Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 17.508 pulau dan hampir dua
pertiga bagiannya terdiri dari lautan, juga mempunyai garis pantai sepanjang 81.000 km, maka tidak
salah kalau bangsa Indonesia dari dulu terkenal dengan bangsa pelaut.
Semenjak berakhirnya pemerintahan orde baru, maka pemerintahan telah mencanangkan kebijakan
pembangunan strategis yang diarahkan kepada pembangunan sumber daya alam pesisir dan laut.
Alasan pokok kebijakan tersebut adalah 1) fakta fisik Indonesia merupakan negara kepulauan
terbesar di dunia luas laut sekitar 3.1 juta km 2 atau 62% dari luas teritorialnya; 2) semakin
meningkatnya kegiatan pembangunan dan jumlah penduduk serta semakin menipisnya sumberdaya
alam di daratan; 3) pergeseran konsentrasi kegiatan ekonomi global dari poros Eropa-Atlantik
menjadi poros Asia-Pasifik yang diikuti perdagangan bebas dunia pada tahun 2020 menjadikan
kekayaan laut menjadi aset nasional; 4) dalam menuju era industrialisasi, wilayah pesisir dan lautan
termasuk prioritas utama untuk pusat pengembangan kegiatan industri pariwisata, agribisnis,
agroindustri, permukiman, transportasi dan pelabuhan.
Laut merupakan medium yang tak pernah berhenti bergerak, baik di permukaan maupun di
bawahnya. Hal ini menyebabkan terjadinya sirkulasi air, bisa berskala kecil tetapi bisa pula
berukuran sangat besar Penampilan yang paling mudah terlihat adalah arus di permukaan laut.
Dewasa ini arus laut banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yang menunjang kehidupan
manusia. Akan tetapi, penelitian tentang arus laut itu sendiri masih sedikit dilakukan terutama di
wilayah perairan Indonesia yang memiliki luas perairan 6,1 km . Oleh karena itu, pengkajian dan
2

pembahasan materi mengenai arus sangatlah penting di bidang perikanan dan kelautan.

1.2 Tujuan

1.2.1 Mahasiswa/i mampu memahami definisi arus


1.2.2 Mahasiswa/i mampu membedakan jenis arus
1.2.3 Mahasiswa/i mampu mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan arus
1.2.4 Mahasiswa/i mampu mengetahui rute Arus Lintas Indonesia
1.2.5 Mahasiswa/i mampu mengetahui peranan dan dampak arus laut

1.3 Rumusan Masalah

1.3.1 Apa yang dimaksud dengan arus?


1.3.2 Apa saja jenis-jenis arus?
1.3.3 Apa saja faktor-faktor yang dapat menyebabkan arus?
1.3.4 Bagaimana rute Arus Lintas Indonesia?
1.3.5 Bagaimana peranan dan dampak dari arus laut?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Arus

Arus adalah gerakan massa air dari suatu tempat atau posisi ke tempat yang lain. Arus
merupakan gerakan air yang sangat luas yang terjadi pada seluruh lautan di dunia. Pergerakan air ini
merupakan hasil dari beberapa proses yang terdiri dari adanya aksi angin di atas permukaan laut dan
terjadinya perbedaan kerapatan air laut yang disebabkan oleh pemanasan matahari. Adanya
perbedaan pemanasan matahari terhadap permukaan bumi menimbulkan pula perbedaan energi
yang diterima permukaan bumi. Perbedaan ini menimbulkan fenomena arus laut dan angin yang
menjadi mekanisme untuk menyeimbangkan energi di seluruh muka bumi. Kedua fenomena ini
juga saling berkaitan erat satu dengan yang lain. Angin merupakan salah satu gaya utama yang
menyebabkan timbulnya arus laut selain gaya yang timbul akibat dari tidak samanya pemanasan
dan pendinginan air laut.

2.2 Jenis-jenis Arus

2.2.1 arus permukaan

Gerakan air di permukaan laut terutama disebabkan oleh adanya angin yang bertiup di atasnya. Hubungan ini
kenyataannya tidaklah sedemikian sederhananya, sekalupun dilihat dari perbandingan singkat antara angin
utama bertiup dan arah dari arus-arus permukaan. Alasanya adalah bahwa arus-arus dipengaruhi oleh
beberapa faktor, selain dari angin. Akibatnya arus yang mengalir di 67 permukaan lautan merupakan hasil
kerja gabungan dari mereka ini. Faktor-faktor tersebut adalah bentuk topografi dasar lautan, pulau-pulau
yang ada di sekitarnya, dan gaya coriolis. Gambar 9.1 menunjukkan arus-arus utama yang terdapat diseluruh
permukaan lautan di dunia. Dari gambar tersebut kita melihat tiga macam bentuk arus yaitu :
1. Arus yang benar-benar mengelilingi daerah kutub selatan ( Antartic circumpolar current) yang terletak
pada 60 0 lintang selatan.
2. Aliran air di daerah ekuator yang mengalir dari arah timur ke barat, baik di belahan bumi utara (North
equatorial current) maupun di belahan bumi selatan (South equatorial current). Selain itu terdapat dua aliran
yang mengalir dari barat ke timur yang dinamakan equatorial counter current di bagian permukaan dan
equatorial under current di bagian bawah.
3. Daerah subtropikal, ditandai oleh adanya arus-arus berputar yang dikenal sebagai gyre. Arah aliran air
pada gyre yang terdapat di belahan bumi utara searah denganjarum jam.
Gambar 9.1. Sistem arus-arus utama yang terdapat di dunia (Pinet, 1992)
Pada umumnya tenaga angin yang diberikan pada lapisan permukaan air dapat membangkitkan
timbulnya arus permukaan yang mempunyai kecepatan sekitar 3 % dari kecepatan angin itu sendiri. Dengan
kata lain, bila angin bertiup 10 m/detik maka dapat menimnulkan sebuah arus permukaan yang berkecepatan
30 cm/detik. Kecepatan arus ini, akan berkurang cepat sesuai dengan makin bertambahnya. kedalaman
perairan dan akhirnya angin tidak berpengaruh sama sekali terhadap kecepatan arus pada kedalaman di
bawah 200 m. Pada saat kecepatan arus berkurang, maka tingkat perubahan arah arus yang disebabkan oleh
gaya coriolis akan meningkat. Hasilnya adalah bahwa hanya terjadi sedikit pembelokan dari arah arus yang
relatif cepat di permukaan dan arah pembelokannya menjadi makin besar pada aliran arus yang kecepatannya
makin lambat di lapisan perairan yang mempunyai kedalaman makin bertambah. Besar. Akibatnya akan
timbul suatu aliran arus dimana makin dalam suatu perairan maka arus yang terjadi pada lapisanlapisan
perairan akan makin dibelokkan arahnya. Hubungan ini dikenal sebagai spiral Ekman (Gambar 9.2).

Gambar 9.2. Spiral Ekman. Gambar ini menunjukkan arah jalannya arus (ditandai oleh tanda panah), dan
kecepatannya (ditandai oleh panjang dari setiap tanda panah), yang berubah-ubah sesuai dengan makin
dalamnya kedalaman perairan (Pinet, 1992).

2.2.2 arus arus musiman


Angin adalah sakah satu faktor yang paling bervariasi dalam membangkitkan arus. Karena sistem
angin umum dunia selalu berjumlah tetap sepanjang tahun, maka arah arus-arus dunia hanya mengalami
variasi tahunan yang kecil. Tetapi di bagian Utara lautan Hindia dan lautan-lautan Asia Tenggara, angin
musim (monsoon) berubah secara musiman dan mempuanyai pengaruh yang dramatis terhadap arah dari
arus-arus permukaan. Arus-arus di perairan Asia Tenggara baik yang terjadi di musim Barat ataupun di
musim Timur diperlihatkan pada Gambar 9.3. dan Gambar 9.4. Musim Barat ditandai oleh adanya aliran air
dari arah Utara melalui Laut Cina bagian atas, Laut Jawa dan Laut Flores, sedangkan pada waktu musim
Timur hal ini terjadi kebalikannya dimana arus mengalir dari arah Selatan (Hutabarat dan Evans,
1985).

Gambar 9.3. Pola arus permukaan di perairan Asia tenggara pada bulan Februasi (Musim Barat) (Wyrtki,
1961).

Gambar 9.4. Pola arus permukaan di perairan Asia tenggara pada bulan Agustus(Musim Timur) (Wyrtki,
1961)

2.2.3 Arus Pasang Surut (tidal current)

Tidal current merupakan gerakan air berupa arus yang terjadi akibat pasang dan surut. Di daerah
pantai arus ini memiliki arah yang bolak balik dimana pada saat pasang gerakan air menuju ke pantai (flood
current) sedangkan pada saat surut gerakan arus ini (ebb current) menjauhi pantai menuju laut. Di laut lepas
yang jauh dari halangan berupa daratan atau pulau-pulau, memungkinkan arah arus ini berubah secara teratur
membentuk pola yang berputar yang dinamakan rotary current (Pinet, 1992).
Kecepatan arus pasang surut di daerah pantai lebih besar daripada di daerah laut lepas karena di
daerah pantai arus ini mengalami percepatan aliran oleh karena adanya penyempitan secara horisontal dan
vertikal oleh adanya dasar laut dan halangan pulau-pulau di sekitar pantai. Kecepatan arus ini di laut lepas
jarang melebihi 0,83 m/detik, sedangkan di daerah pantai dimana arus ini melewati selat sempit antara dua
pulau, saluran masuk estuaria dan lagoon kecepatan arus ini dapat melebih 4,4 m/detik. Arus pasang surut
terkuat biasanya dihasilkan pada saat terjadi spring tide di daerah yang memilki kisaran pasang surut yang
besar (macrotidal) (Bird, 1996).
Arus pasang surut dengan arah bolak balik dan turbulensi yang dihasilkannya secara tidak langsung
penting artinya bagi proses-proses biologi. Turbulensi ini dapat mencegah pengendapan partikel-partiel
tersuspensi dalam air sehingga mengakibatkan tetap keruhnya air yang dapat mempengaruhi penetrasi
cahaya matahari. Turbulensi juga mencegah terjadinya stratifikasi suhu air. Arus pasang surut juga berperan
dalam mengangkut sedimen di sepanjang pantai sehingga arus ini turut mempengaruhi perubahan morfologi
pantai. Arus pasang surut juga membantu percampuran air laut (mixing), namun perlu dingat bahwa arah arus
ini adalah bolak balik secara teratur dalam 24 jam. Karenannya volume air yang diangkut oleh arus ini
melintasi jarak tertentu tidaklah banyak dan juga jarak angkutnya tidak jauh. Kecepatan arus pasut minimum
atau efektif nol terjadi saat air tinggi atau air rendah (slack waters). Pada saat-saat tersebut terjadi perubahan
arah arus pasut. Kecepatan arus pasut maksimum terjadi pada saat-saat antara air tinggi dan air rendah.
Dengan demikian, perioda kecepatan arus pasut akan mengikuti perioda pasut yang membangkitkannya
(Gambar 9.6).

Gambar 9.6. Hubungan antara pasang surut(pasut) dengan kekuatan arus pasut (Poerbandono dan Djunasjah,
2005)

2.2.4 Arus Susur Pantai (Longshore current)

Arus susur pantai adalah arus yang mengalir sejajar dengan pantai dan dihasilkanoleh adanya ombak
yang tiba di pantai secara tidak tegak lurus (atau membentuk sudut) terhadap garis pantai (Gambar 8.7).
Pembangkitan arus susur pantai bergantung pada beberapa parameter ombak seperti tinggi, periode dan arah
ombak, sudut datangnya ombak terhadap garis pantai, dan kemiringan dasar perairan dekat pantai. Keceptan
arus susur pantai dapat dihitung dengan rumus di bawah ini
(Pethick, 1984) :
VL = 2.7 Um sin cos
Dimana VL = kecepatan arus susur pantai
Um = maximum orbital velocity
= sudut datangnya ombak

H
2h
Um= T sun h ( )
L

Maximum orbital velocity dapat dihitung dengan rumus :


Dimana H = tinggi ombak
T = periode ombak
h = kedalaman perairan
L = panjang ombak
Dari rumus di atas nampak bahwa kecapatan arus susur pantai yang terjadi dikontrol oleh besarnya sudut
yang dibentuk oleh ombak yang mendekati pantai terhadap garis pantai. Makin besar sudut datangnya ombak
maka makin besar arus susur pantai yang dihasilkan. Oleh karena proses refraksi menyebabkan ombak
membelok dan menyesuaikan terhadap bentuk garis pantai dengan begitu rapatnya, hal ini membuat sudut
datangnya ombak jarang melebihi 10 O (Pinet, 1992). Refraksi adalah pembelokan ombak akibat pengaruh
dari batimetri dasar laut. Pada titik dimana arus susur pantai bertemu (convergence), aliran arus akan
dibelokkan menuju ke laut melintasi surf zone. Aliran arus yang menuju ke laut ini dinamakan rip
current (arus tolak pantai). Rip current ini sangat berbahaya bagi orang yang sedang berenang di pantai
karena tanpa disadari arus ini dapat menyeret orang yang sedang berenang tersebut ke laut sejauh 500
m. Daerah yang alirannya paling cepat di sebuah rip current kemungkinan bisa mencapai kecepatan
sampai 1m/detik, dan ini sudah cukup kuat untuk memotong sebuah saluran permanen yang ada di dasar
laut (Hutabarat dan Evans, 1985).

2.3 Faktor-faktor yang menyebabkan Arus


Menurut Bishop (1984), gaya-gaya utama yang berperan dalam sirkulasi massa air adalah
gaya gradien tekanan, gaya coriolis, gaya gravitasi, gaya gesekan, dan gaya sentrifugal.

2.3.1 Angin

Ketika angin berhembus di laut, energi yang ditransfer dari angin ke batas permukaan,
sebagian energi ini digunakan dalam pembentukan gelombang gravitasi permukaan, yang
memberikan pergerakan air dari yang kecil kearah perambatan gelombang sehingga
terbentuklah arus dilaut. Semakin cepat kecepatan angin, semakin besar gaya gesekan yang bekerja
pada permukaan laut, dan semakin besar arus permukaan. Dalam proses gesekan antara angin
dengan permukaan lautdapat menghasilkan gerakan air yaitu pergerakan air laminar dan pergerakan
air turbulen (Supangat,2003).

2.3.2 Gaya coriolis

Gaya Coriolis mempengaruhi aliran massa air, dimana gaya ini akan membelokan arah
angin dari arah yang lurus. Gaya ini timbul sebagai akibat dari perputaran bumi pada porosnya.
Gaya Coriolis ini yang membelokan arus dibagian bumi utara kekanan dan dibagian bumi selatan
kearah kiri. Pada saat kecepatan arus berkurang, maka tingkat perubahan arus yang disebabkan gaya
Coriolis akan meningkat. Hasilnya akan dihasilkan sedikit pembelokan dari arah arus yang relaif
cepat dilapisan permukaan dan arah pembelokanya menjadi lebih besar pada aliran arus yang
kecepatanya makin lambat dan mempunyai kedalaman makin bertambah besar. Akibatnya akan
timbul suatu aliran arusdimana makin dalam suatu perairan maka arus yang terjadi pada lapisan-
lapisan perairan akan dibelokan arahnya. Hubungan ini dikenal sebagai Spiral Ekman,
Arah arus menyimpang 450 dari arah angin dan sudut penyimpangan. bertambah dengan
bertambahnya kedalaman (Supangat, 2003).

2.3.3 gaya gradien tekanan horizontal

Gaya gradien tekanan horizontal sangat dipengaruhi oleh tekanan, massa air, kedalaman dan
juga densitas dari massa air tersebut, yang mana jika densitas laut homogen, maka gaya gradien
tekanan horizontal adalah sama untuk kedalaman berapapun. Jika tidak ada gaya horizontal yang
bekerja, maka akan terjadi percepatan yang seragam dari tekanan tinggi ke tekanan yang lebih
rendah.

2.3.4 Gaya Viskositas

Gaya Viskositas pada permukaan laut ditimbulkan karena adanya pergerakan angin pada
permukaanlaut sehingga menyebabkan pertukaran massa air yang berdekatan secara periodik, hal
ini disebabkan karena perbedaan tekanan pada fluida. Gaya viskositas dapat dibedakan menjadi dua
gaya yaitu viskositas molecular dan viskositas eddy. Gesekan dalam pergerakan fluida hasil dari
transfer momentum diantara bagian-bagian yang berbeda dari fluida. Dalam pergerakan fluida
dalam aliran laminer, transfer momentum terjadi hasil transfer antara batas yang berdekatan yang
disebut viskositas molekular. Di permukaan laut, gerakan air tidak pernah laminer, tetapi turbulen
sehingga kelompok-kelompok air, bukan molekul individu, ditukar antara satu bagian fluida ke
yang lain. Gesekan internal yang dihasilkan lebih besar dari pada yang disebabkan oleh pertukaran
molekul individu dan disebut viskositas eddy.

2.4 Arus lintas indonesia

ARLINDO yang merupakan kepen-dekan dari Arus Lintas Indonesia.


di bagian selatan dan barat daya Indonesia berlaku sebagai saluran bagi aliran massa air dari
Samudera Pasifik ke Samudera Hindia. Aliran massa air ini terjadi sebagai akibat adanya perbedaan
tekanan antara kedua lautan tersebut (WYRTKI 1987).
Peristiwa "bocornya" Samudera Pasifik ke arah Samudera Hindia seperti peristiwa lokal
bagi Indonesia . Hal ini berkaitan dengan adanya dugaan bahwa ARLINDO ini merupakan aliran air
hangat antar samudera, yang merupakan bagian dari "global scale oceanic belt3 (GORDON
1986). Proses ARLlNDO ini pertama kali diketahui dari hasil "Ekspedisi Snellius", yang
mengadakan penelitian Oseanografi di seluruh cekungan yang ada di Laut Maluku pada tahun 1929
dan tahun 1930. Dari sifat-sifat fisis air laut yang ditemukan di cekungan-cekungan laut tersebut
disimpulkan bahwa massa air tersebut berasal dari Samudera Pasifik yang masuk ke perairan
Indonesia. Dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan selama ini dapat diketahui bahwa ada 3
pintu masuk utama massa air Pasifik ke Perairan Indonesia. Yang pertama dan yang paling dominan
adalah selat Makassar. Massa air yang berasal dari Pasifik utara memasuki laut Sulawesi lewat
sebelah selatan Mindanao, untuk kemudian masuk ke jantung Perairan Indonesia lewat Selat
Makassar. Rute ini oleh para ahli dinamakan dengan rute barat/western route (BINGHAM &
LUKAS dalam FIEUX 1995). Di ujung akhir Selat Makassar, jalur ini bercabang menjadi dua,
sebagian langsung menuju Samudera Hindia melewati Selat Lombok, dan yang sebagian lagi
berbelok ke Timur melewati Laut Flores menuju ke Laut Banda. Di Laut Banda massa air ini
mengalami percampuran dengan massa air Pasifik yang masuk lewat Laut Halmahera, Laut Maluku
dan Laut Seram. Untuk selanjutnya campuran massa air ini menyebar ke arah Samudera Hindia
dengan melewati dua jalur (GORDON 1986).
Yang pertama adalah jalur yang berada antara P. Alor dan P. Timor atau lebih dikenal dengan Selat
Ombai. Dari selar Ombai massa air ini masuk ke Laut Sawu, untuk kemudian mengalir keluar ke
Samudera Hindia melalui Selat Sumba, Selat Sawu dan Selat Roti, Sedangkan jalur kedua adalah
jalur yang berada di sebelah selatan P. Timor, yang melewati Cekungan Timor dan Celah Timor
yang merupakan celah antara Roti dengan paparan Benua Australia. Pintu kedua bagi masuknya air
Pasifik adalah Laut Maluku. Dari Laut Maluku ini massa air yang berasal dari Pasifik tersebut
memasuki Laut Seram dengan melewati Selat Lifamatola yang terletak antara P. Lifamatola dengan
P. Obi. Kemudian dari Laut Seram mengalir melalui Selat Manipa ke Laut Banda (ILAHUDE &
GORDON 1994).
Dari pintu ketiga adalah Laut Halmahera. Massa air dari Pasifik Selatan yang dibawa oleh New
Guinea Coastal Current langsung masuk Laut Halmahera. kemudian menuju ke Laut Seram dan
Cekungan Aru. Di sini terjadi percampuran dengan massa air yang datang dari Laut Banda.
Akhirnya massa air ini masuk lewat bagian timur Laut Timor menuju Samudera Hindia (VAN
AKEN et al. dalam FIEUX 1995).
Gambar 1. Lintasan ARLINDO (GORDON & FINE. 1996),

2.5 peranan dan dampak arus


Arus laut merupakan salah satu parameter oseanografi yang banyak mendapat perhatian
tidak hanya dalam masalah kelautan saja tetapi juga mendapat perhatian yang besar dalam masalah
atmosfer khususnya yang berkaitan dengan cuaca dan iklim. Dalam masalah kelautan arus laut
mempunyai peranan penting dalam sistem ekologi laut, pemanfaatan laut sebagai sarana
transportasi dan usaha penanggulangan pencemaran laut (Dharma, 1994). Pola sirkulasi arus laut
mempunyai peranan yang sangat penting dalam daur biota laut terutama pada tahap planktonik dan
penyebaran makanan bagi biota yang hidupnya bersifat menetap di perairan tertentu. Dalam
transportasi pola sirkulasi arus laut dimanfaatkan untuk mencapai suatu daerah tertentu maupun
untuk mempercepat waktu pelayaran. Terhadap polutan pola sirkulasi arus laut menentukan pola
penyebaran zat
pencemar yang terdapat dalam kolol air. Sementara itu, arus laut terutama lapisan permukaan
mempunyai peranan yang besar dalam sistem interaksi laut dan atmosfer. Sistem interaksi tersebut
meliputi pertukaran momentum dari sirkulasi angin permukaan terhadap sirkulasi arus permukaan.
Beberapa proses interaksi laut dan atmosfer yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap cuaca
dan iklim global terutama wilayah Indonesia antara lain El Nino, La Nina dan Indian Ocean Dipole.
Peristiwa El Nino dan La Nina terjadi di Samudera Pasifik tropis, sedangkan Indian Ocean Dipole
terjadi di Samudera Hindia tropis.
arus memiliki peranan atau pun dampak yang mempengaruhi sekitarnya seperti dampak
yang disebabkan arus airlindo. Salah satu contoh adalah peristiwa upwelling yang terjadi di bagian
barat Laut Flores, tepatnya di sebelah selatan Sulawesi. Proses ini disebabkan oleh "sill" yang
berada di jalur yang dilalui oleh massa air Pasifik. Sill tersebut sering disebut dengan sill
Dewakang. Adanya sill dengan kedalaman 550 meter di ujung akhir Selat Makassar ini
menghalangi jalannya massa air dari Selat Makassar yang menuju ke Laut Flores, sehingga aliran
massa air hanya terjadi pada kedalaman di atas 550 meter saja. Aliran massa air pada bagian atas
yang terjadi di Laut Flores ini seolah-olah menyeret lapisan air yang berada dibawahnya ke arah
timur. Oleh sebab itu terjadinya kekosongan massaair di bagian atas Laut Flores bagian barat
(diselatan Sulawesi). Massa air di bagian bawah yang datang dari arah timur naik untuk mengisi
kekosongan tersebut (GOR-DON et al. 1994). Perairan Indonesia bagian timur seperti Laut Banda,
Laut Arafura. Laut Maluku terkenal sehagai daerah upwelling yang subur. Ini terjadi karena pada
musim timur, massa air di lapisan atas perairan tersebut terdorong oleh angin timur sampai ke Laut
Jawa, Laut Natuna dan Laut China Selatan.
peranan arus dapat digunakan sebagai energi potensial untuk pembangkit listrik.arus pun
dapat digunakan untuk menetukan fishing ground. Fishing ground yang paling baik biasanya
terletak pda daerah batas antara dua arus atau daerah upwelling dan divergensi. batas arus
(konvergensi dan divergensi) dan kondisi oseanografi dinamis yang lain (seperti eddies), berfungsi
tidak hanya sebagai perbatasan distribusi bagi ikan, tetapi juga menyebabkan pengumpulan ikan
pda kondisi ini. pengumpulan ikan ikan yang pernting secara komersilbiasanya berada pada tengah
tengah arus eddies. pengumpulan ini berkaitan dengan pengumpulan ikan dewasa dalam arus eddi
(melalu rantai makanan) (reddy, 1983)