Anda di halaman 1dari 64

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Promosi kesehatan merupakan suatu proses yang bertujuan
memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan
meningkatkan kesehatan berbasis filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri
sendiri. Dalam bidang promosi kesehatan, perawat perlu mengambil peran untuk
belajar serta menjadi sorang pengajar bagi klien baik di lingkungan rumah sakit,
rumah tangga maupun dalam masyarakat luas.
Sebagai perawat maka kita harus mampu menggerakan seluruh lapisan
masyarakat untuk belajar membenahi serta merubah gaya hidup dari yang kurang
sehat menjadi pola hidup yang sehat dan teratur. Perawat bukan hanya bertugas
memberikan tindakan perawatan di rumah sakit tetapi juga dapat berperan
menjadi pengajar atau penyuluh guna meningkatkan kualitas pemberdyaan
masyarakat di bidang kesehatan. Upaya tersebut mampu merubah perilaku
masyarakat dari yang tidak tau menjadi tau, dari tidak mampu menjadi mampu
serta dari tidak mau menjadi mau merubah kebiasaan yang kurang baik menjadi
baik.
Terkait dengan pernyataan tersebut maka perawat harus mampu menguasai
tekhnik belajar dan mengajar guna meningkatkan mutu hidup sehat bagi
masyarakat sehat maupun sakit dalam lingkup masyarakat luas.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah pengertian dari proses belajar dan mengajar ?
1.2.2 Bagaimana konsep belajar dan mengajar terkait dengan promosi
kesehatan?

1
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui serta
memahami konsep belajar dan mengajar terkait promosi kesehatan.

1.4 Metode
Metode penulisan yang digunakan adalah metode studi pustaka, yaitu
dengan mengadakan penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan
catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang
dipecahkan

1.5 Sistematika Penulisan


BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Metode
1.5 Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian

Banyak para ahli yang berminat pada bidang ini dan memberikan
batasan-batasan tentang belajar dan mereka memandang dari berbagai sudut
yang berbeda. Oleh karena itu definisi yang mereka ajukan pun juga berbeda-
beda sesuai dengan pandangan masing-masing. Sehingga rumusan tentang
belajar sangat banyak. Berikut ini diketengahkan beberapa definisi tentang
belajar sebagai berikut :

Pendapat Cronbach dalam bukunya Educational Psichology Learning


is shown by a change in behavior as a result of experience . Harold Spears
menyatakan bahwa : Learning is to observe, to read, to imitate to try
something themselves, to follow direction. Mc Geoh menyataan bahwa :
Learning is a change in performance as a result of practice dan Wittrock
menyatakan bahwa Learning is the term we use to describe the processes
involved in changing through experience.

Keempat pendapat di atas pada prinsipnya adalah senada yang intinya


kata kunci dari belajar adalah perubahan tingkah laku. Perubahan itu didapat
dari mengalami, observasi, membaca, meniru, mencoba memecahkan
masalah, mendengarkan, mengikuti secara langsung, dan sebagainya.

Biggs dan Moore membatasi belajar dalam tiga macam rumusan,


yakni: rumusa kuantitatif, institusional dan kualitatif. Secara kuantitatif
belajar berarti penambahan kemampuan dengan fakta-fakta. Secara
institusional belajar dipandang sebagai proses penguasaan peserta didik atas
materi yang tekah dipelajari. Belajar secara kualitatif adalah proses
memperoleh pemahaman, yang berorientasi pada tercapainya daya pikir dan
tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang sedang
atau akan dihadapi peserta didik.

3
Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku atau kecakapan
manusia berkat adanya interaksi antara individu, dengan individu dan
individu dengan lingkungannya, sehingga mereka lebih mampu berinteraksi
dengan lingkungannya (Rogers A, 2003).

Walaupun para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda, namun


pendapat-pendapat tersebut saling melengkapi. Dan dari beberapa pendapat
tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah :

a. Suatu proses yang dapat menimbulkan perubahan tingkah laku yang


relatif permanen, artinya perubahan yang bersifat sementara yang
bersifat kelelahan, perubahan karena aspek pertumbuhan dan
perkembangan phisik tidak termasuk dalam belajar.
b. Dapat meningkatkan kemampuan bereaksi, hal ini menunjukkan
bahwa belajar hanya dapat dikenali melalui perubahan kinerja
akademik yang dapat diukur.
c. Memberikan hasil yang maksimum bila pada peserta didik diberi
penguatan.
d. Praktek atau latihan menunjukkan bahwa belajar membutuhkan
latihan ulang untuk menjamin kelestarian kinerja akademik yang telah
dicapai peserta didik.

2.2. Standar untuk Pendidikan Klien

Pendidikan pada klien telah lama menjadi standar pada praktik


keperawatan profesional. Menurut Virginia Henderson (1966) bagian dari
peran perawat adalah untuk meningkatkan tingkat pemahaman klien dan
dengan demikian meningkatkan kesehatan. Menurut The Joint Commisson on
Accreditation of Healthcare Organization (JCAHO) (1995) (dalam Potter dan
Pery, 2005: 337 ), standar untuk pendidikan klien/keluarga adalah sebagai
berikut:

1. Klien/keluarga diberi pendidikan yang dapat meningkatkan


pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang diperlukan untuk

4
memberikan keuntungan penuh dari intervensi kesehatan yang
dilakukan oleh institusi.
2. Organisasi merencanakan dan mendorong pengawasan dan
koordinasi aktivitas dan sumber pendidikan klien/keluarga.
3. Klien/keluarga mengetahui kebutuhan belajar mereka, kemampuan,
dan kesiapan untuk belajar.
4. Proses pendidikan klien/keluarga bersifat interdisiplin sesuai dengan
rencana asuhan keperawatan.
5. Klien/keluarga mendapatkan pendidikan yang spesifik sesuai dengan
hasil pengkajian kemampuan dan kesiapannya. Pendidikan kesehatan
meliputi pemberian obat-obatan, penggunaan alat medis,
pemahaman tentang interaksi makanan/obat dan modifikasi
makanan, rehabilitasi, serta bagaimana melakukan pengobatan
selanjutnya.
6. Informasi mengenai instruksi pulang yang diberikan pada
klien/keluarga diberikan institusi atau individu tertentu yang
bertanggung jawab terhadap kesinambungan perawatan klien.

Keberhasilan untuk mencapai stadar di atas tergantung pada


keikutsertaan seluruh tenaga kesehatan profesional. Bukti dari
keberhasilan pendidikan kesehatan klien harus dicatat dalam catatan medis
klien.

Pada tahun 1986, The Alberta Association of Registered Nurses


mengembangkan satu set standar pendidikan klien yang mengacu pada
proses pendidikan yang berhubungan dengan klien dewasa. Standar ini
membantu perawat dalam memberikan pendidikan pada klien. Adapun
standar pendidikan klien sebagai berikut:

1. Struktur
Standar dalam kaitannya dengan struktur yang berhubungan
dengan manusia dan material meliputi administrasi dan manajemen
pemberi perawatan kesehatan. Perawat, baik yang berperan

5
sebagau staf maupun administrasi harus berkontribusi dalam
pengembangan dan implementasinya.
a. Standar 1: lembaga pemberi perawatan kesehatan memiliki
filosofi, tujuan umum dan khusus yang merefleksikan
wewenangnya dan memberikan arahan dalam pendidikan
kesehatan.
b. Stanadar 2: pendidikan klien terintegrasi dalam seluruh area
praktik keperawatan dalam sistem asuhan kesehatan.
c. Standar 3: departemen keperawatan dari lembaga pemberi
perawatan kesehatan aktif falam mengembangkan rencana
pendidikan klien yang komprehensif.
d. Standar 4: individu/departemen bertanggung jawab dalam
memfasilitasi dan mengoordiasi hal-hal yang berkaitan
dengan pendidikan klien.
2. Proses
Standar proses memberikan kriteria bagaimana pendidikan klien
diberikan. Proses pendidikn mengikuti tahapan dalam proses
keperawatan.
a. Standar 1: fokus primer dari proses pendidikan adalah klien
b. Standar 2: pengkajian pendidikan dilakukan oleh perawat
bekerjasama dengan klien
c. Standar 3: perawat mendemonstrasikan rencana dalam
proses pendidikan
d. Standar 4: perawat mengaplikasikan prinsip proses
pendidikan dalam mengimplementasikan pendidikan klien.
e. Standar 5: kerangka proses pendidikan secara tertulis
tersedia sebagai alat berkomunikasi, sumber untuk
pelayanan kesehatan profesional dan sebagai catatan.
3. Hasil
Standar hasil merupakan kriteria untuk mengukur hasil dari proses
pendidikan.
a. Standar 1: perawat mengevaluasi proses pendidikan
b. Standar 2: klien berpartisipasi dalam mengevaluasi proses
pendidikan.

2.3. Tujuan Pendidikan Klien

6
Nursings Agenda for Health Care Reform dari American Nurses
Association (ANA) (1991) merekomendasikan perubahan struktur sistem
pelayanan kesehatan dimana pelayanan lebih berfokus pada kesehatan dan
perawatan kesehatan daripada penyakit dan penyembuhan. Pada dasarnya
yang ingin dicapai adalah mempertahankan status kesehatan. Klien sekarang
mengetahui lebih banyak tentang kesehatan dan ingin lebih dilibatkan dalam
upaya mempertahankan kesehatan. Perawat perlu memberikan pendidikan
kesehatan sehingga klien menerima informasi tentang perawatan kesehatan
dengan cara yang lebih menyenangkan dan dilakukan di tempat yang tidak
asing baginya (ANA) (1991). Pendidikan kluen yang komprehensif meliputi
tiga tujuan yang penting, yang setiap tujuannya mencakup tingkatan
perawatan kesehatan yang berbeda.

2.3.1. Pemeliharaan dan Peningkatan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit

Belakangan ini masyarakat umum telah menyadari tentang kesehatan.


Berbagai cara dilakukan untuk menunjukkan peningkatan perhatian terhadap
kesehatan, misalnya ikut serta dalam klub kebugaran, program diet, olahraga
teratur, dan pemeriksaan kesehatan.

Perawat merupakan sumber yang nyata dan memiliki kompetensi


dalam usaha meningkatkan kesehatan fisik dan psikologis klien. Ditempat
seperti sekolah, klinik, rumah ataupun kantor, perawat memberikan informasi
dan keterampilan yang memungkinkan klien untuk hidup dengan perilaku
yang lebih sehat. Sebagai contoh, dikelas untuk persiapan kelahiran, perawat
mengajar para calon orang tua tentang perubahan fisik dan psikologis pada
calon ibu dan tentang pertumbuhan janin. Setelah mempelajari tentang proses
persalinan normal, ibu cenderung untuk makan makanan yang sehat, ikut
serta dalam latihan fisik dan menghindari benda yang mungkin
membahayakan janin. Peningkatan perilaku sehat melalui pendidikan
meningkatkan harga diri dengan menginzinkan klien mengambil tangguang
jawab dalam menjaga kesehatannya. Pengetahuan yang lebih besar dapat

7
menghasilkan kebiasaan mempertahankan kesehatan yang lebih baik. Pada
waktu klien menyadari tentang kesehatannya, mereka cenderung untuk
mencari pertolongan secepatnya untuk masalah kesehatannya (Redman,
1993).

Studi kasus: Ayah Tn. Sim meninggal karena komplikasi dan


melanoma malignansi Tn. Sim secara rutin memakai krim tabir surya dan
dengan teratur ia memeriksa kuilitnya. Menyadari ada sesuatu dipahanya, Tn.
Sim segera mencari pertolongan, selanjutnya benjolan itu dioperasi, akhirnya
Tn. Sim merasa puas dengan hasil terapi ini.

2.3.2. Perbaikan Kesehatan

Klien yang mengalami kecelakaan atau sakit memerlukan informasi


dan keterampilan yang akan membantunya mengembalikan atau
mempertahankan tingkat kesehatannya. Klien yang dalam proses
penyembuhan dari suatu penyakit atau kecelakaan dan yang sedang
beradaptasi terhadap perubahan dirinya sering mencari informasi menganai
kondisinya. Akan tetapi klien yang mengalami kesulitan untuk beradaptasi
terhadap penyakitnya mungkin menjadi pasif dan tidak tertarik untuk belajar.
Perawat belajar untuk mengidentifikasi keinginan klien untuk belajar dan
membantu memotifasi minatnya. Keluarga merupakan bagian vital dalam
mengembalikan kesehatan klien dan mungkin membutuhkan informasi yang
sama banyaknya dengan klien. Bila perawat tidak melibatkan keluarga dalam
rencana pengajaran maka mungkin saja timbul konflik. Sebagai contoh, bila
keluarga tidak memahami kebutuhan klien untuk meningkatkan fungsi
mandirinya, upaya yang mereka lakukan mungkin membuat klien menjadi
bergantung pada hal-hal yang tidak perlu dan menyebabkan proses
penyembuhan yang lambat. Perawat tidak boleh berasumsi bahwa keluarga
harus dilibatkan dan pertama-tama harus mengakaji hubungan klien-keluarga.

2.3.3. Koping terhadap Gangguan Fungsi

8
Banyak klien belajar untuk menghadapi perubahan kesehatan
permanen. Pengetahuan dan ketrampilan baru seringkali dibutuhkan klien
untuk melanjutkan aktivitas hidup sehari-hari. Sebaga contoh, klien yang
kemampuan berbicaranya hilang setelah operasi laring perlu mempelajari
cara-cara baru untuk berkomunikasi, dan klien sakit jantung yang berat
mempelajari cara-cara untuk memodifikasi faktor risiko yang mungkin akan
menyebabkan kerusakan jantung lebih jauh.

Dalam kasus dimana terjadi cedera serius, peran keluarga klien


mungkin berubah, sebagai akibatnya keluarga perlu memahami dan menerima
perubahan yang terjadi pada klien. Kemampuan keluarga untuk memberikan
dukungan pada klien dapat ditumbuhkan melalui pengajaran, yang muncul
segera setelah kebutuhan klien teridentifikasi dan keluarga menunjukkan
keinginan untuk membantu. Perawat mengajar anggota keluarga untuk
membantu klien daam mengatur asuhan kesehatannya, sebagai contoh,
memberikan obat, mandi dan memakaikan pakaian. Keluarga klien dengan
masalah seperti alkoholisme, retardasi mental, atau ketergatungan obat juga
beajar untuk beradaptasi dengan efek emosionalyang ditimbulkan oleh
kondisi tersebut.

Seorang perawat belajar untuk menilai suatu informasi untuk


mengajar pada klien dengan perbedaan tingkat kesehatan dengan mengkaji
kebutuhan dan kemampuan klien. Pembelajaran terjadi ketika informasi
dipraktikkan dan berguna bagi peserta didik. Membandingkan tingkat
kesehatan yang ingin dicapai dengan status kesehatan nyata mendorong
perawat untuk merencanakan program pengajaran yang efektif.

2.4. Pengajaran dan Pembelajaran

Memisahkan pengajaran dan pembelajaran adalah suatu hal yang sulit


dilakukan. Pengajaran merupakan proses interaktif yang mendorong
terjadinya pembelajaran. Pembelajaran terdiri dari satu set tindakan yang
terkontrol dan terkendali yang membantu individu untuk memperoleh

9
pengetahuan yang baru atau menampilkan keterampilan yang baru (Redmen,
1993). Seorang pendidik memberikan informasi yang mendorong peserta
didik untuk terlibat dalam aktivitas yang mengacu pada perubahan tertentu.

Pembelajaran merupakan upaya penambahan pengetahuan baru, sikap,


dan keterampilan melalui penguatan praktik dan pengalaman tertentu. Klien
diabetes memperagakan teknik penyiapan insulin dalam spuit. Pada pre
operasi, klien bedah mendiskusikan cara untuk menurunkan nyeri paska
operasi. Secara umum, pengajaran dan pembelajaran mulai ketika seseorang
mengidentifikasi kebutuhan terhadap pengetahuan atau keterampilan tertentu.
Menurut Knowles (1970), pembelajaran dewasa merupakan proses internal
dan kondisi yang utama dari pembelajaran dan prinsip pengajaran. Pengajaran
paling efektif ketika pengajaran tersebut memenuhi kebutuhan peserta didik.
Pendidik melakukan pengkajian kebutuhan peserta didik dengan mengajukan
pertanyaan dan penentapan minat peserta didik. Komunikasi interpersonal
merupakan hal yang esensisal dalam keberhasilan pengajaran.

3.4.1. Peran Perawat dalam Pengajaran dan Pembelajaran

Klien dan keluarganya sering kali bertanya pada perawat mengenai


informasi kesehatan. Seorang klien mungkin meminta informasi mengenai
apa yang akan terjadi menjalai selama menjalani prosedur tertentu. Angota
keluarga mungkin memepertayakan alasan timbulnya nyeri pada ayah
mereka. Pihak sekolah mungkin mempertanyakan tentang informasi status
imunisasi muridnya pada masa kanak-kanak. Identifikasi kebutuhan terhadap
pengajaran menjadi mudah ketika klien bertanya tentang informasi yang
diperlukannya. Akan tetapi kebutuhan klien terhadap pengajaran sering kali
tidak nyata.

Perawat harus berupaya mengantisipasi kebutuhan klien terhadap


informasi tertentu berdasarkan kondisi klien atau rencana pengobatan yanga
akan dijalani. Tanggungjawab perawat adalah memberikan informasi yang
diperlukan oleh klien dan keluarga. Perawat mengklarifikiasi informasi yang

10
diberikan oleh dokter dan mungkin menjadi sumber informasi utama untuk
mengatasi masalah kesehatan.

Untuk menjadi pendidik yang efektif, perawat harus melakukan lebih


dari sekedar memberikan informasi saja. Perawat harus menentukan secara
hati-hati apa yang klien perlu ketahui dan menentukan waktu klien siap
belajar. Kruger (1991) mencatat tiga area yang merupakan tangungjawab
klien dalam pendidikan klien.

1. Persiapan klien dalam menerima perawatan (misalnya penyuluhan


preoperasi, injeksi insulin sendiri.
2. Persiapan klien pulang dari perawatn rumah sakit (misalnya
medikasi untuk pulang dan prosedur tertentu, dan resiko komplikasi
yang mungkin menyebabkan klien kembali ke dokter atau ke rumah
sakit.
3. Pencatatan aktivitas pendidikan klien (misalnya menuliskan
pendidikan kesehatan tertentu dalam catatan kesehatan klien , format
catatan pendidikan klien, atau ringkasan pulang klien.)

Ketika perawat menilai kebutuhan pendidikan klien dan perawat


tersebut mampu mengimplementasikannya. Klien sebaiknya disiapkan untuk
mengetahui tanggungjawabnya dalam asuhan kesehatan. Hubungan antara
pendidikan klien dan hasil yang diharapkan merukan suatu pemikiran
penelitian keperawatan yang penting.

3.4.2. Pengajaran sebagai Komunikasi

Proses pemblajaran sangat mirip dengan proses komunikasi.


Pengajaran yang efektif bergantung sebagian besar pada keefektifan
komunikasi interpersonal. Tahapan dari proses pengajaran dapat
dibandingkan dengan proses komunikasi . dalam pengajaran, referen adalah
kebutuhan untuk memberikan klien sejumlah informasi. Objektif pengajaran
menggambarkan apa yang peserta didik akan mampu lakukan setelah
menyelesaikan instruksi dengan baik.

11
Perawat sebagai pengirim , sebagai seorang yang ingin menyampaikan
informasi kepada klien. Perawat memulai pengajaran dengan berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa yang digunakan oleh klien. Sikap, nilai, emosi,
dan pengetahuan mempengaruhi cara perawat menyampaikan pesan.
Pengalaman masalalu dapat membantu perawat dalam memilih cara yang
terbaik untuk menyampaikan informasi.

Pesan isi pengajaran yang diajarkan disampaikan secara jelas dan


terinci. Perawat mengorganisasikan informasi yang disusun berdasarkan
urutan yang logis sehingga klien akan lebih mudah memahami keterampilan
dan ide yang disampaikan. Setiap topik diberikan berdasarkan prinsip
keterampilan dan informasi sederhana ke arah yang lebih kompleks ( Haire-
Joshu dan Houston, 1992).

Penerima pesan dalam proses belajar-mengajar adalah peserta didik.


Klien dinyatakan siap untuk belajar ketika mereka mengemukakan
keinginannya dan cenderung lebih mudah memahaminya bila mereka
mengerti isi pengajaran. Kemampuan untuk belajar tergantung pada faktor-
faktor seperti emosi dan kesehatan fisik, pendidikan , tahap perkembangan,
dan pengetahuan sebelumnya. Pendidik yang baik memberikan mekanisme
evaluasi terhadap keberhasilan rencana pengajaran dan umpan balik . umpan
balik harus memperlihatkan keberhasilan peserta didik dalam pencapaian
tujuan.

2.5. Domain Pengajaran

Pembelajaran terbagi atas domain kognitif , afektif dan pikomotor .


Segala topik yang diajarkan mungkin mencangkup seluruh domain atau hanya
satu domain. Perwat sering kali bekerja dengan klien yang membutuhkan
pembelajaran disetiap domain. Karakteristik pembelajaran dari setiap domain
mempengaruhi metode pembelajaran dan evaluasi yang digunakan.
Pemahaman setiap domain menyiapkan perawat untuk memilih teknik

12
pembelajaran yang sesuai. Akan tetapi perawat juga perlu melakukan prinsip
dasar pembelajaran pada semua metode pengajaran.

2.5.1. Pembelajaran Kognitif

Pembelajaran kognitif meliputi semua perilaku intelektual. Bloom


(1956) menglasifikasikan perilaku kognitif dalam urutan hirarki. Perilaku
yang paling sederhana adalah mendapatkan pengetahuan, sedangkan yang
paling kompleks adalah evaluasi.

1. Pengetahuan: dengan menggunakan pengetahuan mendapatkan fakta


atau informasi barudan dapat diingat kembali.
2. Pemahaman : Pemahaman adalah kemampuan untuk memahami
materi yang dipelajari. Contoh, klien mampu menguraikan secara
spesifik bagaimana obat-obatan yang baru diberikan untuknya akan
dapat meningkatkan kesehatan fisiknya.
3. Aplikasi: Penerapan mencakup penggunaaan ide-ide abstrak yang
baru dipeajari untuk diterapkan dalam situasi yang nyata. Contoh
klien belajar cara pemberian obat sendiri sesuai dengan jadwal untuk
meminimalkan efek samping.
4. Analisis: Analisis berarti mengaitkan dengan ide yang satu dengan
yang lain dengan cara yang benar. Domain ini memungkinkan
seseorang memisahkan informais yang penting dari informsi yang
tidak penting.
5. Sintesis: Sintesis merupakan kemampuan memahami sebagian
informasi dari semua informasi yang diterimanya. Contoh klien
mengalami efek samping dari suatu obat dan dalam melakukan cara
untuk mencegahnya.
6. Evaluasi: Evaluasi merupakan penilaian terhadap sejumlah informasi
yang diberikan untuk tujuan yang telah ditetapkan. Contoh, klien
mampu memahami kebutuhan terhadap informasi lebih lanjut

2.5.2. Pembelajaran Afektif

13
Pembelajaran afektif berkaitan dengan ekspresi perasaan dan
penerimaan suatu sikap, otonomi,atau seperangkat nilai. Klarifikasi nilai
merupakan suatu contoh dan pembelajaran afektif. Perilaku yang paling
sederhana dalam hirarki ini adalah menerima dan yang paling kompleks
adalah mengarakteristikkan (Krathwohl et al.1964).

1. Penerimaan
Penerimaan adalah sikap terbuka untuk mengikutin petunjuk dari
orang lain. Sebagai contoh, seorang wanita memperlihatkan
keterbukaannya untuk mendengarkan penjelasan perawat tentang
prosedur operasi pengangkatan payudara.
2. Menanggapi
Menanggapi berarti melibatkan partisipasi aktif melalui proses
mendengarkan dan bereaksi secara verbal dan non-verbal. Seseorang
merasa puas karena tanggapan. Sebagai contoh, klien bertanya kepada
perawat mengenai penampilan insisi yang akan diperolehnya.
3. Menilai
Menilai berarti memberikan niali pada suatu objek atau perilaku. Hal
ini terlihat dari perilaku peserta didik. Seseorang termotivasi untuk
memperlihatkan perilakunya. Sebagai contoh, klien mengekspresikan
kecemasannya tentang efek operasi pada penampilannya. Setelah
operasi klien menolak untuk melihat insisi yang diperolehnya dan
memakai pakaian berkerah tinggi.
4. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah mengembangkan sistem nilai melalui
identifikasi dan pengorganisasian nilai serta penyelesaian kembali
konflik. Sebagai contoh, klien belajar untuk menerima perubahan
yang dihasilkan dari pembedahan dan dapat berpartisipasi dalam
aktivitas sosial.
5. Pengarakterisasian
Pengarakterisasian meliputi tindakan dan respons terhadap sistem nilai
yang konsisten. Seseorang berperilaku secara konsisten, bila nilai
yang dianutnya diuji dan ditantang. Sebagai contoh, klien
mengasumsikan gaya hidup yang normal setelah menjalani operasi

14
payudara. Ia dapat mendiskusikan perasaan positif tentang dirinya
kepada orang lain.

2.5.3. Pembelajaran Psikomotor

Pembelajaran psikomotor meliputi pembelajaran pencapaian


keterampilan yang membutuhkan keutuhan mental dan aktivitas otot seperti
kemampuan berjalan atau menggunakan alat-alat makan. Perilaku yang paling
sederhana dalam hirarki ini adalah persepsi, dan yang paling kompleks adalah
keaslian (Simpson,1972)

1. Persepsi
Persepsi merupakan keadaan yang menyadari bahwa suatu objek
atau kualitas melalui penggunaan seluruh organ indra. Seseorang
merasakan adanya rangsangan sebagai tanda untuk melakukan tugas
tertentu. Misalnya, setelah mendengarkan bunyi mobil ambulance,
orang tersebut akan menyetir mobilnya ketepi untuk menghindari
kecelakaan.
2. Perangkat
Perangkat merupakan kesiapan untuk melakukan tindakan tertentu.
Ada tiga perangkat, yaitu mental, fisik, dan emosi. Sebagai contoh,
seseorang yang menggunakan penilaian untuk menentukan cara
terbaik untuk melakukan tindakan motorik (kesiapan mental).
Sebelum melakukan tindakan seperti bangun dari kursi roda,
seseorang berada pada bentuk dan posisi tubuh yang sesuai (kesiapan
fisik). Klien mungkin membuat komitmen (perangkat emosi) untuk
menjalankan latihan tertentu secara teratur.
3. Respon terbimbing
Respons terbimbing merupakan kinerja suatu tindakan di bawah
bimbingan seorang instructor. Hal ini merupakan tindakan meniru
dari tindakan yang di demonstrasikan. Sebagai contoh, klien
menyiapkan injeksi insulin setelah memperhatikan demonstrasi yang
dilakukan oleh perawat. Perawat memberikan penguatan segera
setelah klien melakukan tindakan tersebut dengan benar.
4. Mekanisme

15
Mekanisme merupakan tigkat perilaku yang lebih tinggi dimana
seseorang telah memiliki kepercayaan diri dan keterampilan dalam
melakukan perilaku tertentu. Biasanya keterampilan menjadi lebih
kompleks dan mencakup lebih dari beberapa tahapan daripada
keterampilan terbimbing. Sebagai contoh, klien mampu
mengeluarkan sejumlah insulin dengan jarum suntik dari dosis yang
berbeda.
5. Respon kompleks terbuka
Respons komplek terbuka mencakup pelaksanaan keterampilan
motorik yang terdiri dari pola gerakan yang kompleks. Seseorang
memperlihatkan keterampilan seacar halus dan benar tanpa ragu-
ragu. Sebagai contoh, klien dapat menyuntikkan insulin secara
mandiri pada berbagai tempat penyuntikkan.

6. Adaptasi
Adaptasi terjadi bila seseorang mampu mengubah respons motorik
ketika muncul masalah yang tidak diduga. Sebagai contoh, ketika
perawat menyuntik, munculnya darah dalam alat suntikkan karena
diaspirasi mengakibatkan perubahan cara memegang alat suntik.
7. Keaslian
Keaslian merupakan aktivitas motorik yang paling kompleks yang
mencakup penciptaan pola gerakan yang baru. Seseorang bertindak
berdasarkan kemampuan dan keterampilan psikomotor yang ada.
Sebagai contoh, seorang perawat menggunakan metode yang lain
untuk penusukan vena pada klien yang mengalami pembengkakan
tangan.

2.6. Prinsip Pembelajaran Dasar

Agar dapat mengajar dengan efektif dan efesien, pertama perawat


harus memahami bagaimana seseorang belajar. Pembelajaran bergantung
pada motivasi untuk belajar, kemampuan untuk belajar dan lingkungan
pembelajaran. Motivasi mengacu pada keinginan seseorang untuk belajar
(Redman, 1993). Kesedihan klien untuk terlibat dalam pembelajaran

16
mempengaruhi pendekatan pengajaran dari perawat. Faktor pengetahuan
sebelumnya, sikap, dan sosiokultural mempengaruhi motivasi.

Kemampuan untuk belajar bergantung pada faktor fisik dan kognitif,


tingkat perkembangan, kesehatan fisik, dan proses berpikir intelektual. Bila
kemampuan pembelajaran terganggu, misalnya pembelajaran pada klien yang
mengalami nyeri, pendidik mengubah jadwal aktivitas pengajaran atau
strateginya diubah untuk memenuhi kebutuhan peserta didik.

Lingkungan juga mempunyai dampak pada kemampuan untuk belajar.


Satu tugas utama perawat adalah untuk memanipulasi kondisi lingkungan
untuk memfasilitasi pembelajaran. Sebagai contoh, ketika lingkungan bising,
perawat sebaiknya mengubah kondisi untuk mendorong pembelajaran. Hal ini
secara khusus menjadi tantangan bagi perawat yang bekerja di lingkungan
kesehatan yang ramai.

2.6.1. Motivasi untuk Belajar


1. Perangkat perhatian

Sebuah perangkat perhatian adalah status mental yang


mengizinkan peserta didik untuk berfokus dan memahami materi. manusia
seringkali menggunakan gambaran mental untuk memvisualisasi
pemikiran. selagi perawat menjelaskan bagaimana memberikan dukungan
pada klien yang sedang menghadapi kematian,mahasiswa dapat
membayangkan memegang tangan yang lemah dari orang tersebut.
sebelum mempelajari sesuatu,mahasiswa harus memberikan perhatiannya
atau berkonsentrasi pada informasi yang dipelajarinya.

Ketidaknyamanan fisik,ansietas dan distraksi dari lingkungan dapat


mempengaruhi kamampuan untuk belajar. segala kondisi fisik yang
mengganggu kemampuan berkonsentrasi (mis. nyeri,kelelahan,dan
kelaparan ) berpengaruh pada pembelajaran. oleh sebab itu perawat
menilai tingkat kenyamanan dan energi klien sebelum memulai rencana
pembelajaran dan meyakinkan bahwa klien merasa nyaman untuk diajak

17
berdiskusi. tanda nonverbal dapat menjadi acuan menilai bila klien tidak
siap untuk belajar. Ansietas dapat rmeningkatkan atau menurunkan
kemampuan seseorang untuk memberikan perhatian. ansietas merupakan
perasaan yang tidak menentu dan tidak jelas yang dihasilkan dari antisipasi
dari adanya bahaya atau ancaman. ketika dihadapkan pada perubahan dan
kebutuhan untuk melakukan tindakan yang berbeda,seseorang merasa
cemas. Pembelajaran meminta perubahan dalam perilaku dan dapat
menyebabkan kecemasan. ansietas tingkat sedang dapat memotivasi
pembelajaran. akan tetapi,ansietas yang tinggi menghambat terjadinya
pembelajaran. hal ini menurunkan kapasitas seseorang menyebabkan
ketidakmampuan memperhatikan sesuatu selain berupaya menurunkan
ansietas.

Distraksi lingkungan berpengaruh pada kemampuan untuk


memperhatikan pengajar dan aktivitas pembelajaran. interupsi yan g tidak
direncanakan atau lingkungan yang tidak nyaman bukan tempat yang
kondusif untuk belajar.

2. Motivasi

Motivasi merupakan dorongan (mis. ide,emosi atau kebutuhan


fisik) yang menyebabkan seseorang mengambil sesuatu tindakan. jika
seseorang tidak ingin belajar,hal ini menunjukkan pembelajaran tidak akan
terjadi. motivasi dapat berasal dari motif social,tugas atau fisik.

Penyelesaian tugas social dan motivasi fisik menstimulasi


seseorang untuk belajar. motivasi soal dibutuhkan untuk
berhubungan,penampilan social,atau harga diri. individu secara umum
mencari orang lain un tuk membandingkan pendapat ,kemampuan dan
emosi. sebagai contoh mahasiswa seringkali bekerja keras untuk
mendapatkan pujian atau perhatian dari rekan-rekannya.

Penyelesaian tugas memotivasi didasari oleh kebutuhan seperti


keberhasilan dan kompetensi. mahasiswa keperawatan bekerja berulang-

18
ulang di laboratorium untuk belajar memberikan injeksikarena motivasi
untuk menguasai tugas atau keterampilan. setelah seseorang berhasil
menyelesaikan suatu tugas maka orang tersebut biasanya memotivasi
untuk mencapai hal yang lebih.

Seringkali motivasi klien bersifat fisik. klien dengan perubahan


fungsi fisik mungkin termotivasi untuk belajar menurut Tanner (1989),
pengetahuan yang diperlukan untuk mempertahankan diri menghasilkan
stimulus yang lebih besar untuk belajar daripada pengetahuan yang hanya
meningkatkan kesehatan. strategi pengajaran menggambarkan hubungan
yang penting dengan berbagai motivasi fisik.

Tidak semua orang tertarik untuk melakukan tindakan


mempertahankan kesehatan. klien dengan penyakit paru mungkin tetap
merokok. klien dengan obesitas mungkin mengalami perburukan dalam
kondisi jantungnya karena menolak untuk mengikuti diet rendah lemak.
tidak ada terapi yang ajan memberikan dampak kecuali orang tersebut
dimotivasi oleh keyakinan bahwa kesehatan adalah yang utama. tren
dalam perawatan kesehatan adalah mengobati klien di rumahnya
sendiri,setelah mereka dinyatakan membaik dari fase akut penyakitnya.
pengobatan akan berhasil jika hanya klien mengikuti rekomendasi yang
diberikan oleh pemberi asuhan. kepatuhan adalah ketaatan klien
melaksanakan tindakan terapi perawat harus mengkaji motivasi klien
untuk belajar dari apa yang perlu diketahui oleh klien dalam menjalani
terapinya.

Keyakinan klien tentang kesehatan dapat menjadi motivasi yang


kuat dan hal ini dipengaruhi oleh berbagai variable. model keyakinan
mencatat keyakinan kesehatan sebagai berikut ini sebagai motivasi yang
penting(Rosenstock,1974).

a. Dalam pertanyaannya,klien curiga terjangkit suatu penyakit.

19
b. Bila terjangkit suatu penyakit,penyakit tersebut memiliki efek
yang serius dalam hidupnya.
c. Tindakan dapat diambil untuk mengurangi proses penyakit atau
mengurangi tingkat keparahan
d. Ancaman dalam mengambil tindakan tidak lebih besar dari
ancaman penyakit itu sendiri.

Model keyakinan kesehatan pada dasarnya disusun untuk


menjelaskan alasan dimana seseorang mencoba tindakan kesehatan.
selanjutnya keyakinan itu digunakan untuk memprediksi kepatuhan
terhadap terapi. motivasi muncul untuk memainkan peranan dalam
mengaplikasikan model keyakinan kesehatan. penelitian lebih jauh masih
diperlukan mengenai pemanfaatan model dalam memprediksi perubahan
perilaku klien . akan tetapi contoh bukti dari pencetusan motivasi
diantaranya krisis interpersonal ,pengaruh gejala pada penilaian aktifitas
social dan perjalanan dan kualitas gejala (Redman,1993).

Perawat dapat menggunakan model keyakinan kesehatan dalam


pendidikan kesehatan. jika perawat dapat memodifikasi persepsi klien
karena rentan terserang penyakit atau keparahan,klien menjadi terbuka
untuk belajar. ketika penyakit dipersepsikan sebagai ancaman dan
diketahui adanya keuntungan dari intervensi professional,upaya
pendidikan dapat diarahkan untuk mencapai perubahan dalam perilaku
kesehatan. model tidak memberikan strategi untuk mengubah perilaku
kesehatan . tidak ada moetode standar untuk memotivasi seseorang dengan
memberikan keyakinan tentang kesehatan. akan tetapi model ini dapat
digunakan dalam mengkaji kebutuhan pendidikan kesehatan dan keinginan
untuk belajar.

Pendidikan kesehatan sering kali melibatkan perubahan sikap dan


nilai yang didapat begitu saja berubah dengan diberikannya pendidikan
tentang fakta. oleh sebab itu perawat memberikan perhatian terhadap idea
atau keyakinan yang memotivasi seseorang untuk belajar dan

20
mengaplikasikan faktor motivasi dalam rencana pengajaran. sebagai
contoh, ketika klien seorang eksekutif dengan tekanan darah
tinggi,perawat dapat menggunakan faktor berikut untuk memotivasi klien
belajar kebiasaan kesehatan yang baru : keinginan klien untuk berhasil
dan kekhawatiran bahwa sakit akan mengganggu kerjanya.

3. Adaptasi psikososial terhadap penyakit

Penurunan atau kehilangan kesehatan tubuh baik yang temporer


maupun permanen sangat sulit diterima oleh klien. Proses berduka akan
memberikan waktu bagi klien untuk beradaptasi secara psikologis terhadap
implikasi emosi dan fisik dari penyakit. Tahap-tahap berduka meliputi
sejumlah respon yang dialami oleh klien selama masa sakit. Mereka
mengalami tahap ini pada tingkat dan urutan yang berbeda,bergantung
pada konsep diri mereka sebelum sakit,tingkat keparahan penyakit,serta
perubahan dalam gaya hidup yang disebabkan oleh penyakit. Perawatan
yang efektif akan memandu klien melewati proses duka.

Kesiapan untuk belajar sangat bergantung pada tingkat berduka.


Ketik klien tidak ingin tahu atau tidak dapat menerima realitas
penyakitnya,ia tidak akan dapat belajar. Namun,pengajaran pada waktu
yang tepat akan dapat membantu penyesuaian dirinya terhadap penyakit
atau ketidakmampuannya.

Perawat mengidentifikasi tahapan berduka klien berdasarkan


tingkah laku yang sering terlihat. Ketika klien memasuki tahap penerimaan
yang merupakan tahap yang cocok untuk mendapatkan
pengajaran,perawat menyampaikan rencana pengajaran. Pengkajian yang
terus-menerus terhadap tingkah laku klien akan menentukan tahap
berduka. Pengajaran dilanjutkan selama klien tetap berada pada tingkat
yang kondusif untuk belajar.

21
HUBUNGAN ANTARA PSIKOSOSIAL PADA PENYAKIT DAN
PENGAJARAN
Tingkat Tingkah laku klien Implikasi Rasional
pengajaran
Penolakan atau Klien menghindari Berikan Klien tidak siap
tidak percaya diskusi tentang dukungan,empati untuk menghadapi
penyakit (tidak ada dan penjelasan masalah
yang salah tentang yang jelas tentang : Usaha apapaun
diri saya), menarik semua prosedur untuk meyakinkan
diri dari orang lain ketika prosedur atau memberitahu
dan mengabaikan tersebut dilakukan. tentang penyakit
batasan fisik. Klien Biarkan klien akan
menyembunyikan mengetahui bahwa mengakibatkan
dan mengubah anda selalu siap rasa marah atau
informasi yang untuk berdiskusi. menarik diri yang
tidak diberikan Ajarkan dalam semakin parah
dengan jelas. kondisi klien Hanya
sekarang (mis. memberikan
Menjelaskan terapi informasi yang
masa terkini) diminta klien atau
sangat diperlukan.

22
Marah Klien menyalahkan Tidak berdebat Klien
dan mengeluh,serta dengan klien,tetapi membutuhkan
seringkali dengarkan apa kesempatan untuk
menunjukkan yang menjadi mengekpresikan
kemarahan pada kekhawatirannya. perasaan dan
perawat. Ajarkan dalam kemarahannya
kondisi klien klien masih belum
sekarang. siap untuk
Yakinkan keluarga menghadapi masa
tentang normalitas depan.
klien

Tawar-menawar Klien menjanjikan Terus Klien tetap belum


untuk menjalani memperkenalkan bersedia menerima
hidup dengan lebih keadaan nyata pembatasan
baik,untuk janji Ajarkan dalam
kesehatan yang kondisi klien
lebih baik (jika sekarang.
tuhan mengizinkan
saya untuk
hidup,saya berjanji
akan lebih berhati-
hati)

23
Resolusi Klien mulai Dorong klien klien Klien mulai
menunjukan untuk menunjukkan
emosinya secara mengekpresikan keinginan untuk
terbuka,menyadari perasaan. didampingi dan
bahwa penyakitnya Mulai memberikan siap untk
telah menimbulkan informasi yang menerima
berbagai perubahan dibutuhkan untuk tanggung jawab
dan mulai bertanya- masa yang akan pengajaran
tanya datang,dan
menetapkan waktu
formal untuk
berdiskusi

Penerimaan Klien menyadari Fokuskan Klien akan lebih


realitas pengajaran pada mudah dimotivasi
kondisinya,secara kemampuan dan untuk belajar
aktif mencari pengetahuan yang penerimaan
informasi dan dibutuhkan di masa terhadap penyakit
berupaya untuk depan. merefleksikan
mandiri Terus mengajarkan keinginan untuk
tentang apa yang menghadapi
sedang terjadi. implikasinya.
Melibatkan
keluarga dalam
informasi
pengajaran untuk
persiapan pulang

24
4. Partisipasi aktif

Keikutsertaan klien dalam belajar secara tidak langsung


dipengaruhi oleh keinginan untuk mendapatkan pengetahuan atau
kemampuan. Hal ini juga akan meningkatkan kesempatan klien untuk
mengambil keputusan pada sesi pengajaran. Misalnya, seorang klien
dengan diagnose diabetes belajar untuk memantau kadar glukosa dalam
darah untuk meningkatkan control penyakit. Perawat mendampingi klien
dalam memilih alat pengukur glukosa darah dan beradaptasi dengan
system dan jadwal pemantauan untuk membentuk pola gaya hidup
personalnya.

Funnel et al, (1991) menggambarkan model Pemberian Kuasa


untuk pendidikan kesehatan di mana klien memiliki pengetahuan,
kemampuan, dan tanggung jawab untuk melakukan perubahan. Klien tidak
terlihat sebagai penerima atau pengguna asuhan dan pendidikan kesehatan
yang pasif, tetapi sebagai mitra aktif dalam pemberian asuhan. Pemberian
kuasa pada klien akan meningkatkan kesehatan secara menyeluruh dan
memaksimalkan penggunaan sarana yang tersedia.

2.6.2. Kemampuan untuk Belajar


1. Kemampuan Perkembangan

Perkembangan kognitif mempengaruhi kemampuan klien untuk


belajar. Seorang perawat dapat menjadi guru yang kompeten, namun
jika kemampuan intlektual klien tidak dipertimbangkan, pengajaran
tidak akan berhasil. Kadang seorang perawat yang telah membagikan
buku panduan atau brosur menghadapi kenyataan bahwa klien tidak
dapat membaca. Pengajaran, seperti pertumbuhan perkembangan,
adalah proses yang terus berkembang. Perawat harus tahu tingkat
pengetahuan dan kemampuan intlektual klien sebelum melalui rencana
pengajaran. Misalnya membaca thermometer atau mengukur porsi
makanan cair dan padat membutuhkan kemampuan dalam hal

25
matematika. Membaca label medikasi atau instruksi dalam buku
panduan membutuhkan kemampuan membaca dan memahami. Belajar
mengatur dosis insulin membutuhkan kemampuan untuk memecahkan
masalah. Mengikuti aturan pada waktu melakukan perawatan diri
dengan batas tertentu membutuhkan kemampuan untuk melakukan
aplikasi dan pemahaman.

Sebelum seorang mampu mempelajari informasi yang baru,


kedewasaan dan perkembangan kognitif pada tingkat tertentu mutlak
ada. Salah bila mengasumsikan bahwa klien memiliki tingkat
pengetahuan tertentu; sebaliknya, perawat harus mengkaji tingkat
pengetahuan klien. Proses belajar akan menjadi lebih baik jika bentuk
informasi sesuai dengan pengetahuan yang ada.

Kelompok Umur. Umur menunjukkan perkembangan,


kemampuan untuk belajar dan bentuk perilaku pengajaran yang
dibutuhkan. Tanpa perkembangan biologis yang sesuai, perkembangan
biologis motoric, bahasa dan sosial-pribadi, banyak bentuk
pembelajaran tidak dapat dilakukan. Pengajaran akan berjalan jika
perilaku berubah sebagai akibat dari pengalaman atau pertumbuhan
(Wong,1995).

Kapasitas Perkembangan Untuk Belajar


Kapasitas Belajar Metode Pengajaran
Bayi
Bayi mengandalkan orang tua untuk Pertahankjan rutinitas(mis. pemberian
pemenuhan kebutuhan dasar. bayi belajar untuk makanan, mandi) secara konsisten. Gendong
mempercayai orang dewasa ketika orang bayi dengan lembut sambil tersenyum dan
tersebut menunjukkkan perhatian dan kasih berbicara dengan lembut untuk menumbuhkan
saying. Bayi memmahami lingkungan melalui rasa percaya. Buat bayi menyentuh tekstur
perasaan. benda yang berbeda (mis. kain, plastik).

Balita Guanakan permainan untuk mengajarkan

26
Balita belajar untuk memahami kata-kata dan prosedur atau aktivitas (mis. memberiakan
ekspresi perasaan secara verbal. Balita belajar perlengkapan pemerikasaan, membalut
dengan mengasosiasikan kata dengan benda. boneka). Tawarkan buku bergamabar yang
Balita gemar gemar memahami lingkungan memuat cerita anak dirumah sakit atau klinik.
dengan bermain. Gunakan kata-kata yang sederhana untuk
memudahakan pemahaman.

Prasekolah Guanakan metoda stimulasi, peniruan dan


Kosakatanya meningkat. Anak prasekolah permainan untuk membuat pembelajaran
menggunankan bahasa tanpa memahami menjadi menyenangkan bagi anak prasekolah.
makna kata. (misalnya kiri, kanan dan waktu). Dorong anak untuk mengajukan pertanyaan
Selama bermain anak -anak prasekolah akan dan tawarkan penjelasan . Dorong anak untuk
lebih mengekspresikan perasaannya dengan mengajukan pertanyaan dan tawarkan
tindakan daripada ucapan . Anak prasekolah penjelasan. Guanakan penjelasan dan
mengajukan pertanyaan dan mengikuti gaya demonstrasi sedernahan. Mendorong anak
orang dewasa. untuk belajar bersama melalui gambar dan
cerita penderk tentang bagaimana cara
melakukan kesehatan.

Ajarkan kemampuan psikomotor yang


dibutuhkan untuk mempertakannkan kesehatan
Anak Usia Sekolah (ketrampilan kolmplek seperti bel;ajar
Anak berinteraksi dengan orang dewasa dan menggunakan jarum suntik mungkin akan
teman sebaya diluar keluarga. Anaka mulai membutuhkan latihan yang cukup). Tawarkan
mendapat kemampuan untuk merangkai untuk mendiskusiakan masalah kesehatan dan
sejumlah kejadian dan tindakan untuk menjawab pertanyaan.
menjunjukan gambaran mental. yang dapat
diekspresikan baik secara verbal ataupun
simbolik. Anak mampu membuat presepsi.
Anak manjadi dewasa secara fifik. Permainan
menjadi lebih normal dan imajinatif. Anak

27
menjadi ingin tahu dan banyak bertanya Bantu remaja untuk belajar mengenai perasaan
mengenai kesehatan. dan kebutuahn untuk mengekspresiakn diri.
Remaja Izinkan remajaq untuk mengambil keputusan
Remaja mengalami konflik anatara perasaan mengenai kesehatan dan peningkatan
kekanak-kanakan tentang ketergantungan dan kesehatan (mis. keamanan, pendidikan seks,
kebebasaan sebagai orang dewasa. Remaja ketergantunagn obat). Guanakan pendekatan
ingin menguasai namun selama masa sakit, pemecahan masalah untuk membantu remaja
menjadi takut tentang konsep diri atau dalam mengambil keputusan.
penampilan tubuh. Renmaja mampu mengatasi
masalah abastrak. Remaja paling baik belajar
jika kerbehasialan belajarnya segera dapat Dorong partisipasi dengan menetapkan target
dirasakan. keberhasilan yang menguntungkan. DOrong
belajar mandiri. Tawarkan informasi sehingga
Orang Dewasa orang dewasa dapat memahami dampak dari
orang dewasa menuruti pengajaran kesehatan masalah kesehatan.
karena klien takut tentang akibatnya.
Pengajaran berjalan ketika ornag dewasa
menilai informasi yang diajarkan bermanfaat. Ajarkan ketika klien siap dan santai. Libatkan
orng dewasa dalam diskusi dan akivitas.
Lansia Fokuskan pada kesehatan dan kekuatan klien.
Seringkali terdapat penurunan dalam kepekaan Gunakan pendekatan yang menguatkan
vidula dan auditori, seperti ketidakseimbangan gangguan sensorik resepsi klien akan stimulasi
presespsi stimuli. Perubahan sernsori, . Berlakukan durai pengajaran yang pendek.
keterbatasan, mobilitas dan masalah koordinasi
fidik mempengaruhi kapasitas belajar. Siklus
tidur-bangun menjadi terpecah-pecah. Lansia
bangga dengan kemandiriannya. Tidak terjadi
penurunan intelegensia seiring penambahan
usia.

2. Kemampuan Fisik

28
Kemampuan untuk belajar seringkali bergantung pada tingkat
perkembangan pada tingkat perkembangan fisik serta kesehatan fisik
secara umum. Untuk mempelajari kemampuan psikomotor, seorang
klien harus memiliki tingkat kesehatan, koordinasi, dan ketajaman
sensor yang diperlukan. Misalnya, akan sia-sia mengajarkan klien
berpindah dari tempat tidur ke kursi roda jika klien memiliki kekuatan
tubuh bagian atas yang tidak memadai. Seorang klien yang sudah tua
tidak dapat belajar untuk memasang perban elastis dengan pengelihatan
yang baik atau ketidakmampuan untuk memasang perban dengan cukup
kuat. Karena itu, perawat harus memperhatikan tingkat kemampuan
atau statusklien. Pelengkap fisik berikut ini sangat dibutuhkan untuk
peserta didik mempelajari kemampuan psikomotor.

1. Ukuran (tinggi dan lebar sesuai dengan tugas yang harus


dilakukan atau perlengkapan yang digunakan [mis. penopang
kaki])

2. Kekuatan (kemampuan klien untuk mengikuti program


latihan yang melelahkan)

3. Koordinasi (pengaturan sangat dibutuhkan dalam


kemampuan morot yang rumit, seperti penggunaan peralatan
atau mengganti perban)

4. Ketajaman sensor (visual, auditori, taktil, pengecap,


penciuman; sensorik harus lengkap untuk menerima dan
berespons terhadap pesan yang diberikan)

Kondisi apapun (mis.rasa sakit) yang menguras tenaga seseorang


juga dapat membuat kemampuan untuk belajar menjadi terganggu.
Seorang klien yang menghabiskan waktunya seharian untuk menjalani tes
diagnostik yang melelahkan umumnya tidak mampu lagi melakukan
kegiatan diskusi dan belajar. Ketika penyakit memburuk karena
komplikasi, seperti demam tinggi atau kesulitan pernapasan maka

29
pengajaran harus dihentikan. Setelah bekerja dengan klien, perawat
mengkaji tingkat energi dengan nilai keinginan klien untuk
berkomunikasi., jumalah aktivitas yang disiapkan, serta respons klien
terhadap pertanyaan. Perawat dapat menunda pengajaran untuk sementara
jika klien membutuhkan istirahat.perawat akan mencapai keberhasilan
pengajaran yang lebih baik jika klien berpartisipasi aktif dalam
pengajaran.

2.6.3. Lingkungan Belajar


Faktor dalam lingkungn fisik merupakan faktor di masa pengajaran
dilakukan sehingga membuat proses belajar tersebut menjadi menyenangkan
atau menjadi suatu pengalaman yang menyulitkan. Perawat harus memilih
lingkungan yang membantu klien untuk memfokudkan dari pada tugas
pembelajaran. Jumlah peserta yang diajarkan, kebutuhan untuk ketenangan,
temperature ruangan, pencahayaan, kebusingan, ventilasi udara dan perabot
ruangan sangat penting dalam memilih tempat.

Lingkungan yang ideal untuk belajar adalah lingkungan yang cukup


teneng dan memiliki sirkulasi udara yang baik, perabot yang layak dan suhu
udara yang nyaman. Ruang yang gelap akan mengganggu kemampuan klien
untuk memperhartikan tindakan perawat , terutama ketika
mendemonstrasikan sesuatu atau menggunakan bantuan visual seperti poster
atau famplet. Ruangan yng dingin, panas atau penuh sesak juga akan
mengganggu kenyamanan klien dalam memperhatiakn aktivitas perawat.
Kursi yang nyaman akan membantu menghilangkan gangguan, seperti
kebutuhan atau mengganti posisi atau memindahkan berat tubuh.

Suasana yang tenang juga sangat penting . Suasana yang tenang akan
memingkinkan privasi, dimana intrupsi tidak atau jarang terjadi. Perawat
dapat meberikan privasi bahkan dalam sebuat rumahsakit yang sibut dengan
menutup tirai atau membawa klien ke temmpat yang tenang. Di dalam rumah,
kamar tidur mungkin dapat memisahakan klien dari aktivitas rumah tangga.

30
Jika klien mengkhendaki, anggota keluarga mungkin dapat terlibat dalam
diskusi. namun , seorang klien mungkin akan merasa enggan mendiskusikan
penyakitnya ketika orang lain, meskipun kerabat dekatnya bwrada di dalam
ruangan.

Mengajarkan sekelompok klien membutuhkan ruangan di mana semua


orang dapat duduk dengan nyaman dan dapat mendengar pengajarannya.
Ukuran ruangan ruangan janagan terlalu bersar yang memungkinkan orang
untuk duduk di luar kelompok. Atur posisi kelompok sehingga setiap peserta
dapat mengamati satu sama lain akan meningkattkan pengajaran. Komunikasi
yang lebih efektif akan berjalan ketika mereka yng belajar mengamati
interaksi verbal dan non verbal.

2.7. Penggabungan Proses Keperawatan dan Proses Pengajaran

Suatu hubungan akan muncul antara proses keperawatan dan proses


pengajaran dimana perawat memproses seluruh pengkajian sehingga akan
tampak kebutuhan perawatan kesehatan klien. Diagnosa keperawatan yang
diidentifikasikan adalah unik pada situasi klien. Rencana perawatan bersifat
individual, yang mencakup terapi keperawatan yang dibuat untuk
meningkatkan atau mempertahankan tingkat kesehatan klien. Evaluasi akan
menentukan tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan perawatan.

Ketika mendiagnosis masalah asuhan kesehatan klien, perawat


mungkin juga mengidentifikasi kebutuhan pendidikan. Ketika pendidikan
menjadi suatu bagian dari renacana asuhan, proses pengajaran akan dimulai.
Seperti, proses keperawatan, proses pengajaran membutuhkan pengkajian,
dalam hal ini menganalisis kebutuhan, motivasi dan kemampuan klien untuk
belajar (Tabel 15-4). Pernyataan diagnostic menentukan informasi atau
keahlian yang dibutuhkan klien. Perawat menetapkan tujuanpengajaran

31
khusus dan mengimplementasikan rencana pengajaran dengan menggunakan
prinsip belajar mengajar untuk menjamin bahwa klien memperoleh
pengetahuan dan keahlian. Akhirnya, proses pengajaran membutuhkan
evaluasi pembelajaran yang dilakukan berdasarkan tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan.

Proses keperawatan dan pengajaran tidak sama. Proses keperawatan


membutuhkan pengkajian atas seluruh sumber data untuk menentukan
kebutuhan perawatan kesehatan. Proses pengajaran memfokuskan pada
kebutuhan pengajaran klien dan keinginan serta kemampuan untuk belajar.
Tabel 15-4 membandingkan proses pengajaran dan proses keperawatan.

Tabel 15-4 Perbandinagn antara proses keperawatan dan pengajaran


Langkah dasar Proses keperawatan Proses pengajaran
pengkajian Kumpulkan data mengenai Kumpulkan data mengenai
kebutuahan fisik, psikologis, sosial, kebutuhan belajar klien,
kultrul, perkembangan dan spiritual motivasi, kemampuan untuk
klien dari klien itu sendiri, keluatga, belajar serta sarana
tes diagnostic, catatan medis, pengajaran dari klien,
riwayat keperawatan dan literature. keluarga, lingkungan
belajar, catatan medis,
riwayat keperawatan dan
literature.
Diagnose Identifikasi diagnose keperawatan Identifikasi kebutuhan
keperawatan yang tepat. pengajaran klien mengacu
pada tiga domain
pengajaran.
Perencanaan Kembangkan rencana asuhan secara Tetapkan tujuan pengajaran.
individual. Tetapkan prioritas Rumuskan dalam
diagnose berdasarkan kebutuhan terminology tingkah laku.
segera klien. Rundingkan rencana Identifikasi prioritas yang
asuhan dengan klien berhubungan dengan
kebutuhan belajar.

32
Rundingkan dengan klien
tentang rencana pengajaran.
Identifikasi metode
pengajaran yang digunakan
Implementasi Lakukan terapi asuhan Implementasikan metode
keperawatan. Libatkan klien pengajaran. Secara aktif
sebagai peserta aktif dalam asuhan libatkan klien dalam
keperawatan. Libatkan keluarga aktivitas pengajaran.
dalam asuhan sesuai kebutuhan . Libatkan partisipasi
keluarga sesuai kebutuhan.
Evaluasi Identifikasi keberhasilan dalam Nilai hasil proses belajar-
memenuhi hasil yang diharapkan mengajar. Ukur kemampuan
serta keberhasilan asuhan klien untuk mencapai tujuan
keperawatan. pengajaran.
Ulangi pengajaran bila
dibutuhkan.

2.7.1. Pengkajian

Untuk mencapai keberhasilan dalam mengajarkan klien, perawat perlu


melakukan pengkajian seluruh factor yang mempengaruhi hal-hal yang
berkaitan, kemampuan klien untuk belajar dan sumber intruksional.
Kebutuhan pembelajaran klien menentukan pilihan isi pengajaran.

1. Kebutuhan Pembelajaran

Perawat menetapkan informasi yang penting bagi klien untuk


belajar, yang akan menentukan pilihan isi pengajaran. Pengajaran
membutuhkan perubahan, bergantung pada posisi situs kesehatan klien
dalam proses kesembuhan. Pengkajian dalah suatu aktivitas yang terus
berlangsung. Suatu pengkajian yang efektif menjadi dasar dimana
instruksi dapat bersifat individual yang diberikan pada masing-masing
klien (Redman, 1993). Perawat mengkaji hal-hal berikut :

33
a. Pertanyaan yang diajukan oleh klien atau keluarga mengenai
masalah kesehatan. Ketika klien merasa ia perlu mengetahui
sesuatu, perawat menyadari bahwa klien akan siap untuk
belajar.
b. Tingkat pemahaman klien entang status kesehatan terkini,
implikasi penyakit, jenis terapi dan prognosis. Informasi
tersebut akan membantu dalam penentuan persepsi klien
tentang ancaman penyakit dan pengaruhnya pada gaya hidup.
c. Informasi atau keahlian yang dibutuhkan oleh klien untuk
melakukan perawatan diri dan untuk memahami implikasi
masalah kesehatan. Anggota tim perawatan kesehatan
mengantisipasi kebutuhan pengajaran yang berhubungan
dengan masalah kesehatan tertentu. Misalnya, klien yang baru
didiagnosisu menderita diabetes jelas harus belajar untuk
mengontrol dietnya. Klien yang baru menjalani operasi besar
harus mempelajari keterbatasanfisiknya yang ditimbulkan
karena prosedur tersebut.
d. Pengalaman klien yang mempengaruhi kebutuhan untuk
belajar, misalnya, klien yang telah menjalani pembedahan akan
lebih terbiasa dengan prosedur praoperasi.
e. Informasi yang dibutuhkan oleh anggota keluarga untuk
mendukung kebutuhan klien. Isi informasi bergantung pada
peran keluarga dalam membantu klien.

2. Motivasi untuk Belajar

Perawat menggunakan beberapa perangkat untuk mengkaji


motivasi klien untuk belajar. Jika media semacam ini tidak tersedia,
perawat dapat mengajukan pertanyaan yang akan menunjukkan motivasi
klien. Pertanyaan ini akan membantu untuk menentukan apakah klien
siap dan ingin belajar. Meskipun klien mungkin memiliki berbagai
kebutuhan untuk belajar. Meskipun klien mungkin memiliki berbagai
kebutuhan untuk belajar, kurangnya motivasi dapat secara serius

34
menghalangi keberhasilan rencana pengajaran. Perawat mengkaji faktor
motivasi di bawah ini.

a. Tingkah laku klien (mis, rentang perhatian, kecendrungan untuk


bertanya, daya ingat dan kemampuan untuk berkosentrasi ketika
bertanya)
b. Pandangan tentang kesehatan klien serta persepsi tentang
keparahan masalah kesehatan, keberhasilan pengobatan terkini
serta perluasan kemungkinan membahayakan diri.
c. Sikap klien terhadap pemberi asuhan kesehatan (mis, peran klien
dan perawat dalam pengambilan keputusan). Klien akan lebih
menghargai jika penetapan tujuan dilakukan secara bersama-
sama.
d. Pengetahuan klien tentang informasi yang akan dipelajari. Klien
harus memerankan peran aktif dalam mencari informasi yang
berhubungan dengan kesehatan.
e. Rasa sakit, kepenatan, kecemasan atau gejala fisik lainnya yang
dapat mempengaruhi kemmapuan untuk hadir dan berpartisipasi.
Dalam perawatan akut, kondisi fisik klien dapat dengan mudah
menghalangi proses belajar.
f. Latar belakang sosio-kultural klien. Ketika berbagai terapi dpat
dipengaruhi oleh norma sosio-kultural atau tradisi
g. Pilihan gaya belajar klien. Ketika berbagai pilihan untuk belajar
tersedia (mis, brosur, video, diskusi) klien mungkin memandang
suatu pendekatan tertentu lebih menarik. Merritt (1991) meneliti
pilihan gaya belajar dari klien yang menjalani bedah jantung dan
mendapatkan bahwa mereka lebih memilih model instruksi yang
terinci dan dengan menggunakan sistem oral dan model presentasi
dengan gambar-grafik yang teratur dari pada model instruksi
bebas.

3. Kemampuan untuk Belajar


Perawat menetapkan tingkat fisik dan kognitif klien. Pemberi
asuhan kesehatan seringkali meremehkan kekurangan kemmapuan

35
kognitif klien. Berbagai faktor dapat menyebabkan timbulnya gangguan
kemmapun untuk belajar, termasuk temperature tubuh, kadar elektrolit,
status oksigenasi dan kadar glukosa darah. Dalam perawatan akut,
beberapa dari faktor ini sewaktu-waktu dapat mempengaruhi klien.
Perawat mengakaji faktor di bawah ini yang berhungan dengan
kemampuan untuk belajar.
a. Kekuatan fisik, pergerakan dan koordinasi. Perawat menetapakan
sampai sejauh mana klien dapat menunjukkan kemampuannya.
b. Kurangnya fungsi sensorik yang dapat mempengaruhi
kemampuan klien untuk memahami atau mengikuti instruksi.
Contoh berikut ini akan menjelaskan hal tersebut.

Studi kasus

Ny. Lyon

c. Tingkat baca klien. Hal ini dapat menjadi sesuatu yang sulit dikaji
karena klien yang tidak dapat membaca seringkali dapat
menghindarinya dengan menggunakan alasan tidak memiliki
waktu atau kacamatanya tertinggal di rumah. Perawat meminta
klien untuk membaca instruksi dari brosur pengajaran dan
kemudian menjelaskan maknanya.
d. Tingkat perkembangan klien. Hal ini mempengaruhi pendekatan
yang dipilih oleh perawat selama pengajaran.
e. Fungsi kognitif klien, meliputi daya ingat, pengetahuan, asosiasi
dan kemampuan menilai.

4. Lingkungan Pengajaran

Lingkungan untuk suatu pengajaran harus bersifat kondusif.


Perawat mengkaji faktor berikut ini ketika mencari tempat untuk
mengajar klien.

36
a. Gangguan suara atau kebisingan. Suatu area yang tenang harus
bersedia untuk pengajaran.
b. Kenyamanan ruang, termasuk ventilaisi, temperature, penerangan
dan tempat duduk.
c. Fasilitas ruangan dan perlengkapan yang tersedia.

5. Sarana untuk Belajar

Klien mungkin membutuhkan dukungan anggota keluarga atau


orang lain. Dalam kasus ini perawat mengkaji kesiapan dan kemampuan
keluarga dan teman untuk mempelajari informasi yang butuhkan dalam
perawatan klien. Perawat juga harus memahami lingkungan rumah.
Pengkajian terhadap sumber juga mencangkup tinjauan setiap perangkat
pengajaran yang tersedia. Perawat mengkaji sumber berikut ini untuk
pengajaran :

a. Persepsi anggota keluarga dan pemahaman tentang penyakit klien


serta implikasinya. Persepsi keluarga harus sesuai dengan
persepsi klien; jika tidak, kemungkinan akan muncul konflik
dalam renacana pengajaran.
b. Keinginan klien agar anggota keluarga dilibatkan dalam rencana
pengajaran dan memberikan perawatan kesehatan. Informasi
mengenai perawatan kesehatan klien bersifat rahasia, kecuali jika
klien memilih memberitahukannya pada orang lain. Kadang
sangat sulit bagi klien untuk menerima bantuan dari anggota
keluarga, terutama ketika berkaitan dengan fungsi tubuh.
c. Keinginan keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan.jika
klien memilih untuk berbagi informasi mengenai status kesehatan
dengan anggota keluarga, kemampuan dan keinginan anggota
keluarga tersebut harus dikaji untuk berpartisipasi dalam
perawatan klien. Tidak semua anggota keluarga mau bertanggung
jawab, berkeinginan atau mampu membantu dalam perawatan.
d. Sumber dalam lingkungan rumah. Meliputi keinginan seseorang
untuk membantu klien dalam menjalani prosedur seperti

37
memandikan atau memberikan medikasi, sumber finansial atau
material seperti menyediakan perlengkapan perawatan kesehatan,
serta sarana arsitektural seperti pengaturan ruangan atau tangga.
e. Perlengkapan pengajaran, seperti brosur, sarana audiovisual atau
poster. Bahan bacaan harus sesuai dengan tingkat kemampuan
membaca klien dan bahan tersebut disusun secara jelas dan logis.
Brosur atau buku panduan harus actual.

2.7.2. Diagnosa Keperawatan

Setelah mengkaji informasi yang berhubungan dengan kemampuan


klien dan kebutuhannya untuk belajar, perawat menginterpretasikan data
untuk menyusun diagnosa yang menggambarkan kebutuhan pembelajaran
tertentu klien. Hal ini akan memastikan bahwa pengajaran akan diarahkan ke
tujuan dan bersifat individual. Jika seorang klien memiliki beberapa
kebutuhan belajar, diganosa keperawatan akan membantu prioritas.

Beberapa diagnosa keeperawatan mencukupi kebutuhan pengajaran.


Setiap pernyati kebutuhan diagnosa menunjukkan tipe khusus dari kebutuhan
pengajaran dan penyebabnya. Melakukan klarifikasi diganosa dengan tipe
domain pengajaran akan membantu perawat untuk dapat secara spesifik
memfokuskan pada masalah subjek dan metode pengajaran.

Beberapa masalah perawatan lkesehatan dapat diatasi atau dihilangkan


melalui pendidikan. Dalam situasi ini faktor yang berhubungan dengan
pernyataan diagnosa adalah kurangnya pengetahuan. Misalnya, seorang klien
dapat mengalami kesulitan dalam berinteraksi secara sosial karena kurangnya
kemampuan komunikasi yang efektif, atau kurang perawatan dari akan
muncul karena dasar pengetahuan yang tidak adekuat.

Beberapa diagnosa keperawatan juga mengindikasikan bahwa


pengajaran mungkin tidak tepat. Perawat dapat mengindentifikasikan kondisi
yang menimbulkan kendala untuk pengajaran efektif (mis: rasa sakit atau

38
tidak toleran aktivitas). Dalam kasus ini, perawat menunda pengajaran sampai
diagnosa keperawatan diputuskan atau ketika masalah kesehatan dikontrol.

2.7.3. Perencanaan

Setelah penetapan diagnosa keperawatan yang mengidentifikasikan


kebutuhan pengajaran, perawat mengembangkan rencana pengajaran,
menetapkan tujuan dan hasil yang diharapkan, serta melibatkan klien dalam
memilih pengalaman belajar. Hasil yang diharapkan akan memandu pilihan
strategi pengajaran dan pendekatan dengan klien. Partisipasi klien akan
membentuk rencana menjadi lebih bermakna dan relevan.

1. Pengembangan Tujuan Pembelajaran

Langkah awal dalam menyusun rencana pengajaran adalah


mengembangkan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran
mengidentifikasikan hasil yang diharapkan dari pengalaman pembelajaran
yang terencana dan membantu mentapkan prioritas pembelajaran. Selain
seluruh perencanaan, sesi instruksional tertentu seringkali mengarah pada
pengajaran yang tidak diharapkan. Terkadang mungkin sulit untuk
mengantisipasi seluruh objektivitas untuk sesi pengajaran. Namun, tujuan
membuat guru merenvanakan sesi pengajaran sehingga waktu
dimaksimalkan dan sarana yang terbaik akan tersedia untuk pembelajaran.

Tujuan dapat jangka panjang maupun pendek,. Tujuan jangka


pendek berhubungan dengan kebutuhan belajar klien yang segera, seperti
pengetahuan tentang terjadinya penyakit batu kandung kemih untuk
memahami tes yang akan datang. Tujuan jangka panjang berhubungan
dengan kemahiran pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan secara
permanen untuk beradptasi dengan masalah kesehatan. Seperti tujuan dari
perawatan , tujuang jangka panjang umumnya menyeluruh. Tujuan

39
janhgka pendek dapat dibandingkan dengan langkah yang diambil untuk
mencapai tujuan jangka panjang.

Tujuan yang ditetapkan oleh perawat dan klien akan memandu


rencana pengajaran. Tujuan yang tidak terencana dapat menyebabkan
kebingungan ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Selain itu, tujuan
pengajaran meliputi kriteria yang sama dengan tujuan atau hasil dalam
rencana asuhan keperawatan, yaitu meliputi hal-hal di bawah ini :

1. Perilaku tunggal

2. Isi yang dapat diobservasi atau diukur

3. Penetapan waktu atau kondisi dimana tujuan diukur

4. Tujuan yang ditetapkan secara bersama-sama oleh klien dan


perawat.

Setiap tujuan adalah pernyataan tingkah laku satuan yang


mengindentifisikan kemampuan peserta didik untuk melakukan sesuatu
setelah mengikuti pembelajaran. Tujuan tingkah laku mengandung kata
kerja aktif yang menunjukkan apa yang peserta didik akan lakukan setelah
tujuan terpenuhi, seperti melakukan jalan dengan kruk, memberi injeksi,
atau mengidentifikasi dosis obat. Kata kerja harus memiliki beberapa
interpretasi , menggambarkan, dan dinyatakan dalam terminologi
bagaimana klien menunujukkan pembelajaran bukan apa atau bagaimana
pengajar mengajar (Redman, 1993). Perilaku tunggal sangat mudah untuk
dievaluasi pada akhir instruksi.

Tujuan tingkah laku dapat diukur dan diobservasi, serta


mengindikasikan bagaimana pembelajaran diterapkan. Tujuan
menunjukkan tingkah laku dan isi yang tepat. Contoh dari tujuan yang
samar atau tidak spesifik dapat berupa tidak banyak tahu mengenai
diabetes. Contoh ini tidak menjelaskan apa yang dilakukan oleh peserta
ajar, dan menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana tingkah laku dapat

40
diukur. Jika isinya hilang, tujuan tidak dapat memnadu proses belajar-
mengajar. Tingkah laku yang tepat dan kandungannya akan menetapkan
standar timbal balik yang merefleksikan pengjaran dan membentuk dasar
untuk evaluasi dalam rencana pengajaran.

Tujuan menjadi lebih tepat ketika meggambarkan kondisi atau


waktu dimana tingkah laku tersebut terjadi. Kondisi atau rangka waktu
harus realistis dan disusun untuk kebutuhan peserta didik. Jika kondisi
dimana klien atau keluarga akan secara khas menunjukkan tingkah laku
belajar juga diperhatikan, hal ini akan sangat membantu. Kriteria
penampilan yang dapat diterima akan menetapkan standar dimana
pencapaian tujuan diukur. Seorang guru menerapkan kriteria dasar tingkat
keakuratan, kesuksesan atau kepuasan yang diharapkan. Misalnya, seorang
klien yang menjalani terapi fraktur pada kaki akan berjalan dengan
menggunakan penopang sampai di ujung gang dalam waktu tiga hari.
Kriteria akan lebih dapat diterima ketika ditetapkan oleh pengajar dan
peserta didik. Namun, perawt bertindak sebagai sumber dalam menetapkan
kriteria keberhasilan minimal. Kriteria di mana klien dan peraat setuju
akan membantu dalam menetapkan tingkah laku yang diharapkan dan
kualitas penampilan. Klien juga menggunakan krioeria ini untuk
mengevaluasi diri, yang menjadi motivator kuat dari perilaku.

Setelah merumuskan tujuan, perawat dan klien bekerja untuk


menetapkan rencana pengajaran. Selama perencanaan, perawat
mengintregrasikan prinsip pengajaran dan mengembangkan wakrtu
pelaksaan dan mengorganisasi rencana pengajaran.

2. Integrasi Prinsip Pengajaran Dasar

Prioritas pengajaran harus merefleksikan prioritas diagnose


keperawatan. Pengajaran adalah proses yang membimbing seseorang
untuk belajar. Ketika mengembangkan rencana pengajaran, perawat
mempertimbangkan prinsip yang meningkatkan keefektifannya. Dunia

41
pengajaran berhadapan dengan tingkah laku pengajar, alasan pengajar
bertingkah laku sedemikian rupa, serta pengaruh tingkah laku mereka pada
peserta didik. Tidak ada sebuah cara pengajaran yang benar, karena setiap
situasi pengajaran menentukan cara yang terbaik untuk mengajar. Prinsip
pengajaran adalah, dalam efeknya. Teknik yang menggabuuungkan prinsip
pembelajaran.

Penetapan Prioritas. Prioritas untuk pengajaran didasarkan pada


diagnose keperawatan dan tujuan pengajaran yang ditetapkan untuk klien.
Kebutuhan pengajaran klien harus ditetapkan menurut urutan prioritas
untuk menghemat waktu dan energy klien dan perawat. Misalnya, klien
dengan luka permanen pada kaki mengalami kurang pengetahuan
mengenai sifat luka dan implikasinya, juga tipe kemampuan yang
dibutuhkan untuk kembali menjalani kehidupan yang normal di rumah.
Klien akan mendapatkan keuntungan dari pengajaran pertama mengenai
luka dan perubahan fisik sebagai akibat dari luka sebelum mempelajari
bagaimana mengatasi ketidakmampuannya.

Waktu. Kapankah waktu yang tepat untuk mengajar? Ketika


seorang klien pertama kali memasuki klinik atau rumah sakit? Saat akan
keluar? Di rumah? Setiap jawaban dia atas mungkin tepat karena klien
terus membutuhkan pengajaran dan kesempatan selama mereka tinggal
dalam sistem perawatan kesehatan. Perawat menetapkan kesiapan klien
untuk belajar. Penetapan wkatu akan menyulitkan karena penekanan
diberikan sebelum klien meninggalkan rumah sakit. Misalnya, akan
membutuhkan waktu setelah pembedahan bagi klien untuk bebas dari rasa
ketidaknyamanan sehingga perhatian dapat diberikan pada pengajaran.
Ketika klien merasa siap untuk belajar, kepulangannya dapat dijadwalkan.
Perawat harus merencanakan aktivitas pengajaran untuk suatu waktu di
mana klien menjadi sangat perhatian, tanggap dan responsive. Banyak
rumah sakit memberikan informasi pada klien sebelum masuk. Aktivitas

42
klien harus diatur demi menyediakan waktu untuk beristirahat dan
melakukan interaksi belajar-mengajar.

Durasi setiap sesi pengajaran juga mempengaruhi kemampuan


belajar. Sesi yang diperpanjang akan menyebabkab menurunnya perhatian
dan konsentrasi. Umumnya sebuah sesi yang berlangsung selama 20 menit
akan lebih mudah ditoleransi dan menarik minat klien atas materi yang
diberikan. Namun, masa tinggal di rumah sakit yang lebih pendek dan
kurangnya penggantian untuk sesi pendidikan pasien di luar mungkin akan
membutuhkan sesi pengajaran yang lebih panjang. Perawat dapat mengkaji
hilangnya konsentrasi klien dengan mengamati petunjuk non-verbal,
seperti berkurangnya kontak mata atau postur yang tidak tegak. Setelah
hilangnyan konsentrasi terjadi, sesi tersebut harus dihentikan. Namun sesi
pengajaran tidak boleh terlalu sebentar dan dangkal. Klien membutuhkan
waktu untuk menangkap informasi dan memberikan respons.

Sesi pengajaran harus dilakukan cukup rutin untuk mencatat


pelajaran klien. Frekuensi sesi-sesi tersebut bergantung pada kemampuan
peserta didik dan kompleksitas material. Misalnya, klien yang baru
didiagnosa mengalami diabetes akan membutuhkan lebih banyak
kunjungan ke pusat pendidikan pasien rawat jalan daripada klien yang
dosis insulinnya diubah setelah 5 tahun. Interval antara sesi pengajaran
tidak boleh terlalu panjang sehingga klien dapat melupakan informasi.
Bagi klien uang meninggalkan rumah sakit, perawat perawatan kesehatan
rumah harus memperkuat pengajaran.

Menyusun Materi Pengajaran. Seorang guru yang baik


memberikan pertimbangan yang hati-hati atas urutan informasi yang
diberikan. Sebuah ragangan materi ajar akan membantu susunan informais
dalam urutan yang logis. Material harus bergerak dari ide yang mudah ke
yang kompleks karena seseorang harus belajar fakta dan konsep yang
sederhana sebelum mempelajari bagaimana melakukan asosiasi atau

43
interpretasi kompleks dari ide-ide tersebut. Misalnya, mengajar klien yang
menderita diabetes untuk mengkalklasikan diet kalori 1200, perawat mula-
mula mengajarkan klien mengenaikalori, protein, lemak dan karbohidrat
serta menggunakan masalh matematika sederhana untuk membantu klien
belajar menghitung jumlahnya. perawat memulai instruksi tentang hal-hal
yang esensial. Klien umumnya akan lebih dapat mengingat informasi yang
diajarkan selama tiga sesi pengajaran yang pertama (Miller,1985).
Misalnya, setelah pembedahan untuk mengangkat tumor kanker pada paru,
predisposisi klien atas kambuhnya kanker akan membuat pengajaran
terhadap tanda peringatan kanker menjadi hal yang penting. Perawat
memulai dengan informasi penting dan kemudia mengakhiri sesi
pengajaran dengan hal-hal yang informative namun tidak terlalu penting.
Pengulangan akan meningkatkan pengajaran. Penyimpulan yang ringkas
atas topic-topik utama akan membantu peserta didik untuk mengetahui
informasi yang paling penting.

Mempertahankan Perhatian dan Partisipasi Pengajaran.


Partisipasi aktif adalah kunci untuk belajar. Seseorang akan belajar dengan
lebih baik ketika lebih dari satu indra distimulais. Bantuan audiovisual dan
permainan peran adalah strategi pengajarn yang baik. Dengan secara aktif
menjalani proses pengajaran, orang tersebut akan dapat menyimpan
pengetahuan yang diperolehnya dengan lebih baik.

Tindakan pengajar juga meningkatkan perhatian dan minat peserta


didik. Ketika melakukan diskusi dengan peserta didik, pengajar harus terus
aktif dengan mengganti warna dan intensitas suara, melakukan kontak
mata serta menggunakan sikap tubuh yang menekankan terminology kunci
dari diskusi yang sedang berjalan. Seorang guru yang efektif seringkali
menggunakan energy yang sama banyak dengan peserta didik, berbicara
dan bergerak di antara peserta didik daripada tetap berada di belakang
meja. Seorang peserta didik akan tetap berminat dengan guru yang secara
aktif tetap antusias dengan subjek diskusi.

44
Membangun Berdasarkan Pengetahuan yang Ada. Seorang
klien paling baik belajar pada dasar kemampuan dan pengetahuan kognitif
yang telah ada. Selain itu, seorang guru akan lebih efektif jika memberikan
informasi yang disusun berdasarkan kemampuan peserta didik yang ada.
Kuncinya adalah mengkaji tingkat kemampuan peserta didik dengan
menemukan berapa banyak mereka telah mengetahui topic yang akan
diberikan. Kemudian sebuah rencana pengajaran harus diterapkan secara
individu berdasarkan kebeutuhan bekajar klien. Seorang klien akan dengan
cepat kehilangan minat jika perawat memulai dengan informasi yang
diketahuinya.

Pemilihan metode pengajaran. Selama perencanan, perawat harus


memilih metode pengajaran yang tepat dan mndorong klien untuk member
masukan. Sebuah metode pengajaran adalah cara di mana pengajar
memberikan informasi dan didasarkan pada kebutuhan belajar klien.
Misalnya, klien kurag psikomotor sebaiknya belajar dengan mekukan
demonstrasi dan praktik yang diawasi. Klien akan menguasai kemampuan
dengan mnggunakan perlengkapan dan dengan mempraktikkan kemampan
manual. Diskusi, sesi Tanya jawab dan pengajaran formal adalah metode
efektif untuk meningkatkan pengajaran kognitif. Kllien dengan intelektual
yang kurang diberikan kesempatan untuk melakukan ekplorasi ide-ide
baru, melakukan hubungan baru dan menerapkan pengetahuan ke dalam
kebutuhan mereka yang unik. Metode yang sangat efektif untuk
menstimulasi peserta didik secara efektif adalah melalui diskusi kelompok.
Sebuah instruksi dapat diterapkan dengan lebih dari satu metode.

3. Penulisan Rencana Pengajaran

Diseluruh lingkungan perawatan kesehatan, perawat


mengembangan rencana pengajaran tertulis untuk digunakan oleh rekan
kerjanya. Ketika perawat, misalnya perawat utama bertangguang jawab
untuk pengambangan rencana pengajaran yang baru, seluruh informasi
tentang klien harus digabungkan dengan cepat.

45
Rencana pengajaran meliputi topik untuk intruksi, sumber elektif
(mis. Perlengkapan atau buku pengajaran), rekomendasi untuk melibatkan
keluarga dan tujuan rencana pengajaran. Sebuah renca dapat berupa
ragangan atau rencana lengap.

Tempat perawatan akan mempengaruhi kompleksitas rencana


pengajaran apapun. Dalam perawatan akut, rencana bersifat ringkas dan
difokuskan pada kebutuhan belajar primer klien karena terdapat
keterbatasan waktu dalam belajar. Rencana pengajaran perawatan
kesehatan rumah mungkin memiliki jangkauan yang lebih luas karena
perawat seringkali memiliki lebih banyak waktu untuk menginstruksikan
klien dank lien seringkali lebih santai dilingkungan rumah.

Sebuah rencana harus meliputi instruksi secara terus menerus,


terutama ketika beberapa perawat terlibat dalam perawatan klien. Rencana
yang lebih spesifik, akan lebih memudahkan perawat untyuk
mengikutinya. Untuk menghindari duplikasi, perawat harus mengetahui
batas akhir sesi pengajaran yang terdahulu.

2.7.4. Implementasi

Implementasi rencana pengajaran meliputi aplikasi seluruh prinsip


belajar mengajar, yang meliputi hal-hal dibawah ini.

a. Mengetahui kebutuhan belajar klien


b. Memilih waktu yang sejalan dengan kesiapan klien dan
kemampuannya untuk belajar
c. Mengetahui kemampuan klien untuk memahami (Miller dan Bodie,
1994)
d. Memilih metode pengajaran yang sesuai dengan kondisi pengajaran
untuk memenuhi kebutuhan belajar klien
e. Memilih dan menetapkan prioritas hal yang akan diajarkan
f. Melibatkan klien dan keluarga dalam rencana pengajaran

46
g. Menyadari kemampuan mengajar personal (mengetahui isi, mengawasi
peserta didik, dan mewaspadai motivasi pribadi)
h. Menggunakan sarana dan bantuan pengajaran yang tepat
i. Mengontrol lingkungan sehingga mendukung pengajaran
j. Menggunakan pengulangan dan penekanan secara tepat
k. Memberikan umpan balik pada klien

Implementasi meliputi kepercayaan bahwa setiap interaksi dengan


klien adalah kesempatan untukmengajar. Perawat memaksimalkan kesempatan
untuk pengajaran secara efektif dan menggunakan pendekatan yang berbeda
untuk menciptakan lingkungan belajar yang aktif.

1. Pendekatan Pengajaran

Pendekatan perawat dalam mengajar berbeda dari metode


pengajaran. Beberapa situasi menuntuk seorang guru untuk bersikap
mengarahkan. Situasi yang lain menuntut pendekatan tidak langsung.
Seorang guru yang efektif berkonsentrasi pada tugas dan menggunakan
pendekatan pengajaran menurut kebutuhan peserta didik. Kebutuhan dan
motivasi seorang peserta didik dapat berubah sesuai waktu. Selain itu,
pengajar harus waspada terhadap kebutuhan untuk melakukan modifikasi
pendekatan pengajaran.

Bercerita. Pendekatan dengan bercerita sangat berguna ketika


informasi yang terbatas harus diajarkan (mis. Menyiapkan klien untuk
prosedur diagnostic darurat). Jika klien sangat gelisah namun informasi
yang harus diberikan sangat vital, bercerita akan sangat efektif. Ketika
menggunakan metode bercerita, perawat menggaris bawahi tugas yang
harus dilakukan oleh klien dan memberikan intruksi rinci. Tidak ada
kesempatan untuk menunggu respon dalam menggunakan metode ini.

Menjual. Pendekatan menjual menggunakan komunikasi dua arah.


Perawat memberikan instruksi berdasarkan respon klien. Intruksi khusus
akan diberikan pada klien yang menunjukkan keberhasilan dalam belajar.
Misalnya, klien mempelajari langkah demi langkah prosedur untuk

47
berganti baju. Perawat menggunakan informasi dari klien untuk
mengadaptasi pendekatan pengajaran.

Partisipasi. Pendekatan partisipasi mencakup penetapantujuan


oleh perawat dan klien dan partisipasi dalam proses belajar secara
bersama. Klien membantu memutuskan isi, dan perawat memandu dan
berkonsultasi dengan klien tentang informasi tersebut. Misalnya, klien
yang menderita diabetes harus belajar diet, olahrga, dan kemungkinan
komplikasi karena penyakitnya. Aktivitas belajar harus diadaptasi untuk
menggabungkan setiap elemen dalam lingkungan rumah. Dalam metode
ini, terdapat kesempatan untuk melakukan diskusi dan revisi rencana
pengajaran.

Kepercayaan. Pendekatan kepercayaan memberikan kesempatan


kepada klien untuk melakukan perawatan mandiri. Tanggung jawab
diterima dan tugas dijalankan dengan baik oleh klien. Perawat
mengobservasi perkembangan klien dan tetap selalu siap sedia untuk
membantu tanpa memperkenalkan informasi baru. Misalnya, klien yang
menderita diabetes telah melakukan penyuntikan insulin mandiri selama
lebih dari tiga bulan. Injeksi dilakukan dengan benar, dank lien dapat
menjelaskan tanda dan gejala kadar glukosa darah yang rendah. Perawat
menginstruksikan klien mengenai dosis insulin yang baru dan membiarkan
klien melakukan injeksi mandiri.

Penekanan. Prinsip penekanan diterapkan pada proses belajar,


namun pengajar harus seringkali menjadi sumber pemberi penekanan.
Penekanan adalah menggunakan stimulus yang meningkatkan
kemungkinan berespons. Peserta didik yang menerima penekanan sebelum
atau setelah tingkah laku belajar yang diharapkan, umumnya akan
mengulangi tingkah laku tersebut. Umpan balik adalah bentuk yang umum
dari penekanan.

48
Tekanan yang diberikan dapat bersifat positif maupun negatif.
Penekanan posistif seperti senyum yang menunjukkan persetujuan, akan
menghasilkan respons yang diharapkan. Penekanan negatif seperti
mengerutkan dahi, mengomel, atau mengkritik akan menghasilkan
perilaku yang diharapkan ketika penekan dihilangkan. Individu umumnya
dapat memberikan respons secara lebih baik pada penekanan yang positif.
Efek penekanan yang negatif lebih baik dapat diperkirakan dan seringkali
tidak diharapkan.

Tiga model penekanan adalah sosial, material, dan aktivitas. Ketika


perawat bekerja dengan klien, sebagian besar penekannya adalah
penekanan sosial (mis. Senyum, pujian, kata-kata yang mendukung atau
kontak fisik) yang digunakan untuk menyatakan tingkah laku yang telah
dipelajari. Contoh dari penekan material adalah makanan mainan dan
music. Material semacam ini paling baik untuk diterapkan pada anak-anak.
Aktivitas penekan bersandar pada prinsip bahwa seseorang termotivasi
untuk terlibat dalam aktivitas jika dijanjikan bahwa setelah dilakukan,
kesempatan untuk turut serta dalam aktivitas yang lebih diinginkan akan
tersedia. Misalnya, klien akan lebih suka menjalani latihan yang
menyakitkan jika setelahnya diberi kesempatan untuk tidur.

Memilih penekanan yang tepat melibatkan pemikiran yang berhati-


hati dan perhatian atas apa yang disukai individu. Melakukan observasi
tingkah laku seringkali membantu menunjukkan penekan yang tepat yang
dapat digunakan. Penekanan tidak boleh digunakan sebagai pengancam,
dan penekanan tidak selalu efektif untuk setiap klien. Seorang anak kecil
akan memberikan respons yang lebih baik pada penekan sosial daripada
anak yang lebih tua atau orang dewasa. Seorang dewasa yang memiliki
hubungan baik dengan perawat akan lebih terpacu daripada orang dewasa
yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan perawat.

2. Menggabungkan Pengajaran dengan Asuhan Keperawatan

49
Banyak perawat yang menyadari bahwa mereka dapat mengajar
secara lebih efektif ketika mereka memberikan asuhan keperawatan.
Misalnya, ketika memandikan klien yang menderita diabetes, perawat
mendiskusikan perawatan kaki, atau ketika memberikan obat, perawat
dapat menjelaskan efek samping dari medikasi. Gaya informal dan tidak
terstruktur mengandalkan hubungan terapeutik positif antara perawat dan
klien, yang memacu spontanitas dalam proses belajar mengajar. Dalam hal
ini bukan berarti menganjurkan bahwa pengajaran harus dilakukan tanpa
rencana yang formal. Ketika perawat mengikuti rencana pengajaran secara
non-formal, klien merasa tidak terlalu ditekan untuk melakukan dan
pelajaran menjadi lebih bersifat aktivitas bersama. Pengajaran selama
perawatan rutinitas sangat efisien dan murah.

3. Metode Instruksional

Metode instruksional yang dipilih berdasarkan kebutuhan belajar


klien, waktu yang tersedia untuk pengajaran, lingkungan, sarana yang
tersedia dan tingkat kenyamanan perawat dengan pengajaran. Pengajar
yang terlatih lebih luwes dalam memberikan metode pengajaran
berdasarkan respons peserta didik. Guru yang berpengalaman
menggunakan berbagai variasi teknik dan perangkat bantuan pengajaran.
Perawat tiak dapat diharapkan menjadi seorang pendidik yang ahli ketika
untuk pertama kalinya melakukan praktik keperawatan. Belajar untuk
menjadi pendidik yang efektif membutuhkan waktu dan latihan.

Ketika mulai mengajarkan klien untuk pertama kalinya, sangat


membantu jika mengingat bahwa klien menganggap perawat sebagai
seorang ahli. Namun, hal ini tidak berarti bahwa perawat memiliki semua
jawaban. Hal itu hanya berarti bahwa klien mengharapkan perawat akan
tetap memberikan informasi yang layak. Perawat dapat memberikan
rencana pengajaran yang efektif, membuatnya tetap sederhana dan

50
difouskan pada kebutuhan klien. Metode pengajaran yang beragam dapat
digunakan dan sejumlah alat bantu pengajaran umumnya tersedia.

Diskusi Satu Lawan Satu. Mungkin metode instruksi yang paling


umum digunakan oleh perawat adalah model diskusi satu lawan satu.
Ketika mengajarkan seorang klien di samping tempat tidur, kantor dokter
atau di dalam rumah, perawat langsung memberikan informasi. Berbagai
alat bantu pengajaran dapat digunakan selama diskusi, bergantung pada
kebutuhan belajar klien. Informasi umumnya diberikan dengan pola
informal, yang membuat klien dapat menanyakan pertanyaan atau
menceritakan masalahnya. Perawat menggunakan diskusi yang tidak
terstruktur dan informal ketika membantu klien memahami implikasi
penyakit dan cara mengatasi masalah kesehatan.

Instruksi Kelompok. Perawat menggunakan instruksi kelompok


dengan klien atau keluarga untuk salah satu alasan di bawah ini (Redman,
1993) :

a. Kelompok adalah suatu cara ekonomis untuk mengajarkan


sejumlah klien pada saat yang bersamaan
b. Pengalaman menjadi bagian dari sebuah kelompok mungkin adalah
cara yang paling disukai oleh klien untuk memenuhi tujuan belajar.

Instruksi kelompok seringkali melibatkan baik belajar maupun


diskusi. Pengajar umumnya sangat terstruktur dan efisien dalam
membantu sekelompok klien mempelajari isi standar mengenai subjek
tertentu. Misalnya, perawat mungkin mengajarkan kelompok klien
mengenai tanda kanker payudara, risiko kesehatan karena merokok, atau
perkembangan normal fetus. Pengajar tidak menjamin bahwa peserta didik
secara aktif memikirkan materi yang diberikan. Namun sesi diskusi dan
latihan tetap penting. (Redman, 1993)

Setelah mendengar informasi dari seorang pengajar, peserta didik


membutuhkan kesempatn untuk berbagi ide dan mencari kejelasan.

51
Diskusi kelompok akan memungkinkan klien dan keuarga untuk belajar
satu sama lain ketika mereka mengulangi pengalaman umum. Kelompok
diskusi yang produktif akan membantu pesertanya dalam memecahkan
masalah dan mencari solusi untuk meningkatkan kesehatan setiap
anggotanya. Untuk dapat menjadi pemimpin yang efektif, perawat harus
dapat menyimpulkan masalah kunci akan memacu keikutsertaan
kelompok. Namun, tidak semua klien memperoleh keuntungan dari diskusi
kelompok, dan seringkali tingkat kesehatan fisik dan emosi akan
menghalangi partisipasi.

Instruksi Pendahuluan. Klien seringkali menghadapi


pemeriksaan atau prosedur yang tidak biasa dijalaninya yang
menyebabkan timbulnya ansietas. Pemberian informasi mengenai prosedur
akan membantu klien membentuk imajinasi realistis atas apa yang harus
diantisipasi. Hal ini adalah harapan klien yang umum dalam lingkungan
perawatan akut karena informasi membantu memberikan kontrol pada
mereka. Ketika pengalaman yang dialami sesuai dengan apa yang
diharapkan, klien umumnya akan mengahdiri pertemuan selanjutnya.
Perawat akan menerima penghargaan ketika penjelasan pendahuluan yang
diberikan terbukti berguna. Perawat akan menggunakan panduan di bawah
ini dalam memberikan penjelasan pendahuluan :

a. Sensasi fisik selama prosedur digambarkan, bukan dinilai. Misalnya,


ketika menggambar specimen darah, perawat menjelaskan bahwa
klien akan merasakan sensasi yang lengket ketika jarum menembus
kulit.
b. Penyebab sensasi tersebut dijelaskan, mencegah kesalahan
interpretasi terhadap tindakan. Misalnya, perawat menjelaskan
bahwa rasa perih pada area tusukan jarum karena alkohol yang
digunakan untuk membersihkan kulit memasuki wilayah yang
memar.
c. Klien dipersiapkan hanya untuk aspek pengalaman yang umumnya
diperhatikan oleh klien lain. Misalnya, perawat menjelaskan bahwa

52
normal jika torniket yang kencang akan menyebabkan tangan
seseorang kesemutan dan mati rasa.

Klien akan merasa nyaman jika mengetahui apa yang akan terjadi.
Ketika despkripsi perawat secara akurat sesuai dengan pengalaman
sesungguhnya, klien akan mampu secara lebih efektif mengatasi stress
karena prosedur dan terapi. Pengetahuan terhadap sesuatu akan sedikit
menimbulkan rasa sakit daripada tidak mengetahui apapun.

4. Berbicara dengan Bahasa Klien

Penting untuk menggunakan kata-kata yang dipahami oleh klien.


Perawat mendefinisikan istilah keperawatan atas medis yang tidak dikenal
dan menggunakannya secara konsisten selama sesi penyuluhan. Istilah
medis dapat membingungkan.

Byrne dan Edeni (1984) menemukan bahwa klien hanya


memahami lebih sedikit istilah medis disbanding yang diperkirakan oleh
professional kesehatan. Masalah buta huruf fungsional adalah nyata. Urang
dari 25 jta orang Amerika mengalami buta huruf fungsional ( tidak dapat
membaca materi lebih dari tingkat sekolah dasar) marginal ( tidak dapat
menggunakan atau membaca materi tertulis untuk memenuhi kebutuhan
harian mereka.). meskipun masalah ini muncul dalam setiap ras, orang
Afrika-Amerika , orang Amerika asli, maupun Hispanik memiliki tingkat
tertinggi (Fain, 1994). Sekolah selama bertahun-tahun tidak menjadi
indicator yang akurat tentang kemampuan membaca( Miller dan Bodei,
1994).

Untuk mengatasi masalah tersebut, kesiapan materi pendidikan


kesehatan secara efektif dikaji dan telah menunjukkan jangkauan dari
tingkat sekolah dasar sampai tingkat sekolah menengah atas (Owen, et al,
1993). Misalnya, empat pmflet dari American Heart Association dan
National Heart, Lung and Blood Institute ditemukan memiliki tingkat
kemampuan membaca 14,7 (Merritt et al, 1993). Studii juga menunjukkan

53
bahwa klien dapat lebih memahami informasi yang disiapkan pada tingkat
sekolah menengah(Estey et al, 1994). Selan itu, nampaknya informasi
kesehtan tertulis yang tersedia bagi klien seringkali melebihi kemampuan
baca klien.

Implikasi dari masalah ketidaktahuan akan mengakibatkan


buruknya kemampuan komunikasi untuk endidikan klien, termasuk
ketidakmampuan klien untuk menganalisis instruksi atau melakukan
sintesis informasi dan menerapkannya dalam tindakan. Selain itu, orang
dewasa yang tidak terdidik tidak memiliki kemampuan memecahkan
masalah dari pengambilan keputusan dan pengambilan keputusan
berdasarkan pengalaman, serta mereka tidak akan mengajukan pertanyaan
untuk memperoleh infofrmasi atau mendapatkan informasi ang jelas dari
apa yang telah diberikan.

Perawat harus mengatasi maslaah kurang pengetahuan ini dengan


menggunakan terminology yang sederhana unutk meningkatkan
pemahaman klien. Sering bertanya kepada klien untuk mengetahui
responnya, akan menentukan apakah klien memahami. Selain itu, meminta
mereka untuk melakukan demonstrasi ulang akan membantu menjelaskan
instruksi dan memberikan waktu pengulangan prosedur. Materi pengajaran
harus ditulis pada tingkat kemampuan baca sekolah dasar dengan
mempertahankan penggunaan kata dan kalimat yang pendek, ukuran
tulisan yang besar dan bentuk yang sederhana.

Perawat juga harus mengetahui latar belakang budaya dan


kepercayaan klien serta kemampuan untuk memahami instrukai Yng
berkembng di luar bahasa ibu ( lihat kotak disebalah). Perbedaan
kebudayaan terus meningkat dan menjadi tantanngan besar bagi perawat
untuk mencoba memberikanashan yang sensitive secara budaya.

Perawat kesehaan komunitas mengkaji kebutuhan terhadap pemberian


pendidikan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) yang

54
dibutuhkan pada tiga orang remaja pria dalam keluarga Meksiko-
Amerika dalam beban kasusnya. Perilaku
ketergantungan( ketergantungan alcohol dan obat-obatan) lebih tinggi
diantara masyarakat Hispanik dibandingkan kelompok lainnya,
terutama karena machismo, alcohol dan obat-obatan menunjukkan
kekuatan dan saling berbagu jarum suntik dan spuit untuk
membagikan vitamin, medikasi, atau alat kontrasepsi di Meksiko.
Dalam memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tersebut,
perawat mengandalkan interpretasi kebudayaan machismo yang
sesungguhnya dimana pria Hispanil memiliki tangggung jawab pada
keluarganya dan melindungi mereka dari bahaya. Dengan
menggunakan nilai budaya ini, perawat mendorong pria Hispani muda
ini untk melindungi orang yang mereka cintai dari ancaman penyakit
seperti AIDS. Perawat juga mendiskusikan metode kontrasepsi yang
tepat serta pengunaan medikasi yang layak dan pemberian vitamin

Ketika mendidik klien dari berbagai latar belakang budaya, perawat harus:

a. Mewaspadai aspek khusus dari setiap kebudayaan


b. Melakukan kolaboras dengan perawat dan pendidik lain untuk
membantu dalam berhadapan dengan perbedaan budaya
c. Memperoleh bantuan masyarakat dalam kelompok budaya untuk
berbagai nilai dan kepercayaan
d. Menggunakan masukan dan pengalaman perawat yang memiliki
etnis sama dalam memberikan perawatan pada anggota komunitas
mereka sendiri (Bernal, 1993).

5. Penggunaan Alat Bantu Pengajaran

55
Berbagai alat bantu pengajaran tersedia bagi perawat untuk
digunakan ketika memberikan instruksi pada klien. Pemilihan alat bantu
yang tepat bergantung pada metode instruksional yang dipilih, kebutuhan
klien untuk belajar, serta kemampuan klen untuk belajar (tabel 15-5).
Misalnya, pamphlet cetakan mungkin bukan sarana yang terbaik untuk
digunakan bagi klien yang memiliki kemampuan membaca yang kurang,
dan kaset mugkin merupakan pilihan terbaik bag klien yang memiliki
ketidakseimbangan visual.

Tabel 15-5
Alat pengajar untuk instruksi
deskripsi Implikasi pembelajaran
MATERI CETAK
Alat bantu pengajaran tertulis tersedia Materi harus dapat dibaca dengan
seperti pamflet,brosur, buklet. mudah oleh peserta didik.
Informasi harus akurat dan actual
Metode yang digunakan harus metode
yang ideal untuk memahami konsep
dan hubungan yang kompleks

INSTRUKSI TERPROGRAM
Presentasu setiap bagian secara tertulis Instruksi hanya berbentuk verbal,
dari langkah pengajaran mengharuskan namun pengajar data menggunakan
peserta didik menjawab pertanyaan dan gambar atau diagram.
pengajar member tahu apakah mereka Metode membutuhkan pengajaran aktif,
benar atau salah memberikan respon segera,
mengkoreksi jawaban yang salah darn
mendorong jawaban yang benar
Peserta didik belajar menurut kecepatan
mereka sendiri

56
INSTRUKSI KOMPUTER Metode membutuhkan kemampuan
Penggunaan format instruksi yang membaca, kemampuan psikomotor, dan
terprogram dimana computer pengenalan computer
menyimpan setiap pola respond dan
para peserta didik dan memilih
pelajaran berikutnya berdasarkan pola
tersebut(program dapat bersifat
individu)

MATERI BUKAN CETAK


Diagram Metode menunjukkan ide-ide kunci,
Ilustrasi yang menunjukkan hubungan kesimpulan,dan menjelaskan konsep
dalam bentuk garis dan symbol. kunci

Grafik (batang, lingkaran, atau


garis)
Presentasi visual dari data menurut Grafik membatu peserta didik untuk
angka menyerap informasi secara cepat
mengenai suatu konsep
Bagan
Rangkuman sejumlah ide dan fakta Tabel menunjukkan hubungan antara
visual yang sangat ringkas yang dapat beberapa ide atau konsep. Metode akan
menunjukkan sekumpulan pokok ide, membantu peserta didik untuk
langkah, atau kejadian. mengetahui apa yang harus dilakukan

Gambar
Foto atau gambar yang digunakan Foto umumnya lebih disuai daripada
untuk mengajarkan konspe di mana diagram karena lebih secara akurat

57
bentuk dan jarak dimensi ketiga tidak menunjukkan detail dan benda yang
penting sesungguhnya.
Gambar berguna untuk memindahkan
detail berlebihan yang muncul dalam
objek nyata.

Objek fisik

58
Penggunaan perlengkapan, objek, atau Model digunakan ketika objek yang
model actual untuk mengajarkan sesungguhnya terlalu kecil, besar, atau
konsep atau kemampuan kompleks, atau tidak tersedia.
Peserta didik dapat memanipulasi objek
yang akan digunakan kemudian dalam
keterampilan
Materi audiovisual lain
Slide, kaset, televisi, dan video Material sangat berguna bagi klien
digunakan bersama dengan materi cetak yang memiliki masalah pemahaman
atau diskusi bacaan dan kurang pengelihatan

59
6. Kebutuhan Khusus Anak-Anak dan Lansia

Pilihan perawat dalam metode instruksional dan aplikasi prinsip


belajar mengajar didasarkan pada umur klien. Anak-anak, orang dewasa,
dan lansia belajar dengan cara yang berbeda. Perawat mengadaptasi
strategi mengajar untuk setiap peserta didik.

Anak-anak menjalani beberapa fase perkembangan. Dalam setiap


fase perkembangan anak-anak membutuhkan kemampuan psikomotor dan
kognitif yang baru untuk memberikan respons pada berbagai model
pelajaran. Misalnya, seorang perawat dapat megajarkan anak usia sekolah
mengenai kesehatan ketika mereka memperoleh untuk melihat sesuatu
melalui sudut pandang orang lain. Kesehatan gigi, nutrisi, tndakan
pengamanan, serta pendidikan seks adalah contoh topic yang akan
diberikan pada anak usia sekolah dari berbagai umur yang berbeda.
Masukan untuk orang tua digabungkan dalam rencana pendidikan
kesehatan untuk anak-anak.

Lansia mengalami berbagai perubahan fisik dan fisiologis ketika


mereka bertambah tua. Perubahan ini dapat menciptakan kendala dalam
belajar, kecuali jika penyesuaian dilakukan dalam intervensi keperawatan.

Perubahan sensori seperti ini menurunnya pendengaran dan visual


membutuhkan metode pengajaran yang meningkatkan fungsi klien lansia.
Misalnya, perawat duduk berhadapan dengan klien yang memiliki masalah
pendengaran dan bicara dengan suara yang lambat selama diskusi. Klien
yang memiliki masalah visual dapat memperleh keuntungan dari
penggunaan materi cetak yang menggunakan huruf berukuran besar. Riset
menunjukkan bahwa lansia belajr dan mengingat secara efektif jika proses
belajar dilakukan secara tepat dan materi yang diberikan relevan dengan
kebutuhan dan kemampuan peserta didik(Deakins, 11994, Dellasega et al.
1994). Meskipun lansia memiliki fungsi kognitif yang lebih lambat dan

60
berkurangnya daya ingat jangka pendek, perawat dapat memebrikan
pengajran dalam berbagai cara untuk mendukung tingkah laku yang dapat
memaksimalkan kapasitas individu untuk perawatn diri (lihat kotak pada
hal 362). Ketika mengajarkan klien lansia, perawat harus melibatkan
anggota keluarga yang dianggap menjadi bagian perawatan bagi klien.
Namun, perawat harus menjadi sensitive atas keinginan klien untuk
didampingi, karena penawaran dukungan yang tidak dikehendaki dapat
mengakibatkan hasil yang negative dan dapat dianggap sebagai ikut
campur (Connell, 1991).

PRINSIP GEONTOLOGIS untuk Pengajaran

Gunakan tempo yang lambat dalam presentasi


Berikan informasi dalam sesi yang pendek namun sering
Ulangi informasi berulang kali
Menekankan pengajaran dengan materi audio-visual, latihan, dan praktik tertulis
Gunakan analogi dan contoh yang konkret
Kurangi gangguan
Sediakan waktu bagi peseta didik, untuk mengekspresikan diri , menunjukkan
pembelajaran dan mengajukan pertanyaan
Menetapkan keberhasilan jangka pendek yang dapat dicapai
Mengaplikasikan pengajaran dengan situasi saat ini
Meletakakan informasi baru pada tingkat pembelajaran klien yang lalu

2.7.5. Evaluasi

Pendidikan klien tidak selesai sampai perawat melakukan evaluasi


hasil dari proses belajar mengajar. Perawat menentukan apakah klien telah
memplajari materi yang diberikan. Evaluasi akan memacu peserta didik untuk
memperbaiki tingkah laku, membantu peserta didik untuk menyadari
bagaimana mereka harus mengubah tingkah laku yang salah dan memantau
pengajar menentukan pengajaran yang adekuat (Cronbach, 1997). Perawat
mengevaluasi keberhasilan dengan melakukan observasi atas penampilan
klien dalam setiap tingkah laku yang diharapkan. Keberhasilan bergantung

61
pada kemampuan klien untuk memenuhi kriteria kinerja yang telah di
tetapkan.

Observasi langsung atas tingkah laku klien sangat berguna ketika


menetapkan bagaimana klien akan bertindak dimasa depan. Mengawasi klien
menunjukan suatu ketrampilan membantu perawat untuk mengetahui apakah
teknik yang benar telah digunakan. Namun , seorang klien mungkin memilih
untuk bertindak berbeda. Observasi dapt berjalan paing baik dalam situasi
dimana klien tidak sadar bhwa ia diawasi.

Pertanyaan yang diajukan secara lisan maupun tertulis adalah metode


evaluasi lain yang berguna. Keberhasilan klien dalam belajar secara ognitif
dapat diukur secara verbal oleh klien dengan menjawab pertanyaan mengenai
topik tertentu yang telah diajarkan. Pertanyaan akan mengukur tingkah laku
yang dapat diawasi dengan mudah. Perawat harus secara hati-hati
mengelompokkan pertanyaan untuk menjamin bahwa peserta didik
memahaminya dan tujuan telah diukur dengan benar.

Bentuk evaluasi yang lain meliputi pembuatan laporan diri (baik


secara lisan maupun tertulis) dan pemantauan diri (tertulis). Hal ini
melibatkan klien atau anggota keluarga untuk memberikan informasi secara
mandiri. Sebuah contoh dapat meliputi laporan klien atas makanan yang
dimakan dalam minggu tertentu, yang disesuaikan dengan pengaturan diet
yang terbaru. Perawat mengandalkan kejujuran klien serta daya ingat dalam
melakukan pelaporan diri.

Karena peningkatan pentingnya kepuasan klien perawat harus


melakukan evaluasi apakah klien memiliki informasi yang mereka inginkan.
Apakah harapan mereka telah terpenuhi? Seorang klien mungin
menginginkan informasi khusus yang ia tahu akan snagat berguna untuk
dilanjutkan dalam gaya hidup normal di rumah. Perawat harus memasukkan
apa yang menjadi harapan kien sebagai bagia dari evaluasi mereka.

62
Selama evaluasi perawat juga harus meminta klien untuk menunjukan
tingkah laku yang diminta dalam tujuan pemblajaran. Jika proses valuasi
menunjukan terjadi kurang kemampuan atau pengetahuan, perawat
mengulangi atau memodifikasi rencana pengajaran. Evaluasi menunjukan
kebutuhan pengajaran yang baru atau munculnya faktor baru yang dapat
mengganggu kemampuan klien untuk belajar. Metode pengajaran alternatif
seringkali membantu menjelaskan informasi atau kemampuan yang tidak
dapat dipahami atau ditunjukan klien secara asli. Ketika seorang klien
memiliki kesulitan dalam suatu situasi perawatan akut, perawat mungkin dapat
menyerahkannya pada lokasi seperti perawatan kesehatan rumah untuk
pendidikan dan evaluasi lebih lanjut.

1. Dokumentasi Pengajaran Klien

Karena mengajarkan klien seringkali terjadi secara informal antara


perawat dan kien (contoh, selama pemberian medikasi atau pemeriksaan
fisik ) sangat sulit untuk mendokumentasikannya secara konsisten.
Perawat seringkali gagal menyediakan waktu untuk menulis materi yang
diajarkan. Namun, karena perawat secara legal bertanggung jawab untuk
memberikan informasi yang akurat pada klien, sangat penting untuk
mencatat hasil dari pengajaran. Baron (1987) menyarankan hal-hal di
bawah ini untuk mencatatkan penyuluhan pada klien :

a. Isi yang spesifik. Secara spesifik jelaskan masalah yang menjadi


subjek sehingga perawat lain dapat mengikuti dan membantu
pengajaran (mis, pemberian injeksi insulin telah diajarkan atau
penjelasan atas efek samping inderal telah diberikan). Hindar
generalisasi misalnya medikasi telah diajarkan yang akan
membuat staf tidak mengetahui apa yang telah diajarkan.
b. Evaluasi belajar. Dokumentasikan bukti belajar (mis. Demonstrasi
ulang atau kemampuan untuk mendeskripsikan medikasi ). Hal ini
akan menginformasikan staf mengenai perkembangan klien dan
menentukan informasi yang harus diberikan.

63
c. Metode pengajaran. Gambarkan metode pengajaran yang diberikan.
Dengan mengetahui metode yang digunakan dalam intruksi (mis.
Demonstrasi atau diskusi ) akan membantu staf untuk secara lebih
efiseien mengikuti atau memberikan metode pegajaran alternatif
jika pemblajaran tidak terjadi. Ketika sarana seperti pamflet ata
materi audiovisual digunakan, perawat mendokumentasikan
semuanya semuanya ini dalam catatan klien. Banyak institusi
memiliki bentuk khsuus yang akan memermudah dokumentasi.
Misalnya kertas bahan ajaran adalah catatan baik yang
mendokumentasikan rencana, implementasi dan evaluasi
pengajaran klien.

64