Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pengorganisasian merupakan fungsi manajemen kedua yang penting dilaksanakan oleh setiap
unit kerja sehingga tujuan organisasi dapat dicapai dengan berdaya guna dan berhasil guna.
Pengorganisasian adalah fungsi kedua dan dilakukan secara langsung dari dasar yang telah
dibuat oleh perencanaan yang baik dan merupakan pengelompokan yang terdiri dari beberapa
aktifitas dengan sasaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan masing-masing
kelompoknya untuk melakukan koordinasi yang tepat dengan unit lain secara horizontal dan
vertikal untuk mencapai tujuan organisasi sebagai organisasi yang komplek, maka pelayanan
kesehatan masyarakat harus mengorganisasikan aktivitasnya melalui kelompok-kelompok
sehingga tujuan pelayanan kesehatan masyarakat akan tercapai.
Pengorganisasian merupakan proses penempatan orang-orang dan sumber daya lainnya untuk
melakukan tugas tugas dalam pencapaian tujuan dan menyangkut pembagian pekerjaan untuk
diselesaikan dan mengkoordinasikan hasil-hasilnya. Membagi siapa yang harus melakukannya,
mengidentifikasikan siapa yang harus memerintah dan mengadakan hubungan hubungan
perkantoran untuk komunikasi. Sehingga pengorganisasian dimaksudkan agar masing-masing
unit menyadari kedudukan, fungsi, wewenang, dan tanggung jawabnya, mereka bersatu dalam
satu wadah bersama untuk berkerja sama demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Semua
pihak yang bergerak dalam administrasi kesehatan memiliki kewajiban untuk memahami tentang
pengorganisasian tersebut. Pemahaman ini sangat diperlukan jika para pihak administrasi
kesehatan menyelenggarakan program kesehatan masyarakat.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah gambaran tentang pengorganisasian itu?
2. Bagaimana pengembangan yang ada dalam organisasi?
3. Bagaimana cara pengorganisasian kegiatan kemasyarakatan?
4. Bagaimana tentang penyusunan staf (staffing) organisasi itu?

C. TUJUAN
1. Mengenal gambaran umum tentang pengorganisasian
2. Mengidentifikasi pengembangan dalam organisasi
3. Mengetahui pengorganisasian kegiatan kemasyarakatan
4. Mengetahui yang dimaksud penyusunan staf ( staffing ) organisasi
BAB II
PEMBAHASAN
E. TINJAUAN UMUM TENTANG PENGORGANISASIAN
1. Pengertian
Organising berasal dari kata to organize dimana kata ini berasal pula dari kata organ.
Sedangkan kata organ dalam Webstree New Collagiale Dictionary berasal dari kata organon,
bahasa Greek.
Adapun arti kata organ ialah, an Instrument or medium by Which an Important is Performed
or end accomploshed. Artinya suatu alat atau media yang digunaka untuk tindakan penting atau
pencaapaian tujuan.
Jadi to organize mengandung arti menyusun bagian-bagian yang terpisah-pisah menjadi suatu
kesatuan sehingga dapat digunakan untuk menjalankan tindakan dalam pencapaian tujuan.
Dengan demikian organizing merupakan proses penyusunan bagian-bagian yang terpisah itu
menjadi suatu kesatuan yang harmonis, sehingga dapat digunakan untuk pelaksaan kerja dalam
mencapai tujuan yang dikehendaki.
Seperti pengertian pengorganisasian dalam manajemen bahwa pengorganisasian merupakan
fungsi kedua dalam manajemen dan pengorganisasian tersebut didefinisikan sebagai proses
kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan
lingkungannya.
Beberapa pengertian tentang pengorganisasian tersebut :
1. Pengorganisasian adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui orang-orang dibawah
pengarahan menajer mengejar tujuan bersama ( Dasar-Dasar Organisasi, Stoner ).
2. Pengorganisasian adalah suatu kerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
( Ensiklopedia Indonesia, Jakarta 1990 ).
3. Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam manajemen ( Kumpulan Artikel, Vivit
Ardyansah ).
4. Pengorganisasian adalah bentuk sebuah perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
5. Pengorganisasian adalah sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan
tujuan-tujuan tertentu ( Kamus Kata, Source Dan Riselainer).
6. Pengorganisasian merupakan proses menciptakan hubungan-hubungan antar komponen-
komponen organisasi dengan tujuan agar segala kegiatan diarahkan pada pencapaian tujuan
organisasi.
7. Pengorganisasian adalah keseluruhan pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas, tugas
,kewenangan dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat
digerakkan sebagai suatu kegiatan kesatuan yang telah ditetapkan ( Siagian, 1983 ).
8. Pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal, mengelompokkan
dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan diantara organisasi agar tujuan
organisasi dapat dicapai dengan efisien.
9. Pengorganisasian adalah sesuatu yang digambarkan sebagai sesuatu yang tersentralisasi dan
berisi tugas-tugas yang sangat terspesialisasikan ( Kamus Kata Bahasa Indonesia, T. Hani
Handoko).
10. Pengorganisasian adalah merupakan kegiatan merancang dan merumuskan struktur ( Kamus
Lengkap Bahasa Indonesia ).
Istilah pengorganisasian mempunyai bermacam-macam pengertian. Istilah tersebut dapat
digunakan untuk menujukkan hal-hal berikut ini :
1. Cara manajemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling efektif sumberdaya-
sumberdaya keuangan, fisik, bahan baku, dan tenaga kerja organisasi.
2. Hubungan-hubungan antara fungsi, jabatan, tugas, dan para karyawan.
3. Cara dalam mana para manejer membagi lebih lanjut tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam
departemen mereka dan mendelegasikan wewenang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas
tersebut.
Dari tiga hal diatas dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian merupakan suatu proses
untuk merancang anggota struktur formal, mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-
tugas atau pekerjaan diantara para anggota organisasi, agar tujuan organisasi dapat dicapai
dengan efisien dengan sumber daya yang dimiliki dan lingkungan yang melingkupinya baik
intern maupun ekstern.
Pengorganisasian ada 2 pengertian pula, yaitu :
1. Sebuah organisasi adalah pola hubungan banyak hubungan yang saling terjalin secara simultan
yang menjadi jalan bagi orang, dengan pengarahan dari manajer, untuk mencapai sasaran
bersama.
2. Proses manajerial dari pengorganisasian termasuk pembuatan keputusan, penciptaan kerangka
kerja, sehingga organisasi tersebut dapat bertahan dari keadaan yang baik pada masa kini hingga
masa depan.
Sebagai bagian dari pengorganisasian dapat dijelaskan pemahaman tentang organisasi
tersebut. Organisasi berasal dari kata oranon, dalam bahasa yunani berarti alat. Pengertian
organisasi telah banyak di sampaikan oleh para ahli, tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan
yang signifikan dan sebagai bahan perbandingan akan disampaikan beberapa pendapat sebagai
berikut :
a. Chester 1 . Barnard (1938)
Mengemukakan bahwa organisasi adalah sistem kerja sama antara dua orang atau lebih).
b. Jamnes D. Mooney
Organisasi adalah setiap bentuk kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
c. Dimock
Organisasi adalah perpaduan secara sistematis daripada bagian- bagian yang saling
ketergantungan / berkaitan untuk membentuk suatu kesatuan yang bulat melalui kewenangan,
koordinasi dan pengawasan dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Suatu organisasi tersusun dari unsur :
1. Unsur inti yaitu manusia
2. Unsur kerja yang terdiri atas :
a. Sumber daya manusia
b. Kemampuan bekerja
c. Sumber daya bukan manusia
Organisasi merupakan proses untuk merancang struktur formal, mengelompokkan dan
mengatur serta membagi tugas diantara para anggota untuk mencapai tujuan. Jadi organisasi
dapat didefinisikan sebagai berikut :
1. Organisasi dalam arti badan yaitu kelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan
tertentu.
2. Organisasi dalam arti bagan yaitu gambaran skematis tentang hubungan kerjasama dari orang-
orang yang terlibat dalam organisasi untuk mencapai tujuan bersama.
Unsur-unsur dasar yang membentuk organisasi yaitu :
1. Adanya tujuan bersama
2. Adanya kerjasama dua orang atau lebih
3. Adanya pembagian tugas
4. Adanya kehendak untuk bekerja sama
2. Teori-Teori Organisasi
Teori-teori organisasi meliputi :
a) teori organisasi klasik,
b) teori organisasi neoklasik, dan
c) teori organisasi modern.
a). Teori organisasi klasik
Teori klasik disebut juga teori tradisional, yang berisi tentang organisasi mulai abad 19. Teori
klasik mendefinisikan organisasi sebagai struktur hubungan, kekuasaan - kekuasaan, tujuan-
tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi dan faktor-faktor lain yang terjadi bila
orang-orang bekerja sama.
Teori klasik berkembang dalam tiga aliran yang dibangun atas dasar anggapan-anggapan
yang sama, yaitu :
1. Teori birokrasi :
Teori ini dikemukakan oleh Max Weber dalam buku The Protestant Ethic and Spirit of
Capitalism. Karakteristik birokrasi menurut Weber adalah :
Pembagian kerja yang jelas
Hirarki wewenang yang dirumuskan secara baik
Program rasional dalam pencapaian tujuan organisasi
Sistem prosedur bagi penanganan situasi kerja
Sistem aturan yang mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban posisi para pemegang jabatan
Hubungan antar pribadi yang bersifat impersonal
2. Teori Administrasi :
Teori ini dikembangkan atas dasar sumbangan Henri Fayol dan Lyndall Urwick dari Eropa
serta Mooney dan Reiley dari Amerika. 14 kaidah manajemen yang menjadi dasar perkembangan
teori administrasi yaitu : Pembagian kerja, Wewenang dan tanggung jawab, Disiplin, Kesatuan
perintah, Kesatuan pengarahan, Mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan
pribadi, Balas jasa, Sentralisasi, Rantai scalar, Aturan, Keadilan, Kelanggengan personalia,
Inisiatif, Semangat korps.
Teori fungsionalisme Fayol yaitu :
perencanaan,
pengorganisasian,
pemberian perintah,
pengkoordinasian, dan
pengawasan.
3. Manajemen ilmiah
Manajemen ilimiah adalah seperangkat mekanisme atau teknik a bag of tricks untuk
meningkatkan efisiensi kerja organisasi.
b). Teori organisasi neoklasik
Teori neoklasik secara sederhana dikenal sebagai teori/aliran hubungan manusiawi. Dalam hal
pembagian kerja, teori neoklasik telah mengemukakan perlunya hal-hal sebagai berikut :
1. Partisipasi
2. Perluasan kerja sebagai kebalikan dari pola spesialisasi
3. Manajemen bottom-up yang akan memberikan kesempatan kepada para junior untuk
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan manajemen puncak
c). Teori organisasi modern
Teori modern menunjukkan tiga kegiatan proses hubungan universal yang selalu muncul
pada system manusia dalam perilakunya berorganisasi yaitu :
Komunikasi
Konsep keseimbangan
Proses pengambilan keputusan
3. Struktur Organisasi
Didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal organisasi diolah. Struktur ini terdiri
dari unsur spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam
pembuatan keputusan dan ukuran satuan kerja.
Faktor-faktor yang menentukan perancangan struktur organisasi yaitu :
1. Strategi organisasi pencapaian tujuan
2. Perbedaan teknologi yang digunakan untuk memproduksi output akan membedakan bentuk
struktur organisasi
3. Kemampuan dan cara berpikir para anggota serta kebutuhan mereka juga lingkungan sekitarnya
perlu dipertimbangkan dalam penyusunan struktur perusahaan
4. Besarnya satuan oraganisasi dan satuan kerja mempengaruhi struktur organisasi
Unsur-unsur struktur organisasi terdiri dari :
1. Spesialisasi kegiatan
2. Koordinasi kegiatan
3. Standarisasi kegiatan
4. Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan
5. Ukuran satuan kerja
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit-unit kerja) dalam organisasi.
Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan meninjukkan bagaimana fungsi-
fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda tersebut diintegrasikan (koordinasi). Selain
daripada itu struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran
perintah dan penyampaian laporan.
a. Pembagian Kerja
Tujuan suatu organisasi adalah untuk mecapai tujuan dimana individu-individu tidak dapat
mencapainya sendiri. Tiang dasar pengorganisasian adalah prinsip pembagian kerja (Division of
Labor) yang memungkinkan terjadi.
Pengelompokan segmen-segmen pekerjaan tersebut yaitu keseluruhan bagan menunjukkan
atas dasar apa kegiatan-kegiatan organisasi dibagi dasar fungsional atau divisional, atau lainnya
(departementalisasi).
Tingkatan manajemen yaitu suatu bagan tidak hanya menunjukkan manajer dan bawahan
tetapi juga keseluruhan hirarki manajemen.
b. Bentuk-bentuk bagan organisasi
Bentuk-bentuk bagan organisasi, yaitu :
Bentuk piramid.
Bentuk ini yang paling banyak diguakan, karena sederhana, jelas dan mudah dimengerti.
Bentuk vertikal.
Bentuk vertikal agak menyerupai bentuk piramid, yaitu dalam pelimpahan kekuasaan dari atas ke
bawah, hanya bagan vertikal berwujud tegak sepenuhnya.
Bentuk horizontal.
Bagan ini digambarkan secara mendatar.
Bentuk lingkaran.
Hubungan antara satu jabatan dengan jabatan .
Masalah dalam koordinasi
Perbedaan dalam orientasi terhadap tujuan tertentu
Perbedaan dalam orientasi waktu
Perbedaan dalam orientasi antar waktu
Perbedaan dalam formalitas struktur
Mekanisme pengkoordinasi dasar
Hirarki manajerial
Aturan dan prosedur
Rencana dan penetapan tujuan
c. Bentuk organisasi
Ada beberapa bentuk organisasi yang ada meliputi :
1. Organisasi fungsional
suatu organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada kepala bagian
yang mempunyai jabatan fungsional untuk dikerjakan kepada para pelaksana yang mempunyai
keahlian khusus.
2. Organisasi fungsional dan garis
bentuk organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada kepala bagian
dibawahnya yang mempunyai keahlian tertentu serta sebagian dilimpahkan kepada pejabat
fungsional yang koordinasinya tetap diserahkan kepada kepala bagian.
3. Organisasi komite
bentuk organisasi dimana tugas kepemimpinan dan tugas tertentu dilaksanakan secara kolektif
oleh sekelompok pejabat, yang berupa komite atau dewan atau board dengan pluralistic
manajement.
4. Organisasi garis dan staff
uatu bentuk organisasi dimana pelimpahan wewenang berlangsung secara vertical. Manajer
ditempatkan satu atau lebih pejabat staff yang tidak mempunyai wewenang memerintah tetapi
hanya sebagai penasehat.
5. Organisasi matrix
organisasi dimana penggunaan struktur organisasi menunjukan dimana para spesialis yang
mempunyai keterampilan dimasing-masing bagian dari bagian perusahaan dikumpulkan lagi
menjadi satu untuk mengerjakan suatu proyek yang harus diselesaikan.
d. Departementasi
Departementasi pada prinsipnya adalah suatu bentuk pembagian kerja, hanya saja bentuk
pembagian kerja ini sudah diperkembangkan sedemikian rupa sehingga pembgian kerja ini lebih
didasarkan pada pengelompokkan tugas bukan berdasarkan orang perorang. Macam- macam
bentuk departementasi yaitu:
1. Departementasi fungsional
departemen fungsional adalah pengelompokan fungsi yang sama atau kegiatan yang sejenis
untuk membentuk satuan organisasi. Ini merupakan bentuk organisasi yang paling umum dan
bentuk dasar departementasi.
Individu dikelompokkan berdasarkan ketrampilan, pengetahuan, dan tindakan yang dilakukan.
Misalnya organisasi hanya terbagi dalam bagian administrasi, dan bagian operasi.
Pembentukan satuan satuan organisasi yang masing masing diserahi mengurus sekelompok
aktivitas yang tergolong sejenis menurut sifatnya atau pelaksanaan pekerjaan pekerjaan yang
berkaitan
2. Departementasi devisional
Departementasi berdasarkan divisi melihat produk, layanan, dan klien sebagai faktor dasar
pengelompokan. Pola ini digunakan untuk memudahkan usaha antisipasi ancaman atau
oportuniti dari luar organisasi. Misalnya pada organisasi otomotif, organisasi terbagi atas divisi
otomotif, divisi internasional, divisi keuangan.
Dengan membagi divisi-divisi atas dasar produk, wilayah, langganan, dan proses, dimana
tiap divisi merancang, memproduksi dan memasarkan produknya sendiri. Struktur organisasinya
terdiri dari:
a. Struktur organisasi atas dasar produk
Setiap departementasi bertanggung jawab atas suatu produk yang berhubungan. Struktur ini
dipakai bila teknologi pemrosesan dan metode pemasaran sangat berbeda.
b. Struktur organisasi atas dasar wilayah
Pengelompokan kegiatan atas dasar tempat dimana operasi berlokasi atau menjalankan
usahanya. Faktor yang menjadi pertimbangan adalah bahan baku, tenaga kerja, pemasaran,
transportasi dan lain sebagainya.
c. Struktur organisasi atas dasar langganan
Pengelompokan kegiatan yang dipusatkan pada penggunaan produk, terutama dalam
kegiatan pengelompokan penjualan, pelayanan.
d. Struktur organisasi atas dasar proses
Pengelompokan kegiatan atas dasar proses yang sering dijumpai dalam departemen
produksi. Kegiatan-kegiatan ini dapat dikelompokan menjadi departemen pemboran,
penggilingan, penggergajian, perakitan dan penyelesaian terakhir. Ini digunakan atas dasar
pertimbangan ekonomis.
e. Struktur organisasi atas dasar alphanumerical
Dapat digunakan pada pelayanan telepon, misalnya nomor 000000500000 ditempatkan dalam
satu departemen dan lainnya di tempatkan di departemen yang lain juga.
3. Organisasi proyek dan matriks
Merupakan bentuk departementasi campuran (hybrid design). Ini dilakukan dengan
mengkombinasikan kebaikan kebaikan dari system fungsional dan divisional dengan
menghindarkan segala kelemahannya. Misalnya, organisasi selain dibagi menurut divisi, juga
ditetapkan suatu organisasi baru semacam proyek akan ditugasi khusus dengan orang-orang yang
berasal dari sejumlah divisi.
Organisasi matriks disebut juga organisasi manajemen proyek yaitu organisasi dimana
penggunaan struktur.organisasi dan para spesialis yang mempunyai keterampilan masing-masing
bagian dari kegiatan perusahaan dikumpulkan lagi menjadi satu untuk mengerjakan suatu proyek
yang harus diselesaikan. Organisasi matriks digunakan berdassrkan struktur organisasi staf dan
lini khususnya di bagian penelitan dan pengembangan.
Struktur organisasi matriks menyangkut pembentukan tim-tim, spesialis untuk mencapai
tujuan khusus. Manajer proyek mempunyai wewenang lini memimpin para anggota tim selama
jangka waktu proyek, jika telah selesai maka tim dibubarkan dan masing-masing anggota
kembali ke departemennya masing-masing sampai adanya proyek baru dimana mereka ditarik
kembali untuk bekerja sama.
Organisasi matriks akan menghasilkan wewenang ganda dimana wewenang horizontal
diterima manajer proyek sedangkan wewenang fungsionalnya yaitu sesuai dengan keahliannya
dan tetap akan melekat sampai proyek selesai, karena memang terlihat dalam struktur formalnya.
Akibatnta anggota organisasi matriks mempunyai dua wewenang, yang berarti dalam
melaksanakan kegiatannya para anggota harus melaporkannya kepada dua atasan. Untuk
mengatasi masalah yang timbul, biasanya manajer proyek diberi jaminan untuk melaksanakan
wewenangnya dalam memberikan perintah dimana manajer proyek tersebut akan langsung
melapor pada manajer puncak.
Organisasi matriks juga mempunyai kebaikan dan keburukan ,
Kebaikan:
Memberikan metode untuk memusatkan perhatian pada masalah-masalah utama
Memaksimalkan efisiensi penggunaan manajer fungsional
Mengembangkan keterampilan dan kreativitas karyawan serta fleksibilitas kepada organisasi
Melibatkan motivasi dan menantang karyawan serta memperluas pandangan manajemen
terhadap masalah strategi perusahaan yang akhirnya membebaskan manajemen puncak ntuk
perencanaan
Menstimulasi kerja sama antar disiplin dan mempermudah kegiatan perusahaan dengan orientasi
proyek
Keburukan:
Beberapa masalah dapat muncul karena melanggar prinsip kesatuan perintah
Manajer proyek dapat menjumpai kesulitan dalam mengembangkan timnya
Konflik dapat muncul antara manajer proyek dengan manajer bagian lain
Adanya pertanggungjawaban ganda dan kebijaksanaan yang kontradiktif
Memerlukan koordinasi vertikal dan horizontal
Memerlukan lebih banyak keterampilan antar pribadi
Menimbulkan resiko timbulnya perasaan anarki
Sangat mahal untuk diimplementasikan
Mendorong pertentangan kekuasaan dan lebh mengarah perdebatan daripada kegiatan
4. Ciri-Ciri Pengorganisasian
Beberapa ahli mengemukakan tentang ciri-ciri pengorganisasian sebagai berikut.
Drs. Malayu S.P Hasibuan, 1996
1. tujuan organisasi itu jelas dan realistis
2. Pembagian kerja dan hubungan pekerjaan antara unit-unit, subsistem-subsistem atau bagian-
bagian harus baik dan jelas
3. Organisasi itu harus menjadi alat dan wadah yang efektif dalam mencapai tujuan
4. Tipe organisasi dan strukturnya harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan
5. Unit-unit kerja ( departemen bagian) nya ditetapkan berdasarkan atas eratnya hubungan
pekerjaan
6. Job description setiap jabatan harus jelas dan tidak ada tumpang tindih boleh terlalu banyak.
7. Rentang kendali setiap bagian harus berdasarkan volume pekerjaan dan tidak boleh terlalu
banyak
8. Sumber perintah dan tanggung jawab harus jelas, melalui jarak yang pendek
9. Jenis wewenang (authority) yang dimiliki setiap pejabat harus jelas
10. Mismanajemen penempatan karyawan tidak ada
11. Hubungan antara bagian dengan bagian lainnya jelas dan serasi
12. Pendelegasian wewenang harus berdasarkan job description karyawan
13. Deferensiasi, koordinasi, integrasi dan sinchronisasi harus baik
14. Organisasi harus luwes dan fleksibel
15. Organisasi harus mempunyai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
Maharuddin Pangewa, 2007
Ciri-ciri Pengorganisasian yaitu :
1. Dapat menjawab pertanyaan sebagaimana yang dikemukakan oleh R. Kepling yaitu: What,
Why, Where, When, Who, dan How
Untuk menjawab pertanyaan what maka dalam organizing, dilihat kepada apa yang terdapat
dalam perencanaan, sehingga antara organizing dan perencanaan terdapat keselaaarasan. Hal ini
adalah sangat penting mengingat apabila perencanaan dan perorganisasian tidak selaras dan
searah akan terjadi kekacauan dan kesimpang siuran dalam pelaksanaan kerja, sehingga tujuan
telah ditetapkan tidak akan tercapai.
2. Rational, flexible, continue, pragmatia, dan ideal
Adapun yang dimaksud dengan organizing harus flexible yaitu bahwa organiszing itu harus
dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan terarah kepada sasarannya sehingga tidak mengalami
kekakuan yang dapat menyebabkan hambatan- hambatan atau kemacetan. Dalam organizing
harus pula memperhitungkan masa depan atau yang datang agar supaya dapat terus berlangsung (
continue) dengan demikian pengkaderan ( up- grading) tenaga-tenaga kerja untuk pemimpin
pada masa yang akan datang merupakan syarat mutlak, mengingat manusia itu terbatas usianya.
3. Tidak terlepas dari pada tools of manajemen ( sarana dari pada manajemen)
Organising gunanya ialah untuk mengarahkan segala kegiatan terhadap sasarannya kegiatan
itu memerlukan orang, uang, materi, metode, dan lain-lain atau sarana dari pada manajemen.

F. PENGEMBANGAN ORGANISASI
1. Pengertian
Pengembangan Organisasi merupakan program yang berusaha meningkatkan efektivitas
keorganisasian dengan mengintegrasikan keinginan individu akan pertumbuhan dan
perkembangan dengan tujuan keorganisasian.
Ada beberapa pengertian mengenai Pengembangan Organisasi, yaitu:
1. Pengembangan Organisasi merupakan suatu proses yang meliputi serangkaian perencanaan
perubahan yang sistematis yang dilakukan secara terus-menerus oleh suatu organisasi.
2. Pengembangan Organisasi merupakan suatu pendekatan situasional atau kontingensi untuk
meningkatkan efektifitas organisasi
3. Pengembangan Organisasi lebih menekankan pada sistem sebagai sasaran perubahan
4. Pengembangan Organisasi meliputi perubahan yang sengaja direncanakan
Pengembangan organisasi mengukur prestasi suatu organisasi dari segi efisiensi, efektifitas
dan kesehatan
1. Efisien dapat diukur dengan perbandingan antara masukan dan keluaran, yang mengacu pada
konsep Minimaks (Masukan minimum dan keluaran maksimum)
2. Efektifitas adalah suatu tingkat prestasi organisasi dalam mencapai tujuannya artinya
kesejahteraan tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai
3. Kesehatan organisasi adalah suatu fungsi dari sifat dan mutu hubungan antara para individu dan
organisasi yaitu hubungan yang dinamis dan adaptabilitas. Untuk dapat bertahan , organisasi
harus mampu mengarahkan warganya agar dapat beradaptasi dengan baik dan bahkan agar
mampu memanfaatkan dampak positif dari berbagai pembaruan tersebut dengan pengembangan
diri dan pengembangan organisasi. Proses mengarahkan warga organisasi dalam
mengembangkan diri menghadapi perubahan inilah yang dikenal luas sebagai proses
organization development (Pengembangan Organisasi).
Karena menyangkut perubahan sikap, persepsi,perilaku dan harapan semua anggota
organisasi, pengembangan organisasi di definisikan sebagai upaya pimpinan yang terencana
dalam meningkatkan efektivitas organisasi, dengan menggunakan cara intervensi (oleh pihak
ketiga) yang didasarkan pada pendekatan perilaku manusia. Dengan kata lain penerapan
pengembangan organisasi dalam organisasi dilakukan dengan bantuan konsultan ahli, sistemis
,harus didukung oleh pimpinan serta luas aplikasinya.
Teori dan praktik pengembangan organisasi didasarkan pada beberapa asumsi penting
yakni :
Manusia sebagai individu, Dua asumsi penting yang mendasari pengembangan organisasi adalah
bahwa manusia memiliki hasrat berkembang dan kebanyakan orang tidak hanya berpotensi , dan
berkeinginan untuk berkontribusi sebanyak mungkin pada organisasi. pengembangan organisasi
bertujuan untuk menghilangkan faktor faktor dalam organisasi yang menghambat perkembangan
dan menghalangi orang untuk berkontribusi demi tercapainya sasaran organisasi.
Manusia sebagai anggota dan pemimpin kelompok. Organisasi yang menerapkan pengembangan
organisasi harus berasumsi bahwa setiap orang dapat diterima dan diakui perannya oleh
kelompok kerjanya. Dalam organisasi perlu ditumbuhkan keterbukaan agar para anggotanya
dapat dengan leluasa mengungkapkan perasaannya dan pikirannya. Dalam keterbukaan , orang
akan mendapatkan kepuasaan kerja yang lebih tinggi, sehingga dengan demikian performansi
kelompok akan lebih efektif.
Manusia sebagai wadah organisasi. Hubungan antar kelompok kelompok dalam organisasi
menentukan efektivitas masing masing kelompok tersebut. Misalnya bila komunikasi antar-
kelompok hanya terjadi pada tingkat manajernya , koordinasi dan kerjasama akan kurang efektif
daripada bila segenap anggota kelompok terlibat dalam interaksi.
Tujuan pengembangan organisasi, yaitu :
1. Menciptakan keharmonisan hubungan kejra antara pimpinan dengan staf anggota
organisasi
2. Menciptakan kemampuan memecahkan persoalan organisasi secara lebih terbuka
3. Menciptakan keterbukaan dalam berkomunikasi
4. Merupakan semangat kerja para anggota organisasi dan kemampuan mengendalikan
diri
Faktor penyebab terjadinya pengembanan organisasi :
1. Kekuatan Eksternal
Kompetisi yang semakin tajam antar organisasi
Perkembangan IPTEK
Perubahan lingkungan baik lingkungan fisik maupun sosial yang membuat organisasi berfikir
bagaimana mendapatkan sumber diluar organisasi untuk masa depan organisasi
2. Kekuatan Internal
Struktur
Sistem dan Prosedur
perlengkapan dan fasilitas
proses dan sasaran
Sifat-sifat dasar pengembangan organisasi adalah :
1. Pengembangan Organisasi merupakan suatu strategi terencana dalam mewujudkan
perubahan organisasional, perubahan yang dimaksud harus mempunyai sasaran yang
jelas dan didasarkan pada suatu diagnosis yang tepat mengenai permasalahan yang
dihadapi oleh organisasi
2. Pengembangan Organisasi harus berupa kolaborasi antara berbagai pihak yang akan
mengalami dampak perubahan yang akan terjadi, keterlibatan dan partisipasi para
anggota organisasi harus mendapat perhatian
3. Program Pengembangan Organisasi menekankan cara-cara baru yang diperlukan guna
meningkatkan kinerja seluruh anggota organisasi
4. Pengembangan Organisasi mengandung nilai-nilai humanistik dalam arti bahwa dalam
meningkatkan efektifitas organisasi, potensi manusia harus menjadi bagian yang
penting
5. Pengembangan Organisasi menggunakan pendekatan kesisteman yang berarti selalu
memperhitungkan pentingnya inter relasi, interaksi dan inter dependensi
6. Pengembangan Organisasi menggunakan pendekatan ilmiah untuk mencapai
efektivitas organisasi
Alasan penting pengembangan organisasi adalah :
1. Perubahan adalah pertanda kehidupan
2. perubahan memberikan harapan
3. pengembangan merupakan tanggapan atas perubahan
4. pengembangan merupakan usaha untuk menyesuaikan dengan hal baru (perubahan).
Sejarah pengembangan organisasi adalah :
1. Pelatihan Laboratorium
2. umpan balik survey
3. riset tindakan
4. produktivitas dan kualitas kehidupan kerja
5. serta perubahan strategik.
Pertumbuhan yang berkelanjutan di dalam sejumlah deversitas pendekatan PO, praktisi, dan
keterlibatan organisasi membuktikan sehatnya suatu disiplin dan menawarkan suatu prospek
yang menguntungkan di waktu mendatang.
Karateristik pengembangan organisasi terdiri atas :
1. Keputusan penuh dengan pertimbangan
2. Diterapkan pada semua sub sistem manusia baik individu, kelompok dan organisasi
3. Menerima intervensi baik dari luar maupun dalam organisasi yang mempunyai
kedudukan di luar mekanisme organisasi
4. Kolaborasi
5. Teori sebagai alat analisis
Nilai-nilai dalam pengembangan organisasi yaitu :
1. Penghargaan akan orang lain
2. Percaya dan mendukung orang lain, sedangkan individu sendiri harus mempunyai
tanggung jawab
3. Pengamanan kekuasaan (mengurangi tekanan pada wewenang)
4. Konfrontasi (masalah yang tidak disembunyikan)
5. Partisipasi (melibatkan orang-orang yang mempunyai potensi dalam proses
pengembangan organisasi)
Proses pengembangan organisasi adalah :
1. Pengenalan masalah
2. Diagnosis Organisasional
3. Pengembangan strategi perubahan
4. Intervensi
5. Pengukuran dan Evaluasi

2. Sasaran Pengembangan Organisasi


Atas dasar asumsi asumsi diatas, proses pengembangan organisasi diterapkan dengan sasaran
:
1. Hubungan yang lebih efektif antara departemen , divisi dan kelompok kelompok kerja dalam
organisasi
2. Hubungan pribadi yang lebih efektif antara manajer dan karyawan pada semaua jenjang
organisasi
3. Terhapusnya hambatan hambatan komunikasi antara pribadi dan kelompok
4. Berkembangnya iklim yang ditandai dengan saling percaya, dan keterbukaan yang dapat
memotivasi serta menantang anggota organisasi untuk lebih berprestasi
3. Tahap -Tahap Penerapan Pengembangan Organisasi
Dalam menerapkan pengembangan organisasi, organisasi memerlukan konsultan yang ahli
dalam bidang perilaku dan pengembangan organisasi. Konsultan tersebut bersifat sebagai agen
pembaruan (agent of change), dan fungsi utamanya adalah membantu warga organisasi
menghadapi perubahan, melalui teknik teknik pengembangan organisasi yang sesuai dengan
kebutuhan organisasi tersebut. Proses penerapan pengembangan organisasi dilakukan dalam
empat tahap :
1. Tahap pengamatan sistem manajemen atau tahap pengumpulan data
Dalam tahap ini konsultan mengamati sistem dan prosedur yang berlaku di organisasi termasuk
elemen elemen di dalamnya seperti struktur, manusianya, peralatan, bahan bahan yang digunakan
dan bahkan situasi keuangannya. Data utama yang diperlukan adalah :
Fungsi utama tiap unit organisasi
Peran masing masing unit dalam mencapai tujuan dan sasaran organisasi
Proses pengambilan keputusan serta pelaksanaan tindakan dalam masing - masing unit
Kekuatan dalam organisasi yang mempengaruhi perilaku antar kelompok dan antar individu
dalam organisasi

2. Tahap diagnosis dan umpan balik


Dalam tahap ini kualitas pengorganisasian serta kegiatan operasional masing masing elemen
dalam organisasi dianalisis dan dievaluasi . Ada beberapa kriteria yang umum digunakan dalam
mengevaluasi kualitas elemen elemen tersebut, diantaranya :
Kemampuan beradaptasi, yaitu kemampuan mengarahkan kegiatan dan tenaga dalam
memecahkan masalah yang dihadapi
Tanggung jawab : kesesuaian antara tujuan individu dan tujuan organisasi
Identitas : kejelasan misi dan peran masing masing unit
Komunikasi ; kelancaran arus data dan informasi antar-unit dalam organisasi
Integrasi ; hubungan baik dan efektif antar-pribadi dan antar-kelompok, terutama dalam
mengatasi konflik dan krisis
Pertumbuhan ; iklim yang sehat dan positif, yang mengutamakan eksperimen dan pembaruan ,
serta yang selalu menganggap pengembangan sebagai sasaran utama
3. Tahap pembaruan dalam organisasi.
Dalam tahap ini dirancang pengembangan organisasi dan dirumuskan strategi
memperkenalkan perubahan atau pembaruan. Strategi ini bertujuan meningkatkan efektivitas
organisasi dengan cara mengoreksi kekurangan serta kelemahan yang dijumpai dalam proses
diagnostik dan umpan balik. Mengingat bahwa setiap perubahan yang diperkenalkan akan
mempengaruhi seluruh sistem dalam organisasi, bahkan mungkin akan mengubah sistem
distribusi wewenang dan struktur organisasi, rancangan strategi pembaruan harus didiskusikan
secara matang dan mendapat dukungan penuh pimpinan puncak.
4. Tahap implementasi pembaruan
Tahap akhir dalam penerapan pengembangan organisasi adalah pelaksanaan rencana
pembaruan yang telah digariskan dan disetujui. Dalam tahap ini konsultan bekerja secaa penuh
dengan staf manajemen dan para penyelia. Kegiatan implementasi perubahan meliputi :
perubahan struktur
perubahan proses dan prosedur
penjabaran kembali secara jelas tujuan sera sasaran organisasi
penjelasan tentang peranan dan mis masing masing unut dan anggota dalam organisasi
4. Teknik Teknik Pengembangan Organisasi
Ada berbagai teknik yang dirancang para ahli, dengan tujuan meningkatkan kemampuan
berkomunikasi serta bekerja secara efektif, antar-individu maupun antar-kelompok dalam
organisasi. Beberapa teknik yang sering digunakan berikut ini.
Sensitivity training, merupakan teknik pengembangan organisasi yang pertama diperkenalkan
dan ayang dahulu paling sering digunakan. Teknik ini sering disebut juga T-group. Dalam
kelompok kelomok T (singkatan training) yang masing masing terdiri atas 6 10 peserta,
pemimpin kelompok (terlatih) membimbing peserta meningkatkan kepekaan (sensitivity)
terhadap orang lain, serta ketrampilan dalam hubunga antar-pribadi.
Team Building, adalah pendekatan yang bertujuan memperdalam efektivitas serta kepuasaan tiap
individu dalam kelompok kerjanya atau tim. Teknik team building sangat membantu
meningkatkan kerjasama dalam tim yang menangani proyek dan organisasinya bersifat matriks.
Survey feedback. Dalam teknik sruvey feedback. Tiap peserta diminta menjawab kuesioner yang
dimaksud untuk mengukur persepsi serta sikap mereka (misalnya persepsi tentang kepuasan
kerja dan gaya kepemimpinan mereka). Hasil surveini diumpan balikkan pada setiap peserta,
termasuk pada para penyelia dan manajer yang terlibat. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan
dengan kuliah atau lokakarya yang mengevaluasi hasil keseluruhan dan mengusulkan perbaikan
perbaikan konstruktif.
Transcational Analysis (TA). TA berkonsentrasi pada gaya komunikasi antar-individu. TA
mengajarkan cara menyampaikan pesan yang jelas dan bertanggung jawab, serta cara menjawab
yang wajar dan menyenangkan. TA dimaksudkan untuk mengurangi kebiasaan komunikasi yang
buruk dan menyesatkan.
Intergroup activities. Fokus dalam teknik intergroup activities adalah peningkatan hubungan
baik antar-kelompok.Ketergantungan antar kelompok , yang membentuk kesatuan organisasi,
menimbulkan banyak masalah dalam koordinasi. Intergroup activities dirancang untuk
meningkatkan kerjasama atau memecahkan konflik yang mungkin timbul akibat saling
ketergantungan tersebut.
Proses Consultation. Dalam Process consultation, konsultan pengembangan organisasi
mengamati komunikasi , pola pengambilan keputusan , gaya kepemimpinan, metpengembangan
organisasie kerjasama, dan pemecahan konflik dalam tiap unit organisasi. Konsultan kemudian
memberikan umpan balik pada semua pihak yang terlibat tentang proses yang telah diamatinya ,
serta menganjurkan tindakan koreksi.
Grip pengembangan organisasi. Pendekatan grip pada pengembangan organisasi di dasarkan
pada konsep managerial grip yang diperkenalkan oleh Robert Blake dan Jane Mouton. Konsep
ini mengevaluasi gaya kepemimpinan mereka yang kurang efektif menjadi gaya kepemimpinan
yang ideal, yang berorientasi maksimum pada aspek manusia maupun aspek prpengembangan
organisasiuksi.
Third-party peacemaking. Dalam menerapkan teknik ini, konsultan pengembangan organisasi
berperan sebagai pihak ketiga yang memanfaatkan berbagai cara menengahi sengketa, serta
berbagai teknik negosiasi untuk memecahkan persoalan atau konflik antar-individu dan
kelompok.

G. PENGORGANISASIAN KEGIATAN KEMASYARAKATAN


Pada waktu melaksanakan program kesehatan sering harus mengikutsertakan potensi
masyarakat. Jika ditinjau dari prinsip pokok kesehatan, pengikut sertaan potensi masyarakat ini
dipandang amat penting. Karena sesungguhnya berhasil atau tidaknya suatu program kesehatan
sangat ditentukan antara lain oleh peran serta masyarakat. Jika program kesehatan dapat
dilaksanakan dengan mengikuti prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat dapatlah diharapkan
keberhasilan program tersebut. Penyebabnya, bukan saja karena rasa memiliki (sence of
belonging) dapat ditumbuhkan, tetapi sekaligus juga kesinambungan (continuity) pelaksanaan
program. Apabila kedua hal ini dapat diwujudkan, pada gilirannya akan besar perannya dalam
menjamin terpacapainya tujuan program kesehatan.
1. Prinsip Pokok
Sekalipun pada dasarnya pekerjaan pengorganisasian untuk berbagai kegiatan adalah sama,
yakni mengatur berbagai kegiatan dan orang orang yang berperan sehingga membentuk satu
kesatuan yang secara bersama sama diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan,
namun untuk pengorganisasian kegiatan masyarakatan, ada beberapa prinsip pokok yang
membedakannya. Perbedaan yang dimaksud pada dasarnya disebabkan karena adanya kehendak
untuk menimbulkan rasa memiliki terhadap kegiatan yang diorganisasikan tersebut. Dengan
demikian, cara pengorganisasian sebagaimana yang lazim berlaku dalam suatu instansi,
misalnya, dengan surat keputusan atau perintah atasan, tidaklah sesuai untuk pengorganisasian
kegiatan kemasyarakatan.
Sesuai dengan prinsip pokok bahwa setiap program kemasyarakatan harus mengikuti prinsip
dari, oleh dan untuk masyarakat, maka pelaksana pengorganisasian kegiatan kemasyarakatan
seyogianya dilakukan oleh masyarakat sendiri. Untuk itu rumuskan dahulu kegiatan kegiatan
kemasyarakat yang akan diorganisasikan tersebut. Jika ditinjau dari sudut administrasi, rumusan
tentang kegiatan ini, sebenarnya tidak termasuk dalam pekerjaan pengorganisasian (organizing).
Melainkan dalam pekerjaan perencanaan (planning). Namun untuk keberhasilan
pengorganisasian, tidak ada salahnya untuk dilaksanakan. Yakinkanlah terlebih dahulu apakah
kegiatan yang akan diorganisasikan tersebut benar benar telah sesuai dengan kebutuhan (needs)
dan tututan (demands) masyarakat. Apabila tidak sesuai, tentu mudah diperkirakan, sekalipun
pengorganisasian berhasil dilakukan, tetapi tujuan dari dilaksanakannya kegiatan tersebut akan
sulit dicapai.
Agar kesesuaian ini dapat diwujudkan, ada beberapa teknik perencanaan yang dapat
dipergunakan. Di Indonesia popular dengan sebutan pendekatan edukatif, yang dibedakan atas
enam langkah yakni:
1. Melakukan pendekatan internal
Sasaran pendekatan internal (internal approach) adalah perangkat organisasi yang akan
melaksanakan program kemasyarakatan. Jika program tersebut dilaksanakan oleh PUSKESMAS
maka perangkat organisasi yang dimaksudkan adalah semua staf PUSKESMAS. Tetapi jika
dilaksanakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maka perangkat organisasi yang
dimaksudkan adalah seluruh personalia LSM. Tujuan dari pendekatan internal ialah untuk
mempersiapkan perangkat yang akan melaksanakan program sedemikian rupa sehingga dapat
melaksanakan program kemasyarakatan dengan baik.
2. Melakukan pendekatan eksternal
Sasaran pendekatan eksternal (external approach) adalah pemuka masyarakat, formal ataupun
informal, yang ada di wilayah, tempat dilaksanakannya program kemasyarakatan. Contoh
pemuka masyarakat formal ialah Camat, Lurah dan Dokter PUSKESMAS. Sedangkan contoh
pemuka masyarakat informal ialah tokoh agama, tokoh pendidikan dan tokoh adat istiadat.
Tujuan dari pendekatan eksternal ialah untuk mendapatkan dukungan, moriel ataupun material.
3. Melakukan penelitian masyarakat mandiri
Penelitian kemasyarakatan mandiri harus dilaksanakan oleh masyarakat sendiri (community
self survey). Di Indonesia penelitian ini dikenal dengan nama Survai Mawas Diri. Tujuannya
ialah masyarakat mengenal sendiri berbagai masalah yang dihadapinya.
4. Melaksanakan musyawarah masyarakat
Perumusan prioritas masalah dan jalan ke luar harus dilaksanakan oleh masyarakat sendiri.
Lazimnya melalui suatu pertemuan kemasyarakatan yang di Indonesia dikenal dengan nama
Musyawarah Masyarakat Desa (village community meeting).
5. Melaksanakan jalan ke luar yang telah ditetapkan
Kegiatan terakhir yang dilakukan adalah melaksanakan jalan ke luar (solution
implementation) yang telah disepakati. Mengingat keberhasilan suatu program pembangunan
masyarakat sering membutuhkan kegiatan dan keterlibatan yang terus menerus di samping
dibutuhkan pula tersedianya dana, tenaga, dan sarana yang cukup, dianjurkan dalam
melaksanakan program pembangunan masyarakat tersebut, dimanfaatkan organisasi masyarakat
yang telah ada. Pembentukan suatu organisasi baru bukan saja menjadi tidak efektif, tetapi juga
akan membebani masyarakat sendiri.
Jika karena satu dan lain hal, organisasi yang telah ada dipandang tidak sesuai, jalan
keluarnya juga bukan membentuk organisasi yang baru. Melainkan berupaya menyempurnakan
organisasi yang telah ada tersebut. Tentu saja pemnyempurnaan ini harus dilakukan bersama
pengurus dari organisasi yang dimaksud.
Dalam mengatur wewenang dan tanggung jawab orang perorang dalam masyarakat di
samping harus sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki harus pula sesuai
dengan kedudukan dan peranan dari masing masing orang perorang tersebut di masyarakat.
Agar program dapat terlaksana, setelah pengorganisasian kegiatan selesai dilakukan, kegiatan
selanjutnya yang dilakukan adalah pengorganisasian orang perorang yang akan melaksankan
kegiatan tersebut. Untuk organisasi formal seperti badan usaha misalnya, pengorganisasian orang
perorang ini, terutama pada waktu menetapkan batas batas wewenang dan tanggung jawab,
pedoman yang dipakai antara lain pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Dengan
memakai pedoman ini dapat diharapkan berlakunya prinsip the right man in the right place.
Sayangnya untuk organisasi kemasyarakatan, prinsip yang seperti ini sepenuhnya dapat
diterapkan. Sekalipun tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus, tetapi karena yang
terpenting adalah keterlibatan para pemuka masyarakat, harus dapat diupayakan keikutsertaan
pemuka masyarakat tersebut. Untuk pelaksanaan sehari hari, sering dibentuk suatu tim
pelaksana khusus, yang untuk program kesehatan, popular dengan sebutan kader kesehatan. Para
kader inilah, sebaiknya yang direstui oleh pemuka masyarakat serta yang bersifat sukarela, yang
kemudian akan dilatih, sesuai dengan macam pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.
Untuk selanjutnya melalui para kader ini pula dterapkan pengaturan wewenang dan tanggung
jawab, sesuai dengan tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.
2. Proses
Telah disebutkan bahwa hal yang diorganisasikan pada pekerjaan pengorganisasian banyak
macamnya, yang secara sederhana dapat dibedakan atas dua macam yakni pengorganisasian
kegiatan dan pengorganisasian orang per orang yang akan melaksanakan kegiatan tersebut. Hasil
dari pekerjaan pengorganisasian ialah terbentuknya organisasi (organization), yang juga banyak
macamnya, karena kesemuanya tergantung dari hal yang diorganisasikan tersebut.
Tidak demikian halnya dengan proses pengorganisasian, karena betapapun berbedanya hal
yang diorganisasikan dan ataupun organisasi yang dihasilkan, proses yang ditempuh pada
dasarnya adalah sama. Dengan demikian dalam mempelajari masalah pengorganisasian yang
perlu dipahami bukan hal yang diorganisasikan dan ataupun hasil dari pekerjaan
pengorganisasian, malinkan proses pengorganisasian.
Proses pengorganisasian masyarakat yakni langkah langkah yang harus ditempuh untuk
melakukan pekerjaan pengorganisasian, pada dasarnya sama dengan pengorganisasian pada
umumnya. Secara sederhana langkah langkah yang dimaksud dapat dibedakan atas tujuh
macam yakni:
1. Memahami tujuan yang ingin dicapai
Langkah pertama yang dilakukan adalah memahami tujuan dari kegiatan yang akan
dilakukan. Uraikanlah tujuan tersebut sehingga jelas tolak ukurnya. Telah disebutkan seyogianya
tujuan ini adalah tujuan yang dirumuskan oleh masyarakat sendiri.
2. Memahami kegiatan yang akan dilakukan
Langkah kedua yang dilakukan adalah memahami kegiatan yang akan dilakukan. Kegatan
yang dimaksud di sini adalah dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Uraikanlah
kegiatan tersebut sehingga jelas kegiatan pokok (mollar activities) dan kegiatan bukan pokok
(moluculair activities). Sama halnya dengan tujuan, seyogianya kegiatan ini adalah hasil
rumusan masyarakat sendiri.
3. Mengelompokkan kegiatan yang akan dilakukan
Langkah ketiga yang dilakukan adalah melakukan pengelompokan kegiatan yang akan
dilakukan. Pengelompokan ini perlu dilakukan, karena kegiatan kegiatan yang tercantum
dalam rencana kerja sering tidak jelas kaitannya satu dengan yang lain.
4. Menetapkan hirarki kelompok kegiatan yang akan dilakukan
Langkah keempat yang dilakukan adalah menetapkan hirarki managerial untuk setiap
kelompok kegiatan. Hirarki managerial ini lazimnya dibedakan atas tiga tingkat yakni top
management, middle management dan lower management. Perbedaan dari masing masing
tingkat ini terletak pada keterampilan yang dibutuhkan. Jika keterampilan managerial
(managerial skill) yang lebih dibutuhkan, hirarki kegiatan termasuk dalam top management,
tetapi jika keterampilan teknis (technical skill) yang lebih dibutuhkan termasuk dalam lower
management.
5. Membentuk struktur organisasi
Langkah kelima yang dilakukan adalah membentuk struktur organisasi sesuai dengan
pengolompokan hirarki yang telah dibentuk. Dalam menyusun struktur organisasi tersebut
perhatikanlah rentang pengawasan (span of control). Betapapun hebatnya seorang top
management tidak mungkin dapt mengawasi jumlah middle management yang terlalu banyak.
Demikian pula halnya dengan middle management.Sebagai pedoman sering disebutkan rentang
pengawasan tersebut adalah 4 untuk tingkat top management dan antara 8 sampai dengan 12
untuk middle management.
6. Menetapkan penanggungjawab dari kelompok kegiatan
Langkah keenam yang dilakukan adalah menetapkan penanggungjawab masing masing
kelompok kegiatan sesuai dengan hirarki managemen serta struktur yang telah terbentuk.
Pekerjaan yang dilakukan sama dengan pengorganisasian orang per orang (staffing).
Pengorganisasian orang per orang ini perlu dilengkapi bukan saja dengan uraian tugas yang
dialukan (job description) tetapi juga dengan wewenang (authority) dan tanggungjawabnya
(responsibility). Sama halnya dengan tujuan dan kegiatan, penetapan penanggungjawab ini
sebaiknya dilakukan oleh masyarakat sendiri.
7. Melakukan penilaian berkala untuk penyempurnaan
Langkah ketujuh yang dilakukan adalah melakukan penilaian secara berkala untuk lebih
menyempurnakan pengorganisasian yang telah dibentuk. Penilaian secara berkala ini harus
dilakukan oleh masyarakat sendiri. Peranan penilaian berkala amat penting, karena memang
salah satu ciri dari pengorganisasian harus dapat mengikuti berbagai perkembangan yang terjadi.
Tidak hanya yang berlangsung di lingkungan, tetapi juga di dalam organisasi sendiri. Pekerjaan
pengorganisasian tidaklah statis, melainkan selalu dinamis.

H. STAFFING ORGANISASI
Penyusunan staf dalam organisasi merupakan salah satu tugas yang paling rumit dan penting
dalam memanajemen sumber daya manusia yang baik. Penyusunan staf dari luar maupun dari
dalam harus diawali dengan rekrutmen yang efektif.
Rekrutmen adalah proses penarikan orang-orang yang memenuhi persyaratan untuk
mengajukan lamaran atas pekerjaan yang belum terisi. Rekrutmen menurut asalnya dibagi
menjadi dua macam, yaitu :
1. Rekrutmen Internal
Berarti mempertimbangkan karyawan yang ada sebagai kandidat atas lowongan pekerjaan
tersedia sehingga juga dapat membantu membangun semangat kerja dan mempertahankan
karyawan yang berkualitas tinggi agar tidak meninggalkan perusahaan.
2. Rekrutmen External
Melibatkan usaha menarik orang-orang dari luar organisasi untuk melamar lowongan
pekerjaan. Metode rekrutmen external meliputi pemasangan iklan, wawancara di kampus, badan-
badan pencari tenaga kerja atau eksekutif, aula rekrutmen serikat pekerja, referensi dari
karyawan yang ada dan rekrutmen walk in atau gate hire . ( Orang yang datang tanpa
diseleksi terlebih dahulu ).
Peranan peranan staf sangatlah penting dan membantu tercapainya suatu tujuan dalam
organisasi, ibaratnya staf merupakan pondasi dalam suatu bangunan.
Telah dikemukakan bahwa dalam organisasi bentuk lini dan staff ada dua kelompok tenaga
kerja. Kelompok pertama adalah mereka yang tugas utamanya bersifat menterjemahkan tugas
pokok menjadi aktivitas, sedang di pihak lain terdapat mereka yang tugasnya melakukan
kegiatan-kegiatan penunjang demi lancarnya roda organisasi dan mekanisme kerjasama yang
harmonis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kedua kelompok ini mempunyai peranan
penting dalam merealisasi tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
Sepintas lalu kelihatan seolah-olah karyawan lini lebih penting karena tugas mereka yang
utama melaksanakan aktivitas penting untuk merealisasi tujuan. Malah dianggap kadang-kadang
bahwa tanpa karyawan staff tujuan dapat juga direalisasi. Pandangan ini terutama dalam
organisasi modern kurang tepat, walaupun sifat aktivitas karyawan staff sebagai penunjang
kegiatan yang dilakukan olah karyawan lini, akan tetapi peranan mereka dalam menciptakan
efektivitas dan efisiensi sangat penting. Dengan bantuan karyawan staff organisasi dapat
mendayagunakan resources yang dimiliki perusahaan secara optimum, karena mereka dapat
melihat berbagai kemungkinan, pendidikan dan pengalaman mereka memungkinkan memilih
kesempatan yang terbaik.
Pembahasan tentang pentingnya peranan staff dalam proses manajemen berarti tidak saja
menbahas pentingnya kegiatan-kegiatan penunjang terlaksana dengan efisien dan ekonomis,
akan tetapi juga membahas pentingnya paranan karyawan staff dalam membantu management
members dalam mengambil keputusan.
Sering kurang disadari bahwa tugas utama dari seorang pemimpin adalah mengambil
keputusan. Segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi sebaiknya adalah karena diputuskan
demikian bukan karena secara kebetulan terjadi. Keputusan-koputusan yang diambil oleh
berbagai eselon pemimpin dalam organisasi tentu mempunyai bobot yang berbeda-beda pula.
Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi maka semakin besar keputusan yang
diambilnya meskipun sering bobot dari keputusan tersebut bersifat umum dan kualitatif. Top
management dalam organisasi mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk mengambil
keputusan yang bersifat menyeluruh dalam arti bahwa keputusannya akan mempunyai implikasi
yang luas terhadap seluruh organisasi. Lower management biasanya membuat keputusan-
keputusan yang terbatas kepada unit organisasi yang dipimpinnya. Dan sifat keputusannya lebih
mudah diterjemahkan kepada bentuk yang bersifat kuantitatif.
Setiap keputusan yang diambil baik di tingkat top, middle maupun lowermanager seperti
supervisor ada beberapa syarat yaitu sebagai berikut :
Keputusan yang diambil harus mempermudah dan mempercepat pencapaian tujuan
Keputusan harus tepat dalam arti mampu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh
organisasi
Keputusan harus praktis, dalam arti dapat dilakukan sesuai dangan kekuatan-kekuatan yang
dimiliki organisasi
Keputusan yang diambil harus rasional dalam pengertian dapat diterima oleh akal sehat dari para
pelaksana.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa keputusan yang diambil belum tentu
menyenangkan semua orang yang ikut serta dalam organisasi. Dapat dikatakan bahwa keputusan
yang menyenangkan semua pihak tentu mempercepat proses pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan. Dapat dikatakan bahwa keputusan yang menyenangkan samua pihak belum tentu
mempercepat proses pencapaian tujuan yang telah ditatapkan.
Tugas-tugas yang dapat diberikan kapada karyawan staff antara lain adalah sebagai berikut :
Mengumpulkan data (fakta)
Menginterpretasikan data (fakta)
Mengusulkan alternatif tindakan
Mendiskusikan rencana-rencana yang sedang dipikirkan dengan berbagai hak dan memperoleh
kesepakatan mereka atau memperoleh alasan mengapa rencana tersebut ditolak.
Mempersiapkan instruksi-instruksi tertulis dan dokumon-dokumen lainnya yang diperlukan
untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang merupakan realisasi dari rencana yang telah
ditetapkan.
Mengamati kegiatan-kegiatan operasional dan kondisi-kondisi yang dihadapi untuk rnengadakan
apakah instruksi-instruksi telah dijalankan dengan baik dan apakah instruksi tersebut
menghambat atau mempelancar proses pencapaian tujuan.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Pengorganisasian merupakan suatu proses merancang, mengelompokkan dan mengatur serta
membagi tugas-tugas atau pekerjaan diantara para anggota organisasi, agar tujuan organisasi
dapat dicapai dengan efisien dengan sumber daya yang dimiliki dan lingkungan yang
melingkupinya
2. Pengembangan Organisasi merupakan program yang berusaha meningkatkan efektivitas
keorganisasian dengan mengintegrasikan keinginan individu akan pertumbuhan dan
perkembangan dengan tujuan keorganisasian
3. Proses pengorganisasian kegiatan kemasyarakatan sebagai berikut :
1) Memahami tujuan yang ingin dicapai
2) Memahami kegiatan yang akan dilakukan
3) Mengelompokkan kegiatan yang akan dilakukan
4) Menetapkan hirarki kelompok kegiatan yang akan dilakukan
5) Membentuk struktur organisasi
6) Menetapkan penanggungjawab dari kelompok kegiatan
7) Melakukan penilaian berkala untuk penyempurnaan
4. Penyusunan staf ( staffing ) organisasi merupakan hal yang penting untuk memanajemen sumber
daya manusia yang baik

B. SARAN
1. M e n g i n g a t pentingn ya fungsi pengorganisasian, maka telah
m e r u p a k a n kewajiban bagi semua pihak yang bergerak dalam administrasi
kesehatan untuk memiliki pemahaman yang lengkap tentang fungsi
pengorganisasian m a k i n bertambah penting jika kebetulan
b e r m a k s u d menyelenggarakan program kesehatan
m a s y a r a k a t . Pengorganisasian yang harus dilakukan tidak hanya terbatas pada hal-hal yang
tercantum dalam rencana saja, tetapi juga hal-hal yangterdapat dalam masyarakat secara
keseluruhan.