Anda di halaman 1dari 11

Pdt. Dr.

Jerry Rumahlatu: Jangan Lupa Reformasi


Protestan!
Posted By: adminon: Maret 01, 2015In: Opini & Analisa

Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu, D.Th. Jangan Lupa Reformasi Protestan

Saat ini situasi banyak gereja Protestan (khususnya di Barat (AS/Eropa)) amat menyedihkan
karena telah meninggalkan Injil dan pelayanan alkitabiah. Banyak gereja Protestan di seluruh
dunia sedang krisis karena keduniawian, kedunguan dan sikap kompromistis/toleransi. Gereja-
gereja Protestan saat ini semakin didominasi oleh roh zaman daripada Roh Kristus. Banyak
gereja Protestan telah melupakan dan mengabaikan arti penting Reformasi Protestan abad XVI.
Bahkan banyak yang tidak menyebut-nyebutnya lagi di dalam gereja. Saat ini banyak orang
Protestan yang tidak mengenal Martin Luther, John Calvin atau Jan Hus, dan lain-lain. Hari
Reformasi bahkan sudah tidak dikenal dan diperingati lagi.

Saat ini cahaya Reformasi semakin meredup karena umat Protestan sendiri yang meninggalkan
dan melupakan kebenaran-kebenaran standar, sentral dan absolut dari Alkitab. Celakanya lagi,
banyak Gereja Protestan secara sadar atau tidak, sedang digiring kembali ke negeri Mesir, ke
era abad kegelapan. Masih adakah yang peduli dan komit dengan doktrin pembenaran hanya
oleh iman saja?demikian dipaparkan Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu, D.Th., dalam diskusi bulanan
dengan tema Revitalisasi Spirit Reformasi Protestan yang diselenggarakan oleh lembaga
pengkajian Akademi Protestan Indonesia (API), Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Pdt. Jerry Rumahlatu, Reformasi Protestan di Eropa selama abad XVI merupakan
salah satu masa paling penting dalam sejarah dunia. Reformasi Protestan merupakan peristiwa
paling penting dalam sejarah kekristenan paska peristiwa pencurahan Roh Kudus. Para
Pembaharu memperjuangkan prinsip-prinsip bahwa Alkitab saja otoritas kita yang terakhir.
Kristus saja kepala Gereja dan pembenaran merupakan anugerah Allah saja, atas dasar
pekerjaan Kristus yang sudah selesai, yang diterima melalui iman saja.

Sebelum terjadi Reformasi Protestan, Kekristenan memiliki daftar tradisi yang panjang dan daftar
tahyul-tahyul yang harus diikuti oleh umat Tuhan. Alkitab merupakan kitab terlarang yang tidak
boleh dibaca dan tidak boleh dimiliki umat. Sebelum Reformasi, Kekristenan adalah
agama/gereja tanpa Injil, tanpa pengetahuan, tanpa iman, tanpa pengharapan yang hidup, tanpa
pembenaran, tanpa kelahiran baru, tanpa kekudusan, tanpa pandangan tentang Yesus atau Roh
Kudus. Sebelum Reformasi, kekristenan lebih merupakan organisasi penyembah/pemuja orang-
orang suci, pemuja patung, pemuja barang-barang keramat, ziarah, amal, formalisme,
seremonialisme, arak-arakan, perkawinan, puasa, misa, dan ketaatan buta kepada para
pendeta.

Akan tetapi, Tuhan mempunyai rencana dan waktu untuk memulihkan gerejaNya. Hampir 500
tahun yang lalu, Martin Luther menyalakan api Reformasi Protestan dengan memakukan 95
tesis di pintu Gereja Istana di Wittenberg.Tuhan membangkitkan Martin Luther untuk
mereformasi Gereja sehingga melahirkan Reformasi Protestan. Kita harus berterima-kasih
kepada Tuhan karena mengutus Luther yang pemberani untuk melakukan pembaharuan dan
pemulihan terhadap ajaran-ajaran Alkitab. Tuhan membaharui umatNya melalui pemulihan
FirmanNya. Raja Yosia dengan didengar mereka ia membacakan segala perkataan dari kitab
perjanjian yang ditemukan di rumah Tuhan itu dan seluruh rakyat turut mendukung perjanjian
itu (2 Raj 23:3). Dalam zaman reformasi Ezra,Bagian-bagian daripada kitab itu, yakni Taurat
Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan
dimengerti (Neh. 8:8).

Lebih lanjut tegas Pdt. Jerry, Separoh Protestan (khususnya yang Liberal) kini sedang dalam
krisis besar. Kaum Protestan saat ini sedang kehilangan jiwa ketaatan/kesetiaannya pada
Alkitab, sedang kehilangan penuntun moral dan semangat misi. Banyak gereja yang telah
menyerah pada relativisme moral yang mengajarkan tidak ada yang selamanya benar atau suci.
Kesetiaan Gereja Protestan di waktu lampau sangat bertolak belakang dengan
ketidaksetiaannya saat sekarang.

Di abad XIX dan awal abad XX, gereja-gereja Protestan menjadi kekuatan misi utama di dunia.
Ratusan ribu misionaris Protestan berkarya di seluruh dunia membangun banyak lembaga
keagamaan untuk melayani dan membangun Kerajaan Kristus di seluruh dunia.

Ada 4 Erosi yang membuat Protestantisme mengalami krisis besar saat ini:

Pertama, Erosi otoritas: Reformasi Protestan didasarkan atas keyakinan bahwa Alkitab
merupakan Firman Allah yang sempurna, mutlak, tidak bisa salah dan diinspirasikan oleh Allah
sendiri. Seluruh gereja di abad 21 dibagi atas mereka yang percaya dan menerima Alkitab
sebagai satu-satunya Firman Allah yang tidak bisa salah dan mereka yang berpendapat bahwa
Alkitab merupakan buku manusia yang penuh dengan mitos-mitos, separuh kebenaran dan
penuh kontradiksi. Luther, Zwingli, Calvin dan Reformator-reformator lainnya mempercayai
ketidakbisasalahan (infalibilitas) Alkitab, bukan mempercayai infalibilitas pemimpin-pemimpin
Gereja atau konsili-konsili Gereja.

Hanya Alkitab merupakan aturan/peraturan kehidupan gereja yang tidak bisa salah. Akan tetapi
gereja-gereja Protestan saat ini telah memisahkan Alkitab dari fungsi otoritatifnya. Dalam
prakteknya, gereja terlalu sering dituntun oleh kebudayaan (budaya massa).

Karena otoritas biblikal telah ditinggalkan dalam praktek, karena kebenaran-kebenaran telah
melayu dan pudar dari kesadaran Kristen, dan karena ajaran-ajarannya telah kehilangan
kebenaran-kebenaran pentingnya, gereja semakin kosong, tidak mempunyai integritas, otoritas
moral dan arah.

Daripada mengadaptasi iman Kristen untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan pasar


(konsumen), dengan menggunakan strategi-strategi pemasaran, teknik terapis dan dentuman
hiburan dunia, kita harus memproklamasikan hukum Allah (Alkitab) sebagai satu-satunya ukuran
kebenaran sejati dan Injil sebagai satu-satunya maklumat kebenaran yang menyelamatkan.
Kebenaran alkitabiah sangat diperlukan untuk pengertian, kedewasaan dan disiplin gereja.

Hanya dalam terang kebenaran Allah saja kita bisa memahami diri kita sebagaimana mestinya
dan melihat pemeliharaan Tuhan untuk kebutuhan kita. Alkitab, karena itu harus diajarkan dan
dikotbahkan dalam gereja. Kotbah-kotbah haruslah merupakan eksposisi Alkitab dan ajaran-
ajarannya, bukan ungkapan pendapat pengkotbah atau ide-ide zaman. Hanya dengan kembali
kepada Alkitab, kembali berdoa, kembali kepada kehidupan yang suci Gereja bisa mengalami
Reformasi dan kebangunan rohani baru lagi.

Kita harus menegaskan kembali bahwa Alkitab tidak bisa salah dan harus menjadi satu-satunya
sumber wahyu ilahi yang tertulis, yang bisa mengikat dan menerangi hati nurani. Hanya Alkitab
yang mengajarkan semua yang penting untuk keselamatan kita dari dosa dan merupakan
standar yang olehnya semua tingkahlaku Kristen harus diukur. Kita menolak klaim-klaim
pengalaman rohani pribadi sebagai ukuran kebenaran iman.

Karya Roh Kudus dalam pengalaman pribadi tidak boleh terlepas dari Alkitab. Roh Kudus tidak
pernah berbicara yang menyimpang dari Alkitab. Selain dari Alkitab kita tidak bisa mengenal
anugerah Allah. Firman Tuhan yang Alkitabiah, bukan pengalaman rohani, yang menjadi ujian
kebenaran.
Kita harus menekankan kembali bahwa Firman Allah yang tidak bisa salah merupakan sumber
dan norma untuk semua iman dan praktek dalam gereja Kristus. Kita berpandangan bahwa
Firman Allah berguna, efektif dan cukup untuk kebutuhan-kebutuhan kita dalam melayaniNya.

Banyak teolog saat ini berusaha meyakinkan anggota-anggota gereja bahwa Alkitab tidak lagi
relevan kalau menghadapi isu-isu yang menyangkut doktrin, etika dan moralitas pribadi.
Sedihnya, karena banyak anggota gereja sudah buta Alkitab, mereka gampang menjadi mangsa
yang mudah ditelan oleh guru-guru penipu dan nabi-nabi palsu.

Kedua, Erosi iman yang berpusatkan pada Kristus.

Karena iman Protestan telah tersekularisasi, perhatiannya telah dikaburkan oleh kebudayaan.
Nilai-nilai kekudusan dan pertobatan pribadi diabaikan. Kebenaran diganti dengan intuisi, iman
diganti dengan perasaan. Kristus dan salibNya telah dibuang dari pusat visi kita.Hasilnya adalah
gereja kehilangan nilai-nilai absolut, individualisme menjadi permisif/toleran terhadap dosa.

Pembenaran adalah hanya oleh anugerah saja, melalui iman saja karena Kristus saja. Doktrin
pembenaran oleh iman merupakan titik jatuh bangunnya gereja. Saat ini doktrin ini sering
diabaikan dan diselewengkan atau kadang-kadang disangkal oleh para pemimpin, sarjana dan
pendeta-pendeta yang menyebut dirinya Protestan.

Dimanapun di dalam gereja kalau otoritas biblikal telah hilang, kalau Kristus disingkirkan, Injil
didistorsi, atau iman dirusak, maka Gereja akan mengalami krisis, ditinggalkan dan mati. Gereja
telah kehilangan sentralitas Kristus. Kuasa Tuhan ada di dalam salib dan darah Kristus dan ada
di dalam berita Injil. Yesus mati di kayu salib untuk kita. Disanalah kuasa itu berada.

Teolog-teolog dan organisasi-organisasi Gereja saat ini banyak yang sudah menyamakan semua
agama dengan kekristenan.

Ketiga, Erosi ibadah yang berpusatkan pada Allah. Allah tidak hadir untuk memuaskan ambisi,
idaman atau nafsu makan manusia atau minat pribadi kita. Kita mengubah ibadah menjadi
hiburan, kotbah Injil menjadi pemasaran, percaya menjadi teknik, menjadi baik menjadi merasa
baik tentang diri kita, kesetiaan diganti menjadi kesuksesan.

Reformasi memberi kita ajaran yang benar tentang ibadah Kristen, menekankan kembali
perlunya standar kekudusan hidup. Apa yang kita percaya akan menentukan bagaimana kita
bertindak. Kalau kita berpegang pada kebenaran-kebenaran Injil maka setiap tingkah laku atau
perbuatan kita juga akan memancarkan kuasa Injil.

Kita harus bertobat dari keduniawian kita. Gereja kita telah dipengaruhi oleh injil-injil budaya
sekuler yang bukan Injil. Kita telah melemahkan gereja karena kurang serius bertobat dan
karena kita buta pada dosa dalam diri kita dan karena kita gagal menyampaikan kepada orang
lain tentang karya penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus.

Keempat, Teologia apa saja boleh.

Ajaran-ajaran yang tidak alkitabiah dan tingkah-laku manusia yang paling jahat semakin
didukung dan ditoleransi oleh separoh gereja-gereja di Barat. 50 tahun yang lalu tidak ada satu
orangpun yang pernah membayangkan bahwa Gereja-gereja mentahbiskan praktek homoseks
dan melakukan upacara pemberkatan perkawinan sesama jenis. Tidak ada juga yang
membayangkan akan ada banyak pendeta dan uskup yang homo/lesbi.

Para pendeta dan teolog liberal, yang sekolah di STT-STT yang menyangkal Alkitab, sedang
menulis ulang Kitab Suci dengan pendapat-pendapat mereka sendiri yang jahat, dengan
mengkompromikan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan dengan roh-roh zaman dan
memproklamasikan mitos-mitos dan fantasi-fantasi kepercayaan-kepercayaan yang diinspirasi
oleh Iblis dan mengajarkan Injil tanpa salib Kristus, tanpa murka Allah, tanpa pertobatan, tanpa
iman, tanpa mujizat dan tanpa kuasa Roh Kudus kepada umat Tuhan. Ajaran-ajaran yang
berbahaya dan tidak alkitabiah ini hanya membawa gereja dan umat Tuhan kepada kematian.

Luther pasti sangat sedih melihat kondisi rohani sebagian Gereja Protestan saat ini yang sangat
tercela, yang bahkan keadaannya lebih tercela pada saat Luther dan para Reformator secara
berani tanpa takut mati sedikitpun mencetuskan gerakan pembaharuan dan restorasi Gereja
secara total.

Karena itu, menurut Pdt. Jerry Rumahlatu, Kita jangan melupakan Reformasi Protestan yang
agung dan prinsip di belakangnya. Mengapa? Karena Tuhan berada di balik Reformasi. Dia telah
menginspirasi pria-pria dan wanita untuk berani berdiri membela kebenaran Firman Tuhan.
Reformasi memberitahu kita bahwa KEBENARAN itu penting bagi Tuhan. Kita jangan pernah
melupakan sejarah gereja yang paling kelam: Berpuluh-piluh juta umat Kristen dibunuh oleh
Gereja sendiri oleh karena membela kebenaran Injil.

Jadi mengapa kita jangan melupakan Reformasi Protestan? Kita tidak boleh melupakan
Reformasi Protestan yang agung karena Reformasi mengingatkan kita bahwa kita memiliki Allah
yang besar dan bahwa keselamatan hanya ada di dalamNya saja. Kita diselamatkan oleh
anugerah saja, melalui iman saja, dalam Kristus saja, untuk kemuliaan Allah saja. Kita tahu ini
karena Alkitab saja yang menjadi standar tertinggi kita untuk kebenaran. Kita tidak menentukan
apa yang baik dan benar tentang Tuhan. Tetapi Tuhan yang menentukan. Kalau kita melupakan
Reformasi, kita akan terjatuh ke tangan Setan. Reformasi Protestan ingin membawa Kekristenan
kembali kepada Injil Kristus Yesus yang sejati, kepada kekristenan yang fundamental, Alkitabiah,
kuat, bergairah, logis, progresif dan transformatif. Reformasi Protestan mengajarkan kita untuk
hanya tunduk kepada otoritas Alkitab dan kuasa Firman Tuhan saja dan hidup dengan iman,
kuasa Firman Allah, untuk melayani Allah dan sesama manusia! Kobarkan kembali Semangat
Reformasi Protestan: Sola Gratia; Sola Skriptura; Sola Fidei; Solus Christus dan Soli Deo Gloria!
Ini untuk Kristus Yesus. Semua ini untuk Kristus Yesus! Dan kamu akan mengetahui kebenaran,
dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yoh 8:32).

Apa yang membuat Italia, Meksiko, negara-negara Amerika Selatan, Irlandia, Spanyol dan
Portugal tidak digdaya? Kekristenan yang tidak alkitabiah. Apa yang membuat AS, Inggris,
Skotlandia, Jerman, Norwegia, dan negeri-negeri Protestan lainnya menjadi negara-negara yang
kuat, makmur? Protestantisme.

Mantan rektor STT Jaffray, Jakarta ini menambahkan, Alkitab memiliki kemampuan dan kuasa
untuk mentransformasi. Ibrani 4: 12 mengatakan,Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih
tajam daripada pedang bermata dua manapun, ia menusuk amat dalam sampai memisahkan
jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati
kita. Roma 12: 2 berkata Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah
oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa
yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna Firman Tuhan dan Roh Allah
benar-benar mengubah kehidupan orang. Alkitab telah mengubah kehidupan banyak pembunuh,
pecandu narkoba, pejabat-pejabat tinggi pemerintah, tokoh bisnis, dan pelajar-pelajar, dan masih
banyak lagi yang dapat kita sebut, yang telah ditransformasi oleh Alkitab. Tidak ada buku yang
bisa membuat klaim seperti ini. Ini karena Alkitab bukan hanya merupakan sebuah buku biasa
tentang kehidupan yang baik, tetapi secara literer dibungkus dengan kuasa. Alkitab adalah
Firman Allah dengan kuasa untuk mengubah kehidupan.

Sebagai umat Protestan, kita menyerukan agar kita bertobat atas dosa-dosa kita dan kembali
kepada iman Kristen yang historis. Kita harus meninggikan kebenaran-kebenaran agung Alkitab
dalam kehidupan gereja-gereja, khususnya dalam prinsip Sola Reformasi Protestan. Kita tahu
melalui Alkitab bahwa kita diselamatkan oleh Kristus saja, oleh anugerah saja, melalui iman saja
dan semua untuk kemuliaan Allah saja.

Karena itu tugas kita adalah tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah
disampaikan kepada orang-orang kudus (Judas 1:3) dan bangunlah dirimu sendiri di atas dasar
imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh KudusTunjukkanlah belas kasihan kepada
mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi
tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah
pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa (Yudas 1:20, 22).

Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta dan Hakim Agung kita, adalah kebenaran. Alkitab yang Ia
inspirasikan adalah sempurna, mutlak dan tidak bisa salah/keliru. Alkitab saja otoritas kita yang
terakhir. Keselamatan hanya melalui anugerah Allah saja, yang diterima melalui iman saja, atas
dasar penebusan Kristus saja. Yesus Kristus saja kepala Gereja.

Kita harus merevitalisasi spirit dan warisan iman dan kebebasan dari Reformasi Protestan.
Tuhan telah memberkati kita melalui para pembaharu seperti John Wycliffe, John Hus, Martin
Luther, Ulrich Zwingli, John Calvin, John Knox dan William Tyndale.Sekarang adalah waktunya
untuk Reformasi Protestan jilid II untuk membuat kembali gereja lebih kuat dalam masyarakat
post-modern. Kita harus mengimplementasikan prinsip-prinsip Reformasi Protestan dalam
kehidupan,

keluarga dan masyarakat kita saat ini. Kita harus sadar dan semakin berhati-hati karena di akhir
zaman ini para anti-kris sedang menyusup masuk ke dalam gereja-gereja Protestan. Banyak
Gereja Protestan yang telah diinfiltrasi oleh para anti-kris sehingga separuh Gereja Protestan di
Barat sedang krisis, kena kanker dan strok. Kita harus memulihkan dan merebut kembali Gereja-
gereja Protestan yang telah dibajak para anti kris. (Hotben Lingga)

JENEWA, SATUHARAPAN.COM - Dari Konflik ke Komuni. Begitulah Gereja


Lutheran dan Katolik menggambarkan perjalanan ekumenis mereka dalam 50 tahun
terakhir. Keduanya melihat ke depan secara bersama-sama untuk menyambut
peringatan 500 tahun reformasi gereja yang akan berl;angsung pada pada 2017
mendatang.

From Conflict to Communion dijadikan tajuk bagi sebuah dokumen bersama dari
Gereja Lutheran-Katolik Roma yang disampaikan oleh Komisi International
Persatuan pada konferensi pers, Senin (17/6) di kantor pusat Federasi Dunia Gereja
Lutheran (Lutheran World Federation / LWF) di Jenewa.

Teks panjang dokumen tersebut menunjukkan tanggung jawab bersama atas


pemisahan Gereja Barat pada abad ke-16, serta upaya mengatasi tantangan dalam
menyembuhkan luka masa lalu, dan bekerja sama untuk rekonsiliasi dan
menyampaikan kesaksian bagi dunia.

Topik tersebut dieksplorasi dari dokumen dengan tema dasar teologi Martin Luther
yang bertujuan untuk terjadinya dialog Lutheran-Katolik, serta berfokus pada
hubungan antara kedua gereja untuk peringhatan lima abad itu secara bersama-
sama.

Pada 31 Oktober 1517, biarawan Jerman dan seorang teolog, Martin Luther,
memakukan lembaran berisi 95 dalil tentang masalah yang harus direformasi pada
pintu gereja di sebuah kastil di Wittenberg, Jerman. Tindakan Martin Luther itu yang
melahirkan reformasi gereja. Hal itu tidak hanya memisahkan Gereja Protestan dan
Katolik, tetapi juga secara radikal menantang tentang peran agama dalam
masyarakat.

Mgr. Matthias Turk yang bertanggung jawab atas hubungan gereja Lutheran-Katolik
dengan Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristen hadir pada konferensi pers di
Jenewa tersebut. Dia didampingi Presiden Dewan Kardinal, Kurt Koch.

"Hal ini adalah pertanda yang sangat penting setelah berabad-abad konflik dan
kesalahpahaman, yang menyebabkan bahkan hingga peperangan antar negara dan
dalam negara. Ini adalah untuk pertama memperingati reformasi gereja yang dapat
dilakukan secara bersama-sama,dan oikumenis, kata Martin Junge, Sekretaris
Jenderal LWF. Dia menegaskan bahwa peringatan ini akan menjadi hajatan
internasional, harus bersifar ekumenis dan harus memanggil kita untuk kesaksian
bersama.

Alasan pemisahan sereja sangat sering karena kesalahpahaman dan penafsiran


yang berbeda dari isi yang sama tentang iman dan keyakinan teologis. Jadi dalam
dialog ekumenis internasional, kami mampu menemukan kembali dasar umum yang
kita miliki dalam pertanyaan-pertanyaan iman dan mampu mengungkapkan bahwa
pemisahan gereja tidak lagi menjadi masalah.

Demikian juga dari sisi Katolik, keyakinan kita tentang Ecclesia semper
reformanda, bahwa kehidupan Gereja harus direformasi sepanjang waktu, di setiap
zaman. Kita mempunya komitmen yang sama untuk reformasi bagi kedua pihak.
Apa yang kita lakukan dari dokumen ini memperlihatkan tema utama teologi Martin
Luther mengangkat dialog ekumenis kita. Hal itu menunjukkan bahwa banyak ide
Martin Luther telah menjadi isu penting bagi seluruh Gereja dan elemen penting
dalam renovasi Gereja, kata Junge. (new.va / lutheranworld.org)
500 Tahun CalvinismeApa yang Telah
Dicapainya?
JEAN CAUVIN (John Calvin) lahir di Noyon, Prancis, pada 1509. Ia mendirikan gerakan
religius yang memainkan peranan besar dalam kehidupan banyak orang di berbagai bagian
Eropa, Amerika, Afrika Selatan, dan tempat-tempat lain. Ia dipandang sebagai salah
seorang Reformis utama gereja dalam sejarah Barat.

Dewasa ini, sekitar 500 tahun setelah Calvin lahir, Calvinismepaham dan ajaran Calvin
dalam satu atau lain bentuk masih tumbuh subur di berbagai denominasi Protestan seperti
gereja Reformasi, Presbiterian, Kongregasional, Puritan, dan sebagainya. Pada akhir
September, Aliansi Gereja Reformasi Sedunia melaporkan memiliki 75 juta penganut di
107 negeri.

Berseberangan dengan Katolik


Ayah Calvin adalah seorang jaksa dan sekretaris gereja Katolik di Noyon. Mungkin,
pekerjaannya membuat dia banyak mengetahui perbuatan tercela para pemimpin agama
yang marak kala itu. Kita tidak tahu apakah hal ini membuat ayah dan kakak John
menyuarakan protes atau bertindak tidak respek, tetapi belakangan mereka dikucilkan oleh
gereja. Ketika ayahnya meninggal, John kesulitan mendapatkan penguburan Kristen
untuknya. Peristiwa itu mungkin membuat John semakin tidak memercayai Katolikisme.

Sebagian besar tulisan tentang Calvin tidak banyak menceritakan masa mudanya selain
bahwa ia pemalu dan pendiam. Bahkan sewaktu belajar di Paris, Orlans, dan Bourges, ia
tampaknya tidak memiliki banyak teman. Tetapi, Calvin dikaruniai pikiran yang tangkas dan
daya ingat yang menakjubkan. Berkat hal itu, dibarengi kemampuan kerja yang
mengagumkania belajar setiap hari dari pukul lima pagi sampai tengah malamia
menjadi doktor hukum sebelum berusia 23 tahun. Ia juga mempelajari bahasa Ibrani,
Yunani, dan Latin guna mendalami Alkitab. Namun, yang pertama dan terutama, Calvin
dikenal memiliki etos kerja yang serius dan disiplin, karakteristik yang oleh banyak orang
dikaitkan dengan Calvinisme bahkan dewasa ini.

Sementara itu, di negara tetangga, Jerman, Martin Luther secara terbuka mengecam Gereja
Katolik atas kebobrokan dan ajarannya yang tidak berdasarkan Alkitab. Menurut pendapat
populer, pada tahun 1517 ia memakukan ke-95 protesnya pada pintu gereja di Wittenberg,
yang mendesak dilakukannya reformasi gereja. Banyak orang sepakat dengan Luther, dan
Reformasi segera menyebar ke seantero Eropa. Tentu, hal itu memicu tentangan yang hebat
di banyak wilayah, dan para pemrotes, atau orang Protestan, ditindas karena menyatakan
pandangan mereka. Pada 1533 di Paris, teman Calvin, Nicholas Cop, menyampaikan pidato
yang mendukung Luther, dan karena Calvin turut menulis pidato itu, mereka berdua harus
melarikan diri demi menyelamatkan nyawa mereka. Calvin tidak pernah pulang lagi ke
Prancis.

Pada 1536, Calvin menerbitkan Institutes of the Christian Religion, yang bisa dianggap
sebagai buku panduan agama Protestan. Ia menujukannya kepada Raja Francis I untuk
membela orang Protestan Prancis, yang belakangan dikenal sebagai kaum Huguenot.
Calvin menyerang ajaran Katolik dan meneguhkan prinsip utama kepercayaannya sendiri
kedaulatan Allah. Selain berdampak pada persoalan religius, Institutes juga dikenal karena
pengaruhnya atas bahasa dan gaya sastra Prancis. Calvin dielu-elukan sebagai salah
seorang Reformis terdepan. Ia akhirnya menetap di Jenewa, Swiss, dan sejak 1541, ia
menjadikan kota itu sebagai pusat gerakan reformasinya.

Mengupayakan Reformasi di Jenewa


Calvin menghasilkan pengaruh yang sangat besar terhadap Jenewa. Didorong oleh
kesadaran moral dan rasa keadilan yang kuat, ia mengubah Jenewa dari kota yang
bereputasi buruk menjadi kota yang memiliki kaidah moral ketat yang mengatur kehidupan
semua orang, kata Encyclopedia of Religion. Perubahan juga terjadi dalam bidang-bidang
lain. Dr. Sabine Witt, kurator Museum Sejarah Jerman di Berlin, menjelaskan, Akibat
peperangan religius di Prancis, penduduk [Jenewa] meningkat dua kali lipat dalam waktu
beberapa tahun setelah masuknya ribuan pengungsi Protestan. Kaum Huguenot, yang
memiliki etos kerja seperti Calvin, memacu perekonomian kota itu dengan pesat, menjadikan
Jenewa pusat percetakan dan pembuatan jam.

Para pengungsi dari negeri-negeri lain juga berdatangan ke Jenewa, termasuk banyak
pengungsi dari Inggris, di mana orang Protestan terancam oleh Ratu Mary I. Kaum Calvinis
ini, yang sebagian besar terdiri atas kaum minoritas buangan, lantas mengembangkan apa
yang dilukiskan oleh jurnal religius Christ in der Gegenwart (Kristen Kontemporer) sebagai
teologi kaum teraniaya. Pada 1560, para pengungsi itu menerbitkan Alkitab
Jenewa, Alkitab pertama berbahasa Inggris yang memuat pembagian ayat berdasarkan
nomor. Karena berukuran kecil tetapi padat, Alkitab ini memudahkan pelajaran Firman Allah
secara pribadi. Mungkin, inilah terjemahan Alkitab yang dibawa oleh kaum Puritan sewaktu
mereka beremigrasi ke Amerika Utara pada 1620.
Tetapi, Jenewa ternyata bukan tempat berlindung yang aman bagi semua orang. Michael
Servetus, yang lahir pada 1511 di Spanyol, mempelajari bahasa Yunani, Latin, dan Ibrani
serta kedokteran dan mungkin pernah bertemu Calvin saat keduanya belajar di Paris.
Servetus mengetahui dari pelajaran Alkitabnya bahwa doktrin Tritunggal tidak berdasarkan
Alkitab. Ia mencoba berkoresponden dengan Calvin tentang pokok tersebut, tetapi Calvin
malah menganggap Servetus sebagai musuh. Karena ditindas oleh orang Katolik di Prancis,
Servetus melarikan diri ke kotanya Calvin, Jenewa. Bukannya disambut, ia malah ditangkap,
diadili sebagai bidah, dan dibakar di tiang pada 1553. Eksekusi Servetus terus menjadi aib
bagi kehidupan dan karya sang Reformis besar [Calvin], kata sejarawan Friedrich
Oehninger.

Calvin menghasilkan banyak sekali karya seraya ia mengupayakan reformasi. Ia dikabarkan


telah menulis lebih dari 100 karya referensi dan 1.000 surat, serta telah menyampaikan
sekitar 4.000 khotbah di Jenewa. Melalui semua itu, Calvin bukan hanya menyajikan
pandangannya tentang bagaimana seharusnya Kekristenan itu melainkan juga berupaya
menegakkan apa yang menurutnya adalah cara hidup orang Kristen yang semestinya,
terutama di Jenewa, yang ia impikan akan menjadi kota Allah.*

Apa yang telah dihasilkan oleh upaya reformasi Calvin yang tak kenal letih di Jenewa?
Menurut Kantor Statistik Federal Swiss, pada tahun 2000, hanya 16 persen penduduk
Jenewa yang menjadi anggota Gereja Reformasi (Calvinis), dan ada lebih banyak orang
Katolik daripada pengikut Calvin di kota itu.

Perpecahan Agama Merebak


Sebagai reaksi terhadap Reformasi, berbagai kota dan negara menyatakan kesetiaan
mereka kepada Katolikisme, Lutheranisme, atau Calvinisme, sehingga perpecahan agama
merebak di Eropa. Meskipun para Reformis bersatu mengecam Gereja Katolik, mereka
sendiri saling berselisih. Dr. Witt, yang tadi dikutip, berkomentar, Ketidaksepakatan teologis
berkembang bahkan di kalangan Protestan. Meskipun semua mengakui bahwa Alkitab
harus menjadi dasar iman Kristen, ada banyak ketidaksepakatan dalam ajaran mereka.
Yang diperdebatkan saat itu adalah makna Perjamuan Terakhir dan kehadiran Kristus.
Belakangan, Calvinisme mengembangkan salah satu doktrinnya yang paling kontroversial:
predestinasi.

Kala itu, banyak yang memperdebatkan definisi predestinasi. Sekelompok Calvinis


menyatakan bahwa sebelum manusia berdosa, Allah sudah memutuskan bahwa ada
beberapa pribadi pilihan yang akan dituntun ke keselamatan melalui Kristus, sedangkan
yang lainnya tidak. Maka, kelompok ini percaya bahwa keselamatan sudah ditetapkan oleh
Allah dan bahwa tidak semua manusia setara. Kelompok Calvinis lainnya berpendapat
bahwa keselamatan terbuka bagi semua manusia, dan setiap individu bisa memilih apakah
mau menerimanya atau tidak. Artinya, keselamatan bergantung pada kebebasan memilih.
Lama setelah kematian Calvin, Calvinisme masih tidak sepaham mengenai topik-topik
seperti takdir oleh Allah, kebebasan manusia untuk memilih, dan kesetaraan manusia.

Warisan Calvinisme yang Tercoreng


Pada abad ke-20, Gereja Reformasi Belanda yang beraliran Calvinisme menjadikan
predestinasi sebagai dasar untuk diskriminasi ras di Afrika Selatan. Tentang kebijakan
pemerintah berupa supremasi kulit putih, Nelson Mandela, yang menjadi presiden kulit hitam
pertama di Afrika Selatan, menegaskan, Kebijakan itu didukung oleh Gereja Reformasi
Belanda, yang memberi apartheid landasan agama dengan menyatakan bahwa orang Afrika
kulit putih adalah umat pilihan Allah dan bahwa orang kulit hitam adalah spesies yang lebih
rendah. Menurut pandangan orang Afrika kulit putih, apartheid dan gereja berjalan
bersisian.

Pada 1990-an, Gereja Reformasi Belanda meminta maaf di hadapan umum atas
dukungannya terhadap apartheid. Dalam sebuah pernyataan resmi yang disebut Deklarasi
Rustenburg, para pemimpin gereja mengakui, Beberapa dari kami dengan aktif
menyalahgunakan Alkitab untuk membenarkan apartheid, sehingga banyak orang percaya
bahwa itu titah Allah. Selama bertahun-tahun, sikap gereja terhadap apartheid tidak hanya
menimbulkan penderitaan akibat prasangka ras tetapi bahkan menyiratkan bahwa Allah
yang harus dipersalahkan!

John Calvin meninggal di Jenewa pada 1564. Pada akhirnya, ia dilaporkan berterima kasih
kepada sesama anggota gerejanya karena telah menganugerahkan begitu banyak
kehormatan kepada orang yang tidak layak menerimanya dan meminta maaf atas sikapnya
yang sering tidak sabar dan suka marah-marah. Terlepas dari kelemahan itu, tidak dapat
disangkal bahwa etos kerja Protestanyang dicirikan dengan kerajinan, disiplin diri, dan
dedikasi terhadap tugassangat mirip dengan kepribadian dan nilai-nilai hidup John Calvin.

[Catatan Kaki]

Gereja Lutheran dan Gereja Katolik telah berjanji untuk merayakan secara bersama
peringatan 500 tahun Reformasi Protestan tahun 2017, dan kedua pihak sepakat
untuk mengabaikan permusuhan dan prasangka berabad-abad lamanya.
Vatikan dan Lutheran World Federation merilis sebuah dokumen bersama berjudul,
Dari Konflik menuju Persekutuan, di Jenewa, Senin (17 Juni), dengan tujuan untuk
mengatasi konflik yang telah berlangsung berabad-abad.

Publikasi 95 tesis Martin Luther pada 31 Oktober 1517, secara tradisional


diperingati sebagai lahirnya Reformasi yang menimbulkan perpecahan Kristen Barat
ke dalam Katolik dan Protestan.

Dalam dokumen itu, dua Gereja itu mengakui bahwa di era ekumenisme dan
globalisasi, mereka memerlukan pendekatan baru, dengan fokus pada pengakuan
timbal balik atas rasa bersalah mereka dan menyoroti kemajuan mereka melalui
dialog Lutheran-Katolik dalam 50 tahun terakhir.

Bagaimana memperingati puncak perpecahan adalah topik sensitif di Roma, di mana


sejumlah umat Katolik mengatakan tidak ada untuk merayakan tentang perpecahan.

Dokumen sejarah Reformasi itu perlu kembali dikaji karena dokumen itu
menimbulkan perpecahan, dengan menekankan bahwa Luther tidak bermaksud
mendirikan Gereja baru, tetapi merupakan bagian dari keinginannya yang besar dan
untuk reformasi di dalam Gereja.

Sumber: Catholics and Lutherans agree to bury the hatchet