Anda di halaman 1dari 22

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Dasar MFCA

2.1.1 Definisi MFCA

Material Flow Cost Accounting (MFCA) adalah alat

manajemen yang dirancang untuk membantu organisasi agar

lebih memperhatikan pengelolaan lingkungan yang lebih baik,

meningkatkan daya saing perusahaan, dan pengembangan

teknik manufakturing yang lebih baik. MFCA melakukannya

dengan mengukur limbah dari setiap proses produksi, dan

mengevaluasi dalam hal pengurangan biaya, MFCA akan menjadi

alat yang mampu memecahkan masalah terkait biaya limbah

industri dalam hal usaha pemotongan biaya limbah. (Furukawa :

2008 : 1)

MFCA merupakan suatu alat manajemen yang membuat

kerugian meterial terlihat dengan cara mengidentifikasi limbah

dan hilangnya bahan dalam proses produksi, baik secara

moneter maupun fisik dengan mengkonversi kedalam biaya

produk positif dan biaya produk negatif. Dengan menerapkan

MFCA kedalam proses produksi dapat memberikan gambaran

yang jelas tentang masalah yang ada dalam pabrik. Dengan


diketahuinya masalah dalam pabrik, perusahaan dapat

mengurangi limbah dan meningkatkan produktivitas material.

Dengan demikian MFCA dapat dikatakan sebagai alat

manajemen yang mendukung hubungan antara ekonomi dan

lingkungan.

Metode MFCA awalnya dikembangkan di Jerman dan

dikembangkan lebih lanjut di Jepang. Dimasukannya MFCA di

Organisasi Internasional untuk Standarisasi (ISO) adalah sebuah

inisiatif dari Jepang, ISO 14051 dikeluarkan pada tahun 2011.

2.1.2 Unsur Utama Dalam MFCA

Asian Productivity Organization (APO) tahun 2014 dalam

Manual on Material Flow Cost Accounting telah membagi MFCA

menjadi tiga unsur utama seperti yang ditunjukan pada gambar

berikut :

Gambar 2.1 Tiga Unsur Utama Dalam MFCA

Sumber (APO.2014 : 4)

1. Material
Material merupakan unsur utama dalam MFCA, dimana

material merupakan objek yang menjadi fokus utama dalam

penerapan MFCA. MFCA diterapkan pada setiap raw material

yang digunakan untuk memproduksi suatu produk. Setiap raw

material yang tidak dapat diubah menjadi produk atau bagian

dalam produk akan disebut kerugian material. Kerugian material

dapat disebabkan beberapa hal, diantaranya :

Kerugian material yang terjadi selama proses produksi

maupun disebabkan karena produk cacat


Bahan baku yang tersisa pada peralatan manufaktur
Bahan baku yang sama sekali tidak terpakai karena beberapa

alasan

2. Arus Material

Arus kedua dalam MFCA adalah arus material, dimana

MFCA menelusuri seluruh input material yang mengalir melalui

proses produksi dan menelusuri hasil produksi yang diubah

menjadi produk dan kerugian (emisi) dalam satuan fisik.

Sehingga dalam penerapan MFCA dibutuhkan informasi terkait

arus material dalam proses produksi.

3. Akuntansi Biaya

Unsur ketiga dalam MFCA adalah akuntansi biaya dimana

setelah material yang mengalir dalam arus material dihitung


dalam satuan fisik (misalnya : volume, massa) berikutnya alokasi

biaya akan dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai

input bahan baku yang diubah menjadi produk dan kerugian

yang dihasilkan mengenai perhitungan secara moneter (Rp).

2.1.3 Elemen Dasar MFCA

Untuk dapat menerapkan MFCA secara efektif diperlukan

pemahaman terhadap elemen-elemen dasar dalam MFCA,

terdapat empat elemen dasar dalam MFCA yang digambarkan

pada gambar 2.2 :

Gambar 2.2 Elemen-Elemen Dasar MFCA

Sumber (APO.2014:8)

Fundamental Elemen 1 : Pusat Kuantitas

Pusat kuantitas dapat berupa satu atau beberapa proses.

Pusat kuantitas adalah titik ketika bahan baku diproses atau

mengalami perubahan. Pada setiap pusat kuantitas akan dihitung


keseimbangan material, baik dalam satuan fisik maupun

moneter, untuk setiap input dan output yang dihasilkan.

Fundamental Elemen 2 : Keseimbangan Material

Dalam MFCA, seluruh material yang masuk ke proses

produksi dan meninggalkan pusat kuantitas harus seimbang.

Menurut keseimbangan material, diperoleh seperti berikut ini.

Input = Output ( Produk + Non-produk ) + Inventory )

Sebagai contoh, gambar 2.3 menunjukkan keseimbangan

bahan baku pada suatu pusat kuantitas. Dalam contoh ini, total

145 kg bahan baku memasuki pusat kuantitas dengan

inventarisasi 35 kg.

Selama periode waktu untuk analisis, bahan baku yang

didistribusikan menjadi produk sebanyak 120 kg. Sedangkan

kerugian material yang dihasilkan sebesar 20 kg.

Gambar 2.3 Contoh Keseimbangan Material Dalam Pusat


Kuantitas.

Sumber : APO (2014 : Hal 9)


Fundamental Elemen 3 : Perhitungan Biaya

Tujuan MFCA adalah mengevaluasi nilai dari produk dan

kerugian produk yang dihasilkan dalam proses produksi dengan

seakurat mungkin. Dalam rangka memastikan akurasi, hanya

mengevaluasi biaya produk dan kerugian material yang berasal

dari bahan baku tidak akan cukup. Perusahaan perlu

mempertimbangkan semua biaya yang terkait dengan produk

dan kerugian material tersebut, oleh karena itu dalam MFCA

terdapat empat jenis biaya semuanya dialokasikan untuk produk

dan kerugian material :

Biaya bahan baku : biaya untuk zat yang melewati pusat

kuantitas (unit pengukuran input dan output untuk analisis

MFCA). Biasanya, biaya pembelian digunakan sebagai

biaya bahan baku.


Biaya energi : biaya untuk sumber energi seperti listrik,

bahan baku bakar, uap, panas, udara terkompresi.


Biaya sistem : biaya yang dikeluarkan dalam arus

penanganan aliran material, tidak termasuk biaya bahan

baku, biaya energi, dan biaya pengolahan limbah.


Biaya pengelolaan limbah : biaya untuk menangani

kerugian material.
Biaya outpout positif dan output negatif
Seperti disebutkan diatas ada dua jenis hasil dari proses produksi

yaitu produk dan kerugian produk. Dalam MFCA disebut output

positif dan output negatif , gambar 2.4 akan menunjukan


perhitungan biaya secara sederhana untuk output positif dan

output negatif.

Gambar 2.4 Contoh Perhitungan Biaya Output Positif dan Output


Negatif

Sumber ( Furukawa, 2008 : 6)

Setelah membuat pusat kuantitas, aliran bahan baku

diukur dalam satuan fisik untuk setiap bagian-bagian pusat

kuantitas. Dengan menggunakan cara ini perusahaan dapat

mengetahui dan memahami jumlah kuantitas yang mengalir ke

output positif dan ke output negatif sehingga mereka

mendapatkan biaya dengan mengalikan jumlah masing-masing

output positif dan output negatif dengan harga satuan.

Fundamental Elemen 4 : Model Arus Material

Model arus material ini mengacu pada penggambaran

material dari proses yang menunjukan semua pusat kuantitas

dimana bahan baku berubah atau digunakan, serta aliran bahan

baku tersebut dalam batas system. Gambar 2.5 menggambarkan

contoh model aliran material.


Gambar 2.5 Contoh Model Aliran Material

Sumber ( APO. 2014 : 10)

2.1.4 Tujuan dan Prinsip MFCA

MFCA bertujuan sebagai alat untuk membantu perusahan

menggambarkan secara jelas aliran material bersamaan dengan

penyajian alokasi biaya. Hasil dari MFCA diharapkan dapat

membantu perusahaan dalam membuat keputusan untuk upaya

pengoptimalan pada proses produksi. Asian Productivity

Organization (APO) telah membagi prinsip MFCA menjadi empat

bagian seperti pada gambar 2.6.


Gambar 2.6 Prinsip-Prinsip MFCA

Sumber : APO (2014 :7)

1. Memahami aliran material dan penggunaan energi

Semua aliran bahan baku dan energi untuk setiap pusat

kuantitas harus ditelusuri agar dapat dipahami bagaimana bahan

baku tersebut digunakan dan diubah sepanjang proses produksi.

2. Link data fisik dan moneter

Melalui MFCA proses pengambilan keputusan yang

berkaitan dengan lingkungan dapat dihubungkan dengan

informasi keuangan memalui proses aliran material. MFCA

memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai alokasi biaya

material dan penggunaan energi. Hasil dari MFCA dapat

digunakan dalam pengambilan keputusan.

3. Pastikan akurasi, kelengkapan, dan komparabilitas data fisik


MFCA mensyaratkan bahwa semua data input dan output

dapat diidentifikasi dan diukur. Data yang akurat dan lengkap

sangat penting untuk mengidentifikasi penyebab dan sumber

dari setiap kesenjangan antara input dan output material.

4. Memperkirakan dan menentukan biaya kerugian material

Biaya riil harus ditetapkan untuk semua kerugian material

dari produk. Dalam MFCA informasi biaya dikaitkan dengan

kerugian material, merupakan salah satu insentif utama untuk

perbaikan proses.

2.1.5 Perbedaan antara MFCA dan Akuntansi Biaya Konvensional

MFCA memiliki cara yang berbeda dari akuntansi

manajemen, dalam akuntansi biaya konvensional data digunakan

untuk menentukan apakah biaya yang dikeluarkan dapat

dipulihkan dari penjualan. Tidak menentukan apakah material

diubah menjadi produk atau dibuang sebagai limbah. Dalam

akuntansi biaya konvensional biaya untuk menghasilkan

kerugian material dimasukan sebagai bagian dari total biaya

produksi. Berbeda dari akuntansi biaya konvensional, MFCA

seperti yang dijelaskan sebelumnya, berfokus pada identifikasi

dan membedakan biaya yang berkaitan dengan produk dan

kerugian material. Dengan cara ini kerugian material dievaluasi

sebagai kerugian ekonomi yang mendorong manajemen untuk


mencari cara mengurangi kerugian material dan meningkatkan

efisiensi usaha (APO : 2014 : 3). Tabel 2.1 akan menjelaskan

perbedaan penyajian informasi mengenai alokasi biaya produksi

dalam MFCA dan akuntansi biaya konvensional (dalam satuan

USD).

Tabel 2.1

Gambar 2.7 Perbedaan Antara MFCA dan Akuntansi Biaya


Konvensional.

Sumber (APO : 2014 : 3)

2.2 Langkah - langkah implementasi MFCA

Menurut Asian Productivity Organization (APO) tahun 2014

dalam Manual on Material Flow Cost Accounting telah

memfasilitasi langkah langkah implementasi MFCA. Dimana

terdapat lima langkah implementasi yaitu :

Penerapan Langkah 1 : Melibatkan Manajemen dan Menentukan

Peran dan Tanggung Jawab


Proyek sukses dimulai dengan adanya dukungan dari

manajemen perusahaan tidak terkecuali MFCA jika manajemen

perusahaan memahami manfaat MFCA dan kegunaannya dalam

mencapai target lingkungan dan keuangan organisasi, maka

akan lebih mudah untuk mendapatkan komitmen dari seluruh

organisasi.

Secara umum manajemen harus terlibat dalam semua

tahap pelaksanaan MFCA dan dianjurkan bahwa proyek MFCA

mulai dengan dukungan agresif dari manajemen dan diikuti oleh

bottom-up approach on-site seperti pada gambar 2.7.

Gambar 2.8 Bottom-Up Approach

Sumber (APO : 2014 : 11)

Selain itu keberhasilan MFCA membutuhkan kolaborasi

antara departemen yang berbeda dalam organisasi. Alasan

mengapa kolaborasi dibutuhkan adalah karena berbagai sumber

informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan analisis MFCA.


Berikut ini adalah contoh khas keahlian yang diperlukan

untuk keberhasilan pelaksanaan MFCA :

Keahlian operasional pada aliran input bahan baku dan

penggunaan energi selama proses produksi.


Keahlian teknis implikasi terkait proses material, termasuk

proses pembakaran dan reaksi kimia lainnya.


Keahlian kontrol kualitas seperti frekuensi produk cacat

yang menyebabkan pengerjaan ulang, pemeliharaan, dan

jaminan kualitas lain.


Keahlian lingkungan pada dampak lingkungan : dan
Keahlian akuntansi pada data akuntansi biaya.

Penerapan Langkah 2 : Lingkungan dan Batasan Dari Proses dan

Membangun Model

Pada tahapan ini batasan MFCA perlu ditentukan untuk

memahami dengan jelas skala aktivitas MFCA. Biasanya

dianjurkan untuk fokus pada produk tertentu atau pada proses di

awal dan kemudian memperluas implementasi untuk produk

lainnya. Batas dapat terbatas pada proses tunggal, beberapa

proses, seluruh fasilitas, atau rantai pasokan. Proses yang dipilih

diharapkan dapat memiliki dampak lingkungan dan ekonomi

yang berpotensi signifikan.

Setelah menentukan batas proses perlu diklasifikasikan

dalam pusat kuantitas menggunakan informasi proses dan


catatan pengadaan. Dalam MFCA, pusat kuantitas adalah bagian

dari proses dimana input dan output diukur. Pusat kuantitas

mewakili bagian dari proses dimana bahan baku diubah.

Setelah menentukan batas dan pusat kuantitas jangka

waktu untuk pengumpulan data MFCA perlu ditentukan. MFCA

tidak menentukan berapa lama data harus dikumpulkan untuk

analisis. Periode analisis harus memungkinkan data yang akurat

dapat dikumpulkan untuk meminimalkan dampak dari setiap

variasi proses yang signifikan, yang dapat mempengaruhi

keandalan dan kegunaan dari data, seperti fluktuasi musiman.

Beberapa proyek MFCA sebelumnya menunjukan bahwa periode

pengumpulan data MFCA yang tepat dapat sesingkat satu bulan,

setengah tahun, atau satu tahun pengumpulan data yang paling

umum.

Didalam MFCA proses produksi, daur ulang, dan sistem lain

diwakili oleh model visual yang menggambarkan batas MFCA dan

beberapa pusat kuantitas, dimana bahan baku digunakan atau

diubah, serta pergerakan bahan baku antara pusat pusat

kuantitas.
Gambar 2.9 Sistem Aliran Model Umum

Sumber (APO : 2014 : 13)

Gambar 2.8 menunjukan sistem aliran material umum.

Model aliran material berguna untuk memberikan gambaran

tentang seluruh proses dan untuk mengidentifikasi titik titik

dimana kerugian material terjadi.

Penerapan Langkah 3 : Alokasi Biaya

MFCA membagi biaya kedalam 3 kategori berikut :

Biaya bahan baku : biaya untuk seluruh input raw material

yang masuk kedalam pusat kuantitas.


Biaya energi : biaya listrik, bahan baku bakar, uap, panas,

dan udara terkompresi.


Biaya sistem : biaya tenaga kerja, biaya penyusutan dan

pemeliharaan, dan biaya transportasi.


Biaya pengelolaan limbah : biaya limbah penanganan yang

dihasilkan dipusat kuantitas.


Biaya bahan baku, biaya energi, dan biaya sistem

dialokasikan untuk produk maupun kerugian material pada setiap

pusat kuantitas berdasarkan proporsi input bahan baku yang

mengalir kedalam produk dan kerugian material. Biaya bahan

baku untuk setiap input dan output aliran diukur dengan

mengalikan jumlah fisik dari aliran material dengan biaya unit

material selama periode waktu yang dipilih untuk analisis.

Alokasi biaya energi dan biaya sistem untuk output positif

dan output negatif berbeda dengan alokasi biaya bahan baku,

untuk output positif dan output negatif alokasi biaya energi dan

biaya sistem ditentukan secara proporsional mengikuti

persentasi output positif dan output negatif penggunaan bahan

baku dikarenakan sulit untuk menentukan secara pasti biaya

yang teralokasikan pada output positif dan output negatif dalam

penggunaan energi dan sistem. Perhitungan persentasi output

positif dan output negatif bahan baku disajikan sebagai berikut :

Persentasi output positif


output bahan baku
positif bahan baku

ouput positif bahan baku + output negatif bahan baku

Persentasi output negatif


output bahan
negatifbaku
bahan baku

ouput positif bahan baku + output negatif bahan baku


Sumber (APO : 2014 : 5)

Sedangkan untuk biaya pengelolaan sampah 100% dari

biaya pengelolaan sampah dikaitkan dengan kerugian material,

karena biaya pengelolaan sampah merupakan biaya pengelolaan

kerugian material.

Penerapan langkah 4 : Menafsirkan dan Mengkomunikasikan

Hasil MFCA

Dalam pelaksanaa MFCA telah memberikan informasi mengenai

kerugian material selama proses produksi, penggunaan bahan

baku yang tidak menjadi produk, biaya energi dan biaya yang

terkait dengan kerugian material. Informasi ini memberikan

dampak positif terhadap tingkat kesadaran perusahaan. Manajer

yang sadar dengan kerugian material dapat mengidentifikasi

peluang untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan

material dan meningkatkan kinerja.

Melalui identifikasi masalah MFCA yang menyebabkan kerugian

material, perusahaan memiliki kesempatan untuk

mengidentifikasi kerugian ekonomi yang dihasilkan, yang


biasanya di abaikan ketika menerapkan akuntansi biaya

konvensional. Kuantitatif fisik dan moneter dari aliran material

dapat diringkas dalam format yang sesuai untuk interpretasi

lebih lanjut, misalnya dalam aliran matriks biaya. Tabel 2.2 akan

menggambarkan format matriks biaya arus material.

Tabel 2.2 Material Flow Cost Matrix

Sumber : Diolah, Ministry of Economy, Trand and Industry (METI),

2010

Secara umum, review dan interpretasi data diringkas akan

memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi pusat pusat

kuantitas dengan kerugian material yang memiliki dampak

lingkungan atau keuangan yang signifikan. Pusat kuantitas

tersebut dapat dianalisis lebih rinci yaitu, akar penyebab untuk

sumber kerugian material.

Setelah analisis MFCA selesai, hasilnya harus

dikomunikasikan kepada semua pihak yang terkait. Selain itu


manajemen dapat menggunakan MFCA untuk berbagai

pengambilan keputusan yang bertujuan untuk meningkatkan

kinerja lingkungan dan keuangan. Mengkomunikasikan hasil

kepada karyawan atua organisasi agar dapat berguna dalam

menjalankan proses atau mendapatkan komitmen penuh dari

seluruh anggota organisasi.

Penerapan langkah 5 : Meningkatkan Produksi dan Praktik

Dengan Mengurangi Rugi Bahan Baku Melalui Hasil MFCA

Setelah analisis MFCA membantu organisasi untuk

memahami biaya - biaya terkait kerugian material, organisasi

dapat meninjau data MFCA dan mencari peluang untuk

meningkatkan kinerja lingkungan dan keuangan. Langkah

langkah yang diambil untuk mencapai perbaikan ini dapat

mencakup substitusi bahan, modifikasi proses, lini produk, dan

intensif kegiatan penelitian, serta pengembangan yang berkaitan

dengan efisiensi material dan energi.

MFCA menyajikan target akhir untuk manajer : nol biaya

kerugian material yang dapat mendorong organisasi untuk

membuat terobosan untuk perbaikan.

2.3 Penelitian terdahulu


Chairunnisa (2016) melakukan penelitian dalam hal

perancangan material flow cost accounting (MFCA) dalam upaya

efisiensi dalam penggunaan bahan baku dan energi pada PT. Poly

Jaya Medical salah satu perusahaan yang memproduksi alat

alat kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis

apakah dalam proses produksi inkubator yang dilakukan oleh PT.

Poly Jaya medical masih terdapat output negatif/limbah yang

dihasilkan sehingga perusahaan memerlukan perbaikan proses

produksi.

Hasil analisis dilakukan dengan menerapkan perancangan

Material Flow Cost Accounting (MFCA) dalam proses produksi

inkubator. Peerancangan MFCA memberikan gambaran mengenai

kerugian material yang terjadi dalam proses produksi inkubator

baik dalam satuan fisik maupun moneter dengan menganalisis

output positif dan output negatif material/limbah material yang

dihasilkan dari input material yang mengalir pada setiap pusat

kuantitas dalam aliran material yang terjadi dalam proses

produksi inkubator.

Doorasamy & Garbharran (2015) the effectiveness of using

Material Flow Cost Accounting (MFCA) to identify non-product

output cost this paper analyzes the effectiveness of adopting the

Material Flow Cost Accounting (MFCA) approach to highlight non-


product output cost and assist managers in their strategic

decision making processes with regard to implementing cleaner

production processes. This paper is based on a case study of the

paper manufacturing company in KwaZulu-Natal which provides

evidence that MFCA technique highlights the value of non-

product output cost enabling managers to access the financial

and environmental benefits of adopting CP techniques and

technologies. It had been conclued that the company should

integrate MFCA with the current EMS system to ensure their

future suistanability.

Doorasamy & Garbharran (2015) efektifitas penggunaan

Arus Material Akuntansi Biaya (MFCA) untuk mengidentifikasi

biaya output non-produk, makalah ini menganalisis efektivitas

atas adopsi pendekatan Arus Material Akuntansi Biaya (MFCA)

untuk menyoroti biaya output non-produk dan membantu

manajer dalam proses pengambilan keputusan yang strategis

berkenaan dengan penerapan proses produksi yang lebih bersih.

Makalah ini didasarkan pada studi kasus perusahaan manufaktur

kertas di KwaZulu-Natal yang memberikan bukti bahwa teknik

MFCA menyoroti nilai biaya output non-produk yang

memungkinkan manajer untuk mengakses keuntungan finansial

dan lingkungan atas adopsi teknik CP dan teknologi. Hal itu telah

tersimpulkan bahwa perusahaan harus mengintegrasikan MFCA


dengan sistem EMS saat ini untuk memastikan keberlanjutan

masa depan mereka.