Anda di halaman 1dari 3

Busi plus ludah, Kaca pun pecah

Kurang dari semenit Kaca mobil remuk setelah ditabur pecahan keramik busi yang diludahi. benarkah?

Bang, kacanya kok pecah?” teriak Yudi, saat melihat kaca pintu mobil milik temannya, Fitra Asrirama, pecah di bagian tengah. Malam itu, 18 Juli lalu sekitar pukul 22.00 WIB, Fitra dan Yudi berniat pulang bersama setelah menghadiri acara buka puasa dengan sejumlah wartawan di sekretariat Persatuan Jurnalistik Indonesia (PJI), Pekanbaru, Riau.Namun, saat akan masuk ke mobil wartawan Metro TV di Pekanbaru itu, keduanya terkejut bukan kepalang. Kaca mobil pecah, sejumlah barang berharga di dalamnya, tas berisi laptop plus modem, raib digondol maling. “Saya heran, tidak ada yang dengar suara kaca pecah. Alarm mobil tidak bunyi,” ujar Fitra kepada majalah detik beberapa waktu lalu.

Di Pekanbaru kini marak pencurian dengan modus memecahkan kaca mobil. Bahkan dia sering membuat berita kasus tersebut. Namun ia tak menyangka bakal menjadi korban.

Modus pencurian dengan memecah kaca mobil, menurut Kepala Kepolisian Resor Pekanbaru Komisaris Besar Adang Ginanjar, muncul sejak 2011. Di wilayah Pekanbaru setidaknya sudah ada 76 tempat kejadian perkara dalam kurun waktu dua tahun. Dari jumlah itu, delapan pelaku ditangkap.

Mereka sudah dibui, sebagian sudah menghirup udara bebas. Nah, dari pengakuan para pelaku inilah diketahui modus yang dilakukan cukup unik. Mereka memecah kaca mobil sasarannya dengan menggunakan pecahan keramik busi kendaraan. Caranya, keramik busi digeprek, lalu diludahi sebelum ditaburkan ke kaca mobil. “Dalam waktu kurang dari 1 menit, kaca hancur. Itu hasil rekonstruksi dan keterangan pelaku,” tutur Adang saat dihubungi majalah detik. “Saya juga heran bisa begitu.”

Diketahui pula, mereka mengenal cara seperti itu saat berada di penjara. Bahkan ada beberapa anggota geng motor yang pernah dipenjara sekarang “alih profesi” menjadi pencuri dengan modus memecah kaca mobil.

Menurut Adang, modus tersebut termasuk kejahatan spesialis dan terorganisasi. Korban telah diincar sebelumnya. Targetnya kebanyakan nasabah bank. Salah satu anggota kawanan biasanya mengintai sejak korbannya di dalam bank. Begitu mendapat sasaran, ia menelepon temannya yang mengendarai sepeda motor di area parkir. Saat mobil berhenti di suatu tempat itu, pelaku yang membuntuti menabur serbuk busi ke kaca mobil. Begitu kaca pecah, barang berharga pun dijarah. Dari catatan Polres Pekanbaru, korban modus tersebut yang merupakan nasabah bank tercatat sebanyak 70 kasus. edangkan target acak ada 16 perkara. Modus pencurian dengan memecah kaca mobil memakai serbuk busi ternyata tak cuma di wilayah hukum Polres Pekanbaru, tetapi juga marak terjadi di Bandung, Jawa Barat. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Besar Bandung Ajun Komisaris Besar Trunoyudho Wisnu Andhiko, saat dihubungi secara terpisah, mengatakan para pelaku dikenal sebagai kelompok Lampung dan Palembang. Ia menduga komplotan ini pulalah yang beroperasi di Pekanbaru.Trunoyudho juga bingung, kenapa keramik busi yang dihancurkan dan diludahi bisa memecahkan kaca mobil? “Anehnya, alarm mobil bisa mati (tidak berbunyi),” ujarnya. Dari catatan Polres Kota Bandung, modus ini sudah dimulai pada 2010. Namun sampai saat ini baru dua pelaku yang ditangkap.Meski tindak kriminal dengan modus ini cukup meresahkan, Polres Pekanbaru dan Polres Kota Bandung belum melakukan uji ilmiah mengapa busi bisa jadi alat pemecah kaca. Alasannya, mereka hanya berfokus pada tindak pidananya.

Pengajar ilmu kimia di Universitas Indonesia, Dita Arifa Nurani, mengungkapkan, selain menggunakan pecahan keramik busi, para pelaku diduga menggunakan zat asam kuat, seperti asam fluorida (HF) yang merupakan oksidator kuat.

“F- merupakan ion yang dapat mengoksidasi logam yang terdapat dalam kaca (material kaca mengandung silika), sehingga dapat merusak dan melarutkan kaca,” kata Dita kepada majalah detik.

Dita kurang yakin pelaku hanya meludahi serbuk keramik busi. Sebab, asam air ludah tak sekuat asam fluorida. Hanya fluorida yang bisa mengoksidasi logam yang terdapat dalam keramik busi dan silika pada kaca sehingga larut dan mudah pecah.Karena sifatnya itulah, fluorida tak pernah disimpan dalam botol atau gelas kaca. Pada umumnya fluorida disimpan di wadah plastik. “Kesimpulan saya, pasti pelaku enggak cuma pakai busi dan ludah,” ucapnya. Namun, untuk

memastikannya, ujar Dita, butuh penelitian di laboratorium dan pemantauan lebih dulu di tempat kejadian perkara.