbedaan suhu udara

d. Perubahan lingkungan sekitar

e. Masalah jadwal tidur dan bangun yang tidak teratur

f. Efek samping pengobatan

12. Insomnia kronis lebih kompleks lagi dan seringkali diakibatkan faktor gabungan,

termasuk yang mendasari fisik atau penyakit mental. Bagaimanapun, insomnia

kronis bisa juga karena faktor perilaku, termasuk penyalahgunaan kafein, alkohol,

atau obat-obat berbahaya.


D. Dampak
Rafknowledge (2004: 60) mengatakan bahwa insomnia memberi sedikit atau

banyak dampak pada kualitas hidup, produktivitas, dan keselamatan seseorang. Pada

kondisi yang parah, dampaknya bisa lebih serius, seperti misalnya:


1. Orang yang insomnia lebih mudah menderita depresi dibandingkan mereka yang

biasa tidur dengan baik.


2. Kekurangan tidur akibat insomnia member kontribusi pada timbulnya suatu

penyakit, termasuk penyakit jantung.


3. Dampak mengantuk atau ketiduran di siang hari dapat mengancam keselamatan

kerja, termasuk mengemudi kendaraan.


4. Orang dengan insomnia bisa kehilangan banyak waktu dari pekerjannya.
5. Tidur malam yang buruk, dapat menurunkan kemampuan dalam memenuhi tugas

harian serta kurang menikmati aktivitas hidup.

Insomnia dapat memberi dampak pada kehidupan seseorang. Dampak tersebut

bisa terjadi dalam jangka panjang atau jangka pendek, tergantung dari penyebabnya.

1. Efek fisiologis : Karena kebanyakan insomnia diakibatkan oleh stress, maka

terdapat peningkatan noradrenalin serum, peningkatan ACTH dan kortisol, juga

penurunan produksi melatonin.

2. Efek psikologis : dapat berupa gangguan memori, gangguan konsentrasi, irritable,

kehilangan motivasi, depresi, dan sebagainya.

3. Efek fisik/somatik : dapat berupa kelelahan, nyeri otot, hipertensi, dan

sebagainya.

4. Efek sosial : dapat berupa kualitas hidup yang terganggu, kurang bisa menikmati

hubungan sosial dan keluarga.

5. Kematian : orang yang tidur kurang dari 5 jam semalam memiliki angka harapan

hidup lebih sedikit dari orang yang tidur 7-8 jam semalam. Hal ini kemungkinan

disebabkan karena penyakit yang menginduksi insomnia yang memperpendek

angka harapan hidup atau karena high arousal state yang terdapat pada insomnia
mempertinggi angka mortalitas atau mengurangi kemungkinan sembuh dari

penyakit (Turana, 2007).

III. Perilaku Merokok


A. Pengertian
Menurut Sitepoe (2000), merokok adalah membakar tembakau yang kemudian

diisap isinya, baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Temperatur pada

sebatang rokok yang tengah dibakar adalah 90C untuk ujung rokok yang dibakar dan

30C untuk ujung rokok yang terselip di antara bibir perokok. Definisi perokok

sekarang menurut WHO dalam Depkes (2004) adalah mereka yang merokok setiap

hari untuk jangka waktu minimal 6 bulan selama hidupnya masih merokok saat

survey dilakukan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 960) menyebutkan dua macam perokok yaitu :
1. Perokok aktif, seseorang yang merokok secara aktif. Perokok aktif menghirup

asap tembakau yang disebut juga asap utama (main stream smoke).
2. Perokok pasif, yaitu seseorang yang menerima asap rokok saja, bukan perokoknya

sendiri. Perokok pasif mempunyai resiko kesehatan yang lebih berbahaya dari

pada resiko yang ditimbulkan perokok aktif. Perokok pasif sampingan (side

stream smoke).

Sitepoe (2000: 22) menyebutkan macam perokok menjadi 3, yaitu :

1. Perokok ringan, yaitu merokok 1-10 batang sehari.


2. Perokok sedang, yaitu merokok 10-20 batang sehari.
3. Perokok berat, yaitu merokok lebih dari 24 batang sehari.

B. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok


Mutadin (2002 : 87) menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi perilaku merokok :


1. Pengaruh orangtua : Remaja merokok adalah anak-anak yang berasal dari rumah

tangga yang tidak bahagia, dimana orangtua tidak begitu memperhatikan anak-
anaknya dibandingkan dengan remaja yang berasal dari lingkungan rumah tangga

yang bahagia. Remaja merokok apabila orangtua sendiri yang menjadi figur juga

sebagai perokok berat, maka anak-anaknya akan mungkin sekali untuk

mencontohnya.
2. Pengaruh teman : Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja

merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga

dan demikian sebaliknya. Terdapat dua kemungkinan yang terjadi dari fakta

tersebut, pertama remaja tersebut terpengaruh oleh teman-temannya atau

sebaliknya.
3. Faktor kepribadian : Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau

ingin melepaskan diri dari rasa sakit dan kebosanan. Satu sifat kepribadian yang

bersifat pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial.


4. Pengaruh iklan Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan

gambaran bahwa perokok adalah lambing kejantanan atau glamour, membuat

remaja seringkali berkeinginan untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam

iklan tersebut.
C. Zat yang Terkandung dalam Rokok\
Sitepoe (2000 : 27) menyebutkan bahwa rokok (termasuk asap rokok)

mengandung racun yang berbahaya bagi kesehatan. Racun yang paling utama, antara

lain tar, gas CO dan nikotin :


1. Tar
Merupakan substansi hidrokarbon, yang bersifat lengket sehingga bisa

menempel di paru-paru.
2. Gas CO (Karbon monoksida)
Gas CO yang dihasilkan dari sebatang rokok dapat mencapai 3-6%, gas ini

dapat dihisap oleh siapa saja. Oleh orang yang merokok atau orang yang terdekat

dengan si perokok. Gas CO mempunyai kemampuan mengikat hemoglobin (Hb)

yang terdapat dalam sel darah merah (eritrosit) lebih kuat dibanding O2, sehingga

setiap ada asap rokok disamping kadar O2 udara yang sudah berkurang, ditambah

lagi sel darah merah akan semakin kekurangan O2, oleh karena yang diangkut
adalah CO dan bukan O2. Sel tubuh yang menderita kekurangan O2 akan

berusaha meningkatkan yaitu melalui kompensasi pembuluh darah dengan jalan

menciut atau sepasme. Bila proses sepasme berlangsung lama dan terus menerus

maka pembuluh darah akan mudah rusak dengan terjadinya proses aterosklerosis

(penyempitan). Penyempitan pembuluh darah akan terjadi di otak, jantung, paru,

ginjal, kaki, saluran peranakan, dan ari-ari pada wanita hamil. Dapat dipahami

penyempitan itu dapat berakibat sumbatan di otak, penyempitan pembuluh darah

jantung, penyakit paru menahun, betis menjadi sakit hingga pembusukan kering

(gangrene), kemandulan, keguguran atau kematian bayi dalam kandungan, atau

bayi lahir prematur atau cacat (Kusmana, 2007 : 86 dalam Bimma, A. P., 2013).
3. Nikotin
Kandungan awal nikotin dalam rokok sebelum dibakar adalah 8-20 mg,

setelah dibakar, jumlah nikotin yang masuk ke sirkulasi darah hanya 25% dan

akan sampai ke otak dalam waktu 15 detik saja. Dalam otak, nikotin akan diterima

oleh reseptor asetil kolin-nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur imbalan

dan jalur adrenergic. Pada jalur imbalan di area mesolimbik otak, nikotin akan

memberikan sensasi nikmat sekaligus mengaktivasi sistem dopaminergik yang

akan merangsang keluarnya dopamine, sehingga perokok akan merasa tenang,

daya pikir meningkat, dan menekan rasa lapar. Sedangkan dijalur andrenergik di

bagian lokus seruleus otak, nikotin akan mengaktivasi sistem andrenergik yang

akan melepaskan serotonin sehingga menimbulkan rasa senang dan memicu

keinginan untuk merokok lagi. Ketika berhenti merokok maka terjadi putus zat

nikotin, sehingga rasa nikmat yang biasa diperoleh akan berkurang yang

menimbulkan keinginan untuk kembali merokok. Proses ini menimbulkan adiksi

atau ketergantungan nikotin, yang membuat perokok semakin sulit untuk berhenti

merokok (Wayne, 2008 : 93 dalam Bimma, A. P., 2013).


IV.Atlet
A. Pengertian
Atlet merupakan olahragawan yang terlatih ketangkasan, kekuatan, dan

kecepatannya untuk diikutsertakan dalam pertandingan. Atlet berasal dari bahasa

Yunani athlos yang artinya kontes. Istilah lainnya adalah atlilete yaitu orang yang

terlatih untuk diadu kekuatannya agar mencapai prestasi. Atlet adalah pelaku

olahraga yang memiliki prestasi baik tingkat daerah, nasional ataupun internasional

(Sondakh, 2009). Sehingga dapat dikatakan bahwa atlet adalah individu yang

melakukan latihan agar mendapat kekuatan badan, kecepatan, daya tahan,

kelincahan, keseimbangan, kelenturan, kekuatan dalam mempersiapkan diri untuk

pertandingan guna mencetak prestasi baik di tingkat daerah, nasional, maupun

internasional.
B. Jenis Latihan
Menurut Kurdi dan Sukirno (2011), pembagian jenis latihan sesuai dnegan

kontraksi otot dan manfaat bagi gerak badan, terbagi menjadi :


1. Latihan Isotonik
Latihan isotonik adalah pola latihan yang mengikuti kaidah kontraksi isotonik,

yakni suatu kontraksi dimana otot bekerja mengalami pemendekkan dari panjang asal.

Respon kekuatan kontraksi isotonik sangat tergantung pada besarnya beban yang

ditanggung.
2. Latihan Isometrik
Latihan isometrik adalah pola latihan yang mengikuti kaidah kontraksi

isometrik, yakni suatu kontraksi otot tidak mengalami perubahan panjang otot.

Besarnya kontraksi isometrik sangat bergantung pada besar beban yang

ditanggungnya.
3. Latihan Isokinetik
Latihan isokinetik merupakan latihan yang memenuhi kaidah konstraksi

isokinetik, yakni suatu kontraksi


4. Latihan Kekuatan
5. Latihan Kecepatan
6. Latihan Daya Tahan
7. Latihan Daya Ledak
Penggunaan oksigen
1.
2.
C. Kebutuhan Recovery
D. Kebutuhan Istirahan dan Tidur Atlet