Anda di halaman 1dari 10

VERNALISASI

NAMA : FRISLIA HEHANUSSA


NIM : 2014-40-082

UNIVERSITAS PATTIMURA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
AMBON
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembungaan, pembuahan, dan set biji merupakan peristiwa-peristiwa penting dalam


produksi tanaman. Proses-proses ini dikendalikan baik oleh lingkungan terutama fotoperiode dan
temperatur, maupun oleh faktor-faktor genetik atau internal. Salah satu proses perkembangan
yang harus tepat waktu adalah proses pembungaan. Tumbuhan tidak bisa berbunga terlalu cepat
sebelum organ-organ penunjang lainnya siap, misalnya akar dan daun lengkap. Sebaliknya
tumbuhan tidak dapat berbunga dengan lambat, sehingga buahnya tidak sempurna misalnya
datangnya musim dingin.
Faktor lingkungan merupakan faktor yang sangat erat berhubungan kehidupan tanaman,
yang akan mempengaruhi proses-proses fisiologi dalam tanaman. Semua proses fisiologi akan
dipengaruhi oleh suhu dan beberapa proses akan tergantung dari cahaya dan temperatur.
Penyinaran cahaya terhadap tanaman merupakan salah satu faktor eksternal yaitu faktor dari luar
yang mempengaruhi pembungaan (Natania, 2008). Kejadian musiman sangat penting dalam
siklus kehidupan sebagian besar tumbuhan. Perkecambahan biji, pembungaan, permulaan dan
pengakhiran dormansi tunas merupakan contoh-contoh tahapan dalam perkembangan tumbuhan
yang umumnya terjadi pada waktu spesifik dalam satu tahun. Stimulus lingkungan yang paling
sering digunakan oleh tumbuhan untuk mendeteksi waktu dalam satu tahun adalah fotoperiode,
yaitu suatu panjang relative malam dan siang. Respons fisologis terhadap fotoperiode, seperti
pembungaan, disebut fotoperiodisme (photoperiodism) (Campbell, dkk., 1999).
Penemuan fotoperiodisme merangsang banyak sekali ahli fisiologi tanaman untuk
mengadakan penyelidikan tentang proses itu lebih jauh dalam usahanya untuk menentukan
mekanisme aksi. Mereka segera menemukan bahwa istilah hari pendek dan hari panjang
merupakan salah kaprah (misnomer). Interupsi periode hari terang dengan interval kegelapan
tidak mempunyai efek mutlak pada proses pembungaan (Natania, 2008).
Faktor temperatur sangat berpengaruh terhadap tanaman, karena umumnya temperatur
mengubah atau memodifikasi respons terhadap fotoperiode pada spesies dan varietas (Thomas
dan Raper, 1982). Banyak sepesies membutuhkan periode dingin atau temperaturnya mendekati
pembekuan selama 2 sampai 6 minggu agar dapat berbunga pada waktu fotoperiode panjang
pada musim semi.

Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah :
Untuk mengetahui vernalisasi pada tumbuhan

Batasan Masalah
Yang menjadi batasan masalah pada makalah ini antara lain adalah pengertian dan
mekanisme vernalisasi.
BAB II
ISI

VERNALISASI

Pada tahun 1920-an, para ahli sains dari Departemen Pertanian A.S. yang melakukan
penelitian di Beltsville, Maryland mulai meneliti aktivitas pembungaan pada tumbuhan. Mereka
mulai menyadari bahwa pembungaan dimulai oleh panjang siang. Setelah menanam tumbuhan
dalam rumah tanaman, tempat fotokalanya dapat diubah secara buatan, mereka membuat
kesimpulan bahwa tumbuhan dapat dibagi menjadi tiga kumpulan :

Tumbuhan pendek siang- berbunga apabila fotokalanya lebih pendek daripada panjang genting.
(Contoh yang baik ialah pohon cocklebur, pohon merah (poinsetia, kekwa). Tumbuhan panjang
siang- berbunga apabila fotokalanya lebih panjang daripada suatu panjang genting. (Contoh yang
baik ialah gandum, barli, bunga cengkih, bayam). Tumbuhan neutral siang- pembungaan tidak
bergantung kepada suatu fotokala. (Contoh yang baik ialah tomat dan timun).

Vernalisasi merupakan induksi pendinginan yang diperlukan oleh tumbuhan sebelum


mulai perbungaan. Vernalisasi sebenarnya tidak khusus untuk perbungaan, tetapi diperlukan pula
oleh biji-biji tumbuhan tertentu sebelum perkecambahan. Respon terhadap suhu dingin ini
bersifat kualitatif (mutlak), yaitu pembungaan akan terjadi atau pembungaan tidak akan terjadi.
Lamanya periode dingin haruslah beberapa hari sampai beberapa minggu, tergantung
sepesiesnya. Spesies semusim pada musim dingin, dua tahunan, dan banyak spesies tahunan dari
daerah beriklim sedang yang membutuhkan vernalisasi semacam itu agar berbunga. Biji, umbi,
dan kuncup banyak spesies tanaman di daerah beriklim sedang membutuhkan stratifikasi
(beberapa minggu diletakkan dalam penyimpanan yang dingin dan lembab) untuk mematahkan
dormansi. Jadi vernalisasi secara harfiah berarti membuat suatu keadaan tumbuhan seperti
musim semi, yaitu menggalakkan pembungaan sebagai respon terhadap hari-hari yang panjang
selama musim semi (Gardner,dkk, 1991).
Seterusnya kita harus mengambil perhatian bahwa suatu tumbuhan panjang siang dan
pendek siang dapat mempunyai panjang hari genting yang sama. Bayam merupakan suatu
tumbuhan panjang siang yang mempunyai panjang genting selama empat belas jam, rumput reja
merupakan suatu tumbuhan pendek siang dan mempunyai panjang genting yang sama. Walau
bagaimanapun, bayam hanya berbunga pada musim panas apabila panjang siang meningkat
sehingga empat belas jam atau lebih, dan rumput reja berbunga pada musim gugur apabila
panjang siangnya berkurang hingga empat belas jam atau kurang. (Rumput reja harus menjadi
matang sebelum dapat berbunga, sebab itulah tumbuhan ini tidak berbunga pada musim bunga
walaupun panjang siangnya kurang daripada empat belas jam).
Pada tahun 1938, K. C. Hammer dan J. Bonner memulai eksperimen dengan panjang
siang dan malam buatan yang tidak perlu sama dengan suatu normal, yaitu siang dua puluh
empat jam. Mereka kemudian berpendapat bahwa cocklebur yang merupaka tumbuhan pendek
siang akan berbunga pada waktu gelapnya berterusan selama delapan setengah jam, tanpa
memperkirakan panjang waktu siang. Selanjutnya, jika waktu gelap ini diganggu untuk seketika
oleh pancaran cahaya, maka pohon cocklebur tidak akan berbunga. ( Mengganggu panjang
waktu penyinaran dengan kegelapan tidak memiliki arti ).
Keputusan yang sama juga telah diperoleh bagi tumbuhan panjang siang. Tumbuhan
tersebut memerlukan suatu waktu gelap yang lebih pendek daripada suatu panjang genting tanpa
memperhitungkan panjang waktu pencahayaan. Walau bagaimanapun, jika suatu malam yang
lebih panjang dari panjang genting diganggu oleh suatu pancaran cahaya yang sekejap, maka
tumbuhan siang panjang akan berbunga. Dengan demikian, dapatlah dibuat kesimpulan bahwa
panjang waktu gelap yang mengakibatkan pembungaan, bukannya panjang waktu pencahayaan.
Dalam keadaan alami, jelaslah siang yang lebih pendek senantiasa berfungsi dengan malam yang
lebih panjang, dan begitulah sebaliknya.
Pada jurnal, untuk tanaman photoperiod sensitif, untuk menaggapi stimulus bunga
induktif, daun perlu kompeten dan menghasilkan stimulus bunga dan meristem harus memiliki
kemampuan untuk merespon rangsangan tersebut. Jarak antara meristem apikal dan akar
merupakan faktor yang mengatur saat inisiasi bunga terjadi di bawah kondisi induktif Ribes
nigrum L. Nicotiana tabacum L. (Schwabe dan Al-Doori, 1973; McDaniel, 1980).
3.1. letak Vernalisasi
Bukti-bukti bahwa rangsanagan dingin dihasilkan di dalam meristem atau kuncup dan
bukan didalam daun diperoleh dari empat fenomena:

1. Biji yang telah mengalami imbibisi mudah divernalisasi

2. Pengenaan suhu dingin hanya pada daun, akar, atau batang tidak efektif.

3. Biji yang sedang berkembang pada tanaman induk dapat dan seringkali sudah
tervernalisasi apabila tepat pada waktu suhu dingin berlangsung sebelum biji menjadi
kering.

4. Tanaman yang ditanam dari kuncup liar suatu daun yang sudah tervernalisasi telah
tergalakkan untuk berbunga (Gardner,dkk, 1991).

3.2. Hilangnya Vernalisasi


Vernalisasi pada biji dapat dinolkan dengan pengenaan kondisi yang parah, seperti
kekeringan atau temperatur tinggi (30-355C) selama periode beberapa hari. Pada percobaan yang
dilakukan oleh Lysenko di Uni soviet, mengenai biji serealia musim dingin yang divernalisasi
dan dipertahankan biji dalam keadaan kering menyebabkan proses devernalisasi (penghilangan
vernalisasi). Percobaan yang dilakukan Lysenko itu tidak berlaku di mana saja, mungkin karena
telah tersedia kultivar tipe musim semi yang teradaptasi.
Vernalisasi pada rumput-rumputan tahunan tertentu, ternyata lebih kompleks, selain
dingin, juga diperlukan beberapa fotoperiode pendek. Contohnya pada rumput orchard,
penggalakan pembungaan terjadi secara alamiah, dan diperlukan suhu ingin untuk menggalakkan
pembungaan pada sepesies-sepesies tersebut (Gardner,dkk, 1991).

3.3. Interaksi Vernalisasi dengan faktor lain


Chailakhyan menyatakan bahwa hanya tumbuhan di daerah temperatur yang mengalami
musim dingin, dapat kita harapkan memerlukan vernalisasi, dan ini adalah tumbuhan hari
panjang (LPD). Tumbuhan hari pendek biasanya berada di daerah subtropis.
Ada sebuah interaksi yang ganjil pada Petkus rye (secale cereale), kebutuhan akan
vernalisasi dapat digantikan dengan perlakuan hari pendek (short day), tetapi apabila tanaman ini
telah memperoleh vernalisasi, dia memerlukan induksi hari panjang untuk pembungaannya.
Sama halnya dengan Hyoscyamus niger memerlukan vernalisasi apabila dalam tahap roset dan
perbungaan akan terjadi hanya pada hari panjang.

3.4. Organ Penerima Rangsangan Vernalisasi


Organ tumbuhan yang dapat menerima rangsangan vernalisasi sangat bervariasi yaitu biji,
akar, embrio, pucuk batang. Apabila daun tumbuhan yang memerlukan vernalisasi mendapat
perlakuan dingin, sedangkan bagian pucuk batangnya dihangatkan, maka tumbuhan tidak akan
berbunga (tidak terjadi vernalisasi). Vernalisasi merupakan suatu proses yang kompleks yang
terdiri dari beberapa proses. Pada Secale cereale, vernalisasi pada tanaman ini terjadi di dalam
biji dan semua jaringan yang dihasilkannya berasal dari meristem yang tervernalisasi. Pada
Chrysantheum, vernalisasi hanya dapat terjadi pada meristemnya.
Zat yang bertanggung jawab dalam meneruskan rangsangan vernalisasi disebut vernalin,
yaitu suatu hormon hipotesis karena sampai saat ini belum pernah diisolasi. Di dalam hal
perbungaan GA dapat mengganti fungsi vernalin, meskipun GA tidak sama dengan vernalin.
Pada H. Niger, pemberian GA dapat menggantikan vernalisasi:
Tumbuhan roset GA vegetatif berbunga
Tumbuhan roset vernalisasi berbunga
Menurut hipotesis Chailkhyan, hal tersebut dapat terjadi sebagai berikut:
Pada tumbuhan hari panjang, apabila mengalami vernalisasi akan menghasilkan vernalin, dan
pabila selanjutnya memperoleh induksi hari panjang, vernalin akan diubah menjadi giberelin.
Giberelin dengan antesin yang sudah tersedia pada tumbuhan hari panjang akan menghasilkan
perbungaan. Jadi vernalisasi adalah suatu proses yang aerob, tidak akan terjadi vernalisasi kalau
atmosfirnya diganti dengan Nitrogen. Disamping itu vernalisasi merupakan proses kimia yang
tidak biasa, karena terjadi reaksi yang cepat pada suhu dingin (Sasmitamihardja, dkk, 1996).
Dalam jurnal kita dapat mengidentifikasi 3 fase perkembangan yaitu fase pra induktif
(Juvenil), induktif dan pacsa induktif (Roberts et al 1986). Fase pra induktif tidak sensitif
terhadap photoperiod, fase induktif tanaman sensitif terhadap photoperiod dan fase pacsa
induktif periode photoperiod insensitive selama bunga berkembang. Dengan demikian, jelas
bahwa setidaknya empat fase perkembangan perlu dibedakan dalam percobaan mentransfer
timbal balik: (1) photoperiod-insensitive fase remaja; (2) photoperiod-sensitif fase induktif,
berakhir pada komitmen bunga; (3) photoperiod-sensitif bunga tahap pengembangan, dan (4)
photoperiod-insensitive bunga fase pertumbuhan. Suhu optimum yang digunakan ialah 21 derajat
celsius. Namun, pendekatan analitis mengasumsikan tanaman sama-sama sensitif terhadap
photoperiod selama induksi bunga dan fase awal pembangunan bunga; pengembangan lebih
lanjut akan diperlukan untuk memungkinkan analisis transfer data timbal balik dari tanaman
dengan tanggapan yang berbeda photoperiod, terutama mereka dengan persyaratan photoperiod
ganda.
BAB III
KESIMPULAN

Vernalisasi merupakan induksi pendinginan yang diperlukan oleh tumbuhan sebelum


mulai perbungaan. Vernalisasi pada biji dapat dinolkan dengan pengenaan kondisi yang parah,
seperti kekeringan atau temperatur tinggi (30-35C). Apabila daun tumbuhan yang memerlukan
vernalisasi mendapat perlakuan dingin, sedangkan bagian pucuk batangnya dihangatkan, maka
tumbuhan tidak akan berbunga (tidak terjadi vernalisasi).
Zat yang bertanggung jawab dalam meneruskan rangsangan vernalisasi disebut vernalin,
yaitu suatu hormon hipotesis karena sampai saat ini belum pernah diisolasi. Disamping itu
vernalisasi merupakan proses kimia yang tidak biasa, karena terjadi reaksi yang cepat pada suhu
dingin.
DAFTAR PUSTAKA

Silvia S.Mader. 1995. Biologi, Evolusi, Keanekaragaman dan Lingkungan. Malaysia : Dewan
Bahasa dan Pustaka Malaysia.
Riana yani,dkk. 2003. Biologi SMU kelas II, Bandung : Remaja RosdaKarya.
Steven R.Adams, Simon Pearson, Paul Hadley. 2000. Improving quantitative flowering
models through a better understanding of the phases of photoperiod sensitivity. Oxford
journals ofExperimental Botany vol 52 issue 357 Pp 655-662,October 20, 2000.
Putra, dkk., 2010, Fotoperiodisme dan Vernalisasi, http://rikiharyanto.blogspot.com/
Sanusi, A., 2009, Respon Tanaman Terhadap Penyinaran. http://sanoesi.wordpress.com/about/v