Anda di halaman 1dari 19
 

BAB III

DASAR TEORI

3.1. Karakteristik Industri Pertambangan

Industri pertambangan merupakan bagian dari dunia industri umum, tetapi terdapat karakteristik khusus dari investasi pada industri pertambangan yang berbeda dengan industri lainnya. Pemahaman tentang karakteristik khusus ini penting untuk melakukan analisis kelayakan suatu proyek tambang. Beberapa karakteristik tersebut adalah :

a) Modal Besar Besarnya modal yang dibutuhkan untuk industri tambang bervariasi, tergantung dari jenis bahan tambang, metode penambangan, skala penambangan, lokasi dan parameter lainnya. Selain itu, kebutuhan dana yang sangat besar untuk serangkaian kegiatan mulai dari tahap penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, produksi, dan penutupan tambang yang menyebabkan dibutuhkan modal yang besar untuk mendirikan industri tambang.

b) Periode pra produksi yang panjang Lama periode pra produksi tergantung dari metode penambangan, metode pengolahan, ukuran dan letak deposit, kompleksitas operasi, dan kendala lingkungan. Periode pra produksi ini berkisar antara 3- 12 tahun. Periode pra produksi yang panjang akan berdampak terhadap besar modal yang dibutuhkan dan terhadap tingkat pengembalian modal.Untuk pertambangan skala menengah dan besar, rata – rata diperlukan minimal waktu 10 tahun untuk sampai ke tahap produksi sedangkan selama masa pra- produksi biaya – biaya yang signifikan sudah terjadi namun pendapatan belum ada.

c) Resiko tinggi ( High Risk) Usaha pertambangan memiliki resiko yang tinggi dilihat dari berbagai aspek. Aspek geologis menyatakan bahwa dengan rasio keberhasilan menemukan cadangan mineral yang potensial sekitar 4 : 100, dimana dari 100 temuan anomali hanya 4 yang berpotensi (antara 2% - 5%). Oleh karena itu diperlukan kegiatan

III-1

eksplorasi sebanyak mungkin untuk menemukan tambang yang potensial dan ekonomis. Jika tidak berhasil, maka biaya- biaya yang telah dikeluarkan juga merupakan resiko yang harus ditanggung sendiri oleh perusahaan. Aspek politik juga menimbulkan resiko kegiatan pertambangan dalam bentuk ketidakstabilan politik pemerintah pusat maupun daerah dan inkonsistensi peraturan dan kebijakan pemerintah. Juga adanya resiko sosial dalam bentuknya yang bermacam – macam pada daerah tambang yang ada. Resiko - resiko lain yang mempengaruhi keputusan investasi pada industri tambang adalah resiko engineering dan konstruksi, resiko ekonomi dan resiko pasar mineral.

d) Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (nonrenewable resources) Karakteristik ini akan menimbulkan masalah deplesi. Endapan mineral pada suatu daerah mempunyai jumlah tertentu dan akan habis jika ditambang. Implikasi dari sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui ini terhadap industri tambang adalah bahwa pendapatan utama perusahaan hanya diperoleh dari penjualan bahan tambang, dan mengakibatkan umur tambang tergantung dari jumlah cadangan dan tingkat produksi sehingga dibutuhkan eksplorasi kontinu untuk menemukan deposit baru.

e) Lokasi yang Unik (Unique Location) Umumnya lokasi pertambangan terletak di daerah terpencil yang jauh dari sarana dan prasarana umum dan seringkali harus bergesakan dengan kegiatan masyarakat terpencil yang umumnya belum terperhatikan oleh pemerintah daerah setempat. Hal ini menimbulkan biaya yang semakin besar dan perlunya kerjasama yang baik pula dalam membangun perekonomian daerah disekitarnya.

3.2. Analisis Investasi Tambang

Analisis investasi adalah suatu langkah sistematis yang dilakukan untuk mengevaluasi potensi keuntungan (profitabilitiy) sebuah investasi. Bagi perusahaan, investasi mempunyai pengertian sebagai suatu keputusan (commitment) yang diambil oleh manajemen untuk mengalokasikan sumberdaya perusahaan yang didasarkan atas pertimbangan yang sejalan dengan sasaran jangka panjang (kebijakan manajemen) dengan tujuan memaksimalkan nilai atau kekayaan perusahaan di masa mendatang dari kapital yang dinvestasikan. Kapital yang dimaksud dapat berupa uang, barang, modal, tanah, bangunan, teknologi ataupun sesuatu

III-2

yang bersifat tidak riil. Dalam bidang pertambangan, kapital umumnya berupa deposit bahan tambang dan modal. Dengan menempuh langkah – langkah sistematis diharapkan pengambilan keputusan untuk melakukan investasi dapat dilakukan dengan tepat sehingga investasi tidak mengalami kerugian. Hal yang perlu diperhatikan dalam investasi adalah masalah inflasi, ketidakpastian (uncertainty) dan resiko.

3.3. Konsep Nilai Uang Terhadap Waktu (Time Value of Money)

Konsep ini mengatakan bahwa nilai uang pada saat sekarang akan lebih berharga

daripada nilai uang pada masa yang akan datang. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini dapat terjadi antara lain:

a. Inflasi Inflasi merupakan kenaikan harga dari indeks harga konsumen yang dapat berupa kenaikan di bidang pelayanan, komoditas, dan barang yang tidak diiringi dengan kenaikan produktivitas. Salah satu faktor utama yang dapat mengakibatkan inflasi adalah karena pengeluaran pemerintah melebihi pendapatan yang diperolehnya dari pajak, royalti, atau sumber pendapatan lainnya. Untuk mengatasi defisit ini, pemerintah meminta tambahan peredaran uang kepada bank pusat. Dengan semakin bertambahnya uang yang beredar, maka akan memicu kenaikan harga-harga tanpa diiringi dengan kenaikan produktivitas. Tingkat inflasi tergantung kepada keadaan dan masalah di negara yang bersangkutan.

b. Faktor ketidakpastian (Uncertainty Factor) Definisi dari ketidakpastian adalah suatu ukuran dari perbedaan yang mungkin terjadi antara harapan dan kemungkinan yang akan terjadi dari hasil suatu proyek. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa investasi di industri pertambangan memiliki ketidakpastian di masa yang akan datang. Adanya fluktuasi harga komoditas tambang yang tinggi adalah salah satu mengapa investasi di industri pertambangan memiliki ketidakpastian yang tinggi. Disamping harga komoditas tambang, sumber ketidakpastian dari investasi di industri pertambangan lainnya adalah jumlah cadangan dari bahan tambang yang belum pasti dan biaya pengembangan atau operasi yang juga sulit diprediksi karena sangat berhubungan dengan situasi industri pertambangan dunia.

III-3

Faktor ketidakpastian lainnya yang bersifat kualitatif adalah faktor politik yang dapat mempengaruhi investasi di industri pertambangan.

3.4. Stripping Ratio

Stripping Ratio (SR) atau Nisbah Pengupasan didefinisikan sebagai nisbah dari jumlah material penutup (overburden) terhadap jumlah tonase batubara. Nilai SR didapat setelah dilakukan perencanaan tambang karena pada perencanaan tambang terdapat desain rencana bentuk tambang. Oleh karena itu, perhitungan SR berkaitan dengan beberapa faktor seperti ketebalan batubara, ketebalan overburden dan geometri lereng rencana tambang.

SR =

SR =

3.5. Break Even Stripping Ratio (BESR) dan Stripping Ratio Optimal (SR Optimal)

Stripping Ratio dapat menjadi acuan sebagai penentu batas penambangan. Hal ini dapat ditentukan dengan Break Even Stripping Ratio (BESR) dan Stripping Ratio optimal (SR optimal). Dua hal ini memiliki pengertian yang berbeda dan pembahasan selanjutnya akan membahas BESR dan SR Optimal dengan lebih rinci.

3.5.1. Break Even Stripping Ratio (BESR)

Break Even Stripping Ratio (BESR) merupakan batas stripping ratio yang masih dapat digunakan dimana keuntungan sama dengan nol atau dapat juga diartikan jika melebihi batas SR tersebut perusahaan akan mengalami kerugian.

BESR =

BESR =

Dimana, A : Harga Jual Batubara/ton (USD/ton) B : Biaya produksi batubara/ton, kecuali biaya pengupasan overburden (USD/ton) C : Biaya pengupasan overburden (USD/bcm)

III-4

3.5.2. Stripping Ratio Optimal (SR Optimal)

Salah satu teori yang digunakan untuk mendapatkan SR Optimal adalah teori diminishing returns atau disebut juga teori diminishing marginal returns. Teori ini menjelaskan bahwa ketika margin dari sebuah faktor yang mempengaruhi produksi diharapkan akan meningkat dengan normal seiring dengan meningkatnya faktor tersebut, tetapi akan menurun ketika faktor tersebut terus ditambahkan. Artinya dengan adanya penambahan satu input produksi untuk meningkatkan produksi tanpa merubah input lain, pada titik tertentu dapat mengurangi penambahan output total.

Setiap penambangan yang dilakukan harus mencapai titik optimal baik secara teknis maupun ekonomi. SR Optimal dapat mengakomodir optimalisasi penambangan dari segi teknis dan ekonomi. SR Optimal adalah stripping ratio ketika dicapai NPV maupun Cash Margin yang tertinggi dibandingkan dengan skenario SR lainnya. NPV yang dihasilkan setiap skenario SR adalah NPV relatif, karena masih terdapat beberapa asumsi pada pembobotan biaya dalam perhitungan aliran kas serta terdapat beberapa komponen aliran kas yang tidak dihitung seperti pinjaman uang, bunga ( interest), dan lain- lain.

kas yang tidak dihitung seperti pinjaman uang, bunga ( interest ), dan lain- lain. Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Konsep SR Optimal

III-5

3.6. Biaya Modal dan Biaya Produksi

3.6.1. Biaya Modal (Capital Cost)

Biaya modal (capital cost) adalah sejumlah biaya yang diperlukan untuk menyiapkan suatu proyek hingga tahap produksi. Total biaya kapital mengandung dua komponen utama yaitu biaya kapital/ modal tetap (fixed capital) dan biaya modal kerja (working capital).

Biaya modal tetap adalah total biaya yang dibutuhkan untuk menyiapkan lahan, pembelian peralatan, penyiapan fasilitas dan biaya lain yang terkait dengan persiapan dimulainya proyek. Dalam proyek pertambangan biaya modal tetap umumnya dapat digolongkan menjadi beberapa kegiatan, yaitu :

1. Akuisisi Lahan (Land acquition)

2. Pembangunan (Development)

3. Pra-Produksi (Preproduction development)

4. Studi Lingkungan (Environment studies)

5. Peralatan tambang, bangunan, dan fasilitas (Mining equipment, building, facilities)

6. Peralatan pengolahan, bangunan dan fasilitas (Milling equipment and facilities)

7. Fasilitas Pendukung (Supporting facilities)

8. Rancangan engineering (Engineering design)

Modal kerja adalah sejumlah uang diluar modal tetap yang diperlukan untuk memulai operasi pada bulan awal produksi. Modal kerja ini diperlukan karena pada bulan awal

produksi perusahaan belum memperoleh pendapatan. Komponen biaya yang diperhitungkan dalam menentukan modal kerja adalah:

1.

Persediaan (Inventories) : raw material, spare part, supplies, material in process.

2.

Piutang (Account recievable)

3.

Hutang (Account payable)

4.

Uang Kas (Cash on hand)

3.6.2.

Biaya Produksi

Biaya Produksi adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan penambangan dan pengangkutan mulai dari front penambangan hingga titik penjualan. Biaya produksi meliputi :

III-6

a) Pembersihan lahan dan pemindahan tanah pucuk

b) Pemindahan batuan penutup dengan pemberaian menggunakan peledakan untuk kemudian tanah penutup disimpan di outsides dump ataupun langsung ditimbun pada inpit dump.

c) Penambangan batubara.

d) Pengangkutan batubara menuju ke lokasi pengolahan.

e) Pengolahan batubara dan pencampuran untuk mendapatkan batubara produk.

f) Pengangkutan batubara menuju ke pelabuhan muat.

g) Reklamasi dan rehabilitasi.

Secara umum biaya produksi batubara dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Biaya operasi langsung

Biaya operasi langsung merupakan biaya yang dikeluarkan dalam produksi yang berkaitan langsung dengan kegiatan penambangan batubara dari mulai di front penambangan sampai batubara diangkut menuju ke ROM Stockpile. Sehingga jika didetailkan komponen biaya yang masuk kepada biaya operasi langsung meliputi:

a) Biaya pengupasan dan pemindahan tanah penutup (top soiling)

b) Biaya pemindahan batuan penutup (overburden removal)

Biaya tersebut terdiri dari : pemboran dan peledakan, pemuatan batuan penutup pada alat angkut, dan pengangkutan batuan penutup menuju ke lokasi penimbunan. Biaya pemindahan tanah penutup merupakan biaya yang bergantung kepada variabel jarak angkut penimbunan. Semakin jauh jarak angkut penimbunan, maka biaya yang dikeluarkan untuk pemindahan batuan penutup juga semakin bertambah besar dan begitu juga sebaliknya.

c) Biaya penambangan dan pengangkutan batubara menuju ROM Stockpile.

Seperti halnya biaya pemindahan batuan penutup, biaya penambangan dan pengangkutan batubara juga merupakan biaya yang bergantung kepada jarak angkut menuju ke lokasi ROM Stockpile.

III-7

2.

Biaya operasi tidak langsung

Biaya operasi tidak langsung dapat didefinisikan sebagai biaya operasi yang tidak berhubungan langsung dengan penambangan batubara. Biaya tersebut meliputi komponen sebagai berikut:

a) Biaya pengolahan dan pencampuran batubara.

b) Biaya transportasi menuju pelabuhan dari fasilitas pengolahan

c) Biaya pemuatan batubara ke pelabuhan

d) Biaya pemuatan batubara menuju ke tongkang.

e) Biaya pengangkutan batubara menuju ke titik penjualan yang berlokasi di transhipment.

f) Biaya penangangan batubara di pelabuhan muat.

g) Biaya reklamasi dan revegetasi.

h) Biaya overhead.

3. Biaya Umum dan Administrasi

Biaya produksi yang tidak termasuk dalam dua komponen biaya di atas, dimasukkan ke dalam komponen biaya umum dan adminsitrasi. Biaya tersebut pada dasarnya tidak berhubungan langsung dengan operasi penambangan batubara. Yang dapat dimasukkan ke dalam komponen biaya umum dan administrasi antara lain:

a)

Biaya pekerja.

b)

Corporate Social Responsibility.

c)

Biaya administrasi.

d)

Biaya transportasi pekerja.

e)

Biaya computer hire.

f)

Bank Charge, dan lain-lain.

III-8

3.7. Aliran Kas (Cash Flow)

Aliran Kas merupakan aliran pemasukan dan pengeluaran uang yang terjadi selama periode operasi. Analisis aliran kas penting dilakukan untuk mengetahui potensi pendapatan pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang bila dilakukan penambangan. Dengan demikian aliran kas merupakan teknik mengukur profitability pada investasi untuk pengambilan keputusan.

Perhitungan aliran kas dilakukan dengan mempertimbangkan aliran kas masuk dan aliran kas keluar. Aliran kas investasi dapat bernilai positif atau negatif. Aliran kas untuk perusahaan tambang umumnya akan bernilai negatif selama beberapa tahun di awal proyek (masa pra produksi) dan akan bernilai positif pada masa produksi, namun besarnya bervariasi tergantung pada jumlah produksi, harga bahan tambang, pasar, dan situasi politik atau ekonomi. Sedangkan pada akhir masa produksi, aliran kas cenderung menurun sesuai dengan berkurangnya cadangan dan produksi, bahkan dapat pula negatif karena harus mengeluarkan biaya reklamasi, biaya penutupan tambang atau biaya sosial lainnya.

Contoh dari aliran kas masuk adalah pendapatan dari penjualan bahan tambang, nilai sisa dari penjualan peralatan (salvage value), pinjaman uang, dan lain –lain. Sedangkan contoh dari aliran kas keluar adalah pengeluaran untuk eksplorasi (exploration expenditures), biaya operasi , Dana Hasil Produksi Batubara ( DHPB), pajak, dan lain- lain.

Aliran Kas = ∑ Aliran Kas Masuk (Cash Inflow) – ∑ Aliran Kas Keluar (Cash Outflow)

Struktur aliran kas pada perusahaan tambang secara umum dapat dilihat pada Tabel 3.1.

berikut ini.

III-9

Tabel 3.1. Struktur Aliran Kas Perusahaan Tambang Batubara (Sumber: Stermole and Stermole, 2006)

 

Komponen

Tahun 0- xxx

 

Coal Production

 
 

Selling Price

 

=

Gross Revenue

 

(-)

DHPB 13.5%

 

=

Net Revenue

 

(-)

Operating Cost

 

=

Operating Income

 

(-)

Depreciation

 

(-)

Amortization

 

(-)

Interest

 

=

Income Before Tax

 

(-)

Income Tax

 

=

Net Income

 

(+)

Depreciation

 

(+)

Amortization

 

(-)

Capital Expenditure

 

(+)

Borrowed Money

 

(-)

Principal Payment

 

=

Net Cash Flow

 

3.7.1. Aliran Kas Diskonto (Discounted Cash Flow)

Analisis cash flow merupakan analisis yang berhubungan dengan pendapatan atau keuntungan yang ditimbulkan karena adanya pembelanjaan dan atau investasi. Apabila analisis cash flow memperhitungkan nilai waktu dari uang maka disebut dengan Discounted Cash Flow (DCF). Cash flow biasanya dihitung dengan basis perhitungan tahun dengan tujuan evaluasi, yang ditentukan melalui pengurangan cash outlow dari cash inflow yang dihasilkan dari kegiatan investasi.

Analisis aliran kas diskonto membuat investor berpikir secara sistematis dan kuantitatif mengenai semua faktor ekonomi yang dapat mempengaruhi potensi ekonomi dari sebuah investasi. Dasar dari metode ini adalah dengan mengaplikasikan suatu tingkat diskonto (discount rate) tertentu untuk mengurangi nilai arus kas ke depan suatu proyek. Faktor discount ini diterapkan pada nilai aliran kas di masa yang akan datang untuk diproyeksikan sebagai nilai pada saat ini (present value). Tingkat diskonto ini timbul untuk mengkompensasi adanya resiko yang akan terjadi serta penurunan nilai mata uang di masa

III-10

yang akan datang karena inflasi. Discount rate yang digunakan dapat mempengaruhi nilai dari aliran kas itu sendiri, sehingga diperlukan penentuan discount rate yang tepat.

3.7.2. Konsep Discount Factor

Discount factor adalah faktor yang digunakan untuk menentukan nilai sekarang dari nilai yang akan datang suatu aliran kas. Discount factor ditentukan dengan mempertimbangkan jumlah umur suatu investasi dan laju pengembalian minimum yang ingin diperoleh sebelum proyek dinyatakan layak atau tidak. Discount factor ditentukan berdasarkan persamaan seperti di bawah ini:

ditentukan berdasarkan persamaan seperti di bawah ini: Dimana r adalah laju pengembalian yang diinginkan dan n

Dimana r adalah laju pengembalian yang diinginkan dan n adalah jumlah tahun dari awal investasi.

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa dalam analisis discounted cash flow,sangat sulit untuk menentukan nilai discount rate yang tepat. Ada berbagai jenis dari discount rate yang sering digunakan. Dalam penelitian ini, jenis discount rate yang akan digunakan adalah Weighted Average Cost of Capital (WACC).

3.7.2.1. Weighted Average Cost of Capital (WACC)

Weighted Average Cost of Capital (WACC) merupakan salah satu jenis discount rate dengan mempertimbangkan cost of equity dan cost of debt perusahaan berdasarkan rasio debt-equity. Komponen WACC adalah sebagai berikut:

Komposisi pinjaman Komposisi hutang adalah peminjaman modal sebagai sumber dana pembiayaan proyek yang akan dilakukan

Komposisi modal Komposisi modal adalah sumber dana pembiayaan proyek dari perusahaan sendiri.

III-11

Pajak (Tax) Pajak yang dikenakan tergantung dari besarnya pajak berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia.

Biaya Modal (Cost of equity) Ada 3 metode dalam penentuan cost of equity, yaitu:

o

Capital Asset Pricing Model (CAPM)

o

Divident Growth Model

o

Abitrage Pricing Theory

Metode yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah metode CAPM. Capital Asset Pricing Model ( CAPM) mencoba untuk menjelaskan hubungan antara risk dan return. Dalam penilaian mengenai risiko, biasanya saham biasa digolongkan sebagai investasi yang berisiko. Risiko sendiri berarti kemungkinan penyimpangan perolehan aktual dari perolehan yang diharapkan (possibility), sedangkan derajat risiko (degree of risk) adalah jumlah dari kemungkinan fluktuasi (amount of potential fluctuation).

Cost of equity dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: dimana: Ke : Cost of Equity Rf : Risk

dimana:

Ke

: Cost of Equity

Rf

: Risk Free Rate

Rc

: Country Risk Premium

Β

: Equity Beta

EMRP : Equity Market Risk Premium

III-12

Rf (Risk Free Rate)

Dalam industri sumberdaya alam, dimana harga batubara didasarkan dalam satuan USD, biasanya aliran kas (cash flow) dibuat dalam satuan USD dan menggunakan suku bunga tahunan rata-rata dari suku bunga US Treasury selama 10 tahun sebagai acuan risk free rate yang sesuai dan mengacu kepada lokasi investasi yang akan dilakukan. Faktor yang berpengaruh langsung terhadap asumsi aliran kas adalah inflasi dan nilai tukar.

Rc (Country Risk Premium)

Investasi di negara berkembang lebih beresiko dibandingkan dengan investasi di negara maju, hal ini disebabkan karena negara berkembang memiliki dasar perekonomian yang lebih lemah dibandingkan dengan negara maju. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat kredit yang lebih rendah serta tingkat pinjaman luar negeri yang lebih tinggi pada negara berkembang. Perbedaan inkremental dalam biaya pinjaman antara negara berkembang dan negara maju disebut dengan country risk premium dan dapat ditentukan dengan resiko dasar yang dikenakan pada pinjaman di negara tersebut.

β (Equity Beta)

β adalah ukuran dari hubungan paralel dari sebuah saham biasa dengan seluruh trend dalam pasar saham. Bila β > 1,00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih tinggi daripada pasar. β < 1,00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih rendah daripada indeks pasar secara umum (general market index).

EMRP (Equity Market Risk Premium)

EMRP menunjukkan pengembalian tambahan dari risk free rate yang dibutuhkan investor untuk melakukan investasi secara aman. Beberapa penelitian yang sudah dilakukan untuk menentukan EMRP antara lain:

Dimson, Marsh and Staunton (2003), meneliti EMRP di 16 negara yang berbeda dari tahun 1900 sampai 2002. Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa EMRP untuk sebagian besar pasar adalah 3-5%.

Fama and French (2002) menentukan nilai EMRP dari tahun 1951 sampai 2000 sebesar 2,5 sampai 4,3%. Mereka berpendapat bahwa nilai ini terlalu jauh di bawah

III-13

pengembalian saham dengan risk free rate 7.4% karena pengurangan EMRP akan menyebabkan kenaikan harga saham yang tidak dapat diprediksi.

Biaya Pinjaman (Cost of debt) Biaya Pinjaman adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh pemegang/pembeli obligasi.

Perhitungan WACC dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

WACC =

E

xKe

+

D

xKdx(1

T )

TC

TC

dimana:

E

: Komposisi modal sendiri (equity)

D

: Komposisi pinjaman (debt)

TC

: Total modal + pinjaman

Ke

: Cost of Equity

Kd

: Cost of Debt

T

: Pajak

3.8. Analisis Net Value

Analisis net value didasarkan pada perbedaan antara net revenue (inflow) dan net cost (outflow) selama umur proyek pada tingkat laju pengembalian modal minimum ( i * ). Analisis net value dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:

1. Present value, adalah sejumlah uang pada saat sekarang (awal proyek, t=0) yang ekivalen nilainya dengan uang sepanjang masa depan (selama umur proyek) pada laju pengembalian modal tertentu.

2. Annual value, adalah sejumlah uang yang bernilai sama setiap tahun (selama umur proyek) yang ekivalen nilainya dengan uang sepanjang umur proyek pada laju pengembalian modal tertentu.

III-14

3.

Future value, adalah sejumlah uang di masa datang (akhir proyek) yang nilainya ekivalen dengan uang selama umur proyek pada laju pengembalian modal tertentu.

Secara matematis, analisis net value dijabarkan sebagai berikut (Stermole, Franklin J., Stermole John M., 2006):

Net Present Value (NPV) = Present worth or saving @ i* - present worth cost @ i*

Net Annual Value = Equivalent annual revenue or saving @ i* - equivalent annual cost @ i*

Net Future Value = Future worth revenue or saving @ i* - future worth cost @ i*

Suatu proyek dikatakan layak secara ekonomis bila nilai NPV, NAV, dan NFV positif (>0). Sebaliknya, bila bernilai negatif maka proyek akan tidak layak secara ekonomis. Sehingga dengan semakin besarnya nilai NPV, NAV, dan NFV suatu proyek maka akan semakin baik atau menguntungkan proyek tersebut dipandang dari aspek ekonomi.

Pada penelitian ini, teknik analisis net value yang akan digunakan adalah analisis Net Present Value ( NPV). NPV dapat ditentukan dari persamaan berikut:

Value ( NPV). NPV dapat ditentukan dari persamaan berikut: dimana : NPV : Net Present Value

dimana :

NPV

: Net Present Value

C t

: aliran kas proyek

r

: nilai discount rate tertentu

n

: umur proyek

C 0

: cost of invesment

III-15

3.9. Analisis Cash Margin

Pada penelitian ini juga akan dilakukan perhitungan SR Optimal berdasarkan pendekatan Cash Margin. Pada analisis Cash Margin yang dilakukan oleh PT. Arutmin Indonesia belum memperhitungkan konsep nilai uang terhadap waktu (time value of money) dalam perhitungannya. Untuk mendapatkan SR Optimal, pada analisis Cash Margin terlebih dahulu dihitung besarnya tonase batubara terjual (saleable coal atau coal product) dan total biaya yang dikeluarkan untuk setiap skenario SR. Kemudian dihitung cash margin untuk masing – masing skenario SR. Cash margin menggambarkan tingkat keuntungan (profitability) dari penjualan dalam hal ini batubara yang dilakukan oleh perusahaan. Adapaun langkah –langkah yang dilakukan untuk mendapatkan nilai Cash Margin adalah sebagai berikut :

Menghitung besarnya pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan batubara

Menghitung besarnya total biaya yang dikeluarkan

Menghitung besarnya selisih antara pendapatan dengan total biaya (pendapatan sebelum dikenakan pajak)

Menghitung besarnya pendapatan yang dikenakan pajak ( taxable income)

Menghitung besarnya selisih antara pendapatan sebelum terkena pajak dan pendapatan setelah dikenakan pajak

Diperoleh besarnya nilai Cash Margin

Pada perhitungan dengan menggunakan analisis Cash Margin juga tidak dilakukan penjadwalan produksi untuk setiap skenario SR. Jadi, analisis SR optimal dengan menggunakan metode Cash Margin benar – benar menganalisis kondisi keuntungan perusahaan pada saat ini. SR optimal dapat diperoleh dengan cara membandingkan Cash Margin yang telah diperoleh untuk setiap skenario SR. Kemudian diplot grafik antara skenario SR dengan Cash Margin. Dari grafik ini, selanjutnya dapat ditentukan pada saat SR berapa nilai dari Cash Margin yang paling maksimum.

3.10. Dana Hasil Produksi Batubara Pengertian Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB) menurut Keputusan Presiden No.75 tahun 1996 tentang Ketentuan Pokok Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara

III-16

Republik Indonesia adalah bagian pemerintah sebesar 13,5% (tiga belas setengah persen) yang harus diserahkan oleh kontraktor swasta dalam rangka perjanjian karya pengusahaan pertambangan bahan galian batubara secara tunai kepada pemerintah atas harga pada saat berada di atas kapal (free on board) atau pada harga setempat (at sale point).

DHPB ini yang telah disetor oleh kontraktor swasta digunakan oleh Departemen Pertambangan dan Energi untuk pembiayaan pengembangan batubara, inventarisasi sumberdaya batubara, biaya pengawasan pengelolaan lingkungan dan keselamatan kerja pertambangan.

Dalam hal pengusahaan pertambangan dilakukan dengan cara bawah tanah dan atau batubara yang diproduksi ternyata bermutu rendah, besarnya hasil produksi batubara yang harus diserahkan kepada pemerintah dapat dipertimbangkan kembali berdasarkan hasil kajian yang diajukan oleh perusahaan kontraktor Swasta.

DHPB yang merupakan pembayaran iuran eksplorasi dan iuran eksploitasi ( royalti) yang menjadi bagian pemerintah pusat penggunaannya dilaksanakannya sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

3.11. Corporate Tax

Corporate tax merupakan salah satu jenis pajak yang dibebankan kepada perusahaan penambangan batubara. Apabila Net Profit Before Tax pada aliran kas perusahaan bernilai positif, maka perusahaan tersebut akan dikenakan Corporate Tax. Besarnya corporate tax untuk tahun ke-0 sampai pada tahun ke-10 adalah 30 %. Sedangkan apabila umur tambang sudah >10 tahun, perusahaan akan dikenakan corporate tax sebesar 40%. Nilai ini diatur dalam dokumen PKP2B Generasi I yang dimiliki oleh PT. Arutmin Indonesia.

3.12. Depresiasi

Depresiasi

dalam

terminologi

ekonomi

mempunyai

banyak

pengertian,

diantaranya

adalah :

1. Depresiasi sebagi pengurang pajak

III-17

Pengurangan yang diijinkan pada saat menghitung pendapatan terkena pajak sehingga nilai pendapatan yang terkena pajak mengecil. Hal ini akan mengakibatkan penurunan jumlah pajak yang dibayarkan

2. Depresiasi sebagi biaya operasi Depresiasi diperhitungkan sebagai biaya manufaktur, biaya tenaga kerja atau bahan baku dan dianggap sebagai biaya yang dikeluarkan (out of pocket)

3. Pendanaan penggantian pabrik/ mesin Depresiasi diartikan sebagai dana yang digunakan untuk membangun pabrik atau membeli mesin baru yang akan menggantikan pabrik/ mesin lama.

4. Pengukur penurunan nilai Dalam suatu kegiatan operasi, pabrik atau peralatan mempunyai umur yang terbatas dan nilainya semakin lama semakin berkurang. Depresiasi dapat digunakan untuk mengukur penurunan nilai dari aset tersebut.

Sebelum perhitungan depresiasi dilakukan, hal yang harus diperhatikan adalah :

Aset yang akan dihitung nilai depresiasinya

Menentukan umur pakai ekonomis dari aset yang akan didepresiasi

Memperkirakan nilai sisa alat

Menentukan metode perhitungan depresiasi

yang nyata secara fisik (tangible)

sedangkan untuk asset yang tidak nyata (intangible) perhitungannya menggunakan konsep amortisasi. Persyaratan asset yang dapat didepresiasi adalah :

Perhitungan

depresiasi

diterapkan

untuk

asset

a. Aset tersebut digunakan untuk kegiatan produksi yang dapat menghasilkan pendapatan

b. Umur asset ditentukan dan berumur lebih dari 1 tahun.

c. Asset tersebut mengalami penurunan nilai (rusak, unjuk kerja menurun, dan lain- lain).

d. Asset dapat digantikan.

Depresiasi garis lurus merupakan salah satu metode depresiasi yang paling sederhana dalam menghitung depresiasi dan paling banyak digunakan. Namun metode ini merupakan metode depresiasi yang paling lambat untuk memperoleh kembali asset. Dalam depresiasi, semakin cepat atau besar mendapatkan nilai depresiasi, maka akan semakin besar pula keuntungannya.

III-18

Secara matematis, depresiasi garis lurus dinyatakan sebagai berikut:

dimana:

D SL =

D SL =

D SL : Depresiasi garis lurus

L

: nilai asset

S

: Nilai sisa pada akhir umur pakai (salvage value)

N

: Umur pakai ekonomis

III-19