Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

LEMBAR PENGESAHAN.............................................................................. ii

SURAT PERYATAAN ..................................................................................... iii

PRAKATA........................................................................................................ iv

DAFTAR ISI..................................................................................................... vi

DAFTAR TABEL............................................................................................. ix

DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... x

INTISARI......................................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1

1.2 Perumusan Masalah.............................................................. 3

1.3. Tujuan Penelitian...................................................................... 3


1.4. Manfaat Penelitian.................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Infeksi Nosokomial...................................................................... 6

2.1.1. Definisi...................................................................... 6

2.1.2. Epidemiologi............................................................. 6

2.1.3. Jenis infeksi nosokomial........................................... 7

2.2. Bakteri....................................................................................... 8

2.2.1. Defenisi..................................................................... 8

2.2.2. Jenis Bakteri ................................................................. 8

2.2.3. Pengaruh lingkungan terhadap bakteri.......................... 10

2.3. ICU (Intensive Care Unit) ................................................ 14

2.3.1. Pengertian ICU ......................................................... 14

2.3.2. Kriteria.......................................................................... 14

2.3.3. Lokasi............................................................................ 16

2.3.4. Desain............................................................................ 17

2.4. Sumber Kontaminasi ........................................................ 20

2.4.1. Kontaminasi dari Udara ........................................... 20

2.5. Kerangka Teori.................................................................. 22

2.6. Kerangka Konsep.............................................................. 22

2.7. Hipotesis................................................................................ 22

BAB III METODE PENELITIAN......................................................... 23

3.1. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian........................... 23

3.2. Variabel dan Definisi Operasional............................................. 23


3.2.1. Variabel Penelitian...................................................... 23

3.3.2.1. Variabel Bebas ............................................. 23

3.3.2.2. Variabel Tergantung.......................................... 23

3.2.2. Definisi Operasional.................................................... 23

3.2.2.1. Jumlah koloni bakteri di ICU ...................... 23

3.2.2.2. Letak Air Conditioner....................................... 24

3.3. Populasi dan Sampel..................................................... 24

3.3.1. Populasi. ............................................................. 24

3.3.2. Sampel..................................................................... 24

3.4. Instrumen penelitian dan bahan penelitian................................ 24

3.5. Cara Penelitian...................................................................... 25

3.6. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................. 27

3.7. Analisa Hasil......................................................................... 27

SKEMA LANGKAH PENELITIAN............................................................... 28

DAFTRA PUSTAKA............................................................................... 29

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... 26


4.1 Hasil.......................................................................................... 26
4.2 Pembahasan .............................................................................. 29
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 33
5.1 Kesimpulan............................................................................... 33
5.2 Saran.......................................................................................... 33
DAFTRA PUSTAKA............................................................................... 35
LAMPIRAN........................................................................................ 38
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

ISPA adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh
infeksi jasad renik atau bakteri, virus, maupun riketsia, tanpa atau disertai radang parenkim
paru (Alsagaf, 2009). ISPA salah satu penyebab utama kematian pada anak di bawah 5 tahun
tetapi diagnosis sulit ditegakkan. World Health Organization memperkirakan insidens Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Negara berkembang dengan angka kejadian ISPA pada
balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada 13 juta anak balita
di dunia golongan usia balita. Pada tahun 2000, 1,9 juta (95%) anak anak di seluruh dunia
meninggal karena ISPA, 70 % dari Afrika dan Asia Tenggara (WHO, 2002).
Gejala ISPA sangat banyak ditemukan pada kelompok masyarakat di dunia, karena
penyebab ISPA merupakan salah satu hal yang sangat akrab di masyarakat. ISPA merupakan
infeksi akut yang disebabkan oleh virus meliputi infeksi akut saluran pernapasan bagian atas
dan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah. ISPA menjadi perhatian bagi anak-anak
(termasuk balita) baik dinegara berkembang maupun dinegara maju karena ini berkaitan
dengan system kekebalan tubuh. Anak-anak dan balita akan sangat rentan terinfeksi penyebab
ISPA karena system tubuh yang masih rendah, itulah yang menyebabkan angka prevalensi dan
gejala ISPA sangat tinggi bagi anak-anak dan balita (Riskerdas, 2007).
Prevalensi ISPA tahun 2007 di Indonesia adalah 25,5% (rentang: 17,5% - 41,4%)
dengan 16 provinsi di antaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Kasus ISPA
pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit. Setiap anak diperkirakan mengalami
3-6 episode ISPA setiap tahunnya.
Angka ISPA tertinggi pada balita (>35%), sedangkan terendah pada kelompok umur
15 - 24 tahun. Prevalensi cenderung meningkat lagi sesuai dengan meningkatnya umur.
Antara laki-laki dan perempuan relative sama, dan sedikit lebih tinggi di pedesaan. ISPA
cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran per kapita
lebih rendah (Riskerdas, 2007).
Salah satupenyebab kematian akibat ISPA adalah Pneumonia dimana penyakit ini
disebabkan oleh infeksi Streptococus pneumonia atau Haemophillus influenzae. Banyak
kematian yang diakibatkan oleh pneumonia terjadi di rumah, diantaranya setelah mengalami
sakit selama beberapa hari. Program pemberantasan ISPA secara khusus telah dimulai sejak
tahun 1984, dengan tujuan berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian
khususnya pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA, namun kelihatannya angka
kesakitan dan kematian tersebut masih tetap tinggi (Rasmaliah, 2004). Kematian akibat
pneumonia sebagai penyebab utama ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) di Indonesia
pada akhir tahun 2000 sebanyak lima kasus di antara 1.000 bayi/balita. Berarti, akibat
pneumonia, sebanyak 150.000 bayi/ balita meninggal tiap tahun atau 12.500 korban per bulan
atau 416 kasus sehari atau 17 anak per jam atau seorang bayi/ balita tiap lima menit (WHO,
2007).
Di Indonesia, prevalensi nasional ISPA 25% (16 Provinsi di atas angka rasional),
angka kesakitan (morbiditas) pneumonia pada bayi 2,2%, balita 3%, sedangkan angka
kematian (mortalitas) pada bayi 23,8% dan balita 15,5% (Riskerdas, 2007). Untuk
meningkatkan kesehatan masyarakat, Departemen Kesehatan RI menetapkan 10 program
prioritas masalah kesehatan yang ditemukan di masyarakat untuk mencapai tujuan Indonesia
Sehat 2010, dimana salah satu diantaranya adalah Program Pencegahan Penyakit Menular
termasuk penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Depkes RI, 2002).
Menurut survey kesehatan Indonesia, angka kematian Balita pada tahun 2007 sebesar
44/1000 kelahiran hidup, sementara perkiraan kelahiran hidup diperoleh 4.467.714 bayi.
Berdasarkan data tersebut dapat dihitung jumlah kematian balita 196.579. Menurut Riskesdas
penyebab kematian balita karena pneumonia adalah 15,5%. Dan jumlah kematian balita akibat
pneumonia setiap harinya adalah 30.470 atau rata rata 83 orang balita( Depkes, 2007).
Di Puskesmas Jekulo penyakit ISPA sebanyak 3258 kasus selama 1 tahun ( Desember
2015 Desember 2016 ) . Angka tertinggi ISPA terjadi pada kelompokusia >5th
denganjumlah 2583 kasus , 426 kasus terjadi pada anak usia 1-5th dan 359 kasus terjadi pada
kelompok usia <1th . (Simpus Puskesmas Jekulo ) Berdasarkan data epidemiologi dan studi
sejenis , sekarang ini sudah banyak yang diketahui tentang masalah ISPA. Namun demikian
masih ada beberapa hal yang cenderung menjadi penting dan perlu diketahui lebih lanjut,
misalnya saja ISPA pada Negara berkembang masih lebih banyak disebabkan oleh golongan
bakteri dari pada golongan virus. Selain itu, perlu ditentukan jenis antibiotika yang paling
tepat mengingat pola resistensi bakteri terhadap antibiotika tertentu cenderung berbeda
menurut waktu maupun daerah, pengelolaan penderita ISPA secara lebih bermutu di tingkat
masyarakat, puskesmas, dan rumah sakit. Dari masalah pokok tentang kecenderungan
tersebut, jelaslah bahwa penentuan etiologi ISPA menjadi bagian yang terpenting (Agustama,
2005).
Berdasarkan uraian diatas maka kami ingin mengetahui bagaimana Prevalensi
Penyakit ISPA dan keberhasilan pemberian terapi simptomatik padakasus ISPA di Puskesmas
Jekulo.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi
masalah adalah bagaimanakah Prevalensi Penyakit ISPA dan keberhasilan pemberian terapi
simptomatik pada kasus ISPA di Puskesmas Jekulo?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Prevalensi ISPA pada Anak di Puskesmas Jekulo tahun 2016

1.3.2. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui keberhasilan pemberian terapi simptomatik pada kasus ISPA di Puskesmas
Jekulo

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:

Sebagai bahan informasi bagi masyarakat agar dapat terhindar dari penyakit ISPA,
sehingga dapat membantu menurunkan prevalensi ISPA pada anak.

Sebagai wawasan dan informasi tentang ISPA bagi masyarakat luas dan dapat
dikembangkan menjadi data-data untuk penelitian lanjutan bagi para peneliti.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi ISPA

Infeksi Saluran Pernafasan Akutseringdisingkatdengan ISPA, istilah


ini diadaptasi dari istilah dalam bahasaInggris Acute Respiratory Infections
(ARI).Istilah ISPA meliputi tiga unsure yakni infeksi, saluran pernafasan dan
akut, dengan pengertian (Yudawarman,2012) sebagai berikut:

2.1.1. Infeksi

Masuknya kuman atau mikroorganisme kedalam tubuh manusia dan


berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

2.1.2. Saluran pernafasan

Organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya


seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara
anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan
bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran
pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran
pernafasan (respiratory tract).

2.1.3. Infeksiakut

Infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari


diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa
penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung
lebih dari 14 hari.

Menurut WHO (2007), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh


agen infeksius yang ditularkan dari manusia kemanusia. Timbulnya gejala

biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari.

MenurutDepkes RI (2005), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

adalah penyakit Infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau

lebih dari saluran napas mulai dari hidung (salura natas) hingga alveoli

(saluran bawah) termasuk jarring anadneksanya seperti sinus, rongga telinga

tengah dan pleura.

2.2 Etiologi ISPA

Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan riketsia

(Depkes RI, 2005). Bakteri penyebab ISPA seperti :Diplococcus

pneumonia,Pneumococcus, Streptococcus hemolyticus, Streptococcus

aureus, Hemophilus influenza, Bacillus Friedlander. Virus seperti: Respiratory

syncytial virus, viru sinfluenza, adenovirus, cytomegalo virus. Jamur seperti:

Mycoplasma pneumocesdermatitides, Coccidioidesimmitis, Aspergillus,

Candida albicans (KurniawandanIsrar, 2009)

Gambar 1.Etiologi ISPA


Etiologi pneumonia pada balita sukar untuk ditetapkan karena dahak biasanya sukar untuk

diperoleh.Sedangkan prosedur pemeriksaan immunologi belum memberikan hasil yang

memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab pneumonia. Penetapan etiologi

pneumonia yang dapat diandalkan adalah biakan dari aspirasi paru dan darah, tetapi pungsi paru

merupakan prosedur yang berisiko dan bertentangan dengan etika jika hanya dimaksudkan untuk

penelitian. Oleh karena itu di Indonesia masih menggunakan hasil penelitian dari luar negeri.

Fakto umur dapat mengarahkan kemungkinan penyebab ISPA atau etiologinya :

a. Grup B Streptococcus dan gram negative bakteri enteric merupakan penyebab yang paling

umum pada neonatal (bayi berumur 1-28 hari) dan merupakan transmisi vertical dari ibu sewaktu

persalinan.

b. Pneumonia pada bayi berumur 3 minggu sampai 3 bulan yang paling sering adalah bakteri,

biasanya bakteriStreptococcus Pneumoniae.

c. Balita usia 4 bulan sampai 5 tahun, virus merupakan penyebab tersering dari pneumonia, yaitu

respiratory syncytial virus.

d. Padausia 5 tahun sampai dewasa pada umumnya penyebab dari pneumonia adalah bakteri.

Pada penelitian lain Streptococcus pneumonia merupakan patogen paling banyak sebagai

penyebab pneumonia pada semua pihak kelompok umur.

Menurut WHO, penelitian di berbagai Negara juga menunjukkan bahwa di Negara

berkembang Streptococcus pneumonia dan Haemofilus influenza merupakan bakteri yang selalu

ditemukan pada 2/3 (dua per tiga) dari hasil isolasi yaitu 73,9% aspirasi paru dan 69,1% hasil

isolasi dari specimen darah. Bakteri merupakan penyebab utama dari pneumonia pada balita.

Diperkirakan besarnya presentase bakteri sebagai penyebabnya adalah sebesar 50%.


2.3 Klasifikasi ISPA

2.3.1 Berdasarkan lokasi anatomik (WHO, 2002);

a. Infeksi Saluran Pernafasan Akut bagian Atas (ISPaA), yaitu infeksi yang menyerang hidung

sampai epiglotis, misalnya rhinitis akut, faringitis akut, sinusitus akut dan sebagainya.

b. Infeksi Saluran Pernafasan Akut bagian Bawah (ISPbA). Dinamakan sesuai dengan organ

saluran pernafasan mulai dari bagian bawah epiglotis sampai alveoli paru misalnya trakhetis,

bronkhitis akut, pneumoni dan sebagainya. Infeksi Saluran Pernapasan bawah Akut (ISPbA)

dikelompokkan dalam dua kelompok umur yaitu:

(1) pneumonia pada bayi muda yang berumur kurang dari dua bulan

(2) pneumonia pada anak umur 2 bulan hingga 5 tahun

a. Golongan Umur Kurang 2 Bulan

1) Pneumonia Berat

Bila pneumonia pada bayi muda yang berumur kurang dari dua bulan salah satu tanda tarikan

kuat di dinding pada bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur

kurang 2 bulan yaitu 6x per menit atau lebih.

2) Bukan Pneumonia (batuk pilek biasa)


Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat. Tanda

bahaya untuk golongan umur kurang 2 bulan, yaitu:

a) Kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai kurang dari volume yang

biasa diminum)

b) Kejang

c) Kesadaran menurun

d) Stridor

e) Wheezing

f) Demam / dingin.

b. Golongan Umur 2 Bulan-5 Tahun

1) Pneumonia Berat

Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan di dinding dada bagian bawah ke dalam pada

waktu anak menarik nafas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang, tidak

menangis atau meronta).

2) Pneumonia Sedang

Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah:

a) Untuk usia 2 bulan-12 bulan = 50 kali per menit atau lebih

b) Untuk usia 1-4 tahun = 40 kali per menit atau lebih.

3) Bukan Pneumonia

Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat. Tanda

bahaya untuk golongan umur 2 bulan-5 tahun yaitu :


a) Tidak bisa minum

b) Kejang

c) Kesadaran menurun

d) Stridor

e) Gizi buruk

2.3.2 Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:

a. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest

indrawing).

b. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.

c. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa

tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis

tergolong bukan pneumonia (1).

Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA.

Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2

bulan sampai 5 tahun.

Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :

a. Pneumonia berat : diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding pada bagian

bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali

per menit atau lebih.

b. Bukan pneumonia : batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada

bagian bawah atau napas cepat.


Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :

a. Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah

kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan

tenang tldak menangis atau meronta).

b. Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -12 bulan adalah

50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.

c. Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian

bawah dan tidak ada napas cepat.

2.4 PENATALAKSANAAN KASUS ISPA

Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar


merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian karena
pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada
pengobatan penyakit ISPA) .

Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan


penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus
batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi
penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman
sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA (1). Penatalaksanaan
ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut :

2.4.1 Pemeriksaan

Pemeriksaan artinya memperoleh informasi tentang penyakit anak dengan mengajukan


beberapa pertanyaan kepada ibunya, melihat dan mendengarkan anak (2). Hal ini penting
agar selama pemeriksaan anak tidak menangis (bila menangis akan meningkatkan frekuensi
napas), untuk ini diusahakan agar anak tetap dipangku oleh ibunya. Menghitung napas dapat
dilakukan tanpa membuka baju anak. Bila baju anak tebal, mungkin perlu membuka sedikit
untuk melihat gerakan dada. Untuk melihat tarikan dada bagian bawah, baju anak harus
dibuka sedikit. Tanpa pemeriksaan auskultasi dengan steteskop penyakit pneumonia dapat
didiagnosa dan diklassifikasi (1).

2.4.2 Pengobatan

a. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigendan

sebagainya.

b. Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita tidak mungkin

diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kontrmoksasol keadaan penderita

menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin

prokain.

c. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk

batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat

yang merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat

penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan

tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah

bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus

diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari.

Tanda bahaya setiap bayi atau anak dengan tanda bahaya harus diberikan perawatan khusus

untuk pemeriksaan selanjutnya. Petunjuk dosis dapat dilihat pada lampiran.

2.4.3 Perawatan dirumah


Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita

ISPA.

A. Mengatasi panas (demam)

Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau

dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol

diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai

dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan

menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).

b. Mengatasi batuk

Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis

sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

c. Pemberian makanan

Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari

biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.

d. Pemberian minuman

Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya.

Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit

yang diderita.

e. Lain-lain
Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih

pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat

kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan tempat

tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan

dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas

kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan

agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk

penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali

kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang (1,2) .

DAFTAR PUSTAKA

DepKes RI. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta. 1992.

____________Bimbingan Ketrampilan Dalam Penatalaksanaan Infeksi Saluran Pernapasan Akut


Pada Anak. Jakarata, :10 ,1991.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Jenis Penelitian

Pada penilitian ini peneliti menggunakan studi analitik observasional

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas Jekulo kudus. Dan waktu penelitian dilakukan pada

tanggal 1 desember 2016 sampai 7 desember 216

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian.

Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 21 pasien anak dengan usia anak dibawah 5 tahun

3.4 Metode Pengumpulan Data.

Cara pengumpulan data dengan mencari anak dengan rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun

yang di diagosis penyakit ispa , lalu dilakukan anamnesis dengan melihat apakah ada keluhan

batuk, pilek, radang tenggorokan, sesak, dengan atau tanpa panas yang terjadi dalam waktu

kurang dari 14 hari dan tanpa keluhan penyulit atau tanpa infeksi sekunder. Dasar

diagnosisnya adalah jika menuemukan minimal satu keluhan diatas. Setelah pasien sesuai
dengan kriteria makan pasien tersebut akan diterapi tanpa menggunakan antibiotik, lalu akan

diikuti perkembangannya selama 3 hari kedepan. Pasien akan dilihat apakah kembali kontrol

atau tidak. Jika tidak kembali berarti pasien dianggap sembuh

3.5 Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan membandingkan jumlah angka kesembuhan dan angka tidak

sembuh. Apabila angka kesembuhan lebih banyak berarti penelitian tersebut sesuai dengan

dasar teori mengenai penyakit ispa

3.6 Desain Penelitian

Kohort
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pasien per usia 0-5 thn (Poli MTBS PKM Jekulo).

Data diambil dari tanggal 1 desember 2016 sampai 7 desember 2016 di Poli MTBS Pukesmas

Jekulo Kudus. Data diambil dengan kriteria diagnosis ISPA, sebagai respon pengobatan tanpa

pemberian antibiotik pada diagnosis tersebut.


10%

Kembali Tidak Kembali

90%

4.2 PEMBAHASAN
Fakto umur dapat mengarahkan kemungkinan penyebab ISPA atau etiologinya . Grup B

Streptococcus dan gram negative bakteri enteric merupakan penyebab yang paling umum pada

neonatal (bayi berumur 1-28 hari) dan merupakan transmisi vertical dari ibu sewaktu persalinan.

Pneumonia pada bayi berumur 3 minggu sampai 3 bulan yang paling sering adalah bakteri,

biasanya bakteriStreptococcus Pneumoniae. Balita usia 4 bulan sampai 5 tahun, virus merupakan

penyebab tersering dari pneumonia, yaitu respiratory syncytial virus. Pada usia 5 tahun sampai

dewasa pada umumnya penyebab dari pneumonia adalah bakteri.

Berdasarkan data yang diambil diatas, angka kunjungan kembali pasien ISPA ke Poli

MTBS Pukesmas Jekulo Kudus hanya 10 % dari 100% total kunjungan.Pasien yang datang

kembali yang berarti belum terdapat pembaikan pada pengobatan, dan tidak datang kembali

sebesar 80% yang berarti sembuh. Hal ini menunjukan kesesuaian antara teori dengan

penelitian ini, karena pada anak usia dibawah 5 tahun etiologi dari peyebab ispa yang

terbanyak adalah karena virus yang dapat sembuh dengan sendirinya (self limited disease).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah di lakukan , maka dapat di simpulkan bahwa:
5.1.1 Ada pengaruh antara faktor usia dengan etiologi peyebab penyakit Ispa di Poli
Mtbs Puskesmas jekulo Kudus.
5.1.2 pada anak usia dibawah 5 tahun penyebab tersering penyakit Ispa adalah karena
faktor infeksi virus , sehingga dalam penatalaksanaannya tidak perlu diberikan antibiotik.

5.2 SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah di lakukan, maka peneliti memberikan saran sebagai
berikut:
5.2.1 Untuk kedepannya diperlukan penelitian lebih lanjut dalam mengevaluasi terapi
dengan menggunakan antibiotik yang lebih rasional.
52.2 Untuk kedepannya diperlukan penelitian lanjut dengan menggunakan sampel
penelitian yang lebih banyak sehingga hasil yang didapatkan lebih bermakna.
5.2.3 Untuk kedepannya diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan sampel
kontrol atau pembanding sehingga lebih dapat mengendalikan faktor- faktor lain yang
berpengaruh terhadap penyakit ispa.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republuk Indonesia Nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004


Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumahsakit.Dep Kes RI Direktorat Jendral
pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan:Jakarta.
Diperoleh dari: http://www.jasamedivest.com/files/permenkes_1204-2004-
persyaratan_kes_rs.pdf

Brenner. Don J. Bergeys manual of Systematic Bactheriology, 2th edition. USA


Bagian: Pseudomonadaceae
CDC.2003.Guidlenes for Enviromental Infection Control in Health-Care Facilities.Departemen
of Health and Humanity Service Centers for Control Disease and Prevention
(CDC):Atlanta.
Bagian: Facilities; Air (udara)

Dwidjoseputro,D. 1998. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.

Harjati. Sri, S, 2008. Pedoman Keselamatan Kerja di Laboratorium Mikrobiologi dan Rumah
Sakit.Multazam Mitra Prima: Jakarta.

Harvey, Richard A . 2007. Lippincott's Illustrated Reviews: Microbiology, 2nd Edition : new
jersey .

Ginting, Mardan.2001. Infeksi Nosokomial dan Manfaat Pelatihan Ketrampilan Perawat


Terhadap Pengendaliannya di Ruang rawat Inap penyakit dalam RSUP. H. Adam malik
Medan

Jawetz, Melnick, Adelberg, 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : ECG

Jawetz, Melnick, Adelberg, 2008. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 23.

Keyser, F.H. 2005. Medical Mikrobiologi. Thiema: New York


Bagian: Bacteria as Human Pathogens; Pseudomonas aeruginosa

Keputusan Kenteri Kesehatan Nomor 1778/menkes/sk/XII/2010 Tentang Pedoman


Penyelenggaraan Pelayanan Intensive Care Unit (ICU) di Rumah Sakit.

Lubis, S. 2005. Pseudomonas aeruginosa, Karakteristik, infeksi dan penanganan. Departemen


Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara. Medan:2006.

Natalia, L. 2011. Pseudomonas aeruginosa, Penyebab infeksi nosokomial. Diperoleh dari URL
: http://mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/lia-natalia078114123.pdf .

National Nosocomial Infections Surveillance. 2004. NNIS system report, data summary from
january 1992 through jun 2004.

Pratiknya, A.W.2003.Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Edisi 1,


Cetakan 5. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 129-130

Ryan, KJ. 2004. Sherris Medical Microbiology, An Introduction to Infectious Disease. The
McGraww-Hill Companies.
Bagian: Pathogenic Bacteria; Pseudomonas and Other Opportunistic Gram-Negative
Bacilli
Richards Michael, Thursky Karin, Buising Kirsty.2003.Epidemiology, prevalence, and sites of
infection in intensive care units. Semin Respire Crit Care Med 24(1):3-22 Thieme
Medical Pulishers,. Diperoleh dari URL :
http://www.medscape.com/viewwarticle/451680.

Sudoyo, A, 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, Edisi IV. Jakarta, Departemen Ilmu Penyakit
dalam, Hal : 749

Wenzel, R. 2002. Infection Control in Hospital. International Society for Infectious Diseases:
USA.

Windari, Sutji.2005. Faktor yang Berhubungan dengan populasi Kuman di Udara bangsal bayi
beresiko tinggi (BBRT), High nursery dependency (HND), Intensive care unit (ICU),
dan Pediatric Intensive care unit Neonatal intensive care unit ( PICU NICU ).
Semarang : Universitas diponegoro

World Health Organization. 2002. Prevention of Hospital Acquired Infections a


Practical Guide. 2nd edition., 2002.
Diperoleh dari URL: http://www.who.int/emc