Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I

PERDARAHAN DI USIA KEHAMILAN MUDA

1. Definisi

Perdarahan di usia kehamilan muda yaitu di usia kehamilan 20


minggu, sering dikaitkan dengan adanya abortus, misscarriage, early
pregnancy loss. Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sebagai batasan ialah
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram
(Berghella,2012).

Abortus terjadi pada trimester 1 apabila konsepsi keluar di usia


kehamilan <14 minggu, abortus dibagi menjadi 2 yaitu diawal trimester 1
jika hasil konsepsi keluar di antara usia kehamilan 1-9 minggu dan di akhir
trimester 1 jika hasil konsepsi keluar di antara usia kehamilan 10-13
minggu. Abortus di trimester 2 terjadi apabila hasil konsepsi keluar diantara
usia kehamilan 14-19 minggu. Abortus berulang apabila pernah keguguran
2 kali (Berghella,2012).

Kejadian abortus sebanyak 3 - 5 %, data beberapa studi


menunjukkan bahwa setelah 1 kali abortus spontan, risiko 15 % untuk
mengalami keguguran, bila 2 kali abortus risikonya meningkat 25 %, dan
bila 3 kali abortus berurutan resiko berulang 30 - 45 %. Penyebab abortus
(early pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan. Umumnya lebih
dari satu penyebab (Prawirohardjo,2010).

2. Etiologi

2.1 Faktor genetik

Sebagian besar abortus spontan disebabkan oleh kelainan kariotip


embrio. 50 % kejadian abortus pada trimester pertama merupakan
kelainan sitogenetik. Disarankan pemeriksaan genetik amniosentesis
pada semua ibu hamil dengan usia yang lanjut, yaitu di atas 35 tahun.
Risiko ibu terkena aneuploidi adalah 1 : 80, pada usia di atas 35 tahun
2

karena angka kejadian kelainan kromosom/trisomi akan meningkat


setelah usia 35 tahun (Prawirohardjo,2010).

Kelainan kromosom sering diturunkan dari ibunya, pada pria


berdampak pada rendahnya konsentrasi sperma, infertilitas, dan
terjadinya keguguran. Disebabkan adanya mutasi gen yang mengganggu
proses implantasi bahkan abortus karena adanya mikroinfark pada
plasenta. Kelainan hematologik seperti disfibrinogenemi, defisiensi
faktor XIII, dan hipofibrinogenemi afibrinogenemi kongenital
(Prawirohardjo,2010).

2.2 Kelainan kongenital uterus

Defek anatomik uterus diketahui sebagai penyebab komplikasi


obstetrik, seperti abortus berulang, prematuritas, serta malpresentasi
janin. Penyebab terbanyak abortus karena septum uterus (40 - 80 %),
uterus bikornis / uterus didelfis /unikornis (10 - 30 %), mioma uteri.
Risiko kejadiannya antara 10 - 30 % pada perempuan usia reproduksi.
Sindroma Asherman bisa menyebabkan gangguan tempat implantasi
serta pasokan darah pada permukaan endometrium. Untuk mendiagnosis
kelainan ini bisa digunakan histerosalpingografi (HSG) dan
ultrasonografi (USG) (Prawirohardjo,2010).

2.3 Autoimun

Faktor imunologis yang telah terbukti signifikan dapat menyebabkan


abortus spontan yang berulang antara lain : lupus anticoagulant (LAC)
dan anticardiolipin antibody (ACA) yang mengakibatkan destruksi
vaskuler, trombosis, abortus serta destruksi plasenta (Dharma,2013).

2.4 Infeksi

Adanya metabolik toksik, endotoksin, eksotoksin, atau peran


infeksi terhadap risiko sitokin yang berdampak langsung pada janin atau
unit fetoplasenta. Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin atau
cacat berat sehingga janin sulit bertahan hidup. Infeksi plasenta yang
berakibat insufisiensi plasenta dan bisa berlanjut kematian janin. Infeksi
3

kronis endometrium dari penyebaran kuman genitalia bawah (misal


Mikoplasma bominis, Klamidia, Ureaplasma urealitileum, HSV) yang
bisa mengganggu proses implantasi. Amnionitis (oleh kuman gram-
positif dan gram-negatif, Listeria monositogenes). Memacu perubahan
genetik dan anatomik embrio, umumnya oleh karena virus selama
kehamilan awal (misalnya rubela, parvovirus 819, sitomegalovirus,
koksakie virus B, varisela-zoster, kronik sitomegalovirus CMV, HSV)
(Prawirohardjo,2010).

2.5 Hematologik

Kasus abortus berulang ditandai dengan defek plasentasi dan


adanya mikrotrombi pada pembuluh darah plasenta. Keadaan
hiperkoagulasi karena peningkatan kadar faktor prokoagulan dan
penurunan faktor antikoagulan. Perempuan dengan riwayat abortus
berulang terdapat peningkatan produksi tromboksan yang berlebihan
pada usia kehamilan 4 - 6 minggu, dan penurunan produksi prostasiklin
saat usia kehamilan 8 - 11 minggu. Perubahan rasio tromboksan-
prostasiklin memacu vasospasme serta agregrasi trombosit yang akan
menyebabkan mikrotrombi serta nekrosis plasenta
(Prawirohardjo,2010).

2.6 Lingkungan

Diperkirakan 1 10 % malformasi janin akibat dari paparan obat,


bahan kimia, atau radiasi dan umumnya berakhir dengan abortus,
misalnya paparan gas anestesi dan tembakau, nikotin yang diketahui
mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi
uteroplasenta, karbon monoksida juga menurunkan pasokan oksigen ibu
dan janin serta memacu neurotoksin. Dengan adanya gangguan pada
sistem sirkulasi fetoplasenta dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin
yang berakibat terjadinya abortus (Prawirohardjo,2010).
4

2.7 Hormonal

Ovulasi, implantasi, serta kehamilan dini bergantung pada


koordinasi yang baik sistem pengaturan hormon maternal terutama
kadar progesteron. Kadar HbA1c tinggi pada trimester pertama, risiko
abortus dan malformasi janin meningkat signifikan. Diabetes jenis
insulin-dependen dengan kontrol glukosa tidak adekuat punya peluang 2
- 3 kali lipat mengalami abortus. Kadar progesteron yang rendah
Progesteron punya peran penting dalam mempengaruhi reseptivitas
endometrium terhadap implantasi embrio. Insufisiensi progesteron saat
fase luteal, pada perempuan yang mengalami abortus 3 kali,
didapatkan 17% kejadian defek fase luteal,dan 50 % perempuan dengan
histologi defek fase luteal punya gambaran progesteron yang normal
(Prawirohardjo,2010).

Pengaruh hormonal terhadap perubahan endometrium menjadi


desidua mengubah semua sel pada mukosa uterus. Perubahan morfologi
dan fungsional mendukung proses implantasi dan migrasi trofoblas serta
mencegah invasi yang berlebihan pada jaringan ibu. Interaksi antara
trofoblas ekstravillous dan infiltrasi leukosit pada mukosa uterus, berupa
Large Granular Lympbocyres (LGL) dan makrofag, dengan sedikit sel T
dan sel B. Sel NK dijumpai dalam jumlah banyak, terutama pada
endometrium yang terpapar progesteron (Prawirohardjo,2010).

Penyebab Terjadinya Abortus Secara Spontan


Abnormalitas kromosom
Numerik (Aneuploidy) : Trisomi, Monosomi, Poliploidi

Struktur : Translokasi, Inversi


Kondisi Uterus
Kelainan kongnital uterus

Leiomyoma

Intrauterin adesi (Sinekia)


5

Kelainan endokrin
Hipotiroid (tak terkontrol)

Diabetes Melitus (tak terkontrol)

Hiperprolaktinemia
Autoimun
Antifosfolipid sindrom

Lupus
Infeksi
Toxoplasma gondii

Listeria monocytogenes

Chlamydia trachomatis

Ureaplasma urealyticum

Mycoplasma hominis

Herpes simplex virus

Treponema pallidum

Borrelia burgdoferi

Neisseria gonorrhoeae

Streptococcus agalactiae
Obat-obatan dan lainnya
Alkohol (>2 hari/minggu)

Konsumsi kafein berlebihan (>300mg/hari)

Merokok

Kokain

Gas anastesi

Radiasi tingkat tinggi

Isotretinoin

Methotrexate

Tabel 2.1 Penyebab terjadinya aborsi secara spontan (Buzad,2017)


6

3. Macam-Macam Aborsi

3.1 Abortus Iminens

Abortus yang mengancaman ditandai perdarahan pervaginam,


ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam
kandungan di usia kehamilan kurang dari 20 minggu. Gejala klinis
didapatkan mulas sedikit atau tidak ada keluhan sama sekali kecuali
perdarahan pervaginam. Ostium uteri tertutup,besarnya uterus sesuai
dengan umur kehamilan, dan tes kehamilan urin positif. Prognosis abortus
iminens dengan melihat kadar hormon hCG pada urin kembali, bila hasil
tes urin masih positif keduanya maka prognosisnya adaiah baik, bila
hasilnya negatif maka prognosisnya dubia ad malam
(Prawirohardjo,2010).

Pemeriksaan USG diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan


janin yang ada dan mengetahui keadaan plasenta apakah sudah terjadi
pelepasan atau belum. Denyut jantung janin dan gerakan janin
diperhatikan di sarnping ada tidaknya hematoma retroplasenta atau
pembukaan kanalis servikalis. Penderita diminta untuk melakukan tirah
baring sampai perdarahan berhenti. Bisa diberi spasmolitik diberi
tambahan hormon progesteron atau derivatnya untuk mencegah tcrjadinya
abortus. Penderita boleh dipulangkan setelah tidak terjadi perdarahan
dengan pesan khusus tidak boleh berhubungan seksual dulu sampai lebih
kurang 2 minggu (Prawirohardjo,2010).

3.2 Abortus Insipiens

Abortus yang sedang mengancam ditandai serviks telah mendatar


dan ostium uteri telah membuka, hasil konsepsi masih dalam kavum uteri
dan dalam proses pengeluaran. Secara klinis didapatkan rasa mulas karena
kontraksi yang sering,dan kuat, perdarahannya bertambah sesuai dengan
pembukaan serviks uterus dan umur kehamilan. Besar uterus masih sesuai
dengan umur kehamilan dengan tes urin kehamilan masih positif.
Pemeriksaan USG akan didapati pembesaran uterus yang masih sesuai
7

dengan umur kehamilan, gerak janin dan gerak jantung janin masih jelas
walau mungkin sudah mulai tidak normal,ada tidaknya pelepasan plasenta
dari dinding urerus (Prawirohardjo,2010).

Penatalaksaan dengan memperhatikan keadaan umum dan


perubahan keadaan hemodinamik yang terjadi dan segera lakukan tindakan
terminasi dengan kuretase bila perdarahan banyak, kemudian disusul
dengan pemberian uterotonika untuk mencegah terjadinya perforasi pada
dinding uterus. Pascatindakan perlu perbaikan keadaan umum, pemberian
uterotonika, dan antibiotika profilaksis (Prawirohardjo,2010).

3.3 Abortus Kompletus

Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri , osteum uteri
telah menutup, uterus sudah mengecil sehingga perdarahan sedikit. Besar
uterus tidak sesuai dengan umur kehamilan. Pemeriksaan USG tidak perlu
dilakukan bila pemeriksaan secara klinis sudah memadai. Pada
pemeriksaan tes urin biasanya masih positif sampai 7 - 10 hari setelah
abortus (Prawirohardjo,2010).

3.4 Abortus Inkompletus

Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari karum uteri dan masih
ada yang tertinggal dan sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal
di dalam uterus di mana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis
terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium
uteri eksternum. Perdarahan biasanya masih terjadi jumlahnya pun bisa
banyak atau sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa, yang
menyebabkan sebagian placental site masih terbuka sehingga perdarahan
berjalan terus hingga anemia atau syok hemoragik sebelum sisa jaringan
konsepsi dikeluarkan (Prawirohardjo,2010).

Penatalaksanaan ialah perbaiki keadaan umum dan mengatasi


gangguan hemodinamik yang terjadi untuk kemudian disiapkan tindakan
kuretase. Pemeriksaan USG untuk memastikan diagnosis. Besar uterus
lebih kecil dari umur kehamilan dan kantong gestasi sulit dikenali, di
8

kavum uteri tampak massa hiperekoik yang bentuknya tidak beraturan.


Bila terjadi perdarahan segera terminasi sisa konsepsi dengan kuretase
sehingga kontraksi uterus dapat berlangsung baik dan perdarahan berhenti.
Pasca tindakan diberikan uterotonika parenteral ataupun per oral dan
antibiotika profilaksis (Prawirohardjo,2010).

3.5 Missed Abortion

Embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan dan hasil


konsepsi seluruhnya masih dalam kandungan. Gejala klinis tidak
merasakan keluhan apa pun kecuali merasakan pertumbuhan
kehamilannya tidak seperti yang diharapkan.Tanda-tanda kehamilan
positif. Pemeriksaan USG akan didapatkan uterus mengecil, kantong
gestasi mengecil, dan bentuk tidak beraturan disertai gambaran fetus yang
tidak detak jantung (Prawirohardjo,2010).

Bila missed abortion berlangsung lebih dari 4 minggu


kemungkinan terjadinya gangguan pembekuan darah oleh karena
hipofibrinogenemia sehingga perlu diperiksa koagulasi sebelum tindakan
evakuasi dan kuretase. Kemungkinan penyulit pada tindakan missed
abortion ini besar karen jaringan plasenta yang menempel pada dinding
uterus sudah lebih kuat. Perlu disiapkan transfusi darah segar atau
fibrinogen. Pasca tindakan kalau perlu dilakukan pemberian infus
intravena cairan oksitosin dan pemberian antibiotika
(Prawirohardjo,2010).

3.6 Abortus Habitualis

Abortus spontan yang terjadi 3 kali.Bishop melaporkan kejadian


abortus habitualis sekitar 0,41 % dari seluruh kehamilan, Penyebab
abortus habitualis selain faktor anatomis banyak yang mengairkannya
dengan reaksi imunologik yaitu kegagalan reaksi terhadap antigen
Lymphocyte trophoblast cross reactipe (TLX). Bila reaksi terhadap antigen
ini rendah atau tidak ada, maka akan terjadi abortus (Prawirohardjo,2010).
9

Salah satu penyebab ialah inkompetensia serviks yaitu keadaan di


mana serviks uterus tidak dapat menerima beban untuk tetap menutup
setelah kehamilan melewati trimester pertama,tanpa disertai rasa
mules/kontraksi rahim dan akhirnya terjadi pengeluaran janin. Kelainan ini
sering disebabkan oleh trauma serviks pada kehamilan sebelumnya,
misalnya pada tindakan usaha pembukaan serviks yang berlebihan,
robekan serviks yang luas sehingga diameter kanalis servikalis sudah
melebar (Prawirohardjo,2010).

Diagnosis inkompetensia serviks tidak sulit dengan anamnesis


yang cermat. Dengan pemeriksaan dalam/inspekulo kita bisa menilai
diameter kanalis servikalis dan didapati selaput ketuban yang mulai
menonjol pada saat mulai memasuki trimester kedua. Diameter ini
melebihi 8 mm.Tindakan untuk memberikan fiksasi pada serviks agar
dapat menerima beban dengan berkembangnya umur kehamilan. dilakukan
pada umur kehamilan 12 - 14 minggu dengan cara SHIRODKAR atau
McDONALD (Prawirohardjo,2010).

3.7 Abortus Infeksiosus, Abortus Septik

Abortus infeksiosus ialah abortus yang disertai infeksi pada


genitalia. Abortus septik ialah abortus yang disertai penyebaran infeksi
pada peredaran darah tubuh atau peritoneum (septikemia atau peritonitis).
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dengan gejala panas tinggi,
tampak sakit dan lelah, takikardia, perdarahan pervaginam berbau, uterus
membesar dan lembut, serta nyeri tekan, hingga bisa menjadi sepsis dan
syok. Pada laboratorium didapatkan leukositosis (Prawirohardjo,2010).

Penatalaksanaan perhatikan keseimbangan cairan tubuh dan


pemberian antibiotika yang adekuat. Kuretase dilaksanakan bila keadaan
tubuh sudah membaik minimal 5 jam setelah antibiotika adekuat serta
pemberian uterotonika. Antibiotik dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam
dan bila dalam waktu 2 hari (Prawirohardjo,2010).
10

Perbedaan klinis aborsi

Abortus Iminens Abortus Insipien

Osteum Tertutup Osteum Terbuka

Janin intra uterin baik Janin intra uterin proses pengeluaran

Perdarahan + Perdarahan ++

Beta-hCG + Beta-hCG +

Abortus komplit Abortus inkomplit

Ostium tertutup Ostium terbuka

Janin intra uterin Janin keluar dengan sisa

Perdarahan sedikit Perdarahan +

Beta-hCG + s/d hari 7-10 Beta-hCG +

Missed abortion Abortus habitualis

Ostium tertutup Aborsi 2x

Janin mati intra uterin Ostium terbuka

Perdarahan - Perdarahan +

Beta-hCG + Beta-hCG +

Abortus infeksious Abortus septik


Berasal dari infeksi di genetalia Berasal dari infeksi melalui hematogen,
peritonium

Tabel 3.7.1 Kesimpulan perbedaan klinis macam-macam aborsi

4. Penatalaksanaan Aborsi

Aborsi dapat diatasi dengan cara farmakologi dan pembedahan,


yaitu:

Teknik pembedahan Teknik pengobatan (farmakologi)


Dilatasi serviks diikuti dengan evakuasi Oksitosin intravena
uterus
Cairan hiperosmotik intra amnion
Kuretase
20% salin
Aspirasi vakum (suction
30% urea
curettage)
Dilatation and Curettage (D&C) Prostaglandin E2,E2,E1 dan
analognya
Dilatation and Evacuation
Injeksi intra amnionik
(D&E)
11

Dilatation and Extraction (D&X) Injeksi ekstraovular


Aspirasi Menstrual Insersi vaginal
Laparotomi Injeksi parenteral
Histerotomi Peroral
Histerektomi Antiprogesteron RU 486
(mifepristone) dan epostane
Methotrexate IM / P.oral
Kombinasi

Tabel 4.1 Teknik penatalaksanaan aborsi ( William Obstetric 23 edition)

Pertimbangan untuk menggunakan teknik farmakologi adalah merupakan


prosedur invasif, membutuhkan anastesi, membutuhkan 2 kali kunjungan,
membutuhkan beberapa hari hingga minggu untuk sembuh, dapat dilakukan
diawal kehamilan, tingkat keberhasilan hingga 95%, dapat terjadi perdaraha
sedang hingga berat dalam waktu singkat, membutuhkan follow-up untuk
memastikan keberhasilan tindakan (William,2010).

Sementara penggunaan teknik pembedahan tidak memerlukan prosedur


invasif, memerlukan sedasi apabila diperlukan, hanya membutuhkan 1 kali
kunjungan, kesembuhan dapat diprediksi dalam waktu dekat, dapat dilakukan
diawal kehamilan, tingkat keberhasilan 99%, perdarahan hanya berupa flek-flek,
tidak membutuhkan follow-up yang berarti (William, 2010).

Dilatation and curettage (D&C) merupakan tindakan operatif dengan


melakukan dilatasi serviks kemudian dilakukan pengambilan jaringan dengan
sendok kuret. Komplikasi yang dapat terjadi berupa perforasi uterus, laserasi
serviks, perdarahan, inkomplet pengambilan fetus dan plasenta, dan infeksi
apabila dilakukan di usia kehamilan 14 minggu serta membutuhkan antibiotik
sebagai profilaksis (William, 2010).

Dilatation and evacuation (D&E) adalah tindakan yang dilakukan di usia


kehamilan 16 minggu dengan cara melakukan dilatasi serviks dan pengambilan
jaringan secara mekanik yaitu mengambil janin perbagian. Dilatation and
extraction (D&X) hampir sama dengan D&E tetapi menggunakan suction untuk
mengeluarkan isi intrakranial dari janin. Tindakan dilatasi secara mekanik dapat
12

digantikan dengan pemberian misoprostol 400g pervagina selama 4 jam sebelum


aborsi (William,2010).

Penggunaan obat-obatan menggunakan mifepristone (anti progestin),


methotrexate (anti metabolit), misoprostol (prostaglandin). Dosis yang diberikan
mifepristone 100-600mg peroral dikombinasi misoprostol 200-600g peroral atau
800g per vaginam diberikan dalam dosis terbagi 6-72 jam, methotrexate
50mg/m2 IM atau dikombinasi dengan pemberian misoprostol 800g pervaginam
dalam 3-7 hari, diulang 1 minggu kemudian. Pemberian misoprostol 800g
pervaginam dibagi dalam 3 dosis (William,2010).

Kontraindikasi dari pengunaan obat-obat adalah adanya alergi obat,


anemia berat, mengalami koagulopati dan penggunaan antikoagulan dan penyakit
hati, penyakit jantung, penyakit ginjal dan gangguan kejang yang tak terkendali.
Apabila aborsi di trimester dua dapat digunakan teknik farmakologi menggunakan
oksitosin dengan dosis bertingkat. Penggunaan kontrasepsi dapat diberikan
sesegera mungkin setelah aborsi untuk mencegah kehamilan dan untuk
menstabilkan hormonal terutama LH (William,2010).

5. Prognosis

Prognosis dubius ad bonam apabila dengan pemeriksaan penunjang tidak


didapatkan komplikasi yang berbahaya misalnya perdarahan, perforasi, infeksi
dan syok.
13

BAB II

BLIGHTED OVUM

1. Definisi

Blighted ovum atau yang disebut kehamilan anembrionik terjadi ketika


telur yang dibuahi menempel pada dinding rahim, namun embrio tidak
berkembang. Sel mengembangkan untuk membentuk kantung kehamilan, tetapi
tidak embrio itu sendiri. Kehamilan kosong terjadi dalam trimester pertama,
sering sebelum seorang wanita mengetahui dia hamil. Kelainan kromosom
biasanya menyebabkan tubuh wanita secara alami keguguran. (American
pregnancy,2015). Blighted ovum merupakan kehamilan tanpa janin yang hanya
terdiri dari kantong gestasi ( kantong kehamilan ) dan air ketuban ( Sukarni,2014).

2. Mekanisme

Blighted ovum sering dijumpai pada kehamilan trimester I, terjadi akibat


kegagalan terbentuknya mudigah. Kelainan ini mungkin terjadi karena
perkembangan mudigah terhenti ebelum dapat terdeteksi dengan USG, atau
mudigah mati dan mengalami resorbsi sehingga tidak terlihat lagi dengan USG.
Kejadian ini sering berhubungan dengan adanya kelainan pada kromosom
(Prawirohardjo, 2010). Blighted ovum bisa terjadi sangat awal kehamilan, sebelum
kebanyakan wanita mengetahui kehamilan mereka. Tanda-tanda kehamilan seperti
periode tidak menstruasi atau terlambat dan bahkan tes kehamilan positif,
sehingga sering dianggap kehamilan normal (American pregnancy,2015).

Plasenta dapat terus tumbuh tanpa bayi untuk waktu yang singkat, dan
hormon kehamilan dapat terus meningkat, yang akan menyebabkan tes kehamilan
positif, disertai dengan mengalami kram perut ringan dan bercak vagina minor
atau perdarahan. Diagnosis pasti didapatkan setelah melakukan USG. (American
pregnancy,2015).
14

3. Epidemiologi

Berdasarkan SKDI 2012 rata-rata angka kemarian ibu (AKI) tercatat


mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup. Peyebab utama kematian ibu yaitu
perdarahan (27%), eklamsia (23%), infeksi (11%), lain-lain (39%) (Profil
Kesehatan Indonesia, 2012). Perdarahan dibagi menjadi perdarahan pada
kehamilan muda, perdarahan pada kehamilan lanjut, dan perdarahan persalinan
serta perdarahan pasca persalinan. Perdarahan pada kehamilan muda disebabkan
oleh arbotus, kehamilan ektopik, dan kehamilan mola hidatidos, blighted ovum
( kehamilan anembrionik). Blighted ovum merupakan kelainan pada kehamilan
yang baru dideteksi setelah dilakukan USG, yang pada awalnya diperkirakan
sebagai abortus biasa (Prawirohardjo,2010). Studi penelitian di RSUD
Karanganyar didapatkan kasus blighted ovum terdiri dari 62 kasus dan meningkat
pada tahun 2014 Januari-Oktober sebanyak 70 kasus. Penelitian membuktikan
bahwa tindakan kuretase dapat memperbaiki keadaan ibu sehingga hasil konsepsi
dapat dikeluarkan sesuai harapan (Sari,2015).

4. Etiologi

Blighted ovum menjadi penyebab sekitar 50% keguguran trimester


pertama dan biasanya merupakan hasil dari masalah kromosom. Tubuh wanita
mengakui kromosom abnormal pada janin dan secara alami tidak mencoba untuk
melanjutkan kehamilan karena janin tidak akan berkembang menjadi bayi yang
sehat. Hal ini dapat disebabkan oleh pembelahan yang abnormal sel, atau kualitas
sperma atau sel telur yang buruk. (American pregnancy,2015). Etiologi blighted
ovum yaitu kelainan kromosom, infeksi TORCH, rendahnya kadar beta hCG,
faktor imunologis, radiasi dan faktor usia (Annova,2014).

Faktor terjadinya blighted ovum sama dengan faktor resiko terjadinya


abortus spontan di usia ibu 20-30 tahun (9-17%), usia 35 th (20%), usia 40th
(40%), usia 45 (80%). Riwayat aborsi sebelumnya dapat meningkatkan
kemungkinan terulang kembali sebesar 20%. Pemanjangan waktu ovulasi hingga
implantasi berhubungan dengan kematian janin hal ini disebabkan oleh terjadinya
pembuahan terhadap ovum tua yang menyebabkan transportasi dari tuba terlambat
atau dari abnormal uterus dalam menerima implantasi. Berat badan ibu dengan
15

BMI 18.5 meningkatkan resiko infertilits dan abortus spontan. 1/3 hasil konsepsi
dari terjadinya abortus spontan terjadi saat atau sebelum usia kehamilan 8 minggu
berupa blighted ovum yang disebabkan dari kelainan kromosom, atau paparan dari
terartogen (Shekoohi,2013).

Secara umum bahwa kelainan kromosom sebanyak 50% menyebabkan


aborsi pada trimester pertama. Yang paling umum disebabkan dari kelainan
kromosom dapat perpindahan timbal balik (62%), translokasi robertsonian (16%),
inversi (16%), delesi (3%), dan duplikasi (8%) (Moshtaghi,2016). Penelitian
dilakukan pada 68 pasangan dengan riwayat abortus spontan (dua atau tiga kali
keguguran berturut-turut) dengan trimester pertama usia kehamilan dan blighted
ovum. Dalam populasi yang diteliti, frekuensi aborsi spontan berulang (blighted
ovum) jauh lebih jelas dalam perkawinan sedarah (68,5%) dari pernikahan bukan
sedarah (31,5%), didapatkan frekuensi translokasi kromosom yang seimbang pada
pasangan dengan riwayat aborsi spontan berulang dan didiagnosis blighted ovum
dengan USG (Shekoohi,2013).

5. Gejala dan tanda

Gejala dari keguguran berupa perdarahan pervaginam dalam bentuk


gumpalan atau berupa titik merah, nyeri atau kram pada perut bagian bawah yang
menjalar ke punggung, kelemahan, pusing, reflek vasovagal. Blighted ovum pada
awalnya tidak memiliki gejala. Gejala awal yang dapat terjadi berupa terlambat
menstruasi atau amenore, kram perut, bercak perdarahan pervaginam, tes
kehamilan positif. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan penunjang
USG pada usia kehamilan memasuki 6-7 minggu (Sukarni,2014).
16

Gambar 5.1 Gambaran anembrionik kantong gestasional,transvaginal USG


(William, 2010).

Kantong gestational dapat terlihat dengan USG mulai usia kehamilan 5-7
minggu, dengan mean sac diameter 8 mm di usia kehamilan 4-5 minggu
(Patel,2014). Diagnosis ditegakkan pada usia kehamilan 7-8 minggu bila pada
pemeriksaan USG didapatkan kantong gestasi tidak berkembang atau pada
diameter 2,5cm yang tidak disertai adanya gambaran mudigah, dan dilakukan
USG ulang untuk evaluasi di 2 minggu kemudian bila tetap tidak dijumpai
struktur mudigah dan diameter kantong gestasi sudah mencapai 25mm
(Prawirohardjo,2010). Kehamilan anembrionik digambarkan dengan tidak
ditemukannya yolk sac dalam mean sac diameter 13 mm, atau tidak adanya
embryonic pole dalam mean sac diameter 20 mm, atau tampilan dengan amnion
yang kosong (Gariepy,2012).

6. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan yang aman dan efektif untuk mengatasi kehamilan


dengan blighted ovum adalah dengan melakukan D & C (Dilatation and
Curetage), meski beberapa penelitian tidak merekomendasikan D & C. Hal ini
diyakini bahwa tubuh wanita mampu mengeluarkan jaringan sendiri dan tidak ada
kebutuhan untuk prosedur bedah invasif dengan risiko komplikasi. Dilakukan
pemeriksaan patologi memeriksa jaringan untuk menentukan penyebab keguguran
(American pregnancy,2015).

Hasil penelitian ini menunjukkan keberhasilan penggunaan misoprostol


dengan dosis 800-1600 g vagina merupakan metode pengobatan non-bedah yang
efektif untuk evakuasi hasil konsepsi dalam rahim dan mengukur serum -hCG
seefektif USG untuk mengkonfirmasi keberhasilan medis aborsi pada awal
kehamilan. Pemeriksaan beta-hCG lebih berhasil dari USG untuk mengevaluasi
diagnosis aborsi lengkap pada minggu kedua. Dari 144 kasus 11 kasus keluar dari
penelitian, karena dua pasien dirawat di rumah sakit karena pendarahan berat.
Keduanya diperlukan intervensi bedah setelah perdarahan yang tidak terkontrol
dan 8 tetap kasus tidak mengeluarkan hasil konsepsi setelah 24 jam dari dosis
kedua misoprostol dan menjalani evakuasi bedah (Behnamfar,2013).
17

Kontra indikasi dari pemberian misoprostol adalah hemodinamik tidak


stabil, adanya gejala dari infeksi pelvis dengan atau tanpa sepsis, suspek mola atau
kehamilan ektopik, kadar hemoglobin 9.5 g/dL, riwayat permasalahan dengan
koagulopati atau riwayat penggunaan obat anti koagulan, alergi terhadap
prostaglandin. Pemberian antibiotik diberikan sebagai tindakan profilaksis.
Setelah semua tindakan perlu di pantau adanya perdarahan, demam/ menggigil,
mual-muntah dari pasien akibat dari tindakan yang telah diberikan
(Gariepy,2012).

7. Pencegahan

Blighted ovum tidak dapat dicegah. Beberapa pasangan akan mencari uji
genetik jika beberapa kerugian awal kehamilan terjadi. Blighted ovum sering
merupakan kejadian satu waktu, dan jarang akan seorang wanita pengalaman yang
lebih dari satu. Kebanyakan dokter menyarankan pasangan menunggu setidaknya
1-3 siklus menstruasi yang teratur sebelum mencoba untuk hamil lagi setelah
semua jenis keguguran (American pregnancy,2015). Obat seperti misoprostol
pada pasien rawat jalan mungkin menjadi pilihan lain. Namun, mungkin memakan
waktu beberapa hari bagi tubuh untuk mengeluarkan semua jaringan. Mungkin
memiliki lebih banyak pendarahan dan efek samping,rasa sakit atau kram yang
dapat diobati (Todd, 2015).

8. Komplikasi

1. Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi akibat anemia pada ibu yang memberikan
resiko kematian. Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan
uterus dan sisa-sisa hasil konsepsi, serta akibat laserasi.Kematian
dapat terjadi apabila pertolongan tidak segera diberikan
(Rukiyah,2010).
2. Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada blighted
ovum, tetapi biasanya ditemukan pada abortus inkompetus danlebih
sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan
asepsis dan antisepsis. Apabila infeksi menyebar jauh dapat
18

menimbulkan peritonitis umumatau sepsis dengan kemungkinan


diikuti oleh syok (Rukiyah,2010).
3. Syok
Syok terjadi karena perdarahan atau syok hemoragik dan infeksi
berat atau syok endoseptik (Rukiyah,2010).

9. Prognosis

Prognosis dubius ad bonam apabila dengan pemeriksaan penunjang tidak


didapatkan komplikasi yang berbahaya misalnya perdarahan, perforasi, infeksi
dan syok.

BAB III
19

CASE REPORT

1. Identitas Pasien

Nama : Ny. E

Umur : 33 tahun

Alamat : Dsn nenek RT 3 RW 2 Dringu Kalirejo Probolinggo

Agama : Islam

Suku : Jawa

Bangsa : Indonesia

Pekerjaan : Guru

Pendidikan : S1

MRS : 2-1-2017

KRS : 4-1-2017

2. Subyektif

Anamnesa umum :

- Keluhan utama : Keluar bercak darah pervaginam

- Riwayat perjalanan penyakit : Pasien merasa telat menstruasi dan merasa


hamil (2/9/2016), tanggal 9/12/2016 pasien kontrol ke dokter spesialis
kandungan dengan keluhan keluar bercak darah pervaginam kemudian
dilakukan pemeriksaan USG dan dikatakan bahwa usia kehamilan 8
minggu saat itu, diberi obat penguat oleh dokter spesialis kandungan
selama 3 hari. Setelah obat habis terjadi perdarahan lagi dengan volume
yang semakin banyak dari sebelumnya. Tanggal 16/12/2016 pasien datang
ke dokter spesialis kandungan karena perdarahan dan dilakukan USG
dinyatakan janin tidak berkembang (Blighted Ovum) di sarankan untuk
melakukan D&C dan dirujuk ke RSUD Dr. Moh Saleh Probolinggo.
Tanggal 22/12/2016 Pasien datang ke Poli Kandungan dengan keluhan
20

keluar bercak darah dan bergumpal-gumpal sejak 1 minggu yang lalu serta
menunjukkan cetakan USG sebelumnya, mual/muntah (-), Pusing (-),
Pandangan kabur (-) kemudian dengan dokter spesialis kandungan di poli
dilakukan USG ulang dan didapatkan gambaran kantong gestasional
kosong tanpa adanya janin didalamnya ditegakkan diagnosa Blighted
Ovum sehingga di elektifkan untuk dilakukan kuretase.

Tanggal 2/1/2017 pukul 17.00 WIB datang ke ruang nifas melati


RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo menyatakan siap untuk dioperasi dan
sudah tidak didapatkan perdarahan pervaginam. Pasien mengatakan
perdarahan sudah berhenti sejak tanggal 27/12/2016. Tidak didapatkan
nyeri perut, pusing (-), mual/muntah (-) tetapi kemarin malam masih
keluar keputihan agak merah bening dan molor dengan jumlah sedikit,
tidak didapatkan gatal dan bau.

- Anamnesa obstetrik : GII P1001 A0

- HPHT : 2-9-2016

- Haid : Teratur, 1 bulan 1 kali, siklus 28 hari, dengan 6 hari, disertai


nyeri sebelum menstruasi.

- Menarche : 13 tahun.

- Fluor albus : +, saat hamil ini dan saat menjelang menstruasi tidak berbau,
berwarna putih, jumlahnya sedikit.

- Riwayat kehamilan :

Anak I : perempuan usia 4,5 tahun ditolong bidan secara normal,


umur kehamilan 9 bulan, dengan berat badan lahir 3100 gram.

Anak II : Hamil ini

- Riwayat KB : KB suntik 1 bulan

- Riwayat penyakit dahulu : Hipertensi (-), Diabetes (-), Asma (-), Riwayat
operasi (-).
21

- Riwayat psikososial : Pasien mengatakan kehamilannya memang sudah


direncanakan, suami bekerja sebagai karyawan swasta dengan pendidikan
terakhir Sekolah Menengah Atas.

- Riwayat alergi : Alergi obat (-), Alergi makanan (-)

3. Objektif

a. Status Interna :

- Keadaan umum : Cukup

- Kesadaran : Comoposmentis

- Tensi : 110/70 mmHg

- Nadi : 80 kali/menit

- Suhu : 36,7oC

- RR : 20 kali/menit

- Kepala/leher : a/i/c/d : -/-/-/-, pembesaran KGB (-), PCH (-)

- Thorax : Bentuk simetris (+), retraksi (-)

o Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-)

o Pulmo : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

- Abdomen : BU (+), Supel, Nyeri Tekan (-) Normal, Hepar


(TTB), Lien (TTB)

- Ekstremitas : Akral hangat (+), CRT 1 detik, Edema -/-

b. Status Obstetri :

- Muka :

o Choleasma gravidarum : (-)

o Exopthalmus : (-)
22

- Leher :

o Struma : (-)

- Thorax :

o Mammae : Membesar (-/-), menegang (-/-), hiperpigmentasi


(-/-), colostrum (-/-).

- Abdomen :

o Inspeksi : Perut membesar (-), Striae gravidarum alba (+),


Striae gravidarum lividae (-), Hiperpigmentasi linea alba (-),
Nampak gerakan janin (-).

o Palpasi :

TFU : Tidak teraba

Leopold I : Tidak dapat dilakukan

Leopold II : Tidak dapat dilakukan

Leopold III : Tidak dapat dilakukan

Leopold IV : Tidak dapat dilakukan

o Auskultasi :

DJJ : Tidak dapat dievaluasi

o Genetalia Eksterna :

Fluor : (+)

Fluksus : (-)

c. Status Ginekologi

o Abdomen
23

- Inspeksi : Perut datar, tidak tampak menegang/


membuncit, tidak terdapat sikatri, tidak terdapat
perdarahan pervaginam.

- Palpasi : Supel, Nyeri tekan (-), TFU = tidak teraba

o Inspekulum

- Portio Licin

- Pedarahan (+)

- Ostium uteri eksternum multi para dan tertutup

- Fluor (-)

- Chadwick sign (-)

- Masa (-)

o Vaginal Touch

- Vulva vagina : Pembengkakan (-), Daging


tumbuh (-), Fluksus (-), Perdarahan (-)

- Ruggae vagina : Licin, Masa (-)

- Portio : Licin, Ostium Multi Para,


Lunak, Masa(-), Rapuh (-), Nyeri Goyang
portio (-), Fundus tidak teraba.

- Adneksa kanan-kiri : Nyeri (-), bendungan (-)

- Fornix anterior : Nyeri (-), bendungan (-)

- Cavum Douglas : Nyeri (-), bendungan (-)

- Darah (+) , Lendir (-), Fluksus (-)

d. Pemeriksaan laboratorium :

Tanggal 22-12-2016
24

Hematokrit 37 % 36-46 %
Hemoglobin 12,9 g/dL 12-16 g/dL
Leukosit 6.860/ mm3 4.000-11.000
Hitung jenis :
Eosinofil 3% 0-8 %
Basofil 0% 0-3 %
Neutrofil 54 % 45-70 %
Limfosit 35 % 16-46 %
Monosit 8% 40-11 %
Trombosit 294.000/mm3 150.000-350.000/mm3
Eritrosit 4,3 juta/mm3 4,1 juta 5,1
juta/mm3
Gula darah acak 96 mg/dL 200 mg/dL
HbsAg Negatif (-) -

e. Hasil USG :

USG tanggal 16/12/2016 Besar uterus: 8 cm, Besar Gestational sac: 28


mm, tidak didapatkan yolk sac, tidak didapatkan gambaran janin.
Didapatkan kesimpulan, Gravida 15 minggu dengan Blighted Ovum

4. Assessment

GII P1001 A0 usia kehamilan 15-16 minggu dengan Blighted Ovum


25

5. Planning

Konsul Dr. Sp.OG

Pasang Infus RL

Puasakan pasien mulai jam 00.00 WIB karena rencana kuret besok
(3/1/2017) jam 10.00 WIB

6. Follow Up

Tanggal 2/1/2017 (Hari-1/ pre op)

S : Tidak ada keluhan. Pasien merasa siap untuk di kuret. Nyeri perut (-),
Pusing (-), pandangan kabur (-), mual/muntah (-), mobilisasi baik,
BAB/BAK baik, nafsu makan baik.

O : KU : Baik, Kes : CM

Tensi : 110/70 mmHg Nadi : 80 x/menit

RR : 20 x/menit Suhu : 36,7oC

Kepala/ Leher : a/i/c/d -/-/-/-, PCH (-)

Thoraks : Simetris (+/+), Retraksi (-/-)

Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-)

Pulmo : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen : BU + normal, Supel, Nyeri tekan , hepar (ttb), Lien (ttb)

Ekstremitas : Akral hangat, CRT 1 detik, Edema -/-

Status ginekologi :

o Abdomen

- Inspeksi : Perut datar, tidak tampak menegang/


membuncit, tidak terdapat sikatri, tidak terdapat
perdarahan pervaginam.

- Palpasi : Supel, Nyeri tekan (-), TFU = tidak teraba


26

o Inspekulum

- Portio Licin

- Pedarahan (-)

- Ostium uteri eksternum multi para dan tertutup

- Fluor (-)

- Chadwick sign (-)

- Masa (-)

o Vaginal Touch

- Vulva vagina : Pembengkakan (-), Daging


tumbuh (-), Fluksus (-), Perdarahan (-)

- Ruggae vagina : Licin, Masa (-)

- Portio : Licin, Ostium Multi Para,


Lunak, Masa(-), Rapuh (-), Nyeri Goyang
portio (-), Fundus tidak teraba.

- Adneksa kanan-kiri : Nyeri (-), bendungan (-)

- Fornix anterior : Nyeri (-), bendungan (-)

- Cavum Douglas : Nyeri (-), bendungan (-)

- Darah (-) , Lendir (+), Fluksus (-)

A : GII P1001 A0 usia kehamilan 15-16 minggu dengan Blighted Ovum

P : Pasang infus RL dan puasakan pasien mulai pukul 00.00 WIB persiapan
D&C.

Tanggal 3/1/2017 (Hari ke 0 Pre-op)

S : Tidak ada keluhan. Nyeri perut (-), Pusing (+), pandangan kabur (-),
mual/muntah (-), mobilisasi baik, BAB/BAK baik, nafsu makan baik.
27

O : KU : Baik, Kes : CM

Tensi : 110/70 mmHg Nadi : 80 x/menit

RR : 18 x/menit Suhu : 36,5oC

Kepala/ Leher : a/i/c/d -/-/-/-, PCH (-)

Thoraks : Simetris (+/+), Retraksi (-/-)

Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-)

Pulmo : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen : BU + normal, Supel, Nyeri tekan , Hepar (ttb), Lien (ttb)

Ekstremitas : Akral hangat, CRT 1 detik, Edema -/-

Status ginekologi : Palpasi TFU tidak teraba, Perdarahan (-), Lendir (-),
Keputihan (-)

A : GII P1001 A0 usia kehamilan 15-16 minggu dengan Blighted Ovum

P : Terpasang infus RL, Siapkan pasien menggunakan baju operasi dan cap.

Tanggal 3/1/2017 (Hari ke 0 Post-op/ 14.30 WIB)

S : Tidak ada keluhan. Nyeri perut (-), Pusing (-), pandangan kabur (-),
mual/muntah (-), mobilisasi miring (+), BAB (-) /BAK (-), Flatus (-).

O : KU : Baik, Kes : CM

Tensi : 100/60 mmHg Nadi : 76 x/menit

RR : 20 x/menit Suhu : 36,9oC

Kepala/ Leher : a/i/c/d -/-/-/-, PCH (-)

Thoraks : Simetris (+/+), Retraksi (-/-)

Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-)

Pulmo : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-


28

Abdomen : BU + normal, Supel, Nyeri tekan , Hepar (ttb), Lien (ttb)

Ekstremitas : Akral hangat, CRT 1 detik, Edema -/-

Status ginekologi : Palpasi TFU tidak teraba, Perdarahan (-), Lendir (-),
Keputihan (-).

A : GII P1001 A0 usia kehamilan 15-16 minggu dengan Blighted Ovum

P : Terpasang infus RL, Kondisikan pasien 6 jam tidak makan-minum,


tidak menggunakan bantal. Tab. Ciprofloxacin 500mg 3x1,Tab. Asam
mefenamat 500mg 3x1 .Cek Laoratorium Hb.

Tanggal 4/1/2017 ( Hari 1)

S : Nyeri perut (+) sedikit hanya jika dibuat duduk terlalu lama. Pusing (-),
pandangan kabur (-), mual/muntah (-), flatus (+), mobilisasi baik,
BAB/BAK baik, nafsu makan baik, keluar darah sedikit saat hendak
kencing dari kemaluan. Nyeri kuret (-).

O : KU : Baik, Kes : CM

Tensi : 110/80 mmHg Nadi : 88 x/menit

RR : 18 x/menit Suhu : 37,1oC

Kepala/ Leher : a/i/c/d -/-/-/-, PCH (-)

Thoraks : Simetris (+/+), Retraksi (-/-)

Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-)

Pulmo : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen : BU + normal, Sufel, Nyeri tekan

Genetalia : Perdarahan aktif pervaginam post D&C (-)

Ekstremitas : Akral hangat, CRT 1 detik, Edema -/-


29

Status ginekologi : Palpasi TFU tidak teraba, Perdarahan (+) sedikit,


Lendir (-), Keputihan (-)

Laboratorium : Hemoglobin post D&C 13g/dL

A : P1001 A1 post D&C hari 1 atas indikasi Blighted Ovum

P : Visite Dr., Sp.OG

Lepas Infus

Tab. Ciprofloxacin 500mg 3x1

Tab. Asam mefenamat 500mg 3x1

Pasien boleh pulang


30

BAB IV

ANALISIS KASUS

Pasien merasa telat menstruasi dan merasa hamil (2/9/2016) dengan


melakukan tes urin dengan test pack, tanggal 9/12/2016 pasien kontrol ke dokter
spesialis kandungan dengan keluhan keluar bercak darah pervaginam. Perdarahan
terjadi secara spontan tanpa ada riwayat koitus sebelumnya. Kemudian dilakukan
pemeriksaan USG dan dikatakan bahwa usia kehamilan 8 minggu saat itu, diberi
obat penguat oleh dokter spesialis kandungan selama 3 hari. Setelah obat habis
terjadi perdarahan lagi dengan volume yang semakin banyak dari sebelumnya.

Tanggal 16/12/2016 pasien datang ke dokter spesialis kandungan karena


perdarahan dan dilakukan USG dinyatakan janin tidak berkembang (Blighted
Ovum) di sarankan untuk melakukan D&C dan dirujuk ke RSUD Dr. Moh Saleh
Probolinggo. Tanggal 22/12/2016 Pasien datang ke Poli Kandungan dengan
keluhan keluar bercak darah dan bergumpal-gumpal sejak 1 minggu yang lalu
serta menunjukkan cetakan USG sebelumnya, mual/muntah (-), Pusing (-),
Pandangan kabur (-) kemudian dengan dokter spesialis kandungan dilakukan USG
ulang dan didapatkan gambaran kantong gestasional kosong tanpa adanya janin
didalamnya ditegakkan diagnosa Blighted Ovum sehingga di elektifkan untuk
dilakukan kuretase.

Tanggal 2/1/2017 pukul 17.00 WIB datang ke ruang nifas melati RSUD
Dr. Moh. Saleh Probolinggo menyatakan siap untuk dioperasi dan sudah tidak
didapatkan perdarahan pervaginam. Pasien mengatakan perdarahan sudah berhenti
sejak tanggal 27/12/2016. Tidak didapatkan nyeri perut, pusing (-), mual/muntah
(-) tetapi kemarin malam masih keluar keputihan agak merah bening dan molor
dengan jumlah sedikit, tidak didapatkan gatal dan bau.
31

Dari anamnesa didapatkan bahwa pasien mengalami terlambat menstruasi


sejak tanggal 2 September 2016, dengan melakukan tes urin dengan test pack
didapatkan hasil garis dua yang menandakan kadar beta-hCG pasien meningkat.
Dari anamnesis pasien tersebut mengarah bahwa pasien ini sedang hamil. Pasien
sempat mengeluh adanya perdarahan yang mengarah ke diagnose abortus iminens
dilihat dari terjadinya perdarahan spontan di trimester pertama yaitu di usia
kehamilan < 20 minggu tanpa adanya riwayat koitus sebelumnya. Tidak
didapatkan keluhan mulas hanya keluhan perdarahan pervaginam semakin
memperkuat adanya kecurigaan kearah diagnosis abortus iminens atau abortus
yang mengancam. Kemudian dari anamnesis pada tanggal 22/12/2016 dengan
keluhan perdarahan pervaginam yang berupa cairan dan bergumpal-gumpal
dengan volume yang semakin banyak dapat membuat kemungkinan adanya
peluruhan hasil konsepsi pervaginam secara spontan yang mengarah ke diagnose
abortus inkomplit. Dilakukan pemeriksaan USG pada pasien pada tanggal
9/12/2016 dengan kesimpulan adanya kantong gestasi tanpa mudigah kehamilan 8
minggu, dilakukan USG ulang 7 hari kemudian 16/12/2016 didapatkan kantong
gestasi yang berkembang tanpa disertai pertumbuhan yolk sac / mudigah
didalamnya. Tanggal 22/12/2016 dilakukan USG ulang dengan dapatan gambaran
diameter kantong gestasi 28mm, tanpa adanya pertumbuhan yolk sac/ mudigah
didalamnya, yang sudah dilakukan USG ulang untuk evaluasi di 2 minggu maka
ditegakkanlah diagnosa pasti berdasarkan USG Blighted Ovum.

Pasien kemudian dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan hasil bahwa


pasien tidak terlihat anemis yang dievaluasi dari konjungtivanya dan keadaan
umum pasien cukup. Hal ini menandakan bahwa perdarahan pervaginam yang
tejadi pada pasien tidak cukup banyak, serta dibuktikan dengan pemeriksaan
laboratorium Hb 12,9 g/dL, Hematokrit 37 %, eritrosit 4.300.000 mg/dL.
Sedangkan untuk tanda vital pasien didapatkan tekanan darah 110/70 mmHg,
Nadi 80x/menit, Pernafasan 20x/menit, dan suhu 36,7 OC. Hal ini menunjukkan
bahwa kondisi pasien cukup baik, dapat menyingkirkan diagnosis yang mengarah
ke arah infeksi dengan indikator saah satunya suhu yang tidak tinggi, Leukosit
dalam batas normal. CRT masih 1 detik menunjukkan bahwa sirkulasi perifer
pasien dalam keadaan baik dan menyingkirkan kecurigaan terhadap syok
32

hipovolemik akibat perdarahan. Selanjutnya tinggi fundus uteri tidak teraba dari
perabaan dinding abdomen menandakan kemungkinan adanya kehamilan muda
<12 minggu , serta tidak adanya denyut jantung janin menggunakan doppler
memandakan kehamilan muda, janin tidak berkembang atau janin meninggal
dalam kandungan di usia kehamilan yang cukup.

Sedangkan pemeriksaan dalam menggunakan spekulum/cocor bebek


dilakukan dan vaginal toucher merupakan pemeriksaan sederhana yang harus
dilakukan jika curiga terjadi perdarahan untuk mengetahui darimana asal
perdarahannya. Serta untuk mengevaluasi adanya pembukaan ostium uteri yang
dapat menyingkirkan salah satu kecurigaan antara terjadinya aborsi iminens atau
aborsi inkomplit. Inspekulum didapatkan gambaran portio licin, didapatkan
perdarahan, ostium uteri eksternum multi para dan tertutup, tidak ada fluor, tanda
kehamilan chadwick sign (-) disimpulkan adanya kemungkinan terjadinya abortus
iminens.

Dipastikan dengan pemeriksaan vaginal toucher diapatkan vulva vagina


tidak ada pembengkakan, daging tumbuh (-), fluksus (-), perdarahan (-), ruggae
vagina : licin, masa (-), portio : licin, ostium multi para, lunak, masa(-), rapuh (-),
nyeri goyang portio (-) menyingkarkan kemungkinan terjadinya kehamilan
ektopik terganggu, fundus tidak teraba menandakan kemungkinan tidak adanya
perkembangan kehamilan yang seharusnya teraba di usia kehamilan 15-16
minggu. Perabaan adneksa kanan-kiri, fornix anterior, cavum douglas tidak ada
nyeri (-), bendungan (-) sehingga menutup kemungkinan adanya perdarahan
abdomen, serta darah (-) , Lendir (+), Fluksus (-).

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan oleh pasien berupa pemeriksaan


laboratorium didapatkan hasil sebagai berikut :

Hematokrit 37 % 36-46 %
Hemoglobin 12,9 g/dL 12-16 g/dL
Leukosit 6.860/ mm3 4.000-11.000
Hitung jenis :
Eosinofil 3% 0-8 %
33

Basofil 0% 0-3 %
Neutrofil 54 % 45-70 %
Limfosit 35 % 16-46 %
Monosit 8% 40-11 %
Trombosit 294.000/mm3 150.000-350.000/mm3
Eritrosit 4,3 juta/mm3 4,1 juta 5,1
juta/mm3
Gula darah acak 96 mg/dL 200 mg/dL
HbsAg Negatif (-) -

Dari hasil tersebut diketahui bahwa Hb pasien baik,leukosit dalam jumlah


normal, serta hasil laboratorium yang sesuai dengan kadaan klinisnya. Serta hasil
USG tanggal 16/12/2016 didapatkan kesimpulan, Gravida 15 minggu dengan
Blighted Ovum dengan gambaran adanya kantong gestasional yang tidak disertai
dengan adanya mudigah didalamnya. Hasil USG didapatkan besar Gestational
sac: 28 mm, tidak didapatkan yolk sac, tidak didapatkan gambaran janin di usia
kehamilan 15 minggu dengan blighted ovum dimana secara teori syarat penegakan
diagnosis blighted ovum berdasarkan USG adalah tidak ditemukannya yolk sac
dalam mean sac diameter 13 mm, atau tidak adanya embryonic pole dalam
mean sac diameter 20 mm, atau tampilan dengan amnion yang kosong atau
hanya didapatkan kantong gestasi 25mm.

Pada pasien tersebut dilakukan penatalaksanaan awal setibanya di melati


dengan pemasangan infus RL dosis manintenance 20 tpm bertujuan untuk
rehidrasi dan pencegahan apabila pasien jatuh dalam keadaan gawat sewaktu-
waktu bisa langsung diberikan terapi melalui jalur intra vena. Persiapan operasi
dengan puasa 10 jam sebelum operasi bertujuan untuk pencegahan pasien
mengalami mual/muntah saat dipengaruhi anastesi yang dapat memicu aspirasi.
Pemilihan prosedur dengan D&C memiliki keuntungan yang lebih baik dibanding
dengan menggunakan prosedur farmakologi, salah satunya adalah tingkat
keberhasilannya sebesar 99 %. Tetapi tidak menutup kemungkinan terjadinya
komplikasi post D&C berupa perdarahan akibat dilatasi yang dilakukan saat
34

portio belum melunak, perdarahan intra abdomen akibat instrumen yang melukai
dinding abdomen. Laserasi akibat D&C yang dilakukan pada ostium uteri yang
masih tertutup dapat dicegah dengan di kombinasi dengan pemberian misoprostol
sebelum dilakukan prosedur D&C dapat mengurangi resiko tersebut.

Tanggal 4/1/2017, keadaan umum pasien sudah membaik. Tidak ada


keluhan nyeri perut sedikit hanya jika dibuat duduk terlalu lama, merupakan
reaksi yang wajar selama tidak ada perdarahan aktif pervaginam. Tidak
didapatkan anemia dibuktikan dengan anemi (-) pada konjungtiva ditunjang
dengan pemeriksaan Hb=13 g/dL.Tidak didapatkan keluhan pusing, pandangan
kabur, mual/muntah. Pasien sudah bisa flatus mengindikasikan bahwa peristaltik
usus sudah kembali seperti keadaan sebelumnya serta mobilisasi baik, BAB/BAK
baik, nafsu makan baik, keluar darah sedikit saat hendak kencing dari
kemaluan.Status ginekologinya palpasi TFU tidak teraba hanya didapatkan
perdarahan pervaginam berupa flek sedikit, Lendir (-), Keputihan (-) menurunkan
terjadinya komplikasi akibat D&C. Tanda-tanda vital pasien stabil, tidak
didapatkan anemis, serta tidak diapatkan perdarahan aktif pervaginam setelah
dilakukan D&C hari ke 1. Mengingat keadaan pasien yang baik sehingga pasien
dapat dipulangkan dengan pemberian obat tab. Ciprofloxacin 500mg 3x1 sebagai
antibiotik untuk menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi setelah kuret dan
tab. Asam mefenamat 500mg 3x1 untuk anti nyeri. Edukasi pasien untuk
menggunakan segera menggunakan KB (KB pil paling aman) untuk mencegah
kehamilan agar uterus dapat kembali normal minimal 3 bulan post kuret, serta
kontrol ke 1 minggu kemudian untuk mengevaluasi adakah komplikasi post kuret.

Jaringan hasil kuretase sebaiknya dilakukan pemeriksaan histo-patologi-


anatomi dan pemeriksaan DNA guna mengetahui penyebab terjadinya blighted
ovum. Begitu pula dilakukan screening test kromosom pada wanita dan pria guna
mencegah kejadian berulang. Karena berdasarkan penelitian penyebab terjadinya
blighted ovum adalah kelainan kromosom terutama dari kualitas ovum yang buruk
sehingga dapat dicegah dengan pemberian antioksidan untuk pencegahan
terjadinya kehamilan blighted ovum berikutnya, serta merubah gaya hidup
menjadi lebih sehat, melakukan vaksin terutama terhadap TORCH untuk
35

mencegah infeksi. Akan tetapi pemeriksaan tersebut tidak dilakukan karena


terbatasnya biaya dan fasilitas.

BAB V

RINGKASAN

Pasien Ny. E datang ke poli kandungan tanggal 22/12/2016.Pasien datang


ke Poli Kandungan dengan keluhan keluar bercak darah dan bergumpal-gumpal
sejak 1 minggu yang lalu serta menunjukkan cetakan USG sebelumnya tanggal
16/12/2016 dari dokter spesialis kandungan dengan diagnosis blighted ovum.
Dengan dokter spesialis kandungan dilakukan USG ulang untuk menegakkan
diagnosis blighted ovum dan di sarankan untuk melakukan D&C.

Tanggal 4/1/2017 keadaan umum pasien sudah membaik. Tidak ada


keluhan nyeri perut sedikit hanya jika dibuat duduk terlalu lama, merupakan
reaksi yang wajar selama tidak ada perdarahan aktif pervaginam. Pasien
dipulangkan dengan diagnosis akhir P1001 A1 post D&C hari pertama atas
indikasi blighted ovum.

Pasien di edukasi untuk menggunakan KB hingga 3 bulan kedepan untuk


mencegah kehamilan agar uterus dapat kembali normal sehingga siap untuk
memulai kehamilan kembali serta kontrol ke 1 minggu kemudian saat obat sudah
habis atau datang ke igd jika ada perdarahan hebat, atau keluhan yang memburuk.
36

DAFTAR PUSTAKA

American pregnancy. 2015. Bighted Ovum.


(http://americanpregnancy.org/pregnancy-complications/blighted-ovum/
diakses tgl 6.1.2017)
Annova. 2014. Kehamilan Kosong (Blighted Ovum). 18 Mei 2014
(http://www.artikelduniawanita.com) diakses tanggal 1 Januari 2016.
Behnamfar, Fariba, et al. 2013. Misoprostol Abortion : Ultrasonography versus
Beta-hCG testing for Verification Of Effectiveness. Pak J Med Sci 2013
Vol. 29 No.6 page 1367-70.
Buzad, Paul, Travis W. McCoy. 2017. Caphter 25 : Spontaneus Abortion And
Recurrent Pregnancy loss. OB/GYN Secrets. Elsevier, Inc.
Gariepy, Aileen M and Beatrice A. Chen. Chapter 29 : Management Of Early
Pregnancy Failue. Obstetric Evidance Based Guidelines Second Edition.
London: Informa Healthcare.
Moshtaghis, Asiyeh, et al. 2016. Gluthathione Peroxidase-1 Gene Polymorphism
(GPx-1 Pro198Leu) In Associaton With Blighted Ovum. Iran : Universty
Of Guilan.
Patel, Bi. 2014. Chapter 6 : Problems Of First Semester. Ultrasound In Obstetric
And Gynecology Fourth Edition. Jaypee Brothers Medical Publishers.
Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Rukiyah, AY, Yulianti L. 2010. Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan).
Jakarta: TIM
Sari, hafifah puspita. 2015. Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Patologi Pada Ny. E
Umur 20 Tahun GI P0 A0 Usia Kehamilan 13 Minggu Dengan Blighted
Ovum di RSUD Karanganyar. IJMS. Vol. 2 No. 2 Juli 2015.
Seekohi, Sahar, et al. 2013. Chromosomal Study Of Couples With The History Of
Recurrent Spontaneus Abortions With Diagnosed Blighted Ovum.
Sukarno,I, Sudarti. 2014. Patologi Kehamilan, Persalinan, Nifas, dan Neonatus
Resiko Tinggi. Yogyakarta : Nuha Medika.
Todd, Nivin. 2015. Blighted Ovum. Web MD.
(http://www.webmd.com/baby/guide/blighted-ovum#1 diakses tgl
6.1.2017)
37