Anda di halaman 1dari 30

Kaitan Ilmu Lingkungan dengan Kehidupan

(Aliran Energi, Materi, Informasi, Nutrient Cycle)

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah


Teori Farmasi Lingkungan

Disusun oleh :
Ashry Nurrachmah M.P (31113007)
Citra Purnamasari (31113009)
Dede Isna Lisnawati (31113010)
Dewi (31113011)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAKTI TUNAS HUSADA


PRODI S-1 FARMASI
TASIKMALAYA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. Wb.


Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat
dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan tugas Makalah Biologi yang berjudul
Kaitan Ilmu Lingkungan dengan Kehidupan (Aliran Energi, Materi, Informasi,
Nutrient Cycle).

Dalam makalah ini saya menjelaskan keterkaitan atau hubungan antara


ilmu lingkungan dengan kehidupan sekitarnya. Saya menyadari, dalam makalah
ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Hal ini disebabkan terbatasnya
kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki. Tak lupa saya
ucapkan terimakasih karena banyak pihak yang telah membantu saya dengan
menyediakan sumber informasi dan memberikan masukan pemikiran. Oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
perbaikan kearah kesempurnaan.

Kami sadar pembuatan makalah ini maasih banyak kesalahan, baik dalam pembuatan
dan isinya. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan .
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang mau membaca
dan mempelajari makalah ini.
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan
mahasiswa/mahasiswi STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya pada khusunya.

Akhir kata saya sampaikan terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Tasikmalaya, 8 Februari 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................i
Kata Pengantar..................................................................................................1
Daftar isi...........................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................3
1.1 Latar Belakang................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................3
1.3 Tujuan.............................................................................................3
BAB II PERMASALAHAN.............................................................................4
2.1Energi dalam Ekosistem...................................................................4
2.1 Aliran Energi...................................................................................6
3.1 Piramida Ekologi.............................................................................................6
3.2 Piramida Jumblah............................................................................8
3.3 Piramida Berat (Biomassa).............................................................9
3.4 Piramida Energi...............................................................................10
3.5 Produktivitas Ekosistem..................................................................11
BAB IV PENUTUP..........................................................................................12
3.1 Kesimpulan.....................................................................................12
3.2 Saran...............................................................................................12

3.3 Daftar Pustaka.................................................................................13


BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG

Biologi merupakan salah satu cabang ilmu dari Ilmu Pengetahuan


Alam (IPA). Istilah biologi di pinjam dari Bahasa Belanda, biologie, yang
juga di turunkan dari gabungan kata Bahasa Yunani, bios yang artinya
hidup, dan logos yang artinya lambang atau ilmu. Biologi adalah ilmu
yang mempelajari tentang makhluk hidup. Dalam pengembangan
penerapan biologi yang di kenal sebagai biologi terapan, biologi dapat
di hubungkan dengan berbagai ilmu, seperti kimia, fisika, matematika,
tehnik informatika, dan ilmu-ilmu lainnya. Biologi tidak hanya berfokus
mempelajari tentang makhluk hidup yang ada saat ini tetapi juga
mempelajari makhluk hidup yang ada di masa lampau. Tidak hanya
mempelajari tentang makhluk hidup saja, biologi juga mempelajari
tentang segala aspek yang menyertainya termasuk lingkungan.

Ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup dengan


lingkungannya sering disebut Ekologi. Ekologi merupakan salah satu
cabang biologi yang mempelajari pengaruh lingkungan terhadap jasad
hidup, seperti manusia, hewan, dan tumbuhan. Lingkungan dengan
biologi saling berkaitan satu sama lain. Mempelajari lingkungan artinya
mempelajari biologi. Dalam makalah yang berjudul Hubungan Biologi
dengan Lingkungan (Ekologi) ini akan di bahas mengenai hubungan
atau keterkaitan antara biologi dengan lingkungan yang sering disebut
Ekologi.

2. RUMUSAN MASALAH
1. apa yang dimaksud dengan ekologi dan ruang lingkup
ekologi ?
2. Apa saja keterkaitan atau hubungan antara cabang ilmu biologi
dengan lingkungan sekitar?
3. apa keterkaitan antara ilmu lingkungan dengan aliran energi ?
4. apa keterkaitan antara ilmu lingkungan dengan materi ?
5. apa keterkaitan antara ilmu lingkungan dengan informasi ?
6. apa keterkaitan antara ilmu lingkungan dengan nurient cycle?
3. TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah tersebut adalah sebagai berikut :

1. untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan ekologi dan ruang


lingkup ekologi.
2. Untuk mengetahui keterkaitan atau hubungan antara cabang ilmu
biologi dengan lingkungan sekitarnya.
3. apa keterkaitan antara ilmu lingkungan dengan aliran energi ?
4. apa keterkaitan antara ilmu lingkungan dengan materi ?
5. apa keterkaitan antara ilmu lingkungan dengan informasi ?
6. apa keterkaitan antara ilmu lingkungan dengan nurient cycle?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ekologi


Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di daerah perdesaan, tentunya Anda sering
melihat petani sedang mencangkul lahan, membajak, menanam, mengairi sawah, memupuk,
dan kegiatan lainnya. Kegiatan petani ini sebetulnya telah dilakukan jauh beberapa abad yang
lalu. Secara tidak langsung mereka sudah mengetahui adanya hubungan antara tanaman
dengan tanah, tanaman dengan air, tanaman dengan unsur hara, dan lain sebagainya. Apa
yang dilakukan petani tersebut sebenarnya sudah mengaplikasikan tentang ekologi. Jadi
aplikasi ekologi sebenarnya telah dilakukan oleh manusia jauh sebelum istilah ekologi itu
sendiri diperkenalkan oleh para pakar ekologi. Pada pertanian masa kini, manusia sudah
banyak menerapkan prinsip-prinsip alami untuk mendukung proses-proses ekologis yang
baik. Pada jaman nenek moyang bertani dengan cara masih sangat sederhana, tetapi pada saat
ini telah menerapkan prinsip-prinsip ekologi. Misalnya penggunaan pupuk kandang, pupuk
hijau, kompos, dan pupuk alam lainnya. Pada dasarnya masyarakat petani sudah mengetahui
bahwa dalam kotoran ternak, kompos, maupun daun-daunan mengandung hara yang
diperlukan tanaman, sehingga dengan apa yang dilakukan oleh petani tersebut membantu
proses-proses ekologis terutama dalam hubungannya dengan pendauran/ siklus hara.
Ekologi dikenal sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara
makhluk hidup dengan lingkungannya. Makhluk hidup dalam kasus pertanian adalah
tanaman, sedangkan lingkungannya dapat berupa air, tanah, unsur hara, dan lain-lain. Kata
ekologi sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu oikos dan logos. Oikos
artinya rumah atau tempat tinggal, sedangkan logos artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi
semula ekologi artinya ilmu yang mempelajari organisme di tempat tinggalnya. Umumnya
yang dimaksud dengan ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara
organisme atau kelompok organisme dengan lingkungannya. Saat ini ekologi lebih dikenal
sebagai ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi dari alam. Bahkan ekologi dikenal
sebagai ilmu yang mempelajari rumah tangga makhluk hidup.
Kata ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Ernst Haeckel seorang ahli biologi
Jerman pada tahun 1866. Beberapa para pakar biologi pada abad ke 18 dan 19 juga telah
mempelajari bidang-bidang yang kemudian termasuk dalam ruang lingkup ekologi. Misalnya
Anthony van Leeuwenhoek, yang terkenal sebagai pioner penggunaan mikroskop, juga
pioner dalam studi mengenai rantai makanan dan regulasi populasi. Bahkan jauh sebelumnya,
Hippocrates, Aristoteles, dan para filosuf Yunani telah menulis beberapa materi yang
sekarang termasuk dalam bidang ekologi.

2.1.1 Ruang Lingkup Ekologi


Setiap ilmu memiliki batas-batas wilayah studi. Perlu dimaklumi bahwa batas wilayah
kerja suatu ilmu umumnya bertumpang tindih dengan batas-batas wilayah kerja dari ilmu-
ilmu lain. Sehubungan dengan itu maka sudah selayaknya kalau kita ingin mengetahui juga
batas wilayah kerja dari ilmu ekologi. Untuk mempelajari gambaran yang cukup jelas tentang
batas-batas wilayah kerja dari ilmu ekologi dapat kiranya dipergunakan konsep model dari
Miller. Konsep tersebut beranggapan bahwa seluruh alam semesta merupakan suatu
ekosistem yang tersusun oleh berbagai komponen atau kesatuan. Dalam suatu ekosistem satu
atau sekelompok komponen tak dapat berdiri sendiri terlepas dari kelompok kesatuan lain.
Dalam hal ini kesatuan kelompok komponen pertama akan merupakan satuan kelompok
kedua, kesatuan kelompok komponen kedua akan menyusun kesatuan kelompok ke tiga,
demikian seterusnya. Atas dasar pemikiran itu Miller menyusun konsep model atas ekosistem
alam semesta. Konsep model dimaksud dapat dituangkan dalam bentuk grafik (Gambar 1.1).
Menurut konsep tersebut bagian-bagian atom akan membentuk satuan atom. Satuan atom
akan membentuk satuan molekul, dan satuan-satuan molekul seterusnya akan membentuk
satuan protoplasma, demikian proses pembentukan satuan lainnya.
Dalam konsep model tersebut ditetapkan selanjutnya batas-batas wilayah kerja dari
berbagai pengetahuan. Kita melihat batas-batas dari: (1) daerah mati atau daerah tanpa
adanya jasad-jasad hidup, (2) daerah hidup atau daerah yang dihuni oleh jasad-jasad hidup
dan (3) daerah yang masih merupakan tanda tanya. Dipaparkan pula batas-batas yang
dinamakan: (1) daerah dari benda-benda submikroskopis, (2) daerah dengan benda dan jasad
mikroskopis, (3) daerah makroskopis, dan (4) daerah kosmis.
Dalam model tersebut ditampilkan batas wilayah kerja ilmu ekologi, yaitu batas
terbawah adalah tingkat organisme atau tingkat individu dan batas teratas adalah tingkat
biosfer.
Secara ringkas, ruang lingkup ekologi dapat digambarkan melalui spektrum biologi,
yang menggambarkan aras-aras organisasi kehidupan sebagai berikut :
1. Protoplasma adalah zat hidup dalam sel dan terdiri atas senyawa organik yang kompleks,
seperti lemak, protein, dan karbohidrat.
2. Sel adalah satuan dasar suatu organisme yang terdiri atas protoplasma dan inti yang
terkandung dalam membran. Membran merupakan komponen yang menjadi pemisah dari
satuan dasar lainnya.
3. Jaringan adalah kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi sama, misalnya jaringan
otot.
4. Organ atau alat tubuh merupakan bagian dari suatu organisme yang mempunyai fungsi
tertentu, misalnya kaki atau telinga pada hewan, dan daun atau akar pada tumbuhan.
5. Sistem organ adalah kerja sama antara struktur dan fungsi yang harmonis, seperti kerja
sama antara mata dan telinga, antara mata dan tangan, dan antara hidung dengan tangan.
6. Organisme adalah suatu benda hidup, jasad hidup, atau makhluk hidup.
7. Populasi adalah kelompok organisme yang sejenis yang hidup dan beranak pada suatu
daerah tertentu. Contohnya populasi rusa di pulau Jawa, populasi banteng di Ujung Kulon,
populasi badak di Ujung Kulon, dan populasi ayam kampung di Jawa Barat.
8. Komunitas adalah semua populasi dari berbagai jenis organisme yang menempati suatu
daerah tertentu. Di daerah tersebut setiap populasi berinteraksi satu dengan lainnya. Misalnya
populasi rusa berinteraksi dengan populasi harimau di Pulau Sumatra atau populasi ikan mas
berinteraksi dengan populasi ikan mujair.
9. Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur
lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan hubungan timbal balik
yang kompleks antara makhluk hidup dengan lingkungannya, baik yang hidup maupun tak
hidup (tanah, air, udara, atau kimia fisik) yang secara bersama-sama membentuk suatu sistem
ekologi.
10. Biosfer adalah lapisan bumi tempat ekosistem beroperasi. Lapisan biosfer kira-kira 9000
m di atas permukaan bumi, beberapa meter di bawah permukaan tanah, dan beberapa ribu
meter di bawah permukaan laut.
Karena luasnya wilayah kerja ada bagian-bagian dari ilmu ekologi yang
mengkhususkan penelitiannya pada bagian-bagian wilayah kerja tertentu. Pada mulanya
pakar-pakar ekologi tumbuhan menaruh perhatian terhadap hubungan antartumbuhan.
Misalnya bagaimana hubungan pertumbuhan padi dengan gulma yang sama-sama tumbuh
pada suatu petak sawah. Para pakar ekologi hewan mempelajari dinamika populasi dan
perilaku hewan, misalnya bagaimana populasi badak bercula satu di Ujung Kulon, berikut
penyebarannya sampai di mana, jumlah hewan jantan dan betina, dan cara berkembang
biaknya.
Studi ekologi tumbuhan dan hewan dikelompokkan menjadi dua, yaitu autekologi dan
sinekologi.
Autekologi merupakan studi hubungan timbal balik suatu jenis organisme dengan
lingkungannya yang pada umumnya bersifat eksperimental dan induktif.

Gambar 1.1.
Konsep model tentang batas-batas kesatuan lingkungan yang terdapat di alam
Sinekologi merupakan studi dari kelompok organisme sebagai suatu kesatuan yang lebih
bersifat filosofis, deduktif, dan umumnya deskriptif.
Contoh studi autekologi adalah ekologi tikus yang diberi perlakuan tertentu, misalnya
sebagian ruang geraknya terbatas, sebagian yang lain ruang geraknya bebas, lalu diukur
perkembangan otaknya setelah waktu tertentu dan dibandingkan satu sama lain. Contoh studi
sinekologi adalah ekologi hutan hujan tropis yang mengkaji berbagai jenis tumbuhan yang
ada, populasi masing-masing jenis, kerapatan persatuan luas, fungsi berbagai tumbuhan yang
ada, kondisi hutan atau tingkat kerusakan, hubungannya dengan tanah, air, atau komponen
fisik lainnya. Mengacu kedua contoh tersebut, jelas kedua pendekatan sangat berbeda.

Pada perkembangannya autekologi telah mempelajari berbagai jenis hewan maupun


tumbuhan. Demikian pula sinekologi yang kemudian dapat dibedakan lagi, antara lain
menjadi ekologi perairan tawar, ekologi daratan (terestrial), dan ekologi lautan. Sinekologi
juga telah berkembang ke berbagai ekosistem yang ada di permukaan bumi. Perkembangan
ekologi jelas sangat diharapkan dalam dunia ilmu pengetahuan terutama dalam menunjang
pembangunan.
Di samping pengelompokan tersebut, ada pengamat lingkungan yang membuat kajian
ekologi menurut habitat atau tempat suatu jenis atau kelompok jenis tertentu. Oleh karena itu
ada istilah ekologi bahari atau kelautan, ekologi perairan tawar, ekologi darat atau terestrial,
ekologi estuaria (muara sungai ke laut), ekologi padang rumput, dan lain-lain.
Pengelompokan yang lain adalah menurut taksonomi, yaitu sesuai dengan sistematika
makhluk hidup, misalnya ekologi tumbuhan, ekologi hewan (ekologi serangga, ekologi
burung, ekologi kerbau, dan lain sebagainya), serta ekologi mikroba atau jasad renik.

2.2.2 Kedudukan dan Perkembangan Ekologi


Sebagai bagian dari biologi, ekologi merupakan bagian dasar. Ekologi sejajar dengan
bagian dasar yang lain, misalnya biologi molekuler, biologi perkembangan, genetika,
fisiologi, dan morfologi. Ekologi mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan
ilmu dan teknologi. Perkembangan ekologi mempengaruhi ilmu yang lain, demikian juga
perkembangan ilmu yang lain mempengaruhi ekologi.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa ekologi berasal dari kata oikos yang
artinya rumah dan logos yang artinya ilmu. Secara harfiah ilmu ekologi adalah suatu ilmu
yang mempelajari tata rumah atau tata rumah tangga manusia. Lambat laun bidang ilmu
penelitian ekologi tidak terbatas pada manusia dan lingkungannya, tetapi penelitian juga
meluas sampai pada penelitian atas semua jasad hidup dan lingkungannya. Ilmu ekologi
dalam menganalisis tata lingkungan mempergunakan konsep model lingkaran. Lingkaran
yang melukiskan proses rumah tangga lingkungan lazim dikenal dengan nama lingkaran
energi, materi, dan informasi (Gambar 1.2). Dalam proses tersebut dikenal 2 golongan,
yaitu: (1) golongan produsen, (2) golongan konsumen (termasuk jasad hidup pengurai).
Selama proses aliran energi dan materi tidak terganggu, selama itu pula tata lingkungan tetap
dalam keseimbangan ekologis.
Pada Gambar 1.2 menunjukkan bahwa ilmu ekologi mencurahkan perhatiannya pada
pengaliran energi, materi, dan informasi. Jadi pada gambar tersebut tampak adanya hubungan
antara kehidupan masyarakat dengan lingkungannya.
Corak pertumbuhan dan perkembangan ilmu ekologi, seorang ahli ilmu hayat
pencipta ilmu ekologi bernama Haeckel (1866) mengemukakan bahwa ilmu ekologi
tergolong dalam disiplin biologi, karena ilmu ekologi mempelajari persyaratan biologis
bagi jasad dan makhluk hidup dalam lingkungannya. Justru dari kalangan para ahli biologi,
ilmu ekologi tidak mendapatkan perhatian secara layak. Ada beberapa ahli yang
mengembang-kan ilmu ekologi, di antaranya adalah ahli dalam bidang geografi fisik dan
biografi.
Ilmu ekologi pada awalnya merupakan suatu pengetahuan umum dan hanya
mempelajari hubungan lingkungan secara individual atas dasar fisiologi. Pada waktu itu para
cendekiawan, khususnya dari kalangan ilmu alam, kurang menaruh perhatian pada berbagai
ilmu yang sifatnya umum, tetapi orang lebih banyak mengarahkan perkembangan ilmu-ilmu
ke arah spesialisasi. Walaupun perhatian orang terhadap ilmu ekologi jika dibandingkan
dengan ilmu lain, terutama ekonomi dan politik kurang memadai, namun ekologi terus
berkembang. Sebagai bukti bahwa ilmu ekologi dapat terus berkembang dan melebarkan
sayapnya ke bidang-bidang lain seperti botani, dan zoologi.
2.2 Hubungan Ilmu Biologi dengan Lingkungan

Ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup disebut Biologi. Ilmu yang
mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan sesamanya dan
dengan lingkungannya sering disebut Ekologi. Struktur ekosistem menunjukkan
suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk
keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran materi (unsur hara), energi,
serta faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang menciptakan keadaan sistem
tersebut.

Fungsi ekosistem menunjukkan hubungan sebab akibat yang terjadi


secara keseluruhan antar komponen dalam sistem. Ini jelas membuktikan bahwa
ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal
balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya, serta
dengan semua komponen yang ada di sekitarnya. Pembahasan ekologi tidak
lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya,
yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban,
cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri
dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat
dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas,
dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang
menunjukkan kesatuan.

Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling melengkapi dengan


zoologi dan botani yang menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba
memperkirakan, dan ekonomi energi yang menggambarkan kebanyakan rantai
makanan manusia dan tingkat tropik. Ekologi mencoba memahami hubungan
timbal balik, interaksi antara tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dengan alam
lingkungannya, agar dapat menjawab pertanyaan; dimana mereka hidup,
bagaimana mereka hidup dan mengapa mereka hidup disana.
Gambar 1.2.
Hubungan antara manusia dan lingkungan dengan aliran materi, energi, dan informasi

Belakangan ini kebijakan pemerintah dan berbagai organisasi lain dalam


perlindungan alam dan lingkungan permukiman serta pemeliharaan dan pelestarian
lingkungan didasarkan atas hasil penelitian dan ajaran ilmu ekologi. Sebagai langkah lebih
lanjut dari ilmu ekologi yang patut disinggung adalah diperkenalkannya ekologi landscape.
Perhatian orang terhadap ilmu ekologi yang pada mulanya kurang, secara mendadak berubah.
Perubahan sikap para cendekiawan dan politisi atas ilmu ekologi terjadi setelah dunia dilanda
krisis lingkungan hidup manusia.
Pada dasawarsa 1970-an setelah diadakannya konferensi PBB tentang lingkungan
hidup Stockholm (1972), perhatian cendekiawan, politisi, dan pemerintah dari negara-
negara maju dan negara berkembang terhadap permasalahan lingkungan hidup berubah,
termasuk dalam dunia ilmu pengetahuan dan penelitian lingkungan. Salah satu resolusi yang
dihasilkan oleh konferensi Stockholm adalah didirikannya badan khusus dalam PBB yang
memperoleh tugas untuk mengurus permasalahan lingkungan. Nama badan itu ialah UNEP
(United Nations Environmental Program) yang berkedudukan di Nairobi (Kenya).
Pada setiap tanggal 5 Juni (hari pembukaan konferensi di Stockholm) oleh banyak
negara, termasuk di Indonesia dijadikan sebagai hari lingkungan hidup untuk
memperingatkan dunia atas bahaya yang terus-menerus mengancam lingkungan hidup kita.
Hal tersebut merupakan wujud dari perkembangan ilmu ekologi.
Sementara itu, para pakar ekologi pada awalnya mempelajari ekologi berawal dari
geografi tumbuhan yang berkembang ke aspek lain yaitu komunitas tumbuhan yang
kemudian berkembang menjadi ekologi komunitas. Pada waktu yang hampir bersamaan juga
berkembang berbagai studi mengenai dinamika populasi atau ekologi populasi. Studi ini
kemudian berkembang menjadi ekologi perilaku. Perkembangan ini tentunya akan terus
berlanjut sejalan dengan berjalannya waktu.
Hingga beberapa tahun, dinamika populasi dan ekologi komunitas menjadi perhatian
besar bagi para pakar ekologi. Dengan adanya perhatian yang besar terhadap berbagai faktor
fisik lingkungan, kemudian timbul beberapa cabang ilmu ekologi seperti ekoklimatologi,
fisioekologi, dan ekoenergetika.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa ekologi adalah bagian dari biologi, tetapi ekologi
tidak dapat dipisahkan dari ilmu-ilmu yang lain, seperti ilmu fisika, kimia, serta ilmu bumi
dan antariksa. Ilmu fisika berperan penting dalam ekologi karena berbagai faktor fisik seperti
suhu, kelembaban, cahaya, hujan, dan faktor fisik lainnya banyak terkait dalam studi ekologi.
Ilmu kimia menduduki peran penting dalam ekologi karena proses kimia merupakan proses
yang mendukung studi ekologi. Misalnya dalam siklus C, P, N, K merupakan bagian penting
dari ekologi.
Ekologi modern memusatkan perhatian pada konsep ekosistem. Konsep ini
menyangkut beberapa asas dasar yang nanti akan diuraikan pada kegiatan belajar atau modul-
modul berikutnya. Penggunaan konsep ekosistem menuju kepada pendekatan baru yaitu
pendekatan sistem. Pendekatan ini meliputi penggunaan model-model matematika, yang
antara lain digunakan untuk menjelaskan secara lebih sederhana suatu ekosistem atau dapat
pula untuk meramal/menduga perubahan-perubahan yang akan terjadi pada masa yang akan
datang. Bahkan dalam perencanaan pembangunan, dapat diperkirakan dampak-dampak yang
akan terjadi pada suatu ekosistem sehingga dapat direncanakan pula bagaimana mengeliminir
dampak negatif yang akan terjadi.

2.2.1. Ilmu Lingkungan

Adalah ilmu yang mempelajari penerapan berbagai prinsip dan ketentuan ekologi di
dalam kehidupan manusia. Oleh sebab itu, ilmu lngkungan disebut sebagai applied ecology
Arti lingkungan hidup :
mahluk hidup lain bukan sekedar kawan hidup bersama manusia secara pasiv atau netral,
melainkan sangat terkait dengan mereka, tanpa mereka, manusia tidak dapat hidup
sebagai contoh, bagaimana bila di bumi ini tidak ada oksigen dan makanan ? dari tumbuhan
dan hewan manusia memperoleh materi dan energi
sebaiknya disadari, bahwa manusia membutuhkan mahluk hidup lain untuk kelangsungan
hidupnya (manusia, tumbuhan, hewan, jasad renik) yang menempati ruang tertentu, di mana
dalam ruang tersebut terdapat benda tidak hidup (abiotik) berupa tanah, air dan udara

Sifat lingkungan ditentukan oleh berbagai hal, diantaranya :


1. jenis dan jumlah masing-masing unsur lingkungan tersebut
Lingkungan yang terdiri dari (10) manusia, (1) anjing, (3) burung, (1) pohon
kelapa, (1) bukit batu, akan berbeda sifatnya dengan lingkungan yang terdiri dari
(1) manusia, (10) anjing, tertutup rimbun pohon bambo, tanpa bukit batu (rata)
2. hubungan atau interaksi antara unsur dalam dalam lingkungan tersebut
Dua ruangan yang luasnya sama, dilengkapi perabot yang sama pula namun
dengan lay out berbeda, akan menghasilkan sifat ruangan yang berbeda pula
3. faktor kelakuan (kondisi) unsur lingkungan hidup
Sebagai contoh, kota dengan penduduk yang aktif dan bekerja keras akan
memiliki lingkungan yang lain dengan sebuah kota yang sikap penduduknya
santai dan malas bekerja. Atau, lingkungan daerah yang berlahan landai dan
subur dengan yang berlereng dan tererosi
4. non material

lingkungan panas, silau, dan bising akan berbeda dengan lingkungan sejuk yang dengan
cahaya cukup tapi tenang

Ekologi dan Ekosistem


Ekologi adalah ilmu yang mempelajari mahluk hidup dalam rumah tangganya atau ilmu yang
mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan sesamanya dan
dengan komponen lain di sekitarnya
Ekosistem adalah suatu satuan ekologi yang merupakan gabungan satu atau beberapa
komunitas yang berfungsi bersama komponen benda mati dalam suatu sistem.

2.2.2. Lingkungan Hidup


Lingkungan hidup, adalah sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia
terhadap tatanan ekosistem, sehingga Lingkungan Hidup dapat diartikan sebagai ekosistem
dimana terdapat keberadaan manusia atau kepentingan manusia di dalamnya.
Definisi Lingkungan Hidup menurut Undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan,
adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan
mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan peikehidupan serta
kesejahteraan manusia dan mahluk hidup lainny.

Manusia mempunyai potensi luar biasa dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya
untuk mengelola alam seisinya sejauh kemampuan dirinya. Tetapi ini tidak berarti bahwa
manusia mempunyai segala kewenangan untuk berbuat apa saja yang dikehendakinya di
bumi ini.

Pandangan yang menganggap manusia adalah sekedar subyek (pelaku) dari segala
keadaan di bumi adalah pandangan eksklusif, seolah-olah manusia berada di luar
lingkungannya sendiri, atau ini berati bahwa apapun yang terjadi di lingkungannya tidak
selalu akan menyangkut dirinya. Pandangan yang demikian disebut sebagai pandangan
transenden. Hal yang sebaliknya yakni pandangan inklusif, dimana manusia menjadi satu
dengan lingkungannya, yang disebut pula sebagai pandangan imanen.

Lingkungan hidup tidak dapat dielakkan dari azas ekologi yang membentuknya.
Berbagai asas yang dimaksud adalah :

1. Organisasi ekosistem

Suatu ekosistem pada umumnya dihuni oleh mahluk hidup yang mengelompok sebagai suatu
populasi. Berbagai populasi yang bersama-sama menghuni suatu wilayah disebut komunitas.
Dalam konsep ekosistem, komponen-komponen lingkungan hidup secara terpadu saling
terkait dan tergantung satu dengan lainnya didalam suatu sistem. Pendekatan ini disebut
sebagai pendekatan yang holistic

2. Sistem produksi, konsumsi dan dekomposisi

Sistem produksi dalam ekosistem erat hubungannya dengan daur materi dan daur energi.
Produksi primer dari suatu sistem berasal dari proses photosintesis yang dilakukan oleh
tumbuhan berhijau daun dengan pengikatan energi yang berasal dari sinar matahari dalam
bentuk karbohidrat.

Tumbuhan berhijau daun disebut produsen primer. Dalam proses daur materi dan
energi seterusnya produsen primer ini merupakan makanan konsumen primer, atau produsen
sekunder atau herbivore yakni hewan pemakan tumbuhan. Selanjutnya konsumsi primer ini
dapat menjadi mangsa (prey) dari konsumen sekunder yang dapat pula disebut produsen
tersier, predator atau karnivore
Baik produsen primer, sekunder atau predator dapat pula mengalami peruraian perombakan
atau dekomposisi menjadi bentuk bahan organik yang lebih sederhana oleh mahluk hidup
yang umumnya terdiri atas jasadrenik seperti jamur, bakteri, cacing, dsb

3. Rantai makanan

Rantai makanan menunjukkan hubungan makan memakan dalam sebuah ekosistem. Satu
organisme bergantung pada organisme lain yang lebih rendah dalam rantai makanan. Semua
organisme yang mengkonsumsi jenis makanan yang sama di dalam rantai makanan berada
dalam tahap tropis yang sama. Jadi, tumbuhan (produsen utama) termasuk dalam tahap tropik
yang pertama, herbivore (konsumen utama) termasuk dalam tahap tropik kedua, karnivore
(konsumen sekunder) yang memakan herbivore termasuk dalam tahap tropik ketiga dan
karnivore sekunder (konsumen tersier ), yakni yang memakan karnivore lain, termasuk dalam
tingkat tropik keempat. Melalui rantai makanan, energi dalam bentuk makanan berpindah dari
organisme-organisme dalam tahap tropik yang terakhir.

4. Materi dan energi

Dalam ekosistem materi akan mengalami daur, yang disebut sebagai daur materi. Sedangkan
energi akan mengalami aliran, jadi ada aliran energi. Hukum yang sangat penting dalam daur
materi dan aliran energi adalah hukum termodinamika, yaitu :
1. energi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan, hanya mengalami transformasi. Hal ini
yang dikenal dengan hukum kekekalan energi
2. Proses energi tidak pernah spontan, kecuali perombakan dari keadaan pekat menjadi encer.
Proses transformasi energi tidak ada yang terjadi dengan 100% efisien
Hukum termodinamika erat hubungannya dengan hukum entropi, yakni semua perubahan
yang menghasilkan energi adalah perombakan menjadi bentuk yang lebih sederhana, dan hal
itu selalu berlangsung dengan efisiensi yang tidak pernah mencapai seratus persen, oleh
karena itu selalu terjadi suatu kelebihan transformasi energi, Inilah yang berbentuk limbah.
Aliran energi merupakan proses ketika energi matahari beralih kedalam bentuk-bentuk lain
(seperti panas, kimia, mekanis) dan dialirkan kedalam lingkungan, melalui bermacam-macam
organisme di setiap tingkat tropik (dalam rantai makanan, dan akhirnya kembali ke
lingkungan). Aliran energi di dalam lingkungan merupakan salah satu komponen fungsional
utama yang melindungi ekosistem.

5. Keseimbangan

Ekosistem memiliki kemampuan untuk memelihara sendiri, mengatur sendiri serta


mengadakan keseimbangan kembali. Kemampuan seperti ini juga merupakan kemampuan
individual dari manusia atau mahluk hidup lainnya. Oleh karena itu dalam sistem kehidupan
ada kecenderungan untuk melawan perubahan atau setidaknya ada usaha untuk berada dalam
suatu keseimbangan (homeostatis)

6. Kelentingan

Suatu sistem akan memberikan tanggapan terhadap suatu gangguan, baik disengaja maupun
tidak, sesuai dengan kelentingan (resilience) yang dimilikinya. Dalam suatu sistem dengan
kelentingan yang besar, penyerapan gangguan tidak akan merubah stabilitas sistem itu,
artinya sistem yang mengalami gangguan tersebut, tetap merupakan sistem semula.
Sebaliknya sistem yang memiliki kelentingan kecil dengan gangguan yang sama besarnya,
dapat berubah menjadi suatu sistem baru. Jadi kelentingan sebenarnya merupakan sifat suatu
sistem yang memungkinkannya kembali pada stabilitas semula

7. Daya dukung dan strategi hidup

Daya dukung lingkungan (carrying capacity) adalah batas teratas dari pertumbuhan suatu
populasi, diatas mana jumlah populasi tidak dapat didukung lagi oleh sarana, sumberdaya dan
lingkungan yang ada.
Berdasarkan strategi kehidupannya, ada mahluk yang mempunyai strategi hidup
memperhatikan daya dukung lingkungan, dan akan menekan pertumbuhan populasinya
apabila jumlahnya sudah mendekati kemampuan daya dukung lingkungannya. Ciri utama
mahluk hidup yang demikian adalah yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
sekitarnya.
Sebaliknya ada mahluk yang mempunyai strategi hidup tidak mempedulikan batas daya
dukung lingkungan, mereka berkembang biak menurut nalurinya, melampaui daya dukung,
mengalami bencana kelaparan yang menyebabkan kematian masal, sehingga populasinya
terpaksa turun di bawah kemampuan daya dukung lingkungannya. Demikian seterusnya
sampai mungkin terjadi stabilitas di bawah batas daya dukung lingkungannya, walaupun
stabilitas itu hanya akan terjadi sementara waktu.

2.3 Kaitan Ilmu Lingkungan dengan Energi

Dalam ekosistem materi akan mengalami daur, yang disebut sebagai daur materi. Sedangkan
energi akan mengalami aliran, jadi ada aliran energi. Hukum yang sangat penting dalam daur
materi dan aliran energi adalah hukum termodinamika, yaitu :
1. energi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan, hanya mengalami transformasi. Hal ini
yang dikenal dengan hukum kekekalan energi
2. Proses energi tidak pernah spontan, kecuali perombakan dari keadaan pekat menjadi encer.
Proses transformasi energi tidak ada yang terjadi dengan 100% efisien
Hukum termodinamika erat hubungannya dengan hukum entropi, yakni semua perubahan
yang menghasilkan energi adalah perombakan menjadi bentuk yang lebih sederhana, dan hal
itu selalu berlangsung dengan efisiensi yang tidak pernah mencapai seratus persen, oleh
karena itu selalu terjadi suatu kelebihan transformasi energi, Inilah yang berbentuk limbah.
Aliran energi merupakan proses ketika energi matahari beralih kedalam bentuk-bentuk lain
(seperti panas, kimia, mekanis) dan dialirkan kedalam lingkungan, melalui bermacam-macam
organisme di setiap tingkat tropik (dalam rantai makanan, dan akhirnya kembali ke
lingkungan). Aliran energi di dalam lingkungan merupakan salah satu komponen fungsional
utama yang melindungi ekosistem.
2.3.1 Dampak Pemakaian Energi Terhadap Lingkungan

1 Gas Rumah Kaca


Gas rumah kaca adalah gas-
gas yang ada di atmosfer yang
menyebabkan efek rumah kaca. Gas-
gas tersebut sebenarnya muncul secara
alami di lingkungan, tetapi dapat juga
timbul akibat aktivitas manusia.

Gas rumah kaca yang paling banyak


adalah uap air yang mencapai atmosfer
akibat penguapan air
dari laut, danau dan sungai.Karbondioksida adalah gas terbanyak kedua.
Ia timbul dari berbagai proses alami seperti: letusan vulkanik; pernapasan
hewan dan manusia (yang menghirup oksigen dan menghembuskan
karbondioksida); dan pembakaran material organik (seperti tumbuhan).

Karbondioksida dapat berkurang karena terserap oleh lautan dan


diserap tanaman untuk digunakan dalam proses fotosintesis. Fotosintesis
memecah karbondioksida dan melepaskan oksigen ke atmosfer serta
mengambil atom karbonnya.

Uap air
Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan
bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca.
Konsentrasi uap air berfluktuasi secara regional, dan aktivitas manusia
tidak secara langsung memengaruhi konsentrasi uap air kecuali pada
skala lokal.

Dalam model iklim, meningkatnya temperatur atmosfer yang


disebabkan efek rumah kaca akibat gas-gas antropogenik akan
menyebabkan meningkatnya kandungan uap air di troposfer,
dengankelembapan relatif yang agak konstan. Meningkatnya konsentrasi
uap air mengakibatkan meningkatnya efek rumah kaca; yang
mengakibatkan meningkatnya temperatur; dan kembali semakin
meningkatkan jumlah uap air di atmosfer. Keadaan ini terus berkelanjutan
sampai mencapai titik ekuilibrium (kesetimbangan). Oleh karena itu, uap
air berperan sebagai umpan balik positif terhadap aksi yang dilakukan
manusia yang melepaskan gas-gas rumah kaca seperti CO2. Perubahan
dalam jumlah uap air di udara juga berakibat secara tidak langsung
melalui terbentuknya awan.

Karbondioksida
Manusia telah meningkatkan jumlah karbondioksida yang dilepas ke
atmosfer ketika mereka membakar bahan bakar fosil, limbah padat, dan
kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan dan
menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang
mampu menyerap karbondioksida semakin berkurang akibat perambahan
hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian.

Walaupun lautan dan proses alam lainnya mampu mengurangi


karbondioksida di atmosfer, aktivitas manusia yang melepaskan
karbondioksida ke udara jauh lebih cepat dari kemampuan alam untuk
menguranginya. Pada tahun 1750, terdapat 281 molekul karbondioksida
pada satu juta molekul udara (281 ppm). Pada Januari 2007, konsentrasi
karbondioksida telah mencapai 383 ppm (peningkatan 36 persen). Jika
prediksi saat ini benar, pada tahun 2100, karbondioksida akan mencapai
konsentrasi 540 hingga 970 ppm. Estimasi yang lebih tinggi malah
memperkirakan bahwa konsentrasinya akan meningkat tiga kali lipat bila
dibandingkan masa sebelum revolusi industri.

Metana
Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk
gas rumah kaca. Ia merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap
panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana
dilepaskan selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam,
dan minyak bumi. Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah
organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan
oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari
pencernaan. Sejak permulaan revolusi industri pada pertengahan 1700-
an, jumlah metana di atmosfer telah meningkat satu setengah kali lipat.

Nitrogen Oksida
Nitrogen oksida adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia
dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan
pertanian. Ntrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar
dari karbondioksida. Konsentrasi gas ini telah meningkat 16 persen bila
dibandingkan masa pre-industri.

Gas lainnya
Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses manufaktur.
Campuran berflourinasi dihasilkan dari
peleburan alumunium.Hidrofluorokarbon (HCFC-22) terbentuk selama
manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan
(furniture), dan tempat duduk di kendaraan. Lemari pendingin di beberapa
negara berkembang masih menggunakan klorofluorokarbon (CFC) sebagai
media pendingin yang selain mampu menahan panas atmosfer juga
mengurangi lapisan ozon (lapisan yang melindungi Bumi dari
radiasi ultraviolet). Selama masa abad ke-20, gas-gas ini telah
terakumulasi di atmosfer, tetapi sejak 1995, untuk mengikuti peraturan
yang ditetapkan dalam Protokol Montreal tentang Substansi-substansi
yang Menipiskan Lapisan Ozon, konsentrasi gas-gas ini mulai makin
sedikit dilepas ke udara.

Para ilmuan telah lama mengkhawatirkan tentang gas-gas yang


dihasilkan dari proses manufaktur akan dapat menyebabkan kerusakan
lingkungan. Pada tahun 2000, para ilmuan mengidentifikasi bahan baru
yang meningkat secara substansial di atmosfer. Bahan tersebut
adalah trifluorometil sulfur pentafluorida. Konsentrasi gas ini di atmosfer
meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih tergolong langka
di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari
gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya. Hingga saat ini
sumber industri penghasil gas ini masih belum teridentifikasi.

2 Pemanasan Global

Pemanasan global adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-


rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74


0.18 C (1.33 0.32 F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental
Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar
peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20
kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas
rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca.
Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah
dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-
negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwanyang tidak
setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu
permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 C (2.0 hingga
11.5 F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu
disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi
gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model
sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian
terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air
laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun
walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan
besarnya kapasitas kalor lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan


perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut,
meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan
jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain
adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya
berbagai jenis hewan.

Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai


jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan
bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut
akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini
masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika
ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan
pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-
konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di
dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang
mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Efek umpan balik

Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai


proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada
penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas
rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan
lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri
merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan
menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu
kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya
lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO 2 sendiri. (Walaupun
umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di
udara, kelembapan relatif udara hampir konstan atau bahkan agak
menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya
berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang
di atmosfer.

Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek


penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan
kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan
efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan
memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa,
sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya
menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa
detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-
detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena
awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas
komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk
model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat).
Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila
dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif
(menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam
Laporan Pandangan IPCC ke Empat.

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan


memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika suhu global meningkat, es
yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus
meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air
di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan
memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan
akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan
menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang
mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.

Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya
tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi
terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas
CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.

Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia


menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada
zona mesopelagic sehingga membatasi
pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap
karbon yang rendah.
Variasi Matahari

Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari,


dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat
memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara
mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah
meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya
efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer
bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak
akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan
saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan
tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.)
Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung
berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri
hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.

Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi


Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuwan
dari Duke University memperkirakan bahwa Matahari mungkin telah
berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan suhu rata-rata global selama
periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000.
Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan
pedoman saat ini membuat perkiraan berlebihan terhadap efek gas-gas
rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga
mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol
sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka
menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim
terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang
terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah
kaca.

Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuwan dari Amerika


Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan
adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada seribu tahun
terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar
0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 30 tahun terakhir. Efek ini
terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah
penelitian oleh Lockwood dan Frhlich menemukan bahwa tidak ada
hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun
1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam
sinar kosmis.

3 Hujan Asam

Hujan asam diartikan sebagai


segala macam hujan dengan pH di bawah
5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH
sedikit di bawah 6)
karena karbondioksida (CO2)
di udara yang larut dengan air hujan
memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat
bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang
dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.

Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan


pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi
dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat
ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam
sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air
hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman
tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan
dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar
dilaksanakan.

Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung
berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi,
mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia seperti
industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor dan pabrik
pengolahan pertanian (terutama amonia). Gas-gas yang dihasilkan oleh
proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer
sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.
Hujan asam karena proses industri telah menjadi masalah yang
penting di Republik Rakyat Cina, Eropa Barat, Rusia dan daerah-daerah di
arahan anginnya. Hujan asam dari pembangkit tenaga listrik di Amerika
Serikat bagian Barat telah merusak hutan-hutan diNew York dan New
England. Pembangkit tenaga listrik ini umumnya menggunakan batu bara
sebagai bahan bakarnya.

Bukti terjadinya peningkatan hujan asam diperoleh dari analisis es


kutub. Terlihat turunnya kadar pH sejak dimulainya Revolusi Industri dari 6
menjadi 4,5 atau 4. Informasi lain diperoleh dari organisme yang dikenal
sebagai diatom yang menghuni kolam-kolam. Setelah bertahun-tahun,
organisme-organisme yang mati akan mengendap dalam lapisan-lapisan
sedimen di dasar kolam. Pertumbuhan diatom akan meningkat pada pH
tertentu, sehingga jumlah diatom yang ditemukan di dasar kolam akan
memperlihatkan perubahan pH secara tahunan bila kita melihat ke
masing-masing lapisan tersebut.

Sejak dimulainya Revolusi Industri, jumlah emisi sulfur dioksida dan


nitrogen oksida ke atmosfer turut meningkat. Industri yang menggunakan
bahan bakar fosil, terutama batu bara, merupakan sumber utama
meningkatnya oksida belerang ini. Pembacaan pH di area industri kadang-
kadang tercatat hingga 2,4 (tingkat keasaman cuka). Sumber-sumber ini,
ditambah oleh transportasi, merupakan penyumbang-penyumbang utama
hujan asam.

Masalah hujan asam tidak hanya meningkat sejalan dengan


pertumbuhan populasi dan industri tetapi telah berkembang menjadi lebih
luas. Penggunaan cerobong asap yang tinggi untuk
mengurangi polusi lokal berkontribusi dalam penyebaran hujan asam,
karena emisi gas yang dikeluarkannya akan masuk ke sirkulasi udara
regional yang memiliki jangkauan lebih luas. Sering sekali, hujan asam
terjadi di daerah yang jauh dari lokasi sumbernya, di mana
daerah pegunungan cenderung memperoleh lebih banyak karena
tingginya curah hujan di sini.

Terdapat hubungan yang erat antara rendahnya pH dengan


berkurangnya populasi ikan di danau-danau. pH di bawah 4,5 tidak
memungkinkan bagi ikan untuk hidup, sementara pH 6 atau lebih tinggi
akan membantu pertumbuhan populasi ikan. Asam di dalam air akan
menghambat produksi enzim dari larva ikan trout untuk keluar dari
telurnya. Asam juga mengikat logam beracun seperialumunium di danau.
Alumunium akan menyebabkan beberapa ikan mengeluarkan lendir
berlebihan di sekitar insangnya sehingga ikan sulit bernapas.
Pertumbuhan Phytoplankton yang menjadi sumber makanan ikan juga
dihambat oleh tingginya kadar pH.

Tanaman dipengaruhi oleh hujan asam dalam berbagai macam cara.


Lapisan lilin pada daun rusak sehingga nutrisi menghilang sehingga
tanaman tidak tahan terhadap keadaan dingin, jamur dan serangga.
Pertumbuhan akar menjadi lambat sehingga lebih sedikit nutrisi yang bisa
diambil, dan mineral-mineral penting menjadi hilang.

Ion-ion beracun yang terlepas akibat hujan asam menjadi ancaman


yang besar bagi manusia. Tembaga di air berdampak pada timbulnya
wabah diare pada anak dan air tercemar alumunium dapat menyebabkan
penyakit Alzheimer.
4 Kabut Asap (smog)
Asbut, istilah adaptasi dari bahasa
Inggris smog (smoke and fog), adalah
kasus pencemaran udara berat yang bisa
terjadi berhari-hari hingga hitungan bulan.

Di bawah keadaan cuaca yang menghalang


sirkulasi udara, asbut bisa menutupi suatu
kawasan dalam waktu yang lama, seperti
kasus di London, Los
Angeles, Athena, Beijing, Hong
Kong atau Ruhr Area dan terus menumpuk hingga berakibat
membahayakan.

Perkataan "asbut" adalah singkatan dari "asap" dan "kabut", walaupun


pada perkembangan selanjutnya asbut tidak harus memiliki salah satu
komponen kabut atau asap. Asbut juga sering dikaitkan dengan
pencemaran udara.

Istilah "smog" pertama kali dikemukakan oleh Dr. Henry Antoine Des
Voeux pada tahun 1950 dalam karya ilmiahnya "Fog and Smoke", dalam
pertemuan di Public Health Congress. Pada 26 Juli 2005, surat kabar
London, Daily Graphic mengutip istilah ini [H]e said it required no science
to see that there was something produced in great cities which was not
found in the country, and that was smoky fog, or what was known as
smog. (Dr Henry Antoine Des Voeux menyatakan bahwa sebenarnya
tidak diperlukan pengetahuan ilmiah apapun untuk mendeteksi
keberadaan sesuatu yang telah diproduksi di kota besar tetapi tidak
ditemukan di perkampungan, yaitu "smoky fog" (kabut bersifat asap),
atau disebut juga dengan smog (asbut). Hari berikutnya surat kabar
tersebut kembali memberitakan Dr. Des Voeux did a public service in
coining a new word for the London fog (Dr. Des Voeux menjalankan tugas
pelayanan masyarakatnya dengan memperkenalkan istilah baru, asbut).

2.4 Kaitan Ilmu Lingkungan dengan Materi (belum )

2.5 Kaitan Ilmu Lingkungan dengan Informasi ( diketik dibuku )

2.6 Kaitan Ilmu Lingkungan dengan Nutrient Cycle (tingal dicopy)


Sodhi, G.S. 2010. Konsep Dasar Kimia Lingkungan Edisi 3. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC. Jakarta .

Rompas, Max. R. 1998. Kimia Lingkungan 1. Bandung : Penerbit Tarsito.

Achmadd, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta : Penerbit ANDI .

Koes Irianto. 2014. Ekologi Kesehatan . Bandung : Penerbit ALFABETA BANDUNG .

Miller, Des w. Connell gregory j. 2006. Kimia dan ekotoksikologi pencemaran.


Depok : Penerbt UI Press.

Kristanto, Philip. 2004. Ekologi industri . Yogyakarta : Penerbit ANDI.

Wardhana, Wisnu Arya. 2004. Dampak pencemaran lingkungan. Yogyakarta :


Penerbit ANDI.

Suratmo , F. Gunarwan . 2004. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.


Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.