Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH AGROKLIMATOLOGI

PENGARUH IKLIM

TERHADAP PENYEBARAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

oleh :

Deny Setyawati

(NIM : 2015610062)

Dosen Pembimbing : Ir. Sukrianto , MA.

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Segala Puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah , serta
Karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah Agroklimatologi
dengan judul Pengaruh Iklim Terhadap Penyebaran Hama dan Penyakit Tanaman ini tanpa
ada kendala suatu apapun.
Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Salallahu Alaihi
wasallam yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah hingga zaman yang terang
benderang seperti sekarang ini. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada :
1. Bpk Ir. Sukrianto, MA , Selaku dosen pengampu mata kuliah Agroklimatologi
2. Orang tua serta pihak-pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini.
Seperti halnya manusia yang tidak sempurna , penyusunan makalah ini tidak terlepas dari
kesalahan penulisan dan penyajiannya mengingat akan keterbatasan ilmu dan pengalama
yang saya miliki. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini. semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat untuk kita semua. Aamiin .

WassalamualaikumWr. Wb.

Jakarta, Januari 2017

Penyusun

1
2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan dunia pertanian sangat dipengaruhi oleh banyak faktor


termasuk faktor iklim di dalamnya. Bagaimana faktor iklim ini mempengaruhi
keadaan tanah, mempengaruhi Hama tanaman, perkecambahan benih, dan
bagaimana pula fenomena produksi tanaman dan perubahan iklim. Seperti dilihat
dari pengertian agroklimatologi itu sendiri yaitu ilmu yang mempelajari tentang
hubungan antara dunia pertanian dan keadaan iklim atau cuaca, sebaliknya
bagaimana pengaruh iklim atau cuaca terhadap dunia pertanian.

Perkembangan Hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor


iklim. Sehingga tidak heran kalau pada musim hujan dunia pertanian banyak
disibukkan oleh masalah penyakit tanaman seperti penyakit kresek dan blas pada
padi, antraknosa cabai dan sebagainya. Sementara pada musim kemarau banyak
masalah Hama penggerek batang padi, Hama belalang kembara, serta thrips pada
cabai.

Beberapa dekade terakhir ini, dampak dari terjadinya perubahan iklim


sangat dirasakan oleh umat manusia di semua belahan dunia. Dengan kenaikan
suhu rata-rata global yang mencapai 0.8 derajat Celcius, berakibat pada adanya
anomali cuaca yang ekstrem, perubahan pada periode musim, dan perubahan
jumlah curah hujan. Temperatur dan suhu bumi juga mengalami peningkatan.
Demikian pula dengan ancaman terhadap kekeringan, kebakaran hutan dan lahan,
dan banjir, yang polanya sering berubah-ubah dan menjadi sulit sekali diprediksi.

Dampak adanya perubahan iklim juga sangat dirasakan pada sub sektor
perkebunan dan pertanian. Tingkat produktivitas tanaman dan musim tanam mulai
berubah. Hal ini diduga besar akibat aktivitas yang dilakukan manusia setiap
harinya menghasilkan gas rumah kaca (GRK).Perubahan iklim juga dapat dilihat
pada organisme pengganggu tanaman (OPT) yang populasinya kini meningkat
tajam dan tingkat penyebarannya semakin meluas. Populasi organisme
pengganggu tanaman banyak mengalami perubahan. Hal ini diduga kuat akibat
ketidakseimbangan antara organisme pengganggu tanaman dengan tanaman
inangnya

1
1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini adalah sbb :

A. Apakah perubahan iklim global (Kenaikan temperatur atmosfer bumi) berdampak


pada masalah Hama dan penyakit yang ada ?
B. Apa kaitannya masalah hama-penyakit yang terkini di lapangan dengan perubahan
iklim global?
C. Bagaimana cara pengendalian untuk mengantisipasi masalah hama dan penyakit
tumbuhan akibat Perubahan Iklim global yang ekstrem?

1.3 Tujuan

Makalah ini dibuat dengan tujuan sbb :

A. Agar pembaca memahami hubungan faktor-faktor iklim dengan perkembangan


hama/penyakit tanaman
B. Agar pembaca dapat mengetahui hubungan fenomena masalahan hama-dan
penyakit terkini di lapangan dengan perubahan iklim global yang terjadi saat ini.
C. Agar pembaca sebagai petani/pelaku usaha dalam bidang pertanian bisa lebih
mewasapadai akan serangan hama dan penyakit pada tanaman yang disebabkan
oleh Perubahan iklim.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Iklim dan OPT

Iklim adalah peluang statistik keadaan cuaca rata-rata dalam jangka waktu
panjang (30 tahun) pada suatu daerah. Iklim memiliki unsur-unsur yang merupakan
pengubah atmosfer yang dapat dirasakan dan diukur yang sifatnya berubah-ubah
(variatif) dan membentuk suatu iklim di suatu tempat. Adapun unsur-unsur iklim
tersebut meliputi penyinaran matahari, temperatur, kelembaban udara, curah hujan,
awan, evaporasi (penguapan), arah angin dan kecepatan angin, serta tekanan udara
(Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, 2015).
Perubahan iklim adalah kondisi beberapa unsur iklim yang magnitude
dan/atau intensitasnya cenderung berubah atau menyimpang dari dinamika dan
kondisi rata-rata, menuju ke arah (trend) tertentu (meningkat atau menurun).
Penyebab utama perubahan iklim adalah kegiatan manusia (antropogenik) yang
berkaitan dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK) seperti CO2,
methana (CH4), CO2, NO2, dan CFCs (Chlorofluorocarbons) yang mendorong
terjadinya pemanasan global (permukaan suhu bumi meningkat). Dampak
perubahan iklim adalah gangguan atau kondisi kerugian dan keuntungan, baik
secara fisik maupun sosial dan ekonomi yang disebabkan oleh cekaman perubahan
iklim. Adanya perubahan iklim di suatu daerah akan memberikan ancaman yang
serius di berbagai sektor kehidupan terutama pada sektor pertanian.
Pada sektor pertanian salah satu dampak perubahan dari iklim ini akan
berpengaruh terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Organisme
Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak,
mengganggu kehidupan atau menyebabkan kematian tumbuhan. Organisme
Pengganggu Tumbuhan terdiri dari hama dan penyakit pada tumbuhan.
Cuaca/iklim akan berpengaruh terhadap perilaku, perkembangan, populasi dan
penyebaran OPT.
Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas
produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun
perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagimenjadi tiga
yaitu hama, penyakit dan gulma. Hama menimbulkan gangguan tanaman secara
fisik, dapat disebabkan oleh serangga, tungau, vertebrata, moluska. Sedangkan
penyakit menimbulkan gangguan fisiologis pada tanaman, disebabkan oleh
cendawan, bakteri, fitoplasma, virus, viroid,nematoda dan tumbuhan tingkat tinggi.

2.2 Konsep Segitiga Penyakit dan Hama

Konsep segitiga penyakit ini berawal dari Ilmu Penyakit Tumbuhan,


namun juga dapat diterapkan pada bidang ilmu Hama. Pada dasarnya penyakit
hanya dapat terjadi jika ketiga faktor yaitu patogen, inang dan lingkungan

3
mendukung. Inang dalam keadaan rentan, patogen bersifat virulen (daya infeksi
tinggi) dan jumlah yang cukup, serta lingkungan yang mendukung. Lingkungan
berupa komponen lingkungan fisik (suhu, kelembaban, cahaya) maupun biotik
(musuh alami, organisme kompetitor).
Dari konsep tersebut jelas sekali bahwa perubahan salah satu komponen
berpengaruh terhadap intensitas penyakit yang muncul. Pada musim hujan dunia
pertanian banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman sperti penyakit kresek
dan blas pada padi, antraknosa cabai dan sebagainya. Sementara pada musim
kemarau banyak masalah Hama penggerek batang padi, Hama belalang kembara,
serta thrips pada cabai.(Boland et al., 2004)

2.3 Unsur Cuaca - Iklim Terhadap Hama dan Penyakit


A. Suhu
Suhu sebagai salah satu unsur iklim akan berpengaruh terhadap sebaran geografik
spesies tertentu, seperti halnya serangga berdarah dingin akan lebih cepat menyelesaikan
stadia hidupnya di daerah panas dibandingkan daerah dingin.Menurut Mavi dan Tupper
(2004), aktivitas serangga akan lebih cepat dan efisien pada suhu tinggi, tapi akan
mengurangi lama hidup serangga. Pada beberapa serangga, suhu tinggi akan menghambat
metabolisme atau mengakibatkan kematian (speight et al, 2008).
B. Kelembaban Udara
Unsur iklim selanjutnya adalah kelembaban, kelembaban adalah
konsentrasi uap air di udara. Kelembaban berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
perkembangan hama dan penyakit pada tumbuhan. Hal ini terjadi karena, kondisi
kelembaban pada nilai tertentu merupakan nilai yang optimal bagi pertumbuhan
dan perkembangan hama dan penyakit tanaman. Contohnya adalah hama
penggerek batang jagung (Ostrinia nubialis) akan tumbuh pada RH optimum 76
85 % dan suhu 27,20C. Selain itu juga dengan tingginya tingkat kelembaban maka
akan meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan jamur yang akan
menyebabkan penyakit pada tanaman. Misalnya jamur Phytoptora, sp yang akan
mengakibatkan penyakit busuk buah.
C. Angin
Angin dapat berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap OPT
pada tanaman. Pengaruh tidak langsung melalui kelembaban dan embun yang dihasilkan
dari bantuan angin, karena angin akan berpengaruh terhadap tingkat kelambaban di suatu
daerah. Pengaruh langsung, angin berperan sebagai penyebar spora pada serangga vektor
penyakit, selain itu juga pelukaan pada bagian tanaman yang disebabkan oleh angin
misalnya pada bagian daun akan berperan pada masuknya bakteri jahat pada daun dan
sistem jaringan tanaman sehingga tanaman akan lebih mudah terserang penyakit.
D. Curah hujan
Curah hujan sangat berpengaruh terhadap siklus hidup OPT. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Sudarwadi, dkk (2012) tentang fluktuasi populasi
kutu daun (Toxoptera citricidus) pada tanaman jeruk siam diketahui bahwa curah
hujan sangat mempengaruhi populasi dari kutu daun. Dilaporkan bahwa serangga

4
berukuran kecil seperti kutu daun yang hidup di bagian pucuk tanaman sangat
rentan terhadap terpaan air hujan. Akibat terpaan air hujan diduga sebagian kutu
daun yang jatuh tidak dapat kembali lagi ke tanaman. Populasi kutu daun
meningkat pada musim kemarau dan berkurang pada musim hujan. Curah hujan
yang tinggi dapat mengakibatkan kematian langsung pada serangga. Selain curah
hujan, suhu dan kelembaban juga berpengaruh terhadap perkembangan populasi
kutu daun.

2.4 Pengaruh Faktor Iklim terhadap Hama


Hama seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh
faktor-faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung.
A. Pengaruh Langsung
Temperatur, kelembaban udara relatif dan fotoperiodisitas berpengaruh
langsung terhadap siklus hidup, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga.
Sebagai contoh Hama kutu kebul (Bemisia tabaci) mempunyai suhu optimum
32.5 C untuk pertumbuhan nya Contoh yang lain adalah pertumbuhan populasi
penggerek batang padi putih berbeda antara musim kemarau dan musim hujan,
sementara itu panjang hari berpengaruh terhadap diapause serangga penggerek
batang padi putih (Scirpophaga innotata) di Jawa (Triwidodo, 1993).
Umumnya serangga-serangga Hama yang kecil seperti kutu-kutuan menjadi
masalah pada musim kemarau atau rumah kaca karena tidak ada terpaan air hujan.
Pada percobaan dalam ruang terkontrol peningkatan kadar CO2 pada selang 389-
749l/L meningkatkan reproduksi tungau Tetranychus urticae (Heagle et al., 2002)
Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) virus kuning (gemini virus) dan
penyakit keriting pada tanaman cabai penyebarannya juga dipengaruhi oleh kondisi
cuaca dan iklim. Virus kuning (gemini virus) akan menyebabkan daun menguning
dan sedikitnya produksi buah. Epidemi penyakit ini salah satunya ditentukan oleh
dinamika populasi serangga vektor, yaitu kutu kebul (Bemisia tabaci). Suhu yang
tinggi dan kemarau yang panjang mendukung perkembangan kutu kebul. Salah
satu penyebab atau vektor penyebar penyakit keriting pada tanaman cabai adalah
hama Thrips, sp. Thrips, sp berkembang pada musim kemarau dan bisa meledak
populasinya bila kemarau makin kering dan suhu rata-rata makin panas.

B. Pengaruh tidak langsung


Pengaruh tidak langsung faktor iklim terhadap vigor dan fisiologi tanaman
inang, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap Hama.
Temperatur berpengaruh terhadap sintesis senyawa metabolit sekunder seperti
alkaloid, falvonoid yang berpengaruh terhadap ketahannannya terhadap Hama.
Pengaruh tidak langsungnya adalah kaitannya dengan musuh alami Hama baik
predator, parasitoid dan patogen. Sebagai contoh adalah perkembangan populasi
ulat bawang Spodoptera exigua pada bawang merah lebih tinggi pada musim
kemarau, selain karena laju pertumbuhan intrinsik juga disebabkan olehtingkat
parasitasi dan tingkat infeksi patogen yang rendah (Hikmah, 1997).

5
Secara umum, pengaruh perubahan iklim dapat dilihat dari tanaman yang
mengalami tekanan atau stres karena perubahan iklim lebih rentan terhadap
serangan organisme pengganggu tanaman. Dampak lainnya adalah serangan hama
dan mikroba termofilik lebih diuntungkan dengan makin panjangnya musim panas
atau kemarau dan meningkatnya temperatur. Di sisi lainnya, organisme yang saat
ini bukan sebagai organisme pengganggu tanaman, suatu saat dapat menjadi
organisme pengganggu tanaman yang bisa terekspansi ke wilayah lain. Perubahan
iklim sangat mengganggu keseimbangan antara populasi serangga ama (musuh
alami tanaman), dan tanaman inangnya.
Dampak paling penting dari perubahan iklim terhadap populasi serangga
hama adalah adanya gangguan sinkronisasi antara tanaman inang dan
perkembangan serangga hama terutama pada musim penghujan atau musim dingin.
Sementara itu, adanya peningkatan temperatur akan mendukung perkembangan
serangga Hama dan daya tahan hidupnya pada musim penghujan atau musim
dingin. Temperatur yang meningkat dapat juga mengakibatkan serangga hama
menjadi jenuh hidup di belahan selatan bumi dan dapat melakukan invasi ke
belahan utara bumi.
Meningkatnya kadar CO2 di udara dapat menurunkan kualitas pakan
serangga pemakan tumbuhan sebagai akibat dari meningkatnya kadar nitrogen
pada daun tanaman. Sedangkan pada musim kemarau atau musim panas
(meningkatnya temperatur) akan menguntungkan golongan patogen itemofilik
(golongan parasit yang mampu menimbulkan penyakit pada inangnya).
Pada tanaman eksotis (impor dari daerah/negara lain) dapat memperburuk
pengaruh perubahan iklim terhadap serangan hama. Hal ini akibat tanaman tersebut
tidak mampu beradaptasi secara alami pada habitat bukan aslinya. Juga karena
tidak adanya tanaman alami setempat yang mampu menekan populasi organisme
pengganggu tanaman asing yang masuk ke wilayah tersebut. Akibat meningkatnya
temperatur udara, distribusi geografis serangga vektor patogen penyakit tumbuhan
berpotensi menjadi meluas sehingga menambah jumlah individu serangga
penyerang tumbuhan. Meningkatnya temperatur juga meningkatkan serangan
jamur penyebab penyakit busuk akar dan pangkal batang pada tanaman berdaun
lebar seperti tanaman kakao dan tanaman tembakau.
Saat musim dingin atau musim penghujan yang lebih hangat dapat
berdampak pada meningkatnya serangan jamur patogen yang semula hanya
dianggap sebagai penyakit minor. Sedangkan pada musim kering atau musim
panas, sangat berpotensi meningkatkan serangan jamur penyebab penyakit yang
sangat tergantung pada tekanan atau stres yang dialami oleh inangnya, seperti
jamur patogen yang menyerang akar tanaman. Berkurangnya hari hujan
diperkirakan juga dapat menurunkan serangan jamur patogen yang menyerang
daun. Efek perlindungan mikroba terhadap penyakit akar dapat dipengaruhi oleh
perubahan suhu atau kelembaban tanah.

2.5 Cara Pencegahan OPT

6
Cara pengendalian OPT untuk mencegah hama dan penyakit menyerang
tanaman cabai dimulai dari penyiapan lahan yang sehat, yaitu pengolahan tanah
awal sekaligus sanitasi gulma; bila pH tanah rendah < 6, maka tambahkan kapur
pertanian ; menambahkan Trichoderma, sp dan Pseudomonas flourescens untuk
mengendalikan patogen tular tanah seperti layu fusarium dan layu bakteri pada saat
pengolahan tanah terakhir sebelum membuat lubang tanaman. Pada saat
persemaian menggunakan bibit benih unggul bermutu; sebelum disemai bibit
direndam dengan menggunakan PGPR (Plant Growth promoting Rhizobacteria)
selama 6 12 jam dosis 10 20 ml PGPR per liter air; pengerodongan persemaian
untuk pencegahan vektor virus kuning; dan memasang perangkap likat kuning di
pembibitan/persemaian sebagai deteksi awal keberadaan kutu kebul.
Untuk mengendalikan OPT penyakit virus kuning (gemini virus) dapat
dilakukan secara kultur teknis, fisik/mekanik, dan biologi. Secara kultur teknis
dapat menggunakan tanaman pembatas, seperti jagung; menggunakan mulsa
plastik hitam perak; PGPR 20 cc/liter air; pupuk kandang/kompos; dan sanitasi
lahan. Secara fisik/mekanik dengan menggunakan perangkap likat kuning. Secara
biologis dengan menggunakan pestisida nabati yaitu daun sirsak, daun tembakau
dan enceng gondok. Pengendalian OPT layu fusarium dapat dilakukan secara
kultur teknis dan biologi. Secara kultur teknis dengan pergiliran tanaman dan
pengaturan drainase, sedangkan secara biologi dengan menggunakan agens hayati
Trichoderma, sp.
Untuk mengendalikan OPT hama kutu kebul dapat dilakukan secara kutur
teknis, fisik/mekanik, dan biologi. Secara kultur teknis dengan menggunakan
tanaman pembatas seperti jagung dan orok-orok serta dengan cara tumpang sari
dengan tagetes. Secara fisik/mekanik dengan sanitasi lingkungan/gulma; erdiksi
pada tanaman yang sakit; dan dengan menggunakan perangkap likat kuning.
Secara biologi dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati seperti daun
sorsak, daun tembakau, dan daun nimba. Untuk mengendalikan hama thrips dapat
dilakukan dengan menggunakan mulsa plastik, sanitasi lahan, menggunakan
perangkat likat biru dan kuning; serta memanfaatkan musuh alami yaitu kumbang
Coccinellidae.
Dengan mengetahui tentang pengaruh dampak perubahan iklim terhadap
organisme pengganggu tumbuhan (OPT) maka diharapkan petani sebagai pelaku
usaha dalam bidang pertanian bisa lebih mewasapadai akan serangan hama dan
penyakit pada tanaman hortikultura terutama pada musim kemarau saat ini
sehingga ada tindakan pencegahan yang dilakukan untuk mengurangi peningkatan
perkembangan dan pertumbuhan hama dan penyakit pada tumbuhan.

7
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan sbb :


A. Dari konsep segitiga penyakit tampak jelas bahwa iklim sebagai faktor lingkungan
fisik sangat berpengaruh terhadap proses timbulnya penyakit.
B. Unsur cuaca-iklim seperti : suhu, kelembaban, angin dan curah hujan berpengaruh
secara langsung maupun tidak langsung terhadap penyebaran OPT
C. Perubahan iklim sangat mengganggu keseimbangan antara populasi serangga hama
(musuh alami tanaman), dan tanaman inangnya.
D. Penting bagi petani untuk mengetahui tentang pengaruh dampak perubahan iklim
terhadap organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan mewasapadai serangan
hama dan penyakit pada tanaman sehingga dapat dilakukan pencegahan untuk
mengurangi peningkatan perkembangan hama dan penyakit

3.2 Saran

Penulis menyadari betul bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini
masih terdapat banyak kekurangan, baik dalam isi maupun penulisan. Kekurangan-
kekurangan tersebut disebabkan oleh kelemahan dan keterbatasan pengetahuan
serta kemampuan penulis, baik disadari maupun tidak. Karena belum sempurnanya
makalah ini, penulis menyarankan agar pembaca dapat mencari materi, sumber dan
referensi lain untuk menyempurnakan makalah ini.

8
DAFTAR PUSTAKA

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. 2015. Prakiraan Musim Kemarau 2015
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pangkalpinang.
Melalui http://distan.babelprov.go.id/dampak-perubahan-iklim-dpi-terhadap-organisme-
pengganggu-tumbuhan-opt-pada-tanaman-hortikultura-komoditi-cabai/ diakses tanggal 16
Januari 2017

Boland, G.J. et al.2004. Climate change and plant diseases in Ontario. Can. J. Plant
Pathol
melalui http://forester-untad.blogspot.co.id/2013/11/klimatologi-pengaruh-iklim-
terhadap.html di akses tanggal 17 Januari 2017

Bonaro, O.,et al.2007. Modelling temperature-dependent bionomics of Bemisia tabaci (Q-


biotype). Physiological Entomology
melalui http://forester-untad.blogspot.co.id/2013/11/klimatologi-pengaruh-iklim-
terhadap.html di akses tanggal 17 Januari 2017

Hikmah, Y. 1997. Tingkat parasitasi larva Spodoptera exiguapada musim hujan dan
musim kemarau. Skripsi. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanaian IPB.

Kalshoven, LGE. 1981. Pests of Crops in Indonesia. PT Ichtiar Baru-van Hoeve. Jakarta

Mavi HS dan Tupper GJ. 2004. Agrometeorology Principles and Applications of Climate
Studies in Agriculture. New York. Food Products Press.

Nastari Bogor dan Klinik Tanaman IPB. 2007. Laporan Safari Gotong Royong Sambung
Keperluan untuk Petani Indonesia di 24 Kabupaten-Kota di Pulau Jawa 4 April-2 Mei
2007.Yayasan Nastari Bogor- Klinik Tanaman IPB

Speight, M.R., Hunter, M.D., dan Watt, A.D. 2008. Ecology of Insects: Consepts and
Application. Britain: The Alden Press

Triwidodo, H. 1993. Bioecology of White Stem Borer of Rice in Indonesia. Ph D Thesis.


University of Wisconsin

UPTD Balai Proteksi Tanaman Provinis Kepulauan Bangka Belitung. 2015. Model
Pengelolaan OPT Hortikultura pada Tanaman Cabai, Bawang Merah, dan Jeruk.
Pangkalpinang