Anda di halaman 1dari 14

STRATEGI PELAKSANAAN

TINDAKAN MEMASANG INFUS

Nama : PH (01283327)
Umur : 28 Tahun
Diagnosa Medis : Post Op ORIF (PS) ec Closed Fraktur Femur Dex 1/3 Tengah
Kamar : Km.306 Ruang HangsokaIII RSUP Sanglah
Tanggal pengkajian : 2 Oktober 2009

A. Kondisi Klien
1. Alasan MRS :
Pasien mengeluh nyeri pada paha kanannya setelah mengalami kecelakaan
lalu lintas sehari sebelum MRS (30/9/2009) yaitu ditabrak sepeda motor saat
menyebrang dari sebelah kanan. Pasien sempat dibawa ke RSU Ari Canti Gianyar
untuk mendapatkan penanganan, namun dengan pertimbangan keterbatasan alat
pasien kemudian dirujuk ke RSUP Sanglah untuk mendapat penanganan lebih
lanjut. Pasien diterima di Triage Bedah RSUP Sanglah tanggal 1 Oktober 2009
pkl 11.00 wita. Setelah diobservasi pasien kemudian dipindahkan ke Ruang
Angsoka III kamar 306 dan direncanakan menjalani operasi ORIF (plat screw)
tanggal 2 Oktober 2009 pkl 08.00 wita.

2. Data Fokus :
a. Data subjektif :
- Pasien mengeluh nyeri pada daerah bekas operasi yaitu pada paha sebelah kanan
dan mengeluh badannya meriang
b. Data objektif :
- Kulit pasien teraba hangat, mukosa bibir tampak kering,kulit pasien tampak
kemerahan.
- TTV : Suhu : 38, 3 0C, N : 102 x/mnt
B. Diagnosa Keperawatan
Hipertermia b.d adanya respon imun terhadap prosedur invasif (ORIF) ditandai
dengan pasien mengeluh nyeri pada paha kanan setelah terpasang plat screw, pasien
mengatakan badan terasa meriang, S=38,3C,N=100x/mnt, kulit pasien teraba hangat,
mukosa bibir tampak kering, kulit pasien tampak kemerahan.
C. Tujuan Khusus
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1x6 jam diharapkan suhu tubuh
menurun hingga mencapai normal dengan kriteria hasil : S = 36-37,5C, N= 60-
80x/mnt, Kulit teraba sesuai dengan suhu tubuh, Kulit tidak kemerahan, Nyeri
pada paha kiri berkurang

D. Tindakan Keperawatan :
Melaksanakan tindakan kolaboratif memasang infus RL 20 tts/mnt.

E. Standar Operasional Prosedur ( SOP ) Memasang infus


1. Pengertian : Memasukkan cairan atau obat langsung ke vena dalam jumlah yang
banyak dan dalam waktu yang lama dengan menggunakan infus set.
2. Tujuan : Sebagai tindakan pengobatan
. Mencukupi kebutuhan tubuh akan cairan dan elektrolit.
3. Kebijakan : Ada program dokter dan pendelegasian jelas secara tertulis.
4. Persiapan : - Standar infus
- IV kateter sesuai kebutuhan
- Infus set (makro/mikro/blood set)
- Cairan yang diperlukan
- Kain kasa steril dalam tempatnya
- Kapas alkohol
- Gunting, hypavix, bengkok
- Torniket, bidai (k/p)
- Form pemantau cairan
- CM perawatan
5. Prosedur kerja :
Cek program terapi dokter
Beri salam dan perkenalkan diri
Jelaskan tujuan dan prosedur
Beri kesempatan pada klien untuk bertanya sebelum tindakan dimulai.
Pastikan lokasi pemasangan berdasarkan prioritas pilihan.
Cuci tangan
Dekatkan alat ke area pemasangan infus
Periksa label pemasangan infus sesuai program terapi
Hubungkan cairan infus dengan infus set
Isikan selang kontrol dengan cairan sampai 1/3 bagian.
Alirkan cairan untuk pengisian selang infus set.
Pastikan selang infus bebas udara
Pakai sarung tangan
Pasang torniket untuk melakukan fiksasi
Palpasi dan pastikan vena yang akan dipungsi
Desinfektan daerah yang akan ditusuk dengan kapas alkohol arah
melingkar dari dalam ke luar diameter 5 cm.
Tusukkan iv kateter pada vena yang didesinfektan dengan kemiringan 30
sejajar vena yang akan di tusuk ke arah jantung.
Pastikan darah tampak keluar pada pangkal mandrin, tarik mandrin Cm
dorong iv cath atau sesuai petunjuk masing-masing iv cath.
Sambungkan iv cath dengan selang cairan yang telah disiapkan
Lepaskan torniket
Buka klem infus alirkan cairan sampai mengalir lancar
Buka sarung tangan
Fiksasi iv cath dengan hipavix tanpa menutup insersi
Tutup tempat insersi dengan kasa steril
Pasang bidai dan perban kalau perlu
Atur tetesan infus sesuai program
Pasang stiker bertuliskan jam, tanggal pemasangan pada tempat
pemasangan infus.
Bereskan alat (buang sampah sesuai dengan tempatnya).
Jelaskan tanda-tanda yang perlu diwaspadai dan dilaporkan (nyeri,
bengkak, merah dan infus tidak menetes).
Dokumentasikan tindakan.
STRATEGI KOMUNIKASI DALAM TINDAKAN PERAWATAN
MEMASANG INFUS

A. Tahap Orientasi
- Selamat pagi Bu, nama saya Widya. Saya mahasiswa PSIK Unud. Apakah
benar ibu adalah ibu PH?
- Bu, sekarang saya akan memasang infus pada tangan kanan ibu karena infus
yang sebelumnya bengkak sehingga harus di ganti dan di pasang lagi sekarang.
Tujuan penggantian daerah pemasangan infus ini adalah untuk mencegah
terjadinya infeksi dan plebitis di daerah bekas penusukan infus sebelumnya.
- Infusnya akan saya pasang pada pembuluh vena di tangan kanan ibu ya!

B. Tahap Kerja
- Ibu alat-alat untuk pemasangan infus sudah saya siapkan. Infusnya masih
bagus tanggal kadaluarsanya masih tiga tahun lagi. Saya juga sudah mengecek
program dokternya dan jenis infusnya adalah infus Ringer Laktat.
- Sekarang saya minta tolong pada ibu untuk membantu saya dengan
mengepalkan tangan kanan agar vena yang akan di pungsi terlihat lebih jelas.
- Bu PH saya akan menusukkan jarum infusnya, sakit sedikit ya!

C. Tahap Terminasi
- Baiklah Bu, saya sudah selesai memasang infusnya.
- Data objektif : infus menetes lancar, perdarahan dari luka insersi tidak ada,
fiksasi infus baik.
-Baik Bu , terima kasih atas partisipasinya, karena ibu sudah mau kooperatif
pada tindakan yang diberikan perawat. Mohon bapak berhati-hati dan ikut
memperhatikan kelancaran tetesan infus dan segera melapor ke perawat bila ada
masalah sakit pada tempat penusukan infus, ada bengkak, merah atau infus tidak
menetes.

D. Kontrak selanjutnya
- Baiklah bu, pemasangan infus sudah selesai. Selanjutnya saya akan memberikan
obat injeksi ibu sesuai program dokter per IV melalui selang infus ibu. Saya akan
membereskan alat ini dulu dan 15 menit lagi saya ke sini, terimakasih.
STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN MEMBERIKAN INJEKSI INTRAVENA

Nama : PH (01283327)
Umur : 28 Tahun
Diagnosa Medis : Post Op ORIF (PS) ec Closed Fraktur Femur Dex 1/3 Tengah
Kamar : Km.306 Ruang HangsokaIII RSUP Sanglah
Tanggal pengkajian : 2 Oktober 2009

A. Kondisi Klien
1. Alasan MRS :
Pasien mengeluh nyeri pada paha kanannya setelah mengalami kecelakaan
lalu lintas sehari sebelum MRS (30/9/2009) yaitu ditabrak sepeda motor saat
menyebrang dari sebelah kanan. Pasien sempat dibawa ke RSU Ari Canti Gianyar
untuk mendapatkan penanganan, namun dengan pertimbangan keterbatasan alat
pasien kemudian dirujuk ke RSUP Sanglah untuk mendapat penanganan lebih
lanjut. Pasien diterima di Triage Bedah RSUP Sanglah tanggal 1 Oktober 2009
pkl 11.00 wita. Setelah diobservasi pasien kemudian dipindahkan ke Ruang
Angsoka III kamar 306 dan direncanakan menjalani operasi ORIF (plat screw)
tanggal 2 Oktober 2009 pkl 08.00 wita.

2. Data Fokus :
a. Data subjektif :
- Pasien mengeluh nyeri pada daerah bekas operasi yaitu pada paha sebelah kanan
dan mengeluh badannya meriang.
b. Data objektif :
- Kulit pasien teraba hangat, mukosa bibir tampak kering,kulit pasien tampak
kemerahan.
- TTV : Suhu : 38, 3 0C, N : 100 x/mnt

B. Diagnosa Keperawatan
Hipertermia b.d adanya respon imun terhadap prosedur invasif (ORIF) ditandai
dengan pasien mengeluh nyeri pada paha kanan setelah terpasang plat screw, pasien
mengatakan badan terasa meriang, S=38,3C,N=100x/mnt, kulit pasien teraba hangat,
mukosa bibir tampak kering, kulit pasien tampak kemerahan.

C. Tujuan Khusus
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1x6 jam diharapkan suhu tubuh
menurun hingga mencapai normal dengan kriteria hasil : S = 36-37,5C, N= 60-
80x/mnt, Kulit teraba sesuai dengan suhu tubuh, Kulit tidak kemerahan, Nyeri
pada paha kiri berkurang.

D. Tindakan Keperawatan :
Melaksananakan tindakan delegatif pemberian obat injeksi intravena cefotaxim
3x1 gram

E. Standar Operasional Prosedur ( SOP ) : Memberikan obat injeksi intravena.


1. Pengertian : Memberikan obat suntikan melalui pembuluh darah vena.
2. Tujuan : - Mendapatkan reaksi obat dengan cepat.
3. Kebijakan : Ada instruksi tertulis dari dokter.
4. Persiapan : - Spuit dengan jarumnya
- Handschoon
- Kapas alkohol
- Obat yang akan disuntikkan
- Kupet
- Pengalas
- Bengkok
- Torniquet
- CM perawatan
5. Prosedur kerja :
a. Cek program terapi dokter
b. Periksa kembali obat sesuai program
c. Baca label obat untuk memastikan kandungan obat, dosis dalam satu kemasan,
cara pemberian, kontraindikasi dan efek samping.
d. Beri salam dan perkenalkan diri
e. Dekatkan peralatan (troly injeksi)
f. Memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarga tentang obet yang akan
diberikan, kegunaan, cara pemberian dan kemungkinan efek samping.
g.Tentukan area suntikan (usahakan mencari pada vena besar dan kelihatan) atau
perset pada selang infus yang sudah terpasang.
h. Membaca etiket (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
i. Jelaskan prosedur menyuntik agar ada kerjasama dengan pasien
j. Lakukan observasi terhadap tanda alergi, jelaskan pada pasien agar segera
melaporbila timbul seperti panas, gatal, sesak atau keluar keringat dingin.
k. Tentukan kontrak selanjutnya dan lakukan pendokumentasian.
STRATEGI KOMUNIKASI DALAM TINDAKAN PERAWATAN
MEMBERIKAN OBAT INTRAVENA

A. Tahap Orientasi
- Selamat pagi, bu, nama saya Widya. Saya mahasiswa PSIK Unud. Apakah benar
ibu yang bernama bu PH? bu, bagaimana perasaan ibu sekarang?
Apakah ibu masih merasakan badan ibu meriang? Sekarang
saya akan memberikan obat injeksi berupa antibiotika ceftriaxone yang akan
dimasukkan lewat selang infus untuk mencegah terjadinya infeksi.
- Pemberian injeksi Ceftriaxone ini akan diberikan setiap 12 jam sekali.
B. Tahap Kerja
- Ibu, obatnya saya ambil dulu di laci tempat obatnya.
- Saya sudah mengecek obatnya, keadaan obat masih bagus, tanggal expirednya
masih empat tahun lagi. Obat ini juga sudah sesuai dengan program dokter.
- Obat ini sudah dapat diberikan kemarin sebelumnya, saya akan memasukkan
obat ini ke dalam spuit setelah itu baru saya akan menyuntikkannya.
- Baiklah sekarang saya akan memasukkan obat injeksi ini lewat selang infus jadi
tidak sakit, Bagaimana pak? Tidak sakitkan?.
C. Tahap Terminasi
- Baiklah bu, saya sudah selesai menyuntikkan obatnya.
- Data objektif : obat sudah dimasukkan, tanda-tanda alergi obat ( -)
- Baik bu , terima kasih atas partisipasi ibu. Tolong bapak melapor pada
perawat bila ada tanda-tanda alergi obat misalnya keringat dingin, benjolan,
gatal atau kelihatan kemerahan di sekitar area suntikan.
D. Kontrak selanjutnya
- Baiklah bu, pemberian suntikan sudah selesai dan teman saya akan datang satu
jam lagi untuk melakukan pengukuran vital sign. Bila ibu perlu bantuan, ibu
bisa menghubungi perawat di counter perawat.
STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN MENGUKUR SUHU TUBUH

Nama : PH (01283327)
Umur : 28 Tahun
Diagnosa Medis : Post Op ORIF (PS) ec Closed Fraktur Femur Dex 1/3 Tengah
Kamar : Km.306 Ruang HangsokaIII RSUP Sanglah
Tanggal pengkajian : 2 Oktober 2009

A. Kondisi Klien
1. Alasan MRS :
Pasien mengeluh nyeri pada paha kanannya setelah mengalami kecelakaan
lalu lintas sehari sebelum MRS (30/9/2009) yaitu ditabrak sepeda motor saat
menyebrang dari sebelah kanan. Pasien sempat dibawa ke RSU Ari Canti Gianyar
untuk mendapatkan penanganan, namun dengan pertimbangan keterbatasan alat
pasien kemudian dirujuk ke RSUP Sanglah untuk mendapat penanganan lebih
lanjut. Pasien diterima di Triage Bedah RSUP Sanglah tanggal 1 Oktober 2009
pkl 11.00 wita. Setelah diobservasi pasien kemudian dipindahkan ke Ruang
Angsoka III kamar 306 dan direncanakan menjalani operasi ORIF (plat screw)
tanggal 2 Oktober 2009 pkl 08.00 wita.

2. Data Fokus :
a. Data subjektif :
- Pasien mengeluh nyeri pada daerah bekas operasi yaitu pada paha sebelah kanan
dan mengeluh badannya meriang
b. Data objektif :
- Kulit pasien teraba hangat, mukosa bibir tampak kering,kulit pasien tampak
kemerahan.
- TTV : Suhu : 38, 3 0C, N : 100 x/mnt
B. Diagnosa Keperawatan
Hipertermia b.d adanya respon imun terhadap prosedur invasif (ORIF) ditandai
dengan pasien mengeluh nyeri pada paha kanan setelah terpasang plat screw, pasien
mengatakan badan terasa meriang, S=38,3C,N=100x/mnt, kulit pasien teraba hangat,
mukosa bibir tampak kering, kulit pasien tampak kemerahan.

C. Tujuan Khusus
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1x6 jam diharapkan suhu tubuh
menurun hingga mencapai normal dengan kriteria hasil : S = 36-37,5C, N= 60-
80x/mnt, Kulit teraba sesuai dengan suhu tubuh, Kulit tidak kemerahan, Nyeri
pada paha kiri berkurang

D. Tindakan Keperawatan :
Melaksananakan tindakan mandiri, mengukur suhu tubuh

E. Standar Operasional Prosedur ( SOP ) : Mengukur suhu tubuh


1. Pengertian : Melakukan pengukuran temperatur tubuh melalui aksila.
2. Tujuan : - Mengetahui suhu tubuh pasien .
3. Kebijakan : Sebagai tindakan mandiri perawat.
4. Persiapan : - termometer dalam tempatnya
- Handscoen
- tissue/gaas kering
- larutan clorin
- Bengkok
- buku dokumentasi vital sign
5. Prosedur kerja :
a. Beri salam dan perkenalkan diri
b. Dekatkan peralatan (troly injeksi)
c. Memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarga tentang tindakan yang
akan dilakukan dan kegunaannya,cuci tangan,pakai handscoen
d. Lipat lengan baju pasien kemudian bersihkan aksila dengan tissu kering.
e. Standarkan termometer kemudian letakkan ujungnya pada aksila, minta pasien
untuk menjepitnya dengan lengan.
f. Biarkan selama 3-5 menit kemudian baca hasil pengukuran.
g. Rapikan pasien, desinfeksi termometer dengan mencelupkan pada larutan
clorin, cuci tangan
h. Tentukan kontrak selanjutnya dan lakukan pendokumentasian

STRATEGI KOMUNIKASI DALAM TINDAKAN PERAWATAN


MENGUKUR SUHU TUBUH

A. Tahap Orientasi
- Selamat pagi, Bu, nama saya Widya. Saya mahasiswa PSIK Unud, Apakah
benar ibu adalah ibu PH?
- Bu, sekarang saya akan mengukur suhu tubuh ibu, untuk mengetahui apakah ibu
sedang demam atau tidak.

B. Tahap Kerja
- Ibu, saya siapkan alatnya dulu ya!.
- Saya sudah mencuci tangan, permisi, saya gulung sebentar lengan bajunya ya
Bu.
- Baiklah sekarang tolong termometer ini dijepit selama kurang lebih 3 sampai 5
menit.

C. Tahap Terminasi
- Baiklah Bu, saya sudah selesai mengukur suhu tubuh ibu.
- Data objektif : S=37,8C
- Baik bu, terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya. Saat ini saya
informasikan bahwa ibu masih demam, tadi ibu sudah minum obat
penurun panas. Sementara itu lanjutkan kompres air hangat dan bila ibu
tidak merasa mual,tolong perbanyak minum air ya Bu .

D. Kontrak selanjutnya
- Baiklah ibu, pengukuran suhu sudah selesai 5 menit lagi saya kembali untuk
membawakan kompres hangat. Bila bapak perlu bantuan lain, ibu bisa
menghubungi saya atau perawat di counter perawat, terimakasih.
STRATEGI PELAKSANAAN DAN KOMUNIKASI PADA PASIEN PH
DENGAN CLOSED FRAKTUR FEMUR DEXTRA 1/3 TENGAH P.O ORIF
(PLAT SCREW) DENGAN HIPERTERMI DALAM TINDAKAN
MEMBERIKAN INJEKSI INTRAVENA
DI RUANG ANGSOKA III RSUP SANGLAH DENPASAR
TANGGAL 2 OKTOBER 2009

OLEH :
NI KADEK WIDYA LESTARI
NIM 07021126
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2009

STRATEGI PELAKSANAAN DAN KOMUNIKASI PADA PASIEN PH


DENGAN CLOSED FRAKTUR FEMUR DEXTRA 1/3 TENGAH P.O ORIF
(PLAT SCREW) DENGAN HIPERTERMI DALAM TINDAKAN
PEMASANGAN INFUS
DI RUANG ANGSOKA III RSUP SANGLAH DENPASAR
TANGGAL 2 OKTOBER 2009

OLEH :
NI KADEK WIDYA LESTARI
NIM 07021126

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2009

STRATEGI PELAKSANAAN DAN KOMUNIKASI PADA PASIEN PH


DENGAN CLOSED FRAKTUR FEMUR DEXTRA 1/3 TENGAH P.O ORIF
(PLAT SCREW) DENGAN HIPERTERMI DALAM TINDAKAN
MENGUKUR SUHU BADAN
DI RUANG ANGSOKA III RSUP SANGLAH DENPASAR
TANGGAL 2 OKTOBER 2009

OLEH :
NI KADEK WIDYA LESTARI
NIM 07021126

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN 2009