Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebakaran merupakan bencana yang paling sering dihadapi. Kebakaran
dapat digolongkan sebagai bencana alam atau bencana yang diesbabkan oleh
manusia. Banyaknya peluang yang dapat memicu terjadinya kebakaran maka
bahaya kebakaran dapat terjadi setiap saat.
Pencegahan kebakaran adalah usaha menyadari/mewaspadai akan faktor-
faktor yang menjadi sebab munculnya atau terjadinya kebakaran dan
mengambil langkah-langkah untuk mencegah kemungkinan tersebut menjadi
kenyataan. Sedangkan penanggulangan kebakaran adalah usaha yang
dilakukan untuk memadamkan api serta mencegah meluasnya kebakaran.
Ada poin-poin yang menjadi persyaratan dasar yang apabila gagal
dilakukan pengendalian akan memicu peristiwanya, kemudian akan
memasuki tahapan tidak terkendali dan sukar dipadamkan. Syarat kondisi
tersebut di antaranya adalah terdapat bahan yang dapat terbakar, misalnya
minyak, gas bumi, kertas, kayu bahkan rumput kering dan sebagainya.
Bilamana bahan yang dapat terbakar tersebut berada dalam kondisi tertentu
dan bertemu pencetusnya maka seketika akan segera menimbulkan api.
Sedangkan pencetus itu sendiri penyebabnya cukup banyak di antaranya
energi petir, api terbuka, listrik bahkan hanya sekedar percikan bunga api.
Penelitian yang terbaru dan mengejutkankan pemantik kebakaran tersebut juga
bisa timbul akibat frekuensi telpon genggam.
Kebakaran merupakan kejadian yang tidak diinginkan bagi setiap orang
dan kecelakaan yang berakibat fatal. Kebakaran ini dapat mengakibatkan
suatu kerugian yang sangat besar baik kerugian materil maupun kerugian
immateriil. Sebagai contoh kerugian nyawa, harta, dan terhentinya proses atau
jalannya suatu produksi/aktivitas, jika tidak ditangani dengan segera, maka
akan berdampak bagi penghuninya. Jika terjadi kebakaran orang-orang akan
sibuk sendiri, mereka lebih mengutamakan menyelamatkan barang-barang
pribadi daripada menghentikan sumber bahaya terjadinya kebakaran, hal ini
sangat disayangkan karena dengan keadaan yang seperti ini maka terjadinya
kebakaran akan bertambah besar. Dengan adanya perkembangan dan

1
kemajuan pembangunan yang semakin pesat, resiko terjadinya kebakaran
semakin meningkat. Penduduk semakin padat, pembangunan gedung-gedung
perkantoran, kawasan perumahan, industry yang semakin berkembang
sehingga menimbulkan kerawanan dan apabila terjadi kebakaran
membutuhkan penanganan secara khusus.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa definisi dari kebakaran ?
b. Apa faktor penyebab munculnya kebakaran ?
c. Berapa macam kebakaran diklasifikasikan ?
d. Dimana saja daerah yang rawan kebakaran ?
e. Bagaimana penanggulangan pada kebakaran ?
f. Bagaimana cara memadamkan kebakaran ?
g. Apa dampak dari bencana kebakaran ?
h. Apa definisi dari mitigasi bencana kebakaran ?
i. Apa upaya dari mitigasi bencana kebakaran ?
j. Bagaimana langkah-langkah dari bencana kebakaran ?
k. Bagaimana Asuhan penanggulangan pasca bencana kebakaran ?

1.3 Tujuan
a. Mengetahui definis / pengertian kebakaran
b. Mengetahui faktor apa saja penyebab kebakaran
c. Mengetahui kebakaran dibagi dalam beberapa kelas
d. Mengetahui daerah seperti apa yang rawan kebakaran
e. Mengetahui cara penanggulangan pada kebakaran
f. Mengetahui cara memadamkan api pada kebakaran
g. Mengetahui dampak apa saja dari kebakaran
h. Mengetahui definisi / pengertian mitigasi bencana kebakaran
i. Mengetahui upaya mitigasi bencana kebakaran
j. Mengetahui langkah-langkah dari mitigasi bencana kebakaran
k. Mengetahui tindakan / implementasi dan intervensi dari penanggulangan
pasca bencana kebakaran.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kebakaran

Kebakaran adalah bahaya yang nyata yang timbul karena pemakaian


listrik. Kebakaran menyebabkan kehilangan nyawa dan tak hanya meliputi
seseorang saja, tetapi dapat terjadi di tempat-tempat di mana banyak manusia
berkumpul, seperti pabrik, pusat perbelanjaan dsb.nya. Selain kehilangan nyawa
manusia juga mengakibatkan kerugian besar dalam hal materi.

Kebakaran adalah suatu nyala api, baik kecil atau besar pada tempat,
situasi, dan waktu yang tidak kita kehendaki, merugikan dan pada umumnya sukar

3
dikendalikan. Jadi api yang menyala di tempat-tempat yang dikehendaki seperti
kompor, di perindustrian dan tempat atau peralatan lain tidak termasuk dalam
kategori kebakaran.

Definisi kebakaran menurut Departemen Tenaga Kerja adalah suatu reaksi


oksidasi eksotermis (terjadi karena pemanasan) yang berlangsung dengan cepat
dari suatu bahan bakar yang disertai dengan timbulnya api atau penyalaan.

2.2 Penyebab Kebakaran


Faktor Manusia :
Sebagian besar kebakaran yang disebabkan oleh faktor manusia timbul
karena kurang pedulinya manusia tersebut terhadap bahaya kebakaran dan
juga kelalaian. Sebagai contoh:
- Merokok di sembarang tempat, seperti ditempat yang sudah ada
tanda Dilarang Merokok.
- Menggunakan instalasi listrik yang berbahaya, misal sambungan
tidak benar, mengganti sekering dengan kawat.
- Melakukan pekerjaan yang berisiko menimbulkan kebakaran tanpa
menggunakan pengamanan yang memadai, misalnya mengelas
bejana bekas berisi minyak atau bahan yang mudah terbakar.
- Pekerjaan yang mengandung sumber gas dan api tanpa tanpa
mengikuti persyaratan keselamatan, misalnya memasak
menggunakan tabung gas LPG yang bocor dan lain-lain.
Faktor Teknis :
Faktor Teknis lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan
masyarakat mengenai hal-hal yang memicu terjadinya kebakaran,
misalnya:
- Tidak pernah mengecek kondisi instalasi listrik, sehingga banyak
kabel yang terkelupas yang berpotensi terjadi korsleting yang bisa
memicu terjadinya kebakaran.
- Menggunakan peralatan masak yang tidak aman, misalnya
menggunakan tabung yang bocor, pemasangan regulator yang tidak
benar, dan lain-lain.
- Menempatkan bahan yang mudah terbakar didekat api, misalnya
meletakkan minyak tanah atau gas elpiji didekat kompor.

4
- Menumpuk kain-kain bekas yang mengandung minyak tanpa
adanya sirkulasi udara. Bila kondisi panas, kondisi seperti ini bisa
memicu timbulnya api.
Faktor Non Fisik :
- Adanya kepentingan yang berbeda antar berbagai instansi yang
berkaitan dengan usaha usaha pencegahan dan penanggulangan
terhadap bahaya kebakaran.
- Kondisi masyarakat yang kurang mematuhi peraturan perundang
undangan yang berlaku sebagai usaha pencegahan terhadap bahaya
kebakaran.
- Lemahnya usaha pencegahan terhadap bahaya kebakaran pada
bangunan yang dikaitkan dengan faktor ekonomi, dimana pemilik
bangunan terlalu mengejar keuntungan dengan cara melanggar
peraturan yang berlaku.
- Dana yang cukup besar untuk menanggulangi bahaya kebakaran
pada bangunan terutama bangunan tinggi.

Faktor Fisik :
- Keterbatasan jumlah personil dan unit pemadam kebakaran serta
peralatan.
- Kondisi gedung, terutama gedung tinggi yang tidak teratur.
- Kondisi lalu lintas yang tidak menunjang pelayanan
penanggulangan bahaya kebakaran.

2.3 Klasifikasi Kebakaran

Klasifikasi/pengelompokkan kebakaran menurut peraturan Menteri Tenaga


Kerja dan Transmigrasi Nomor 04/MEN/1980 Bab I Pasal 2, ayat 1 adalah
sebagai berikut :

Kebakaran Klas A :
Adalah kebakaran yang menyangkut benda-benda padat kecuali logam.
Contoh : Kebakaran kayu, kertas, kain, plastik, dsb. Alat/media pemadam
yang tepat untuk memadamkan kebakaran klas ini adalah dengan : pasir,
tanah/lumpur, tepung pemadam, foam (busa) dan air .
Kebakaran Klas B :

5
Kebakaran bahan bakar cair atau gas yang mudah terbakar. Contoh :
Kerosine, solar, premium (bensin), LPG/LNG, minyak goreng. Alat
pemadam yang dapat dipergunakan pada kebakaran tersebut adalah
Tepung pemadam (dry powder), busa (foam), air dalam bentuk spray/kabut
yang halus.
Kebakaran Klas C :
Kebakaran instalasi listrik bertegangan. Seperti : Breaker listrik dan alat
rumah tangga lainnya yang menggunakan listrik .Alat Pemadam yang
dipergunakan adalah : Carbondioxyda (CO2), tepung kering (dry
chemical). Dalam pemadaman ini dilarang menggunakan media air.
Kebakaran Klas D :
Kebakaran pada benda-benda logam padat seperti : magnesum,
alumunium, natrium, kalium, dsb. Alat pemadam yang dipergunakan
adalah : pasir halus dan kering, dry powder khusus.

2.4 Daerah Rawan Kebakaran


Daerah pemukiman padat penduduk dengan tingkat kerapatan bangunan
yang tinggi
Di daerah hutan dan lahan gambut khususnya di Kalimantan dan
Sumatera.
Daerah pertokoan atau pasar biasanya antara satu dengan lainnya hanya
dipisahkan oleh sekat sehingga sangat rapat dan apabila terjadi kebakaran
sangat mudah menjalar.
Daerah dengan banyak bangunan vertical atau gedung-gedung bertingkat
juga sangat rentan terjadi kebakaran.
Daerah pertambangan dengan hasil tambang berupa bahan yang mudah
terbakar seperti batubara, minyak bumi, dsb.

2.5 Penanggulangan Kebakaran


Pada umumnya penanggulangan bahaya kebakaran dapat dibagi menjadi 3
(tiga) tingkatan meliputi :
Mencegah terjadinya kebakaran
Ialah merupakan tindakan - tindakan dilakukan guna mencegah
terjadinya kebakaran .tindakan tindakan - tindakan tersebut harus
dilakukan oleh setiap orang untuk itu diharapkan pengertian dan kesadaran
agar dapat melaksanakan apa yang menjadi tujuan, maka perlu adanya

6
pengarahan dan bimbingan mengenai pencegahan bahaya kebakaran
kepada semua orang ,khususnya yang berada dilingkungan kerja .
Perlindungan Bahaya Kebakaran
Ialah merupakan tindakan yang dilakukan guna melindungi dari
bahaya kebakaran sehingga tidak turut terbakar dalam batas waktu tertentu
atau mencegah meluasnaya kebakaran ketempat lain sebelum
pnanggulangan lebih lanjut.
Pemadam Kebakaran
Ialah merupakan salah satu tindakan dalam penanggulangan
kebakaran bersifat represif.

2.6 Cara Memadamkan Kebakaran


Hal-hal yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran, diantaranya :
Pemadaman dari darat :
- Pengerahan dan pelibatan berbagai pihak dalam kegiatan
pemadaman kebakaran.
- Instalasi dan penempatan peralatan pemadam di lokasi yang rawan
kebakaran
- Mencari substitusi air untuk pemadaman kebakaran
- Pemilihan metode pemadaman tepat
- Mencari substitusi air untuk pemadaman kebakaran
- Pemilihan metode pemadaman tepat
Pemadaman dari udara :
- Hujan buatan
- Pengeboman air (pemadaman menggunakan pesawat)

2.7 Dampak Kebakaran


Dampak terhadap bidang sosial, budaya dan ekonomi :
- Hilangnya mata pencaharian masyarakat.
- Terganggunya aktivitas sehari-hari
- Peningkatan jumlah hama
- Terganggunya kesehatan
- Produktivitas menurun
Dampak terhadap ekologis dan kerusakan lingkungan :
- Hilangnya sejumlah spesies
- Ancaman erosi
- Perubahan fungsi pemanfaatn dan peruntukan lahan
- Penurunan kualitas air
- Terganggunya ekosistem terumbu karang
- Menurunnya devisa Negara

2.8 Mitigasi Bencana Kebakaran

7
Mitigasi adalah salah satu hubungan positif antara dampak bencana-bencana
dan pembangunan. Mitigasi bencana kebakaran adalah salah satu upaya agar
bahaya kebakaran tidak terjadi. Pengananan bahaya kebakaran adalah segala
upaya pencegahan, peringatan dini, mitigasi, dan kesiapsiagaan ketika
sebelum terjadi kebakaran, penanganan darurat melalui memadamkan api
yang tak terkendali, pencarian, pertolongan, penyelamatan korban maupun
harta benda dan pemberian bantuan pada saat terjadi kebakaran, serta
pengungsian, pemulihan mental, rehabilitasi dan rekontruksi
sarana/prasarana/fasilitas fisik sosial/umum ketika sesudah terjadi kebakaran.
Penanganan pengungsi adalah upaya yang ditujukan kepada pengungsi
akibat kebakaran yang meliputi langkah-langkah penyelamatan, evakuasi,
perlindungan, pemberian bantuan darurat, pemulihan mental, rehabilitasi dan
rekontruksi sarana atau prasarana atau fasilitas fisik sosial atau umum,
pengembalian/pemulangan/pemindahan tempat kehidupan (Relokasi), serta
Rekonsilidasi/Normalisasi sosial.
Tanggap darurat adalah segala upaya yang dilaksanakan secara terencana,
terkoordinasi, dan terpadu pada kondisi darurat dalam waktu relaltif singkat
dengan tujuan untuk menolong dan menyelamatkan jiwa juga harta benda
beserta lingkungannya sebagai akibat kebakaran.
Rehabilitasi/Rekontruksi adalah segala upaya yang dilakukan agar
kerusakan sarana/prasarana fasilitas fisik sosial/umum akibat kebakaran dapat
berfungsi kembali.Pemulihan adalah segala upaya yang dilakukan agar trauma
mental /psikis/pikiran manusia dan masyarakat akibat kebakaran dapat pulih
kembali. Relokasi adalah suatu upaya untuk menempatkan/memukimkan
kembali para pengungsi dari tempat penampungan sementara ke tempat asal
atau tempat/lokasi baru.

2.9 Upaya Mitigasi Bencana Kebakaran


Dalam menghadapi berbagai jenis bencana kebakaran yang terjadi, maka
dilakukan upaya mitigasi dengan prinsip-prinsip bahwa :
Bencana adalah titik awal upaya mitigasi bagi bencana serupa berikutnya.
Upaya mitigasi itu sangat kompleks, saling ketergantungan dan melibatkan
banyak pihak.
Upaya mitigasi aktif lebih efektif dibandingkan upaya mitigasi pasif.

8
Sumber daya terbatas, maka prioritas harus diberikan kepada kelompok
rentan.
Upaya mitigasi memerlukan pemantauan dan evaluasi yang terus menerus
untuk mengetahui perubahan situasi.

2.10 Langkah-langkah Mitigasi Bencana Kebakaran


Pastikan agar semua pintu keluar bebas dari bahan-bahan mudah
terbakar.
Jangan biarkan sampah menumpuk.
Gunakan wadah yang tepat untuk menyimpan atau menuangkan bahan
cair mudah terbakar.
Simpan cairan mudah terbakar ditempat aman dari sumber nyala api.
Pastikan kabel dan peralatan listrik tidak rusak.
Jangan memberi beban lebih pada sirkuit listrik.
Jangan menempatkan alat pemadam telah terpakai pada tempatnya,
segera kirim alat pemadam api tersebut untuk diisi ulang.
Untuk mengatasi kebakaran, pasanglah cukup alat-alat pemadam api
yang paling sesuai, pastikan alat pemadam ditempatkan secara tepat
dan terpasang sesuai dengan standar.
Rawat dan periksa semua peralatan dan perlengkapan pemadam
kebakaran, alat-alat pemadam kebakaran.

BAB 3
ASUHAN PENANGGULANGAN PASCA BENCANA

KASUS :

Senin, 8 Oktober 2016 telah terjadi kebakaran di ruang rawat jiwa Rumah
Sakit Harapan hati. Di dalamnya terdapat 34 pasien jiwa yang terdiri dari pasien

9
laki-laki dan wanita. Kondisi pasien selamat karena cepat dievakuasi oleh perawat
yang sedang bertugas, namun ada dua pasien yang mengalami shock akibat
kejadian kebakaran ini. Pasien tersebut bernama Ny. B, usia 35 tahun berasal dari
Sumawe dan Tn. T usia 47 tahun berasal dari Pulau We. Saat ini kedua pasien
tersebut sedang dilakukan perawatan agar pasien tidak menjadi trauma akibat
kejadian tersebut.

1. PENGKAJIAN
Data Umum :
- Nama : Ny. B
- Usia : 35 th
- Jenis Kelamin :P
- Alamat : Sumawe
- Status : Belum menikah
- Pekerjaan :-
- Agama : Islam
Data Umum :
- Nama : Tn. T
- Usia : 47 th
- Jenis Kelamin :L
- Alamat : Pulau We
- Status : Menikah
- Pekerjaan : Nelayan
- Agama : Islam
Data Khusus :
- Data Subjektif :
Ny. B mengatakan kalau dirinya merasa terkejut
dengan kejadian kebakaran tersebut karena di dalam
ruangannya tidak ada yang bermain api, dan tiba-
tiba Ny. B melihat ada asap dan kobaran api yang
berasal dari ruangan sebelah yaitu ruang perawatan
jiwa pria. Ny. B sudah berteriak namun perawat
tidak segera muncul dan perawat muncul ketika
kejadian kebakaran tersebut berlangsung 5 menit.
Tn. T mengatakan kalau diruangannya ada pasien
jiwa yang baru masuk selama 2 hari ini, pasien
tersebut membawa korek api tanpa sepengetahuan
petugas maupun perawat. Dan ketika ada botol air
mineral kosong, pasien membuat mainan botol

10
tersebut dengan cara dibakar kemudian dilempar ke
arah tempat tidur temannya yang mengenai kasur
yaitu kasur Tn. T. Tn. T yang sedang beristirahat
pun langsung terkejut dengan kelakuan temannya
tersebut. Untungnya Tn. T tidak mengalami luka-
luka akibat kebakaran tersebut.
Kedua klien, Ny. B dan Tn. T merasa khawatir.
Takut apabila kejadian tersebut terulang kembali.
Hingga saat ini, kedua klien mengatakan tidak dapat
melupakan kejadian tersebut.
Klien mengaku kalau dia akan trauma dengan
kejadian tersebut.
- Data Objektif :
Klien tampak gelisah
Klien tiba-tiba menangis
Klien tiba-tiba suka berteriak
Keadaan mood klien terganggu.
Faktor Predisposisi :
Faktor predisposisi yang mempengaruhi kehilangan :
- Genetik :
Bagi individu yang dilahirkan dan dibesarkan dalam
keluarga yang mempunyai riwayat depresi biasanya sulit
mengembangkan sikap optimis dalam menghadapi suatu
permasalahan termasuk menghadapi kehilangan.
- Kesehatan mental / jiwa :
Individu yang mengalami gangguan jiwa seperti depresi
yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya, pesimistik
dan dibayangi dengan masa depan yang suram, biasanya
sangat peka terhadap situasi kehilangan.
- Kesehatan Fisik :
Individu dengan keadaan fisik sehat, cara hidup terautr
cenderung mempunyai kemapuan mengatasi stress yang
lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang sedang
mengalami gangguan fisik .
- Pengalaman kehilangan dimasa lalu :
Kehilangan atau perpisahan dengan orang yang bermakna
dimasa anak-anak akan mempengaruhi individu dalam

11
menghadapi kehilangan dimasa dewasa (Stuart-Sundeen,
1991).
Faktor Presipitasi :
Stres yang terlihat seperti kehilangan bersifat Bio-Psiko-
Sosial antara lain kehilangan kesehatan (sakit), kehilangan fungsi
seksualitas, kehilangan keluarga dan harta benda.
Individu yang kehilangan sering menunjukkan perilaku
seperti menangis atau tidak mampu menangis, marah, putus asa,
kadang ada tanda upaya bunuh diri atau melukai orang lain yang
akhirnya membawa pasien dalam keadaan depresi.
Spiritual :
- Keyakinan terhadap Tuhan YME
- Kehadiran ditempat Ibadah
- Pentingnya Agama dalam kehidupan klien
- Kepercayaan akan kehidupan setelah kematian
Orang Terdekat Klien :
- Status perkawinan
- Siapa orang terdekat
- Anak-anak
- Kebiasaan pasien dalam tugas-tugas keluarga dan fungsi-
fungsinya
- Bagaimana pengaruh orang-orang terdekat terhadap
penyakit atau masalah
- Proses interaksi apakah yang terdapat dalam keluarga
- Gaya hidup keluarga, misal: Diet, mengikuti pengajian
Sosio Ekonomi
- Pekerjaan : keuangan
- Faktor-faktor lingkungan : rumah, pekerjaan dan rekreasi
- Penerimaan sosial terhadap penyakit / kondisi, missal :
PMS, HIV, Obesitas, dll.
Kultural :
- Latar belakang etnis
- Tingkah laku mengusahakan kesehatan, rujuk penyakit
- Faktor-faktor kultural yang dihubngkan dengan penyakit
secara umum dan respon terhadap rasa sakit
- Kepercayaan mengenai perawatan dan pengobatan

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Adapun diagnosa keperawatan untuk pasca bencana kebakaran adalah :
1. Berduka berhubungan dengan Aktual atau perasaan kehilangan
ditandai dengan Penolakan terhadap kehilangan,menangis,
menghindar,marah

12
2. Cemas berhubungan dengan perubahan status lingkungan (bencana
alam) ditandai dengan merasakan jantung berdebar-debar, sulit
berkonsentrasi, gelisah
3. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan kehilangan
(keluarga dan harta benda) ditandai dengan mengekpresikan rasa tidak
berdaya dan tidak berguna,depresi,menghindar.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Berduka berhubungan dengan Aktual atau perasaan kehilangan
ditandai dengan Penolakan terhadap kehilangan,menangis,
menghindar,marah.
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 kali pertemuan
diharapkan :
- individu mengalami proses berduka secara normal
- melakukan koping terhadap kehilangan secara bertahap
- menerima kehilangan sebagai bagian dari kehidupan yang
nyata dan harus dilalui.
Dengan Kriteria Hasil:
- Individu mampu mengungkapkan perasaan duka.
- Menerima kenyataan kehilangan dengan perasaan damai
- Membina hubungan baru yang bermakna dengan objek atau
orang yang baru.
Intervensi Keperawatan :
Mandiri :
- Bina dan jalin hubungan saling percaya.
- Identifikasi kemungkinan faktor yang menghambat proses
berduka
- Kurangi atau hilangkan faktor penghambat proses berduka.
- Beri dukungan terhadap respon kehilangan pasien
- Tingkatkan rasa kebersamaan antara anggota keluarga.
- Identifikasi tingkat rasa duka pada fase berikut:
- Fase pengingkaran :
Memberi kesempatan kepada pasien untuk
mengungkapkan perasaannya.
Menunjukkan sikap menerima,ikhlas dan
mendorong pasien untuk berbagi rasa.
Memberikan jawaban yang jujur terhadap
pertanyaan pasien tentang sakit, pengobatan dan
kematian.

13
Fase marah : Mengizinkan dan mendorong pasien
mengungkapkan rasa marahnya secara verbal tanpa
melawan dengan kemarahan.
- Fase tawar menawar :
Membantu pasien mengidentifikasi rasa bersalah
ddan perasaan takutnya.
- Fase depresi :
Mengidentifikasi tingkat depresi dan resiko merusak
diri pasien
Membantu pasien mengurangi rasa bersalah.
- Fase penerimaan :
Membantu pasien untuk menerima kehilangan yang
tidak bisa dielakkan.

2. Cemas berhubungan dengan perubahan status lingkungan


(bencana alam) ditandai dengan merasakan jantung berdebar-
debar, sulit berkonsentrasi, gelisah
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 kali pertemuan
diharapkan :
- individu mengalami proses cemas secara normal
- melakukan koping terhadap kecemasan secara bertahap
Dengan Kriteria Hasil:
- Individu mampu mengungkapkan perasaan cemasnya
berkurang.
- Menerima dengan perasaan lapang dada
- Klien tampak tenang
Intervensi Keperawatan :
Mandiri :
- Bina dan jalin hubungan saling percaya.
- Gunakan pendekatan yang menenangkan
- Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
- Temani pasien untuk memberikan keamanan dan
mengurangi takut
- Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan
prognosis
- Dorong keluarga untuk menemani
- Identifikasi tingkat kecemasan

14
- Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan
kecemasan
- Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan,
persepsi
- Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
- Kolaborasikan dengan dokter dan tim farmasi untuk
pemberian obat untuk mengurangi kecemasan

3. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan kehilangan


(keluarga dan harta benda) ditandai dengan mengekpresikan rasa
tidak berdaya dan tidak berguna,depresi,menghindar.
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 kali pertemuan
diharapkan :
- Harga diri klien kembali baik
- Klien mampu berkomunikasi dengan sekitar
Dengan Kriteria Hasil:
- Klien mampu bersosialisasi lagi dengan baik
- klien dapat melakukan keputusan yang efektif untuk
mngurangi perasaan rendah

Intervensi Keperawatan :
Mandiri :
- Bina dan jalin hubungan saling percaya
- Tunjukan emosional yang sesuai
- Gunakan tekhnik komunikasi terapeutik terbuka,
- Bantu klien mengekspresikan perasaannya
- Bantu klien mengidentifikasikan situasi kehidupan yang tidak
berada dalam kemampuan dan mengontrolnya
- Dorong untuk menyatakan secara verbal perasaan perasaan
yang berhubungan dengan ketidak mampuannya.

4. IMPLEMENTASI
Membina hubungan saling percaya dengan pasien:
- Memperkenalkan diri
- Membuat kontrak waktu dengan pasien
- Menjelaskan bahwa perawat akan membantu pasien dan
akan menjaga kerahasiaan informasi tentang pasien.

15
Mendiskusikan dengan pasien peristiwa yang pernah di alami
dengan pemberian makna positif dan mengambil hikmahnya.
Menemukan kemungkinan faktor penghambat proses berduka dan
membantu mengurangi nya.
Memberikan penghargaan setelah pasien menceritakan dan
merespon situasi kehilangan dengan membesarkan
melakukan pendekatan dengan baik, menerima klien apa adanya
dan bersikap empati.

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kebakaran adalah bahaya yang nyata yang timbul karena
pemakaian listrik. Kebakaran menyebabkan kehilangan nyawa dan tak
hanya meliputi seseorang saja, tetapi dapat terjadi di tempat-tempat di
mana banyak manusia berkumpul, seperti pabrik, pusat perbelanjaan dan
sebagainya. Sebab terjadinya kebakaran: Sambaran petir,
Kecerobohanmanusia, Aktivitas vulkanis, Tindakan yang disengaja, dan
Kebakaran di bawah tanah. Tanda- tanda terjainya kebakaran adalah
Muncul bau benda terbakar masuk ke ruang kabin terkadang disertai asap.
Daerah yang rawan kebakaran adala: Daerah pemukiman padat penduduk,
Di daerah hutan dan lahan gambut, Daerah pertokoan atau pasar, Daerah
dengan banyak bangunan vertical, dan Daerah pertambangan.
Dampak kebakaran: Dampak Terhadap Bidang Sosial, Budaya dan
Ekonomi, Dampak Terhadap Ekologis dan Kerusakan
Lingkungan, Dampak Terhadap Hubungan Antar Negara, Dampak

16
terhadap Perhubungan dan Pariwisata.untuk mengatasi kebakaran hutan
tersebut perlu dilakukan ialah: Perencanaan (Planning), Pengeorganisasian
(Organizing), Penggerakan pengarahan (Actuating), dan Pengawasan
(Controlling).

17