Anda di halaman 1dari 4

Gerakan Kota Sehat, Pengertian dan Strategi

Pelaksanaannya
By Asta Qauliyah

Perhatian untuk meningkatkan kualitas lingkungan kehidupan baik di kota maupun


wilayah kabupaten merupakan prioritas dalam Agenda 21. Hal tersebut dapat
dipahami mengingat pertumbuhan penduduk kota di dunia menunjukkan lonjakan
yang cukup fenomenal, sementara kualitas lingkungan cenderung menurun.
Masalah-masalah perkotaan, seperti kepadatan lalu lintas, pencemaran udara,
perumahan dan pelayanan masyarakat yang kurang layak, kriminal, kekerasan dan
penggunaan obat-obat terlarang menjadi masalah yang digeluti oleh masyarakat
perkotaan.
Melihat perkembangan fakta tersebut, lingkungan fisik, sosial dan budaya perkotaan
berada pada situasi yang rawan. Apabila kecenderungan tersebut tidak dikendalikan,
maka ketahanan daya dukung daerah perkotaan akan lemah.
Upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan fisik dan sosial secara terus
menerus dengan memberdayakan masyarakat perkotaan, diharapkan dapat
menciptakan kondisi yang mengarah kepada pencapaian kota idaman atau kota
sehat yang memberikan keamanan, kenyamanan, ketenteraman dan kesehatan bagi
masyarakat perkotaan dalam menjalankan kegiatan kehidupannya.
Pendekatan Kota Sehat pertama kali dikembangkan di Eropa oleh WHO pada tahun
1980-an sebagai strategi menyongsong Ottawa Charter, yang menekankan
kesehatan untuk semua yang dapat dicapai dan langgeng, jika semua aspek sosial,
ekonomi lingkungan dan budaya diperhatikan.
Oleh karena itu konsep kota sehat tidak hanya memfokuskan kepada pelayanan
kesehatan semata, tetapi lebih kepada aspek menyeluruh yang mempengaruhi
kesehatan masyarakat, baik jasmani maupun rohani.
Kota Sehat di Indonesia dicanangkan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 26
Oktober 1998. Sejak itu telah tercatat sebanyak 51 kota mengupayakan
penyelenggaraan kota sehat, dengan melibatkan para pihak (stakeholders), antara
lain Departemen Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, Departemen Energi dan
Sumberdaya Mineral, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Kebudayaan
dan Pariwisata, Menteri Negara Lingkungan Hidup/Bapedal, dan Departemen
Perhubungan dan Telekomunikasi.
Departemen Kehutanan mulai dilibatkan dalam pembahasan Kota Sehat pada akhir
bulan April tahun 2001. Hal ini mempertimbangkan kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan Departemen Kehutanan dapat menunjang program atau gerakan Kota
Sehat, misalnya kegiatan reboisasi/penghijauan, pembangunan hutan kota,
pengadaan bangunan resapan air, perbaikan gizi masyarakat di sekitar hutan
(PMDH), upaya pengurangan asap, dan sebagainya.
Pengertian Kota Sehat
Secara umum pengertian kota sehat adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan
kesehatan masyarakat dengan mendorong terciptanya kualitas lingkungan fisik,
sosial, budaya dan produktivitas, serta perekonomian yang sesuai dengan
kebutuhan wilayah perkotaan.
Konsep Kota Sehat merupakan pola pendekatan untuk mencapai kondisi
kota/kabupaten yang aman, nyaman dan sehat bagi warganya melalui upaya
peningkatan kualitas lingkungan fisik, sosial dan budaya secara optimal sehingga
dapat mendukung peningkatan produktivitas dan perekonomian wilayah (atau lebih
bertujuan kepada good governance). Kota Sehat merupakan gerakan untuk
mendorong inisiatif masyarakat (capacity building) menuju hidup sehat.
Tujuan Kota Sehat
Tujuan kota sehat adalah tercapainya kondisi kota untuk hidup dengan aman,
nyaman dan sehat bagi warganya melalui upaya peningkatan kualitas lingkungan
fisik, sosial dan budaya secara optimal sehingga dapat mendukung peningkatan
produktifitas dan perekonomian wilayah.
Sasaran Gerakan Kota Sehat:
Terwujudnya forum yang mampu menjalin kerjasama antar masyarakat,
pemerintah daerah dan pihak swasta, serta dapat menampung aspirasi
masyarakat dan kebijakan pemerintah secara seimbang dan berkelanjutan dalam
mewujudkan sinergi pembangunan yang baik.
Terselenggaranya upaya peningkatan kualitas lingkungan fisik, sosial dan
budaya yang dapat mengikatkan kesehatan dan mencegah terjadinya resiko
penyakit dengan memaksimalkan seluruh potensi sumber daya di kota secara
mandiri.
Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang adil dan merata bermutu sesuai
dengan standar dan etika profesi.
Terselenggaranya pola dan mekanisme kerja yang teransparan antar
berbagai pihak yang terkait dalam proses pengelolaan pembangunan kota.
Terwujudnya kondisi yang kondusif bagi seluruh masyarakat dalam rangka
meningkatkan produktifitas dan ekonomi wilayah dan masyarakatnya, sehingga
mampu meningkatkan kehidupan dan penghidupan menjadi lebih baik.
Terselenggaranya kinerja pemerintah yang baik yang berorientasi kepada
kepentingkan masyarakat luas melalui kebijakan dan pengaturaaan pelaksanaan
yang adil dan transparan.
Kebijakan Mewujudkan Kota Sehat
Penerapan kegiatan didasarkan kepada pendekatan kota sehat di masing-masing
wilayah atas dasar adanya permasalahan yang spesifik yang disusun berdasarkan
skala prioritas untuk dipecahkan dan diselesaikan bersama-sama oleh seluruh
masyarakat di wilayah tersebut, dan apabila diperlukan difasilitasi oleh pemerintah
setempat.
Pendekatan Kota Sehat dimulai dari beberapa kecamatan, sedangkan pendekatan
Kabupaten Sehat dimulai dari beberapa desa, sedangkan kawasan dimulai dari
beberapa kawasan terbatas dan diharapkan berkembang secara terus menerus dan
dinamis sehingga meliputi seluruh daerah perkotaan dan daerah kabupaten, yang
kemudian dapat mendorong kota-kota lain untuk meniru dan mengembangkannya.
Kegiatan kota sehat sepenuhnya dibiayai dan dilaksanakan oleh daerah yang
bersangkutan dan masyarakatnya dengan menggunakan mekanisme pendekatan
Kota Sehat, yaitu dengan konsep pemberdayaan masyarakat yang mengutamakan
prinsip oleh dan untuk masyarakat.
Pendekatan kegiatan kota sehat melibatkan peran aktif masrakat dalam seluruh
proses penyelenggaraan pembangunan di daerah, sehingga seluruh potensi
masyarakat dapat diberdayakan secara optimal dalam rangka meningkatkan kualitas
hidup masyarakat.
Pemerintah berperan menyusun kebijakan, strategi dan pedoman umum. Sektor-
sektor di propinsi berperan di dalam mengembangkan petunjuk teknis dan standar
yang sesuai dengan daerah. Pelaksanaan kegiatan diserahkan oleh pemerintah
daerah kepada masyarakat melalui Forum dan Kelompok Kerja (Pokja) Kota Sehat,
sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakat di kota tersebut.
Kegiatan kota sehat pada awalnya difasilitasi oleh Pemerintah Daerah, dimulai dari
pembentukan Forum Kota Sehat, selanjutnya Forum tersebut membentuk Pokja
Kota Sehat berdasarkan kebutuhan terhadap kegiatan yang akan dilaksankan.
Sedangkan plaksanaan evaluasi kegiatan kota sehat dilakukan oleh Forum dan
Pokja Kota Sehat bersama-sama Pemerintah daerah, LSM, Perguruan Tinggi, media
massa selaku pelaku pembangunan.
Strategi Mewujudkan Kota Sehat
Beberapa strategi yang akan ditempuh dalam melaksanakan kegiatan kota sehat di
Indonesia sebagai berikut :
Kegiatan dimulai dari beberapa kota terpilih berupa kegiatan yang spesifik,
sederhana, terjangkau, dapat dilaksanakan secara mandiri dan berkelanjutan
dengan menggunakan segenap sumber daya yang tersedia.
Meningkatkan potensi ekonomi stakeholders kegiatan yang menjadi
kesepakatan masyarakat.
Perluasan kegiatan ke kota lainnya atas dasar adanya minat dari kota
tersebut untuk ikut dalam pendekatan kota sehat.
Meningkatkan keberdayaan masyarakat melalui Forum dan Pokja Kota Sehat,
serta pendampingan dari sector terkait untuk dapat membantu memahami
permasalah, menyusun perencanaan dan melaksanakan kegiatan kota sehat.
Menggali potensi wilayah dan kemitraan dengan swasta, LSM, pemerintah,
legislates di dalam penyelenggaraan kegiatan kota sehat.
Memasyarakatkan pembangunan yang berwawasan kesehatan di dalam
mewujudkan kota sehat.
Meningkatkan promosi dan penyuluhan agar masyarakat hidup dalam kondisi
yang tertib hokum, peka terhadap lingkungan fisik, social dan budaya yang sehat.
Membuat jaringan kerja sama antar kota pengembangan (replikasi) kota
sehat.
Indikator Keberhasilan Kota Sehat
Untuk mengukur kemajuan kegiatan kota sehat, dibutuhkan indikator yang jelas
sehingga semua pihak yang ikut terlibat dapat menilai sendiri kemajuan yang sudah
dilakukan, dan menjadi tolok ukur untuk merencanakan kegiatan selanjutnya.
Setiap daerah dapat memilih, menetapkan dan melaksanakan kegiatan sesuai
dengan kondisi dan kemampuan masing-masing untuk memenuhi indikator tersebut.
Penutup
Memperhatikan konsepsi gerakan kota sehat tersebut, tampak bahwa gerakan kota
sehat merupakan pendekatan multi stakeholders, dimana sektor kehutanan
(pemerintah dan swasta) yang merupakan bagian dari stakeholders dapat ikut aktif/
berpartisipasi sesuai dengan bidang tugasnya.
Partisipasi tersebut dalam tahap awal dapat berupa upaya untuk mempromosikan/
menginformasikan kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilakukan, yang dapat
menunjang gerakan kota sehat, serta menselaraskan kegiatan dengan sektor lain
yang secara bersama-sama dapat mewujudkan kota sehat.