Anda di halaman 1dari 43

Contoh Menghitung PPh 21 Dokter Gaji dan Jasa Medik

Contoh Menghitung Pajak Penghasilan pasal 21 (PPh 21) Dokter Penerima Gaji dan
Jasa Medik

Sebagai contoh dr. Roni (menikah dan mempunyai 3 anak kandung) merupakan dokter
spesialis kandungan yang bekerja sebagai pegawai tetap di rumah sakit swasta Walafiat
dengan gaji tetap sebesar Rp20.000.000,00. Jam praktik dr. Roni mulai pukul 8.00 s.d 12.00
selama 5 hari dalam seminggu. Untuk bulan Agustus 2013 dr. Roni menerima pembayaran
dari Rumah Sakit Walafiat berupa gaji sebesar Rp20.000.000,00 dan menerima jasa medis
sebagai dokter yang bersumber dari pasien sebesar Rp25.000.000,00. Dokter Roni
membayar iuran pensiun sebesar Rp200.000,00 setiap bulannya. Penghitungan PPh Pasal 21
atas penghasilan dr. Roni dari Rumah Walafiat pada bulan Agustus adalah seperti di bawah
ini.

Gaji sebulan Rp 20.000.000,00


Penghasilan bruto Rp 20.000.000,00

Pengurangan:
1. Biaya jabatan: 5% x Rp20.000.000,00 =
Rp1.000.000,00
Maksimum diijinkan Rp 500.000,00
2. luran Pensiun Rp 200.000,00(+)
Rp 700.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 19.300.000,00

Penghasilan neto setahun 12 x Rp19.300.000,00 Rp 231.600.000,00

PTKP setahun (K/3)*


- untuk WP sendiri Rp 54.000.000,00
- tambahan karena menikah Rp 4.500.000,00
- tambahan tiga orang tanggungan Rp 13.500.000,00(+)
Rp 72.000.000,00
(-)
Penghasilan Kena Pajak Rp 159.600.000,00

PPh Pasal 21 setahun


5% x Rp50.000.000,00 =Rp 2.500.000,00
15% x Rp109.600.000,00 =Rp16.440.000,00 (+)
Total Rp 18.940.000,00

PPh Pasal 21 sebulan


Rp18.940.000,00 : 12 = Rp 1.578.333,33

Catatan:
Penghitungan PPh Pasal 21 atas jasa medis yang diterima oleh dr. Roni dihitung tersendiri
sebagai penghasilan yang diterima oleh bukan pegawai
Bagikan topik ini ke kolega/ relasi/ teman Anda

Sangat berterimakasih bila bersedia mencantumkan alamat link halaman ini


sebagai sumber
Sign in|Recent Site Activity|Re
Skip to content

SUHA TAX CONSULTING


Konsultan Pajak, Akuntansi dan Investasi (Keuangan)

Home

Artikel

Gallery

Investasiku

Konsultan Kami

Layanan Jasa Kami

Profil Kami

Rubrik Konsultasi UKM

Seminar & Training

Tax Regulation

HomeProfesi Dokter dan Pajak Penghasilan (PPh)

Profesi Dokter dan Pajak Penghasilan (PPh)


May 19, 2016 SUHA Tax & Financial Consulting Akuntansi, Pajak Badan (Institusi),
Pajak Orang Pribadi

Perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Bagi Dokter

Pajak Penghasilan adalah pajak atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak. Yang dimaksud
dengan penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang
dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang
bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Salah satu jenis penghasilan yang merupakan objek pajak penghasilan adalah penggantian
atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk
gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan
dalam bentuk lain, kecuali ditentukan lain dalam UU PPh. Tambahan kekayaan neto yang
berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak juga termasuk sebagai objek Pajak
Penghasilan.

Dengan demikian Wajib Pajak yang menerima penghasilan yang merupakan Objek Pajak
Penghasilan, wajib membayar atau melunasi Pajak penghasilan termasuk penghasilan yang
diterima Wajib Pajak Orang Pribadi seperti Dokter.

Jenis penghasilan apa saja yang diterima Dokter dikenakan PajakPenghasilan?

Dokter karena keahliannya atau kegiatannya dapat menerima penghasilan yang berupa :

1. Gaji dan tunjangan serta pembayaran lainnya terkait dengan gaji, sebagai
pegawai tetap;

2. Honorarium, komisi, atau fee sebagai tenaga ahli;

3. Uang saku, uang presentasi, uang rapat karena dokter sebagai peserta
kegiatan.

4. Hadiah atau penghargaan, bonus, gratifikasi atau imbalan dalam bentuk


lain, karena sebagai dokter yang memberikan keuntungan bagi produsen
obat-obatan atau alat kesehatan lainnya;

5. Laba usaha karena sebagai dokter yang buka praktek;

Bagaimana cara penghitungan Pajak Penghasilan atas penghasilan yang diterima


dokter?

Untuk mengetahui berapa PPh yang harus dibayar atau dilunasi dokter atas penghasilan yang
diterimanya, terlebih dahulu perlu dijelaskan bahwa pembayaran atau pelunasan PPh dapat
dilakukan melalui 2 cara yaitu :

1. Pemotongan/Pemungutan oleh pihak pemberi hasil;

2. Penyetoran sendiri oleh Wajib pajak setelah menghitung dan


memperhitungkan PPh terhutang selama satu tahun.

Besarnya PPh atas penghasilan berupa gaji dan tunjangan serta pembayaran lainnya yang
terkait dengan gaji, honorarium, komisi atau fee, hadiah, bonus, gratifikasi, uang saku, uang
presentasi dan uang rapat, yang diberikan oleh pemberi kerja yang ditunjuk sebagai
pemotong, ditentukan melalui penghitungan yang dilakukan oleh pemberi kerja tersebut. PPh
yang terhutang ini disebut juga dengan PPh Pasal 21 karena diatur dalam Pasal 21 di UU
PPh.

Tarif yang digunakan untuk pemotongan PPh Pasal 21 khusus untuk dokter (tenaga ahli)
adalah :
1. Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh dari Dasar Pengenaan dan
Pemotongan PPh Pasal 21. Dasar Pengenaan dan Pemotongan ditentukan
sebesar 50% dari jumlah bruto; dan

2. Tarif 15% dari jumlah bruto (bersifat Final) khusus untuk penghasilan
berupa honorarium, uang sidang, uang hadir, uang lembur, imbalan
prestasi kerja, dan imbalan lain dengan nama apapun yang dananya
berasal dari APBN/APBD serta yang menerimanya PNS/TNI/POLRI/Pejabat
Negara golongan III/a ke atas atau Letnan Dua ke atas.

Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh adalah:

Cara penghitungannya sebagai berikut :

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif

s.d. Rp 50.000.000 5%

diatas Rp 50.000.000 s.d. Rp 250.000.000 15%

diatas Rp 250.000.000 s.d. Rp 500.000.000 25%

diatas Rp 500.000.000 30%

1. Gaji dan tunjangan serta pembayaran lainnya terkait dengan gaji, karena
sebagai pegawai tetap.
Misalnya Dokter A (status sendiri dan tidak mempunyai tanggungan)
pegawai tetap di RS X dengan gaji dan tunjangan sebulan Rp 15.000.000,-
PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh pemberi kerja :
Gaji + Tunjangan setahun 15.000.000 x 12 = Rp180.000.000,-
Pengurang :

o Biaya jabatan (5%x jumlah bruto penghasilan setahun, maksimal


Rp6.000.000) = (Rp 6.000.000,-)

o PTKP Sendiri (TK/-) = (Rp 15.840.000,-)

Penghasilan Kena Pajak = Rp158.160.000,-


PPh Pasal 21 terhutang :
Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh x PKP =
5% x Rp50.000.000,- = Rp 2.500.000
15% x Rp108.160.000,- = Rp16.224.000
Total Rp18.724.000

Dokter A wajib menerima bukti potong PPh pasal 21 dari Rumah Sakit X.

1. Honorarium, komisi atau fee, uang saku, uang presentasi, uang rapat yang
dananya berasal dari APBN/APBD ataupun yang bukan.
1. Misalnya Dokter A (PNS/TNI/POLRI) menerima honorarium yang dananya
dari APBN/APBD sebesar Rp10.000.000.
PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh pemberi
kerja/pemberi penghasilan :
15% xRp10.000.000 = Rp1.500.000,-
Pemotongan PPh Pasal 21 ini bersifat final atau tidak diperhitungkan lagi
dengan penghasilan lainnya sehingga sudah selesai penghitungan PPh,
namun tetap dilaporkan dalam SPT Tahunan PPhnya (melampirkan bukti
potong PPh Pasal 21 tersebut).

2. Misal Dokter A (swasta) menerima uang presentasi yang dananya dari


APBN/APBD sebesar Rp10.000.000, dari Departemen Kesehatan.
PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh pemberi
kerja/pemberi penghasilan :
5% x (50% x Rp10.000.000,-) = Rp250.000,-
Dokter A (swasta) wajib menerima bukti potong PPh Pasal 21 dari
Departemen Kesehatan dan menghitung kembali penghasilan tersebut
dalam SPT Tahunan PPh-nya.

3. Misal Dokter A (swasta ataupun PNS/TNI/POLRI) menerima honorarium


pada bulan Maret 2009 sebesar Rp30.000.000. dari Rumah sakit Z
PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh pemberi
kerja/pemberi penghasilan :
5% x (50% x Rp30.000.000,-) = Rp750.000.-
Dokter A wajib diberikan bukti potong PPh Pasal 21.

Catatan :

1. apabila penghasilan tersebut diberikan karena pekerjaan atau jasanya


bersifat berkesinambungan baik berdasarkan kontrak atau kenyataan
sebenarnya, maka tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a diterapkan atas jumlah
kumulatifnya.
Misalnya di bulan April 2009 Dokter A juga mendapat honorarium sebesar
Rp80.000.000,- dari Rumah Sakit Z (bulan Maret 2009 telah menerima
Rp30.000.000,-), sehingga jumlah kumulatifnya menjadi Rp30.000.000,- +
Rp80.000.000,- = Rp110.000.000,-
Dasar Pemotongan PPh Pasal 21 dari jumlah kumulatif tersebut adalah
50% x Rp110.000.000,- = Rp55.000.000,- , sehingga PPh Pasal 21 yang
terutang dan harus dipotong oleh Rumah Sakit Z adalah :
5% x Rp50.000.000 = Rp2.500.000,-
15% x Rp5.000.000 = Rp 750.000,- (+)
Total Rp3.250.000,-
Karena bulan Maret telah dipotong Rp750.000,-, maka bulan April PPh
yang harus dipotong Rp3.250.000,- Rp750.000 = Rp2.500.000

2. Jumlah penghasilan bruto bagi Dokter yang melakukan praktik di rumah


sakit dan/atau klinik adalah sebesar jasa Dokter yang dibayar oleh pasien
melalui rumah sakit dan/atau klinik sebelum dipotong biaya-biaya atau
bagi hasil oleh rumah sakit dan/atau klinik.
Misalnya, Pasien A membayar tagihan Rumah Sakit Z sebesar 25 juta,
dengan rincian uang obat Rp5.000.000,- dan uang jasa Dokter B sebesar
Rp20.000.000,-. Rumah Sakit Z menerima bagi hasil dari uang jasa Dokter
B sebesar 50% dari jumlah tersebut atau Rp10.000.000,- (sesuai dengan
perjanjian).
Rumah Sakit Z memotong PPh Pasal 21 atas penghasilan yang diterima
Dokter B dari jumlah penghasilan bruto Rp20.000.000,- bukan dari jumlah
penghasilan bruto setelah dikurangi bagi hasil atau Rp10.000.000,-.
Sehingga PPh Pasal 21 yang dipotong Rumah Sakit Z adalah : 5% x (50% x
Rp20.000.000) = Rp500.000,-

Hadiah atau penghargaan, bonus, gratifikasi atau imbalan dalam bentuk lain,
karena sebagai dokter yang memberikan keuntungan bagi produsen obat-obatan
atau alat kesehatan lainnya.
Misalnya Dokter A (bukan pegawai tetap di PT X) menerima hadiah berupa tiket
pesawat dan akomodasinya dari PT X senilai Rp50.000.000.
PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh pemberi penghasilan :
5% xRp50.000.000 = Rp2.500.000,-
Dokter A wajib menerima bukti potong PPh Pasal 21 dari PT X dan dan
menghitung kembali penghasilan tersebut dalam SPT Tahunan PPh-nya.
Apabila dari hadiah tersebut ternyata tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 21
dari PT X, maka Dokter A wajib menghitung dan membayar sendiri Pajak
Penghasilan dari hadiah tersebut di dalam SPT Tahunan PPh-nya.
Laba usaha karena sebagai dokter yang buka praktek Dokter yang menerima
penghasilan dari membuka praktek dapat menghitung PPh melalui 2 cara yaitu
pembukuan atau pencatatan.

1. Pembukuan.
Laba usaha baik dari praktek maupun pekerjaan bebas seperti dokter
sebagai tenaga ahli di Rumah sakit/Klinik Kesehatan, didapat dari hasil
laporan Rugi Laba. Apabila Untung maka atas keuntungan tersebut
dikenakan tarif pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh setelah terlebih dahulu
dikurangi dengan PTKP setahun.
Misalnya Dokter A menyelenggarakan pembukuan untuk menghitung
besarnya PPh yang terutang selama satu tahun :
Peredaran bruto/Omzet : Rp500.000.000
Pengurangnya :
Biaya operasional (gaji pegawai, peralatan, Obat, listrik, dll) :
(Rp300.000.000)
Penghasilan neto : Rp200.000.000
Apabila Dokter A sumber penghasilannya hanya dari praktek, maka PPh
terhutang
Penghasilan neto Rp200.000.000,-
Pengurang
PTKP (tk/-) (Rp 15.840.000,-)
PKP Rp184.160.000,-
PPh terutang :
5% x Rp 50.000.000,- = Rp 2.500.000,-
15%x Rp134.160.000 = Rp20.124.000 +
Total Rp22.624.000,-

2. Pencatatan
Laba usaha dari praktek maupun pekerjaan bebas seperti dokter sebagai
tenaga ahli, didapat dari peredaran atau penerimaan bruto (omzet)
selama satu tahun dikalikan norma penghitungan penghasilan neto
(misalnya untuk praktek di Jakarta ditentukan norma penghasilan nettonya
45%).
Hasil perkalian (Penghasilan neto) tersebut dikalikan dengan tarif Pasal 17
ayat (1) huruf a UU PPh setelah terlebih dahulu dikurangi PTKP.
Misalnya Dokter A memperoleh penghasilan dari praktek di Jakarta dengan
peredaran atau penerimaan bruto (omzet) setahun Rp300.000.000, dan
dari Rumah sakit Z sebagai dokter tamu (praktek) Rp200.000.000,- (PPh
Pasal 21 yang dipotong oleh Rumah Sakit Z sebesar Rp5.000.000,-).
PPh terutang : Peredaran bruto setahun (Rp300.000.000,- +
Rp200.000.000 = Rp500.000.000,-)
Penghasilan Neto Rp500.000.000 x 45% = Rp225.000.000
Pengurang :
PTKP (tk/-) =(Rp 15.840.000)
PKP Rp209.160.000,-
PPh terutang :
5% x Rp 50.000.000 = Rp 2.500.000,-
15% x Rp159.160.000 = Rp23.874.000.-+
Total Rp26.374.000,-
PPh yang harus disetor Dokter A ke Bank Persepsi atau Kantor Pos
( diasumsikan Dokter A tidak memperoleh penghasilan lain pada tahun
tersebut adalah : Rp 26.374.000,- Rp5.000.000,- = Rp21.374.000,-

Bagaimana cara mendapat informasi penghitungan PPh atas penghasilan yang diterima
atau diperoleh Dokter ini?

Apabila Anda para Dokter tidak memiliki waktu yang cukup untuk urusan perpajakan dan
ingin fokus kepada jasa profesi kedokteran, kami dari SUHA Consulting dengan senang hati
dapat membantu Anda untuk mengurusi kewajiban perpajakan Anda.

Selanjutnya bagi Anda yang ingin mengetahui lebih mendalam mengenai perpajakan profesi
dokter, Anda dapat mengundang kami untuk memberikan mini class dengan durasi 1/2 hari
kerja, dalam sesi ini akan kami buka rahasia perpajakan untuk para dokter.

Salam

Subur Harahap, SE, Ak, MM, CA, CMA, CFP

Principal Consultant 0812 9767 143 or 087881791990 (WA)

email: suburh@yahoo.com

Share this:

Facebook

Twitter

LinkedIn


Loading...

Post navigation
LAPOR PAJAK SPT DAN ISI SPT TAHUN BUKU 2015

Kewajiban Perpajakan Usaha Kotraktor PPh Pasal 4 (2) Final

Leave a Reply

Email (required) (Address never made public)

Name (required)

Website

Notify me of new comments via email.

Search for:

Recent Posts

10 Cara Seorang Akuntan Dapat Membantu Pemilik Usaha Kecil dan


Menengah (UMKM)

Kewajiban Perpajakan Usaha Kotraktor PPh Pasal 4 (2) Final

Profesi Dokter dan Pajak Penghasilan (PPh)

LAPOR PAJAK SPT DAN ISI SPT TAHUN BUKU 2015

REVIEW RETURN REKSADANA SAHAM TAHUN 2014

Investor Guide Top 20 Reksadana Campuran Indonesia

8 Langkah Pengelolaan Keuangan Keluarga


Perbedaan Tabungan dengan Investasi

Aplikasi Prinsip Time Value of Money dalam Pengelolaan


Keuangan Keluarga

Perbedaan Bunga Anuitas dengan Bunga Tetap (Flat)

Categories

Akuntansi (3)

Banking (5)

Business Planning (2)

General (8)

Pajak Badan (Institusi) (4)

Pajak Orang Pribadi (4)

Perencanaan Asuransi dan Perlindungan (3)

Perencanaan Dana Pendidikan (3)

Perencanaan Dana Pensiun (6)

Perencanaan Investasi (11)

Reksadana & Unit Link (1)

Saham (6)

Strategi Bisnis (6)

Studi Kelayakan Bisnis (2)

Follow Blog via Email


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 704 other followers


Blog Stats

127,351 hits

May 2016

M T W T F S S

Feb Nov

2 3 4 5 6 7 8

9 10 11 12 13 14 15

16 17 18 19 20 21 22

23 24 25 26 27 28 29

30 31

Create a free website or blog at WordPress.com.


WhatsApp Official: +62812 1800 2261

Home

DATA CENTER Documentation & Information

FORUMDiscussion Room

TRAININGCourse & In House

KNOWLEDGE BASETax Learning & Article

NEWSClippings & Info

PRODUCTSProducts & Services

Home

Tax Learning

Penghitungan PPh 21 ...

Tax Highlights


Ini Alasan Google Kabur Bayar Pajak di Semua Negara
20 Jan 2017
Forum

Kegiatan dan Jenis Jasa yang atas Ekspornya dikenakan PPN 0%

20 Jan 2017
Info Ortax


Sharing Forum : Biaya Makan Karyawan Boleh Jadi Biaya Pajak?

20 Jan 2017
Tax Learning

DJP ingin merealisasikan identitas tunggal (single ID)

19 Jan 2017
Forum


Kriteria Jasa Boga atau Katering Yang Tidak Dikenai PPN

19 Jan 2017
Info Ortax

Jadwal Training

Download jadwal reguler training dan intensive course Ortax

Forum Pilihan
Bagaimana jika terlanjut mengembalikan Nomor Seri Faktur Pajak di Akhir Tahun
Pajak?
Pelaporan SPT Tahun Pajak 2016

Faktur Pajak Outsourcing

NR Salah Input Sudah KeUpload dan Bisa terhapus

Jika Penghasilan Tahun Berjalan Sudah Melampaui 4,8M

Follow @Redaksi_Ortax

Tax Learning

33

15 Jan 2015

Tim Redaksi Ortax, Ortax.org

Penghitungan PPh 21 atas Dokter


Pendahuluan
Pada dasarnya Dokter berasal dari bahasa latin tang berarti guru, yaitu merupakan
seseorang yang karena keilmuannya berusaha menyembuhkan orang-orang yang sakit.
Tidak semua orang yang menyembuhkan penyakit bisa disebut dokter. Untuk menjadi
dokter biasanya diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus dan mempunyai gelar
dalam bidang kedokteran. Dengan keilmuannya dan keahliannya dalam menyembuhkan
orang-orang yang sakit, dari keahliannya tersebut seorang dokter mempunyai beberapa
sumber penghasilan. Penghasilan yang diterima dokter tersebut merupakan objek pajak
penghasilan, maka seorang dokter wajib membayar atau melunasi pajak penghasilan
termasuk penghasilan yang diterima dari penghasilan lainnya.

Sumber Penghasilan Dokter


Pada umumnya dokter memiliki beberapa
sumber penghasilan yaitu:

1. Penghasilan yang bersumber dari


keuangan rumah sakit atau
bendaharawan rumah sakit sebagai
pegawai tetap PNS atau karyawan
rumah sakit berupa gaji, tunjangan-
tunjangan, honorarium, dan
imbalan lainnya.

2. Penghasilan yang diterima sebagai


tenaga ahli atau tenaga profesional
berupa fee, komisi, dan imbalan lainnya.

3. Penghasilan yang diterima sebagai anggota atau peserta kegiatan yang


mendapatkan imbalan berupa uang saku atau uang rapat

4. Penghasilan yang diterima berupa penghargaan atau hadiah atas hasil membuat
obat-obatan atau alat kesehatan.
5. Penghasilan yang diterima dari buka praktik sendiri.

6. Penghasilan lain yang diterima diluar pekerjaan yang terkait dengan


kedokterannya, seperti penghasilan dari bunga deposito, penjualan tanah, sewa
mesin, hadiah, deviden dll.

Tarif PPh Pasal 21 khusus untuk dokter


Dalam menghitung pajak penghasilan, perlu diketahui tarif pajak yang berlaku yang
sesuai dengan ketentuannya. Ada beberapa tarif yang digunakan untuk pemotongan PPh
Pasal 21 khusus untuk dokter yaitu sebagai berikut:

1. Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh


Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 tentang
Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan, bahwa tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib
Pajak orang pribadi dalam negeri adalah sebagai berikut :

Tar
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
if

Sampai dengan Rp 50.000.000 5%

diatas Rp 50.000.000 s.d. Rp 15


250.000.000 %

diatas Rp 250.000.000 s.d. Rp 25


500.000.000 %

diatas Rp 500.000.000 30
Tar
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
if

2. Tarif Pasal 4 PP No.80 Tahun 2010


Sesuai dengan Pasal 4 PP No. 80 Tahun 2010 tentang Tarif Pemotongan dan Pengenaan
Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Penghasilan yang Menjadi Beban Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, bahwa Pajak
Penghasilan Pasal 21 yang terutang berupa honorarium atau imbalan lain dengan nama
apapun yang menjadi beban APBN atau APBD, dipotong oleh bendahara pemerintah
yang membayarkan honorarium atau imbalan lain tersebut. Pajak Penghasilan pasal 21
yang dimaksud yaitu bersifat final dengan tarif:

Sebesar 0% (nol persen) dari jumlah bruto honorarium atau imbalan lain bagi PNS
Golongan I dan Golongan II, Anggota TNI dan Anggota POLRI Golongan Pangkat
Tamtama dan Bintara, dan Pensiunannya;

Sebesar 5% (lima persen) dari jumlah bruto honorarium atau imbalan lain bagi
PNS Golongan III, Anggota TNI dan Anggota POLRI Golongan Pangkat Perwira
Pertama, dan pensiunannya;

Sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto honorarium atau imbalan lain
bagi pejabat Negara, PNS Golongan IV, Anggota TNI dan Anggota POLRI Golongan
Pangkat perwira Menengah dan perwira Tinggi, dan Pensiunannya.

Contoh Kasus Penghitungan PPh 21 untuk Dokter

1. Penghitungan PPh Pasal 21 atas dokter yang bekerja di Rumah Sakit


sebagai Pegawai Tetap

Contoh :
Dokter Ricki adalah pegawai tetap di RS ABC dengan gaji dan tunjangan per bulan
sebesar Rp15.000.000, Dokter Ricki belum menikah dan mempunyai 4 tanggungan yaitu
ibu yang tidak punya penghasilan, tante dan dua adik kandung. Berapakah PPh Pasal 21
yang harus dipotong oleh RS ABC?

PPh Pasal 21 yang terutang dan


harus dipotong oleh RS ABC:

Gaji dan tunjangan setahun


Rp180.000.000,-
(15.000.000 x 12)

Pengurang:
Biaya jabatan (5%x jumlah bruto
penghasilan setahun,

Rp
maksimal Rp6.000.000)
6.000.000,-

Rp
PTKP Sendiri (TK/1)
26.325.000,-

Rp 32.325.000,-

Penghasilan Kena Pajak Rp147.675.000,-

PPh Pasal 21 terhutang :


5% x Rp
50.000.000,- = Rp
2.500.000,-
15% x Rp
97.625.000,- = Rp
14.643.750,-

Rp 17.143.750
Catatan:
Rumah Sakit ABC wajib memberikan bukti potong PPh pasal 21 untuk Dokter Ricki.

2. Penghitungan PPh 21 atas dokter (PNS) yang menerima penghasilan


berupa Honorarium, komisi atau fee, uang saku, uang presentasi, uang rapat
yang dananya berasal dari APBN/APBD

Contoh :
Dokter Daniel (PNS Golongan IV) menerima honorarium yang dananya dari APBN/APBD
sebesar Rp9.500.000. Berapa PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh
pemberi kerja?
Jawab:
15% xRp9.500.000 = Rp1.425.000,-

Catatan:
Pada Kasus ini Pemotongan PPh Pasal 21 bersifat final, oleh karena itu tidak
diperhitungkan lagi dengan penghasilanlainnya, namun tetap dilaporkan dalam SPT
Tahunan OP dengan melampirkan bukti potong PPh Pasal 21 tersebut.

3. Penghitungan PPh 21 atas dokter (Swasta) yang menerima penghasilan


berupa Honorarium, komisi atau fee, uang saku, uang presentasi, uang rapat
yang dananya berasal dari APBN/APBD

Contoh :
Dokter Sandi (Pegawai swasta) menerima uang komisi yang berasal dari DEPKES sebesar
Rp16.000.000,-. Berapa PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh pemberi
kerja?
Jawab:
5% x (50% x Rp16.000.000,-) = Rp400.000,-
Catatan:
Pada kasus ini Dokter Sandi wajib menerima bukti potong PPh Pasal 21 dari DEPKES dan
wajib menghitung kembali penghasilan tersebut dalam SPT Tahunan PPh-nya.

4. Penghitungan PPh 21 atas dokter (PNS/Swasta) yang membuka praktik di


rumah sakit dan/atau klinik

Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan diterapkan
atas jumlah kumulatif dari 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan bruto untuk
setiap pembayaran imbalan kepada Bukan Pegawai.

Contoh :
Dokter Indro melakukan kerjasama dengan RS TBC untuk membuka praktik dokter setiap
hari Senin Jumat mulai pukul 19.00 21.00 WIB. Perjanjian kerjasama berupa bagi hasil
sebelum pajak sebesar 60:40 untuk Dokter Indro dan RS TBC mulai berlaku bulan
Februari 2014. Pada bulan Februari 2014, jumlah pasien yang berobat sebanyak 300
pasien dengan jumlah pembayaran sebesar Rp. 60.000.000,-. Sesuai dengan
kesepakatan bahwa Dokter Indro akan menerima penghasilan sebelum pajak sebesar
60% X Rp. 60.000.000 = Rp. 36.000.000. Berapa PPh Pasal 21 yang terutang dan harus
dipotong oleh pemberi kerja?

Jawab:
5% x (50% x Rp60.000.000,-) = Rp1.500.000.-
Maka penghasilan bersih setelah pajak yang diterima oleh Dokter Indro adalah Rp.
36.000.000 Rp. 1.500.000,- = Rp. 34.500.000,-

Catatan:
Besarnya jumlah penghasilan bruto adalah sebesar jasa dokter yang dibayar oleh pasien
melalui rumah sakit dan/atau klinik sebelum dipotong biaya-biaya atau bagi hasil oleh
rumah sakit dan/atau klinik.

5. Penghitungan atas dokter yang menerima penghasilan dengan membuka


praktik sendiri.
Penghasilan yang diterima dokter baik dari pekerjaan bebas sebagai tenaga ahli atau
pegawai tetap di rumah sakit atau klinik kesehatan, maupun laba usaha dari membuka
praktik sendiri dikenakan tarif pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh setelah terlebih dahulu
dikurangi dengan PTKP setahun.

Contoh :

Dokter Sigit menyelenggarakan pembukuan untuk menghitung besarnya PPh yang


terutang selama satu tahun, yaitu:

Peredaran bruto Rp400.000.0


Pengurang: 00,-
Biaya operasional (gaji pegawai, peralatan,
Obat, listrik, dll) Rp300.000.0
Penghasilan neto 00,-
Rp100.000.0
00,-

Selain itu, Dokter Sigit mendapatkan penghasilan neto sebagai pegawai tetap di rumah
sakit kasih sayang sebesar Rp200.000.000,- setahun. Maka perhitungan PPh terutang
adalah:

Penghasilan neto Rp
(Rp100.000.000+Rp200.000.000) 300.000.000,-
Pengurang:
PTKP (TK/-) Rp
Penghasilan Kena Pajak 24.300.000,-
Rp
275.700.000,-

PPh Pasal 21 terhutang :

Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU


PPh x PKP = Rp
5% x Rp50.000.000,- 2.500.000,-
15% x Rp225.700.000,- = Rp
33.855.000,- Rp 36.355.000,-

Penutup
Tidak hanya seorang administrasi perpajakan saja yang dapat menghitung pajak
penghasilan, ada baiknya seorang dokterpun mengetahui cara perhitungan pajak
penghasilannya sendiri. Dari uraian yang sudah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa
seorang dokter merupakan tenaga ahli yang dikenakan tarif 50% dari bruto sebelum
dikenakan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a, namun jika penghasilan seorang dokter PNS
bersumber dari APBN/APBD maka dikenakan pajak penghasilan bersifat final yang
tarifnya disesuaikan dengan tingkat golongannya.

Referensi:

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan


Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan

2. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER - 31/PJ/2012 tentang Pedoman


Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal
21 dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan
Kegiatan Orang Pribadi

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2010 tentang Tarif


Pemotongan dan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 21 Atas Penghasilan yang
Menjadi Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah

33

15 Jan 2015

Tim Redaksi Ortax, Ortax.org


Contacts and Information

ISSN : 1978-5844

Gedung Pemuda, Lantai 2


Jl.Pemuda Raya No.66 Rawamangun
Jakarta - Indonesia 13220
Phone : (021) 47865713
WA : +62812 1800 2261
Fax : (021) 47881350
Email : support@ortax.org

Navigation

Home Peraturan Pengadilan Pajak Tax Treaty - Efektif Tax Treaty - Arsip Kurs
Menteri Keuangan Kurs Bank Indonesia Daftar Alamat KPP Download Kontribusi
Member Download Aplikasi Pajak Download Formulir Forum Training Tax Learning
Artikel Pajak TaXperience Bulletin Arsip Berita Info Ortax Event Pajak
Announcement TaxBase 6.0 EfakturCSV Creator Publication IT Solutions

About Ortax

About Us

Testimonials

Disclaimer

Career

Observation & Research of Taxation (Ortax)


2007, All Rights Reserved. Your Center of Excellence in Taxation.

Contact Us

Back to Top
HOME

TENTANG KAMI

DISCLAIMER

KEBIJAKAN PRIVASI

KONTAK

Peta Situs

Aktivitas Situs Terkini

IKUTI WEB DI Contoh Menghitung PPh 21 Jasa Dokter Praktik di RS/


MEDIA SOSIAL Klinik

Contoh Menghitung Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 bagi


Bukan Pegawai Yang Menerima Penghasilan Yang Bersifat
Berkesinambungan.

Dasar Hukum:

INFO DAN ARTIKEL Peraturan Menteri Keuangan PMK-162/PMK.011/2012


PAJAK tentang Penyesuaian Penghasilan Tidak Kena Pajak bagi
Wajib Pajak Orang Pribadi
Info Pajak
Terbaru
Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-31/PJ/2012 Pedoman
Artikel Pajak Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, Pelaporan Pajak
Penghasilan Pasal 21 Dan Atau Pajak Penghasilan Pasal 26
KONSEP DASAR Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa Dan Kegiatan Orang
PAJAK Pribadi

Perpajakan
Menghitung PPh Pasal 21 atas jasa dokter yang praktik di rumah
Pemungutan sakit dan/atau klinik
Pajak Contoh
dr. Gober, Sp.JP merupakan dokter spesialis jantung yang
melakukan praktik di Rumah Sakit Jantung Koklok dengan
Pengelompokan
perjanjian bahwa atas setiap jasa dokter yang dibayarkan oleh
Dan Tarif Pajak
pasien akan dipotong 20% oleh pihak rumah sakit sebagai bagian
penghasilan rumah sakit dan sisanya sebesar 80% dari jasa dokter
Hambatan tersebut akan dibayarkan kepada dr. Gober, Sp.JP pada setiap akhir
Pemungutan bulan. Selain praktik di Rumah Sakit Jantung Koklok, dr. Gober,
Pajak Sp.JP juga melakukan praktik sendiri di klinik pribadinya. dr.
Gober, Sp.JP telah memiliki NPWP dan pada tahun 20xx, jasa
KETENTUAN UMUM dokter yang dibayarkan pasien dari praktik dr. Gober, Sp.JP di
PAJAK Rumah Sakit Jantung Koklok adalah sebagai berikut:
PENGHASILAN

Subyek Pajak
Penghasilan

Obyek Pajak
Penghasilan

Nomor Pokok
Wajib Pajak
(NPWP)

Surat-Surat Pajak

Tahun Dan Utang


Pajak

Sanksi
Perpajakan
Tentukan PPh 21!
Tarif Pajak
Penghasilan Pembahasan
(PPh) Penghitungan PPh Pasal 21 untuk bulan Januari sampai dengan
Desember 20xx:
Pajak
Penghasilan Pasal
21

Pajak
Penghasilan Pasal
22

Pajak
Penghasilan Pasal
23

Pajak
Penghasilan Pasal
24

Pajak
Penghasilan Pasal
Apabila dr. Gober Sp.JP tidak memiliki NPWP, maka PPh Pasal 21
25
terutang adalah sebesar 120% dari PPh Pasal 21 terutang
sebagaimana contoh di atas.
Pajak
Penghasilan Pasal Bagikan topik ini ke kolega/ relasi/ teman Anda
26

Penerima
Penghasilan dan
Pemotong Pajak

PAJAK Sangat berterimakasih bila bersedia mencantumkan


PENGHASILAN WP alamat link halaman ini sebagai sumber
PRIBADI: Pekerjaan
Terikat

Penghasilan

Penghasilan
Bruto

Pengurang
Penghasilan
Bruto

Zakat, Kredit
Pajak,
Kompensasi
Kerugian

Penghasilan
Tidak Kena Pajak
(PTKP)

Dasar Pengenaan
PPh 21

Dasar Pengenaan
PPh 21 Wanita
dan Anak

Tarif PPh WP
Orang Pribadi

PPh Pejabat/
PNS/ ABRI/
POLRI

Petunjuk
Penghitungan
PPh 21 dan 26

CONTOH
MENGHITUNG PPH
21: Pegawai Tetap

Contoh
Menghitung PPh
21 WP Tidak/
BerNPWP

Contoh
Menghitung PPh
21 Premi/
Tunjangan

Contoh
Menghitung PPh
21 Wanita
Lembur

Contoh
Menghitung PPh
21 Pegawai Baru

Contoh
Menghitung PPh
21 Pegawai
Pindah Tugas
Contoh
Menghitung PPh
21 Pegawai
Berhenti Bekerja

Contoh
Menghitung PPh
21 Rapel

Contoh
Menghitung PPh
21 Bonus

Contoh
Menghitung PPh
21 Dokter Gaji
dan Jasa Medik

Contoh
Menghitung PPh
21 Penghasilan
Dalam Mata
Uang Asing

Contoh
Menghitung PPh
21 Pajak
Ditanggung
Pemberi Kerja

Contoh
Menghitung PPh
21 Tunjangan
Pajak

Contoh
Menghitung PPh
21 Natura/
Kenikmatan

Contoh
Menghitung PPh
21 Pensiun/
Jaminan Hari
Tua/ Pesangon
Diterimakan
Berkala
Contoh
Menghitung PPh
21 Pensiun/
Jaminan Hari
Tua/ Pesangon
Diterimakan
Sekaligus

Contoh
Menghitung PPh
21 Hidup
Berpisah (HB)

Contoh
Menghitung PPh
21 Pisah Harta
(PH)

Contoh
Menghitung PPh
21 Istri Punya
NPWP Sendiri

Contoh
Menghitung PPh
21 Gaji
Mingguan

Contoh
Menghitung PPh
21 Gaji Harian

CONTOH
MENGHITUNG PPH
21: Bukan Pegawai

Contoh
Menghitung PPh
21 Mantan
Pegawai

Contoh
Menghitung PPh
21 Komisaris
Bukan Pegawai
Tetap

Contoh
Menghitung PPh
21 Komisi
Petugas Dinas
Luar Asuransi

Contoh
Menghitung PPh
21 Jasa Dokter
Praktik di RS/
Klinik

Contoh
Menghitung PPh
21 Bukan
Pegawai
Penghasilan
Tidak
Berkesinambung
an

Contoh
Menghitung PPh
21 Bagi Yang
Mempekerjakan
Orang Lain

Contoh
Menghitung PPh
21 Peserta
Kegiatan

CONTOH
MENGHITUNG PPH
21: Pegawai Tidak
Tetap/ Lepas

Contoh
Menghitung PPh
21 Upah Harian

Contoh
Menghitung PPh
21 Upah Satuan

Contoh
Menghitung PPh
21 Upah
Borongan

Contoh
Menghitung PPh
21 Upah Dibayar
Bulanan

PAJAK
PENGHASILAN WP
PRIBADI: Pekerjaan
Bebas

Norma
Penghitungan
Penghasilan Neto

Format Dan Tata


Cara Pencatatan

Ketentuan
Persentase
Norma
Penghitungan
Berdasarkan
Wilayah Dan
Jenis Usaha

Contoh Norma
Penghitungan
Dokter
Pengusaha Rotan

Contoh Norma
Penghitungan
Pedagang Eceran

Contoh Norma
Penghitungan
Dinas Luar
Asuransi/
Distributor
MLM/ Penjualan
Langsung

PAJAK
PENGHASILAN WP
BADAN
Subyek PPh WP
Badan

Obyek PPh WP
Badan

Pembukuan dan
Rekonsiliasi
Fiskal

Biaya Deduktibel
(Deductible Cost)

Biaya Non
deduktibel (Non
Deductible Cost)

Ketentuan
Amortisasi Fiskal

Ketentuan
Depresiasi Fiskal

Pengelompokan
Harta Untuk
Depresiasi

Tarif PPh WP
Badan dan
Fasilitas Pajak
UMKM

Kredit Pajak
Yang Diijinkan
Bagi Wajib Pajak
Badan

DAFTAR TARIF DAN


OBYEK PPH Pasal 4
Final, Pasal 15, Pasal
22, Pasal 23, Pasal 26

Tarif Dan Obyek


Pajak
Penghasilan Pasal
4 Final, Pasal 15,
Pasal 22, Pasal
23 dan Pasal 26

BLANGKO SPT

Blangko SPT
Tahunan 1770 SS

Blangko SPT
Tahunan 1770 S

Blangko Pajak
1721

Blangko SPT
Tahunan 1770

Blangko SPT
Tahunan 1771

UNDANG-UNDANG
TTG PPh

UU No. 36 Th
2008 (Newest)

UU No 17 Tahun
2000

UU No 10 Tahun
1994

UU No 7 Tahun
1991

UU No. 7 Tahun
1983

Pemilik situs

Zona Manajemen

Referensi Pajak
Penghasilan

Grha Manajemen

G Hendra
Poerwanto

Pengarang laman

Grha Manajemen

April 28, 2014

Referensi Pajak
Penghasilan

Maret 4, 2014

Sign in|Recent Site Activity|Report Abuse|Print Page|Powered By Google Sites

About

Contact Us

Privacy Policy

Disclaimer

Facebook

Twitter

Google Plus

Linkedin

Pinterest

YouTube

RSS

Gemar Akuntansi
Membahas akuntansi dan peraturan perpajakan di Indonesia

Home
Ak.Keuangan

Ak.Biaya

Auditing

Perpajakan

Standar Akuntansi

Jurnal

Beranda Implementasi Pajak Perpajakan Contoh Perhitungan PPh 21 / Pajak


Penghasilan Bagi Dokter

Contoh Perhitungan PPh 21 / Pajak Penghasilan Bagi Dokter


Bagikan :

Sumber Gambar

Sebagai seorang dokter yang sehari hari bertugas mengobati pasien, mungkin
akan sedikit sulit dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Entah karena
memang kurangnya sosialisasi atau karena memang buta akan peraturan dan
implementasi perpajakan itu sendiri. Disini saya akan coba menjabarkan
beberapa info seputar Pajak Penghasilan Bagi Dokter.

Jenis penghasilan apa saja yang diterima Dokter yang dikenakan Pajak
Penghasilan ?

Pada dasarnya setiap penghasilan itu terhutang pajak. Hanya saja bagaimana
cara penyetoran ke Negara yang berbeda. Semisalnya dokter karena keahlian
atau kegiatannya dapat menerima penghasilan yang berupa:

1. Gaji dan tunjangan serta pembayaran lainnya terkait dengan gaji, sebagai
pegawai tetap;
2. Honorarium, komisi atau fee sebagai tenaga ahli;

3. Uang saku, uang presentasi, uang rapat karena dokter sebagai pembicara
atau peserta kegiatan;

4. Hadiah, penghargaan, bonus, gratifikasi atau imbalan dalam bentuk lain,


karena sebagai dokter yang memberikan keuntungan bagi produsen obat
obatan atau alat kesehatan lainnya;

5. Laba usaha karena sebagai dokter yang buka praktek

Bagaimana cara perhitungan Pajak Penghasilan atas penghasilan yang diterima


dokter?

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa setiap penghasilan pasti
terhutang pajak. Namun untuk mengetahui berapa PPh yang harus dibayar atau
dilunasi dokter atas penghasilan yang diterimanya, terlebih dahulu perlu
dijelaskan bahwa pembayaran PPh dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:

1. Pemotongan/pemungutan oleh pihak pemberi penghasilan

2. Penyetoran sendiri oleh Wajib Pajak setelah menghitung dan


memperhitungkan PPh terhutang selama satu tahun.

Besarnya PPh atas penghasilan berupa gaji dan tunjangan serta pembayaran
lainnya yang terkait dengan gaji, honorarium, komisi atau fee, hadiah, bonus,
gratifikasi, uang saku, uang presentasi dan uang rapat. Yang diberikan oleh
pemberi kerja yang ditunjuk sebagai pemotong, ditentukan melalui perhitungan
yang dilakukan oleh pemberi kerja tersebut. PPh yang terhutang ini disebut juga
dengan PPh Pasal 21 karena diatur dalam Pasal 21 di UU PPh. Tariff yang
digunakan untuk pemotongan PPh Pasal 21 khusus untuk dokter (tenaga ahli)
adalah:

Tarif Pasal 17 Ayat (1) huruf a UU PPh dari Penghasilan Kena Pajak;

Tarif Pasal 17 Ayat (1) huruf a UU PPh dari Dasar Pengenaan dan
Pemotongan PPh Pasal 21. Dasar Pengenaan dan Pemotongan ditentukan
sebesar 50% dari jumlah bruto; dan

Tarif 15% dari jumlah bruto (bersifat Final) khusus untuk penghasilan
berupa honorarium, uang siding, uang hadir, uang lembur, imbalan
prestasi kerja, dan imbalan lain dengan nama apapun yang dananya
berasal dari APBN/APBD serta yang menerimanya PNS/TNI/POLRI/Pejabat
Negara golongan III/a ke atas atau Letnan Dua ke atas.
Tarif PPh Pasal 17

Contoh perhitungan pajaknya adalah sebagai berikut:

Gaji dan tunjangan serta pembayaran lainnya karena sebagai pegawai tetap.

Dokter Toni ( status single dan tidak ada tanggungan ) adalah seorang pegawai
tetap di Rumah sakit Sehat Selalu dengan gaji dan tunjangan sebulan sebesar
Rp. 15.000.000. PPh 21 yang terhutang dan harus dipotong oleh pemberi kerja
adalah :

Honorarium yang danannya berasal dari APBN/APBD.

Contoh 1

Dokter Toni adalah seorang PNS yang menerima honorarium yang dananya dari
APBD sebesar Rp. 10.000.000.PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong
oleh pemberi kerja/pemberi penghasilan :15% x Rp. 10.000.000 = Rp. 1.500.000

Pemotongan PPh Pasal 21 ini bersifat final atau tidak diperhitungkan kembali
dengan penghasilan lainnya. Sehingga sudah selesai perhitungannya, namun
tetap dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh-nya (melampirkan bukti potong).

Contoh 2

Dokter Toni adalah seorang Dokter Swasta ( non PNS ) menerima uang
presentasi yang dananya dari APBN sebesar Rp. 10.000.000 dari Departemen
Kesehatan. PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong oleh pemberi
kerja/pemberi penghasilan:5% x ( 50% x Rp. 10.000.000 ) = Rp. 250.000
Dokter Toni menerima bukti potong PPh Pasal 21 dari Departemen Kesehatan
dan menghitung kembali penghasilan tersebut dalam SPT Tahunan PPhnya.

Contoh 3

Dokter Toni ( Dokter Swasta atau PNS ) menerima honor pada bulan Maret 2016
sebesar Rp. 30.000.000 dari rumah sakit Sehat Selalu. PPh 21 yang terhutang
dan harus dipotong oleh pemberi kerja / pemberi penghasilan :5% x (50% x Rp.
30.000.000) = Rp. 750.000

Catatan

Apabila penghasilan tersebut diberikan karena pekerjaan atau jasanya


bersifat berkesinambungan baik berdasarkan kontrak atau kenyataan
sebenarnya, maka tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a diterapkan atas jumlah
kumulatifnya.

Misalnya pada contoh 3 Dokter Toni kembali menerima honor sebesar Rp.
80.000.000 pada bulan Mei 2016 sebesar Rp. 80.000.000 dari rumah sakit
Sehat Selalu sehingga total kumulatif untuk penghasilan di bulan Maret 2016 +
Mei 2016 adalah sebesar Rp. 110.000.000 ( Rp. 30.000.000 + Rp. 80.000.000 ).

Dasar pemotongan PPh pasal 21 dari jumlah kumulatif tersebut adalah 50% Rp.
110.000.000 = Rp. 55.000.000. Sehingga PPh 21 yang harus dipotong oleh
Rumah Sakit adalah :

Karena bulan maret sudah dipotong PPh sebesar Rp. 750.000. Maka bulan Mei
PPh yang harus dipotong adalah : Rp. 3.250.000 Rp. 750.000 = Rp. 2.500.000

Jumlah penghasilan bruto bagi Dokter yang melakukan praktik di Rumah


Sakit atau klinik adalah sebesar jasa Dokter yang dibayar oleh Pasien
melalui Rumah Sakit / Klinik sebelum dipotong biaya biaya atau bagi
hasil oleh Rumah Sakit / Klinik.

Misalnya Pasien membayar tagihan Rumah Sakit Sehat Selalu sebesar Rp.
25.000.000, dengan rincian uang obat Rp. 5.000.000 dan Jasa Dokter sebesar
Rp. 20.000.000. Akan tetapi karena ada perjanjian antara Rumah Sakit Sehat
Selalu dan Dokter Toni maka Dokter Toni mendapatkan uang jasa tersebut
sebesar 50% atau Rp. 10.000.000 sedangkan sisanya untuk pihak Rumah
Sakit.Rumah Sakit Sehat Selalu memotong PPh Pasal 21 atas penghasilan yang
diterima Dokter Toni dari jumlah bruto sebesar Rp. 20.000.000 bukan dari jumlah
penghasilan bruto setelah dikurangi bagi hasil atau Rp. 10.000.000.Sehingga PPh
Pasal 21 yang dipotong Rumah Sakit Sehat Selalu adalah 5% x (50% x Rp.
20.000.000) = Rp. 500.000.

Hadiah atau penghargaan, bonus, gratifikasi atau imbalan dalam bentuk lain
karena sebagai dokter yang memberikan keuntungan bagi produsen obat atau
alat kesehatan lainnya.

Misalnya Dokter Toni ( bukan pegawai tetap di PT X ) menerima hadiah berupa


tiket pesawat ke Bali dan akomodasinya senilai Rp. 50.000.000.PPh Pasal 21
yang terutang dan harus dipotong oleh pemberi penghasilan :5% x Rp.
50.000.000 = Rp. 2.500.000

Dokter Toni akan menerima bukti potong PPh Pasal 21 dari PT X dan menghitung
kembali penghasilan tersebut dalam SPT tahunan PPh nya. Apabila dari hadiah
tersebut ternyata tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 21 dari PT X, maka
Dokter Toni wajib menghitung dan membayar sendiri Pajak Penghasilan dari
hadiah tersebut di dalam SPT Tahunan PPh-nya.

Laba usaha karena dokter yang buka praktek. Dokter yang menerima
penghasilan dari membuka praktek dapat menghitung PPh melalui 2 cara yaitu
pembukuan atau pencatatan.

Pembukuan

Laba usaha baik dari praktek maupun pekerjaan bebas seperti dokter sebagai
tenaga ahli di Rumah Sakit/klinik kesehatan, didapat dari hasil laporan Rugi Laba.
Apabila untung maka atas keuntungan tersebut dikenakan tarif pasal 17 ayat (1)
huruf a UU PPh setelah terlebih dahulu dikurangi dengan PTKP setahun.

Misalnya Dokter Toni menyelenggarakan pembukuan untuk menghitung


besarnya PPh yang terutang selama satu tahun dan Dokter Toni hanya
mendapatkan penghasilan dari praktek saja :
Pencatatan

Laba usaha dari praktek maupun pekerjaan bebas seperti dokter sebagai tenaga
ahli, didapat dari peredaran atau penerimaan bruto (omzet) selama satu tahun
dikalikan norma perhitungan penghasilan neto (misalnya untuk praktek di Jakarta
ditentukan norma penghasilan nettonya 45%). Hasil perkalian (Penghasilan Neto)
tersebut dikalikan dengan tariff Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh setelah terlebih
dahulu dikurangi PTKP.

Misalnya Dokter Toni memperoleh penghasilan dari praktek di Jakarta dengan


peredaran atau penerimaan bruto setahun Rp. 300.000.000 dan dari Rumah
Sakit Sehat Selalu sebagai dokter tamu Rp. 200.000.000 ( PPh 21 yang
dipotong oleh Rumah Sakit Sehat Selalu sebesar Rp. 5.000.000 )

PPh terutang :

Total Penghasilan Bruto adalah Rp. 300.000.000 + Rp. 200.000.000 = Rp.


500.000.000
PPh yang harus disetor sendiri ke Kantor Pos selama setahun adalah = Rp.
20.650.000 Rp. 5.000.000 = Rp. 15.650.000

Tag : Implementasi Pajak, Perpajakan

Previous
Fungsi Audit dan Jenis - Jenis Audit Dalam Akuntansi

Next
Kenaikan PTKP Untuk Orang Pribadi Sesuai Dengan PMK No. 101/PMK.010/2016

Related Post:

Latar Belakang Perencanaan Pajak / Tax Planning

Latar Belakang dan Pengertian Tax Amnesty

Tujuan, Subjek dan Objek Tax Amnesty

Tata Cara Pengajuan SKB dari Pemotongan PPh Bagi Wajib Pajak Yang
Dikenakan PPh Sesuai PP Nomor 46 Tahun 2013

Karakteristik Perancanaan Pajak / Tax Planning

0 Komentar untuk "Contoh Perhitungan PPh 21 / Pajak Penghasilan Bagi Dokter"

Popular Posts


Tata Cara Pelaporan KPPK ( Kegiatan Penerapan Prinsip Kehati - hatian )
dengan Laporan Atestasi

Hanya tinggal 1 bulan lagi sebelum batas akhir penyampaian laporan


KPPK untuk tahun buku Januari Desember. Berikut saya akan coba
memapar...

Latar Belakang dan Pengertian Tax Amnesty

Sumber Gambar Pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun


terakhir cenderung mengalami perlambatan yang berdampak pada
turunnya ...

Pelaporan Keuangan ETAP dan Nirlaba

Pengertian organisasi dan nirlaba Yayasan adalah badan hukum yang


terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk menc...

Kenaikan PTKP Untuk Orang Pribadi Sesuai Dengan PMK No.


101/PMK.010/2016

Di tahun 2016 ini pemerintah kembali menaikkan Penghasilan Tidak Kena


Pajak (PTKP), besarannya kurang lebih sama seperti kenaikan di 2015 y...

Laporan Laba Rugi Komprehensif


Selamat Pagi !! Berjumpa lagi dengan gemar-akuntansi.blogspot.com Kali
ini saya akan coba memaparkan sedikit tentang LAPORAN LABA RUGI
KOMP...

Copyright 2014 : Gemar Akuntansi - All Rights Reserved


Template by Kang Mousir - Proudly powered by Blogger