Anda di halaman 1dari 26

Dosen : Hasriyani Hafid, S.Kel.,M.

Si
Mata Kuliah : Akustik Perairan

LAPORAN PRAKTEK
LAPANG AKUSTIK KELAUTAN

DISUSUN OLEH
STEVEN BASA LEWAR

ANDRIANUS OPE

ROMANUS ABON

EPRISON DELU

APOLONARIS AKE

ILMU KELAUTAN

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI KELAUTAN


(STITEK) BALIK DIWA MAKASSAR
2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Teknologi akustik merupakan salah satu metode yang sangat efektif dan

berguna untuk eksplorasi dasar laut. Pengambilan data dasar perairan sering kali

memiliki kendala, misalnya dengan metode grab, yang hanya dapat digunakan

pada wilayah kedalaman yang terbatas dengan waktu yang tidak singkat. Dengan

menggunakan metode hidroakustik, pengambilan data atau informasi tentang

dasar perairan menjadi lebih mudah. Dengan metode ini kita dapat mengetahui

tipe dasar dari suatu perairan dengan menggunakan nilai Backscattering volume

dasar perairan/substrat.

Metode akustik adalah teori tentang gelombang suara dan perambatannya

di suatu medium dalam hal ini mediumnya adalah air. Akustik kelautan

merupakan proses pembentukan gelombang (pulsa) suara dan sifat-sifat

perambatannya serta proses-proses selanjutnya yang dibatasi oleh air laut

(Burczynski,1982). Instrumen akustik perikanan yang disebut echosounder

merupakan instrumen yang memancarkan dan membangkitkan gelombang suara

pada frekuensi tertentu ke kolom perairan. Gelombang suara tersebut melintasi air

hingga membentur obyek baik di kolom air maupun dasar laut kemudian

gelombang suara tersebut dipantulkan kembali untuk diterima oleh echosounder

(FAO, 1984).
Pendugaan survei akustik terhadap sekelompok ikan, biasanya didasarkan

pada asumsi mengenai intensitas nilai total echo dari sekelompok target sama ke

perhitungan aritmatik pada kontribusi echo dari ikan tunggal (Johannesson dan

Mitson,1983).

Metode akustik yang digunakan untuk memperoleh data kelimpahan ikan

dapat menggunakan metode dasar berupa echocounting dan echo integration.

Echo counting dapat menghitung densitas ikan pada saat volume yang disampling

rendah, dimana nilai echo dari ikan tunggal dapat dengan mudah dipisahkan dan

dihitung satu persatu. Metode echocounting jarang digunakan dalam menduga

kelimpahan ikan yang bergerombol. Hal ini disebabkan karena densitas ikan tidak

homogen dan pada umumnya tinggi, sehingga akan menyebabkan terjadinya

overlap dari echo ikan. Echo dari ikan yang berada di dasar perairan memiliki

sinyal yang lebih kuat dibandingkan dengan ikan yang berada di seabed

(MacLennan dan Simmonds, 1992). Pada metode echo integrator, dapat diketahui

jumlah kumpulan ikan dan volume sampel yang relevan dengan ikan. Kelimpahan

total dapat diperkirakan dari densitas rata -rata dikalikan dengan volume air di

daerah tertentu (MacLennan et al. 2002). Masing masing individu target

merupakan sumber dari reflected sound wave, jadi output dari integrasi akan

proporsional dengan kuantitas ikan dalam kelompok. Kelimpahan ikan yang

bergerombol dapat dihitung dengan menggunakan echo integrator, dimana total

biomassa dari ikan tunggal dan ganda dapat dipisahkan, sehingga kemungkinan

terjadinya overlap akan semakin rendah. Pada dasarnya echo integrator berguna
untuk mengubah energi total dari echo ikan menjadi densitas ikan dalam ikan/m3

atau kg/m3 (MacLennan dan Simmonds, 1992).

B. Tujuan Dan Manfaat

1. Untuk mengetahui topografi dasar perairan dari Pulau Lae-Lae


2. Mengetahui komponen alat echosounder
3. Untuk mengetahui pola arah arus di perairan Pulau Lae-Lae
4. Memberikan informasi tentang kegunaan alat echosounder serta kondisi

topografi dan arus dan perairan Pulau Lae-Lae

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Akustik Kelautan

Akustik kelautan merupakan teori yang membahas tentang gelombang

suara dan perambatannya dalam suatu medium air laut. Akustik kelautan

merupakan satu bidang kelautan yang mendeteksi target di kolom perairan dan

dasar perairan dengan menggunakan suara sebagai mediannya. Permasalahan-

permasalahan yang dibahas dalam akustik kelautan ini yaitu, kecepatan

gelombang suara, waktu (pada saat gelombang dipancarkan hingga gelombang

dipantulkan kembali), dan kedalaman perairan. Hal-hal yang mendasari kita

mempelajari akustik kelautan adalah laut yang begitu luas dan dalam (dinamis),

manusia sudah pernah ke planet terjauh tetapi belum pernah ke laut terdalam,

sehingga dibutuhkannya alat dan metode untuk melakukan pendeskripsian kolom

dan dasar laut, dan saat ini metode yang paling baik adalah dengan menggunakan

akustik.

B. Instrumen Dalam Akustik Kelautan

1. Echosounder
Echosounder adalah suatu alat navigasi elektronik dengan

menggunakan sistem gema yang dipasang pada dasar kapal yang berfungsi

untuk mengukur kedalaman perairan, mengetahui bentuk dasar suatu

perairan dan untuk mendeteksi gerombolan ikan dibagian bawah kapal

secara vertical.
Gambar. Echosounder
Berdasarkan jumlah pancaran gelombang suaranya, ada beberapa

mecam echosounder salah satu contohnya adalah single-beam echosounder

dan multi-beam echosounder.


a) Single-Beam Echosounder
Single-beam echosounder merupakan alat ukur kedalaman

air yang menggunakan pancaran tunggal sebagai pengirim dan

pengiriman sinyal gelombang suara. Komponen dari single-beam

terdiri dari transciever (transducer atau receiver) terpasang pada

lambung kapal. Sistem ini mengukur kedalaman air secara

langsung dari kapal penyelidikan. Transciever mengirimkan pulsa

akustik dengan frekuensi tinggi yang terkandung dalam beam

(gelombang suara) menyusuri bagian bawah kolom air. Energi

akustik memantulkan sampai dasar laut dari kapal dan diterima

kembali oleh tranciever. Transciever terdiri dari sebuah transmiter

yang mempunyai fungsi sebagai pengontrol panjang gelombang

pulsa yang dipancarkan dan menyediakan tenaga elektris untuk

besar frekuensi yang diberikan.


b) Multi-Beam Echosounder
Multi-Beam Echosounder merupakan alat untuk

menentukan kedalaman air dengan cakupan area dasar laut yang

luas. Prinsip operasi alat ini secara umum adalah berdasar pada

pancaran pulsa yang dipancarkan secara langsung ke arah dasar

laut dan setelah itu energi akustik dipantulkan kembali dari dasar

laut (sea bad), beberapa pancaran suara (beam) secara elektronis

terbentuk menggunakan teknik pemrosesan sinyal sehingga

diketahui sudut beam. Multi beam echosounder dapat

menghasilkan data batimetri dengan resolusi tinggi (0,1 m akurasi

vertikal dan kurang dari 1 m akurasi horizontalnya) (Urick, 1983).


Manfaat Echosounder antara lain
Pengidentifikasian Jenis-jenis Lapisan Sedimen Dasar Laut

(Subbottom Profilers).
Pemetaan Dasar Laut (Sea bed Mapping).
Pencarian kapal-kapal karam di dalam laut.
Penentuan jalur pipa dan kabel dibawah dasar laut.
Analisa Dampak Lingkungan di Dasar laut.

2. GPS (Global Posotioning System)


GPS adalah singkatan dari Global Positioning System, sistem

satelit yang dapat memberikan posisi Anda di mana pun di dunia ini.

Satelit GPS tidak mentransmisikan informasi posisi Anda, yang

ditransmisikan satelit adalah posisi satelit dan jarak penerima GPS Anda

dari satelit. Informasi ini diolah alat penerima GPS Anda dan hasilnya

ditampilkan kepada Anda. Penerima GPS memperoleh sinyal dari

beberapa satelit yang mengorbit bumi. Satelit yang mengitari bumi pada
orbit pendek ini terdiri dari 24 susunan satelit, dengan 21 satelit aktif dan 3

buah satelit sebagai cadangan. Dengan susunan orbit tertentu, maka satelit

GPS bisa diterima diseluruh permukaan bumi dengan penampakan antara

4 sampai 8 buah satelit. GPS dapat memberikan informasi posisi dan

waktu dengan ketelitian sangat tinggi.

Gambar. GPS (Global Positioning System)


GPS atau Global Positioning System memiliki banyak manfaat

untuk keperluan manusia antara lain


Militer
GPS digunakan untuk keperluan perang, seperti menuntun

arah bom, atau mengetahui posisi pasukan berada. Dengan cara ini

maka kita bisa mengetahui mana teman mana lawan untuk

menghindari salah target, ataupun menentukan pergerakan

pasukan.
Navigasi
GPS banyak juga digunakan sebagai alat navigasi seperti

kompas. Beberapa jenis kendaraan telah dilengkapi dengan GPS

untuk alat bantu navigasi, dengan menambahkan peta, maka bisa

digunakan untuk memandu pengendara, sehingga pengendara bisa

mengetahui jalur mana yang sebaiknya dipilih untuk mencapai

tujuan yang diinginkan.


Sistem Informasi Geografis
Untuk keperluan Sistem Informasi Geografis, GPS sering

juga diikutsertakan dalam pembuatan peta, seperti mengukur jarak

perbatasan, ataupun sebagai referensi pengukuran.


Pelacak Kendaraan
Kegunaan lain GPS adalah sebagai pelacak kendaraan,

dengan bantuan GPS pemilik kendaraan/pengelola armada bisa

mengetahui ada dimana saja kendaraannya/aset bergeraknya berada

saat ini.

Pemantauan Gempa
Bahkan saat ini, GPS dengan ketelitian tinggi bisa

digunakan untuk memantau pergerakan tanah, yang ordenya hanya

mm dalam setahun. Pemantauan pergerakan tanah berguna untuk

memperkirakan terjadinya gempa, baik pergerakan vulkanik

ataupun tektonik.
C. Penerapan Akustik Dalam Dunia Kelautan dan Perikanan
Secara garis besar pengunaan akustik bawah air dalam kelautan dan

perikanan dapat dikelompokkan menjadi lima yakni untuk survey, bududaya

perairan, penelitian tingkah laku ikan, mempelajari penampilan dan selektifitas

alat-alat penangkapan ikan dan lain-lain.


Dalam survey kelautan dapat digunakan untuk menduga spesies ikan,

menduga ukuran individu ikan, kelimpahan/stok sumberdaya hayati laut (plankton

dan ikan). Aplikasi dalam budidaya perairan dapat digunakan dalam

penentuan/pendugaan jumlah biomass dari ikan dalam jaring/kurungan

pembesaran (penned fish/enclosure), untuk menduga ukuran individu ikan dalam

jaring/kurungan dan untuk memantau tingkah laku ikan (dengan telemetering


tags), khususnya aktifitas makan (feeding activity).Sedangkan dalam penelitian

tingkah laku ikan dapat digunakan untuk pergerakan/migrasi ikan (vertical dan

horizontal) dan orientasi ikan (tilt angel), reaksi menghindar (avoidance)

tewrhadap gerak kapal dan alat penangkapan ikan, respon terhadap rangsangan

(stimuli) cahaya, suara, listrik, hydrodinamika, kimia, mekanik dan sebagainya.


Untuk kegiatan aplikasi studi penampilan dan slektifitas alat penangkapan

ikan terutama dalam studi pembukaan mulut trawl, kedalam, posisi dan

sebagainya. Dalam slektifitas penangkapan (prosentase ikan yang tertangkap

terhadap yang terdeteksi didepan mulut trawl atau didalam lingkaran purse seine).

Kegiatan lain yang dapat dikaji dengan teknologi akustik bawah air adalah sifat

sifat-sifat akustik dari air laut dan obyek bawah air, pendeteksian kapal selam dan

obyek-obyek lainya.

BAB III
METODE PRAKTEK

A. Waktu Dan Lokasi Praktek


Praktek ini dilaksanakan di perairan Pulau Lae-Lae, Kota Makassar,

Sulawesi Selatan pada hari Minggu tanggal 27 november 2016. Metode praktek
adalah metode pemgumpulan data dengan menggunakan echosounder dan

pengukuran verktor arus.

B. Alat Dan Bahan


Echosounder
Kompas
Stopwatch
Buku Catatan dan Pulpen
Layang-layang Arus
GPS

C. Prosedur Praktek
1. Prosedur Praktek Dilapangan
Untuk pengukuran kedalaman di gunakan echosounder yang

diletakan di kapal dan dilakukan perekaman otomotis ketika sounding di

perairan Pulau Lae-Lae.


Untuk pengukuran arus menggunakan layang-layang arus dan

dilakukan pencatatan koordinat yang ada di GPS dan arah layang arus

dengan menggunakan kompas serta pencatatan waktu dan jarak tali layang

layang arus hingga terentang lurus.


2. Prosedur Pembuatan Peta Batimetri Dan Vektor Arus
Pembuatan Peta Batimetri
Untuk pembuatan peta batimetri menggunakan data yang diperoleh

dari echosounder dengan bantuan aplikasi MapSource yang di konversi

menjadi data yang dapat diolah oleh Excel.


Gambar...Data Batimetri Perairan Pulau Lae-Lae
Kemudian data dicopy dan pastekan kedalam worksheet ( ) yang

berada di aplikasi Surfer


Gambar...Data Batimetri pada Worksheet Surfer

Lalu save as dan jika warning muncul klik ok. Setelah itu klik plot lalu

klik grid > data dan buka hasil yang di save sebelumnya.

dan jika ada dialog box yang muncul klik OK. Dan tutup dialog

griddatareport
Dan bila muncul dialog save griddatareport klik NO. lalu klik tool New Countour

Map dan pilih data yang berekstensi .grd dan klik open

Bila gambar contour muncul klik gambar tersebut

Kemudian pada pada general centang Fill countours dan Colour Scale
Lalu pada tab levels ubah warna pada fill counter dengan warna Bathymetry

Inilah hasil dari Peta Kontur

Dan selanjutnya untuk proyek 3 dimensi peta batimetri klik New 3D

Surface dan pilih data yang berekstensi .grd dan klik open
Kemudian pada pada general centang Show Colour Scale

Pada tab Mesh Centang Draw Lines pada Lines Of Constant X

Pembuatan Vektor Arus


Untuk pembuatan vector arus digunakan data hasil dari pengukuran

vector arus
Gambar...Data Arah dan Kecepatan Arus di Ms. Excel
Kemudian data dicopy dan pastekan kedalam worksheet ( ) yang

berada di aplikasi Surfer

Gambar...Data Arah dan Kecepatan Arus di Wworksheet Surfer


Lalu save as dan jika warning muncul klik ok. Setelah itu klik plot lalu

klik grid > data dan buka hasil yang di save sebelumnya.

dan jika ada dialog box yang muncul klik OK. Dan tutup dialog

griddatareport
Dan bila muncul dialog save griddatareport klik NO. lalu klik Map > New

> 2-Grid Map dan pilih data yang berekstensi .grd dan klik open

Jika muncul gambar pola


Lalu klik New Base Map dan pilih peta Indonesia.shp

Lalu sesuai seperti berikut


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Data Pemeruman Dan Tracking Garis Pantai Yang Dibuat

Dalam Bentuk Gambar /Peta Batimetri

Gambar...hasil kontur dasar perairan Pulau Lae-Lae


Gambar diatas menunjukan kedalaman berdasarkan kontur dan perbedaan

warna kontur. Semakin terang warna semakin dalam. Hasil sounding pada sekitar
perairan pulau lae-lae menunjukan kedalam sekitar 0 - 15 meter dari pantai pulau

lae-lae.

Gambar...hasil kontur dasar format 3 D perairan Pulau Lae-Lae


Gambar diatas menunjukan topografi menunjukan bentuk dasar laut disekitar

perairan pulau lae . Warna biru yang berada diatas menunjukan daerah kedalaman

yang berada sekitar 1 6 Meter, sedangkan warna coklat menunjukan kedalam

sekitar 6 11 Meter seta warna hijau menunjukan kedalaman sekitar 11 14

meter.
Karena bentuk topografi yang landai maka mempengaruhi arah datang

gelombang cenderung sejajar dengan garis pantai.


B. Pembahasan Terkait Dengan Topografi Dasar Laut Berdasarkan Peta

Batimetri Dan Arus


Tingkat kedalaman di laut maka kedalaman perairan Pulau Lae-Lae yang

berada pada zona litoral dan limnetik yaitu kedalaman sekitar 0-20 m yang

berbentuk landai. Dimana tingkat penetrasi cahaya cenderung masih bersifat fotik

(masih tembus cahaya). Tentunya daerah pada kedalaman ini keanekaragaman

biota laut masih sangat tinggi terutama organisme laut yang bersifat pelagic.
Gerakan air di permukaan cenderung stabil, dimana air yan bertiup tidak

kencang sehingga mengakibatkan arus di bagian barat daya pulau tersebut

cenderung mengikuti topografi garis pantai. Hal ini disebabkan karena adanya

barier berupa pulau kecil yang berada pada bagian utara dan Barat daya pulau

sehingga pergerakan massa air cenderung lemah dan juga dipengaruhi oleh gaya

coriolis dan arus ekman sehingga pergerakannya dibelokkan sehingga cenderung

mengikuti jalur garis pantai.


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Komponen komponen dari echosounder
1. Transmiter
2. Transducer
3. Receiver
4. Recorder/Display Unit
Pola Arus di pulau lae-lae cenderung stabil, dimana air yan bertiup tidak

kencang sehingga mengakibatkan arus di bagian barat daya pulau tersebut

cenderung mengikuti topografi garis pantai.


Manfaat Echosounder antara lain
1. Pengidentifikasian Jenis-jenis Lapisan Sedimen Dasar Laut

(Subbottom Profilers).
2. Pemetaan Dasar Laut (Sea bed Mapping).
3. Pencarian kapal-kapal karam di dalam laut.
4. Penentuan jalur pipa dan kabel dibawah dasar laut.
Tingkat kedalaman di laut maka kedalaman perairan lae-lae yang berada

pada zona litoral dan limnetik yaitu kedalaman sekitar 0-20 m yang

berbentuk landai. Dimana tingkat penetrasi cahaya cenderung masih

bersifat fotik (masih tembus cahaya).

DAFTAR PUSTAKA

Arnaya, I.N. 1991. Dasar-dasar Akustik. Diktat Kuliah Program Studi Ilmu dan

Teknologi Kelautan . Institut Pertanian Bogor.

Robert J. Urick. 1983. Principle of Underwater Sound, Peninsula Publishing,

Los Altos, California.

William S. Burdic 1991. Underwater Acoustic System Analysis, Prentice Hall,

New Jersey.

Anonim. AKUSTIK KELAUTAN

Hutabarat, S. dan Stewart M. Evans, 1984. Pengantar Oseanografi. Universitas

Indonesia Press. Jakarta.

Hutabarat, Sahala dan Evans. 2000. Pengantar Oseanografi. Penerbit Universitas

Indonesia. Jakarta.

Yasir Baeda, Acmad. 2006. Pengantar Fisika Osenografi. Universitas Hasanuddin


Dahuri, R, Rais, J., Ginting, S.P., Sitepu, M.J., 1996. Pengelolaan Sumberdaya

Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramitha. Jakarta.

LAMPIRAN FOTO KEGIATAN