Anda di halaman 1dari 20

Laporan Kasus

Hiperemesis Gravidarum

Pembimbing
dr. FX Widiarso, SpOG

disusun oleh
Gladys Irma Hartono
11 2014 284

KEPANITERAN KLINIK
ILMU PENYAKIT OBSTETRI GINEKOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RS MARDI RAHAYU KUDUS
PERIODE 07 September 2015 14 November 2015

1
LAPORAN KASUS
Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Obstetri Ginekologi
Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus
________________________________________________________________________
Nama : Gladys Irma Hartono Tanda tangan :
NIM : 11.2014.284
Dr pembimbing / penguji : dr. FX Widiarso,Sp.OG

A. IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Ny. DFA Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 30 tahun Suku bangsa : Jawa
Status perkawinan : Kawin (GIIPIA0) Agama : Islam
Pekerjaan : Buruh Pendidikan : SMP
Alamat : Tuwang, Karanganyar Masuk Rumah Sakit : 24 Oktober 2015
Pukul 13.00 WIB

Nama suami : Tn. F


Umur : 30 tahun
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Alamat : Tuwang, Karanganyar

Anamnesis
Dilakukan autoanamnesis tanggal 24 Oktober 2015 pukul 13.00 WIB

Keluhan utama
Mual dan muntah berlebihan sejak 3 hari SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien berusia 30 tahun, hamil 9 minggu, datang dengan keluhan mual dan muntah
berlebihan sejak 3 hari SMRS. Mual dirasakan terutama sehabis makan, ulu hati terasa nyeri, lalu
muntah. Saat minum air putih pasien juga merasa mual lalu muntah. Muntah tersebut berisi
makanan atau minuman yang pasien baru konsumsi. Pasien mengeluh air liurnya menjadi lebih

2
banyak dan pangkal lidah terasa asam sedikit pahit. Pasien mengatakan muntah lebih dari 10x.
Pasien mengeluh merasa lemas, nafsu makan menurun dan sulit tidur. Keluhan mual muntah ini
sudah dirasakan sejak awal kehamilan namun tidak begitu hebat.
Riwayat BAB dan BAK lancar. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis. Pasien
mengaku mengalami mual dan muntah terus menerus pada kehamilan sebelumnya namun tidak
begitu hebat hingga dirawat di rumah sakit. Ini merupakan kehamilan kedua. Hamil pertama
pasien tahun 2010 melahirkan secara normal pervaginam dibantu oleh bidan. Pasien memiliki
riwayat menstruasi teratur. HPHT 17 Agustus 2015, HPL 24 April 2016

Riwayat Kehamilan
ANC rutin di bidan, pasien tidak memiliki riwayat KB.

Riwayat Haid
Menarche : 12 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 7 hari
Dismenorrhea : (+)
Leukorrhea : (-)
Menopause : (-)
HPHT : 17 Agustus 2015
HPL : 24 April 2016
- Perkawinan 1 kali
- Menikah usia : 24 tahun
- Lama menikah : 6 tahun
- Riwayat KB :-

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran


Hamil Usia Jenis Penyulit Penolong Jenis BB/TB Umur

3
ke kehamilan persalinan kelamin lahir sekarang
1 39 minggu Normal - Bidan Laki-laki 2500 gr 5 tahun
2 Hamil ini

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien memiliki riwayat maag
Pasien pernah dirawat di rumah sakit karena tifus tahun 2008
Pasien mempunyai riwayat mual muntah pada kehamilan pertama
Tidak pernah menderita tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kencing manis, dan alergi
Tidak ada riwayat operasi sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis, asma
dan alergi.

Pemeriksaan Fisik dilakukan pada tanggal 24 Oktober 2015 pukul 13.00


Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 140/90 mmHg
Nadi : 95x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,5oC
Mata : Konjungtiva anemis -/- , Sklera ikterik -/- , mata cekung +/+
Telinga : Tidak tampak kelainan
Hidung : Tidak tampak kelainan
Mulut/gigi : Mukosa bibir tampak kering
Leher : Tidak tampak pembesaran KGB dan tiroid
Jantung : BJ I-II reguler murni, gallop (-), murmur (-)
Thorak : Suara napas dasar vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Abdomen : Membuncit, supel, nyeri tekan epigastrium (+), BU (+)
Ekstremitas : Akral hangat , turgor kulit menurun

4
Status Ginekologi
Pemeriksaan Luar
Wajah : Chloasma gravidarum (-)
Payudara : Pembesaran payudara (+), hiperpigmentasi areola mammae (+), puting
susu menonjol (+), pengeluaran ASI (-)
Abdomen : Linea nigra (+), striae gravidarum (-), sikatrik (-), bekas operasi laparotomi (-)

Periksa Dalam
Flx (-), fl (-)
V/U/V : tak ada kelainan
Portio : sebesar jempol tangan, kenyal
OUE tertutup
Corpus uteri sebesar telur bebek
Adnexa : tak ada kelainan
Cavum Douglas : tak ada kelainan

Pemeriksaan Penunjang
Hematologi dilakukan pada tanggal 24 Oktober 2015 pukul 14.30
Hemoglobin 15.0 gram/dL
Leukosit 9.840/uL
Hematokrit 43.10 %
Trombosit 335.000/uL
HbsAg Negatif
Waktu Perdarahan/BT 1,30 menit
Waktu Pembekuan/CT 5,0 menit
HIV Stik Negatif
Gol darah/Rhesus B/+
Gula darah sewaktu 122 mg/dL
USG Kandungan
Hasil: Janin tunggal hidup intra uterine letak mobile sesuai dengan usia kehamilan.

Ringkasan/Resume
Pasien 30 tahun GIIPIA0, hamil 9 minggu, datang dengan keluhan mual dan muntah terus-
menerus sejak 3 hari SMRS. Mual dirasakan apabila pasien sehabis makan, minum, ulu hati
terasa nyeri, lalu muntah. Muntah tersebut berisi makanan atau minuman yang pasien baru

5
konsumsi. Mulut terasa berliur banyak, disertai rasa asam sedikit pahit pada pangkal lidah.
Pasien mengaku muntah lebih dari 10x kali. Pasien merasa lemas, nafsu makan menurun, dan
sulit tidur. Keluhan mual muntah sudah dirasakan sejak minggu awal kehamilan namun tidak
terlalu hebat.
Ini merupakan kehamilan kedua. Hamil pertama pasien tahun 2010 melahirkan secara normal
pervaginam dibantu oleh bidan. Pasien memiliki riwayat menstruasi teratur. Pasien memiliki
HPHT 17 Agustus 2015 dengan HPL 24 April 2016. Saat ini pasien hamil 9 minggu.
Pada pemeriksaan fisik umum didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, mata cekung
(+/+), mukosa bibir kering, turgor kulit menurun dan nyeri tekan epigastrium.
Pada pemeriksaan fisik ginekologi didapatkan Flx (-), Fl (-), V/U/V tak ada kelainan, portio
sesuai jempol tangan, kenyal, OUE tertutup, corpus uteri sebesar telur bebek, adnexa dan
cavum douglas tak ada kelainan.
Pemeriksaan laboratorium hematologi didapatkan dalam batas normal.
USG kehamilan didapatkan hasil janin tunggal intra uterine letak mobile sesuai dengan usia
kehamilan.

Riwayat Haid
Menarche : 12 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 7 hari
Dismenorrhea : (+)
Leukorrhea : (-)
Menopause : (-)
HPHT : 17 Agustus 2015
HPL : 24 April 2016
- Perkawinan 1 kali
- Menikah usia : 24 tahun
- Lama menikah : 6 tahun
- Riwayat KB :-

Pemeriksaan Luar
Wajah : Chloasma gravidarum (-)
Payudara : Pembesaran payudara (+), hiperpigmentasi areola mammae (+), puting

6
susu menonjol (+), pengeluaran ASI (-)
Abdomen : Linea nigra (+), striae gravidarum(-), sikatrik (-), bekas operasi (-)

Diagnosis Kerja
GIIPI AO , usia 30 tahun, hamil 9 minggu dengan hiperemesis gravidarum tingkat I dan
dehidrasi sedang.

Pengelolaan
Infus RL guyur 2 botol, selanjutnya RL/D5 20 tpm + Invomit 1 ampul
Folaplus (Asam folat, Vit B6 dan B12) 1x1 tab
Mediamer B6 3x1 tab
Inpepsa 3x1 C
Bedrest

Prognosa
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

Follow Up
25 Oktober 2015, pukul 08.00 WIB
S : Kepala terasa pusing, masih mual, os sudah tidak muntah.
O : Keadaan umum tampak sakit ringan, kesadaran compos mentis
TD : 100/60 mmHg
Nadi : 88x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,8C
Mata : sclera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), mata cekung (-/-)
Jantung : BJ I-II regular murni, gallop (-), murmur (-)
Thorax : SN (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : Membuncit, supel, Nyeri tekan epigastrium (+), BU (+)
PPV : (-)
Ekstremitas : Akral hangat, turgor kulit baik
A : GIIPI A0 , usia 30 tahun, hamil 9 minggu dengan hiperemesis gravidarum derajat 1 dan
dehidrasi sedang.

7
P :

Terapi dilanjutkan

Bed rest

26 Oktober 2015, pukul 07.15 WIB


S : Kepala sudah tidak terasa pusing, mual berkurang.
O : Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis
TD : 110/90 mmHg
Nadi : 87x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,6C
Mata : sclera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-)
Jantung : BJ I-II regular murni, gallop (-), murmur (-)
Thorax : SN (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : Membuncit, supel, Nyeri tekan epigastrium (-), BU (+)
PPV : (-)
Ekstremitas : Akral hangat, turgor kulit baik.
A : GIIPI AO , usia 30 tahun, hamil 9 minggu dengan hiperemesis gravidarum derajat 1 dan
dehidrasi sedang.
P :

Lanjutkan terapi

Mediamer B6 stop

Tambah terapi dengan Ondansetron tab 2x1

27 Oktober 2015, pukul 07.30 WIB


S : Mual berkurang.
O : Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 84x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,5C
Mata : sclera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-)
Jantung : BJ I-II regular murni, gallop (-), murmur (-)
Thorax : SN (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : Membuncit, supel, Nyeri tekan epigastrium (-), BU (+)
PPV : (-)
Ekstremitas : Akral hangat, turgor kulit baik.
A : GIIPI AO , usia 30 tahun, hamil 9 minggu dengan hiperemesis gravidarum derajat 1 dan
dehidrasi sedang.

8
P :
Pasien boleh pulang
Obat pulang:
Folaplus 1 x 1
Ondansetron 2 x 1

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENDAHULUAN
Sekitar 50-90% perempuan hamil mengalami keluhan mual dan muntah. Keluhan ini
biasanya disertai dengan hipersalivasi, sakit kepala, perut kembung, dan rasa lemah pada badan.
Keluhan-keluhan ini secara umum dikenal sebagai morning sickness. Istilah ini sebenarnya
kurang tepat karena 80% perempuan hamil mengalami mual dan muntah sepanjang hari. 1
Apabila mual dan muntah yang dialami mengganggu aktivitas sehari-hari atau
menimbulkan komplikasi, keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum. Komplikasi yang dapat
terjadi adalah ketonuria, dehidrasi, hipokalemia dan penurunan berat badan lebih dari 3 kg atau
5% berat badan. 1
Mual dan muntah pada kehamilan biasanya dimulai pada kehamilan minggu ke-9 sampai
ke-10, memberat pada minggu ke-11 sampai ke-13 dan berakhir pada minggu ke-12 sampai ke-
14. Hanya pada 1-10% kehamilan gejala berlanjut melewati minggu ke-20 sampai ke-22. Pada
0,3-2% kehamilan terjadi hiperemesis gravidarum yang menyebabkan ibu harus ditatalaksana
dengan rawat inap. 1
Hiperemesis gravidarum jarang menyebabkan kematian, tetapi angka kejadiannya masih
cukup tinggi. Hampir 25% pasien hiperemesis gravidarum dirawat inap lebih dari sekali.
Terkadang, kondisi hiperemesis yang terjadi terus-menerus dan sulit sembuh membuat pasien
depresi. Pada kasus-kasusekstrim, ibu hamil bahkan dapat merasa ingin melakukan terminasi
kehamilan. 1

9
Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan hiperemesis gravidarum antara lain
hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya, berat badan berlebih, kehamilan multipel,
penyakit trofoblastik, nuliparitas dan merokok. 1

B. DEFINISI
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai umur
kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang-kadang begitu hebat dimana segala apa yang
dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum dan
menganggu pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, dan terdapat aseton dalam
urin bahkan seperti gejala penyakit apendisitis, pielititis, dan sebagainya. 2
Mual dan muntah mempengaruhi hingga >50 % kehamilan. Kebanyakan perempuan
mampu mempertahankan kebutuhan cairan dan nutrisi dengan diet, dan simptom akan teratasi
hingga akhir trimester pertama. Penyebab penyakit ini masih belum diketahui secara pasti, tetapi
diperkirakan erat hubungannya dengan endokrin, biokimiawi, dan psikologis. 2

Tabel 1. Definisi-definisi Mual dan Muntah dalam Kehamilan 1

C. KLASIFIKASI
Secara klinis, hiperemesis gravidarum dibedakan atas 3 tingkatan, yaitu:

Tingkat I
Muntah yang terus-menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat-badan
menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar makanan, lendir dan cairan empedu, dan
yang terakhir keluar darah. Nadi meningkat sampai 100 kali per menit dan tekanan darah
sistolik menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang, dan urin sedikit
tetapi masih normal.2

10

Tingkat II
Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan, haus hebat, subfebril,
nadi cepat dan lebih dari 100 - 140 kali per menit, tekanan darah sistolik kurang dari 80
mmHg, apatis, kulit pucat, lidah kotor, kadang ikterus, aseton, bilirubin dalam urin, dan berat
badan cepat menurun.2

Tingkat III
Walaupun kondisi tingkat III sangat jarang, yang mulai terjadi adalah gangguan kesadaran
(delirium-koma), muntah berkurang atau berhenti, tetapi dapat terjadi ikterus, sianosis,
nistagmus, gangguan jantung, bilirubin, dan proteinuria dalam urin. 2

D. ETIOPATOGENESIS EMESIS DAN HIPEREMIS GRAVIDARUM


Etiologi dan patogenesis emesis dan hiperemesis gravidarum berkaitan erat dengan
etiologi dan pathogenesis mual dan muntah pada kehamilan. Penyebab pasti mual dan muntah
yang dirasakan ibu hamil belum diketahui, tetapi terdapat beberapa teori yang mengajukan
keterlibatan faktor-faktor biologis, sosial dan psikologis. Faktor biologis yang paling berperan
adalah perubahan kadar hormon selama kehamilan. Menurut teori terbaru, peningkatan kadar
Human Chorionic Gonadotropin (hCG) akan menginduksi ovarium untuk memproduksi
estrogen, yang dapat merangsang mualdan muntah. Perempuan dengan kehamilan ganda atau
molahidatidosa yang diketahui memiliki kadar hCG lebih tinggi daripada perempuan hamil lain
mengalami keluhan mual dan muntah yang lebih berat. Progesteron juga diduga menyebabkan
mual dan muntah dengan cara menghambat motilitas lambung dan irama kontraksi otot-otot
polos lambung. Penurunan kadar thyrotropin-stimulating hormone (TSH) pada awal kehamilan
juga berhubungan dengan hiperemesis gravidarum meskipun mekanismenya belum jelas.
Hiperemesis gravidarum merefleksikan perubahan hormonal yang lebih drastis dibandingkan
kehamilan biasa.1
Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh beberapa sebagai
berikut:
1.
Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan
kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda
menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan karena pada kedua keadaan
tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. Ditemukan peninggian yang

11
bermakna dari kadar serum korionik gonadotropin total maupun -subunit bebasnya pada ibu
dengan hiperemesis dibandingkan dengan yang hamil normal.3
2.
Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta
resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik. 3
3.
Alergi, sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah
satu faktor organik. 3
4.
Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah tangga yang
retak, kehilangan pekerjaan, takut akan kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung
jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan
muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai
pelarian kesukaran hidup. 3,4,5
5.
Faktor endokrin lainnya: hipertiroid, diabetes, dan lain-lain. Gejala mual-muntah dapat juga
disebabkan oleh gangguan traktus digestivus seperti pada penderita diabetes melitus
(gastroparesis diabeticorum). Hal ini disebabkan oleh gangguan motilitas usus pada
penderita.4,5

E. DIAGNOSIS

Amenore yang disertai muntah hebat, pekerjaan sehari-hari terganggu.

Fungsi vital : nadi meningkat 100 kali per menit, tekanan darah menurun pada keadaan berat,
subfebril dan gangguan kesadaran (apatis-koma).

Fisik : dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan menurun, pada vaginal toucher
uterus besar sesuai besarnya kehamilan, konsistensi lunak, pada pemeriksaan inspekulo
serviks berwarna biru (livide).

Pemeriksaan USG : untuk mengetahui kondisi kesehatan kehamilan juga untuk mengetahui
kemungkinan adanya kehamilan kembar ataupun kehamilan molahidatidosa.

Laboratorium : kenaikan relatif hemoglobin dan hematokrit, shift to the left, benda keton, dan
proteinuria.

Pada keluhan hiperemesis yang berat dan berulang perlu dipikirkan untuk konsultasi
psikologi. 2,5

F. GEJALA KLINIK
Mulai terjadi pada trimester pertama. Gejala klinik yang sering dijumpai adalah nausea,
muntah, penurunan berat badan, ptialism (salivasi yang berlebihan), tanda-tanda dehidrasi
termasuk hipotensi postural dan takikardi. Pemeriksaan laboratorium dapat dijumpai

12
hiponatremi, hipokalemia, dan peningkatan hematokrit. Hipertiroid dan LFT yang abnormal juga
dapat dijumpai. 2,4

G. RISIKO

Maternal
Akibat defisiensi tiamin (B1) akan menyebabkan terjadinya diplopia, palsi nervus ke-6,
nistagmus, ataksia, dan kejang. Jika hal ini tidak segera ditangani, akan terjadi psikosis
Korsakoff (amnesia, menurunnya kemampuan untuk beraktivitas), ataupun kematian. Oleh
karena itu, untuk hiperemesis tingkat III perlu dipertimbangkan terminasi kehamilan.

Fetal
Penurunan berat badan yang kronis akan meningkatkan kejadian gangguan pertumbuhan
janin dalam rahim (IUGR) 2

H. MANAJEMEN

Untuk keluhan hiperemesis yang berat, pasien dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit dan
membatasi pengunjung.

Stop makanan per oral 24 48 jam.

Infus glukosa 10% atau 5% : RL = 2 : 1, 40 tetes per menit. 1

Obat 1

Vitamin B1, B2, dan B6 masing-masing 50-100 mg/hari/infus.

Vitamin B12 200 g/hari/infus, vitamin C 200 mg/hari/infus.

Fenobarbital 30 mg I.M. 2 - 3 kali per hari atau klorpromazin 25 - 50 mg/hari I.M. atau
kalau diperlukan diazepam 5 mg 2- 3 kali per hari I.M.

Antiemetik: prometazin (avopreg) 2 - 3 kali 25 mg per hari per oral atau proklorperazin
(stemetil) 3 kali 3 mg per hari per oral atau mediamer B6 3 kali 1 per hari per oral.

Antasida : asidrin 3 x 1 tablet per hari per oral atau milanta 3 x 1 tablet per hari per oral
atau magnam 3 x 1 tablet per hari per oral. 2

Diet sebaiknya meminta advis ahli gizi



Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti
kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam
sesudahnya. Makanan ini kurang mengandung zat gizi, kecuali vitamin C sehingga hanya
diberikan selama beberapa hari. 2

13

Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur
mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan
bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat gizi, kecuali vitamin A dan D. 2

Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut
kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup
dalam semua zat gizi, kecuali kalsium.2

Rehidrasi dan suplemen vitamin


Pilihan cairan adalah normal salin (NaCl 0,9 %). Cairan dekstrose tidak boleh diberikan
karena tidak mengandung sodium yang cukup untuk mengoreksi hiponatremia. Suplemen
potasium boleh diberikan secara intravena sebagai tambahan. Suplemen tiamin diberikan
secara oral 50 atau 150 mg atau 100 mg dilarutkan ke dalam 100 cc NaCl. Urin output juga
harus dimonitor dan perlu dilakukan pemeriksaan dipstick untuk mengetahui terjadinya
ketonuria. 2

Antiemesis
Tidak dijumpai adanya teratogenitas dengan menggunakan dopamin antagonis
(metoklopramid, domperidon) fenotiazin (klorpromazin, proklorperazin), antikolinergik
(disiklomin) atau antihistamin H1-reseptor antagonis (prometazin, siklizin). Namun, bila
masih tetap tidak memberikan respons, dapat juga digunakan kombinasi kortikosteroid
dengan reseptor antagonis 5-Hidrokstriptamin (5-HT3) (ondansetron, sisaprid). 2

Tabel 2. Obat-obatan untuk Tata Laksana Mual dan Muntah dalam Kehamilan1

14
Isolasi.
Dilakukan dalam kamar yang tenang cerah dan peradaran udara yang baik hanya dokter dan
perawat yang boleh keluar masuk kamar sampai muntah berhenti dan pasien mau makan.
Catat cairan yang masuk dan keluar dan tidak diberikan makan dan minum dan selama 24
jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa
pengobatan.4,6
Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut
oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang
kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. 4,6
Penghentian kehamilan.
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan
mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik jika memburuk. Delirium, kebutaan, takikardi,

15
ikterus, anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan
demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan
abortus terapuetik sering sulit diambil, oleh karena disatu pihak tidak boleh dilakukan terlalu
cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala irreversibel pada organ
vital. Gejala-gejala untuk mempertimbangkan abortus terapeutikus, ialah:5,6
a. Ikterus
b. Delirium atau koma
c. Nadi yang naik berangsur-angsur sampai di atas 130 kali/menit
d. Suhu meningkat di atas 38oC
e. Perdarahan dalam retina
f. Uremi, proteinuri, silinder yang merupakan tanda-tanda intoksikasi. 5,6

Evaluasi Keberhasilan Terapi


Tujuan terapi emesis atau hiperemesis gravidarum adalah untuk mencegah komplikasi
seperti ketonuria, dehidrasi, hipokalemia dan penurunan berat badan lebih dari 3 kg atau 5%
berat badan. Jika sudah terjadi komplikasi, perlu dilakukan tata laksana terhadap komplikasi
tersebut. Penilaian keberhasilan terapi dilakukan secara klinis dan laboratoris. Secara klinis,
keberhasilan terapi dapat dinilai dari penurunan frekuensi mual dan muntah, frekuensi dan
intensitas mual, serta perbaikan tanda-tanda vital dan dehidrasi. Parameter laboratorium yang
perlu dinilai adalah perbaikan keseimbangan asam-basa dan elektrolit.

I. KOMPLIKASI
Muntah yang terus-menerus disertai dengan kurang minum yang berkepanjangan dapat
menyebabkan dehidrasi. Jika terus berlanjut, pasien dapat mengalami syok. Dehidrasi yang
berkepanjangan juga menghambat tumbuh kembang janin. Oleh karena itu, pada pemeriksaan
fisik harus dicari apakah terdapat abnormalitas tanda-tanda vital, seperti peningkatan frekuensi
nadi (>100 kali per menit), penurunan tekanan darah, kondisi subfebris, dan penurunan
kesadaran.1
Selanjutnya dalam pemeriksaan fisis lengkap dapat dicari tanda-tanda dehidrasi, kulit
tampak pucat dan sianosis, serta penurunan berat badan. Selain dehidrasi, akibat lain muntah
yang persisten adalah gangguan keseimbangan elektrolit seperti penurunan kadar natrium, klor

16
dan kalium, sehingga terjadi keadaan alkalosis metabolik hipokloremik disertai hiponatremia dan
hipokalemia. Hiperemesis gravidarum yang berat juga dapat membuat pasien tidak dapat makan
atau minum sama sekali, sehingga cadangan karbohidrat dalam tubuh ibu akan habis terpakai
untuk pemenuhan kebutuhan energi jaringan. Akibatnya, lemak akan dioksidasi. Namun, lemak
tidak dapat dioksidasi dengan sempurna dan terjadi penumpukan asam aseton-asetik, asam
hidroksibutirik, dan aseton, sehingga menyebabkan ketosis. Salah satu gejalanya adalah bau
aseton (buah-buahan) pada napas. Pada pemeriksaan laboratorium pasien dengan hiperemesis
gravidarum dapat diperoleh peningkatan relatif hemoglobin dan hematokrit, hiponatremia dan
hipokalemia, badan keton dalam darah dan proteinuria. 1
Robekan pada selaput jaringan esofagus dan lambung dapat terjadi bila muntah terlalu
sering. Pada umumnya robekan yang terjadi kecil dan ringan, dan perdarahan yang muncul dapat
berhenti sendiri. Tindakan operatif atau transfusi darah biasanya tidak diperlukan. Perempuan
hamil dengan hiperemesis gravidarum dan kenaikan berat badan dalam kehamilan yang kurang
(<7 kg) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah,
kecil untuk masa kehamilan, prematur, dan nilai APGAR lima menit kurang dari tujuh.1

J. PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan
memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang
fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala
yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan
mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu
bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau
biskuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.
Makanan dan minuman disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. Defekasi yang teratur
hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang
penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.6

K. DIAGNOSIS BANDING
Keluhan muntah yang berat dan persisten tidak selalu menandakan hiperemesis
gravidarum. Penyebab-penyebab lain seperti penyakit gastrointestinal, pielonefritis dan penyakit

17
metabolik perlu dieksklusi. Satu indikator sederhana yang berguna adalah awitan mual dan
muntah pada hiperemesis gravidarum biasanya dimulai dalam delapan minggu setelah hari
pertama haid terakhir. Karena itu, awitan pada trimester kedua atau ketiga menurunkan
kemungkinan hiperemesis gravidarum. Demam, nyeri perut atau sakit kepala juga bukan
merupakan gejala khas hiperemesis gravidarum. Pemeriksaan ultrasonografi perlu dilakukan
untuk mendeteksi kehamilan ganda atau mola hidatidosa.1
Diagnosis banding hiperemesis gravidarum antara lain ulkus peptikum, kolestasis
obstetrik, perlemakan hati akut, apendisitis akut, diare akut, hipertiroidisme dan infeksi
Helicobacter pylori. Ulkus peptikum pada ibu hamil biasanya adalah penyakit ulkus peptikum
kronik yang mengalami eksaserbasi sehingga dalam anamnesis dapat ditemukan riwayat
sebelumnya. Gejala khas ulkus peptikum adalah nyeri epigastrium yang berkurang dengan
makanan atau antacid dan memberat dengan alkohol, kopi atau obat antiinflamasi nonsteroid
(OAINS). Nyeri tekan epigastrium, hematemesis dan melena dapat ditemukan pada ulkus
peptikum. 1
Pada kolestasis dapat ditemukan pruritus pada seluruh tubuh tanpa adanya ruam. ikterus,
warna urin gelap dan tinja berwarna pucat disertai peningkatan kadar enzim hati dan bilirubin.
Pada perlemakan hati akut ditemukan gejala kegagalan fungsi hati seperti hipoglikemia,
gangguan pembekuan darah, dan perubahan kesadaran sekunder akibat ensefalopati hepatik. 1
Keracunan parasetamol dan hepatitis virus akut juga dapat menyebabkan gambaran klinis
gagal hati. Pasien dengan apendisitis akut biasanya mengalami demam dan nyeri perut kanan
bawah. Nyeri dapat berupa nyeri tekan maupun nyeri lepas dan lokasi nyeri dapat berpindah ke
atas sesuai usia kehamilan karena uterus yang semakin membesar. Apendisitis akut pada
kehamilan memiliki tanda-tanda yang khas, yaitu tanda Bryan (timbul nyeri bila uterus digeser
ke kanan) dan tanda Alder (apabila pasien berbaring miring ke kiri, letak nyeri tidak berubah).
Meskipun jarang, penyakit Graves juga dapat menyebabkan hiperemesis. Oleh karena itu, perlu
dicari apakah terdapat peningkatan FT4 atau penurunan TSH. Kadar FT4 dan TSH pada pasien
hiperemesis gravidarum dapat sama dengan pasien penyakit Graves, tetapi pasien hiperemesis
tidak memiliki antibodi tiroid atau temuan klinis penyakit Graves, seperti proptosis dan
pembesaran kelenjar tiroid. Jika kadar FT4 meningkat tanpa didapatkan bukti penyakit Graves,
pemeriksaan tersebut perlu diulang pada usia gestasi yang lebih lanjut, yaitu sekitar 20 minggu
usia gestasi, saat kadar FT4 dapat menjadi normal pada pasien tanpa hipertiroidisme. Pemberian

18
propiltiourasil pada pasien hipertiroidisme dapat meredakan gejala-gejala hipertiroidisme, tetapi
tidak meredakan mual dan muntah. Sebuah studi lain yang menarik menemukan adanya
hubungan antara infeksi kronik Helicobacter pylori dengan terjadinya hiperemesis gravidarum. 1
Pada studi tersebut, sebanyak 61,8% perempuan hamil dengan hiperemesis gravidarum
menunjukkan hasil tes deteksi genom H. pylori yang positif, namun studi tersebut masih
kontroversial. Sebuah studi lain di Amerika Serikat mendapatkan tidak terdapat hubungan antara
hiperemesis gravidarum dengan infeksi H. pylori.1

L. PROGNOSIS
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat memuaskan.
Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit
ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin. Literatur lain menyebutkan, prognosis hiperemesi
gravidarum umumnya baik, namun dapat menjadi fatal bila terjadi deplesi elektrolit dan
ketoasidosis yang tidak dikoreksi dengan tepat dan cepat.6

PENUTUP
Diagnosis dan penatalaksanaan mual dan muntah dalam kehamilan yang tepat dapat
mencegah komplikasi hiperemesis gravidarum yang membahayakan ibu dan janin. Ketepatan
diagnosis sangat penting, karena terdapat sejumlah kondisi lain yang dapat menyebabkan mual
dan muntah dalam kehamilan. Tata laksana komprehensif dimulai dari istirahat, modifikasi diet
dan menjaga asupan cairan. Jika terjadi komplikasi hiperemesis gravidarum, penata-laksanaan
utama adalah pemberian rehidrasi dan perbaikan elektrolit. Terapi farmakologi dapat diberikan
jika dibutuhkan, seperti piridoksin, doxylamine, prometazin, dan meto-klopramin dengan
memperhatikan kontraindikasi dan efek sampingnya. Beberapa terapi alternatif sudah mulai
diteliti untuk penatalaksanaan hiperemesis gravidarum, seperti ekstrak jahe dan akupuntur,
dengan hasil yang bervariasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Gunawan K, Manengkei PSK, Ocviyanti D. Diagnosis dan tatalaksana hiperemesis
gravidarum. Vol.61. Jakarta: J Indon Med Assoc; 2011.h.459-65

19
2. Wibowo B, Soejono A. Hiperemesis gravidarum dalam ilmu kebidanan. Edisi ketiga cetakan
ketujuh. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo; 2005.h.275-280.
3. Mochtar R. Hiperemesis gravidarum dalam sinopsis obstetri. Edisi 2 cetakan pertama.
Jakarta: EGC; 1998.h.195-197
4. Hiperemesis Gravidarum, 26 Juli 2007. Di unduh dari : www.medicastore.com , tanggal 20
Desember 2014

5. Hartanto H. Penyakit saluran cerna. Dalam: Cunningham FG. Obstetric Williams. Edisi ke-
21. Jakarta: EGC; 2005.h.1424-1425

6. Moeloek FA. Hiperemesis gravidarum. Dalam : Standar Pelayanan Medik: Obstetri dan
Ginekologi. Jakarta: Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia;2006.h.21-22

20