Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lengkuas Putih

Berdasarkan taksonomi tanaman, lengkuas termasuk dalam:

Kingdom :

Divisi :

Kelas :

Ordo :

Famili :

Genus :

Spesies :

2.2 Minyak Atsiri

Minyak atsiri merupakan minyak yang sudah lama digunakan oleh


masyarakat, terutama pedesaan, untuk mengobati penyakit. Minyak atsiri
memiliki bau khas dari tanaman aslinya dan menguap. Beberapa minyak atsiri
pada tumbuhan bersifat sebagai daya tarik. Zat penarik tersebut berupa hormon
yang disebut feromon. Pada tumbuhan, feromon berfungsi sebagai penarik
serangga untuk membantu penyerbukan, mengusir hewan perusak, atau sebagai
isyarat bahwa tanaman tersebut sudah siap dipanen. Minyak atsiri memiliki
kandungan komponen aktif yang disebut terpenoid atau terpena. Jika tanaman
memiliki kandungan senyawa ini, berarti tanaman tersebut memiliki potensi untuk
dijadikan minyak atsiri. Zat inilah yang mengeluarkan aroma atau bau khas yang
terdapat pada banyak tanaman, misalnya pada rempahrempah atau yang dapat
memberikan cita rasa di dalam industri makanan dan minuman. Senyawa terpena
yang terkandung di dalam minyak atsiri dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu
monoterpen yang mempunyai titik didih antara 140180C dan seskuiterpen yang
mempunyai titik didih > 200C (Yuliani dan Satuhu,2012).
Minyak atsiri dihasilkan dari bagian jaringan tanaman tertentu seperti akar,
batang, kulit, daun, bunga, buah, atau biji. Sifat minyak atsiri yang menonjol
antara lain mudah menguap pada suhu kamar, mempunyai rasa getir, berbau
wangi dengan aroma tanaman yang menghasilkannya, dan umumnya larut dalam
pelarut organik. Minyak atsiri dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama,
minyak atsiri yang dengan mudah dapat dipisahkan menjadi komponenkomponen
atau penyusun murninya. Komponenkomponen ini dapat menjadi bahan dasar
untuk diproses menjadi produkproduk lain. Contoh kelompok pertama ini adalah :
minyak sereh, minyak daun cengkeh, minyak permen, dan minyak terpentin.
Kelompok kedua adalah minyak atsiri yang sukar dipisahkan menjadi komponen
murninya. Contoh minyak atsiri kelompok kedua ini antara lain minyak akar
wangi, minyak nilam dan minyak kenanga. Lazimnya minyak atsiri tersebut
langsung dapat digunakan, tanpa diisoalasi komponenkomponennya, sebagai
pewangi berbagai produk (Sastrohamidjojo,2004).

2.2.1 Kegunaan Minyak Atsiri

Manfaat minyak atsiri memang sangat besar, baik untuk kepentingan


dibidang kecantikan dan kesehatan, makanan, maupun industri lainnya.

1. Farmasi dan Kesehatan


Di bidang kesehatan, minyak atsiri digunakan sebagai aroma terapi. Zat
aktif dalam minyak atsiri juga sangat membantu proses penyembuhan karena
memiliki sifat antiradang, antifungi, antiserangga, afrodisiak, antiinflamasi,
antidepresi, antiflogistik, dan dekongestan.

2. Kosmetik

Beberapa produk kosmetik yang membutuhkan peran atsiri untuk


memperkuat efeknya yaitu parfum, sabun, pasta gigi, sampo, lotion, dan
deodorant.

3. Makanan

Pada makanan, minyak atsiri yang ditambahkan berfungsi sebagai


penambah aroma dan penambah rasa (Armando,R.2009).
2.2.2 Metode Isolasi Minyak Atsiri

Dalam tanaman minyak atsiri, biasanya proses difusi berlangsung sangat lambat,
maka untuk mempercepat proses difusi sebelum melakukan penyulingan terlebih
dahulu bahan tanaman harus diperkecil dengan cara dipotong-potong atau digerus.
Peristiwa terpenting yang terjadi dalam proses penyulingan dengan metode
hidrodestilasi ini adalah terjadinya difusi minyak atsiri dan air panas melalui
membran bahan yang disuling, terjadinya hidrolisa terhadap beberapa komponen
minyak atsiri dan terjadinya dekomposisi yang disebabkan oleh panas
(Guenther,1987).

Penyulingan suatu campuran yang berwujud cairan yang tidak saling


bercampur, hingga membentuk dua fase atau dua lapisan. Keadaan ini terjadi pada
pemisahan minyak atsiri dengan uap air. Penyulingan dengan uap air sering
disebut steam destilasi. Pengertian umum ini memberikan gambaran bahwa
penyulingan merupakan pemisahan komponen-komponen suatu campuran dari
dua jenis cairan atau lebih berdasarkan perbedaan tekanan uap dari masing-
masing zat tersebut (Sastrohamidjojo,2004).

Dalam industri minyak atsiri dikenal 3 macam metode penyulingan, yaitu:

1. Penyulingan dengan air (water distillation)


Metode penyulingan dengan air merupakan metode paling sederhana jika
dibandingkan dua metode penyulingan yang lain. Pada metode ini , bahan
yang akan disuling dimasukkan dalam ketel suling yang telah diisi air.
Dengan begitu, bahan bercampur langsung dengan air . Pemisahan air dan
minyak dilakukan berdasarkan perbedaan berat jenis. Metode penyulingan
ini baik digunakan untuk penyulingan bahan berbentuk tepung dan bunga
bungaan yang mudah membentuk gumpalan jika terkena panas tinggi.
2. Penyulingan dengan air dan uap (water and steam distillation)
Metode ini disebut juga dengan sistem kukus. Pada prinsipnya, metode
penyulingan ini menggunakan uap bertekanan rendah. Dibandingkan
dengan cara pertama (water distillation), perbedaannya hanya terletak
pada pemisahan bahan dan air. Pemisahan air dan minyak atsiri dilakukan
berdasarkan berat jenis. Keuntungan dari metode ini yaitu penetrasi uap
terjadi secara merata ke dalam jaringan bahan dan suhu dapat
dipertahankan sampai 100C. Lama penyulingan relatif lebih singkat,
rendemen minyak lebih besar, dan mutunya lebih baik jika dibandingkan
dengan minyak hasil dari sistem penyulingan dengan air.
3. Penyulingan dengan uap (steam distillation)
Pada sistem ini , air sebagai sumber uap panas terdapat dalam boiler
yang letaknya terpisah dari ketel penyulingan. Uap yang dihasilkan
mempunyai tekanan lebih tinggi dari tekanan udara luar. Proses
penyulingan dengan uap ini baik jika digunakan untuk menyuling bahan
baku minyak atsiri berupa kayu, kulit batang, maupun bijibijian yang
relatif keras. Penyulingan denga uap sebaiknya dimulai dengan tekanan
uap yang rendah (kurang lebih 1 atm ), kemudian secara berangsur angsur
tekanan uap dinaikkan menjadi kurang lebih 3 atm (Armando,R.2009).

2.3 Analisis Komponen Minyak Atsiri Dengan GCMS

2.3.1 Kromatografi Gas

Kromatografi gas adalah suatu proses dengan mana suatu campuran


menjadi komponenkomponennya oleh fase gas yang bergerak melewati suatu
lapisan serapan yang stasioner (Vogel,1994). Dalam kromatografi gas, fase
bergeraknya adalah gas dan zat terlarutnya terpisah sebagai uap. Pemisahan
tercapai dengan partisi sampel antara fase bergerak dan fase diam berupa cairan
dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat pada zat padat
penunjangnya (Khopkar,2003).

Pemisahan pada kromatografi gas didasarkan pada titik didih suatu


senyawa dikurangi dengan semua interaksi yang mungkin terjadi antara solut
dengan fase diam. Fase gerak yang berupa gas akan mengelusi solut dari ujung
kolom lalu menghantarkannya ke detektor. Penggunaan suhu yang meningkat
(biasanya kisaran 50C350C) bertujuan untuk menjamin bahwa solut akan
menguap dan karenanya akan cepat terelusi (Gandjar dan Rohman,2008).

2.4 Spektrometri Massa


Spektrometer massa adalah suatu alat berfungsi untuk mendeteksi masing-
masing molekul komponen yang telah dipisahkan pada sistem kromatografi gas
(Agusta, 2000).

Prinsip spektrometri massa (MS) ialah molekul senyawa organik (sampel)


ditembak dengan berkas elektron dan menghasilkan ion bermuatan positif yang
mempunyai energi yang tinggi karena lepasnya elektron dari molekul yang dapat
pecah menjadi ion posiitf yang lebih kecil (ion fragmen). Spektrum massa
merupakan grafik antara limpahan relatif lawan perbandingan massa / muatan
(m/z) (Sastrohamidjojo, 2004).

Keuntungan utama spektrometri massa sebagai metode analisis yaitu


metode ini lebih sensitif dan spesifik, untuk identifikasi senyawa yang tidak
diketahui atau untuk menetapkan keberadan senyawa tertentu, hal ini disebabkan
adanya pola fragmentasi yang khas sehingga dapat memberikan informasi
mengenai bobot molekul dan rumus molekul. Puncak ion molekul penting
dikenali karena memberikan bobot molekul senyawa yang diperiksa. Puncak
tertinggi pada spektrum disebut puncak dasar (base peak ) , dinyatakan dengan
nilai 100% dan kekuatan puncak lain, termasuk puncak ion molekulnya
dinyatakan sebagai persentase puncak dasar tersebut (Silverstein, dkk., 1984).