Anda di halaman 1dari 16

I.

IDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny. N
Umur : 67 tahun
Tempat Tanggal Lahir : tidak ada data
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : tambak aji
Pekerjaan : Tidak bekerja
Pendidikan Terakhir : tidak sekolah
Status Pernikahan : Menikah
No Rm : 501xxx
Tanggal masuk RS : 03 Mei 2016
II. ANAMNESIS
Autoanamnesa. Tanggal 3 Mei 2016 jam 10.00 WIB.
Keluhan Utama : Mata perih
Riwayat Penyakit sekarang
Kurang lebih sejak 1 tahun yang lalu pasien mengeluh kedua matanya
perih. Keluhan dirasakan hilang timbul, tidak mengganggu aktivitas. Mata
semakin perih jika terkena sinar. pasien menjalani operasi katarak pada mata
kanan 7 bulan yang lalu dan pada mata kiri 1 tahun yang lalu.
Pasien tidak mengeluh adanya rasa gatal, nyeri, pandangan ganda, melihat
bayangan pelangi, mual muntah, dan pusing. Saat ini pasien sedang dalam
pengobatan.
Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat sakit sama sebelumnya : disangkal
- Riwayat hipertensi : diakui
- Riwayat diabetes : disangkal
- Riwayat operasi mata : diakui
Pasien menjalanai operasi katarak pada mata kanan pada bulan Oktober
2015, dan menjalani operasi katarak pada mata kiri pada bulan Mei 2015.
- Riwayat penggunaan kaca mata : disangkal
- Riwayat trauma : disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat penyakit yang sama : disangkal
- Riwayat hipertensi : disangkal
- Riwayat diabetes : disangkal
- Riwayat operasi mata : disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tidak bekerja dan tinggal bersama anak dan cucunya. Pasien tidak
menggunakan dapur kayu saat memasak. Pembayaran menggunakan BPJS,
kesan ekonomi cukup.
1
III. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik tanggal 3 Mei 2016 jam 10.10 WIB
Status Generalisata
Keadaan Umum : baik
Kesadaran : compos mentis
Vital sign
Tekana Darah : 140/90 mmHg
Nadi : 75 x / menit
Respiratory Rate : 20 x / menit
Suhu : tidak dilakukan
TB : 143 cm
BB : 50 kg
BMI :
Status gizi :
Kepala : Mesosefal
Hidung : Tidak dilakukan
Mulut : Tidak dilakukan
Telinga : Tidak dilakukan
Leher : Tidak dilakukan
Thorax : Tidak dilakukan
Abdomen : Tidak dilakukan
Ekstremitas : Tidak dilakukan

Status Oftalmologis

Okuli Dekstra Pemeriksaan Okuli Sinistra

Tidak dilakukan Visus Tidak dilakukan


Tidak dilakukan Visus koreksi Tidak dilakukan
Tidak dilakukan Sensus Coloris Tidak dilakukan
Bebas segala arah Pergerakan bola mata Bebas segala arah
Ortoforia Kedudukan bola mata Ortoforia
Madarosis (-) Suprasilia Madarosis (-)
Tumbuh penuh normal Tumbuh penuh normal

Trikiasis (-) Silia Trikiasis (-)


Distikiasis (-) Distikiasis (-)

Tertutup rapat (+), Terbuka Palpebra superior Tertutup rapat (+), Terbuka
sempurna (+), Hiperemis sempurna (+), Hiperemis
(-), (-),
Edema (-), Edema (-),
Spasme (-), Spasme (-),
Massa (-), Massa (-),
hordeolum(-), hordeolum (-),
kalazion(-), kalazion(-)
ptosis (-) ptosis (-)
Tertutup rapat (+), Palpebra inferior Tertutup rapat (+),
2
terbuka sempurna (+), terbuka sempurna (+),
Hiperemis (-), Hiperemis (-),
Edema (-), Edema (-),
Spasme (-), Spasme (-),
Massa (-) Massa (-)
Sekret (-) Konjungtiva palpebra Sekret (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
superior
Folikel (-) Folikel (-)
Cobble stone (-) Cobble stone (-)
papil (-) papil (-)
Corpus alienum (-) Corpus alienum (-)
Sekret (-), Konjungtiva palpebra Sekret (-),
Hiperemis (-), Hiperemis (-),
inferior
Folikel (-), Folikel (-),
Cobble stone (-), Cobble stone (-),
papil (-), papil (-),
Edema (-), Edema (-),
Corpus alienum (-) Corpus alienum (-)
Hiperemis (-), Konjungtiva forniks Hiperemis (-),
sekret (-), sekret (-),
edema (-), edema (-),
corpal (-) corpal (-)
Injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva Bulbi Injeksi konjungtiva (-),
injeksi siliar (-), injeksi siliar (-),
mix injeksi (-), mix injeksi (-),
hiperemis (-), hiperemis (-),
jaringan fibrovaskular (-) jaringan fibrovaskular (-)
Sekret (-), Konjungtiva palpebra Sekret (-),
Hiperemis (-), Hiperemis (-),
inferior
Folikel (-), Folikel (-),
Cobble stone (-), Cobble stone (-),
papil (-), papil (-),
Edema (-), Edema (-),
Corpus alienum (-) Corpus alienum (-)
Hiperemis (-), Konjungtiva forniks Hiperemis (-),
sekret (-), sekret (-),
edema (-), edema (-),
corpal (-) corpal (-)
Injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva Bulbi Injeksi konjungtiva (-),
injeksi siliar (-), injeksi siliar (-),
mix injeksi (-), mix injeksi (-),
hiperemis (-), hiperemis (-),
jaringan fibrovaskular (-) jaringan fibrovaskular (-)
Sekret (-), Konjungtiva palpebra Sekret (-),
Hiperemis (-), Hiperemis (-),
inferior
Folikel (-), Folikel (-),
Cobble stone (-), Cobble stone (-),
papil (-), papil (-),
3
Edema (-), Edema (-),
Corpus alienum (-) Corpus alienum (-)
Bulat, Sentral, Reguler, Pupil Bulat, Sentral, Reguler,
D: 3 mm, D: > 3 mm (5mm), Refleks
Refleks direk/indirek(+/+)
direk/indirek(+/+)
Kekeruhan sebagian (+), Lensa Kekeruhan sebagian (+),
Iris shadow (-) Iris shadow (-)
Tidak dilakukan Keratoskoplacido Tidak dilakukan

Tidak dilakukan Fundus Refleks Tidak dilakukan


Tidak dilakukan Lapang pandang Tidak dilakukan
Normal fluktuasi Tekanan bolamata digital Normal fluktuasi

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tidak ada usulan pemeriksaan penunjang. Sudah dilakukan operasi katarak ODS.
V. RESUME
Telah diperiksa pasien wanita usia 67 tahun melalui autoanamnesis. Keluhan berupa
mata perih di mata kanan dan kiri. Pasien menjalani operasi katarak 7 bulan yang lalu
pada mata kanan dan 1 tahun yang lalu pada mata kiri. Keluhan bertambah berat saat
disinari, tetapi tidak mengganggu aktivitas. Keluhan lain seperti mata merah (-),
nerocos (-), gatal (-), nyeri (-), terkena benda asing (-), pandangan ganda (-),
pandangan pelangi saat melihat cahaya (-), mual muntah (-), pusing (-). Dari
pemeriksaan fisik didapatkan : keadaan umum baik, kesadaran compos mentis,
tekanan darah 140/90 mmHg. Pemeriksaan fisik didapatkan ukuran pupil OS yang
lebih besar (5 mm) dan Lensa ODS keruh (+).
VI. DIAGNOSIS BANDING
ODS Katarak Senilis Imatur
ODS Katarak Senilis Matur
ODS Katarak Senilis Insipien
ODS Katarak Senilis Hipermatur
VII. DIAGNOSIS KERJA
ODS Katarak Seenilis Imatur
VIII. PENATALAKSANAAN
Katarak senilis imatur
a. Medikamentosa : Cendo Catarlent
Deskripsi : Per 15 ml : CaCl2 anhidrat 0,075 gram, Kalium Iodida 0,075 gram,
Natrium Tiosulfat 0,0075 gram, Fenilmerkuri nitrat 0,3 mg.
Indikasi :
1) Berfungsi untuk mencegah kekeruhan pada corpus vitreous.
2) Memperlambat peningkatan kekeruhan dan degradasi penglihatan.
3)Kekeruhan dan pendarahan pada vitreous body yang dikarenakan usia,
myopia, hypertonia, diabetes, dan periphlebitis.

4
4)Katarak lentikularis, perdarahan pada vitreous humour (zat seperti gel yang
terdapat diantara lensa mata & retina didalam bola mata).
Efek Samping : sensasi rasa terbakar pada mata atau iritasi yang dapat terjadi
beberapa saat setelah obat diteteskan, kadang-kadang juga terjadi peningkatan
aliran air mata.
b. Non-medikamentosa:
1) Pemantauan katarak secara rutin untuk menghindari komplikasi
2) Pemakaian kacamata
3) Operasi katarak

5
IX. PROGNOSIS

OD OS

Quo ad Vitam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo ad Sanam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo ad Fungsionam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo ad Cosmeticam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

X. EDUKASI
1. Menjelaskan kepada pasien bahwa pasien menderita katarak senilis, dimana
katarak ini berhubungan dengan usia, serta proses penuaan yang terjadi didalam
lensa.
2. Menjelaskan kepada pasien tentang terapi yang diberikan.
3. Menjelaskan pencegahan kekambuhan dan keparahan yang dapat dilakukan yaitu
dengan memakai kacamata untuk melindungi mata dari paparan sinar matahari
langsung, iritasi debu, asap dan angin.

6
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi mata

1. Media refraksi
Yang termasuk media refraksi antara lain kornea, pupil, lensa, dan
vitreous. Media refraksi targetnya di retina sentral (macula). Gangguan
media refraksi menyebabkan visus turun (baik mendadak aupun perlahan).
Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang
terdiri atas kornea, aqueous humor (cairan mata), lensa, badan vitreous
(badan kaca),dan panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan
pembiasan oleh media penglihatan dan panjang bola mata sedemikian
seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media penglihatan
dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata yang normal disebut sebagai
mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya
pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh.

2. Kornea

7
Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata,
bagian selaput mata yang tembus cahaya. Kornea merupakan lapisan
jaringan yang menutupi bola mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis,
yaitu:
a. Epitel
Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis selepitel tidak bertanduk yang
saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel
gepeng.
Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong
ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi
sel gepeng, sel basal berikatan erat berikatan erat dengan sel basal di
sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan
makula okluder, ikatan ini menghambat pengaliran air, eliktrolit, dan
glukosa yang merupakan barrier.
Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya,
bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.
Epitel berasal dari ektoderm permukaan.
b. Membran Bowman
Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan
kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari
bagian depan stroma.
Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi
c. Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu
dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur
sedangkan dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya
kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang
sampai 15 bulan.
Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas
terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk
bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau
sesudah trauma.

d. Membran Descement
Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma
kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya
Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup,
mempunyai tebal 40 m.
e. Endotel

8
Berasal dari mesotelium, berlapis satu,bentuk heksagonal, besar 20-
40 m. Endotel melekat pada membran descement melalui hemi
desmosom dan zonula okluden.
3. Aqueous Humor (Cairan Mata)
Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa,
keduanya tidak memiliki pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua
struktur ini akan mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor. Aqueous
humor dibentuk dengan kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler di dalam
korpus siliaris, turunan khusus lapisan koroid di sebelah anterior. Cairan
ini mengalir ke suatu saluran di tepi kornea dan akhirnya masuk ke darah.
Jika aqueous humor tidak dikeluarkan sama cepatnya dengan
pembentukannya (sebagai contoh, karena sumbatan pada saluran keluar),
kelebihan cairan akan tertimbun di rongga anterior dan menyebabkan
peningkatan tekanan intraokuler (di dalam mata). Keadaan ini dikenal
sebagai glaukoma. Kelebihan aqueous humor akan mendorong lensa ke
belakang ke dalam vitreous humor, yang kemudian terdorong menekan
lapisan saraf dalam retina. Penekanan ini menyebabkan kerusakan retina
dan saraf optikus yang dapat menimbulkan kebutaan jika tidak diatasi.
4. Lensa
Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di
dalam bola mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di
belakang iris dan terdiri dari zat tembus cahaya (transparan) berbentuk
seperti cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya
akomodasi.
Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam
bilik mata belakang. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang
membentuk serat lensa di dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan
membentuk serat lensa terus-menerus sehingga mengakibatkan
memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga membentuk
nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling
dahulu dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Di
dalam lensa dapat dibedakan nukleus embrional, fetal dan dewasa. Di
bagian luar nukleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut
sebagai korteks lensa. Korteks yang terletak di sebelah depan nukleus
lensa disebut sebagai korteks anterior, sedangkan dibelakangnya korteks

9
posterior. Nukleus lensa mempunyai konsistensi lebih keras dibanding
korteks lensa yang lebih muda. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat
zonula Zinn yang menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada
badan siliar.

Secara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu:

Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam


akomodasi untuk menjadi cembung .

Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan,

Terletak ditempatnya, yaitu berada antara posterior chamber dan


vitreous body dan berada di sumbu mata.

Keadaan patologik lensa ini dapat berupa:

Tidak kenyal pada orang dewasa yang mengakibatkan presbiopia,

Keruh atau apa yang disebut katarak,

Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi.

5. Badan Vitreous (Badan Kaca)

Badan vitreous menempati daerah mata di balakang lensa. Struktur ini


merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%),
sedikit kolagen, dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi.
Badan vitreous mengandung sangat sedikit sel yang menyintesis kolagen
dan asam hialuronat . Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan sinar
dari lensa ke retina. Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak
terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada pemeriksaan tidak
terdapatnya kekeruhanbadan vitreous akan memudahkan melihat bagian
retina pada pemeriksaan oftalmoskopi

B. Definisi
Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa yang terjadi akibat hidrasi lensa,
denaturasi protein lensa atau bisa keduanya. Kekeruhan lensa ini mengakibatkan lensa
tidak transparan, sehingga pupil akan berwarna putih atau abu-abu. Pada mata akan
tampak kekeruhan lensa dalam bermacam-macam bentuk dan tingkat.
10
Katarak umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga
karena kelainan kongenital, atau penyulit penyakit mata lokal menahun. Bermacam-
macam penyakit mata dapat mengakibatkan katarak seperti glaukoma, ablasi, uveitis,
retinitis pigmentosa bahan toksik khusus (kimia dan fisik). Katarak dapat
berhubungan dengan proses penyakit intraokular lainnya.1
C. Etiologi
Beberapa penyebab katarak adalah sebagai berikut:2
1. Genetik
Faktor genetik menentukan terjadinya katarak karena adanya anomali pola
kromosom pada individu. Sekitar sepertiga katarak kongenital adalah turunan.
2. Kehamilan dan faktor janin
Malnutrisi selama kehamilan atau pada awal kelahiran bayi terkait dengan
katarak zonular. Infeksi pada masa kehamilan seperti rubella, toxoplasmosis,
sitomegali, dan lain sebagainya juga ada hubungannya dengan katarak kongenital.
3. Jenis kelamin
Insiden terjadinya katarak lebih besar pada wanita daripada laki-laki,
kemungkinan karena kurangnya estrogen setelah menopause beberapa tahun.
4. Penuaan
Katarak terkait usia (senile) didefinisikan sebagai katarak yang timbul pada
orang usia > 50 tahun, hal ini tidak terkait dengan faktor mekanik, kimia, radiasi,
dan trauma.
5. Merokok
Peran rokok dalam katarak telah dibuktikan dalam berbagai penelitian. Pada
penelitian menunjukkan risiko katarak pada perokok bertambah 2-3 kali lipat.
Peningkatan rokok yang dikonsumsi terkait dengan peningkatan kekeruhan pada
inti lensa.
6. Trauma
Katarak dapat terbentuk setelah terjadi benturan atau trauma tumpul pada mata
dan masuknya benda asing pada mata, menyebabkan kerusakan dan diskontinuitas
dari lensa. Pada saat kapsul lensa bagian luar pecah, bagian dalam lensa
membengkak berisi cairan dan berubah putih karena denaturasi protein pada lensa.

D. Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan,
berbentuk seperti kancing baju dan mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa
mengandung 3 komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus,di perifer ada
korteks dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan
bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan.

11
Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna,
seperti kristal salju.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.
Perubahan pada serabut halus multiple (zunula) yang memanjang dari badan siliar ke
sekitar daerah luar lensa, dapat mengakibatkan penglihatan mengalami distorsi.
Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga
mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina.
Katarak biasanya terjadi bilateral, namun memiliki kecepatan yang berbeda.
Katarak dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemik seperti diabetes.
Namun kebanyakan merubakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal.
Kebanyakan katarak berkembang secara kronik ketika seseorang memasuki dekade
ketujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila
tidak terdiagnosis dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan
permanen.3
E. Klasifikasi
1. Klasifikasi katarak berdasarkan usia
a. Katarak kongenital
Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau
segera setelah lahir dan bayi berusia < 12 bulan. Katarak kongenital
merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat
penanganan yang kurang tepat.
Katarak kongenital digolongkan menjadi :
1) Kapsulolentikular dimana pada golongan ini termasuk katarak kapsular
dan katarak polaris
2) Katarak lentikular temasuk dalam golongan ini katarak yang mengenai
korteks atau nukleus lensa saja.
b. Katarak juvenil
Katarak yang lembek dan terdapat pada orang muda, yang mulai
terbentuknya pada usia < 9 tahun dan > 3 bulan. Katarak juvenil biasanya
merupakan kelanjutan dari katarak kongenital.
Katarak juvenil biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun
metabolik dan penyakit lainnya seperti :
1) Katarak metabolik
2) Katarak traumatik
3) Katarak komplikata
c. Katarak senilis
Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia
lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun. Kekeruhan lensa dengan nukleus yang
mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia > 60 tahun.

12
Pada katarak senilis sebaiknya disingkirkan penyakit mata lokal dan
penyakit sistemik seperti diabetes melitus yang dapat menimbulkan katarak
komplikata.
Katarak senilis secara klinik dikenal dalam 4 stadium yaitu insipien,
imatur, matur, dan hipermatur.1

Perbedaan stadium katarak senilis


Insipien Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif


Berkurang
Bertambah
Cairan lensa Normal Normal (air+masa lensa
(air masuk)
berkurang)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik mata
Normal Dangkal Normal Dalam
depan
Sudut bilik
Normal Sempit Normal Terbuka
mata
Shadow test Negatif (-) Positif (+) Negatif (-) Pseudopos
Penyulit - Glaukoma - Uveitis+Glaukoma

F. Manifestasi Klinik
Keluhan yang timbul adalah penurunan tajam penglihatan secara progresif dan
penglihatan seperti berasap. Biasanya pasien melaporkan penurunan ketajaman fungsi
penglihatan, silau, dan gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan
karena kehilangan penglihatan.
Akibat perubahan opasitas lensa, terdapat berbagai gangguan pada penglihatan,
termasuk :
1. Penurunan tajam penglihatan perlahan.
2. Penurunan sensivitas kontras, pasien mengeluhkan sulitnya melihat benda diluar
ruangan pada cahaya terang.
3. Pergeseran ke arah miopia. Normalnya, pasien usia lanjut akan mengeluhkan
perubahan hiperopia, akan tetapi pasien katarak mengalami perubahan miopia
karena perubahan indeks refraksi lensa.
4. Diplopia monokular. Hal ini karena ada perbedaan indeks refraksi antara satu
bagian lensa yang mengalami kekeruhan dengan bagian lensa lainnya.
5. Sensasi silau (glare). Opasitas lensa mengakibatkan rasa silau karena cahaya
dibiaskan akibat perubahan indeks refraksi lensa.
13
Pada katarak terkait usia (senilis) proses kondensasi normal dalam nukleus
lensa menyebabkan terjadinya sklerosis nuklear setelah usia pertengahan. Gejala
yang paling dini mungkin berupa membaiknya perubahan dekat tanpa kecamata.
Ini merupakan akibat meningkatnya kekuatan fokus lensa bagian sentral,
menyebabkan refraksi bergeser ke miopia (penglihatan dekat). Gejala-gejala lain
dapat berupa diskriminasi warna yang buruk atau diplopia monokular. Sebahian
besar katarak nuklear adalah bilateral, tetapi bisa asimetrik.1, 4
G. Diagnosis
Diagnosa katarak senilis imatur ODS dibuat berdasarkan hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Usulan pemeriksaan penunjang yang dianjurkan adalah USG mata,
slit lamp,dan funduskopi serta pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya
penyakit-penyakit menyertai seperti diabetes melitus dan hipertensi.
Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui
tajam penglihatan pasien. Pada pemeriksaan slit lamp dijumpai keadaan
pelpebra,konjungtiva dan kornea dalam keadaan normal, sementara lensanya keruh.
Pemeriksaan shadow test dilakukan untuk menentukan stadium pada katarak senilis.
Shadow test positif pada katarak senilis imatur.

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan utama pasien katarak adalah operasi. Metode operasi yang
umum dipilih untuk katarak dewasa atau anak-anak adalah meninggalkan bagian
posterior kapsul lensa sehingga dikenal sebagai ekstraksi katarak ekstra kapsular
(EKEK). Penanaman lensa intraokular merupakan bagian dari prosedur ini. Insisi
dibuat pada limbus atau kornea perifer bagian superior atau temporal. Dibuat sebuah
saluran pada kapsul anterior, dan nukleus serta korteks lensanya diangkat, kemudian
lensa intraokular ditempatkan pada kantung kapsular yang sudah kosong, disanggah
oleh kapsul posterior yang utuh.
Ekstraksi katarak intra kapsular (EKIK), merupakan suatu tindakan
mengangkat seluruh lensa beserta kapsulnya, tetapi operasi ini jarang dilakukan.
Insiden terjadinya ablasio retina pasca operasi jauh lebih tinggi dengan tindakan ini
dibandingkan dengan pasca bedah ekstra kapsular,namun bedah intra kapsular
merupakan prosedur yang berguna khususnya bila tidak tersedia fasilitas untuk
melakukan bedah ekstra kapsular.4
Fakoemulsifikasi, merupakan tindakan operasi yang memungkinkan lensa
dihancurkan dan diemulsifikasi kemudian dikeluarkan dengan bantuan probe dan

14
ekstraksi dikerjakan ekstrakapsular. Lalu kemudian ditanam sebuah lensa buatan yang
disebut Intra Ocular Lenses (IOLs).
Indikasi dilakukan operasi katarak :1
1. Penurunan fungsi penglihatan yang tidak dapat ditoleransi oleh pasien.
2. Adanya anisometropia yang bermakna secara klinis.
3. Kekeruhan lensa menyulitkan pemeriksaan segmen posterior.
4. Terjadi komplikasi terkait lensa seperti peradangan atau glaukoma sekunder.

Kontraindikasi operasi katarak


1. Penurunan fungsi penglihatan yang masih dapat ditoleransi pasien.
2. Tindakan bedah diperkirakan tidak akan memperbaiki tajam penglihatan dan tidak
ada indikasi bedah lainnya.
3. Pasien tidak dapat menjalani bedah dengan aman karena keadaan medis atau
kelainan okular lainnya yang ada pada pasien.
4. Perawatan pasca bedah yang sesuai tidak bisa diperoleh pasien.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidharta dan Sri Rahayu Yulianti. Ilmu Penyakit Mata Edisi Kelima. Jakarta:
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2014.

2. Suhardjo dkk. Ilmu Kesehatan Mata. Yogyakarta: Bagian Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. 2007.

3. Eva, Paul-Riordan and John P. Whitcher. Vaughan & Asbury: Oftalmologi Umum alih
bahasa Brahm U. Pendit. Jakarta: EGC. 2010.

16