Anda di halaman 1dari 53

7

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Pendahuluan
Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan
untuk memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa
dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya
medium pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas dan
air biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa
mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien.
Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat
dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung (direct
contact). Penukar panas sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang
minyak, pabrik kimia maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi,
pembangkit listrik. Salah satu contoh sederhana dari alat penukar panas adalah
radiator mobil dimana cairan pendingin memindahkan panas mesin ke udara
sekitar.
Unit penukar panas adalah suatu alat untuk memindahkan panas dari
suatu fluida ke fluida yang lain (J. P. Holman, 1986). Sebagian besar dari
industri - industri yang berkaitan dengan proses selalu menggunakan alat ini,
karena alat penukar kalor ini mempunyai peran yang penting dalam suatu
proses produksi atau operasi. Salah satu tipe dari alat penukar kalor yang
banyak dipakai adalah tipe plate. Plate heat exchanger adalah suatu alat
perpindahan panas yang berbentuk frame yang diberi pelat sebagai sekat
sekat (J. P Holman, 1986).

2.2. Diagram Alir Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) PT. X

Teknik Mesin ITI


8

PLTP di PT. X (Gambar 2.1.) bermula dari Demister karena uap yang
digunakan adalah uap yang dipasok oleh Chevron Geothermal Salak. Sehingga
proses pembangkitan di PLTP PT. X bermula dari Demister (Gambar 2.1.).
Sebelum uap masuk ke Demister, uap masuk ke Scrubber (milik Chevron
Geothermal Salak) yang berfungsi untuk memisahkan uap dari air kondensat.
Uap yang masuk ke Scrubber diatur oleh Main Unit Isolation Valve (Gambar
2.1.).

Gambar 2.1 Diagram Alir Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)
PT. X
(PT. Indonesia Power, 2015)
Kemudian uap masuk masuk ke Demister dari partikel padat dan
memisahkan butiran dari uap (Gambar 2.1). Partikel padat akan terjebak
sehingga uap yang akan masuk ke turbin kering dan bersih, dengan
memanfaatkan partikel jenis padat dan butiran air dialirkan kebagian bawah
Demister menuju Drain System To Atmospheric Flash Tank. Uap yang
dipisahkan dari partikel padat dan butiran air dialirkan menuju 3 aliran. Aliran
tersebut menuju turbin, Gas Extraction dan Steam To Turbine Steam Seal

Teknik Mesin ITI


9

System. Uap yang menuju aliran turbin masuk kedalam turbin melalui Turbine
Valve yaitu Stop Valve dan Control Valve. Stop Valve berfungsi sebagai
membuka atau menutup katup untuk keadaan darurat, dan Control Valve sebagai
mengatur jumlah aliran masuk ke turbin. Kemudian setelah uap memutarkan
turbin terjadi perubahan energi, dari energi panas menuju mekanik, poros turbin
dikopel dengan poros generator sehingga putaran turbin memutarkan generator
dan terjadi perubahan energi dari energi mekanik menjadi energi listrik.
Generator menghasilkan energi listrik dengan arus 3 fasa, frekuensi 50 Hz,
dengan tegangan 11,8 KV. Melalui Transformator Step Up arus listrik dinaikkan
tegangannya hingga 150 KV, selanjutnya dihubungkan dengan jaringan
interkoneksi Bogor Baru dan Bogor Lama.
Uap sisa yang memutarkan turbin, kemudian dialirkan menuju
Kondensor. Uap yang terkondensasi dialirkan menuju Cooling Tower
menggunakan Main Cooling Water Pump (MCWP). Cooling Tower berfungsi
untuk menurunkan temperatur air kondensat lalu dialirkan kembali ke
kondensor. Uap yang tidak terkondensasi (Non Condesable gas) dihisap oleh
Ejector dengan sistem uap bantu untuk dialirkan menuju Intercondenser untuk
menjaga kevakuman kondensor, gas yang tidak terkondensasi harus dikeluarkan
secara kontinyu. NCG didalam Intercondenser dikondensasikan menggunakan
air pendingin dari Primary Cooling Water System.Gas yang terkondensasi
dialirkan kembali menuju Kondensor.Sedangkan yang tidak terkondensasi
dihisap kembali ke Ejector untuk dialirkan menuju Aftercondenser. Kemudian
dikondensasikan kembali menggunakan air menuju Kondensor. Sedangkan
yang tidak terkondensasi dialirkan menuju Cooling Tower untuk dibuang
menggunakan Fan Stack.

Teknik Mesin ITI


10

Gambar 2.2 Diagram T - S Untuk Sistem Konversi Uap Hasil Pemisahan


(Penentuan Kapasitas Pembangkitan PLTP, 2008)

Berikut penjelasan dari diagram T-s pada gambar 2.2 :

1. Titik 1 merupakan keadaan fluida di permukaan atau di kepala sumur. Terlihat


pada diagram T-s diatas bahwa fluida di kepala sumur merupakan fluida 2 fasa
(campuran air dan uap) dengan kandungan air sangat tinggi (bisa lebih dari
90%).
2. Titik 2 merupakan keadaan fluida di separator atau alat pemisah antara air dan
uap. Fluida pada keadaan ini telah mengalami flashing dimana telah terjadi
penurunan tekanan yang bersamaan juga dengan penurunan temperatur.
Terlihat pada diagram T-s diatas bahwa pada titik 2, fluida merupakan fluida 2
fasa dengan kandungan uap yang lebih banyak dibandingkan dengan keadaan
semula di titik 1. Pada titik 2 ini, dilakukan pemisahan antara air dan uap. Air
dibawa ke titik 3 untuk selanjutnya menuju sumur injeksi sedangkan uap
dibawa ke titik 4 untuk selanjutnya masuk ke turbin.
3. Titik 3 merupakan keadaan air yang telah terpisahkan dari uap, sebagaimana
dijelaskan pada titik 2. Air hasil pemisahan ini selanjutnya akan dikembalikan
kedalam perut bumi melalui sumur injeksi.
4. Titik 4 merupakan keadaan uap yang telah terpisahkan dari air, sebagaimana
dijelaskan pada titik 2. Titik 4 ini merupakan titik masuk turbin. Adanya
penurunan tekanan (pressure losses)..
5. Titik 5 merupakan titik keluar turbin. Titik ini sekaligus merupakan titik
masuk ke kondensor. Adanya rugi-rugi daya yang terjadi selama uap memutar
turbin, seperti heat losses akibat gesekan antar komponen, menyebabkan

Teknik Mesin ITI


11

entropi keluar turbin lebih besar dibandingkan dengan entropi saat masuk
turbin. Andaikan proses ini ideal, maka entropi keluar turbin akan sama
dengan entropi saat masuk turbin (isentropik) atau titik keluar turbin akan
jatuh di titik 5. Semakin proses ini mendekati isentropik maka akan semakin
tinggi esisiensi yang diperoleh.
6. Terlihat pada diagram T-s diatas bahwa keadaan fluida keluar turbin, yaitu di
titik 5, adalah fluida 2 fasa. Biasanya fraksi uap pada keadaan ini diatas 80%.
Fluida yang keluar dari turbin ini harus diinjeksikan kembali kedalam perut
bumi. Namun, menginjeksikan fluida dua fasa dominasi uap seperti ini
bukanlah mudah. Hal ini karena massa jenis uap sangat kecil dibandingkan
dengan air sehingga uap lebih cenderung bergerak keatas. Oleh karena itu,
fluida di titik 5 harus dikondensasikan menjadi air jenu terlebih dhulu sebelum
diinjeksikan. Proses kondensasi ini terjadi didalam kondensor dan keadaan
fluida keluar kondnesor adalah titik 6, yaitu keadaan air jenuh. Fluida pada
titik 6 ini selanjutnya diturunkan lagi temperaturnya di menara pendingin
sebelum akhirnya diinjeksikan kembali kedalam perut bumi melalui sumur
injeksi kondensat.

2. 3. Prinsip Kerja Heat Exchanger

Panas adalah keadaan suatu materi atau benda yang memiliki temperatur
tinggi sedangkan kalor merupakan salah satu bentuk energi yang dapat
dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau
dimusnahkan sama sekali. Dalam suatu proses, kenaikan suhu suatu zat dapat
menimbulkan panas dan atau perubahan tekanan, reaksi kimia dan kelistrikan
pada zat tersebut.
Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung, yaitu
fluida (media) yang panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin
tanpa adanya pemisah dan secara tidak langsung, yaitu bila diantara fluida
(media) panas dan fluida dingin tidak berhubungan langsung tetapi dipisahkan
oleh sekat-sekat pemisah.

Teknik Mesin ITI


12

2. 4. Fungsi Plate And Frame Heat Exchanger

Pada Unit Bisnis Pembangkit PLTP PT. X, terdapat sebuah secondary


cooling water system yang digunakan untuk mendinginkan beberapa komponen
seperti generator cooler dan lube oil cooler. Kadar pH pada air yang mengalir
di secondary cooling water system harus dijaga dalam keadaan netral. Jika kadar
pH meningkat, maka akan terjadi scale formation, yaitu terbentuknya lapisan
dari kristalisasi senyawa-senyawa kimia pada air. Jika kadar pH menurun, maka
korosi akan mudah terjadi. Oleh karena itu, temperatur air pada secondary
cooling water system harus dijaga pada nilai tertentu agar nilai pH fluida
pendingin dapat dikendalikan sehingga komponen-komponen yang didinginkan
mempunyai umur yang panjang. Untuk menjaga temperatur secondary cooling
water system, dibutuhkan sebuah pendingin. Pendingin tersebut adalah air dari
primary cooling water system yang diperoleh dari cooling tower. Berbeda
dengan secondary cooling water system, Fluida pendingin pada primary
cooling water system diperoleh dari uap yang didinginkan di cooling tower.
Fungsi utama dari primary cooling water adalah sebagai pendingin secondary
cooling water. Dibutuhkan suatu media agar terjadi perpindahan panas antara
fluida dingin dari primary cooling water system dengan fluida panas dari
secondary cooling water system, media tersebut adalah heat exchanger. Heat
Exchanger (alat penukar panas) yang berfungsi sebagai media perpindahan
panas antara dua fluida yang mengalir di dalamnya. Penukar panas yang
digunakan berupa plate heat exchanger, terdiri dari tumpukan pelat yang
mempunyai bentuk khusus dan mempunyai saluran untuk mengalirkan fluida.
Secondary cooling water system merupakan sistem
pendingin yang berfungsi sebagai penyedia air pendingin bagi
generator cooler, lube oil cooler dan juga electric hydraulic
control (EHC) cooler. Kalor yang diserap dari media-media
pendingi tersebut kemudian dipindahkan pada primary cooling
water system. Untuk itu, air pendingin secondary cooling water

Teknik Mesin ITI


13

system bersirkulasi secara tertutup (close loop). Seperti pada


Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Secondary Cooling Water System (Fluida Panas)


(PT. Indonesia Power, 2016)
Berbeda dengan secondary cooling water system, primary
cooling water system merupakan sistem pendinginan dengan

sirkulasi open loop. Air pendingin utamanya berasal dari


ekstraksi sebagian kecil main cooling water sebagai pendingin
kondensor. Seperti pada Gambar 2.4.

Teknik Mesin ITI


14

Gambar 2.4 Primary Cooling Water System (Fluida Dingin)


(PT. Indonesia Power, 2016)

Pada Gambar 2.4 dijelaskan bahwa media pendingin atau


penghubung antara secondary dan primary cooling water system
digunakan yang merupakan alat penukar kalor (heat exchanger)
tipe plate and frame.

2.5. Proses Perpindahan Panas (Heat Exchanger)


Pada dasarnya prinsip kerja dari alat penukar panas yaitu memindahkan
panas dari dua fluida pada temperatur berbeda dimana transfer panas dapat
dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung.
2. 5. 1. Perpindahan Panas Secara Konduksi
Merupakan perpindahan panas antara partikel-partikel yang saling
berdekatan antar yang satu dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh
perpindahan partikel-partikel tersebut secara fisik. Molekul-molekul
benda yang panas bergetar lebih cepat dibandingkan molekul-molekul
benda yang berada dalam keadaan dingin. Getaran-getaran yang cepat
ini, tenaganya dilimpahkan kepada molekul di sekelilingnya sehingga
menyebabkan getaran yang lebih cepat maka akan memberikan panas.
2. 5. 2. Perpindahan Panas Secara Konveksi

Teknik Mesin ITI


15

Perpindahan panas dari suatu zat ke zat yang lain disertai dengan
gerakan partikel atau zat tersebut secara fisik. Dari suatu permukaan
ke fluida yang bergerak.

2. 5. 3. Perpindahan Panas Secara Radiasi


Perpindahan panas tanpa melalui media (tanpa melalui molekul).
Suatu energi dapat dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya
(dari benda panas ke benda yang dingin) dengan pancaran gelombang
elektromagnetik dimana tenaga elektromagnetik ini akan berubah
menjadi panas jika terserap oleh benda yang lain. Seperti pada Gambar
2.5.

Gambar 2.5 Analogi Perpindahan Panas

Pada Gambar 2.5 menjelaskan bahwa air dianalogikan sebagai


panas dan orang sebagai medium:

1. Nozel mengarahkan air langsung dari sumur ke gudang, tidak


tergantung pada medium => radiasi
2. Melalui barisan ember, air berpindah dari sumur ke gudang =>
konduksi

Teknik Mesin ITI


16

3. Air dibawa oleh orang yang lari dari sumur ke gudang => konveksi
2. 5. 4. Secara Kontak Langsung
Panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dingin melalui
permukaan kontak langsung berarti tidak ada dinding antara kedua
fluida. Transfer panas yang terjadi yaitu melalui interfase atau
penghubung antara kedua fluida.Contoh : aliran steam pada kontak
langsung yaitu dua zat cair yang immiscible (tidak dapat bercampur),
gas-liquid dan partikel padat-kombinasi fluida.
2. 5. 5. Secara Kontak Tidak Langsung
Perpindahan panas terjadi antara fluida panas dan dingin melalui
dinding pemisah. Dalam sistem ini, kedua fluida akan mengalir.
Perpindahan energi atau panas dengan menggunkan alat penukar panas
(Heat Exchanger) banyak sekali diaplikasikan dalam dunia industri.
Proses perpindahan panas pada heat exchanger sebagian besar
didominasi oleh konveksi dan konduksi dari fluida panas ke fluida
dingin, dimana keduanya tidak terjadi kontak secara langsung dalam
hal ini dipisahkan oleh dinding. Perpindahan panas secara konveksi
sangat dipengaruhi oleh bentuk geometri heat exchanger dan bilangan-
bilangan tak berdimensi.

2. 6. Komponen-komponen Utama Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi


(PLTP) PT. X
2. 6. 1. Separator
Uap yang keluar dari sumur-sumur eksplorasi mengandung silika
dan zat padat lainnya yang dapat menempel pada nozzle tingkat

Teknik Mesin ITI


17

pertama turbin, hal ini dapat menimbulkan penyempitan dan


penurunan aliran uap serta peningkatan tekanan pada steam chest
press.
Separator yang digunakan bertipe silinder tegak seperti pada
Gambar 2.6. yang mana uap masuk melalui saluran masuk diarahkan
sedemikian rupa sehingga dalam silinder aliran uap akan membentuk
arah aliran sentrifugal.

Gambar 2.6 Separator


(PT. Indonesia Power, 2015)

Akibat adanya aliran sentrifugal tersebut, maka material yang ikut


bersama aliran, seperti zat padat akan terlempar ke arah luar
membentur dinding separator dan akibat adanya gravitasi akhirnya
material-material ini jatuh ke bagian bawah separator. (pada Gambar
2.6).

Teknik Mesin ITI


18

2. 6. 2. Demister
Demister berfungsi untuk menyaring bintik-bintik air dalam uap
yang tidak tersaring dalam separator yang berfungsi untuk mencegah
masalah dalam Turbin, seperti pada Gambar 2.7.

Gambar 2.7 Demister


(PT. Indonesia Power, 2015)
Pada Gambar 2.7 menjelaskan bahwa penyaringan dari demister
ini sangat efektif dan efisien untuk mengurangi resiko terjadinya carry
over Cl, SiO2, Fe, Fe2O3 masuk ke dalam turbin.

2. 6. 3. Turbin
Komponen utama dari Pembangkit tenaga listrik adalah turbin,
seperti pada Gambar 2.8. pada bagian ini akan dibahas mengenai
keadaan fisik dari turbin uap PLTP PT. X, yang meliputi tipe turbin,
rumah turbin, rotor dan sudu-sudu turbin, susunan pipa dan sistem
katup pengontrol aliran uap yang masuk turbin serta masalah yang
ditimbulkan akibat adanya penumpukan silica.

Teknik Mesin ITI


19

Gambar 2.8 Turbin


(PT. Indonesia Power, 2015)

Tipe Turbin
Turbin yang digunakan di UBP Kamojang PLTP Gunung Salak
adalah tipe Single Cylinder Double Flow (pada gambar 2.6) yaitu
kombinasi dari turbin aksi (impuls) dan reaksi, yang membedakan
antara turbin aksi dan reaksi adalah pada proses ekspansi dari uapnya.
Pada turbin aksi, proses ekspansi (penurunan tekanan) dari fluida
kerja hanya terjadi didalam baris sudu tetapnya saja, sedangkan pada
reaksi proses dari fluida kerja terjadi baik di dalam baris sudu tetap
maupun sudu beratnya. Uap bersih dan kering digunakan untuk
memutar sudu-sudu turbin pada kecepatan 3000 rpm, turbin ini
dikopel langsung ke generator. Uap masuk kedalam turbin dalam
jumlah yang besar, hal ini dikarenakan tekanan uap yang digunakan
PLTP rendah berada di kisaran 2-10 kg/cm2, tekanan uap yang rendah
ini berdampak terhadap volume spesifik uap. Volume spesifik dari
uap menjadi besar dan heat drop di dalam turbin menjadi rendah,
oleh karena itu jumlah uap yang dibutuhkan menjadi banyak. Volume

Teknik Mesin ITI


20

uap yang besar ini mengakibatkan ukuran-ukuran turbin, rumah


turbin dan katup-katup yang relatif besar dari pada turbin yang
menggunakan uap dengan tekanan tinggi.
Susunan pipa uap masuk turbin
Dua buah pipa saluran masuk uap ke dalam turbin dipergunakan
dengan maksud untuk keamanan operasi pada saat terjadi keadaan
darurat. Dengan menggunakan sistem ini maka steam free test pada
katup-katup yang terdapat pada pipa saluran uap tersebut dapat
dilakukan tanpa mengganggu operasi turbin pada saat beban penuh.
Pada tipe turbin yang digunakan di PLTP PT. X, seluruh mulut
saluran masuk kedalam turbin yang terdapat pada bagian bawah
rumah turbin. Saluran pipa-pipa uap tersebut berada disamping kanan
dan kiri arah memanjang dari turbin. Ruang uap utama yang terdapat
didalam ruang uap kedua dipisahkan dengan menggunakan sekat,
sehingga uap pertama masuk ke nozzle tingkat pertama kira-kira tepat
di tengah-tengah turbin dan uap kedua disalurkan ke lubang
pemasukan dan kedua uap tersebut bertemu untuk kemudian
mengalir menuju sudu-sudu selanjutnya.
Rumah turbin
Rumah turbin ini terbuat dari plat baja dan metode
penyambungan dengan pengelasan. Rumah turbin ini dibagi menjadi
dua bagian, atas dan bawah. Relief diafraghma dan lubang
pemeriksaan sudu-sudu tingkat akhir dipasang di rumah turbin bagian
atas. Turbin dengan sistem single cylinder doubler flow (Gambar 2.9)
mempunyai pipa pengimbang, dimana pipa tersebut menghubungkan
dua ruangan uap tingkat pertama sebelah kiri dan sebelah kanan.
Dengan adanya pipa pengimbang ini maka tidak perlu adanya
lubang-lubang pengimbang pada piringan rotor.

Teknik Mesin ITI


21

Gambar 2.9 Single Cylinder Double Flow Turbine


(PT. Indonesia Power, 2015)

Rotor dan sudu turbin


Rotor turbin harus memiliki konstruksi yang pejal untuk
mengatasi kondisi kerja yang ekstrim. Misalnya pada kondisi kerja
putaran tinggi dan temperatur operasional yang relatif tinggi, kondisi
lainnya adalah lingkungan yang erosif dan korosif. (Gambar 2.10).

Gambar 2.10
Rotor
Turbin
(PT.
Indonesia
Power, 2015)

Teknik Mesin ITI


22

Katup governor dan main stop valve


Ukuran katup-katup pada PLTP mempunyai ukuran yang besar
mengingat pemakaian tekanan uap yang relatif rendah. Untuk
mencegah kemacetan pada mekanisme katup maka dipasang
peralatan steam free test. Kontruksi MSV menggunakan tipe swing
check dan untuk katup governor menggunakan tipe butterfly. Untuk
mengoperasikan katup berukuran besar digunakan servo motor dan
peralatan hidrolik sehingga dapat menggerakan katup yang dalam
keadaan tertutup deposit yang bisa sangat besar.
Sistem kontrol pada katup governor
PLTP dioperasikan sebagai base load unit, karena energi uap
panas bumi tidak dapat disimpan. Oleh karena itu PLTP harus
dioperasikan semaksimal mungkin sesuai output maksimum sumber
uapnya. Dalam beroperasi katup governor selalu terbuka pada beban
penuh. Dari kondisi kerja ini maka besar kemungkinan akan terjadi
macetnya mekanisme katup akibatnya penumpukan deposit. Untuk
mencegah hal ini maka karakteristik aliran uap dan pembentukan
katup dibuat agar cocok dengan karakteristik di start uap masuk
kedalam turbin yang diatur oleh pilot valve didalam MSV, sedangkan
pada saat paralel diatur oleh katup governor.
Pada saat turbin dioperasikan, karena terdapat dua saluran uap
yang masuk kedalam turbin maka katup-katup MSV maupun
governor dapat diperiksa apabila terjadi kemacetan tanpa harus
mengganggu operasional unit. Untuk mencegah terjadinya
penyempitan maka lubang nozzle diperbesar.
Journal Bearing
Adalah turbine part yang berfungsi untuk menahan
gaya radial atau gaya tegak lurus rotor.
Thrust Bearing

Teknik Mesin ITI


23

Adalah turbine part yang berfungsi untuk menahan


atau menerima gaya aksial atau gaya sejajar terhadap
poros yang merupakan gaya maju mundurnya poros

rotor.

Gambar 2.11 Thrust Bearing


(PT. Indonesia Power, 2015)
Main Oil Pump
Berfungi untuk memompakan oli dari tangki untuk
disalurkan pada bagian bagian yang berputar pada
turbin seperti pada Gambar 2.11 . Dimana fungsi dari
lube oil adalah:

Teknik Mesin ITI


24

- Sebagai pelumas pada bagian bagian yang


berputar.
- Sebagai pendingin ( Oil Cooler ) yang telah panas
dan masuk kebagian turbin dan akan menekan /
terdorong keluar secara sekuler.
- Sebagai pelapis ( Oil Film ) pada bagian turbin yang
bergerak secara rotasi.
- Sebagai pembersih ( Oil Cleaner ) dimana oli yang
telah kotor sebagai akibat dari benda benda yang
berputar dari turbin akan terdorong keluar ecara
sirkuler oleh oli yang masuk.
Main Oil Tank
Adalah alat yang berfungsi untuk menampung minyak
pelumas turbin (Gambar 2.12)

Turning Gear
Adalah suatu alat yang berfungsi memutar turbin pada
putaran = 3000 rpm pada saat stop atau sebelum start
up (Gambar 2.13)

Teknik Mesin ITI


25

Gambar 2.12 Main Oil Tank Gambar 2.13 Turning Gear


(PT. Indonesia Power, 2015)

2. 6. 4. Generator
Generator adalah suatu peralatan yang berfungsi untuk mengubah
energi mekanik menjadi energi listrik. Sistem penguatan generator
dapat berupa sistem penguatan sendiri maupun sistem penguatan
terpisah. Generator terdiri dari 2 kumparan utama, yaitu kumparan
rotor dan kumparan stator. Kumparan rotor berfungsi untuk
membangkitkan medan magnet setelah diberi arus penguat dari main
exciter. Kumparan stator akan menimbulkan tegangan yang
bermanfaat sebagai sumber listrik bila kumparan stator yang
bermuatan medan magnet terbuka berputar. Seperti ditunjukkan pada
Gambar 2.14.

Teknik Mesin ITI


26

Gambar 2.14 Generator


(PT. Indonesia Power, 2015)

Sistem pendingin pada generator seperti yang ditunjukkan pada


Gambar 2.14, menggunakan udara yang disirkulasikan oleh fan ke
kumparan stator dan rotor. Udara yang dipakai untuk sistem pendingin
mempunyai temperatur kurang lebih 43C. Setelah udara tersebut
mendinginkan generator kemudian dialirkan ke radiator untuk
didinginkan kembali, sebagai media pendinginnya adalah air.

2. 6. 5. Transformator
Transformator berfungsi untuk menaikkan (Step-Up) dan
menurunkan (Step-Down) tegangan. Tegangan output dari power plant
yang akan ditransmisi melalui jarak yang jauh dinaikkan dahulu
melalui transformator step-up. Seperti pada Gambar 2.15.

Teknik Mesin ITI


27

Gambar 2.15 Transformator


(PT. Indonesia Power, 2015)
Pada Gambar 2.15 menjelaskan bahwa pada daya yang konstan,
tegangan dinaikkan maka arus akan menjadi kecil, dalam hal ini dapat
memperkecil kerugian tegangan. Perlengkapan transformator terdiri
dari:
Bushing transformator
Suatu transformator tegangan tinggi harus diberi alat untuk
mencegah timbulnya Flash-Over. Bushing dipakai untuk
mengamankan Flash-Over tersebut dalam hal ini dipergunakan
berupa peralatan porselen isolator dengan kualitas yang baik,
dengan penghantar di tengahnya. Porselen tersebut harus bebas dari
lubang-lubang kecil dalam hal ini lubang-lubang yang akan
menyebabkan awal terjadinya kerusakan pada isolator.

Thermometer Trap
Thermometer trap ini terdiri dari beberapa bagian yaitu :

Teknik Mesin ITI


28

Stick thermometer, direncanakan untuk pemasangan tak


langsung yang dipindahkan bila minyak di tabung berubah.
Dial Thermometer
Resistance Remote Thermometer, untuk mengukur suhu
minyak trafo atau suhu belitan melalui switchboard.
Thermal Relay, dipakai untuk menunjukkan suhu belitan
maksimum atau suhu minyak trafo dan untuk melengkapi
operasi pengaman dari trip, alarm, dan lain-lain. Alat ini
sebagaimana kontrol otomatis dari peralatan trafo.

2. 6. 6. Kondensor
Untuk mendapatkan efisiensi turbin yang tinggi maka uap bekas
atau Exhaust Steam yang keluar dari turbin harus dalam kondisi vakum
sekitar 0,1 bar yang diperoleh dengan mengkondensasikan uap tersebut
dalam sebuah kondensor yang langsung terpasang dibawah turbin.
Berbeda dengan kondensor permukaan yang ada pada PLTU
konvensional, kondensor kontak langsung mempunyai efisiensi
perpindahan panas yang jauh lebih besar daripada kondensor
permukaan, hingga ukuran dan biaya investasinya juga jauh lebih
kecil. Seperti pada Gambar 2.16.

Teknik Mesin ITI


29

Gambar 2.16 Kondensor


(PT. Indonesia Power, 2015)
Pemakaian kondensor yang seperti pada Gambar 2.16 ini sangat
cocok untuk PLTP PT. X karena pembangkit panas bumi mempunyai
siklus terbuka sehingga tidak diperlukan sistem pengambilan kembali
kondensat seperti pada PLTU konvensional. Exhaust steam dari turbin
masuk dari sisi atas kondensor, kemudian mengalami kondensasi
sebagai akibat penyerapan panas laten oleh air pendingin yang
diinjeksikan melalui spray nozzle. Gas-gas yang tidak dapat
dikondensasikan didinginkan di gas cooling zone, untuk kemudian
dikeluarkan lewat atas kondensor oleh sistem ekstrasi gas. Level
kondensat di dalam kondensor dijaga selalu dalam kondisi level
normal oleh dua buah cooling water pump dan dialirkan ke cooling
tower untuk didinginkan ulang sebelum disirkulasikan kembali.

2. 6. 7. Main Cooling Water Pump


Main Cooling Water Pump (MCWP) atau pompa air dingin adalah
suatu pompa air sentrifugal dengan kontruksi vertikal yang dilengkapi
dengan mangkok besar (can) sebagai penampung yang akan dihisap

Teknik Mesin ITI


30

pompa (seperti pada Gambar 2.17) dengan diatur oleh pengatur yang
disetting dengan pengaturan pembukaan air didalam kondensor.

Gambar 2.17 Main Cooling Water Pump


(PT. Indonesia Power, 2015)

Pada saat unit beroperasi (seperti pada Gambar 2.17) normal


sekitar 12.500 m3/jam air dengan temperatur 47oC dialirkan dari
kondesor ke menara pendingin bagian atas dengan dua buah pompa air
pendingin utama. Pompa tersebut diputar dengan menggunakan motor
listrik yang dapat dikendalikan dari ruang kendali. Motor tersebut
dilengkapi dengan alat pengaman dimana motor tersebut akan berhenti
apa bila suhu bantalan pompa panas, adanya getaran yang tinggi,
pembukaan air pada kondensor sangat rendah dan tegangan listrik
motor rendah.

2. 7. 8. Cooling Tower
PLTP Gunung Salak menggunakan cooling tower dengan sistem
mechanical induced draught, udara berpindah karena adanya isapan
karena kipas. Pada jenis ini (Gambar 2.18) udara masuk dari sisi
menara melalui kisi-kisi yang cukup besar pada kecepatan rendah
bergerak melalui fiber. Kipas dipasang dipuncak menara dan melalui
fan stack udara panas dan lembab dibuang ke udara bebas.

Teknik Mesin ITI


31

Gambar 2.18 Cooling Tower


(PT. Indonesia Power, 2015)

Pada Gambar 2.18 menjelaskan bahwa cooling tower PLTP


Gunung Salak terdiri dari banyak cell yang terbuat dari kayu kering
yang telah diawetkan dan sejumlah cerobong kipas di puncak menara
dengan bentuk bundar. Untuk 1 dan 2 terdiri dari 5 buah cerobong
kipas dan untuk unit 3 terdiri dari 4 buah cerobong kipas.
Kipas-kipas digerakan oleh motor-motor listrik dengan putaran
rendah. Putaran rendah ini dapat dicapai dengan penggunaan gigi
reduksi. Kipas ini adalah jenis baling-baling yang dapat memindahkan
laju aliran volumetrik yang besar pada tekanan statis rendah. Blade-
nya dapat diatur jarak baginya dan sudutnya agar mengkonsumsi daya
serendah mungkin. Kelemahannya ialah kebutuhan daya, biaya operasi
dan pemeliharaan yang besar serta menimbulkan suara yang berisik.

Teknik Mesin ITI


32

2. 7. JenisJenis Heat Exchanger


2. 7. 1. Penukar Panas Pipa Rangkap (Double Pipe Heat Exchanger )
Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam
jenis penukar panas dapat digunakan berlawanan arah aliran, baik
dengan cairan panas atau dingin cairan yang terkandung dalam ruang
annular dan cairan lainnya dalam pipa. Seperti pada Gambar 2.19.

Gambar 2.19 Double Pipe Heat Exchanger


(Diah, 2014)

Pada Gambar 2.19 menjelaskan bahwa alat penukar panas pipa


rangkap terdiri dari dua pipa logam standar yang dikedua ujungnya
dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat. Fluida
yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di
dalam ruang anulus antara pipa luar dengan pipa dalam.Alat penukar
panas jenis ini dapat digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan
tekanan operasi yang tinggi. Sedangkan untuk kapasitas yang lebih
besar digunakan penukar panas jenis selongsong dan buluh ( shell and
tube heat exchanger).

2. 7. 2. Penukar Panas Cangkang dan Tubular ( Shell and Tube Heat


Exchanger )
Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel
pipa yang dihubungkan secara paralel dan ditempatkan dalam sebuah
pipa mantel (cangkang). Fluida yang satu mengalir di dalam bundel

Teknik Mesin ITI


33

pipa, sedangkan fluida yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang
sama, berlawanan, atau bersilangan. Kedua ujung pipa tersebut dilas
pada penunjang pipa yang menempel pada mantel. Seperti pada
Gambar 2.20.

Gambar 2.20 Shell and Tube Heat Exchanger


(Diah, 2014)

Pada Gambar 2.20 berfungsi untuk meningkatkan efisiensi


pertukaran panas, biasanya pada alat penukar panas cangkang dan
buluh dipasang sekat (buffle). Ini bertujuan untuk membuat turbulensi
aliran fluida dan menambah waktu tinggal (residence time), namun
pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan
menambah beban kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang
dipertukarkan panasnya harus diatur.

Teknik Mesin ITI


34

2. 7. 3. Penukar Panas Plate and Frame (Plate and Frame Heat


Exchanger)
Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari paket pelatpelat
tegak lurus, bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak
lurus dipasang penyekat lunak (biasanya terbuat dari karet). Seperti
pada Gambar 2.21.

Gambar 2.21 Penukar panas jenis plate and frame


(Diah, 2014)

Pada Gambar 2.21 menjelaskan bahwa pelat pelat dan sekat


disatukan oleh suatu perangkat penekan yang pada setiap sudut pelat
10 (kebanyakan segi empat) terdapat lubang pengalir fluida. Melalui
dua dari lubang ini, fluida dialirkan masuk dan keluar pada sisi yang
lain, sedangkan fluida yang lain mengalir melalui lubang dan ruang
pada sisi sebelahnya karena ada sekat.

2. 7. 4. Adiabatic Wheel Heat Exchanger


Jenis keempat penukar panas menggunakan intermediate cairan
atau toko yang solid untuk menahan panas, yang kemudian pindah ke
sisi lain dari penukar panas akan dirilis. Seperti pada Gambar 2.22.

Teknik Mesin ITI


35

Gambar 2.22 Adiabatic Wheel Heat Exchanger


(Diah, 2014)

Pada Gambar 2.22 menjelaskan bahwa dua contoh ini


adalah roda adiabatik, yang terdiri dari roda besar dengan
benang halus berputar melalui cairan panas dan dingin, dan
penukar panas cairan.

2. 7. 5. Pillow Plate Heat Exchanger


Sebuah pelat penukar bantal umumnya digunakan dalam
industri susu untuk susu pendingin dalam jumlah besar langsung
ekspansi tank massal stainless steel. Pelat bantal memungkinkan untuk
pendinginan di hampir daerah seluruh permukaan tangki, tanpa sela
yang akan terjadi antara pipa dilas ke bagian luar tangki. Pelat bantal
dibangun menggunakan lembaran tipis dari logam-spot dilas ke
permukaan selembar tebal dari logam. Seperti pada Gambar 2.23.

Gambar 2.23 Pillow Plate Heat Exchanger


(Diah, 2014)

Teknik Mesin ITI


36

Pada Gambar 2.23 menjelaskan bahwa pelat tipis dilas dalam


pola teratur dari titik-titik atau dengan pola serpentin garis las. Setelah
pengelasan ruang tertutup bertekanan dengan kekuatan yang cukup
untuk menyebabkan logam tipis untuk tonjolan di sekitar lasan,
menyediakan ruang untuk cairan penukar panas mengalir dan
menciptakan penampilan yang karakteristik bantal membengkak
terbentuk dari logam.

2. 8. Komponen - komponen Plate Heat Exchanger

Suatu alat yang terdiri dari sejumlah pelat tipis yang dipasang pada suatu
rangka dan ditekan rapat satu sama lain. Antara pelat satu dengan pelat lain
terdapat sela-sela sempit dimana cairan yang akan bertukar panas mengalir
secara berselang-seling. Seperti pada Gambar 2.24.

Gambar 2.24 Plate Heat Exchanger


(PT. Indonesia Power, 2015)

Pada Gambar 2.24 menjelaskan bahwa setiap sudut pelat terdapat lubang
yang apabila pelat - pelat tersusun rapat akan membentuk saluran tempat masuk
dan keluar fluida fluida yang digunakan dalam proses perpindahan panas.

Teknik Mesin ITI


37

Berikut komponen-komponen pada PHE pada Gambar 2.25 dan


keterangannya :

Gambar 2.25 Komponen-komponen Plate Heat And Frame Exchanger


(PT. Indonesia Power, 2015)

Keterangan :
1) Guaide Bar Support
Merupakan penyangga yang digunakan untuk menjaga agar cover atau
compressian plate tidak bergeser akibat getaran yang terjadi disekitar
PHE.
2) Lower Guaide Bar
Menyangga Plate bagian bawah agar plate tetap pada posisinya dan
sebagai penyangga pada guide bar support. Lower guaide bars, berupa
batang yang terbuat dari carbon steel atau stainless steel yang mendukung
dan menjaga agar pelat berjajar secara rapi.
3) Pelat penekan (Compression Plate)
Pelat penekan (Compression Plate) terbuat dari logam yang berfungsi
sebagai penekan pelat agar pada saat operasi alat berjalan tidak ada rongga
didalam aliran fluida agar tidak terjadi kebocoran.
4) Thightening Bolt and Nut

Teknik Mesin ITI


38

Mur dan baut pengencang yang berjumlah empat buah, dua di sisi atas
dan dua di sisi bawah. Berguna untuk mengatur kerapatan Plate. Berupa
baut dan mur pelat baja yang digunakan untuk menekan pelat dan frame
5) Upper Guaide Bar
Penyangga pelat bagian atas agar tetap berada di rel (jalur) nya, dan
sebagai penyangga guaide bar support. Guaide bars, berupa batang yang
terbuat dari carbon steel atau stainless steel yang mendukung dan menjaga
agar pelat berjajar secara rapi.
6) Plate and Gasket
Plate memiliki alur yang berbeda pada sisi depan dan belakangnya hal ini
berguna untuk aliran kedua fluida yang saling bersilangan, umumnya
berukuran 0,4 - 0,6 mm terbuat dari stainless steel atau titanium. Fungsi
pelat pada plate and frame heat exchanger yaitu sebagai konduktor.
Sedangkan gasket berfungsi untuk menjaga (sekat) agar tidak terjadi
kebocoran aliran pada plate sehingga fluida tidak mengkontaminasi fluida
lain.
7) SFrame
S-Frame merupakan cover depan tempat dimana terdapat empat buah
nozzle yang terhubung dengan pipa penyalur fluida yang hendak masuk
dan keluar PHE, terbuat dari logam dan berfungsi menjaga pelat agar
tetap stabil.
Sekeliling lubang dan tepi pelat terdapat alur pada mana ditempatkan
gasket sehingga rongga antar pelat dapat tertutup rapat. Dengan demikian
cairan yang mengalir dalam sela-sela pelat tidak bocor keluar dan hanya keluar
masuk melalui saluran yang disediakan. Pelat-pelat sendiri diberi alur-alur
sehingga aliran bersifat turbulen. Hal ini akan memberikan koefisien
perpindahan panas yang besar dan mengurangi kecepatan pengendapan kotoran
(fouling) pada pelat.

Alur-alur pada pelat juga memperkuat pelat agar tidak merapat satu sama
lain akibat beda tekanan yang agak besar antar kedua cairan yang ditangani.
Koefisien perpindahan panas yang besar memungkinkan alat ini dioperasikan

Teknik Mesin ITI


39

dengan beda suhu yang kecil. Jumlah pelat dapat disusun banyak sekali
(ratusan) sehingga dapat diperoleh bidang perpindahan panas yang luas sekali
pada alat yang relatif kecil volumenya. Adanya alur juga membuat luas bidang
perpindahan panas lebih besar dari luas yang diproyeksikannya.
Seal yang digunakan untuk pembatas medium dalam PHE terbuat dari karet
dengan kualitas sesuai dengan medium yang beroperasi. Material gasket
tersebut antara lain:
1. NBR (Butadiene-Acrylonitrile Rubber)
Gasket ini mampu beroperasi pada temperatur minimum: -10 oC dan
temperatur maksimum: +120oC. Range penggunaan: air, cairan minyak
mineral, minyak nabati dan hewani, aliphatic hydrocarbons, silicon oil
dan grease.
2. EPDM (Ethylene-Propylene-Diene-Rubber)
Gasket ini mampu beroperasi pada temperatur minimum: -30 oC dan
temperatur maksimum: +160/170oC. Range penggunaan: air, uap air,
alkohol, ketones, washing agents, asam dan basa organik dan anorganik.
3. CR (Chloro-butadiene Rubber)
Gasket ini mampu beroperasi pada temperatur minimum: -40 oC dan
temperatur maksimum: +120oC. Range penggunaan: ammonia, freons,
karbon dioksida, minyak silikon, bleaching agents, chlorine dan ozone.
4. FPM (Fluorine Rubber)
Gasket ini mampu beroperasi pada temperatur minimum: -5oC dan
temperatur maksimum: +160oC. Range penggunaan: mineral oils and
greases, aliphatic, chlorated and aromatic hydrocarbons, petrol, asam,
alkalis.

Gasket yang disemenkan atau dipasang sekeliling tepi dan lubang


umumnya dibuat atas dasar karet. Jenis Gasket menentukan kemampuan
operasi pada suhu agak tinggi. Gasket dari serat asbes yang dipress, alat ini
dapat dioperasikan sampai suhu 250 oC dan tekanan 8 atm. Agar Gasket tidak

Teknik Mesin ITI


40

melekat, diberi bahan kimia khusus. Pelat dibuat dari berbagai bahan yang
cukup liat (ductile) dengan penekanan (pressing) misalnya tembaga, aluminium,
titanium, stainless steel dsb. PHE Gasket merupakan komponen yang paling
sering diganti, karena setiap pembongkaran sebagian besar PHE Gasket sudah
tidak dapat digunakan lagi karena mengalami deformasi bentuk (gepeng). PHE
yang banyak dijumpai di industri dapat dikelompokan menjadi menjadi dua
jenis:
1. Glue Type
Tipe glue ini memerlukan lem untuk memasang Gasket pada pleat PHE.
Lem yang digunakan hendaknya ialah lem yang mempunyai ketahanan
terhadap panas yang baik.

Gambar 2.26 Jenis Gasket Glue Type


(Diah, 2014)

2. Clip Type
Disisi luar gasket tipe ini terdapat clip-clip, sehingga dalam
pemasangannya cukup menancapkan clip-clip tersebut ke lubang yang
terdapat pada pelat. Pemasangan gasket tipe ini lebih mudah dan ringkas
jika dibandingkan dengan tipe glue.

Teknik Mesin ITI


41

Gambar 2.27 Jenis Gasket Clip Type


(Diah, 2014)

2. 9. Pemilihan Plate And Frame Heat Exchanger

Pemilihan plate and frame heat exchanger sebagai media


pendingin intercooler kemungkinan disebabkan dua hal utama,
geometrinya yang compact dan luas perpindahan kalornya
yang dapat diperbesar. Secara umum, plate heat exchanger
terdiri atas pelat-pelat yang disusun berdasarkan aliran fluida
di dalamnya.
Kelebihan plate and frame heat exchanger dibandingkan
dengan jenis heat exchanger lainnya yaitu :
- Tahan korosi karena plate and frame heat exchanger
umumnya menggunakan material alloy.
- Heat exchanger dengan nilai ekonomis yang tinggi
- Plate and frame heat exchanger mudah dirawat
- Plate and frame heat exchanger lebih tepat digunakan untuk
material yang memiliki viskositas yang tinggi
- Ukuran yang kecil
- Pelat lebih banyak diminati ketika harga material tinggi
- Plate and frame heat exchanger lebih fleksibel, dapat
dengan mudah pelatnya ditambah.

Pada Unit Bisnis Pembangkit PLTP PT. X (Gambar 2.28), terdapat


sebuah secondary cooling water system yang digunakan untuk
mendinginkan beberapa komponen seperti generator cooler, EHC cooler dan
lube oil cooler.

Teknik Mesin ITI


42

Gambar 2.28 Cara Kerja Plate And Frame Heat Exchanger


Pada Gambar 2.28 dijelaskan bahwa kadar pH pada air yang mengalir di
secondary cooling water system harus dijaga dalam keadaan netral. Jika kadar
pH meningkat, maka akan terjadi scale formation, yaitu terbentuknya lapisan
dari kristalisasi senyawa-senyawa kimia pada air. Jika kadar pH menurun, maka
korosi akan mudah terjadi. Oleh karena itu, temperatur air pada secondary
cooling water system harus dijaga pada nilai tertentu agar nilai pH fluida
pendingin dapat dikendalikan sehingga komponen-komponen yang didinginkan
mempunyai umur yang panjang. Untuk menjaga temperatur secondary cooling
water system, dibutuhkan sebuah pendingin. Pendingin tersebut adalah air dari
primary cooling water system yang diperoleh dari cooling tower. Berbeda
dengan secondary cooling water system, Fluida pendingin pada primary cooling
water system diperoleh dari uap yang didinginkan di cooling tower. Fungsi
utama dari primary cooling water adalah sebagai pendingin secondary cooling
water. Dibutuhkan suatu media agar terjadi perpindahan panas antara fluida
dingin dari primary cooling water system dengan fluida panas dari secondary

Teknik Mesin ITI


43

cooling water system, media tersebut adalah heat exchanger. Heat Exchanger
(alat penukar panas) yang berfungsi sebagai media perpindahan panas antara
dua fluida yang mengalir di dalamnya. Penukar panas yang digunakan berupa
plate heat exchanger, terdiri dari tumpukan pelat yang mempunyai bentuk
khusus dan mempunyai saluran untuk mengalirkan fluida.
Secondary cooling water system merupakan sistem
pendingin yang berfungsi sebagai penyedia air pendingin bagi
generator cooler, lube oil cooler dan juga electric hydraulic
control (EHC) cooler. Kalor yang diserap dari media-media
pendingi tersebut kemudian dipindahkan pada primary cooling
water system. Untuk itu, air pendingin secondary cooling water
system bersirkulasi secara tertutup (close loop).
Berbeda dengan secondary cooling water system, primary
cooling water system merupakan sistem pendinginan dengan
sirkulasi open loop. Air pendingin utamanya berasal dari
ekstraksi sebagian kecil main cooling water sebagai pendingin
kondensor.
Sebagai media pendingin atau penghubung antara
secondary dan primary cooling water system digunakan yang
merupakan alat penukar kalor (heat exchanger) tipe plate and
frame.

2. 10. Mengetahui Geometri Pelat


2. 10. 1. Perhitungan Geometri Pelat
Mean Temperature Difference
Untuk menentukan perbedaan temperatur rata-rata
digunakan persamaan :
T =T hT c (2.1)

Teknik Mesin ITI


44

Dimana : T = Perbedaan temperatur rata-rata (oC)

T h=
Temperatur rata-rata fluida panas (oC)

T c = Temperatur rata-rata fluida dingin (oC)

Required Heat Load


Untuk menentukan panas beban yang diperlukan
digunakan persamaan :

Q= .Cp . T (2.2)

Dimana : Q = Panas beban yang diperlukan (kW)

= Laju aliran (kg/s)

Cp = Panas spesifik (J/kg.K)

T = Perbedaan temperatur rata-rata (oC)

Effective Number of Plate


Untuk mendapatkan jumlah pelat yang efektif
digunakan persamaan :

N p=N t 2

(2.3)

N p=
Dimana : Jumlah pelat yang efektif

Nt = Total pelat yang dipakai

Effective Flow Length Between the Vertical Ports


Panjang aliran efektif antara lubang vertikal digunakan
persamaan :

Teknik Mesin ITI


45

Leff =LV (2.4)

Leff =
Dimana : Panjang aliran efektif antara lubang
vertikal (m)

LV = Jarak lubang vertikal (m)

Plate Pitch

Jarak kanal sangat diperlukan untuk perhitungan


kecepatan aliran massa dan bilangan Reynolds, yang
untuk itu merupakan nilai yang sangat penting yang
biasanya tidak disebutkan oleh pembuatnya
(manufacturer). Sehingga apabila tidak diketahui
nilainya, maka pitch pada pelat tersebut dapat
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Lc
p= (2.5)
Nt

Dimana : p = Puncak pelat (m)

Lc = Panjang Pelat yang terkompresi (m)

N t = Total keseluruhan pelat yang dipakai

Mean Channel Flow Gap

Kanal yang terdapat di dalam PHE merupakan


saluran yang dibentuk oleh dua buah plat yang

Teknik Mesin ITI


46

berdekatan. Jarak rata-rata kanal (mean flow channel


gap), b, yang terdapat di dalam PHE dapat ditentukan
dengan rumus:

b=p t (2.6)

Dimana : b = Jarak aliran saluran rata-rata (m)

p = Puncak pelat (m)

t = Ketebalan pelat (m)

One Channel Flow Area


Channel flow area adalah luas aliran pada kanal
dimana fluida mengalir di dalam PHE. Satu channel
flow area (Ach) dapat dihitung dengan rumus:

A ch =b . LW

(2.7)

A ch =
Dimana : Daerah aliran per saluran (m)

b = Jarak aliran saluran rata-rata (m)

LW = Panjang saluran efektif (m)

Single Plate Heat transfer Area


Untuk menentukan daerah perpindahan panas satu
pelat digunakan persamaan :

Ac
A 1= (2.8)
Np

Teknik Mesin ITI


47

A 1=
Dimana : Daerah perpindahan panas satu pelat
(m)

A c = Total area yang efektif (m2)

N p= Jumlah pelat yang efektif

Projected Plate Area


Untuk menentukan daerah pelat yang terproyeksi
menggunakan persamaan :
A 1 P =( Leff D ) . LW (2.9)

A 1 P =
Dimana : Daerah pelat terproyeksi (m)

Leff = Panjang aliran efektif antara lubang


vertikal (m)

D = Diameter seluruh lubang (m)

Enlargement Factor
Faktor pembesaran dapat dihitung dengan rumus :
A1
= (2.10)
A1P

Dimana : = Faktor pembesaran (m)

A 1= Daerah perpindahan panas satu pelat


(m)

A 1 P = Daerah pelat terproyeksi (m)

Channel Equivalent Diameter

Teknik Mesin ITI


48

Untuk menentukan diameter saluran yang setara


digunakan persamaan :
2b
Dc = (2.11)

D c =
Dimana : Diameter saluran yang setara (m)

b = Jarak aliran saluran rata-rata (m)

= Faktor pembesaran (m)

Number of Plates per Pass


Untuk menentukan jumlah pelat yang dilalui dapat
ditentukan menggunakan persamaan :

( N T 1 )
N CP =
2

(2.12)

N CP
Dimana : = Jumlah pelat yang dilalui

Nt = Total pelat yang dipakai

2. 10. 2. Heat Transfer Analysis

Mass Flowrate per Channel


Laju aliran per saluran dapat menggunakan persamaan
:

cp=
N cp (2.13)

cp=
Dimana : Laju aliran per saluran (kg/s)

= Laju aliran (kg/s)

Teknik Mesin ITI


49

N cp = Jumlah pelat yang dilalui

Mass Velocity
Untuk menentukan percepatan massa digunakan
persamaan :
cp
G= (2.14)
A ch

Dimana : G = Percepatan massa (kg/m2.s)

cp= Laju aliran per saluran (kg/s)

A ch = Daerah aliran per saluran (m)

Reynold Number
Untuk menentukan besarnya reynold number dapat
dihitung dengan rumus :
G . Dc
=

(2.15)

Dimana : = Reynold number

G = Percepatan massa (kg/m2.s)

= Kekentalan air (N.s/m2)

Nusselt Number
Untuk menentukan besarnya reynold number dapat
dihitung dengan rumus :
N u=Ch . Nh . Pr 1/3 (2.16)

Teknik Mesin ITI


50

N u=
Dimana : Nusselt Number

Constantant : Ch=0,087

Nh=0,718

Heat Transfer Coefficient


Untuk menentukan koefisien perpindahan panas dapat
digunakan persamaan :
Nu . K
h= (2.17)
Dc

Dimana : h= Koefisien perpindahan panas

(W / m2 . K )

N u= Nusselt Number

K = Konduktivitas thermal (W/m.K)


Dc = Diameter setara saluran (m)

Overall Heat Transfer Coefficient


Untuk menentukan koefisien perpindahan koefisien
keseluruhan dapat dihitung dengan rumus :
1 1 t 1
= + +
U hh K p hc (2.18)

Dimana : U = Koefisien perpindahan panas


2
keseluruhan ( W /m . K )

hh= Koefisien perpindahan panas pada

fluida panas

Teknik Mesin ITI


51

(W /m2 . K )

t = Ketebalan pelat (m)


K p= Konduktivitas thermal dari pelat (

W /m 2 . K )

hc = Koefisien perpindahan panas pada

fluida dingin
(W /m 2 . K )

Fouled (or service) Overall Heat Transfer


Coefficient
Koefisien perpindahan panas pengotor atau perawatan
keseluruhan dapat dihitung dengan rumus :
1 1
= + R f , c+ R f , h
Uf U (2.19)

Uf
Dimana : = Koefisien perpindahan panas

pengotor atau perawatan keseluruhan (

W /m2 . K )

U = Koefisien perpindahan panas keseluruhan


2
( W /m . K )

Rf ,c = Total tahanan pengotor fluida dingin

m

)

Teknik Mesin ITI


52

Rf ,h= Total tahanan pengotor fluida panas

m

)

Cleanliness Factor
Faktor kebersihan dapat dihitung dengan rumus :
Uf
C= (2.20)
U

Dimana : C = Faktor kebersihan

Uf = Keseluruhan koefisien perpindahan


panas pengotor atau perawatan (
W /m2 . K )

U = Koefisien perpindahan panas keseluruhan


2
( W /m . K )

Actual Heat Duties For Clean Surface

Panas aktual untuk permukaan bersih dapat dihitung


dengan rumus :

U . Ac. T
Qc = (2.21)
1000

Qc =
Dimana : Panas aktual untuk permukaan bersih

U = Koefisien perpindahan panas keseluruhan


2
( W /m . K )

Ac = Total area yang efektif (m2)

Teknik Mesin ITI


53

T = Perbedaan temperatur rata-rata (oC)

Actual Heat Duties For Fouled Surface

Panas aktual permukaan kotor dapat dihitung dengan


rumus :

U f . Ac . T
Qf = (2.22)
1000

Qf =
Dimana : Panas aktual permukaan kotor

Uf = Koefisien perpindahan panas


pengotor atau perawatan keseluruhan (
W /m2 . K )

Ac = Total area yang efektif (m2)

T = Perbedaan temperatur rata-rata (oC)

Safety Factor

Faktor keamanan menggunakan persamaan :

Qf
C s= (2.23)
Qc

C s=
Dimana : Faktor keamanan

Qf = Panas aktual permukaan kotor

Qc = Panas aktual permukaan bersih

Teknik Mesin ITI


54

The Percentage Over Surface Design

Persentase dipermukaan desain (%) dapat ditentukan


dengan rumus :

OS=U . ( Rf .h + Rf ,c ) (2.24)

Dimana : OS = Persentase dipermukaan desain (%)

U = Keseluruhan koefisien perpindahan panas


2
( W /m . K )

Rf ,c = Total tahanan pengotor fluida dingin

m

)

Rf ,h= Total tahanan pengotor fluida panas

m

)

2. 10. 3. Pressure Drop Analysis

Fluid Friction Coefficient


Untuk menentukan koefisien gesekan fluida dapat
digunakan persamaan :
Kph
f= (2.25)
m h

Dimana : f = Koefisien gesekan fluida


= Reynold Number

Kp h=0,639
Constantant :

Teknik Mesin ITI


55

mh=0,213

Frictional Pressure Drop


Penurunan tekanan gesekan dapat dihitung dengan
rumus :

C h2
DP c =4 f
( )( )
Leff
Dc (2.26)

DP c =
Dimana : Penurunan tekanan gesekan (Pa)

f = Koefisien gesekan fluida


Leff = Panjang aliran efektif antara lubang

vertikal (m)
D c = Diameter setara saluran (m)

= Kekentalan air (N.s/m2)

Port Mass Velocity


Percepatan massa di lubang dapat dihitung
menggunakan rumus :

G p=
D2
( . )
4

(2.27)
G p=
Dimana : Percepatan massa di lubang

(kg /m2 . s)

= Laju aliran (kg/s)

Teknik Mesin ITI


56

D= Diameter lubang (m)

Pressure Drop In The Port Duct


Penurunan tekanan dalam lubang saluran dapat
diperoleh dari persamaan :
2
DP p =1,4 ( )
Gp
2. (2.28)

DP p =
Dimana : Penurunan tekanan dalam lubang

saluran (Pa)
G p= Percepatan massa di lubang

2
(kg /m . s)

= Massa jenis (m3)

Total Pressure Drop


Total penurunan tekanan dapat diperoleh dari
persamaan :
DPt =DP c + DP p (2.29)

DPt =
Dimana : Total penurunan tekanan (Pa)

DP c = Penurunan tekanan gesekan (Pa)

DP p = Penurunan tekanan dalam lubang

saluran (Pa)
DPt ,h =860,516+862,5275=1723,0435 Pa

DPt ,c =679,324+1621,35=2300,674 Pa

2. 10. 4. Metode LMTD (Log Mean Temperature Different)

Teknik Mesin ITI


57

Dalam mencari koefisien perpindahan kalor keseluruhan


dari alat penukar kalor digunakan Logarithmic Mean
Temperature Difference (LMTD). LMTD ini merupakan
pendekatan untuk mencari nilai perbedaan temperatur
antara dua fluida dalam alat penukar kalor secara
keseluruhan. Alat penukar kalor yang digunakan dalam
penelitian ini adalah plate heat exchanger dengan model
aliran counter flow. Perpindahan kalor terjadi pada kanal-
kanal di dalam PHE dengan aliran berlawanan arah,
sehingga profil perubahan temperatur yang terjadi
cenderung berlawanan.
( T h T c )
T LMTD =
Th
ln( )Tc

(2.30)
T LMTD =
Dimana : Temperatur LMTD (

T h= Temperatur rata-rata fluida panas (oC)

T c = Temperatur rata-rata fluida dingin (oC)

2. 10. 5. Analisa NTU (Number of Transfer Unit)


Minimum Heat Capacity
q=. C p (2.31)

Dimana : q = Kapasitas panas minimum ( J /s . K )

= Laju aliran (kg/s)

Cp = Panas spesifik ( J /kg . K )

Correction Factor

Teknik Mesin ITI


58

Tc
( outTc )
( Th Thout ) (2.32)
R=

Tc
Th
( Thout )
( outTc ) (2.33)

P=

Dimana : Th = Temperatur fluida panas masuk (oC)

Thout = Temperatur fluida panas keluar (oC)

Tc out = Temperatur fluida dingin masuk (oC)

Tc = Temperatur fluida dingin keluar (oC)

NTU Minimum
Number of Trasfer Unit menyatakan jumlah kalor
yang dapat dipindahkan oleh heat exchanger
dimaksud. Biasanya NTU digunakan dalam desain heat
exchanger. Dalam perhitungan, nilai minimum NTU
biasa digunakan.
U.A
NTU min=
qc (2.34)

NTU min=
Dimana : NTU minimum

U = Koefisien perpindahan panas keseluruhan


(W/m2.K)
A = Total area yang efektif (m2)

Teknik Mesin ITI


59

qc = Kapasitas panas minimum fluida dingin

( J /s . K )

Correction Factor
( c .C p , c )
Cr = (2.35)
( h .C p , h)

Cr =
Dimana : Faktor koreksi

c = Laju aliran fluida dingin (kg/s)

h= Laju aliran fluida panas (kg/s)

C p , c = Panas spesifik fluida dingin (J/kg.K)

C p , h= Panas spesifik fluida panas (J/kg.K)

2. 10. 6. Effectiveness
Efektivitas merupakan perbandingan antara
kemampuan heat transfer aktual terhadap kemampuan
maksimalnya.
exp [ ( 1Cr ) . NTU min ]1
E=
exp [ ( 1Cr ) . NTU min ]C r

(2.36)
Dimana : E = Efektivitas
NTU min= NTU minimum

Cr = Faktor koreksi

Teknik Mesin ITI