Anda di halaman 1dari 2

Sistem Saraf Perifer: Divisi Aferen; Indera

Reseptor
Reseptor adalah ujung perifer khusus neuron-neuron aferen; reseptor berespons terhadap rangsangan
tertentu, mengubah bentuk-bentuk energi rangsangan menjadi sinyal listrik, bahasa sistem saraf. Terdapat
jalur-jalur tersendiri yang berlabel dari reseptor-reseptor ke SSP, sehingga informasi mengenai jenis dan
lokasi rangsangan dapat dipecahkan oleh SSP, walaupun semua informasi datang dalam bentuk potensial
aksi. Namun, apa yang dipersepsikan oleh otak dari berbagai masukan tersebut adalah suatu abstraksi dan
bukan realitas. Satu-satunya rangsangan yang dapat dideteksi adalah rangsangan yang ada reseptornya.
Selain itu, sewaktu sinyal-sinyal sensorik naik melalui pengolahan yang semakin lama semakin
kompleks, sebagian informasi mungkin ditekan, sementara bagian-bagian lain mungkin diperkuat.
Stimulasi suatu reseptor menghasilkan potensial reseptor berjenjang. Kekuatan dan kecepatan perubahan
rangsangan tercemin dalam besarnya potensial reseptor, yang pada gilirannya menentukan frekuensi
potensial aksi yang terbentuk di neuron aferen. Besar potensial reseptor juga dipengaruhi oleh tingkat
adaptasi reseptor, yang mengacu pada penurunan potensial reseptor walaupun rangsangan terus berlanjut.
Reseptor tonik beradaptasi secara lambat atau tidak sama sekali, sehingga terus memberikan informasi
mengenai rangsangan yang mereka pantau. Reseptor fasik beradaptasi secara cepat dan sering
memperlihatkan off-response, sehingga memberikan informasi mengenai perubahan dalam bentuk energi
yang mereka pantau.
Nyeri Pengalaman rasa nyeri ditimbulkan oleh rangsangan mekanis, termal, atau kimiawi yang
mengganggu dan terdiri dari dua komponen: persepsi nyeri disertai oleh respons perilaku dan emosi
terhadapnya. Sinyal nyeri disalurkan melalui dua jalur aferen: jalur cepat yang membawa sinyal nyeri
yang tajam dan menusuk serta jalur lambat yang membawa sinyal nyeri yang tumpul dan menetap. Serat-
serat nyeri aferen berakhir di korda spinalis pada jalur-jalur asendens yang menyalurkan sinyal ke otak
untuk diolah. Jalur-jalur desendens dari otak menggunakan opiat endogen untuk menekan pengeluaran
substansi P, neurotransmiter dari ujung serat nyeri aferen. Dengan demikian, jalur-jalur descendens ini
menghambat transmisi sinyal nyeri lebih lanjut dan berfungsi sebagai sistem analgesik built-in.
Mata: Penglihatan
Mata adalah struktur khusus tempat reseptor-reseptor peka cahaya yang penting untuk persepsi
penglihatan, yaitu: sel kerucut dan sel batang ditemukan di lapisan retina. Iris mengontrol ukuran pupil
dan mengatur jumlah cahaya yang diperbolehkan masuk ke mata. Kornea dan lensa adalah struktur
refraktif utama yang membelokkan berkas cahaya masuk agar bayangan terfokus di retina. Kornea
merupakan penentu utama kemampuan refraktif mata. Kekuatan lensa dapat diubah-ubah melalui kerja
otot siliaris agar mata dapat berakomodasi untuk penglihatan jauh atau dekat. Sel batang dan kerucut
diaktifkan apabila fotopigmen yang mereka miliki menyerap berbagai panjang gelombang cahaya.
Penyerapan cahaya menyebabkan perubahan biokimiawi pada fotopigmen yang akhirnya dikonversikan
menjadi perubahan kecepatan perambatan potensial aksi di jalur penglihatan yang meninggalkan retina.
Pesan visual disalurkan ke korteks penglihatan di otak untuk pengolahan perseptual. Sel kerucut
memperlihatkan ketajaman yang tinggi, tetapi hanya dapat digunakan untuk penglihatan di siang har,
karena memiliki kepekaan yang rendah terhadap cahaya. Penglihatan warna ditumbulkan oleh bermacam-
macam rasio stimulasi terhadap ketiga jenis sel kerucut oleh berbagai panjang gelombang cahaya. Sel
batang menghasilkan penglihatan yang samar berupa rona abu-abu, tetapi Karena sangat peka terhadap
cahaya, sel-sel batang dapat digunakan untuk melihat pada malam hari.
Telinga: Pendengaran dan Keseimbangan
Telinga melaksanakan dua fungsi yang berbeda: (1) mendengar, yang melibatkan telinga luar, telinga
tengah, dan koklea telinga dalam, dan (2) sensasi keseimbangan, yang melibatkan aparatus vestibularis
telinga dalam. Berlainan dengan fotoreseptor mata, reseptor telinga terletak di telinga dalam (sel-sel
rambut di koklea dan aparatus vestibularis) adalah mekanoreseptor. Pendengaran bergantung pada
kemampuan telinga untuk merubah gelombang suara di udara menjadi deformasi mekanis sel-sel rambut
reseptif yang kemudian mengawali sinyal listrik. Gelombang suara terdiri dari daerah-daerah
pemampatan (kompresi) molekul udara bertekanan tinggi berselang-seling dengan daerah-daerah
penjalaran molekul udara yang bertekanan rendah. Nada suara ditentukan oleh frekuensi gelombang dan
kekerasan (intensitas) oleh amplitudo gelombang. Gelombang suara disalurkan melalui saluran telinga
luar ke membrana timpani, yang bergetar secara sinkron dengan gelombang suara tersebut. Tulang-tulang
telinga tengah yang menjembatani celah antara membrana timpani dan telinga dalam memperkuat
gerakan membrana timpani dan menyalurkannya ke jendela oval, yang gerakannya menyebabkan
timbulnya gelombang berjalan dalam cairan koklea. Gelombang ini, yang berfrekuensi sama dengan
gelombang suara semula, menyebabkan membrana basilaris bergetar. Berbagai bagian dari membrana ini
secara selektif bergetar lebih kuat sebagai respons terhadap frekuensi suara tertentu. Di atas membrana
basilaris terletak sel-sel rambut reseptif organ Corti, yang rambut-rambutnya menekuk saat membrana
basilaris bergerak naik-turun dalam kaitannya dengan membrana tektorial yang stasioner tempat rambut
spesifik di daerah membrana basilaris dengan getaran maksimum itu diubah menjadi sinyal listrik yang
disalurkan ke korteks pendengaran di otak untuk persepsi suara. Aparatus vestibularis di telinga dalam
terdiri dari (1) kanalis semisirkularis, yang mendeteksi akselerasi atau deselerasi rotasional dalam segala
arah, dan (2) utrikulus dan sakulus, yang mendeteksi perubahan kecepatan gerakan linier dalam segala
arah serta memberi informasi yang penting untuk menentukan posisi kepala sehubungan dengan gravitasi.
Terbentuknya sinyal-sinyal listrik sebagai respons terhadap deformasi spesifik cairan dan struktur-struktur
terkait di dalam organ indera ini. Informasi ini penting untuk sensasi keseimbangan dan untuk
mempertahankan postur.

Indera Kimiawi: Pengecap dan Penghidu


Pengecap dan penghidu (penciuman) adalah indera kimiawi. Pada keduanya, perlekatan molekul larut
tertentu ke tempat pengikatan membran reseptor menyebabkan potensial reseptor, yang pada gilirannya,
menimbulkan impuls saraf yang memberi sinyal adanya zat kimia yang bersangkutan. Reseptor
pengecapan terletak di papil pengecap di lidah; reseptor penghidu terletak di mukosa di bagian atas
rongga hidung. Kedua jalur sensorik memiliki dua rute: satu ke sistem limbik untuk pengolahan
emosional dan perilaku dan satu lagi ke korteks melalui talamus untuk persepsi sadar dan diskriminasi
halus. Reseptor pengecapan dan penghidu terus menerus diperbarui, tidak seperti reseptor penglihatan dan
pendengaran, yang tidak dapat digantikan.