Anda di halaman 1dari 5

BAB 2

KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Tujuan perhitungan kebutuhan air irigasi untuk mengetahui luas potensial daerah irigasi
berdasarkan ketersediaan sumber air irigasi dalam hal ini Sungai Cenang dan untuk menghitung debit
rencana saluran irigasi.
Kebutuhan air irigasi di bangunan sadap utama ditentukan oleh kebutuhan air tanaman di petak
sawah. Air selama di perjalanan mulai dari sumber air irigasi (sungai) sampai dengan di petak sawah
mengalami pengurangan (kehilangan air) yang diakibatkan oleh faktor-faktor berikut ini :
Penguapan
Rembesan di saluran
Bocoran di pintu-pintu
Kurang cermatnya petugas dalam pengoperasian
Semakin kecil kehilangan air semakin besar efisiensi irigasi, dan sebaliknya. Dalam tugas ini
kehilangan air di jaringan diambil (diasumsikan) sebagai berikut :
jaringan tersier 20%, sehingga efisiensi irigasi di jaringan tersier, et = (100-20)% = 80%
saluran sekunder 15%, sehingga efisiensi irigasi di saluran sekunder, es = (100-15)% = 85%
saluran primer 10%, sehingga efisiensi irigasi di saluran primer, ep = (100-10)% = 90%
sehingga :
ei = et x es x ep ..................................................................(1)
dimana :
ei = efisiensi irigasi total
et = efisiensi irigasi di jaringan tersier
es = efisiensi irigasi di saluran sekunder
ep = efisiensi irigasi di saluran primer

2.1 TANAMAN PADI


Tanaman padi di sawah memerlukan air cukup banyak sampai tergenang selama pertumbuhan.
Begitupula sebelum ditanami padi, tanah sawah perlu disiapkan terlebih dahulu yaitu tanah digenangi
untuk beberapa lama kemudian baru diolah (dibajak). Dengan demikian perhitungan kebutuhan air
irigasi untuk tanaman padi terdiri dari 2 tahap :
1. Tahap penyiapan lahan
2. Tahap pertumbuhan

4
2.1.1 Penyiapan Lahan
Rumus yang dipakai pada perhitungan kebutuhan air irigasi pada tahap penyiapan lahan adalah
rumus van de Goor dan Ziljstra :
PL = M x ek ..................................................................(2)
ek 1
M = Eo + P = 1,1 x ETo + P.................................................(3)
k =MxT ..................................................................(4)
S
NFR = PL Re ..................................................................(5)
IR = NFR x 0,116................................................................(6)
ei
A = Qr x 1000 ..................................................................(7)
IR
dimana :
PL = kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm/hari)
M = kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi
di Sawah yang sudah dijenuhkan (mm/hari)
Eo = evaporasi air terbuka yang besarnya diambil 1,1 x ETo (mm/hari)
P = perkolasi (mm/hari)
T = jangka waktu penyiapan lahan 30 hari atau 45 hari
S = kebutuhan air untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50 mm, yakni
200+50=250 mm atau 250+50=300 mm tergantung waktu penanaman
Re = curah hujan efektif (mm/hari)
NFR = kebutuhan air di sawah (mm/hari)
1 mm/hari 0,116 liter/detik/ha
IR = kebutuhan air irigasi di bangunan sadap utama (liter/detik/ha)
ei = efisiensi irigasi
A = luas potensial daerah irigasi (ha)
Qr = aliran tahun rencana (m3/detik)

2.1.2 Pertumbuhan
Persamaan keseimbangan air (water balance) digunakan untuk menghitung kebutuhan air di
petak sawah pada tahap pertumbuhan :
NFR = ETc + P + WLR Re....................................................( 8 )
ETc = kc x ETo ..................................................................( 9 )
IR = NFR x 0,116
ei
A = Qr x 1000
IR
dimana :
NFR = kebutuhan air di sawah (mm/hari)

5
ETc = kebutuhan air tanaman dalam hal ini tanaman padi (mm/hari)
ETo = penguappeluhan tanaman acuan / rerumputan pendek (mm/hari)
kc = koefisien tanaman dalam hal ini tanaman padi
P = perkolasi (mm/hari)
WLR = penggantian lapisan air 2 kali masing-masing 50 mm selama 0,5 bulan atau
3,33 mm/hari yaitu 1 bulan dan 2 bulan setelah transplantasi
IR = kebutuhan air irigasi di bangunan sadap utama (liter/detik/ha)
ei = efisiensi irigasi
A = luas potensial daerah irigasi (ha)
Qr = aliran tahun rencana (m3/detik)

2.2 TANAMAN PALAWIJA


Pada tanaman palawija tidak diperlukan penyiapan lahan. Kebutuhan air diperlukan hanya pada
tahapan pertumbuhan dan sedikit jumlahnya jangan sampai tergenang.
NFR = ETc - Re ..................................................................( 10 )
ETc = kc x ETo ..................................................................( 11 )
IR = NFR x 0,116
ei
A = Qr x 1000
IR
dimana :
NFR = kebutuhan air di sawah (mm/hari)
ETc = kebutuhan air tanaman dalam hal ini tanaman palawija (mm/hari)
ETo = penguppeluhan tanaman acuan / rerumputan pendek (mm/hari)
kc = koefisien tanaman dalam hal ini tanaman palawija
IR = kebutuhan air irigasi di bangunan sadap utama (liter/detik/ha)
ei = efisiensi irigasi
A = luas potensial daerah irigasi (ha)
Qr = aliran tahun rencana (m3/detik)

2.3 KEBUTUHAN AIR IRIGASI RENCANA


Untuk mempermudah dan mempersingkat perhitungan kebutuhan air irigasi rencana, digunakan
tabel seperti terlihat pada tabel 2.1. Sedangkan contoh perhitungan kebutuhan air irigasi rencana untuk
tanaman padi pada tahap penyiapan lahan dan tahap pertumbuhan serta tanaman palawija pada tahap
pertumbuhan adalah sebagai berikut.

6
7
2.4 LUAS POTENSIAL DAERAH IRIGASI
Dari perhitungan kebutuhan air irigasi rencana dapat pula diperoleh besarnya luas daerah yang
berpotensi dijadikan daerah irigasi berdasarkan ketersediaan air di sumbernya dalam hal ini Sungai
Cibatu. Dari 24 angka hasil perhitungan dipilih luas daerah yang minimum sebagai luas potensial
daerah irigasi yaitu besarnya 31.800 ha.