Anda di halaman 1dari 2

Pembasmi hama atau pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan,

menolak, atau membasmi organisme pengganggu (Miller GT 2004) Nama ini berasal dari
pest ("hama") yang diberi akhiran -cide ("pembasmi"). Sasarannya bermacam-macam, seperti
serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu.
Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun.

Pestisida digunakan untuk mengendalikan keberadaan hama yang diyakini


membahayakan. Misal nyamuk yang dapat membawa berbagai penyakit mematikan seperti virus
Nil Barat, demam kuning, dan malaria. Pestisida juga ditujukan kepada hewan yang mampu
menyebabkan alergi seperti lebah, tawon, semut, dan sebagainya. Insektisida pun digunakan
di peternakan dalam mencegah kehadiran serangga yang mampu menularkan penyakit dan
menjadi parasit. Hama seperti rayap dan jamur dapat merusak struktur bangunan yang terbuat
dari kayu. (T. Partono, H. Razak, I. Gunawan 2009)

Pestisida dapat menyebabkan efek akut dan jangka panjang bagi pekerja pertanian yang
terpapar (Science Daily 2006). Paparan pestisida dapat menyebabkan efek yang bervariasi,
mulai dari iritasi pada kulit dan mata hingga efek yang lebih mematikan yang mempengaruhi
kerja syaraf, mengganggu sistem hormon reproduksi, dan menyebabkan kanker. (Raloff 1998).
Sebuah studi pada tahun 2007 pada limfoma non-Hodgkin dan leukimia menunjukan hubungan
positif dengan paparan pestisida. Bukti yang kuat juga menunjukan bahwa dampak negatif dari
paparan pestisida mencakup kerusakan syaraf, kelainan bawaan, kematian janin, dan gangguan
perkembangan sistem syaraf. American Medical Association merekomendasikan pembatasan
paparan pestisida dan mulai menggunakan alternatif yang lebih aman. (Giliom et al 2007)

Pada beberapa dekade yang lalu, penurunan populasi amfibi terjadi di seluruh dunia,
karena alasan yang tak bisa dijelaskan yang bervariasi tapi beberapa pestisidakemungkinan ikut
menjadi penyebab (Cone 2000)

Campuran beberapa pestisida menunjukkan efek racun yang kumulatif pada kodok.
Kecebong dari kolam dengan beberapa pestisida menunjukkan di dalam air bahwa si kecebong
bermetamorfosis dalam bentuk yang lebih kecil, menurunkan kemampuan mereka dalam
menangkap mangsa dan menghindar dari predator (Science Daily February 3, 2006).
Ikan dan biota akuatik lainnya dapat mengalami efek buruk dari perairan yang
terkontaminasi pestisida. Aliran permukaan yang membawa pestisida hingga sungai membawa
dampak yang mematikan bagi kehidupan di perairan, dan dapat membunuh ikan dalam jumlah
besar (Toughill 1999)

Cone M (December 6, 2000), A wind-borne threat to Sierra frogs: A study finds that
pesticides used on farms in the San Joaquin Valley damage the nervous systems of amphibians in
Yosemite and elsewhere. L.A. Times Diakses pada 23 November 2015.

Gilliom, RJ, Barbash, JE, Crawford, GG, Hamilton, PA, Martin, JD, Nakagaki, N,
Nowell, LH, Scott, JC, Stackelberg, PE, Thelin, GP, and Wolock, DM (February 15, 2007), The
Quality of our nations waters: Pesticides in the nations streams and ground water, 19922001.
Chapter 1, Page 4. US Geological Survey. Diakses pada 23 November 2015.

Miller GT (2004), Sustaining the Earth, 6th edition. Thompson Learning, Inc. Pacific
Grove, California. Chapter 9, Pages 211-216.

Science Daily (February 3, 2006), Pesticide combinations imperil frogs, probably


contribute to amphibian decline. Sciencedaily.com. Diakses pada 23 November 2015

T. Partono; H. Razak; I. Gunawan (2009). "Pestisida organoklorin di sedimen pesisir


muara Citarum, Teluk Jakarta: peran penting fraksi halus sedimen sebagai pentransport DDT dan
proses diagenesanya" (PDF). e-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis.

Toughill K (1999), The summer the rivers died: Toxic runoff from potato farms is
poisoning P.E.I. Originally published in Toronto Star Atlantic Canada Bureau. Diakses pada 23
November 2015

Raloff, J (September 5, 1998) Common pesticide clobbers amphibians. Science


News 154(10):150. Diakses 2007-10-15.