Anda di halaman 1dari 70

53

BAB III

PERANCANGAN

sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Sedangkan lunak meliputi pembuatan program PLC
sesuai
dengan tujuan yang
diinginkan.
Sedangkan
lunak
meliputi pembuatan
program
PLC

Dalam bab ini berisi tentang existing mesin, dan bagaimana alat dirancang

sedemikian rupa sehingga dapat menjadi suatu rangkaian yang dapat difungsikan.

Selain itu juga membahas mengenai cara kerja dan desain rangkaian. Untuk

modifikasi kontrol elektrik mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U dibagi menjadi

dua bagian yaitu perancangan perangkat keras dan perancangan perangkat lunak.

Perancangan perangkat keras meliputi penggunaan komponen dan pembuatan

skema

perancangan

perangkat

FX3U-80M dan program

HMI Proface AGP3300.

Pada proses perancangan menggunakan PLC FX3U-80M dan program

HMI Proface AGP3300 ini, target utama yang akan diubah tentunya area kontrol

dari mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U. Parameter penting dari modifikasi ini

adalah

tidak

mengubah

konsep

dasar

fungsi

kerja

dari

mesin

sebelumnya,

sehingga hasil dari modifikasi itu sendiri merupakan mesin yang memiliki fungsi

kerja yang identik.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

54

3.1 Mesin Heat Press

Mesin Heat Press merupakan istilah dalam industri rubber molding untuk

peralatan yang mempunyai prinsip kerja penekanan dengan menggunakan silinder

hidrolik pada suhu tertentu terhadap sebuah mold atau cetakan untuk melakukan

pembentukan produk sesuai dengan yang diinginkan.

Di P.T. NOK Indonesia, mesin Heat Press ini didesain khusus untuk

melakukan proses curing atau proses pematangan rubber dengan menggabungkan

Prinsip Kerja Mesin Heat Press Pergerakan mesin Heat Press bekerja menggunakan
Prinsip Kerja Mesin Heat Press
Pergerakan mesin
Heat
Press
bekerja
menggunakan

rubber dan metalcase di dalam cavity, sehingga menjadi produk berupa oil seal

dengan bentuk dan sifat fisik tertentu. Sebagaimana fungsinya, maka terkadang

mesin HeatPress ini dikenal juga dengan nama mesin Curing.

3.1.1

sistem

hidrolik.

Semua pergerakan silinder hidroliknya diatur dan dikontrol dengan menggunakan

Programmable Logic Controller (PLC) melalui katup-katup kontrol arah atau

solenoid valve sesuai dengan sequence dan standard yang ada. Pergerakan-

pergerakan dari silinder hidrolik inilah yang akan membantu proses pembentukan

produk berupa oil seal karena adanya gaya tekan pada mold yang dilakukan oleh

Main Cylinder dengan memperhitungkan besarnya tekanan yang diberikan serta

besarnya suhu yang ada pada cetakan sehingga material yang berupa rubber dan

metalcase dapat menyatu dan membentuk oil seal.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

55

3.1.2 Bagian-bagian mesin Heat Press

Mesin Heat Press umumnya terdiri dari beberapa bagian utama yaitu:

1.

2.

3.

4.

5.

Hydraulic Motor, berfungsi untuk mendistribusikan fluida dari dalam tanki ke

semua silinder hidrolik.

Main Cylinder, berfungsi untuk memberikan gaya tekan pada cetakan atau

mold .

Mold In/ Out Cylinder, berfungsi untuk memposisikan cetakan atau mold baik

berfungsi untuk memposisikan cetakan atau mold baik upper mold maupun lower mold pada posisi In atau

upper mold maupun lower mold pada posisi In atau Out. Mold In jika cetakan

berada di dalam ruang pengepresan, sedangkan Mold Out jika cetakan berada

di luar ruang pengepresan.

Open/ Close Cylinder berfungsi untuk memposisikan upper mold pada posisi

Open atau Close. Posisi Open jika upper mold yang semula menyatu dengan

lower mold

menjadi terpisah. Sedangkan untuk posisi Close ialah posisi

dimana upper mold kembali ke posisi semula dan menyatu dengan lower

mold.

Turn/ Return Cylinder, berfungsi untuk memposisikan upper mold pada posisi

Turn atau Return. Cetakan berada di posisi Turn jika upper mold dalam

keadaan membuka kurang lebih 60 derajat. Sedangkan untuk posisi Return

ialah posisi dimana upper mold kembali ke posisi semula yaitu saat proses

6.

mold open .

Ejector Cylinder, berfungsi untuk melepas produk yang menempel pada lower

mold.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

56

7. Heater, berfungsi sebagai pemanas untuk menghasilkan suhu tertentu pada

ruang pengepresan.

8. Vacuum Motor, berfungsi mengeluarkan udara dari dalam cetakan dengan

tujuan agar nantinya tidak ada udara yang terjebak pada permukaan produk.

9. Control Panel, berisi peralatan kontrol untuk pergerakan mesin, misalkan

PLC, Power Supply, Breaker, Relay, Magnetic Contactor, dan lain-lain.

10. Operation Panel, berisi tombol-tombol serta indikator yang berhubungan

berisi tombol-tombol serta indikator yang berhubungan Gambar 3.1 Bagian-bagian Mesin Heat Press dengan

Gambar 3.1 Bagian-bagian Mesin Heat Press

dengan pengoperasian mesin.

indikator yang berhubungan Gambar 3.1 Bagian-bagian Mesin Heat Press dengan pengoperasian mesin. UNIVERSITAS MERCU BUANA

UNIVERSITAS MERCU BUANA

57

3.1.3 Macam-macam mesin Heat Press

Di P.T. NOK Indonesia ada beberapa jenis mesin Heat Press yang dipakai

dalam proses produksi, antara lain yaitu:

1. Heat Press 35 Ton 2RT

Heat Press 35 Ton 2RT diproduksi pada awal tahun 1990-an oleh pabrikan

asal Jepang yaitu FUGAKU KOKI Co.,Ltd dengan spesifikasi sebagai berikut:

Nama mesin

: Heat Press 35 Ton 2RT

: 35 Tons : 2 Retainer Plate : FUGAKU KOKI Co.,Ltd : 1990 : 1550
: 35 Tons
: 2 Retainer Plate
: FUGAKU KOKI Co.,Ltd
: 1990
: 1550 mm x 1250 mm x 2250 mm
: 3 phase AC 380V 20A 50Hz
: Kontrol PLC A0J2H CPU Mitsubishi
3 phase AC 380V 20A 50Hz : Kontrol PLC A0J2H CPU Mitsubishi Tonase Mold Pembuat Tahun

Tonase

Mold

Pembuat

Tahun dibuat

Dimensi

Power

Sistem kontrol

Gambar 3.2 Mesin Heat Press 35 Ton 2RT

UNIVERSITAS MERCU BUANA

58

2. Heat Press 60 Ton 2RT

Heat Press 60 Ton 2RT, mulai diproduksi pada awal tahun 1990-an oleh

pabrikan asal Jepang yaitu FUGAKU KOKI Co.,Ltd dengan spesifikasi

sebagai berikut:

Nama mesin

: Heat Press 60 Ton 2RT

Tonase

: 60 Tons

Mold

: 2 Retainer Plate

: FUGAKU KOKI Co.,Ltd : 1991 : 750 mm x 1950 mm x 1880 mm
: FUGAKU KOKI Co.,Ltd
: 1991
: 750 mm x 1950 mm x 1880 mm
: 3 phase AC 200V 50A 50Hz
: Kontrol PLC A0J2H Mitsubishi
: 3 phase AC 200V 50A 50Hz : Kontrol PLC A0J2H Mitsubishi Pembuat Tahun dibuat Dimensi

Pembuat

Tahun dibuat

Dimensi

Power

Sistem kontrol

Gambar 3.3 Mesin Heat Press 60 ton 2RT

UNIVERSITAS MERCU BUANA

59

3. Heat Press 110 Ton 3RT

Heat Press 110 Ton 3RT, mulai diproduksi pada tahun 2012 oleh pabrikan asal

China

yaitu

KODAI

WUXI SEIKI

Co.,Ltd.

dengan

spesifikasi

sebagai

berikut:

Nama mesin

: Heat Press 110 Ton 3RT

Tonase

: 110 Tons

Mold

: 3 Retainer Plate

: KODAI WUXI SEIKI Co.,Ltd : 2012 : 1950 mm x 3010 mm x 1890
: KODAI WUXI SEIKI Co.,Ltd
: 2012
: 1950 mm x 3010 mm x 1890 mm
: 3 phase AC 200V 50A 50Hz
: Kontrol PLC FX3U-128MR
mm : 3 phase AC 200V 50A 50Hz : Kontrol PLC FX3U-128MR Pembuat Tahun dibuat Dimensi

Pembuat

Tahun dibuat

Dimensi

Power

Sistem kontrol

Gambar 3.4 Mesin Heat Press 110 ton 3RT

4. Heat Press 110 Ton 2RT

Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U, diproduksi pada pertengahan tahun 1980-an

oleh pabrikan asal Jepang yaitu HOKUTAN Co.,Ltd. Berbeda dengan mesin

UNIVERSITAS MERCU BUANA

60

Heat Press lainnya, mesin ini terdiri dari dua unit mesin Heat Press yang

masing-masing bertonase sebesar 110 Ton. Dua unit mesin Heat Press ini

hanya dikontrol oleh satu unit Main Control Panel dan satu unit Hydraulic

Tank

yang digunakan bersama.

2P1U adalah sebagi berikut:

Spesifikasi mesin Heat Press 110 Ton 2RT

Nama mesin

: Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U

Tonase

: 110 Tons

: 2 Retainer Plate : HOKUTAN Co.,Ltd : 1985 : 2500 mm x 2100 mm
: 2 Retainer Plate
: HOKUTAN Co.,Ltd
: 1985
: 2500 mm x 2100 mm x 2000 mm
: 3 phase AC 380V 50A 50Hz
: Kontrol PLC C500 OMRON
mm : 3 phase AC 380V 50A 50Hz : Kontrol PLC C500 OMRON Mold Pembuat Tahun

Mold

Pembuat

Tahun dibuat

Dimensi

Power

Sistem kontrol

Gambar 3.5 Mesin Heat Press 110 ton 2RT 2P1U

UNIVERSITAS MERCU BUANA

61

3.2 Kondisi Mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U Sebelum Modifikasi

Kondisi mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U sebelum proses modifikasi

ialah sebagai berikut:

1. PLC yang digunakan ialah PLC OMRON Type C500, dimana PLC dengan

tipe ini sudah discontinue atau sudah tidak diproduksi lagi.

ini sudah discontinue atau sudah tidak diproduksi lagi. Gambar 3.6 PLC OMRON C500 2. Satu Main
Gambar 3.6 PLC OMRON C500
Gambar 3.6 PLC OMRON C500
atau sudah tidak diproduksi lagi. Gambar 3.6 PLC OMRON C500 2. Satu Main Control Panel digunakan

2. Satu Main Control Panel digunakan untuk dua unit mesin Heat Press,

sehingga jika terjadi masalah pada Main Control Panel

maka otomatis akan

ada dua unit mesin Heat Press yang breakdown.

Gambar 3.7 Main Control Panel

UNIVERSITAS MERCU BUANA

62

3. Satu Hydraulic Tank Unit digunakan untuk dua unit mesin Heat Press,

sehingga jika terjadi masalah pada Hydraulic Tank Unit maka otomatis akan

ada dua unit mesin Heat Press yang breakdown.

akan ada dua unit mesin Heat Press yang breakdown . Gambar 3.8 Hydraulic Tank Unit 4.
Gambar 3.8 Hydraulic Tank Unit
Gambar 3.8 Hydraulic Tank Unit
Heat Press yang breakdown . Gambar 3.8 Hydraulic Tank Unit 4. Mesin ini masih menggunakan Shutter

4. Mesin ini masih menggunakan Shutter atau semacam papan yang bisa naik

turun untuk membatasi area berbahaya pada mesin sehingga masih berpotensi

untuk terjadinya kecelakaan kerja, misalnya tangan terjepit dll.

Gambar 3.9 Shutter

UNIVERSITAS MERCU BUANA

63

5.

Pada Operation Panel masih banyak digunakan tombol serta lampu indikator

konvensional sebagai media interface antara operator dengan mesin.

sebagai media interface antara operator dengan mesin. Gambar 3.10 Operation Panel Perancangan Sistem Kontrol
Gambar 3.10 Operation Panel Perancangan Sistem Kontrol adalah vacuum. Pada sistem kontrol tekanan ini ialah
Gambar 3.10 Operation Panel
Perancangan Sistem Kontrol
adalah
vacuum.
Pada
sistem
kontrol
tekanan
ini
ialah kinerja dari hydraulic motor

3.3

Sistem kontrol mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U yang dimodifikasi

merupakan sistem yang memantau dan melakukan kontrol pada proses produksi

yang berlangsung di mesin. Pengontrolan dan pemantauan dilakukan pada tiga

parameter dasar yaitu yang pertama adalah tekanan, kedua adalah suhu, dan yang

ketiga

yang

komponen

dikendalikan

dari

dalam mendistribusikan fluida

tanki ke semua silinder hidrolik. Pada sistem kontrol suhu, komponen yang

dikendalikan

ialah kinerja dari heater

dalam menghasilkan panas sesuai dengan

suhu yang diinginkan. Kemudian

pada sistem kontrol vacuum, komponen yang

dikendalikan

ialah kinerja dari vacuum motor dalam menghasilkan tekanan

vacuum sesuai dengan yang diinginkan. Kemudian PLC

(Programmable Logic

Controller)

FX3U-80M merupakan pusat kendali dari sistem yang dibuat. PLC

ini menentukan kapan ketiga komponen tersebut harus menyala dan kapan harus

UNIVERSITAS MERCU BUANA

64

mati. Blok diagram secara keseluruhan dari sistem yang dibuat ditunjukkan pada

Gambar 3.11.

OUTPUT KontrolTekananHidrolik Magnetic Hydraulic PressureGauge Contactor Motor Digital Pressure Meter INPUT
OUTPUT
KontrolTekananHidrolik
Magnetic
Hydraulic
PressureGauge
Contactor
Motor
Digital
Pressure
Meter
INPUT
PROSES
Solenoid
Valve
PushButton,
SelectorSwitch,
PLCFX3U-80M
KontrolSuhu
HMIdanSensor
SolidState
Heater
Relay
Temperature
Relay
Termokopel
Controller
KontrolVacuum
Vacuum
Pressure
Solenoid
Switch
Valve
Magnetic
Vacuum
Contactor
Motor
CatuDaya

Gambar 3.11 Blok Diagram Sistem Kontrol

UNIVERSITAS MERCU BUANA

65

3.3.1 Perancangan Perangkat Keras

Perancangan perangkat keras atau hardware merupakan

perancangan

sistem pengawatan pada beberapa komponen elektrik yang dirangkai sedemikian

rupa sehingga membentuk suatu sistem kontrol. Perancangan perangkat keras

pada sistem ini terbagi dalam beberapa bagian, antara lain adalah perancangan

rangkaian catu daya, perancangan

sistem utama, perancangan rangkaian kontrol

hidrolik, perancangan rangkaian kontrol suhu, perancangan rangkaian kontrol

2RT 2P1U seperti hydraulic motor, vacuum motor, Volt untuk sumber tegangan pada PLC, sumber tegangan
2RT
2P1U
seperti
hydraulic
motor,
vacuum
motor,
Volt untuk
sumber
tegangan
pada
PLC,
sumber
tegangan sebesar DC 24

Ton

vacuum, serta rancangan antarmuka pengguna.

3.3.1.1 Perancangan Rangkaian Catu Daya

Komponen-komponen yang ada pada kontrol elektrik mesin Heat Press

dan

heater

110

membutuhkan sumber tegangan AC 380 Volt. Selain itu juga dibutuhkan tegangan

AC 200

Temperature Controller,

Digital Pressure Switch, Solenoid Valve dan Relay AC 200 Volt. Sedangkan

untuk komponen seperti HMI, Solid State Relay (SSR), Buzzer, Digital Vacuum

Switch, Relay DC 24 Volt, serta peralatan input untuk PLC dalam hal ini sensor

dan tombol membutuhkan

Volt. Atas dasar

adanya perbedaan

kebutuhan tegangan untuk masing-masing komponen maka

perlu dirancang sistem catu daya untuk tegangan AC 380 Volt, catu daya untuk

tegangan AC 200 Volt, serta catu daya untuk tegangan DC 24 Volt.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

66

Berikut

adalah

sumber tegangan:

gambar

perancangan

a. Catu daya AC 380 Volt

dari

masing-masing

kebutuhan

Didapatkan dari sumber tegangan R-S-T 3 phasa AC 380 Volt dari PLN.

Setelah melewati breaker NFB 1, penamaan R-S-T berubah menjadi R0-S0-

T0 dengan nilai tegangan antar fasa sebesar AC 380 volt.

AC 380V 3 Phasa 50/60HZ

E R S T NFB 1 R0 S0 T0 Gambar 3.12 Catu Daya AC 380
E
R
S
T
NFB 1
R0
S0
T0
Gambar 3.12 Catu Daya AC 380 Volt

b. Catu daya AC 200 Volt

Didapatkan dari trafo step down dengan cara menurunkan tegangan sumber

sebesar AC 380 Volt menjadi AC 200 Volt. CB TRAFO R0 R6 Fromoutput 380V 200V
sebesar AC 380 Volt menjadi AC 200 Volt.
CB
TRAFO
R0
R6
Fromoutput
380V
200V
CB
To power control
AC 200 volt
NFB1
S0
S6

Gambar 3.13 Rangkaian Catu Daya AC 200 Volt

UNIVERSITAS MERCU BUANA

67

Trafo step down yang digunakan pada kontrol elektrik mesin Heat Press 110 Ton

2RT 2P1U ialah:

Nama

: Trafo Step Down

Daya

: 500 Watt

Input Voltage

: AC 380 Volt

Output Voltage

: AC 200 Volt

Merk

: Pioneer

c.

Gambar 3.14 Trafo Step Down
Gambar 3.14 Trafo Step Down

Catu daya DC 24 Volt

Didapatkan dengan menggunakan switching power supply yang mengubah

tegangan AC 200 Volt menjadi tegangan DC 24 Volt.

R6

From power control AC 200 volt

S6

tegangan DC 24 Volt. R6 From power control AC 200 volt S6 AC 200V L +

AC

200V

DC 24 Volt. R6 From power control AC 200 volt S6 AC 200V L + Power

L

+

Power Supply DC

N

-

DC

24V

P24AC 200 volt S6 AC 200V L + Power Supply DC N - DC 24V To

To power control DC 24 volt

N24+ Power Supply DC N - DC 24V P24 To power control DC 24 volt Gambar

Gambar 3.15 Rangkaian Catu Daya DC 24 Volt

UNIVERSITAS MERCU BUANA

68

Switching power supply

110 Ton 2RT 2P1U ialah:

yang digunakan pada kontrol elektrik mesin Heat Press

Nama

: Switching power supply

Type

: S8VM-05024C

Input Voltage

: AC 110 ~ 240 Volt

Output Voltage

: DC 24 Volt

Merk

: OMRON

Gambar 3.16 Switching Power Supply Pada sistem utama, pusat pengendali yang
Gambar 3.16 Switching Power Supply
Pada
sistem
utama, pusat
pengendali
yang

3.3.1.2 Perancangan Sistem Utama PLC

digunakan

adalah

Programmable

Logic

Control (PLC) FX3U-80M. Pemilihan PLC FX3U-80M

ini menggantikan PLC sebelumnya yaitu PLC OMRON C500. Komunikasi antara

PLC FX3U-80M

dan komponen-komponen

lainnya

dilakukan

melalui port

input atau port output sesuai dengan kendali yang diinginkan.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

69

69 CB CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC

CB

CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC

CB

CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC

R7

S7

CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC

E

Port Input PLC

PLC FX3U – 80M

Port Output PLC

CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
CB R7 S7 E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC
E Port Input PLC PLC FX3U – 80M Port Output PLC R6 From power control AC

R6

From power control AC 200 volt

S6

(a)

Port Input Port Output (b) Gambar 3.17 (a) Skema Rangkaian Sistem Utama (b) PLC FX3U-80M
Port Input
Port Output
(b)
Gambar 3.17 (a) Skema Rangkaian Sistem Utama
(b) PLC FX3U-80M

Input PLC pada implementasi rangkaian sistem utama dirangkai menggunakan

rangkaian Sink Logic, yang artinya input akan aktif jika terhubung dengan 0 Volt

dikarenakan sensor yang digunakan sebagai input PLC dalam kontrol elektrik ini

merupakan sensor tipe NPN. Gambar 3.18 menunjukkan rangkaian input Sink

Logic.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

70

70 Gambar 3.18 Rangkaian Input Sink Logic Sedangkan Output PLC pada implementasi rangkaian sistem utama untuk

Gambar 3.18 Rangkaian Input Sink Logic

Sedangkan

Output

PLC

pada

implementasi

rangkaian

sistem

utama

untuk

Gambar 3.19 Rangkaian Sinking Output
Gambar 3.19 Rangkaian Sinking Output

komponen yang mempunyai tegangan input sebesar DC 24 Volt, dirangkai

menggunakan rangkaian Sinking Output, yang artinya output akan aktif jika

terhubung dengan 24 Volt. Gambar 3.19 menunjukkan rangkaian Sinking Output.

Secara lengkap daftar input dan output yang digunakan dalam kontrol elektrik

mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U dapat dilihat pada Tabel 3.1.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

71

Tabel 3.1 Input dan Output PLC FX3U-80M

FX 3U –80 M R10 S10 E P24 N24 COM1 R10 S10 TL1 CR1 X00
FX 3U –80 M
R10
S10
E
P24
N24
COM1
R10
S10
TL1
CR1
X00
PRESSDOWNEND
HIGHSPEEDPRESS ASCEND
Y00
SOL.4
CR1
TL2
CR2
X01
SPEEDCHANGE
PRESSDESCEND
Y01
SOL.5
CR2
TL3
CR3
SOL.6
X02
UPEND
LOWSPEEDPRESSASCEND
Y02
CR3
LS1
CR4
SOL.7
X03
MOLD OUT END
BUMPINGDESCEND
Y03
CR4
LS2
X04
MOLD IN END
COM2
LS3
SOL.8
X05
EJECTOR UP PAUSE
PRESSURELEAK
Y04
LS4
SOL.9
X06
EJECTOR UP PAUSE
MOLDIN
Y05
SOL. 10
LS5
X07
EJECTOR DOWN END
MOLDOUT
Y06
SOL. 11
X10
SENSORAREA
LOWER MOLD EJECT UP
Y07
PB4
X11
START
COM3
SOL. 12
PB5
X12
STOP
LOWER MOLD EJECT DOWN
Y10
SOL. 13
PB1
X13
RESET
MOLDOPEN
Y11
PB6
X14
EJECTOR DOWN
SPARE
Y12
SOL. 14
PB2
X15
EMERGENCYSTOP
MOLD CLOSE
Y13
PB3
X16
PRE-HEAT
COM4
SOL. 15
X17
SPARE
TURN
Y14
SOL. 16
SS1
X20
AUTO
RETURN
Y15
SS1
X21
MANUAL
SPARE
Y16
X22
SPARE
SPARE
Y17
X23
SPARE
COM5
LS6
X24
MOLD OPEN PAUSE POSITION
SPARE
Y20
LS7
SOL. 17
X25
MOLD OPEN POSITION
SKVALVE
Y21
LS8
X26
MOLD CLOSE POSITION
Y
22
SPARE
SS2
X27
MOLD OPEN PAUSE NO / YES
SPARE
Y23
SQK
X30
CALENDAR TIMER
SPARE
Y24
X31
SPARE
SPARE
Y25
FR1
X32
HIDRAULIC MOTOR OVERLOAD
SPARE
Y26
FR2
SK MOTOR OVERLOAD
SPARE
Y27
X33
LS9
TURNEND
COM6
X34
LS 10
X35
RETURNEND
SPARE
Y30
SOL.1
X36
SPARE
LOWPRESSURELOAD
Y31
SOL.2
X37
SPARE
MIDDLE PRESSURE LOAD
Y32
CR7
SOL.3
X40
CPURUNNING
HIGHPRESSURE LOAD
Y33
CR8
X41
HEATON
HIDRAULICMOTOR
Y34
MG1
TC1,2
X42
TEMPERATURE ALARM
SPARE
Y35
HDK 1,2
X43
HEATERBURNOUT
SKMOTOR
Y36
MG2
VPR
X44
OIL PRESSURE LOW
PRE-HEAT LAMP
Y37
VPR
X45
OIL PRESSURE HIGH
COM7
X46
SPARE
SPARE
Y
40
VS
Y41
X47
VACUUMSWITCH
BUZZER
Bz
PLCRUN
Y42
CR5
HEATINGSTART
Y43
CR6
SPARE
Y44
SPARE
Y45
R6
L
SPARE
Y
46
S6
N
SPARE
Y
47
P24
N24

UNIVERSITAS MERCU BUANA

72

Dalam perancangan sistem PLC kali ini dilakukan pula beberapa perubahan

design untuk komponen inputnya. Hal ini dilakukan

membantu

meningkatkan

sebagai berikut:

performa

mesin.

Perubahan

dengan tujuan untuk

design

tersebut

ialah

a. Penggantian sensor posisi dari Limit Switch menjadi Reed Switch.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

kepresisian suatu mesin

adalah sensor. Maka dari itu untuk meningkatkan kepresisian pergerakan mesin

dari itu untuk meningkatkan kepresisian pergerakan mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U hasil modifikasi digunakanlah

Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U hasil modifikasi digunakanlah reed switch sebagai

sensor posisi untuk mendeteksi pergerakan dari setiap komponen hidrauliknya.

Penggunaan reed switch menggantikan fungsi dari sensor sebelumnya yaitu limit

switch. Reed Switch adalah alat pendeteksi yang bekerja berdasarkan pengenalan

obyek berupa magnet. Karakteristik dari sensor ini adalah mendeteksi obyek

benda khusunya metal dengan jarak yang cukup dekat, berkisar antara 1 mm

sampai beberapa centi meter saja sesuai tipe sensor yang digunakan. Jika sensor

mendeteksi adanya magnet di area sensingnya, maka kondisi output sensor akan

berubah nilainya. Pada mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U hasil modifikasi ini,

ada 10 sensor reed switch yang digunakan antara lain sensor mold out end, sensor

mold in end, sensor ejector up, sensor ejector up pause, sensor ejector down,

sensor mold turn end, sensor mold return end, sensor mold open pause, sensor

mold open, dan sensor mold close.

Sensor reed switch ini akan

mendeteksi

adanya magnet yang terdapat pada pangkal dari masing-masing piston silinder

hidraulik sehingga posisi dari setiap silinder tersebut dapat diketahui.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

73

73 Gambar 3.20 Limit Switch dan Reed Switch Berikut adalah beberapa pertimbangan alasan mengapa dilakukan penggantian
Gambar 3.20 Limit Switch dan Reed Switch Berikut adalah beberapa pertimbangan alasan mengapa dilakukan penggantian
Gambar 3.20 Limit Switch dan Reed Switch
Berikut adalah beberapa pertimbangan alasan mengapa dilakukan penggantian
sensor posisi dari limit switch ke reed switch, seperti dijelaskan pada tabel 3.2.
Tabel 3.2 Perbandingan Limit Switch dan Reed Switch
NO.
Deskripsi
Limit Switch
Reed Switch
Life time lebih pendek
dikarenakan dikarenakan
Life
time
lebih panjang
dikarenakan
sistem
1
Life time
sistem deteksi yang langsung
bersentuhan dengan obyek.
deteksi
yang
tidak
langsung
bersentuhan
dengan obyek.
Setting lebih
sulit
dikarenakan harus
menyesuaikan posisi silinder
2
Kemudahan Setting
dengan pemukul limit switch
dan juga karena ukurannya
lebih besar sehingga
memerlukan penyangga
tersendiri.
Setting lebih mudah,
cukup dengan menggeser
sensor pada body silinder
dan lebih ergonomis
dikarenakan bentuknya
yang kecil sehingga tidak
memerlukan banyak
ruang.
Presisi
rendah
dan
respon
3
Presisi
lebih lambat.
Presisi tinggi dan respon
lebih cepat.
4
Sistem Kerja
Relay mekanik
Relay magnetic

UNIVERSITAS MERCU BUANA

74

b. Perubahan sistem keamanan mesin dari safety shutter menjadi sensor area.

Dari segi keamanan mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U hasil modifikasi

menggunakan sensor area sebagai salah satu perangkat keamanan yang membatasi

ruang gerak antara operator dengan mesin. Sensor area biasanya digunakan untuk

peralatan sefety device pada mesin-mesin tertentu untuk mencegah terjadinya

kecelakaan disebabkan oleh adanya benda lain atau orang yang masuk ke area

oleh adanya benda lain atau orang yang masuk ke area tersebut ( area dilarang masuk ).

tersebut ( area dilarang masuk ). Sensor area dihubungkan ke PLC sebagai input

dengan alamat X10.

Gambar 3.21 Sensor Area

Berikut adalah beberapa pertimbangan alasan mengapa dilakukan penggantian

perangkat keamanan dari safety shutter ke sensor area, seperti dijelaskan pada

tabel 3.3.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

75

Tabel 3.3 Perbandingan Safety Shutter dan Sensor Area

NO. Deskripsi Safety Shutter Sensor Area Respon time lebih lambat dikarenakan memanfaatkan 1 Respon Time
NO.
Deskripsi
Safety Shutter
Sensor Area
Respon time lebih lambat
dikarenakan memanfaatkan
1
Respon Time
pergerakan
naik
turun
Respon time lebih cepat
dikarenakan outputnya
berupa kontak elektrik.
silinder pneumatic.
Tidak menghentikan
pergerakan mesin jika ada
benda atau bagian dari tubuh
2
Keamanan
operator yang masuk ke area
terlarang tersebut dan juga
masih dapat menimbulkan
resiko tangan terjepit shutter.
Langsung menghentikan
pergerakan mesin jika
sensor area terhalang
benda ataupun bagian
tubuh dari opearator dan
juga tidak menimbulkan
resiko tangan terjepit.
Insatalasi
lebih
sulit
dan
komplek
dikarenakan
3
Installasi
memerlukan
banyak
komponen pendukung.
Insatalasi lebih mudah
dan ergonomis serta
mudah di hubungkan
dengan perangkat lainnya.
3.1.1.3 Perancangan Rangkaian Kontrol Hidrolik
Perancangan rangkaian kontrol hidrolik pada mesin Heat Press 110 Ton
2RT 2P1U yang dibuat terdiri dari dua buah rangkaian yaitu rangkaian daya
hydraulic motor dan rangkaian kontrol tekanan.
Magnetic
Hydraulic
Contactor
Motor
Digital
Solenoid
PLC FX3U-80M
Pressure
Pressure Gauge
Valve
Switch

Gambar 3.22 Blok Diagram Rangkaian Kontrol Hidrolik

a. Rangkaian Daya Hydraulic Motor (Motor Hidrolik)

Hydraulic motor yang digunakan berupa motor induksi 3 phasa, oleh

karena itu diperlukan adanya rangkaian daya yang berfungsi untuk memberikan

supply tegangan 3 phasa ke motor tersebut.

Rangkaian daya untuk hydraulic

UNIVERSITAS MERCU BUANA

76

motor yaitu terdiri dari Mini Circuit Breaker (MCB), Magnetic Contactor dan

Thermal Overload Relay (TOR).

AC380V 3F 50/60HZ

E R S T NFB 1 FR 1 OIL PUMP MOTOR MCB2 R1 MG1 U1
E
R
S
T
NFB 1
FR 1
OIL PUMP MOTOR
MCB2
R1
MG1
U1
5.5KW
R0
S1
V1
M1
S0
T1
W1
T0
Gambar 3.23 Rangkaian Daya Hydraulic Motor
Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing part tersebut:
1.
Mini Circuit Breaker (MCB)
MCB adalah alat pengaman otomatis yang dipergunakan untuk membatasi
arus listrik yang bekerja dengan cara pemutusan hubungan yang disebabkan
oleh aliran listrik lebih.
MCB memanfaatkan pemuaian bimetal yang panas
akibat arus lebih untuk memutuskan arus listrik. Alat pengaman ini dapat juga
berguna sebagai saklar. Pada gambar 3.23 Mini Circuit Breaker ditunjukkan
dengan
simbol
MCB2.
Pada
rangkaian
ini
MCB2
berfungsi
sebagai

pengaman rangkaian jika terjadi beban lebih pada hydraulic motor.

Berikut adalah spesifikasi MCB yang digunakan:

Type

: CP30-BA 3P 20A

Beban Maksimal

: 20 A

Merk

: Mitsubishi

UNIVERSITAS MERCU BUANA

77

77 Gambar 3.24 Mini Circuit Breaker 2. minimal yang kontak utamanya dapat dikontrol : SC-5-1 Magnetic

Gambar 3.24 Mini Circuit Breaker

2.

minimal yang kontak utamanya dapat dikontrol : SC-5-1
minimal
yang
kontak
utamanya
dapat
dikontrol
: SC-5-1

Magnetic Contactor (MG)

Magnetic Contactor (MG) adalah sebuah komponen yang berfungsi sebagai

penghubung atau kontak dengan kapasitas yang besar dengan menggunakan

cara

daya

dengan

memberikan tegangan pada koil sesuai dengan spesifikasi koil tersebut.

Magnetic Contactor (MG) pada gambar 3.23 ditunjukkan dengan simbol

MG1 yang berfungsi sebagai penghubung

tegangan atau arus utama dengan

vacuum motor.

Berikut adalah spesifikasi MG yang digunakan:

Type

Beban Maksimal : 7.5 kW/380V

Tegangan koil

: AC 220V

Merk

: Fuji Electric

UNIVERSITAS MERCU BUANA

78

78 3. Gambar 3.25 Magnetic Contactor switching yang peka terhadap suhu dan akan membuka atau kontaknya

3.

Gambar 3.25 Magnetic Contactor switching yang peka terhadap suhu dan akan membuka atau kontaknya pada
Gambar 3.25 Magnetic Contactor
switching
yang peka terhadap suhu
dan akan membuka atau
kontaknya
pada
saat
suhu
yang
terjadi
melebihi
batas
yang
pada saat suhu yang terjadi melebihi batas yang Thermal Overload Relay (TOR) Thermal Overload Relay pada

Thermal Overload Relay (TOR)

Thermal Overload Relay pada gambar 3.23 dilambangkan dengan FR1 adalah

peralatan

menutup

ditentukan sehingga saat ada beban lebih maka hydraulic motor akan tetap

aman.

Gambar 3.26 Thermal Overload Relay

UNIVERSITAS MERCU BUANA

79

Berikut adalah spesifikasi Thermal Overload yang digunakan:

Type

: TK-E02

Beban

: 12A ~ 18A

Merk

: Fuji Electric

b. Rangkaian Kontrol Tekanan

Tekanan atau pressure dari main cylinder merupakan salah satu faktor

yang menentukan kualitas dari produk yang dihasilkan oleh mesin Heat Press 110

yaitu khususnya tekanan pada main cylinder,
yaitu
khususnya
tekanan
pada
main
cylinder,

Ton 2RT 2P1U, oleh karena itu diperlukan adanya rangkaian kontrol tekanan.

Rangkaian kontrol tekanan pada mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U merupakan

sebuah rangkaian yang berfungsi untuk pengukuran terhadap tekanan dari silinder

kemudian

hidraulik

membandingkannya terhadap harga tertentu dari tekanan

yang dikehendaki, lalu

melakukan koreksi yakni dengan mengatur penyalaan dari pompa hidraulik dan

solenoid valve. Jika tekanan dari main cylinder sudah mencapai nilai yang

dikehendaki maka sistem kontrol akan bekerja untuk mematikan pompa hidraulik

serta solenoid valve. Gambar 3.27 merupakan skema rangkaian kontrol tekanan

yang dimaksud.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

0V

200V

80

X45 X44 SHAPING PRESSURE COM 13 15 16 18 8 VPR 9 1 2 3
X45
X44
SHAPING
PRESSURE
COM
13
15
16
18
8
VPR
9
1
2
3
4
5
PSE
RED
WHI
BLA
BLUE
TE
CK
PRESSURE
GAUGE
Gambar 3.27 Rangkaian Kontrol Tekanan
Komponen yang digunakan dalam rangkaian kontrol ini ialah Digital Pressure
Switch type VPRVS-2S(HH)-30Mpa-A2-22 dengan merk Valcom. Kaki nomor 8
dan 9 terhubung dengan sumber tegangan sebesar AC 200 Volt. Kemudian untuk
output dari komponen pressure meter-nya ada dua kontak, yaitu kaki nomor 13
dan 15, 16 dan 18 yang keduanya berupa kontak NO. Untuk kaki nomor 15
dihubungkan ke PLC dengan alamat X45 yaitu sebagai batas nilai tekanan
tertinggi, sedangkan untuk kaki nomor 18 dihubungkan ke PLC melalui alamat

X44 yaitu sebagai batas tekanan terendah. Sedangkan untuk kaki 1, 2, 3, 4, dan 5

dihubungkan ke pressure gauge atau komponen yang mendeteksi atau membaca

tekanan yang ada.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

81

81 Gambar 3.28 Digital Pressure Switch Solid State Relay Temperature Relay Controller Gambar 3.29 Blok Diagram

Gambar 3.28 Digital Pressure Switch

Solid State Relay Temperature Relay Controller
Solid State
Relay
Temperature
Relay
Controller

Gambar 3.29 Blok Diagram Rangkaian Kontrol Suhu

3.3.1.4 Perancangan Rangkaian Kontrol Suhu

Perancangan rangkaian kontrol suhu pada mesin Heat Press 110 Ton 2RT

2P1U yang dibuat terdiri dari dua buah rangkaian yaitu rangkaian daya heater

dan rangkaian kontrol suhu

Heater
Heater
PLC FX3U-80M
PLC FX3U-80M
Termokopel
Termokopel

a. Rangkaian Daya Heater

Heater berfungsi sebagai pemanas untuk menghasilkan suhu tertentu pada

ruang pengepresan. Ada dua buah Heater yang digunakan yaitu Upper Heater dan

Lower Heater yang besarnya sama yaitu masing-masing 2.7 kW. Rangkaian daya

UNIVERSITAS MERCU BUANA

82

untuk Heater yaitu terdiri dari Circuit Breaker (CB), Solid State Relay (SSR) dan

Heater Fault Detector (HDK).

AC 380V 3 Phasa 50/60HZ

E R S T TC1- 1 TC1+ 2 CB1 EH1 R3 H1 R0 3+ 4-
E
R
S
T
TC1-
1
TC1+
2
CB1
EH1
R3
H1
R0
3+
4-
1
2
S1
S2
CB2
SSR1
EH2
EH3A
S3
H2
H3A
HDK
S0
SSR2
CB3
EH3
1
2
G+
G- a1
CM1
H3
T3
3+
4-
T0
CB9
TC1+
TC1-
X43 COM
HEATER 2.7KW
Gambar 3.30 Rangkaian Daya Heater
Part yang digunakan dalam rancangan rangkaian daya Heater adalah sebagai
berikut:
1.
Circuit Breaker (CB)
Circuit Breaker
pada rangkaian daya Heater berfungsi untuk melindungi
rangkaian dari arus yang berlebihan.

Gambar 3.31 Circuit Breaker

UNIVERSITAS MERCU BUANA

83

Spesifikasi Circuit Breaker yang digunakan ialah:

Type

: CP30-BA 1P 10A

Beban maksimal

: 10A

Merk

: Mitsubishi

2. Solid State Relay (SSR)

Solid State Relay (SSR) pada gambar 3.30 adalah sebuah saklar elektronik

yang tidak memiliki bagian yang bergerak, sehingga dapat menghindari

memiliki bagian yang bergerak, sehingga dapat menghindari terjadinya percikan api seperti yang terjadi pada relay

terjadinya percikan api seperti yang terjadi pada relay konvensional dan juga

dapat menghindari terjadinya sambungan tidak sempurna karena kontaktor

keropos seperti pada relay konvensional. SSR disini berfungsi sebagai saklar

ON/OFF untuk Heater.

Gambar 3.32 Solid State Relay

Spesifikasi Solid State Relay (SSR) yang digunakan ialah:

Type

: G3NA-210B

Beban

: 10A

Merk

: OMRON

UNIVERSITAS MERCU BUANA

84

3. Heater Fault Detector (HDK) Heater Fault Detector ialah suatu alat yang dapat mendeteksi terjadinya
3.
Heater Fault Detector (HDK)
Heater Fault Detector ialah suatu alat yang dapat mendeteksi terjadinya
kesalahan yang terjadi pada heater berdasarkan pengukuran besarnya arus
yang mengalir, manakala besarnya arus yang mengalir pada heater lebih
rendah
dari
settingan
maka
output
kontaknya
akan
bekerja,
hal
ini
menandakan bahwa kabel heater telah rusak atau putus.
Gambar 3.33 Heater Fault Detector
Spesifikasi Heater Fault Detector (HDK) yang digunakan ialah:
Type
: K2CU-F10A-FGS
Beban
: 4A~10A
Merk
: OMRON
b.
Rangkaian Kontrol Suhu

Selain tekanan, salah satu faktor yang menjadi penentu kualitas dari

produk yang dihasilkan ialah suhu atau temperature. Dengan adanya rangkaian

kontrol suhu ini maka diharapkan suhu yang ada pada mesin dapat stabil dan

besarnya sesuai dengan yang diinginkan. Gambar 3.34 menunjukkan skema

rangkaian kontrol suhu.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

THERMOCOUPLE 1

TE1+

TE1-

85

0V 200V (+) (-) CR 8 104 10 11 1 2 UPPER HEATER PLATE TEMP
0V
200V
(+)
(-)
CR 8
104
10
11
1
2
UPPER HEATER PLATE TEMP
CONTROLLER
TC1
8
7
13
12
TC1+
TO SOLID STATE RELAY
HEATING FAULT TEST BUZZER
TC1-
COM
X0BA
UPPER, LOWER DEVIATION ALARM
X42
7
8
1
2
LOWER HEATER PLATE TEMP CONTROLLER
TC2
10
11
13
12
TC2+
TO SOLID STATE RELAY
(+)
(-)
HEATING FAULT TEST BUZZER
TC2-
TE2+
TE2-
THERMOCOUPLE 2
Gambar 3.34 Rangkaian Kontrol Suhu
Sensor suhu yang digunakan adalah sensor termokopel tipe K. Besaran
fisis yang dihasilkan termokopel
dibaca
oleh temperature controller kemudian
secara
otomatis
akan
muncul suhu terbaca pada display temperature controller
ini. Pengendalian suhu dilakukan oleh modul temperature controller dengan
memasukan
set
value
dan
memilih
jenis
pengendalian
pada
temperature

controller tersebut. Sinyal kendali yang dihasilkan temperature controller tidak

dapat

langsung

ke heater,

karena

sinyal

ini

diputus solid state relay yang

dikendalikan

dari

PLC sebagai pusat kendali. Gambar 3.35

memperlihatkan

bentuk

fisik

dari

termokopel

tipe

K

yang digunakan, pada termokopel ini

terdapat dua kaki.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

Fungsi dari kedua kaki adalah:

86

a. Kaki pertama sebagai sumbu positif (+) termokopel.

b. Kaki kedua sebagai sumbu negatif (-) dari termokopel tersebut.

kedua sebagai sumbu negatif (-) dari termokopel tersebut. Gambar 3.35 Termokopel kaki positif termokopel sedangkan
Gambar 3.35 Termokopel kaki positif termokopel sedangkan kaki 11 untuk
Gambar 3.35 Termokopel
kaki
positif
termokopel
sedangkan
kaki
11
untuk

Kedua kaki termokopel ini dihubungkan ke sebuah komponen yang dinamakan

temperature controller REX-D400 dari RKC pada terminal 10 dan 11. Terminal

10

negative

untuk

kaki

termokopel. Komponen ini akan mengolah data dari termokopel kemudian akan

dikonversikan menjadi sebuah nilai suhu tertentu. Kemudian untuk kaki 12 dan 13

dari temperature controller dihubungkan ke power input dari SSR. Saat suhu yang

diinginkan tercapai maka kontak pada kaki 12 dan 13 ini akan terputus sehingga

tidak ada arus yang mengalir untuk menyalakan SSR dan akibatnya Heater akan

mati.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

87

87 Gambar 3.36 Temperature Controller REX-D400 Vacuum Pressure Solenoid Switch Valve Magnetic Contactor Gambar 3.37
Gambar 3.36 Temperature Controller REX-D400 Vacuum Pressure Solenoid Switch Valve Magnetic Contactor
Gambar 3.36 Temperature Controller REX-D400
Vacuum
Pressure
Solenoid
Switch
Valve
Magnetic
Contactor

Gambar 3.37 Blok Diagram Rangkaian Kontrol Vacuum

3.3.1.5 Perancangan Rangkaian Kontrol Vacuum

Perancangan rangkaian kontrol vacuum pada mesin Heat Press 110 Ton

2RT 2P1U yang dibuat terdiri dari dua buah rangkaian yaitu rangkaian daya

vacuum motor dan rangkaian kontrol vacuum pressure.

Vacuum PLC FX3U-80M Motor
Vacuum
PLC FX3U-80M
Motor

a. Rangkaian Daya Vacuum Motor (Motor Vacuum)

Seperti halnya hydraulic motor, jenis motor yang digunakan untuk proses

vacuum juga

berupa motor induksi 3 phasa, oleh karena itu diperlukan adanya

rangkaian daya yang berfungsi untuk memberikan supply tegangan 3 phasa ke

motor tersebut. Rangkaian daya untuk vacuum motor juga sangat sederhana yaitu

UNIVERSITAS MERCU BUANA

88

terdiri dari Mini Circuit Breaker (MCB), Magnetic Contactor dan Thermal

Overload Relay (TOR).

AC380V 3F 50/60HZ

E R S T NFB 1 FR2 VACUUM MOTOR MCB3 R2 MG2 U2 1,5KW R0
E
R
S
T
NFB 1
FR2
VACUUM MOTOR
MCB3
R2
MG2
U2
1,5KW
R0
S2
V2
M2
S0
T2
W2
T0
Gambar 3.38 Rangkaian Daya Vacuum Motor
Part yang digunakan dalam rancangan rangkaian daya Vacuum Motor adalah
sebagai bertikut:
1. Mini Circuit Breaker (MCB)
MCB pada gambar 3.38 berfungsi untuk melindungi rangkaian dari arus yang
berlebihan.
Spesifikasi MCB yang digunakan ialah :
Type
: CP30-BA 3P 10A
Beban Max
: 10 A
Merk
: Mitsubishi

2. Magnetic Contactor (MG)

Magnetic Contactor (MG) pada gambar 3.38 berfungsi sebagai penghubung

tegangan atau arus utama dengan vacuum motor yang kontak utamanya dapat

UNIVERSITAS MERCU BUANA

 

89

dikontrol

dengan

cara

memberikan

tegangan

pada

koil

sesuai

dengan

spesifikasi koil tersebut.

Spesifikasi Magnetic Contactor yang digunakan ialah:

3.

b.

Type

: SC-03

Beban Max

: 4 kW/380V

Tegangan Coil

: AC 220V

Merk

: Fuji Electric

kontaknya pada saat suhu yang terjadi melebihi : TK-E02 : 2.8A ~ 4.2A : Fuji
kontaknya
pada
saat
suhu
yang
terjadi
melebihi
: TK-E02
: 2.8A ~ 4.2A
: Fuji Electric

Thermal Overload Relay (TOR)

Thermal Overload Relay pada gambar 3.38 dilambangkan dengan FR2 adalah

peralatan switching

yang peka terhadap suhu dan akan membuka atau

batas

yang

menutup

ditentukan sehingga saat ada beban lebih maka vacuum motor akan tetap

aman.

Thermal Overload Relay yang digunakan ialah:

Type

Beban

Merk

Rangkaian Kontrol Vacuum Pressure ( Tekanan Vacuum)

Selain tekanan dan suhu, salah satu faktor lain yang menjadi penentu

kualitas dari produk yang dihasilkan ialah vacuum pressure. Rangkaian kontrol

vacuum pressure pada mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U merupakan sebuah

rangkaian yang berfungsi untuk pengukuran terhadap tekanan vacuum yang ada

UNIVERSITAS MERCU BUANA

90

pada chamber kemudian membandingkannya terhadap harga tertentu dari tekanan

yang dikehendaki, lalu melakukan koreksi yakni dengan mengatur penyalaan dari

vacuum motor dan solenoid valve. Jika tekanan vacuum sudah mencapai nilai

yang dikehendaki maka sistem kontrol akan bekerja untuk mematikan pompa

vacuum serta solenoid valve. Gambar 3.37 merupakan skema rangkaian kontrol

vacuum pressure yang dimaksud.

BROWN DC + 24 Volt Vacuum BLACK Pressure To PLC X47 Switch BLUE DC -
BROWN
DC
+ 24 Volt
Vacuum
BLACK
Pressure
To PLC X47
Switch
BLUE
DC
- 24 Volt
Gambar 3.39 Rangkaian Kontrol Vacuum Pressure
: DP-100
: SUNX
3.39 Rangkaian Kontrol Vacuum Pressure : DP-100 : SUNX Berikut adalah spesifikasi vacuum pressure switch yang

Berikut adalah spesifikasi vacuum pressure switch yang digunakan:

Type

Input Voltage : DC 24 Volt

Merk

Gambar 3.40 Vacuum Pressure Switch

UNIVERSITAS MERCU BUANA

91

3.3.1.6 Perancangan Antarmuka Pengguna

Rancangan antarmuka pengguna pada kontrol elektrik mesin Heat Press

110 Ton 2RT 2P1U merupakan perangkat keras atau hardware yang difungsikan

untuk

mempermudah user atau

pengguna itu sendiri. Perangkat keras tersebut

berupa tombol-tombol operasi, selector switch, buzzer,

dan HMI yang langsung

terhubung pada port input/ output dan port komunikasi pada PLC. Fungsi dari

tombol operasi ini antara lain yaitu sebagai tombol start, reset, emergency stop,

lain yaitu sebagai tombol start, reset, emergency stop, preheat, stop, dan ejector down . Selector switch

preheat, stop, dan ejector down. Selector switch difungsikan sebagai tombol untuk

memilih mode operasi yaitu manual ataukah auto. Buzzer difungsikan sebagai

indikator suara yang menunjukkan proses yang sedang terjadi, sedangkan HMI

difungsikan sebagai perangkat layar sentuh yang digunakan dalam pengoperasian

mesin, dan juga sebagai layar monitor yang dapat menunjukkan proses yang

sedang terjadi pada mesin.

Push Button adalah saklar tekan yang berfungsi untuk menghubungkan

atau memisahkan bagian – bagian dari suatu instalasi listrik satu sama lain. Push

button memiliki kontak NC (normally close) dan NO (normally open). Untuk

implementasi tipe push button yang digunakan pada kontrol elektrik ini ialah

AR22E0R-11Y, AR22E0R-11R, AR22F0R-11G, AR22F0R-11B dan semuanya

buatan dari Fuji Electric.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

92

92 Gambar 3.41 Push Button Selector Switch adalah kontak/saklar yang digerakkan oleh tombol atau tuas putar

Gambar 3.41 Push Button

92 Gambar 3.41 Push Button Selector Switch adalah kontak/saklar yang digerakkan oleh tombol atau tuas putar
92 Gambar 3.41 Push Button Selector Switch adalah kontak/saklar yang digerakkan oleh tombol atau tuas putar

Selector Switch adalah kontak/saklar yang digerakkan oleh tombol atau

tuas putar untuk memilih satu dari dua atau lebih posisi. Ada yang berlaku seperti

toggle switch dimana

selektor dapat berhenti pada satu posisi, dan ada yang

berlaku seperti push button, dimana setelah melakukan pemilihan maka seletor

akan kembali ke posisi semula atau posisi netral. Untuk kali ini jenis selector

switch yang digunakan ialah selector switch tiga posisi dengan tipe AR22DR-

311B dari Fuji Electric.

Gambar 3.42 Selector Switch

Buzzer dalam dunia industri merupakan suatu alat yang digunakan untuk

memberikan informasi secara audio tentang suatu proses yang sedang berjalan

UNIVERSITAS MERCU BUANA

93

pada mesin. Sebagai contoh buzzer akan berbunyi jika terjadi abnormality pada

mesin, atau buzzer akan berbunyi ketika proses yang berjalan pada mesin telah

berakhir. Untuk implementasi tipe Buzzer yang digunakan pada kontrol elektrik

ini ialah DR22B5-EB dari Fuji Electric.

kontrol elektrik ini ialah DR22B5-EB dari Fuji Electric. Gambar 3.43 Buzzer HMI AGP-3300 Series merupakan salah
Gambar 3.43 Buzzer
Gambar 3.43 Buzzer
ini ialah DR22B5-EB dari Fuji Electric. Gambar 3.43 Buzzer HMI AGP-3300 Series merupakan salah satu produk

HMI AGP-3300 Series merupakan salah satu produk display layar sentuh

dari Pro-face yang banyak dipakai di dunia industry sebagai media interface

antara operator dengan mesin yang dapat difungsikan sebagai panel kontrol dalam

pengoperasian mesin.

Gambar 3.44 HMI AGP-3300 Series

AGP-3300 Series mempunyai dimensi 167.5 mm x 135 mm x 59.5 mm dengan

input voltage sebesar DC 24V. Untuk spesifikasi displaynya sendiri ialah layar

UNIVERSITAS MERCU BUANA

94

sentuh ukuran 5,7” dengan berbagai variasi type color LCD yang ditawarkan,

antara lain TFT Color LCD, STN Color LCD, STN Monochrome (B&W) LCD

dan STN Monochrome (Blue Mode) LCD. Pada kontrol elektrik mesin Heat Press

110 Ton 2RT 2P1U digunakan HMI Proface dengan tipe AGP3300-S1-D24.

3.3.1.7 Hasil Implementasi Perangkat Keras

Hasil dari semua implementasi perangkat keras ini ialah berupa Control

Panel dan Operation Panel . Control Panel berisi rangkaian daya Hydraulic

Panel . Control Panel berisi rangkaian daya Hydraulic Motor , rangkaian daya Vacuum Motor , rangkaian
Panel . Control Panel berisi rangkaian daya Hydraulic Motor , rangkaian daya Vacuum Motor , rangkaian

Motor, rangkaian daya Vacuum Motor, rangkaian daya Heater, rangkaian catu

daya AC dan DC serta rangkaian sistem utama PLC.

PLC

catu daya AC dan DC serta rangkaian sistem utama PLC. PLC Kontrol Heater Catu daya DC

Kontrol

Heater

dan DC serta rangkaian sistem utama PLC. PLC Kontrol Heater Catu daya DC 24 Volt Kontrol

Catu daya DC 24 Volt

Kontrol Motor & Vacuum Motor
Kontrol
Motor &
Vacuum
Motor

Hydraulic

Catu daya AC 200 Volt

Motor & Vacuum Motor Hydraulic Catu daya AC 200 Volt Gambar 3.45 Control Panel Sedangkan Operation

Gambar 3.45 Control Panel

Sedangkan Operation Panel berisi rangkaian kontrol tekanan, rangkaian kontrol

suhu dan rangkaian antarmuka pengguna.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

95

95 Digital Pressure Switch Temperature Controller HMI Push Button, Selector Switch & Buzzer Gambar 3.46 Operation

Digital Pressure

Switch

95 Digital Pressure Switch Temperature Controller HMI Push Button, Selector Switch & Buzzer Gambar 3.46 Operation

Temperature

Controller

95 Digital Pressure Switch Temperature Controller HMI Push Button, Selector Switch & Buzzer Gambar 3.46 Operation

HMI

95 Digital Pressure Switch Temperature Controller HMI Push Button, Selector Switch & Buzzer Gambar 3.46 Operation

Push Button, Selector Switch & Buzzer

Controller HMI Push Button, Selector Switch & Buzzer Gambar 3.46 Operation Panel Perancangan Perangkat Lunak
Gambar 3.46 Operation Panel Perancangan Perangkat Lunak Pada PLC FX3U-80M bahasa pemrograman yang
Gambar 3.46 Operation Panel
Perancangan Perangkat Lunak
Pada PLC FX3U-80M bahasa
pemrograman
yang

3.3.2

Rancangan perangkat lunak pada sistem ini terbagi dalam dua bagian,

antara lain rancangan perangkat lunak PLC dan rancangan perangkat lunak HMI.

3.3.2.1 Perancangan Perangkat Lunak PLC FX3U-80M

digunakan yaitu

pemrograman

diagram ladder dengan GX Developer sebagai software-nya.

Software ini berbasis Windows (95, 98, NT, 2000, XP) yang dapat digunakan

pada PLC Mitsubishi antara lain FX Series, Q Series, A series dan L series.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

96

96 Gambar 3.47 GX Developer Berikut adalah tahapan pembuatan perangkat Pada tahap perancangan perangkat lunak PLC,
Gambar 3.47 GX Developer Berikut adalah tahapan pembuatan perangkat
Gambar 3.47 GX Developer
Berikut
adalah
tahapan
pembuatan
perangkat

Pada tahap perancangan perangkat lunak PLC, perlu diketahui langkah-

langkah mulai dari pemilihan perangkat hingga setting parameter program untuk

untuk

perangkat.

lunak

memprogram PLC FX3U-80M:

a) Membuka aplikasi GX-Developer

b) Membuat proyek baru pada apalikasi GX-Developer

Pada tahap ini klik “PLC series” dan pilih tipe FXCPU. Dan pada “PLC type”

pilih FX3U (C).kemudian klik “OK”. Lihat Gambar 3.48.

c) Memulai pembuatan ladder di halaman pemograman. Lihat Gambar 3.49.

Untuk

menulis

sebuah

program

PLC

pada

GX

Developer

diperlukan

pengetahuan mengenai instruksi-instruksi yang digunakan. Berikut adalah

macam-macam instruksi yang ada pada GX Developer:

1. X- Physical Input:Address X digunakan untuk menunjuk input fisik.

2. Y- Physical Output: Address Y digunakan untuk menunjukkan output.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

97

3. M- Auxiliary Relay: Address M menunjukkan Internal Relay.

4. T- Timer: Address T menunjukkan Timer.

5. C- Counter: Address C menunjukkan Counter.

6. D- Data Register : Semua data register 16 bit.

7. K- Numerical Constant : Untuk menunjukkan nilai konstanta.

d)

Memberikan keteranngan (comment) pada setiap perintah input (X) maupun

output (Y). Klik menu “Device Comment” untuk memberikan keterangan.

maupun output (Y). Klik menu “Device Comment” untuk memberikan keterangan. Lihat Gambar 3.50. UNIVERSITAS MERCU BUANA

Lihat Gambar 3.50.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

98

98 Gambar 3.48 Penentuan Perangkat PLC UNIVERSITAS MERCU BUANA

Gambar 3.48 Penentuan Perangkat PLC

UNIVERSITAS MERCU BUANA

99

99 Gambar 3.49 Pembuatan Program PLC UNIVERSITAS MERCU BUANA

Gambar 3.49 Pembuatan Program PLC

UNIVERSITAS MERCU BUANA

100

100 Gambar 3.50 Pemberian Comment Input (X) dan Output (Y) PLC UNIVERSITAS MERCU BUANA

Gambar 3.50 Pemberian Comment Input (X) dan Output (Y) PLC

UNIVERSITAS MERCU BUANA

101

Program yang dibuat didasarkan atas urutan proses yang telah menjadi

standar dari pergerakan mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U. Urutan proses

tersebut seperti yang terlihat pada gambar 3.51.

Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U Flow Chart T0 T00 PB-4 T1 T2 T00 START
Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U Flow Chart
T0
T00
PB-4
T1
T2
T00
START
T3
PS1-H
PS1-H
TL-3
PS1-H
PS1-L
TL-2
Press Cylinder
TL-1
TL-1
LS-1
Mold In/ Out
LS-2
LS-15
LS-14
Mold Open/Close
LS-13
LS-4
LS-3
Eject Up/Down
LS-5
LS-10
Mold Turn/Return
LS-9
Shutter Open/Close
TL-12
Hyd Motor
Mg-1
Low Press Load
Sol-1
High Press Load
Sol-3
Low Speed Up
Sol-6
Low Speed Down
Sol-7
High Speed Up
Sol-4
High Speed Down
Sol-5
Mold Out
Sol-10
Mold In
Sol-9
Eject Down
Sol-12
Eject Up
Sol-11
Return
Sol-16
Turn
Sol-15
Mold Close
Sol-14
Mold Open
Sol-13
SK Pump
Mg-2
SK-Valve
Sol-17
Mid- Press
Sol-2
Shutter
Vacuum
Press

Keterangan

:

ON: :

:

OFF:

:

Gambar 3.51 Diagram Sequence Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U

UNIVERSITAS MERCU BUANA

102

Penjelasan secara garis besar cara kerja dari Ladder Diagram yang telah dibuat

ialah sebagai berikut:

Saat selector switch dipilih pada posisi mode AUTO dan kemudian tombol start

(PB-4) di tekan maka magnetic contactor untuk hydraulic motor dan juga

solenoid valve untuk mold return akan aktif. Solenoid mold return akan terus aktif

sampai sensor return end (LS-9) aktif. Trigger dari LS-9 ini akan mengaktifkan

solenoid mold in sampai sensor mold in end (LS-2) aktif . Jika LS-2 aktif maka

SK Onload akan aktif bersamaan dengan timer T3
SK
Onload
akan
aktif
bersamaan
dengan
timer
T3

selanjutnya akan mengaktifkan pergerakan Main Cylinder yaitu dimulai dengan

pergerakan high speed up. Solenoid high speed up akan berhenti aktif saat sensor

speed change (TL-2) aktif. Kemudian untuk selanjutnya solenoid low speed up

yang akan aktif sampai sensor up end (TL-3) aktif. Dengan aktifnya TL-3 maka

akan

mulai

akan

solenoid

menghitung sesuai dengan nilai yang sudah ditentukan. Proses vacuum

berlangsung selama T3. Setelah T3 tercapai maka solenoid low speed up akan

aktif kembali sampai nilai pressure yang diinginkan sesuai dengan settingan pada

PS1-H. Jika nilai pressure sudah sesuai maka timer T0 akan mulai menghitung,

dimana T0 merupakan timer yang mengatur lamanya waktu yang digunakan untuk

proses curing. Selain T0, timer T1 juga mulai menghitung

sesuai dengan waktu

yang ditentukan. Setelah T1 tercapai maka dilanjutkan dengan proses bumping

dengan lamanya waktu sesuai dengan settingan T2. Dan saat T2 tercapai solenoid

low speed up akan aktif kembali. Selama proses curing dan bumping berlangsung

timer T0 tetap menghitung sampai lamanya waktu yang diinginkan tercapai. Dan

jika T0 tercapai maka akan dilanjutkan dengan pergerakan low speed down dan

UNIVERSITAS MERCU BUANA

103

kemudian high speed down. Setelah pergerakan Main Cylinder sudah menyentuh

sensor down end (TL-1) maka solenoid mold out akan aktif. Pergerakan mold out

ini akan berhenti setelah sensor mold out end (LS-2) tersentuh dan aktif.

Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan pergerakan mold open sampai sensor

mold open position (LS-14) aktif. Setelah LS-14 aktif maka dilanjutkan dengan

pergerakan ejector up sampai LS-4 menyala. Kemudian setelah itu solenoid mold

turn akan aktif dan akan berhenti sampai sensor turn end (LS-10) menyala. Pada

dan mengurangi waktu jam kerja yang
dan
mengurangi
waktu
jam
kerja
yang

posisi mold turn end inilah boleh dikatakan proses auto pada mesin telah berakhir.

Untuk memulai kembali maka dapat dilakukan dengan cara menekan tombol start

untuk kesekian kalinya dan proses pergerkan mesin akan berulang seperti yang

sudah dijelaskan di atas.

3.3.2.2 Rancangan Perangkat Lunak HMI Proface AGP 3300

Salah satu software yang biasa dipakai untuk pemrograman HMI Pro-face

ialah GP-Pro EX. Software ini merupakan software pengganti dari software

sebelumnya yaitu GP-Pro/PBIII. GP-Pro EX memiliki sistem user interface yang

untuk

mempermudah

dibutuhkan

mendesign layar, selain itu fungsi-fungsi yang tersedia juga dapat memberikan

kesan yang realistis pada tampilan layar.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

104

104 Gambar 3.52 GP-Pro EX Software Sama halnya seperti pada perancangan perangkat lunak PLC, pada tahap
Gambar 3.52 GP-Pro EX Software
Gambar 3.52 GP-Pro EX Software

Sama halnya seperti pada perancangan perangkat lunak PLC, pada tahap

perancangan perangkat lunak HMI juga perlu diketahui langkah-langkah mulai

dari pemilihan perangkat hingga setting parameter program untuk perangkat.

Berikut adalah tahapan pembuatan perangkat lunak untuk memprogram HMI

Proface AGP3300:

a) Membuka aplikasi GP-Pro EX

b) Membuat proyek baru pada apalikasi GP-Pro EX

Pada tahap ini klik “New” dan kemudian klik “OK” . Lihat Gambar 3.53.

c) Menentukan perangkat HMI yang akan digunakan

Pada tahap ini klik “Series”

kemudian pilih GP3000 Series dan GP33**

Series, sedangkan untuk “Model” pilih AGP3300S. Setelah itu klik “Next”.

Lihat Gambar 3.54.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

 

105

d) Menentukan perangkat PLC yang akan digunakan

 

Pada tahap ini klik “Number of Devices PLCs”

kemudian pilih 1,

untuk

“Manufacture”

pilih

Mitsubishi

Electric

Corporation.

Selanjutnya

klik

“Series” dan pilih FX Series CPU Direct. Untuk “Port” pilih Com 1. Setelah

itu klik “New Screen” . Lihat Gambar 3.55.

e) Memulai pembuatan program pada Screen

Pada tahap ini pilih “Parts (P)” sesuai dengan yang ingin ditampilkan pada

“Parts (P)” sesuai dengan yang ingin ditampilkan pada screen. Setelah part sudah dipilih dan dimasukkan ke

screen. Setelah part sudah dipilih dan dimasukkan ke screen, maka sesuaikan

ukuran part, dan kemudian double klik part yang dipilih. Lalu masukkan bit

address yang akan terhubung dengan PLC serta setingan lainnya sehubungan

dengan part yang akan ditampilkan, misalnya warna ataupun label. Lihat

Gambar3.56.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

106

106 Gambar 3.53 Pembuatan Proyek Baru UNIVERSITAS MERCU BUANA

Gambar 3.53 Pembuatan Proyek Baru

UNIVERSITAS MERCU BUANA

107

107 Gambar 3.54 Penentuan Perangkat HMI UNIVERSITAS MERCU BUANA

Gambar 3.54 Penentuan Perangkat HMI

UNIVERSITAS MERCU BUANA

108

108 Gambar 3.55 Penentuan Perangkat PLC UNIVERSITAS MERCU BUANA

Gambar 3.55 Penentuan Perangkat PLC

UNIVERSITAS MERCU BUANA

109

109 Gambar 3.56 Pembuatan Program HMI UNIVERSITAS MERCU BUANA

Gambar 3.56 Pembuatan Program HMI

UNIVERSITAS MERCU BUANA

110

Secara keseluruhan untuk mesin Heat Press 110 Ton 2RT 2P1U tampilan

perangkat lunak HMI nya ialah sebagai berikut:.

1. Base Screen 1

Base Screen 1 merupakan tampilan awal saat HMI mulai dinyalakan.

Screen 1 merupakan tampilan awal saat HMI mulai dinyalakan. Gambar 3.57 Tampilan Base Screen 1 Untuk
Gambar 3.57 Tampilan Base Screen 1
Gambar 3.57 Tampilan Base Screen 1

Untuk pindah ke screen berikutnya dapat dilakukan dengan cara menekan tombol

yang terdapat gambar tangan dan monitor. Jika tombol ini ditekan maka tampilan

HMI akan beralih ke Base Screen 2.

2.

Base Screen 2

Base Screen 2

merupakan tampilan untuk First Instruction. Ada tiga buah

tombol yang terdapat pada Base Screen 2 yaitu:

a) Tombol Setting. Tombol ini digunakan untuk beralih ke screen yang akan

menampilkan setting parameter, yaitu ke Base Screen 3.

b) Tombol Auto. Tombol ini digunakan untuk beralih ke screen yang akan

menampilkan Auto Monitor, yaitu ke Base Screen 5.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

111

c) Tombol Manual Operation. Tombol ini digunakan untuk beralih ke screen

yang akan menampilkan Manual Operation, yaitu ke Base Screen 6.

3.

menampilkan Manual Operation , yaitu ke Base Screen 6 . 3. Gambar 3.58 Tampilan Base Screen
Gambar 3.58 Tampilan Base Screen 2 pergerakan Mold Open Pause.
Gambar 3.58 Tampilan Base Screen 2
pergerakan Mold Open Pause.

Base Screen 3

Base Screen 3

merupakan tampilan untuk Setting Parameter 1. Ada 4 buah

selector switch dan 2 buah tombol yang terdapat pada Base Screen 3 yaitu:

a)

Selector Switch Mold Open Pause. Posisi No artinya saat proses Auto tidak

ada pergerakan Mold Open Pause, sedangkan posisi Yes berarti ada

b)

Selector Switch Ejector Up after Mold Open. Posisi No artinya saat proses

Auto tidak ada pergerakan Ejector Up after Mold Open., sedangkan posisi

Yes berarti ada pergerakan Ejector Up after Mold Open

c)

Selector Switch Mold Open after Ejector Up. Posisi No artinya saat proses

Auto tidak ada pergerakan Mold Open after Ejector Up, sedangkan posisi

Yes berarti ada pergerakan Mold Open after Ejector Up.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

112

d) Selector Switch Mold Open and Ejector Up. Posisi No artinya saat proses

Auto tidak ada pergerakan Mold Open and Ejector Up, sedangkan posisi

Yes berarti ada pergerakan Mold Open and Ejector Up.

e) Tombol

Back.

Tombol

ini

digunakan

untuk

beralih

sebelumnya, yaitu ke Base Screen 2.

ke screen

yang

f) Tombol Next. Tombol ini digunakan untuk beralih ke screen berikutnya,

4.

yaitu ke Base Screen 4.

Gambar 3.59 Tampilan Base Screen 3
Gambar 3.59 Tampilan Base Screen 3

Base Screen 4

Base Screen 4

merupakan tampilan untuk Setting Parameter 2. Ada 4 buah

Timer dan 1 buah Counter yang terdapat pada Base Screen 4 yaitu:

a) SK Timer. Timer ini digunakan untuk mengatur lamanya waktu dalam

proses SK atau Vacuum.

b) 1 st Press Timer. Timer ini digunakan untuk mengatur lamanya waktu

dalam proses 1 st Press.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

113

c)

Bumping Down Timer. Timer ini digunakan untuk mengatur lamanya

waktu dalam proses pergerakan Bumping Down.

 

d)

Tombol

Back.

Tombol

ini

digunakan

untuk

beralih

ke screen

yang

sebelumnya, yaitu ke Base Screen 3.

 

e)

Tombol Next. Tombol ini digunakan untuk beralih ke screen berikutnya,

yaitu ke Base Screen 8 yang akan menampilkan Setting Parameter 3.

5.

Screen 8 yang akan menampilkan Setting Parameter 3. 5. Gambar 3.60 Tampilan Base Screen 4 Base
Gambar 3.60 Tampilan Base Screen 4
Gambar 3.60 Tampilan Base Screen 4

Base Screen 5

Base Screen 5

merupakan tampilan untuk Auto Monitor. Ada 6 buah lampu

indikator dan 1 buah Timer serta 1 buah Counter yang terdapat pada Base

Screen 5 yaitu:

a) Lampu Indikator Mold In. Nyala lampu ini digunakan untuk memberikan

informasi bahwa mold sedang berada pada posisi Mold In.

b) Lampu Indikator Curing. Nyala lampu

ini digunakan untuk memberikan

informasi bahwa proses Curing sedang berlangsung.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

114 c) Lampu Indikator Area Sensor. Nyala lampu ini digunakan untuk memberikan informasi bahwa area
114
c)
Lampu
Indikator
Area
Sensor.
Nyala
lampu
ini
digunakan
untuk
memberikan informasi bahwa area sensor sedang aktif.
d)
Lampu Indikator Preheat. Nyala lampu ini digunakan untuk memberikan
informasi bahwa proses preheat sedang berlangsung.
e)
Lampu Indikator Temperature OK. Nyala lampu
ini digunakan untuk
memberikan informasi bahwa temperature sudah mencapai nilai yang
diinginkan.
f)
Lampu Indikator Emergency Stop. Nyala lampu
ini digunakan untuk
memberikan informasi bahwa tombol Emergency Stop sedang ditekan.
g)
Curing Time. Timer ini digunakan untuk menghitung berapa lama waktu
yang diperlukan dalam satu kali proses curing.
h)
Counter. Counter
ini digunakan untuk memberikan informasi jumlah
proses curing yang sudah dicapai.
i)
Tombol Back. Tombol ini digunakan untuk beralih ke tampilan First
Instruction atau Base Screen 2.
j)
Tombol Next. Tombol ini digunakan untuk
beralih ke tampilan I/O
Monitoring atau Base Screen 7 .

UNIVERSITAS MERCU BUANA

115

115 6. Gambar 3.61 Tampilan Base Screen 5 Mold Out secara manual. In secara manual. Mold

6.

Gambar 3.61 Tampilan Base Screen 5 Mold Out secara manual. In secara manual. Mold Open
Gambar 3.61 Tampilan Base Screen 5
Mold Out secara manual.
In secara manual.
Mold Open secara manual.

Base Screen 6

Base Screen 6

merupakan tampilan untuk Manual Operation. Ada 14 buah

tombol yang terdapat pada Base Screen 6 yaitu:

a)

Tombol Mold Out. Tombol ini digunakan untuk mengaktifkan proses

b)

Tombol Mold In. Tombol ini digunakan untuk mengaktifkan proses Mold

c)

Tombol Mold Open. Tombol ini digunakan untuk mengaktifkan proses

d)

Tombol Mold Close. Tombol ini digunakan untuk mengaktifkan proses

Mold Close secara manual.

e)

Tombol Mold Turn. Tombol ini digunakan untuk mengaktifkan proses

Mold Turn secara manual.

f)

Tombol Mold Return. Tombol ini digunakan untuk mengaktifkan proses

Mold Return secara manual.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

116

g) Tombol Ascend. Tombol ini digunakan untuk mengaktifkan proses Ascend

secara manual.

h) Tombol

Descend.

Tombol

ini

Descend secara manual.

digunakan untuk

mengaktifkan

proses

i) Tombol Eject Up. Tombol ini digunakan untuk mengaktifkan proses Eject

Up secara manual.

j) Tombol Eject Down. Tombol ini digunakan untuk mengaktifkan proses

k)

l)

m)

n)

Eject Down secara manual. Tombol Hydraulic Motor. Tombol ini menyalakan/mematikan Hydraulic Motor secara manual.
Eject Down secara manual.
Tombol
Hydraulic
Motor.
Tombol
ini
menyalakan/mematikan Hydraulic Motor secara manual.
Vacuum Motor secara manual.
Heater secara manual.
Instruction atau Base Screen 2.

digunakan

untuk

Tombol SK Pump. Tombol ini digunakan untuk menyalakan/mematikan

Tombol Heater. Tombol ini digunakan untuk menyalakan/mematikan

Tombol Back. Tombol ini digunakan untuk beralih ke tampilan First

UNIVERSITAS MERCU BUANA

7.

117

7. 117 Gambar 3.62 Tampilan Base Screen 6 Lampu Indikator Press Down End. Nyala lampu Lampu
Gambar 3.62 Tampilan Base Screen 6 Lampu Indikator Press Down End. Nyala lampu Lampu Indikator
Gambar 3.62 Tampilan Base Screen 6
Lampu Indikator Press Down End. Nyala lampu
Lampu Indikator Speed Change. Nyala lampu
informasi bahwa sensor Up End sedang aktif.

Base Screen 7

Base Screen 7

merupakan tampilan untuk I/O Monitoring. Ada 13 buah

lampu indikator dan 1 buah tombol yang terdapat pada Base Screen 7 yaitu:

a)

ini digunakan untuk

memberikan informasi bahwa sensor Press Down End sedang aktif.

b)

ini digunakan untuk

memberikan informasi bahwa sensor Speed Change sedang aktif.

c)

Lampu Indikator Up End. Nyala lampu ini digunakan untuk memberikan

d)

Lampu Indikator Mold Out End. Nyala lampu

ini digunakan untuk

memberikan informasi bahwa sensor Mold Out End sedang aktif.

e)

Lampu

Indikator Mold

In End.

Nyala

lampu

ini

digunakan

untuk

memberikan informasi bahwa sensor Mold In End sedang aktif.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

f) Lampu Indikator Mold Open Pause. Nyala lampu

118

ini digunakan untuk

memberikan informasi bahwa sensor Mold Open Pause sedang aktif.

g) Lampu Indikator Mold Open Position. Nyala lampu

ini digunakan untuk

memberikan informasi bahwa sensor Mold Open Position sedang aktif.

h) Lampu Indikator Ejector Up End. Nyala lampu

ini digunakan untuk

memberikan informasi bahwa sensor Ejector Up End sedang aktif.

i) Lampu Indikator Ejector Up Pause. Nyala lampu

ini digunakan untuk

j)

k)

l)

m)

n)

Lampu Indikator Ejector Down End. Nyala lampu Lampu Indikator Turn End. Nyala lampu ini memberikan
Lampu Indikator Ejector Down End. Nyala lampu
Lampu
Indikator
Turn
End.
Nyala
lampu
ini
memberikan informasi bahwa sensor Turn End sedang aktif.
Lampu
Indikator
Return
End.
Nyala
lampu
ini
memberikan informasi bahwa sensor Return End sedang aktif.
Lampu Indikator Mold Close Position. Nyala lampu
Monitoring atau Base Screen 5.

memberikan informasi bahwa sensor Ejector Up Pause sedang aktif.

ini digunakan untuk

memberikan informasi bahwa sensor Ejector Down End sedang aktif.

digunakan

untuk

digunakan

untuk

ini digunakan untuk

memberikan informasi bahwa sensor Mold Close Position sedang aktif.

Tombol Back. Tombol ini digunakan untuk beralih ke tampilan Auto

UNIVERSITAS MERCU BUANA

119

119 8. Gambar 3.63 Tampilan Base Screen 7 waktu yang diperbolehkan dalam pengoperasian mesin. akan digunakan

8.

Gambar 3.63 Tampilan Base Screen 7 waktu yang diperbolehkan dalam pengoperasian mesin. akan digunakan dalam
Gambar 3.63 Tampilan Base Screen 7
waktu yang diperbolehkan dalam pengoperasian mesin.
akan digunakan dalam proses curing.

proses bumping yang terjadi dalam satu kali proses curing.

Base Screen 8

Base Screen 8

merupakan tampilan untuk Setting Parameter 3. Ada 2 buah

Timer dan 1 buah Counter serta 2 buah tombol yang terdapat pada Base

Screen 8 yaitu:

a)

Operation Time Set. Timer ini digunakan untuk mengatur lamanya batasan

b)

Curing Time. Timer ini digunakan untuk mengatur lamanya waktu yang

c)

Bumping Time Counter. Counter ini digunakan untuk mengatur jumlah

d)

Tombol Back. Tombol ini digunakan untuk beralih ke tampilan Setting

Parameter 2 atau Base Screen 4.

e)

Tombol Next. Tombol ini digunakan untuk beralih ke tampilan Calender

Timer atau Base Screen 9.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

120

120 Gambar 3.64 Tampilan Base Screen 8 9. Base Screen 9 Base Screen 9 merupakan tampilan
Gambar 3.64 Tampilan Base Screen 8 9. Base Screen 9 Base Screen 9 merupakan tampilan
Gambar 3.64 Tampilan Base Screen 8
9.
Base Screen 9
Base Screen 9
merupakan tampilan untuk Calender Timer yang berfungsi
untuk menyalakan ataupun mematikan Heater secara otomatis sesuai dengan
waktu yang telah ditentukan. Berikut adalah penjelasan mengenai Calender
Timer:
a)
Tombol Hari, mulai dari hari minggu sampai dengan hari sabtu. Tombol
ini digunakan untuk mengatur atau menentukan hari-hari apa saja heater
akan dinyalakan.
b)
Setting On/ Off, digunakan untuk menentukan waktu atau jam berapa
heater akan dinyalakan dan juga akan dimatikan secara otomatis.
c)
Present
Time,
digunakan
untuk
menunjukkan
hari,
tanggal
dan
jam
sekarang.
d)
Time Setting, digunakan untuk mengatur/ menyetting hari, tanggal dan jam

sesuai dengan keadaan sekarang.

UNIVERSITAS MERCU BUANA

121

e) Timer Set, digunakan untuk mengkonfirmasi data yang kita masukkan

pada time setting.

f) Lampu indicator On/Off, digunakan untuk menunjukkan bahwa heater

dalam keadaan menyala ataukah mati.

g) Tombol Menu, digunakan untuk kembali ke tampilan First instruction

pada Base Screen 2.

Gambar 3.65 Tampilan Base Screen 9
Gambar 3.65 Tampilan Base Screen 9

UNIVERSITAS MERCU BUANA

122

Sedangkan untuk mengetahui alamat part tersebut dapat dilihat pada tabel 3.4 di

bawah ini.

Tabel 3.4 List Alamat Part pada HMI Proface AGP-3300

Keterangan Screen Nama Part Label Bit Address Word Address Screen Change Action 1 Change Screen
Keterangan
Screen
Nama Part
Label
Bit Address
Word Address
Screen Change Action
1 Change Screen Switch
Change to screen 2
Change Screen Switch
Setting
Change to screen 3
2 Change Screen Switch
Auto
Change to screen 5
Change Screen Switch
Manual
Change to screen 6
Selector Switch
Mold Open Pause
M007
Selector Switch
Eject Up After Mold Open
M023
3 Selector Switch
Mold Open After Eject Up
M026
Selector Switch
Mold Open And Eject Up
M041
Change Screen Switch
Back
Change to screen 2
Change Screen Switch
Next
Change to screen 4
Data Display
SK
Time
D200
Data Display
1st Press
D202
4 Data Display
Bumping Down Time
D204
Change Screen Switch
Back
Change to screen 3
Change Screen Switch
Next
Change to screen 8
Lamp
Mold In
M745
Lamp
Curing
M744
Lamp
Area Sensor
M749
Lamp
Pre-heat
M707
Lamp
Temperature OK
M708
5 Lamp
Em ergency Stop
M709
Data Display
Curing Time
D001
Data Display
Counter
D201
Bit Switch
RST
M055
Change Screen Switch
Back
Change to screen 2
Change Screen Switch
Next
Change to screen 7
Bit Switch
Mold Out
M011
Bit Switch
Mold In
M012
Bit Switch
Mold Turn
M015
Bit Switch
Mold Return
M016
Bit Switch
Ascend
M005
Bit Switch
Descend
M006
6 Bit Switch
Mold Open
M013
Bit Switch
Mold Close
M014
Bit Switch
Eject Up
M017
Bit Switch
Eject down
M021
Bit Switch
Hydraulic Motor
M003
Bit Switch
SK Pump
M004
Bit Switch
Heater
M002
Change Screen Switch
Back
Change to screen 2
Lamp
Press Down End
M720
Lamp
Speed Change
M721
Lamp
Up end
M722
Lamp
Mold Out End
M723
Lamp
Mold In End
M724
Lamp
Mold Open Pause Pos
M728
7 Lamp
Mold Open Position
M729
Lamp
Ejector Up End
M725
Lamp
Ejector Up Pause
M726
Lamp
Ejector Down End
M727
Lamp
Turn End
M731
Lamp
Return End
M732