Anda di halaman 1dari 7

1. Bagaimana cara pembuatan curcumin kapsul ?

Apa saja hal-hal yang harus


diperhatikan dalam pembuatan kapsul?
2. Jelaskan epidemiologi penggunaan obat herbal !
3. Apa kategori obat curcumin?
Jawaban
1. Kapsul dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan padat, dimana satu macam
bahan obat atau lebih dimasukkan ke dalam cangkang atau wadah kecil yang
umumnya dibuat dari gelatin yang sesuai. Kapsul menjadi bentuk takaran obat
yang populer karena lebih praktis dan memberikan penyalutan obat yang
halus, licin, mudah ditelan, dan tidak memiliki rasa, terutama menguntungkan
untuk obat-obatan yang mempunyai rasa dan bau yang tidak enak.
Kapsul secara ekonomis diproduksi dalam jumlah besar dengan aneka warna,
dan biasanya memudahkan penyiapan obat di dalamnya, karena hanya
memerlukan sedikit bahan pengisi dan tekanan untuk pemampatan bahan.
Kapsul tidak digunakan untuk bahan-bahan yang sangat mudah larut seperti
kalium klorida, kalium bromida, atau amonium klorida, karena kelarutan
mendadak dari senyawa-senyawa tersebut dalam lambung dapat
mengakibatkan konsentrasi yang menimbulkan iritasi. Kapsul tidak boleh
digunakan untuk bahan-bahan yang sangat mudah mencair dan sangat mudah
menguap. Bahan yang mudah mencair dapat memperlunak kapsul, sedangkan
yang mudah menguap akan mengeringkan kapsul dan menyebabkan
kerapuhan.
Pengolahan Temulawak Kapsul
Temulawak yang dikemas dalam sediaan kapsul mempunyai keuntungan
tersendiri bagi pengkonsumsinya, antara lain dapat menutupi rasa dan bau
temulawak yang tidak enak, memudahkan pengkonsumsian dibandingkan
dengan temulawak dalam bentuk serbuk karena dapat langsung diminum
tanpa persiapan lainnya, dan dapat mempercepat penyerapan dalam tubuh
dibandingkan dengan pil atau tablet. Pengolahan temulawak menjadi sediaan
kapsul dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:
1. Persiapan bahan baku

1
Rimpang temulawak yang digunakan dipilih yang mempunyai kualitas
tinggi, yaitu memenuhi persyaratan mutu seperti penampilan bagus, tidak
busuk, tidak kisut, segar atau belum terlalu lama disimpan, cukup tua dan
bersih dari kotoran.
2. Persiapan peralatan
Peralatan yang dibutuhkan untuk membuat temulawak kapsul antara lain:
pisau, oven, parutan, penyaring, kompor, wajan, pengaduk, pengayak,
kapsul, papan kapsul, kemasan dan label.
3. Proses pengolahan
Tahapan pengolahan temulawak kapsul adalah sebagai berikut:
a) Rimpang temulawak segar yang sudah disortir kemudian dikupas
kulitnya dan dipotong-potong dengan ketebalan sekitar 1 cm.
b) Temulawak yang sudah dipotong kemudian dijemur di bawah sinar
matahari hingga benar-benar kering.
c) Temulawak yang sudah kering kemudian disortir untuk memisahkan
temulawak yang tidak layak produksi, seperti kotor dan berjamur.
d) Temulawak dimasukkan ke dalam oven dengan temperatur 120 C
selama sekitar 10 menit.
e) Setelah pengovenan selesai, rimpang temulawak dikeluarkan dari dalam
oven dan didiamkan sampai dingin.
f) Rimpang temulawak yang sudah dingin kemudian diblender hingga
benar-benar halus.
g) Setelah diblender, temulawak kemudian dimasukkan ke dalam ayakan
dan diayak sampai menghasilkan serbuk yang halus.
h) Pengemasan temulawak ke dalam kapsul dapat dilakukan dengan dua
cara. Cara yang pertama adalah cara manual, dilakukan dengan menekan-
nekan cangkang kapsul ke wadah yang telah berisi serbuk temulawak
sampai benar-benar padat dan penuh. Cara yang kedua adalah dengan
menggunakan papan kapsul. Cangkang-cangkang kapsul yang sudah
terpisah dari kepala kapsul dimasukkan kedalam papan kapsul. Kemudian

2
serbuk temulawak dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam cangkang
kapsul sampai penuh.
i) Cangkang kapsul disatukan dengan kepala kapsul yang sudah diisi
dengan sedikit serbuk temulawak. Sisa-sisa serbuk yang masih tersisa
dibersihkan dan kapsul temulawak siap dikemas.
Sumber:
Laili, U. (2013). Pengaruh pemberian temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb)
dalam bentuk kapsul terhadap kadar SGPT ( Serum Glutamat Piruvat
Transaminase ) dan SGOT ( Serum Glutamat OksaloasetatTransaminase )
pada orang sehat. (SKRIPSI). Viewed on 27 December 2016,
from:http//www.eprints.uny.ac.id

2. Penggunaan obat tradisional di Indonesia sudah berlangsung sejak ribuan


tahun yang lalu, sebelum obat modern ditemukan dan dipasarkan. Hal itu
tercermin antara lain pada lukisan di relief Candi Borobudur dan resep
tanaman obat yang ditulis dari tahun 991 sampai 1016 pada daun lontardi Bali.
Indonesia yang beriklim tropis merupakan negara dengan keanekaragaman
hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Indonesia memiliki sekitar
25.000-30.000 spesies tanaman yang merupakan 80% dari jenis tanaman di
dunia dan 90 % dari jenis tanaman di Asia. Hasil inventarisasi yang dilakukan
PT Eisai pada 1986 mendapatkan sekitar tujuh ribu spesies tanaman di
Indonesia digunakan masyarakat sebagai obat, khususnya oleh industri jamu
dan yang didaftarkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
Republik Indonesia berjumlah 283 spesies tanaman. Senarai tumbuhan obat
Indonesia yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia
pada tahun 1986 mendokumentasi 940 tanaman obat dan jumlah tersebut tidak
termasuk tanaman obat yang telah punah atau langka dan mungkin ada pula
tanaman obat yang belum dicantumkan Dalam dekade belakangan ini di
tengah banyaknya jenis obat modern di pasaran dan munculnya berbagai jenis
obat modern yang baru, terdapat kecenderungan global untuk kembali ke alam
(back to nature). Faktor yang mendorong masyarakat untuk mendayagunakan

3
obat bahan alam antara lain mahalnya harga obat modern/sintetis dan
banyaknya efek samping. Selain itu faktor promosi melalui media masa juga
ikut berperan dalam meningkatkan penggunaan obat bahan alam. Oleh karena
itu obat bahan alam menjadi semakin populer dan penggunaannya meningkat
tidak saja di negara sedang berkembang seperti Indonesia, tetapi juga pada
negara maju misalnya Jerman dan Amerika Serikat. Tahun 2000 pasar dunia
untuk obat herbal termasuk bahan baku mencapai 43 000 juta dolar Amerika.
Penjualan obat herbal meningkat dua kali lipat antara tahun 1991 dan 1994,
dan antara 1994 dan 1998 di Amerika Serikat. Di Indonesia menurut survei
nasional tahun 2000, didapatkan 15,6% masyarakat menggunakan obat
tradisional untuk pengobatan sendiri dan jumlah tersebut meningkat menjadi
31,7 % pada tahun 2001. Jenis obat tradisional yang digunakan dapat berupa
obat tradisional buatan sendiri, jamu gendong maupun obat tradisional industri
pabrik.
Di negara-negara sedang berkembang, sebagian besar penduduknya masih
terus menggunakan obat tradisional, terutama untuk pemenuhan kebutuhan
kesehatan dasarnya. Menurut resolusi Promoting the Role of Traditional
Medicine in Health System: Strategy for the African Region, sekitar 80%
masyarakat di negaranegara anggota WHO (World Health Organization) di
Afrika menggunakan obat tradisional untuk keperluan kesehatan. Beberapa
negara Afrika melakukan pelatihan obat tradisional kepada farmasis, dokter
dan para medik. Demikian pula penggunaan obat tradisional di Asia, terus
meningkat meskipun banyak tersedia dan beredar obat-obat entitas kimia. Di
RRC (Republik Rakyat China), penggunaan obat tradisional mencapai 90%
penduduk di Jepang 60 sampai dengan 70% dokter meresepkan obat tradional
kampo untuk pasien mereka. Di Malaysia, obat tradisional Melayu, TCM
dan obat tradisional India digunakan secara luas oleh masyarakatnya.
Sementara itu, Kantor Regional WHO wilayah Amerika (AMOR/PAHO)
melaporkan 71% penduduk Chile dan 40% penduduk Kolombia menggunakan
obat tradisional. Di negara-negara maju, penggunaan obat tradisional tertentu
sangat populer. Beberapa sumber menyebutkan penggunaan obat tradisional

4
oleh penduduk di Perancis mencapai 49%, Kanada 70%, Inggris 40% dan
Amerika Serikat 42%.
Sumber:
Kementrian perdagangan RI. (2014). Obat herbal Indonesia. Ditjen
PEN/MJL/005/9/2014 September. Viewed on 27 December 2016,
from:http//www. djpen.kemendag.go.id/

Dewoto, H. (2007). Pengembangan obat tradisional di Indonesia menjadi


fitofarmaka. Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007. Viewed on
20 December 2016, from:http//www.server2.docfoc.us

3. Kunyit: Curcuma domestica Val.


Sinonim : C.longa Linn., Turmerik
Suku : Zingiberaceae
Gambar 4. Kunyit
a. Nama daerah
Rimpang kunyit, koneng, kunir, konyet, kunir bentis, temu koneng, temu
kuning, guraci.
b. Bagian yang digunakan
Rimpang
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Semak tinggi 70 cm, batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang,
berwarna hijau kekuningan. Daun tunggal membentuk lanset memanjang.
Helai daun 3-8, ujung dan pangkal daun runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm,
lebar 8-12 cm. Pertulangan daun menyirip, daun berwarna hijau pucat. Bunga
majemuk berambut bersisik. Panjang tangkai 16-40 cm. panjang mahkota 3
cm, lebar 1 cm, berwarna kuning. Kelopak silindris, bercangap 3, tipis dan
berwarna ungu. Pangkal daun pelindung putih. Akar serabut berwarna coklat
muda. Rimpang warna kuning jingga, kuning jingga kemerahan sampai
kuning jingga kecoklatan.
d. Kandungan kimia
Kurkuminoid yaitu campuran dari kurkumin (diferuloilmetan),
monodeksmetoksikurkumin dan bisdesmetoksikurkumin. Struktur fenolnya
memungkinkan untuk menghilangkan radikal bebas. Minyak atsiri 5,8%
terdiri dari a-felandren 1%, sabinen 0,6%, sineol 1%, borneol 0,5%,
zingiberen 25%, dan seskuiterpen 53%. Mono- dan seskuiterpen termasuk
zingiberen, kurkumen, - dan - turmeron.
e. Data Keamanan
LD50 ekstrak etanol pada mencit per oral: > 15 g/kg BB. Monyet diberi 0,8
mg/kg BB kurkumin/hari dan tikus 1,8 mg/kg BB/hari selama 90 hari tidak

5
menunjukkan efek samping. In vitro tidak bersifat mutagenik. Per oral pada
tikus dan mencit tidak teratogenik. FDA mengklasifikasikan sebagai GRAS
(Generally Recognized as Safe). Tidak ada efek samping pada pasien artritis
rematoid yang diberi 1200 mg/hari kurkumin selama 2 minggu. Tidak ada efek
toksik setelah pemberian oral 2,2 g kunyit (setara 180 mg kurkumin)/hari
selama 4 bulan.
f. Data manfaat
1) Uji praklinik:
Pemberian ekstrak Curcuma longa (kunyit) 200 mg/kg BB pada tikus
menunjukkan aktivitas antihiperkolesterolemia, menurunkan LDL tanpa
mempengaruhi HDL. Ekstrak etanol rimpang kering dosis 30 mg/kg BB
diberikan intragastrik pada tikus setiap 6 jam selama 48 jam, memperlihatkan
aktivitas antihiperkolesterolemia.
Kelinci yang dibuat aterosklerosis yang diberi diet tinggi kolesterol dan
ekstrak C. longa menunjukkan efek antioksidan yang positif dibanding
kelompok kontrol. Kurkumin memobilisasi -tokoferol dari jaringan lemak,
sehingga melindungi dari kerusakan oksidatif yang diproduksi selama
pembentukan aterosklerosis.
Kurkumin meningkatkan transpor kolesterol LDL & VLDL dalam plasma,
sehingga meningkatkan kadar - tokoferol.
Mekanisme kerja :
kandungan kurkumin meningkatkan aktivitas kolesterol-7-hidroksilase dan
meningkatkan katabolisme kolesterol. Pada jaringan dan mikrosom hati tikus,
kandungan demethoxycurcumin, bisdemethoxycurcumin, dan acetylcurcumin
menghambat lipid peroksidase.
2) Uji klinik:
Uji acak terkontrol terhadap subyek DM tipe-2 menunjukkan pemberian
kapsul yang mengandung kombinasi ekstrak C. longa (200 mg/kapsul) dan
bawang putih (200 mg/kapsul) dengan dosis 2,4 g per hari selama 12 minggu
menunjukkan perbaikan profil lipid (penurunan kolesterol total, LDL,
trigliserid), penurunan glukosa darah puasa dan penurunan kadar HbA1C.
Sebanyak 10 sukarelawan sehat yang diberi 500 mg curcumin selama 7 hari
menghasilkan penurunan bermakna kadar lipid peroksida serum (33%) dan
peningkatan HDL kolesterol (29%) serta penurunan kadar serum kolesterol
total (12%).
g. Indikasi
Dislipidemia, hiperkolesterolemia (Grade C)
h. Kontraindikasi
Obstruksi saluran empedu, kolesistitis. Hipersensitivitas terhadap komponen
kunyit, gagal ginjal akut, anak < 12
tahun.
i. Peringatan
Hati-hati pada pasien dengan batu empedu, sebaiknya konsul ke dokter ahli
penyakit dalam. Hati-hati penggunaan pada kehamilan dan masa menyusui
karena belum ada data keamanannya.
j. Efek Samping

6
Mual
k. Interaksi
Dapat meningkatkan aktivitas obat antikoagulan, antiplatelet, trombolitik,
sehingga meningkatkan risiko perdarahan. Interaksi kurkumin dengan herbal
yang lain:
orang sehat diberi 2 g kurkumin dikombinasi dengan 20 mg piperin,
bioavailabilitas kurkumin meningkat 20 kali.
l. Posologi
2 x 1 tablet (200 mg ekstrak)/hari ac.
Sumber:
Kemenkes RI. (2016). Peraturan menteri kesehatan republic Indonesia nomor 6
tahun 2016 tentang formularium obat herba asli Indonesia. Viewed on 27
December 2016, from:http//www. http://hukor.depkes.go.id/