Anda di halaman 1dari 67

1

LAPORAN LENGKAP PENGANTAR OSEANOGRAFI

PENGUKURAN PARAMETER OSEANOGRAFI


(Suhu, Salinitas, Kecerahan, Arus, Gelombang,
Pasang surut, pH, Topografi dan Sedimen)

OLEH :

HERI SURIYONO
I1A1 14 004

Laporan lengkap ini di ajukan Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan Pada

Mata Kuliah Pengantar Oseanografi

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015
2

HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Laporan Pengantar Oseanografi


Laporan Lengkap : Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan pada Mata Kuliah

Pengantar Oseanografi
Nama : Heri Suriyono
Stambuk : I1A1 14 004
Kelompok : VII (tujuh)
Program Studi : Manajemen Sumberdaya Perairan
Jurusan :Manajemen Sumberdaya Perairan

Laporan Lengkap iniTelah Diperiksa dan Disetujui oleh :

Koordinator Asisten Asisten Pembimbing

Muh. Rida Jamil Endang


I1A1 12 033 I1A7 13 010

Koordinator Dosen Mata Kuliah

Ahmad Mustafa,S.Pi., M.P.


NIP. 19731106 200312 1 001

Kendari, Juni 2015

Tanggal Pengesahan
3

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan atas kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala,

karena berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan Laporan Praktek Lapang Pengantar Oseanografi tepat

pada waktunya.

Dengan selesainya penyusunan laporan lengkap ini, penulis mengucapkan

terima kasih kepada asisten yang telah membimbing dalam pelaksanaan

praktikum sampai pembuatan laporan dan tanpa terkecuali pada teman-teman

yang juga telah banyak membantu dalam penyusunan laporan ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam laporan ini masih jauh dari

kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangunsangat penulis

harapkan dari berbagai pihak.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melimpahkan rahmat serta

petunjuk kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis sehingga

laporan ini dapat terselesaikan, amin.

Kendari, 10 Juni 2015

Penulis
4

RIWAYAT HIDUP

Heri Suriyono dilahirkan diMosolopada tanggal 15

Oktober1995 dari pasangan bapak La Mina dan ibu Wa

Ponde yang merupakan anak kedua dari duabersaudara.

Penulis mengenyam pendidikan dasar pada

tahun2002sebagai siswa SDNegeri1 Mosolo, kecamatan wawonii tenggara ,dan

lulus pada tahun 2008. Pada tahun yang samapenulis melanjutkan pendidikandi

SMP Negeri2 waworete dan lulus pada tahun 2011 Kemudian penulis melanjutkan

pendidikan menengah atas di SMA Negeri 3 kendari,kecamatan kendari dan lulus

pada tahun2014. Tahun 2014 melalui jalur SNMPTN penulis diterima sebagai

mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari diFakultas Perikanan dan Ilmu

Kelautan dengan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan dan Program Studi

Manajemen Sumberdaya Perairan.


5

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .................. i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ....................................................... iii
RIWAYAT HIDUP .... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ..... viii
DAFTAR TABEL ...... ix
I. KONSEP DASAR
1.1. Pengertian Oseanografi........

1
1.2. Parameter Oseanografi,.

4
1.2.1. Suhu

4
1.2.2. Kecerahan ..

7
1.2.3. Salinitas..

8
1.2.4. Pasang Surut ..

10
1.2.5. Arus Laut.

13
1.2.6. Gelombang .

15
1.2.7. pH.
6

16
1.2.8. Topografi dan Sedimen ...

17
1.2.8.1. Topografi..

17
1.2.8.2. Sedimen

19
II. TUJUAN
III. METODE PRAKTEK
3.1. Waktu dan Tempat ..

23
3.2. Alat dan Bahan .......

23
3.3. Prosedur Pengamatan...

24
3.3.1. Suhu..

25
3.3.2. Kecerahan ....
25
3.3.3. Salinitas.....
25
3.3.4. Pasang Surut .
26
3.3.5. Arus Laut .
26
7

3.3.6. Gelombang Laut ..


27
3.3.7. pH.
28
3.3.8. Topografi dan sedimen .........
28
3.3.8.1. Topografi..
28
3.3.8.2. Sedimen
28
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil ...
30
4.1.1. Suhu ...

30
4.1.2. Kecerahan ......

31
4.1.3. Salinitas .......

31
4.1.4. Pasang Surut ..

32
4.1.5. Arus Laut ....

33
4.1.6. Gelombang ...

35
4.1.7. pH.

37
8

4.1.8. Topografi dan sedimen

38
4.1.8.1. Topografi.

38
4.1.8.2. Sedimen

39
4.2. Pembahasan .........
40
4.2.1. Suhu .....

40
4.2.2. Kecerahan

41
4.2.3. Salinitas ........

42
4.2.4. Pasang Surut .....

43
4.2.5. Arus Laut ..

44
4.2.6. Gelombang ...

45
4.2.7. pH..

46
4.2.8. Topografi dan Sedimen .

47
9

4.2.8.1. Topografi

47
4.2.8.2. Sedimen.

48
V. KESIMPULAN
5.1. Simpulan

50
5.2. Saran .

50
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
10
11

DAFTAR GAMBAR

Teks Halaman
1. Grafik 1. Variasi suhu diperairan pantai pulau Bokori..

31
2. Grafik 2. Variasi Salinitas di Perairan Pulau Bokori..

32
3. Grafik 3. Pasang Surut di Perairan Pantai Pulau Bokori...

33
4. Grafik 4. Arus di Perairan Pantai Pulau Bokori.

34
5. Grafik 5. Arus di Perairan Pantai Pulau Bokori.

35
6. Grafik 6. Panjang Gelombang di Perairan Pantai Pulau Bokori.

36
7. Grafik 7. Tinggi Gelombang di Perairan Pantai Pulau Bokori..

36
8. Grafik 8. Periode Gelombang di Perairan Pantai Pulau Bokori

37
9. Gambar 1. Topografi Pantai Pulau bokori.....

39
10. Gambar 2. Alat Praktik di Laboratorium..

54
11. Gambar 3. Alat Praktik di Lapangan.
12

56
13

DAFTAR TABEL

Tabel Teks Halaman

1. Alat dan bahan yang digunakan dalam Praktek Oseanografi..............23


2. Hasil Pengukuran Variasi Suhu di Perairan Pantai Pulau Bokori..

30
3. Hasil Pengukuran Variasi Salinitas di Perairan Pantai Pulau Bokori.

31
4. Hasil Pengukuran pasang surut Permukaan Air di Perairan Pantai
PulauBokori

32
5. Hasil Pengukuran Kecepatan dan Arah Arus di Periran PantaiPulau

Bokori.

33
6. Hasil Pengukuran Kecepatan dan Arah Arus di Periran PantaiPulau

Bokori.

34
7. Hasil Pengukuran Panjang, Tinggi, dan Periode gelombang diPerairan
pantai Pulau bokori....

35
8. Hasil pengukuran pH perairan tiap-tiap stasiun

37
9. Hasil pengukuran topografi pada perairan pantai Pulau Bokori

38
10. Hasil pengukuran sedimen diperairan pulau bokori..
14

39

I.KONSEP DASAR

1.1. Pengertian Oseanografi


Kata oseanografi adalah kombinasi dari dua kata yunani: oceanus

(samudera) dan graphos (uraian/deskripsi) sehingga oseanografi mempunyai arti

deskripsi tentang samudera (Supangat dan Susanna, 2008).

Oseanografi merupakan suatu ilmu yang mempelajari lautan. Pada

dasarnya ilmu ini bukanlah ilmu yang murni,akan tetapi merupakan keterpaduan

dari berbagai macam ilmu dasar. Ilmu-ilmu dasar tersebut antara lain ialah ilmu

tanah (geology),ilmu fisika (physics), ilmu kimia (chemistry), ilmu hayat

(biology), dan ilmu iklim (meteorology). Namun ilmu oseanografi biasanya hanya

di bagi menjadi empat cabang ilmu saja (Hutabarat, 1985).

Menurut J.J. Bhatt, dari Rhode Island Junior College (1978), membagi

sejarah Oseanografi menjadi beberapa era, yaitu era klasik, era sebelum

Challenger, era Challenger, era setelah Challenger, dan era Glomar Challenger.
15

Awal dari oseanografi tidak diketahui pasti, karena memang manusia kuno tidak

meninggalkan rekaman secara sistematik, baik berupa jurnal ataupun buku harian

perorangan. Para arkeolog mencatat orang-orang Polinesia dan India pra sejarah

melakukan perjalanan laut yang sulit dalam jarak yang panjang.

Secara singkat dari semua perkembangan mengenai ilmu oseanografi

dapat disusun sebagai mana berikut:

a. Pada abad ke 4 SM, aristotelles melakukan penelitian tentang hewan dan

tumbuhan laut. Tentang penjelasan dan pengklasifikasian tumbuhan laut.


b. Abad ke 1 SM orang-orang mengamati gerak pasang dan letak bulan pertama

yang digunakan untuk membuat ramalan.


c. Ferdinand magelheans mengadakan pelayaran keliling dunia, bertujuan untuk

membuktikan bahwa bumi memiliki bentuk yang bulat.


d. Abad ke 18 M, James cook membuat sebuah peta dari lautan pasifik dan

memperlihatkan adanya sebuah daratan yang terletak dibagian sebelah selatan

kutub yang selalu tertutup es (Sverdrup, dkk, 2006).

Penelitian oseanografi di Indonesia pertama kali dimulai pada tahun 1904

ketika koningsbenser mendirikan sebuah laboratoruim perikanan di Jakarta. Pada

tahun 1919, laboratorium ini dirubah menjadi sebuah laboratorium biologi laut,

setelah ini mengalami beberapa lagi perubahan nama mulai dari lembaga

penelitian laut, menjadi lembaga sumber lautan,dan kemudian berubah menjadi

lembaga penelitian laut yang akhirnyapadatahun1970berubah menjadi lembaga

oceanografi nasional(Sahala Hutabarat dan Stewart M. Evans, 1984).

Indonesia mempunyai perairan laut seluas 5.8 juta km2 yang terdiri dari

perairan kepulauan dan teritorial seluas 3.1 juta km2 serta perairan Zona Ekonomi
16

Eksklusif Indonesia (ZEEI) seluas 2.7 juta km2 dengan potensi lestari sumber

daya ikan sebesar 6.11 juta ton per tahun (Boer, dkk, 2001).

Indonesia adalah negara katulistiwa yang secara astronomis terletak antara

koordinat 6LU-11LS dan dari 95-141BT, secara geografis terletak di antara dua

benua yaitu benua Asia dan benua Australia serta di antara dua samudera yaitu

Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Indonesia merupakan negara yang

dilewati oleh garis khatulistiwa dan masuk ke dalam pengaruh kawasan Lautan

Pasifik. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai daerah pertemuan sirkulasi

meridional (Hadley) dan sirkulasi zonal (Walker), dua sirkulasi yang sangat

mempengaruhi keragaman iklim Indonesia. Hal ini disebabkan karena Indonesia

merupakan negara kepulauan dengan bentuk topografi yang sangat beragam,

maka sistem golakan lokal juga cukup dominan dan pengaruhnya terhadap

keragaman iklim di Indonesia tidak dapat diabaikan. Faktor lain yang

diperkirakan ikut berpengaruh terhadap keragaman iklim Indonesia ialah

gangguan siklon tropis. Semua aktivitas dan sistem ini berlangsung secara

bersamaan sepanjang tahun (Boer, 2008).


Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi.

Secara geografis terletak di bagian Selatan Garis Khatulistiwa, memanjang dari

Utara ke Selatan di antara 0245'-0615' Lintang Selatan dan membentang dari

Barat ke Timur di antara 12045'-12445' Bujur Timur. Provinsi Sulawesi

Tenggara di sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan

Provinsi Sulawesi Tengah, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi NTT di

Laut Flores, sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Maluku di Laut Banda dan

sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan di Teluk Bone.


17

Sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara (74.25 % atau 110.000 km)

merupakan perairan (laut). Sedangkan wilayah daratan, mencakup jazirah

tenggara Pulau Sulawesi dan beberapa pulau kecil, adalah seluas 38.140 km

(25.75 persen). Secara administrasi, Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2012

terdiri atas sepuluh wilayah Kabupaten (Kabupaten Buton, Muna, Konawe,

Kolaka, Konawe Selatan, Wakatobi, Bombana, Kolaka Utara, Buton Utara,

Konawe Utara) dan dua wilayah kota, (Kota Kendari serta Kota Bau-Bau).

Bagian yang terluas dataran provinsi ini adalah daerah jazirah Tenggara dari Pulau

Sulawesi. Provinsi ini juga terdapat pulau-pulau yang tersebar di masing-masing

kabupaten(Anonym, 2011).

Pulau Bokori adalah salah satu gugusan pulau pulau kecil yang terletak

tidak jauh dari bibir teluk Kendari, Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Daerah ini, secara administratif masuk wilayah Konawe Selatan. Pulau seluas

kurang lebih 15 hektar ini merupakan sebuah pulau kecil yang berbentuk tapak

kuda dengan sebuah danau dangkal di bagian tengahnya, dan dikelilingi pasir

putih.

Daya tarik Pulau Bokori adalah pantai berpasir putih yang halus dan

bersih, ideal untuk berjemur diri dan kegiatan olahraga pantai. Perairannya juga

bening memantulkan warna biru di kedalaman dan putih di kedangkalan. Arah

timur adalah pemandangan Laut Banda yang nyaris tidak bertepi.

Pulau Bokori dapat dicapai hanya sekitar tujuh menit dengan perahu motor

bermesin 30 PK. Tetapi dari salah satu sudut di bibir teluk, bisa 15 menit. Jarak
18

pulau itu dengan Teluk Kendari, landmark Kota Kendari, hanya sekitar lima mil (1

mil = 1.852 meter).

1.2. Parameter Oseanografi


1.2.1. Suhu
Suhu adalah ukuran derajat panas atau dingin suatu benda, alat yang

digunakan untuk mengukur suhu disebut thermometer (Sihotang, 2006).

Sedangkan menurut Nontji (1987), Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul.

Di samudera, suhu bervariasi secara horizontal sesuai garis lintang dan juga secara

vertikal sesuai dengan kedalaman.

Hal itu disebabkan karena Indonesia terletak didaerah tropik, maka suhu

permukaan air laut cukup tinggi, yakni antara 26 oC 30 oC. Semakin dalam kita

masuk kelaut suhu air laut makin rendah. Hal ini dapat dipahami karena sumber

suhu air laut adalah dari penyinaran matahari (Hutabarat, 1985).

Metabolisme organisme biasanya berkisar pada suhu antara 0-40Chal

ini karena metabolisme memengaruhi kerja enzim dalam tubuh makhluk hidup

(Nybakken, 1985).Faktor yang memengaruhi suhu permukaan laut adalah letak

ketinggian dari permukaan laut (Altituted), intensitas cahaya matahari yang

diterima, musim, cuaca, kedalaman air, sirkulasi udara, dan penutupan

awan(Hutabarat dan Evans, 1986).

Selain itu, distribusi suhu air laut di suatu perairan dipengaruhi oleh

banyak faktor, antara lain radiasi matahari, letak geografis perairan, sirkulasi arus,

kedalaman laut, angin dan musim. Semakin tinggi suhu suatu benda, semakin

panas benda tersebut secara mikrokopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki

oleh suatu benda setiap atom. Dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik
19

itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan ditempat berupa getaran. Semakin

tingginya energi atom-atom penyusun benda, semakin tinggi suhu benda

tersebut(Yuliana, 2006).

Suhu dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup

biota laut.Suhu air hangat berkaitan dengan konsentrasi oksigen dalam air dan laju

konsumsi oksigen hewan air. Suhu air berbanding terbalik dengan konsentrasi

oksigen terlarut dan berbanding lurus dengan laju konsumsi oksigen hewanair

serta laju reaksi kimia dalam air(Priatna, 2004).


Suhu merupakan salah satu unsur iklim yang mempunyai peranan

pentingdalam kehidupan organisme di permukaan. Setiap jenis organisme

mempunyai kebutuhan suhu yang berbeda-beda menurut jenis dan tersedia

kehidupannya. Batas kehidupan suhu tersebut adalahdikenal dengan suhu

cardinal, yaitu kisaran suhu yang diperlukan oleh setiap oragnisme untuk mampu

bertahan hidup (Ariffin, 2003).


Menurut Hela dan Laevastu (1970), hampir semua populasi ikan yang

hidup di laut mempunyai suhu optimum untuk kehidupannya, maka dengan

mengetahui suhu optimum dari suatu spesies ikan, kita dapat menduga keberadaan

kelompok ikan, yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan perikanan. Selain

itu organisme perairan seperti ikan maupun udang mampu hidup baik pada kisaran

suhu 20-30C. Perubahan suhu di bawah 20C atau di atas 30C menyebabkan

ikan mengalami stres yang biasanya diikuti oleh menurunnya daya cerna (Trubus

Edisi 425, 2005).


Pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses metabolisme, seperti

pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan


20

renang, serta dalam rangsangan syaraf. Pengaruh suhu air pada tingkah laku ikan

paling jelas terlihat selama pemijahan (Tarigan, 2009).

1.2.2. Kecerahan
Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditentukan

secara visual dengan menggunakan secchidisk.Pada laut yang bergelombang

cahaya matahari sebagian dipantulkan dan dihamburkan (Effendi, 2003).


Kecerahan adalah sebagian cahaya yang diteruskan kedalam air dan

dinyatakan dengan persen (%), dari beberapa panjang gelombang di daerah

spectrum yang terlihat cahaya yang melalui lapisan sekitar satu meter, jatuh agak

lurus pada permukaan air (Tancung, 2007).


Menurut Gusrina (2008), Kecerahan merupakan ukuran transparansi

perairan dan pengukuran cahaya sinar matahari didalam air dapat dilakukan

dengan menggunakan lempengan/kepingan Secchidisk. Satuan untuk nilai

kecerahan dari suatu perairan dengan alat tersebut adalah satuan meter.
Penyinaran cahaya matahari akan berkurang secara cepat sesuai dengan

makin tingginya kedalaman lautan. Pada perairan yang dalam dan jernih proses

fotosintesa hanya terdapat sampai kedalaman sekitar 200 meter saja (Hutabarat,

2008).
Kecerahan dipengaruhi oleh benda-benda halus yang disuspensikan,

seperti lumpur, jasadjasad renik (plankton), dan warna air. Dengan mengetahui

kecerahan suatu laut, dapat mengetahui sejauh mana masih ada kemungkinan

terjadi proses asimilasi dalam air, lapisan-lapisan mana yang keruh dan paling

keruh. Kekeruhan yang baik adalah kedalaman tertentu yang disebabkan oleh

jasad-jasad renik atau plankton (Tancung, 2007).


21

Menurut Edward, et al (2004), Kecerahan air laut umumnya dipengaruhi

oleh curah hujan. Curah hujan yang tinggi akan menyebabkan terjadi turbulensi

dan membawa lumpur-lumpur yang berasal dari darat melalui aliran-aliran sungai

ke perairan laut, sehingga perairan laut menjadi keruh.


Kecerahan Merupakan faktor lain yang mempengaruhi proses penyerapan

dalam air laut antara lain lumpur dan mikroorganisme (fitoplankton), sehingga

tingkat kecerahan suatu perairan sangat mempengaruhi intensitas cahaya yang

terserap dalam kolom air di perairan tersebut(Sediandi, 2003).


Cahaya matahari sangat dibutuhkan oleh biota-biota untuk

fotosintesis.Oleh karena itu, kecerahan air mempunyai peranan penting untuk

kehidupan biota (Tarigan, 2009).


Tingkah laku ikan di bawah sumber cahaya lampuadalah tidak normal

karena ikan tidak dapat meninggalkan sumber cahaya lampu, bahkan kadang

kadang terdapat keganjilan, misalnya ada beberapa tingkah laku ikan yang

terlihat mendekati sumber cahaya, kemudian berenang cepat sekali sambil

berputar-putar mengelilingi sumber cahaya, sesudah itu berlompatan ke atas

permukaan (Nikonorov, 1975).

1.2.3. Salinitas
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.

Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah(Djoko, 2004).
Salinitas ialah berat dalam gram garam terlarut dalam satu kilogram air

laut, satuan dalam salinitas yang digunakan ada 2 yaitu ppt 0/00 dan ppm 0/000

(Forch, Knudsen dan Sorensen,1980). Contoh nilai salinitas rata-rata untuk

beberapa tempat yaitu Atlantik: 34.90 /00, Pasifik 34.62 /00,Indonesia 34.76 /00

(Sudomo, 1987).
22

Keberadaan garam-garam mempengaruhi sifat fisik air laut(seperti:

densitas, kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi

maksimum) beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya.Beberapa sifat

(viskositas, daya serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh

salinitas.Dua sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas)

adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis (Yogi, 2011).
Salinitas bervariasi tergantung pada keseimbangan antara penguapan dan

presipitasi serta percampuran antara air permukaan dan air kedalaman. Secara

umum, perubahan salinitas tidak mempengaruhi proporsi relatif ion-ion utama.

Konsentrasi ion-ion berubah dalam proporsi yang sama yaitu rasio ioniknya tetap

konstan. Meski demikian, untuk beberapa lingkungan laut seperti laut-laut

tertutup, cekungan, daerah yang luas serta dalam sediment laut, terdapat kondisi

dimana rasio-rasio ion menyimpang jauh dari normal(Reddy,1993).


Faktor-faktor yang mempengaruhi salinitas yaitu penguapan dan curah

hujan. Semakin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka

salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air

lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya. Semakin besar/banyak curah

hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya

semakin sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi (Annisa, 2008).
Menurut Robert (2005), dalam Kusumah (2008), faktor-faktor yang

mempengaruhi distribusisalinitas di perairan ini adalah penyerapan panas (heat

flux), curah hujan (presipitation), aliran sungai (flux) dan pola sirkullasi arus.

Perubahan pada suhu dan salinitas akan menaikkan atau mengurangi densitas air

laut di lapisan permukaan sehingga memicu terjadinya konveksi ke lapisan bawah.


23

Salinitas sangat mempengaruhi Keberadaan makhluk hidup dalam suatu

ekosistem yang tidak terlepas dari proses fisik yang berada di lingkungan

sekitarnya untuk menunjang metabolisme atau siklus hidup sehari-hari. Pada

sistem perairan laut, faktor fisik yang menghubungkan pola distribusi antar

spesies dari pesisir hingga laut lepas (Fulton dan Bellwood, 2005).
Salinitas mempunyai peran penting dan memiliki ikatan erat dengan

kehidupan organisme perairan termasuk ikan, dimana secara fisiologis salinitas

berkaitan erat dengan penyesuaian tekanan osmotik ikan tersebut(Nontji,1993).

1.2.4. Pasang Surut (Pasut)


Pasut laut (ocean tide) adalah fenomena naik dan turunnya permukaan air

laut secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi benda-benda langit

terutama bulan dan matahari. Pengaruh gravitasi benda-benda langit terhadap

bumi tidak hanya menyebabkan pasut laut, tetapi juga mengakibatkan perubahan

bentuk bumi (bodily tides) dan atmosfer (atmospheric tides) (Poerbandono dan

Djunasjah, 2005).
Menurut Dronkers (1964), pasang surut laut merupakan suatu fenomena

pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh

kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi

terutama oleh matahari, bumi dan bulan.


Meskipun massa bulan jauh lebih kecil dari massa matahari, tetapi karena

jaraknya terhadap bumi terlalu dekat, maka pengaruh gaya tarik bulan terhadap

bumi lebih besar daripada pengaruh gaya tarik matahari. Gaya tarik bulan yang

mempengaruhi pasang surut adalah 2.2 kali lebih besar daripada gaya tarik

matahari (Triatmodjo, 2008).


Ada empat jenis pasut di laut kita, yakni pasut semi-diurnal atau pasut

harian ganda (dua kali pasang dan dua kali surut dalam 24 jam); pasut diurnal atau
24

pasut harian tunggal (satu kali pasang dan satu kali surut dalam 24 jam);

campuran keduanya dengan jenis ganda dominan dan campuran keduanya dengan

jenis tunggal dominan (Romimohtarto, 2005).


Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori

kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap

matahari, revolusi bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis

adalah kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan

gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat

mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat,

bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut

yang berlainan (Wyrtki, 1961).


Gaya tarik grafitasi matahari juga mempengaruhi terjadinya pasang

walaupun tenaga yang ditimbulkan terhadap lautan hanya sekitar 47% dari tenaga

yang dihasilkan oleh gaya grafitasi bulan. Pada waktu bulan baru dan bulan penuh

matahari dan bulan terletak pada satu garis terhadap bumi dan gaya grafitasi yang

ditimbulkan oleh mereka mempunyai arah yang sama. Akibatnya gaya tarik

gabungan ini menghasilkan tonjolan air pasang yang lebih besar dari biasanya dan

pasang yang terjadi pada saat ini dinamakan spring tide. Pada waktu bulan

seperempat dan tiga perempat, matahari dan bulan terletak pada posisi yang

membentuk sudut siku-siku (90o) satu sama lain, sehingga pada saat ini gaya tarik

grafitasi matahari bersifat melemahkan gaya tarik bulan. Akibatnya gaya tarik

yang ditimbulkan terhadap massa air laut menjadi berkurang dan terjadi pasang

yang lebih kecil, yang dinamakan neap tide (Hutabarat, 2008).


Pasang surut merupakan salah satu gejala laut yang besar pengaruhnya

terhadap kehidupan biota laut, khususnya diwilayah pantai. Proses terjadinya saat
25

akan memendek secara perlahan-lahan (paras air sedang naik), dan pada saat yang

lain akan memanjang kembali. Tinggi rendahnya paras laut ini diukur dari suatu

paras panutan yang telah ditentukan sendiri, yang dinamakan datum. Datum ini

biasanya ditentukan pada tingkat air rendah pada pasut bulan penuh atau purnama

biasa. Jadi kalau air rendah yang terjadi pada pasut purnama luar biasa maka paras

laut akan terletak di bawah datum (Hutabarat, 1985).


Selain pengaruh bulan,pasang surut air laut dapat terjadi sebagai akibat

dari pengaruh gempa bumi dan letusan gunung api di lautan. Air pasang tiba-tiba

sebagai akibat atau pengaruh gempa laut ini disebut tsunami, seperti yang terjadi

Banyuwangi, Jawa Timur pada bulan Juni 1994. Di laut-laut yang sempit, seperti

selat malaka dan selat bangka, sering terjadi air laut naik yang kadang-kadang

disertai arus deras. Peristiwa ini dikenal dengan istilah Beno(Muh. Hamid, 2005).
Bagi dunia perikanan, terutama perikanan laut ataupun usaha perikanan

didaerah pantai, pengetahuan mengenai karakter pasang surut merupakan hal yang

penting.Untuk usaha penangkapan ikan dilaut pengetahuan pasang surut

diperlukan terutama untuk navigasi (Sahala, 2008).

1.2.5. Arus Laut


Arus adalah proses pergerakan massa air menuju kesetimbangan yang

menyebabkan perpindahan horizontal dan vertikal massa air(ilmukelautan,

2011).Arus dapat didefinisikan sebagai pergerakan air yang mengakibatkan

perpindahan horizontal massa air. Arus merupakan gerakan air yang sangat luas

yang terjadi pada seluruh lautan di dunia (Hutabarar,1987).


Arus permukaan ini digerakkan oleh angin. Air dilapisan bawahnya ikut

terbawa, karena adanya gaya coriolis (coriolis force), yakni gaya yang diakibatkan

oleh perputaran bumi, maka arus dipermukaan laut berbelok kekanan dari arah
26

angina dan arus di lapisan bawahnya akan berbelok lebih kekanan lagi dari arah

arus permukaan. Ini terjadi di belahan bumi utara. Di belahan bumi selatan terjadi

hal sebaliknya (Romimahtarto, 2009).


Kecepatan arus pasang surut di daerah pantai lebih besar daripada di

daerah laut lepas karena di daerah pantai arus ini mengalami percepatan aliran

oleh karena adanya penyempitan secara horisontal dan vertikal oleh adanya dasar

laut dan halangan pulau-pulau di sekitar pantai (Bird, 1996).


Menurut Gross (1990), terjadinya arus di lautan disebabkan oleh dua

faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor internal. Faktor internal seperti

perbedaan densitas air laut, gradien tekanan mendatar dan gesekan lapisan air.

Sedangkan faktor eksternal seperti gaya tarik matahari dan bulan yang

dipengaruhi oleh tahanan dasar laut dan gaya coriolis, perbedaan tekanan udara,

gaya gravitasi, gaya tektonik dan angin.


Arus permukaan dibangkitkan terutama oleh angin yang berhembus di

permukaan laut. selain itu topografi muka air laut juga turut mempengaruhi

gerakan arus permukaan (Rahma Widyastuti, 2010).

Arus laut mempunyai manfaat antara lain yaitu :

a. Arus laut karena tiupan angin dapat mempengaruhi kondisi iklim suatu tempat,

misalnya di Eropa barat di musim dingin tidak begitu dingin dan lautnya tidak

membeku karena dipengaruhi oleh arus panas gulfstream atau arus teluk.
b. Pertemuan arus panas dan arus dingin merupakan daerah yang kaya iklim. Hal

ini disebabkan karena di daerah itu kaya akan plankton.


c. Arus laut dapat menyebarkan berbagai macam jenis hewan tumbuhan

keberbagai belahan dunia (Muhammad, hamid, 2005).

Arus laut digunakan sebagai alat orientasi ikan dan sebagai bentuk rute

alami, kemudian tingkah laku ikan juga dapat disebabkan arus, khususnya arus
27

pasut, arus secara langsung dapat mempengaruhi distribusi ikan-ikan dewasa dan

secara tidak langsung mempengaruhi pengelompokan makanan. Ikan bereaksi

secara langsung terhadap perubahan lingkungan yang dipengaruhi oleh arus

dengan mengarahkan dirinya secara langsung pada arus. (Hutabarat,1987).

Ikan bereaksi secara langsung terhadap perubahan lingkungan yang

dipengaruhi oleh arus dengan mengarahkan dirinya secara langsung pada arus.

Arus tampak jelas dalam organ mechanoreceptor yang terletak garis mendatar

pada tubuh ikan. Mechanoreceptor adalah reseptor yang ada pada organisme yang

mampu memberikan informasi perubahan mekanis dalam lingkungan seperti

gerakan, tegangan atau tekanan. Biasanya gerakan ikan selalu mengarah menuju

arus (Hayes,1981).

1.2.6. Gelombang
Gelombang merupakan pergerakan air yang naik turun dan tidak

mengalami pergerakan baik maju maupun mundur (Wardani,2008).Sedangkan

menurut Supangat (2000), Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air

dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik

sinusoidal.
Apabila suatu deretan gelombang bergerak menuju pantai, gelombang

tersebut akan mengalami perubahan bentuk yang disebabkan oleh prosese refraksi

dan pendangkalan gelombang, difraksi, refleksi, dan gelombang pecah

(Triatmodjo, 1999).
Suatu gelombang membentuk suatu gerakan maju melintasi permukaan

air, tetapi di sana sebenarnya hanya terjadi suatu gerakan kecil ke arah depan dari

massa air itu sendiri (Reddy, 1993).Ada tiga energi yang menentukan karakteristik
28

gelombang yang dibangkitkan olehangin, yaitu: lama angin bertiup atau durasi

angin, kecepatan angin, dan fetch (Samulano, 2012).


Gelombang terjadi karena beberapa sebab, yaitu karena angin, menabrak

pantai, dan gempa bumi. Gerakan permukaan gelombang dapat dikelompokkan

dalam gerak osilasi, gerak translasi dan gerak swash(Purnomo, 2012).


Gempa tektonik atau letusan gunung api akan menyebabkan terjadinya

gerakan kerak bumi yang akan menghasilkan terjadinya gelombang laut yang

besar. Gelombang semacam ini dinamakan dengan tsunami. Letusan gunung

krakatau di selat sunda tahun 1883 menyebabkan gelombang besar dan menyapu

penduduk dipantai banten dan lampung. Demikian juga gempa tektonik di utara

pulau flores tahun 1996, menimbulkan gempa besar dan menyapu pemukiman

yang bermukim di pantai (Muh Hamid, 2005).


Gelombang laut yang disebabkan oleh angin dan ombak memungkinkan

penghuni laut agar larva/telur mereka diangkut dengan jarak yang jauh, sehingga

muncul spesies baru dari hasil evolusi dan adaptasi dari makhluk laut yang

terbawa gelombak laut tersebut (Anonim,1985).


Sementara gelombang Laut yang mengikis karang dengan terus menerjang

pada mereka, organisme laut telah beradaptasi dengan ini dan menempel ke

karang-karag tersebut sehingga disini membantu adanya penundaan pengikisan

batu karang tersebut dalam hal ini terjadi hubungan simbiosis sejati (Roni

Kurniawan et al, 2011).

1.2.7. pH
Derajat keasaman atau pH merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen

(H+) yang mencirikan keseimbangan asam dan basa. Derajat keasaman suatu

perairan, baik tumbuhan maupun hewan sehingga sering dipakai sebagai petunjuk

untuk menyatakan baik atau buruknya suatu perairan (Odum, 1971). Nilai pH juga
29

merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktifitas perairan (Pescod,

1973).
Biasanya angka pH dalam suatu perairan dapat dijadikan indikator dari

adanya keseimbangan unsur-unsur kimia dan dapat mempengaruhi ketersediaan

unsur-unsur kimia dan unsur-unsur hara yang sangat bermanfaat bagi kehidupan

vegetasi akuatik.Tinggi rendahnya pH dipengaruhi oleh fluktuasi kandungan O 2

maupun CO2. Tidak semua makhluk bisa bertahan terhadap perubahan nilai pH,

untuk itu alam telah menyediakan mekanisme yang unik agar perubahan tidak

terjadi atau tejadi tetapi dengan cara perlahan (Sary, 2006).

1.2.8. Topografi dan Sedimen


1.2.8.1. Topografi
Topografi ialah bentuk rupa permukaan bumi yang teerbentuk dari

berbagai faktor baik dari tenaga endogen maupun eksogen (Hutabarat,1985).

Bentuk relief (topografi) dasar laut merupakan salah satu kondisi laut yang begitu

unik yang terdiri dari banyak bentukan yang tidak dapat dilihat langsung secara

kasat mata (Nontji,1987).


Menurut Sutikno (1999), jenis pantai ada 3 yaitu landai, sedang dan

curam, pantai landai adalah pantai yang mempunyai kemiringan kurang dari 1.44o

(0.4%), pantai sedang mempunyai kemiringan 10.8o 21.6o, sedangkan pantai

curam adalah pantai yang kemiringannya lebih dari 22o.


Hingga saat ini kondisi permukaan bumi selalu mengalami perubahan-

perubahan yang disebabkan karena berbagai faktor baik itu tenaga endogen

maupun eksogen. Kedua faktor tersebut akan sangat mempengaruhi adanya

bentukan rupa bumi yang baru terutama wilayah laut. Bentuk relief dasar laut

yang ada sangatlah beragam dan jauh lebih banyak dibandingkan daratan (ilmu

kelautan, 2011).
30

Apabila di darat terdapat sungai, maka proses yang terjadi di laut pun tidak

jauh berbeda seperti mengikis dan mengauskan permukaan bumi dengan aliran

dan kekuatan gelombang. Gelombang mengangkut bahan kikisan, mengendapkan

muatannya di dasar laut yang membentuk strata sedimen. Sehingga dari

sedimentasi tersebut membentuk morfologi bawah laut, tidak hanya itu aktifitas

kerak bumi yang merupakan lempeng tektonik yang bergerak relatif

juga menyebabkan terbentuknya ciri-ciri khusus dasar laut di mana bentuknya

dapat menjadi beragam (Nontji,1987).


Topografi dan letak geografis pantai juga berpengaruh terhadap besarnya

ombak yang dapat berdampak terhadap banyak atau tidaknya erosi dan pengikisan

pantai, dan pada akhirnya hasil dari pengikisan pada pantai juga akan berdampak

balik terhadap kondisi topografi pantai, sehingga padadasarnya antara keadaan

topografi, ombak (gelombang), letak geografis saling berkaitan membentuk

sebuah siklus yang selalu berkelanjutan (Anonim,2008).


Bentuk relief (topografi) dasar laut yang berbeda di setiap perairan ini

ternyata dapat mempengaruhi gerakan arus. Arus adalah pergerakan massa air

secara vertikal dan horizontal sehingga menuju keseimbangannya, atau gerakan

air yang sangat luas yang terjadi di seluruh lautan dunia (Natsir,2010).
Salah satu faktor yang mempengaruhi topografi yaitu adanya pergeseran

lempeng, bencana alam,berupa pengikisan pantai sehingga menimbulkan dasar

khususnya daerah pantai menjadi curam,selain itu faktor lainnya yaitu adanya

gelombang yang tiap harinya terus menuju pantai(Wardani, Wahyu, 2008).


Kemiringan pantai ditentukan dengan cara mengukur perbedaan

ketinggian pada dua titik horizontal yang jarak antara kedua titik telah diketahui.

Kemiringan pantai sangat berperan dalam drainase air terutama dalam usaha
31

budidaya pantai. Kemiringan yang sangat besar sangat tidak baik buat budidaya.

Sebaliknya, pantai yang datar cukup menyulitkan dalam proses pengeringan

kolam tambak. Pantai yang landai menyebabkan jangkauan pasang surut

mencapai ratusan meter, sedangkan pantai yang terjal menyebabkan jangkauan

pasang surut hanya mampu mencapai beberapa puluh meter saja. Tipe kemiringan

pantai ada 3, yaitu: datar ( 5%), landai ( 10%) dan curam ( 20%)

(Anonim,2009).

1.2.8.2. Sedimen
Sedimen adalah partikel hasil dari pelapukan batuan, material biologi,

endapan kimia, debu, material sisa tumbuhan dan daun (Karleskint, 2010).

Sedimentasi merupakan suatu proses pengendapan kembali partikel sedimen yang

mengalami pergerakan dari suatu tempat ketempat lain atau ketempat tersebut

setelah mengalami proses pergerakan dan pengangkutan(Salnuddin, 2005).


Seluruh permukaan dasar lautan ditutupi oleh partikel-partikel sedimen

yang telah diendapkan secara perlahan lahan dalam jangka waktu berjuta-juta

tahun. Secara relative ketebalan lapisan sedimen yang terdapat dibanyak bagian

lautan, mempunyai variasi kedalaman yang berbeda-beda (Hutabarat, 2008).


Sebaran sedimen terkait dengan jenis endapan yang tersebar di dasar

permukaan laut. Jenis endapan sedimen ini bisa berupa pasir, lumpur, kerikil atau

batuan mineral lainnya (Natsir, Suhartati M, 2010).


Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sedimen adalah iklim,

topografi, vegetasi, gelombang dan juga susunan yang ada dari batuan. Sedangkan

yang mempengaruhi pengangkutan sedimen adalah air, angin, dan juga gaya

grafitasi. Sedimen dapat terangkut baik oleh air, angin, dan bahkan salju

(Rositasari, R dan Witasari, Y, 2011).


32

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi angkutan sedimen adalah sifat-

sifat aliran, sifat-sifat sedimen, dan pengaruh timbal balik antara keduanya.

Bentuk dan ukuran partikel sedimen, mempengaruhi kecepatan rata-rata aliran

ketika partikel bergerak di dasar saluran, mempengaruhi kecepatan jatuh (fall

velocity) dan angkutan sedimen dasar (bed load transpor), seperti halnya butiran

pipih mempunyai kecepatan endap lebih kecil, dan lebih sulit ditranspor daripada

butiran bulat (Abdurrosyid, 2003).


Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sedimen adalah iklim,

topografi, vegetasi,gelombang dan juga susunan yang ada dari batuan. Sedangkan

yang mempengaruhi pengangkutan sedimen adalah air, angin, dan juga gaya

grafitasi. Sedimen dapat terangkut baik oleh air, angin, dan bahkan salju

(Rositasari, R dan Witasari, Y.2011).


Sedimen menyediakan habitat untuk beberapa organisme dan sumber

nutrisi untuk yang lainnya (Hutabarat, S dan Evans, Stewart M, 2006).Kondisi

sedimen dasar perairan merupakan faktor yang sangat penting dalam

mengevaluasi potensi wisata bahari suatu perairan. Sedimen dasar perairan yang

berupa pasir hingga pasir kerikilan akan mempunyai nilai yang lebih berpotensi

untuk kegiatan rekreasi pantai dibandingkan sedimen dasar perairan yang berupa

lumpur(Muhamad Elly, 2009).


Pada tingkatan asosiasi antar biota terumbu, sedimentasi yang diikiuti

peningkatan nutrient di perairan akan menyebabkan infasi biota seeperti

makroalga. Sedimentasi juga mempengaruhi peningkatan jumlah biota

macroberer seperti polychaete, sponge, dan bivale yang meningkatkan bioerosi

pada karang batu (Macdonald dan Terry, 2005).


33
34

II. TUJUAN

Adapun tujuan dari laporan ini yaitu:

1 Untuk mengetahui fluktuasi suhu perairan, salinitas dan tingkat kecerahan

diperairan pantai pulau bokori serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.


2 Untuk mengetahui tipe pasut dan beda pasut di perairan pantai pulau bokori,

serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.


3 Untuk mengetahui kecepatan dan arah arus di perairan pantai pulau bokori,

serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.


4 Untuk mengetahui karakteristik gelombang di perairan pantai pulau bokori

serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.


5 Untuk mengetahui bentuk topografi serta hubungannya dengan sedimen di

perairan pantai pulau bokori.


35

III. METODE PRAKTEK

3.1. Waktu dan Tempat


Praktek oseanografi dilakukan dilapangan dan dilaboratorium. praktek

dilapangan dilaksanakan pada hari sabtu, 16 Mei 2015 pada pukul 13.00

WITAsampai pada hari minggu, 17Mei 2015 pada pukul 10.00 WITAdi Pulau

Bokori, desa Bajo Indah Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe. Sedangkan

Praktek laboratorium dilaksanakan pada hari jumat, 29Mei2015 pada pukul 15:00

hingga 17:00 WITAdi laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,

Universitas Halu Oleo, Kendari.

3.2. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pengantar

oseanografi diperairan Pulau Bokori dapat dilihat pada tabel 1 berikut.

Tabel 1. Alat dan Bahan yang digunakan pada praktikum pengantar Oseanografi
di Pulau Bukori

No. Alat dan Bahan Satuan Kegunaan

Alat
o
1. Thermometer C Mengukur suhu perairan/air
laut
2. Secchi disk Mengukur kecerahan
3. Meteran roll meter Mengukur panjang
4. Meteran pita cm Mengukur tinggi gelombang
5. Stopwatch sekon Menghitung waktu
6. Kompas - Menentukan arah arus
7. Layangan arus - bahan pengamatan
8. Hendrefraktometer - Mengukur Salinitas
9. Alat tulis - Mengambil data pengamatan
36

10. Pipa paralon - Mengambil substrat


11. Timbangan digital Gram Menghitung massa pasir
12 Sieve shaker - Menyaring substrat

Bahan
1. Substrat - Bahan pengamatan
2. Air laut - Bahan pengamatan
3. Tali rafia - Media pengikat
4. Tongkat - Tempat meletakkan meteran
pita
5. Lakban bening - Media penghubung
6. Air aquades - Membersihkan Refraktometer
7. Pipet - Mengambil preparat
8. Tisu - Membersihkan Refraktometer
9. Plastik sampel - Menyimpan /sampel/substrat
10. Selang bening - Melihat selisih gelombang
11. Pelampung - Bahan pengamatan
12. Pemberat - Media pengapung

3.3. Prosedur Pengamatan


Adapun praktikumyang dilakukan dipulau bokori terdiri dari beberapa

parameter seperti suhu,salinitas,kecerahan,arus,pasang surut,gelombang sedimen

dan topografi.Sedangkan untuk di lab dilakukan penyaringan substrat. Adapun

prosedur pengamatan untuk masing-masing paramaternya yaitu:

3.3.1. Suhu

Adapun prosedur pengamatan untuk mengukur suhu perairan yaitu:

Menyiapkan thermometer.
Celupkan thermometer pada perairan selama 1 menit.
Lihat skala yang terbaca pada thermometer (lihat didalam air yang diukur).
37

Catat hasil yang diperoleh.


Lakukan sebanyak 3 kali di tempat yang berbeda dengan stasiun yang sama.

3.3.2. Kecerahan

Adapun prosedur pengamatan untuk mengukur kecerahan perairan yaitu:

Menyiapkan secchi disk.


Masukkan kedalam perairan.
cari dan catat kedalaman lautnya.
Masukkan secchi disk kedalam perairan hingga secchi disk tak terlihat dan

Beri tanda pada pengikat.


Tarik perlahan-lahan secchi disk hingga secchi disk tersebut terlihat samar-

samar.Dan Beri tanda pada pengikat.


Naikkan secchi disk ke daratan.
Ukur panjang tali rafia yang telah diberi tanda dengan meteran roll.
Catat data yang diperoleh.

3.3.3. Salinitas

Adapun prosedur pengamatan untuk mengukur salinitas perairan yaitu:

Menyiapkan hendrefraktometer.
Kalibrasi menggunakan aquades.
Ambil satu tetes air laut dengan pipet tetes.
Teteskan kealat pembaca hardrefraktometer (1 tetes).
Arahkan ketempat arah sumber cahaya,agar mudah melihat hasilnya.
Catat hasil yang diperoleh.
Kalibrasi menggunakan air aquades.
Lakukan sebanyak 3 kali di tempat yang bebrbeda pada stasiun yang sama.

3.3.4. Pasang Surut

Adapaun prosedur pengamatan untuk mengukur pasang surut yaitu:

Siapkan patok berskala yang telah dilengkapi dengan meteran pita dan

selang bening.
Tancapkan dimana surut terendahnya.
Catat ketinggian air laut.
Lakukan setiap jam.
38

3.3.5. Arus Laut

Adapun prosedur pengamatan untuk mengukur kecepatan arus yaitu:

Siapkan layangan arus dengan tali pengikat sepanjang 10 m,Siapkan

stopwatch dan kompas.


Simpan layangan arus keatas permukaan air laut dan Lepaskan layangan

sambil menyalahkan stopwatch.


Tunggu sampai tali tegang lalu matikan stopwatch.
Lihat arah arusnya dengan menggunakan kompas.
Lakukan sebanyak 3 kali di tempat yang berbeda pada stasiun yang sama.

3.3.6. Gelombang Laut

Adapun prosedur pengamatan untuk mengukur gelombang yaitu:

Menyiapkan peralatan berupa patok berskala, rool meter,stopwatch untuk

melakukan pengukuran panjang, tinggi, dan periode gelombang laut.


Untuk mengukur panjang gelombang gunakan patok untuk mengukur jarak

antara dua puncak gelombang, yang berdekatan kemudian mencatat

hasilnya.
Untuk mengukur tinggi gelombang, menancapkan patok ke dasar perairan

kemudian menghitung tinggi gelombang dengan menandai pada patok

berskala jarak antara puncak dan lembah gelombang dan mencatat hasilnya.
Untuk mengukur periode gelombang yaitu dengan menyalakan stopwatch

ketika dating gelombang pertama dan mematika stopwatch ketika ombak

kedua kenyentuh tiang patok,dan catat hasilnya.


Untuk panjang geombang,yaitu dengan mengamati gelombang pertama,dan

ketika gelombang kedua datang mengenai patok berskala,gelombang

pertama tadi diberi batasan,lalu ukur panjang gelombang antara puncak


39

gelombang pertama dengan puncank gelombang kedua dengan

menggunakan meteran roll,dan catah hasil yang diperoleh.


Lakukan sebanyak 3 kali ditempat yang berbeda pada stasiun yang sama.

3.3.7. pH
Adapun prosedur pengamatan untuk mengukur pH perairan yaitu:
Menyiapkan pH indikator.
Mencelupkan pH indikator tersebut ke dalam air laut di stasiun masing-

masing.
Melihat perubahan warna yang terjadi dalam pH indikator.
Mencatat perubahan pH yang terjadi.

3.3.8. Topografi dan Sedimen

Adapun prosedur pengamatan untuk topografi yakni:

3.3.8.1.Topografi
Menyiapkan peralatan berupa patok berskala, rool meter.
Menancapkan patok pada ke dalaman 25 cm dan mengukur jaraknya dari

garis pantai.
lakukan sampai kedalaman 150 cm.
Mengambil substrat dengan kedalaman 50,100,dan 150 cm.
Mencatat hasil yang diperoleh.

3.3.8.2.

Sedimen

Setelah mengambil sampel,substrat dibawa ke laboratorium untuk

mengamati teksturnya.Adapun prosedur pengamatan untuk sedimen yaitu:

Menyiapkan substrat yang telah di peroleh dari pantai bokori.


40

Menimbang berat substrat untuk masing-masing substrat berdasarkan

kedalaman.
Catat data yang diperoleh.
Menyaring substrat satu persatu kedalam saringan bertingkat (sieve shaker).
Saring selama 5 menit untuk masing-masing substrat yang diperoleh

berdasarkan kedalaman.
masukkan dalam kotak yang telah disediakan sebelumnya sesuai dengan

ukuran substrat yang di saring.


Menimbang satu persatu hasil saringan substrat dan mencatat hasilnya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


41

Pulau bokori terletak didesa bajo indah kecamatan soropia kabupaten

konawe. Pulau bokori terletak di garis 03 56' 29'' LS 122 39' 50'' BT. Pulau

bokori memiliki Dasar perairan yang landai dan curam, substratnya umumnya

berpasir, Daerah sekitar pantai yang bercuram banyak terdapat ikan.pada daerah

yang landai banyak terdapat bulu babi.

4.1.Hasil

Adapun Data hasil pengukuran parameter suhu, kecerahan, salinitas,

pasang surut, arus, gelombang, pH, topografi dan sedimen yang yang

dilaksanakan diperairan bokori yaitu sebagai berikut:

4.1.1.Suhu

Adapun hasil pengukuran suhu dipulau bukori dapat dilihat pada tabel 2.

Jam (Wita) Suhu (C) Jam (Wita) Suhu (oC)


10.00 30 22.00 30
11.00 31 23.00 30
12.00 31 24.00 30
13.00 32 01.00 -
14.00 32.5 02.00 28
15.00 30 03.00 27
16.00 32 04.00 29
17.00 - 05.00 29
18.00 30 06.00 29
19.00 30 07.00 30
20.00 30 08.00 30
21.00 29 09.00 31
Tabel 2. Hasil pengukuran variasi suhu diperairan pantai Pulau bokori.
42

35

30

25

20

15

10

Grafik 1. Variasi suhu di perairan pantai Pulau Bokori selama 24 jam pada
tanggal 16-17 Mei 2015.

4.1.2. Kecerahan

Adapun hasil pengukuran kecerahan perairan pantai Pulau Bokori

kecerahan rata-rata: 8.16 m padatanggal 16 Mei 2015, jam 13.00 WITA.

4.1.3. Salinitas

Adapun hasil pengukuran salinitas perairan pantai pulau bokori dapat

dilihat pada tabel 3berikut.

Tabel 3. Hasil Pengukuran Variasi Salinitas di Perairan Pantai Pulau Bokori.

Jam (WIta) Salinitas Jam (wita) Salinitas


10.00 30 22.00 31
11.00 30 23.00 31
12.00 32 24.00 32
13.00 32 01.00 32
14.00 32 02.00 31
15.00 30 03.00 32
16.00 31 04.00 32
17.00 31 05.00 31
43

18.00 32 06.00 30
19.00 32 07.00 31
20.00 32 08.00 32
21.00 30 09.00 32

35
30
25
20
15
10
5
0

Grafik 2. Variasi salinitas perairan pantai Pulau Bokori selama 24 jam pada
tanggal 16-17 Mei 2015.

4.1.4.Pasang Surut

Adapunhasil pengukuran pasang surut perairan pantai Pulau Bokori

dimulai pukul 18.00 hingga 09.00 dapat dilihat pada tabel 4 berikut.

Tabel 4. Hasil Pengukuran Tinggi Permukaan Air di Perairan Pantai Pulau Bokori

Jam (WITA) Tinggi (cm) Jam (WITA) Tinggi (cm)


10.00 219 22.00 150
11.00 215 23.00 197
12.00 191 24.00 206
13.00 191 01.00 220
14.00 160 02.00 256
15.00 116 03.00 120
16.00 83 04.00 125
17.00 62 05.00 126
18.00 61 06.00 130
19.00 72 07.00 117
20.00 128 08.00 137
21.00 140 09.00 202
44

300
250
200
150
100
50
0

Ket: Umur bulan saat pengamatan: 28-29 malam bulan (tanggal 28-29 Rajab 1436
H).
Grafik 3.Variasi pasang surut perairan pantai Pulau Bokori pada tanggal 16-17
Mei 2015.

4.1.5. Arus Laut

Adapunhasil pengukuran kecepatan dan arah arus di perairan pantai Pulau

Bokori pada pukul 14.00 WITAtanggal 16 Mei 2015 dapat dilihat pada tabel 5

berikut.

Tabel 5. Hasil Pengukuran Kecepatan dan Arah Arus di Perairan Pantai P. Bokori
Kecepatan Dasar
Stasiun
Arus (m/det) Arah Arus Arah Angin Perairan
I 0.057 Barat laut Barat laut Pasir, landai

II 0.18 - - Pasir, landau

III 0.16 - - Pasir, curam

IV - Barat Barat Pasir, curam

V 0.015 Timur Selatan Pasir, curam

VI 0.490 Barat laut Barat Pasir, landa

VII 0.021 Barat Barat laut Pasir, landai

VIII 0.0211 Barat Barat Pasir, landai


45

IX 0.2 barat Barat Pasir, landai

Ket: Pukul 14.00 WITA: air laut bergerak surut (arus surut)

Kecepatan Arus
0.6

0.5

0.4

kecepatan arus(m/s) 0.3

0.2

0.1

0
I II III IV V VI VII VIII IX

Grafik 4. Arus di Perairan Pantai Pulau Bokoritanggal 16 Mei 2015.

Adapun hasil pengukuran kecepatan dan arah arus di perairan pantai Pulau

Bokori pukul 07.00 WITAtanggal 17 Mei 2015 dapat dilihat pada tabel 6 berikut.

Tabel 6. Hasil Pengukuran Kecepatan dan Arah Arus di Perairan Pantai P.Bokori
Kecepatan Dasar
Stasiun Arah Arus Arah Angin
Arus (m/det) Perairan
I 0.032 Tenggara - Pasir, landai

II 0.167 - - Pasir, landau

III 0.118 - - Pasir, curam

IV - Selatan Timur Pasir, curam

V 1.793 Barat Barat Pasir, landau

VI 0.009 Timur laut Timur Pasir, landau

VII 0.0065 Timur Timur laut Pasir, landau


46

VIII 0.062 Timur Timur Pasir, landau

IX 0.004 Selatan Barat Pasir, landau

Ket: Pukul 07.00: air laut bergerak menuju pasang (arus pasang).

Kecepatan Arus
2
1.8
1.6
1.4
1.2 Kecepatan Arus

kecepatan arus(m/s) 1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
I II III IV V VI VII VIII IX

Grafik 5. Arus di Perairan Pantai Pulau Bokoritanggal 17 Mei 2015

4.1.6. Gelombang

Adapun hasil pengukuran gelombang panjang tinggi dan periode

gelombang di perairan pantai pulau Bokori pukul 08.00 WITAtanggal 17 Mei

2015 dapat dilihat pada tabel 7 berikut.

Tabel 7.Hasil pengukuran gelombang di perairan pantai pulau Bokori.

Panjang Tinggi Periode Gelomban Dasar


Stasiun Angin
(cm) (cm) (s) g Perairan
Pasir,
I 89 6 - - -
landai
Timur Pasir,
II 83 7 1.9 Utara
laut landai
III 1.1 4 - - - Pasir,
47

curam
Timur Pasir,
IV 69.7 10.1 1 Utara
laut curam
Timur Pasir,
V 82.3 18.7 1.65 Timur laut
laut landai
Timur Pasir,
VI 9.92 14 3.13 Timur laut
laut landai
Timur Pasir,
VII 52.13 3.7 1.1 Timur laut
laut landau
Pasir,
VIII 11.09 28 6.05 Barat Selatan
landai
Pasir,
IX 6.025 15.25 2.04 Barat Selatan
landai

Ket: pukul 08.00 air laut bergerak pasang.

Panjang Gelombang
100
80
panjang gelombang
60
panjang gelombang (cm) 40
20
0
I II III IV V VI VII VIII IX

Grafik 6. Panjang Gelombang di Perairan Pantai Pulau Bokori


48

Tinggi Gelombang
30
25
20Tinggi Gelombang

tinggi gelombang (cm) 15


10
5
0
I II III IV V VI VII VIII IX

Grafik 7. Tinggi Gelombang di Perairan Pantai Pulau Bokori

Periode Gelombang
7

4 Periode Gelombang
periode gelombang (s)
3

0
I II III IV V VI VII VIII IX

Grafik 8. Periode Gelombang di Perairan Pantai Pulau Bokori

4.1.7. pH

Adapunhasil pengukuran pH diperairan pantai Pulau Bokori dapat dilihat

pada tabel 8 berikut.

Tabel 8. Hasil pengukuran pH perairan tiap-tiap stasiun.


49

Stasiun Jam (WITA) pH

I 22.00 7

II 18.00 7

III 17.00 7

IV 21.00 7

V 19.00 7

VI 18.00 7

VII 16.00 7

VIII 23.00 8

IX 19.00 8

4.1.8. Topografi dan Sedimen


4.1.8.1. Topografi

Adapunhasil pengukuran topografi di perairan pantai Pulau Bokori dapat

dilihat pada tabel 9 berikut.

Tabel 9. Hasil jarak dari garis pantai berdasarkan kedalaman di perairan pantai
Pulau Bokori jam 08.00 WITA tanggal 17 Mei 2015.

Ked. 25 Ked. 50 Ked. 75 Ked. 100 Ked. 125 Ked.


Stasiun
cm cm cm cm cm 150 cm

I - - - - - -

II - - - - - -

III - - - - - -

IV 3.44 10.91 14.90 17.88 32.86 50.00

V 1.45 1.9 3.37 5.07 9 38.37


50

VI 2 6.036 12.10 20.16 30 41.056

VII 1.85 3.83 5.80 8.20 22.30 94.98

VIII 1.55 3.15 5.10 6.65 15.85 53.85

IX 2.27 4.02 5.88 7.76 19.88 43.83

Gambar 1. Topografi perairan dipulau bokori

4.1.8.2. Sedimen

Adapun hasil pengukuran sedimen diperairan pulau bokori dapat dilihat

pada tabel 10 berikut.

Tabel 10. Hasil pengamatan tekstur sedimen berdasarkan di perairan pantai Pulau
Bokori jam 08.00 WITAtanggal 17 Mei 2015.
Substrat Substrat
Kedalaman Substrat
Kerikil Kecil Pasir Halus
Stasiun (cm) Kerikil (%)
(%) (%)
I 50 9.2% 19.8% 71.0%
100 4.3% 18.9% 76.8%

II 50 6.1% 28.5% 65.4%


100 2.9% 22.9% 74.2%
III 50 - - -
100 - - -
IV 50 6.1% 28.5% 65.3%
100 2.9% 22.9% 74.2%
V 50 7.7% 13.7% 78.7%
100 4.4% 15.1% 80.5%
VI 50 7.7% 13.6% 78.7%
100 4.4% 15.3% 80.3%
VII 50 7.7% 13.7% 78.7%
100 4.8% 16.5% 78.7%
51

VIII 50 4.2% 20.6% 75.2%


100 7.3% 3.4% 89.3%
IX 50 7.7% 13.7% 78.7%
100 4.8% 16.5% 78.7%

4.2. Pembahasan

4.2.1. Suhu

Suhu merupakan ukuran derajat panas atau dingin suatu benda

(Sihotang,2006). Pantai bokori memiliki suhu yang relatif stabil, berkisar antara

27-32 OC. Suhu perairan di Pulau bokori berubah-ubah pada setiap waktunya,

Namun ada pada waktu tertentu yang memiliki suhu stabil (tak berubah). Pada

pagi hari hingga menjelang malam suhu berkisar antara 29-32 OC. Sedangkan pada

malam hari hingga menjelang pagi suhu berkisar antara 29-30 OC.

Suhu tertinggi terjadi pada siang hari yaitu 32 OC pada pukul 13:00-14:00

WITA, hal ini disebabkan karenaterjadi proses penguapan yang besar yang

diakibatkan oleh pancaran sinar matahari.Hal ini sesuai dengan pernyataan

(Hutabarat dan evans 1986) yang mengatakan Bahwa Faktor yang mempengaruhi

suhu yaitu pola sirkulasi udara. Sedangkan suhu terendah yaitu 27 OC terjadi pada

pukul 01:00-03:00 WITA, hal ini terjadi karena pada malam hari suhu perairan

dingin akibat adanya angin yang berhembus, selain itu faktor lainnya yang

menyebabkan suhu tinggi atau rendah bergantung pada letak ketinggian

permukaan air laut. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Yuliana, 2006) yang

mengatakan bahwa suhu bergantung pada sirkulasi arus, kedalaman, dan musim.
52

Perubahan suhu terhadap organisme laut diperairan bokori tidak

mempengaruhi organisme tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan

(Trubus,2005) yang menyatakan bahwa Organisme perairan seperti ikan maupun

udang mampu hidup baik pada kisaran suhu 20-30C.

4.2.2. Kecerahan

Kecerahan ialah ukuran kecerahan transparansi perairan, yang ditentukan

secara visual dengan menggunakan secchi disk (Effendi, 2003). Kecerahan

diperairan bokori berbeda-beda, meskipun tempat pengukurannya berada pada

satu tempat. Kecerahan rata-rata untuk keseluruhan yaitu berada pada kedalaman

8.16 meter. Kecerahan ini termasuk dalam kriteria kecerahan yang sedang. Salah

satu faktornya yaitu pancaran sinar matahari, benda-benda halus yang tersupensi

berupa plankton (Tancung, 2007).Penyinaran cahaya matahari akan berkurang

semakin dengan cepat sesuai tingginya kedalaman perairan (Hutabarat dan

Evans, 1984).

Kecerahan diperairan pantai bokori umunya karena intensitas cahaya

matahari, hal ini karena pada waktu itu, matahari cukup bersinar dengan terang.

Cahaya matahari sangat dibutuhkan oleh organisme untuk keperluan

berfotosintesis, hal ini sesuai dengan pernyataan (Tarigan, 2009) yang

menyatakan bahwa cahaya mataharisangat dibutuhkan oleh biota-biota untuk

fotosintesis.Oleh karena itu, kecerahan air mempunyai peranan penting untuk

kehidupan biota.

4.2.3. Salinitas
53

Salinitas ialah tingkat keasinan atau kadar garam yang terlarut dalam air

(Djoko,2011). Salinitas pada pulau bokori berkisar 30-35 Ppt. Salinitas pada

perairan pulau bokori berubah dari waktu kewaktu, namun ada juga salinitasnya

yag relative stabil.

Salinitas terendah terjadi pada pukul 21:00WITAyaitu 30 Ppt , hal ini

karena pola sirkulasi arus sangat bergantung pada salinitas suatu perairan ,

Sedangkan salinitas tertinggi terjadi pada pukul 12:00 WITAyaitu 32 Ppt. Hal ini

karena pada waktu tersebut terjadi proses penguapan akibat dari pancaran sinar

matahari,pernyataan ini sesuai dengan pernyataan (Robert,2005) yang

menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi distribusisalinitas di

perairan ini adalah penyerapan panas (heat flux), curah hujan (presipitation),

aliran sungai (flux) dan pola sirkullasi arus.

Salinitas diperairan pantai bokori sangat mempengaruhi bagi kehidupan

ikan, baik proses metabolisme maupun lainnya.Salinitas di perairan pulau bokori

termasuk dalam keadaan yang normal untuk kehidupan organisme. Hal ini sesuai

dengan peryataan (Fulton dan Bellwood,2005) yang menyatakan bahwa salinitas

sangat mempengaruhi keberadaan makhluk hidup dalam suatu ekosistem yang

tidak terlepas dari proses fisik yang berada di lingkungan sekitarnya untuk

menunjang metabolisme atau siklus hidup sehari-hari.

4.2.4. Pasang Surut

Menurut Dronkers (1964), pasang surut laut merupakan suatu fenomena

pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh

kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi
54

terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pada perairan pantai pulau bokori pasang

surut terjadi sebanyak dua kali dalam 24 jam.

Umur bulan pada saat melakukan praktikum pengantar oseanografi

dipulau bokori berkisar28-29 hari bulan di langit, Tipe pasut yang dihasilkan yaitu

pasut semi-diurnal atau pasut harian ganda.Tipe pasut ini juga sering disebut Pasut

ganda. Jenis pasut ini dinamakan Pasut Bulan Baru (Spring tide). Pasut yang

diperoleh berkisar 61-256 cm, pasang tertinggi terjadi pada pukul 02:00 WITA

dengan tinggi 256 cm dan surut terendah berada pada pukul 18:00 WITAdengan

tinggi 61 cm. Pasang surut air laut bergantung pada letak kedalaman air lautdan

pengaruh revolusi bulan, hal ini sesuai dengan pernyataan (Wyrtki,1961) bahwa

faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori

kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap

matahari, revolusi bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis

adalah kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan

gesekan dasar.

Pasang surut sangat mempengaruhi organisme laut.Pernyataan ini sesuai

dengan pernyataan (Hutabarat,1985) bahwa pasang surut merupakan salah satu

gejala laut yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan biota laut, khususnya

diwilayah pantai.

4.2.5. Arus Laut

Arus adalah proses pergerakan massa air menuju kesetimbangan yang

menyebabkan perpindahan horizontal dan vertikal massa air(ilmu kelautan,


55

2011).Kisaran arus baik yang bertama maupun yang kedua yaitu sekitar 0.004-

1.793 m/s.

Pada saat pengukuran arus dilakukan sebanyak dua kali di waktu dan hari

yang berbeda. Fluktuasi kecepatan arus yang dihasilkan relatif stabil. pada

pengukuran arus pertama kecepatan arus tertinggi/tercepat berada pada stasiun III

yaitu 0.16 m/s, sedangkan kecepatan arus terendah berada pada stasiun Iyaitu

0.057 m/s dengan arah arus yang dihasilkan barat laut dan arah angin barat laut

pula.Pada pukul 14:00 WITAair laut mendekati surut dengan kedalaman 160 cm.

Sedangkan pada pengukuran arus yang kedua kecepatan arus tertinggi

berada pada stasiun V yaitu 1.793 m/s, dan kecepatan arus terendah berada pada

stasiun IX yaitu 0.004 m/s, dengan arah arus selatan dengan arah angin barat.

Pada pukul 07:00 WITAair laut bergerak menuju pasang dengan kedalaman 117

cm. Faktor yang mempengaruhi kecepatan arus yaitu angin dan topografi, hal ini

sesuai dengan pernyataan (Rahma, widyastuti, 2010).

Arus laut memiliki hubungan yang sama dengan pasang surut dimana

organisme laut juga bergantung pada kedua parameter ini, khususnya ikan,para

ikan selalu berenang melawan arus. Ikan juga dapat bereaksi terhadap perubahan

lingkungan yang terjadi akibat dari perubahan arus. Hal ini sesuai dengan

pernyataan (Hutabarat, 1987) yang mengatakan bahwa arus dapat mempengaruhi

distribusi ikan dan secara tidak langsung mempengaruhi pengelompokkan

makanan.Ikan juga secara tidak langsung bereaksi terhadap perubahan lingkungan

yang diakibatkan oleh arus.


56

4.2.6. Gelombang

Menurut Supangat(2000),gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya

air dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik

sinusoidal. Fluktuasi gelombang berbeda pada setiap stasiunnya. Panjang

gelombang berkisar antara 1.1-89 cm, panjang gelombang tertinggi terdapat pada

stasiun I yaitu 89 cm, sedangkan panjang gelombang terendah berada pada stasiun

III yaitu 1.1 cm.

Tinggi gelombang berkisar antara 4-18.7 cm, tinggi gelombang terbesar

berada pada stasiun V yaitu 18.7 cm, sedangkan Tinggi terendahnya berada pada

stasiun III yaitu 4 cm. Periode gelombang berkisar antara 1-6.05 sekon. Periode

tercepat berada pada stasiun IV yaitu 1 sekon, sedangkan periode yang lama

terdapat pada stasiun VIII yaitu 6.05 sekon. Arah angin yang dihasilkan berada

pada timur laut, sedangkan arah gelombangnya yaitu timur laut dan selatan,

namun cenderung kearah timur laut. Pukul 08.00 air laut bergerak pasangdengan

kedalaman 137 cm.

Gelombang tidak berpengaruh terhadap kedalaman. Semakin Dalam suatu

perairan maka kemungkinan besar tidak terjadi gelombang pada daerah tersebut.

Gelombang juga memiliki hubungan erat dengan pasang surut, untuk mencapai ke

pesisir pantai gelombang harus bersatu dengan pasang surut. Besar pasang surut

yang terjadi dipesisir pantai bergantung pada gelombang.

Salah satu faktor penyebab besar kecilnya panjang, tinggi, dan periode

gelombang ialah adanya angin. Pernyataan ini sesuai dengan peryataan

(Samulano,2012) yang menyatakan bahwa ada tiga energi yang menentukan


57

karakteristik gelombang yang dibangkitkan olehangin, yaitu: lama angin bertiup

atau durasi angin, kecepatan angin, dan fetch.

4.2.7. pH

Derajat keasaman atau pH merupakan suatu indeks kadar ion hydrogen

(H+) yang mencirikan keseimbangan asam dan basa. Pada pengukuran pH di

perairan pulau bokori berkisar antara 7-8 ppt, dari hasil tersebut dapat diketahui

bahwa pH diperairan tersebut mengandung basa lemah, hal ini di karenakan

perairan di pulau tersebut tidak tercemar, sehingga kandungan pHnya relative

stabil. Hal ini sesuai dengan pernyataan(Sary, 2006), yang menyatakan bahwa

perairan dapat dijadikan indikator dari adanya keseimbangan unsur-unsur kimia

dan dapat mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur kimia dan unsur-unsur hara

yang sangat bermanfaat bagi kehidupan vegetasi akuatik. Tinggi rendahnya pH

dipengaruhi oleh fluktuasi kandungan O2 maupun CO2.

4.2.8. Topografi dan Sedimen

8.1. Topografi

Topografi ialah bentuk rupa permukaan bumi yang teerbentuk dari

berbagai faktor baik dari tenaga endogen maupun eksogen(Hutabarat,1985).


58

Perairan pantai pulau bokori memiliki tipe pantai yang landai dan curam,

serta memiliki tipe substrat yang berpasir. pengukuran topografi dimulai pada

garis pantai untuk semua stasiun. Tujuan dari pengukuran ini yaitu untuk mencari

panjang garis pantai untuk setiap kedalaman 25, 50, 75, 100, 125, dan 150 cm.

pada kedalaman 25 cm panjang pengukuran topografi yang diukur dari garis

pantai berkisar 1.45-3.44 cm, pengukuran terpanjang berada pada stasiun IVyaitu

3.44 cm, sedangkan pengukuran terpendek berada pada stasiun Vyaitu 1.45 cm.

Pada kedalaman 50 cm pengukuran berkisar 1.9-10.91 cm, pengukuran

tertinggi terdapat pada stasiun IV yaitu 10.91 cm, sedangkan pengukuran terendah

berada pada stasiun V yaitu 1.9 cm. Pada kedalaman 75 cm, pengukuran berkisar

3.37-14.90 cm, pengukuran tertinggi terdapat pada stasiun IV yaitu 14.90 cm,

sedangkan pengukuran terendah berada pada stasiun V yaitu 3.37 cm.

Pada kedalaman 100 cm pengukuran berkisar 5.07-20.16 cm, pengukuran

tertinggi terdapat pada stasiun VI yaitu 20.16 cm, sedangkan pengukuran terkecil

terdapat pada stasiun V yaitu 5.07 cm. Pada kedalaman 125 cm pengukuran

berkisar 9-32.86 cm, pengukuran tertinggi terdapat pada stasiun IV yaitu 32.86

cm, sedangkan pengukuran terendah terdapat pada stasiun V yaitu 9cm.

Pada kedalaman 150 cm, pengukuran berkisar 38.37-94.98 cm,

pengukuran tertinggi terdapat pada stasiun VII yaitu 94.98 cm, sedangkan

pengukuran terendahnya berada pada stasiun V yaitu 38.37 cm.

Faktor penyebab Panjang pendeknya pengukuran topografi ialah tipe

pantai yang cenderung landai dan curam. Pantai bokori memiliki pantai yang

landai dan curam. Jenis stasiun yang memiliki pantai curam yaitu stasiun III dan
59

IV, sedangkan stasiun yang memiliki topografi pantai yang landai terdapat pada

stasiun I, II, V, VI, VII, VIII dan IX.

Salah satu penyebabnya yaitu sering terjadinya pengikisan pantai yang

disebabkan oleh bencana alam dan adanya gelombang.Pernyataan ini sesuai

dengan pernyataan (Wardani,2008) yang menyatakan bahwa salah satu faktor

yang mempengaruhi topografi yaitu adanya pergeseran lempeng, bencana

alam,berupa pengikisan pantai sehingga menimbulkan dasar khususnya daerah

pantai menjadi curam, selain itu faktor lainnya yaitu adanya gelombang yang tiap

harinya terus menuju pantai.

8.2. Sedimen

Sedimen adalah partikel hasil dari pelapukan batuan, material biologi,

endapan kimia, debu, material sisa tumbuhan dan daun (Karleskint, G, Turner, R,

Small, J. 2010). Setelah melakukan proses penyaringan terdapat lima kategori

ukuran substrat yaitu 2.36 mm, 2 mm, 1.7 mm, 150 m, dan 90 m yang memiliki

massa yang berbeda-beda. Jenis substrat yang dihasilkan setelah melakukan

penyaringan (sieve shaker) berupa kerikil, kerikil kecil, dan pasir halus. setelah

ditimbang dengan menggunakan timbangan mempunyai massa yang berbeda-beda

pada setiap stasiunnya, massa awal substrat sekitar 100 gram.

Substrat yang dominan yaitu kerikil kecil dan terdapat pada stasiun

pertama dengan kedalaman50 cm. Hal ini karena topografi pada stasiun ini

bersifat landai. Faktor yang mempengaruhi sedimen ialah topografi dan

gelombang, pernyataan ini sesuai dengan pernyataan (Rositasari,R dan

witasari,Y,2011) yang mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi


60

terbentuknya sedimen adalah iklim, topografi, vegetasi, gelombang dan juga

susunan yang ada dari batuan.


61

V. KESIMPULAN

5.1. Simpulan

Adapun simpulan dari makalah ini yaitu:

1. Fluktuasi suhu perairan bokori berkisar 29-32.5, kecerahan rata-rata 8.16

meter, sedangkan salinitasnya berkisar 30-32 ppt. Salah satu faktor

penyebabnya yaitu pancaran sinar matahari.


2. Tipe pasut yang dihasilkan yaitu tipe pasut berganda (Semi Diurnal Tide).

Faktor yang mempengaruhinya yaitu pengaruh Revolusi bulan dan kedalaman.


3. Kecepatan arus yang diperoleh Berkisar 0.004-1.793 m/s. Arus disebabkan oleh

angin yang berhembus kearah barat.


4. Karakteristik gelombang dapat ditentukan melalui lama angin bertiup, Adapun

faktor utama penyebab terjadinya gelombang yaitu tiupan angin dan adanya

arus.
5. Bentuk topografi di pantai bokori umumnya landai, berpasir dan curam, serta

sedimen yang dihasilkan berupa kerikil, kerikil-kerikil kecil dan pasir halus.

5.2. Saran
1. Proses praktik lapangan berjalan baik semoga kedepannya dapat lebih baik

lagi.
2. Perlu bertambahnya asisten agar masing-masing kelompok memiliki asisten

yang tetap.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. PetunjukPraktikum Oseanografi, Laboratorium Ekologi Perairan.


Yogyakarta: UGM,FakultasPertanian,Jurusan Perikanan,Program Studi
Manajemen Sumberdaya Perairan.
62

Anonim. 2011. Profinsi Sulawesi Tenggara Profil Kehutanan. Kendari: Dinas


Kehutanan Sultra.
Bird, E.C.F. 1996. Beach Management. England:

Bhatt, JJ. 1978. Ocenography.New York: D. Van Nostran Company.

Boer, M., K. A. Aziz, J. Widodo, A. Djamali, A. Ghofar dan R. Kurnia. 2001.


Potensi, Pemanfaatan dan Peluang Pengembangan Sumberdaya Ikan
Laut di Perairan Indonesia. Bogor: Institut Pertanian Bogor, Direktorat
Riset dan Eksplorasi Sumberdaya Hayati, Direktorat Jenderal
Penyerasian Riset dan Eksplorasi Laut, Departemen Kelautan dan
Perikanan Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Perikanan Laut-
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan.

Boer, R. 2008. FenomenaENSO dan Hubungannya dengan Keragaman Hujan di


Indonesia. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Djoko, Ridwan. 2004. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.

Elly, Muhamad Jafar. 2009. Sistem Informasi geografi. Yogyakarta: Graha Ilmu

Gross, M. 1990.Oceanography Sixth Edition.New Jersey: Prentice-Hall.Inc.

Hutabarat,Sahala. 1985. Pengantar Oseanografi.Jakarta: Universitas Indonesia.

Hutabarat & Evans.1985. Pengantar Oseanografi. Jakarta:Universitas Indonesia


(UI- Press).
Hutabarat, S dan Evans, Stewart M.2006. Pengantar Oseanografi.Jakarta:
Universitas Indonesia (UI-Press).

Hutabarat, Sahala & M.E Stewart. 2008.Pengantar Oseanografi. Jakarta:


Universitas Indonesia.

Hamid, Muhammad. 2005. Ilmu Pengetahuan Sosial-Geografi.Jakarta: Direktorat


Jenderal Pendidikan Dasar, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

Nontji, Anugerah.2007. Laut Nusantara. Jakarta:Djambatan.

Nybakken, james W. 1992.Biologi Laut. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka.


63

Pinet. 1992.Oceanography: An Introduction to the Planet Oceanus. New York:


West Publishing Company.
Pond, S dan G.L. Pickard. 1983. Introductory Dynamical Oceanography, 2th
edition. Semarang: Pergamon Press.
Purnomo. 2012.Oceanografi Gelombang Laut. Jakarta:Erlangga.

Poerbandono dan E. Djunasjah. 2005.Survei Hidrografi. Bandung: PT. Refika


Aditama.

Kasijan. 2009. Biologi Laut. Jakarta:Djambatan.

Rositasari, R dan Witasari, Y. 2011.Kajian Paleoklimat Berdasarkan


KarakteristikMineral dan Foraminifera di Pesisir Cirebon, Jawa Barat.
Jakarta: Pusat PenelitianOseanografi LIPI, 37(1): 19-28
Rahma widyastuti, dkk. 2010. Pemodelan Pola Arus Laut Permukaan Di
Perairan Indonesia Menggunakan Data Satelit Altimetri Jason-1.
California: Institute Oceanography, Scripps Report Vol.2.

Rudiastuti, Aninda Wisaksanti. 2008.Studi Sebaran Klorofil-A Dan


SuhuPermukaan Laut (SPL) Serta Hubunganya Dengan Distribusi
KapalPenangkap Ikan Melalui Teknologi Vessel Monitoring System
(VMS).Bogor: Institut Pertanian Bogor, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan,Ilmu dan Teknologi Kelautan, Skripsi.
Suhartati M. 2010. Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan
diTeluk Ambon. Ambon:Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, E-Jurnal
Vol. 2 (2): 9-18
Sihotang. 2006. Suhu Air Laut. Jakarta: PT. Gramedia.

Sutikno. 1999. Karakteristik Bentuk Pantai PUSPIC. Yogyakarta: UGM.

Sediandi dan Yusuf. 1993.Stratifikasi Biomasa Fitoplankton dalam kaitannya


dengan tingkat kecerahan di perairan teluk Waisaria,Pulau
Seram,MalukuTengah. Maluku: Jurnal
64

Supangat, A dan Susanna. 2008.Oseanografi: Pusat Riset Wilayah Laut


danSumberdaya Non-hayati. Jakarta: Departemen Kelautan dan
Perikanan, Badan Riset Kelautan dan Perikanan.
Sahala, Hutabarat dan Stewart M. Evans. 1984.Pengantar Oseanografi. Jakarta:
UniversitasIndonesia Press.
Sucipto, Adi. 2008. Pengaruh salinitas dalam proses ormoregulasi ikan. Jakarta:
PT. Gramedia.
Supangat, Agus. 2000. Pengantar Oseanografi. Bandung: ITB.

Sverdrup, Keith A.dkk, 2006.Fundamentals of Oceanography.Washington DC:


McGraw-Hill.

Triatmodjo, B. 1999. Teknik Pantai. Yogyakarta: Beta Offset.

Wibisono. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Jakarta:Universitas Indonesia (UI-


Press).
Wyrtki, K. 1961. Phyical Oceanographyof the South East Asian. Semarang:
Waters Naga.

Wardani, Wahyu.2008.Oseanography.Malang:UNM, Program Geografi.

Wignyonsukarto, Budi, 1986.Perambatan Gelombang Pasang Surut Sebuah


Metode Analitik.Jakarta:
65

LAMPIRAN

(Sieve shaker) (Timbangan digital)

Gambar 2.Alat yang digunakan pada laboratorium

(Thermometer) (Secchi disk)

(Kompas) (Meteran Roll)


66

(Meteran Pita) (Pelampung)

(Lakban bening) (Pipa paralon)

(Plastik sampel) (selang bening)


67

(Tali rafia) (Tongkat)

(Tisu gulung) (Layangan arus)

(Pemberat) (Hendrefraktometer)

Gambar 3. Peralatan praktik lapangan